KARYA ILMIAH PSIKOLOGI ANAK LUAR BIASA
EFEKTIFITAS MEMBENTUK POLA GAMBAR ANAK TUNARUNGU DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN & INTELEKTUAL DI BIDANG SENI 2D
Anggota Kelompok :
Aisyah Kamila Arsyaf 20210701147 Shane Beverly 20210701092 Indriarti Oktavia Gunawan 20210701128
Rival Naldya 20210701053 Gita Arini Cahya 20210701064
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS ESA UNGGUL KEBON JERUK JAKARTA BARAT 2022 Jl. Arjuna Utara No.9, Duri Kepa, Kec. Kb. Jeruk, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus
Ibukota Jakarta 11510
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan atas rahmat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kami umur, kesehatan, serta kemampuan untuk menyelesaikan makalah ini dengan sebaik- baiknya. Tak lupa kami sampaikan terima kasih atas partisipasi dosen kami, Bu Lita Patricia Lunanta, S. Psi., M. Psi. yang sudah memberi saran dan masukan dalam penulisan makalah ini. Juga pada rekan-rekan mahasiswa yang telah berkontribusi dalam penulisan makalah ini.
Dalam makalah ini berisikan pemahaman mengenai Efektifitas Membentuk Pola Gambar Anak Tunarungu Dalam Meningkatkan Keterampilan dan Intelektual di Bidang Seni 2D.
Penulisan makalah ini memiliki tujuan sehubung adanya tugas akhir pada mata kuliah Psikologi Anak Luar Biasa semester tiga. Juga kami berharap dengan adanya makalah yang telah kami buat ini memberikan manfaat tidak hanya untuk kami selaku penulis, tetapi juga untuk para pembaca.
Dengan penulisan makalah ini, kami terbuka atas kritik dan saran yang membangun dari pembaca agar pada penulisan berikutnya menjadi lebih baik lagi. Terakhir namun bukan yang paling akhir, kepada anggota kami yang sudah menuangkan keringat dan jerih payahnya dalam proses penulisan makalah ini.
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Anak tunarungu merupakan penyandang disabilitas dengan keterbatasan pendengaran serta berbicara. Tunarungu yang diderita sejak lahir atau terjadi pada saaat masa perkembangan akan menjadi permasalahan untuk penyadangnya.
Keterbatasan dalam mendengar dan berbicara menjadikan mereka sering kali
terhambat dalam pembelajaran. Boothroyd (1982) mengatakan bahwa, permasalahan yang terjadi meliputi bidang (1) Perseptual, (2) Komunikasi, (3) Kognitif dan
intelektual, (4) Pendidikan, 5) bidang emosi, (6) bidang sosial, dan (7) hal
memperoleh pekerjaan atau vokasional. (Hendarmin, 1992) juga mengatakan bahwa penderita tunarungu, sulit mengembangkan kemampuan bicara, sehingga mengalami hambatan berkomunikasi dan pada akhirnya menghambat perkembangan kepribadian, kecerdasan, dan penampilannya sebagai makhluk sosial.
Ketulian merupakan bencana besar bagi sebagian orang, mereka menganggap ketulian dapat menghambat kemampuan mereka didalam bidang akademik dan non akademik, ketunarunguan menjadi penghambat sebab mereka yang menderita ketulian dapat kehilangan rangsangan suara, rangsangan suara ini berperan dalam memprediksi pikiran serta menempatkan manusia dalam mencapai intelektualnya. Umumnya anak tunarungu dalam meraih pendidikan, mereka akan ditempatkan pada sekolah khusus untuk menunjang pelatihan kebahasaan serta mengasah intelektual yang terhambat.
Hal pertama yang diajarkan oleh pihak sekolah adalah mengasah kemampuan komunikasi dan berbahasa, tujuan utama dalam mengasah kemampuan berbahasa adalah untuk menekankan kemampuan komunikasi verbal oral. Tujuan pengasahan komunkasi verbal oral agar anak tunarungu dapat mengungkapkan, berbicang- bincang, dan menjalin pertemanan dengan teman senasib ataupun dengan orang normal lainnya, berharap agar anak tunarungu tersebut mencapai integrasi dalam bermasyarakat.
Walaupun mereka terhambat dalam mendengar serta berbicara, anak tunarungu diberikan kemampuan untuk mengasah kemampuan intelektual mereka, seringkali anak tunarungu diajarkan secara aktif pada bidang non akademik, salah satunya membuat kesenian dalam bentuk menggambar dan mewarnai. Kegemaran mereka dalam bidang seni akan melatih kemampuan spasial mereka. kemampuan spasial merupakan jenis kemampuan pemahaman, merekontruksi, dan menipulasi
informasi visual. Untuk mengasah kemampuan spasial diperlukan latihan, salah satunya melatih kemampuan seni. Anak tunarungu yang menyukai kesenian akan lebih sering menggunakan imajinasinya untuk berseni (menggambar dan mewarnai) sehingga membantu dalam membangun kemampuan spasial mereka.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah efektif pengasahan keterampilan anak Tunarungu menggunakan objek seni 2D?
2. Bagaimana efektifitas membentuk pola gambar dalam meningkatkan intelektual anak Tunarungu?
3. Pola gambar seperti apakah yang bisa meningkatkan keterampilan dan intelektual anak Tunarungu?
C. Tujuan Penelitian
Penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui seberapa efektif membentuk pola gambar untuk mengasah keterampilan dan intelektual di bidang seni 2D pada anak Tunarungu.
D. Manfaat Penelitian
Dengan adanya karya ilmiah ini diharapkan adanya pengetahuan baru tentang bagaimana cara meningkatkan keterampilan serta intelektual pada anak tunarungu.
Sehingga diharapkan bisa diterapkan pada pembelajaran kesenian 2D untuk sekolah- sekolah luar biasa khususnya SLB B.