• Tidak ada hasil yang ditemukan

HIPERGLIKEMIA SEBAGAI GANGGUAN METABOLISME PROTEIN DAN LEMAK

N/A
N/A
MEISYA AYUDHIA

Academic year: 2025

Membagikan "HIPERGLIKEMIA SEBAGAI GANGGUAN METABOLISME PROTEIN DAN LEMAK"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

“HIPERGLIKEMIA

SEBAGAI GANGGUAN

METABOLISME PROTEIN DAN LEMAK”

Kelompok 1

Kelas 1B

(2)

Anggota Kelompok

Shafiyah Rizqinah (P17210233050)

Bunga Cahya Aprila Nisa (P17210233051) Meisya Ayudhia Putri (P17210233052)

Nicky Dwi Meilana (P17210233053)

Nadhira Rahma Widhianti (P17210233054) Rozana Siti Hanifah (P17210233055)

Jessica Aurelia Argeta (P17210233057)

Jenni Habibatul Mukharomah (P17210233058)

Nur Thoifah Maulidiyah (P17210233060)

(3)

Definisi dan Penyebab

Hiperglikemia

DEFINISI

Hiperglikemia adalah kondisi meningkatnya

kadar glukosa dalam darah melebihi 200 mg/dL, dan ini merupakan tanda awal perkembangan

penyakit diabetes melitus

PENYEBAB

Hiperglikemia disebabkan oleh kurangnya produksi atau sekresi insulin oleh sel-sel

pankreas, dan kadar glukosa dalam darah

sangat bergantung pada kemampuan tubuh

untuk menghasilkan dan mengeluarkan insulin

(4)

Hubungan Hiperglikemi dengan Metabolisme Protein

Hiperglikemia dapat memengaruhi metabolisme protein dengan beberapa cara

Kadar glukosa darah yang tinggi dapat

menyebabkan perubahan pada struktur protein kerusakan pada sel-sel tubuh, termasuk

sel-sel protein

Kerusakan sel-sel ini dapat mengganggu sintesis, degradasi, dan perbaikan

protein, yang merupakan proses inti dalam metabolisme protein

Hiperglikemia juga dapat mengurangi sintesis protein, terutama protein

struktural dan transport, yang dapat berdampak pada fungsi jaringan dan organ tubuh.

(5)

Hubungan Hiperglikemi dengan Metabolisme Lemak

Ketika terjadi gangguan metabolisme karbohidrat yang berkepanjangan (seperti pada hiperglikemia menahun)

Otot, hati dan jantung dapat mengalami defisiensi.

Dalam kondisi ini, lemak dimobilisasi sebagai sumber energi Peningkatan kadar lemak dalam darah.

Metabolisme lemak yang abnormal, disertai dengan endapan kolesterol pada

dinding pembuluh darah.

(6)

Peran Metabolisme

Protein dan Lemak

(7)

Glukoneogenesis adalah produksi glukosa baru dari sumber non- karbohidrat (seperti asam amino dari protein).

Terjadi ketika kadar glukosa dalam darah turun (puasa atau saat latihan intens).

Membantu menjaga kadar glukosa darah dalam batas normal

Beberapa hormon seperti glukagon berinteraksi dengan

metabolisme protein untuk mengatur kadar glukosa darah.

Glukagon merangsang penguraian protein menjadi asam amino, yang dapat digunakan dalam proses glukoneogenesis untuk

meningkatkan kadar glukosa darah

Glukoneogenesis

Hormon Glukoregulasi

Metabolisme Protein

(8)

Metabolisme lemak berperan dalam regulasi gula darah melalui lipolisis yaitu pemecahan lemak menjadi asam lemak dan gliserol Asam lemak yang dihasilkan selama lipolisis dapat digunakan

sebagai sumber energi, yang membantu menjaga kadar glukosa darah tetap stabil

Selama kondisi puasa atau saat berolahraga, tubuh dapat meningkatkan lipolisis untuk memberikan energi tambahan

Insulin adalah hormon yang merangsang penyerapan glukosa oleh sel-sel tubuh, serta menghambat pemecahan lemak

Ketika kadar glukosa darah tinggi, insulin merangsang

penyimpanan glukosa dalam bentuk glikogen di hati dan otot, sambil menghambat lipolisis. Ini membantu menurunkan kadar glukosa darah

Lipolisis

Hormon Insulin

Metabolisme Lemak

(9)

Faktor yang Mempengaruhi Hiperglikemia

Makanan dan Pola Makan Kurangnya Aktivitas Fisik Resistensi Insulin

Obesitas

Gangguan Hormonal Stres

Penyakit dan Infeksi

Efek Samping Obat

(10)

Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi

Hipertensi Obesitas Kurangya

aktivitas Fisik Disiplidemia kebiasaan Merokok

Pengelolaan Stress

Faktor risiko yang dapat dimodifikasi

Faktor yang Mempengaruhi

Hiperglikemia

Jenis Kelamin Usia

Riwayat Keluarga Ras atau etnis

Riwayat Kehamilan

(11)

Gambaran Kasus

Seorang pasien berusia 30 tahun datang ke klinik dengan keluhan berat badan yang terus meningkat, kelelahan konstan, dan rasa haus yang tak terkendali.

Pemeriksaan awal menunjukkan indeks massa tubuh tinggi, riwayat keluarga

diabetes tipe 2, serta hasil darah yang mengungkapkan kadar gula darah puasa

di atas batas normal, disertai tingginya trigliserida dan kolesterol. Wawancara

mengungkapkan kebiasaan makan tinggi lemak dan karbohidrat sederhana,

serta kurangnya aktivitas fisik. Tes tambahan menunjukkan resistensi insulin dan

masalah dalam metabolisme protein, khususnya peningkatan branched-chain

amino acids (BCAA). Dengan diagnosis hiperglikemia akibat gangguan

metabolisme protein dan lemak, manajemen pasien melibatkan perubahan

dramatis dalam pola makan dengan penekanan pada protein dan lemak

seimbang, serta pengurangan karbohidrat sederhana. Terapi diet khusus

membantu memperbaiki kadar gula darah dan metabolisme lipid.

(12)

Hubungan antara Hiperglikemia dan Gangguan Metabolisme Protein

Hiperglikemia, peningkatan kadar gula darah, sering terkait dengan diabetes yang memengaruhi insulin. Dampaknya tak hanya pada gula darah, tetapi juga pada metabolisme protein, khususnya melalui proses glikasi protein. Ini menyebabkan perubahan struktur dan fungsi protein, mengancam integritas dan kinerja vitalnya.

Manajemen efektif memerlukan kontrol gula darah dan perlindungan protein esensial tubuh

(13)

Hubungan antara Hiperglikemia dan Gangguan Metabolisme Lemak

keterkaitan antara hiperglikemia dan gangguan metabolisme lemak pada diabetes tipe 2\ menunjukkan resistensi insulin dan gangguan metabolisme lemak, tercermin dalam tingginya kadar gula darah, trigliserida, dan kolesterol. Resistensi insulin menjadi elemen kunci, mempengaruhi sensitivitas insulin dan meningkatkan risiko hiperglikemia.

Pengelolaan pasien menekankan peran sentral perubahan gaya hidup, khususnya diet seimbang rendah lemak, dan peningkatan aktivitas fisik.

(14)

Pengelolaan Hiperglikemia Melalui Diet dan Terapi Farmakologis

Pengaturan pola makan, khususnya dengan diet seimbang yang mengontrol asupan karbohidrat, serat, lemak, dan protein, menjadi pilar utama. Konsumsi karbohidrat kompleks membantu mencegah lonjakan gula darah yang drastis. Terapi farmakologis, seperti obat antidiabetes oral atau insulin, dapat diperlukan untuk optimalisasi kontrol gula darah. Kolaborasi antara individu dan profesional kesehatan diperlukan dalam mengelola hiperglikemia, dengan penekanan pada pola makan yang disesuaikan dengan kebutuhan individu. Pengobatan farmakologis harus seimbang dengan pemahaman terhadap efek samping potensial dan pentingnya pengendalian glikemik berkelanjutan.

Pengelolaan hiperglikemia bukan hanya tentang kontrol gula darah, melainkan juga mempertimbangkan kualitas hidup, kesehatan metabolisme, dan pencegahan komplikasi jangka panjang.

(15)

TERIMA KASIH

ATAS PERHATIANNYA

Referensi

Dokumen terkait

Lipid dalam prosesnya menjadi sumber energi, ia akan dipecah dahulu menjadi asam lemak dan gliserol.

 TG + kolesterol dalam usus halus akan diserap ke dalam enterosit mukosa usus halus , diserap sbg asam lemak bebas, sedang kolesterol tetap sbg kolesterol.... 

Strategi degradasi asam amino  mengubah kerangka C nya menjadi senyawa intermediete dr metabolisme primer  yang kemudian dpt diubah menjadi glukosa atau dioksidasi oleh TCA.

Gliserol mudah larut dlm darah, sedangkan asam lemak sukar larut dlm darah sehingga butuh transportasi. Asam lemak dibutuhkan u/ energi, tp harus dibakar terlebih

Strategi degradasi asam amino  mengubah kerangka C nya menjadi senyawa intermediete dr metabolisme primer  yang kemudian dpt diubah menjadi glukosa atau dioksidasi oleh TCA.

Akibat defisiensi insulin yang lain adalah pemecahan lemak (lipolisis) menjadi asam-asam lemak bebas dan gliserol. Asam lemak bebas akan diubah menjadi badan keton

menjadi asam lemak dan gliserol di dalam sel lemak • pelepasan asam lemak dari sel lemak, ditransport ke jaringan-jaringan yang memerlukan energi... AKTIVASI

A.1 Metabolisme Karbohidrat • Fungi merupakan organisme heterotrof • Senyawa karbon yang digunakan berasal dari  gula sederhana glukosa, fruktosa, sukrosa,  asam organik asam