• Tidak ada hasil yang ditemukan

laporan aktualisasi dan habituasi nilai-nilai dasar

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "laporan aktualisasi dan habituasi nilai-nilai dasar"

Copied!
136
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN AKTUALISASI DAN HABITUASI NILAI-NILAI DASAR, KEDUDUKAN DAN PERAN PNS UNTUK MENDUKUNG

SMART GOVERNANCE

PEMANFAATAN VIDEO EDUKASI DALAM MENDUKUNG PROGRAM GERAKAN KONSUMSI PANGAN B2SA (BERAGAM, BERGIZI, SEIMBANG

DAN AMAN)

DI KABUPATEN PURWOREJO

Disusun Oleh :

Nama : Swandari Sri Winoto, S.P.

NIP : 19870208 202203 2 001

Nomor Daftar Hadir : 10

Jabatan : Analis Pangan

Coach : Drs. Heru Gunawan, M.M.

Mentor : Tri Astuti Andayani, S.TP.,M.M.

(2)

ABSTRAK

PEMANFAATAN VIDEO EDUKASI DALAM MENDUKUNG PROGRAM GERAKAN KONSUMSI PANGAN B2SA (BERAGAM, BERGIZI, SEIMBANG

DAN AMAN) DI KABUPATEN PURWOREJO Oleh : Swandari Sri Winoto, S.P.

[email protected]

Belum optimalnya perkembangan informasi mengenai penerapan pola konsumsi yang sesuai dengan prinsip B2SA (beragam,bergizi, seimbang dan aman) di Kabupaten Purworejo merupakan isu utama hasil dari analisis isu menggunakan alat bantu APKL, USG dan fishbone. Upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut dilakukan melalui 5 kegiatan yang dilakukan selama waktu aktualisasi dan habituasi yang menerapkan nilai - nilai dasar, kedudukan dan peran PNS dalam mendukung Smart Governance yang sesuai dengan Manajamen ASN dan SMART ASN. Kelima kegiatan tersebut adalah 1) Menyusun rencana persiapan sosialisasi pola konsumsi pangan B2SA dengan menggunakan video edukasi, 2) Membuat Video Edukasi, 3) Menyusun Materi Sosialisasi, 4) Melakukan sosialisasi melalui video edukasi Gerakan konsumsi pangan B2SA, 5) Melakukan monitoring dan evaluasi tentang sosialisasi dengan menggunakan video edukasi.

Semua kegiatan aktualisasi dan habituasi sudah terlaksana. Hasil dari kegiatan - kegiatan yang dilaksanakan adalah tersedianya media edukasi berupa video dalam mendukung gerakan konsumsi pangan yang sesuai dengan konsep B2SA (beragam, bergizi, seimbang dan aman). Selain itu juga menghasilkan adanya kegiatan sosialisasi kepada kelompok wanita tani melalui media digital berupa penayangan video edukasi dan adanya laporan evaluasi hasil dari pelaksanaan kegiatan - kegiatan ini. Hasil keseluruhan dari pelaksanaan kegiatan ini adalah tersampaikannya informasi mengenai pola konsumsi pangan sesuai dengan konsep B2SA dan masyarakat terutama ibu - ibu KWT. Kegiatan aktualisasi ini memberikan manfaat kepada kelompok wanita tani, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Purworejo dan Penulis selaku Analis Pangan.

Selama masa aktualisasi dan habituasi telah diimplementasikan 7 core values ASN berAKHLAK pada setiap kegiatan. Nilai dasar ASN yang paling dominan dalam pelaksanaan habituasi dan aktualisasi ini adalah nilai Kompeten.

Kata Kunci : Aktualisasi dan Habituasi, Nilai-nilai Dasar ASN, Peran dan Kedudukan PNS, Video Edukasi, B2SA

(3)

HALAMAN PERSETUJUAN

LAPORAN AKTUALISASI DAN HABITUASI NILAI-NILAI DASAR, KEDUDUKAN DAN PERAN PNS UNTUK MENDUKUNG

SMART GOVERNANCE

PEMANFAATAN VIDEO EDUKASI DALAM MENDUKUNG PROGRAM GERAKAN KONSUMSI PANGAN B2SA (BERAGAM, BERGIZI, SEIMBANG

DAN AMAN)

DI KABUPATEN PURWOREJO

Nama : Swandari Sri Winoto, S.P.

NIP : 19870208 202203 2 001

Nomor Daftar Hadir : 10

Dinyatakan disetujui untuk diseminarkan pada :

Hari : Jumat

Tanggal : 25 November 2022

Tempat : Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BPSDMD) Provinsi Jawa Tengah

Semarang, 24 November 2022

(4)

HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN AKTUALISASI DAN HABITUASI NILAI-NILAI DASAR, KEDUDUKAN DAN PERAN PNS UNTUK MENDUKUNG

SMART GOVERNANCE

PEMANFAATAN VIDEO EDUKASI DALAM MENDUKUNG PROGRAM GERAKAN KONSUMSI PANGAN B2SA (BERAGAM, BERGIZI, SEIMBANG

DAN AMAN)

DI KABUPATEN PURWOREJO Nama : Swandari Sri Winoto, S.P.

NIP : 19870208 202203 2 001

Nomor Daftar Hadir : 10

Dinyatakan telah diseminarkan pada :

Hari : Jumat

Tanggal : 25 November 2022

Tempat : Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BPSDMD) Provinsi Jawa Tengah

Semarang, 25 November 2022 Mengesahkan,

Coach Mentor

Drs. Heru Gunawan, M.M. Tri Astuti Andayani, S.TP.,M.M.

Widyaiswara Ahli Madya Pembina

NIP. 19691109 199003 1 006 NIP. 19750126 200003 2 003 Penguji

Dr. Ir. Enny Karnawati, MSi Widyaiswara Ahli Utama NIP.19580803 198303 2 004

(5)

PRAKATA

Segala puji bagi Allah SWT atas segala nikmat, taufik, dan karuniaNya, sehingga penulis dapat mengikuti Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Golongan III Angkatan 175 Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah Provinsi Jawa Tengah tahun 2022 serta menyelesaikan Laporan Aktualisasi sebagai salah satu syarat kelulusan Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil. Laporan Aktualisasi ini merupakan implementasi nilai-nilai dasar, kedudukan dan peran PNS untuk mendukung Smart Governance. Penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penulisan Laporan Aktualisasi yang berjudul “Pemanfaatan Video Edukasi dalam Mendukung Program Gerakan Konsumsi Pangan B2SA (Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman) di Kabupaten Purworejo”. Ucapan terima kasih tersebut penulis tujukan kepada:

1. R.H. Agus Bastian, SE, MM., selaku Bupati Kabupaten Purworejo yang telah mendukung pelaksanaan Pelatihan Dasar CPNS 2022

2. Drs. Mohamad Arief Irwanto, M.Si., sebagai Kepala BPSDMD Provinsi Jawa Tengah yang telah memberikan dukungan fasilitas selama Pelatihan Dasar CPNS Tahun 2022

3. Bapak Fithri Edhi Nugroho, S.E., M.M., selaku Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kabupaten Purworejo beserta jajarannya yang telah memfasilitasi peserta Pelatihan Dasar Calon Pegawai

(6)

7. Bapak Drs. Heru Gunawan, M.M.. sebagai pembimbing (coach) yang telah memberikan bimbingan, kritik, masukan, dan arahan kepada penulis selama penyusunan laporan aktualisasi,

8. Seluruh widyaiswara dari Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah Provinsi Jawa Tengah yang telah memberikan ilmu terkait wawasan kebangsaan dan nilai-nilai bela negara, nilai-nilai dasar PNS, kedudukan dan peran ASN untuk mendukung smart governance, serta aktualisasi dan habituasi,

9. Keluarga besar Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Purworejo terutama Bidang Pangan yang telah memberikan dukungan untuk penyusunan laporan aktualisasi,

10.Rekan-rekan Angkatan 175 LATSAR CPNS Golongan III & II Tahun 2022 terutama rekan-rekan kelompok 2 yang telah berbagi ilmu dan semangat dalam melalui setiap tahapan latsar dengan penuh kekompakan.

11.Orang tua, Suami, Anak dan segenap keluarga yang selalu memberikan doa yang tulus dalam setiap langkah.

Penulis menyadari bahwa karya dalam bidang apapun tidak terlepas dari segala kekurangan yang disebabkan oleh keterbatasan penulis sendiri. Oleh karena itu semua kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan guna mengoptimalkan laporan aktualisasi dan habituasi serta dapat memberikan manfaat untuk semua pihak.

Purworejo, November 2022 Penulis

Swandari Sri Winoto, S.P.

Penata Muda

NIP. 19870208 202203 2 001

(7)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

ABSTRAK………. ii

HALAMAN PERSETUJUAN ... iii

HALAMAN PENGESAHAN ... iv

PRAKATA ... v

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR ... x

BAB I PROFIL ORGANISASI DAN TUGAS PESERTA ... 1

A. Gambaran Umum Organisasi ... 1

1. Dasar Hukum Organisasi ... 2

2. Tugas Fungsi Organisasi ... 2

3. Susunan/Struktur Organisasi dan Tata Kerja ... 3

4. Visi-Misi Organisasi ... 6

5. Tujuan Organisasi ... 7

6. Nilai-Nilai Budaya Organisasi ... 7

B. Tupoksi Jabatan Peserta... 8

C. Role Model ... 11

BAB II RANCANGAN AKTUALISASI DAN HABITUASI... 15

A. Identifikasi Isu dan Deskripsi Isu ... 15

B. Analisis Isu ... 25

(8)

C. Kondisi Sebelum dan Sesudah……… 91

BAB IV SIMPULAN ……… 95

DAFTAR PUSTAKA ... 101

CURRICULUM VITAE ... 104

LEMBAR KOMITMEN TINDAK LANJUT AKTUALISASI HABITUASI .. 105 LAMPIRAN

(9)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Identifikasi Isu...23

Tabel 2.2 Kriteria Metode APKL...25

Tabel 2.3 Penentuan Skor APKL...26

Tabel 2.4 Hasil Analisis Isu dengan Teknik APKL...27

Tabel 2.5 Komponen Analisis USG...28

Tabel 2.6 Kriteria Penilaian Analisis USG...29

Tabel 2.7 Hasil Analisa Isu dengan Menggunakan Teknik USG...30

Tabel 2.8 Matriks Rancangan Aktualisasi dan Habituasi...35

Tabel 2.9 Jadwal Rancangan Aktualisasi...47

Tabel 3.1 Perubahan Kegiatan dari Rancangan Awal...51

Tabel 3.2 Gambaran Kondisi Sebelum dan Sesudah Aktualisasi Habituasi...95

(10)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1Kantor DKPP Kabupaten Purworejo...1

Gambar 1.2Bagan Organisasi DKPP Kab Purworejo...4

Gambar 1.3Role Modelsedang melakukan kegiatan pasar murah...11

Gambar 2.1 Perhitungan Skor PPH Kab Purworejo 2022...17

Gambar 2.2 Foto Pelatihan P2L di salah satu KWT...18

Gambar 2.3 Hasil Tangkapan Layar aplikasiWhatsapp...19

Gambar 2.4 Data Pelaku Usaha PSAT di Purworejo...22

Gambar 2.5 Analisis Penyebab Isu dengan DiagramFishbone...31

Gambar 3.1 Konsultasi dengan Mentor Kegiatan 1...56

Gambar 3.2 Koordinasi dengan Rekan Sejawat dan Subkoordinator...56

Gambar 3.3 Membuat Konsep Pembuatan Video Edukasi...58

Gambar 3.4 Mencari sumber referensi...59

Gambar 3.5 Konsultasi dengan Mentor Kegiatan 2...61

Gambar 3.6 Koordinasi dengan rekan sejawat...64

Gambar 3.7 Membuat Video Edukasi...65

Gambar 3.8 Sharing pendapat dengan rekan satu bidang bersama dengan mentor...66

Gambar 3.9 Berkonsultasi dengan Mentor Kegiatan 3...69

Gambar 3.10 Membuat Undangan Sosialisasi...70

Gambar 3.11 Materi Pengantar Sosialisasi...71

Gambar 3.12 Membuat Soal pre test dan pos test...72

Gambar 3.13 MembuatGoogle Form...73

Gambar 3.14 Menyiapkan LCD Proyektor...77

Gambar 3.15 Menyampaikan Materi Pengantar Sosialisasi...78

Gambar 3.16 Peserta sedang mengerjakan soal pre test...79

Gambar 3.17 Penayangan Video Edukasi...79

Gambar 3.18 Peserta sedang mengerjakan soal pos test...80

Gambar 3.19 Peserta sedang mengisi testimoni melalui google form di smartphone masing - masing...81

(11)

Gambar 3.20 Screen Shoot Unggahan di website resmi

DKPP Purworejo...85 Gambar 3.21 HasilSpreadsheet Google Form...87 Gambar 3.22 Menganalisa Hasil Pos Test dan Pre Test...88

(12)

BAB I

PROFIL ORGANISASI DAN TUGAS PESERTA

A. Gambaran Umum Organisasi

Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian berlokasi di Jalan Mayjend Sutoyo No. 29-31, Kecamatan Purworejo, Kabupaten Purworejo. Adanya perubahan terhadap susunan organisasi dan tata kerja, nama dinas yang semula Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan dirubah menjadi Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian berdasarkan Peraturan Bupati Purworejo Nomor 88 Tahun 2021 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi, serta Tata Kerja Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Purworejo. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian membawahi UPT Pusat Kesehatan Hewan dan 16 Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) yang tersebar di 16 kecamatan untuk membina 494 desa/kelurahan.

Gambar 1.1

Kantor Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Purworejo

(13)

1. Dasar Hukum Organisasi

Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian dalam pendirian dan pelaksanaan tugasnya didasarkan pada dasar hukum sebagai berikut : a. Peraturan Daerah Kabupaten Purworejo Nomor 4 Tahun 2021

tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Kabupaten Purworejo

b. Peraturan Bupati Purworejo Nomor 88 Tahun 2021 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi, serta Tata Kerja Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Purworejo.

2. Tugas Fungsi Organisasi

Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian mempunyai tugas membantu Bupati dalam melaksanakan urusan pemerintahan bidang pangan dan pertanian sesuai dengan kewenangan daerah. Dalam melaksanakan tugas, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian menyelenggarakan fungsi:

a. Perumusan kebijakan teknis bidang pangan, sarana dan perlindungan pertanian, kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat veteriner, serta prasarana dan penyuluhan pertanian, b. Pelaksanaan kebijakan teknis bidang pangan, sarana dan

perlindungan pertanian, kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat veteriner, serta prasarana dan penyuluhan pertanian, c. Pelaksanaan evaluasi dan pelaporan bidang pangan, sarana dan

(14)

3. Susunan/ Struktur Organisasi dan Tata Kerja

Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian memiliki

susunan/struktur organisasi dapat dilihat pada Gambar 1.2 sebagai berikut :

(15)

BAGAN ORGANISASI

DINAS KETAHANAN PANGAN DAN PERTANIAN

KABUPATEN PURWOREJO

KEPALA DKPP

SEKRETARIAT JABATAN

FUNGSIONAL

SUBBAGIAN

PERENCANAAN SUBBAGIAN

UMUM DAN KEPEGAWAIAN SUBBAGIAN

KEUANGAN

BIDANG KESEHATAN HEWAN DAN KESEHATAN BIDANG SARANA

BIDANG PANGAN BIDANG

PRASARANA DAN

(16)

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) mempunyai tugas memimpin pelaksanaan tugas dan fungsi DKPP.

Sekretariat yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala DKPP dipimpin oleh Sekretaris Dinas. Bidang pangan, sarana dan perlindungan tanaman, kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat veteriner, serta prasarana dan penyuluhan pertanian berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala DKPP serta dipimpin oleh Kepala Bidang, sedangkan UPT juga berkedudukan dan bertanggung jawab kepada Kepala DKPP dan dipimpin oleh Kepala UPT.

Pelaksanaan tata kerja di DKPP adalah sebagai berikut :

a. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, Sekretaris, Kepala Bidang, Kapala Subbagian, Kepala Subkoordinator, Kepala UPT dan Kepala Bidang Pangan, Kepala Bidang Sarana Dan Perlindungan Pertanian, Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Kepala Bidang Prasarana Dan Penyuluhan Pertanian dalam melaksanakan tugasnya berdasarkan peraturan perundang-undangan dan kebijakan yang ditetapkan oleh Bupati.

b. Pelaksanaan tugas dari masing-masing, memperhatikan prinsip manajemen yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, monitoring, evaluasi, dan pelaporan serta wajib menerapkan prinsip koordinasi, integrasi, dan sinkronisasi secara vertikal maupun horizontal baik ke dalam maupun antar satuan prganisasi dalam lingkungan Pemerintah Daerah serta instansi lain sesuai dengan tugas masing-masing.

c. Kepala DKPP, sekretaris, kepala bidang, kepala subbagian, subkoordinator, dan kepala UPT bertanggung jawab dalam memimpin, mengkoordinasikan dan memberikan bimbingan serta petunjuk bagi pelaksanaan tugas bawahan masing-masing.

d. Kepala DKPP, sekretaris, kepala bidang, kepala subbagian, subkoordinator, kepala UPT, dan jabatan fungsional wajib mengikuti

(17)

dan mematuhi petunjuk serta bertanggung jawab kepada atasan masingmasing serta menyampaikan laporan tepat waktu.

e. Dalam menyampaikan laporan masing-masing kepada atasan, tembusan laporan dapat disampaikan kepada unit kerja/satuan organisasi lain yang secara fungsional mempunyai hubungan kerja.

f. Setiap laporan yang diterima oleh kepala DKPP, sekretaris, kepala bidang, kepala subbagian, kepala UPT, dan subkoordinator dari bawahan dapat diolah dan dipergunakan sebagai bahan penyusunan laporan lebih lanjut dan dijadikan bahan untuk memberikan petunjuk kepada bawahan.

4. Visi Misi Organisasi

Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Purworejo No 11 Tahun 2021 tentang RPJMD Kabupaten Purworejo Tahun 2021 – 2026 menyebutkan bahwa visi organisasi yang dalam hal ini merupakan visi dari kepala daerah Kabupaten Purworejo yaitu “Purworejo Berdaya Saing 2025”. Dukungan visi adalah mewujudkan Kabupaten Purworejo maju dan mandiri melalui penguatan daya saing dalam bidang sumber daya manusia, ekonomi, dan pelayanan publik dengan berlandaskan semangat gotong royong. Adapun misi yang dilakukan untuk mencapai visi tersebut adalah sebagai berikut :

a. Meningkatkan daya saing sumber daya manusia yang unggul dalam arti luas mengedepankan kompetensi, keahlian, dan keilmuan yang berbasis pada religiusitas masyarakat.

(18)

e. Meningkatkan daya saing sarana prasarana dan infrastruktur yang didukung kemajuan teknologi informasi

5. Tujuan Organisasi

Tujuan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian tercantum dalam Rencana Strategis Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian tahun 2021- 2026. Adapun tujuannya adalah sebagai berikut :

a. Pemantapan ketahanan pangan b. Peningkatan kesejahteraan petani c. Peningkatan kualitas pelayanan publik 6. Nilai – Nilai Budaya Organisasi

Nilai-nilai budaya di Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian mengacu pada nilai budaya kerja di lingkungan pemerintah Kabupaten Purworejo yang diatur dalam Peraturan Bupati Nomor 36 Tahun 2014 tentang Pedoman Pengembangan Budaya Kerja di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Purworejo. Adapun nilai budaya kerja yang dimaksud adalah BERIMAN-PROFESIONAL yang terdiri dari :

a. Bersih, mengandung arti bersih dalam berpikir, bertindak, dan bekerja, mentaati peraturan perundang-undangan yang berlaku, b. Ikhlas yaitu dalam norma etika dan agama dapat diartikan rela

sepenuh hati, datang dari lubuk hati, tidak mengharapkan imbalan atau balas jasa atas suatu perbuatan, khususnya yang berdampak positif pada orang lain dan semata-mata karena menjalankan tugas/amanah demi Tuhan Yang Maha Esa,

c. Melayani, yaitu memberikan pelayanan kepada publik secara jujur, tanggap, cepat, akurat, berdaya guna dan berhasil guna yang memenuhi kepuasan pemangku kepentingan,

d. Akuntabel, yaitu dalam melaksanakan tugas dapat mempertanggungjawabkan baik dari segi proses maupun hasil,

e. Profesional, yaitu dalam melaksanakan tugas selalu menyelesaikan secara baik, tuntas, dan sesuai kompetensi/keahlian, orang yang

(19)

terampil, andal, dan sangat bertanggung jawab dalam menjalankan profesinya.

B. Tupoksi Jabatan Peserta

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2018 tentang Nomenklatur Jabatan Pelaksana Bagi Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Instansi Pemerintah tugas pokok saya sebagai Analis Pangan adalah melakukan kegiatan analisis dan penelaahan dalam rangka penyusunan rekomendasi kebijakan di bidang pangan.

Adapun jabatan Analis Pangan berada di lingkup Bidang Pangan.

Berdasarkan Peraturan Bupati Purworejo Nomor 88 Tahun 2021 tentang Kedudukan, Fungsi Organisasi, Tata dan Fungsi, serta Tata Kerja Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Purworejo, Bidang Pangan mempunyai tugas menyiapkan bahan perumusan kebijakan teknis, melaksanakan koordinasi, membina dan mengendalikan pelaksanaan tugas.bidang kemandirian pangan, diversifikasi dan ketahanan pangan, serta kerawanan dan keamanan pangan. Dalam melaksanakan tugas Bidang Pangan menyelenggarakan fungsi :

1. Penyiapan perumusan kebijakan teknis, koordinasi, pembinaan dan pengendalian pelaksanaan tugas bidang kemandirian pangan yaitu menyediakan infrastruktur dan seluruh pendukung kemandirian pangan sesuai kewenangan daerah, yang meliputi :

(20)

2. Penyiapan perumusan kebijakan teknis, koordinasi, pembinaan dan pengendalian pelaksanaan tugas bidang diversifikasi dan ketahanan pangan yang meliputi :

a. Menyediakan dan menyalurkan pangan pokok atau pangan lainnya sesuai dengan kebutuhan daerah dalam rangka stabilisasi pasokan dan harga pangan, antara lain :

1) Menyediakan informasi harga pangan dan neraca bahan makanan

2) Menyediakan pangan berbasis sumber daya lokal;

3) Melaksanakan koordinasi, sinkronisasi dan pelaksanaan distribusi pangan pokok dan pangan lainnya;

4) Melaksanakan pemantauan stok, pasokan dan harga pangan;

5) Mengembangkan kelembagaan dan jaringan distribusi pangan;

6) Mengembangkan kelembagaan usaha pangan masyarakat dan toko tani indonesia

b. Melaksanakan pengelolaan dan keseimbangan cadangan pangan kabupaten,antara lain :

1) Melaksanakan koordinasi dan sinkronisasi pengendalian cadangan pangan daerah;

2) Menyusun rencana kebutuhan pangan lokal;

3) Melaksanakan pengadaan cadangan pangan pemerintah daerah;

4) Melaksanakan pemeliharaan cadangan pangan pemerintah daerah

c. Menentukan harga minimum daerah untuk pangan lokal yang tidak ditetapkan oleh pemerintah pusat dan pemerintah provinsi, dengan melaksanakan koordinasi dan sinkronisasi penentuan harga minimum pangan pokok lokal.

d. Melaksanakan target pencapaian target konsumsi pangan per kapita/tahun sesuai dengan Angka Kecukupan Gizi, antara lain : 1) Melaksanakan penyusunan dan penetapan target konsumsi

pangan per kapita per tahun;

(21)

2) Melaksanakan pemberdayaan masyarakat dalam penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal;

3) Melaksanakan koordinasi dan sinkronisasi pemantauan dan evaluasi konsumsi per kapita per tahun

3. Penyiapan perumusan kebijakan teknis, pengoordinasian, pembinaan dan pengendalian pelaksanaan tugas bidang kerawanan dan keamanan pangan; antara lain :

a. Menyusun peta kerentanan dan ketahanan pangan kecamatan, meliputi melaksanakan penyusunan, pemutakhiran dan analisis peta ketahanan dan kerentanan pangan

b. Melaksanakan penanganan kerawanan pangan kewenangan daerah, meliputi :

1) Mengkoordinasi dan sinkronisasi penanganan kerawanan pangan daerah;

2) Melaksanakan pengadaan, pengelolaan, dan penyaluran cadangan pangan pada kerawanan pangan yang mencakup 1 (satu) daerah

c. Melaksanakan pengawasan keamanan pangan segar daerah, meliputi:

1) Melaksanakan penguatan kelembagaan keamanan pangan segar daerah;

2) Melaksanakan sertifikasi keamanan pangan segar asal tumbuhan

(22)

4. Pelaksanaan tugas kedinasan lain yang diberikan oleh Kepala DKPP sesuai tugas dan fungsi.

Isu yang diambil oleh peserta sesuai dengan tugas pokok dan fungsi bidang pangan yaitu pada subkoordinator diversifikasi dan ketahanan pangan, pada tugas melaksanakan target pencapaian target konsumsi pangan per kapita/tahun sesuai dengan Angka Kecukupan Gizi, dengan sub tugas melaksanakan pemberdayaan masyarakat dalam penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal.

C. Role Model

Role model merupakan orang yang dijadikan contoh teladan dalam menjalankan pekerjaan sebagai ASN. Role model yang dimaksud adalah pegawai yang berada di unit kerja atau instansi yang sama. Pegawai yang saya jadikan role model adalah Ibu Hindry Yuli Yanti, S.Pi.,M.MA beliau adalah subkoordinator Diversifikasi dan Ketahanan Pangan di Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian. Menurut saya, yang perlu diteladani dari adalah karakter kepribadiannya yang mencerminkan nilai-nilai dasar ASN yang BerAKHLAK. Penerapan nilai BerAKHLAK yang diterapkan oleh Ibu Hindry adalah sebagai berikut :

Gambar 1. 3

Role Modelsedang melakukan Kegiatan Pasar Murah

(23)

1. Berorientasi Pelayanan

Perilaku beliau yang dapat saya tiru adalah, beliau selalu memahami dan memenuhi kebutuhan masyarakat terutama kelompok tani dan semua pihak masyarakat yang terkait dengan pertanian.

Contohnya pada saat beliau menangani permasalahan bantuan untuk Kelompok Wanita Tani, beliau cekatan, solutif dan dapat diandalkan ketika menangani permasalahan serta berusaha ramah dengan masyarakat. Beliau juga selalu berupaya melakukan perbaikan tiada henti dalam melakukan pekerjaannya sebagai Subkoordinator Diversifikasi dan Ketahanan Pangan dan sebagai Analis Pangan.

2. Akuntabel

Beliau melaksanakan tugas dengan jujur, bertanggung jawab, cermat, displin dan berintegritas tinggi ketika diberi penugasan dalam lomba cipta menu, serta menggunakan kekayaan dan barang milik negara secara bertanggung jawab, efektif dan efisien ketika diberi amanah sebagai wakil dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian untuk mengikuti Bimbingan Teknis di Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa tengah.

3. Kompeten

Beliau merupakan ASN yang berkompeten, walaupun termasuk

(24)

Beliau merupakan orang yang harmonis, dalam melakukan pekerjaannya sehari – hari sebagai subkoordinator diversifikasi dan ketahanan pangan dan sebagai Analis Pangan, beliau selalu mengajak semua orang untuk ikut berkontribusi serta berpartisipasi dalam kegiatan sehingga membangun lingkungan kerja yang kondusif. Dalam sehari – hari pun beliau tidak pernah membeda – bedakan latar belakang masing – masing orang dalam melakukan kegiatan.

5. Loyal

Ibu Hindry dalam menjalankan tugasnya sebagai subkoordinator diversifikasi dan ketahanan pangan selalu berpegang teguh kepada peraturan yang berlaku, dan selalu mengingatkan rekan yang lain untuk menjadikan peraturan yang berlaku sebagai pedoman dalam menjalankan tugas. Ibu Hindry selalu menjaga nama baik rekan sejawatnya, kepala dinas, dan Pemerintah Kabupaten Purworejo serta selalu mengingatkan untuk menjaga nama baiknya masing – masing , sesama pegawai, pimpinan, instansi, dan negara.

6. Adaptif

Ibu Hindry merupakan pegawai yang cepat menyesuaikan diri menghadapi perubahan, terus berinovasi dan mengembangkan kreativitas serta bertindak proaktif walaupun termasuk pegawai senior.

Beliau mau mempelajari teknologi dan aplikasi – aplikasi yang digunakan saat ini yang berkaitan dengan tugas pokoknya sebagai analis pangan dan tugas tambahannya sebagai subkoordinator diversifikasi dan ketahanan pangan.

7. Kolaboratif

Dalam melaksanakan tugasnya sebagai subkoordinator, Ibu Hindry selalu memberi kesempatan kepada rekan sejawatnya untuk berkontribusi dalam setiap kegiatan dan dapat menggerakkan semua rekan demi mencapai tujuan bersama. Beliau tidak segan untuk berkolaborasi dengan semua bidang terutama dengan para penyuluh pertanian. Beliau selalu terbuka dalam bekerja sama untuk

(25)

menghasilkan nilai tambah, terutama yang kaitannya dengan kegiatan kelompok tani. Beliau membuka kerja sama dengan pemerintah desa dan juga kelompok tani atau gabungan kelompok tani agar bersinergi dalam membangun pertanian.

(26)

BAB II

RANCANGAN AKTUALISASI DAN HABITUASI

A. Identifikasi dan Deskripsi Isu

Pengertian isu adalah suatu fenomena yang dianggap sebagai masalah, sedangkan kontemporer adalah sesuatu hal yang modern, eksis dan masih berlangsung sampai sekarang. Jadi pengertian Isu Kontemporer adalah isu modern, yang eksis, dan masih berlangsung sampai sekarang, yang dapat menjadi pemicu munculnya fenomena yang dianggap sebagai masalah dan berdampak terhadap kinerja birokrasi secara umum, dan pada pelaksanaan tugas jabatan PNS sebagai pelayanan masyarakat secara umum. Seorang ASN diharapkan mampu memahami konsepsi perubahan dan perubahan lingkungan strategis melalui isu-isu strategis kontemporer sebagai wawasan strategis PNS dengan menyadari pentingnya modal insani, dengan menunjukan kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi perubahan lingkungan strategis dalam menjalankan tugas jabatan sebagai PNS professional pelayan masyarakat (Lembaga Administrasi Negara RI, 2021).

Identifikasi isu dimulai dengan kepekaan seseorang terhadap tuntutan dan kondisi lingkungan, kemudian dilanjutkan melakukan pengajian terhadap kesenjangan antara kondisi yang seharusnya dengan yang nyata terjadi. Isu strategis akan menjadi pokok bahasan yang akan selalu diperhatikan dalam Menyusun setiap perencanaan pembangunan karena dengan berpedoman pada isu-isu strategis maka segala permasalahan yang mungkin terjadi di masa yang akan dating dapat diantisipasi sedini mungkin.

Sumber isu diangkat dari individu, unit kerja, organisasi. Sumber kegiatan diangkat bersumber dari Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi), Sasaran Kinerja Pegawai (SKP), perintah dari atasan dan Inovasi. Ruang lingkup isu diambil dari tusi jabatan, tusi unit kerja, tusi organisasi.

Rancangan aktualisasi ini disusun berdasarkan problematika yang

(27)

ditemukan melalui observasi dan hasil konsultasi dengan mentor serta berdiskusi dengan teman sejawat, selama 5 bulan dari bulan April – Agustus 2022 di Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Purworejo. Penetapan isu yang diangkat harus memiliki keterkaitan dengan nilai-nilai dasar ASN yang diakronimkan BerAKHLAK dan berprinsip pada kedudukan dan peran Pegawai negeri Sipil (PNS) yaitu Manajemen ASN dan Smart ASN.

Berdasarkan hasil pengamatan langsung di lapang dan diskusi dengan atasan serta rekan kerja, terdapat beberapa isu yang dapat diidentifikasi dan dideskripsikan di ruang lingkup Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian khususnya bidang pangan.

Berikut ini merupakan 5 (lima) isu hasil identifikasi beserta deskripsi masing-masing isu yang penulis temukan selama bekerja di Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Purworejo, yaitu:

1. Belum optimalnya perkembangan informasi mengenai penerapan pola konsumsi yang sesuai dengan prinsip B2SA (beragam,bergizi, seimbang dan aman) di Kabupaten Purworejo

Sumber Isu : Unit Kerja Ruang Lingkup Isu : Tusi Jabatan Deskripsi Isu :

Menurut Undang – undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan menyatakan bahwa pemerintah dan pemerintah daerah berkewajiban mewujudkan penganekaragaman konsumsi pangan untuk

(28)

Harapan sendiri di Kabupaten Purworejo merupakan tolok ukur kinerja dan menjadi salah satu tugas pokok dan fungsi bidang pangan di Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Purworejo dan sudah dilakukan setiap tahunnya sebagai dasar dalam pengambilan kebijakan – kebijakan terkait dengan pangan.

Berdasarkan perhitungan skor Pola pangan harapan di Kabupaten Purworejo tahun 2022 menunjukkan angka 91,1 ini berarti pola konsumsi di kalangan masyarakat Purworejo belum optimal, acuan keberagaman adalah skor PPH 100. Berdasarkan analisis dari data Susenas Provinsi Jawa Tengah yang telah diolah oleh bidang pangan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Purworejo, ada 3 kelompok bahan makanan yang mempunyai skor rendah dalam artian belum memenuhi standar keberagaman, yaitu kelompok umbi – umbian, kacang – kacangan dan pangan hewani. Hal ini disebabkan pola konsumsi yang ada di masyarakat Purworejo saat ini masih cenderung banyak mengkonsumsi beras dan produk tepung sebagai sumber karbohidrat serta konsumsi lauk – pauk hewani dan nabati yang kurang.

Data Dukung Isu :

Sumber Data berasal dari Survei Sosial Ekonomi Nasional, Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah 2021 dan diolah oleh bidang pangan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Purworejo Tahun 2022

Gambar 2.1

Perhitungan Skor Pola Pangan Harapan Kabupaten Purworejo 2022

(29)

2. Belum optimalnya pelaksanaan kegiatan pembinaan pekarangan pangan lestari (P2L) Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian di Kabupaten Purworejo

Sumber Isu : Unit Kerja Ruang Lingkup Isu : Tusi Jabatan Deskripsi Isu :

Kegiatan pekarangan pangan lestari merupakan salah satu kegiatan yang mendukung program penurunan stunting di Kabupaten Purworejo, selama ini kegiatan tersebut dilaksanakan oleh KWT (kelompok Wanita tani) di beberapa desa, akan tetapi pelaksanaannya belum maksimal. Anggota kelompok masyarakat hanya mengikuti kegiatan P2L hanya karena ada bantuan dari pemerintah. Salah satu faktor penyebabnya adalah tidak adanya media edukasi sebagai sarana penyampaian informasi.

Data Dukung Isu :

Sumber foto berasal dari pelatihan pekarangan lestari di KWT Lestari Berseri Desa Pogung Juru Tengah, Bayan, Purworejo yang belum menggunakan media digital

(30)

Bahan Makanan di Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Purworejo

Sumber Isu : Unit kerja Ruang Lingkup Isu : Tusi Jabatan Deskripsi Isu :

Pembuatan laporan analisis pola pangan harapan (PPH) dan neraca bahan makanan (NBM) adalah laporan analisis rutin setiap tahun yang menjadi salah satu tugas pokok dan fungsi serta tolok ukur kinerja bidang pangan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Purworejo dan pada saat sekarang ini cara pengambilan data masih dilakukan secara manual dengan cara menghubungi person ke person.

Hal ini berakibat pengerjaan analisis tersebut menjadi lama dan berlarut – larut karena menunggu data tersedia secara komplit, sehingga penyampaian laporan analisis menjadi terlambat dan berakibat pembuatan kebijakan terkait dengan pangan menjadi tertunda.

Data Dukung Isu :

Gambar 2.3

Hasil Tangkapan Layar aplikasi Whatsapp

4. Belum terdapat diseminasi informasi antar KWT (kelompok Wanita tani) di Kabupaten Purworejo

Sumber Isu : Unit kerja Ruang Lingkup Isu : Tusi Jabatan Deskripsi Isu :

(31)

Kegiatan Pekarangan Pangan Lestari (P2L) merupakan upaya untuk meningkatkan ketersediaan, aksesibilitas dan pangan rumah tangga sesuai dengan kebutuhan pangan yang Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman B2SA) serta berorientasi meningkatkan pendapatan rumah tangga. Kegiatan P2L merupakan kegiatan pemberdayaan kelompok masyarakat/ Kelompok Wanita Tani (KWT) untuk budidaya berbagai jenis tanaman melalui kebun bibit, demplot kelompok dan pekarangan anggota yang dilakukan di lahan tidur maupun pekarangan sekitar tempat tinggal dengan menggunakan polibag maupun barang yang tidak terpakai.

Adanya beberapa KWT yang dikelola oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Purworejo, maka diperlukan suatu wadah pertukaran informasi dan ilmu maupun pengalaman untuk dapat saling berbagi antar sesama KWT.

Data Dukung Isu :

Saat ini di Kabupaten Purworejo terdapat 7 (tujuh) KWT aktif yang melaksanakan kegiatan P2L, antara lain :

a. KWT Dewi Sri Desa Karangrejo, Kutoarjo, Purworejo

b. KWT Kembang Kates Desa Wingkotinumpuk, Ngombol, Purworejo c. KWT Sejahtera Watuaji Desa Kembang Kuning, Ngombol, Purworejo d. KWT Lestari Berseri Desa Pogung Juru Tengah, Bayan, Purworejo e. KWT Sekar Arum Desa Denansari, Donorejo, Kaligesing, Purworejo f. KWT Harapan Makmur Desa Kedungtilen, Somongari, Kaligesing,

(32)

Pada dasarnya pembuatan registrasi PSAT-PDUK digunakan untuk menjamin keamanan dan mutu dari pangan segar tersebut dan upaya itu sudah dilakukan oleh Sebagian besar usaha mikro di Kabupaten Purworejo, akan tetapi belum konsisten. Pemenuhan produk Pangan Segar Asal Tumbuhan (PSAT) selain dalam segi kualitas dan kuantitas perlu adanya keberlanjutan. Dengan semakin meningkatnya kesadaran akan pentingnya Kesehatan, saat ini masyarakat semakin peduli terhadap keamanan pangan yang akan dikonsumsinya. Kondisi ini semakin mendorong pelaku usaha untuk bertanggung jawab terhadap keamanan pangan dari produk yang ditanganinya, seperti diamanatkan pada undang – undang nomor 18 tahun 2012 tentang pangan bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah menjamin terwujudnya penyelenggaraan Keamanan Pangan di setiap rantai Pangan secara terpadu.

Kebutuhan masyarakat yang terus berlanjut ini mendorong pemerintah Kabupaten Purworejo untuk secara terus menerus melakukan pembinaan terhadap pemegang nomor registrasi PSAT, untuk menjamin keamanan produk PSAT yang dikonsumsi masyarakat.

Tentunya pendampingan terhadap pemegang nomor registrasi PSAT selain pengawasan oleh pemerintah pada saat peregistrasian juga perlu adanya kesadaran dari para pelaku usaha pemegang nomor registrasi serta keikutsertaan masyarakat dalam mengawasi produk PSAT pada saat distribusi maupun konsumsi.

Data Dukung Isu :

Menurut penelitian Agus Setiawan, S.TP Pengawas Mutu Hasil Pertanian Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Purworejo berjudul “Pengawasan Keamanan Pangan Segar Asal Tumbuhan (PSAT) yang Beredar di Kabupaten Purworejo”, menyebutkan bahwa adanya kelemahan di bidang SDM dan anggaran dalam pelaksanaan pengawasan PSAT, kurangnya pengetahuan konsumen mengenai hak dan kewajiban selaku konsumen dan semakin

(33)

marak peredaran PSAT melalui penjualan online yang menjadi tantangan bagi pengawasan PSAT.

Gambar 2.4

(34)

Tabel 2.1 Identifikasi Isu

No. Identifikasi Isu Kondisi Sekarang Kondisi yang Diharapkan 1. Belum optimalnya

perkembangan informasi mengenai penerapan pola konsumsi yang sesuai dengan prinsip B2SA (beragam,bergizi,

seimbang dan aman) di Kabupaten Purworejo Sumber Isu : Unit kerja

Belum

tersampaikannya informasi secara efektif dan efisien

tentang pola

konsumsi pangan masyarakat yang sesuai dengan prinsip B2SA di Kabupaten Purworejo

Tersedianya media edukasi yang menarik kepada

masyarakat yang

diharapkan dapat

meningkatkan pengetahuan masyarakat akan pola konsumsi makan yang baik, sehingga diharapkan dapat merubah pola pikir masyarakat akan manfaat mengkonsumsi makanan yang beraneka ragam.

2. Belum optimalnya pelaksanaan kegiatan pembinaan pekarangan pangan lestari (P2L) Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian di Kabupaten Purworejo

Sumber Isu : Unit kerja

Belum adanya media edukasi sebagai salah satu sarana dalam pelaksanaan

pembinaan

pekarangan pangan lestari

Tersedianya media edukasi yang lebih ringkas, efektif dan menarik sebagai media pembinaan kegiatan pekarangan pangan lestari, sehingga diharapkan menambah semangat KWT dalam mengembangkan kegiatan P2L menjadi lebih berkesinambungan

3. Belum terdapat sistem terintegrasi yang digunakan sebagai

database untuk

pembuatan laporan analisis Pola Pangan Harapan dan Neraca Bahan Makanan di Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Purworejo

Sumber Isu : Unit kerja

Pada saat sekarang ini cara pengambilan data masih dilakukan secara manual

dengan cara

menghubungi person ke person. Hal ini berakibat pengerjaan analisis tersebut menjadi lama dan berlarut – larut karena menunggu data tersedia secara komplit, sehingga penyampaian laporan analisis menjadi terlambat dan berakibat pembuatan kebijakan terkait dengan pangan menjadi tertunda.

Tersedianya sistem terintegrasi yang digunakan sebagai database agar dapat menunjang kinerja bidang pangan di Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Purworejo,

sehingga dapat

mempercepat target kinerja yang akan dicapai

4. Belum terdapat diseminasi Program P2L oleh Tersedianya media rumah

(35)

No. Identifikasi Isu Kondisi Sekarang Kondisi yang Diharapkan informasi antar KWT

(kelompok Wanita tani) di Kabupaten Purworejo Sumber Isu : Unit kerja

KWT (kelompok Wanita tani) di beberapa desa di Kabupaten Purworejo, dengan adanya beberapa KWT di Purworejo tidak ada wadah pertukaran informasi dan ilmu antar anggota KWT tersebut

publikasi sebagai diseminasi informasi bagi sesama KWT, sehingga diharapkan antar KWT dapat bertukar ilmu dan pengalaman

5. Belum optimalnya pembinaan masyarakat

dalam pembuatan

registrasi Pangan Segar Asal Tumbuhan PDUK (produksi dalam negri usaha kecil) di Kabupaten Purworejo

Sumber isu : Unit kerja

Pada dasarnya pembuatan registrasi PSAT-PDUK

digunakan untuk menjamin keamanan dan mutu dari pangan segar tersebut dan upaya itu sudah dilakukan oleh Sebagian besar usaha mikro di Kabupaten Purworejo,

akan tetapi

pelaksanaannya belum konsisten.

Tersedianya media edukasi yang menarik sebagai salah satu bentuk sarana dalam pembinaan registrasi PSAT- PDUK bagi masyarakat, sehingga mereka lebih

tergerak dalam

mendaftarkan produk makanannya. Produk PSAT penting untuk tersedia dalam jumlah yang cukup dan berkelanjutan serta memiliki nomor registrasi yang menjamin keamanan pangannya, sehingga meningkatkan kepercayaan

masyarakat dalam

mengkonsumsi produk tumbuhan segar dalam kemasan yang pada

akhirnya akan

meningkatkan keuntungan para pelaku usaha.

(36)

B. Analisis Isu

Analisis isu merupakan tahapan dalam perencanaan kegiatan aktualisasi dan habituasi yang bertujuan untuk menetapkan kualitas isu dan menentukan prioritas isu yang perlu diangkat untuk diselesaikan melalui gagasan kegiatan yang akan dilakukan. Analisis isu yang pertama adalah dengan menggunakan metode analisa APKL, yaitu dengan menentukan tingkat Aktualitas, Problematik, Kekhalayakan, dan Layak , sedangkan penentuan kualitas isu dilakukan dengan menggunakan alat analissi USG (Urgency, Seriousness, Growth).

1. Penetapan Kualitas Isu dengan Metode APKL

Metode APKL merupakan alat bantu dalam menganalisis ketepatan dan kualitas isu dengan memperhatikan tingkatan nilai Aktual, Problematika, Kekhalayakan dan Kelayakan dari isu-isu yang ditemukan.

Untuk mendapatkan isu yang berkualitas, maka dari kriteria APKL dilakukan penilaian dengan rentang nilai 1-5.

Tabel 2.2 Kriteria Metode APKL

No. Kriteria Keterangan

1. Aktual (A) Sedang terjadi atau dalam proses kejadian, atau diperkirakan bakal terjadi dalam waktu dekat.

2. Problematik (P) Merupakan masalah mendesak yang memerlukan berbagai upaya alternatif jalan keluar dengan aktivitas dan tindakan nyata.

3. Kekhalayakan (K) Menyangkut hajat hidup orang banyak, masyarakat pada umumnya, dan bukan untuk seseorang atau

Sekelompok

4. Layak (L) Masuk akal, logis, pantas, realistis, serta dapat dibahas sesuai dengan tugas, hak, wewenang, serta tanggung jawab.

Penentuan skor 1-5 untuk kriteria APKL sesuai dengan tabel 2.3 berikut:

(37)

Tabel 2.3

Penentuan Skor APKL

Skor Kriteria

Penilaian

Aktual (A) Problematik (P) Kekhalayakan (K) Layak (L) Isu sedang Isu sangat kompleks, Isu tersebut Isu sangat sangat hangat sehingga perlu menyangkut hajat masuk akal, 5 dibicarakan di dicarikan segera hidup orang logis, pantas

kalangan solusinya secara sangat banyak dan realistis masyarakat komperehensif

Isu sedang Isu kompleks, Isu tersebut Isu masuk hangat sehingga perlu menyangkut hajat akal, logis, 4 dibicarakan di dicarikan segera hidup orang pantas dan

kalangan solusinya secara Banyak realistis masyarakat komperehensif

3 Isu cukup hangat dibicarakan di kalangan masyarakat

Isu cukup kompleks, sehingga perlu dicarikan segera solusinya secara komerehensif

Isu tersebut menyangkut hajat hidup orang cukup banyak

Isu cukup masuk akal, logis, pantas dan realistis 2 Isu kurang

hangat

dibicarakan di kalangan masyarakat

Isu kurang kompleks sehingga perlu dicarikan segera solusinya secara komerehensif

Isu tersebut menyangkut hajat hidup segelintir orang

Isu kurang masuk akal, logis, pantas dan realistis 1 Isu sedang tidak

dibicarakan di kalangan masyarakat

Isu tidak kompleks sehingga perlu dicarikan segera solusinya secara komerehensif

Isu tersebut tidak menyangkut hajat hidup orang

Isu tidak masuk akal, logis, pantas dan realistis

Daftar isu yang sudah diidentifikasi akan dianalisis menggunakan metode APKL. Hasil analisis isu yang ada di Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Purworejo dengan menggunakan metode APKL disajikan dalam tabel 2.4

(38)

Tabel 2.4

Hasil Analisis Isu dengan Teknik APKL

No. Isu A P K LKriteria Skor Jumlah Peringkat

1. Belum optimalnya perkembangan informasi mengenai penerapan pola konsumsi yang sesuai dengan prinsip B2SA (beragam,bergizi, seimbang dan aman) di Kabupaten Purworejo

Sumber Isu : Unit Kerja

5 3 5 4 17 I

2. Belum optimalnya pelaksanaan kegiatan pembinaan pekarangan pangan lestari (P2L) Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian di Kabupaten Purworejo

Sumber Isu : Unit Kerja

4 2 4 3 13 IV

3. Belum terdapat sistem terintegrasi yang digunakan sebagai database untuk pembuatan laporan analisis Pola Pangan Harapan dan Neraca Bahan Makanan di Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Purworejo

Sumber Isu : Unit Kerja

4 3 3 2 12 V

4. Belum terdapat diseminasi informasi antar KWT (kelompok Wanita tani) di Kabupaten Purworejo

Sumber Isu : Unit Kerja

4 2 4 4 14 III

5. Belum optimalnya pembinaan masyarakat dalam pembuatan registrasi Pangan Segar Asal Tumbuhan PDUK (produksi dalam negri usaha kecil) di Kabupaten Purworejo

Sumber Isu : Unit Kerja

4 3 3 5 15 II

Berdasarkan hasil analisis isu dengan menggunakan Teknik APKL, terdapat tiga isu yang akan dianalisis lebih dalam untuk menjadi prioritas isu adalah :

(39)

a. Belum optimalnya perkembangan informasi mengenai penerapan pola konsumsi yang sesuai dengan prinsip B2SA (beragam,bergizi, seimbang dan aman) di Kabupaten Purworejo

b. Belum optimalnya pembinaan masyarakat dalam pembuatan registrasi Pangan Segar Asal Tumbuhan PDUK (produksi dalam negri usaha kecil) di Kabupaten Purworejo

c. Belum terdapat diseminasi informasi antar KWT (kelompok Wanita tani) di Kabupaten Purworejo

Langkah selanjutnya dilakukan analisis lanjutan pada isu-isu tersebut. Analisis lanjutan tersebut untuk mendapatkan kualitas isu yang paling tepat untuk dijadikan bahasan dalam rancangan aktualisasi.

Berdasarkan proses penapisan dengan menggunakan teknik AKPL, 3 (tiga) isu tersebut dilakukan analisis lanjutan dengan menggunakan metodeUrgency(U),Seriousness(S), danGrowth(G)

2. Analisis Prioritas Isu dengan Menggunakan USG

Analisis USG (Urgency, Seriousness, dan Growth) dilakukan setelah mendapatkan tiga isu yang telah memenuhi kriteria metode APKL. Analisis USG mempunyai tiga komponen yang mempertimbangkan tingkat kepentingan, keseriusan, dan perkembangan serta setiap komponen dinilai dengan rentang skor 1-5.

Tabel 2.5

Komponen Analisis USG

No Komponen Keterangan

1 Urgency(U) Tingkat kepentingan atau pendesakan isu tersebut

(40)

Penentuan skor 1-5 pada kriteris USG dan kriteria pemberian nilai disajikan pada tabel 2.6 berikut:

Tabel 2.6

Kriteria Penilaian Analisis USG

Skor Kriteria

Penilaian

Urgency Seriousness Growth

1 Isu tidak mendesak untuk segera diselesaikan

Isu tidak begitu serius untuk dibahas karena tidak berdampak ke hal yang lain

Isu lamban berkembang 2 Isu kurang mendesak

untuk segera diselesaikan

Isu kurang serius untuk dibahas karena kurang berdampak ke hal yang lain

Isu kurang cepat

berkembang 3 Isu cukup

mendesak untuk segera

diselesaikan

Isu cukup serius untuk dibahas karena cukup berdampak ke

hal yang lain

Isu cukup cepat berkembang untuk segera dicegah 4 Isu mendesak untuk

segera diselesaikan Isu serius untuk dibahas karena berdampak ke hal yang lain

Isu cepat berkembang untuk segera dicegah 5 Isu sangat

mendesak untuk segera

diselesaikan

Isu sangat serius untuk dibahas karena sangat berdampak ke hal yang lain

Isu sangat cepat berkembang untuk segera dicegah

Isu yang telah memenuhi kriteria metode APKL dianalisis menggunakan metode USG. Seluruh isu diberi skor berdasarkan kriteria penilaian metode USG dan ditentukan prioritas isu berdasarkan hasil skor akhir.

(41)

Tabel 2.7

Hasil Analisa Isu dengan Menggunakan Teknik USG

No. Isu U S G Jumlah Peringkat

1. Belum optimalnya perkembangan informasi mengenai penerapan pola konsumsi yang sesuai dengan prinsip B2SA (beragam,bergizi, seimbang dan aman) di Kabupaten Purworejo Sumber Isu : Unit Kerja

5 4 5 14 I

2. Belum optimalnya pembinaan masyarakat dalam pembuatan registrasi Pangan Segar Asal Tumbuhan PDUK (produksi dalam negri usaha kecil) di Kabupaten Purworejo

Sumber Isu: Unit Kerja

4 5 4 13 II

3. Belum terdapat diseminasi informasi antar KWT (kelompok Wanita tani) di Kabupaten Purworejo Sumber Isu : Unit Kerja

4 4 4 12 III

Simpulan : dari hasil analisis isu melalui pendekatan USG maka isu strategis yang perlu diselesaikan adalah “Belum optimalnya perkembangan informasi mengenai penerapan pola konsumsi yang sesuai dengan prinsip B2SA (beragam,bergizi, seimbang dan aman) di Kabupaten Purworejo”.

C. Analisis Penyebab Isu

Dari hasil analisis isu melalui pendekatan USG maka isu strategis yang perlu diselesaikan adalah Belum optimalnya perkembangan informasi

(42)

dimantapkan melalui brainstorming bersama rekan kerja di instansi, sehingga hasilnya dirumuskan sebagai berikut (analog):

Gambar 2.5

Analisis Penyebab Isu dengan Diagram Fishbone

Setelah dilakukan analisis penyebab terhadap isu prioritas dengan menggunakan fishbone, diperoleh penyebab-penyebab prioritas yang perlu diselesaikan, yaitu:

a. Material : Belum tersampaikan informasi secara efektif dan efisien tentang pola konsumsi pangan B2SA

b. Milieu : Kurangnya sosialisasi terkait pola konsumsi pangan B2SA MILIEU

METHOD

MAN MATERIAL

Jargon 4 sehat 5 sempurna masih

melekat

Kurangnya sosialisasi terkait pola konsumsi B2SA

Keterbatasan penggunaan perangkat Belum tersampaikan

informasi mengenai pola konsumsi B2SA secara

efektif dan efisien

Kurangnya SDM dalam pelaksanaan sosialisasi SDM kurang

berinovasi

Belum banyak informasi di media social tentang pola konsumsi B2SA

Metode sosialisasi yang digunakan masih manual

Belum optimalnya perkembangan informasi mengenai

pola konsumsi pangan B2SA Dinas

Ketahanan dan Pertanian Kabupaten

Purworejo

(43)

c. Method : Metode sosialisasi yang digunakan masih manual D. Dampak Bila Isu Tidak Diselesaikan

1. Kebiasaan masyarakat untuk mengkonsumsi salah satu atau beberapa jenis makanan tertentu tanpa diimbangi dengan pengetahuan tentang pedoman gizi seimbang, masih akan terus berlanjut.

2. Kebutuhan gizi masyarakat tidak tercukupi, sehingga mengakibatkan timbulnya berbagai macam penyakit. Makanan tidak sehat adalah berbagai jenis atau bahan makanan yang mengandung gizi tidak seimbang. Jenis makanan ini tidak boleh dikonsumsi secara berlebihan.

Umumnya, makanan tidak sehat hanya mengandung sedikit zat dan sedikit serat yang dibutuhkan untuk perkembangan tubuh. Kandungan yang ada dalam jenis makanan ini juga bisa berbahaya apabila dikonsumsi secara terus menerus. Apabila dikonsumsi secara berlebihan makan tidak sehat akan menimbulkan berbagai dampak negatif.

Kebiasaan mengonsumsi makanan yang kurang sehat bisa meningkatkan risiko timbulnya penyakit, menghambat perkembangan tubuh, mengurangi kecerdasan otak, mengurangi fungsi gerak anggota badan, bahkan dapat menimbulkan kematian.

3. Kurangnya minat dalam mengkonsumsi makanan yang beragam terlebih untuk mengkonsumsi jenis makanan berbahan umbi – umbian yang saat ini kita ketahui, produk umbi – umbian justru memiliki kandungan karbohidrat kompleks dan indeks glikemik yang rendah serta banyak mengandung zat penangkal radikal bebas. Pada saat sekarang ini,

(44)

banyak harus mengkonsumsi per kelompok bahan makanan. Selain itu, bahan makanan susu dianggap sebagai penyempurna, padahal susu dapat digantikan oleh makanan berprotein lain baik itu hewani maupun nabati. 4 sehat 5 sempurna juga tidak menjamin status gizi baik.

5. Peningkatan prevalensi stunting. Upaya percepatan penurunan kasus stunting di Kabupaten Purworejo masih terus dilakukan, meskipun pada tahun 2021, Kabupaten Purworejo merupakan salah satu dari lima kabupaten terbaik di Jawa Tengah dalam penekanan prevalensi stunting, berdasarkan survey status gizi Indonesia (SSGI) prevalensi angka stunting Kabupaten Purworejo tahun 2021 adalah 15,7%. Percepatan penurunan stunting dilakukan bukan melalui pengobatan, akan tetapi lebih kepada pencegahan. Pencegahan yang dilakukan saat ini adalah dengan adanya pendampingan dan sosialisasi kepada masyarakat mulai dari calon pengantin, ibu hamil sampai menyusui.

E. Gagasan Pemecahan Isu

Berdasarkan uraian diatas, maka judul gagasan pemecahan isu prioritas adalah Pemanfaatan Video Edukasi dalam mendukung program Gerakan konsumsi pangan B2SA (beragam, bergizi, seimbang dan aman) di Kabupaten Purworejo”. Selanjutnya akan dilaksanakan 5 (lima) kegiatan : 1. Menyusun rencana persiapan sosialisasi pola konsumsi pangan B2SA

dengan menggunakan video edukasi

2. Membuat video edukasi Gerakan konsumsi pangan B2SA

3. Menyusun Materi Sosialisasi kepada perwakilan KWT dan PKK di Kabupaten Purworejo

4. Melakukan sosialisasi melalui video edukasi Gerakan konsumsi pangan B2SA

5. Melakukan monitoring dan evaluasi tentang sosialisasi dengan menggunakan video edukasi

(45)

F. Rancangan Aktualisasi dan Habituasi

Nama : Swandari Sri Winoto, S.P.

Jabatan : Analis Pangan

Unit Kerja : Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Purworejo

Tupoksi yang sesuai dengan RA : Melaksanakan pemberdayaan masyarakat dalam penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal

Identifikasi Isu (diambil dari USG) : 1. Belum optimalnya perkembangan informasi mengenai penerapan pola konsumsi yang sesuai dengan prinsip B2SA (beragam,bergizi, seimbang dan aman) di Kabupaten Purworejo

2. Belum optimalnya pembinaan masyarakat dalam pembuatan registrasi Pangan Segar Asal Tumbuhan PDUK (produksi dalam negri usaha kecil) di Kabupaten Purworejo

(46)

Tabel 2.8

Matriks Rancangan Aktualisasi dan Habituasi

No. KEGIATAN TAHAPAN

KEGIATAN OUTPUT/

HASIL KETERKAITAN SUBSTANSI MATA PELATIHAN

KONTRIBUSI VISI DAN MISI KEPALA DAERAH

PENGUATAN NILAI-NILAI ORGANISASI

1 2 3 4 5 6 7

1. Menyusun rencana persiapan sosialisasi pola konsumsi pangan B2SA dengan menggunakan video edukasi Sumber Kegiatan:

Tupoksi

1. Melakukan konsultasi

Tersusunnya rencana persiapan sosialisasi pola konsumsi pangan B2SA dengan media video edukasi

Mendapatkan

Manajemen ASN :

Saya menyusun rencana persiapan sosialisasi pola konsumsi pangan B2SA dalam pembuatan video edukasi

Gerakan konsumsi pangan B2SA dengan jujur,

bertanggungjawab, dan berintegritas tinggi serta sesuai dengan perintah atasan atau sejauh tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang- undangan dan etika pemerintahan.

(kode etik dan kode perilaku ASN) Smart ASN :

Saya menyusun rencana persiapan sosialisasi pola konsumsi pangan B2SA dalam pembuatan video edukasi

Gerakan konsumsi pangan B2SA dengan menggunakan perangkat keras laptop dengan aplikasi Microsoft word (digital skills)

Tersusunnya rencana persiapan sosialisasi pola konsumsi pangan B2SA dalam pembuatan video edukasi Gerakan konsumsi pangan B2SA memberikan kontribusi pada visi Kabupaten Purworejo 2021 – 2026 yaitu :

“Purworejo berdaya saing 2025” danmisi ke 1yaitu

Meningkatkan daya saing sumber daya manusia yang unggul dalam arti luas,

mengedepankan kompetensi

Tersusunnya rencana persiapan sosialisasi pola konsumsi pangan B2SA dalam pembuatan video edukasi Gerakan konsumsi pangan B2SA menguatkan nilai organisasi Kabupaten Purworejo yaitu

“Beriman- Profesional”

terutama nilai Akuntabel

Bertanggung jawab dalam

melaksanakan kegiatan

(47)

dengan mentor persetujuan dan arahan tentang rencana

persiapan sosialisasi dengan menggunakan media video edukasi Gerakan

konsumsi B2SA

Akuntabel

Saya akan bertanggung jawab pada saat menerima hasil arahan dan persetujuan dari atasan(Integritas)

Harmonis

Saya menghargai pendapat atasan pada saat memberikan arahan(Selaras)

keahlian dan keilmuan yang berbasis pada religiusitas masyarakat

2. Melakukan koordinasi dengan rekan sejawat dan subkoordinator

Adanya masukan dan arahan dari subkoordinator dan rekan

Kolaboratif

Saya bersedia bekerja sama dengan sesama rekan sejawat saya(kesediaan bekerja sama)

(48)

3. Membuat konsep pembuatan video edukasi

Tersedianya konsep pembuatan video edukasi

Akuntabel

Saya membuat konsep pembuatan video edukasi dengan bertanggung jawab, cermat dan disiplin dengan tidak menggunakan kekayaan negara Kompeten

Saya membuat konsep pembuatan video edukasi dengan kualitas terbaik(kinerja terbaik)

2. Membuat video edukasi Gerakan konsumsi pangan B2SA

Sumber Kegiatan : Tupoksi

1. Melakukan

Tersedianya Video edukasi tentang Gerakan konsumsi pangan B2SA sebagai media edukasi untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang

bagaimana pola makan yang benar

Adanya

Manajemen ASN :

Saya membuat video edukasi Gerakan konsumsi pangan B2SA saya

bertanggung jawab, profesional,dan berintegritas untuk mendapatkan hasil yang terbaik (kode etik dan kode perilaku ASN)

Smart ASN :

Saya membuat video edukasi gerakan konsumsi pangan B2SA ini saya

menggunakan perangkat laptop dengan aplikasiCanvadanCapcutserta mencari informasi dari sumber terpercaya yaitu googledan website resmi Badan Pangan Nasional (digital skills)

Akuntabel

Saya akan bertanggung jawab pada saat

Tersedianya Video edukasi tentang Gerakan konsumsi pangan B2SA sebagai media edukasi untuk meningkatkan pemahaman masyarakat

tentang bagaimana pola makan yang benar

memberikan kontribusi pada visi Kabupaten Purworejo 2021 – 2026 yaitu :

“Purworejo berdaya saing

Tersedianya Video edukasi tentang Gerakan konsumsi pangan B2SA sebagai media edukasi untuk meningkatkan pemahaman

masyarakat tentang bagaimana pola makan yang benar juga menguatkan nilai organisasi Kabupaten Purworejo yaitu

“Beriman- Profesional”

terutama nilai

Gambar

Tabel 2.1 Identifikasi Isu
Tabel 2.2 Kriteria Metode APKL
Tabel 3.1 Perubahan Kegiatan dari Rancangan Awal
Gambar 3.2 Koordinasi dengan Rekan Sejawat dan Subkoordinator
+7

Referensi

Dokumen terkait

Kontribusi terhadap visi misi organisasi ialah dengan melakukan pembuatan laporan monitoring bibit pada persemaian permanen maka akan didapat data akurat yang bersifat informatif

Keterkaitan mata pelatihan yang memuat nilai-nilai BerAKHLAK telah sesuai dengan tahapan kegiatan setelah proses pembelajaran menggunakan media. Kontribusi terhadap

Dampak bila nilai-nilai Dasar PNS Tidak Diaplikasikan dalam kegiatan 1 Apabila penulis tidak menerapkan nilai Berorientasi Pelayanan Melakukan Perbaikan Tiada Henti pada penyusunan

Sumber Kegiatan : Tusi/ SKP Terlaksanany Sosialisasi Manfaat dan Kelebihan Metode tanam Jajar Legowo sehingga petani paham akan manfaat Metode Tajarwo Managemen ASN : ➢

Aktualisasi dan habituasi nilai-nilai dasar, Kedudukan dan peran PNS untuk mendukung Smart Governance Pada kegiatan 5 ini saya membuat cerita elektronik untuk memenuhi kebutuhan

Analisis dampak bila nilai-nilai dasar PNS tidak diaplikasikan dalam kegiatan: 1 Apabila saya tidak menerapkan nilai Adaptif bertindak proaktif pada tahap konsultasi dengan mentor

Kegiatan aktualisasi dan habituasi di BPKPAD Kabupaten bisa berjalan dengan tertib dan efektif sesuai dengan nilai-nilai dasar BerAKHLAK dan kedudukan serta peran PNS dalam mewujudkan

1 Pelaksanaan Tahapan Kegiatan Aktualisasi No Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/Hasil Keterkaitan Substansi Mata Pelatihan Agenda 2 Kontribusi Terhadap Visi, Misi