Kawasan permukiman kumuh merupakan kawasan yang kotor dengan berbagai permasalahan kota yang tidak layak huni, yaitu kepadatan bangunan yang sangat tinggi dengan luas wilayah yang terbatas, jalanan yang rusak, drainase yang tidak berfungsi, dan rendahnya kualitas bangunan (Rahmawati, 2018). Berdasarkan Surat Keputusan Walikota Makassar No.826/653.2/Th 2018, Kota Makassar memiliki jumlah permukiman kumuh yang terbilang cukup besar yaitu 650,74 hektar. Dalam mengatasi permasalahan permukiman kumuh tersebut, pemerintah Kota Makassar menjalankan beberapa program pencegahan dan penanganan permukiman kumuh.
Berakar dari beberapa permasalahan dan pencanangan program pencegahan dan penanganan permukiman kumuh, laporan ini dibuat dengan tujuan untuk melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program-program yang telah diluncurkan oleh pemerintah Kota Makassar dan melakukan perencanaan revitalisasi permukiman kumuh terhadap isu-isu yang belum teratasi. Bagaimana keberhasilan pelaksanaan program pemerintah dalam mengatasi permasalahan permukiman kumuh di Kelurahan Lette, Kota Makassar. Bagaimana perencanaan revitalisasi permukiman kumuh terhadap permasalahan yang belum teratasi di Kelurahan Lette, Kota Makassar.
Mengidentifikasi keberhasilan pelaksanaan program pemerintah dalam mengatasi permasalahan permukiman kumuh di Kelurahan Lette, Kota Makassar. Menjabarkan perencanaan revitalisasi permukiman kumuh terhadap permasalahan yang belum teratasi di Kelurahan Lette, Kota Makassar. Permukiman Kumuh dalam Peraturan Menteri PUPR Nomor 14 Tahun 2018 Tentang Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Terhadap Perumahan Kumuh dan Permukiman Kumuh, adalah Permukiman yang tidak layak huni karena ketidakteraturan bangunan, tingkat kepadatan bangunan yang tinggi, dan kualitas bangunan serta Sarana dan Prasarana yang tidak memenuhi syarat.
Pengkajian tentang permukiman kumuh (slum area), pada umumnya mencakup tiga hal, diantaranya kondisi fisik, kondisi sosial ekonomi serta dampak dari kondisi tersebut (Wahyu, dkk., 2022).
Program KOTAKU
Drainase lingkungan, kriteria kekumuhan ditinjau dari drainase lingkungan, meliputi drainase lingkungan yang tidak tersedia, drainase lingkungan tidak mampu mengalirkan limpasan air hujan sehingga menimbulkan genangan dan kualitas konstruksi drainase lingkungan buruk. Pengelolaan air limbah, kriteria kekumuhan ditinjau dari pengelolaan air limbah mencakup sistem pengelolaan air limbah tidak memenuhi persyaratan teknis dan prasarana dan sarana pengelolaan air limbah tidak memenuhi persyaratan teknis. Pengelolaan persampahan, kriteria kekumuhan ditinjau dari pengelolaan persampahan mencakup prasarana dan sarana persampahan tidak memenuhi persyaratan teknis dan sistem pengelolaan persampahan tidak memenuhi persyaratan teknis.
Proteksi kebakaran, kriteria kekumuhan ditinjau dari proteksi kebakaran mencakup prasarana proteksi kebakaran dan sarana proteksi kebakaran tidak tersedia. Slum area merupakan daerah dengan bangunan dan lingkungannya tergolong kotor dan tidak sehat tetapi tanah yang mereka tempati memiliki status kepemilikan yang jelas namun kesadaran kebersihan lingkungan yang tidak. Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) bertujuan untuk memperbaiki akses terhadap infrastruktur dan layanan dasar di kawasan permukiman kumuh perkotaan, sekaligus mencegah munculnya permukiman kumuh baru.
Program ini mencakup pembangunan atau perbaikan infrastruktur di area permukiman, baik pada tingkat lingkungan maupun kawasan. Selain fokus pada infrastruktur fisik, program ini juga memprioritaskan pembangunan infrastruktur yang mendukung kehidupan masyarakat, seperti fasilitas pasar, tempat usaha, dan pelatihan keterampilan. Pelaksanaan Program KOTAKU di tingkat kabupaten/kota bertujuan untuk mendorong kerjasama antara kegiatan di tingkat kabupaten/kota dan desa/kelurahan, dengan fokus pada pencegahan serta peningkatan kualitas permukiman.
Program ini bertujuan untuk mencapai target 100% sanitasi dan air bersih serta menghilangkan kawasan kumuh sebesar 0 hektar (Mustafa, 2018).
Program BSPS
Program ini mendukung inisiatif program sejuta rumah, penanganan kawasan kumuh (KOTAKU), serta program nasional lainnya, seperti Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN), Kawasan Perdesaan Prioritas Nasional (KPPN), Pulau-Pulau 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), daerah perbatasan negara, daerah terpencil, dan wilayah yang terdampak bencana. Bentuk pelaksanaan program BSPS meliputi peningkatan kualitas rumah swadaya (PKRS) dan pembangunan rumah swadaya baru (PBRS) (Amalya, 2023).
Program Singara’na Lorong Ta’
METODE PENELITIAN
Lokasi Penelitian
Teknik Pengumpulan Data
Observasi dilakukan untuk mengumpulkan data berupa kondisi eksisting fisik dan non-fisik dari kawasan permukiman di Kelurahan Lette, Kota Makassar. Observasi ini bertujuan untuk mendapatkan data yang langsung terkait dengan keadaan permukiman,seperti kondisi bangunan,aksesibilitas jalan,dan fasilitas sanitasi. Wawanca dilakukan dengan peneliti melakukan diskusi mendalam kepada masyarakat guna memperoleh dan menggali informasi langsung dari narasumber informasi sehingga data lebih dalam dan tepat berdasarkan pengalaman dari responden atau narasumber.
Wawancara dilakukan dengan stakeholder dan warga setempat untuk mendapatkan informasi lebih dalam mengenai pengalaman terkait pelaksanaa program pemerintah Kota Makassar terhadap pencegahan dan penanganan permukiman kumuh. Wawancara ini bersifat semi-tersktruktur yang memungkinkan peneliti untuk dapat mengekplorasi pemdapat dan pandangan dari narasumber dengan lebih fleksibel. Dokumentasi dilakukan dengan peneliti melakukan pengamatan secara langsung yang diambil menggunakan pengambilan gambar, sketsa dan merekam di beberapa titik lokasi studi kasus yang berhubungan dengan lokasi permukiman kumuh di Kelurahan Lette, Kota Makassar.
Teknik Analisis Data
Data non-fisik diperoleh dari hasil wawancara dengan narasumber yang dianalisis secara deskriptif.Analisis ini bertujuan untuk memberikan pandangan dan pengalaman masyarakat terkait pelaksanaan program pemerintah Kota Makassar terhadap pencegahan dan penanganan permukiman kumuh.
HASIL DAN PEMBAHASAN
- Permukiman Kumuh Kelurahan Lette
- Pelaksanaan Program Pemerintah Kota Makassar 4.3.1 Program KOTAKU
- Program BSPS
- Program Singara’na Lorong’ta
- Pelaksanaan Program Pemerintah Kota Makassar
- Masih Banyak Rumah Kurang Layak
- Pengelolaan Limbah dan Sampah Belum Maksimal
- Jaringan Drainase yang Belum Optimal
- Lebar Jalan yang Tidak Sesuai
- Perencanaan terhadap Permasalahan di Kelurahan Lette
- Revitalisasi Drainase
- Pengelolaan Sampah
Kegiatan Perbaikan Jaringan Jalan Program KOTAKU di Kelurahan Lette dengan mengganti material jalan menggunakan paving blok jalan sepanjang 521,50 Meter. Pada tahun 2018, program perbaikan jaringan drainase dan pemerina plat penutup mengurangi frekuensi banjir di kelurahan Lette. Berdasarkan penuturan Kepala RW dan Kepala RT, Pelaksanaan Program BSPS di Kelurahan Lette memiliki besaran dana stimulan bervariasi dari tahun ke tahun.
Pada tahun 2011, pemerintah memberikan bantuan kepada setiap unit rumah di Kelurahan Lette hingga Rp Sepuluh juta rupiah). Di tahun 2012, dana yang diberikan berkisar antara Rp Rp.7.000.000 per unit dan hampir seluruh masyarakat yang berada di Kelurahan Lette mendapatkan bantuan ini. Berdasarkan keterangan masyarakat setempat, pada area survei di Kawasan Sipakainga Lorong 10-D Rajawali, salah satu rumah milik warga yang merupakan penerima bantuan program BSPS di Kelurahan Lette, Kecamatan Mariso sekitar 5 tahun lalu (2019) dengan perolehan bantuan stimulan sekitar Rp.
Berdasarkan program-program yang telah dijelaskan di atas, revitalisasi permukiman kumuh di Kelurahan Lette dilaksanakan di beberapa titik. Berikut adalah sebaran lokasi kegiatan revitalisasi yang dilakukan pemerintah di Kelurahan Lette yang disajikan dalam Gambar 8. Pelaksanaan program-program seperti KOTAKU, BSPS, dan Singara‟na Lorong‟ta harusnya dapat mengatasi permasalahan permukiman kumuh di Kelurahan Lette.
Permasalahan-permasalahan yang belum teratasi setelah dijalankannya program dari pemerintah Kota Makassar seperti KOTAKU, BSPS, dan Singara‟na Lorong‟ta dapat memberikan dampak yang buruk bagi kelayakhunian permukiman di Kelurahan Lette. Selain itu, sebagian besar rumah warga di Kelurahan Lette di isi dengan 2-3 KK dalam satu rumah. Permasalahan lingkungan yang paling sering dijumpai pada Kelurahan Lette adalah masalah persampahan dan pencemaran kanal.
Secara standar pengadaan, jaringan drainase di Kelurahan Lette sudah memenuhi standar dengan kedalaman lebar 0,6 meter dan kedalaman 0,3 meter. Sistem drainase di Kelurahan Lette ini terdiri dari drainase terbuka dan drainase tertutup, dengan dominasi drainase tertutup. Jaringan jalan di Kelurahan Lette termasuk jenis jalan lingkungan dengan lebar yang bervariasi 1,5 hingga 2,5 meter bahkan pada beberapa ruas jalan memiliki lebar kurang dari 1 meter dan memiliki konstruksi paving blok.
Hal tersebut menjadikan lebar jalan di Kelurahan Lette tidak sesuai dengan ketentuan dan standar yang ditetapkan dan berujung pada terganggunya kenyamanan pengguna jalan dalam beraktivitas, terlebih lagi jika terdapat kendaraan yang parkir sembarangan di bahu jalan sehingga semakin mempersempit jalur lalu pengguna jalan. Berakar dari penjabaran perencanaan dalam mengatasi permasalahan permukiman kumuh di Kelurahan Lette, maka dirangkum perencanaan-.
PENUTUP
Kesimpulan
Saran
DAFTAR PUSTAKA