MAKALAH
Pemanfaatan Energi Terbarukan untuk Kebelanjutan Pembanguanan
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Bahasa Indonesia Dosen Pengampu : Anis Surya Trisanti, S,Pd., M.Pd
DISUSUN OLEH:
Muhammad Qadafi Assidiqy (114230067)
JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN “VETERAN” NASIONAL YOGYAKARTA YOGYAKARTA
2023
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat, hidayat, serta karunia-Nya kami dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Bahasa Indonesia yaitu membuat makalah yang berjudul “Pemanfaatan Energi Terbarukan untuk Keberlanjutan Pembangunan”
dapat kami selesaikan dengan baik dan tepat waktu. Begitu pula atas limpahan kesempatan dan kesehatan kepada kami sehingga makalah ini dapat kami susun melalui beberapa sumber yaitu melalui kajian pustaka maupun media internet. Pada kesempatan ini, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan motivasi dan semangat dalam pembuatan tugas makalah ini. Harapan kami, semoga informasi dan materi yang terdapat dalam makalah ini dapat bermanfaat dan berguna bagi pembaca.
Demikian yang dapat kami sampaikan dalam pengantar ini, kami menyadari masih banyak kesalahan dalam penyusunan makalah ini baik dari segi tata bahasa, etika, kosakata, maupun isi.
Maka dari itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran membangun dari pembaca yang akan penulis jadikan evaluasi dan perbaikan makalah selanjutnya.
Yogyakarta, 25 November 2023
Penyusun
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam era globalisasi abad ke-21, permintaan akan energi yang berkelanjutan semakin mendesak sejalan dengan pertumbuhan populasi dan perkembangan ekonomi global. Meskipun bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak, dan gas, telah memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, penggunaan berlebihan dari sumber daya ini telah menimbulkan dampak negatif yang serius.(Rahma Wardhana, n.d.) Ketergantungan yang tinggi pada energi fosil tidak hanya meningkatkan emisi gas rumah kaca, yang ikut berperan dalam perubahan iklim global, tetapi juga membuat pasokan energi semakin tidak stabil dan rentan terhadap fluktuasi harga. Oleh karena itu, diperlukan perubahan paradigma dalam pendekatan kita terhadap sumber daya energi.
Energi terbarukan muncul sebagai solusi yang menjanjikan untuk mengatasi tantangan tersebut. Sumber daya alam, seperti surya, angin, air, dan biogas, menawarkan alternatif yang bersih dan berkelanjutan. Penggunaan energi terbarukan tidak hanya berkontribusi pada pengurangan emisi karbon tetapi juga mendukung keberlanjutan pembangunan dengan mengurangi ketergantungan pada sumber daya yang terbatas.
Keberlanjutan pembangunan, yang mencakup pertumbuhan ekonomi, perlindungan lingkungan, dan kesejahteraan sosial, menjadi fokus utama dalam agenda global. Dalam konteks ini, energi terbarukan menjadi kunci untuk mencapai tujuan keberlanjutan ini.
Penelitian ini bertujuan untuk menggali peran vital pemanfaatan energi terbarukan dalam mencapai keberlanjutan pembangunan, dengan mengidentifikasi peluang dan tantangan yang terkait serta merumuskan strategi untuk mendukung peralihan menuju sistem energi yang berkelanjutan dan kompetitif.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana kebijakan pemerintah mengenai pemanfaatan energi terbarukan?
2. Apa saja potensi sumber energi terbarukan yang melimpah di Indonesia?
3. Bagaimana cara pemanfaatan sumber energi terbarukan yang ada di Indonesia?
4. Bagaimana peran sumber energi terbarukan untuk pembagunan berkelanjutan?
5. Bagaimana inovasi teknologi dan tantangan untuk pengembangan dan penerapan energi terbarukan?
C. Tujuan
1. Menilai kebijakan pemerintah mengenai pemanfaatan energi terbarukan.
2. Menganalisis potensi sumber energi terbarukan yang melimpah di Indonesia.
3. Menganalisis cara pemanfaatan sumber energi terbarukan yang ada di Indonesia.
4. Menganalisis peran sumber energi terbarukan untuk pembagunan berkelanjutan.
5. Mengidentifikasi inovasi teknologi dan tantangan untuk pengembangan dan penerapan energi terbarukan.
BAB II PEMBAHASAN
A. Kebijakan Pemerintah Indonesia Dalam Mengatur Pemanfaatan Sumber Daya Energi Nasional
Di dalam peraturan presiden No. 5 Tahun 2006 ditargetkan bahwa di tahun 2025 akan tercapai elastisitas energi kurang dari 1 dan energi campuran primer yang optimal dengan memberikan peranan yang lebih besar terhadap sumber energi alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil khususnya minyak bumi. Di dalam PP 79 tahun 2014 tentang kebijakan energi nasional bahwa Indonesia harus memaksimalkan penggunaan energi bersih terbarukan, meminimalkan penggunaan minyak bumi, mengoptimalkan pemanfaatan gas bumi dan energi baru, mengandalkan batubara sebagai andalan pasokan energi nasional dan memanfaatkan nuklir sebagai pilihan terakhir.
Dasar dasar hukum yang manaungi dalam peningkatan insfrastruktur PLTS :‐ Permen ESDM No.53 tahun 2018, Permen ESDM No.50 tahun 2017 tentang pemanfaatan sumber energi terbarukan untuk penyediaan tenaga listrik. Permen ESDM No.38 tahun 2016 tentang percepatan elektrifikasi di perdesaan yang belum berkembang, terpencil, perbatasan, dan pulau kecil berpenduduk melalui pelaksanaan usaha penyediaan tenaga listrik untuk skala kecil. Adapun dasar‐
dasar hukum khusus yang mengatur pembangunan infrastruktur untuk masyarakat perdesaan, pulau terluar, dan Kawasan perbatasan non komersil :‐ Perpres No. 47 tahun 2017 tentang Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE), Permen ESDM No. 33 tahun 2017 tentang tata cara penyediaan LTSHE bagi masyarakat yang belum mendapatkan akses listrik, Permen ESDM No.36 tahun 2018 tentang petunjuk operasional pelaksanaan DAK fisik penugasan bidang energi skala kecil, Permen ESDM No. 39 tahun 2017 tentang pelaksanaan kegiatan fisik pemanfaatan energi baru terbarukan serta konservasi energi. (Ferdyson & Windarta, 2023)
B. Potensi dan Pemanfaatan Sumber Energi Terbarukan
1. Energi Surya
Energi surya merupakan sumber daya utama yang sangat luar biasa karena tidak mencemari lingkungan dan bersifat tak terbatas. Pemerintah Indonesia saat ini sedang aktif mengembangkan pemanfaatan energi surya sebagai bagian dari upaya peningkatan sumber daya energi. Dikarenakan Indonesia adalah negara tropis, potensi penggunaan energi surya di negara ini sangat besar.(Ferdyson & Windarta, 2023)
Energi surya di Indonesia memiliki potensi lebih dari 200 GW dengan efisiensi teknologi yang tersedia saat ini. Namun, pemanfaatan energi surya dalam
pembangkitan listrik masih kurang dari 100 MW yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Energi surya dapat dimanfaatkan melalui dua macam teknologi yaitu energi surya termal dan surya fotovoltaik.(Lubis et al., 2023)
a. Surya Fotovoltaik
Energy surya atau lebih dikenal sebagai solar cell atau photovoltaic cell,merupakan sebuah divais semikonduktor yang memiliki permukaan yang luas dan terdiri dari rangkaian dioda tipe p dan n,yang mampu merubah langsung energi surya menjadi energi listrik.
b. Surya Termal
Sebagian besar dan secara komersial,pemanfaatan energi surya termal banyak digunakan untuk penyediaan air panas rumah tangga, khususnya rumahtangga perkotaan. Jumlah pemanas air tenagasurya (PATS) diperkirakan berjumlah 150.000 unit dengan total luasan kolektor sebesar 400,000 m2.
2. Energi Angin
Secara keseluruhan, karakterisasi Indonesia sebagai negara dengan potensi angin yang terbatas didasarkan pada kenyataan bahwa kecepatan angin minimum yang dapat dikembangkan secara ekonomis sebagai penyedia layanan energi diperkirakan mencapai sekitar 4 meter per detik. Meskipun demikian, ada beberapa wilayah di Indonesia yang menonjol dengan potensi energi angin yang mungkin besar dan layak untuk pengembangan lebih lanjut. Wilayah-wilayah ini mencakup Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi Selatan dan Tenggara, serta daerah Pantai Utara dan Selatan Jawa, termasuk juga kepulauan Karimun Jawa.
(Lubis et al., 2023)
Penting untuk diakui bahwa dalam mengidentifikasi potensi pengembangan energi angin, faktor geografis dan lingkungan seperti topografi dan pola angin menjadi pertimbangan utama. Oleh karena itu, pemetaan dan pemahaman mendalam terhadap kondisi geografis di wilayah-wilayah tersebut menjadi krusial untuk merencanakan pengembangan sumber daya energi angin secara efektif dan berkelanjutan. Meskipun secara umum Indonesia mungkin tidak termasuk dalam kategori negara dengan potensi angin melimpah, identifikasi dan pengevaluasian lebih lanjut terhadap wilayah-wilayah potensial ini memberikan peluang untuk diversifikasi sumber daya energi dan mendukung tujuan keberlanjutan nasional.
3. Energi Air
Sumber energi air di Indonesia sangat melimpah dikarenakan letak geografisnya yang hampir dipenuhi daerah perairan. Potensi energi air mencapai 74.976 MW, dengan sebagian besar, yaitu 70.776 MW, terletak di luar Pulau Jawa. Meskipun potensinya besar, hanya sekitar 3.105,76 MW yang telah dimanfaatkan, terutama di Pulau Jawa. Keputusan untuk membangun setiap jenis pembangkit listrik, termasuk PLTA, didasarkan pada kelayakan teknis dan ekonomis dari pusat listrik, serta hasil analisis dampak lingkungan.(Lubis et al., 2023)
Dalam konteks ini, pertimbangan melibatkan ketersediaan sumber energi, permintaan energi listrik, biaya pembangkitan yang rendah, dan karakteristik spesifik
dari setiap jenis pembangkit, apakah itu untuk mendukung beban dasar (base load) atau beban puncak (peak load).
Selain PLTA, energi mikrohidro (PLTMH) juga memiliki potensi signifikan dengan kapasitas 200-5.000 kW, mencapai potensi sebesar 458,75 MW. PLTMH sangat layak untuk dikembangkan, terutama di daerah pedesaan pedalaman yang terpencil atau pulau-pulau kecil dengan aliran sungai yang sempit. Biaya investasi untuk pengembangan PLTMH relatif lebih terjangkau dibandingkan dengan biaya investasi PLTA.(Lubis et al., 2023)
4. Energi Panas Bumi
Sebagai wilayah vulkanik, Indonesia memiliki kekayaan potensi energi panas bumi yang melimpah. Jalur gunung berapi membentang dari ujung Pulau Sumatera hingga Kepulauan Banda, mencakup Pulau Jawa, Bali, NTT, NTB, Halmahera, dan Pulau Sulawesi. Jalur tersebut memiliki panjang lebih dari 7.500 km dan lebar berkisar antara 50-200 km, dengan total 150 gunung berapi baik yang aktif maupun yang sudah tidak aktif. Penelitian di sepanjang jalur ini mengidentifikasi 217 daerah sebagai prospek panas bumi.(Lubis et al., 2023)
Potensi energi panas bumi Indonesia mencapai 19.658 MW, dengan sebagian besar terkonsentrasi di Pulau Jawa (8.100 MW) dan Pulau Sumatera (4.885 MW), sementara sisanya tersebar di Pulau Sulawesi dan kepulauan lainnya. Meskipun potensinya besar, saat ini baru sekitar 803 MW energi panas bumi yang telah dimanfaatkan. Data energi panas bumi dapat dibagi menjadi energi cadangan dan energi sumber, memberikan gambaran potensi pengembangan yang dapat diexplorasi dan dimanfaatkan lebih lanjut.
5. Energi Biomassa/Biogas
Biomassa, sebagai sumber energi utama, memiliki potensi besar di Indonesia, diperoleh dari keberagaman vegetasi dalam hutan tropika. Energi dapat dihasilkan dari biomassa melalui proses teknologi yang telah terbukti efektif, baik dalam bentuk listrik maupun panas. Selain kayu sebagai sumber biomassa, limbah biomassa yang dihasilkan dari aktivitas industri pengolahan hutan, pertanian, dan perkebunan.
Masalah serius muncul dari limbah kota, terutama Municipal Solid Waste (MSW), yang sebagian besar terdiri dari biomassa di kota-kota besar. Meskipun menjadi sumber masalah lingkungan, limbah ini memiliki potensi energi yang belum sepenuhnya dimanfaatkan. Limbah biomassa padat dari sektor kehutanan, pertanian, dan perkebunan memiliki potensi yang lebih besar daripada limbah dari padi, jagung, ubi kayu, kelapa, kelapa sawit, dan tebu. Potensi total limbah biomassa padat di seluruh Indonesia mencapai 49.807,43 MW.(Lubis et al., 2023)
Dengan menggunakan teknologi pertanian terkini, pengembangan hutan energi menjadi lebih mungkin untuk memenuhi kebutuhan biomasa secara besar dan berkelanjutan. Di samping limbah biomassa padat, biogas dapat dihasilkan dari limbah kotoran hewan seperti sapi, kerbau, kuda, dan babi, yang tersebar di seluruh provinsi Indonesia dengan jumlah yang bervariasi.(Rahmat, 2023)
Pemanfaatan energi biomassa dan biogas di seluruh Indonesia saat ini mencapai sekitar 167,7 MW, dengan mayoritas berasal dari limbah tebu, dan biogas sekitar 9,26
MW yang dihasilkan dari proses gasifikasi. Biaya investasi untuk proyek biomassa berkisar antara 900 hingga 1.400 dollar per kilowatt (kW), dengan biaya energi sekitar Rp 75 hingga Rp 250 per kilowatt-jam (kWh).(Lubis et al., 2023)
C. Peran Energi Terbarukan dalam Keberlanjutan Pembangunan
1. Pertumbuhan Ekonomi melalui Energi Terbarukan
Pemanfaatan energi terbarukan berpotensi menjadi katalisator untuk pertumbuhan ekonomi. Proyek-proyek energi terbarukan menciptakan lapangan kerja baru dalam instalasi, pemeliharaan, dan pengembangan teknologi terbarukan. Seiring dengan itu, sektor ini dapat menggairahkan pertumbuhan ekonomi lokal dan regional, memberikan peluang investasi yang berkelanjutan, dan merangsang inovasi di sektor energi.
2. Perlindungan Lingkungan
Penggunaan energi terbarukan memberikan kontribusi yang signifikan dalam melindungi lingkungan. Dengan mengurangi emisi gas rumah kaca dan polusi udara, energi terbarukan membantu mengatasi perubahan iklim global dan menjaga keberlanjutan ekosistem. Sumber daya alam yang terbarukan seperti matahari, angin, dan air juga mengurangi tekanan pada ekosistem alam yang rentan terhadap eksploitasi berlebihan.
3. Peningkatan Kesejahteraan Sosial
Energi terbarukan berpotensi meningkatkan kesejahteraan sosial, terutama di komunitas yang sebelumnya kurang terlayani oleh infrastruktur energi. Pemberian akses yang lebih baik ke energi bersih dapat meningkatkan kualitas hidup, mendukung pendidikan, dan memperkuat keberlanjutan masyarakat. Program- program pemberdayaan masyarakat melalui proyek energi terbarukan dapat menciptakan dampak positif jangka panjang.
4. Tantangan Teknis dan Ekonomis
Meskipun potensi positifnya, pemanfaatan energi terbarukan juga dihadapkan pada sejumlah tantangan. Aspek teknis, seperti integrasi ke dalam jaringan listrik yang sudah ada dan ketersediaan teknologi yang andal, harus diatasi. Selain itu, hambatan ekonomis, terutama biaya investasi awal, memerlukan strategi kebijakan dan dukungan keuangan untuk mendorong adopsi secara luas.
5. Kebijakan Publik dan Inovasi Teknologi
Kebijakan publik yang mendukung, termasuk insentif fiskal dan regulasi yang jelas, berperan penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan energi terbarukan. Selain itu, inovasi teknologi terus menjadi kunci untuk mengatasi tantangan teknis dan mengoptimalkan kinerja sumber daya energi terbarukan.
BAB III PENUTUP A. Kesimpulan
Secara keseluruhan, makalah ini menggambarkan potensi besar dan peran krusial energi terbarukan dalam konteks pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Potensi energi surya, angin, air, panas bumi, dan biomassa/biogas dianalisis secara rinci, menyoroti keberagaman sumber daya yang dapat dimanfaatkan. Pemanfaatan energi terbarukan diidentifikasi sebagai katalisator pertumbuhan ekonomi, melalui penciptaan lapangan kerja, peluang investasi, dan inovasi di sektor energi.
Keberlanjutan lingkungan diperkuat melalui pengurangan emisi gas rumah kaca dan polusi udara, memberikan kontribusi terhadap perlindungan ekosistem dan mengurangi tekanan terhadap sumber daya alam. Peningkatan kesejahteraan sosial, terutama di daerah yang kurang terlayani oleh infrastruktur energi, menjadi dampak positif yang dapat dicapai melalui akses yang lebih baik ke energi bersih.
Meski demikian, tantangan teknis seperti integrasi ke jaringan listrik yang sudah ada dan hambatan ekonomis, terutama biaya investasi awal, menjadi kendala yang perlu diatasi. Kebijakan publik yang mendukung, inovasi teknologi, dan strategi keuangan yang tepat diperlukan untuk mengatasi hambatan tersebut dan mendorong adopsi luas energi terbarukan di Indonesia. Dengan memahami potensi dan tantangan ini, Indonesia dapat membangun fondasi yang kokoh untuk masa depan berkelanjutan yang mencakup pertumbuhan ekonomi, perlindungan lingkungan, dan peningkatan kesejahteraan sosial.
DAFTAR PUSTAKA
Ferdyson, F., & Windarta, J. (2023). Overview Pemanfaatan dan Perkembangan Sumber Daya Energi Surya Sebagai Energi Terbarukan di Indonesia. Jurnal Energi Baru Dan Terbarukan, 4(1), 1–6.
https://doi.org/10.14710/jebt.2023.15714
Lubis, A., Di, P., Konversi, T., Energi, K., Pengkajian, B., & Teknologi, P. (2023). ENERGI TERBARUKAN DALAM PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN.
Rahma Wardhana, A. (n.d.). Transisi Indonesia Menuju Energi Terbarukan.
http://tashwirulafkar.net/index.php/afkar/index
Rahmat, F. N. (2023). Analisis Pemanfaatan Sampah Organik Menjadi Energi Alternatif Biogas. Jurnal Energi Baru Dan Terbarukan, 4(2), 53–57. https://doi.org/10.14710/jebt.2023.16497
Yang Kedua Batuan Kapur
Batuan kapur adalah jenis batuan sedimen yang mengandung senyawa karbonat. Pada beberapa bagian situs, ditemukan batuan kapur yang digunakan dalam pembuatan beberapa relief dan arsitektur di Bukit Ratu Boko. Batuan kapur ini memiliki warna putih yang mencolok dan sering digunakan untuk menghiasi bangunan-bangunan kuno.
Yang Ketiga MEGALIT Beberapa batuan besar yang ditemukan di Bukit Ratu Boko disebut sebagai megalit. Batuan-batuan ini mungkin digunakan untuk tujuan seremonial atau hanya sekedar sebagai bagian dari struktur kuno di situs ini.
Sekian Presentasi dari kelompok kami atas perhatianya kami ucapkan terimakasih