• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN KERJA PRAKTIK TBL (1)

N/A
N/A
RA@I2I28OO92_Yunita Dewi Arum

Academic year: 2024

Membagikan "LAPORAN KERJA PRAKTIK TBL (1)"

Copied!
122
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN KERJA PRAKTIK PT TUNAS BARU LAMPUNG, Tbk.

CABANG PALEMBANG 1 JULI - 31 JULI 2024

Disusun Oleh:

Yunita Dewi Arum 121280092

Kelvin 121280110

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA

SUB JURUSAN TEKNIK PROSES DAN HAYATI JURUSAN TEKNOLOGI PRODUKSI DAN INDUSTRI

INSTITUT TEKNOLOGI SUMATERA LAMPUNG

2024

(2)

LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN KERJA PRAKTIK PT TUNAS BARU LAMPUNG, Tbk.

1 JULI – 31 JULI 2021

TUGAS KHUSUS:

MENGEVALUASI EFISIENSI KINERJA ALAT PLATE HEAT EXCHANGER PHE-521A PADA UNIT REFINERY PLANT

Disusun oleh

Yunita Dewi Arum 121280092

Kelvin 121280110

Telah disetujui sebagai laporan kerja praktik yang dilaksanakan di PT Tunas Baru Lampung, Tbk., Cabang Palembang

Pada tanggal 1 Juli – 31 Juli 2024

Mengetahui,

Koordinator Program Studi Dosen Pembimbing

Teknik Kimia ITERA Kerja Praktik

Dr. Eng. Ferzeet Achmad, S.T., M.T. Ir. Mustafa, M.T.

NIP. 197504172017091 NIP. 1963020720211407

(3)

LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN KERJA PRAKTIK PT TUNAS BARU LAMPUNG, Tbk.

1 JULI – 31 JULI 2021

Disusun oleh

Yunita Dewi Arum 121280092

Kelvin 121280110

Laporan ini telah diperiksa dan disetujui

Mengetahui,

Manajer Pengolahan Pembimbing

Kerja Praktik Perusahaan

Murdiono Ponilawati, S.T.

No. Pekerja : 025//V/TBL/2016 No. Pekerja : 030//12/TBL/2017

(4)

ii

INTISARI

Minyak goreng adalah minyak nabati yang berasal dari kelapa sawit. Dalam produksinya, PT Tunas Baru Lampung, Tbk menggunakan bahan baku Crude Palm Oil (CPO) yang merupakan minyak mentah dari kelapa sawit. CPO diproses dalam tangki bleacher untuk menghilangkan zat-zat pengotor dengan menambahkan asam fosfat. Selanjutnya, dilakukan pemucatan warna minyak dengan menambahkan bleaching earth. Kristal-kristal stearin kemudian terbentuk dalam alat crystallizer. Proses berikutnya adalah pemisahan fraksi padat (Stearin) dan fraksi cair (Olein) menggunakan filter press. Stearin akan ditampung di tempat penampungan stearin, sedangkan olein dialirkan ke tangki penyimpanan sebelum dikemas.

Kapasitas produksi minyak goreng di PT Tunas Baru Lampung, Tbk adalah 1000 ton per hari untuk memenuhi permintaan pasar. Terdapat dua unit proses dalam pembuatan minyak goreng, yaitu refinery plant dan fractionation plant. Refinery plant terdiri dari tiga proses utama: pre-treatment section, filtration process, dan deodorizing section. Sementara itu, pada fractionation plant terdapat dua proses utama: crystallizing dan filtration. Tugas utama dalam kerja praktek ini adalah Mengevaluasi Efisiensi Kinerja Alat Plate Heat Exchanger PHE-521A pada Unit Refinery Plant. Tujuan dari penilaian kinerja pada pabrik minyak goreng adalah untuk memahami proses pengolahan minyak goreng di PT Tunas Baru Lampung, Tbk. Sedangkan evaluasi pada plate heat exchanger PHE-521A bertujuan untuk mengetahui kinerja Plate Heat Exchanger PHE-521A di unit refinery Plant.

(5)

iii

ABSTRACT

Cooking oil is a vegetable oil derived from oil palm. In the production of cooking oil, PT Tunas Baru Lampung, Tbk uses Crude Palm Oil (CPO) as raw material, which is crude oil from oil palm. The CPO will be in the CPO in the bleach tank to remove the impurities contained in the CPO by adding phosphoric acid. Then the color of the oil is bleached with the addition of bleaching earth. Furthermore, stearin crystals are formed in the crystallizer.

The next process is separation based on the fractions, namely the solid fraction (Stearin) and the liquid fraction (Olein) using a filter press. The stearin will be accommodated in a stearin shelter. Meanwhile, the olein will be flowed to the storage tank before being packaged.

Cooking oil production capacity at PT Tunas Baru Lampung, Tbk as much as 1000 tons / day to meet market demand. There are two process units in the manufacture of cooking oil, namely the refinery plant and the fractionation plant. Refinery Plant consists of three main processes, namely pre-treatment section, filtration process, and deodorizing section.

Meanwhile, in the fractionation section there are two main processes, namely crystallizing and filtration. The specific task given in this practical work is the evaluation of the cooking oil factory waste treatment process and the evaluation of the PHE-521A Plate Heat Exchanger. The purpose of the special task of processing waste cooking oil factory is to determine the process of processing cooking oil at PT Tunas Baru Lampung, Tbk, and the evaluation of the PHE-521A plate heat exchanger aimed at evaluating the performance of the PHE-521A Plate Heat Exchanger in the refinery plant unit.

(6)

iv

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Dengan penuh rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, penulis mengucapkan terima kasih atas berkat dan rahmat-Nya yang telah memberikan kesehatan jasmani dan rohani sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan kerja praktik. Laporan ini disusun berdasarkan hasil pengamatan data selama dua bulan kerja praktik, mulai dari 1 Juli hingga 31 Juli 2024 di PT Tunas Baru Lampung, Tbk Cabang Palembang.

Selama menjalani kerja praktik, penulis mendapatkan banyak pengetahuan tentang proses pengolahan minyak goreng berkat bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak.

Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Prof. Dr. I Nyoman Pugeg Aryantha selaku Rektor Institut Teknologi Sumatera berserta jajarannya;

2. Bapak Hadi Teguh Yudistira, S.T., Ph.D. Selaku Ketua Jurusan Teknologi Proses dan Hayati Institut Teknologi Sumatera berserta jajarannya;

3. Bapak Dr.Eng. Ferzeet Achmad, S.T., M.T. selaku Koordinator Program Studi Teknik Kimia Institut Teknologi Sumatera;

4. Bapak Dr. Jabosar R. H. Panjaitan S.T., M.T., dan Ibu Reni Yuniarti S.T.,M.T., selaku Dosen Wali Akademik yang telah memberikan arahan dan dukungan kepada penulis;

5. Ibu Yunita Fahni, S.T., M.T. selaku koordinator kerja praktik program studi teknik kimia Institut Teknologi Sumatera.

6. Ir. Mustafa,M.T selaku Dosen Pembimbing Kerja Praktik yang telah bersedia membimbing selama pelaksanaan kerja praktik dan penyelesaian laporan kerja praktik;

7. Pimpinan PT Tunas Baru Lampung, Tbk Cabang Palembang;

8. Manajer PT Tunas Baru Lampung, Tbk Cabang Palembang;

9. Bapak Iskandar, selaku kepala Unit Laboratorium dan Quality Control PT Tunas Baru Lampung, Tbk Cabang Palembang;

10. Bapak M. Joni selaku Kepala Bagian K3L PT Tunas Baru Lampung, Tbk Cabang Palembang;

11. Ibu Ponilawati selaku Kepala Bagian Unit Quality Assurance sekaligus sebagai pembimbing kerja praktik yang telah menberikan ilmu dan pengarahan dalam menyelesaikan laporan kerja praktik;

(7)

v 12. Bapak Murdiono selaku Kepala Unit Produksi sekaligus pembimbing lapangan yang

telah mengajarkan banyak ilmu pengetahuan dan membimbing dalam pengambilan data.

13. Seluruh Karyawan PT Tunas Baru Lampung, Tbk Cabang Palembang pada semua bagian yang telah membantu selama berlangsungnya kerja praktik PT Tunas Baru Lampung, Tbk Cabang Palembang;

14. Kedua Orang Tua dan Keluarga Besar yang selalu memberikan doa dan dukungan kepada penulis;

15. Teman-Teman seperjuangan kerja praktik Kelvin,Tsabil,dan Fadhil yang membuat kerja praktik semakin seru dan selalu saling menyemangati;

16. Semua pihak yang telah membantu menyelesaikan laporan kerja praktik baik berupa saran, doa, maupun dukungan. Yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Semoga apa yang telah penulis peroleh selama menjalankan kerja praktik dapat menjadi bekal untuk masa depan penulis dan menjadi amal jariyah bagi mereka yang telah memberikan pengetahuan. Penulis berharap laporan ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan dunia pendidikan.

Lampung Selatan,

Yunita Dewi Arum & Kelvin

(8)

vi

DAFTAR ISI

INTISARI... ii

ABSTRACT ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR GAMBAR ... ix

DAFTAR TABEL ... x

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Sejarah Perusahaan... 1

1.2.1 Sejarah PT Tunas Baru Lampung (TBL) ... 1

1.2.2 PT Tunas Baru Lampung (TBL) Cabang Palembang ... 3

1.2.3 Logo Perusahaan ... 4

1.3 Tujuan Kerja Praktik ... 5

1.4 Manfaat Kerja Praktik ... 6

1.5 Ruang Lingkup Kerja Praktik ... 6

1.6 Lokasi dan Layout Perusahaan... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 8

2.1 Bahan Baku ... 8

2.2 Spesifikasi Produk ... 11

BAB III KONSEP PROSES ... 13

3.1 Konsep Proses ... 13

3.2 Diagram Alir Proses ... 17

3.3 Deskripsi Proses ... 21

BAB IV SPESIFIKASI ALAT ... 36

4.1 Spesifikasi Alat Utama ... 36

4.2Spesifikasi Alat Pendukung ... 45

BAB V ANALISIS LABORATORIUM ... 56

5.1 Analisis Laboratorium ... 56

5.1.1 Analisa Kandungan FFA ... 56

(9)

vii

5.1.2 Analisa Moisture Content ... 57

5.1.3Analisa Iodine Value (IV) ... 57

5.1.4Analisa Peroxide Value (PV) ... 58

5.1.5Analisa Lovibond Colour ... 59

5.1.6 Analisa Cloud Point ... 59

5.1.7 Analisa DOBI ... 60

BAB VI UTILITAS DAN PENGOLAHAN LIMBAH ... 61

6.1 Utilitas ... 61

6.1.1 Penyedian Listrik ... 61

6.1.2 Water Treatment Plant ... 61

6.1.3 Penyedian Steam ... 63

6.2 Pengolahan Limbah ... 64

BAB VII STRUKTUR DAN MANAJEMEN PERUSAHAAN ... 65

7.1 Struktur dan Organisasi Perusahaan... 65

7.2 Jam Kerja Karyawan ... 69

7.3 Keamanan dan Keselamatan Kerja ... 70

BAB VIII PENUTUP ... 75

BAB IX TUGAS KHUSUS ... 76

9.1 Penjabaran Tugas ... 76

9.1.1 Judul ... 76

9.1.2 Latar Belakang ... 76

9.1.3 Tujuan ... 77

9.1.4 Manfaat ... 77

9.2 Tinjauan Pustaka ... 77

9.2.2Macam-macam Proses Perpindahan Panas ... 78

9.2.3 Heat Exchanger ... 80

9.2.4 Pengertian Heat Exchanger... 81

9.2.5 Jenis jenis Heat Exchanger ... 82

9.2.6 Bagian-Bagian Heat Exchanger ... 85

9.2.7 Kelebihan Plate Heat Exchanger ... 87

9.3 Metodologi ... 89

9.4 Data – Data Pendukung ... 90

(10)

viii

9.5Persamaan Perhitungan ... 90

9.5.1 Tahapan Perhitungan Observasi Kinerja PHE-521A ... 90

9.6Algoritma Penyelesaian ... 92

9.7 Hasil dan Pembahasan... 103

9.8 Kesimpulan dan Saran... 105

9.8.1 Kesimpulan ... 105

9.8.2 Saran ... 106

DAFTAR PUSTAKA ... 107

LAMPIRAN A DATA DESAIN DAN DATA AKTUAL ... 108

A.1 Spesifikasi Alat ... 108

A.2 Data Aktual ... 109

A.3 Data Hasil pengamatan Efesiensi Thermal Plate Heat Exchanger PHE-521A 109 LAMPIRAN B DATA PENDUKUNG ... 110

(11)

ix

DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1 Block Flow Diagram Pengolahan Minyak Goreng ...17

Gambar 3. 2 Process Flow Diagram Pengolahan Minyak Goreng ...18

Gambar 3.3 Process Flow Diagram Pengolahan Minyak Goreng ...19

Gambar 3.4 Proses Produksi ...20

Gambar 4. 1 Slurry Tank (T-503)...37

Gambar 4. 2 Bleacher tank (T-635) ...38

Gambar 4. 3 Niagara filter (PT-616A1,PT-616A2, PT-616A3) ...39

Gambar 4. 4 Filter Bag...40

Gambar 4. 5 Filter Catridge ...41

Gambar 4. 6 Menara Deodorizer 822QS ...42

Gambar 4. 7 Crystallizer Tank ...43

Gambar 4. 8 Filter Press ...44

Gambar 4.9 Plate Heat Exchanger ...45

Gambar 4. 10 HPS Boiler ...46

Gambar 4. 11 Shell & Tube Heat exchanger ...47

Gambar 4. 12 Boiler House ...49

Gambar 4. 13 Cooling Tower ...50

Gambar 4. 14 Bak Hotwell ...52

Gambar 4. 15 Pompa P-880 ...53

Gambar 4. 16 Parallel Flow ...80

Gambar 4. 17 Counter Flow ...80

Gambar 4. 18 Counter-Current Flow ...81

(12)

x

DAFTAR TABEL

Tabel 2. 1 Sifat Fisik dan Kimia CPO ...8

Tabel 2. 2Nilai Sifat Fisik dan Kimia Minyak Sawit ...8

Tabel 2. 3 Standar Mutu CPO ...9

Tabel 2. 4 Kebutuhan Bahan Baku Pada PT Tunas Baru Lampung, Tbk ...9

Tabel 2. 5 Kebutuhan Bahan Tambahan pada PT Tunas Baru Lampung, Tbk ...10

Tabel 2.6 Standar Mutu Minyak Goreng Rose Brand ...12

Tabel 2.7 Standar Mutu Minyak Tawon ...12

Tabel 3.1 Parameter Warna ...13

Tabel 3.2 Spesifikasi BPO ...21

Tabel 4. 1 Spesikasi Slurry Tank (T-503)...37

Tabel 4. 2 Spesifikasi Bleacher tank (T-635) ...38

Tabel 4. 3 Niagara filter (PT-616A1,PT-616A2, PT-616A3) ...39

Tabel 4. 4 Filter Bag ...40

Tabel 4. 5 Filter Catridge ...41

Tabel 4. 6 Menara Deodorizer 822QS ...42

Tabel 4. 7 Crystallizer Tank ...43

Tabel 4. 8 Filter Press ...44

Tabel 4.9 Spesifikasi Plate Heat Exchanger ...45

Tabel 4. 10 HPS Boiler ...46

Tabel 4. 11 Shell & Tube Heat exchanger ...47

Tabel 4. 12 Boiler House...49

Tabel 4. 13 Cooling Tower Fractionation ...50

Tabel 4. 14 Clean Cooling Tower ...51

Tabel 4. 15 Dirty Cooling Tower ...51

Tabel 4. 16 Bak Hotwell ...52

Tabel 4. 17 Spesifikasi Pompa P-880...53

Tabel 4.18 Spesifikasi Feed Pump PT-501 ...54

Tabel 9. 1 Data Kondisi Operasi ...103

(13)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kerja praktik adalah sebuah kegiatan yang bertujuan untuk memperkenalkan mahasiswa kepada dunia kerja secara langsung di lapangan, sehingga mereka bisa mendapatkan pengalaman sebelum benar-benar memasuki dunia kerja. Melalui kerja praktik, mahasiswa menerapkan ilmu yang telah diperoleh selama perkuliahan. Kerja praktik merupakan mata kuliah wajib bagi Program Studi Teknik Kimia di Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Sumatera. Kegiatan ini diharapkan dapat membangun hubungan yang baik antara institusi perguruan tinggi dan perusahaan di bidang terkait, yang pada akhirnya meningkatkan kualitas mahasiswa Teknik Kimia serta membantu untuk mengikuti perkembangan terbaru di dunia industri. Mahasiswa diharapkan bisa mengamati secara langsung lingkungan kerja dan proses-proses yang terjadi di perusahaan, seperti unit proses, unit operasi, unit utilitas, cara pengoperasian peralatan, proses yang berlangsung, serta kendala yang sering dihadapi perusahaan.

Dengan demikian, kerja praktik dapat menambah pengetahuan dan pengalaman mahasiswa serta memberikan gambaran nyata tentang dunia kerja di industri. Pelaksanaan kerja praktik ini juga bertujuan untuk melengkapi wawasan mahasiswa dalam pengetahuan dasar Teknik Kimia, sehingga mampu mempersiapkan diagram alir proses, menentukan peralatan proses industri lengkap dengan satuan operasi dan satuan proses, serta mengelola pabrik tanpa mengganggu fungsi lingkungan.

1.2 Sejarah Perusahaan

1.2.1 Sejarah PT Tunas Baru Lampung (TBL)

PT Tunas Baru Lampung adalah salah satu anak perusahaan dari PT Sungai Budi Group. Pada tahun 1947, PT Sungai Budi Group mulai mengembangkan usahanya dari perdagangan hasil bumi ke produksi dan distribusi tepung tapioka serta produk turunannya.

Pada tahun 1973, PT Tunas Baru Lampung bergabung dengan kelompok usaha Sungai Budi yang didirikan tahun 1974, memainkan peran kunci dalam industri pertanian di Indonesia. Motivasi utama kelompok ini adalah mendukung kemajuan negara dan memanfaatkan keunggulan kompetitif Indonesia di sektor pertanian. Saat ini, Sungai Budi Group merupakan salah satu pemimpin dalam produksi dan distribusi produk pertanian di

(14)

2 Indonesia, dengan PT Budi Acid Jaya Tbk sebagai perusahaan asing ke-13 dalam kelompok ini, yang merupakan pabrikan tepung tapioka terbesar dan paling terintegrasi di Indonesia. Sejak berdirinya di Lampung pada awal 1970-an, PT Tunas Baru Lampung Tbk telah tumbuh menjadi salah satu produsen minyak goreng terbesar dan paling efisien.

Perusahaan ini pertama kali terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada 14 Februari 2000 (Quality Assurance Department PT Tunas Baru Lampung, Tbk, 2024). PT Tunas Baru Lampung, Tbk didirikan berdasarkan akta Nomor 23 tanggal 27 Desember 1973 oleh Halim Kurniawan, S.H., seorang notaris di Teluk Betung. Pendirian perusahaan ini disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia melalui Surat Keputusan Nomor Y.A.5/233/25 tanggal 10 Juli 1975 dan diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia Nomor 44 tanggal 1 Juni 1999, dengan tambahan Nomor 3194. Anggaran dasar perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan, yang terakhir dilakukan melalui akta No. 20 tanggal 13 Agustus 1999 oleh Ny. Machrani Moertolo, S.SH., seorang notaris di Jakarta. Perubahan tersebut mencakup penyesuaian nilai nominal saham serta peningkatan modal dasar, termasuk modal ditempatkan dan modal disetor. Perubahan ini disahkan oleh Direktur Jenderal Hukum dan Perundang-undangan Departemen Kehakiman melalui surat Nomor C-15025/HT.01.04.TH.99 tanggal 18 Agustus 1999 dan diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 91 tanggal 12 November 1999, dengan tambahan No. 316 (Quality Assurance Department PT Tunas Baru Lampung, Tbk, 2024). Sebuah perusahaan yang berkantor pusat di Jakarta memiliki perkebunan seluas sekitar 5.000 hektar yang terletak di Terbanggi Besar, Lampung Tengah. Pabrik-pabrik perusahaan ini berada di berbagai lokasi, termasuk Lampung, Surabaya, Tangerang, Palembang, dan Kuala Enok.

Kantor pusat perusahaan berada di Wisma Budi, Jl. H.R. Rasuna Said Kav. C-6, Jakarta.

Sesuai dengan pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan perusahaan mencakup perkebunan, pertanian, dan industri, serta berperan sebagai pedagang eksportir dan importir. Saat ini, perusahaan ini fokus pada produksi minyak goreng sawit, minyak goreng kelapa, minyak kelapa, minyak sawit, dan sabun. Selain itu, perusahaan juga bergerak dalam bidang perkebunan kelapa sawit dan hibrida. Perusahaan mulai memproduksi CPO (minyak sawit mentah) pada bulan September 1995 dan minyak goreng pada bulan Oktober 1996. Produk-produk yang dihasilkan dipasarkan baik di dalam negeri maupun internasional.

(15)

3 1.2.2 PT Tunas Baru Lampung (TBL) Cabang Palembang

PT Tunas Baru Lampung, Tbk Cabang Palembang adalah salah satu dari 73 anak perusahaan yang dimiliki oleh PT Sungai Budi Group, berlokasi di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Industri ini memiliki beberapa cabang di berbagai kota, termasuk Palembang, Lampung, Sidoarjo, dan Tangerang (General Manager PT Tunas Baru Lampung, Tbk, 2024). PT Tunas Baru Lampung, Tbk adalah perusahaan yang bergerak di bidang produksi dan pengolahan kelapa sawit. Pada awal tahun 1985, perusahaan ini dikenal sebagai CV Bumi Waras. CV Bumi Waras kemudian membeli saham dari PT Bintang Sembilan, yang diresmikan oleh Presiden Soeharto. Pada masa itu, perusahaan mengolah hasil samping dari produksi minyak kelapa sawit, yaitu Palm Fatty Acid Distillate (PFAD), menjadi sabun dengan merk Kompas (General Manager PT Tunas Baru Lampung, Tbk, 2024). Pada tahun 1987, PT Bintang Sembilan memperluas pabrik untuk memproduksi dan mengolah minyak goreng dari kelapa dengan merk dagang Kopra.

Bersamaan dengan ekspansi tersebut, PT Bintang Sembilan juga berganti nama menjadi PT Bintang Sembilan Murni. Pada tahun 1995, PT Bintang Sembilan Murni menambahkan bahan baku CPO (minyak sawit mentah) dalam pengolahan minyak goreng, yang diberi merk dagang Minyak Goreng Rose Brand. Pada tahun 1987, PT Bintang Sembilan Murni meningkatkan kapasitas produksinya menjadi 90 ton per hari (General Manager PT Tunas Baru Lampung, Tbk, 2024). Pada tahun 2005, saham perusahaan dialihkan dari PT Bintang Sembilan Murni ke PT Tunas Baru Lampung, Tbk, yang bergabung dengan PT Sungai Budi Group. Seiring dengan pengalihan aset saham, produksi minyak goreng dari kelapa dengan merk Kopra dihentikan karena perubahan manajemen. Pada tahun 2013, PT Tunas Baru Lampung, Tbk mengalami kemajuan pesat dengan meningkatnya permintaan konsumen baik dari dalam negeri maupun ekspor. Untuk memenuhi permintaan ini, PT Tunas Baru Lampung, Tbk meningkatkan kapasitas produksi minyak goreng kelapa sawit dari 90 ton per hari menjadi 1.000 ton per hari, serta menambah merk dagang menjadi Minyak Goreng Rose Brand dan Tawon (General Manager PT Tunas Baru Lampung, Tbk, 2024).

(16)

4 Berikut terdapat sejarah perkembangan PT Tunas Baru Lampung, Tbk. Yang telah dirinci didalam 3.1 sebagai berikut.

Tabel 3. 1 Sejarah PT Tunas Baru, Tbk

Tahun Rincian Kegiatan

1985 CV Bumi Waras membeli PT Bintang Sembilan sebagai produsen sabun.

1987 PT Bintang Sembilan beruba nama menjadi PT Bintang Sembilan Murni serta Start Up pabrik produksi minyak goreng kelapa (kopra) dengan kapasitas 90 ton/hari.

1995 Start up pabrik produksi minyak goreng kelapa sawit dengan kapasitas 90 ton/hari.

2005 Peralihan aset dari PT Bintang Sembilan Murni menjadi PT Tunas Baru Lampung, Tbk oleh Sungai Budi Group serta penutupan pabrik produksi minyak goreng kelapa (kopra).

2013 Penambahan kapasitas produksi minyak goreng kelapa sawit menjadi 1000 ton/hari serta penambahan merk dagang sehingga terdapat merk dagang Rose Brand dan Tawon.

(Sumber : Quality Assurance Department PT Tunas Baru Lampung, Tbk., 2024) 1.2.3 Logo Perusahaan

(Sumber : Quality Assurance Department PT Tunas Baru Lampung, Tbk., 2024)

Gambar 1. 1 Logo PT Tunas Baru Lampung Tbk

Berikut ini merupakan makna dari logo (Gambar 3.1) PT Tunas Baru Lampung Tbk (Quality Assurance Department PT Tunas Baru Lampung, Tbk., 2024).

a. Elemental Logo membentuk huruf B dan W yang secara keseluruhan merupakan

(17)

5 singkatan dari Bumi Waras, PT Tunas Baru Lampung pertama kali didirikan di daerah kecamatan Bumi Waras Kota Bandar Lampung.

b. Warna-warna yang berani menunjukkan langkah besar yang diambil Tunas Baru Lampung dan aspirasi perusahaan akan masa depan yang lebih positif dan dinamis. Arti dari warna merah pada logo tersebut mencerminkan keuletan dan ketegasan serta keberanian dalam menghadapi berbagai macam kesulitan demi mewujudkan perekonomian yang sehat dan makmur. 3.3 Visi, Misi dan Nilai Perusahaan

1.2.4 Visi dan Misi

A. Visi, Menjadi produsen Minyak Sawit Mentah, Minyak Goreng Nabati dan turunannya yang terintegrasi penuh dengan biaya produksi yang rendah dan ramah lingkungan.

B. Misi, Kekuatan melalui integrasi

C. Nilai Perusahaan, Nilai perusahaan yang berlaku di PT Tunas Baru Lampung, Tbk sebagai berikut (Quality Assurance Department PT Tunas Baru Lampung, Tbk, 2024).

a. Respect, perilaku saling menghormati baik di dalam maupun di luar organisasi.

b. Integrity and Ethics, menjunjung tinggi integritas dan kode etik Perseroan.

c. Teamwork, kerjasama antara karyawan, atasan, dan keduanya dengan tetap mementingkan kepentingan bersama dibandingkan kepentingan pribadi.

d. Community, memberikan nilai kepada masyarakat sekitar sebagai salah satu pemangku kepentingan kepentingan bagi organisasi

e. Communication, selalu mengedepankan aspek komunikasi antar jenjang komando dan pengawasan sehingga dapat tercipta kerja sama dan koordinasi yang baik.

1.3 Tujuan Kerja Praktik

Kerja praktik Program Studi Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Sumatera bertujuan sebagai berikut.

1. Memperkenalkan dan memberikan mahasiswa kepada dunia kerja secara langsung di lapangan sebelum memasuki dunia kerja yang sesungguhnya.

2. Mendapatkan pengalaman lapangan dengan mempelajari unit – unit proses produksi dan utilitas.

3. Mendapatkan gambaran tentang pengoperasian, sistem pemrosesan atau fasilitas yang berfungsi sebagai sarana produksi.

4. Memahami dan dapat menggambarkan keluaran proses yang mencakup: produk utama,

(18)

6 produk samping, energi dan limbah industri untuk proses.

5. Memahami dan dapat menggambarkan diagram alir proses dan sistem pemprosesan yang digunakan di pabrik tempat mahasiswa melakukan Kerja Praktik.

6. Memahami segi-segi ekonomis pengoperasian suatu sarana produksi.

1.4 Manfaat Kerja Praktik

Manfaat kerja praktik Program Studi Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Sumatera sebagai berikut.

1. mendapatkan pemahaman langsung mengenai situasi dan dinamika di tempat kerja serta memiliki pengalaman terlibat langsung dalam aktivitas kerja sehari-hari;

2. Dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan bernalar melalui pengamatan dan partisipasi langsung di lapangan.

3. Dapat belajar menganalisis masalah-masalah yang muncul di tempat kerja dan mencari solusi berdasarkan materi teoritis yang telah dipelajari selama perkuliahan, serta mengaitkannya dengan kondisi nyata di industri.

1.5 Ruang Lingkup Kerja Praktik

Ruang lingkup penyelenggaraan kerja praktik di PT Tunas Baru Lampung, Tbk Cabang Palembang, sebagai berikut.

1. Orientasi Umum

Mengenali secara umum hal-hal yang berkaitan dengan PT Tunas Baru Lampung, Tbk Palembang.

2. Studi Kepustakaan

Mempelajari literatur mengenai minyak goreng dan proses pengolahannya pada PT Tunas Baru Lampung Tbk Palembang.

3. Orientasi Lapangan

Mempelajari proses yang terjadi pada peralatan dan pemeliharaan, distribusi, pemasaran dan treatment yang dilakukan di lapangan.

4. Tugas Khusus

Mengevaluasi Efisiensi Pada Kinerja Alat Plate Heat Exchanger PHE-521A di Unit Refnery Plant

5. Penyelesaian Kerja Praktik 6. Penyusunan Laporan

(19)

7 1.6 Lokasi dan Layout Perusahaan

Lokasi pabrik PT Tunas Baru Lampung, Tbk Cabang Palembang terletak di Jalan Raya Palembang-Betung KM 14, Kelurahan Tanas Mas, Kecamatan Talang Kelapa, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan (Gambar 3.1). Pabrik pengolahan ini berjarak sekitar 14 km sebelah utara Kota Palembang, dengan luas area tanah sekitar ± 10 hektar.

Pabrik ini berada di titik koordinat 2˚54’53”S dan 104˚40’27”E (Quality Assurance Department PT Tunas Baru Lampung, Tbk, 2024).Berikut ini merupakan peta lokasi PT Tunas Baru Lampung, Tbk. Cabang Palembang (Gambar 3.2) :

Gambar 1. 2 Lokasi PT Tunas Baru Lampung, Tbk. Cabang Palembang (Sumber : Google Maps, 2024)

PT Tunas Baru Lampung, Tbk. Cabang Palembang juga berbatasan dengan beberapa wilayah, diantaranya.

1. Sebelah Utara : Jalan Raya Palembang-Betung KM 14 2. Sebelah Selatan : Perumahan Citra Gading Mas 3. Sebelah Timur : Hotel Twinstar

4. Sebelah Barat : SMA Bina Mandiri

(20)

8

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Bahan Baku A. Bahan Baku

Crude Palm Oil (CPO) merupakan bahan baku utama yang digunakan untukpembuatan minyak kelapa sawit. Pada PT Tunas Baru Lampung, yang dibeli dari perkebunan-perkebunan yang ada di Sumatera Selatan dikirim melalui mobil tangki.

Sebelum CPO ditampung pada tangki penampungan, dilakukan pengecekan beberapa parameter di unit Quality Control terlebih dahulu, seperti Free Fatty Acid, Moisture dan Impurities (M&I), Iodine Value (IV), Deodoratation of Bleaching Index (DOBI) dan Peroxide Value (PV) (Quality Assurance Departement PT Tunas Baru Lampung, Tbk, 2024). Adapun sifat fisik dan kimia dari CPO sesuai dengan standar Quality Control di PT Tunas Baru Lampung, Tbk dapat dilihat pada Tabel 2.1 dibawah ini.

Tabel 2. 1 Sifat Fisik dan Kimia CPO

Sumber : Quality Control PT Tunas Baru Lampung, Tbk, 2024

Minyak sawit memiliki sifat – sifat fisik dan kimia seperti pada Tabel 2.2 dibawah ini.

Tabel 2. 2 Nilai Sifat Fisik dan Kimia Minyak Sawit

Sifat Minyak Sawit

Bobot Jenis Pada Temperatur Kamr 0,9 Index Bias pada 40 oC 1,4565-1,4585

Bilangan Iod 48-56

Bilangan Penyabunan 196-205

Sumber : Ketaren, 2012

No Sifat Fisik dan Kimia Dosis (% w/w)

1 FFA 3,5-5,5

2 M&I 0,2-0,5

3 IV 51,48-53,0

4 DOBI 2,0 -3,0

5 PV Max 3

(21)

9 Warna minyak ditentukan oleh adanya pigmen yang masih tersisa setelah proses pemucatan, karena asam-asam lemak dan gliserida tidak berwarna. Warna orange atau kuning disebabkan adanya pigmen karotene yang larut dalam minyak. Bau dan flavour dalam terdapat secara alami, juga terjadi akibat adanya asam-asam lemak berantai pendek akibat kerusakan minyak. Sedangkan bau khas minyak kelapa sawit ditimbulkan oleh persenyawaan beta ionine [1]. Pengujian standar mutu CPO di Quality Control sebagaimana terlihat pada Tabel 2.3.

Tabel 2. 3 Standar Mutu CPO Sifat Fisik dan Kimia Target

%FFA Max 5,0

%Moisture Max 0,35

IV Min 51

DOBI Min 2,0

PV Max 3,0

Sumber : Quality Control PT Tunas Baru Lampung, Tbk, 2024

Selain dilakukan beberapa pengujian sifat fisik dan kimia terhadap CPO di Quality Control , di dalam CPO juga mempunyai kandungan beberapa asam lemak, seperti asam lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh.

PT Tunas Baru Lampung, Tbk membutuhkan bahan baku dengan jumlah dan ketersediaan yang cukup secara kontinu untuk memenuhi proses produksi minyak.

Perusahaan ini dalam pengolahannya membutuhkan bahan baku, seperti CPO pada PT Tunas Baru Lampung, Tbk dapat dilihat pada Tabel 2.4 dibawah ini.

Tabel 2. 4 Kebutuhan Bahan Baku Pada PT Tunas Baru Lampung, Tbk Uraian Kapasitas

(Ton/hari)

Sifat fisik Penyimpanan

Crude Palm Oil (CPO) 384-960 Cair Tangki

Sumber : Quality Assurance Departement PT Tunas Baru Lampung, Tbk, 2024 Kebutuhan bahan tambahan pada PT Tunas Baru Lampung, Tbk

(22)

10 PT Tunas Baru Lampung, Tbk membutuhkan bahan baku dengan jumlah dan ketersediaan yang cukup secara kontinu untuk memenuhi proses produksi minyak.

Perusahaan ini dalam pengolahannya membutuhkan bahan baku, seperti CPO.

Kebutuhan bahan baku pada PT Tunas Baru Lampung, Tbk Dapat dilihat pada Tabel 2.5 dibawah ini.

Tabel 2. 5 Kebutuhan Bahan Tambahan pada PT Tunas Baru Lampung, Tbk

No Uraian Dosis

(% w/w)

Sifat Fisik Penyimpanan 1. Bleaching Earth 0,8-2,4 Serbuk Gudang 2. Phosporic Acid 0,04-0,08 Cair Gudang 3. Vitamin A 0,012-0,03 Cair Gudang 4. Citric Acid 0,0005 Cair Gudang

Sumber : Quality Assurance Departement PT Tunas Baru Lampung, Tbk, 2024 B. Bahan Penunjang

a. Bleaching Earth

Bleaching Earth merupakan suatu zat yang digunakan dalam proses pemucatan yang bertujuan untuk memurnikan suatu bahan dari zat-zat warna (pigmen) dan pengotor dalam minyak mentah, baik yangterlarut maupun yang terdispersi serta mengurangi kandungan logam yang terkandung didalamnya [2]. Jumlah dosis bleaching earth yang digunakan sesuai dengan analisa DOBI (Deteroriation of Bleachability Index) pada CPO awal dimana analisa DOBI untuk mengukur tingkat kerusakan minyak yang disebabkan oleh oksidasi dan merupakan indikator kemampuan pemucatan pada CPO.

Semakin tinggi nilai DOBI maka penggunaan bleaching earth akan semakin sedikit (rendah). Hal ini menandakan bahwa bahan baku CPO yang telah ada kualitasnya sudah baik sehingga hanya membutuhkn sedikit bleaching earth. Yang mana semakin tinggi bleaching earth yang digunakan maka DOBI dan kualitas CPO rendah. Bleaching earth yang digunakan pada PT Tunas Baru Lampung, Tbk berkisar 0,8-2,4% dari berat CPO umpan.

(23)

11 b. Phosporic Acid (Asam Fosfat)

Digunakan asam fosfat dengan dosis 0,04-0,08 %. Fungsi dari penambahan asam fosfat adalah untuk mengikat getah serta kotoran khususnya senyawa phospholipid/fosfatida pada CPO yang merupakan sumber rasa dan warna yang tidak diinginkan dan dapat menyebabkan umur simpan minyak semakin pendek [3]. Penambahan asam fosfat menggunakan pompa mixing dan masuk ke dalam tangki agar pencampuran sempurna.

c. Citric Acid (Asam sitrat)

Asam sitrat merupakan bahan organik yang aman untuk dikonsumsi, memiliki kemampuan untuk mengikat ion-ion logam dan bilangan peroksida membentuk senyawa kompleks yang tidak ikut terlarut dalam minyak sehingga memudahkan terpisahnya antara padatan hasil reaksi dengan minyak goreng dan dapat dilakukan dengan penyaringan [4]. Kegunaan asam sitrat lainnya sebagai antioksidan pada minyak, yaitu sebagai pencegah kerusakan warna, aroma, dan sebagai penghambat oksidasi. Asam sitrat di PT Tunas Baru Lampung,Tbk digunakan sebagai zat penyerap (adsorben) minyak pada proses Degumming Section.

d. Vitamin A

Vitamin A merupakan salah satu zat gizi mikro dengan manfaat yang sangat penting bagi tubuh manusia. Dengan memanfaatkan teknologi pangan, kandungn gizi pada berbagi jenis pangan dapat ditingkatkan. Teknologi penambahan zat gizi tertentu pada produk pangan diantaranya adalah restorasi, pengkayaan atau enrichment, standarisasi, dan fortifikasi. Beberapa jenis bahan makanan sehari-hari yang dapat difortifikasi dengan vitamin A adalah minyak goreng. Fortifikasi vitamin A pada minyak goreng merupakan program pemerintah yang bertujuan untuk menurunkan jumlah orang terutama anak yang kekurangan vitamin A [5].

2.2 Spesifikasi Produk

Produk yang dihasilkan oleh PT Tunas Baru Lampung, Tbk adalah RBDPL atau fraksi olein, yang telah melalui berbagai proses dan serangkaian uji laboratorium untuk memastikan sesuai dengan standar mutu yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Produk ini kemudian dijual dengan merk Rose Brand dan Tawon. Produk sampingan dari proses ini, yaitu fraksi stearin dapat dijual langsung ke konsumen atau diolah kembali menjadi produk.

(24)

12 A. Rose Brand

Produk Rose Brand adalah produk premium yang dikemas dalam tiga jenis kemasan: standing pouch, cup, dan jerigen. Kemasan standing pouch tersedia dalam dua ukuran, yaitu 1 liter dan 2 liter, sedangkan kemasan jerigen berukuran 5 liter, dan untuk kemasan cup berukuran 220 ml. Standar mutu minyak goreng merk Rose Brand sebagaimana terlihat pada Tabel 2.6.

Tabel 2.6 Standar Mutu Minyak Goreng Rose Brand

No Sifat Fisik dan Kimia Spesifikasi

1 FFA 0,1% Max

2 Moisture & Impurities 0,1% Max

3 Lovibond Color 2.4R 24Y Max

4 Cloud Point 6.5oC Max

Sumber: Quality control PT Tunas Baru Lampung, Tbk, 2024) B. Tawon

Produk Tawon adalah produk RBDPL curah yang dikemas dalam dua jenis kemasan: standing pouch dan jerigen. Kemasan standing pouch tersedia dalam dua ukuran, yaitu 1 liter dan 2 liter, sementara kemasan jerigen berukuran 5 liter. Standar mutu minyak merk Tawon dapat diamati pada Tabel 2.7.

Tabel 2.7 Standar Mutu Minyak Tawon No Sifat Fisik dan Kimia Spesifikasi

1 FFA 0,1% Max

2 Moisture & Impurities 0,1% Max

3 Lovibond Color 2.7R 27Y Max

4 Cloud Point 10.5oC Max

Sumber: Quality control PT Tunas Baru Lampung, Tbk, 2024) C. PFAD

Produk PFAD (Palm Fatty Acid Distillate) adalah limbah atau hasil pemisahan dari deodorizer berupa produk asam lemak bebas yang dijual langsung kepada konsumen melalui tangki (Quality Control PT Tunas Baru Lampung, Tbk, 2024).

(25)

13

BAB III KONSEP PROSES

3.1 Konsep Proses

Proses pengolahan CPO (Crude Palm Oil) menjadi minyak goreng di PT Tunas Baru Lampung, Tbk melalui dua tahapan utama yaitu refinery bertujuan untuk mengubah CPO menjadi Refined Bleached Deodorized Oil (RBDPO) dan Fraksinasi yang bertujuan untuk memproses RBDPO menjadi dua produk utama yaitu Refined Bleached Deodorized Palm Olein (RBDPL) dan Refined Bleached Deodorized Palm Streain (RBDPS). Jenis- jenis minyak yang terdapat di PT Tunas Baru Lampung, Tbk meliputi.

1. Crude Palm Oil (CPO)

CPO adalah bahan baku yang berasal dari kulit kelapa sawit, memiliki konsistensi cairan kental, dan berwarna oranye kemerahan ketika dalam kondisi dingin serta berubah menjadi merah saat dipanaskan.

2. Bleaching Palm Oil (BPO)

BPO adalah minyak CPO yang telah melalui proses degumming dengan H3PO4, menggunakan dosis antara 0,04% - 0,08%. Selain itu, BPO juga mengalami proses pemucatan (bleaching) dengan Bleaching Earth, dengan dosis antara 0,8% hingga 2,4%.

3. Refinery Bleached Deodorized Palm Oil (RBDPO)

adalah minyak BPO yang telah melalui proses pemisahan PFAD dalam alat yang disebut deodorizer dengan prinsip destilasi, sehingga kadar asam lemak bebasnya berkurang.

Minyak RBDPO memiliki warna kuning keemasan, mirip dengan minyak goreng pada umumnya. Penambahan asam sitrat sebagai antioksidan dilakukan jika parameter warna Y (yellow) dan R (red) pada RBDPO melebihi batas maksimal yang ditentukan. Standar warna RBDPO yang digunakan dapat diamati pada Tabel 3.1.

Tabel 3.1 Parameter Warna Parameter

Warna

Jenis Olein yang dibuat

Batas Maksimal Yellow (Y)

Olein RoseBrand Olein Tawon

24 27 Red (R)

Olein RoseBrand Olein Tawon

2,4 2,7 Sumber: (Quality Control PT Tunas Baru Lampung, Tbk, 2024)

(26)

14 a. Palm Fatty Acid Distillate (PFAD)

PFAD adalah komponen yang terdiri dari FFA, air, karoten, dan volatile metter yang telah dipisahkan dari RBDPO melalui proses destilasi dalam deodorizer, PFAD berwarna putih keruh. Pada suhu ruangan, PFAD berbentuk padat sedangkan pada suhu panas, PFAD berbentuk cair.

b. Refined Bleached Deodorized Palm Olein (RBDPL)

RBDPL atau Olein adalah produk minyak goreng siap distribusi yang berwarna kuning keemasan dan berbentuk cair pada suhu ruangan. RBDPL terdiri dari dua jenis, yaitu RBDPL curah dengan merk dagang Tawon dan RBDPL super dengan merk dagang Rose Brand.

c. Refined Bleached Deodorized Palm Stearin (RBDPS)

RBDPS atau stearin adalah produk sampingan dari proses pembuatan minyak goreng.

RBDPS memiliki warna putih dan berbentuk padat pada suhu ruangan. RBDPS digunakan sebagai bahan baku dalam industri makanan, kecantikan, dan berbagai industri lainnya.

Proses pengolahan minyak goreng dibagi menjadi dua jenis pemurnian, yaitu chemical refining dan physical refining. Pada proses chemical refining digunakan bahan kimia seperti H3PO4 (Phosphoric Acid), C6H8O7 (Citric Acid), dan Bleaching Earth (Production Departement PT Tunas Baru Lampung Tbk,2024).

Bahan baku CPO dikirim ke PT Tunas Baru Lampung Tbk menggunakan mobil tangki. Sebelum masuk kedalam tangki penyimpanan dilakukan analisa terlebih dahulu. Analisa CPO dilakukan dengan beberapa parameter oleh bagian Quality Control, seperti kandungan FFA, M&I, IV, DOBI, dan PV.

Setelah bahan baku CPO murni yang telah melewati uji laboratorium memenuhi standar kemudian disimpan di tangki penampungan (Storage tank). Tidak hanya bahan baku, produk hasil olahan juga disimpan terlebih dahulu di dalam tangki yang dikelola oleh unit gudang bahan baku dan produk, sebelum dikemas dan dipasarkan. Produk tersebut antara lain RBDPL, PFAD, dan RBDPS (Production Departement PT Tunas Baru Lampung Tbk,2024).

d. Refinery

Proses refinery bertujuan untuk menghilangkan zat yang tidak diinginkan seperti zat pengotor yang terdapat di dalam CPO serta menambah stabilitas dari minyak yang akan diolah. Crude Palm Oil (CPO) sebagai bahan baku masih mengandung berbagai

(27)

15 kotoran yang harus dihilangkan melalui proses pemurnian. Kotoran-kotoran ini mencakup gum atau getah, resin, lendir, serat-serat pengotor, dan logam. Selain itu, pemurnian juga diperlukan untuk meningkatkan stabilitas minyak yang akan diproses lebih lanjut. Proses pemurnian ini mengubah warna CPO dari kuning kemerahan menjadi warna minyak goreng yang lebih jernih, sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Dalam proses refinery, terdapat tiga tahap utama yang harus dilalui.(Production Departement PT Tunas Baru Lampung Tbk,2024)

e. Pre-Treatment Section

Proses ini berkaitan dengan perubahan fisik pada CPO, seperti perubahan warna, aroma, serta kandungan air dan udara. Pengolahan minyak secara fisik melibatkan pemisahan kandungan asam lemak dari bahan baku menggunakan distilasi.

Bagian pre-treatment ini terdiri dari dua proses utama: Physical Refining dan Chemical Refining. Physical Refining bertujuan untuk memanaskan CPO dari tangki penyimpanan sebelum memasuki unit refinery. Pemanasan ini dilakukan untuk menguapkan kandungan air yang terdapat di dalam CPO agar tidak mengganggu proses selanjutnya. Pemanasan dilakukan dengan suhu antara 45-50°C. Sedangkan Chemical Refining merupakan proses pemurnian CPO dari gum-gum , resin, dan kotoran menggunakan zat kimia berupa H3PO4, citric acid, dan bleaching earth. Pada unit refinery, terdapat 2 buah Plate & Frame Heat Exchanger yaitu T-521 A dan T- 521 B. Dua buah Heat Exchanger tersebut sudah mampu menaikkan suhu CPO hingga

± 110-115°C dengan menggunakan steam (LPS) dari boiler house.

f. Physical Refining

Physical Refining merupakan proses pengolahan minyak yang perlakuannya menggunakan pemanasan pada suhu tinggi dalam kondisi vakum. Proses ini berfungsi untuk mengubah warna minyak, menyerap bau, kandungan air serta udara, dan memisahkan asam lemak bebas dari minyak. Terdapat beberapa control alat yang memegang fungsi pada Physical Refining.

(a) Feed Pump (PT-501)

Feed Pump (PT-501) berfungsi untuk mengalirkan CPO dari tempat penyimpanan menuju ke Heat Exchanger (HE-521A).

Temperatur : 45-55°C Tekanan : 6 bar

(28)

16 (b) Plate Heat Exchanger (HE-521A)

Plate Heat Exchanger (HE-521A) merupakan alat penukar panas yang berfungsi untuk memanaskan CPO umpan 45-55˚C menjadi 73-78°C dengan media pemanas berupa RBDPO final process.

Temperatur CPO masuk : 45-55°C Temperatur CPO keluar : 73-78°C Temperatur RBDPO masuk : 96-140°C Temperatur RBDPO keluar : 75-85°C (c) Plate Heat Exchanger (HE-521B)

Plate Heat Exchanger (HE-521B) ini merupakan alat penukar panas dengan media pemanas berupa steam. Berfungsi untuk memanaskan CPO umpan 73- 75°C menjadi 100-115˚C.

Temperatur CPO Masuk : 73-75°C Temperatur CPO keluar : 100-115°C Temperatur Steam Masuk :110°C Temperatur Kondensat : 80-90°C (d) Shear/Mixer Pump (MT-504)

Shear/Mixer Pump (MT-504) ini merupakan pompa yang mengalirkan CPO yang telah dipanaskan menuju proses degumming dalam Slurry Tank (T-503).

(29)

17 Gambar 3.1 Block Flow Diagram Pengolahan Minyak Goreng

3.2 Diagram Alir Proses

Diagram alir adalah alat visual yang digunakan untuk memetakan langkah-langkah dalam suatu proses, baik itu sederhana maupun kompleks, dengan menggunakan simbol-simbol standar.

A. Block Flow Diagram

Blok diagram proses keseluruhan dari pengolahan CPO menjadi minyak goreng di PT Tunas Baru Lampung,Tbk cabang Palembang dapat dilihat pada Gambar 3.1.

(30)

18 Gambar 3. 2 Process Flow Diagram Pengolahan Minyak Goreng Unit Refinery

C. Process Flow Diagram

Process Flow Diagram (PFD) dari pengolahan CPO menjadi minyak goreng pada Unit Refinery di PT Tunas Baru Lampung,Tbk cabang Palembang dapat dilihat pada Gambar 3.2.

Tank Stock PFAD

(31)

19 Gambar 3.3 Process Flow Diagram Pengolahan Minyak Goreng Unit Fractination

C. Process Flow Diagram

Process Flow Diagram (PFD) dari pengolahan CPO menjadi minyak goreng pada Unit Refinery di PT Tunas Baru Lampung,Tbk cabang Palembang dapat dilihat pada Gambar 3.3.

(32)

20 Gambar 3.4 Proses Produksi

Sumber : (Production Department PT Tunas Baru Lampung, Tbk, 2024) D. Proses Produksi

Proses produksi adalah rangkaian kegiatan dan tahapan yang dilakukan untuk mengubah bahan baku menjadi produk akhir. Proses ini melibatkan beberapa langkah, termasuk perancangan, pengolahan, perakitan, dan pengujian, serta kontrol kualitas untuk memastikan produk memenuhi standar yang diinginkan.

(33)

21 3.3 Deskripsi Proses

Pada proses ini feed dengan temperatur ± 45 – 55oC yang dialirkan dari storage tank menggunakan Feed Pump (PT-501) ke Plate Heat Exchanger (HE-521A). Pada HE-521A terjadi perpindahan panas antara umpan (CPO) dengan produk akhir (RBDPO), sehingga CPO akan menjadi panas sedangkan RBDPO menjadi dingin. Pada pre-treatment ini, terdapat pula Plate Heat Exchanger (HE-521B) yang juga berfungsi memanaskan umpan CPO dengan media pemanas berupa steam sehingga diperoleh standar temperatur pengolahan CPO 100-115oC.

CPO dengan temperatur 100-115oC dialirkan ke Slurry Tank (T-503) menuju proses degumming. CPO yang akan memasuki proses degumming dialirkan oleh Shear/Mixer Pump (MT-504).

1. Chemical Refining

Chemical refining merupakan proses pemurnian CPO dari gum-gum, getah, resin, dan kotoran menggunakan zat kimia berupa H3PO4, citric acid, dan bleaching earth.

Penggunaan bahan kimia tersebut bertujuan agar mampu mengikatkotoran dan zat yang tidak diinginkan pada CPO (bleaching section). Bahan baku pada proses ini adalah CPO dan produk yang dihasilkan adalah BPO. Spesifikasi BPO dapat dilihat pada Tabel 3.2 berikut ini.

Tabel 3.2 Spesifikasi BPO

Spesifikasi Frekuensi Target

Colour 1 x 4 jam 11 - 15 R

Peroxide Value 1 x 8 jam Max 3,0

%Moisture 1 x 8 jam Max 0,5

Sumber: (Quality Control PT Tunas Baru Lampung, Tbk, 2024)

Proses chemical refining ini dibagi menjadi dua yaitu proses degumming section dan bleaching section (Production Department PT Tunas Baru Lampung, Tbk, 2024)

2. Degumming Section

Proses degumming bertujuan untuk menghilangkan zat-zat yang terlarut atau zat- zat yang bersifat koloid seperti gum (getah) dan lendir. Di PT Tunas Baru Lampung, Tbk, proses degumming menggunakan asam fosfat (H3PO4). Berikut beberapa control alat yang memegang fungsi pada degumming section sebagai berikut.

a. Phosporic Acid Tank (T-534), merupakan penyimpanan H3PO4 yang akan diinjeksikan

(34)

22 ke Shear Pump (MT-504). Dosis asam fosfat yang digunakan yaitu sebanyak 0,04 – 0,08%.

b. Phosphoric Acid Pump (PT-534AC), merupakan pompa yang mengatur pemakaian H3PO4 yang akan diinjeksikan pada ke Mixer Pump (MT-504).

c. Shear/Mixer Pump (MT-504), merupakan alat yang digunakan untuk mengalirkan sekaligus mengaduk campuran phosphoric acid dan CPO sebelum memasuki Slurry Tank (T-503).

d. Slurry Tank (T-503), merupakan alat yang digunakan untuk mengaduk campuran H3PO4

dan CPO yang berasal dari Shear Pump (MT-504) agar lebih homogen. Proses yang terjadi pada degumming section adalah CPO yang telah dipanaskan dialirkan menuju Mixer Pump (MT-504), dimana akan terjadi proses pencampuran antara CPO dengan asam fosfat, untuk menambah waktu reaksi (reaction time), campuran dialirkan menuju tangki Degumming (T- 503). Pendosingan H3PO4 dilakukan dengan cara mengatur jumlah stroke dozing pump tersebut sesuai dengan persentase pemakaian H3PO4. Setelah dari Tangki Degumming (T-503), campuran dialirkan ke dalam Bleacher Tank (T-635) kemudian menuju Buffer Tank (T-622).

3. Bleaching Section

Proses ini merupakan proses penyerapan senyawa-senyawa yang berpengaruh terhadap warna pada CPO, mengadsorpsi getah yang telah dinetralisisir oleh H3PO4, dan juga sebagai penyaring impurities yang terdapat pada umpan. Bahan yang digunakan pada proses ini adalah bleaching earth, di mana bleaching earth berperan sebagai penyerap yang terdapat dalam minyak mentah, sekaligus juga menyerap zat-zat yang memiliki sifat koloid lainnya seperti gum dan resin. Beberapa control alat yang memegang fungsi pada bleaching section sebagai berikut.

a. Bleaching Tank (T-609A), adalah tangki penampungan bleaching earth sebelum memasuki hopper.

b. Hopper (T-603A), merupakan tangki penampungan sementara bleaching earth sebelum didosingkan ke bleacher tank. Bleaching earth yang didosingkan sebanyak 0,8-2,4%.

c. Mixer & Bleacher Tank (T-635), merupakan tangki tempat pencampuran bleaching earth dengan campuran CPO dan phosphoric acid. Proses di dalam bleacher tank bekerja dalam kondisi vakum dengan menggunakan spurging steam sebagai pengaduk.

Temperatur : 85–115oC

(35)

23

Tekanan : 85–90 mmHg

Tekanan Steam : 4–5 bar

d. Buffer Bleacher Tank (T-622), merupakan tangki penyimpanan minyak sementara sebelum dilanjutkan ke dalam proses penyaringan dalam niagara filter. Buffer Bleacher Tank (T-622) ini bekerja dalam kondisi vakum untuk menarik oksigen dan moisture yang terkandung di dalam CPO.

Temperatur : 85–115oC

Tekanan : 4–5 bar

e. Bleacher Pump (P-622/1/2/3) berfungsi untuk mengalirkan campuran dalam buffer bleacher tank menuju Niagara filter.

Temperatur : 85 – 115oC

Tekanan : 2,0 – 4 bar

Berikut ini uraian proses yang terjadi pada bleaching section, Campuran CPO dan phosphoric acid yang berasal dari Shear Pump (MT-504) dialirkan ke dalam Mixer lalu masuk ke Slurry Tank (T-503) & Bleacher Tank (T-635). Bleaching earth yang berasal dari gudang bleaching dihisap oleh blower menuju ke dalam hopper. Besarnya konsentrasi bleaching earth ke dalam tangki bleaching diatur berdasarkan kadar DOBI CPO yang diproses dan warna dari RBDPO yang diinginkan. Bleaching earth didosingkan ke dalam campuran dengan konsentrasi tertentu. Untuk menghomogenkan campuran, maka dilakukan pengadukan menggunakan steam. Kondisi di dalam bleacher tank diatur under vacuum, yang memiliki tujuan sebagai berikut.

a. Menguapkan moisture yang terdapat pada feed material.

b. Menguapkan steam yang berasal dari spurging steam yang digunakan dalam proses pencampuran bleaching earth dengan campuran CPO dan phosphoric acid.

c. Meniadakan oksigen pada proses bleaching sehingga proses oksidasi tidak terjadi.

Minyak yang telah di-bleaching, selanjutnya dialirkan menuju Niagara filter, minyak tersebut akan disaring menggunakan filter leaves sehingga tahapan ini disebut filtration section.

4. Filtration Section

Filtration Section adalah proses yang bertujuan untuk menyaring BPO dari zat- zat pengotor di mana pada proses ini dilakukan tiga kali penyaringan menggunakan alat utama yaitu niagara filter kemudian dilanjutkan dengan filter bag dan filter cartridge. Niagara filter adalah alat yang berbentuk tabung silinder yang terdiri dari pressures filter leaf,

(36)

24 vibrator, dan corong pembuangan limbah bleaching (spenth earth). Alat ini digunakan untuk menyaring bleaching earth, gum-gum, dan kotoran sehingga minyak yang keluar bersih, yang kemudian akan menuju ke tahap deodorizing. Fungsi penyaringan pada niagara filter ini adalah memisahkan gum- gum, resin, maupun kotoran yang masih terikat pada bleaching earth. Limbah hasil filtrasi ini disebut spenth earth. Beberapa control alat yang memegang fungsi pada filtration section sebagai berikut.

(a) Niagara Filter (PT-616A1, PT-616A2, PT-616A3), adalah alat yang berbentuk tabung silinder yang terdiri dari leaf filter dan corong pembuangan limbah (spenth earth). Alat ini digunakan untuk menyaring bleaching earth, gum-gum, dan kotoran sehingga minyak yang keluar benar-benar bersih. Pada unit refinery, niagara filter berjumlah 3 buah.

Temperatur : 85–115oC Tekanan : Max. 3 bar Kapasitas : 6,3 Ton

(b) Slop Oil Tank (T-682A), merupakan tangki yang digunakan untuk menampung minyak berlebih dan sisa minyak hasil drying filter dari niagara filter sebelum dialirkan lagi ke Mixer & Bleacher Tank (T-635) untuk diproses ulang.

(c) Slop Oil Pump (P-682A), adalah pompa yang digunakan untuk mengalirkan minyak dari slop oil tank ke Bleacher Tank (T-635) kemudian ke Buffer Tank (T-622).

(d) Polishing Filter, adalah proses penyaringan lanjutan dari Niagara filter yang terbagi menjadi dua bagian control alat lagi yaitu.

(e) Filter Bag (616 B1/B2/B3), merupakan alat berbentuk tabung di mana terdapat filter bag di dalamnya sebanyak 2 buah. Filter ini berjumlah tiga buah yang berfungsi memfilter kembali BPO setelah proses filtrasi pada Niagara filter. Filter Catridges (616 C1/C2/C3).

(f) Filter Catridges (616 C1/C2/C3), merupakan alat yang berbentuk tabung di mana terdapat saringan filter catridges di dalamnya sebanyak 20 buah. Filter catridges berjumlah tiga buah yang memiliki fungsi yang sama pada filter bag, yakni untuk memfilter kembali BPO yang telah mengalami proses filtrasi pada Niagara filter.

Berikut ini uraian proses yang terdapat pada filtration section yaitu.

a. Stand By, Pada tahap ini, Niagara filter dikondisikan dalam keadaan siap beroperasi, semua valve ditutup dan pompa dalam keadaan off.

b. Vacuum (V2-A1/A2/A3), Pada tahap ini, Valve (V2-A1/A2/A3) dibuka untuk membuang

(37)

25 sisa udara atau uap-uap yang terdapat di Niagara filter, sehingga pada saat pengisian tidak ada udara di niagara filter. Kondisi vacuum ini bertujuan untuk mengalirkan minyak yang berlebih di dalam Niagara Filter (616A) dan juga untuk mencegah tekanan yang berlebihan di dalam Niagara Filter (616A).

c. Filling (V1-A1/A2/A3), Setelah Niagara filter dipastikan stand by, proses selanjutnya adalah filling atau pengisian. Pada tahap ini, Valve (V1-A1/A2/A3) terbuka. Pompa menuju Niagara Filter (P-622/1/2/3) hidup secara otomatis untuk memompakan minyak dari Buffer Bleacher Tank (T-622) menuju Niagara filter melalui Valve (V1-A1/A2/A3).

Valve (V2-A1/A2/A3) dirancang terbuka agar sisa-sisa udara dan minyak yang telah memenuhi Niagara filter dapat overflow dan keluar melalui valve ini menuju Slop Tank (T-682 A), sehingga dapat dijadikan indikator bahwa minyak telah penuh di Niagara filter dapat dilihat di sight glass di atas Valve (V2-A1/A2/A3), dengan demikian proses pengisian telah selesai.

d. Circulation (V3-A1/A2/A3), Proses circulation bertujuan untuk memfilter minyak secara berulang (sikulasi) sampai minyak terlihat jernih.

e. Filtration, Pada tahapan ini, minyak BPO yang telah jernih dari proses circulation sebelumnya dialirkan ke Buffer Tank (T-682B) melalui Valve (V4-A1/A2/A3).

Kemudian dari Buffer Tank (T-682B) akan dialirkan ke polishing filter untuk disaring kembali untuk menjamin tidak ada kotoran sebelum memasuki

Buffer Tank (T-802). Tahapan ini merupakan tahapan yang paling lama dalam proses Niagara filter harus stabil dan maksimal ±3 bar. Jika lebih, kemungkinan Niagara filter telah tersumbat.

f. Emptying, Proses ini merupakan proses pengosongan niagara filter dari minyak. Emptying selesai apabila tidak ada lagi minyak yang keluar dari niagara filter (dapat dilihat dari sight glass atau alarm low-low level di niagara filter).

g. Cake Drying, Proses ini merupakan proses pengeringan cake dengan steam melalui Valve (V6-A1/A2/A3) sehingga cake tidak mengandung minyak lagi ketika dibuang dan minyak yang hilang berkurang. Sisa minyak hasil drying cake dialirkan melalui Valve (V8-A1/A2/A3) menuju Slop Oil Tank (T-682 A).

h. Post Emptying, Post emptying bertujuan untuk memastikan minyak benar-benar kosong dari niagara filter. Pada proses ini (V8-A1/A2/A3, V7-A1/A2/A3, V12-A1/A2/A3) terbuka menuju slope tank.

i. Ventilation, Proses ini bertujuan untuk menyamakan tekanan dalam niagara filter dengan

(38)

26 tekanan luar agar cake yang keluar tidak berhamburan ke segala arah. Hal ini dikarenakan, tekanan niagara filter yang besar dan menghindarkan gasket discharge valve rusak. Ventilation ini dilakukan dengan cara memasukkan udara melalui valve.

Valve yang terbuka (V2-A1/A2/A3, V8-A1/A2/A3, V7- A1/A2/A3, V12-A1/A2/A3) yang berhubungan dengan udara luar, sehingga tekanan di niagara filter sama dengan tekanan udara luar sebesar 1 atm.

j. Cake Discharge, Cake discharge merupakan proses pembuangan spent earth atau cake keluar dari Niagara filter. Pada tahapan ini, Valve (V9-A1/A2/A3) terbuka sehingga udara bertekanan 6 bar masuk ke vibrator system melalui Valve (V10- A1/A2/A3).

Vibrator menggetarkan filter leaf sehingga spent earth jatuh dari filter leaf melalui (Valve V9-A1/A2/A3) ke tempat penampungan spent earth.

5. Deodorizing Section

Proses pengolahan produk hasil Physical refining, degumming, bleaching, dan filtrasi maka dilanjutkan proses deodorizing. Proses ini merupakan suatu proses destilasi dalam kondisi vakum yang terjadi di dalam tangki deodorizer dan di desain under vacuum (1-3 mmHg/Torr). Proses deodorasi ini bertujuan untuk memisahkan FFA, bahan-bahan yang menimbulkan bau dan rasa yang tidak enak seperti senyawa- senyawa aldehid, keton, dan alkohol, serta zat-zat lainnya yang tidak dapat dipisahkan pada proses degumming maupun bleaching. Pada proses ini FFA, moisture, dan bau akan menguap karena titik didihnya lebih rendah, sedangkan karoten yang terkandung dalam minyak akan pecah. Produk yang dihasilkan pada proses ini adalah RBDPO, PFAD, serta air sisa steam, moisture, dan bau. Sebelum proses deodorasi dilakukan, terlebih dahulu dilakukan proses penambahan citric acid. Proses penambahan citric acid dilakukan dalam kondisi pengolahan olein super dengan dosis pemakaian 0,0005%. Namun pemakaian citric acid dilakukan dengan ketentuan nilai warna R (Red) pada RBDPO ≤ 2,4 yang merupakan standar warna minyak untuk jenis olein super. Proses ini terjadi pada Buffer Tank (T-880). Control alat yang memegang fungsi pada citric acid section sebagai berikut.

a. Citric Acid Tank (T-834), Merupakan penyimpanan citric acid yang akan diinjeksikan pada Buffer Tank (T-880). Di mana di dalam tangki tersebut terdapat produk bottom RBDPO.

Dosis Asam Sitrat : 0,0005%

(39)

27 b. Citric Acid Pump (P-834AC), merupakan pompa yang mengatur pemakaian citric acid

dari Citric Acid Tank (T-834). Kemudian dilanjutkan pada proses deodorizing.

Flowrate: 0,125 Kg/hr

Kemudian dilanjutkan pada proses deodorasi. Berikut ini beberapa control alat yang memegang fungsi pada deodorizing section yaitu.

c. Menara Deodorizer (822 QS), merupakan alat yang berbentuk seperti botol besar, di mana pada bagian atasnya terdapat packed column dan bagian bawahnya terdapat 5 set tray. Fungsi dari Menara deodorizer yaitu untuk:

(a) Memisahkan asam lemak bebas dari minyak (b) Memecahkan pigmen warna (karoten)

(c) Menghilangkan bau yang terkandung dalam minyak sawit.

d. Buffer Tank (T-802), merupakan tangki yang digunakan untuk menampung minyak BPO dari polishing filter. Tangki ini terletak di bagian paling bawah dari deodorizer. Di dalam tangki ini dialirkan spurging steam bertekanan rendah yang berfungsi untuk menguapkan PFAD dari BPO sebelum proses pemisahan lebih lanjut dengan temperatur tinggi di bagian atas dari deodorizer.

e. Daerator Feed Pump (P-802), merupakan pompa yang digunakan untuk mengalirkan minyak BPO dari buffer tank ke Packed Column (821-A) di mana Temperatur dari BPO dinaikkan menjadi 260-265C dan kemudian ke Daerator Tank (T-821 SC).

f. Thermal Oil Heater/ HPS Boiler, adalah alat pemanasan dengan mempergunakan thermal oil fluid sebagai media penghantar panas dan dapat berkerja menghantarkan panas sampai 300C atau lebih. Alat ini berfungsi menaikkan temperatur BPO dari 260- 265C pada Packed Kolom (821-A) yang terdapat di deodorizer. Di Packed Column (821- A), komponen-komponen BPO mulai terpisah yang ditandai dengan berkabutnya hasil pemanasan BPO dalam kolom.

g. Daerator Tank (T-821SC), merupakan sebuah tangki yang di dalamnya terdapat spray nozzle dan jalur vacuum deodorizer. Daerator Tank (T-821SC) berfungsi untuk mengurangi kandungan air, menghilangkan bau, serta menjaga kondisi dan mutu minyak.

Gas buang hasil pemanasan BPO di Packed Column (821-A) dihisap dengan sistem vacuum menuju tangki dirty water. Kemudian gas lain yang merupakan komponen PFAD pada Daerator Tank (T-821SC) dilakukan proses kondensasi dengan spray nozzle sehingga terjadi perubahan fasa menjadi liquid dan dialirkan ke Fatty Acid Tank

(40)

28 sementara (T-814 AG). Sedangkan gas PFAD yang belum bertransisi menjadi liquid dialirkan ke HE- 881AG untuk dikondensasikan lebih lanjut dan dialirkan kembali ke Deodorizer Tank (T-821 SC) dan kembali ke Fatty Acid Tank (T-814AG).

h. Fatty Acid Tank (T-814AG), adalah tangki yang berfungsi untuk menampung fatty acid yang didapatkan dari deodorizer.

i. Fatty Acid Pump (P-814AG), berfungsi untuk mengalirkan fatty acid dari fatty acid tank menuju ke Fatty Acid Cooler (HE-881AG), ke deodorizer, dan ke storage tank.

j. Fatty Acid Cooler (HE-881AG), merupakan heat exchanger berupa plate and frame yang berfungsi untuk mendinginkan PFAD dengan media pendingin air cooling tower.

k. Hot Oil Discharge Pump (P-880), merupakan pompa yang berfungsi untuk mengalirkan RBDPO dari tangki deodorizer menuju ke Shell Tube Heat Exchanger (HE-881X), ke Plate Heat Exchanger (HE-521A), ke Final Oil Cooler (HE-881B), dan ke Polishing Filter (FI-816 C1/C2/C3).

l. Final Oil Cooler (HE-881B)

Final oil cooler merupakan heat exchanger berupa plate yang berfungsi untuk mendinginkan final RBDPO sebelum masuk ke proses fraksinasi dengan media pendingin berupa air cooling.

m. Polishing Filter (FI-816 C1/C2/C3), merupakan sebuah tangki yang di dalamnya terdapat catridge. Polishing filter ini berfungsi untuk memfilter minyak RBDPO sebelum memasuki proses fraksinasi.

Berikut ini uraian proses yang terjadi pada deodorizer section yaitu BPO yang telah mengalami proses penyaringan di dalam niagara filter dan polishing filter akan ditampung Buffer Tank (T-802). Di dalam Buffer tank dialirkan spurging steam bertekanan rendah yang berguna untuk menguapkan PFAD. Dari Buffer Tank, BPO dialirkan oleh Daerator Feed Pump (P-802) menuju Packed Column di bagian paling atas dari deodorizer yakni (821-A) untuk dilakukan pemanasan dari BPO dengan media pemanas berupa aliran oil dari alat thermal oil heater/HPS boiler sehingga Temperatur BPO meningkat menjadi 260-265oC. Dan terjadi proses destilasi kontinyu dalam keadaan vakum. Proses yang terjadi pada deodorizing section terbagi menjadi dua yaitu sebagai berikut.

a. Destilation Process

BPO dengan suhu sekitar ±260˚C masuk ke dalam menara deodorizer. Di dalam deodorizer, FFA, moisture, dan produk secondary oxidation akan menguap karena titik

Gambar

Gambar 1. 2  Lokasi PT Tunas Baru Lampung, Tbk. Cabang Palembang (Sumber : Google  Maps, 2024)
Tabel 2. 3 Standar Mutu CPO  Sifat Fisik dan Kimia  Target
Tabel 2. 5 Kebutuhan Bahan Tambahan pada PT Tunas Baru Lampung, Tbk
Tabel 2.6 Standar Mutu Minyak Goreng Rose Brand
+7

Referensi

Dokumen terkait

Sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan Praktik Kerja Magang yang berjudul “Analisis Kegiatan Training Pada Divisi Human Resource Management Di PT Mayora Indah

Kendala Yang Dihadapi Pada saat penulis melakukan kegiatan Pratik Kerja Lapangan PKL pada PT JNE Cabang Utama Lampung tidak ada masalah yang muncul secara signifikan, namun terdapat

Sebab dari penulis memutuskan Praktik Kerja Lapangan di Mandiri Tunas Finance karena ingin menerapkan ilmu yang sudah diperoleh dari jurusan Sistem Informasi yang didapat di perguruan

3.1.2 Pelaksanaan Kerja Kegiatan yang dilakukan penulis selama melaksanakan PKL di PT Inti Bharu Mas Lampung yaitu membantu dalam melakukan rekap klaim.Prosedur dalam melakukan

Pelaksanaan Kerja Selama penulis melaksanakan praktik kerja lapangan pada bagian Non Pajak di bidang Retribusi & PLL Dinas Pendapatan Provinsi Lampung, penulis telah melakukan

xxxii Gambar.3.17.banner Gambar.3.18.banner 3.2.3 Kendala Yang Dihadapi Selama melakukan kegiatan praktik kerja lapangan, karyawan taman surapati lampung dan penulis menemukan

BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan Selama dua bulan Praktik Kerja Lapangan PKL dilaksanakan di SMP Negeri 5 Bandar Lampung terhitung dari tanggal 10 Juli 20 17 sampai dengan 2

3.1.3 Kendala Yang Dihadapi Kendala yang di hadapi pada saat melakukan PKL di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah BAPPEDA Provinsi Lampung pada bagian Bidang Perencanaan Perekonomian