• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lembaga Keuangan Nonbank "Asuransi"

N/A
N/A
TYARA PUTRI RAMADHANI

Academic year: 2024

Membagikan "Lembaga Keuangan Nonbank "Asuransi""

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

LEMBAGA KEUANGAN NONBANK

“ASURANSI”

Disusun untuk memenuhi tugas pada mata kuliah : BANK DAN KEUANGAN LEMBAGA Dosen Pengampu : Irwan Adi Rianto, SE., M.Si

Disusun Oleh:

Tyara Putri Ramadhani (E62401231009) Lala Devita Amalia (E62401231011) M. Fadhil Ihsan (E62401231014) Zakaria (E62401231012)

PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 CIREBON

KATA PENGANTAR

(2)

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan penulis kemudahan sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa pertolongan-Nya tentunya penulis tidak akan sanggup untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang kita nanti nantikan syafa'atnya di akhirat nanti. Penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-Nya, baik itu berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga penulis mampu untuk menyelesaikan pembuatan makalah sebagai tugas dari mata kuliah Statistik. Penulis tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik serta saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya makalah ini nantinya dapat menjadi makalah yang lebih baik lagi. Demikian, dan apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya. Demikian semoga makalah ini dapat bermanfaat.

Terima kasih.

Cirebon, 10 Oktober 2024 Penyusun

Kelompok 3

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...i

DAFTAR ISI... ii

BAB I PENDAHULUAN...1

A. Latar Belakang...1

B. Rumusan Masalah... 2

C. Tujuan...2

D. Manfaat... 2

BAB II KAJIAN TEORI...3

A. Sejarah Perkembangan Statistika...3

B. Pengertian Statistik dan Statistika...5

C. Metode Statistik...6

D. Teori Penyajian Data... 7

BAB III PEMBAHASAN... 8

A. Definisi Penyajian Data...8

B. Metode Dalam Penyajian Data...9

1. Metode Statistik Berdasarkan Orientasi Pembahasan...9

2. Metode Statistik Berdasarkan Asumsi Distribusi Populasi Data...10

3. Metode Statistik Berdasarkan Fase Tujuan Analisisnya...10

4. Metode Statistik Berdasarkan Jumlah Variabel Terikat...10

C. Macam-Macam Penyajian Data...11

1. Tabel... 11

2. Diagram... 11

3. Histogram...12

4. Poligon Frekuensi...12

5. Ogive...12

6. Distribusi Frekuensi...13

BAB IV HASIL PEMBAHASAN...14

A. Data Dalam Bentuk Penyajian Data...14

1. Penyajian Data Bentuk Diagram...14

(4)

1.1 Diagram Batang...14

1.2 Diagram Garis...15

1.3 Diagram Lingkaran...16

2. Penyajian Data Bentuk Tabel...18

2.1 Tabel Baris dan Kolom...18

2.2 Tabel Kontingensi...19

2.3 Tabel Distribusi Frekuensi...19

3. Penyajian Data Bentuk Grafik...20

3.1 Histogram dan Poligon Frekuensi...20

3.2 Distribusi Frekuensi dan Ogive...23

BAB V PENUTUP...26

A. Kesimpulan...26

B. Saran...27

DAFTAR PUSTAKA...28

(5)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan, makalah ini akan mengajukan beberapa pertanyaan pokok yang perlu dijawab:

1. Apa yang dimaksud dengan Asuransi?

2. Apa saja jenis - jenis Asuransi yang ada?

3. Apa prinsip - prinsip dasar dalam Asuransi?

4. Apa risiko dan manfaat yang didapatkan dari Asuransi?

C. Tujuan

1. Menjelaskan pengertian Asuransi secara umum

2. Menguraikan jenis-jenis Asuransi yang tersedia dimasyarakat 3. Memaparkan prinsip – prinsip dasar Asuransi

4. Menyampaikan risiko dan manfaat Asuransi bagi individu dan perusahaan

D. Manfaat

1. Untuk meningkatkan pemahaman mengenai Asuransi

2. Untuk memperluas lebih dalam mengenai jenis – jenis Asuransi yang ada di masyarakat

3. Untuk menambah wawasan akademis mengenai prinsip – prinsip dasar Asuransi 4. Untuk meningkatkan kesadaran terhadap manajemen risiko dan manfaat pada Asuransi tersebut

(6)

BAB II KAJIAN TEORI

A. Sejarah Perkembangan Asuransi

(7)

BAB III PEMBAHASAN

A. Lembaga Keuangan Asuransi 3.1 Definisi Asuransi

Menurut UU No. 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian, Asuransi adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan mana pihak penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung, dengan menerima premi asuransi, untuk memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau untuk memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan.

“Asuransi adalah bentuk perjanjian di mana satu pihak yang disebut tertanggung (nasabah) membayar sejumlah premi kepada pihak lain yang disebut penanggung (perusahaan asuransi) untuk memperoleh perlindungan terhadap risiko tertentu.

Jika risiko yang ditanggung terjadi, penanggung akan memberikan kompensasi sesuai dengan ketentuan yang disepakati dalam polis asuransi.”

Tidak seorang pun yang dapat meramalkan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang secara sempurna, meskipun dengan menggunakan berbagai alat analisis.

Setiap ramalan yang dilakukan tidak akan terlepas dari kesalahan perhitungan yang telah dilakukan. Penyebab melesetnya hasil ramalan karena di masa yang akan datang penuh dengan ketidakpastian. Bahkan untuk hal-hal tertentu sama sekali tidak dapat diperhitungkan seperti maut dan rezeki. Jadi wajar jika terjadinya sesuatu di masa yang akan datang hanya dapat direka- reka semata.

Risiko di masa datang dapat terjadi terhadap kehidupan seseorang misalnya kematian, sakit atau risiko dipecat dari pekerjaannya. Dalam dunia bisnis risiko yang dihadapi dapat berupa risiko kerugian akibat kebakaran, kerusakan atau

(8)

kehilangan atau risiko lainnya. Oleh karena itu, setiap risiko yang akan dihadapi harus ditanggulangi sehingga tidak menimbulkan kerugian yang lebih besar lagi.

Untuk mengurangi risiko yang tidak kita inginkan di masa yang akan datang, seperti risiko kehilangan, risiko kebakaran, risiko macetnya pinjaman kredit bank atau risiko lainnya, maka diperlukan perusahaan yang mau menanggung risiko tersebut.

Adalah perusahaan asuransi yang mau dan sanggup menanggung setiap risiko yang bakal dihadapi nasabahnya baik perorangan maupun badan usaha. Hal ini disebabkan perusahaan asuransi merupakan perusahaan yang melakukan usaha pertanggungan terhadap risiko yang akan dihadapi oleh nasabahnya.

Dalam perjanjian asuransi di mana tertanggung dan penanggung mengikat suatu perjanjian tentang hak dan kewajiban masing-masing. Perusahaan asuransi membebankan sejumlah premi yang harus dibayar tertanggung. Premi yang harus dibayar sebelumnya sudah ditaksirkan dulu atau diperhitungkan dengan nilai risiko yang akan dihadapi. Semakin besar risiko, semakin besar premi yang harus dibayar dan sebaliknya.

Perjanjian asuransi tertuang dalam polis asuransi, di mana disebutkan syarat-syarat, hakhak, kewajiban masing-masing pihak, jumlah uang yang dipertanggungkan dan jangka waktu asuransi. Jika dalam masa pertanggungan terjadi risiko, pihak asuransi akan membayar sesuai dengan perjanjian yang telah dibuat dan ditandatangani bersama sebelumnya.

3.2 Istilah – isitilah dalam Asuransi 1. Polis Asuransi

Polis asuransi adalah dokumen resmi yang mencerminkan perjanjian antara perusahaan asuransi dan pemegang polis. Bentuk polis asuransi bisa berupa buku, sertifikat, atau e-polis yang dapat diakses dari smartphone atau komputer, berkat digitalisasi di dunia asuransi.

(9)

Sebagai contoh, polis asuransi mencantumkan penyakit kronis yang ditanggung. Jika nasabah didiagnosis dengan penyakit yang tercakup, perusahaan harus membayar klaim. Sebaliknya, jika penyakit tidak termasuk dalam perjanjian, perusahaan tidak wajib memberikan ganti rugi.

2. Pemohon (applicant)

Adalah pihak atau calon pemegang polis yang mengajukan asuransi kepada sang penanggung, dalam hal ini penyedia asuransi.

3. Pemegang polis (policy owner)

Pengguna atau pemilik polis asuransi yang dibekali wewenang untuk memegang polis yang sudah disetujui

4. Tertanggung (insured)

Tertanggung dalah objek yang dimasukkan ke dalam perjanjian atau hal yang diasuransikan oleh pemegang polis. Bisa bersifat benda hidup maupun mati.

Sebagai contoh anak dan istri dalam hal benda hidup atau rumah maupun kendaraan dalam hal benda mati.

5. Penerima uang pertanggungan (beneficiary)

Penerima uang pertanggungan adalah orang yang berhak atau akan menerima uang dari pihak asuransi. Biasanya dari kalangan keluarga, teman dan penerima warisan jika pihak pemegang polis berhalangan.

6. Uang pertanggungan

Dana yang dibayarkan sebagai bentuk tanggung jawab dari sang penanggung apabila terjadi sesuatu terhadap hal yang ditanggungkan

7. Premi

Premi adalah dana yang harus dibayarkan selama proses asuransi sesuai dengan aturan yang sudah disetujui kedua belah pihak.

8. Nilai tunai

Jumlah uang yang wajib dikembalikan kepada pihak tertanggung apabila ada hal yang menyebabkan kontrak asuransi berakhir sebelum waktu yang ditentukan

9. Insurable interest

Merupakan hubungan antara pihak tertanggung dengan objek yang diasuransikan.

(10)

B. Jenis – Jenis Asuransi

Berikut adalah jenis – jenis Asuransi yang paling sering digunakan masyarakat : 1. Asuransi Kerugian (loss insurance)

Asuransi kerugian atau loss insurance adalah asuransi yang memberikan ganti rugi kepada pihak tertanggung jika mengalami kerugian akibat suatu bahaya atau bencana. Asuransi kerugian memberikan perlindungan atas kerugian keuangan dari kondisi yang tidak pasti atau tidak terduga.

2. Asuransi jiwa

Asuransi jiwa adalah suatu jasa yang diberikan oleh perusahaan asuransi dalam penanggulangan risiko yang dikaitkan dengan jiwa atau meninggalnya seseorang yang dipertanggungkan. Asuransi jiwa memberikan hal-hal, sebagai berikut:

a) Dukungan bagi pihak yang selamat dari suatu kecelakaan b) Santunan bagi tertanggung yang meninggal

c) Bantuan untuk menghindari kerugian yang disebabkan oleh meninggalnya pemegang polis

d) Penghimpunan dana untuk persiapan pensiun

3. Asuransi Reasuransi

Reasuransi adalah sistem pengalihan risiko dari perusahaan asuransi ke perusahaan lain. Dengan kata lain, reasuransi adalah asuransinya perusahaan asuransi.

Maksudnya, perusahaan asuransi akan mengalihkan risiko ketidakmampuan finansialnya kepada perusahaan lain (reasuradur).

Sederhananya, Reasuransi adalah perusahaan asuransi bisa melindungi aset serta keuangannya dari risiko kerugian karena pembayaran klaim pada nasabahnya.

Dengan memanfaatkan reasuransi tersebut, perusahaan asuransi bisa mendapatkan perlindungan finansial terhadap risiko tertentu.

(11)

C. Prinsip – Prinsip Dasar Asuransi

1. Prinsip Insurable Interest Pihak tertanggung harus memiliki kepentingan langsung terhadap objek yang diasuransikan. Jika terjadi kerugian, tertanggung akan mengalami dampaknya secara finansial.

2. Prinsip Utmost Good Faith (Itikad Baik), Kedua belah pihak, baik tertanggung maupun penanggung, harus bertindak dengan jujur dan terbuka mengenai semua informasi yang relevan untuk penentuan risiko.

3. Prinsip Indemnity (Indemnitas), Prinsip ini menyatakan bahwa tujuan dari asuransi adalah untuk mengembalikan tertanggung pada posisi finansial yang sama sebelum kerugian terjadi, tanpa ada unsur keuntungan.

4. Prinsip Subrogasi, Setelah penanggung membayar klaim kepada tertanggung, penanggung berhak untuk menuntut pihak ketiga yang menyebabkan kerugian tersebut.

5. Prinsip Contribution, Jika tertanggung memiliki lebih dari satu polis untuk objek yang sama, maka setiap penanggung akan berbagi dalam pembayaran klaim berdasarkan porsi premi yang diterima.

6. Prinsip Proximate Cause, Kerugian yang ditanggung oleh polis haruslah akibat langsung dari risiko yang telah dijelaskan dalam polis, bukan karena sebab-sebab lain.

D. Risiko dan Manfaat yang didapatkan dari Asuransi 3.1 Risiko yang ditanggung Asuransi

Pada prinsipnya perusahaan asuransi sebagai penanggung risiko tidak akan memberikan perlindungan asuransi terhadap semua peristiwa-peristiwa yang berisiko tinggi. Dengan demikian, perusahaan asuransi menetapkan pembatasan- pembatasan terhadap risiko-risiko yang dapat diasuransikan (insurable risks).

Dalam konteks insurable risks ini, perusahaan asuransi memiliki kriteria-kriteria penting yang perlu Anda ketahui saat ingin membeli produk asuransi.

(12)

1. Risiko Dapat Dinilai dengan Uang (Financial Value)

Setiap risiko yang terjadi harus mengakibatkan suatu kerugian yang dapat diukur dengan uang atau finansial. Mengapa harus financial value? Karena perusahaan akan menyediakan sejumlah uang yang akan dibayarkan kepada tertanggung saat risiko tersebut terjadi. Jadi, risiko ketidaknyamaan atau perasaan terancam adalah uninsurable risk karena tidak dapat diukur dengan uang. Semua risiko yang bersifat sentimental harus bisa dinyatakan dalam nilai uang agar bisa ditanggung oleh asuransi. Contohnya adalah risiko meninggal dunia yang dinyatakan dalam uang berdasarkan kemampuan tertanggung dalam membayar premi.

2. Risiko-Risiko yang Sama (Homogeneous Exposure)

Risiko berikutnya yang masuk kategori insurable risks adalah risiko yang menimbulkan kerugian harus sama atau homogen dan dalam jumlah besar (homogeneous exposure). Hal ini penting agar perusahaan asuransi dapat mengukur risiko berdasarkan probabilita dan statistik pengalaman lampau. Misalnya, bila risiko yang sama hanya berjumlah di bawah 5 maka kontribusi atau preminya menjadi besar, sedangkan bila eksposurnya makin banyak maka kontribusinya menjadi makin kecil. Hal ini berkaitan dengan doktrin asuransi tentang hukum bilangan besar atau Law of The Large Number.

Sebagai contoh, risiko rusaknya atau hilangnya lukisan asli Monalisa. Karena jumlah lukisan asli Monalisa hanya satu di muka bumi ini maka termasuk kategori risiko yang uninsurable risks. Pasalnya, dengan jumlahnya yang hanya satu tersebut maka tidak ada patokan bagi penanggung dalam mengukur nilai atau harganya serta nilai kerugiannya. Jadi kata kunci dalam homogeneous exposure ini adalah risiko yang akan dipertanggungkan tersebut harus umum.

3. Risiko Harus Murni (Pure Risks)

Pure Risks adalah risiko-risiko yang benar-benar murni mendatangkan kerugian bila terjadi dan tidak akan mendatangkan kerugian bila tidak terjadi. Misalnya,

(13)

dari sisi tertanggung. Contohnya adalah risiko kebakaran yang bisa jadi disebabkan oleh faktor kesengajaan dalam rangka mendapatkan dana atau ganti rugi dari klaim asuransi.

Risiko-risiko lain yang sifatnya spekulatif yang mengandung kemungkinan memperoleh keuntungan (gain atau profit) pada umumnya juga tidak dapat diasuransikan, termasuk risiko kekalahan dalam berjudi adalah uninsurable risks.

Risiko murni ini memiliki dua kategori yaitu risiko perorangan (personal) dan risiko properti (property). Risiko perorangan adalah risiko yang terjadi kepada setiap individu yang berpengaruh terhadap kemampuan individu tersebut untuk mendapatkan penghasilan. Misalnya, kecelakaan, sakit berkepanjangan, dan meninggal dunia. Sementara itu, risiko properti adalah risiko kerugian yang terjadi atas benda atau aset milik seseorang (tertanggung) yang mengalami kerusakan atau pencurian.

4. Risiko Khusus dan Fundamental (Particular and Fundamental Risks)

Risiko-risiko khusus (particular risks) adalah risiko yang apabila terjadi akan menimbulkan kerugian yang dapat terukur dan dikendalikan. Contohnya adalah tabrakan, kecelakaan kapal, ledakan turbin, dan sebagainya. Pada umumnya semua risiko khusus dapat diasuransikan, tetapi tidak pada risiko-risko fundamental (fundamental risks).

Risiko fundamental adalah risiko yang apabila terjadi dapat menimbulkan kerugian di luar kemampuan manusia untuk mengendalikannya dengan akibat yang sangat luas alias katastropik. Risiko yang termasuk kategori fundamental risks adalah perubahan kebiasaan/sosial, peperangan, inflasi, badai, gempa bumi. Untuk dapat diasuransikan, fundamental risks akan melalui proses pertimbangan dan penilaian teliti dari pihak penanggung.

5. Risiko Tiba-Tiba dan Tak Terduga (Fortuitous)

Fortuitous adalah risko yang apabila terjadi menimbulkan kerugian atau kerusakan yang yang tiba-tiba dan tak terduga (fortuitous) dari sisi pihak tertanggung. Risiko meninggal dunia (death) adalah salah satu contoh dari risiko ini. Kematian memang merupakan peristiwa yang pasti dialami oleh setiap

(14)

manusia, tetapi kapan kematian itu akan terjadi adalah peristiwa yang bisa datang tiba-tiba dan tidak terduga. Oleh karena itu, risiko meninggal dunia termasuk dalam insurable risks yang ditanggung di bisnis asuransi jiwa.

6. Risiko Kepentingan Asuransi (Insurable Interest)

Risiko insurable interest adalah risiko yang apabila terjadi mengakibatkan kerugian finansial bagi pihak tertanggung. Dengan kata lain, orang yang hendak mengasuransikan risiko itu harus mempunyai insurable interest pada risiko tersebut.

Jadi risiko kerugian atas kebakaran yang terjadi hanya berlaku terhadap rumah yang dimiliki oleh tertanggung sehingga tidak termasuk rumah tetangganya meskipun dampak kebakaran tersebut menyebabkan kerusakan rumah tetangga dari tertanggung.

7. Tidak Bertentangan dengan Ketertiban Umum (Not Againt Public Policy).

Semua bentuk kerugian yang terjadi akibat risiko yang bertentangan dengan ketertiban umum (not againt public policy) otomatis tidak dapat diasuransikan atau uninsurable risks. Misalnya risiko kerugian finansial akibat ditilang Polisi tidak bisa dibayar dengan asuransi. Termasuk juga barang-barang yang diperoleh dari hasil pencurian juga termasuk dalam kategori uninsurable risks. Intinya, semua kontrak asuransi tidak boleh berlawanan dengan ketentuan hukum yang berlaku.

8. Premi Harus Wajar (Reasonable Premium).

Penetapan premi atas risiko yang dipertanggungkan harus wajar (reasonable premium) dalam kaitannya dengan kemungkinan kerugian finansial yang timbul.

Dengan demikian, bila risiko yang berpotensi menimbulkan kerugian besar sehingga mengakibatkan premi menjadi besar maka bisa menjadi uninsurable.

3.2 Manfaat yang didapatkan dari Asuransi

Asuransi merupakan produk proteksi yang dapat meng-cover kerugian - kerugian tertanggung sesuai dengan ketentuan yang ada di polis asuransi. Secara

(15)

tidak perlu khawatir lagi dengan berbagai risiko yang bisa menyebabkan kerugian secara finansial. Berikut adalah manfaat asuransi :

1. Perlindungan Finansial, Manfaat utama dari asuransi adalah memberikan perlindungan finansial kepada individu atau perusahaan terhadap risiko tak terduga. Asuransi membantu meringankan beban biaya akibat kerugian besar.

2. Membantu Pengelolaan Risiko Dengan adanya asuransi, individu atau perusahaan dapat lebih fokus dalam menjalankan kehidupan atau bisnis tanpa khawatir terhadap risiko-risiko besar yang mungkin terjadi.

3. Menciptakan Rasa Aman Kepemilikan, polis asuransi memberikan rasa aman kepada tertanggung karena adanya jaminan penggantian kerugian jika risiko yang diasuransikan terjadi.

4. Meningkatkan Stabilitas Ekonomi Asuransi membantu menjaga stabilitas ekonomi, baik pada level individu maupun masyarakat luas, dengan

meminimalkan dampak kerugian finansial yang besar dan tidak terduga.

5. Investasi dan Tabungan beberapa produk asuransi, seperti asuransi unit link atau asuransi jiwa berjangka, tidak hanya memberikan perlindungan tetapi juga kesempatan berinvestasi atau menabung untuk masa depan.

(16)

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

B. Saran

(17)

DAFTAR PUSTAKA

Referensi

Dokumen terkait

Artikel ini membahas tentang mekanisme pengelolaan wakaf tunai di Indonesia dengan melihat pengalaman lembaga keuangan syariah dan lembaga filantropi Is- lam. Semakin terbukanya

Uji hipotesis untuk rasio TDTA dan ROI yang menggunakan uji Independent Sample t-Test menunjukkan kinerja keuangan perusahaan asuransi dan lembaga pembiayaan tidak

Uji hipotesis untuk rasio TDTA dan ROI yang menggunakan uji Independent Sample t-Test menunjukkan kinerja keuangan perusahaan asuransi dan lembaga pembiayaan tidak

10 Melalui sistem tersebut mampu berperan menjadi perantara perusahaan dengan peserta (pemegang polis) atau asuransi dengan lembaga keuangan lainnya, selain

Artikel ini membahas tentang mekanisme pengelolaan wakaf tunai di Indonesia dengan melihat pengalaman lembaga keuangan syariah dan lembaga filantropi Is- lam. Semakin terbukanya

Mata kuliah Lembaga Keuangan Syariah di Negara Muslim merupakan mata kuliah wajib yang membahas materi tentang perkembangan lembaga keuangan syariah

Melakukan kegiatan penyertaan modal pada bank atau perusahaan lain di bidang keuangan, seperti sewa guna usaha, modal ventura, perusahaan efek, asuransi, serta lembaga kliring

Makalah ini membahas tentang sejarah Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dan badan khusus serta lembaga-lembaga penyelenggara pendidikan