• Tidak ada hasil yang ditemukan

Layanan Pendidikan bagi Siswa Sekolah Dasar

N/A
N/A
Ketut Widiarto

Academic year: 2024

Membagikan "Layanan Pendidikan bagi Siswa Sekolah Dasar"

Copied!
35
0
0

Teks penuh

(1)

i

MAKALAH

PERSPEKTIF PENDIDIKAN SD

MODUL 6

LAYANAN PENDIDIKAN BAGI SISWA SEKOLAH DASAR

Disusun oleh : KELOMPOK 6

SITI FATIMAH (855738753) SITI UMROTUN (855738778) DELPI LESTARI GUSTIN (855738588)

KETUTWIDIARTO (855738667)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS TERBUKA UPBJJ – BANDAR LAMPUNG

2024

(2)

ii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur yang kami sampaikan ke hadirat Tuhan Yang Maha Pemurah, dan maha kasih karena berkat kemurahan-Nya makalah ini dapat kami selesaikan sesuai yang diharapkan.

Dalam makalah ini kami membahas materi tentang "Layanan Pendidikan Bagi Siswa Sekolah Dasar".

Makalah ini dibuat dalam rangka memperdalam pemahaman mata kuliah Perspektif Pendidikan SD yang sangat diperlukan dalam materi perkuliahan demi mendapatkan pemahaman yang maksimal dalam melakukan kegiatannya dan sekaligus melakukan apa yang menjadi tugas mahasiswa untuk memenuhi tugas pembuatan makalah ini. Penulis menyadari bahwa penulis tidak dapat menyusun makalah ini tanpa ada bantuan, bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak. Penulis mengucapkan terimakasih atas dukungan sehingga makalah ini dapat diselesaikan dengan baik.

Dalam pembuatan makalah ini penulis menyadari masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu penulis akan dengan senang hati menerima saran maupun kritik yang sifatnya membangun untuk perbaikan selanjutnya.

Akhir kata penulis mohon maaf apabila ada kekurangaan dalam pembuatan makalah ini, semoga makalah yang telah dibuat dapat bermanfaat bagi semua pembaca.

Sribhawono, 21 Oktober 2024

Penulis

(3)

iii DAFTAR ISI

COVER ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 1

C. Tujuan Penulisan ... 2

D. Manfaat Penulisan ... 2

BAB II PEMBAHASAN KB.1 Prinsip-Prinsip Bimbingan di Sekolah Dasar ... 3

KB.2 Berbagai Layanan Untuk Anak Sekolah Dasar ... 10

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan ... 31

B. Saran ... 31

DAFTAR PUSTAKA ... 32

(4)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Guru, terutama guru SD diharapkan mempunyai pemahaman konseptual tentang perkembangan dan cara belajar anak di SD. Pemahaman konseptual tersebut meliputi gambaran tentang siapa anak SD dan bagaimana mereka berkembang, yang mencakup tentang karakteristik perkembangan anak usia SD dalam berbagai aspek fisik dan motorik, intelektual emosi, bahasa, sosial, moral, sikap dan kesadaran beragama.

Seorang guru juga memegang peranan yang sangat strategis, karena lancar tidaknya proses belajar disekolah, baik buruknya mutu pendidikan sangat tergantung pada guru. Upaya untuk mewujudkan harapan sebagaimana dalam sasaran strategis diatas tidaklah mudah.

Apalagi tantangan yang dihadapi dunia pendidikan di Indonesia saat ini makin besar. Masalah- masalah internal dan eksternal dalam lembaga pendidikan Indonesia juga masih lalu lalang.

Sehingga dalam lembaga pendidikan di Indonesia dibutuhkan sosok menejer pendidikan yang memiliki pemahaman yang bagus dan keahlian memenejer lembaga yang bisa diandalkan. Oleh karena itu sosok menejer pendidikan baik dia kapasitasnya sebagai kepala madrasah, pengasuh pesantren, rector, dekan, kajur harus memiliki paradigma bahwa mereka adalah khadim al ummat (pelayan umat).

Berdasar paparan di atas maka penting kiranya bagi aktivis pendidikan umumnya dan khususnya bagi para guru pendidikan Indonesia untuk memahami dan mengetahui bagaimana menyajikan layanan Pendidikan bagi siswa disekolah dasar yang dapat mendukung pengetahuan guru di bidang bimbingan. Dan untuk maksud itulah makalah ini di buat.

B. RUMUSAN MASALAH 1. Apa arti bimbingan?

2. Apa tujuan bimbingan disekolah dasar?

3. Apa fungsi bimbingan disekolah dasar?

4. Bagaimana penerapan prinsip-prinsip disekolah dasar?

5. Bagaimana peran guru dalam program bimbingan di SD?

6. Bagaimana Cara Menerapkan bimbingan di SD?

7. Bagaimana cara memberikan layanan kepada siswa berbakat?

8. Bagaimana cara memberikan layanan kepada siswa yang memiliki kelainan?

9. Bagaimana cara memberikan layanan kepada siswa yang memiliki kelainan psikis?

10. Bagaimana mengelola program kegiatan ekstrakurikuler>

(5)

2 C. TUJUAN PENULISAN

1. Untuk mengetahui arti bimbingan;

2. Untuk mengetahui tujuan bimbingan disekolah dasar;

3. Untuk mengetahui fungsi bimbingan disekolah dasar;

4. Untuk mengetahui prinsip-prinsip disekolah dasar;

5. Untuk mengetahui peran guru dalam program bimbingan di SD;

6. Untuk mengetahui cara menerapkan bimbingan di SD;

7. Untuk mengetahuicara memberikan layanan kepada siswa berbakat;

8. Untuk mengetahuicara memberikan layanan kepada siswa yang memiliki kelainan;

9. Untuk mengetahui cara memberikan layanan kepada siswa yang memiliki kelainan psikis;

10. Untuk mengetahuimengelola program kegiatan ekstrakurikuler;

D. MANFAAT PENULISAN

Setelah mempelajari makalah ini diharapkan kita dapat mengetahui dan mengerti peranan guru dalam pendidikan secara keseluruhan, guru memiliki peran utama dalam pendidikan, terutama guru yang mengajar di SD. Sebagai guru kelas guru memiliki hubungan dan kedekatan yang sangat erat dengann para siswa.

(6)

3 BAB II PEMBAHASAN

LAYANAN PENDIDIKAN BAGI SISWA SEKOLAH DASAR KB 1. PRINSIP-PRINSIP BIMBINGAN DI SEKOLAH DASAR

A. PENGERTIAN BIMBINGAN

Menurut Agus Taufik (2007), istilah bimbingan pada umumnya dipahami sebagai upaya memberikan arahan, panduan, nasihat dan biasanya mengandung nilai-nilai yang bersifat menuntun ke arah yang baik. Dalam pembahasan ini, bimbingan dipahami sebagai suatu konsep yang menjelaskan bagaimana seharusnya membantu siswa secara tepat dalam keseluruhan upaya pendidikan di sekolah.

Menurut Agus Taufik (2005) bimbingan merupakan terjemahan dari suatu istilah dalam bahasa Inggris, yaitu guidance yang akar katanya adalah guide. Shertzer dan Stone (1966) mengemukakan beberapa padanan dari kata guide yaitu: to direct, pilot, manage or steer. Dalam bahasa Indonesia masing-masing kata ini dapat berarti memandu, mengarahkan, mengatur atau mengemudi. Dalam dunia pendidikan, arti bimbingan adalah membantu, walaupun tidak semua bentuk bantuan berarti bimbingan karena bantuan dalam konteks bimbingan memiliki ciri, persyaratan, prinsip, tujuan dan prosedur tersendiri.

Bimbingan sering dipadankan dengan "konseling" yang diadopsi dari bahasa Inggris yaitu Counseling yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi "penyuluhan". Pada akhir tahun sembilan puluhan, istilah penyuluhan dianggap tidak cocok lagi karena konotasinya lebih bersifat pemberian informasi, sedangkan konotasi konseling lebih bersifat hubungan antar dua pribadi, yaitu antara seorang konselor dengan yang diberi bantuan. Gibson dan Mitchell (1981) menyatakan bahwa: "counseling has been identified as the heart of the guidance program". Konseling telah dikenal sebagai jantungnya program bimbingan.

Berikut dikemukakan definisi bimbingan yang dikemukakan oleh beberapa ahli : 1. Mortensen dan Schmuller (1984) mengartikan bimbingan sebagai bagian integral dari

program pendidikan yang diupayakan oleh staf yang kompeten, bertujuan memberikan bantuan kepada individu untuk dapat mengembangkan kesanggupan dan kemampuannya secara penuh di dalam tatanan kehidupan masyarakat yang demokratis.

(7)

4

2. Edward C. Glanz (1966) mengartikan bimbingan sebagai proses membantu individu untuk memecahkan masalah dan menjadi anggota masyarakat yang bebas dan bertanggung jawab di mana dia hidup.

3. Traxler dan North (1968) mengartikan bimbingan sebagai proses untuk mengenal dan memahami individu serta menciptakan kondisi-kondisi yang memungkinkan individu itu untuk mengenal dan memahami kapasitasnya secara penuh, sehingga pada akhirnya dia dapat membantu dirinya sendiri baik secara ekonomi maupun social.

Perbedaan rumusan definisi bimbingan yang berbeda-beda, disebabkan adanya perbedaan falsafah yang mendasarinya atau karena perbedaan penekanan dan fokus perhatian penulisnya. Jika pada program pendidikan di Sekolah Dasar, bimbingan dapat diartikan sebagai suatu proses pemberian bantuan kepada siswa SD sebagai individu dan sebagai makhluk sosial.

Bantuan diberikan dengan memperhatikan adanya perbedaan individual, yang berarti bantuan itu harus didasarkan atas pemahaman tentang kebutuhan dan karakteristik perkembangan siswa yang bersangkutan. Atas dasar pemahaman tersebut di atas, maka dimungkinkan yang bersangkutan akan dapat memecahkan masalahnya sendiri, sehingga pada gilirannya dapat mencapai perkembangan yang optimal.

Pengertian bimbingan yang cukup komprehensif dikemukakan oleh Rochman Natawidjaja (1984) yaitu sebagai suatu proses pemberian bantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan, supaya individu tersebut dapat memahami dirinya, sanggup mengarahkan dirinya dan dapat bertindak secara wajar sesuai dengan tuntutan dan keadaan lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat serta kehidupan pada umumnya.

Berdasarkan pendapat para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa pengertian bimbingan di Sekolah Dasar adalah proses membantu individu siswa untuk dapat memahami diri, mengenal lingkungan dan merencanakan masa depannya, sehingga dapat diharapkan dapat mencapai perkembangan yang optimal sebagai pribadi dan sebagai anggota masyarakat yang demokratis.

Menurut Agus Taufik (2005) dari definisi tersebut di atas dapat diuraikan sebagai berikut :

Memahami diri mengandung arti bahwa bimbingan dimaksudkan agar siswa mengenal kelebihan dan kekurangan dirinya sendiri serta mampu menerima dirinya secara wajar. Mengenal lingkungan dimaksudkan agar siswa dapat mengenal secara objektif lingkungan sekolah, keluarga, masyarakat dan lingkungan alam sekitarnya, yang meliputi aspek fisik, sosial, ekonomi dan aspek budaya. Contoh

(8)

5

merencanakan masa depan dimaksudkan agar siswa dapat mempertimbangkan dan membuat keputusan tentang masa depan dirinya sendiri, baik menyangkut aspek pendidikan, karier maupun aspek sosial dan budaya. Perkembangan optimal sebagai tujuan akhir bimbingan, berarti tingkat perkembangan yang setinggi-tingginya dalam berbagai aspek psiko-fisiknya, sesuai karakteristik perkembangan dan kesempatan yang ada pada lingkungan sosio budaya yang demokratis.

Di atas telah dikemukakan, bahwa bimbingan merupakan salah satu kegiatan terpadu dalam keseluruhan upaya pendidikan di sekolah. Dengan demikian dapat diartikan bahwa bimbingan merupakan salah satu tugas yang harus dilakukan oleh setiap tenaga kependidikan yang bertugas di sekolah, terutama guru.

B. TUJUAN BIMBINGAN DI SEKOLAH DASAR

Menurut agus Taufik (2007) tujuan program Bimbingan dan Konseling di SD adalah agar semua siswa dapat:

1. Memiliki perasaan positif dalam berinteraksi dengan teman sebaya, guru, orang tua, dan orang dewasa lain;

2. Memperoleh makna pribadi dari belajarnya;

3. Mengembangkan dan memelihara perasaan positif terhadap dirinya, terhadap kekhasan nilai yang dimilikinya serta dapat memahami dan menghubungkan dengan perasaannya;

4. Menyadari akan pentingnya nilai yang dimiliki dan mengembangkan nilai-nilai yang konsisten dengan kebutuhan hidup dalam masyarakat yang majemuk;

5. Mengembangkan dan memperkaya keterampilan studi untuk memaksi-mumkan kecakapan yang dimilikinya;

6. Belajar tentang berbagai macam keterampilan yang diperlukan untuk hidup lebih baik dalam perkembangan yang wajar dan dalam memecahkan masalah-masalah yang mungkin dihadapinya;

7. Mengembangkan keterampilan-keterampilan penyusunan tujuan, perencanaan dan pemecahan masalah;

8. Mengembangkan sikap-sikap positif terhadap kehidupan;

9. Menunjukkan tanggung jawab terhadap tingkah lakunya;

10. Bekerja dengan orang tua dalam berbagai program yang terencana untuk membantu anak mengembangkan sikap dan keterampilan yang dapat memperkaya kemampuan akademik dan kemampuan sosial anak; serta

11. Bekerja sama dengan berbagai pihak untuk memperkaya aktivitas belajar anak

(9)

6

Berdasarkan rumusan tujuan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan bimbingan dan konseling adalah memberi kemudahan belajar pada siswa SD. Mereka dapat belajar dengan percaya diri, menyadari kekurangan dan kelebihannya serta mampu berinteraksi secara baik dengan lingkungannya.

Senada dengan rumusan tujuan di atas, Etty (2005) membedakan tujuan program bimbingan dan konseling di SD menjadi dua bagian, meliputi tujuan umum dan tujuan khusus.

1. Tujuan Umum

Tujuan umum dari pelayanan bimbingan dan konseling adalah terwujudnya manusia Indonesia seutuhnya yang cerdas, yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab, kemasyarakatan dan kebangsaan (Buku I, Panduan Umum Pelayanan Bimbingan dan Konseling, 1995)

2. Tujuan Khusus

Siswa dapat memahami diri sendiri sehingga mampu mengatasi masalah dan kesulitan yang dialami dan menyesuaikan diri dengan lingkungan, baik lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat, selanjutnya dapat menyalur-kan potensi yang dimiliki baik di dalam pendidikan maupun dunia kerja nanti.

C. FUNGSI BIMBINGAN DI SEKOLAH 1. Fungsi Pengungkapan

Berdasarkan fungsi ini pembimbing/guru berusaha untuk mengetahui keadaan diri siswa, dengan cara melakukan pendekatan pada siswa bermasalah agar mau menceritakan atau mengungkapkan masalahnya.

2. Fungsi Penyaluran

Melalui fungsi penyaluran, pembimbing akan mengenali masing-masing siswa secara perorangan, kemudian membantunya mengarahkan kegiatan pada program yang dapat menunjang tercapainya perkembangan yang optimal.

3. Fungsi Penyesuaian

Fungsi penyesuaian adalah pelayanan bimbingan yang berfungsi untuk membantu terciptanya penyesuaian antara siswa dan lingkungannya. Dengan demikian, adanya kesesuaian

(10)

7

antarpribadi siswa dan sekolah sebagai lingkungan merupakan sasaran fungsi ini. Fungsi penyesuaian ini meliputi dua arah, yaitu bimbingan yang bertujuan agar siswa dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungan sekolah, dan pengembangan program pendidikan sesuai dengan keadaan masing-masing.

4. Fungsi Pencegahan

Memberikan bantuan pada siswa untuk memperkirakan hambatan atau gangguan yang timbul dalam diri siswa. Dengan membangkitkan dan menyadarkan siswa akan kekuatan dan potensi yang dimiliki maka akan mencegah timbulnya hambatan atau gangguan yang timbul dari luar diri siswa.

5. Fungsi Perkembangan

Setiap siswa mempunyai potensi yang dapat dan harus dikembangkan semaksimal mungkin. Pengembangan potensi siswa tidak dapat terjadi dengan sendirinya, tanpa ada kemauan dari diri sendiri atau dorongan dari pihak lain, seperti keluarga, sekolah, teman, fasilitas yang tersedia.

6. Fungsi Perbaikan

Fungsi bimbingan bertujuan memberikan bantuan agar siswa memiliki perubahan secara positif, yaitu memperbaiki sekaligus meningkatkan perilaku yang selama ini dianggap kurang baik.

Dari uraian mengenai fungsi-fungsi bimbingan di atas maka Anda sebagai guru SD dapat menerapkan dan memilih salah satu atau menggabungkan beberapa fungsi bimbingan, untuk menangani masalah yang dihadapi siswa di sekolah, sesuai dengan karakter masing- masing anak.

D. PRINSIP-PRINSIP BIMBINGAN DI SD

Menurut Agus Taufik (2005) prinsip-prinsip dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah meliputi beberapa hal berikut.

1. Bimbingan untuk Semua

Setiap siswa memiliki hak yang sama untuk mendapatkan layanan bimbingan dari gurunya, baik mereka yang bermasalah maupun tidak.

(11)

8

2. Bimbingan di SD Dilaksanakan oleh Semua Guru Kelas

Tidak seperti halnya di sekolah lanjutan yang memiliki petugas yang menangani secara khusus bimbingan di sekolah, bimbingan di Sekolah Dasar dilaksanakan oleh guru kelas.

3. Bimbingan Diarahkan untuk Perkembangan Kognitif dan Afektif

Bimbingan diarahkan untuk mengembangkan potensi siswa secara adekuat dan untuk memberikan bimbingan agar mereka mampu berhubungan dengan lingkungan sosialnya secara efektif. Tekanan program bimbingan bukan pada aspek remidiasi (penyembuhan) melainkan pada pengembangan aspek-aspek kognitif dan afektif siswa

4. Bimbingan Diberikan secara Insidental dan Informal

Program bimbingan memberikan pengalaman yang runtut dan berkelanjutan membantu siswa mencapai tugas perkembangan baik dalam aspek intelektual maupun aspek emosional.

Fungsi bimbingan adalah membantu siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran sesuai yang tertera dalam kurikulum. Oleh karena itu, para guru membutuhkan keterampilan-keterampilan bimbingan untuk membuat kurikulum menjadi pengalaman yang bermakna bagi setiap siswa

5. Bimbingan Ditekankan pada Tujuan Belajar dan Kebermaknaan Belajar

Harus ada kesesuaian tujuan belajar baik bagi siswa maupun guru. Perencanaan guru dan penilaian siswa adalah prosedur dasar untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.

6. Bimbingan Difokuskan pada Aset

Upaya guru dalam membantu siswa harus bertitik tolak dari potensi siswa, dan melakukan apa yang terbaik untuk siswa. Tindakan guru merupakan proses yang membuat siswa melakukan sesuatu kegiatan sesuai dengan kekuatan atau potensi yang dimiliki siswa.

7. Bimbingan terhadap Proses Pendewasaan

Guru atau pembimbing mengakui bahwa siswa tengah mengalami proses menjadi, sehingga guru harus lebih banyak melihat anak dari sisi positif daripada negatifnya.

8. Program Bimbingan Dilaksanakan secara Bersama

Program bimbingan dapat terlaksana secara efektif jika diupayakan melalui kerja sama yang baik antara guru, siswa, orang tua siswa, tenaga administrasi dan sumber- sumber daya yang ada di masyarakat sekitar.

(12)

9

E. PERAN GURU DALAM PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING

Bimbingan merupakan upaya pemberian bantuan yang berkesinam-bungan dan sistemik yang diberikan kepada siswa, agar dapat mencapai perkembangan yang optimal. Bimbingan juga merupakan bagian terpadu dari keseluruhan upaya pendidikan di sekolah di samping bidang pengajaran dan administrasi pendidikan.

Keseluruhan bidang tersebut bertujuan agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara optimal. Hasil belajar siswa akan lebih memadai, apabila semua guru di sekolah menerapkan fungsi bimbingan pada waktu mengajar di kelas. Peranan guru sebagai seorang pengajar, pendidik dan juga sebagai pembimbing dapat diwujudkan dalam bentuk membimbing siswa, menentukan tujuan yang hendak dicapainya, dan membimbing siswa dalam menilai keberhasilannya dalam pendidikan.

Menurut Traxler (dalam HM Surya, 2005) dikatakan bahwa dalam menjalankan tugas, seorang guru telah melakukan tugas rangkap dalam mengajar sekaligus melakukan bimbingan.

Namun tidak semua guru melakukan tugas rangkap itu secara sadar, berencana dan berkesinambungan. Keberhasilan dalam bimbingan sangat tergantung dari eratnya hubungan antara siswa dengan pembimbing. Dalam beberapa hal, guru lebih berhasil dalam memberikan bimbingan, karena hubungannya yang sangat dekat dengan siswa, lebih-lebih pada siswa Sekolah Dasar. Pada umumnya, bimbingan yang dilakukan guru dilakukan melalui kegiatan kelompok sambil memberikan pelajaran di kelas.

Peran guru sebagai seorang pengajar dan sekaligus sebagai pembimbing, dapat Anda simak dalam ilustrasi berikut.

Bu Tika mengajar di kelas dua, masuk kelas seperti biasa dan memulai pelajaran dengan menanyakan pada ketua kelas, siapa saja yang tidak hadir pada hari itu. Selanjutnya bu Tika menunjuk Yudi untuk membaca cerita yang tertera dalam materi pelajaran. Walaupun Yudi dapat membaca dengan lancar, namun pada bacaan yang mengandung huruf "R" tidak dapat melafalkan dengan jelas sehingga teman- teman Yudi ada yang tertawa, ada yang ribut sendiri karena tidak mendengar suara Yudi. Melihat kondisi seperti ini, terbesit dalam diri bu Tika, bagaimana caranya agar anak-anak mampu menerima kekurangan orang lain di samping juga mengakui keunggulannya. Pada saat pembahasan materi, bu Tika menyampaikan pesan kepada semua siswa yang dikemas dalam bentuk bimbingan. Bu Tika mulai dengan ucapan, bahwa tidak ada orang yang ditakdirkan dengan kondisi sangat sempurna, semua orang pasti memiliki kekurangan di samping kelebihannya. Dengan demikian, teman-teman tidak perlu mengejek atau menertawakan bila mengetahui kekurangan teman. Bagi siswa yang

(13)

10

mempunyai kekurangan tidak perlu merasa rendah diri, sedangkan yang merasa memiliki kelebihan tidak perlu terlalu menonjolkan kelebihannya itu, apalagi bersikap sombong.

Bimbingan di Sekolah Dasar bukan merupakan suatu pelayanan yang bersifat khusus sebagaimana layanan bimbingan di sekolah lanjutan pada umumnya. Menurut Lioyd-Jones dan Wolf (dalam Agus Taufik, 2005) titik berat dan kepedulian bimbingan di Sekolah Dasar adalah pada masalah perkembangan siswa. Sejalan dengan pendapat di atas, Farwell dan Peter menyatakan bahwa titik berat bimbingan di Sekolah Dasar adalah pada pengembangan pemahaman diri dan memberi kemudahan pada siswa. Mengingat seorang guru merupakan kunci dalam pelaksanaan bimbingan di Sekolah Dasar, maka dalam melaksanakan bimbingan tersebut hendaknya dilakukan secara terencana, dan perlu dirumuskan tentang tujuan, aktivitas, metode dan penilaian keberhasilan dalam bimbingan.

KB 2. BERBAGAI LAYANAN PENDIDIKAN UNTUK ANAK SEKOLAH DASAR Berbagai layanan pendidikan di SD meliputi :

A. LAYANAN PENDIDIΚΑΝ ΑΝΑK BERBAKAT 1. Pengertian Anak Berbakat

Pengertian mengenai anak berbakat sangat beragam, tergantung dari perkembangan pandangan masyarakat terhadap keberbakatan. Anak berbakat adalah anak yang memiliki skor IQ 130 atau 140. yang menunjukkan secara konsisten penampilan luar biasa hebat dalam suatu bidang yang berfaedah (Astati, 2007).

Menurut Clark (dalam Astati) anak berbakat adalah anak yang menunjukkan kemampuan/penampilan yang tinggi dalam bidang-bidang, seperti intelektual, kreatif, seni, kapasitas kepemimpinan atau bidang akademik khusus, dan bidang yang memerlukan pelayanan-pelayanan atau aktivitas-aktivitas yang tidak biasa disediakan oleh sekolah, agar tiap kemampuan anak berkembang secara penuh.

Menurut Utami Munandar (1995) anak berbakat adalah mereka yang didefinisikan oleh orang-orang profesional mampu mencapai prestasi yang tinggi karena memiliki kemampuan- kemampuan yang luar biasa. Mereka menonjol secara konsisten dalam salah satu atau beberapa bidang, meliputi bidang intelektual umum, bidang kreativitas, bidang seni/kinetik, dan bidang psikososial/kepemimpinan. Mereka memerlukan program pendidikan yang berdiferensiasi dan

(14)

11

atau pelayanan di luar jangkauan program sekolah biasa, agar dapat merealisasikan urunan mereka terhadap masyarakat maupun terhadap diri sendiri.

Dalam UUSPN No.2 Tahun 1989, disebutkan bahwa anak berbakat adalah warga negara yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa. Kecerdasan berhubungan dengan perkembangan kemampuan intelektual, sedangkan kemampuan luar biasa tidak hanya terbatas pada kemampuan intelektual saja. Jenis-jenis kemampuan dan kecerdasan luar biasa yang dimaksud dalam batasan ini meliputi:

a. Kemampuan intelektual umum dan akademik khusus;

b. Berpikir kreatif-produktif;

c. Psikososial/kepemimpinan;

d. Seni/kinestetik;

e. Psikomotor.

2. Layanan Pendidikan Anak Berbakat di Sekolah Dasar

Pendidikan di Sekolah Dasar merupakan pendidikan formal yang pertama bagi anak- anak usia 6 atau 7 tahun. Seleksi masuk Sekolah Dasar berdasarkan pada usia, bukan dari segi intelektual maupun segi-segi lainnya. Dengan cara seleksi demikian dapat kita maklumi apabila di satu kelas terdapat kemampuan intelektual yang beragam. Di antara keragaman tersebut mungkin saja di kelas Anda terdapat satu atau dua orang yang menunjukkan kelebihan di atas rata-rata, yang dapat disebut anak berbakat. Anak berbakat membutuhkan pendidikan yang berbeda dari anak pada umumnya. Mereka membutuhkan peluang untuk mencapai aktualitas potensi melalui penggunaan fungsi otak yang efektif dan efisien. Namun demikian mereka harus diberi peluang untuk bergaul dengan teman-teman sebayanya agar mereka tetap menjadi anak sesuai dengan taraf perkembangan. Untuk mengaktualisasikan bakatnya tersebut mereka perlu diberi peluang untuk mengembangkan kreativitas dan motivasi internal agar mampu berprestasi.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memberikan pelayanan anak berbakat di Sekolah Dasar.

a. Pengidentifikasian Anak Berbakat

Menurut Kirk (1986) untuk mengetahui keberadaan anak berbakat, dapat dilihat dari beberapa hal berikut.

1) Kelancaran (kemampuan menjawab pertanyaan).

(15)

12

2) Kelenturan (kemampuan untuk memberikan berbagai macam jawaban atau beralih dari satu macam respons ke respons lain).

3) Kemurnian (kemampuan memberikan respons yang unik dan layak).

b. Layanan Anak Berbakat

Dalam memberikan layanan terhadap anak berbakat di Sekolah Dasar perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut.

1) Adaptasi lingkungan

Gallagher, dkk (1983) menyatakan bahwa 6 hal yang dapat dilakukan : a) Kelas pengayaan

Anak kelas tiga yang kemampuan matematika di atas rata-rata dapat mengikuti pelajaran matematika di kelas yang lebih tinggi.

b) Guru konsultan

Anak ditempatkan di kelas biasa, sekali-sekali didatangkan guru konsultan untuk membantu guru kelas dalam menangani anak berbakat

c) Ruangan Sumber belajar

Anak berbakat belajar di kelas biasa dan mengunjungi ruang sumber kira- kira 12 jam sehari untuk mempelajari pelajaran khusus yang menjadi keunggulannya dengan guru yang sudah dilatih secara khusus

d) Studi Mandiri

Siswa memilih proyek-proyek dan mengerjakannya di bawah pengawasan seorang guru yang berwenang.

e) Kelas Khusus

Anak berbakat tetap berada dalam lingkungan sekolah biasa, mereka ditempatkan dalam satu ruangan khusus dengan menggunakan kurikulum khusus yang telah dimodifikasi.

Dalam waktu istirahat, upacara atau pada pelajaran lain, anak tersebut masih dapat bersama dengan anak lain yang normal.

2) Adaptasi program

Adaptasi program dilakukan dalam beberapa cara, sebagai berikut.

a) Melalui percepatan/akselerasi

Menurut Stanley (1979), percepatan dapat dilakukan dengan beberapa cara. Contoh, dalam percepatan materi pelajaran, dalam satu kelas anak berbakat digabungkan dengan anak normal. Anak biasa di kelas yang sama mempelajari tentang perkembangan awal

(16)

13

negara kita, sedangkan anak berbakat belajar tentang kecenderungan historis negara- negara di dunia.

b) Melalui pengayaan

Memberi kesempatan kepada siswa berbakat untuk mempelajari materi pelajaran secara lebih luas, dengan menggunakan ilustrasi khusus, membuat contoh-contoh, memperkaya pandangan, dan menemukan sesuatu. Contohnya, anak berbakat ditugaskan membaca buku harian seorang pemimpin bangsa untuk memperkaya mereka tentang model- model kepemimpinan. Sementara anak normal mempelajari sejarah suatu bangsa.

c) Pencanggihan materi pelajaran.

Materi pelajaran harus menantang anak berbakat untuk mengguna-kan pemikiran yang tinggi agar mengerti ide, dan memiliki abstraksi yang tinggi. Materi pencanggihan ini tidak terdapat dalam kurikulum/program pendidikan biasa.

d) Pembaruan

Pembaruan isi pelajaran adalah pengenalan materi yang biasanya tak akan muncul dalam kurikulum umum karena keterbatasan waktu atau abstraknya sifat isi pelajaran.

Tujuan pembaruan ini ialah untuk membantu anak-anak berbakat menguasai ide-ide yang penting. Misalnya guru mengajak siswa untuk memikirkan konsekuensi kemajuan teknologi.

e) Modifikasi kurikulum sebagai alternatif.

Dalam pelaksanaannya dapat diberlakukan kurikulum plus atau kurikulum berdiferensiasi.

Secara khusus pembelajaran terhadap anak berbakat memiliki kekhasan tersendiri, terutama dalam pemilihan dan penerapan strategi pembelajaran, model-model layanan, layanan perkembangan kreativitas, stimulasi imajinasi dan proses inkubasi, desain pembelajaran dan evaluasi.

c. Strategi Pembelajaran dan Model Layanan 1) Strategi Pembelajaran

Strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak berbakat sangat mendorong anak tersebut untuk berprestasi. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan strategi pembelajaran anak berbakat adalah sebagai berikut.

a) Pembelajaran anak berbakat harus diwarnai dengan kecepatan dan tingkat kompleksitas yang lebih sesuai dengan kemampuannya yang lebih tinggi dari pada anak normal.

(17)

14

b) Pembelajaran pada anak berbakat tidak saja mengembangkan kecerdasan intelektual semata, tetapi pengembangan emosional juga patut mendapat perhatian.

c) Pembelajaran anak berbakat berorientasi pada modifikasi proses, isi dan produk.

2) Model-model layanan

Model layanan yang mengarah pada perkembangan anak berbakat meliputi layanan perkembangan kognitif, nilai, moral, kreativitas dan bidang khusus. Model-model yang dimaksud adalah:

a) Model layanan kognitif-afektif.

Model ini bertujuan untuk mengembangkan bakat seseorang, dengan cara pemberian stimulus langsung pada belahan otak kanan.

b) Model layanan perkembangan moral.

Sasaran model ini adalah untuk membentuk individu yang bertanggung jawab secara moral. Model ini dapat dilakukan dengn mengadakan diskusi dengan teman sebaya mengenai dilema atau klarifikasi nilai, membaca hasil penelitian tentang moral, bermain peran, simulasi, drama kreatif dan permainan, penelitian kelompok atau kelas mengenai ketentuan hukum, dan diskusi dengan lingkungan masyarakat.

c) Model perkembangan nilai.

Strategi pengembangan nilai erat kaitannya dengan perkembangan moral. Peranan dalam kehidupan sehari-hari perlu diperhatikan, seperti rasa senang, sedih, bangga, takut, malu dan seterusnya.

d) Layanan berbagai bidang khusus.

Bidang-bidang khusus dalam pelayanan anak berbakat meliputi pelatihan kepemimpinan, seni rupa dan seni pertunjukkan.

d. Layanan Perkembangan Kreativitas

Ada 3 tingkatan perkembangan kreativitas, mulai dari tingkat pertama sampai tingkat ketiga. Tingkat kreativitas pertama ditandai dengan fleksibilitas, originalitas, serta keterbukaan terhadap masalah yang disertai keberanian mengambil risiko. Tingkat kreativitas kedua, ditandai oleh adanya pemetaan masalah dengan mencari pemecahan masalah secara teratur.

Sementara tingkat kreativitas ketiga, dengan mengadakan perumusan masalah berdasarkan asumsi tertentu.

e. Stimulasi Imajinasi dan Proses Inkubasi

Stimulasi imajinasi kreatif dan proses inkubasi, dapat dijelaskan sebagai berikut.

(18)

15

1) Stimulasi imajinasi kreatif adalah proses mental manusiawi yang menjadikan semua kekuatan motif berprestasi untuk menstimulasi dan memberi energi pada tindakan kreatif. Hal ini dapat dilakukan dengan mengembangkan fungsi otak kiri dan faktor khusus, seperti kualitas suasana rumah, pola asuh ibu-anak dan seterusnya.

2) Proses inkubasi adalah tahap berpikir kreatif dan pengatasan masalah di mana fungsi mental yang tadinya digerakkan oleh persiapan yang direncanakan secara intensif sehingga tercapai pemahaman yang mengarah pada pemecahan masalah.

f. Desain pembelajaran

Sesuai dengan potensi yang dimiliki, maka diperlukan suatu rencana pembelajaran yang berbeda dengan rencana pembelajaran pada umumnya. Perbedaan tersebut meliputi tentang pengemasan materi, teknik pembelajaran yang harus dikuasai guru dan pelaksanaan model pembelajaran.

g. Evaluasi

Proses evaluasi pada anak berbakat tidak berbeda dengan anak pada umumnya, namun karena kurikulum anak berbakat berbeda dalam cakupan dan tujuannya, maka dibutuhkan penerapan evaluasi yang sesuai.

B. LAYANAN PENYANDANG KELAINAN FISIK 1. Pengertian

Kelainan dapat diartikan berbeda dari keadaan pada umumnya. Kelainan disebut juga sebagai keadaan yang luar biasa, atau keluarbiasaan. Menurut Mulyono Abdulrachman (dalam pengantar Pendidikan Anak Luar biasa, 2007) keluarbiasaan merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi anak yang menunjukkan perbedaan dengan anak normal pada umumnya. Pertanyaan yang mungkin timbul adalah, apa kriteria yang dapat menunjukkan perbedaan tersebut.

Dalam pembahasan kita pada mata kuliah ini, perbedaan fisik lebih dititikberatkan pada fungsi organ fisik yang secara nyata dapat dilihat, atau diketahui efek dari kelainan tersebut.

Saudara mahasiswa, adakah penyandang kelainan fisik di kelas Anda? Jika ada apakah mereka itu termasuk kelompok tunanetra, tunarungu, ataukah tunadaksa. Apakah kelainan yang disandangnya tersebut dapat berpengaruh terhadap sikap dan perilaku anak, serta berpengaruh pula terhadap prestasi belajarnya? Jika ya, apa usaha yang dapat Anda lakukan?

(19)

16

Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, marilah kita bahas berbagai hal terkait dengan penyandang kelainan fisik. Jenis kelainan fisik dapat dikelompokkan pada anak yang mengalami gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, tunadaksa dan tunaganda.

a. Tunanetra

Tunanetra adalah sebutan yang diberikan kepada anak-anak yang mengalami gangguan penglihatan yang mengakibatkan fungsi penglihatan tidak dapat dilakukan secara normal.

Kondisi yang demikian menuntut adanya pelayanan khusus sehingga potensi yang dimiliki oleh para tunanetra dapat berkembang secara optimal. Apakah di kelas Anda ada anak yang mengalami gangguan penglihatan? Jika gangguan penglihatan tersebut memang secara signifikan mengganggu proses pembelajaran, tentu anak itu perlu bantuan khusus.

b. Tunarungu

Istilah tunarungu dikenakan bagi mereka yang mengalami gangguan pendengaran, mulai dari yang ringan sampai dengan yang berat. Dengan adanya gangguan pendengaran ini, anak tunarungu memerlukan bantuan khusus, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam pendidikan.

c. Tunadaksa

Tunadaksa adalah sebutan bagi mereka yang menyandang cacat secara fisik, sehingga anak tersebut tidak dapat menjalankan fungsi fisik secara normal. Anak yang kakinya tidak normal karena kena folio atau anggota tubuhnya diamputasi. Termasuk dalam kelompok tunadaksa adalah anak yang menderita penyakit epilepsi, cerebral palsy, kelainan tulang belakang, gangguan pada tulang dan otot, serta yang mengalami amputasi.

2. Layanan Bimbingan terhadap penyandang kelainan fisik.

Walaupun telah banyak sekolah yang secara khusus diperuntukkan bagi penyandang cacat fisik, namun karena berbagai alasan masih kita temui anak penyandang cacat fisik yang sekolah di sekolah umum, terutama pada tingkat Sekolah Dasar. Jika tingkat cacatnya tidak terlalu berat, mereka masih dapat mengikuti pendidikan di sekolah umum dengan baik, sehingga tidak diperlukan bantuan atau bimbingan secara khusus. Berikut akan diuraikan cara memberikan bimbingan atau bantuan terhadap penyandang cacat yang akan dapat memberikan arahan bagi Anda yang memiliki kelainan.

(20)

17 a. Layanan terhadap anak Tunanetra

Layanan yang diberikan meliputi layanan akademik, latihan dan bimbingan. Layanan bimbingan terhadap anak tunanetra terutama diperlukan dalam mengatasi dampak kelainan terhadap aspek psikologisnya, serta pengembangan sosialisasi siswa.

Untuk memberikan layanan yang menyangkut kedua aspek tersebut, maka salah satu model layanan yang dapat dilakukan adalah menempatkan anak tunanetra di sekolah biasa, dalam bentuk pendidikan terpadu. Di sekolah ini anak tunanetra terbiasa bergaul dengan anak normal, sehingga tingkat perkembangannya dapat berkembang optimal. Bagaimana di sekolah Anda? Apakah saat ini terdapat anak tunanetra yang belajar di sekolah Anda?

Jika di kelas Anda terdapat anak tunanetra, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain meliputi penempatan/tempat duduk, alat peraga yang digunakan dan pencahayaan ruangan. (Tati Herawati, dalam Pengantar Pendidikan Luar Biasa, 2007).

1) Penempatan Anak Tunanetra

a) Anak tunanetra ditempatkan di deretan depan, agar dapat mendengarkan penjelasan guru dengan jelas

b) Berilah kebebasan kepada anak tunanetra untuk memilih tempat duduk sesuai dengan kemampuan penglihatannya

c) Tempatkanlah anak tunanetra dekat anak cerdas, agar terjadi proses saling membantu d) Sesama anak tunanetra tidak boleh duduk berdekatan

2) Alat Peraga yang digunakan

Gunakan warna kontras pada alat peraga

3) Ruang Belajar

Ruang belajar cukup terang, cukup Cahaya

b. Layanan terhadap anak Tunarungu

Pelayanan terhadap anak tunarungu tuna harus disesuaikan dengan karakteristik/ tingkat ketunarunguannya. Untuk anak tunarungu pada tingkat ringan mungkin masih dapat dilayani dengan baik, namun untuk tingkat yang lebih tinggi diperlukan bantuan tenaga pembimbing khusus.

(21)

18 c. Layanan terhadap anak Tunadaksa

Semua jenis layanan harus disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik pihak yang akan kita layani, tak terkecuali layanan terhadap anak tunadaksa. Karakteristik anak tunadaksa dapat dilihat dari segi akademis, sosial/emosional, dan fisik/kesehatan.

Anak tunadaksa yang disebabkan karena kelainan pada sistem otot dan rangka tidak akan terganggu tingkat kecerdasannya sehingga dapat belajar seperti halnya anak normal.

Pandangan negatif dari masyarakat terhadap anak tunadaksa dapat menyebabkan rasa rendah diri yang berakibat sulitnya mereka bersosialisasi dengan lingkungan. Berbagai gangguan kesehatan juga sering terjadi, seperti sakit gigi, gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, gangguan bicara dan gangguan motorik. Apakah di kelas Anda terdapat penyandang tunadaksa?

Jika ada layanan yang perlu dilakukan adalah bagaimana menimbulkan rasa percaya diri pada penyandang tunadaksa.

C. LAYANAN TERHADAP ANAK DENGAN GANGGUAN PSIKOLOGIS.

Bagi anak luar biasa secara fisik akan lebih mudah untuk diketahui, namun jika keluarbiasaannya itu menyangkut masalah psikologis, akan sulit diketahui dalam waktu yang singkat, serta tidak semua orang mampu mengetahui. Dengan kondisi semacam ini, besar kemungkinan bahwa anak yang mempunyai gangguan psikologis masuk ke Sekolah Dasar biasa.

Indikator tentang masuknya anak dengan gangguan psikologis masuk SD biasa, adalah seringnya ditemui kelompok anak yang mengalami penyimpangan perilaku. Orang tua tidak menyadari bahwa anaknya berbeda dengan anak yang lain. Dengan pertimbangan berbagai faktor, banyak anak yang sebenarnya mengalami gangguan emosi dan perilaku menyimpang (tunalaras) oleh orang tuanya dimasukkan ke sekolah biasa. Jika demikian kasusnya, maka guru di sekolah biasa terutama guru SD harus dapat mengantisipasi keadaan tersebut. Oleh karena itu, pada kesempatan ini yang akan dibahas adalah kelompok anak tunalaras dan anak yang mengalami gangguan emosi.

1. Pengertian, Klasifikasi dan Karakteristik Anak Tunalaras

Dalam Peraturan Pemerintah No. 72 tahun 1991 disebutkan bahwa: tunalaras adalah gangguan atau hambatan atau kelainan tingkah laku, sehingga kurang dapat menyesuaikan diri dengan baik terhadap lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Sedangkan menurut Undang-undang tentang PLB di Amerika tunalaras disebut dengan gangguan emosi. Gangguan

(22)

19

emosi adalah suatu kondisi yang menunjukkan gejala- gejala, antara lain: ketidakmampuan menjalin hubungan yang menyenangkan teman dan guru, berlaku tidak pantas.

Menurut Rosembera, anak tunalaras dapat dikelompokkan atas tingkah laku yang berisiko tinggi dan rendah. Yang berisiko tinggi yaitu hiperaktif, agresif, pembangkang, delinkuensi dan anak yang menarik diri dari pergaulan sosial, sedangkan yang berisiko rendah yaitu autisme dan skizofrenia.

Untuk mengetahui apakah seorang anak mengalami gangguan emosional atau tidak, kita dapat menentukan dari ciri-ciri atau karakternya. Dari segi sosial dan emosional, anak tunalaras akan menunjukkan ciri-ciri sebagai berikut.

a. Perilakunya tidak dapat diterima oleh masyarakat dan biasanya melanggar norma budaya, aturan keluarga dan sekolah.

b. Sering mengganggu, bersikap membangkang atau menentang dan tidak dapat bekerja sama.

2. Jenis Perilaku Menyimpang di Sekolah Biasa

Pada bagian pendahuluan telah dijelaskan bahwa keluarbiasaan anak dapat dibedakan menjadi anak luar biasa yang secara jelas dapat terlihat dan anak luar biasa yang sulit dideteksi.

Orang tua yang memiliki anak jenis kedua biasanya tidak menyadari akan keluarbiasaan yang dialami anaknya sehingga memasukkan anak tersebut ke sekolah biasa.

Kelompok anak tersebut dapat diketahui melalui gejala-gejala yang ditunjukkan dengan perilaku yang menyimpang. Penyimpangan-penyimpangan perilaku anak tersebut, seperti anak suka jail, iri hati, mencela, rewel, agresif, suka protes dan malas belajar. Menghadapi masalah penyimpangan perilaku anak tersebut, tidaklah akan terselesaikan dan anak berubah menjadi anak yang baik, jika saja kita mengatasi masalah tersebut dengan sikap reaktif dan perlakuan keras terhadap anak. Yang harus kita lakukan adalah tindakan proaktif untuk menemukan cara- cara memecahkan dan mengatasi masalah tersebut, dengan cara mengenali dan menganalisa, mengapa anak menunjukkan penyimpangan perilaku, kemudian kita cari solusi untuk mengatasi masalah tersebut.

3. Gejala-gejala Perilaku Menyimpang a. Anak yang suka jahil

Perbuatan jahil adalah suatu perbuatan yang dilakukan seseorang terhadap orang lain dengan maksud mengganggu atau membuat orang lain menjadi tidak nyaman atau membuat

(23)

20

orang lain menderita baik secara fisik maupun mental atau mengalami kehilangan sesuatu.

Sementara itu si anak jahil begitu asyik menikmati dengan rasa puas melihat si korban menderita.

b. Anak yang Suka Iri Hati

Perasaan iri hati yang berlebihan biasanya diwujudkan dengan perilaku mengganggu teman, berebut mainan, saling bantah dan sebagainya. Hanya karena hal- hal yang sepele anak dapat menjadi agresif atau suka menyerang kepada temannya. Dapat pula dilakukan dengan perbuatan yang sebaliknya dengan menunjukkan rasa murung, suka menyendiri atau bahkan mengurung diri.

c. Anak yang Suka Menyela

Kita mungkin pernah melihat anak yang suka menyela pembicaraan orang lain/ orang tua dan walaupun orang tua menyuruh anak untuk pergi dan menjauh dengan baik-baik, anak justru menolak dan ngotot untuk terus nimbrung.

d. Anak Suka Agresif

Anak yang agresif akan menyerang teman/orang yang belum dikenal karena masalah yang sangat sepele, seperti berebut mainan, makanan, atau karena diolok-olok dan sebagainya.

Akibat perilaku anak yang suka agresif menyerang temannya, dirinya ditakuti, dimusuhi, dan dijauhi teman-temannya.

4. Penyebab Perilaku Menyimpang

Menurut Hendra Surya (2004) berbagai perilaku menyimpang yang dialami oleh anak usia antara 3-12 tahun pada umumnya dilatarbelakangi oleh suatu unsur pemuas ego perasaan seseorang. Perilaku menyimpang tersebut tanpa disadari oleh suatu pertimbangan pemikiran, apakah perbuatan itu baik atau tidak. Perlu disadari, bawa setiap manusia memiliki ego perasaan yang menjadi keinginan bawah sadarnya.

Timbulnya perbuatan menyimpang karena ada suatu keinginan bawah sadar anak yang terhambat. Hal ini akan mendorong anak untuk melakukan perbuatan menyimpang tersebut.

Yang dimaksud keinginan bawah sadar yang terhambat tersebut adalah keinginan untuk selalu memperoleh perhatian.

(24)

21

Perbuatan menyimpang terjadi karena merasa dirinya:

a. Tidak mendapat perhatian;

b. Disepelekan;

c. Kehadirannya dianggap tidak ada;

d. Tidak mendapat peran apapun;

e. Sebagai pelengkap penderita; dan

f. Takut kehilangan peran dalam lingkungannya.

Jika seorang anak memiliki perasaan-perasaan sebagaimana tersebut di atas, maka ia akan merasa terancam keberadaannya, sehingga ia akan melakukan perbuatan- perbuatan yang dapat menarik perhatian orang yang berada di sekitarnya.

Contoh kasus :

a. Anak tidak diajak dalam pemainan oleh saudara/teman-temannya, padahal dirinya ingin sekali turut bermain.

b. Anak merasa dikucilkan dari orang tua/saudara/teman sepermainannya.

c. Anak merasa bahwa orang tua lebih perhatian kepada adik baru.

d. Anak merasa terusik dan terancam perannya atas kehadiran orang baru di lingkungannya.

Karena rasa atau keinginan bawah sadar yang terhambat inilah, anak ingin membuktikan bahwa dirinya ada dan bisa melakukan sesuatu untuk mencari perhatian atau mempertahankan perhatian. Dia sebagai anak belum dapat mempertimbangkan baik- buruknya atau akibat dari perbuatan tersebut. Yang penting baginya kepuasan untuk dapat menggoda saudara/teman.

Sebenarnya si anak akan menyampaikan pesan, bahwa dirinya perlu diperhitungkan keberadaannya dan perlu mendapat perhatian.

5. Memahami Anak Berperilaku Menyimpang

Pada zaman modern sekarang ini, peran guru sangat besar dalam pendidikan dan kehidupan anak, karena banyak tugas pendidikan yang semestinya dilakukan oleh orang tua dilimpahkan kepada para guru, karena berbagai alasan. Para guru dapat memberikan rasa aman baik secara sosial maupun emosional, terutama untuk siswa-siswa yang memiliki perilaku menyimpang yang pada umumnya tidak dapat menerima perlakukan tersebut di lingkungan keluarga.

(25)

22

Keberadaan anak berperilaku menyempang sering dihadapi guru pada saat mengajar.

Pada saat-saat tertentu mereka tidak ada bedanya dengan anak-anak lain pada umumnya.

Mereka memiliki wajah yang manis, sangat menggemaskan, namun ia juga sering terlibat pertentangan dengan peraturan sekolah dan guru. Dia sering menolak untuk mengerjakan tugas, membenahi peralatan atau duduk tertib di kelas. Dia sering berbuat ribut di kelas dan marah- marah tanpa sebab.

Untuk mengatasi permasalahan anak semacam itu, perlu ada kerja sama antar staf dan semua guru di sekolah. Penyimpangan anak tidak semata-mata dilakukan di dalam kelas saja, tapi terjadi juga di luar kelas pada saat jam istirahat. Ketika seorang siswa berbuat nakal di luar kelas, semua staf sekolah harus beranggapan bahwa hal tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab guru yang mengajarnya. Semua staf sekolah berkewajiban untuk mengasuh semua siswa pada saat di luar kelas.

Permasalahannya adalah, bahwa terdapat keengganan dari para guru untuk berbagi masalah dengan guru lain, terutama kepada yang lebih senior, karena takut dianggap gagal.

Sebaliknya, guru lain juga enggan untuk menyampaikan tawaran kepada guru lain untuk membantu mengatasi berbagai hal yang terjadi. Namun perlu kita sadari bahwa satu-satunya cara yang efektif untuk menciptakan perilaku positif di seluruh sekolah merupakan tanggung jawab bersama seluruh staf sekolah.

6. Perlunya Saling Dukung Antarguru

Jika terdapat seorang siswa yang secara signifikan menunjukkan perilaku menyimpang, antar staf sekolah perlu saling memberikan informasi agar dapat ditetapkan langkah-langkah untuk melakukan tindakan bersama dalam mengatasi masalah tersebut. Kegiatan semacam ini harus dibakukan dalam bentuk peraturan sekolah, sehingga semua guru akan mendapat perlakuan yang sama.

Untuk membina budaya saling dukung di sekolah, tidaklah mudah, memerlukan waktu dan contoh dari orang yang lebih senior. Dukungan rekan sekerja bagi para guru dalam menghadapi anak-anak berperilaku menyimpang meliputi hal-hal berikut.

a. Pemahaman dari sekolah secara keseluruhan, bahwa perlunya kebersamaan dalam mengatasi masalah.

b. Pemahaman bahwa masalah-masalah perilaku yang besar membutuhkan pendekatan kelompok.

(26)

23

c. Kesediaan wali kelas untuk menerima dukungan dan pemahaman bahwa dukungan ini bersifat normatif.

d. Penyelenggaraan rapat oleh wali kelas dengan sesama kolega.

e. Pengakuan bahwa penyimpangan perilaku seseorang bukanlah semata-mata tanggung jawab guru yang bersangkutan, tetapi merupakan tanggung jawab bersama.

f. Perlunya pembentukan forum sekolah.

g. Ketersediaan dukungan sesama rekan di dalam observasi kelas dengan saling bertukar kelas.

7. Berbagai Hal yang perlu diperhatikan dalam Pelayanan Anak

Keberhasilan dalam memberikan pelayanan terhadap anak sangat ditentukan oleh besarnya perhatian dan pengetahuan kita terhadap perilaku anak. Berikut ini diuraikan tentang berbagai hal terkait dengan perilaku menyimpang.

a. Penyimpangan sebagai Akibat

Pada saat mulai masuk sekolah, seorang anak telah membawa pengalaman ke dalam lingkungan sekolah yang penuh dengan tuntutan dan peraturan. Kehidupan emosional anak telah terbentuk dari lingkungan keluarga dan telah dibekali pula dengan kepandaian bagaimana cara beradaptasi dengan orang lain. Pengalaman-pengalaman dalam keluarga dapat dirumuskan melalui pertanyaan-pertanyaan berikut.

1) Apakah orang tua menghargai kegemaran membaca, pemecahan masalah?

2) Seperti apakah suri teladan laki-laki di dalam hidupnya?

3) Bagaimanakah otoritas dan disiplin dipraktikkan?

4) Pilihan apa yang dimiliki si anak berkenaan dengan perilakunya sendiri?

5) Bagaimana pengelolaan konflik di rumah?

6) Untuk hal-hal macam apa anak mendapat perhatian, pujian, atau hukuman?

Tidak semua anak yang masuk sekolah, terutama anak kelas satu, dengan pengalaman dari rumah tersebut mampu menyesuaikan diri terhadap tuntutan di sekolah. Beberapa anak mempunyai pengalaman di rumah, bahwa bicara dengan nada keras, bentakan dan teriakan, cemoohan, dan saling menyalahkan merupakan kebiasaan yang dilakukan. Pengalaman di rumah sering di bawa ke sekolah, sehingga terjadi benturan nilai yang akan nampak sebagai perilaku destruktif.

Dapatkah pengaruh lingkungan dinetralisir?

(27)

24

Saya pernah mengajar di sekolah swasta yang para siswanya berasal dari daerah kumuh.

Para siswa berasal dari lingkungan pelacuran yang penuh dengan dekadensi moral, dari daerah pemulung yang relatif minim dalam masalah ekonomi, lingkungan tukang becak dan sejenisnya.

Umumnya kita akan terjebak pada pernyataan bahwa wajarlah bila anak-anak dari daerah tersebut mempunyai perilaku menyimpang. Dalam keadaan semacam ini, patutkah kita sebagai guru menyalahkan lingkungan keluarga dan tidak berusaha untuk memperbaiki perilaku mereka?

Perlu kita ingat bahwa seorang anak akan menghabiskan sepertiga dari harinya di sekolah. Selama waktu kita dapat menyediakan program, pilihan, kerangka kerja disiplin yang dapat mengajarkannya alternatif-alternatif untuk memberi rasa memiliki, yang bertujuan dan meningkatkan pengendalian perilaku. Dalam pendekatan ini guru memiliki peran yang sangat penting.

b. Perilaku Destruktif

Di sekolah sering kita temukan anak yang mendapat predikat nakal, karena menunjukkan perilaku yang tidak patut, tidak bertanggung jawab, menyalahi aturan dan tidak bertanggung jawab. Perilaku destruktif tersebut dapat berupa:

1) Terus-menerus memanggil guru dan berbicara seenaknya;

2) Berjalan kesana-kemari di kelas;

3) Menggerakkan kaki terus-menerus di kursi;

4) Suara sangat keras;

5) Tidak mampu konsentrasi, dsb.

Istilah istilah yang sering diberikan kepada anak-anak seperti itu adalah: conduct- disordered (berperilaku menyimpang), attention-deficit disordered (kurang perhatian), socio- emotionally disturbed (terganggu secara sosial dan emosional), hyperactive (hiperaktif). Semua istilah tersebut, lebih sering disebut dengan istilah berperilaku menyimpang.

Hal yang perlu diingat adalah bahwa sekolah memiliki keterbatasan dalam memodifikasi lingkungan rumah.

(28)

25 c. Perilaku Mengajar

Pada saat anak-anak masuk sekolah, mereka harus belajar bersosialisasi, berbagi, bekerja sama, mengerjakan tugas-tugas belajar, dan menghadapi rasa frustrasi. Perilaku yang buruk sering kali dihubungkan dengan prestasi belajar. Untuk mencapai prestasi belajar yang baik, seorang anak harus dapat berkonsentrasi pada pekerjaannya, mau mengikuti petunjuk, mengerjakan respons tugas, tetap duduk di tempat, dan mematuhi peraturan kelas.

Pendekatan yang dapat dilakukan guru untuk mengajarkan anak agar berperilaku baik, antara lain dengan memberikan pengarahan dalam hal-hal berikut.

1) mengangkat tangan tanpa harus memanggil-manggil;

2) menunggu giliran dari pada menyerobot;

3) duduk di atas tikar pada jam pelajaran;

4) duduk di kursi mereka lebih dari beberapa menit;

5) berbicara dengan lebih perlahan;

6) berjalan di dalam kelas tanpa mengganggu atau menjengkelkan orang lain;

7) mempertimbangkan perasaan orang lain;

8) apa yang harus dilakukan bila marah.

Dalam program perubahan perilaku hendaknya dilaksanakan sedemikian rupa, sehingga anak tidak merasa terbebani. Perubahan memerlukan waktu, dan tiap anak akan mempunyai daya tangkap yang berbeda. Keberhasilan perubahan dapat diukur dari penurunan frekuensi dan intensitas perilaku yang diharapkan. Pemulihan perilaku dapat dilakukan melalui gambar, percontohan, latihan yang ditargetkan, dorongan individual, dan umpan balik.

d. Cara Mengatasi Anak yang Berperilaku Menyimpang

Reaksi yang biasanya muncul terhadap ulah atau perilaku anak yang tidak biasa adalah teguran, hukuman atau nasihat. Namun dengan cara tersebut anak tidak akan merasa jera. Perlu kita sadari bahwa anak melakukan perbuatan di luar kebiasaan, karena merasa dirinya tidak puas dan telah diperlakukan tidak adil menurut pemikiran anak. Dirinya merasa tertekan akibat tidak diperhatikan dan tidak mendapat peran apa- apa dari lingkungannya atau rasa khawatir kehilangan peran akibat kehadiran orang baru di lingkungannya. Dia memandang bahwa perbuatannya tersebut tidak salah, dia tidak menganggap bukan dirinya sebagai pemicu atau penyebab perbuatan tersebut.

(29)

26

Di balik perbuatan-perbuatan yang dilakukan anak diharapkan orang di sekitarnya mau mengakui kekeliruannya. Ia ingin dirangkul dan diajak turut serta atau ambil peranan dalam permainan atau bergaul. Jadi yang anak inginkan adalah pengakuan bukan teguran.

Teguran, nasihat atau hukuman menurut tanggapan anak merupakan upaya orang lain untuk menekan dan memojokkan dirinya semata. Ini tidak adil, sehingga muncul dorongan untuk menolak perlakuan tersebut. Penolakan tersebut akan diwujudkan dalam bentuk perlawanan terhadap orang yang memberikan teguran, nasihat atau hukuman. Perlawanan tersebut dapat berupa reaksi kemarahan langsung maupun secara tersamar. Reaksi kemarahan langsung dapat secara verbal dengan menggunakan kata- kata kasar maupun perlakuan fisik.

Kemarahan secara tidak langsung dapat diwujudkan dalam perilaku seperti wajah cemberut, menangis, atau mengurung diri dan sebagainya. Di benak anak pun tertanam kesan negatif, bahwa dirinya disisihkan dan diperlakukan beda dengan yang lain, sehingga timbul antipati terhadap saudara atau teman.

Dengan demikian, bagaimana cara mengatasi anak yang sering melakukan perilaku menyimpang? Kadang-kadang kita kurang sabar menghadapi anak dengan perilaku yang di luar kebiasaan, sehingga cenderung untuk melakukan tindakan yang bersifat emosional. Padahal tindakan tersebut dapat lebih memperparah keadaan. Oleh karena itu, sepatutnyalah kita tidak melakukan hal-hal sebagai berikut.

1) Jangan emosional menghadapi anak.

Walaupun perbuatan anak dianggap sudah lewat batas, sebaiknya tidak perlu dimarahi.

Kita harus berusaha untuk menahan diri dan jangan biarkan diri kita terbawa emosi. Hadapi anak yang demikian itu dengan kesabaran dan jiwa yang penuh kearifan.

Bentakan, omelan atau hukuman fisik hanya akan menimbulkan reaksi negatif, sehingga anak akan melakukan perlawanan atau penolakan baik secara langsung maupun tidak langsung. Akibat lebih jauh, anak akan cenderung untuk mengulangi perbuatan yang tidak baik tersebut secara lebih keras atau brutal sebagai kompensasi ketidaksenangannya.

2) Jangan kucilkan anak.

Tindakan pengucilan dapat menimbulkan pemikiran yang negatif pada diri anak.

Dengan pengucilan tersebut anak merasa bahwa keinginannya tidak terakomodasi dan memandang orang tua tidak dapat memahami, serta tidak mau mengerti keinginan-keinginan bawah sadar anak. Keterasingan dari lingkungan sosial dapat menyebabkan si anak cenderung menilai dirinya sebagai orang yang tidak berharga dan dicintai. Putusnya

(30)

27

hubungan dengan lingkungan sosial dalam waktu yang panjang dapat menyebabkan depresi atau kehilangan gairah hidup. murung, pesimis, kurang inisiatif, selalu curiga dan membenci orang lain.

Sikap dan tindakan yang sebaiknya kita lakukan dalam menghadapi anak yang berperilaku menyimpang.

1) Lakukan pendekatan kasih sayang

Sentuhan yang lembut penuh perhatian dapat menimbulkan rasa senang pada anak, karena merasa diperhatikan. Untuk selanjutnya rasa kasih sayang dapat dilakukan dengan cara-cara berikut.

a) Ajaklah anak ke tempat yang dapat menyejukkan hatinya dengan suasana baru dan menyegarkan.

b) Buatlah anak sedemikian rupa untuk mengungkapkan isi hatinya dengan suka rela, tanpa ada paksaan.

c) Tunjukkan sikap kesediaan kita untuk mendengarkan secara sungguh- sungguh dengan rasa empati.

d) Ciptakan suasana yang menyenangkan.

e) Ajak anak untuk menilai semua perbuatan yang telah dilakukan, sehingga anak dapat membayangkan seandainya perlakuan buruk itu menimpa dirinya.

2) Responsif terhadap perasaan anak

Untuk anak yang dilanda iri hati, suasana hatinya penuh diliputi oleh nafsu marah, tertekan, kecewa, kesal dan benci, sehingga ia tidak mau mendengarkan siapa pun. Anak yang iri hati sebenarnya ingin diperhatikan.

3) Dengarkan suara hati anak

Untuk menciptakan suasana hati anak sehingga merasa diperhatikan, kunci utamanya adalah:

a) Ciptakan hubungan baik kita dengan anak;

b) Kesediaan meluangkan waktu untuk anak;

c) Dengarkan keluh kesah anak.

(31)

28 4) Binalah kasih sayang antaranak

Langkah-langkah yang dapat kita lakukan untuk menumbuhkan kasih sayang antaranak, antara lain:

a) Berbuat adil terhadap semua anak;

b) Jangan bandingkan anak dengan anak lain;

c) Melakukan kegiatan bersama.

8. Penutup

Menghadapi anak di sekolah dengan karakteristik yang heterogen diperlukan kesabaran yang cukup tinggi bagi para guru, terutama guru Sekolah Dasar. Hubungan antara guru dengan siswa sebaiknya tidak terlalu formil, agar anak tidak merasa asing dengan dunia sekolah. Guru harus dapat berperan sebagai orang tua yang dapat memperlakukan anak penuh kasih sayang.

Dari berbagai uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kelainan sikap dan perilaku anak lebih banyak disebabkan kurangnya perhatian dan kasih sayang. Oleh karena itu, dengan rasa penuh kasih dan pengetahuan yang memadai tentang kelainan tingkah laku siswa, kita sebagai guru diharapkan akan mampu mengatasi persoalan-persoalan anak di sekolah.

D. LAYANAN KEGIATAN EKSTRAKURIKULER 1. Pengertian

Kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan yang diselenggarakan di luar jam pelajaran yang tercantum dalam susunan program sesuai dengan keadaan dan kebutuhan sekolah.

Kegiatan ekstrakurikuler merupakan kegiatan pengayaan dan kegiatan perbaikan yang berhubungan dengan program kurikuler. (Kurikulum Pendidikan Dasar, dalam Puji Astuti, 2005)

2. Tujuan Kegiatan Ekstra Kurikuler

Melalui kegiatan ekstra kurikuler siswa diharapkan akan mampu mengaitkan antara pengetahuan yang diperoleh di sekolah dengan keadaan dan kebutuhan lingkungan.

3. Jenis Kegiatan Ekstra Kurikuler

Jenis kegiatan ekstra kurikuler yang diselenggarakan di sekolah antara lain: pramuka, UKS, olah raga, palang merah remaja, kesenian dan kegiatan lain yang diselenggarakan di luar jam pelajaran sekolah. Siswa diberi kebebasan untuk memilih salah satu kegiatan ekstra kurikuler sesuai dengan minat dan bakatnya.

(32)

29 4. Manfaat Kegiatan Ekstra Kurikuler

Melalui kegiatan ekstra kurikuler siswa akan memperoleh secara maksimal pengembangan fisik, mental, emosional, kognitif dan sosial. Kegiatan olah raga memungkinkan fisik anak akan berkembang dengan baik, sekaligus akan berkembang kepribadiannya (lebih percaya diri dan lebih mudah mengontrol diri). Kegiatan kesenian pun dapat menjadi sarana untuk pengembangan kepribadian dan sosialnya. Demikian pula dengan kegiatan seperti pramuka, UKS ataupun palang merah remaja. Kegiatan ekstra kurikuler mampu membangkitkan motivasi siswa untuk mengikutinya, karena kegiatan tersebut disediakan sesuai dengan minat anak. Sikap serasi dan toleran antar siswa juga dapat terpupuk melalui kegiatan ekstrakurikuler, karena kerja sama seperti kegiatan pramuka, palang merah remaja, olah raga, menari kelompok dan lain-lain dapat melatih anak untuk lebih menahan diri dan menghargai teman-temannya.

5. Pelaksanaan Kegiatan Ekstra Kurikuler

Pelaksana kegiatan ekstra kurikuler biasanya dilakukan oleh para guru yang menguasai bidangnya, karena pengalaman atau latar belakang pendidikan yang diperolehnya. Sebagai contoh, guru musik berkewajiban melaksanakan kegiatan ekstra kurikuler seperti orkes, paduan suara atau band. Petugas kegiatan ekstra kurikuler dapat juga diambil dari luar sekolah, dengan menggunakan tenaga ahli yang tersedia di masyarakat atau lembaga-lembaga tertentu di sekitar sekolah.

Faktor lain yang perlu diperhatikan agar terlaksananya kegiatan ekstra kurikuler adalah tersedianya fasilitas sarana dan prasarana yang diperlukan. Misalnya untuk kegiatan ekstra kurikuler di bidang musik, diperlukan alat-alat musik yang memadai. Dalam kegiatan pramuka atau palang merah remaja diperlukan berbagai peralatan seperti tenda, tali temali, kayu atau berbagai peralatan obat-obatan dan lain-lain. Pengadaan sarana dan prasarana tersebut antar satu sekolah dengan lainnya berbeda-beda sesuai dengan kondisi sekolah, orang tua siswa dan lingkungan masyarakat. Ada sekolah yang menarik biaya untuk pembelian alat-alat dan biaya yang dibutuhkan dalam pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler dari orang tua siswa pada awal tahun, atau juga disatukan dengan uang SPP. Sekolah lain mungkin menarik biaya kegiatan ekstra kurikuler sekali dalam jangka waktu anak tersebut sekolah, misalnya disatukan dengan uang masuk.

(33)

30

Dalam kenyataan, tidak semua sekolah (SD) dapat melaksanakan kegiatan ekstra kurikuler karena berbagai sebab antara lain:

a. Sikap orang tua kurang mendukung, karena mereka lebih mengutamakan sekolah, sehingga kegiatan ekstra kurikuler dianggap sebagai kegiatan yang hanya membuang waktu dan uang.

b. Memerlukan biaya yang cukup besar bagi keluarga, melalui iuran setiap bulan atau pada saat akan pentas atau bertanding atau apapun.

c. Lokasi sekolah yang jauh dari rumah siswa juga merupakan hambatan tersendiri.

d. Kondisi keluarga yang mengharuskan anak bekerja membantu orang tua setelah pulang sekolah.

e. Kurangnya fasilitas di sekolah, misalnya ruangan, lapangan tenaga pelaksana, dan lain-lain.

f. Kurangnya dukungan dari pihak sekolah.

(34)

31 BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN

Layanan pendidikan di indonesia merupakan unsur penting yang berpengaruh terhadap kwalitas dan keberhasilan suatu lembaga pendidikan. Dengan demikian, hal yang urgent untuk dipahami oleh guru pendidikan Indonesia adalah bagaimana mengelola layanan terbaik itu di tengah-tengah persaingan dunia pendidikan yang amat keras.

Ruang lingkup manajemen layanan meliputi: layanan pembelajaran, layanan bimbingan konseling, layanan kesejahteraan, layanan administrasi, layanan informasi, layanan keuangan.

Manajemen layanan pendidikan disebabkan oleh empat hal yaitu: pertama, berlakunya UU no 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Kedua, berlakunya UU no 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Ketiga, berlakunya PP no 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Keempat, arus globalisasi menuntut pada persaingan yang ketat termasuk adanya sekolah bertaraf internasional.

Keberhasilan suatu jasa pelayanan dalam mencapai tujuannya sangat tergantung pada konsumennya, dalam arti perusahaan memberikan layanan yang bermutu kepada para pelanggannya akan sukses dalam mencapai tujuannya. Dengan demikian baik tidaknya kualitas jasa tergantung pada kemampuan penyedia jasa dalam memenuhi harapan/kepentingan pelanggannya secara konsisten.

B. SARAN

1. Untuk mempercepat tahapan penerimaan mesti disiapkan bimbingan teknis belajar outing atau privat.

2. Untuk menghindari kejenuhan dan stress siswa di buatkan bimbingan bakat atau menggali potensi siswa atau unit kegiatan siswa.

(35)

32

DAFTAR PUSTAKA

Agus Taufik, dkk. (2005). Pendidikan Anak di SD. Jakarta: Universitas Terbuka.

Alex Sobari (1998). Pembinaan Anak dalam Keluarga. Jakarta: PT BPK. Gunung Mulia.

Bill Rogers, (2004). Pemulihan Perilaku. Jakarta: Grasindo.

Edi Purwanta (2005). Modifikasi Perilaku. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi.

Ernawulan Syaodih (2005). Bimbingan di Taman Kanak-Kanak. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi.

Hendra Surya (1998). Kiat Mengatasi Penyimpangan Perilaku Anak. Jakarta: PT. BPK.

Gunung Mulia.

HM. Surya (2005). Kapita Kependidikan SD. Jakarta: Universitas Terbuka.

Rohman Natawijaya (1984). Penyuluhan Kelompok I. Bandung: CV. Diponegoro.

Referensi

Dokumen terkait

kebutuhan guru terhadap mutu layanan pembelajaran siswa Sekolah Dasar (SD). Se-

Hal-hal yang perlu dibahas meliputi dinamika siswa Sekolah Dasar, amanah peraturan perundangan berkenaan dengan pendidikan anak usia Sekolah Dasar,

Berdasarkan uraian tentang kesulitan belajar pada siswa sekolah dasar, maka indikator kesulitan belajar siswa sekolah dasar adalah prestasi belajar yang menurun, hasil yang

Jurnal Pendidikan Tambusai 7176 Membangun Karakter Siswa Sekolah Dasar Melalui Pendidikan Kewarganegaraan Rachel Fadila Putri Herdiansyah1, Dinie Anggraeni Dewi2, Yayang Furi

Jurnal Pendidikan Tambusai 8612 Implementasi Pendidikan Anti Korupsi pada Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Siswa di Sekolah Dasar Jihan Humaira1, Dinie Anggraeni Dewi2,

Jurnal Pendidikan Tambusai 7125 Pendidikan Kewarganegaraan Sebagai Pendidikan Awal Pembentuk Moral Bangsa Siswa Sekolah Dasar Dwi Wulandari1, Dinie Anggraeni Dewi2, Yayang Furi

Dokumen ini membahas pemanfaatan media gambar untuk meningkatkan hasil belajar siswa Sekolah

Dokumen ini membahas mengenai prinsip-prinsip penilaian ekstrakurikuler wajib pendidikan kepramukaan di sekolah