• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kelompok 3 Lapo fix 22

N/A
N/A
ratna Ramdani

Academic year: 2024

Membagikan "Kelompok 3 Lapo fix 22"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA

URIN

Sifat Fisik Urin, Glukosa dalam Urin, Albumin dalam Urin, dan Ammonia dalam Urin

Nama Mahasiswa : 1. Erni Febrianti (0106523703) 2. Salsa Nandila Devinda (0106523708) 3. Dhea Sabila Zein (0106522005) 4. Eka Rahma Yuswandi (0106522018) 5. Neng Ratna Jamilah (0106522012)

Kelompok : 3

Jurusan : Gizi

Tanggal Praktikum : Sabtu, 9 Desember 2023 Asisten Praktikum : Nadya Auliaa Devanka

Syakira Kiayasa Lubis

LABORATORIUM BIOKIMIA FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS AL AZHAR INDONESIA

2023

(2)

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Urin merupakan cairan yang diperoleh dari proses kerja organ ginjal, maka dari itu kesehatan ginjal sangat penting. Kerusakan fungsi ginjal akan memperngaruhi hasil ekskresi yang berupa urin. Umumnya efek dari kerusakan fungsi ginjal adalah penyakit ginjal kronis.

Hal ini merupakan gangguan stuktur atau fungsi ginjal itu sendiri yang menjadi kerisauan terhadap dampak dari kematian di dunia maupun di Indonesia. Tahun 2021 WHO Country Health Profiles menyatakan bahwa penyakit ginjal menempati peringkat ke-10 penyebab kematian dan di Indonesia sebesar 3% (Fauziya, 2022).

Penyakit ginjal kronis muncul akibat penyakit hipertensi, obesitas dan diabetes. Ketiga penyakit tersebut yang mempengaruhi kesehatan ginjal. Selain itu, konsumsi obat herbal, obat anti inflamasi nonsteroid, panjanan panas berlebihan, serta limbah beracun pula dapat mengakibatkan kerusakan ginjal (Setyaningsih, 2023). Untuk mencegah terjadinya kerusakan ginjal, hanya perlu memperbanyak konsumsi air mineral murni agar dapat mempermudah kerja organ ginjal.

Organ ginjal menghasilkan cairan urin yang merupakan sisa metabolisme dari tubuh manusia. Urin mengandung berbagai zat yang dapat memberikan informasi tentang keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh, kondisi kesehatan, dan fungsi ginjal. Oleh karena itu, urin sering digunakan sebagai bahan pemeriksaan diagnostik, baik secara klinis maupun laboratoris (Damayanti, 2020).

Pemeriksaan urin untuk mengetahui kandungan dan karakteristik urin, diperlukan analisis urin yang meliputi pemeriksaan sifat fisik dan kimia. Pada praktikum ini pemeriksaan sifat fisik urin meliputi pengamatan warna, bau, volume, kekeruhan, pH, berat jenis, dan buih nya. Kemudian pemeriksaan kimia urin meliputi pengukuran konsentrasi zat-zat terlarut dalam urin seperti Glukosa, protein dan ammonia (Afidati, 2016).

Faktor pengaruh dari sifat fisik dan kimia urin antara lain asupan cairan, makanan, obat- obatan, aktivitas fisik, dan kondisi kesehatan. Sifat fisik dan kimia urin juga dapat berubah seiring dengan waktu, terutama jika urin disimpan dalam suhu ruang atau terpapar udara. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui sifat fisik dan kimia urin normal dan abnormal.

1.2 Tujuan Praktikum

Tujuan dari praktikum urin kali ini, yaitu:

1. Untuk mengetahui sifat fisik urin

2. Untuk mengetahui ada tidaknya glukosa pada urin 3. Untuk mengetahui ada tidaknya album pada urin

4. Untuk mengenal bau ammonia dari hasil penguraian dalam urin

(3)

BAB 2 DASAR TEORI

Urin adalah sisa cairan yang dihasilkan oleh ginjal dan dikeluarkan melalui proses buang air kecil. Ekresi urin dibutuhkan untuk, menghilangkan molekul limbah yang terdapat pada darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga keseimbangan tubuh (homeostasis) cairan tubuh. Urinalisis adalah pemeriksaan fisik, kimia, dan mikroskopis sampel urin.

Urinalisis dapat dilakukan secara manual atau otomatis dengan menggunakan dipstick dan tes sedimen urin. Institut Standar Klinis dan Laboratorium (CLSI) merekomendasikan pengujian urin dalam waktu 2 jam setelah pengumpulan urin. Menunda tes urine selama 2 jam tanpa penyimpanan pada suhu antara 2 hingga 8 °C dan tanpa tambahan bahan pengawet dapat mempengaruhi kualitas hasil tes, terutama jumlah sel darah merah dalam urin. Hal ini karena sel darah merah dalam urin encer cepat rusak, dan hipotonisitas urin menyebabkan sel darah merah dalam sedimen urin membengkak dan lisis, sehingga mengurangi jumlah sel darah merah dalam sedimen urin. (Putu, Wayan, & Dia, 2022).

Urin mempunyai fungsi utama yaitu membuang produk limbah berupa racun dan obat- obatan dari tubuh. Kebijaksanaan konvensional menyatakan urin merupakan suatu zat yang

"kotor". Hal ini dikaitkan pada urin mengandung bakteri karena berasal dari ginjal atau saluran kemih yang terinfeksi. Namun jika urin tersebut dihasilkan oleh ginjal atau saluran kemih yang sehat, sebenarnya secara medis sangat steril dan bau yang dihasilkan mirip dengan urea. Oleh karena itu urin dapat dikatakan merupakan suatu zat yang steril. (Arsyadi, 2018)

Urine mengandung berbagai macam zat seperti urea, asam ureat, amonia, dan zat lain yang terbentuk selama pemecahan protein. Tes urin rutin merupakan pemeriksaan makroskopis, mikroskopis, dan pemeriksaan kimia urin yang terdiri dari tes protein dan glukosa. Indikator yang diuji pada pemeriksaan makrospkopis meliputi volume urin, berat jenis, warna, kejernihan, bau, dan pH. Rata-rata, orang dewasa di daerah tropis menghasilkan antara 800 - 1300 ml urin dalam jangka waktu 24 jam. Warna urin yang normal disebabkan oleh berbagai jenis pigmenburobilinbyaitu antara kuning muda dan kuning tua, Adapun nilai pH urin normal adalah 4,5 hingga 8,0. Pemeriksaan mikroskopis merupakan pemeriksaan sendimen urin untuk mengetahui ada tidaknya kelainan pada ginjal atau saluran kemih serta untuk mengetahui tingkat keparahan penyakit. Pengujian kimia urin dapat dilakukan dengan lebih mudah, cepat, akurat, spesifik dan sensitif, yaitu dengan menggunakan reagen strip yang dapat memeriksa pH, protein, glukosa, benda keton, bilirubin, darah, nitrit, dan urobilinogen. (Arsyadi, 2018)

(4)

BAB 3

METODOLOGI PERCOBAAN 3.1 Alat

Alat-alat yang digunakan pada praktikum kali ini diantaranya:

1. Beaker glass 2. Gelas ukur 3. BJ urin 4. Tabung reaksi 5. Penjepit tabung 6. Pipet tetes 7. Lampu spirtus 8. Pipet ukur 9. Bulb

10. Rak tabung reaksi

(5)

3.2 Bahan

Bahan merupakan suatu aspek yang digunakan untuk membuat sesuatu. Bahan- bahan yang digunakan pada praktikum kali ini diantaranya:

1. pH indicator 2. Urin

3. Korek api

4. Spirtus

5. Pereaksi benedict 6. Pereaksi asam nitrit 3.3 Gambar Alat

Tabel 1. Gambar Kebutuhan Alat

No. Nama Alat Gambar

1. Tabung reaksi

sumber: google.co.id

2. Rak tabung reaksi

sumber: google.co.id

3. Gelas ukur

sumber: google.co.id

4. Pipet tetes

sumber: google.co.id

5. Pipet ukur

sumber: google.co.id

6. Beaker glass

sumber: google.co.id

7. Penjepit tabung reaksi

sumber: google.co.id

(6)

No. Nama Alat Gambar

8. BJ urin

sumber: google.co.id

9. Bulb

sumber: google.co.id

10. Spirtus

sumber: google.co.id 3.4 Prosedur Percobaan

3.4.1 Percobaan 1 (Sifat Fisik Urin)

1. Urin yang telah ditamoung, dituang dalam gelas ukur untuk mengetahui volume urin

2. Setelah itu masukkan BJ urin ke dalamm gelas beaker tersebut untuk mengukur berat jenis urin mengambang, kemudian baca skala yang tertera pada BJ urin.

3. Amati perubahan fisik pada urin diantaranya, bau, warna, pH, kekeruhan, dan buih.

3.4.2 Percobaan 2 (Glukosa pada urin)

1. 5 ml larutan benedict dididihkan dalam tabung reaksi

2. Kemudian tambahakn 8 tetes urin pada larutan benedict yang telah dididihkan 3. Amati perubahan yang terjadi (warna)

3.4.3 Percobaan 3 (Protein pada Urin)

1. 5 ml larutan biuret dimasukkan ke dalam tabung reaksi

2. Miringkan tabung reaksi dan teteskan urin dengan menggunakan pipet secara perlahan sampai urin tersebut turun ke tabung reaksi

3. Amati perubahan warna yang terjadi.

3.4.3 Percobaan 4 (Ammonia dalam Urin)

1. 2 ml urin dimasukkan kedalam tabung reaksi

2. Tabung reaksi yang teriri urin dipanaskan dengan spirtus 3. Amati bau yang terhirup dari urin tersebut.

(7)
(8)

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Sifat Fisik Urin

4.1.1 Sifat Fisik Urin

Tabel 2. Hasil Pengamatan Sifat Fisik Urin

No. Pengamatan Hasil

1. Warna Kuning keruh

2. Volume 40

3. Bau Menyengat

4. Buih Tidak ada

5. Kekeruhan Keruh

6. Berat jenis 1,012

7. pH 6

Dari tabel diatas, didapatkan hasil bahwa urin yang diamati termasuk ke dalam kategori normal karena pada berat jenis urin hasil yang didapatkan yaitu 1,012 yang dimana berat jenis pada urin normal berkisar antara 1,003-1,030. Urin yang memiliki berat jenis lebih dari berat normal disebabkan oleh demam dandehidrasi sedangkan urin yang memiliki berat jenis kurang dari berat normal disebabkan oleh intake cairan yang berlebihan (Trijayanthi Utama, 2019)

Rumus mencari berat jenis :

Skala terukur x(suhu terukur – suhu tera)x0,001 3

Hasil perhitungan :

1,010x(25,3−20)x0,001

3 = 1,012

Berat jenis yang didapatkan dari percobaan kali ini disesuaikan lagi nilainya menggunakan alat pengukur berat jenis urin yaitu refraktometer dengan hasil yang didapatkan sama yaitu 1,012

Gambar 1. Warna pH Urin

Kekeruhan pada urin muncul karena berkembangnya kuman yang terdapat di urin apabila urin didiamkan beberapa saat. Warna bening pada urin jika dibiarkan akan berubah menjadi keruh, hal tersebut diakibatkan oleh pengonsumsian makanan dan minuman serta obat-obatan. Bila urin dibiarkan terlalu lama akan berbau amoniak. Urin memiliki warna yang disebabkan oleh pigmen terlarut yang berada di dalamnya dan zat warna normal urin berasal dari metabolism endogen yang berasal dari pemecahan zat

(9)

warna empedu. Warna urin bergantung pada kadar zat terlarut, urin yang normal memiliki warna kuning muda dan kuning tua yang disebabkan karena adanya zat warna yaitu urokrom dan urobilin. Urin yang normal biasanya terlihat lebih segar, jernih, tembus pandang atau transparan (Suharyanisa, Marpaung, Purba, & Simahara, 2022).

4.2 Sifat Kimia Urin

Urin terdiri dari 95% air dan 5% lainnya adalah komponen sisa yang terbuang bersama urin. Pemeriksaan kimia pada urin merupakan sesuatu yang penting dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya masalah dalam saluran urinaria.

Pemeriksaan kimia pada urin biasanya meliputi protein, kafein, keton, darah atau hemoglobin, glukosa dan zat ammonia dalam urin (Nafi'ah & Kendran, 2022). Pada praktikum kali ini, sifat kimia yang telah diamati berupa uji glukosa urin, protein urin serta ammonia pada urin.

4.2.1 Sifat Kimia Urin A

Senyawa Hasil Perubahan

Ada Tidak ada

Glukosa - Tidak ada Biru, terdapat endapan

kuning

Protein - Tidak ada Kuning, terdapat endapan,

dan buih

Ammonia - Tidak ada Kuning terdapat buih

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa uji glukosa pada urin A tidak adanya kandungan glukosa pada urin akan tetapi terjadi perubahan warna seperti biru, dan urin tersebut terdapat endapan berwarna kuning. Urin A pada uji protein dihasilkan tidak adanya protein yang terkandung dalam urin tersebut, dan terjadi perubahan seperti berwarna kuning, terdapat endapan dan buih, kemudian pada uji ammonia, urin tersebut tidak mengeluarkan bau ammonia.

4.2.2 Sifat Kimia Urin B

Senyawa Hasil Perubahan

Ada Tidak ada

Glukosa Ada - Hijau, terdapat endapan

kuning merah bata

Protein - Tidak ada Kuning, terdapat endapan,

dan buih

Ammonia - Tidak ada Kuning cerah

Pada pengamatan sifat kimia pada urin B, dapat temukan bahwa adanya glukosa yang terdapat pada urin, hal tersebut diketahui dari perubahan pada saat ditetesi larutan benedict yaitu warna hijau dan terbentuknya endapan berwarna kuning merah bata, dan urin B tidak terdapat bau ammonia pada urin, dan warnanya terdapat buih.

(10)

Gambar 1. Sifat kimia urin

Pemeriksaan glukosa terhadap urin melalui uji benedict yaitu dengan mencampurkan larutan benedict pada urin kemudian dipanaskan sampai terjadinya perubahan warna, dari perubahan warna pada urin tersebut dapat diketahui banyaknya kandungan glukosa (Kemalasari, Ifadah, & Iman , 2022). Pemeriksaan ini menggunakan sifat dari glukosa sebagai pereduksi, dari uji benedict inilah glukosa dalam urin akan mereduksi cuprisufat menjadi cuprosulfat yang ditandai dengan perubahan warna. Urin yang terdapat kandungan glukosa didalamnya diketahui dengan adanya kekeruhan warna dari biru menjadi hijau kekuningan sampai merah bata (Nadeak & Rosliana, 2019).

Amonia merupakan salah satu senyawa yang ada di dalam urin yang mempunyai sifat basa dan jika terpapar cahaya matahari atau terkena panas akan mengeluarkan aroma yang menyengat, hal tersebut berasal dari penguraian urea sebagai komponen bahan organik terbanyak, biasanya pada keadaan terinfeksi bakteri, urin akan memiliki bau ammonia karena adanya bakteri dalam urin tersebut yang menghasilkan ammonia (Fhahira, 2021).

Uji kimia pada urin terhadap protein dengan menggunakan larutan biuret, reaksi positif apabila urin terkandung protein dalam jumlah yang tidak normal akan menghasilkan perubahan pada warna yaitu menjadi warna ungu, hal tersebut menandakan bahwa konsentrasi protein pada urin tinggi dan warna menjadi cerah, sebaliknya jika urin telah ditetesi larutan biuret dan dipanaskan tidak bereaksi dan terjadi perubahan warna menjadi cerah atau bening maka dalam urin tidak terkandung protein (Lutfianto, Maulana, & Ichsan, 2022).

(11)

BAB 5 SIMPULAN

Berdasarkan hasil percobaan urin yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa:

1. Pada uji sifat fisik urin, urin yang diamati termasuk ke dalam kategori normal. Hal ini dikarenakan berat jenis urin yang didapatkan yaitu 1,012, yang mana berat jenis urin normal berkisar antara 1,003-1,030. Kekeruhan pada urin muncul karena berkembangnya kuman yang terdapat di urin apabila urin didiamkan beberapa saat.

Warna bening pada urin jika dibiarkan akan berubah menjadi keruh, hal tersebut diakibatkan oleh pengonsumsian makanan dan minuman serta obat-obatan. Bila urin dibiarkan terlalu lama akan berbau ammonia. Warna urin normal antara warna kuning muda dan kuning tua yang disebabkan karena adanya zat warna yaitu urokrom dan urobilin.

2. Pada uji glukosa dalam urin, uji glukosa pada urin A tidak menunjukkan adanya kandungan glukosa. Hal ini ditunjukkan oleh perubahan warna urin menjadi biru dan terbentuknya endapan berwarna kuning. Perubahan warna ini disebabkan oleh adanya zat lain dalam urin A yang bukan glukosa, tetapi dapat mereduksi cuprisufat menjadi cuprosulfat. Pada urin B menunjukkan adanya glukosa dalam urin. Hal ini ditunjukkan oleh perubahan warna urin menjadi hijau dan terbentuknya endapan berwarna kuning merah bata. Perubahan warna ini disebabkan oleh reaksi reduksi glukosa dengan cuprisufat dalam larutan Benedict.

3. Pada uji albumin dalam urin, urin A dan B menghasilkan hasil negatif, yaitu tidak adanya kandungan protein dalam urin tersebut. Hal ini ditunjukkan oleh perubahan warna urin menjadi kuning, terdapat endapan dan buih. Perubahan warna urin menjadi kuning, terdapat endapan dan buih ini disebabkan oleh adanya zat lain dalam urin A dan B yang dapat membentuk kompleks berwarna dengan larutan biuret. Zat lain ini dapat berupa zat-zat organik seperti urea, kreatinin, dan asam urat. Uji protein dengan menggunakan larutan biuret dapat digunakan untuk mendeteksi adanya kandungan protein dalam urin.

4. Pada uji ammonia dalam urin, urin A dan B tidak mengandung amonia atau mengandung amonia dalam jumlah yang sangat sedikit. Amonia merupakan senyawa yang terkandung dalam urin. Amonia memiliki sifat basa dan jika terpapar cahaya matahari atau terkena panas akan mengeluarkan aroma yang menyengat. Amonia berasal dari penguraian urea.

(12)

DAFTAR PUSTAKA

Afidati, A. P. (2016). Analisis Urine. academia.edu.

Arsyadi, A. (2018). Pemeriksaan Urin. Yogyakarta: Universitas Islam Negri Sunan Kalijaga.

Damayanti, Y. a. (2020). Pengaruh Volume Presipitat Urine Terdahap Hasil Pemeriksaaan Sedimen Urine. Journal Of Indonesia Medical Laboratory and Science.

Fauziya, A. (2022, maret 28). Tiga Faktor Utama Penyakit Ginjal Kronis di Indonesia.

Retrieved from UNAIR NEWS: https://news.unair.ac.id/2022/03/28/tiga-faktor- utama-penyakit-ginjal-kronis-di-indonesia/?lang=id

Fhahira, N. (2021). Gambaran Kadar Proteinuria Pada Ibu Hamil Di Puskesmas Batu Nangkop Kecamatan Sungkai Tengah Kabupaten Lampung Utara. Diss. Poltekkes Tanjungkarang.

Kemalasari, Ifadah, M., & Iman , B. (2022). Alat Pendeteksi Kadar Glukosa pada Urine dengan Metode Naive Bayes. Jurnal Rekayasa Elektrika.

Lutfianto, M., Maulana, R., & Ichsan, M. (2022). Rancang Bangun Alat Ukur Kadar Gula Darah dan Kandungan Protein Non-Invasive pada Urine dengan Metode K-Nearest Neighbor (KNN) berbasis Arduino. Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer.

Nadeak, F., & Rosliana. (2019). Penetuan Kadar Glukosa Urine di Laboratorium Rumah Sakit Sari Mutiara Medan. Jurnal Ilmiah Biologi, 53-57.

Nafi'ah, M., & Kendran, A. (2022). Identifikasi Kandungan Kimia dan Sedimentasi Urin Kucing Lokal di Denpasar, Bali. Jurnal Veteriner, 541-547.

Putu Ayu Parwati, N. W. (2022). PENILAIAN HASIL PEMERIKSAAN SEDIMEN URINE DENGAN VARIASI PENGAWET. Jurnal Inovasi Penelitian, 5445-5446.

Setyaningsih, E. (2023, Maret 31). Upaya Pencegahan dan Penanganan Risiko Penyakit Ginjal Kronik. Retrieved from Rumah Sakit Universitas Indonesia:

https://rs.ui.ac.id/umum/berita-artikel/artikel-populer/upaya-pencegahan-dan- penanganan-risiko-penyakit-ginjal-kronik

Suharyanisa, Marpaung, J., Purba, I., & Simahara, B. (2022). PENGUJIAN EFEK DIURETIK INFUSA DAUN KOPI (Coffea arabica L.) PADA TIKUS PUTIH JANTAN GALUR WISTAR. Jurnal Farmasi dan Kesehatan, 161-174.

Trijayanthi Utama, W. (2019). Pajanan Panas dengan Status Hidrasi Pekerja Winda Trijayanthi Utama. JK Unila, 258-271.

(13)

Tabel Pembagian Tugas

Nama Pembagian Tugas

Erni Febrianti Bab 2

Salsa Nandila Devinda Bab 3 & kesimpulan

Dhea Sabila Zein Bab 4 Sifat kimia

Eka Rahma Yuswandi Bab 4 Sifat Fisik

Neng Ratna Jamilah Dwi Ramdani Bab 1

Lampiran

Cek turnitin

(14)

Referensi

Dokumen terkait

P kuning Q ungu R hijau S merah T biru Warna nyala merah yang dihasilkan senyawa logam S menandakan bahwa senyawa logam S mengandung logam

Pada Uji Fehling ini, diperoleh hasil ketiga sampel yaitu glukosa, fruktosa, dan maltosa terbentuk endapan merah bata yang menandakan bahwa pada larutan

Pada pengujian Benedict, Hasil yang diperolaeh adalah formaldehid bereaksi dengan benedict membentuk asam karboksilat dan terdapat endapan CuO berwarna merah

a) Warna buah dari setiap pohon diamati dan dikelompokkan ke dalam warna hijau, hijau kekuningan, kuning, merah, dan merah kecoklatan. b) Setiap pohon contoh dipanen 2 buah

Adapun jenis – jenis senyawa zat warna alam yang terkandung dalam tumbuhan adalah klorofil (hijau) pada daun; karoten (kuning oranye) pada umbi dan daun; likopene (merah) pada

Sedangkan untuk tes adanya amonia uji positifnya adalah warna merah muda pada kertas saring, uji positif adanya klorida yaitu adanya endapan keruh dan akan larut jika penambahan NH 4

Hasil yang didapat adalah terlihat perubahan warna dari biru terang menjadi merah bata dan terdapat endapan merah bata pada tabung reaksi dengan sampel berupa laktosa 1%, sukrosa 1% dan

2 Ciri - ciri dari senyawa flavonoid yaitu zat yang menghasilkan warna merah, ungu, biru dan sebagian zat warna kuning yang terdapat dalam tanaman sebagai pigmen bunga.. 3 Sebagian