• Tidak ada hasil yang ditemukan

Inovasi Pendidikan di Era Society 5.0 E-ISSN: 2828-7312

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "Inovasi Pendidikan di Era Society 5.0 E-ISSN: 2828-7312"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

51

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA DI KELAS XI SMA CERDAS MURNI TEMBUNG MELALUI

PEMBELAJARAN BERBASIS INKUIRI

Indi Ajmalia Asih Marpaung1, Markus Harefa2, Rida Nelviani Lubis3 Pascasarjana Universitas Negeri Medan

Medan, Sumatera Utara, Indonesia

*Email: [email protected], [email protected], [email protected]

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah pembelajaran berbasis inkuiri dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus. Subjek dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI-2 SMA Cerdas Murni Tembung yang berjumlah 35 siswa. Data dikumpulkan melalui tes dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kemampuan berpikir kreatif siswa dilihat dari hasil tes kemampuan berpikir kreatif siswa. Sebelum diberi tindakan nilai rata-rata tes diagnostik adalah 28,9 yang termasuk dalam kategori kreatif sangat rendah dengan tingkat ketuntasan 2 siswa (5,7%). Setelah diberikan tindakan pada siklus I dengan menggunakan pembelajaran berbasis inkuiri nilai rata-rata tes kemampuan berpikir kreatif I meningkat menjadi 62,5 yang termasuk dalam kategori kreatif rendah dengan tingkat ketuntasan 19 siswa (54,3%). Ini berarti terjadi peningkatan nilai rata-rata kelas sebesar 33,6 dan ketuntasan klasikal sebesar 48,6% atau 17 siswa dari tes diagnostik yang dilakukan. Kemudian setelah pemberian tindakan pada siklus II, diperoleh nilai rata-rata tes kemampuan berpikir kreatif II adalah 74,5 yang termasuk dalam kategori kreatif sedang dengan tingkat ketuntasan 30 siswa (85,7%) yang berarti mengelami peningkatan nilai rata-rata kelas sebesar 12 dan ketuntasan klasikal sebesar 31,4% atau 11 siswa. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis inkuiri dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa di kelas XI-2 SMA Cerdas Murni Tembung.

Kata kunci: Kemampuan berpikir kreatif, pembelajaran berbasis inkuiri.

Abstract

This study aims to determine whether inquiry-based learning can improve students' creative thinking abilities.

The type of research used is classroom action research consisting of two cycles. The subjects in this study were all students of class XI-2 of SMA Cerdas Murni Tembung, totaling 35 students. Data was collected through tests and observations. The results of the study showed an increase in students' creative thinking abilities which were seen from the the results of student’s creative thinking abilities test. Before being given the action, the average diagnostic test score was 28.9 which was included in the very low creative category with the completeness level of 2 students (5.7%). After being given action in the first cycle by using inquiry-based learning the average value of the I creative thinking ability test increased to 62.5 which was included in the low creative category with the completeness level of 19 students (54.3%). This means there is an increase in the class average value of 33.6 and classical completeness of 48.6% or 17 students from the diagnostic tests performed. Then after giving the action in the second cycle, the average value of the creative thinking ability test II was 74.5 which was included in the medium creative category with the completeness level of 30 students (85.7%) which means increasing the average grade value of 12 and classical completeness of 31.4% or 11 students. Thus it can be concluded that inquiry-based learning can improve students' creative thinking skills in class XI-2 SMA Cerdas Murni Tembung.

Keywords: Creative thinking skills, inquiry-based learning

(2)

52 PENDAHULUAN

Tantangan masa depan yang selalu berubah sekaligus persaingan yang semakin ketat memerlukan ahli pendidikan yang tidak hanya terampil dalam suatu bidang tetapi juga kreatif dalam mengembangkan bidang yang ditekuni.

Hal tersebut perlu diterapkan dalam setiap mata pelajaran di sekolah, termasuk matematika. Pelajaran matematika adalah salah satu studi yang telah dikenal setiap orang sejak masih dalam bangku sekolah dasar. Pelajaran matematika yang diajarkan disekolah berperan dalam melatih siswa berpikir logis, kritis dan praktis, serta bersikap positif dan berpikir kreatif. Hal ini sesuai dengan pendapat cockroft (Abdurrahman, 2012:204) yang menyatakan bahwa;

Matematika perlu diajarkan kepada siswa karena (1) Selalu digunakan dalam segala kehidupan; (2) Semua bidang studi memerlukan matematika yang sesuai; (3) Merupakan sarana komunikasi yang kuat, singkat, dan jelas; (4) Dapat digunakan untuk menyajikan informasi dalam berbagai cara;

(5) Meningkatkan kemampuan berfikir logis, ketelitian dan kesadaran keruangan; (6) Memberikan kepuasan terhadap usaha memecahkan masalah.

Matematika merupakan ilmu yang penting bagi setiap individu. Namun demikian, mata pelajaran matematika masih dianggap sebagai mata pelajaran yang membosankan dan sulit untuk dipahami. Seperti yang diungkapkan Abdurrahman (2012:202) : “Dari berbagai bidang studi yang diajarkan di sekolah, matematika merupakan bidang studi yang dianggap paling sulit oleh para siswa, baik yang tidak berkesulitan belajar dan lebih- lebih bagi siswa yang berkesulitan belajar”.

Penyebab siswa kesulitan mengerjakan soal matematika diantaranya mencakup penekanan yang berlebihan pada penghafalan semata, penekanan pada kecepatan berhitung, pengajaran otoriter, kurangnya variasi pada proses belajar mengajar matematika, serta penekanan berlebihan pada prestasi individu. Karena itu untuk mengatasi masalah ini, peranan

guru sangatlah penting.

Adapun salah satu tujuan pembelajaran matematika adalah agar siswa memiliki kemampuan berpikir kreatif, kemampuan berpikir kreatif merupakan suatu hal yang sangat penting pada masa sekarang, karena dampak yang diperoleh membuat manusia menjadi lebih terbuka, fleksibel dan dalam beradaptasi

(3)

53 manusia mudah menghadapi berbagai situasi dan masalah kehidupannya.

Perkembangan teknologi dan informasi yang lebih maju menuntut masyarakat harus lebih cerdas, kreatif, komunikatif dan mampu menyaring informasi yang diperolehnya. Namun dalam kenyataannya guru lebih menekankan kecerdasan dari pada kemampuan berpikir kreatif pada siswa agar hasil belajar mereka meningkat, padahal apabila guru mengembangkan kemampuan berpikir kreatif siswa maka hasil belajar merekapun akan meningkat pula, hal ini sejalan dengan yang diungkapkan Munandar (2012:27),

“Sistem pendidikan saat ini lebih menekankan pengembangan kecerdasan dalam arti yang sangat sempit dan kurang memberi perhatian kepada pengembangan bakat kreatifitas peserta didik”.

Faktor lain yang menyebabkan rendahnya kemampuan berpikir kreatif matematis karena siswa tidak terbiasa untuk mengerjakan dan menyelesaikan soal di luar cara yang sudah diajarkan guru atau cara yang sudah baku. Sehingga kemampuan berpikir kreatif matematis siswa tidak berkembang baik. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Putra dkk (2012) bahwa:

Pada umumnya, siswa terbiasa mendapatkan soal yang rutin dan

sederhana serta hanya dapat diselesaikan dengan satu cara atau hanya dengan menggunakan satu rumus saja. Oleh sebab itu, ketika mereka dihadapkan pada soal tidak rutin mereka mengalami kebingungan dalam mengaitkan konsep-konsep matematika yang sudah dipelajari dalam menyelesaikan soal.

Rendahnya tingkat kreatifitas siswa menunjukkan bahwa guru-guru di sekolah kurang memperhatikan kemampuan berpikir kreatif pada siswa, padahal berpikir kreatif sangatlah penting bagi siswa untuk memecahkan persoalan di dalam matematika maupun di dalam kehidupan sehari-hari. Pentingnya kemampuan berpikir kreatif bagi siswa dikemukakan oleh Nurlaela (2015:2) yang menyatakan bahwa : “Kemampuan berpikir kreatif sangat diperlukan agar kompetensi sumber daya manusia kita tidak kalah dengan bangsa lain.”.

Berdasarkan observai awal dalam bentuk wawancara yang dilakukan pada tanggal 20 Februari 2018 kepada salah seorang guru matematika SMA Cerdas Murni yang bernama ibu Senja yang menyatakan bahwa : “Siswa mampu mengerjakan soal jika soal tersebut mirip dengan contoh soal yang diberikan, namun jika soal yang diberikan bervariasi atau berbeda dari contoh soal yang diberikan oleh guru makan siswa akan sulit untuk mengerjakan

(4)

54 soal tersebut dan hasil belajar mereka akan rendah”.

Sejalan dengan itu Ibrahim (2011:1) menyatakan bahwa “Jika siswa diberi soal yang berbeda dengan soal latihan, mereka kebingungan karena tidak tahu harus mulai dari mana mereka bekerja”. Hal ini menunjukkan bahwa kreativitas siswa dalam mengerjakan soal masih rendah, selain itu peneliti juga melakukan tes diagnostik secara tertulis kepada siswa/i Kelas XI-2 di SMA Cerdas Murni Tembung sebanyak 4 butir soal terkait materi matematika yang telah mereka pelajari sebelumnya.

Dari hasil tes diagnostik yang telah dilakukan kepada 35 siswa diperoleh bahwa dua siswa yang memiliki tingkat kreativitas sedang atau 5,71%, tiga puluh tiga siswa yang memiliki tingkat kreativitas rendah atau 94,28%. Dengan demikian dapat di ketahui bahwa siswa masih mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tes awal sebagai tes kemampuan berpikir kreatif siswa, mereka hanya mampu menyelesaikan soal yang relatif mudah yaitu soal yang hanya berpedoman pada rumus dan tidak memerlukan daya pikir yang tinggi.

Salah satu faktor rendahnya kemampuan berpikir kreatif siswa adalah

siswa masih pasif dalam pembelajaran dan hanya menerima informasi yang diberikan oleh guru. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Nurhayati (Usman, 2014) bahwa: “proses pembelajaran yang diselenggarakan selama ini kurang melibatkan partisipasi aktif siswa, sehingga siswa pasif dan hanya menerima informasi dari guru”. Selain dari faktor siswa itu sendiri, metode pembelajaran yang digunakan guru kurang tepat, dan cenderung menggunakan pembelajaran konvensional. Pembelajaran konvensional yang masih banyak dijumpai kurang melibatkan siswa secara aktif, siswa cenderung pasif dalam proses pembelajaran karena proses pembelajaran berpusat kepada guru, siswa hanya mendengarkan dan mencatat materi dari penyampaian guru.

Menurut Wartono (Usman, 2014), model pembelajaran konvensional adalah model pembelajaran yang dipakai oleh guru dalam proses pembelajaran saat ini, yang bercirikan (1) lebih bersifat informatif daripada penemuan konsep; (2) lebih mengutamakan produk daripada proses; (3) dalam diskusi, guru lebih banyak bertindak sebagai hakim daripada sebagai fasilitator; dan (4) dalam percobaan atau demonstrasi lebih banyak bersifat membuktikan teori. Dari uraian di

(5)

55 atas, pembelajaran konvensional berpusat kepada guru sebagai sumber belajar, waktu yang digunakan guru lebih banyak untuk menyampaikan materi, dan proses pembelajaran bersifat penyampaian informasi atau pengetahuan sehingga siswa lebih pasif. Diperlukan suatu inovasi dalam pembelajaran agar apa yang diharapkan dalam proses pembelajaran siswa terlibat aktif sehingga dampaknya akan terlihat pada ingatan siswa tentang apa yang dipelajari dan ingatan itu akan bertahan lama.

Model pembelajaran yang dapat mengatasi masalah diatas adalah model pembelajaran inkuiri. Inkuiri merupakan suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. Pembelajaran inkuiri dirancang untuk mengajak siswa secara langsung ke dalam waktu yang relatif singkat. Hasil penelitian Schlenker, dalam Joice dan Weil seperti yang dikutip oleh Trianto (2011:167) menunjukkan bahwa latihan inkuiri dapat meningkatkan pemahaman sains, produktif dalam berpikir kreatif, dan siswa menjadi

terampil dalam memperoleh dan menganalisis informasi.

Dengan adanya permasalahan tersebut, maka peneliti termotivasi untuk melakukan penelitian dengan judul:

“Peningkatan Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa di Kelas XI SMA Cerdas Murni Tembung T.A. 2018/2019 Melalui Pembelajaran Berbasis Inkuiri”.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri atas beberapa tahap, meliputi: (1)permasalahan, (2) perencanaan tindakan, (3) pelaksanaan tindakan, (4) observasi, (5) analisis data dan (6) refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI-2 yang siswanya berjumlah 35 orang di SMA Cerdas Murni Tembung Tahun Ajaran 2018/2019. Data dikumpulkan melalui tes dan observasi.

Instrumen Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes dan lembar observasi. Tes yang diberikan berbentuk uraian atau essay test sebanyak 4 soal. Tes ini digunakan untuk mengetahui peningkatan kemampuan berpikir kreatif matematika siswa. Tes ini diberikan disetiap akhir siklus. Sedangkan observasi atau pengamatan dalam penelitian

(6)

56 dilakukan selama proses pembelajaran di kelas berlangsung, sesuai dengan pedoman observasi yang telah direncanakan.

Dimana guru bidang studi matematika kelas XI-2 bertindak sebagai observer.

HASIL PENELITIAN

Setelah pelaksanaan tindakan setiap akhir siklus dilakukan tes untuk mengetahui tingkat kemampuan berpikir kreatif siswa. Soal yang diberikan adalah soal berbentuk essay yang berjumlah 4 butir soal.

pada tes kemampuan berpikir kreatif I nilai rata-rata kelas yang diperoleh dari 35 siswa adalah 62,5 yang

termasuk dalam kategori kreatif rendah.

Dari 35 siswa yang diberikan tes kemampuan berpikir kreatif I, tidak ada siswa yang mencapai tingkat kemampuan berpikir kreatif kategori sangat tinggi, 1 siswa (2,9%) yang mencapai tingkat kemampuan berpikir kreatif kategori tinggi, 18 siswa (51,4%) yang mencapai tingkat kemampuan berpikir kreatif sedang, siswa yang mencapai tingkat kemampuan berpikir kreatif rendah yaitu sebanyak 9 siswa (25,7%) dan 7 siswa (20%) yang mencapai tingkat kemampuan berpikir kreatif sangat rendah. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 1. Deskripsi Tingkat Kemampuan Siswa Berpikir Kreatif pada tes kemampuan berpikir kreatif I

Interval Nilai Tingkat Kemampuan

Banyak Siswa

Persentase

Jumlah siswa Rata – rata

89 – 100 Sangat Tinggi 0 0%

62,5

Rendah

79 – 89 Tinggi 1 2,9%

65 – 79 Sedang 18 51,4%

55 – 65 Rendah 9 25,7%

0 – 55 Sangat Rendah 7 20%

∑ 35 100%

Untuk melihat tingkat kemampuan berpikir kreatif I dapat dilihat pada diagram berikut:

(7)

57

Gambar 1. Deskripsi Tingkat Kemampuan Siswa Berpikir Kreatif pada tes kemampuan berpikir kreatif I

Secara keseluruhan tingkat kemampuan berpikir kreatif siswa pada tes kemampuan berpikir kreatis I sudah mengalami peningkatan dengan nilai rata-

rata 62,5. Jumlah siswa yang tuntas sebanyak 19 siswa (54,3%) dan tidak tuntas sebanyak 16 siswa (45,7%). Hal ini dapat dilihat dari tabel berikut:

Tabel 2. Tingkat Ketuntasan Siswa pada Tes Lemampuan Berpikir Kreatif I No. Persentase

Ketuntasan

Tingkat Ketuntasan

Banyak Siswa

Persentase Jumlah Siswa

1 < 65% Tidak Tuntas 16 45,7%

2 ≥ 65% Tuntas 19 54,3%

Jumlah 35 100%

Walaupun telah terjadi peningkatan dari tes diagnostik ke siklus I, ternyata tingkat ketuntasan klasikal yang diperoleh pada siklus I yakni 54,3% belum mencapai syarat ketuntasan klasikal karena belum 85% siswa yang mengikuti tes memiliki tingkat kemampuan berpikir kreatif minimal sedang. Untuk itu dilanjutkan ke siklus II dimana hasil tes ini digunakan sebagai acuan dalam memberikan tindakan pada siklus II untuk mengatasi kesulitan belajar siswa menyelesaikan soal-soal program linear sehingga dapat

meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa.

Setelah pelaksanaan siklus II berlangsung, guru memberikan tes siklus II yang diikuti oleh 35 siswa. Dari hasil tes kemampuan berpikir kreatif II, secara keseluruhan kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah dengan berpikir kreatif diperoleh dari 35 siswa terdapat 2 siswa yang memiliki kemampuan berpikir kreatif sangat tinggi atau 5,7%, 6 siswa yang memiliki kemampuan berpikir kreatif tinggi atau 17,1%, 22 siswa yang memiliki

0 5 10 15 20

Banyak Siswa

Tingkat Kemampuan

Tingkat Kemampuan Siswa berpikir Kreatif pada Tes Kemampuan Berpikir Kreatif I

Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi

(8)

58 kemampuan berpikir kreatif sedang atau 62,9%, 4 siswa yang memiliki kemampuan berpikir kreatif rendah atau 11,4%, dan 1 siswa yang memiliki kemampuan berpikir kreatif sangat rendah atau 2,9%. Diperoleh skor rata-rata kemampuan berpikir kreatif

siswa dalam menyelesaikan masalah pada tes kemampuan berpikir kreatif II adalah 74,5 yang termasuk dalam kategori sedang. Hal ini dapat dilihat sebagai berikut:

Tabel 3. Deskripsi Tingkat Kemampuan Siswa Berpikir Kreatif pada tes kemampuan berpikir kreatif II

Interval Nilai Tingkat Kemampuan

Banyak Siswa

Persentase

Jumlah siswa Rata – rata

89 – 100 Sangat Tinggi 2 5,7%

74,5 Sedang

79 – 89 Tinggi 6 17,1%

65 – 79 Sedang 22 62,9%

55 – 65 Rendah 4 11,4%

0 – 55 Sangat Rendah 1 2,9%

∑ 35 100%

Untuk melihat tingkat kemampuan berpikir kreatif I dapat dilihat pada diagram berikut:

Gambar 2. Deskripsi Tingkat Kemampuan Siswa Berpikir Kreatif pada tes kemampuan berpikir kreatif II

Secara keseluruhan tingkat kemampuan berpikir kreatif siswa pada tes kemampuan berpikir kreatis II sudah mengalami peningkatan dengan nilai rata-

rata 74,5. Jumlah siswa yang tuntas sebanyak 30 siswa (85,7%) dan tidak tuntas sebanyak 5 siswa (14,3%). Hal ini dapat dilihat dari tabel berikut:

Tabel 4. Tingkat Ketuntasan Siswa pada Tes Kemampuan Berpikir Kreatif I

0 5 10 15 20 25

Banyak Siswa

Tingkat Kemampuan

Tingkat Kemampuan Siswa berpikir Kreatif pada Tes Kemampuan Berpikir Kreatif II

Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi

(9)

59 No. Persentase

Ketuntasan Tingkat

Ketuntasan Banyak

Siswa Persentasi Jumlah Siswa

1 < 65% Tidak Tuntas 5 14,3%

2 ≥ 65% Tuntas 30 85,7%

Jumlah 35 100%

Telah terjadi peningkatan dari tes Siklus I ke siklus II, ternyata tingkat ketuntasan klasikal yang diperoleh pada siklus II yakni 85,7% telah mencapai

syarat ketuntasan klasikal karena sudah 85% siswa yang mengikuti tes memiliki tingkat kemampuan berpikir kreatif minimal sedang.

Berdasarkan hasil analisis data dan atau hasil tes yang dikerjakan siswa dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Bahwa terjadi peningkatan kemampuan berpikir kreatif siswa setelah pemberian tindakan dengan menggunakan pembelajaran berbasis inkuiri.

Kemampuan berpikir kreatif siswa mengalami peningkatan. Hal ini dapat dilihat dari:

a. Nilai rata-rata tes diagnostik yaitu 28,9 kemudian pada tes kemampuan berpikir kreatif I yaitu 62,5 dan pada tes kemampuan berpikir kreatif II yaitu 74,5.

b. Persentase ketuntasan klasikal tes diagnostik yaitu 5,7%, pada tes kemampuan berpikir kreatif I yaitu 54,3% dan pada tes kemampuan berpikir kreatif II yaitu 85,7%.

Dengan persentase ketuntasan klasikal 85,7% pada siklus II. Berarti ketuntasan belajar secara klasikal sudah tercapai karena sudah lebih dari 85,7%

siswa yang mendapat nilai ≥ 65, dan kriteria ketercapaian indikator pada siklus II sudah memenuhi ketercapaian indikator, sehingga penelitian tidak diteruskan ke siklus berikutnya.

Tabel 5. Deskripsi tingkat kemampuan berpikir kreatif siswa pada tes diagnostik, tes kemampuan berpikir kreatif I dan II

Tes Diagnostik TKBK I TKBK II

Nilai rata-rata kelas 28,9 62,5 74,5

Tuntas 5,7% 54,3% 85,7%

Observasi Guru - 3,0 3,3

PEMBAHASAN Dengan menerapkan pembelajaran

berbasis inkuiri dalam pembelajaran

(10)

60 mampu meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa. Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dikemukakan sebelumnya, diperoleh adanya peningkatan nilai rata-rata kemampuan berpikir kreatif siswa. Sebelum diberi tindakan nilai rata- rata tes diagnostik adalah 28,9 yang termasuk dalam kategori kreatif sangat rendah dengan tingkat ketuntasan 2 siswa (5,7%). Setelah diberikan tindakan pada siklus I dengan menggunakan pembelajaran berbasis inkuiri nilai rata- rata tes kemampuan berpikir kreatif I meningkat menjadi 62,5 yang termasuk dalam kategori kreatif rendah dengan tingkat ketuntasan 19 siswa (54,3%). Ini berarti terjadi peningkatan nilai rata-rata kelas sebesar 33,6 dan ketuntasan klasikal sebesar 48,6% atau 17 siswa dari tes diagnostik yang dilakukan. Kemudian setelah pemberian tindakan pada siklus II, diperoleh nilai rata-rata tes kemampuan berpikir kreatif II adalah 74,5 yang termasuk dalam kategori kreatif sedang dengan tingkat ketuntasan 30 siswa (85,7%) yang berarti mengalami peningkatan nilai rata-rata kelas sebesar 12 dan ketuntasan klasikal sebesar 31,4% atau 11 siswa. Meningkatnya kemampuan berpikir kreatif siswa karena penerapan pembelajaran inkuiri yang telah diterapkan peneliti pada pembelajaran. Sintaks pada pembelajaran inkuiri cocok untuk

mengembangkan kemampuan berpikir kreatif siswa. Wallas (Sriwongchai 2015:

84) yang menyebutkan langkah – langkah berpikir kreatif meliputi : persiapan,inkubasi, iluminasi dan verifikasi. Langkah – langkah berpikir kreatif yang meliputi tahap persiapan dikembangkan pada sintaks pembelajaran inkuiri yaitu merumuskan masalah.

Langkah berpikir kreatif siswa pada tahap inkubasi dan iluminasi dikembangkan pada sintaks pembelajaran inkuiri yaitu merumuskan kesimpukan. Sedangkan langkah berpikir kreatif siswa pada tahap verifikasi dikembangkan pada sintaks pembelajaran inkuiri yaitu menguji hipotesis. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Schlenker (Trianto, 2011:167) yang menyatakan bahwa latihan inkuiri dapat meningkatkan pemahaman sains, produktif dalam berfikir kreatif, dan siswa menjadi terampil dalam memperoleh dan menganalisis informasi.

Setelah pelaksanan pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran berbasis inkuiri, kemampuan berpikir kreatif siswa kelas XI SMA Cerdas Murni Tembung untuk setiap indikator juga mengalami peningkatan. Sebelum diberikan tindakan terlihat bahwa semua indikator masih mengalami permasalah, dimana nilai rata-rata indikator kelancaran

(11)

61 yaitu 14,3 yang termasuk dalam kategori sangat rendah, nilai rata-rata indikator keluwesan yaitu 15,0 yang termasuk dalam kategori sangat rendah, nilai rata-rata indikator original yaitu 22,1 yang termasuk dalam kategori sangat rendah dan nilai rata-rata indikator elaborasi yaitu 64,3 yang termasuk dalam kategori rendah.

Setelah dilakukan tindakan pada siklus I ke siklus II, pada kemampuan berpikir kreatif indikator kelancaran meningkat dari 49,3 yang termasuk dalam kategori sangat rendah menjadi 70,7 yang termasuk dalam kategori sedang. Pada indikator keluwesan meningkat dari 46,4 yang termasuk dalam kategori sangat rendah menjadi 71,4 yang termasuk dalam kategori sedang. Pada indikator original meningkat dari 76,4 yang termasuk dalam kategori sedang menjadi 77,9 yang termasuk dalam kategori sedang, dan indikator elaborasi juga meningkat dari 77,9 yang termasuk dalam kategori sedang menjadi 79,3. Pada siklus I kemampuan indikator original dan elaborasi sudah mengalami peningkatan namun indikator kelancaran dan keluwesan masih termasuk dalam kategori sangat rendah. Dimana dalam kelancaran diharapkan siswa dapat menghasilkan banyak gagasan dalam menyelesaikan suatu masalah dan pada keluwesan siswa diharapkan dapat memandang suatu permasalahan dengan

berbagai sudut pandang. Pada siklus II semua indikator sudah mengalami peningkatan termasuk indikator kelancaran dan keluwesan sudah mengalami peningkatan.

Pada pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran berbasis inkuiri juga semakin baik dari siklus I hingga siklus II. Dilihat dari hasil observasi guru yang mengalami peningkatan dari siklus I dengan rata-rata 3,0 yang termasuk dalam kategori baik menjadi 3,3 pada siklus II yang termasuk dalam kategori sangat baik.

Berdasarkan pembahasan hasil penelitian setelah dilakukan tindakan pada siklus I dan II diperoleh bahwa kemampuan berpikir kreatif siswa mengalami peningkatan dan pada siklus II siswa telah mencapai ketuntasan klasikal.

Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa hipotesis telah terbukti benar dan indikator keberhasilan telah tercapai sehingga tidak perlu lagi dilakukan siklus berikutnya.

Setelah melihat hasil penelitian ini, dapat dikatakan bahwa penerapan pembelajaran berbasis inkuiri dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa khususnya dalam materi program linear. Pembelajaran berbasis inkuiri merupakan pembelajaran penemuan yang

(12)

62 dirancang agar siswa menjadi aktif dalam kegiatan pembelajaran. Nurlaela (2015:18) menyatakan bahwa pembelajaran inkuiri merupakan sebuah strategi yang langsung terpusat pada peserta didik dimana kelompok-kelompok peserta didik dibawa dalam persoalan maupun mencari jawaban atas pertanyaan sesuai dengan struktur dan prosedur yang jelas.

Sejalan dengan itu Amri (2010:95) menyatakan bahwa melalui keterlibatan siswa secara langsung dalam setiap tahap pembelajaran membantu melatih kemampuan berpikir kreatif siswa karena siswa belajar mandiri dalam menemukan pembuktian kebenaran suatu konsep. Oleh sebab itu, dapat dinyatakan bahwa pembelajaran berbasis inkuiri dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa.

Teori pembelajaran yang mendukung pembelajaran inkuiri adalah teori belajar bermakna David Ausubel.

Menurut Ausubel (dalam Dahar, 2011:95), Belajar bermakna merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep- konsep yang relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Teori belajar kontruktivisme juga mendukung pembelajaran inkuiri. Piaget (dalam Sanjaya, 2011:123) berpendapat bahwa pada dasarnya setiap individu sejak kecil

sudah memiliki kemampuan untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri.

Pengetahuan yang dikonstruksi oleh anak sebagai subjek, maka akan menjadi pengetahuan yang bermakna, sedangkan pengetahuan yang hanya diperoleh melalui proses pemberitahuan tidak akan menjadi pengetahuan yang bermakna. Guru dapat memberikan kemudahan untuk proses ini, yaitu dengan memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan ide-ide mereka sendiri.

Berdasarkan hasil analisis data penelitian dan kajian teoritis, maka dapat dikatakan bahwa pembelajaran berbasis inkuiri dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa. Hal tersebut juga diperkuat dengan penelitian yang dilakukan oleh Kadir, dkk yang mengungkapkan bahwa penggunaan pendekatan inkuiri dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif matematis (KBKM) siswa. Hal ini ditunjukkan oleh rata-rata peningkatan siswa dari 73,05 pada siklus pertama ke 78,89 siklus kedua.

Penelitian yang dilakukan oleh Usman juga menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan berpikir kreatif siswa dengan menggunakan pembelajaran inkuiri lebih baik dari siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional. Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Nisa yang

(13)

63 menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kreatif siswa selama 2 siklus mengalami peningkatan sebesar 21,62%. Penelitian yang dilakukan oleh Rachmadhani, dkk yang menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa dari siklus I ke siklus II. Hal ini menguatkan temuan peneliti bahwa dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa pada materi program linear di kelas XI SMA Cerdas Murni Tembung T.A. 2018/2019

KESIMPULAN DAN SARAN

Simpulan yang dapat diambil dari hasil penelitian ini adalah pembelajaran berbasis inkuiri dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa di kelas XI-2 SMA Cerdas Murni Tembung.

Peningkatan diperoleh setelah dilaksanakannya pembelajaran siklus I dan siklus II. Pada tes diagnostik, diperoleh nilai rata-rata kemampuan berpikir kreatif siswa adalah 28,9 dalam kategori sangat rendah dan 2 atau 5,7% siswa yang mencapai ketuntasan berpikir kreatif.

Setelah dilakukan tindakan pada siklus I diperoleh nilai rata-rata kemampuan berpikir kreatif siswa adalah 62,5 yang

termasuk dalam kategori rendah dan siswa yang telah mencapai ketuntasan berpikir kreatif telah mencapai 19 siswa atau 54,3%. Setelah dilakukan tindakan pada siklus II diperoleh nilai rata-rata kemampuan berpikir kreatif siswa adalah 74,5 termasuk dalam kategori sedang dan siswa yang mencapai ketuntasan berpikir kreatif telah mencapai 30 siswa atau 85,7%. Dengan melihat hasil penelitian ini penulis mengajukan beberapa saran sebagai berikut:

1. Kepada guru khususnya guru matematika, pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran berbasis inkuiri dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa terutama pada materi program linear.

2. Perlu adanya penelitian lebih lanjut, karena hasil penelitian ini dilakukan di kelas XI-2 SMA Cerdas Murni Tembung tahun ajaran 2018/2019.

3. Kepada peneliti lanjutan agar hasil dan perangkat penelitian ini dapat dijadikan pertimbangan untuk menerapkan pembelajaran berbasis inkuiri pada materi program linear ataupun pokok bahasan lain yang dapat dikembangkan untuk penelitian selanjutnya.

REFERENSI

(14)

64 Abdurrahman, M., (2012), Pendidikan

Bagi Anak Berkesulitan Belajar, Rineka Cipta, Jakarta

Amri, S., Lif, K., (2010), Proses Pembelajaran Kreatif dan Inovatif dalam Kelas, Prestasi Pustaka, Jakarta

Dahar, R., W., (2011), Teori-teori Belajar

& Pembelajaran, Erlangga, Jakarta

Ibrahim, (2011), Pengembangan Bahan Ajar Matematika Sekolah Berbasis Masalah Terbuka Untuk Memfasilitasi Pencapaian Kemampuan Berpikir Kritis Dan Kreatif Matematis Siswa, Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika,121-132

Kadir, Lucyana, Satriawati, G., (2017), The Implementation of Open- Inquiry Approach to Improve Students’ Learning Activities, Responses, And Mathematical Creative Thinking Skills, Journal on Mathematics Education, 8:

103-114

Munandar, U., (2012), Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat, Rineka Cipta, Jakarta

Nisa, S., (2013), Peningkatan Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Mwlalui Model Pembelajaran Inkuiri Pada Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam, JPGSD,1:1-14

Nurlaela, L., Ismayati, E., (2015), Strategi Belajar Berpikir Kreatif, Ombak, Yogyakarta

Putra, T. T., dkk, (2012), Meningkatkan Kemampuan Berpikir kreatif Siswa dengan Pembelajaran Berbasis Masalah, Jurnal Pendidikan Matematia, 1: 22-26 Sriwongchai, A., dkk, (2015), Developing

the Mathematics Learning Management Model for Improving Creative Thinking in Thailand, International Education Studies, 8: 77-87

Trianto, (2011), Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif:

Konsep, Landasan, dan Implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Kencana, Jakarta

Usman, M. R., (2014), Pembelajaran Inkuiri Model Alberta untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis Siswa SMP, jurnal matematika dan pendidikan matematika, 3:71-84

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan aktivitas siswa pada Tabel 4, skor rata- rata pada siklus I adalah 2,58 (dengan kategori cukup), dan skor rata-rata pada siklus II adalah 3,07 (dengan kategori

Hasil penelitian data dengan model pembelajaran peta pikiran adalah yaitu siklus I 2,30 dengan kategori kurang baik, siklus II skor 3,10 dengan kategori baik dan

Secara keseluruhan nilai rata-rata tes keterampilan berpikir kritis siswa pada siklus II mengalami peningkatan dari siklus I setelah penerapan model pembelajaran

Berdasarkan hasil observasi kemampuan guru mengelola pembelajaran, pada siklus I dengan nilai rata – rata 2,8 berada pada kategori “Cukup baik” dan pada siklus

Rata-rata persentase keaktifan belajar siklus I sebesar 54,8 % dengan kategori sedang, meningkat pada siklus II menjadi 63,4 % dengan kategori tinggi, dan

Rata-rata skor siklus I sebesar 73%.Setelah dilakukan analisis terhadap siswa yang memiliki kategori sedang dan rendah pada siklus II, terjadi peningkatan

18 Responden 6 4,875 97,5% Sangat Baik Responden 7 4,75 95% Sangat Baik Responden 8 4,875 97,5% Sangat Baik Responden 9 4,6875 93,75% Sangat Baik Responden 10 5 100% Sangat Baik

Keterampilan Berpikir Kreatif Kelas Parameter statistik Nilai N-gain Kategori Pre Tes Pos tes Eksperimen Jumlah siswa 34 34 0,79 Tinggi Rata-rata 30,70 84,93 Kontrol Jumlah