Nama : Florentina Nathania Haryanto Kelas : XI MIPA 6
No : 13
Kejar Mimpi
Maudy Ayunda
Andaikan aku bisa Melayang jauh Berteman langit lepas
Terkadang kita lupa Dunia ini tak akan selamanya
Menunggu kita
Menaklukan ragu beranikan diri Kan kukejar mimpi Dan kuterbang tinggi Tak ada kata tidak ku pasti bisa
Kan kucoba lagi Ditemani pagi Tak ada yang tak mungkin
Ku pasti bisa Terkadang kita lupa Dunia ini tak akan selamanya
Menunggu kita
Menaklukan ragu beranikan diri Kan kukejar mimpi Dan kuterbang tinggi Tak ada kata tidak ku pasti bisa
Kan kucoba lagi Ditemani pagi Tak ada yang tak mungkin
Ku pasti bisa Kan kukejar mimpi Dan kuterbang tinggi Tak ada kata tidak ku pasti bisa
Kan kucoba lagi Ditemani pagi
Tak ada yang tak mungkin ku pasti bisa Tak ada yang tak mungkin ku pasti bisa Tak ada yang tak mungkin ku pasti bisa
Ku pasti bisa
Melukis Mimpi
Namaku Aria Amarise. Aku biasa dipanggil Aria. Aku lahir di Samarinda. Sejak kecil aku ingin menjadi atlet bulu tangkis hebat yang sukses membawa nama Indonesia ke dunia.
Namun sejak kecil aku terlahir dengan tidak sempurna secara fisik. Dimana dengan umur sekarang yang sudah bisa dikatakan dewasa, aku akan terus bertubuh kecil sampai kapanpun itu.
Walau dengan kondisiku yang seperti ini, hal ini tidak membuatku untuk menyerah begitu saja dalam memperjuangkan mimpi untuk menjadi atlet bulu tangkis yang hebat di kancah dunia.
Masa kecilku ternyata tak seindah masa kecil anak-anak pada umumnya. Di masa kecilku aku tidak memiliki teman satupun, hanya mamah dan papah yang mau menjadi temanku mereka berdua selalu setia mau mendengarkan tentang cerita-cerita konyol, cerita menggembirakan, cerita sedih, dan tentunya keluh tangisku di setiap harinya. Keluarga kecilku bukan orang yang mampu papahku seorang sopir, dan mamahku penjual kue. Walau begitu aku bersyukur aku dilahirkan di keluarga yang cinta dan tulusnya selalu mengalir bagiku.
Mimpi untuk menjadi atlet bulutangkis ternama pada saat itu muncul dengan sangat tak terduga. Keinginan tersebut muncul pada saat aku berusia 6 tahun, lebih tepatnya pada tahun 2002.
Kejadian yang sebenernya cukup pahit dan sedikit membuat aku ketawa terpingkal-pingkal ketika mencoba untuk mengingatnya lagi,
Ketika aku hanya bocah 6 tahun yang kadang suka cepat bosan tidak betah tinggal lama-lama di rumah yang ingin mencari angin segar dengan cara keliling-keliling desa. Pada saat itupun aku hanya memakai kaos dalam dan celana dalam saja untuk berkeliling desa sangat lucu ketika mengingatnya lagi. Pada saat aku asik dengan dunia ku sendiri dengan berkeliling desa, tidak sengaja mataku tertuju dengan keramaian warga desa yang terjadi pada saat itu.
Entah kenapa aku merasa aneh dengan diriku pada saat itu biasanya aku tidak tertarik dengan keramaian, namun pada saat itu seperti ada hal yang mendorong aku untuk melihat sekilas apa yang sedang terjadi di keramaian tersebut.
Ternyata benar saja aku mengikuti hati nuraniku yang menyuruh diriku untuk melihat sekilas apa yang terjadi. Akhirnya aku mendekati keramaian warga pada saat itu, akhirnya rasa penasaran ku terjawab rupanya warga desa sedang melakukan lomba antardesa. Namun hal yang dilombakan masih asing bagiku. Aku melihat ada 2 orang berdiri di lapangan dengan dibatasi jaring putih, kedua orang tersebut memegang tongkat yang mirip dengan raket nyamuk. Aku kecil begitu penasaran dengan nama permainan yang sedang dilombakan itu, namun aku mengurungkan niat untuk bertanya-tanya kepada orang sekitar, malu dan tentunya tidak ada orang yang aku kenal pada saat itu. Namun tiba-tiba aku terkaget karena seseorang tiba-tiba membisikkan sesuatu ke telingaku
“Itu namanya bulu tangkis dek”
Deg!
Aku hanya terdiam mematung ketika suara itu dibisikkan pada telinga ku. Tentu kaget, aku kecil memberanikan untuk mengangkat kepalanya untuk melihat siapa pelaku yang membuat aku terkejut sekaligus bagaimana orang tersebut bisa membaca pikiranku, seolah dia paham tentang aku yang sedang tenggelam dengan rasa penasaranku tentang permainan itu. Ketika aku mengecek sumber suara tersebut aku tidak menemukan orang yang mencurigakan, tidak berpikir lama-lama akupun lebih memilih menikmati jalannya pertandingan saat itu juga.
Tak terasa aku sudah menikmati jalannya pertandingan selama 20 menit, ternyata menarik juga dilihat-lihat. Tidak peduli panas matahari yang sudah menggerogoti kulitku yang aku pedulikan pada saat itu siapa yang akan menjadi pemenang dalam permainan itu.
Selama pertandingan berlangsung aku sangat mengagumi cara permainan orang berkaos hitam pada saat itu, rambutnya yang hampir habis di kepalanya itu, ia sudah cukup berumur, namun yang membuatku kagum ia bermain seperti layaknya anak muda yang siap membantai habis siapapun lawannya.
Pukulannya yang sangat kencang selalu berhasil membobol pertahanan lawan, itu yang membuatku kagum. Andai ia sedang tidak bermain pasti aku sudah minta tanda tangannya untuk dipajang di kamarku.
Saat asik aku menikmati jalannya pertandingan tiba tiba Tuk!
“Aduh!”
Sontak aku kaget dan kesakitan, ternyata shuttlecock berhasil mendarat tepat kena di ubun- ubun ku hingga saat itu juga aku memutuskan untuk cepat pulang ke rumah jika tidak pulang saat itu juga dijamin orang akan langsung mengecap aku bocah cengeng.
Klek!
Aku membuka kenop pintu dan akhirnya aku merasa lega bisa sampai rumah. Di saat itu juga di benakku mulai dipenuhi dengan permainan bulu tangkis dan om botak berkaos hitam yang berhasil membuat ku terkagum dengan gaya permainannya itu.
Di saat itu juga aku mulai menabung dengan menyisihkan uang jajanku setiap harinya untuk membeli raket dan shuttlecock. Aku senang ketika uangku pada saat itu mulai terkumpul dan aku mencoba untuk membeli keinginanku dan ternyata cukup.
Awal-awal aku mencoba untuk bermain dengan diri sendiri, sederhana aku bermain dengan tembok. Setiap sore aku bermain di depan halaman rumahku, ternyata untuk menjadi Bahagia sesederhana itu. Tak jarang juga anak-anak desa mencemooh ku, tetapi aku tidak
memedulikan semua ucapan mereka itu.
Ketika asik bermain,tiba-tiba mamah datang dan pada saat itu juga aku menyatakan kepada mamah bahwa Aria memiliki mimpi untuk menjadi pebulu tangkis hebat. Ternyata reaksi mamah sesuai dengan ekspektasiku, namun ekspresinya sedikit kebingungan. Tanpa bertanya aku tahu yang dimaksud mamah saat itu juga aku meyakinkan kepada mamah bahwa diriku pasti bisa.
Sore itu aku sedang menjalankan rutinitasku seperti biasa bermain dengan tembok ternyata tidak seburuk itu ternyata. Di tengah serunya permainan aku merasa ada seseorang yang mengawasiku, betul saja dugaanku ternyata benar. Namun orang itu mulai mendekat kepada ku tetapi orang tersebut tak terasa asing, aku pernah merasa diriku bertemu dengannya tapi lupa kapan dan dimana.
“Dek, gaya permainannya sangat keren boleh dong adu sama om.”
Sontak aku kaget mendengarnya ternyata orang yang mengajak bicara denganku adalah orang berkaos hitam dengan kepala botaknya yang pernah membuat diriku terkagum dengan gaya permainan yang pernah ia keluarkan di pertandingan desa.
“B-b-bboleh om…” ucapku sambal bergetar sekaligus senang karena aku tidak pernah menduga hal ini akan terjadi pada diriku, yaitu bermain dengan sang idola.
Di saat itu juga aku bermain bulu tangkis dengan om botak itu, ternyata om botak orangnya sangat seru dan sangat supel aku makin terkagum dengannya hingga kami memutuskan untuk beristirahat sejenak, di sela-sela waktu istirahat om botak sempat bertanya mengenai
mimpiku, dengan percaya diri aku menjawabnya bahwa aku ingin menjadi atlet bulu tangkis yang berhasil membawa nama Indonesia di kancah dunia, om botak tersenyum dengan jawabanku yang begitu polos saat itu. Hingga aku berbalik bertanya padanya mengenai keberadaan keluarganya hingga aku tahu ternyata om botak hanya hidup sendirian di rumah.
Begitu asik percakapan kami yang berlangsung pada sore itu, hingga om botak tiba-tiba menyuruh ku untuk mengikuti lomba bulu tangkis antardesa, ia mengatakan aku anak yang berbakat di dunia bulu tangkis. Awalnya aku ragu dengan ajakan om botak itu tetapi ia berhasil mendorongku sehingga aku mau mengikuti lomba antardesa itu.
Hingga saat itu juga aku rajin mengikuti lomba antardesa, banyak orang yang meremehkanku ketika mereka hanya sekilas melihat fisikku namun itu tidak membuat semangatku menyurut begitu saja, aku menganggap bahan cacian orang-orang adalah bahan yang membuatku makin semangat dalam menjalani hidup.
Ternyata benar saja aku berhasil memenangkan juara bulu tangkis di desa ku, hingga saat itu juga banyak orang yang terkagum dengan kemampuanku.
Perjuanganku tidak sampai begitu saja, dimulai ketika pimpinan desa menyuruhku untuk mengikuti lomba antarkecamatan hingga antarprovinsi. Hingga saat itu pencapaian terbaikku menjadi juara 1 pertandingan bulu tangkis di tingkat provinsi, hingga akhirnya pihak mereka membiayaiku untuk bergabung dengan klub bulu tangkis khusus penyandang disabilitas tingkat nasional.
Tentunya kesempatan ini tidak mau aku sia-siakan begitu saja, di klub tersebut setiap harinya aku melatih skill hingga akhirnya yang aku impikan yaitu mengikuti ajang Paralympic 2022.Aku berhasil menyabet medali emas dalam ajang besar tersebut. Aku bersyukur akan Tuhan atas segala hal yang terjadi pada diriku
Walau aku mengalami keterbatasan fisik hal ini tidak membuat semangatku menyurut dalam memperjuangankan mimpiku untuk menjadi atlet hebat yang membawa