• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan KP Riqa

N/A
N/A
Jeniko Komi

Academic year: 2025

Membagikan "Laporan KP Riqa"

Copied!
99
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Salah satu mata kuliah yang dipelajari secara teoritis di kampus yaitu Struktur. Struktur adalah bagian-bagian yang membentuk bagunan seperti pondasi, sloof, dinding, kolom, plat lantai, ring balok, kuda-kuda, dan atap. Kegunaan lain dari struktur bangunan yaitu meneruskan beban bangunan dari bagian bangunan atas menuju bagian bagunan bawah, lalu menyebarkananya ke tanah.

Sturktur terbagi atas 2 yaitu struktur atas dan struktur bawah. Struktur bawah (substruktur) adalah bagian-bagian bangunan yang terletak di bawah permukaan tanah. Struktur bawah ini meliputi pondasi dan sloof. Struktur atas adalah bagian struktur bangunan yang berada di atas permukaan tanah. Struktur atas memiliki peran yang penting dalam kekokohan bangunan. Komponen-komponen struktur atas bangunan yaitu kolom, balok, balok latei, ring balok, plat lantai

Perancangan struktur harus memastikan bahwa bagian-bagian system struktur sanggup mengizinkan atau menanggung gaya gravitasi dan beban bangunan, kemudian menyokong dan menyalurkannya ke tanah dengan aman.

Saat ini perkembangan ilmu pengetahuan sudah sangat pesat, begitu juga dengan ilmu Analisa struktur dalam bidang teknik sipil. Saat ini program komputer yang sering kita pakai untuk perhitungan Analisa Struktur adalah seperti program SAP2000, ETABS, STAAD PRO dan masih banyak lagi perangkat lunak lain sejenisnya. Dengan mengikuti mata kuliah Kerja Praktek, maka mahasiswa/i S1 Teknik Sipil dapat mengetahui pengetahuan tentang perhitungan struktur menggunakan SAP2000 Ver 22.

(2)

B. Rumusan Masalah

1 Bagaimana cara menganalisis struktur terlaksana menggunakan SAP 2000 Ver 22.

C. Maksud dan Tujuan

Adapun maksud Kerja Praktek ini adalah: Untuk melakukan analisis struktur menggunakan perangkat lunak SAP 2000 Ver 22 dan hasil perhitungan struktur didasarkan pada pedoman SNI 1726-2019 Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Gedung Gedung dan Non Gedung (edisi 2019).

Adapun Tujuan Penelitian ini adalah:

1 Untuk memahami cara menganalisis struktur terlaksana menggunakan SAP 2000.

D. Metode Penulisan

Metode yang digunakan dalam penulisan laporan kerja praktek ini adalah meliputi :

1. Metode kepustakaan/studi literatur, yaitu dengan cara mengumpulkan data yang berhubungan dengan penulisan, baik di perpustakaan maupun di tempat lain dengan Teknik langsung maupun tidak langsung.

2. Metode pengumpulan data, dengan cara mengumpulkan data primer yaitu melakukan tinjauan langsung di Lokasi kegiatan dan data sekunder di ambil dari instansi serta pihak terkait.

3. Metode pengamatan langsung, yaitu mengadakan pengamatan secara langsung di Lokasi pada waktu pekerjaan berlangsung.

(3)

E. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan laporan kerja praktek ini terdiri dari 5 (lima) bab, dengan rincian sebagai berikut:

Bab I : Pendahuluan

Merupakan bab yang memberikan gambaran umum yang terdiri dari latar belakang masalah, rumusan masalah, maksud dan tujuan kerja praktek, metode penulisan dan sistematika penulisan.

Bab II : Gambaran Umum Proyek / Kegiatan

Yang meliputi gambaran umum Lokasi kerja praktek, tentang lokasi dan aksesbilitas, organisasi dan administrasi proyek, pembagian waktu proyek, serta pekerjaan yang sedang dikerjakan.

Bab III : Kajian Pustaka

Yang berisikan teori-teori dasar yang di gunakan dalam analisis struktur gedung, serta menjelaskan penerapan perangkat lunak SAP 2000 dalan proses analisis tersebut dan Kerangka Pikir.

Bab IV : Pelaksanaan Pekerjaan yang di tinjau

Yang berisikan tahap pelaksanaan pekerjaan yang di tinjau, prosedur analisis yang digunakan, serta hasil analisis struktur Gedung Praktek Siswa SMK Negeri 1 Luwuk menggunakan program aplikasi SAP 2000 Ver 22.

Bab V : Penutup

Yang berisikan kesimpulan dari hasil kerja praktek, dan memberikan saran-saran sehubungan dengan kerja praktek yang telah dilaksanakan.

(4)

BAB II

GAMBARAN UMUM KEGIATAN A. Lokasi dan Aksesbilitas

Lokasi kerja praktek secara umum terletak di Kecamatan Luwuk Kabupaten Banggai Provinsi Sulawesi Tengah, dengan jarak rumah ke lokasi kegiatan ±5km dengan waktu tempuh 10 menit kecepatan 30 Km/jam. Untuk sampai ke Lokasi kegiatan dapat menggunakan kendaraan roda dua/roda empat.

Secara Geografis Kabupaten Banggai Provinsi Sulawesi Tengah terletak pada titik koordinat antara 1220 23’ dan 1240 20’ Bujur Timur, serta 00 30’ dan 20 20’

Lintang Selatan, memiliki Luas wilayah daratan ± 9.672,70 Km² atau sekitar 14,22

% dari luas Provinsi Sulawesi Tengah dan luas laut ± 20.309,68 Km² dengan garis pantai sepanjang 613,25 km. Wilayah Kabupaten Banggai berbatasan dengan : 1. Sebelah Utara berbatasan dengan Teluk Tomini.

2. Sebelah Timur berbatasan dengan laut Maluku dengan Kabupaten Banggai Kepulauan.

3. Sebelah Selatan berbatasan dengan Selat Peling dan Kabupaten Kepulauan.

4. Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Tojo Una-Una dan Kabupaten Morowali Utara.

Untuk lebih jelasnya Lokasi objek kerja praktek dapat dilihat pada gambar 1.

LOKASI KERJA PRAKTEK

(5)

B. Organisasi dan Administrasi Proyek/Kegiatan

Pengertian organisasi yang paling sederhana adalah bersatunya kegiatan- kegiatan dari dua individu atau lebih di bawah satu koordinasi, dan berfungsi mempertemukan menjadi satu tujuan. Semakin melibatkan banyak individu atau kelompok yang berbeda-beda macam kegiatan atau jenjang kewenangannya, bentuk organisasi akan semakin kompleks (Ervianto, 2009:23).

Proyek/kegiatan dapat diartikan sebagai suatu rangkian kegiatan yang hanya satu kali dilaksanakan dan umumnya berlangsung dalam jangka waktu yang pendek (Ervianto, 2009: 13).

Melihat pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa organisasi proyek/kegiatan adalah organisasi yang menggambarkan hubungan antara orang- orang/badan usaha yang terlibat dalam pelaksanaan pekerjaan dalam jangka waktu tertentu untuk mencapai satu tujuan yang diinginkan.

1. Pihak-pihak yang terlibat dalam suatu proyek/kegiatan Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam proyek/kegiatan pembangunan Ruang Praktek SMK Negeri 1 Luwuk yaitu : Fasilitator Perencana : Budiyuwono A.Md.

Fasilitator Pengawas :1.Saiful Adnan, S.T 2.Hendrawan Modiharji Panitia Pelaksana :

1. Penanggung Jawab P2S : Evriati Mahiwa, S.Pd.

2. Ketua : Nursito, S.Pd., M.Pd.

3. Sekretaris : Irwan Yulianto, S.Pd., MM.

4. Bendahara : Nona Konoralma, S.Pd.

5. Anggota (Humas) : Romin Hairun, S.Pd.

6. Anggota (Pendamping Bendahara) : Fatmawati Lapesi 7. Anggota (Foto Progress Banggunan) : Suwarji Husain, S.Pd.

8. Anggota (Penjaga Gudang) : Ardi 9. Satpam

(6)

 Siang hari : Hamdan

 Malam Hari : Jufri Laubi

Pihak-pihak yang terlibat dalam suatu proyek/kegiatan biasanya disebut sebagai proses maanajemen/siklus manajemen yang saling terkait, tidak berdiri sendiri. Pihak atau badan usaha yang terlibat dalam suatu proyek/kegiatan adalah sebagai berikut:

a. Pemilik proyek/kegiatan b. Perencana (Swakelola) c. Pelaksana (Swakelola)

Ketiga pihak tersebut mempunyai tugas dan kewajiban yang berbeda-beda dan dituntut untuk bekerja sama dalam mencapai suatu tujuan yang diinginkan. Penjelasan dari ketiga pihak tersebut adalah sebagai berikut:

a) Pemilik Proyek/kegiatan

Pemilik proyek atau pemberi tugas atau pengguna jasa adalah orang/badan yang memiliki proyek dan memberikan pekerjaan atau menyuruh memberikan pekerjaan kepada pihak penyedia jasa dan yang membayar biaya pekerjaan tersebut. Penggunaan jasa dapat berupa perseorangan, badan/Lembaga/instansi pemerintah mauoun swasta (Ervianto, 2009: 44).

Dalam kegiatan Pembangunan Gedung Praktek Siswa SMK Negeri 1 Luwuk, pemilik proyek/kegiatan yaitu SMK Negeri 1 Luwuk.

b) Perencana (Swakelola)

Selaku perencana dalam pembangunan proyek/kegiatan

pembangunan gedung praktek SMK Negeri 1 Luwuk ini yaitu panitia sekolah.

c) Pelaksana (Swakelola)

Swakelola adalah cara memperoleh barang/jasa yang dikerjakan sendiri oleh Kementerian/Lembaga/ 3 Perangkat Daerah,

Kementerian/Lembaga/Perangkat Daerah lain, organisasi kemasyarakatan,

(7)

Pelaksana proyek/kegiatan Pembangunan Ruang Praktek SMK Negeri 1 Luwuk di Kelola langsung oleh panitia sekolah

d) Pekerjaan Yang Dilaksanakan 1. Data Umum Kegiatan

Data kegiatan Pembangunan Ruang Praktek SMK Negeri 1 Luwuk secara umum dapat diuraikan sebagai berikut :

a. Program : Pembangunan Ruang Praktek Siswa

(RPS) Usaha Perjalanan Wisata.

b. Lokasi : SMK Negeri 1 Luwuk, Jl. Ki Hajar

Dewantoro No.17, Karaton, Luwuk, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah 94711.

c. Nilai Proyek/ kegiatan : Rp. 5.469.276.000 (Lima Milyar Empat Ratus Enam Puluh Sembilan Juta Dua Ratus Tujuh Puluh Enam Ribu Rupiah).

d. Tanggal Kontrak : 15 Juli 2024

e. Waktu Pelaksanaan : 200 (Dua Ratus) Hari Kalender.

f. Batas Pelaksanaan :

g. Pelaksana : Panitia Pembagunan Sekolah (P2S) SMKN 1 Luwuk.

2. Pekerjaan yang di laksanakan

Lingkup pekerjaan yang dilaksanakan dalam pembangunan Ruang Praktek SMK Negeri 1 Luwuk dapat diuraikan sebagai berikut :

A. PEKERJAAN PENYELIDIKAN & UJI MUTU GEDUNG EKSISTING 1. Pek.Penyelidikan Struktur Eksisting

 Hammer Test

 Penyelidikan Tanah Sondir

B. PEKERJAAN GEDUNG PRAKTEK (BLOK-B)

(8)

1. PEKERJAAN PERSIAPAN

 Pek. Pembuatan Papan Nama Proyek

 Job Mix Desain Beton Fc. 21,5 MPa

 Biaya Uji Mutu Beton ( Pondasi Footplat,Sloof, Kolom, Plat dan Ring Balok)

a) Biaya Uji Tarik Baja Tulangan (D10, Ø12,D13,D16) b) Biaya K3 konstruksi

1.1. PEKERJAAN PENGUKURAN & BOUWPLANK

 Pengukuran Menggunakan Theodolite

 Pemasangan Bouwplank 1.2. PEKERJAAN TANAH

 Pek. Galian Tanah Pondasi FootPlate

 Pek. Galian Tanah Pondasi Batu Gunung/Kali

 Pek. Urugan Bekas Galian

 Pek. Tanah Urug Bawah Lantai

 Pek. Urugan Pasir Bawah Lantai & Pondasi

C. PEKERJAAN STRUKTURAL (SEGMEN-A & SEGMEN-B) C.1PEKERJAAN STRUKTUR BAWAH

1. Pekerjaan Pondasi Batu Belah

 Pek. Pas. Batu Kosong

 Pek. Pondasi Batu Gunung/Kali Camp. 1 Pc : 5 Psr 2. Pekerjaan Beton Foot plat-FP1 (F'c 21 MPa)

 Pekerjaan Pengecoran Lantai kerja

 Pekerjaan Pengecoran Beton

 Pekerjaan Pembesian

 Pekerjaan Bekisting 3 x Pakai

3. Pekerjaan Beton Foot plat-FP-2 (F'c 21 MPa)

 Pekerjaan Pengecoran Lantai kerja

 Pekerjaan Pengecoran Beton

 Pekerjaan Pembesian

 Pekerjaan Bekisting 3 x Pakai

(9)

 Pekerjaan Pengecoran Lantai kerja

 Pekerjaan Pengecoran Beton

 Pekerjaan Pembesian

 Pekerjaan Bekisting 3 x Pakai

 Pekerjaan Beton Foot plat-FP-4 (F'c 21 MPa)

 Pekerjaan Pengecoran Lantai kerja

 Pekerjaan Pengecoran Beton

 Pekerjaan Pembesian

 Pekerjaan Bekisting 3 x Pakai

5. Pekerjaan Beton Foot plat-FP-5 (F'c 21 MPa)

 Pekerjaan Pengecoran Lantai kerja

 Pekerjaan Pengecoran Beton

 Pekerjaan Pembesian

 Pekerjaan Bekisting 3 x Pakai

6. Pekerjaan Beton Foot plat-FP-6 (F'c 21 MPa)

 Pekerjaan Pengecoran Lantai kerja

 Pekerjaan Pengecoran Beton

 Pekerjaan Pembesian

 Pekerjaan Bekisting 3 x Pakai

7. Pek. Kolom pedestal K1-40 x 60 (F'c 21 MPa)

 Pekerjaan Pengecoran Beton

 Pekerjaan Pembesian Tul. Pokok

 Pekerjaan Pembesian Tul.Sengkang

 Pekerjaan Bekisting

8. Pek. Kolom pedestal K2- 40 x 50 (F'c 21 MPa)

 Pekerjaan Pengecoran Beton

 Pekerjaan Pembesian Tul. Pokok

 Pekerjaan Pembesian Tul.Sengkang

 Pekerjaan Bekisting

9. Pek. Kolom pedestal K3-40 X 40 (F'c 21 MPa)

 Pekerjaan Pengecoran Beton

 Pekerjaan Pembesian Tul. Pokok

(10)

 Pekerjaan Pembesian Tul.Sengkang

 Pekerjaan Bekisting

10. Pekerjaan Beton Sloof 25/40 SL-1 (F'c 21 MPa)

 Pekerjaan Pengecoran Beton

 Pekerjaan Pembesian Tul. Pokok

 Pekerjaan Pembesian Tul.Sengkang

 Pekerjaan Bekisting

11. Pekerjaan Beton Sloof 15/20 SL-2 (F'c 21 MPa)

 Pekerjaan Pengecoran Beton

 Pekerjaan Pembesian

 Pekerjaan Bekisting 3 Kali Pakai C.2 PEKERJAAN STRUKTUR ATAS

1. Pek. Beton Kolom K1- 40 x 60 (F'c 21 MPa)

 Pekerjaan Pengecoran Beton

 Pekerjaan Pembesian Tul. Pokok

 Pekerjaan Pembesian Tul.Sengkang

 Pekerjaan Bekisting

2. Pek. Beton Kolom K2-40 x 50 (F'c 21 MPa)

 Pekerjaan Pengecoran Beton

 Pekerjaan Pembesian Tul. Pokok

 Pekerjaan Pembesian Tul.Sengkang

 Pekerjaan Bekisting

3. Pek. Beton Kolom K3-40 x 40 (F'c 21 MPa)

 Pekerjaan Pengecoran Beton

 Pekerjaan Pembesian Tul. Pokok

 Pekerjaan Pembesian Tul.Sengkang

 Pekerjaan Bekisting

4. Pek. Beton Kolom K4-25 x 50 (F'c 21 MPa)

 Pekerjaan Pengecoran Beton

 Pekerjaan Pembesian Tul. Pokok

 Pekerjaan Pembesian Tul.Sengkang

(11)

5. Pek. Beton Kolom K5-15 x 35 (F'c 21 MPa)

 Pekerjaan Pengecoran Beton

 Pekerjaan Pembesian

 Pekerjaan Bekisting 3 Kali Pakai 6. Pek. Kolom Praktis KP 10/10 (F'c 21 MPa)

 Pekerjaan Pengecoran Beton

 Pekerjaan Pembesian

 Pekerjaan Bekisting 3 Kali Pakai

7. Pekerjaan Balok Beton B1 30/70 (F'c 21 MPa)

 Pekerjaan Pengecoran Beton 1:2:3

 Pekerjaan Pembesian Tul. Pokok

 Pekerjaan Pembesian Tul.Sengkang

 Pekerjaan Bekisting

8. Pekerjaan Balok Beton B2 30/50 (F'c 21 MPa)

 Pekerjaan Pengecoran Beton

 Pekerjaan Pembesian Tul. Pokok

 Pekerjaan Pembesian Tul.Sengkang

 Pekerjaan Bekisting

9. Pekerjaan Balok B3 25/40 (F'c 21 MPa)

 Pekerjaan Pengecoran Beton

 Pekerjaan Pembesian Tul. Pokok

 Pekerjaan Pembesian Tul.Sengkang

 Pekerjaan Bekisting

10. Pekerjaan Balok Anak B4 20/40 (F'c 21 MPa)

 Pekerjaan Pengecoran Beton

 Pekerjaan Pembesian Tul. Pokok

 Pekerjaan Pembesian Tul.Sengkang

 Pekerjaan Bekisting

11. Pekerjaan Balok Bordes B5 25/30 (F'c 21 MPa)

 Pekerjaan Pengecoran Beton

 Pekerjaan Pembesian Tul. Pokok

 Pekerjaan Pembesian Tul.Sengkang

(12)

 Pekerjaan Bekisting

12. Pek. Balok Latei BL-1 10/18 (F'c 21 MPa)

 Pekerjaan Pengecoran Beton

 Pekerjaan Pembesian

 Pekerjaan Bekisting 3 Kali Pakai 13. Pek. Balok Latei BL-2 10/18 (F'c 21 MPa)

 Pekerjaan Pengecoran Beton

 Pekerjaan Pembesian

 Pekerjaan Bekisting 3 Kali Pakai 14. Pek. Tangga Beton (F'c 21 MPa)

 Pekerjaan Pengecoran Beton

 Pekerjaan Pembesian

 Pekerjaan Bekisting 3 Kali Pakai

 Pek. Beton Plat Lantai Tebal 15 cm (F'c 21 MPa)

 Pekerjaan Pengecoran Beton

 Pekerjaan Pembesian

 Pekerjaan Bekisting 3 Kali Pakai 15. Pek. Ring Balok-RB1 25/30 (F'c 21 MPa)

 Pekerjaan Pengecoran Beton

 Pekerjaan Pembesian Tul. Pokok

 Pekerjaan Pembesian Tul.Sengkang

 Pekerjaan Bekisting

16. Pek. Ring Balok-RB2 (Balok Fasad) 15/25 (F'c 21 MPa)

 Pekerjaan Pengecoran Beton

 Pekerjaan Pembesian Tul. Pokok

 Pekerjaan Pembesian Tul.Sengkang

 Pekerjaan Bekisting 17. Pek. Profil Beton Atap

 Pekerjaan Pengecoran Beton

 Pekerjaan Pembesian

 Pekerjaan Bekisting 3 Kali Pakai

(13)

 Pekerjaan Pengecoran Beton

 Pekerjaan Pembesian

 Pekerjaan Bekisting 3 Kali Pakai 19. Pek. Plat Profil Fasad Depan

 Pekerjaan Pengecoran Beton

 Pekerjaan Pembesian

 Pekerjaan Bekisting 3 Kali Pakai 20. Pekerjaan Rabat Beton 10 cm

 Pek.Cor Beton Lantai Fc' 10 Mpa D. PEKERJAAN ARSITEKTUR

D.1 PEKERJAAN PASANGAN DINDING DAN PLESTERAN

 Pek. Pasangan dinding 1/2 bata Camp. 1 : 5

 Pek. Angkur Dinding (ø10)

 Pek. Pasangan Roster Block Camp. 1 : 3

 Pek. Plesteran Dinding Camp. 1 : 5

 Pek. Plesteran Pondasi, Kolom, Beton lainnya Camp.1 : 3

 Pek. Acian semen Dinding, Beton dan Pondasi

 Pek. Finishing Opening Pintu & jendela

D.2 PEKERJAAN FINISHING LANTAI DAN DINDING

 Pek. Pas. Lantai Homogenous Tile 60 x 60 Cm

 Pek. Pas.Lantai Keramik KM 60 x 60 (unpolised)

 Pek. Pas. Dinding Homogenous Tile 60 x 60 D.3 PEKERJAAN PROFIL BETON & HANDRAIL

 Pek. Pas. Profil Beton Sunscreen 10cm - 15cm

 Pek. Pas.Profil Beton 45cm Lisplank Atap

 Pek. Pas. Besi Handrail Teras D=3"

D.4 PEKERJAAN ATAP & LANGIT LANGIT 1. PEKERJAAN ATAP

 Pek. Pas. Rangka Kuda-Kuda

 Pek. Pas. Balok Gording ,Blk Nok & Blk Angin

 Pek. Bout + Mur Pengunci (D10)

 Pek. Pas. Penutup Atap Spandek

(14)

 Pek. Pas. Bubungan Atap

 Pek. Pas. Lisplank Atap GRC 2 x 20 (Datar)

 Pek. Pas. Lisplank Atap GRC 2 x 30 (Miring)

 Pek. Pas. Flessing Atap

 Pek. Pas. Dinding Atap GRC 8mm + Rangka

 Pek. Pelaburan Kuda-Kuda Dengan Residu/Ter 2. PEKERJAAN LANGIT-LANGIT

 Pek.Rangka Plafond Hollow (2 x 4 & 4 x 4)

 Pek.Plafond Gypsum 9mm

 Pek.Rangka Plafond Hollow (2 x 4 & 4 x 4)

 Pek. Plafond GRC 6 mm

3. PINTU & JENDELA ALUMUNIUM

 Pek. Jendela Type J-1 + Assesoris

 Pek. Jendela Type J-2 + Assesoris

 Pek. Jendela Type J-4 + Assesoris

 Pek. Jendela Type J-3 + Assesoris

 Pek. Pintu Type PJ-1 + Assesoris

 Pek. Jendela V1 + Assesoris

 Pek. Jendela Curtain Wall

 Pek. Pintu Doble Type P-1 + Assesoris

 Pek. Pintu Single Type P-2 + Assesoris

 Pek. Pintu Toilet Jadi (White Coating)

 Pek. Jendela Atap

D.5 PEKERJAAN PENGECATAN & FINISHING LAINNYA

 Pek. Pengecatan Dinding Dalam

 Pek. Pengecatan Dinding Luar

 Pek. Pengecatan Lisplank GRC

 Pek. Pengecatan Plafond

 Pek. Coating Epoxi Lantai Dengan Cat Epoxi

 Pek. Cat Tulisan dengan Cat Ackrilic E. PEKERJAAN ELEKTRIKAL

(15)

 Pek. Box Panel SDP ( 40x60x20 ) cm

 Pek. Instalasi Dari SDP ke Sumber, NYY 4 x 4 mm2

F. PEKERJAAN INSTALASI DAYA & ARMATUR PENERANGAN

 Instalasi penerangan, NYM 3 x 2,5 mm2 + Pipa Conduit

 Instalasi stop kontak, NYM 3 x 2,5 mm2 + Pipa Conduit

 Instalasi Stop Kontak AC NYM 3 x 2,5mm + Pipa Conduit

 Pek. Lampu Downlight Panel + LED 10 Watt

 Pek. Lampu Downlight Panel + LED 12 Watt

 Pek. Lampu Downlight Panel + LED 14 Watt

 Pek. Lampu Downlight Panel + LED 23 Watt

 Pek. Lampu TL 1 x 36 Watt + Kap. Philips Simbat

 Pek. Saklar Ganda

 Pek. Saklar Tunggal

 Pek. Stop Kontak

 Pek. Stop Kontak AC

F.1 PEKERJAAN SISTEM PENANGKAL PETIR

 Pek. Pembumian Electrikal

 Pek. Penangkal Petir Electrostatis G. PEKERJAAN SANITARY DAN PLUMBING

G.1 PEKERJAAN SANITARY

 Pek. Pas. Wastavel Porselin Lengkap

 Pek. Kloset Jongkok Porselin Biasa

 Pek. Pemasangan Urinoir

 Pek. Pemasangan Cermin Wastavel

 Pek. Pembuatan Septictank + Peresapan G.2 PEKERJAAN PLAMBING

 Pek. Pas. Pipa Instalasi Air Buangan 2 1/2" & pipa Dak

 Pek. Pas. Pipa Instalasi Air Kotor Padat 3"

 Pek. Pas. Pipa Instalasi Air Bersih 1/2 "-Type AW

 Pek. Pas. Pipa Instalasi Air Bersih 1"-Type-AW

 Pek. Pas. Kran Air 1/2"

 Pek. Pas. Kran Wastavel 3/4"

(16)

 Pek. Pas. Floor Drain (Wasser/Toto/AS) H. PEKERJAAN KANSTEN TANGGA & RAM

H.1KANSTEN TAMAN

 Pek. Galian Tanah

 Pek. Pasangan dinding 1/2 bata Camp. 1 : 3

 Pek. Plesteran Dinding Camp. 1 : 5

 Pek. Acian semen Dinding

 Pek Urugan Tanah Subur H.2 TANGGA DAN RAM

 Pek. Galian Tanah

 Pek. Urugan Pasir

 Pek. Rabat Beton

 Pek. Pasangan dinding 1/2 bata Camp. 1 : 3 I. PEKERJAAN AKHIR

 Pembersihan Akhir

BAB III

KAJIAN PUSTAKA A. Pengertian, Maksud, dan Tujuan Struktur

Struktur bangunan merupakan susunan komponen yang membentuk sebuah bangunan. Komponen struktur bangunan tersebut meliputi pondasi, balok, kerangka, pelengkung, dinding, serta elemen lainnya.

(17)

Fungsi utama struktur ini adalah sebagai penopang bagi elemen-elemen konstruksi lainnya, seperti interior dan arsitektur bangunan, menjaga kestabilan bangunan dalam berbagai kondisi. Meski memiliki fungsi yang berbeda-beda, namun keseluruhan elemen rangka struktur tetap memiliki tujuan yang sama.

Keberadaan struktur rangka sangat penting dalam dunia konstruksi karena keselamatan orang banyak bergantung pada kekuatannya.

Kerusakan atau kelemahan pada struktur dapat mengakibatkan cedera bahkan kematian. Oleh sebab itu, pembangunan struktur harus dilakukan dengan cermat dan hati-hati agar keamanan dan keselamatan orang terjaga dengan baik.

Suatu bangunan Gedung beton bertulang yang berlantai banyak sangat rawan terhadap keruntuhan jika tidak direncanakan dengan baik. Oleh karena itu, diperlukan suatu perencanaan struktur yang tepat dan teliti agar dapat memenuhi kriteria kekuatan (strength), kenyamanan (serviceability), keselamatan (safety), dan umur rencana bangunan (durability).

Beban-beban yang bekerja pada struktur seperti beban mati (dead load), beban hidup (live load), beban gempa (earthquake), dan beban angin (wind load) menjadi bahan perhtiungan awal dalam perencanaan struktur untuk mendapatkan besar dan arah gaya-gaya yang bekerja pada setiap komponen struktur, kemudian dapat dilakukan analisis struktur untuk mengetahui besarnya kapasitas penampang dan tulangan yang dibutuhkan oleh masing-masing struktur.

B. Bagian-Bagian Struktur Bangunan Gedung 1. Struktur Bawah

Struktur bawah (substruktur) adalah bagian-bagian bangunan yang terletak di bawah permukaan tanah. Struktur bawah ini meliputi pondasi dan sloof.

a) Pondasi

(18)

Pondasi adalah suatu konstruksi pada bagian dasain struktur bangunan (sub-structur) yang berfungsi meneruskan beban dari bagian atas struktur bangunan (upper struktur) ke lapisan tanah yang berada di bagian bawahnya tanpa mengakibatkan keruntuhan geser tanah, dan penurunan (settlement) tanah/pondasi yang berlebihan.

Dalam struktur apapun, beban yang terjadi baik yang disebabkan oleh berat sendiri ataupun akibat beban rencana harus disalurkan ke dalam suatu lapisan pendukung dalam hal ini adalah tanah yang ada di bawah struktur tersebut.

a) Jenis-jenis pondasi

Bentuk pondasi ditentukan oleh berat bangunan dan keadaan tanah disekitar bangunan, sedangkan kedalaman pondasi ditentukan oleh letak tanah padat yang mendukung pondasi.Jika terletak pada tanah miring lebih dari10%, maka pondasi bangunan tersebut harus dibuat rata atau dibentuk tangga dengan bagian bawah dan atas rata.Jenis pondasi dibagi menjadi 2, yaitu pondasi dangkal dan pondasi dalam.

1) Pondasi dangkal

Biasanya dibuat dekat dengan permukaan tanah, umumnya kedalaman pondasi didirikan kurang 1/3 dari lebar pondasi sampai dengan kedalaman kurang dari 3m. Kedalaman pondasi dangkal ini bukan aturan yang baku, tetapi merupakan sebagai pedoman.

Pondasi dangkal juga digunakan bila bangunan yang berada di atasnya tidak terlalu besar. Rumah sederhana misalnya. Pondasi ini juga bisa dipakai untuk bangunan umum lainnya yang berada di atas tanahyang keras. Yang termasuk dalam pondasi dangkal adalah sebagai berikut:

a. Pondasi tapak (padfoundation)

digunakan untuk mendukung beban titik individual seperti untuk kolom

(19)

persegi atau rectangular. Jenis pondasi ini biasanya terdiri dari lapisan beton bertulang dengan ketebalan yang seragam, tetapi pondasi pad dapat juga dibuat dalam bentuk bertingkat atau haunched jika pondasi ini dibutuhkan untuk menyebarkan beban dari kolom berat. Pondasi tapak disamping diterapkan dalam pondasi dangkal dapat juga digunakan untuk pondasi dalam.

Gambar 2 : Tampak depan dan samping pondasi tapak

b. Pondasi jalur/ pondasi memanjang

disebut juga pondasi menerus)adalah jenis pondasi yang digunakan untuk mendukung beban memanjang atau beban garis,baik untuk mendukung beban dinding atau beban kolom dimana penempatan kolom dalam jarak yang dekat dan fungsional kolom tidak terlalu mendukung beban berat sehingga pondasi tapak tidak terlalu dibutuhkan.Pondasi jalur/ pondasi memanjang biasanya dapat dibuat dalam bentuk memanjang dengan potongan persegi ataupun trapesium. Bisanya digunakan untuk pondasi dinding maupun kolom praktis. Bahan untuk pondasi dapat menggunakan pasangan batu pecah.

(20)

Gambar 3 : Detail pondasi memanjang

c. Pondasi tikar/ pondasi raft

digunakan untuk menyebarkan beban dari struktur atas area yang luas, biasanya dibuat untuk seluruh area struktur. Pondasi raft digunakan ketika beban kolom atau beban struktural lainnya berdekatan dan pondasi pada saling berinteraksi. Pondasi raft biasanya terdiri dari pelat beton bertulang yang membentang pada luasan yang ditentukan. Pondasi raft memiliki keunggulan mengurangi penurunan setempat dimana plat beton akan mengimbangi gerakan diferensial antara posisi beban. Pondasi raft sering dipergunakan pada tanah lunak atau longgar dengan kapasitas daya tahan rendah karena pondasi raft dapat menyebarkan beban di area yang lebih besar.

Gambar 4 : Detail pondasi tikar d. Pondasi plat beton lajur

(21)

pondasi yang digunakan untuk mendukung sederetan kolom Pondasi plat beton lajur sangat kuat, sebab seluruhnya terdiri dari beton bertulang dan harganya lebih murah dibandingkan dengan pondasi batu kali.Ukuran lebar pondasi lajur ini sama dengan lebar bawah dari pondasi batu kali, yaitu 70 Cm.

Sebab fungsi pondasi plat beton lajur adalah pengganti pondasi batu kali.

berjarak dekat dengan telapak, sisinya berhimpit satu sama lain.

Gambar 5 : Detail pondasi plat beton lajur

e. Pondasi umpak.

Pondasi ini diletakan diatas tanah yang telah padat atau keras. Sistem dan jenis pondasi ini sampai sekarang terkadang masih digunakan, tetapi ditopang oleh pondasi batu kali yang berada di dalam tanah dan sloof sebagai pengikat struktur, serta angkur yang masuk kedalam as umpak kayu atau umpak batu dari bagian bawah umpaknya atau tiangnya. Pondasi ini membentuk rigitifitas struktur yang dilunakkan, sehingga sistim membuat bangunan dapat menyelaraskan goyangan goyangan yang terjadi pada permukaan tanah, sehingga bangunan tidak akan patah pada tiang- tiangnya jika terjadi gempa.

(22)

Gambar 6 : pondasi umpak

2) Pondasi Dalam

pondasi yang didirikan permukaan tanah dengan kedalam tertentu dimana daya dukung dasar pondasi dipengaruhi oleh beban struktural dan kondisi permukaan tanah, pondasi dalam biasanya dipasang pada kedalaman lebih dari 3 m di bawah elevasi permukaan tanah. Pondasi dalam dapat dijumpai dalam bentuk pondasi tiang pancang, dinding pancang dan caissons atau pondasi kompensasi pondasi dalam dapat digunakan untuk mentransfer beban ke lapisan yang lebih dalam untuk mencapai kedalam yang tertentu sampai didapat jenis tanah yang mendukung daya beban strutur bangunan sehingga jenis tanah yang tidak cocok di dekat permukaan tanah dapat dihindari.

Apabila lapisan atas berupa tanah lunak dan terdapat lapisan tanah yang keras yang dalam maka dibuat pondasi tiang pancang yang dimasukkan ke dalam sehingga mencapai tanah keras (Df/B>10m) tiang-tiang tersebut disatukan oleh poer/pile cap. Pondasi ini juga dipakai pada bangunan dengan bentangan yang cukup lebar (jiarak antar kolom 6m) dan bangunan bertingkat.

Yang termasuk dalam pondasi ini antara lain pondasi tiang pancang, (beton, pipa, besi dan baja), pondasi sumuran.Jenis-jenis pondasi dalam adalah sebagai berikut:

(23)

f. Pondasi tiang pancang

dasarnya sama dengan bore pile,hanya saja yang membedakan bahan dasarnya. Tiang pancang menggunakan beton jadi yang langsung ditancapkan langsung ketanah dengan menggunakan mesin pemancang.

Karena ujung tiang pancang lancip menyerupai paku, oleh karena itu tiang pancang tidak memerlukan proses pengeboran. Pondasi tiang pancang dipergunakan pada tanah lembek, tanah berawa, dengan kondisi daya dukung tanah (sigma tanah) kecil, kondisi air tanah tinggi dan tanah keras pada posisi sangat dalam. Bahan untuk pondasi tiang pancang adalah : bamboo, kayu besi/

kayu ulin, baja, dan beton bertulang.

Gambar 7 : pondasi tiang pancang

b. Sloof

Setelah tahapan pekerjaan pondasi umumnya akan dilanjutkan pekerjaan sloof. Mungkin saja kita akan sangat jarang sekali melihat bentuk dari sloof pada saat bangunan sudah berdiri, sebab sloof ini ada tepat di atas pondasi .

Sloof merupakan jenis konstruksi beton bertulang yang sengaja di desain khusus luas penampang dan jumlah pembesiannya disesuaikan dengan kebutuhan beban yang akan dipikul oleh sloof tersebut nantinya.Untuk menentukan luas penampang (ukuran sloof ini), dibutuhkan perhitungan teknis

(24)

yang tepat agar sloof tersebut nanti "benar-benar mampu" untuk memikul beban dinding bata diatasnya nanti.Untuk itu, ada baiknya kita menggunakan jasa konsultan untuk menghitung dan mendesain dimensi sloof ini.

Gambar 8 : detail sloof

Sloof kadang juga di sebut Tie Beam, atau Grade Beam. Semua wujudnya sama tapi fungsinya yang berbeda-beda. Sloof adalah elemen penting dalam struktur yang berada pada dasar struktur tersebut, sloof serupa dengan balok namun perbedaannya terletak pada tempatnya saja.

Sloof atau Tie Beam sebagian besar sekarang di pakai adalah dari beton bertulang yang di hitung sesuai dengan ketentuan pondasi yang ada dengan dasar mengunakan SNI sebagai sumber acuan perhitungan

Balok sloof adalah salah satu bagian dari struktur sebuah rumah. Balok sloof adalah balok yang berada di atas pondasi sebuah bangunan.Fungsi balok sloof adalah meratakan beban ke seluruh pondasi dari struktur yang ada diatasnya. Selain itu balok sloof juga berfungsi sebagai pengikat dinding bagian bawah agar tidak tetap stabil ketika ada gaya geser atau gaya dorong, serta pergerakan tanah di bawah pondasi.

1. Menentukan dimensi balok sloof yang tepat

(25)

Dimensi balok sloof mengikuti kebutuhan struktur. Namun pada umumnya dimensi balok sloof untuk bangunan rumah tinggal satu lantai adalah ukuran 15 cm x 30 cm. Dan untuk bangunan rumah tinggal dua lantai dimensi balok sloof yang digunakan adalah ukuran 20 cm x 30 cm.Tapi tentu dimensi balok sloof disesuaikan dengan hasil perhitungan struktur. Dimensi balok sloof di atas adalah acuan standar jika kita tidak mempunyai perhitungan struktur yang detail. Karena untuk menghitung desain konstruksi membutuhkan pemahaman mengenai ilmu struktur yang tidak semua orang mempelajari.

Gambar 9 : sloof dimensi 15x30

Tulangan besi beton yang digunakan untuk balok sloof rumah tinggal yang mempunyai lantai satu atau dua adalah besi dengan diameter 12 mm, dengan begel menggunakan besi 6 mm. Jumlah tulangan besi utama yang digunakan untuk balok sloof berjumlah empat buah, dengan jarak sengkang lima belas ( 15 ) cm. Jumlah tulangan, dimensi tulangan dan jarak sengkang yang digunakan diatas adalah untuk konstruksi rumah tinggal lantai satu dan dua dengan konstruksi sederhana.

Yang harus diperhatikan juga untuk struktur balok sloof ini adalah faktor panjang sambungan penulangan.Struktur balok sloof juga berfungsi untuk mengikat kolom bangunan rumah.Agar ikatan antara balok sloof dan kolom kuat, maka diperlukan sambungan yang baik. Panjang sambungan yang dibutuhkan adalah 40d, artinya panjang sambungan yang dibutuhkan empat puluh (40) kali diameter yang digunakan oleh balok sloof.

(26)

Secara garis besar, sloof merupakan elemen struktur konstruksi bangunan yang berada dibagian atas pondasi bangunan.Fungsi dari sloof yaitu mengirim beban bangunan atas ke pondasi, sehingga beban dapat tersalurkan dengan baik ke setiap titik pada pondasi.Selain itu, sloof juga berfungsi untuk mengunci dinding dan kolom agar tetap kuat sehingga tidak roboh ketika terjadi pergerakan tanah. Biasanya untuk bangunan tahan gempa, sloof disempurnakan dengan diberikan angker berdiameter 12 mm dengan jarak 1,5 meter. Angka ini disesuaikan dengan banyaknya tingkat dan tinggi bangunan.

2. Fungsi sloof pada bangunan

Sloof berfungsi untuk bisa memikul beban dinding, sehingga dinding tersebut dapat berdiri pada beton yang cukup kuat, tak terjadi penurunan dan juga pergerakan yang dapat mengakibatkan dinding rumah tinggal Anda jadi retak atau pun pecah. Adapun fungsi dari penggunaan sloof pada bangunan rumah tinggal ini sebagai berikut:

 Sebagai pengikat kolom

 Meratakan gaya bebn dinding pada pondasi

 Menahan gaya beban dinding

 Sebagai balok penahan gaya reaksi tanah yang telah disalurkan dari pondasi lajur

2. Struktur Atas

Struktur atas adalah bagian struktur bangunan yang berada di atas permukaan tanah. Struktur atas memiliki peran yang penting dalam kekokohan bangunan.Komponen-komponen struktur atas bangunan, antara lain:

a. Dinding

Dinding adalah bagian bangunan yang terletak di bagian atas sloof dimana dinding berfungsi sebagai penutup bagaian badan bangunan, penyekat antar ruangan, sebagai elemen estetika / keindahan bangunan bahkan sebagai elemen pemikul konstruksi bagian bangunan lain yang ada diatasnya dan meneruskannya ke balok sloof.

(27)

Dinding adalah suatu struktur padat yang membatasi dan kadang melindungi suatu area. Umumnya, dinding membatasi suatu bangunan dan menyokong struktur lainnya, membatasi ruang dalam bangunan menjadi ruangan-ruangan, atau melindungi atau membatasi suatu ruang di alam terbuka.

Tiga jenis utama dinding struktural adalah dinding bangunan, dinding pembatas (boundary), serta dinding penahan (retaining). Dinding bangunan memiliki dua fungsi utama, yaitu menyokong atap dan langit-langit, membagi ruangan, serta melindungi terhadap intrusi dan cuaca.

1) Jenis-jenis dinding

 Dinding Partisi : Dinding ringan yang memisahkan antar ruang dalam. Terbuat dari gypsum, fiber, tripleks atau Duplex.

 Dinding Pembatas : Untung menandakan batas lahan. Atau bisa disebut dinding Privasi

 Dinding Penahan : Digunakan pada tanah yang berkontur dan dibutuhkan struktur tambahan untuk menahan tekanan tanah.

 Dinding Struktural : Untuk menopang atap dan sama sekalitidakmenggunakan cor beton untuk kolom. Konstruksinya 100% mengandalkan pasangan batubata dan semen.

 Dinding Non-Struktural : Dinding yang tidak menopang beban, hanya sebagai pembatas apabila dinding di robohkan, maka bangunan tetap berdiri. beberapa material dinding non-struktural diantaranya seperti batu bata, batako, bata ringan, kayu dan kaca.

b. Kolom

Kolom termasuk struktur utama untuk meneruskan berat bangunan dan beban lain seperti beban hidup (manusia dan barang), serta beban hembusan angin. Kolom berfungsi sangat penting, agar bangunan tidak mudah roboh.

Kolom adalah batang tekan vertikal dari rangka struktur yang memikul beban dari balok. Kolom merupakan suatu elemen struktur tekan yang memegang peranan penting dari suatu bangunan, sehingga keruntuhan pada suatu kolom merupakan lokasi kritis yang dapat menyebabkan runtuhnya

(28)

(collapse) lantai yang bersangkutan dan juga runtuh total (total collapse) seluruh struktur (Sudarmoko, 1996).

Kolom adalah komponen struktur bangunan yang tugas utamanya menyangga beban aksial tekan vertikal dengan bagian tinggi yang tidak ditopang paling tidak tiga kali dimensi lateral terkecil.

Fungsi kolom adalah sebagai penerus beban seluruh bangunan ke pondasi. Bila diumpamakan, kolom itu seperti rangka tubuh manusia yang memastikan sebuah bangunan berdiri. Beban sebuah bangunan dimulai dari atap. Beban atap akan meneruskan beban yang diterimanya ke kolom. Seluruh beban yang diterima kolom didistribusikan ke permukaan tanah di bawahnya.

Kesimpulannya, sebuah bangunan akan aman dari kerusakan bila besar dan jenis pondasinya sesuai dengan perhitungan. Namun, kondisi tanah pun harus benar- benar sudah mampu menerima beban dari pondasi. Kolom menerima beban dan meneruskannya ke pondasi, karena itu pondasinya juga harus kuat, terutama untuk konstruksi rumah bertingkat, harus diperiksa kedalaman tanah kerasnya agar bila tanah ambles atau terjadi gempa tidak mudah roboh. Struktur dalam kolom dibuat dari besi dan beton. Keduanya merupakan gabungan antara material yang tahan tarikan dan tekanan.

1. Jenis-jenis kolom bangunan

Kolom di klasifikasikan berdasarkan bentuk dan susunan tulangnya, cara pembebanan, posisi beban pada penampang dan panjang kolom dan hubungannya dengan dimensi lateral.

Menurut Wang (1986) dan Ferguson (1986) jenis- jenis kolom ada tiga:

1) Kolom ikat (tie column) 2) Kolom spiral (spiral column)

3) Kolom komposit (composite column)

(29)

Gambar 10. Macam-macam kolom

Dalam buku struktur beton bertulang (Istimawan dipohusodo, 1994) ada tiga jenis kolom beton bertulang yaitu:

a) Kolom menggunakan pengikat sengkang lateral.

Kolom ini merupakan kolom brton yang ditulangi dengan batang tulangan pokok memanjang, yang pada jarak spasi tertentu diikat dengan pengikat sengkang ke arah lateral. Tulangan ini berfungsi untuk memegang tulangan pokok memanjang agar tetap kokoh pada tempatnya.

b) Kolom menggunakan pengikat spiral.

Bentuknya sama dengan yang pertama hanya saja sebagai pengikat tulangan pokok memanjang adalah tulangan spiral yang dililitkan keliling membentuk heliks menerus di sepanjang kolom.

Fungsi dari tulangan spiral adalah memberi kemampuan kolom untuk menyerap deformasi cukup besar sebelum runtuh, sehingga mampu

(30)

mencegah terjadinya kehancuran seluruh struktur sebelum proses redistribusi momen dan tegangan terwujud.

c) Struktur kolom komposit

Merupakan komponen struktur tekan yang diperkuat pada arah memanjang dengan gelagar baja profil atau pipa, dengan atau tanpa diberi batang tulangan pokok memanjang. Untuk kolom pada bangunan sederhan bentuk kolom ada dua jenis yaitu kolom utama dan kolom praktis. 

Gambar 11. Jenis Kolom

Kolom Struktur / Kolom Utama

Yang dimaksud dengan kolom utama adalah kolom yang fungsi utamanya menyanggah beban utama yang berada diatasnya. Untuk rumah tinggal disarankan jarak kolom utama adalah 3.5 m, agar dimensi balok untuk menompang lantai tidak tidak begitu besar, dan apabila jarak antara kolom dibuat lebih dari 3.5 meter, maka struktur bangunan harus dihitung.

Sedangkan dimensi kolom utama untuk bangunan rumah tinggal lantai 2 biasanya dipakai ukuran 20/ 20, dengan tulangan pokok 8  d 12 mm,

(31)

dan begel d 8-1 0cm ( 8 d 12 maksudnya jumlah besi beton diameter 12 mm 8 buah, 8 – 10 cm maksudnya begel diameter 8 dengan jarak 10 cm).

Kolom Praktis (Non Struktur)

Kolom yang berpungsi membantu kolom utama dan juga sebagai pengikat dinding agar dinding stabil, jarak kolom maksimum 3,5 meter, atau pada pertemuan pasangan bata, (sudut- sudut). Dimensi kolom praktis 15/

15 dengan tulangan beton 4 d 10 begel d 8- 20.

Letak kolom dalam konstruksi. Kolom portal harus dibuat terus menerus dari lantai bawah sampai lantai atas, artinya letak kolom- kolom portal tidak boleh digeser pada tiap lantai, karena hal ini akan menghilangkan sifat kekakuan dari struktur rangka portalnya. 

2. Menentukan Dimensi Kolom yang Tepat

Dimensi kolom yang tepat ditentukan berdasarkan beban yang akan ditanggungnya. Beban yang dimaksud adalah beban mati dan beban hidup.

Beban mati adalah beban yang tetap, seperti berat struktur bangunan itu sendiri.

Beban hidup adalah beban yang berubah-ubah, seperti beban orang, furnitur, dan peralatan.

Semakin besar beban yang ditanggung, semakin besar pula dimensi kolom yang dibutuhkan. Untuk menentukan dimensi kolom yang tepat, dibutuhkan perhitungan struktur yang dilakukan oleh insinyur sipil.

Perhitungan ini akan mempertimbangkan berbagai faktor, seperti jenis tanah, material bangunan, dan beban yang akan ditanggung.

c. Balok

Balok merupakan struktur melintang yang menopang beban horizontal.

Balok dalam bangunan sangat penting untuk menjaga stabilitas terhadap gaya kesamping. 

(32)

Gambar 12. Balok

Jika dilihat dari fungsinya maka balok adalah bagian dari struktural sebuah bangunan yang kaku dan dirancang untuk menanggung dan mentransfer beban menuju elemen-elemen kolom penopang yang memiliki fungsi sebagai rangka penguat horizontal bangunan akan beban-beban.

a) Jenis-Jenis Balok

Hingga perkembangan teknologi konstruks saat ini, telah dikembangkan beberapa jenis balok sesuai dengan fungsi dan posisinya pada bangunan.

Berikut ini adalah jenis-jenis balok :

 Balok sederhana

Gambar 13. Balok Sederhana

Balok sederhana bertumpu pada kolom diujung-ujungnya, dengan satu ujung bebas berotasi dan tidak memiliki momen tahan. Seperti struktur statis lainnya, nilai dari semua reaksi,pergeseran dan momen untuk balok sederhana adalah tidak tergantung bentuk penampang dan materialnya.

(33)

 Kantilever

Kantilever adalah balok yang diproyeksikan atau struktur kaku lainnya didukung hanya pada satu ujung tetap. Kantilever menanggung beban di ujung yang tidak disangga.

 Balok Teritisan

Balok teristisan adalah balok sederhana yang memanjang melewati salah satu kolom tumpuannya.

 Balok dengan ujung-ujung tetap

Gambar 14. Balok dengan ujung-ujung tetap

Balok dengan ujung-ujung tetap ( dikaitkan kuat ) dibuat untuk menahan translasi dan rotasi. Ujung-ujung dari balok ini dikunci sedemikian kuat sehingga tidak bergerak ataupun bertotasi karena momen.

 Bentangan tersuspensi

Bentangan tersuspensi adalah balok sederhana yang ditopang oleh teristisan dari dua bentang dengan konstruksi sambungan pin pada momen nol.

 Balok Menerus atau kontinu

Gambar 15. Balok Menerus atau kontinu

(34)

Balok Menerus memanjang secara menerus melewati lebih dari dua kolom tumpuan untuk menghasilkan kekakuan yang lebih besar dan momen yang lebih kecil dari serangkaian balok tidak menerus dengan panjang dan beban yang sama.

b) Menentukan Dimensi Balok yang Tepat

Dimensi balok yang tepat ditentukan berdasarkan beban yang akan ditanggungnya. Beban yang dimaksud adalah beban dari atap, lantai, dan dinding yang akan disangga oleh balok. Semakin besar beban yang akan ditanggung, maka dimensi balok harus semakin besar pula. Untuk menentukan dimensi balok yang tepat, diperlukan perhitungan struktur yang lebih detail oleh ahli struktur.

d. Balok Latei

Balok Latei / Lintel adalah balok beton yang terletak diatas kusen pintu dan jendela dimana fungsi dari balok ini adalah agar kusen tidak menerima beban langsung dari atas melainkan dipikul oleh balok ini sehingga kusen akan tetap kuat dan tidak melengkung karena berat beban dari atas dan ketika terjadi gempa beban tidak menimpa langsung kusen sehingga daun pintu tidak terjepi kusan serta bebas dibuka dan menjadi tempat untuk evekuasi.

e. Ring Balok

Balok Ring adalah balok beton yang terletak diatas dinding bangunan.

Balok ini berfungsi mengikat dinding yang ada dibawahnya, stabilisator dan pengunci ujung atas balok kolom, serta menerima beban dari rangka atap atau bagian lain yang ada diatasnya meratakannya lalu meneruskannya kebagian bangunan yang ada dibawahnya terutama pada balok kolom.

f. Pintu, Jendela, Ventilasi

Pintu adalah tempat keluar masuk orang, hewan, udara , cahaya, barang, dsb keluar / kedalam bangunan atau ruangan.

(35)

Jendela adalah tempat keluar masuknya udara maupun cahaya kedalam bangunan yang bisa dibuka dan ditutup.

Ventilasi adalah tempat keluar masuknya udara maupun cahaya kedalam bangunan yang selalu terbuka. Letak ketiga elemen bangunan ini menjadi satu kesatuan dengan dinding bangunan.

g. Plat Lantai

Plat lantai merupakan elemen kunci dalam konstruksi bangunan yang memegang peran vital dalam menjamin kestabilan, kekuatan, dan keamanan suatu struktur. Dalam industri konstruksi, plat lantai digunakan untuk membentuk lantai yang kokoh dan mampu menopang berbagai beban. 

Plat lantai adalah elemen konstruksi bangunan yang berfungsi sebagai penutup lantai pada suatu struktur. Biasanya terbuat dari bahan beton atau baja dengan ketebalan bervariasi tergantung pada kebutuhan dan beban yang akan ditopang. Fungsi platnya sangat beragam, termasuk memperkuat struktur bangunan, berperan sebagai peredam suara, tempat instalasi kabel listrik, meningkatkan kekakuan bangunan, dan menyalurkan beban ke struktur lainnya.

a) Jenis Jenis Plat Pada Lantai

Dalam konstruksi bangunan, pemilihan jenis plat lantai menjadi faktor krusial yang mempengaruhi kekuatan, stabilitas, dan fungsi bangunan secara keseluruhan. Berikut ini adalah beberapa jenis plat pada lantai yang umum digunakan:

1) Beton Pracetak

Jenis ini diproduksi sebelumnya di pabrik dan kemudian dipasang di lokasi konstruksi. Keunggulan utama adalah efisiensi waktu dan tenaga, karena proses pembuatan dapat dilakukan dalam lingkungan pabrik yang terkendali. Namun, kelemahannya terletak pada kurangnya fleksibilitas desain, karena plat ini pracetak umumnya tersedia dalam ukuran standar.

2) Beton Tempat atau Cor di Tempat

(36)

Pelat lantai ini dibuat secara langsung di lokasi pembangunan. Proses pembuatannya melibatkan pengecoran beton langsung ke dalam bekisting di tempat konstruksi. Keunggulan metode ini adalah fleksibilitas desain yang tinggi, sesuai dengan kebutuhan dan spesifikasi bangunan. Namun, memerlukan waktu lebih lama dan perawatan bekisting yang lebih intensif.

3) Baja

Baja sering digunakan dalam konstruksi bangunan dengan tuntutan estetika dan kekuatan tertentu. Baja memiliki kekuatan yang tinggi, memungkinkan pembuatan plat pda lantai yang relatif tipis namun tetap mampu menopang beban berat. Kelemahan utamanya adalah potensi korosi jika tidak dilindungi dengan baik.

4) Komposit

Plat pada lantai komposit adalah campuran dua atau lebih material untuk memanfaatkan keunggulan masing-masing. Sebagai contoh, plat lantai komposit dapat terdiri dari kombinasi baja dan beton. Keuntungan utamanya adalah kekuatan struktural yang tinggi dengan berat yang relatif ringan.

5) Kayu

Kayu memberikan sentuhan alami pada bangunan dan sering digunakan pada konstruksi rumah tinggal. Kelebihannya meliputi kemampuan isolasi termal yang baik dan penampilan yang estetis. Namun, plat pada lantai kayu memiliki kelemahan terkait daya tahan terhadap kelembapan dan kekuatan struktural yang lebih rendah dibandingkan dengan plat beton atau baja.

b) Fungsi Plat Lantai

Selain memiliki berbagai jenis, ada plat pada lantai juga punya banyak fungsi. Berikut ini adalah beberapa fungsi plat pada lantai.

1) Memperkuat Struktur Bangunan

(37)

Plat pada lantai menambah kekakuan dan kekuatan pada bangunan.

Sehingga dapat menahan berbagai beban yang bekerja pada struktur tersebut.

2) Peredam Suara

Berfungsi sebagai peredam suara antar lantai. Penting untuk menciptakan lingkungan yang nyaman dan mengurangi gangguan suara antar lantai.

3) Tempat Instalasi Kabel Listrik

Memungkinkan pemasangan kabel listrik di bagian atas rumah 2 lantai. Sehingga memudahkan pengaturan dan penyembunyian kabel.

4) Meningkatkan Kekakuan Bangunan

Menyediakan sambungan antara dinding dan balok untuk meningkatkan kekakuan struktural bangunan.

5) Menerima Beban

Berfungsi sebagai penyalur beban ke struktur lainnya, memastikan distribusi beban secara efisien tanpa memberikan tekanan berlebih pada struktur.

c) Keunggulan dan Kekurangan

Penggunaan plat pada lantai meskipun memperkuat struktur bangunan memiliki berbagai kelebihan dan kekurangan. Berikut adalah beberapa keunggulan maupun kekurangannya.

1) Keunggulan

 Konstruksi yang kokoh dan mampu menopang beban berat.

 Tahan terhadap air dan api, membantu mengurangi risiko kebakaran.

 Awet dan perawatannya mudah, dengan daya tahan yang baik terhadap cuaca dan lingkungan.

2) Kekurangan

 Biaya pemasangan yang besar karena memerlukan tenaga kerja, peralatan, dan material yang cukup banyak.

(38)

 Mudah lembap jika tidak dirawat dengan baik, dapat menyebabkan masalah seperti timbulnya jamur atau korosi.

 Sulit diperbaiki jika terjadi retak atau kerusakan, memerlukan biaya dan waktu yang signifikan.

d) Metode Pembuatan Plat Pada Lantai

Tidak hanya banyak varian jenisnya, metode pembuatannya pun berbeda-beda. Berikut beberapa metode pembuatannya.

1) Metode Full Precast

 Diproduksi di pabrik dalam bentuk siap pasang, efisien dalam waktu dan tenaga.

 Kelemahan dalam fleksibilitas desain karena tersedia dalam ukuran standar.

2) Metode Bondek

 Menggunakan sistem komposit dengan plat baja dan tulangan beton.

 Cepat dalam pemasangan dan memberikan hasil yang rapi, cocok untuk bangunan bertingkat sedang hingga tinggi.

3) Metode Half Slab

 Menggunakan plat beton setengah tebal, hemat bahan dan mengurangi beban struktural.

 Keterbatasan dalam desain dan perlu perhatian khusus pada pembebanan dan perencanaan struktur.

4) Metode Konvensional

 Pembuatan dilakukan di lokasi konstruksi dengan bekisting sementara.

 Fleksibilitas desain yang lebih besar, namun membutuhkan waktu lebih lama untuk pemasangan.

5) Metode Cor di Tempat

 Beton dicor langsung di lokasi konstruksi tanpa plat pada lantai pracetak.

 Fleksibilitas desain tinggi, memerlukan waktu lebih lama dan perawatan bekisting.

(39)

e) Menentukan Ketebalan Plat Lantai

Ketebalan plat lantai merupakan faktor penting yang menentukan kekuatan dan kemampuannya untuk menahan beban. Ketebalan plat lantai yang tepat harus disesuaikan dengan beban yang akan ditanggungnya, termasuk:

 Beban mati: Beban dari struktur bangunan itu sendiri, seperti dinding, atap, dan lantai.

 Beban hidup: Beban dari penggunaan bangunan, seperti orang, furnitur, dan peralatan.

 Beban gempa: Beban yang diakibatkan oleh gempa bumi.

C. Pembebanan Struktur Gedung

Pada perencanaan bangunan bertingkat tinggi, komponen struktur direncanakan cukup kuat untuk memikul semua beban kerjanya. Pengertian beban itu sendiri adalah beban-beban baik secara langsung maupun tidak langsung yang mempengaruhi struktur bangunan tersebut. Berdasarkan Peraturan PembebanaIndonesia untuk Gedung 1983 pasal 1 hal 7, dicantumkan bahwa pembebanan yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut ini

1. Beban mati ialah berat dari semua bagian dari suatu gedung yang bersifat tetap, termasuk segala unsur tambahan, penyelesaian-penyelesaian, mesinmesin serta peralatan tetap yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari gedung itu.

2. Beban hidup ialah semua beban yang terjadi akibat penghunian atau penggunaan suatu gedung, dan ke dalamnya termasuk beban-beban pada lantai yang berasal dari barang-barang yang dapat berpindah, mesin-mesin serta peralatan yang tidak merupakan bagian yang tak terpisahkan dari gedung dan dapat diganti selama masa hidup dari gedung itu, sehingga mengakibatkan perubahan dalam pembebanan lantai dan atap tersebut.

Khusus pada atap beban hidup dapat termasuk beban yang berasal dari air hujan, baik akibat genangan maupun akibat tekanan jatuh (energi kinetik) butiran air.

(40)

3. Beban gempa ialah semua beban statik ekivalen yang bekerja pada gedung atau bagian gedung yang menirukan pengaruh dari gerakan tanah akibat gempa itu. Dalam hal pengaruh gempa pada struktur gedung ditentukan berdasarkan suatu analisa dinamik, maka yang diartikan dengan beban gempa di sini adalah gayagaya di dalam struktur tersebut yang terjadi oleh gerakan tanah akibat gempa tersebut.

4. Beban angin adalah semua beban yang bekerja pada gedung atau bagian gedung yang disebabkan oleh selisih tekanan udara.

D. Aplikasi SAP 2000 (Structural Analysis Program)

Gambar 16. Software SAP2000

Pengembangan teknologi dalam bidang rekayasa struktur telah menghadirkan berbagai inovasi yang memungkinkan insinyur untuk melakukan analisis yang lebih akurat dan efisien terhadap berbagai macam struktur bangunan. Salah satu perangkat lunak yang menjadi tulang punggung dalam analisis struktur adalah SAP2000

SAP2000 adalah sebuah perangkat lunak yang dikembangkan olehComputers and Structures, Inc. (CSI) yang memiliki keunggulan dalammenyediakan alat analisis struktur yang kuat, canggih, dan mudah digunakan.Dengan SAP2000, insinyur dan profesional dalam bidang rekayasa struktur dapatmelakukan analisis yang mendalam terhadap berbagai jenis struktur, termasuk bangunan bertingkat, jembatan, gedung industri, dan lainnya.

(41)

Melalui penggunaan SAP2000, pengguna dapat melakukan analisis yang mendalam terhadap kinerja struktur dalam berbagai kondisi beban, mulai dari beban statik hingga beban gempa dan angin. Kemampuan perangkat lunak ini untuk memodelkan struktur secara akurat, menganalisis respons struktural, dan merancang struktur yang efisien telah membantu meningkatkan efisiensi dan keandalan dalam proses rekayasa sipil.

1. Fungsi dan kelebihan SAP 2000

 Fungsi

SAP2000 berfungsi untuk menganalisa semua jenis desain struktural.

Analilsa desain struktur meliputi struktur dasar sampai lanjutan, desain 2D sampai 3D, sampai geometri yang dimodelkan berbasis object praktikal dan intuitif untuk menyederhanakan proses engineering

 Kelebihan

User Interface

a. Tampilan pengguna (UI) SAP2000 menerapkan single user interface, yaitu sistem operasi yang dapat digunakan dalam satu pengguna dalam satu waktu.

b. Dengan dukungan DirectX Graphics, SAP2000 dapat menavigasi model dengan fly-throught dan rotasi cepat. Terutama untuk penyusunan drafting 2D dan 3D

c. Pengguna SAP2000 dapat menyesuaikan tampilan untuk menentukan window maupun toolbar layout.

d. Adanya dockable windows dapat memanipulasi model dengan fleksibilitas ekstrem. Bentuknya dapat berupa floating maupun multiple view.

Modeling

a. Pengguna dapat membuat model structural tanpa penundaan kurva belajar (learning curve) karena atarmuka yang intuitif. Dengan begitu, SAP2000 dapat mengerjakan semua tugas analisis dan desain struktur.

(42)

b. Berbagai opsi permodelan terintegrasi pada satu antarmuka yang meliputi interactive database editing, diaphragm and edge constraint assignment, dan section designer.

c. SAP2000 memiliki fitur meshing untuk menggabungkan mesh secara independen di anatra bingkai, cangkang, objek padat,

Komponen structural

a. Secara otomatis, SAP2000 membuat sambungan di persimpangan objek maupun sambungan internal Ketika menyambungkan objek struktural. Pengguna dapat menampilkan pemindahan, pemasangan, sampai penugasan penyambungan dari layer maupun tabel

b. Formulasi balok-kolom tiga dimensi dapat mencakup efek lentur biaksial, torsi, deformasi aksial, dan deformasi geser biaksial.

c. SAP2000 memiliki build-up library tentang beton standar, baja, dan sifat komposit material berdasarkan standar US dan internasional.

Terutama pada bagian baja non prismatik.

Analisis

a. Pengguna dapat menerapkan fitur fitur canggih analisis standar untuk pertimbanan nonlinier dan dinamis.

b. Fleksibilitas ini membuat SAP2000 dapat digunakan untuk semua jenis analisa struktur mulai analisis statis sederhana, linier-elastis sampai dinamis, serta nonlinier-inelastis.

c. Tersedia metode statis dan dinamis untuk simulasi gempa. Analisis pushover-statis nonlinier mampu mempertimbangkan pola beban yang telah ditentukan, dan kemudian merumuskan kapasitas permintaan, damping, serta perhitungan pola kerja dengan laporan ringkasan yang telah disesuaikan.

(43)

Design

a. Design SAP2000 terintegrasi dengan proses analisis, mengemas hasil analis sebelum mengukur baja dan merancang baja beton bertulang secara otomatis.

b. SAP2000 memastikan struktur desain rangka baja, beton, alumunium dan cold-formed-framing sesuai dengan standar US maupun dunia.

2. Input dan Output SAP 2000

Berikut secara singkat diterangkan langkah‐langkah yang harus dilakukan saat membuat model struktur.

1. Mendefinisikan Unit

Sebelum mulai membuat model terlebih dahulu Unit / satuan harus didefinisikan di awal, hal ini diperlukan agar mempermudah kita dalam menampilkan satuan secara seragam pada hasil yang kita kerjakan.

Gambar 17. Satuan Software SAP2000

2. Permodelan Struktur

Untuk memodelkan struktur kita pilih menu New Model pada toolbar SAP2000 lalu klik 3D Frames

(44)

Gambar 18. New Model

Untuk mengimput ukuran sesuai dengan gambar desain, maka dilakukan edit grid dengan cara klik kanan-edit grid data- Modify/Show system sehingga menampilkan tampilan seperti pada gambar berikut :

Gambar 19. Define grid system data

(45)

3. Menginput Material dan Penampang Struktur

Setelah grid ditentukan, selanjutnya menginput material yang digunakan seperti beton (Concrete), baja tulangan (Rebar), baja ringan (ColdFormed). Untuk menginput material pilih menu Define pada toolbar – Material – Add New Material maka muncul tampilan seperti gambar berikut :

Gambar 20. Add material property

Sebagai contoh jika kita memilih Concrete maka tampilannya seperti gambar berikut :

Gambar 21. Material property data

(46)

Setelah memasukkan data material, maka selanjutnya membuat penampang dimensi struktur dengan masuk pada menu Define pada toolbar – Section property – Frame section – Add new property. Hingga muncul gambar berikut :

Gambar 22. Add frame section property

Untuk model penampang menyesuaikan penampang struktur yang direncanakan, dalam hal ini kita mengambil contoh type Concrete dan berbentuk Rectangular. Setelah dipilih, maka akan muncul tampilan seperti gambar berikut :

Gambar 23. Rectangular section

(47)

Pilih Concrete Reinforcement,

Gambar 24. Concrete Reinforcement dan tampilannya akan seperti ini :

Gambar 25. Reinforcement data kolom Gambar 26. Reinforcement data balok

(48)

Setelah itu atur Set Modifiers untuk permodelan kolom dan balok, tampilan seperti gambar berikut ini :

Gambar 27. Set Modifiers beam Gambar 28. Set Modifiers column

4. Input Pembebanan

Material sudah diisi, bentuk frame sudah ditentukan, maka selanjutnya menginput beban hidup (Live), beban mati (Dead), beban gempa (Quake), dan beban angin (wind). Untuk itu masuk pada menu Define pada toolbar – Load Patterns. Untuk tampilannya seperti pada gambar berikut :

Gambar 29. Define load patterns

(49)

Setelah menginput pembebanan, selanjutnya memasukkan beban mati dan beban hidup pada lantai (shell) dan balok (Freme).

Untuk langkah-langkah memasukkan beban pada pelat lantai masuk pada menu Assign pada toolbar – Area Load-Uniform to frame (shell), setelah itu akan muncul tampilan seperti gambar berikut :

Gambar 30. Assign area uniform loads to frames

Untuk langkah-langkah memasukkan beban pada balok (Frame) masuk pada menu Assign pada toolbar-Frame Load-Distributed, setelah itu akan muncul tampilan seperti gambar berikut :

(50)

Gambar 31. Assign frame distributed loads

5. Membuat Kombinasi Pembebanan

Setelah semua beban telah ditentukan, maka selanjutnnya membuat kombinasi dengan masuk di menu Define pada toolbar-Load Combinations-Add New Combo setelah itu akan muncul tampilan seperti gambar berikut :

Gambar 32. Load combination data 6. Menentukan Reaksi Peletakan

Untuk reaksi peletakan pada pondasi Footplate menggunakan tumpuan jepit. Untuk itu pada menu Assign pada toolbar – Join – Restraints dan pilih peletakan jepit seperti pada gambar berikut :

(51)

Gambar 33. Assign joint restraints

7. Run Analysis

Semua elemen dan langkah penggambaran sudah dilakukan, selanjutnya dilakukan analisa dengan melakukan Running dengan masuk pada menu Analysis pada menu toolbar-Run analysis-Run Now. Untuk tampilannya seperti gambar berikut :

Gambar 34. Set load cases to run E. Spesifikasi Teknis

Kegiatan pada bangunan sipil dapat berjalan dengan baik dan teratur serta dapat di pertanggung jawabkan jika pelaksanaan pekerjaan mengacu dan

(52)

berpegang pada ketentuan spesifikasi teknis kegiatan. Pelaksanaan Pekerjaan Kolom, Balok, dan Plat Lantai Gedung Praktek Siswa.

1. PEKERJAAN PENYELIDIKAN & UJI MUTU GEDUNG EKSISTING a. Pek.Penyelidikan Struktur Eksisting

Eksisting adalah bangunan yang sudah ada dan berdiri selama beberapa waktu. Konsep ini sering digunakan dalam berbagai bidang, seperti arsitektur dan teknik sipil.

Dalam arsitektur, pengertian eksisting digunakan untuk merujuk pada bangunan atau struktur yang sudah ada dan perlu direnovasi atau diperbaiki.

Dalam konteks pemeliharaan, "eksisting" sering digunakan untuk menggambarkan bangunan, infrastruktur, atau fasilitas yang sudah ada dan memerlukan perawatan atau pemeliharaan agar tetap berfungsi dengan baik. Pekerjaan penyelidikan struktur eksisting pada Pembangunan Gedung Praktek Siswa sebagai berikut :

a) Hammer Test

Hammer test beton adalah prosedur pengetesan non-destruktif untuk memvalidasi mutu beton yang sudah mengeras. Nama lain dari hammer test ialah Schmidt Hammer atau Rebound Hammer. Pengetesan ini dengan cara melentingkan palu kecil ke lapisan atas beton dan menghitung tingkat lentingannya.

b) Penyelidikan Tanah Sondir

Pengertian Test sondir adalah teknik pengukuran kekuatan dan kepadatan tanah dengan menggunakan alat yang disebut sondir. Sondir digunakan untuk memperkirakan kekuatan dan kepadatan tanah di bawah permukaan tanah, yang dapat membantu dalam perencanaan konstruksi bangunan dan struktur.

2. PEKERJAAN GEDUNG PRAKTEK

(53)

Pekerjaan persiapan adalah semua kontrak item pekerjaan yang termaksud/dimasukkan kedalam pekerjaan persiapan ini secara perlu dilaksanakan dengan baik. Selama berlangsungnya kontrak dan setalah berakhirnya kontrak, detail disajikan berikut ini:

c) Pembuatan Papan Nama Proyek

Menyiapkan papan nama proyek agar masyarakat sekitar mengetahui bahwa tempat tersebut akan dibangun sebuah bangunan serta jenis kegiatan dan informasi mengenai pekerjaan yang akan dikerjakan. Papan nama proyek merupakan informasi dan wujud transparansi kegiatan kepada masyarakat.

d) Job Mix Desain Beton

Mix Design dalam beton adalah pekerjaan merancang dan memilih material bermutu tinggi untuk kepentingan produksi beton serta menentukan dalam mutu dan kekuatan beton itu sendiri.

e) Uji Mutu Beton

Uji mutu beton adalah suatu proses pengujian terhadap kuat tekan beton untuk mengetahui apa kah beton memenuhi standard yang disyaratkan. Dua perhitungan yang biasa dipakai untuk mengetahui mutu beton adalah menggunakan fc’ dan karakteristik.

f) Uji Tarik Baja Tulangan

Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui mutu baja tulangan berdasarkan nilai uji tarik sesuai SNI. Pengujian tarik dapat memberikan informasi tentang sifat mekanis baja seperti modulus kenyal, batas regang, kekuatan tarik, dan regangan.

g) K3 konstruksi

K3 Konstruksi atau Keselamatan dan Kesehatan Kerja di bidang konstruksi adalah sebuah sistem yang terintegrasi dan diatur oleh

(54)

peraturan perundangan yang bertujuan untuk menjaga dan melindungi pekerja konstruksi dari risiko bahaya di tempat kerja.

h) Pekerjaan Pengukuran & Bouwplank

Pelaksanaan pengukuran dan pemasangan Bouwplank merupakan tahap krusial dalam berbagai proyek konstruksi.

Keberhasilannya bergantung pada pertimbangan yang matang terhadap berbagai faktor, mulai dari kondisi lapangan hingga spesifikasi proyek.

Tanpa pertimbangan yang tepat, kesalahan dalam pengukuran dan pemasangan Bouwplank dapat berakibat fatal, seperti ketidakstabilan struktur, biaya tambahan, dan bahkan kecelakaan kerja.

Metode Pelaksanaan Pekerjaan Pengukuran dan Pemasangan Bouwplank merupakan langkah penting dalam pembangunan konstruksi, karena menentukan kelurusan dan kestabilan struktur.

Bouwplank sendiri seringkali digunakan sebagai acuan untuk pemasangan struktur baja, yang kemudian akan dihubungkan dengan beton. Untuk mengetahui lebih detail mengenai metode pelaksanaan konstruksi baja menggunakan beton, Anda dapat mengunjungi metode pelaksanaan konstruksi baja menggunakan beton.

Proses ini sangat erat kaitannya dengan keakuratan pengukuran dan pemasangan bouwplank, sehingga memastikan kesesuaian dimensi dan kekuatan struktur bangunan secara keseluruhan. Dalam proyek pembagunan Gedung praktek siswa SMKN 1 Luwuk di perlukan kegiatan sebgai berikut :

i) Pengukuran Menggunakan Theodolite

Theodolit adalah alat yang digunakan untuk mengukur sudut vertikal (altitude) dan horizontal (azimuth) posisi sebuah benda. Untuk itu Theodolit juga dapat digunakan untuk mengukur jarak, membuat garis lurus dan bidang datar di atas permukaan tanah.

j) Pemasangan Bouwplank

(55)

Bouwplank adalah sejenis pembatas yang digunakan untuk menentukan batas area kerja pada suatu proyek pembangunan 

Tujuan pemasangan bouwplank adalah untuk :

Menentukan wilayah pekerjaan konstruksi

Memastikan letak bangunan yang tepat

Menentukan ukuran bangunan

Memilih material yang tepat b. Pekerjaan Tanah

a) Galian Tanah Pondasi

Galian tanah pondasi merupakan proses penggalian tanah yang dilakukan untuk membuat ruang atau lubang yang akan diisi dengan pondasi bangunan. Pondasi sendiri merupakan bagian terpenting dari sebuah bangunan karena berfungsi sebagai penyangga beban seluruh struktur bangunan dan mendistribusikan beban ke tanah secara merata.

Galian tanah pondasi ini merupakan tahap awal dalam proses konstruksi bangunan yang menentukan kestabilan dan keawetan bangunan di masa depan. Pada kegiatan pembagunan Gedung ruang praktek galian tanah menggunakan bantuan Excavator.

3. Pekerjaan Persiapan 1) Pengukuran/ Pengambaran

Pengukuran di lakukan untuk mendapatkan data ketinggian dan posisi yang pasti sesuai dengan kondisi lapangan. Satuan volume pekerjaan untuk item ini adalah lump sum (ls) Dimana pengukuran dan penggambaran menjadi satu paket pekerjaan.

a) Papan kegiatan

Papan kegiatan di sediakan oleh penyedia sebanyak 2 buah. Papan kegiatan harus menunjukkan dan memuat nama pemilik pekerjaan/kegiatan

(56)

dan nama penyedia jasa, judul nama kegiatan disertai perkiraan jumlah hari pelaksanaan.

Adapun gambar papan kegiatan yang di maksud dapat di lihat pada gambar 29.

Gambar 35. Papan Kegiatan

b) Gambar Bestek

Gunanya untuk menghitung besarnya masing-masing volume pekerjaan, gambar bestek terdiri dari:

1) Gambar rencana dengan perbandingan tertentu, biasanya digunakan skala 1 : 100 cm

2) Gambar-gambar penjelasan dengan skala 1 : 5 dan 1 : 10 bagi konstruksi konsturksi yang sulit.

Dengan gambar bestek, maka pelaksanaan dapat membayangkan

Referensi

Dokumen terkait

Pondasi merupakan suatu bagian dari konstruksi bangunan yang berfungsi untuk menempatkan bangunan dan meneruskan beban yang disalurkan dari struktur atas ke tanah

Penyaluran beban yang berasal dari bangunan atas ke pondasi dapat berupa beban terpusat melalui kolom yang berhubungan langsung dengan pondasi untuk

Pondasi adalah suatu bagian dari konstruksi bangunan yang berfungsi untuk menempatkan bangunan dan meneruskan beban yang disalurkan dari struktur atas ke tanah dasar pondasi

Pondasi adalah suatu bagian dari konstruksi bangunan yang berfungsi untuk menempatkan bangunan dan menerima penyaluran beban dari struktur atas ke tanah dasar pondasi yang

 Menggambar detail konstruksi pondasi dari batu kali atau rollaag dari bata/ batako lengkap dengan gambar sloof dan elevasi lantai bangunan yang dilakukan untuk penggambaran

Pondasi adalah suatu konstruksi pada bagian dasar struktur bangunan (sub- structure) yang berfungsi meneruskan beban dari bagian atas struktur

Kepala jembatan (abutmen) merupakan suatu bangunan /bagian dari konstruksi jembatan yang menerima beban dari bangunan atas dan tekanan tanah yang selnjutnya akan disalurkan

Dapat dipertimbangkan penggunaan pondasi Tiang Pancang dengan kedalaman pondasi yang disesuaikan dengan beban struktur bangunan atau hingga mencapai pondasi yang