TUGAS PSIKOLOGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS TEMA ANAK TUNAGRAHITA
Dosen Pengampu : Erni Agustina Setyowati, S.Psi., M.Psi
Disusun Oleh : Kelompok 12
1. Adisya Kaylaluna Permata Putri Hendrasti (30702100011)
2. Feby Nanda Absyashofa (30702100080)
3. Fitria Prasetyaningsih (30702100086)
4. Madyaratri Hastaning Wulandari (30702100119)
FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI...2
A. TAHAP PERSIAPAN... 3
B. TINJAUAN PUSTAKA...4
1.1 Definisi... 4
1.2 Kriteria Tunagrahita... 4
C. PANDUAN OBSERVASI...5
3.1 Tabel Indikator Karakteristik Tunagrahita Dewasa...5
D. URAIAN DESKRIPTIF HASIL OBSERVASI...7
E. LAMPIRAN TRANSKIP VEBRATIM WAWANCARA...8
6.1 Rekaman Wawancara... 11
F. TABEL CHECKLIST OBSERVASI...11
KESIMPULAN...15
A. TAHAP PERSIAPAN
A. Tema : Karakteristik Tunagrahita ketika di rumah B. Subjek yang diobservasi
Nama : Niko Lasandi Jenis Kelamin : Laki-Laki Status : Pelajar 1. Who
Subjek dalam observasi ini adalah Niko yang merupakan seorang siswa Slb kelas 3 SMA SLB Negeri Pemalang. Niko merupakan anak berkebutuhan khusus (tunagrahita).
2. Where
Observasi ini dilakukan oleh observer di rumah Niko di Kebonsari Desa Petarukan, Pemalang.
3. What
Hal yang akan di observasi adalah karakteristik anak tunagrahita. Jenis sampling yaitu event sampling, dimana pengamatan berfokus pada suatu pencatatan perilaku tertentu yang dianggap penting. Pada metode ini tidak memfokuskan pada waktu-waktu tertentu sehingga pengamatan bebas untuk mencatat kapan saja jika perilaku tersebut m uncul.
4. When
Observasi akan dilaksanakan pada hari sabtu, 2 Desember 2023. Teknik yang kami gunakan adalah immediate recording, dimana pencatatan segera setelah subjek memunculkan peerilaku.
5. Why
Observasi ini mengambil tema “ karakteristik anak tunagrahita ketika dirumah”
karena saat ini diperlukan pengetahuan mengenai karakteristik anak tunagrahita.
Observer merasa dengan mengobservasi anak tunagrahita di rumah akan lebih fleksibel, dan mudah dipahami.
6. How
Observasi dilakukan dengan mengamati subjek ketika di dirumah. Observer melakukan pencatatan segera setelah subjek memunculkan perilaku. Teknik pencatatan data menggunakan metode Narrative Description dan Cheklist. Cara observasi yang
digunakan adalah observasi partisipan, dimana kami sebagai observer ikut serta dalam kegiatan yang dilakukan seseorang yang diobservasi.
B. TINJAUAN PUSTAKA 1.1 Definisi Retardasi Mental
Menurut PPDGJ-III (Pedoman Penggolongan Diagnostik Gangguan Jiwa- III), PPDGJ III (1993) mendefinisikan suatu keadaan perkembangan mental yang terhenti at au tidak lengkap, yang terutama ditandai oleh hendaya keterampilan selama masa perkembangan, sehingga berpengaruh pada tingkat intelegensi yaitu kemampuan kognitif, bahasa, motorik dan sosial. Gangguan dipengaruhi oleh faktor genetik, lingkungan dan psikososial. Tunagrahita adalah istilah untuk menyebut anak yang mempunyai kemampuan intelektual dibawah rata-rata.
1.2 Kriteria Tunagrahita
a. Tunagrahita Ringan (IQ 50-69)
Penyandang tunagrahita ringan biasanya agak terlambat dalam belajar bahasa tetapi sebagian besar dapat mencapai kemampuan berbicara untuk keperluan sehari-hari, mengadakan percakapan dan dapat diwawancarai. Kebanyakan anak penyandang tunagrahita ringan dapat mandiri penuh dalam merawat diri sendiri dan mencapai keterampilan praktis serta keterampilan rumah tangga, walaupun tingkat perkembangannya agak terlambat. Kesulitannya tampak dalam pekerjaan sekolah yang bersifat akademis, dan banyak di antaranya mempunyai masalah dalam membaca dan menulis. Meski demikian, penyandang kategori ini, dapat tertolong dengan pendidikan yang dirancang untuk mengembangkan keterampilan merekadan mengkompensasi kecacatan mereka.
b. Tunagrahita Sedang (IQ 35-49)
Penyandang kategori ini, lambat dalam mengembangkan pemahaman dan penggunaan bahasa, prestasi akhir yang dapat mereka capai dalam bidang ini terbatas. Keterampilan merawat diri dan keterampilan motorik juga terlambat, dan sebagian anak penyandang tunagrahita kategori sedang memerlukan pengawasan seumur hidup. Kemajuan dengan pekerjaan sekolah terbatas, tetapi sebagian dari mereka ini dapat belajar keterampilan dasar yang dibutuhkan untuk membaca, menulis dan berhitung. Program pendidikan
khusus dapat memberi kesempatan mereka untuk mengembangkan potensi mereka yang terbatas dan memperoleh keterampilan dasar.
c. Tunagrahita Berat (IQ 20-34)
Penyandang kategori ini menderita hendaya motorik atau defisit lain yang menyertainya, dan hal ini menunjukkan adanya kerusakan atau penyimpangan perkembangan yang bermakna secara klinis dari susunan syaraf pusat.
d. Tunagrahita Sangat Berat (IQ < 20)
Individu yang menyandang tunagrahita sangat berat sangat terbatas kemampuannya untuk mematuhi atau mmahami permintaan atau instruksi. Sebagian besar dari mereka tidak dapat bergerak atau sangat terbatas dalam gerakannya, inkontenensia, dan hanya mampu berkomunikasi verbal yang belum sempurna. Penyandang kategori ini mempunyai sedikit sekali kemampuan untuk mengurus sendiri kebutuhan dasar mereka, dan senantiasa memerlukan bantuan dan pengawasan.
Berdasarkan pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa klasifikasi anak tunagrahita menurut Pedoman Penggolongan Diagnosa Gangguan Jiwa (PPDGJ-III), terdiri dari empat bagian yaitu tunagrahita ringan (IQ 50-69), tunagrahita sedang (IQ 35-49), tunagrahita berat (IQ 20-34), dan tunagrahita sangat berat (IQ < 20).
C. PANDUAN OBSERVASI
3.1 Tabel Indikator Karakteristik Tunagrahita Dewasa
No. Ciri/Aspek Indikator
1. Kemampuan motorik yang dimiliki.
Tidak dapat memakai baju sendiri.
Ketika makan harus di bantu orang lain.
Tidak dapat minum sendiri menggunakan gelas/cangkir
Dapat memegang alat tulis dengan baik
Dapat memegang alat makan dengan baik
2. Kemampuan mengingat informasi.
Subjek kesulitan ketika diminta untuk mengingat angka.
Ketika di minta menirukan nyanyian subjek diam saja.
Subjek tidak mampu mengikuti kata-kata yang sedang dibicarakan ketika wawancara.
3. Kemampuan dalam berbahasa, membaca, dan berhitung
Pelafalan kata subjek tidak jelas.
Subjek kesulitan dalam berhitung
Subjek kesulitan ketika disuruh membaca
4. Kurangnya interaksi timbal balik dalam percakapan
Subjek berbicara mengatakan kata yang tidak ada artinya.
Subjek tiba-tiba bicara sendiri
Subjek dapat berkomunikasi dua arah
Subjek kesulitan dalam menyebutkan beberapa kata dengan baik (cadel)
Subjek memiliki pandangan yang kosong ketika diajak berbicara.
Subjek hanya menjawab topik pembicaraan yang ia sukai atau minati.
5. Kemampuan dalam berkomunikasi
Subjek lambat merespon ketika ditanya.
Subjek terlihat senang ketika diajak berbicara.
Subjek mampu membangun topik ketika berbincang
Subjek ketika diajak berbicara meniru kata kata yang kita bicarakan atau membeo
6. Emosi yang tak
terkendali
Sering mengamuk/merusak
Berteriak.
Mendorong
7. Kesulitan mengarahkan diri
Kurang mampu mengelola uang
Dapat menggunakan telepon
Suka membunyikan gigi
D. URAIAN DESKRIPTIF HASIL OBSERVASI
Pada tanggal 3 Desember 2024 pukul 09.00 subjek berada dirumah dan sudah dalam keadaan siap (sudah mandi, sudah sarapan). Setiap libur sekolah subjek suka bermain ke pasar untuk sekedar jalan-jalan saja. Namun, karena kedatangan kami subjek disuruh ibunya untuk tidak pergi dulu. Awalnya subjek menolak dengan sedikit ekspresi kesal namun subjek tetap mengikuti perintah ibu subjek. Setelah itu ibu subjek menyuruh subjek untuk bersalaman kepada kami dan subjek melakukannya. Setelah itu subjek duduk disamping ibu subjek dengan pandangan ke depan rumah sembari menggoyang-goyangkan kaki. Subjek t erlihat sedikit gelisah karena ingin cepat main ke pasar.
Setelah itu kami berusaha untuk mengajak ngobrol subjek agar tidak gelisah lagi. Kami membuka pertanyaan dengan bertanya "mau kemana?" subjek lalu menjawab pertanyaan kami dengan panjang yang intinya ia ingin bermain karena hari itu hari libur dan waktunya untuk keluar bukan dirumah saja. Akhirnya kami mengikuti subjek bermain ke pasar tanpa pengetahuan subjek. Ketika berada diluar subjek hanya berjalan-jalan saja dan cara berjalan subjek seperti menghentak-hentakkan kakinya sembari sesekali menyapa orang yang dikenal subjek. Subjek terlihat berbeda dengan kondisinya saat berada dirumah. Subjek telihat senang walaupun hanya jalan-jalan saja dan tidak membeli apapun.
Waktu menunjukkan pukul 11.30 subjek berputar arah untuk kembali kerumahnya. Subjek kembali kerumah karena tahu bahwa waktunya subjek untuk makan. Ketika sampai dirumah subjek meminta makan ke ibu subjek lalu ibu subjek menyuruh subjek untuk mengambilnya sendiri. Subjek menolak perintah tersebut dan akhirnya diambilkan oleh ibu subjek. Setelah itu subjek makan sendiri tanpa dibantu ibu subjek dan pada saat makan subjek terlihat tidak kesulitan dan cara memegang sendok pun benar. Setelah makan subjek masuk ke kamar untuk tidur.
Subjek bangun pada pukul 16.00 WIB dan langsung pergi mandi. Setelah itu subjek duduk didepan rumah dan ditanya oleh kakak subjek "kenapa tidak belajar? besokkan ujian"
lalu subjek menjawab akan belajar waktu malam hari karena mata pelajaran untuk besok
mudah karena hanya membatik (pelajaran kesukaan subjek). Setelah magrib, subjek terlihat belajar walaupun hanya melihat-lihat gambar saja. Namun, sesekali disuruh berhitung dan membaca oleh kakaknya. Waktu menunjukkan pukul 19.00 WIB dan kami izin kepada orang tua subjek, subjek, dan kakak subjek untuk pulang. Pada saat kami izin pulang subjek terlihat sedikit bercanda dan mengatakan "baru jam segini kok pulang? teman aku aja kalau pulang jam 12 malam".
E. LAMPIRAN TRANSKIP VEBRATIM WAWANCARA Interviewer : Mas Niko anak ke berapa dari berapa
bersaudara? Interviwee : Anak ketiga dari tiga bersaudara.
Interviewer : Lha umurnya selisih berapa tahun?
Interviwee : Sekitar sama Anggit berarti 12 tahun, iyoo. Kalo sama yang pertama 12 tahun, terus yang kedua sama Niko beda 2 tahun.
Interviewer : Sundulan po
keprie? Interviwee : Ora sundulan, yoo.
Interviewer : Terus, selisihe kan akeh terus Mbah Tin pas hamil Mas Niko mbiyen sekitar umur piro iseh kilingan ora?
Interviwee : Umur 30an lah, 35nan.
Interviewer : Kalo yang Om Anggit yang pertama? Interviwee 21
Interviewer : oooo, kui pas hamil Mas Niko rasanya sama kayak pas hamil anak pertama kedua apa engga?
Interviwee : Yaaa, nggak ada bedanya sih cuman kalo Niko memang saya kepingine anake dua berarti yang ketiga kan saya nggak tahu, kok tahu-tahu saya hamil 4 bulan baru tahu.
Interviewer : Jadi pas tahu gimana?
Interviewee : Periksa
Interviewer : Terus ternyata hamil..
Interviewee : Terus saya kan mbok yo jangan si, soale kan anak keduanya masih kecil, tapi yaa gapapa, kata dokter udah gapapa buk
Interviewer : Tapi setelah itu ada yang beda?
Interviewee : Nggak ada, yaa seperti biasa, normal. Wong anaknya aja lahirnya normal.
Interviewer : Pertumbuhannya berarti normal?
Interviewee : Yaa normal, wong main-main biasa, naik sepeda biasa, ndak ada yang aneh, makanya saya ndak tau kalo kayak gitu.
Interviewer : Lha taunya itu pas gara-gara apa?
Interviewee : Waktu sekolah SD, mungkin kalo TK kan sekolahnya hanya main-main, tapi kalo di SD kan harus duduk kalo pelajaran masuk kan harus duduk. Lha kalo TK kan main-main ndak ada yang tau, dolanan yo deloke dadi ora ketoro. Pas sekolah gurunya bilang kalo bu guru masuk Niko minta keluar main pokoke metu.
Interviewer : Jadi gurunya bilang ke Mbah Tin?
Interviewee : Tadinya belum si, terus gurunya mungkin ngga nyaman terus pindah sekolahnya.
Terus pindah ning Bude Ati terus gurunya lebih perhatian. Yaa lambat itu soale khusus itu harus ada yang menangani, perhatian khusus kayak gitu. Lha terus lama lama lama disuruh sekolah di SLB.
Interviewer : Terus waktu di SD Mas Niko sampai kelas berapa?
Interviewee : Ning SD sampai kelas 3, naik kelas 3 berarti kelas 2.
Interviewer : Terus Mbah Tin awal inget waktu dikasih tau gurunya Mas Niko sekolah SLB gimana? Percaya opo kepie?
Interviewee : Percaya ya memang lambat, menerima pelajarane lambat. Memang harus ditangani khusus gurunya yang membimbing kan harus satu-satu harus langsung. Makane kan anak SLB muride mung tujuh.
Interviewer : Lha pas masuk SLB umur berapa? Interviewee : Umur koyone umur 15 tahun.
Interviewer : Tapi Mas Niko berteman yo, mau konconan.
Interviewee : Berteman, yo dolan main karo konco-konco biasa. Interviewer : Berarti mungkin lambat di sekolah?
Interviewee : Lambat di otak, yo lambat memang lambat tapi yo bisa nek telaten. Tapi kalau daya ingat ya ingat masalah opo seng dijanjikan yo ingat. Ingat kejadian yang ter jadi langsung gitu ingat, kelingan terus. Nyong kelalen kadang-kadang ae Niko ingat.
Interviewer : Lha kui biasane Mas Niko angele ning sekolah tok yo? Tapi nek bergaul bisa.
Interviewee : Bergaul bisa, lha wong temene ki do dolan rene, sing numpak motor yo rene.
Koncone Cina yo Niko ngerti. Koncone sing do ora iso melaku yo do dolan rene numpak motor roda telu, ngono yo ileng dalane rene. Iki meh lulus.
Interviewer : Ha opo iyo? Kelas piro?
Interviewee : Kelas 3 SMA, senenge mbatik, kerajinan.
Interviewer : Lha kok cepet? Berarti nyong wes tuo yoo. Interviewee : Yo uwes
Interviewer : Lha mas Niko nek karo Mas Napis karo Om Anggit keprie? Opo sering tukaran, gampang jengkel.
Interviewee : Enggak, orak. Gluwehan malah. Nek karo Anggit nganu…manut. Nek karo Napis ki gluwehan, ora tau gelut. Jare anakke Hani kan do tukaran, gelut- gelutan.
Nek iki orak gone inyong. Soale koyo Anggit karo Niko kan jarakke adoh, yo orak..ra gelut. Napis karo Niko kan jarakke reket to, tapi yo ra gelut, ngerti melas.
Interviewer : Berarti mas Niko luweh seneng karo mas Napis yo?
Interviewee : Iyo, malah maksudte kedekatane ki karo Napis, nek karo Anggit kan rodok wedi, awakke kan gedi. Niko ki wonge malah bermasyarakat, cedak karo pak RT barang, melu masuk grup, kadang yo melu slametan. Keprie yo malah PD nan wonge, nek ono wong mati yo melu tahlilan.
Interviewer : Berarti Mas Niko di trima baik yo..
Interviewee : Iyo, nek neng Masyarakat malah do menghargailah, maksudte malah do nganu misale dijak jajan wong muni eh ngko tak bayar nyong. Yo nerimo kabeh.
Interviewer : Nek sekolah mangkat dewe po dianter?
Interviewee : Dianter pol nyebrangke, nyong mok nyebrangke tok. Tekan sekolah mangkat dewe numpak angkot, awet SD kelas 5 koyone mangkat dewe.
Interviewer : Lha Mbah Tin pas awal-awal ngerti ngono sedih po ra?
Interviewee : Bingung, ora sedih. Yo pie yo bocah ora gelem sekolah. Lah ujuk-ujuk gelem sekolah nyong malah bingung, tak jak neng SLB trus di tes, di takok’i gurune jawab dewe, nyong ora marai.
Interviewer : Oh.. pinter yo.
Interviewee : Iyo..
Interviewer : Terakhir, nanti kalo Mas Niko kepingin kerjo mbatik kalo kerjo ning jauh
Interviewee : Yo ora, ngopo wi. Ben Niko iso mandiri. Otomatis kan ono ngumbahi, sing penting aku ndelok keadaane.
Interviewer : Berarti kalo kerjo ning adoh gapapa? Interviewee : Ya gapapa. Sing penting aman.
Interviewer : Yawis ngono bae, Terima kasih.
6.1 Rekaman Wawancara :
https://drive.google.com/drive/folders/1-KUgtXBJYvwNAEPrGSQ4FqLwsUh_a0WI
F. TABEL CHECKLIST OBSERVASI
No. Aspek yang Diamati Ya Tidak Keterangan
1. Tidak dapat memakai baju sendiri.
Dari hasil wawancara yang kami dapatkan, bahwa subjek dapat memakai baju sendiri tanpa bantuan orang lain.
2. Ketika makan harus dibantu orang lain
Dari hasil observasi yang kami lakukan, bahwa subjek dapat makan sendiri tanpa bantuan orang lain.
3. Tidak dapat minum sendiri menggunakan gelas/cangkir.
Dari hasil observasi yang kami lakukan, subjek mampu minum menggunakan gelas/ cangkir.
4. Dapat memegang alat tulis dengan baik.
Dari hasil observasi, subjek dapat memegang alat tulis dengan baik.
5. Dapat memegang alat makan dengan baik.
Dari hasil observasi yang kami lakukan, subjek dapat memegang alat makan dengan baik.
6. Subjek kesulitan ketika disuruh mengingat angka.
Dari hasil observasi yang kami lakukan, subjek mampu mengingat angka karena subjek mampu mengingat nomor dirinya sendiri.
7. Ketika di minta menirukan nyanyian subjek diam saja.
Dari hasil observasi subjek menirukan nyanyian ketika kakaknya memutar musik.
8. Subjek tidak mampu mengikuti kata-kata yang sedang dibicarakan ketika wawancara.
Subjek mampu mengikuti alur pembicaraan.
9. Pelafalan subjek tidak jelas. Ketika diajak bicara pelafalan subjek jelas.
10. Subjek kesulitan berhitung. Subjek tidak kesulitan dalam berhitung, karena subjek mampu menghitung uang.
11. Subjek kesulitan ketika disuruh membaca.
Dari hasil observasi, subjek terbata-bata ketika disuruh membaca.
12. Subjek berbicara mengatakan kata yang tidak ada artinya.
Ketika di ajak bicara subjek sering mengeluarkan kata-kata yang tidak ada artinya.
13. Subjek tiba-tiba berbicara sendiri.
Subjek sering berbicara ketika tidak diajak berbicara.
14. Subjek dapat berkomunikasi dua arah.
Ketika diajak berbicara subjek mampu menjawab dengan baik.
15. Subjek kesulitan dalam menyebutkan beberapa kata dengan baik (cadel).
Pelafalan subjek jelas.
16. Subjek memiliki pandangan yang kosong ketika berbicara.
Ketika di ajak bicara subjek seringkali bengong dan tidak melakukan kontak mata.
17. Subjek hanya menjawab topik pembicaraan yang diminati
Subjek selalu menjawab ketika ditanya.
18. Subjek berbicara mengatakan kata yang tidak ada artinya.
Subjek sering mengeluarkan kata-kata yang sulit dipahami artinya.
19. Subjek tiba-tiba bicara sendiri.
Subjek sering berbicara ketika tidak diajak berbicara.
20. Subjek lambat dalam merespon ketika ditanya.
Ketika ditanya subjek langsung menjawab.
21. Subjek terlihat senang ketika diajak berbicara.
Subjek tersenyum ketika diajak berbicara.
22. Subjek mampu membangun topik ketika berbicara.
Subjek sering memulai percakapan ketika tidak diajak berbicara.
23. Subjek ketika diajak berbicara meniru kata-kata yang kita bicarakan atau membeo
Subjek merespon pertanyaan dengan baik ketika diajak berbicara.
24. Sering mengamuk/merusak. Dari hasil observasi yang kami lakukan, subjek melempar barang ketika tidak dikasih uang.
25. Berteriak. Subjek tidak berteriak.
26. Mendorong. Subjek tidak mendorong
27. Kurang mampu mengelola uang
Dari hasil wawancara, subjek kurang mampu memilih barang yang perlu di beli atau tidak.
28. Dapat menggunakan telepon Dari hasil observasi, subjek dapat menggunakan telepon karena subjek memiliki telepon sendiri.
29. Suka membunyikan gigi Dari hasil observasi, ketika diam subjek suka memmbunyikan gigi.
KESIMPULAN
Dari hasil observasi yang kami lakukan, subjek dapat memakai baju sendiri, makan dan minum menggunakan gelas tanpa bantuan orang lain. Subjek juga dapat memegang alat makan dan alat tulis dengan baik.