• Tidak ada hasil yang ditemukan

KELOMPOK 2 SPM TEORI BELAJAR HUMANISTIK DAN SIBERNETIK

N/A
N/A
Riska Risma Wati

Academic year: 2025

Membagikan "KELOMPOK 2 SPM TEORI BELAJAR HUMANISTIK DAN SIBERNETIK"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

TEORI BELAJAR HUMANISTIK DAN SIBERNETIK (Makalah Strategi Pembelajaran Matematika)

Dosen Pengampu:

Dr. Sri Hastuti Noer, M.Pd.

Desrina Hardianti, S.Pd., M.Pd.

Disusun oleh:

Kelompok 2

1. Pury Dewi Wulandari 2313021022 2. Aqila Tisana Putri 2313021044 3. Dessinta Nurria Sofiani 2313021046 4. Riska Risma Wati 2313021073

PENDIDIKAN MATEMATIKA

FAKULTAS KEGURUAN DAN PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

2025

(2)

ii

KATA PENGANTAR

Dengan penuh rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan petunjuk-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah berjudul Teori Belajar Humanistik dan Sibernetik. Makalah ini disusun sebagai bagian dari tugas mata kuliah Strategi Pembelajaran Matematika dalam Program Studi Pendidikan Matematika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lampung.

Kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dr. Sri Hastuti Noer, M.Pd., dan Ibu Desrina Hardianti, S.Pd., M.Pd., selaku dosen pengampu mata kuliah Strategi Pembelajaran Matematika. Selain itu, kami juga menghargai dukungan serta kontribusi dari rekan-rekan dalam proses penyusunan makalah ini.

Makalah ini bertujuan untuk membahas Teori Belajar Humanistik dan Sibernetik. Kami menyadari bahwa masih terdapat keterbatasan dalam penyusunannya, baik dari segi pengetahuan maupun pengalaman. Oleh karena itu, kami sangat terbuka terhadap kritik, saran, dan masukan yang membangun guna penyempurnaan di masa mendatang.

Sebagai penutup, kami berharap makalah ini dapat memberikan manfaat serta menjadi kontribusi yang berarti dalam memahami Teori Belajar Humanistik dan Sibernetik. Semoga tulisan ini dapat menginspirasi dan memperluas wawasan para pembaca.

Bandar Lampung, 18 Februari 2025

Penulis

(3)

iii DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iii

BAB I ... 1

PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 1

1.3 Tujuan ... 2

BAB II ... 3

PEMBAHASAN ... 3

2.1 Definisi Teori Belajar Humanistik ... 3

2.2 Tokoh-Tokoh dalam Teori Belajar Humanistik ... 5

2.3 Teori Belajar Humanistik Carl Rogers ... 6

2.4 Aplikasi Teori Humanistik Carl Rogers dalam Dunia Pendidikan ... 12

2.5 Implikasi Teori Belajar Humanistik terhadap Proses Pembelajaran ... 13

2.7 Pengertian Teori Belajar Sibernatik ... 16

2.8 Pemrosesan Informasi dalam Teori Belajar Sibernetik ... 17

2.9 Proses Berpikir Algoritmik dan Heuristik dalam Teori Belajar Sibernetik 19 2.10 Kelebihan dan Kelemahan Teori Belajar Sibernetik ... 19

BAB III ... 21

PENUTUP ... 21

3.1 Kesimpulan ... 21

3.2 Saran ... 21

DAFTAR PUSTAKA ... 23

(4)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Belajar adalah proses berpikir yang memungkinkan seseorang memperoleh pemahaman dan wawasan baru tentang hal-hal yang sebelumnya belum ia ketahui. Ketika membahas tentang pembelajaran, tentu tidak terlepas dari aktivitas yang berkaitan dengan proses memperoleh ilmu.

Kata pembelajaran sendiri berasal dari kata dasar ajar, yang memiliki makna memperoleh pengetahuan serta keterampilan melalui suatu proses pendidikan.

Dalam dunia pendidikan, terdapat banyak teori yang membahas tentang proses belajar, yang menjadi dasar dalam berbagai metode pembelajaran dan materi ajar. Teori-teori ini dikembangkan oleh para ahli di bidang psikologi dan pendidikan. Memahami konsep belajar dan pembelajaran sangat penting bagi pendidik maupun calon pendidik, karena dengan pemahaman yang baik, mereka dapat membantu peserta didik dalam belajar secara efektif.

Secara umum, teori belajar dikategorikan ke dalam empat aliran utama, yaitu teori belajar behavioristik, kognitif, humanistik, dan sibernetik.

Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam, dalam tulisan ini akan dibahas lebih lanjut mengenai teori belajar humanistik dan sibernetik.

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Apa pengertian Teori Humanistik?

1.2.2 Siapa saja tokoh dalam Teori Belajar Humanistik?

1.2.3 Bagaimana implikasi Teori Belajar Humanistik terhadap pembelajaran?

1.2.4 Bagaimana Teori Belajar Humanistik Carl Rogers?

1.2.5 Bagaimana aplikasi Teori Belajar Humanistik dalam pembelajaran?

1.2.6 Apa saja kelebihan dan kekurangan Teori Belajar Humanistik?

(5)

2

1.2.7 Apa pengertian Teori Belajar Sibernatik?

1.2.8 Bagaimana Pemrosesan Informasi dalam Teori Belajar Sibernetik?

1.2.9 Bagaimana Proses Berpikir Algoritmik dan Heuristik dalam Teori Belajar Sibernetik?

1.2.10 Bagaimana aplikasi Teori Belajar Sibernetik dalam Kegiatan Pembelajaran?

1.2.11 Apa saja kelebihan dan kekurangan Teori Belajar Sibernetik?

1.3 Tujuan

1.3.1 Mengetahui definisi Teori Belajar Humanistik

1.3.2 Mengetahui tokoh-tokoh dalam Teori Belajar Humanistik 1.3.3 Mengetahui Teori Belajar Carl Rogers

1.3.4 Mengetahui implikasi Teori Belajar Humanistik terhadap proses pembelajaran siswa

1.3.5 Mengetahui aplikasi Teori Belajar Humanistik dalam pembelajaran 1.3.6 Mengetahui kelebihan dan kekurangan Teori Belajar Humanistik 1.3.7 Mengetahui definisi Teori Belajar Sibernatik

1.3.8 Mengetahui Pemrosesan Informasi dalam Teori Belajar Sibernatik 1.3.9 Mengetahui Proses Berpikir Algoritmik dan Heuristik dalam Teori

Belajar Sibernatik

1.3.10 Mengetahui aplikasi Teori Belajar Sibernatik dalam Kegiatan Pembelajaran

1.3.11 Mengetahui kelebihan dan kekurangan Teori Belajar Sibernatik

(6)

3 BAB II PEMBAHASAN

2.1 Definisi Teori Belajar Humanistik

Pendekatan humanistik memiliki berbagai definisi yang bergantung pada cara istilah tersebut dipahami, sehingga menimbulkan beragam interpretasi. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman yang jelas dan dapat diterima bersama, terutama dalam dunia pendidikan. Dalam artikel berjudul

"What is Humanistic Education?", Krischenbaum menyatakan bahwa sekolah, kelas, atau pendidik dapat dikategorikan sebagai humanistik jika memenuhi beberapa kriteria tertentu. Dari kriteria tersebut, dapat disimpulkan bahwa terdapat berbagai pendekatan humanistik dalam pendidikan, yang dijelaskan lebih lanjut dalam psikologi humanistik.

Selain itu, dalam artikel "Some Educational Implications of the Humanistic Psychologist", Abraham Maslow menelaah serta membandingkan teori Freud dan behaviorisme. Maslow berpendapat bahwa memahami manusia harus dilakukan dengan melihat potensi serta kemampuan yang dimilikinya. Pendekatan humanistik lebih menekankan perkembangan dan kepribadian manusia dibandingkan hanya berfokus pada gangguan atau kelainan sebagaimana dalam teori psikoanalisis Freud. Pendekatan ini melihat manusia dari perspektif bagaimana ia dapat membentuk, membangun, dan mengembangkan dirinya secara positif setelah mengalami kesulitan atau gangguan tertentu. Oleh sebab itu, pendidik yang menerapkan pendekatan humanistik akan berfokus pada pengembangan kemampuan positif siswa, termasuk aspek emosional seperti keterampilan sosial, empati, kesadaran diri, serta pemahaman interpersonal lainnya.

Secara bahasa, istilah "humanistik" berasal dari kata human atau al- insan, yang berarti manusia. Dalam teori belajar humanistik, proses pembelajaran harus berpusat pada individu itu sendiri. Teori ini menekankan bahwa belajar harus dipahami dari perspektif peserta didik, bukan hanya dari sudut pandang pengamat. Manusia dipandang sebagai individu yang memiliki kendali atas kehidupan dan perilakunya.Oleh karena itu, tujuan utama dari

(7)

4

teori humanistik dalam pendidikan adalah memanusiakan manusia.

Pembelajaran yang ideal dalam pendekatan ini tidak hanya berfokus pada materi, tetapi juga pada pengalaman belajar yang alami dan sesuai dengan

kehidupan sehari-hari. Keberhasilan belajar dicapai ketika peserta didik mampu memahami dirinya sendiri serta lingkungannya, dan pada akhirnya dapat mencapai aktualisasi diri secara optimal.

Teori humanistik juga berasumsi bahwa semua teori belajar dapat diterapkan selama tujuannya adalah membantu individu mencapai aktualisasi diri, memahami dirinya sendiri, dan mengembangkan potensinya. Dalam praktiknya, pendidik yang menggunakan pendekatan ini menyusun serta menyajikan materi pembelajaran dengan mempertimbangkan emosi serta perhatian siswa. Tujuan utamanya adalah membantu peserta didik mengenali jati dirinya sebagai individu yang unik serta mengembangkan potensi yang dimilikinya. Pendekatan ini sangat relevan dalam pembelajaran yang berkaitan dengan pembentukan kepribadian, perubahan sikap, serta analisis fenomena sosial. Jika diterapkan dengan baik, teori ini dapat meningkatkan motivasi belajar, mendorong inisiatif siswa, mengembangkan pola pikir yang lebih mandiri, serta membentuk sikap yang didasarkan pada kesadaran diri, bukan sekadar keinginan untuk memenuhi ekspektasi orang lain. Dengan demikian, siswa diharapkan dapat menjadi individu yang berani, bebas berpikir, serta mampu mengenali potensinya tanpa harus terpengaruh oleh pendapat orang lain, namun tetap menghargai hak-hak orang lain.

Secara keseluruhan, teori humanistik dalam pendidikan menitikberatkan pada pengembangan potensi positif individu. Pendekatan ini bertujuan membantu peserta didik menemukan serta mengoptimalkan kemampuan mereka, baik dalam keterampilan sosial maupun pengembangan diri.

Kemampuan ini berperan penting dalam kesuksesan akademik dan kehidupan secara umum. Oleh karena itu, teori belajar humanistik dapat disimpulkan sebagai pendekatan yang berupaya memanusiakan manusia dengan membantu peserta didik meningkatkan potensi diri sehingga dapat meraih keberhasilan dalam pembelajaran dan kehidupan.

(8)

5

2.2 Tokoh-Tokoh dalam Teori Belajar Humanistik

Berikut beberapa tokoh-tokoh yang terlibar dalam aliran humanistik, diantaranya:

2.2.1 Arthur Combs (1912-1999)

Bersama Donald Snygg (1904-1967), mereka memberikan perhatian besar pada dunia pendidikan. Konsep utama yang sering digunakan dalam pendekatan mereka adalah makna. Pembelajaran hanya dapat terjadi jika materi yang dipelajari memiliki makna bagi individu. Oleh karena itu, guru tidak dapat memaksakan materi yang tidak diminati oleh siswa atau yang tidak memiliki relevansi dengan kehidupan mereka. Kesulitan anak dalam memahami matematika atau sejarah bukanlah karena mereka kurang cerdas, melainkan karena mereka merasa terpaksa dan tidak menemukan alasan yang kuat untuk mempelajarinya. Perilaku buruk sering kali merupakan bentuk ketidakmampuan seseorang dalam melakukan sesuatu yang tidak memberikan kepuasan bagi dirinya.

Oleh sebab itu, guru perlu memahami perilaku siswa dengan melihat dunia dari sudut pandang mereka. Jika ingin mengubah perilaku siswa, guru harus berupaya mengubah keyakinan atau pandangan yang sudah tertanam dalam diri mereka. Setiap individu memiliki perilaku internal yang membedakannya dari orang lain. Menurut Combs, banyak guru melakukan kesalahan dengan menganggap bahwa siswa akan otomatis belajar jika materi telah tersusun dan disampaikan dengan baik.

Namun, tanpa adanya makna yang terhubung dengan kehidupan siswa, pembelajaran tidak akan efektif. Oleh karena itu, yang lebih penting adalah bagaimana membantu siswa menemukan makna pribadi dalam materi pelajaran dan menghubungkannya dengan pengalaman mereka sehari-hari.

Combs menggambarkan persepsi diri dan dunia seseorang dalam bentuk dua lingkaran, satu besar dan satu kecil, yang berpusat pada satu titik. Lingkaran kecil melambangkan persepsi diri seseorang, sedangkan

(9)

6

lingkaran besar mewakili cara individu memandang dunia. Semakin jauh suatu peristiwa dari lingkaran persepsi diri, semakin kecil pengaruhnya terhadap perilaku seseorang. Oleh karena itu, hal-hal yang tidak memiliki keterkaitan langsung dengan diri individu cenderung lebih mudah dilupakan.

2.2.2 Maslow

Teori Maslow didasarkan pada gagasan bahwa setiap orang memiliki dua hal di dalamnya:

1. Upaya yang optimistis untuk maju

2. Kemampuan untuk menentang atau menentang kemajuan tersebut.

Maslow mengatakan bahwa manusia berperilaku untuk memenuhi kebutuhan mereka secara hirarkis. Setiap orang memiliki berbagai perasaan takut, seperti takut untuk berusaha atau berkembang, takut mengambil kesempatan, atau takut membahayakan apa yang sudah ada.

Namun, di sisi lain, ada dorongan untuk menjadi lebih baik, menjadi unik, menggunakan semua kemampuan mereka, menjadi percaya diri di dunia luar, dan menerima diri sendiri.

Menurut Maslow, kebutuhan manusia dibagi menjadi tujuh hirarki.

Setelah seseorang dapat memenuhi kebutuhan dasar mereka, seperti kebutuhan fisik, mereka dapat menginginkan yang lebih besar, seperti kebutuhan untuk ras aman. Hierarki kebutuhan manusia Maslow sangat penting, dan guru harus memperhatikan hal ini saat mengajar anak- anak. Ia menyatakan bahwa jika kebutuhan dasar siswa belum dipenuhi, perhatian dan motivasi belajar ini dapat meningkat.

2.3 Teori Belajar Humanistik Carl Rogers

Meskipun teori yang dikembangkan oleh Rogers termasuk dalam teori holistik, keunikannya terletak pada pendekatan yang humanistik. Teori humanistik Rogers dikenal dengan berbagai sebutan, seperti teori berpusat pada individu, non-direktif, berpusat pada klien, berpusat pada siswa, berpusat pada kelompok, serta interaksi orang ke orang. Namun, istilah

(10)

7

person-centered adalah yang paling umum digunakan untuk menggambarkan pendekatan ini.

Rogers menggambarkan teorinya sebagai humanistik dan menolak pandangan pesimistis serta keputusasaan dalam psikoanalisis, sekaligus menentang behaviorisme yang memperlakukan manusia seperti mesin yang dikendalikan oleh rangsangan eksternal. Pendekatan humanistik Rogers lebih optimis dan percaya bahwa manusia memiliki potensi bawaan untuk berkembang dan maju. Teori ini sejalan dengan konsep humanisme secara umum, yang merupakan doktrin, sikap, dan cara hidup yang menempatkan nilai-nilai kemanusiaan sebagai pusatnya, dengan menekankan pada kehormatan, harga diri, serta kemampuan individu untuk mewujudkan potensinya dalam mencapai tujuan tertentu.

Teori Rogers didasarkan pada dua asumsi utama:

1. Kecenderungan formatif , segala sesuatu di alam semesta, baik yang bersifat organik maupun non-organik, tersusun dari komponen- komponen yang lebih kecil.

2. Kecenderungan aktualisasi, setiap makhluk hidup memiliki dorongan untuk berkembang menuju kesempurnaan dan merealisasikan potensinya. Individu memiliki daya kreatif yang membantunya dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi.

a. Struktur Kepribadian

Sejak awal, Rogers meneliti bagaimana kepribadian berkembang dan berubah. Ia mengidentifikasi tiga konsep utama dalam teorinya, yaitu Organisme, Medan Fenomena, dan Diri.

Organisme

Organisme mencakup tiga aspek utama:

a) Makhluk hidup, organisme adalah entitas yang memiliki fungsi fisik dan psikologis, menjadi pusat dari seluruh pengalaman, serta memiliki kesadaran akan potensinya dalam memahami dunia internal maupun eksternal.

(11)

8

b) Realitas subjektif, cara individu mempersepsikan dunia didasarkan pada pengalaman dan observasi pribadinya. Realitas bersifat subjektif dan berpengaruh pada perilaku seseorang.

c) Holisme, organisme merupakan sistem yang saling terhubung, di mana perubahan pada satu bagian akan berdampak pada bagian lainnya. Setiap perubahan memiliki makna serta tujuan pribadi yang berkaitan dengan usaha untuk mengaktualisasikan, mempertahankan, dan mengembangkan diri.

Medan Fenomena

Medan fenomena mencakup seluruh pengalaman individu, baik yang berasal dari dalam diri maupun dari lingkungan sekitar, serta mencakup aspek yang disadari maupun tidak disadari. Medan fenomena ini mencerminkan keseluruhan pengalaman hidup seseorang sebagaimana yang ia persepsikan secara subjektif.

Diri

Selama masa balita, individu mulai membentuk konsep diri dengan belajar tentang nilai-nilai moral dan merasa nyaman atau tidak nyaman dalam berbagai situasi. Pengalaman-pengalaman kecil ini berperan dalam membentuk kepribadian seseorang. Setelah struktur diri terbentuk, proses aktualisasi diri dimulai, yaitu kemampuan untuk menjadi apa yang dipersepsikan dalam kesadaran individu. Menurut Carl Rogers, konsep diri seseorang disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain:

1) Kesadaran, kesadaran berperan penting dalam pembentukan konsep diri dan citra ideal seseorang. Carl Rogers mengidentifikasi tiga tingkatan kesadaran, yaitu: (1) pengalaman yang berada di bawah ambang sadar akan ditolak atau diingkari, (2) pengalaman yang dapat diaktualisasikan secara simbolik akan langsung diakui oleh individu, (3) pengalaman distorsi, di mana pengalaman-pengalaman yang tidak sesuai dengan konsep diri akan diubah dan didistorsi agar sesuai dengan citra diri individu.

(12)

9

Tanpa adanya kesadaran, konsep diri dan citra ideal tidak dapat terbentuk.

Dalam hal ini, penting untuk dipahami bahwa setiap orang memiliki cara berpikir dan persepsi mereka sendiri tentang dunia di sekitar mereka dan bagaimana mereka melihat peran mereka di dunia tersebut. Oleh karena itu, selalu penting untuk mengembangkan lebih lanjut pemahaman tentang siapa diri kita sebagai individu untuk mencapai potensi penuh kita sebagai manusia yang unik dengan keunikan masing-masing.

2) Kebutuhan, dalam teori pembelajaran humanistik Carl Rogers, ada empat aspek kebutuhan yang memengaruhi proses belajar seseorang: pemeliharaan, peningkatan diri, penghargaan positif, dan penghargaan positif terhadap diri sendiri. Pemeliharaan mengacu pada kebutuhan individu untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan dan keamanan. Pengembangan diri adalah dorongan bawaan individu untuk mencapai potensi maksimal dan tumbuh secara pribadi. Penghargaan positif mengacu pada kebutuhan untuk diterima dan dihargai oleh lingkungan sekitar, sedangkan harga diri positif adalah kemampuan seseorang untuk menerima dan menghargai diri mereka sendiri.

Mempertimbangkan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan ini penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan individu.

3) Stagnasi psikis, stagnasi psikis adalah suatu kondisi di mana terdapat ketidakseimbangan antara konsep diri seseorang dengan pengalamannya. Semakin besar kesenjangan ini, semakin rentan orang tersebut terhadap serangan. Kurangnya kesadaran diri dapat menyebabkan perilaku yang tidak logis, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Jika terjadi kehilangan kesadaran diri, maka akan muncul kecemasan tanpa sebab yang dapat berkembang menjadi ancaman. Sebagai contoh, seseorang memiliki konsep diri sebagai orang yang berprestasi dan sukses dalam karirnya.

(13)

10

Namun, pada kenyataannya, ia gagal dalam pekerjaannya dan merasa tidak sesukses yang dipikirkan sebelumnya. Hal ini dapat menyebabkan ketidakseimbangan antara konsep diri dan pengalamannya yang sebenarnya, sehingga ia merasa tertekan dan cemas tanpa alasan yang jelas. Ketika seseorang menghadapi stagnasi psikologis, penting untuk meningkatkan kesadaran diri untuk lebih memahami perasaannya sendiri dan mencari bantuan dari psikolog jika diperlukan untuk membantu menyelesaikan masalah tersebut.

b. Dinamika Kepribadian

Pertumbuhan dan perkembangan seseorang tentu tidak terjadi secara instan, setiap individu harus melalui tahapan-tahapan dalam setiap prosesnya. Motivasi dan aktualisasi berperan besar dalam hal ini. Sebagai contoh, ketika seorang anak sedang berusaha untuk belajar berjalan, tentu dalam prosesnya ia tidak akan jauh dari kata “jatuh”, namun ketika ia diberi tepukan tangan dan kata-kata penyemangat ia akan kembali mencoba berdiri dan melangkahkan kakinya lagi.

Ada tiga dinamika kepribadian menurut Carl Rogers, yaitu sebagai berikut:

1) Penerimaan positif atau penghargaan positif

Sebagai makhluk hidup, seorang individu akan terus berinteraksi dengan lingkungannya, seseorang akan berkembang secara positif ketika lingkungannya memberikan pengaruh yang positif pengaruh yang positif pula, ketika ia selalu mendapatkan kasih sayang dari lingkungannya dan ketika ia mendapatkan apresiasi atau penghargaan yang positif dari lingkungannya dan ketika ia mendapatkan penghargaan atau penerimaan dari orang lain di sekitarnya. Seseorang baik yang memberi maupun yang menerima akan mendapatkan kepuasan tersendiri bagi dirinya.

2) Konsistensi dan kesesuaian diri

(14)

11

Setiap organisme harus dapat mengontrol dan menjaga konsistensi dirinya dan harus menyelaraskan pandangan atau persepsi diri dengan pengalaman yang telah dimiliki.

3) Aktualisasi diri

Rogers memandang bahwa setiap organisme selalu bergerak maju dengan kecenderungan untuk mengaktualisasikan diri, yaitu kebutuhan akan pemeliharaan dan peningkatan diri. Setiap organisme harus memiliki kesadaran untuk mengerahkan segala kemampuannya untuk mencapai kepuasan terhadap dirinya sendiri.

c. Perkembangan Kepribadian

Rogers percaya bahwa setiap orang harus memiliki dorongan dan kekuatan atas diri mereka sendiri dalam mengembangkan diri ke arah aktualisasi sehingga menjadi pribadi yang berfungsi penuh. Berikut adalah karakteristik kepribadian yang berfungsi penuh.

1) Terbuka terhadap pengalaman

Seseorang yang terbuka terhadap pengalaman mampu memproses segala bentuk tindakan pada dirinya sebagai respon terhadap sesuatu yang tidak sesuai dengan dirinya. ia akan mengekspresikan pengalamannya secara akurat tanpa memanipulasinya, akibatnya pengalaman tersebut lebih mudah diterima.

2) Kehidupan eksistensial

Bagi individu yang terbuka terhadap pengalaman, setiap kejadian dalam hidupnya akan disusun secara kompleks. Salah satunya dengan mengekspresikan pengalaman tersebut untuk menunjukkan bahwa kepribadian sebenarnya terbentuk dari pengalaman tanpa adanya ekspektasi atau kebohongan yang telah dibentuk.

3) Keyakinan yang bersifat organismo

Setelah mengalami dua karakteristik sebelumnya, pada tahap ini seorang individu akan lebih mempercayai dirinya sendiri untuk melakukan sebuah tindakan atau mencari solusi untuk menyelesaikan masalah yang dialaminya berdasarkan pengalaman dan proses penilaian

(15)

12

atau pertimbangan organismik terhadap diri sendiri yang mengarahkan individu untuk mendapatkan makna.

4) Pengalaman akan kebebasan

Manusia dapat menjadi dirinya sendiri dan menemukan kebebasan untuk memilih atas kehidupannya.

5) Kreativitas

Gaya hidup kreatif dapat muncul karena kondisi manusia dalam beradaptasi dengan lingkungannya yang terus berubah, hal ini dilakukan dengan mempertimbangkan pemenuhan kebutuhan dan berusaha untuk menjadi diri sendiri tanpa bergantung pada lingkungan.

d. Terapi Yang Diberikan

Rogers menentang prinsip-prinsip psikoanalisis dan pendekatannya pendekatannya yang ia sebut Client Centered Therapy dimana metode ini berpusat pada diri dan masalah individu yang ia sebut sebagai klien.

Dalam pendekatan ini, klien atau individu akan didorong untuk menemukan sendiri solusi dari masalah yang dihadapinya dengan keyakinan bahwa pengalaman individu yang sebenarnya hanya dapat sepenuhnya dipahami oleh individu itu sendiri. Rogers memprioritaskan bagaimana klien akan berubah daripada berfokus pada bagaimana mereka menjadi seperti itu dalam belajar. Terapis bertindak sebagai pemandu, sedangkan perubahan yang sebenarnya terjadi karena inisiatif klien sendiri.

2.4 Aplikasi Teori Humanistik Carl Rogers dalam Dunia Pendidikan

Sebagai teori yang berpusat pada individu (person-centered theory), Rogers menekankan bahwa perubahan dalam diri seseorang sepenuhnya berada di tangan individu itu sendiri. Peran seorang terapis hanyalah membantu mengarahkan individu dalam mengambil keputusan dan bertindak.

Berdasarkan prinsip ini, teori person-centered dapat diterapkan dalam dunia pendidikan, di mana guru berperan sebagai fasilitator yang berfungsi layaknya seorang terapis dalam proses pembelajaran.

(16)

13

Sebagai fasilitator pembelajaran, guru perlu memiliki tiga sikap utama, yaitu:

1. Keaslian dalam peran sebagai fasilitator, guru harus memahami perannya sebagai penghubung dalam proses pembelajaran dengan menunjukkan keaslian dirinya. Dalam berinteraksi dengan siswa, guru harus bersikap terbuka, transparan, dan tidak menutupi apa pun, sehingga tercipta hubungan yang autentik dan saling percaya.

2. Menghargai, menerima, dan mempercayai peserta didik, sikap menghargai siswa yang ditunjukkan oleh guru akan menciptakan rasa penerimaan di antara mereka. Penerimaan ini akan membangun kepercayaan timbal balik yang berdampak positif pada suasana pembelajaran.

3. Empati, untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, guru perlu memiliki empati serta mampu merespons dengan baik setiap reaksi yang muncul dari siswa selama proses pembelajaran. Guru tidak seharusnya langsung menilai atau mengevaluasi secara kaku, melainkan harus memiliki kepekaan dan kesadaran terhadap pengalaman belajar siswa.

Menurut Rogers, dalam proses pembelajaran, penting bagi guru untuk menerapkan prinsip pendidikan yang menekankan bahwa siswa hanya akan belajar dengan baik jika materi yang dipelajari memiliki makna bagi mereka.

Dengan kata lain, siswa tidak perlu dipaksa mempelajari sesuatu yang tidak relevan dengan kehidupan mereka. Dalam konteks masyarakat modern, pembelajaran yang bermakna sering kali diartikan sebagai suatu proses belajar yang berfokus pada pengalaman. Oleh karena itu, dalam menyusun materi dan bahan ajar, guru harus memastikan bahwa setiap konsep baru yang diajarkan terintegrasi sebagai bagian dari pengalaman belajar siswa.

2.5 Implikasi Teori Belajar Humanistik terhadap Proses Pembelajaran

Implikasi dari psikologi humanistik lebih menekankan peran pendidik (guru) sebagai fasilitator dalam mendukung proses pembelajaran. Peran fasilitator ini mencakup beberapa aspek berikut:

(17)

14

1. Fasilitator perlu menciptakan suasana belajar yang kondusif sejak awal, serta memahami dinamika kelompok dan pengalaman yang terjadi di dalam kelas.

2. Fasilitator membantu siswa dalam merumuskan serta memperjelas tujuan belajar, baik yang bersifat individu maupun kelompok secara umum.

3. Fasilitator harus percaya bahwa setiap siswa memiliki keinginan untuk mencapai tujuan yang bermakna (meaningful), yang pada gilirannya akan menjadi motivasi kuat dalam proses pembelajaran.

4. Fasilitator berperan dalam mengorganisasikan dan menyediakan berbagai sumber belajar yang luas dan relevan untuk membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran mereka.

5. Fasilitator harus bersikap fleksibel dan dapat beradaptasi agar perannya dapat dimanfaatkan secara optimal oleh kelompok belajar.

6. Saat menanggapi pendapat dalam diskusi kelas, fasilitator harus menerima dan merespons berbagai gagasan intelektual dengan cara yang tepat, baik bagi individu maupun kelompok.

7. Jika suasana kelas sudah terbentuk dengan baik dan penerimaan dalam kelompok semakin kuat, fasilitator dapat berperan lebih aktif sebagai peserta dalam diskusi, serta mengemukakan pandangan atau pemikirannya baik secara individu maupun kelompok.

8. Fasilitator dapat berpartisipasi dalam kelompok dengan cara yang tidak memaksakan pendapat, tetapi memberikan kontribusi pribadi yang dapat diterima atau ditolak oleh siswa sesuai kebutuhan mereka.

9. Fasilitator perlu bersikap sensitif terhadap ekspresi atau pendapat siswa yang menunjukkan adanya emosi atau perasaan yang mendalam dalam proses pembelajaran.

10. Fasilitator harus memahami serta menerima keterbatasan dirinya dalam menjalankan perannya sebagai pendukung pembelajaran.

(18)

15

2.6 Kelebihan dan Kekurangan Teori Belajar Humanistik 1. Kelebihan

a. Mengedepankan nuansa demokratis, parsipatif, dialogis dan humanis (Rahman, 2014);

b. Sangat cocok di terapkan pada materi pembelajaran yang berhubungan dengan pembentukan kepribadian, hati nurani, moral, perubahan sikap dan análisis terhadap fenomena sosial (Herpratiwi, 2016);

c. Lahirnya suasana belajar yang mengedepankan saling menghargai dan kebebasan mengungkapkan pendapat ((Rahman, 2014);

d. Partisipasi aktif peserta didik dalam berbagai kegiatan di lingkungan sekolah yang selanjutnya menumbuhkan kemampuan hidup bersama dalam kelompok dengan berbagai macam keanekaragaman yang ada pada diri masing-masing peserta didik (Rahman, 2014);

e. peserta didik mampu menjadi manusia yang bebas, berani, berdikari dengan pendapatnya dan mengatur kehidupannya secara bebas tetapi tetap penuh tanggung jawab Sambil menghargai hak-hak orang lain (Herpratiwi, 2016).

2. Kekurangan

a. Teori ini tidak mudah diaplikasikan dalam proses belajar mengajar (Rahman 2014);

b. Kurang cocok di terapkan pada peserta didik yang kurang aktif atau pasif (Herpratiwi, 2016);

c. Siswa yang kurang aktif atau pasif akan mengalami ketertinggalan dalam proses belajar atau memahami materi karena malu atau takut bertanya (Herpratiwi, 2016);

d. Keberhasilan proses pembelajaran lebih banyak di tentukan oleh peserta didik itu sendiri. Oleh sebab itu, peran guru dalam pembentukan dan pendewasaan kepribadian peserta didik berkurang (Herpratiwi, 2016).

(19)

16 2.7 Pengertian Teori Belajar Sibernatik

Istilah "sibernetik" berasal dari kata cybernetic, yang merujuk pada sistem kontrol dan komunikasi yang memungkinkan adanya umpan balik (feedback). Kata ini berasal dari bahasa Yunani yang berarti "pilot" atau

"pengendali." Seiring perkembangannya, sibernetik menjadi bidang ilmu komunikasi yang berkaitan dengan pengendalian sistem komputer. Louis Couffignal adalah orang pertama yang memperkenalkan istilah ini pada tahun 1958.

Saat ini, istilah "sibernetik" mencakup berbagai aspek yang berhubungan dengan internet, kecerdasan buatan (AI), dan jaringan komputer.

Norbert Wiener, seorang ilmuwan dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), pertama kali menggunakan istilah ini untuk menggambarkan konsep kecerdasan buatan. Dalam proses komunikasi, umpan balik atau feedback memainkan peran penting, dan istilah sibernetik digunakan untuk menjelaskan mekanisme tersebut.

Menurut M.R. Abror, "Sibernetik adalah ilmu yang membahas prinsip pengendalian dan komunikasi yang diterapkan dalam fungsi organisme atau sistem yang kompleks, sering kali dikaitkan dengan konsep umpan balik."

Perkembangan teknologi informasi mendorong munculnya teori sibernetik, yang mendefinisikan pembelajaran sebagai proses pengolahan data. Salah satu asumsi utama dari teori ini adalah bahwa tidak ada satu metode belajar yang dapat diterapkan untuk semua siswa dalam setiap situasi. Cara belajar seseorang dipengaruhi oleh sistem informasi atau metode penyampaian materi. Dengan demikian, satu siswa mungkin memproses suatu informasi dengan metode tertentu, sementara siswa lain menggunakan metode berbeda untuk memahami informasi yang sama.

Teori sibernetik telah banyak diterapkan dalam dunia pendidikan.

Beberapa tokoh yang mengembangkan pendekatan berbasis pemrosesan informasi dalam pembelajaran adalah Robert Gagne, Gage, Berliner, Biehler, Snowman, Baine, dan Tennyson. Selain itu, teori ini juga menjadi bagian dari gagasan Landa dalam model pendekatan yang dikenal sebagai algoritmik dan heuristik, yang akan dibahas lebih lanjut.

(20)

17

2.8 Pemrosesan Informasi dalam Teori Belajar Sibernetik

Dalam teori belajar sibernetik, fokus utamanya adalah bagaimana siswa mengolah informasi serta cara-cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan keterampilan mereka dalam memahami dan menguasai informasi. Hal ini menjadi pedoman bagi guru dalam proses pembelajaran agar penyampaian materi kepada siswa lebih efektif.

Pemrosesan informasi berkaitan dengan bagaimana individu merespons rangsangan dari lingkungan, mengorganisir data, memahami permasalahan, membangun konsep, serta menyelesaikan masalah menggunakan simbol- simbol baik verbal maupun non-verbal. Dalam konteks pembelajaran, pemrosesan informasi tidak terpisahkan dari komunikasi.

Menurut Geralt R. Miller, komunikasi terjadi ketika suatu sumber menyampaikan pesan kepada penerima dengan tujuan yang disadari untuk memengaruhi perilaku penerima. Sementara itu, Keith Davis mendefinisikan komunikasi sebagai proses penyampaian informasi dan pemahaman dari satu individu ke individu lainnya. Dalam pembelajaran, guru berperan sebagai sumber informasi, yang menyampaikan materi pelajaran kepada siswa melalui simbol verbal, tulisan, atau bahasa non-verbal. Sebagai tanggapan, siswa memberikan umpan balik (feedback), sehingga terjadi komunikasi dua arah.

Robert Gagne berpendapat bahwa belajar melibatkan proses penerimaan informasi yang kemudian diolah dan menghasilkan keluaran berupa hasil belajar. Menurutnya, hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh dari pemrosesan informasi, yang meliputi:

a) Informasi verbal, hasil belajar berupa informasi yang dikomunikasikan dalam bentuk kata-kata atau kalimat, baik secara lisan maupun tertulis.

Contohnya adalah pemberian nama pada suatu objek, definisi, atau perumusan konsep dalam bentuk verbal.

b) Keterampilan intelektual, kemampuan individu dalam berinteraksi dengan lingkungan melalui penggunaan simbol. Keterampilan ini mencakup kemampuan membedakan (diskriminasi), memahami konsep

(21)

18

konkret dan abstrak, serta memahami aturan dan hukum yang diperlukan dalam pemecahan masalah.

c) Strategi kognitif, kemampuan individu dalam mengendalikan dan mengatur aktivitas mentalnya, termasuk dalam mengingat dan berpikir secara efektif selama proses pembelajaran.

d) Sikap, kemampuan individu dalam menentukan pilihan dan kecenderungan untuk bertindak dalam menghadapi suatu objek atau situasi tertentu.

e) Kecakapan motoric, keterampilan yang berkaitan dengan gerakan otot dan koordinasi fisik yang terkontrol dalam melakukan suatu tindakan.

Teori pemrosesan informasi menggambarkan bahwa belajar merupakan proses internal yang terdiri dari beberapa tahapan. Tahapan ini dapat dioptimalkan melalui metode pembelajaran yang disusun secara sistematis, seperti yang dikembangkan dalam teori Gagne dan Briggs. Beberapa langkah utama dalam penerapan teori ini adalah:

1. Menentukan tujuan pembelajaran.

2. Menyusun materi pembelajaran.

3. Menganalisis sistem informasi dalam materi pelajaran.

4. Memilih pendekatan pembelajaran yang sesuai.

5. Menyusun materi dalam urutan yang sistematis.

6. Menyampaikan materi dan membimbing siswa sesuai urutan yang telah ditetapkan.

Proses pemrosesan informasi dalam memori dimulai dengan penyandian informasi (encoding), diikuti dengan penyimpanan informasi (storage), dan diakhiri dengan pemanggilan kembali informasi yang tersimpan (retrieval).

Memori tersusun dalam struktur yang terorganisir, dan pencarian informasi berlangsung secara hierarkis, mulai dari informasi yang bersifat umum hingga yang lebih spesifik, hingga akhirnya informasi yang diinginkan ditemukan.

(22)

19

2.9 Proses Berpikir Algoritmik dan Heuristik dalam Teori Belajar Sibernetik Salah satu tokoh dalam aliran sibernetik adalah Landa. Ia membedakan dua jenis proses berpikir, yaitu berpikir algoritmik dan berpikir heuristik, dengan penjelasan sebagai berikut:

a. Berpikir algoritmik, Proses berpikir ini bersifat sistematis, dilakukan secara bertahap, linier, konvergen, dan langsung mengarah pada tujuan tertentu. Contohnya dalam kehidupan sehari-hari adalah saat mengoperasikan mesin mobil, di mana setiap langkah dilakukan secara berurutan sesuai prosedur.

b. Berpikir heuristic, berbeda dengan berpikir algoritmik, berpikir heuristik bersifat divergen, yaitu mengarah pada beberapa kemungkinan tujuan secara bersamaan. Cara berpikir ini sering digunakan untuk memahami konsep yang memiliki banyak makna dan interpretasi. Contohnya adalah menemukan solusi dalam pemecahan masalah, yang dalam pembelajaran dikenal dengan metode problem solving (pemecahan masalah dalam suatu materi pembelajaran).

Agar proses pembelajaran berjalan secara optimal, materi yang dipelajari atau masalah yang akan diselesaikan (dalam teori sibernetik disebut sebagai sistem informasi) harus dianalisis karakteristiknya terlebih dahulu. Beberapa jenis materi lebih efektif jika disajikan secara sistematis, berurutan, dan linier, sementara materi lainnya lebih baik disajikan dalam format yang lebih fleksibel, memungkinkan siswa untuk berimajinasi dan berpikir secara lebih terbuka.

2.10 Kelebihan dan Kelemahan Teori Belajar Sibernetik

1. Kelebihan strategi pembelajaran berdasarkan teori pemrosesan informasi:

a. Menekankan cara berpikir yang berorientasi pada proses.

b. Penyajian pengetahuan lebih efisien dan memenuhi aspek ekonomi.

c. Kemampuan belajar dapat dikembangkan secara lebih menyeluruh.

d. Seluruh kegiatan pembelajaran diarahkan secara jelas menuju tujuan yang ingin dicapai.

e. Pembelajaran memungkinkan transfer ilmu ke dalam kehidupan nyata

(23)

20

f. Adanya kontrol belajar yang memungkinkan setiap individu belajar sesuai dengan ritme masing-masing.

g. Umpan balik yang informatif membantu siswa memahami tingkat pencapaian kinerja mereka dibandingkan dengan standar yang diharapkan.

2. Kelemahan teori sibernetik:

Teori ini terlalu berfokus pada sistem informasi yang dipelajari dan kurang memperhatikan bagaimana proses belajar sebenarnya terjadi.

Dalam pandangan teori sibernetik, belajar dianggap sebagai proses pemrosesan informasi. Salah satu asumsi yang dipegang adalah bahwa tidak ada satu metode belajar yang ideal untuk semua situasi atau cocok bagi semua siswa.

Menurut Landa, dalam pendekatan algoritmik dan heuristik, belajar algoritmik mengharuskan siswa berpikir secara sistematis, bertahap, linier, dan langsung mengarah pada tujuan tertentu. Sementara itu, belajar heuristik mendorong siswa untuk berpikir secara divergen, dengan berbagai kemungkinan tujuan secara bersamaan.

Namun, kelemahan utama dari teori ini adalah terlalu menitikberatkan pada sistem informasi yang dipelajari, sehingga kurang memberikan perhatian pada bagaimana proses belajar itu sendiri berlangsung.

(24)

21 BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Makalah ini membahas dua teori belajar yang berbeda: teori belajar humanistik dan teori belajar sibernetik. Teori belajar humanistik menekankan pada potensi manusia untuk berkembang dan mencapai aktualisasi diri. Teori ini berpusat pada individu, di mana siswa aktif membangun makna dan tujuan belajar mereka sendiri. Tokoh-tokoh penting dalam aliran ini termasuk Arthur Combs, Abraham Maslow, dan Carl Rogers. Teori belajar sibernetik memandang belajar sebagai proses pengolahan informasi. Teori ini fokus pada bagaimana siswa memproses informasi dari lingkungan dan bagaimana proses tersebut dapat dioptimalkan. Teori ini juga membahas dua jenis proses berpikir: algoritmik dan heuristik.

Implikasi kedua teori ini terhadap pembelajaran cukup berbeda. Teori humanistik mendorong pembelajaran yang lebih personal, inklusif, dan bermakna. Guru berperan sebagai fasilitator, menciptakan suasana belajar yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan positif siswa. Teori sibernetik memfokuskan pada penyampaian informasi yang efektif dan efisien, serta membantu siswa mengembangkan keterampilan dalam mengolah informasi. Meskipun keduanya memiliki kekurangan dan kelebihan, kedua teori ini menawarkan perspektif yang berbeda namun penting dalam memahami proses belajar. Pendidik dapat memilih pendekatan yang paling sesuai dengan tujuan pembelajaran dan karakteristik siswa.

Penggabungan elemen-elemen dari kedua teori ini dapat menciptakan lingkungan belajar yang efektif, bermakna, dan mendorong pengembangan potensi penuh siswa.

3.2 Saran

Kami berharap para pembaca dapat memahami Teori Belajar Humanistik dan Teori Belajar Sibernetik, karena kedua teori ini dapat berkontribusi dalam memperluas wawasan serta memperdalam pengetahuan

(25)

22

kita. Kami menyadari bahwa makalah ini masih memiliki kekurangan, sehingga kami sangat mengharapkan masukan, kritik, dan saran dari para pembaca guna meningkatkan kualitas serta kedalaman isi makalah ini di masa mendatang. Semoga tulisan ini bermanfaat dan dapat menjadi referensi yang berguna bagi pembaca.

(26)

23

DAFTAR PUSTAKA

Abdurakhman, O., & Rusli, R. K. (2015). Teori Belajar dan Pembelajaran.

DIDAKTIKA TAUHIDI: Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 2(1).

Ekawati, M., & Yarni, N. (2019). Teori belajar berdasarkan aliran psikologi humanistik dan implikasi pada proses belajar pembelajaran. Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP), 2(2), 266-269.

Hardi, E., Ananda, A., & Mukhaiyar, M. (2019). Teori Belajar Humanistik Dan Implikasinya Dalam Pembelajaran. Jurnal Pendidikan, 13(2), 164-179.

Herpratiwi. (2016). Teori Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: Media Akademi.

Nast, T. P. J., & Yarni, N. (2019). Teori Belajar Menurut Aliran Psikologi Humanistik Dan Implikasinya Dalam Pembelajaran. Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP), 2(2), 270-275.

Noer, S.H. 2017. Strategi Pembelajaran Matematika. Yogyakarta: Matematika.

Perni, N.Y. (2018) Penerapan Teori Belajar Humanistik dalam Pembelajaran.

Jurnal Pendidikan Dasar, 2(1).

Rahman, U. (2014). Memahami Psikologi dalam Pendidikan (Teori dan Aplikasi).

(Y. Hidayat, Ed.) Makassar: Alauddin University Press.

Salim & Maryanti, E. (2017). Pengermbangan Perangkat Pembelajaran Matematika Melalui Teori Pembelajaran Sibernetik Berbantuan Software Derive. Jurnal Riset Pendidikan Matematika, 4(2), 229-238.

Sinambela, P. N. J. M., Husain, D. L., Meisarah, F., Wolo, H. B., Hikmah, N., Tirta, G. A. R. & Sari, F. (2022). Teori Belajar dan Aliran-Aliran Pendidikan.

Sada Kurnia Pustaka.

Syarifuddin, S. (2022). Teori Humanistik dan Aplikasinya dalam Pembelajaran di Sekolah. TAJDID: Jurnal Pemikiran Keislaman Dan Kemanusiaan, 6(1), 106-122.

Yunus, R. (2018). Teori Belajar Sibernetik dan Implikasinya Dalam Pelaksanaan Diklat. Journal of Education Science 32-41.

Referensi

Dokumen terkait

 Melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari

 melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari

 Melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari

 Melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari

 Melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari

 melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari

 melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar

Kondisi Internal mempengaruhi proses belajar melalui pengelolahan informasi dan sangat penting untuk diperhatikan oleh guru dan mengelolah pembelajaran antara lain (Suminar,2010):