Jenis-Jenis Garis Pangkal
GD4205 Batas Laut Wilayah
Eka Djunarsjah
FITB
Jenis-Jenis Garis Pangkal
Berdasarkan UNCLOS III (1973-1982), terdapat :
Garis Pangkal Normal (Pasal 5, Pasal 6)
Garis Pangkal Lurus (Pasal 7)
Garis Penutup Sungai (Pasal 9), Garis Penutup Teluk (Pasal 10), dan Garis Penutup Pelabuhan (Pasal 11)
Garis Pangkal Kepulauan (Pasal 47)
Penggunaan garis pangkal untuk Penetapan Batas Laut Negara
tersebut berbeda-beda tergantung pada konfigurasi geografis
wilayahGaris Pangkal Normal (1)
Garis Pangkal Normal untuk mengukur lebar Laut Teritorial adalah garis air rendah sepanjang pantai sebagaimana yang ditandai pada peta laut skala besar yang secara resmi diakui oleh Negara pantai tersebut (Pasal 5)
Dalam hal pulau yang terletak pada atol atau pulau yang
mempunyai karang-karang di sekitarnya, maka garis pangkal
untuk mengukur lebar Laut Teritorial adalah garis air rendah
pada sisi karang ke arah laut sebagaimana ditunjukkan oleh
tanda yang jelas untuk itu, pada peta yang diakui resmi oleh
Negara pantai yang bersangkutan (Pasal 6)
Garis Pangkal Normal (dari Samping)
Chart Datum
Garis Air Rendah (Garis Pangkal Normal)
Topografi Pantai
Dasar Laut Titik Dasar
MSL
Zo Garis Kontur Nol
Garis Pangkal Normal (dari Atas)
Garis Pangkal Normal dan Garis Pantai pada Peta Laut
Elevasi Surut adalah suatu wilayah daratan yang terbentuk secara alamiah yang dikelilingi dan berada di atas permukaan laut pada
waktu air surut, tetapi berada di bawah permukaan laut pada waktu air pasang. Dalam hal Evaluasi Surut terletak seluruhnya atau
sebagian pada suatu jarak yang tidak melebihi lebar Laut Teritorial dari daratan utama atau suatu pulau, maka garis air surut pada
elevasi demikian dapat digunakan sebagai garis pangkal untuk maksud pengukuran lebar Laut Teritorial (Pasal 13 Ayat 1)
Apabila Elevasi Surut berada seluruhnya pada suatu jarak yang lebih dari Laut Teritorial dari daratan utama atau suatu pulau, maka elevasi demikian tidak mempunyai Laut Teritorial sendiri (Pasal 13 Ayat 2)
Garis Pangkal Normal (2)
Elevasi Surut (dari Samping)
Elevasi Surut (dari Atas)
Sumber : IHO (2020)
Pasal 7 :
1. Di tempat-tempat di mana garis pantai menjorok jauh ke dalam dan menikung ke dalam atau jika terdapat suatu deretan pulau
sepanjang pantai di dekatnya, cara penarikan garis pangkal lurus yang menghubungkan titik-titik yang tepat dapat digunakan dalam menarik garis pangkal dari mana lebar Laut Teritorial diukur
2. Di mana karena adanya suatu delta dan kondisi alam lainnya garis pantai sangat tidak tetap, maka titik-titik yang tepat dapat dipilih pada garis air rendah yang paling jauh menjorok ke laut dan
sekalipun garis air rendah kemudian mundur, garis-garis pangkal
lurus tersebut akan tetap berlaku sampai dirobah oleh Negara pantai sesuai dengan Konvensi ini
Garis Pangkal Lurus (1)
3. Penarikan garis pangkal lurus tersebut tidak boleh menyimpang
terlalu jauh dari arah umum dari pada pantai dan bagian-bagian laut yang terletak di dalam garis pangkal demikian harus cukup dekat
ikatannya dengan daratan untuk dapat tunduk pada rezim perairan pedalaman
4. Garis pangkal lurus tidak boleh ditarik ke dan dari elevasi surut kecuali jika di atasnya didirikan mercu suar atau instalasi serupa yang secara permanen ada di atas permukaan laut atau kecuali
dalam hal penarikan garis pangkal lurus ke dan dari elevasi demikian telah memperoleh pengakuan umum internasional
Garis Pangkal Lurus (2)
5. Dalam hal cara penarikan garis pangkal lurus dapat diterapkan berdasarkan ayat 1, maka di dalam menetapkan garis pangkal tertentu, dapat ikut diperhitungkan kepentingan ekonomi yang khusus bagi daerah yang bersangkutan, yang kenyataan dan
pentingnya secara jelas dibuktikan oleh praktek yang telah berlangsung lama
6. Sistem penarikan garis pangkal lurus tidak boleh diterapkan oleh suatu Negara dengan cara yang demikian rupa sehingga memotong laut teritorial Negara lain dari laut lepas atau zona ekonomi
eksklusif
Garis Pangkal Lurus (3)
Garis Pangkal Lurus
Garis Penutup Sungai
Pasal 9 :
Apabila suatu sungai mengalir langsung ke laut, garis pangkal adalah suatu garis lurus melintasi mulut sungai antara titik-titik pada garis air rendah kedua tepi sungai
Garis Penutup Teluk (1)
Pasal 10 :
1. Pasal ini hanya menyangkut teluk pada pantai milik satu Negara
2. Untuk maksud Konvensi ini, suatu teluk adalah suatu lekukan yang jelas yang lekukannya berbanding sedemikian rupa dengan lebar mulutnya sehingga mengandung perairan yang tertutup dan yang bentuknya lebih dari pada sekedar suatu lingkungan pantai semata- mata. Tetapi suatu lekukan tidak akan dianggap sebagai suatu teluk kecuali apabila luas teluk adalah seluas atau lebih luas dari pada
luas setengah lingkaran yang garis tengahnya adalah suatu garis yang ditarik melintasi mulut lekukan tersebut
Kriteria Teluk (Definisi Hukum)
Sumber : IHO (2020)
3. Untuk maksud pengukuran, daerah suatu lekukan adalah daerah yang terletak antara garis air rendah sepanjang pantai lekukan itu dan suatu garis yang menghubungkan titik-titik garis air rendah pada pintu masuknya yang alamiah. Apabila karena adanya pulau-pulau, lekukan mempunyai lebih dari satu mulut, maka setengah lingkaran dibuat pada suatu garis yang panjangnya sama dengan jumlah
keseluruhan panjang garis yang melintasi berbagai mulut tersebut.
Pulau-pulau yang terletak di dalam lekukan harus dianggap seolah- olah sebagai bagian daerah perairan lekukan tersebut
Garis Penutup Teluk (2)
4. Jika jarak antara titik-titik garis air rendah pada pintu masuk
alamiah suatu teluk tidak melebihi 24 mil laut, maka garis penutup dapat ditarik antara ke dua garis air rendah tersebut dan perairan yang tertutup karenanya dianggap sebagai perairan pedalaman
5. Apabila jarak antara titik-titik garis air rendah pada pintu masuk alamiah suatu teluk melebihi 24 mil laut, maka suatu garis pangkal lurus yang panjangnya 24 mil laut ditarik dalam teluk tersebut
sedemikian rupa, sehingga menurut suatu daerah perairan yang maksimum yang mungkin dicapai oleh garis sepanjang itu
6. Ketentuan di atas tidak diterapkan pada apa yang disebut teluk
“sejarah”, atau dalam setiap hal dimana sistem garis pangkal lurus menurut Pasal 7 diterapkan
Garis Penutup Teluk (3)
Pasal 11 :
Untuk maksud penetapan batas Laut Teritorial, instalasi pelabuhan permanen yang terluar yang merupakan bagian integral dari sistem pelabuhan dianggap sebagai bagian dari pada pantai. Instalasi lepas pantai dan pulau buatan tidak akan dianggap sebagai instalasi
pelabuhan yang permanen
Garis Penutup Pelabuhan
Garis Penutup Sungai, Teluk, dan Pelabuhan
Pasal 47 :
1. Suatu Negara kepulauan dapat menarik garis pangkal lurus
kepulauan yang menghubungkan titik-titik terluar pulaupulau dan karang kering terluar kepulauan itu, dengan ketentuan bahwa
didalam garis pangkal demikian termasuk pulau-pulau utama dan suatu daerah dimana perbandingan antara daerah perairan dan
daerah daratan, termasuk atol, adalah antara satu berbanding satu dan sembilan berbanding satu
2. Panjang garis pangkal demikian tidak boleh melebihi 100 mil laut, kecuali bahwa hingga 3% dari jumlah seluruh garis pangkal yang
mengelilingi setiap kepulauan dapat melebihi kepanjangan tersebut, hingga pada suatu kepanjangan maksimum 125 mil laut
Garis Pangkal Kepulauan (1)
3. Penarikan garis pangkal demikian tidak boleh menyimpang terlalu jauh dari konfirgurasi umum kepulauan tersebut
4. Garis pangkal demikian tidak boleh ditarik ke dan dari elevasi surut, kecuali apabila di atasnya telah dibangun mercu suar atau instalasi serupa yang secara permanen berada di atas permukaan laut atau apabila elevasi surut tersebut terletak seluruhnya atau sebagian
pada suatu jarak yang tidak melebihi lebar Laut Teritorial dari pulau yang terdekat
5. Sistem garis pangkal demikian tidak boleh diterapkan oleh suatu Negara kepulauan dengan cara yang sedemikian rupa sehingga memotong Laut Teritorial Negara lain dari Laut Lepas atau Zona Ekonomi Eksklusif
Garis Pangkal Kepulauan (2)
6. Apabila suatu bagian perairan kepulauan suatu Negara kepulauan terletak di antara dua bagian suatu Negara tetangga yang langsung berdampingan, hak-hak yang ada dan kepentingan-kepentingan sah lainnya yang dilaksanakan secara tradisional oleh Negara tersebut terakhir di perairan demikian, serta segala hak yang ditetapkan
dalam perjanjian antara Negara-negara tersebut akan tetap berlaku dan harus dihormati
Garis Pangkal Kepulauan (3)
7. Untuk maksud menghitung perbandingan perairan dengan daratan berdasarkan ketentuan ayat 1, daerah daratan dapat mencakup di dalamnya perairan yang terletak di dalam tebaran karang, pulau- pulau dan atol, termasuk bagian plateau oseanik yang bertebing
curam yang tertutup atau hampir tertutup oleh serangkaian pulau batu gamping dan karang kering di atas permukaan laut yang
terletak di sekeliling plateau tersebut
8. Garis pangkal yang ditarik sesuai dengan ketentuan pasal ini, harus dicantumkan pada peta laut dengan skala atau skala-skala yang
memadai untuk menegaskan posisinya. Sebagai gantinya, dapat dibuat daftar koordinat geografis titik-titik yang secara jelas memerinci datum geodetik
Garis Pangkal Kepulauan (4)
9. Negara kepulauan harus mengumumkan sebagaimana mestinya peta laut atau daftar koordinat geografis demikian dan harus
mendepositkan satu salinan setiap peta laut atau daftar demikian pada Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa
Garis Pangkal Kepulauan (5)
Garis Pangkal Kepulauan
Kriteria Penggunaan Garis Pangkal
Garis Pangkal Normal Garis Pangkal Lurus Garis Pangkal Kepulauan Dipakai untuk pantai yang
memanjang, sekitar pulau yang terletak pada atol, atau pulau yang mempunyai karang-karang di sekitarnya
Di pakai untuk pantai yang menjorok jauh dan menikung ke dalam, terdapat deretan pulau sepanjang pantai, suatu delta dan kondisi alam lainnya yang labil, atau kepentingan ekonomi yang khusus
Menghubungkan titik-titik
terluar pulau-pulau dan karang kering terluar kepulauan itu
Garis Penutup Sungai Garis Penutup Teluk Garis Penutup Pelabuhan Melintasi mulut sungai antara
titik-titik pada garis air rendah kedua tepi sungai
Menghubungkan titik-titik garis air rendah pada pintu
masuknya yang alamiah
Menutupi instalasi pelabuhan permanen terluar yang
merupakan bagian integral dari sistem pelabuhan
Pustaka Tambahan
Eka Djunarsjah (2015), Kajian Garis Pangkal NKRI, Focus Group Discussion, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman RI, Jakarta.
United Nations (1989), Baselines, Office for Ocean Affairs and the
Law of the Sea, New York.
Terima Kasih
Kontak : [email protected] [email protected] [email protected] [email protected]