Laporan ini telah disusun dan disetujui sebagai salah satu persyaratan untuk dapat mengikuti jawaban akhir magang. Baiq Elaswari Arimbi) (Neni Yunia Pratiwi). Dalam hal ini saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dan membimbing saya dalam menyelesaikan laporan ini.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tujuan Praktikum
TINJAUAN PUSTAKA
Peralatan laboratorium biasanya dapat rusak atau bahkan berbahaya bila tidak digunakan sesuai prosedur. Pentingnya mengenal peralatan laboratorium adalah mengetahui cara penggunaan peralatan yang baik dan benar, sehingga kesalahan prosedur dalam penggunaan peralatan dapat diminimalisir (Ririn, 2016).
METODOLOGI PRAKTIKUM
Waktu dan Tempat Praktikum
Alat dan Bahan Praktikum
Prosedur Kerja
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Pengamatan
Kami menekan butang kuasa, kemudian dengan menekan butang kami memilih benih untuk mengukur dan memilih jenis benih. Cara ia berfungsi: Letakkan benih yang anda ingin keringkan dalam pasu untuk ketuhar, kemudian tutup pasu dan letakkan di dalam ketuhar.
Pembahasan
Alat ini digunakan sebagai alat penguji perkecambahan benih, benih yang akan berkecambah diletakkan di dalamnya kemudian ditutup. Namun alat ini hanya dapat digunakan untuk menguji jenis benih yang tercantum di layar pemilihan jenis benih.
PENUTUP
Kesimpulan
Saran
Pelaksanaan praktikum
Jika kulit biji berperan sebagai pelindung benih, maka epikotil merupakan bagian embrio yang akan membentuk tunas potensial, dan kotiledon merupakan jaringan penyimpan simpanan makanan. Dimana coleorhiza berperan sebagai pelindung akar, endosperma sebagai tempat penyimpanan persediaan makanan bagi embrio dan kulit biji berperan sebagai pelindung benih.
Waktu Dan Tempat Praktikum
Namun penyediaan benih yang berkualitas dalam jumlah yang cukup dan tepat waktu seringkali menjadi kendala, karena kualitas benih sangat bergantung pada kadar air benih. Kadar air benih memegang peranan penting dalam penyimpanan benih. Kadar air benih dapat merangsang proses respirasi benih sehingga pemecahan cadangan makanan benih meningkat, sehingga mengakibatkan benih kehabisan cadangan makanan pada saat dibutuhkan/berkecambah. . Tujuan penentuan kadar air adalah untuk mengetahui kadar air benih sebelum penyimpanan dan menentukan kadar air yang sesuai selama penyimpanan untuk menjaga viabilitas benih.
Dalam batas tertentu, semakin rendah kadar air benih maka viabilitas benih tersebut akan semakin lama. Cara pengukuran kadar air benih yang paling umum dilakukan adalah dengan cara langsung yaitu mengeringkan benih dalam oven. Penentuan kadar air benih pada suatu kelompok benih sangat penting dilakukan, karena laju kerusakan benih sangat dipengaruhi oleh kadar air benih tersebut.
Sangat penting untuk mengembangkan teknik yang sesuai untuk mengukur kadar air agar dapat mencapai metode pengukuran standar. Keterbatasan disebabkan cara pengolahan benih yang kurang tepat dan relatif tingginya kadar air awal benih sebelum disimpan. Kadar air optimum antara 21-27%, yaitu kondisi atau kondisi dimana benih dapat berkecambah dengan baik.
Alat Dan Bahan Praktimum
Penentuan kadar air adalah banyaknya kadar air dalam benih yang diukur berdasarkan kehilangan kadar air yang dinyatakan dalam % dari berat asli sampel benih. Tujuan penentuan kadar air adalah untuk mengetahui kadar air benih sebelum disimpan dan menentukan kadar air yang benar pada saat penyimpanan guna menjaga viabilitas benih. Dalam pengujian kadar air benih ada beberapa metode yang dapat digunakan yaitu metode dasar atau sering disebut dengan metode oven dan metode praktis.
Berdasarkan pengamatan di laboratorium, setiap benih dengan 4 ulangan mempunyai kadar air yang berbeda. Rata-rata kadar air tertinggi terdapat pada biji jagung, disusul kedelai, dan terendah terdapat pada kacang hijau. Dari data yang dikumpulkan pada praktikum ini, kadar air optimal terdapat pada benih jagung ulangan dengan kadar air sebesar 8,9%.
Kadar air yang terlalu tinggi menyebabkan benih berkecambah sebelum ditanam, sedangkan benih dengan kadar air rendah menyebabkan kerusakan pada embrio. Penerapan metode oven padat suhu tinggi dan benih utuh dalam pengujian kadar air benih kelapa sawit (Elaeis guineensis L. Pengaruh silika gel dan waktu pengeringan terhadap penurunan kadar air dan viabilitas benih kedelai Anjasmoro.
Dengan menggunakan bobot 1000 biji adalah mencari berat rata-rata yang dapat menghasilkan ukuran benih yang konstan. Berat 1000 biji merupakan sifat kuantitatif suatu tanaman, meliputi bagian biji, panjang biji, jumlah biji, berat biomassa dan lain-lain. Biasanya karakter ini ditentukan oleh banyak gen kecil. Untuk menentukan hasil gabah per hektar perlu diketahui bobot 1000 benih, karena bobot 1000 benih relatif konstan sehingga dapat digunakan untuk menyatakan hasil per hektar.
Begitu pula benih yang sudah rusak akan mempunyai bobot lebih rendah dibandingkan benih yang masih mempunyai vigor tinggi. Pengujian mutu fisik benih meliputi pengambilan contoh benih, kadar air benih dan berat 1000 benih. Permasalahan yang muncul dalam rangka perolehan benih adalah menentukan metode penyortiran benih yang efektif untuk memilih benih yang mempunyai mutu fisiologis tinggi.
Penyortiran benih dilakukan dengan cara memilih benih yang mempunyai penampakan bagus, tidak keriput, keras dan matang baik secara fisik maupun fisiologis (Suita et al., 2013). Kegunaan dari bobot 1000 benih adalah untuk mencari rata-rata bobot yang dapat menyebabkan konstannya ukuran benih pada beberapa spesies, karena penggunaan sampel yang terlalu banyak dapat menutupi variasi pada setiap individu tanaman (Imran, 2012). Biasanya karakter ini dikendalikan oleh banyak gen minor. Untuk menentukan hasil gabah per hektar, anda perlu mengetahui berat 1000 biji, karena berat 1000 biji relatif konstan, sehingga dapat digunakan untuk menyatakan hasil per hektar (Nasir 2012).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dengan cara menghitung langsung 1000 biji dengan empat kali pengulangan atau dengan menghitung berat 100 biji dengan delapan kali pengulangan. Untuk cara yang pertama pengerjaannya sangat mudah dan dapat menghasilkan perhitungan berat sebenarnya dari 1000 biji, kekurangannya hanya kurang akurat dalam perhitungan jumlah biji, apalagi biji berukuran kecil sehingga nilai bobotnya 1000 biji salah Setelah menghitung 1000 biji, biji ditimbang dan diketahui beratnya. . Berdasarkan hasil perhitungan 1000 butir beras yang diulang sebanyak 4 kali, diperoleh berat beras sebenarnya sebesar g, berat biji berdasarkan ISTA untuk ukuran kecil kurang dari 20 g, ukuran sedang 20-25 g, sedangkan ukuran besar lebih dari 25g.
Berat 1000 butir beras yang diuji pada beras menunjukkan kualitas beras yang buruk. Hal ini menunjukkan bahwa butiran beras yang diuji memiliki ukuran yang berbeda-beda dan kualitasnya buruk, sehingga dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa beras yang diamati mempunyai cadangan makanan yang kurang optimal, kadar air yang rendah, daya kecambah yang buruk atau viabilitas yang buruk. Untuk benih kacang hijau, jika dihitung 1000 benih dengan empat kali pengulangan, diperoleh berat sebenarnya sebesar g.
Sedangkan perhitungan benih kacang hijau sebanyak 100 benih dengan pengulangan sebanyak 8 kali yang mempunyai berat sebenarnya g. Hal ini menunjukkan bahwa bibit kacang hijau yang digunakan mempunyai kualitas yang sangat baik dan ukurannya yang cukup besar. Benih kacang hijau mempunyai cadangan makanan yang optimal dan kemampuan berkecambah yang baik.
PENUTUP
Persentase perkecambahan adalah proporsi benih yang menghasilkan perkecambahan pada kondisi dan periode tertentu. Daya berkecambah suatu benih dapat diartikan sebagai pembungaan dan perkembangan bagian-bagian penting dari embrio suatu benih, yang menunjukkan bahwa benih tersebut dapat tumbuh secara normal pada lingkungan yang sesuai. Benih yang baik akan menghasilkan kecambah yang normal, sedangkan benih yang rusak dan bermutu rendah akan menghasilkan kecambah atau bibit yang tidak normal atau tidak normal.
Uji perkecambahan dapat diartikan sebagai pembungaan dan perkembangan bagian penting embrio benih yang menunjukkan kemampuannya untuk tumbuh normal pada lingkungan yang sesuai. Pada praktikum ini beberapa benih antara lain benih jagung dan benih kacang-kacangan digunakan sebagai bahan uji perkecambahan. Untuk benih jagung rata-rata jumlah benih yang berkecambah normal adalah 45,5 dan untuk benih kacang-kacangan rata-rata 45,5%.
Sedangkan benih tidak normal lebih banyak lagi, benih abnormal adalah benih yang telah berkecambah dan mempunyai gejala kelainan pada pertumbuhannya, terlihat pada tabel rata-rata benih berkecambah tidak normal untuk benih jagung sebesar 33,5 dan untuk benih kacang hijau rata-rata sebesar 12,66 . Selain benih yang normal dan tidak normal, ada juga benih yang mati, benih yang mati dapat dilihat dari keadaan benih yang sudah busuk, benih tampak agak kecoklatan. Rata-rata benih yang mati pada benih kacang hijau berjumlah 80 benih, sedangkan benih jagung yang mati hanya 21 benih.
TINJAUN PUSTAKA
Bentuk perkecambahan epigeal adalah perkecambahan yang menghasilkan kecambah dengan kotiledon yang muncul dipermukaan tanah (bila ditanam pada media tanah) atau hipokotilnya memanjang sehingga kotiledon atau kotiledonnya terangkat. Sedangkan pada tipe perkecambahan hipogeal, hipokotil tidak memanjang sehingga kotiledon tetap berada di dalam tanah (jika ditanam pada media tanah) (Marthen, dkk. 2013). Jenis perkecambahan berdasarkan letak kotiledon, monokotil dan dikotil akan menghasilkan struktur kecambah yang berbeda.
Sedangkan kontiledon hipogeal terletak di bawah tanah karena adanya pemanjangan ruas batang di atas daun institusi (epikotil), sehingga daun institusi terangkat ke atas permukaan tanah, namun kontiledo tetap berada di dalam tanah. Kedua jenis perkecambahan di atas terjadi pada jenis proses perkecambahan yang berlangsung melalui proses kimia. Sedangkan pada hari pertama radikula belum terlihat, dan pada hari kedua panjang rimpang 0,05 cm, pada hari keenam panjang radikula 1,66 cm. Terjadi penurunan panjang rimpang masing-masing pada hari ketujuh dan kesepuluh, panjang rimpang masing-masing 1,38 cm dan 1,95 cm.
Panjang plumula tertinggi diperoleh pada hari keenam yaitu 0,68 cm, pada hari pertama dan kedua plumula tidak muncul. Dari hasil praktikum yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa tanaman jagung merupakan tanaman yang mempunyai tipe perkecambahan epigeal dimana jika diamati radikula mulai muncul pada hari kedua, sedangkan plumula mulai muncul pada hari ketiga dan pertumbuhan mereka meningkat dari hari ke hari. Perlu diketahui struktur dan jenis perkecambahan, dapat membedakan jenis perkecambahan setiap benih atau tanaman, serta mengetahui tahap perkembangan benih.
Vigor adalah derajat viabilitas benih dan diukur berdasarkan perkecambahan benih, laju perkecambahan, jumlah kecambah normal, pada berbagai lingkungan yang sesuai. Vigor adalah derajat viabilitas benih dan diukur dalam bentuk; benih berkecambah, tingkat perkecambahan, jumlah kecambah normal, di lingkungan berbeda yang sesuai. Siswa dapat memahami dan mengetahui kriteria benih yang normalnya kuat, normalnya tidak kuat, abnormal dan mati.
Nilai indeks vigor merupakan nilai yang dapat mewakili laju perkecambahan benih yang menunjukkan bahwa benih tersebut berkecambah. Vigor benih yang dapat diamati dari penelitian ini adalah vigor penyimpanan, vigor pertumbuhan dan vigor genetik. Benih yang mempunyai laju pertumbuhan dan sinkronisasi pertumbuhan yang tinggi mempunyai tingkat vigor yang tinggi (Zahrotun, dkk. 2017).
Uji tusuk kertas merupakan salah satu metode pengujian kekuatan benih yang dapat digunakan untuk menguji kekuatan benih yang terkena penyakit. Pada praktikum ini digunakan benih yang berbeda untuk diuji kekuatannya yaitu benih jagung dan juga benih kacang hijau. Berdasarkan rata-rata kematian pada tanaman jagung sebesar 4,2 biji dan kacang hijau sebesar 9,33 biji.