PENDAHULUAN
Diagnosis Permasalahan Kelas
Siswa tunarungu telah menguasai berbagai kosa kata, namun terkadang siswa merasa bingung dalam mengelompokkan berbagai jenis kata.
Fokus Masalah
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
LANDASAN PUSTAKA
Kajian Teori Mengenai Membaca Pemahaman
Penelitian Relevan
Kerangka Berpikir
Terdapat hambatan bagi siswa tunarungu dalam memahami isi bacaan, sehingga diperlukan penelitian yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan membaca. Pada langkah akhir penilaian, siswa dapat menceritakan kembali isi bacaan dengan menuliskan kembali hal-hal penting dalam bacaan tersebut. Penerapan metode SQ3R dapat mengorganisasikan bacaan sedemikian rupa sehingga siswa tunarungu dapat mengetahui hal-hal penting dalam isi bacaan dan menghubungkannya dengan pengalaman yang mereka alami.
Penerapan metode SQ3R yang disesuaikan dengan karakteristik siswa tunarungu dapat membantu meningkatkan kemampuan siswa tunarungu dalam memahami isi bacaan, menjawab pertanyaan yang sesuai dengan isi bacaan, mengetahui hal-hal penting dalam membaca, dan menceritakan kembali isi bacaan. membaca.
Hipotesis Tindakan
METODE PENELITIAN
Waktu Penelitian
Menyusun pedoman instrumen observasi aktivitas guru dan aktivitas siswa yang digunakan selama proses pembelajaran pemahaman membaca dengan metode SQ3R. 2. Peneliti menggunakan lembar observasi aktivitas guru dan aktivitas siswa selama proses pembelajaran pemahaman membaca dengan metode SQ3R. Setelah seluruh siswa menerima teks bacaan dan LKS, guru memberikan penjelasan tentang pembelajaran pemahaman membaca dengan metode SQ3R.
Refleksi pada Siklus I bertujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan pembelajaran yang telah dilaksanakan dan untuk mengidentifikasi kesenjangan pelaksanaan tindakan pada Siklus I. Guru kelas dan peneliti mengevaluasi langkah-langkah pembelajaran pemahaman membaca yang telah dilaksanakan untuk meningkatkan keterlaksanaan. proses pembelajaran pada siklus berikutnya. Tidak ada. Refleksi pelaksanaan rencana perbaikan siklus I siklus II 1. Guru belum menjelaskan tujuannya. belajar pemahaman membaca. Guru telah mendorong partisipasi aktif siswa dalam mengikuti pembelajaran pemahaman membaca dengan menggunakan metode SQ3R. Guru memperkuat pemahaman materi pembelajaran dengan menyelesaikan tanya jawab secara tertulis dan lisan.
Refleksi tindakan siklus II bertujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan pembelajaran membaca pemahaman yang dilaksanakan. Oleh karena itu, penerapan metode SQ3R dalam pengajaran pemahaman membaca dapat meningkatkan kemampuan pemahaman membaca siswa tunarungu. Pengajaran membaca pemahaman dengan metode SQ3R dapat menjadikan siswa berpartisipasi aktif dalam pembelajaran sehingga mampu.
Penerapan pembelajaran membaca pemahaman dengan metode SQ3R dapat meningkatkan proses pembelajaran membaca pemahaman siswa tunarungu. Penerapan pembelajaran pemahaman membaca dengan metode SQ3R dapat meningkatkan hasil kemampuan pemahaman membaca siswa tunarungu. Pembelajaran pemahaman membaca melalui metode SQ3R membuktikan bahwa siswa mampu berpartisipasi lebih aktif dalam proses pembelajaran.
Pengajaran membaca pemahaman dengan metode SQ3R sebaiknya dijadikan sebagai salah satu metode alternatif untuk meningkatkan keterampilan membaca pemahaman siswa tunarungu.
Deskripsi Tempat Penelitian
Subjek dan Karakteristiknya
NBL sering menjawab pertanyaan guru dan sering menanyakannya dengan lantang dan jelas. NBL cukup mandiri dalam mengerjakan soal dan berani meminta bimbingan guru jika mempunyai masalah. SHL mampu berkomunikasi secara lisan dan dengan isyarat yang cukup jelas sehingga mudah dipahami oleh lawan bicaranya.
SHL sering mengeluh ketika mengerjakan soal dan sering meminta bantuan guru mengenai jawaban yang benar.
Skenario Tindakan
Tahap pelaksanaan tindakan adalah pembelajaran membaca pemahaman dengan metode SQ3R. Tindakan siklus I dan siklus II dilaksanakan dalam 2 kali pertemuan, masing-masing tindakan berlangsung selama 3 x 35 menit. Observasi dilakukan terhadap aktivitas guru dan siswa selama pembelajaran pemahaman membaca dengan metode SQ3R. Observasi terhadap aktivitas siswa dilakukan untuk mengetahui partisipasi siswa dalam proses pembelajaran membaca pemahaman dan untuk mengetahui keterampilan membaca siswa.
Data yang terkumpul diolah dan digunakan untuk mengetahui peningkatan kemampuan pemahaman membaca siswa tunarungu.
Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data
Analisis data kuantitatif digunakan untuk menunjukkan peningkatan keterampilan membaca pemahaman siswa tunarungu setelah pembelajaran pemahaman membaca menggunakan metode SQ3R. Siswa mengalami peningkatan keterampilan membaca pemahaman melalui metode SQ3R. Hal ini terlihat dari hasil tes pemahaman membaca siklus pasca tindakan. Dengan dilaksanakannya tindakan siklus II, ketiga siswa terlihat lebih aktif berpartisipasi dalam proses pembelajaran membaca pemahaman.
Hasil tes pemahaman membaca siswa pada Siklus II menunjukkan peningkatan dibandingkan sebelum tindakan dan pasca tindakan pada Siklus I. Selama proses pemahaman membaca dengan metode SQ3R, siswa menemukan beberapa kosa kata baru dalam keterampilan membaca. . Metode SQ3R dapat digunakan sebagai metode pengajaran membaca pemahaman bagi guru kelas di SLB Negeri 2 Bantul.
Kriteria Keberhasilan Penelitian
Teknik Analisis Data
Oleh karena itu, penelitian tindakan kelas dilakukan pada pengajaran pemahaman membaca dengan menggunakan metode SQ3R. Dengan menggunakan metode SQ3R, Anda bisa. Setelah seluruh siswa menerima teks bacaan dan LKS, guru memberikan penjelasan tentang pembelajaran pemahaman membaca dengan metode SQ3R. Siswa dan guru berlatih langkah demi langkah sesuai panduan LKS. Berikut diagram peningkatan nilai tes pemahaman membaca dari siklus pra tindakan ke siklus pasca tindakan.
Dilihat dari proses pembelajaran membaca pemahaman menggunakan metode SQ3R, siswa berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Penelitian tindakan siklus II merancang pembelajaran membaca pemahaman menggunakan metode SQ3R untuk membaca materi tentang sumber daya alam terbarukan.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pembahasan
Kemampuan menceritakan kembali isi bacaan hanya mampu dilakukan oleh satu dari tiga siswa. Langkah survei dan tanya jawab merupakan tahapan pra-membaca yang dapat membuat siswa melakukan prediksi terhadap isi bacaan sehingga siswa mempunyai gambaran terhadap isi bacaan. Langkah membaca merupakan tahapan membaca agar siswa mampu mengetahui jawaban atas pertanyaan yang dibuat setelah membaca isi bacaan secara menyeluruh.
Langkah membaca dan revisi merupakan fase pasca membaca yang memungkinkan siswa menemukan berbagai informasi lebih lanjut mengenai bacaan sehingga dapat menceritakan kembali isi bacaan dengan benar dan runtut. Pendapat tersebut sesuai dengan tiga tahapan dalam belajar membaca guna meningkatkan kemampuan memahami isi bacaan dengan baik (Somadayo, 2011: 33). Siswa antusias melakukan tanya jawab bersama guru tentang berbagai informasi terkait isi bacaan.
Metode SQ3R memiliki banyak kelebihan dalam membantu memahami isi bacaan, misalnya menjadikan siswa aktif dan fokus langsung pada intisari atau isi pokok, tersirat dan tersurat dalam teks (Syah. Keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran pemahaman membaca Hal ini lebih terlihat dengan adanya tanya jawab yang terjadi antara guru dan siswa mengenai isi bacaan. Guru dan siswa yang melakukan tanya jawab dalam proses pembelajaran pemahaman membaca ingin menarik perhatian siswa sehingga agar mereka lebih tertarik dengan isi bacaan yang telah diberikan.
Sesuai dengan pendapat Alek & Achmad, guru dapat memandu diskusi secara sistematis sehingga siswa dapat memahami isi bacaan. Dalam proses pembelajaran pemahaman bacaan, guru berfungsi sebagai motivator bagi siswa untuk mencari pemahaman dan membuat pertanyaan dari isi bacaan.
Temuan Penelitian
Sesuai dengan pendapat Sadjaah, beliau menjelaskan bahwa seluruh aktivitas siswa tunarungu ditopang oleh fungsi visualnya sehingga penggunaan media pembelajaran sangat berguna dalam memahami objek dan hal-hal yang konkrit hingga yang abstrak.
Keterbatasan Penelitian
Siswa mampu melakukan langkah-langkah dalam metode SQ3R yaitu survei isi bacaan, dengan memperhatikan judul bacaan, gambar-gambar tentang bacaan, dan membaca kalimat pertama dan terakhir pada setiap paragraf, mengajukan pertanyaan tentang bacaan tersebut. , mampu membaca isi bacaan secara keseluruhan, menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar bacaan, menemukan hal-hal penting dalam bacaan, menemukan kata-kata yang kurang dipahami siswa dan kata benda yang terdapat dalam bacaan, serta menarasikan isi bacaan. benar dan konsisten. Meningkatnya kemampuan pemahaman membaca siswa terlihat dari siswa mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang membaca, siswa mampu merekonstruksi isi teks yang dibacanya, dan siswa mengenali kata-kata yang maknanya tidak mereka pahami dan kata benda yang dikandungnya. sedang membaca. Setelah menggunakan metode SQ3R dalam pemahaman membaca, siswa mampu mengenali hal-hal penting dalam isi bacaan.
Skor 4, apabila siswa mampu mengucapkan lebih dari atau sama dengan 2 kata dengan benar tanpa bantuan guru. Skor 4, apabila siswa mampu mengucapkan lebih dari atau sama dengan 3 kata dengan benar tanpa bimbingan guru. Skor 3, jika siswa dapat mengucapkan lebih dari atau sama dengan 3 kata dengan benar, namun memerlukan bimbingan dari guru.
Skor 4, apabila siswa mampu menghubungkan isi bacaan dengan benar dan runtut tanpa bimbingan guru. Skor 3, apabila siswa dapat menceritakan kembali isi bacaan dengan benar dan runtut, namun memerlukan bimbingan guru. Skor 2, apabila siswa dapat menceritakan kembali isi bacaan dengan benar dan runtut namun memerlukan banyak bimbingan dari guru.
Siswa sudah mampu membaca teks dengan lancar dan runtut, namun memerlukan waktu yang cukup lama. Siswa sudah mampu membaca teks dengan lancar dan runtut, namun memerlukan waktu yang cukup lama.
SIMPULAN DAN SARAN
Implikasi
Penerapan metode SQ3R dalam pengajaran pemahaman membaca pada siswa tunarungu dapat digunakan sebagai bahan referensi untuk melakukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan permasalahan yang berbeda. Metode SQ3R dapat menjadi salah satu alternatif solusi dalam mengatasi permasalahan pemahaman bacaan pada siswa tunarungu. Siswa mampu mengikuti langkah-langkah dalam metode SQ3R meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup.
Hal ini ditunjukkan dengan keaktifan siswa pada saat pelaksanaan tindakan, mampu berperan aktif dalam melakukan langkah-langkah pada metode SQ3R. Bagi guru, penerapan metode SQ3R dalam pengajaran pemahaman membaca dapat menjadi alternatif pilihan metode pengajaran. Berbagai kendala yang dihadapi selama melaksanakan penelitian ini dapat menjadi pertimbangan dalam merancang pembelajaran pemahaman membaca yang lebih menyenangkan.
Sekolah diharapkan mengembangkan kebijakan pengajaran membaca pemahaman yang sebaiknya dilakukan di rumah bekerjasama dengan orang tua agar keterampilan membaca pemahaman siswa dapat ditingkatkan secara optimal. Hasil penelitian ini dapat dijadikan literatur untuk meningkatkan keterampilan membaca pemahaman siswa tunarungu dengan menggunakan metode SQ3R. Desain penelitian yang digunakan adalah model Kemmis & Mc Taggart yang memiliki empat tahapan yaitu perencanaan, pengambilan tindakan, observasi dan refleksi.
Pelaksanaan pembelajaran membaca pemahaman menggunakan metode SQ3R pada siswa tunarungu kelas V di SLB Negeri 2 Bantul dilaksanakan dalam dua siklus. Refleksi dilakukan untuk melihat dampak terhadap keterampilan membaca pemahaman yang timbul dari tindakan yang diberikan.
Saran
Siswa dan guru mendiskusikan bacaan yang telah dibaca pada langkah resitasi yaitu membaca kembali dan menggarisbawahi hal-hal penting dalam bacaan serta menemukan kata-kata dan kata benda yang belum diketahui dalam bacaan tersebut. Siswa melakukan langkah resensi yaitu menuliskan hal-hal penting dalam bacaan agar dapat menceritakan kembali isi bacaan secara akurat dan runtut. Siswa dan guru mendiskusikan bacaan yang telah dibaca pada langkah resitasi yaitu membaca kembali dan menggarisbawahi hal-hal penting dalam bacaan tersebut serta menemukan nama dan kata yang belum diketahui maknanya dalam bacaan tersebut.
Siswa dan guru mendiskusikan bacaan yang telah dibaca pada langkah membaca yaitu membaca ulang, menggarisbawahi hal-hal penting dalam bacaan dan menemukan kata-kata dan kata benda yang tidak diketahui dalam bacaan. Siswa mampu menjawab pertanyaan secara mandiri sehingga siswa merasa kesulitan dan tidak mau dibimbing oleh guru. Siswa boleh menjawab pertanyaan, namun selalu meminta bimbingan guru untuk menemukan jawaban yang benar.