TEKNIK PEMBENIHAN UDANG WINDU (Penaeus Monodon) DI BALAI PERIKANAN BUDIDAYA AIR PAYAU (BPBAP) TAKALAR, SULAWESI
SELATAN
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANG
Disusun Oleh:
MUHAMMAD AYYUB MULAWARMAN 2240101035 MUTIARA SYAKINA 2240101032
SITI NURBAYA 2240101056 NURHALISA 2240101040
PROGRAM STUDI AKUAKULTUR
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN
TAKALAR 2024
HALAMAN PENGESAHAN
Judul PKL : Teknik Pembenihan Udang Windu (Pnaeus Monodon) Di Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar
Nama Kelompok: Muhammad Ayyub Mulawarman 2240101035 Mutiara Syakina 2240101032
Siti Nurbaya 2240101056 Nurhalisa 2240101040 Program Studi : Akuakultur
Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Telah Disahkan dan Disetujui Oleh:
Pembimbing Utama Pembimbing Lapangan
Miska Sanda Lembang S.pi., M.Si NIP:0017049201
Haruna S.Pi
NIP:197608122005021001
Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Borneo
Tarakan
Ketua Program Studi Akuakultur Fakultas Perikanan dan ilmu
Kelautan Universitas Borneo tarakan
Rukisah Saleh S.Pi,. M.P., Ph.D NIP:1128087001
Dr. Muhammad Amien S.Pi., M.Si NIP:1114047402
Mengetahui
KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur kita panjatkan atas kehadirat Allah SWT Tuhan Yang Masha Esa, karena berkat Rahmat dan karunia-Nya Penulis dapat menyelesaikan Laporan Praktik kerja Lapangan yang berjudul “Teknik Pembenihan Udang Windu (Pnaeus Monodon) Di Balai Perikanan Budidaya Air Payau, (BPBAP) Takalar”.
Penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada Ibu Miska Sanda Lembang S.Pi., M.Si selaku Dosen Pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan arahan dalam penyusunan Laporan Praktik Kerja Lapangan ini.
Ucapan terimakasih juga di sampaikan kepada:
1. Kedua orang tua penulis yang sangat penulis hormati, sayangi dan cintai yang telah melahirkan dan membesarkan penulis dengan penuh cinta dan kasih saying, selalu memberikan dukungan baik berupa materi maupun doa dalam setiap Langkah hingga penulis dapat sampai pada titik
sekarang, dan seluruh keluarga besar yang selalu memberikan dukungan kepada penulis.
2. Bapak Dr. Rukisah Saleh, S.Pi., M.Si., Ph.D Selaku Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmun kelautan Universitas Borneo Tarakan.
3. Bapak Dr. Muhammad Amien, S.Pi., M.Si Selaku Ketua Jurusan Akuakultur Fakultas perikanan dan Ilmu Keluatan Universitas borneo Tarakan.
4. Ibu Miska Sanda Lembang, S.Pi., M.Si Selaku Dosen Pembimbing.
5. Bapak Haruna S.Pi Selaku Ketua Koordinator Divisi Pembenihan Udang Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar.
6. Semua pihak yang telah banyak membantu penulis untuk menyelesaikan praktik Kerja Lapang.
7. Terkhusus pertama kepada para pembimbing lapangan yang telah memberikan bimbingan berupa ilmu dan saran teknis lapangan kepada Bapak
8. Terkhusus kedua kepada teman-teman kelompok Program Kuliah Lapangan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Borneo Tarakan 2024 kepada Muhammad Deriansayah, Jela Tomas, Victor Sampe K, Reza Anugrah Nur, Wawan Darmansyah, Mutiara Syakina, Siti
nurbaya, Nurhalisa.
9. Terkhusus ketiga kepada Masyarakat Dusun Kawari Kecamatan Galesong Kabupaten Takalar yang telah berbaik hati menerima kehadiran kelompok PKL Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Borneo Tarakan.
10. Terkhusus Keempat kepada Aplikasi Sikepiting sebagai platform pengisi administrasi serta penyedia informasi terkait instansi PKL Balai Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar.
Terakhir ada rasa yang harus hilang, ada luka yang harus sembuh, ada rindu yang harus selesai, dan ada kami yang harus berpamitan. Terimakasih Divisi Pembenihan Udang BPBAP Takalar.
Takalar, Agustus 2024
Muhammad Ayyub Mulawarman NPM. 2240101035
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL... .i
HALAMAN PENGESAHAN...ii
KATA PENGANTAR...iii
DAFTAR ISI...v
DAFTAR GAMBAR ...viii
DAFTAR TABEL...xi
DAFTAR LAMPIRAN...x
BAB I PENDAHULUHAN 1.1. Latar Belakang... 1
1.2. Tujuan... 1
1.3. Manfaat...2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Klasifikasi Udang Windu (Panaeus Monodon fabricus) ...3
2.2. Morfologi Udang Windu (Panaeus Monodon Fabricus) ...3
2.2.1. Pembagian Tubuh...4
2.3. Habitat dan Siklus Hidup Udang Windu...5
2.5. Makan dan Kebiasaan Makan Udang Windu...6
2.6. Pemijahan Udang Windu...6
2.7. Parameter Kualitas Air...7
BAB III METODELOGI PRAKTIK 3.1. Waktu dan Tempat...9
3.2. Alat dan Bahan...9
3.3. Metode Praktek... 10
3.4. Lokasi dan Letak geografis BPBAP...11
3.5. Sejarah Singkat BPBAP Takalar ...12
3.6 .Visi dan Misi BPBAP Takalar...12
3.7. Tugas dan FungsiBPBAP Takalar ...13
3.8. Saranan dan parasaranaproduksi ...13
BAB IV PEMBAHASAN 4.1.Tahapan Kegiatan Pemeliharaan...15
4.2. Penanganan Induk...17
4.3. Penanganan dan Pemeliharaan Larva...21
4.4. Pengelolaa Kualitas Air...25
4.5. Manajemen Pemberian Pakan Alami dan Buatan...27
4.6. Pemanenan... 37
4.7. Pemasaran...39
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan...41
5.2. Saran ... 41
DAFTAR PUSTAKA...42
Lampiran 1. Struktur Organisasi BPBAP Takalar...44
Lampiran 2. Denah Lokasi Pembenihan Udang...44
Lampiran 3. Gambar Kegiatan PKL BPBAP takalar...44
Lampiran 4. Jurnal Harian PKL... 44
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Morfologi Udang Windu (Paneaus Monodor Fabr) ...4
Gambar 2. Siklus Hidup Udang Windu (Annonymous, 2004) ...5
Gambar 3. Sistem Perkawinan Udang Windu...7
Gambar 4. Lokasi BPBAP takalar ...12
Gambar 5. Kegiatan Sterilisasi dan Pencucian Bak...16
Gambar 6. a). Pencucian, b) Penjemuran, c). Pemasakan aerasi ...16
Gambar 7. a). nstalasi filter UV, b). filter Bio Ball...17
Gambar 8. Aklimatisasi Induk...18
Gambar 9. Ablasi Mata Induk...19
Gambar 10. a). Pemberian pakat induk,b) Pengisian Air,c). pengisian air...19
Gambar 11. Tingkat Kematangan Gonad (tkh) Induk windu...20
Gambar 12. Pengadukan Telur... 21
Gambar 13. Penanganan Nauplius...21
Gambar 14. Ciri-cici Perkembangan Nauplius...23
Gambar 15. Ciri-ciri Perkembangan Zoea...24
Gambar 16. Ciri-ciri Perkembangan Mysis...25
Gambar 17. Post Larva...25
Gambar 18. Pengukuran Kualitas Air...26
Gambar 19. Pengkulturan Skeletonema Dengan Skala Massal...30
Gambar 20. Pemanenan Skeletonema Costatum...31
Gambar 21. Alat-alat Pemanenan artema salina...32
Gambar 22. Proses Pencucian bakdan Kultur Artemia Salina...33
Gambar 23. Pemanenan Artemia Salina...34
Gambar 24. S.Costatum dan A. Salina...35
Gambar 25. Cara Pemberian dan Pemberian Pakan Alami...36
Gambar 26. Pemberian Pakan Buatan...37
Gambar 27. Panen PL…...38 Gambar 28. Packing…...39
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Bahan Yang Digunakan Dalam Proses Pemeliharaan Larva Udang
Windu………... 9
Tabel 2. Alat Yang Digunakan Dalam Proses Pemeliharaan Larva Udang Wind. 10 Tabel 3. Ciri-ciri Perkembangan Nauplius...22
Tabel 4. Ciri-ciri Perkembangan Zoea...23
Tabel 5. Ciri-ciri Perkembangan Mysis...24
Tabel 6. Hasil Pengukuran Kualitas Air...26
Tabel 7. Jenis Pupuk dan Dosis...29
Tabel 8. Dosis Pemberian Pakan Alami...34
Tabel 9. Dosis dan Frekuensi Pemberian Atemia Salina...35
Tabel 10. Dosis dan Frekuensi Pemberian Pakan...37
Tabel 11. Jenis Pakan Buatan berdasarkan Stadia Larva...37
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiranm 1. Struktur Organisasi BPBAP Takalar...44
Lampiranm 2. Dena lokasi Pembenihan Udang...45
Lampiranm 3. Gambar Kegiatan PKL BPBAP Takalar...46
Lampiranm 4. Jurnal Kegiatan PKL...50
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
Udang merupakan salah satu sumberdaya perikanan yang selain mengandung zat-zat gizi yang tinggi bagi tubuh, juga merupakan salah satu komoditi yang memiliki nilai jual yang tinggi baik di pasar domestik maupun mancanegara.
Sejalan dengan berkembangnya usaha budidaya udang windu di Indonesia, maka kebutuhan benur juga cenderung mengalami peningkatan. Budidaya udang windu berkembang sangat pesat namun budidaya udang windu ternyata dihadapkan pada keterbatasan produksi benur udang windu. Diantara jenis- jenis komoditas udang laut yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi adalah udang windu (Penaeus monodon Fab). Udang windu ini telah memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi pendapatan devisa Negara, khususnya pada sektor perikanan melalui kegiatan ekspor produk udang ke luar negeri (Anonim, 2012).
Ketersediaan induk dan benih udang yang semakin menipis di alam bebas menyebabkan semakin menurunnya produksi udang hasil tangkapan, sehingga produksi udang hasil budidaya perlu ditingkatkan. peningkatan produksi udang melalui budidaya tersebut hanya mungkin dapat dicapai bila suplay faktor-faktor produksi, khususnya benih udang dapat terjamin sepenuhnya. Pembenihan dan Pemeliharaan udang harus terus dilakukan untuk menunjang kegiatan budidaya atau pembesaran udang. Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, Maka telah banyak didirikan unit pembenihan udang baik skala besar (Hatchery) maupun skala kecil /rumah tangga (backyard).
Balai perikanan budidaya air payau (BPBAP) Takalar adalah salah satu Hatchery di Kabupaten Takalar yang telah berhasil dalam usaha permbenihan dan pemeliharaan udang windu dan telah berperan dalam penyediaan benur bagi para petani tambak didaerah Takalar dan daerah lainnya. Untuk mengetahui usaha perbenihan udang windu tersebut, maka penulis melakukan Praktek Kerja Lapang (PKL) dengan judul Pembenihan dan Penaganan Larva Udang Windu (Penaeus monodon), pada unit-unit usaha perbenihan udang windu di hatchery Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar.
1.2. Tujuan
Tujuan kegiatan praktek kerja lapang (PKL) ini adalah sebagai berikut : 1. Mengetahui teknik-teknik pemeliharaan Larva Udang Windu di BPBAP
Takalar melalui pengamatan pertumbuhan.
2. Mengetahui teknik-teknik pemeliharaan larva udang windu mulai dari nauplius, zoea, mysis dan post larva.
1.3. Manfaat
Manfaat dari praktek kerja lapang (PKL) ini, yaitu :
1. Menambah wawasan ilmu pengetahuan yang lebih mendalam serta menambah pengalaman mahasiswa di lapangan, Mendapatkan informasi mengenai pemeliharaan udang windu dengan segalah prosesnya, pengetahuan melalui penerapan teori dan praktek lapangan dalam penanganan udang windu, mendapatkan pengalaman dan bekal keterampilan tentang pemeliharaan larva udang windu yang memenuhi standar yang diinginkan.
2. Megaplikasikan ilmu yang didapat di lapangan tentang pemeliharaan larva udang windu kepada masyarakat untuk memajukan sektor dunia perikanan daerah.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Klasifikasi Udang Windu (Penaeus monodon, Fabr)
Klsifikasi udang windu (Penaeus monodon, Fabricus) menurut Soetomo (2000), sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Phyllum : Arthropoda
Subfillum : Crustacea
Class____ : Malacostraca
Ordo : Decapoda
Family : Panaeidae
Genus : Penaeus
Species : Penaeus monodon Fabricus
Pemberian nama Penaeus monodon diperkenalkan pertama kali oleh Fabricus pada tahun 1978 (Holtius dalam Priono, 1993). Di indonesia dikenal dengan nama udang windu, dalam dunia perdagangan dikenal dengan nama tiger prawn.
2.2. Morfologi Udang Windu
Tubuh udang windu terdiri dari dua bagian, yaitu bagian depan dan bagian belakang. Bagian depan disebut bagian kepala, yang sebenarnya terdiri dari bagian kepala dan dada yang menyatu itu dinamakan kepala-dada (Cepholothorax) serta bagian perut (abdomen) terdapat ekor dibagian belakangnya.
Semua bagian badan beserta anggota-anggotanya terdiri dari ruas-ruas (segmen). Kepala dada terdiri dari 13 ruas, yaitu kepalanya sendiri 5 ruas dan dadanya 8 ruas. Sedangkan bagian perut terdiri dari 6 ruas. Tiap ruas badan mempunyai sepasang anggota badan yang beruas-ruas pula. Seluruh tubuh tertutup oleh kerangka luar yang disebut eksoskeleton, yang terbuat dari bahan chitin. Kerangka tersebut mengeras, kecuali pada sambungan-sambungannya antara dua ruas tubuh yang berdekatan. Hal ini memudahkan mereka untuk bergerak (Mujiman dan Suyanto, 2005). Morfologi udang windu dilihat pada gambar 1.
Gambar 1. Morfologi Udang Windu (Penaeus Monodon Fabr.)
2.2.1. Pembagian Tubuh a. Bagian Kepala
Bagian kepala dilindungi oleh cangkang kepala atau Carapace. Bagian depan meruncing dan melengkung membentuk huruf S yang disebut cucuk kepala atau rostrum. Pada bagian atas rostrum terdapat 7 gerigi dan bagian bawahnya 3 gerigi untuk P. monodon. Bagian kepala lainnya adalah :
- Sepasang mata majemuk (mata facet) bertangkai dan dapat digerakkan.
- Mulut terletak pada bagian bawah kepala dengan rahang (mandibula) yang kuat.
- Sepasang sungut besar atau antena.
- Dua pasang sungut kecil atau antennula.
- Sepasang sirip kepala (Scophocerit).
- Sepasang alat pembantu rahang (Maxilliped).
- Lima pasang kaki jalan (pereopoda), kaki jalan pertama, kedua dan ketiga bercapit yang dinamakan chela.
b. Bagian Badan dan Perut (Abdomen)
Bagian badan tertutup oleh 6 ruas, yang satu sama lainnya dihubungkan oleh selaput tipis. Ada lima pasang kaki renang (pleopoda) yang melekat pada ruas pertama sampai dengan ruas kelima, sedangkan pada ruas keenam, kaki renang mengalami perubahan bentuk menjadi ekor kipas (uropoda). Di antara ekor kipas terdapat ekor yang meruncing pada bagian ujungnya yang disebut
telson. Organ dalam yang bisa diamati adalah usus (intestine) yang bermuara pada anus yang terletak pada ujung ruas keenam (Anonim, 2012)
c. Alat Kelamin
Udang jantan dan udang betina dapat dibedakan dengan melihat alat kelamin luarnya. Alat luar jantan disebut petasma, yang terdapat pada kaki renang pertama. Sedangkan lubang saluran kelaminnya terletak diantara pangkal kaki jalan ke-4 dan ke-5. Sedangkan lubang saluran kelaminnya terletak diantara pangkal kaki jalan ke-3.
Alat kelamin primer yang disebut gonad terdapat didalam bagian kepala dada. Pada udang jantan yang dewasa, gonad akan menjadi testes yang berfungsi sebagai penghasil mani (sperma). Sedangkan pada udang betina, gonad akan menjadi ovarium (indung telur), yang berfungsi untuk menghasilkan telur dan Ovarium yang telah matang akan meluas sampai ke ekor.
Sperma yang dihasilkan oleh udang jantan pada waktu kawin akan dikeluarkan dalam kantung seperti lender yang dinamakan spermatophora (kantung sperma). Dengan bantuan petasma, spermatophora dilekatkan pada thelicum udang betina bertelur, spermatophora akan pecah dan sel-sel spermanya akan membuahi telur di luar badan induknya (Mujiman dan Suyanto, 2005).
2.3. Habitat dan Siklus Hidup Udang Windu
Habitat udang windu berbeda beda tergantung dari jenis dan tingkatan dalam daur hidupnya. Daur hidup udang windu mengalami tingkatan perubahan bentuk yaitu telur, nauplius, larva, post larva, juvenil, udang muda dan dewasa.
Udang bersifat bentuk yaitu hidup pada permukaan dasar laut. Habitat yang disukai adalah dasar laut yang biasanya terdiri dari campuran lumpur dan pasir (Tricahyo, 1995).
Daur hidup dan reproduksi udang windu seperti halnya dengan udang Penaeidlainnya, bertelur ditengah laut, larvanya kemudian bergerak kedaerah pantai dan mencapai daerah estuaria pada awal stadia juvenile. Setelah tumbuh dewasa kembali ketengah laut untuk bertelur. Siklus hidup udang dapat dilihat pada gambar 2.
Gambar 2. Siklus Hidup Udang Windu (Annonymous, 2004).
2.4. Makan dan Kebiasaan Makan Udang Windu
Udang windu bersifat nokturnal, artinya mencari makan dan aktifitas pada malam hari atau pada suasana gelap. Sebaliknya pada siang hari aktivitasnya menurun dan lebih banyak membenamkan diri dalm lumpur atau pasir.
Makanan udang windu bervariasi, baik jenis maupun komposisinya, tergantung dari umurnya. Namun umumnya udang bersifat carnivora.
Makanannya berupa hewan-hewan kecil seperti invertebrata air, udang kecil, kerang, ikan kecil, sedangkan di hetchery pada umumnya pakan segar yang diberikan yaitu berupa cumi-cumi, hati sapi, kerang, cacing, ikan ruca, dan lain sebagainya yang memiliki kandungan nutrisi yang baik (Sumeru S.U dan Anna.S. 1992).
Pada stadium zoea makanan yang diperlukan adalah plankton nabati (fitoplankton) yang dapat dipilih dari jenis Skeletonema sp, Tetraselmis sp, Chaetoserus sp, Chlorella sp dan Spirulina sp. Pada stadium mysis larva memerlukan makanan berupa plankton hewani (zooplankton), yang umum diberikan adalah Artemia salinadan Brachionussp (Annonymous, 2004).
2.5. Pemijahan Udang Windu
Pemijahan udang windu terjadi secara eksternal (diluar tubuh), pemijahan berlangsung setelah udang betina berganti kulit (moulting). Yang diman langkah- langkah proses pemijahan adalah sebagai berikut.
a. Pendekatan
Pendekatan biasanya udang jantang secara cepat mendekati udang betina dari samping dengan berjalan di dasar. Setelah mendekati betina dari samping, udang jantang merangkat dengan kepala di bawa ekor udang betina.
b.Pengejaran
Pengejaran dilakukan udang jantang merangkak kebawa ekor udang betina, udang betina mulai bergerak cepat, udang betina berenang sepanjang dinding melintasi tengah bak, udang jantang kemudian mengejar udang betina dan berenang dengan posisi pararel. Seekor udang betina biasa di kejar oleh dua sampai tiga induk jantan sekaligus. Udang betina yang lelah matang telur, jika udang betina terpisa dari udang jantan, maka udang matang telur dan akan di seleksi untuk di masukkan kedalam bak yang terisi udang jantan.
Udang betina yang matang telur akan mengeluarkan feromon pertama yaitu (chase stimulating pheromone) yang disalurkan lewat air dan
merangsang udang jantan dan memburunya. Feromon kedua adalah (mating stimulating pheromone) yang di keluarkan oleh induk betina yang matang telur penuh dan hanya singkat serta terjadi karena fisik kontak.
c. Perkawinan
Setelah pengejaran udang jantan membalikkan tubuh kearah ventral udang betina dan mengcengkram betina dengan kaki jalan. Posisi ventral udang terjadi 1 sampai 2 detik, ketika udang jantan spermatofore diletakkan pada thelicum betina setelah terjadi perkawinan secara sempurna (ismail 2009). Sistem perkawinan udang windu dilihat pada gambar 3.
Gambar 3. Sistem Perkawinan Udang Windu 2.6. Parameter Kualitas Air
Parameter kualaitas air memiliki peranan penting dalam menunjang keberhasilan usaha pembenihan khususnya pembenihan udang windu baik meliputi aspek fisik kimia dan biologis yang dapat mempengaruhi kelangsungan hidup udang windu dalam suatu pembenihan hatchery adalah sebagai berikut :
1. Sanilitas
Alat yang digunakan untuk mengukur salinitas yaitu Refraktometer.
Menurut (Tim penulis Tz, 2002) Kisaran sanilitas yakni berkisar antara 15 - 25 ppt merupakan kadar garam yang paling baik bagi udang, karena dapat menunjukan pertumbuhan yang jauh lebih cepat dari salinitas lainnya. Jika salinitas terlalu rendah dan tinggi, nafsu makan pada udang windu masih ada akan tetapi hal ini digunakan/ dikonfersi ke energi di dalam tubuh yang banyak terbuang.
2. Suhu
Alat yang di gunakan untuk mengukur suhu baik dalam ruangan maupun di dalam air yaitu thermometer, hal ini digunakan untuk mengetahui tingkatan suhu secara terkontrol. Suhu merupakan salah satu faktor yang penting dalam kehidupan udang windu melalui laju metabolism dan juga berpengaruh terhadap daya larut gas-gas termasuk oksigen.
Adapun suhu air media pemeliharaan udang windu kisaran antara 28-32°C.
Menurut (Jannah, 2009) bahwa suhu yang terbaik untuk pemeliharaan post larva yaitu 29-31°C, aman bagi udang karena biasanya larva tumbuh dan melakukan moulting dengan cepat pada suhu tersebut. Sedangkan menurut (Amri, 2006) menyatakan bahwa untuk perkembangan larva yang normal yaitu kisaran sekitar 28-31°C, apabila suhu turun menjadi 24-27°C, maka proses metamorfosa menjadi terhambat.
Kondisi ini akan di imbangi dengan meningkatnya laju komsumsi pakan. Apabila suhu semakin meningkat maka udang windu akan mengalami stress dan mengeluarkan lender berlebihan sebaliknya bila suhu terlalu rendah, udang mengalami kurang aktif makan dan bergerak, sehingga pertumbuhan akan melambat (Sumerudan Anna, 1992).
3. pH Air
PH merupakan singkatan dari potensial hydrogen atau derajat keasaman di dalam perairan, pH mempengaruhi daya racun amoniak.
Dimana amoniak akan meningkat apabila pH meningkat dan akan menurun apabila pH menurun. Kisaran pH yang efektif/ normal untuk pertumbuhan udang windu yakni kisaran 7,5 – 8,5. Apabila pH mencapai angka terendah (6) dan tertinggi (9) maka mengakibatkan pertumbuhan udang akan melambat bahkan akan mengalami kematian. Adapun alat yang digunakan untuk mengukur pH yaitu pH meter.
4. Oksigen
Udang windu membutuhkan oksigen untuk bernafas seperti dengan hewan air lainnya yaitu oksigen yang terlarut dalam air. Hal ini sangat erat kaitanya dengan salinitas dan suhu, kisaran oksigen terlarut yang baik bagi udang windu dibutuhkan adalah yakni 4 – 7 ppm. Kisaran oksigen yang baik bagi pertumbuhan adalah sekitar 85% -125% jenuh atau 4-6 ppm. Menurut (Amri, 2003) menyatakan bahwa ketersedian oksigen didalam air sangat menentukan kelangsungan hidup dan pertumbuhan udang windu, Kandungan oksigen yang baik adalah kisaran 4-8 ppm.
Kandungan oksigen yang cukup didalam air akan terlihat pada aktivitas pada udang itu sendiri yang dimana akan terlihatberistirahat dan sekali-kali bergerak mencari makan, begitu pula sebaliknya apabila kandungan oksigen dalam air rendah maka udang akan terlihat tampak aktif bergerak / berenang bebas karena akibat stress.
Akan tetapi apabila kadar oksigen terlalu berlebihan didalam air dapat menyebabkan gelembung gas biasa disebut dengan (gas bubble disease), Alat yang digunakan untuk mengukur Oksigen terlarut adalah DO meter.
BAB III
METODELOGI PRAKTEK 3.1. Waktu dan Tempat
Waktu Praktek Kerja Lapang (PKL) dilaksanakan selama 40 hari ( 1 bulan 9 hari) mulai dari tanggal 1 Juli 2024 sampai 9 Agustus 2024 di BPBAP Takalar, Dusun kawari, Desa Mappakalompo, Kecamatan Galesong, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.
3.2. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam proses pembenihan udang windu adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Bahan Yang Digunakan Dalam Proses Pemeliharaan Larva Udang Windu
No Bahan Kegunaan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
Nauplius Deterjen Oxsalid Kaporit
Natrium thiosulfat Cysta artemia Skeletonema Spirulina Formalin
Pupuk pertanian Pakan buatan Air laut Air tawar
Pembudidayaan
Sterilisasi media pemeliharaan Sterilisasi media pemeliharaan Sterilisasi media pemeliharaan Sterilisasi media pemeliharaan Pakan alami stadia Post Larva Pakan alami stadia Zoea dan Mysis Pakan buatan stadia Zoea
Sterilisasi media pemeliharaan
Pertumbuhan pakan alami skeletonema Pakan stadia larva
Air media pemeliharaan
Air untuk pakan buatan dan sterilisasi
(Sumber: Pembenihan Udang BPBAP Takalar, 2024)
Tabel 2. Alat Yang Digunakan Dalam Proses Pemeliharaan Larva Udang Windu
No Alat Kegunaan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
Timbangan duduk 1 buah Pipet tetes 2 buah
Terpal plastik Selang aerasi Timah pemberat Pemecah buih aerasi Blower
Mesin genset
Mesin pompa air laut Pipa 6,4,3,2,1 inch Saringan ganti air Kantog panen larva
Ember biru 1 dan hitam 20 buah Sikat dinding & lantai
Gayung Baskom putih
Kantong panen skeletonema 8 buah Seser benur 4 buah
Seser artemia 2 buah
Penutup bak artemia 1 buah
Waring /kelambu panen larva udang Lampu neon
Kantog saringan pakan buatan Scuping 3 buah
Karet gelang
Tabung gass oksigen (O2) 3 buah Sterefom
Timbangan eletrik Karung 50 kg
Menimbang pupuk pertanian Mengambil sampel
Menutup bak pemeliharaan larva Penyuplai oksigen
Pemberat batu aerasi
Menutup dan membuka saluran oksigen Penyuplai oksigen
Tenaga listrik cadangan Menarik air laut
Saluran air dan oksigen (O2) Menganti air PL
Untuk pecking
Tempat pakan buatan dan alami Menyikat bak
Wadah penebaran pakan Tempat larva udang
Untuk pemanenan skeletonema Mengambil benur
Untuk pemanenan artemia Untuk persiapan panen
Penampung larva udang yang di panen Kultur artemia dan skeletonema Menghaluskan pakan buatan Wadah takaran benur
Pengikat kantog plastik benur Penyuplai oksigen
Tempat pengiriman post larva Menimbang pakan buatan Pecking kantong larva (Sumber: Pembenihan Udang BPBAP Takalar, 2024) 3.3. Metode Praktek
Metode praktek kerja lapang ini meliputi :
a. Pengamatan langsung pada unit pembenihan yang meliputi pemeliharaan larva mulai dari (Nauplius, Zoea, Mysis, PL).
b. Konsultasi dan wawancara/diskusi dengan tenaga teknisi dan karyawan hatchery yang berhubungan dengan kegiatan pemeliharaan indukan dan larva udang dan mempersentasikan hasil kegiatan sebelum selesai praktek.
Praktek dengan ikut serta secara langsung melaksanakan proses kegiatan pemeliharaan udang windu.
3.4. Lokasi dan Letak Geografis BPBAP
BPBAP (Balai Perikanan Budidaya Air Payau) terletak di desa Mappakalompo, Kecamatan Galeson Selatan, Kabupaten Takalar. Kurang lebih 30 km kearah selatan kota makassar dengan batas-batas antara lain sebelah barat selatan makassar, sebela selatan dengan binagga sabata, sebelah timur dengan kecamatan galesong utara. Berdasarkan letak geografisnya BBAP Takalar terletak pada 119 derajat 26, 44, BT dan derajat 25, 45 LS.
Keadaan perairan di sekitarnya berupa struktur dasar perairan berpasir, pantai landai salinitas 30-35 ppt, sedangkan suhu udara di sekitar lokasi berkisar antara 27-34 0C, dan pH 7-8,5. Sebagai salah satu UPT pusat diwilaya indonesia timur. BBAP Takalar berdiri di atas tanah seluas 2,5 Hektar yang terdiri dari bangunan pembenihan, kantor, perpustakaan, aula, mes koperator, perumahan pegawai, asrama, laboratorium uji, laboratorium pakan alami, laboratorium rumput laut, laboratorium pakan buatan, lokasi pertambakan, dan lapangan olahraga. Letak bagunan pembenihan sekitar 20 m dari garis pantai sebelah barat, dengan kondisi tanah liat berpasir. Secara umum lokasi BPBAP Takalar mudah dijangkau dengan sarana transportasi yang lancar.
Di balai penelitian sudah di lengkapi dengan fasilitas yang cukup memadai seperti LAB, Mess, Perpustakan dan jaringan internet serta memiliki kerja sama antara BRPBAP dengan Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR). Proyek kerja sama ini dimulai 1 Juli 2005. Launching (pengenalan) proyek baru dilaksanakan pada 24 November 2005 di Jakarta untuk tingkat nasional dan 25 November 2005 di Makassar untuk tingkat lokal.
Tahun 2000 tambak di BRPBAP tercatat seluas 53.423 ha atau 15% dari luas tambak di tanah air (BPS, 2002). Sementara itu di BRPBAP pusat tambak yang terletak di Kabupaten Takalar dengan luas tambak masing-masing 38,44%
dan 32,17% dari luas tambak Sulawesi Selatan (Dinas Statistik Propinsi Sulawesi Selatan, 2003).
Selama sepuluh tahun terakhir (1990-2003) pertumbuhan luas tambak maupun produksinya memiliki trend yang positif. Dari tahun 1990-2000 luas tambak tumbuh 2,97% rata-rata per tahun sedangkan pertumbuhan produksi tambak 3,16%. Sementara itu produktivitas tambak berfluktuasi dari tahun ke tahun tetapi berkisar pada angka 700-800 kg per ha.
Gambar 4. lokasi BPBAP Takalar
3.5. Sejara Singkat BBAP Takalar
Balai budidaya air payau (BBAP) Takalar merupakan suatu unit pelaksanaan teknis direktorat jendral perikanan budidaya yang didirikan pada tahun 1983 dengan jalur pembinaan teknis dari balai besar budidaya air payau (BBAP) Jepara. BBAP Takalar dulunya adalah sub Centre udang, oleh pemerintah di aggap penting untuk membentuk struktur yang dapat melaksanakan pengembangan teknologi perikanan payau dan perikanan laut untuk kawasan indonesia timur.
Saat ini BBAP Takalar terus melakukan upaya dan mendukung pengembangan budidaya perikanan di bagian timur indonesia (Sulawesi, Maluku, dan Papua), karena itulah BBAP Takalar memiliki kewajiban untuk terus meningkatkan perannya dalam masyarakat.
Dalam mengembangkan tugas BBAP Takalar menetapkan program kerja yang bertujuan menghasilkan teknologi melalui perekayasaan pada setiap kelompok fungsional yang ada, baik pada pembenihan, budidaya, lingkungan dan penyakit, maupun ahli teknologi.
Dengan hasil rekayasa tersebut diharapkan akan memberikan manfaat dan sumber informasi bagi peningkatan produksi perikanan, yang selanjutnya disebarluaskan kepada masyarakat.
3.6. Visi dan Misi BPBAP Takalar 1. Visi
Terwujudnya BPBAP takalar sebagai pusat pelayanan masyarakat dan penyediaan teknologi terapan dalam pengembangan budidaya air payau di kawasan timr indonesia.
2. Misi
a. Pengembangan teknologi budidaya air payau berbasis agribisnis yang berdaya saing, ramah lingkungan dan berkelanjutan.
b. percepatan ahli teknologi budidaya air payau pada masyarakat dan pembudidaya.
c. Penciptaan peningkatan jumlah paket-paket teknologi budidaya yang efisien, efektif ramah lingkungan dan berkelanjutan.
d. peningkataan kapasitas sumberdaya manusia dan kelembagaan.
3.7. Tugas dan Fungsi BPBAP Takalar
Bedasarkan SK Menteri Kelautan dan Perikanan nomor KEP 26D/Mei 2001 tanggal 1 Mei 2001, tugas BPBAP Takalar yaitu melaksanakan penetapan teknik pembenihan dan pembudidaya ikan air payau serta pelestarian sumberdaya induk dan benih, serta lingkungan meliputi perairan payau di kawasan timur Indonesia.
Dalam penyelenggaraan tugasnya, BPBAP Takalar Melaksanakan fungsi sebagi berikut:
1. Pengkajian, penguji dan bimbingan penerapan standar pembenihan dan pembudidayaan ikan air payau.
2. Pengkajian standar pelaksanaan sertifikat sistem mutu dan sertifikasi personil pembenihan serta pembenihan ikan air payau
3. Pengkajian sistem jaringan teknik pembenihan dan pembudidayaan ikan air payau
4. Pelaksanaan pengkajian teknik pembenihan dan pembudidayaan ikan payau 5. Pengkajian teknik standar pengawasanan benih pembudidayaan serta
pengendalian hama dan penyakit.
3.8. Sarana dan Prasarana Produksi 1. Sarana Produksi
Untuk menunjang semua proses produksi dalam pemeliharaan udang windu, maka diperlukan sarana yang memadai. Sarana pemeliharaan merupakan fasilitas yang langsung digunakan dalam proses produksi, sedangkan prasarana tidak berhubungan langsung dengan proses produksi dan tidak bisa diabaikan. Sarana yang terdapat di BPBAP Takalar adalah :
a. Bak pemeliharaan larva 32 buah kapasitas 30 ton b. Bak kultur Skeletonema costatum 8 buah
c. Bak kultur Artemia Salina 4 buah d. Bak pemeliharaan induk 2 buah e. Bak penampungan air tawar 2 buah f. Bak penampungan air laut 4 buah g. Bak sedimentasi 8 petak (200 ton) h. Filter waterco 9 buah
i. Bak penetasan telur 6 buah
2. Prasarana Produksi
Prasarana merupakan fasilitas yang secara tidak langsung menunjang kegiatan produksi. Prasarana yang ada pada BPBAP Takalar antara lain :
1. Laboratorium uji
2. Gedung (Indoor) pemeliharaan Larva
3. Broodstock dan Pembenihan (Kepiting/rajungan, finfish dan udang) 4. Ruang Kultur pakan alami
5. Tambak
6. Produksi pakan formula 7. Kantor
8. Mess/Asrama 9. Auditorium 10. Mushola 11. Perpustakaan
12. Tempat olahraga/rekreasi 3. Pelayanan Masyarakat
1. Memberikan kesempatan kepada Masyarakat untuk melakukan riset, Prakerin, PKL, dan Magang di BPBAP Takalar.
2. Konsultasi dan pendampingan teknis Budidaya air payau.
3. Konsultasi dalam perancangan dan rancang bangun isntalasi budidaya air payau.
4. Pelayanan pengujian fisika-kimia tanah, air dan nutrisi serta kesehatan ikan.
5. Memberikan pelatihan teknis budidaya.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Tahapan Kegiatan Pemeliharaan
Persiapan merupakan kegiatan awal yang harus dilaksanakan yang sangat menunjang keberhasilan dalam suatu kegiatan pemeliharaan larva udang windu. Persiapan ini meliputi sterilisasi bak dan sterilisasi peralatan aerasi pemeliharaan. Sterilisasi peralatan ini dimana batu aerasi, timah pemberat, krang aerasi, dan terpal dipisahkan dalam wadah yang berbeda.
1. Kegiatan Sterilisasi Bak
a. Persiapan dan Sterilisasi Bak Larva
Persiapan dan Sterilisasi bak pemeliharaan larva ini dilakukan dengan menyikat dasar dan dinding bak serta tali tempat selang aerasi menggunakan waring/sikat dan larutan deterjen kemudian dibilas dengan air tawar sampai bersih. Setelah bak mengering, bak kemudian disiram dengan larutan kaporit 500 ppm dan bak dikeringkan selama 3 – 4 hari. Selanjutnya bak dicuci kembali dengan cara menyikat menggunakan waring/sikat dan larutan detergen kemudian dibilas dengan air tawar sampai betul – betul bersih.
kemudian bak dinetralkan dengan larutan natrium thiosulfat. Setelah itu peralatan yang digunakan pada bak larva seperti selang aerasi, batu aerasi, krang aerasi, timah pemberat dipasang dan dilanjutkan dengan penyiraman larutan formalin 200 ppm kemudian bak ditutup dengan menggunakan terpal yang sudah di sterilkan agar formalin yang ada dalam bak tidak cepat menguap. Begitu pula dengan peralatan lainnya dilakukan sterilisasi seperti instalasi air dan udara.
b. Persiapan dan Sterilisasi Bak Induk
Persiapan dan Sterilisasi Bak Pemeliharaan Induk ini dilakukan dengan tahapan teknis sebagai berikut:
- Pencucian bak dan selang aerasi dengan menggunakan detergent.
- Pemberian kaporit 2-3 kg dilarutkan kedalam ember berisi air laut menyeluruh pada bagian bak bulat volume 6 ton kemudian dikeringkan hingga 2-3 hari .
- Dicuci kembali dengan detergent setelah masa pengeringan.
- Setelah dicuci dengan detergent bak diberikan larutan theosulfat 1 kg untuk menetralkan dari kaporit.
- Kemudian disiram dengan formalin sebanyak 250 gr dan dikeringkan selama 1 hari.
- Setelah masa pengeringan dibilas air tawar.
- Pengisian air laut.
Gambar 5. Kegiatan Sterilisasi dan Pencucian Bak 2. Sterilisasi Peralatan Aerasi
sterilisasi peralatan aerasi dimana batu aerasi dan timah pemberat dan krang aerasi dipisahkan dalam wadah yang berbeda sedangkan selang aerasi diberi tanda sesui dengan nomor bak. kemudian peralatan aerasi dicuci menggunakan waring dan larutan detergen, dan dibilas dengan air tawar sampai tidak berbusa lalu aerasi dan timah dijemur sampai kering dan sesudah dijemur dimasak yang bertujuan untuk menekan keberadaan bakteri atau patogen – patogen yang menempel pada batu aerasi dan timah pemberat, setelah itu direndam dalam larutan formalin 200 ppm selama 1 – 2 hari. Adapun gambar pencucian, penjemuran dan pemasakan aerasi Gambar 5.
Gambar 6 . Pencucian, Penjemuran dan Pemasakan Aerasi 3. Pengadaan Air Laut
Air laut merupakan media hidup bagi udang windu yang akan dipelihara, maka dari itu persediaan air laut harus terus disiapkan. Adapun cara penyediaan air laut yang di terapkan di Balai Perikana Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar\
sebagai berikut:
- Air dipompa dari laut dengan menggunakan pompa Sentrifugal berkapasitas 30 ton/jam dengan jarak sekkitar kurang lebih 80-150 meter dari bibir pantai melalui pipa output 4 inc dengan debit rata-rata 30 ton perjam. Air kemudian dialirkan ke bak pengendapan yang disaring dengan menggunakan saringan wol atau saringan kapas.
- Air laut yang telah disaring dialirkan ke bak pengendapan dan diendapkan selama 5-6 jam. Gunanya untuk mengendapkan apabila partikel-partikel yang kasar terhisap oleh pompa air laut dan senyawa beracun lainnya. Setelah air diendapkan selama 5-6 jam, kemdian dipompa dengan ,menggunakan pompa transfer 2 inc3 melalui filter dengan debit rata-rata 25 ton perjam ke bak tretment. Dalam bak tretment air diberi aerasi yang kuat karena dilakukan perlakuan obat antara lain pemberian EDTA 10 ppm dan Elbasin 1 ppm. Selanjutnya air laut dipompa dengan pompa transfer 3 inc melalui filter biologis (UV) dengan kecepatan 20 ton perjam untuk keseluruhan wadah pemeliharaan sesuia dengan kebutuhan.
Gambar 7. a). Instalasi filter UV,b). Filter Bio Ball
4.2 Penanganan Induk 1. Penyediaan Induk
Pada suatu pembenihan udang windu kita harus mendapatkan induk yang telah matang telur/matang gonad yang dalam keadaan baik, diantara kategorinya sebagai berikut:
- Berkualitas baik - Induknya tidak cacat - Organtubuh lengkap dan
- Tidak ada tanda-tanda terserang penyakit
Indukan yang digunakan pada unit pembenihan udang windu di BPBAP Takalar yaitu induk komersil dari Aceh, Kalimantan Utara, dan Induk local. Sejauh pengadaan dan pemeliharaan induk windu di BPBAP Takalar yang paling produktif adalah Indukan dari Aceh. Untuk saat ini Per tanggal 24 juli 2024 hingga Program Kerja Lapangan kelompok FPIK UBT indukan yang digunakan adalah indukan Aceh sebanyak 20 ekor.
2. Aklimatisasi Induk
Setelah pengadaan induk selanjutnya dilakukan proses Aklimatisasi Induk. Aklimatisasi induk merupakan proses adaptasi pada induk yang bertujuan untuk menghindari stress akibat lingkungan baru yang dapat menghambat kematangan gonad hingga kematian pada induk.
Aklimatisasi dilakukan selama hingga induk dianggap beradaptasi. Adapun proses penanganan indukan setiba dari ekpedisi dan penjemputan dibandara yaitu:
- Dipindahkan wadah dari stereofoam/plastic peking ke stereofoam baru
- Penambahan aerasi
- Penggantian air terus- menerus hingga suhu sesuai
Penambahan air terus-menerus dimaksudkan agar suhu tubuh indukan dengan suhu lingkungan barunya sesuai demi menghindari indukan tidak stress. Dilakukan seperlunya hingga indukan Kembali segar yamg ditandai dengan indukan mulai gesit, dan warnanya Kembali cerah.
Setelah itu indukan dimasukkan kedalam bak pemeliharaan. Selama di bak pemeliharaan induk diberikan pakan segar berupa Cumi-cumi, cacing laut, dan tiram untuk mempertahankan kualitas induk. Induk ditempatkan di bak pemeliharaan selama satu mingu untuk menjalani peroses adaptasi sebelum di ablasi.
Gambar 8. Aklimatisasi induk 3. Ablasi Mata
Ablasi mata adalah pemotongan salah atu tangkai mata pada induk betina yang bertujuan untuk mempercepat kematangan gonad atau untuk meningkatkan produksi benur udang windu dengan proses mempercepat molting atau erganti kulit dan/atau memijah. Ablasi dilakukan pada tangkai mata udang betina yang menghasilkan gonad inhibiting hormon (GIH) Dimana GIH ini dapat memperlambat kinerja Gonad simulanting hormon (GSH).
Ablasi yang dilakukan adalah tangkai mata dipotong menggunakan gunting operasi yang sebelumnya dipanaskan. Setelah tangkai mata terpotong induk dimasukkan kedalam larutan anti biotik ( Elbasin) untuk
mencegah erjadinya infeksi. Kmeudian induk dimasukkan ke bak pemeliharaan baru yang telah di isi dengan air baru dan ditambahkan larutan elbasin.
Gambar 9. Ablasi mata induk 4. Pemeliharaan Induk
Pemeliharaan induk dilakukan pada bak beton berbentuk bulat berkapasitas 6 ton dengan kepadatan 3 ekor/m2 dengan perbandingan 1 : 2 (1 jantan 2 betina) sekeliling bak ditutup dengan terpal plastic hitam sehingga menghalangi masuknya cahaya dari luar bak pemeliharaan di mana induk windu bersifat nocturnal. Selama proses pemeliharaan induk udang diberi pakan berupa cumi-cumi, cacing laut dan tiram 30-50 % biomasa gram dengan frekuensi 4 - 5 kali sehari yaitu pada pagi, siang, sore, dan malam hari. Selama proses pemeliharaan dilakukan pergantian air (sirkulasi). Waktu pergantian yaitu pada sore hari. Pergantian air dilakukan 100% setelah ablasi dan 50-75%
sebelum ablasi.
Gambar 10 a). Pemberian pakan induk windu, b). Pergantian air, c). Pengisian air 5. Sampling Induk matang Telur
Sampling Induk dilakukan setelah 3 – 4 hari setelah ablasi. Sampling induk dilakukan untuk memilih induk yang berisi telur. Induk matang telur yang dipilih adalah induk yang telah mencapai TKG III (Siap bertelur) yang ditandai dengan terlihatnya gonad yang bercabang pada bagian belakang
abdomen sampai ekor. Sebelum sampling dilakukan terlebih dahulu dilakukan penurunan ketinggian air atau pembuangan air hingga ketinggian 20% air bak kemudian dilakukan proses seleksi satu persatu induk betina dengan menggunakan senter kedap air menyenter bagian perut induk. Induk yang matang telur dipisahkan dari yang lain ke bak peneluran. Kegiatan ini biasanya dilakukan pada sore hari.
Gambar 11. Tingkat kematangan gonad (TKG) Induk windu 6. Peneluran
Setelah proses seleksi selesai induk yang matang gonad dipindahkan ke wadah peneluran. Kemudian wadah ditutup dengan terpal plastic hitam (gelap) sebab dalam proses pelepasan telur dari badan induk betina diperlukan tempat dan wadah yang tenang dan kurang Cahaya. Kemudian secara berkala wadah peneluran di cek untuk memantau proses peneluran.
Kegiatan peneluran dilaksanakan pada malam hari, sebab biasanya induk bertelur pada pukul 21.00 – 24.00. Kegiatan peneluran dilakukan pada bak beton berukuran 1½ × 2 ml. Induk yang telah melepaskan telur ditandai dengan hilangnya gonad pada abdomen.
7. Penetasan Telur
Proses penetasan dilakukan setelah pemanenan telur, berikut teknis pemanenan telur:
- Memasang kelambu panen telur pada pipa pengeluaran.
- Membuka kran pengeluaran dan membiarkan telur berkumpul pada kelambu panen.
- Pindahkan telur ke baskom.
- Pisajhkan telur dengan kotoran menggunakan seser 100 mikron.
- Telur yang sudah terpisah dicuci dan dicelupkan pada larutan treflan.
- Pindahkan telur ke dalam baskom berisi air bersih.
- Kemudian telur dimasukkan kedalam bak penetasan yaitu wadah fiber volume 500 liter.
- Terakhir lakukan pengadukan setiap rentang waktu 30 menit sekali dengan menggunakan aerasihingga telur menetas.
Gambar 12. Pengadukan telur 8. Penanganan Nauplius
Setelah telur menetas menjadi nauplius selanjutnya dilakukan pemanenan terhadap nauplius untuk dipindahkan ke dalam bak pemeliharaan larva. Lama nauplius bermetamorfosa adalah selama 6 hari.
Gambar 13. Penanganan nauplius 4.3. Pemeliharaan dan Penanganan Larva
1. Aklimatisasi Larva
Nauplius yang sudah dipanen terlebih dahulu dilakukan aklimatisasi terhadap suhu yang bertujuan agar nauplius dapat menyesuaikan diri pada lingkungan barunya dan baskom yang berisi naulius dimasukkan kedalam bak pemeliharaan dengan cara diapungkan selama 5-10 menit.
Setelah itu nauplius akan ditebar secara perlahan-lahan dan perlu dihindari yang bisa menimbulkan stress pada larva seperti aerasi jangan terlalu kecil dan terlalu besar, oksigen yang akan keluar dan yang lebih penting dari aerasi jangan sampai mati karena akan menimbulkan kematian pada larva.
a. Stadia Nauplius
Udang windu (penaeus monodon, fabricus) memiliki empat stadia pertumbuhan yaitu Nauplius, zoea, Mysis, dan post larva pada stadia nauplius ini mengalami metamorphose sebanyak 6 kali, yaitu Nauplius
1 sampai nauplius 6 dengan interval waktu 2-3 hari dengan ciri-ciri Nauplius dapat dilihat pada tablel 3.
Tabel 3. Ciri – ciri Perkembangan Nauplius Udang Windu Stadia
Nauplius
Ciri-ciri
Nauplius 1 Badan bentuknya masih bulat telur, tetapi sudah mempunyai anggota badan 3 pasang.
Nauplius 2
Badan masih bulat tetapi pada ujung atenna pertama terdapat selai rambut yang satu panjang dan dua lainya pendek.
Nauplius 3 Tunas maxilla dan maxillaped mulai tampak, demikian juga furcal yang jumlahnya dua buah dan mulai jelas terlihat masing - masing 3 dari spesiesnya.
Nauplius 4 Pada antenna ke dua mulai tampak beruas - ruas dan pada setiap fucal terdapat 4 buah.
Nauplius 5 Organ pada bagian depan sudah mulai tampak jelas disertai dengan tumbuhnya tonjolan.
Nauplius 6 Perkembangan bulu – bulu makin sempurna dan pada furcal mulai makin panjang.
(Sumber: Ciri-ciri Perkembangan Nauplius BPBAP Takalar, 2024) Stadia Nauplius akan mengalami perubahan menjadi zoea setelah mencapai nauplius VI sehingga harus diberikan pakan alami agar pada saat perpindahan stadia ke zoea makanan telah tersedia dimana pada stadia zoea kuning telur yang dibawa sejak masih stadia Nauplius sudah habis (Murtidjo Agus Bambang. 2003). Ciri-ciri perkembangan nauplius dapat dilihat pada gambar 11.
Gambar 14. Ciri-ciri Perkembangan Nauplius b. Stadia Zoea
Stadia zoea bekembang selama 3 - 4 hari, tergantung pada kondisi lingkungan dan pada stadia ini mengalami tiga kali pergantian substadia sebelum jadi mysis dengan ciri-ciri dapat dilihat pada tabel 4 dibawa ini.
Tabel 4. Ciri - ciri Perkembangan Zoea Stadia
zoea
Ciri – ciri
Zoea 1
Badan pipih mata dan carapaks mulai tampak, tampak maxilla pertama dan kedua serta mulai berfungsi, alat – alat pencernaan makanan tampak jelas.
Zoea 2
Mata mulai bertangkai dan pada carapaks sudah terlihat rostrum dan duri.
Zoea 3
Sepasang yang bercabang 2 mulai berkembang dan duri pada ruas – ruas perut mulai tumbuh.
(Sumber: Ciri-ciri Perkembangan Zoea BPBAP Takalar, 2024)
Larva pada stadia Zoea ini akan menjadi Mysis setelah mengalami tiga kali pergantian substadia (Murtidjo Agus Bambang.2003). Sebelum jadi mysis dengan ciri-ciri perkembangan Zoea dapat dilihat pada gambar 8.
Gambar 15. Ciri-ciri Perkembangan Zoea c. Stadia Mysis
Pada stadia zoea akan menjadi mysis setelah mangalami 3 kali pergantian substadia dengan interval waktu 3-4 hari. Pada stdia mysis mirip dengan udang dewasa namun bersifat planktonis dan bergerak mundur dengan cara membengkokkan badannya dan lebih kuat berenang sehingga dapat mencari dan menangkap makanannya (Murtidjo Agus Bambang. 2003).. pada stadia mysis mengalami 3 kali metamorphose dengan interval waktu 3-4 hari. Ciri - ciri Stadia Mysis dilihat pada tabel 5.
Tabel 5. Ciri - ciri Stadia Mysis.
Stadia Mysis
Ciri-ciri
Mysis 1 Bentuk badan ramping dan memanjang seperti udang muda, tapi kaki renang belum nampak.
Mysis 2 Tunas kaki renang mulai tampak tapi belum beruas - ruas.
Mysis 3 Tunas renang bertambah panjang dan beruas.
(Sumber: Ciri-ciri Perkembangan Mysis BPBAP Takalar, 2016)
Setelah lepas dari substadia Mysis III selanjutnya menjadi Post larva dan mulai dinamakan PL1 dan seterusnya hingga PL siap panen yang biasanya dipanen setelah menjadi PL 12. Ciri-ciri perkembangan Mysis dapat dilihat pada gambar 15.
Gambar 16. Ciri-ciri Perkembangan Mysis d. Stadia Post Larva
Setelah lepas dari substadia mysis III selanjutnya menjadi post larva dan mulai dinamakan PL1 dan seterusnya hingga PL siap panen yang biasanya dipanen setelah menjadi PL12 (Murtidjo Agus Bambang.
2003). Stadia post larva mempunyai ciri-ciri yaitu mempunyai pleopoda yang berambut (stea) untuk berenang.
Sejak PL1 akan terhitung PL2 apabila terjadi pergantian kulit (moulting) dan begitu seterusnya. Pada stadia ini yang perlu diperhatikan adalah kualitas air media pemeliharaan harus tetap terjaga.
Ciri-ciri perkembangan Post Larva dapat dilihat pada gambar 16.
Gambar 17. Post Larva 4.4. Pengelolaan Kualitas Air
Pengelolaan kualitas air sangat penting dilakukan karena dapat berpengeruh terhadap kelangsungan hidup dan kesehatan larva. Pengamatan kualitas air bertujuan untuk memantau perubahan atau fluktuasi parameter air selama siklus produksi, dimana satu faktor yang berperan dalam menentukan keberhasilan produksi udang adalah pengelolaan kualitas air (Halim dkk., 2024).
Pengelolaan kualitas air yang digunakan ialah dengan menggunakan filter fisik dan mesin filter. Filter fisik yang dilakukan yaitu pada saat pemasukan air pada bak pemeliharaan, bagian ujung pipa diberi bag filter yang diikat dengan menggunakan tali agar kotoran pada penampungan air tidak masuk kedalam bak pemeliharaan. Filter fisik berfungsi untuk menyaring kotoran pada air secara fisik agar padatan atau kandungan pada air berkurang (Wahbi dkk., 2022). Sedangkan untuk mesin filter terdapat 10 buah Eco Micron yang menjajdi filter kedua setelah filter fisik yang menyaring berbagai partikel seperti pasir dan krikil.
Pengontrolan kualitas air merupakan upaya untuk menjaga agar kualitas air tetap dalam kondisi yang baik sebagai tempat hidup bagi udang vaname.
Berikut gambar pengukuran kualitas air dapat dilihat pada gambar 17.
Gambar 18. Pengukuran Kualitas Air
Adapun pengamatan kualitas air yang diukur pada kegiatan pembenihan yaitu suhu, oksigen terlarut (DO), pH dan salinitas dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 6. Hasil Pengukuran Kualitas Air
Parameter Fisika Hasil Pengamatan Nilai Optimal
Suhu 31,5 – 31,7℃ 29 - 34℃ (Quraisyin dkk.,
2024)
Oksigen terlarut (DO) 5 – 6 mg/l 3,5- 7,5 mg/L Adiwijaya dkk., (2003) dalam Renitasari dkk., (2023)
pH 7,6 – 7,8 7,5 – 8,5 (Quraisyin dkk.,
2024)
Salinitas 28 – 32 ppt 29 – 34 ppt (Quraisyin dkk.,
2024)
Hasil pengamatan kualitas air pada pemeliharaan larva diketahui bahwa kualitas air masih dalam batas optimal untuk pertumbuhan larva. Suhu dalam bak pemeliharaan larva udang windu (P.Monodon) yang diukur dengan thermometer cukup stabil yaitu berkisar antara 31,5 – 31,7℃, hal tersebut karena bak pemeliharaan berada diruang tertutup dan setiap bak ditutup dengan terpal untuk
menjaga suhu air tetap stabil. Namun apabila terjadi penurunan suhu air yang signifikan maka untuk meningkatkan suhu bak dapat diberi heater. Menurut Quraisyin dkk., (2024) suhu optimal bagi udang vaname yaitu 29 - 34℃ dimana pada saat suhu naik maka hal yang perlu dilakukan adalah membuka jendela, pintu hatchery dan membuka penutup plastik tangki pemeliharaan. Saat suhu turun, jendela pemeliharaan dan penutup plastik ditutup kembali atau menggunakan heater atau pemanas untuk menormalkan suhu di tangki pemeliharaan. Hal tersebut sesuai dengan Sa’adah dkk., (2018) menyebutkan bahwa penggunaan terpal sebagai penutup bak pemeliharaan bertujuan untuk menjaga kestabilan suhu air dan pemanfaan heater untuk peningkatan suhu apabila terjadi penurunan suhu secara signifikan.
Hasil pengukuran oksigen terlarut (DO) yaitu 6 hingga 6 mg/l, hasil tersebut masih dalam batas normal. Menurut Adiwijaya dkk., (2003) dalam Renitasari dkk., (2023) kisaran optimal oksigen terlarut selama masa pemeliharaan udang windu berkisar 3,5- 7,5 mg/L. Oksigen terlarut dalam kehidupan udang sangat penting, jika sistem aerasi pada bak pemeliharaan mati dengan waktu yang lama maka oksigen terlarut akan turun drastis hingga dibawah 3 mg/ L dalam waktu 1 jam dan akan menyebabkan stres pada larva udang dan dapat menyebabkan kematian larva udang (Renitasari dkk., 2023).
Parameter kualitas air ke tiga yang di ukur yaitu pH. Nilai pH yang diperoleh dari hasil pengukuran berkisar antara 7,6 – 7,8, hal ini menunjukkan bahwa selama masa pemeliharaan kualitas air (pH) masih tergolong cukup baik.
Quraisyin dkk., (2024) menyatakan bahwa nilai optimum pH untuk larva udang vaname yaitu 7,5 – 8,5. Selain mempengaruhi parameter kualitas air, pH juga dapat mempengaruhi aktivitas udang. Pertumbuhan udang akan membaik apabila pH berada dikisaran 6,5 -9 dan pertumbuhannya akan melambat jika pH air berkisar 4-5 serta akan memberikan pengaruh yang besar hingga dapat menyebabkan kematian jika pH 10 (Hakim, 2023).
Nilai salinitas yang didapatkan dari hasil pengukuran yaitu 28 -32 ppt.
Salinitass tersebut tergolong baik untuk pertumbuhan larva udang windu (Penaeus monodon), berdasarkan pernyataan Quraisyin dkk., (2024) bahwa nilai salinitas yang optimal untuk pertumbuhan dan perkembangan larva udang berkisar 29 – 34 ppt. Salinitas merupakan salah satu parameter kualitas air yang paling berpengaruh pada proses molting karena sangat berkaitan dengan proses osmoregulasi pada udang vaname. Salinitas yang tinggi dapat menyebebkan terhambatnya proses pergantian kulit (molting), sedangkan salinitas yang rendah dapat menurunkan oksigen terlarut dan dapat menyebabkan tipisnya kulit udang vaname (Syukri dkk., 2016).
4.5. Manajemen Pemberian Pakan Alami dan Pakan Buatan
Ketersediaan pakan dalam budidaya merupakan salah satu upaya dalam meningkatkan jumlah produksi. Pada pemeliharaan larva pakan yang diberikan harus berkualitas tinggi, bergizi dan memenuhi syarat untuk dikonsumsi oleh udang serta dapat tersedia secara terus menerus sehingga proses produksi dapat terus dilakukan dan memberikan pertumbuhan yang optimal. Adapun upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan hasil produksi udang windu antara lain pemberian pakan yang sesuai kebutuhan larva udang. Pemberian pakan dilakukan sebanyak 8 kali dalam 1 hari dan waktu pemberian pakan yaitu (jam 08.30, 11.30, 14.30, 17.30, 20.30, 23.30, 02.30 dan 05.30) jenis pakan yang digunakan terbagi menjadi dua yaitu pakan alami dan pakan buatan. Pakan alami berupa fitoplankton (S. costatum) dan zooplankton (A. salina) pakan tersebut diperoleh melalui hasil kultur sendiri. Pakan alami S. costatum diberikan pada stadia zoea dan mysis dan A. salina diberi pada saat stadia post larva (PL). Sedangkan pada stadia nauplius larva tidak diberi pakan karena terdapat cadangan makanan (egg yolk). Menurut Putri dkk., (2020) tahap stadia nauplius belum diberikan pakan karena pada tubuhnya mempunyai sumber ketersediaan makanan berupa kantung kuning telur (yolk egg), setelah nauplius bermetamorfosis menjadi zoea mulai membutuhkan makanan terutama pakan alami dalam bentuk fitoplankton.
1. Jenis Pakan Alami
Pakan alami merupakan pakan yang penyediaannya dilakukan secara alami (kultur) baik dari jenis fitoplaknton maupun zooplankton. Plankton alami yang digunakan di Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar adalah dari jenis Skeletonema Costatum (algae) dan Artemia Salina, hal ini sesuai dengan pendapat Anonymus (2004), bahwa pakan alami pada umumnya yang diberikan dalam usaha pemeliharaan udang windu (Penaeus Monodon) adalah Skeletonema Costatum (fitoplankton) dan Artemia Salina (zooplankton).
a) Skeletonema Costatum
Skeletonema Costatum merupakan jenis algae air asin yang hidup dan sangat banyak digunakan sebagai pakan alami larva udang. Kelompok ini merupakan algae uniseluler yang memerlukan cahaya matahari untuk proses fotosintesisnya.
Bentuknya seperti kotak dengan cytoplasma yang memenuhi isi sel. Pada sel berbentuk terdapat katup besar menutup katup yang lebih kecil. Bentuk katupnya bervariasi, ada yang sirkulasi, elliptical, polygonal, kubus, segitiga atau tidak beraturan. Reproduksinya adalah dengan pembelahan sel yaitu protoplasma membentuk ephitheca dan hypoteca.
Skeletonema Costatum sangat berperan penting sebagai makanan alami larva, juga untuk menjaga warna air media pemeliharaan larva. Hal ini disebabkan karena Skeletonema mampu melakukan fotosintesis dengan hasil akhir O2 yang sangat dibutuhkan oleh udang untuk melakukan aktifitasnya.
b)Artemia Salina
Artemia merupakan kelompok udang-udangan dari Phylum Arthropoda. Mereka berkerabat dengan zooplankton lain seperti Capepoda dan Daphnia (kutu air). Kebutuhan Artemia sebagai pakan hidup bagi larva udang merupakan persyaratan yang mutlak disediakan, karena sampai saat ini kedudukan Artemia belum dapat digantikan dengan yang lain.
2 Penyediaan Pakan Alami a. Skeletonema Costatum
Pada Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar penyediaan pakan alami Skeletonema costatum dilakukan dengan cara kultur secara Intermedit (pada Bak fiber) dan kultur massal pada bak semen. Untuk kultur massal digunakan bak semen dengan ukuran 4 X 3 X 1,6 m dengan kapasitas optimal 12 ton.
Bak berbentuk persegi panjang dan jumlah bak yang digunakan adalah 4 bak dengan 28 titik aerasi, jarak antara titik yang satu dengan yang lain adalah 50 cm. Adapun keuntungan dilakukan kultur pada bak semen ini adalah selain pemanenan mudah dilakukan, kita juga bisa mendapatkan Skeletonema yang sesuai dengan kebutuhan larva . Bahan- bahan yang diperlukan dalam kultur Skeletonema antara lain Air laut dan Air tawar.
Air laut yang akan digunakan dalam mengkultur plankton baik Skeletonema costatum maupun Artemia salina di Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar mempunyai salinitas 28 – 29 ppt.
Hal ini sesuai dengan pendapat isnansetyo dkk (1995), bahwa untuk mengkultur Skeletonema costatum diperlukan air laut dengan salinitas 28 ppt, pH 8 dengan suhu 30ᵒC.
Air tawar yang digunakan langsung dipompa dari sumur bor dan sudah melalui proses saringan. Fungsi dari air tawar ini adalah untuk mencegah tumbuhnya jamur maupun lumut serta menurunkan salinitas apabila terlalu tinggi. Air laut dan air tawar disaring dengan menggunakan filterbag sebelum masuk pada bak kultur.
b. Bibit
Bibit yang akan digunakan untuk kultur awalnya dari Lab Basah Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar yang berada disekitar lokasi. Bibit yang digunakan sebaiknya mempunyai kepadatan yang tinggi, tidak mengandung lumut, serta mempunyai bau yang khas.
c. Pupuk
Jenis pupuk yang digunakan untuk kultur Skeletonema costatum di Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar yaitu berbagai macam pupuk dengan dosis masing-masing adalah:
Tabel 7. Jenis Pupuk dan Dosis
No .
Jenis Pupuk Dosis (ppm)
1. NPK 7,5
2. Silikat 15
(Sumber : Pembenihan udang windu BPBAP Takalar, 2024) Keterangan : Untuk Volume Air 12 Ton
Dimana jenis pupuk diatas masing-masing mempunyai fungsi untuk pertumbuhan skeletonema costatum. Pertumbuhan skeletonema costatum sangat di pengaruhi oleh intensitas cahaya dan kepadatan penebaran awal.
Perkembangan skeletonema mulai Nampak pada umur 24 jam yang ditandai dengan warna coklat muda dan semakin lama warna itu semakin pekat, skeletonema hanya dapat bertahan selama 2-3 hari. Sistem pengkulturan Skeletonema dilakukan dengan dua cara yaitu intermedit (bak fiber) dan skala massal (Bak Beton), dapat dilihat pada Gambar 18.
Gambar 19. Pengkulturan Skeletonema dengan skala massal 1). Alat dan Bahan Kultur -Panen
a. Bibit Skeletonema
b. Bak fiber/ Bak kultur massal (beton) c. Perangkat aerasi
d. Ember e. Gayung
f. Pupuk pertanian g. Air laut
h. Lampu neon
i. Kantong panen Skeletonema j. Selang spiral
k. Karet ban (Pengikat).
2). Proses Kultur
Langkah-langkah yang dilakukan dalam proses kultur Skeletonema costatum di Balai Perikanan Budidaya Air Payau ( BPBAP ) Takalar adalah sebagai berikut:
1. Bak kultur berukuran 4 x 3 x 1,6 m dicuci dengan menggunakan deterjen, kemudian dibilas dengan air tawar sampai bersih
2. Bak di isi air laut sebanyak 12 ton ( ketinggian air 160 cm ).
3. Untuk lebih mensterilkan air media maka diberikan EDTA sebanyak 10 ppm 4. Langkah selanjutnya masukkan bibit skeletonema sebanyak 10-15 % dari
volume media kultur, bibit yang digunakan sebaiknya bibit yang masih muda agar pertumbuhnya lebih baik.
5. Kemudian pupuk (NPK, dan SILIKAT) ditebar kedalam bak.
6. Panen Skeletonema (dapat dilakukan setelah 24 jam dari proses kultur).
Pemanenan Skeletonema costatum dilakukan dengan cara membuka kran pipa air keluar (outlet) bak kultur dan dipasang saringan yang khusus digunakan untuk menyaring plankton. Saringan yang digunakan berukuran 200 mikron yang terbuat dari kain satin, setelah padat kantong tersebut diangkat dan memindahkan kedalam wadah yang telah disiapkan (ember plastik kapasitas 10 liter) dan siap diberikan pada larva sesuai dengan dosis yang telah ditentukan. Pemanenan Skeletonema costatum dilihat pada Gambar 19.
Gambar 20. Pemanenan Skeletonema Costatum (Skala Massal)
Pemenenan yang dilakukan pada Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar, adalah pemanenan dengan cara kering karena cara panen kering tersebut dinilai lebih efisien, terutama dalam hal waktu dan tenaga.
Skeletonema yang telah dipanen harus langsung diberikan kepada larva dan tidak boleh ditampung didalam ember atau wadah terlalu lama tanpa aerasi karna akan menyebabkan sel-sel plankton tersebut menjadi rusak.
Untuk pengukuran kepadatan Skeletonema costatum penulis tidak dapat melakukan dikarenakan keterbatasan alat dan sarana yang menunjang.
d. Artemia Salina
Pemberian pakan alami Artemia salina di Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar diberikan saat larva mulai memasuki akhir stadia mysis sampai ukuran panen (PL 12). Pemberian pakan artemia untuk larva udang ini sesuai dengan pendapat sutaman (1993), bahwa pemberian pakan artemia salina dilakukan pada saat larva memasuki stadia akhir mysis.
Pada Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar penyediaan Artemia salina dilakukan dengan cara Kultur pada bak konikol yang berbentuk corong dengan kapasitas ¼ ton (250 liter) yang berjumlah 4 buah. Adapnun keuntungan kultur Artemia pada bak konikol (berbentuk corong) adalah dapat memudahkan pemanenan, dimana artemia cenderung berkumpul pada sumber cahaya yaitu pada dasar bak fiber yang berwarna transparan / putih.
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam pengkulturan (Artemia Sp) adalah sebagai berikut :
1) Alat Dan Bahan Kulturan (Artemia Sp) a. Bak konikol (berbentuk kerucut) b. Perangkat aerasi
c. Lampu Neon d. Air laut e. Air tawar
f. Kista Artemia Sp.
g. Timbangan h. Pipa
i. Seser plankton (150-250 mikron) j. Baskom
k. Ember l. Air laut m. Air tawar
Gambar 21. Alat-alat Pemanenan Artemia salina 2) Proses Kultur Kultur Artemia Sp
Dalam mengkultur Artemia Salina tahapan yang dilakukan di Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar antara lain:
1. Bak kultur sebelum digunakan harus dicuci yang bersih dengan menggunakan detergen, kemdian dibilas dengan air tawar.
2. Bak diisi dengan air laut sebanyak 250 liter dengan salinitas 28 ppt, pH 8,5 suhu air 30ᵒ C.
3. Menimbang jumlah kista Artemia yang akan dikultur untuk menghidari kurangnya pakan ataupun kelebihan pakan.
4. Kista dapat dimasukkan kedalam bak kultur yang telah diisi air laut dengan diberi aerasi kuat.
5. Setelah itu dibiarkan selama 24 jam sampai kista menetas dan siap untuk dipanen.
Proses kulturan Artemia salina dilakukan dengan menggunakan system panen bawah. di Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar.
Proses pencucian dan kulturan Artemia Salina dilihat pada gambar 20.
Gambar 22. Proses Pencucian bak dan Kulturan Artemia Salina 3) Langka Kerja Panen Artemia Sp
Teknik pemanenan pada Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar adalah sebagai berikut:
a. Mengangkat aerasi dan mendiamkan Artemia tanpa aerasi selama ± 5-10 menit.
b. Panen bawah dilakukan dengan cara menutup bak dengan membran hitam.
Tujuan penutupan bak adalah untuk merangsang Artemia berkumpul pada dasar bak konikol yang berwarna transparan / Putih dan cangkang berkupul kepermukaan sehingga mudah dilakukan pemanenan.
c. Setelah diperkirakan Artemia berkumpul didasar bak konikol, kran pembuangan dibuka perlahan kemudian ditampung dalam saringan/seser 150-250 mikron.
d. Selanjutnya Artemia yang sudah tertampung/tersaring pada seser plankton dibilas dengan air tawar kemudian dituang kedalam wadah yang telah disiapkan (ember yang telah diisi sedikit air laut), kemudian dibiarkan beberapa saat agar kotoran yang mungkin terbawa ataupun cangkang mengendap didasar ember.
e. Tahap terakhir yaitu penebaran pada bak pemeliharaan larva sesuai dengan dosisnya.
Proses panen Artemia salina dilakukan dengan menggunakan system panen bawah. di Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar.Proses pencucian dan kulturan Artemia Salina dilihat pada gambar 21.
Gambar 23. Pemanenan Artemia salina 3. Dosis Pakan Alami
Dosis pemberian Skeletonema pada Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar menggunakan acuan ember berkapasitas 10 liter yang disesuaikan dengan tingkat stadia dan jumlah larva dalam bak dan dimulai pada saat larva memasuki Stadia Zoea I (Z I). Pengamatan dilapangan, pemberian Skeletonema pada Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar semakin hari semakin bertambah sampai larva memasuki stadia PL – 2. Frekuensi pemberian Skeletonema costatum adalah 4 kali sehar. Dosis pemberian dapat dilihat pada Tabel 8 dan 9.
Tabel 8. Dosis pemberian pakan alami Stadia Dosis Pakan Alami S.
Costatum/Bak (Liter)
Dosis Pakan Alami S.
Costatum/Ekor (Sel)
Zoea 1 4.0 20-30
Zoea 2 8.0 30-40
Zoea 3 12.0 40-50