TUGAS PPG
LK 1.2 EKSPLORASI PENYEBAB MASALAH
NAMA : NINA ROSALINA NIM : 239059495046
LK. 1.2 Eksplorasi Penyebab Masalah pembelajaran peserta didik Nama Mahasiswa : Nina Rosalina
NIM : 239059495046
Asal Sekolah : SMPN 5 Cisompet
No
Masalah yang
telah diidentifikasi (di salin dari masalah yang berada di
LK1.1)
Hasil eksplorasi penyebab masalah Analisis eksplorasi penyebab masalah
1 Sebagian besar siswa kelas IX tidak mencapai kriteria kelulusan pada materi pokok teknologi listrik
Sumber Kajian Literatur Jurnal/artikel:
1. Faktor-faktor yang mempengaruhi ketidak tercapaian hasil belajar dikemukakan oleh Slameto (2010:54) bahwa factor yang mempengaruhi belajar banyak jenisnya tetapi dapat digolongkan menjadi dua golongan yaitu factor intern dan factor ekstern. Factor intern dapat berupa psikologis, kesehatan, kelelahan sedangkan factor ekstern dapat berupa factor keluarga, sekolah, dan factor masyarakat.
2. Menurut Hamalik (2013:12) faktor yang menjadi penyebab terjadinya ketidaktuntasan peserta didik dalam belajar yaitu: tidak stabilnya pikiran peserta didik dalam belajar dan kesehatan mental kurang, dikarenakan rasa rendah diri sebagai akibat kondisi sekolah yang kurang menguntungkan bagi peserta didik.
3. Berdasarkan hasil penelitian Martinus Arief Sudaryono (2018), dalam jurnalnya menyebutkan bahwa ketidaktercapain kriteria ketuntasan belajar siswa dapat disebabkan oleh (1) faktor perencanaan kurang baik dilihat dari ketidaksesuaian pelaksanaan tujuan, metode dan media dengan yang telah direncanakan sehingga menjadi faktor penyebab siswa tidak dapat mencapai KKM, (2) faktor pelaksanaan kurang baik dilihat dari kurang
Berdasarkan hasil analisis literature, wawancara dan hasil observasi yang telah dilakukan, dapat ditemukan bahwa faktor kesulitan belajar siswa disebabkan oleh beberapa hal diantaranya :
1. Daya tangkap siswa yang masih rendah dalam memahami dan menginterpretasikan materi pelajaran
2. Siswa mengalami kesulitan dalam memperhatikan atau fokus pada kegiatan pembelajaran
3. Kurangnya kesiapan, minat dan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran
4. Ketidaksesuaian pelaksanaan tujuan pembelajaran dengan yang telah direncanakan oleh guru
kesiapan siswa, minat, keaktifan dan pemberian motivasi sehingga menjadi faktor penyebab siswa tidak dapat mencapai KKM, dan (3) faktor evaluasi sudah baik dilihat dari kesesuaian materi dan tingkat kesulitan sedang, konstruksi dan bahasa soal yang jelas sehingga bukan faktor penyebab siswa tidak dapat mencapai KKM.
4. Menurut Abduhrrahman (2012, p.5), “Pada guru umumnya memandang semua siswa yang memperoleh prestasi belajar rendah disebut siswa berkesulitan belajar”.
5. Menurut Watson, dkk (2014, pp.8-9), terdapat delapan karektesistik peseta didik yang mengalami kesulitan belajar yakni: (a) Perception, peserta didik mengalami kesulitan dalam mengenali atau menafsirkan yang dirasakan, dilihat dan didengar; (b) Attention, merupakan ciri siswa yang mengalami kesulitan dalam memperhatikan atau fokus pada kegiatan pembelajan; (c) Memory,berkaitan dengan kesulitan siswa dalam mengelola informasi terlebih khusus mengelola informasi yang dibaca; (d) Processing Speed, merupakan kecakapan dalam memproses informasi. Akan ditemukan dalam kelas siswa yang cepat dalam memproses informasi dengan yang lamban. Hal tersebut dapat dilihat dari kecepatan mengusai materi pembelajaran; (e) Metacognition, peserta didik yang mengalami kesulitan belajar dengan ditandai mengalami kesulitan dalam membangun pemahaman baru atau membuat suatu kesimpulan dari yang dipelajari; (f) Language, peserta didik yang mengalami kesulitan dalam bahasa/fonologi; (g) Academic, peserta didk yang mengalami kesulitan belajar ditandai dengan penurunan pencapaian akademik.
Dengan kata lain pencapaian hasil belajar peserta didik tidak sama dengan yang dicapai sebelumnya; dan (h) Social, peserta didik yang mengalami kesulitan belajar ditandai dengan kemampuan sosial dalam belajar yang menurun.
Hasil Wawancara :
1. Kepala Sekolah ( Bapak enyang Suherman, S.Pd.)
o Siswa belum dapat memaknai tujuan pembelajaran bagi kehidupan yang akan dating o Model pembelajaran yang kurang tepat
5. Model pembelajaran yang kurang tepat ( tidak menstimulus dan memotivasi kepercayaan diri siswa).
Solusi yang dapat diambil untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan mengembangkan media pembelajaran yang lebih menarik agar dapat menarik minat dan focus perhatian siswa dalam proses pembelajaran.
o Guru yang kurang asik/tidak menyenangkan 2. Guru ( Ibu Eka Resnawati, S.Pd.)
o Guru dapat menggunakan metode belajar demonstrasi secara langsung maupun berupa video
o Guru dapat mengulang kegiatan pembelajaran jika peserta didik dirasa belum memahami materi ajar
o Mendatangkan guru tamu yang lebih ahli untuk memberikan penguatan pada materi teknologi listrik
3. Pengawas Sekolah (Iis Holisoh, S.Pd, M.Si) o Daya tangkap siswa rendah
o Manajemen kelas buruk
o Guru mengajar tidak menggunakan media yang menarik.
4. Pakar/ Dosen UNIGA ( Bapak Daud Mustofa, S.IP., M.si.)
o Adanya gangguan psikologis pada diri siswa seperti kurangnya perhatian dari keluarga, gangguan kesehatan dan kondisi emosional siswa
o Model pembelajaran yang kurang tepat sasaran o Media pembelajaran kurang menarik
2 Siswa cenderung pasif dalam pembelajaran ketika diskusi kelompok
Sumber Kajian Literatur Jurnal/artikel:
Sikap pasif
1. Menurut (Achmad, 2012) murid yang pasif memiliki kemampuan yang hebat, namun mereka malu untuk mengutarakan apa yang ada di dalam pikiran mereka, murid yang pasif tidak percaya diri, apalagi saat pendapat mereka disanggah dan menjadi bahan ejekan oleh teman kelas atau teman sebaya mereka.
2. Penjelasan terkait individu yang pasif dikatakan oleh Nuha (Hidayah, 2016: 18-19) bahwa, individu yang pasif akan membiarkan orang lain menentukan apa yang harus dilakukan dan sering kali berakhir dengan perasaan cemas, kecewa terhadap diri sendiri, dan bahkan kemungkinan akan berakhir dengan kemarahan dan perasaan tersinggung.
Berdasarkan hasil kajian literature, wawancara dan observasi yang telah dilakukan, terdapat beberapa factor yang menjadi fator penyebab pembelajaran pasif yaitu :
1. Siswa lamban dalam merespon pembelajaran/tidak cepat tanggap 2. Kebanyakan siswa malu atau tidak
percaya diri dalam mengutarakan pendapat
3. Kurangnya keterampilan siswa dalam berbicara dan bertanya
3. Terdapat beberapa karakteristik perilaku siswa pasif menurut Ibid (Hidayah, 2016: 21), yaitu: (1) anak terlihat lamban dalam merespon stimulus; (2) pendiam; (3) acuh tak acuh dan mengabaikan; (4) sering merasa cemas dan gugup menghadapi orang; (5) cenderung pemalu, sukar bergaul, dan menyendiri.
4. Terkait penjelasan tentang karakteristik siswa pasif, maka Mazzei (Munk & Agregaard, 2018: 5) membagi 5 tipe pasif pada siswa, yaitu: 1) Sikap pasif yang sopan terjadi ketika takut menyinggung orang lain. 2) Pasif yang istimewa, ketika enggan mengakui atau mengakui hak istimewa diri sendiri. 3) Pasif terselubung, ketika menyamarkan apa atau siapa mereka. 4) Pasif yang disengaja, ketika orang memilih untuk tidak berbicara karena mereka tidak yakin apa reaksi atau sanksi yang dapat diprovokasi. 5) Pasif yang tidak dapat dipahami, mempunyai tujuan tetapi tidak dapat dilihat atau dimengerti, dan tetap tidak dapat dimengerti oleh peneliti.
Kemampuan berkomunikasi yang dimiliki siswa kurang baik
1. Menurut Erman Anom (2005: 28), komunikasi merupakan dasar dari seluruk interaksi antar manusia. Karena tanpa komunikasi interaksi antar umat manusia, baik secara perorangan, kelompok maupun organisasi tidak mungkin terjadi. Sebagian interaksi manusia berlangsung dalam situasi komunikasi antar pribadi.
2. Menurut Suryosubroto (2009:147) “komunikasi dalam pembelajaran adalah hubungan timbal balik antara guru (pendidik) dan peserta didik (murid), dalam suatu sistem pengajaran”.
Dalam kehidupan sehari-hari disadari atau tidak komunikasi adalah bagian dari kehidupan manusia itu sendiri. Manusia sejak dilahirkan sudah berkomunikasi dengan lingkungannya.
3. Menurut pendapat Suranto AW (2011) “ada beberapa keterampilan yang harus dikuasai dalam komunikasi interpersonal” diantaranya : 1. Keterampilan Berbicara 2. Keterampilan Bertanya 3. Keterampilan Membuka Pintu Komunikasi 4. Keterampilan Menjaga Sopan Santun 5.
4. Terdapat beberapa siswa yang terkesan acuh tak acuh/mengabaikan pembelajaran
5. Guru yang kurang menghargai usaha siswa
6. Media pembelajaran yang kurang menarik
7. Model pembelajaran yang kurang tepat
Solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut datas adalah dengan penggunaaan dan pengembangan media pembelajaran serta penggunaan model pembelajaran yang tepat, sehingga siswa dapat lebih terbuka dalam bertanya dan mengemukaankan pendapat jika kegiatan pembelajaran lebih menarik dan menyenangkan.
Keterampilan Meminta Maaf Pada Saat Merasa Bersalah 6. Cepat Tanggap dan Bertanggung Jawab 7. Perhatian dan Kepedulian 8. Memiliki Empati 9. Keterampilan Mendengarkan 4. Menurut William I. Gorden (dalam Ami Purnamawati, 2010: 197), kemampuan
berkomunikasi secara efektif merupakan kemampuan dalam menukarkan ide atau gagasan dan pesan terhadap orang lain secara efektif sehingga akan membuat pendengar mendengarkan apa yang kita katakan (atau melihat yang ditunjukkan kepada orang lain), membuat pendengar memahami yang didengar atau lihat, membuat pendengar menyetujui yang telah mereka dengar (atau tidak menyetujui apa yang dikatakan, tetapi dengan pemahaman yang benar), membuat pendengar mengambil tindakan yang sesuai dengan maksud pengirim dan maksud pengirim bisa diterima, dan memperoleh umpan balik dari pendengar. Sehingga orang tersebut mampu membangun Konsep Diri (Establishing Self- Concept), eksistensi diri (Self Existence), kelangsungan hidup (Live Continuity), memperoleh kebahagiaan (Obtaining Happiness), dan terhindar dari tekanan dan ketegangan
Hasil Wawancara
1. Kepala Sekolah ( Bapak enyang Suherman, S.Pd.) o Siswa tidak memahami materi ajar
o Siswa merasa malu atau takut menyampaikan pendapat 2. Guru ( Ibu Eka Resnawati, S.Pd.)
o Siswa tidak memiliki wawasan pengetahuan yang baik o Siswa merasa tidak ingin menonjol di kelas
o Sikap siswa yang pemalu o Mengabaikan pembelajaran
3. Pengawas Sekolah (Iis Holisoh, S.Pd, M.Si)
o Siswa merasa takut salah dalam menyampaikan pesan/pendapat o Guru sering menjudge siswa salah ketika pendapatnya tidak sesuai o Guru kurang menghargai pendapat siswa
4. Pakar/ Dosen UNIGA ( Bapak Daud Mustofa, S.IP., M.si.) o Siswa kurang cepat dalam merespon pembelajaran
o Siswa merasa gugup
o Kurangnya keterampilan siswa dalam berbicara dan bertanya o Model pembelajaran yang kurang tepat
3 Motivasi belajar rendah Sumber Kajian Literatur Jurnal/artikel:
1. Gray (Winardi, 2002) mengemukakan bahwa motivasi merupakan sejumlah proses, yang bersifat internal atau eksternal bagi seorang individu, yang menyebabkan timbulnya sikap antusiasme dan persistensi, dalam hal melaksanakan kegiatan- kegiatan tertentu.
2. Menurut Handoko (1992: 59), untuk mengetahui kekuatan motivasi belajar siswa, dapat dilihat dari beberapa indicator sebagai berikut : a) Kuatnya kemauan untuk berbuat b) Jumlah waktu yang disediakan untuk belajar c) Kerelaan meninggalkan kewajiban atau tugas yang lain d) Ketekunan dalam mengerjakan tugas.
3. Menurut Hendrizal dalam jurnalnya yang berjudul Rendahnya Motivasi Belajar Siswa Dalam Proses Pembelajaran, faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya motivasi belajar siswa diantaranya adalah sebagai berikut: 1. Metode mengajar guru. Metode dan cara-cara mengajar guru yang monoton dan tidak menyenangkan akan mempengaruhi motivasi belajar siswa 2. Tujuan kurikulum dan pengajaran yang tidak jelas 3. Tidak adanya relevansi kurikulum dengan kebutuhan dan minat siswa 4. Latar belakang ekonomi dan social budaya siswa 5. Sebagian besar siswa yang berekonomi lemah tidak mempunyai motivasi yang kuat untuk belajar dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Contohnya siswa yang berasal dari pesisir pantai misalnya lebih memilih langsung bekerja melaut dari pada bersekolah, . 6. Kemajuan teknologi dan informasi. Siswa hanya memanfaatkan produk teknologi dan informasi untuk memuaskan kebutuhan kesenangan saja. 7. Merasa kurang mampu terhadap mata
Berdasarkan hasil kajian literature, wawancara dan observasi yang telah dilakukan, terdapat beberapa hal yang menjadi fator penyebab motivasi belajar rendah di SMPN 5 Cisompet, diantaranya yaitu
1. Latar belakang sebagian besar siswa yang berekonomi rendah
2. Literasi siswa yang rendah, terdapat beberapa siswa yang masih belum lancer menulis dan membaca
3. Siswa tidak akan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi
4. Siswa masih bingung menentukan cita-cita 5. Model dan media pembelajaran yang
kurang tepat
Solusi yang dapat dilakukan yaitu dengan pengembangan media pembelajaran dan memilih metode yang tepat untuk membangkitkann motivasi atau keinginan belajar siswa, sehingga siswa berantusias dalam mengikuti kegiatan pembelajaran serta berkolabolasi dengan guru BK untuk mnegadakan penyuluhan terkait cita-cita dan melanjutkan sekolah untuk menunjang kehidupan di masa adepan.
pelajaran tertentu, seperti matematika, dan bahasa inggris 8. Masalah pribadi siswa baik dengan orang tua, teman maupun dengan lingkungan sekitarnya.
4. Majid (2008) menjelaskan hal-hal yang dapat dilakukan untuk membangkitkan motivasi belajar siswa yaitu : 1) Memilih cara dan metode mengajar yang tepat termasuk memperhatikan penampilannya 2) Menginformasilkan dengan jelas tujuan pembelajaran yang ingin dicapai 3) Menghubungkan kegiatan belajar dengan minat siswa 4) Melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan pembelajaran misalnya melalui kerja kelompok 5) Melakukan evaluasi dan menginformasikan hasilnya, sehingga siswa mendapat informasi yang tepat tentang keberhasilan dan kegagalan dirinya 6) Melakukan improvisasi-improvisasi yang bertujuan untuk menciptakan rasa senang anak terhadap belajar. Misalnya kegiatan belajar diseling dengan bernyanyi bersama atau sekedar bertepuk tangan yang meriah 7) Menanamkan nilai atau pandangan hidup yang positif tentang belajar misalnya dalam agama islam belajar dipandang sebagi sebuah kegiatan jihad yang akan mendapatkan nilai amal disisi Allah. 8) Menceritakan keberhasilan para tokoh-tokoh dunia yang dimulai dengan mimpi-mimpi mereka dan ceritakan juga cara- cara mereka meraih mimpi-mimpi itu. Ajak siswa untuk bermimpi meraih sukses dalam bidang apa saja seperti mimpinya para tokoh dunia tersebut. 9) Memberikan respon positif kepada siswa ketika mereka berhasil melakukan sebuah tahapan kegiatan belajar.
Respon positif ini bisa berupa pujian, hadiah, atau pernyataan-pernyataan positif lainnya.
Sumber Wawancara
1. Kepala Sekolah ( Bapak enyang Suherman, S.Pd.) o Literasi siswa rendah
o Kurangnya dukungan orang tua
2. Guru ( Ibu Eka Resnawati, S.Pd.)
o Wawasan pengetahuan siswa kurang baik karena literasi rendah o Tidak memiliki cita-cita
o Siswa tidak akan melanjutkan sekolah ke jenjang ayang lebih tingga 3. Pengawas Sekolah (Iis Holisoh, S.Pd, M.Si)
o Metode mengajar guru yang membosankan
o Guru dapat menggunakan media IT yang relevan dengan materi pembelajaran 4. Pakar/ Dosen UNIGA ( Bapak Daud Mustofa, S.IP., M.si.)
o Media pembelajaran yang kurang menarik
o Latar belakang social budaya siswa yang berekonomi menengah ke bawah
4 Siswa mempunyai kebiasaan menunda-nunda tugas (proaktinasi)
Sumber Kajian Literatur Jurnal/artikel:
1. Proaktinasi berkaitan dengan ketakutan seseorang mengalami kegagalan, tidak menyukai pekerjaan yang diberikan, tidak sanggup berdiri sendiri, melawan aturan dan sulit membuat keputusan ( Hartman dan Zimberoff, 2003 dalam Abdilla dan Fitriana, 2021)
2. Proaktinasi adalah suatu kecenderungan untuk menunda dalam memulai maupun menyelesaikan kinerja secara keseluruhan untuk melakukan aktivitas lain yang tidak berguna, sehingga kinerja menjadi terhambat, tidak pernah menyelesaikan tugas tepat waktu serta sering terlambat dalam menghadiri pertemuan-pertemuan ( Solomon dan Rothblum, 1984 dalam Ulum, 2016)
3. Menurut Mustakim (2015) factor-faktor yang dapat mempengaruhi proaktinasi akademik adalah
Locus of control, diartikan sebagai kemampuan untuk menyusun, membimbing, mengatur dan mengarahkan bentuk perilaku yang dapat membawa ake arah konsekuensi positif
Factor dukungan social, merupakan salah satu bentuk dorongan yang dilakukan oleh lingkungan social dalam bentuk nasihat verbal atau nonverbal yang
Berdasarkan kajian literature, wawancara dan observasi yang dilakukan, penyebab proaktinasi siswa SMPN 5 Cisompet yaitu 1. Siswa lebih senang melakukan aktivitas
lain, seperti bermain game dll
2. Kurangnya dorongan atau dukungan orang tua
3. Lingkungan pergaulan siswa yang kurang baik
4. Kontrol diri, niat dan daya juang siswa yang rendah
5. Guru yang tidak tegas dan disiplin dalam batas pengumpulan tugas
6. Guru kurang memotivasi siswa dalam disiplin belajar
7. Kurikulum yang kurang mendukung pembelajaran dalam artian mau bagaimanapun siswa pasti akan mendapat nilai dan lulus
memberikan manfaat emosiaonal atau efek perilaku bagi individu sebagai makhluk sosial
Factor kepribadian, dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk dari sifat-ifat yang ada pada diri individu
Factor perfectionism,, merupakan salah satu aktualisasi diri ideal yang memiliki 3 aspek yaitu pencarian keagungan neurotic (kasih sayang dan penerimaan diri), penuntut neurotic dan kebanggaan neurotic atau tidak menerima sesuatu yang belum sempurna..
8. Ciri-Ciri Prokrastinasi menurut Ferrari (1995, dalam Putra & Halimah, 2015) Ciri-ciri prokrastinasi akademik adalah: 1. Penundaan untuk memulai ataupun menyelesaikan kerja pada tugas yang dihadapi 2. Adanya keterlambatan dalam mengerjakan tugas 3. Adanya kesenjangan waktu antara rencana dengan kinerja aktual dalam mengerjakan tugas 4.
Adanya kecenderungan untuk melakukan aktivitas lain yang dipandang lebih mendatangkan hiburan dan kesenangan.
Hasil Wawancara
1. Kepala Sekolah ( Bapak enyang Suherman, S.Pd.) o Guru kurang tegas dalam pembelajaran
o Guru tidak disiplin dalam waktu penyelesaian tugas o Kurangnya dukungan orang tua
2. Guru ( Ibu Eka Resnawati, S.Pd.)
o Siswa memiliki banyak tugas yang harus dikerjakan
o Siswa tidak mau mengumpulkan tugas jika belum selesai seluruhnya o Dapat diengaruhi oleh lingkungan pergaulan siswa
o Prinsip siswa yang jika tidak mengerjakan pasti mendapat nilai dan lulus 3. Pengawas Sekolah ( Ibu Iis Holisoh, S.Pd., M.si.)
o Siswa kelelahan/kondisi kesehatan kurang baik o Siswa lebih senang melakukan aktivitas lain
o Kurangnya dukungan orang tua dalam proses pembelajaran
Untuk merubah perilaku proaktinasi siswa di sekolah guru dapat berkolaborasi dengan orang tua dan guru BK agar kontol diri dan disiplin siswa dapat lebih baik lagi.
4. Pakar/ Dosen UNIGA ( Bapak Daud Mustofa, S.IP., M.si.) o Kecemasan dan ketakutan terhadap kegagalan
o kontrol diri, niat dan daya juang yang rendah o disiplin diri siswa rendah
5 Rasa percaya diri siswa rendah Sumber Kajian Literatur Jurnal/artikel:
Kepercayaan diri menjadi salah satu faktor yang dapat berpengaruh terhadap keberhasilan belajar siswa.
1. Menurut Afiatin dan Andayani (dalam Ghufron dan Rini, 2010: 34) kepercayaan diri merupakan aspek kepribadian yang berisi keyakinan tentang kekuatan, kemampuan dan keterampilan yang dimilikinya. Seseorang yang memiliki kepercayaan diri biasanya menganggap bahwa dirinya mampu melakukan segala sesuatu yang dihadapinya dengan kemampuan yang dimilikinya. Lauster (dalam Ghufron dan Rini, 2010:35) menjelaskan bahwa ciri-ciri kepercayaan diri antara lain keyakinan kemampuan diri, optimis, objektif, bertanggung jawab, rasional dan realistis
2. Yudha dan Suwarjo (2014: 45) menyatakan bahwa faktor yang berpengaruh pada kepercayaan diri adalah faktor internal dan eksternal. Faktor internal merupakan gambaran mental tentang diri seseorang (self concept), sejauh mana seseorang punya keyakinan kemampuan diri (self efficacy) atau kemampuan diri seseorang dalam mengerjakan sesuatu hal atas kemampuannya sendiri tanpa bantuan orang lain, kesadaran akan harga diri seseorang (self esteem), dan keberhasilan seseorang dalam meraih cita-cita serta keinginan yang disertai dengan tekat yang kuat. Santrock (2003: 338) menyebutkan bahwa ada dua sumber penting dukungan sosial yang berpengaruh terhadap rasa percaya diri individu, yaitu hubungan dengan orang tua dan hubungan dengan teman sebaya.
Berdasarkan penjelasan dalam analisis literature, wawancara dan observasi yang telah dilakukan, terdapat beberapa factor yang mempengaruhi kurangnya rasa percaya diri siswa SMPN 5 Cisompet diantaranya :
1. Adanya perilaku bullying di sekolah yang menyebabkan beberapa siswa menjadi menarik diri, takut dan pemalu.
2. Siswa sering mendapat penolakan di lingkungan keluarga atau masyarakat sehingga rasa percaya diri siswa di sekolah rendah
3. Tingkat status ekonomi siswa yang rendah 4. Guru kurang menghargai pendapat atau hasil
karya siswa
5. Guru belum menggunakan model pembelajaran yang dapat menstimulus dan memotivasi kepercayaan diri siswa.
Solusi yang dapat diambil untuk mengurangi kurangnya rasa percaya diri siswa di sekolah
3. Menurut Sugiarto (Fiorentika, K., Santoso & Simon, 2016) menjelaskan bahwa ciri-ciri dari orang yang memiliki kepercayaan diri yaitu selalu menjauhi kontak mata contohnya seperti, menjauhi pandangan, selalu menunduk, sering emosional untuk melepaskan kecemasannya, kurang berkomunikasi dan menjawab dengan singkat seperti menjawab dengan singkat (“Ya”) ataupun (“Tidak”)
4. Tanjung & Amelia (2017) menjelaskan factor-faktor sehingga dapat mempengaruhi kepercayaan dirinya seperti keluarga, status ekonomi, bentuk wajah, bentuk fisik, pendidikan dan kemampuan, penyesuaian diri serta kebiasaan gugup ketika melakukan sesuatu
Sumber Wawancara :
1. Kepala Sekolah ( Bapak enyang Suherman, S.Pd.)
o Siswa sering mendapat penolakan dari orang lain, terutama dari orang terdekat o Sering mengalami penghinaan dari teman sekelas(bullying)
o Guru dapat menggunakan model dan metode pembelajarab yang dapat menstimulasi tingkat kepercayaan diri siswa
2. Guru ( Ibu Eka Resnawati, S.Pd.)
o Siswa merasa tidak mampu karena kurangnya wawasan pengetahuan o Siswa takut salah menjawab
o Memberikan teknik reward pada siswa yang berhasil menjawab/menyampaikan ide gagasan
3. Pengawas Sekolah ( Ibu Iis Holisoh, S.Pd., M.si.)
o Guru kurang menghargai pendapat/hasil kerja siswa o Tingkat status ekonomi rendah
o Guru dapat memancing keaktifan siswa dengan pertanyaan pematik agar dapat menstimulus rasa percaya diri siswa
4. Pakar/ Dosen UNIGA ( Bapak Daud Mustofa, S.IP., M.si.)
o Guru dapat bertindak sebagai teman di kelas ketika melakukan diskusi
dapat dilakukan guru dapat terus meningkatkan rasa percaya diri siswa dengan menggunakan metode maupun model pembelajaran yang sesuai dalam kegiatan pembelajaran seperti misalnya metode inkuiri, model PBM (problem base learning), TGT (Teams Games Tournament), dll.
Selain itu kolabolari guru dengan orang tua dan guru BK juga perlu dilakukan sebagai tindak lanjut secara umum.
o Adanya bullying di sekolah sehingga siswa merasa tertekan dalam kelas
o Guru dapat mennggunakan model pembelajaran yang dapat meningkatkan kepercayaan diri siswa
6 Kurangnya pemanfaatan sumber belajar di lingkungan sekolah
Sumber Kajian Literatur Jurnal/artikel:
Beberapa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya mengungkapkan jika pemanfaatan sumber belajar memiliki pengaruh terhadap hasil belajar, diantaranya yaitu:
1. Penelitian yang dilakukan oleh Maharani, dkk (2014), Utami, dkk (2017), dan Savitri, dkk (2018) yang mengemukan bahwa secara positif dan signifikan pemanfaatan sumber belajar berpengaruh terhadap hasil belajar.
2. Mclsaac dan Gunawardena dalam S. Supriadi (2017) menjelaskan bahwa sumber belajar yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pembelajaran sangat beraneka ragam jenis dan bentuknya. Sumber belajar tersebut bukan hanya dalam bentuk bahan cetakan seperti buku teks akan tetapi pelajar dapat memanfaatkan sumber belajar yang lain seperti radio pendidikan, televisi, komputer, e-mail, video interaktif, komunikasi satelit, dan teknologi komputer multimedia dalam upaya meningkatkan interaksi dan terjadinya umpan balik dengan peserta didik.
3. Menerut Reigeluth dalam S. Supriadi (2017) sumber belajar berperan dalam meningkatkan produktivitas pembelajaran dengan jalan: (a) mempercepat laju belajar dan membantu pengajar untuk menggunakan waktu secara lebih baik dan (b) mengurangi beban pengajar dalam menyajikan informasi,sehingga dapat lebih banyak membina dan mengembangkan gairah, (2) Memberikan kemungkinan pembelajaran yang sifatnya lebih individual, dengan bara: (a) mengurangi _control dosen yang kaku dan tradisional; dan (b) memberikan kesempatan bagi pebelajar untuk berkembang sesuai dengan kemampuannnya, (3) Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran dengan cara: (a) perancangan program pembelajaran yang lebih sistematis; dan (b) pengembangan bahan pengajaran yang
Berdasarkan hasil literature, wawancara dan observasi yang dilakukan ditemukan bahwa penyebab kurangnya pemanfaatan sumber belajar di lingkungan sekolah diantaranya:
1. Literasi siswa rendah sehingga tidak memanfaatkann sarana perpustakaan sebagai sumber belajar
2. Siswa lebih senang bersosial media daripada menggunakan media untuk belajar
3. Guru kurang memiliki kemampuan untuk menggunakan IT sebagai media pembelajaran
Untuk menindaklanjuti penyebab permasalahan tersebut dapat dilakukan dengan diadakan workshop untuk meningkatkan kemampuan IT guru agar dapat menggunakan IT sebagai media pembelajaran dan siswa dapat mengurangi bersosial media
dilandasi oleh penelitian, (4) Lebih memaksimalkan pembelajaran, dengan jalan:
(a) meningkatkan kemampuan sumber belajar; (b) penyajian informasi dan bahan secara lebih konkrit, (5) Memungkinkan belajar secara seketika, yaitu: (a) mengurangi kesenjangan antara pembelajaran yang bersifat verbal dan abstrak dengan realitas yang sifatnya kongkrit; (b) memberikan pengetahuan yang sifatnya langsung, dan (6) Memungkinkan penyajian pembelajaran yang lebih luas, dengan menyajikan informasi yang mampu menembus batas geografis.
4. Adapun klasifikasi sumber belajar menurut Seels dan Richey sebagai berikut: (1) Pesan yang merupakan informasi yang disampaikan oleh komponen yang lain, biasanya berupa ide, makna, dan fakta. (2) Bahan yang merupakan kelompok alat yang sering disebut dengan perangkat lunak. Bahan yaitu segala sesuatu yang berupa teks tertulis, cetak, rekaman elektronik, web, dan Iain-Iain yang dapat digunakan untuk belajar; (3) Alat yang merupakan alat yang sering disebut perangkat keras. Sumber belajar tersebut, seperti komputer, OHP, kamera, radio, televisi, film bingkai, tape recorder, dan VCD/DVD; (4) Teknik yang merupakan prosedur baku atau pedoman langkah-langkah dalam penyampaian pesan(5) Latar yang merupakan lingkungan di mana pesan ditransmisikan.
Lingkungan adalah tempat di mana saja seseorang dapat melakukan belajar atau proses perubahan tingkah laku maka dikategorikan sebagai sumber belajar, misalnya perpustakaan, pasar, museum, sungai, gunung, tempat pembuangan sampah, kolam ikan dan lain sebagainya
Sumber Wawancara :
1. Kepala Sekolah ( Bapak enyang Suherman, S.Pd.) o Siswa kurang senang membaca
o Siswa lebih senang bermain social media 2. Guru ( Ibu Eka Resnawati, S.Pd.)
o Siswa tidak dapat memanfaatkan sumber belajar seperti menonton televise hanya untuk menonton sinetron bukan menonton enslikopedia atau kuis dsb
o Dukungan orang tua dan sarana dilingkungan siswa yang kurang memadai o Guru yang gaptek
3. Pengawas Sekolah ( Ibu Iis Holisoh, S.Pd., M.si.) o Latar belakang ekonomi siswa
o Siswa lebih senang bermain sosmed
4. Pakar/ Dosen UNIGA ( Bapak Daud Mustofa, S.IP., M.si.) o Kemampuan guru dalam memanfaatkan IT kurang baik o Literasi siswa rendah
REFERENSI 1. http://repository.upi.edu/2621/4/S_TM_0706932_Chapter1.pdf
2. Nurwidyawati, Helmi, S. Salmiah Sari . Faktor Penyebab Ketidaktuntasan Materi Fisika Pada Peserta Didik Sman 13 Makassar. Jurnal Sains Dan Pendidikan Fisika. Jilid 14, Nomor 3, Desemberl 2018 . Dapat Diakses Pada Https://Media.Neliti.Com/Media/Publications/319107-Faktor-Penyebab-Ketidaktuntasan- Materi-F-05c45423.Pdf
3. Martinus Arief Sudaryono. 2018. Analisis Faktor Penyebab Ketidaktercapaian Kriteria Ketuntasan Minimal Dalam Pembelajaran Sosiologi Siswa Kelas XII Iis.dapat diakses pada https://jurnal.untan.ac.id/index.php/jpdpb/article/viewFile/24332/75676575972
4. Abdurrahman, M. (2012). Anak Berkesulitan Belajar: Teori, Diagnosis dan remidiasinya. Jakarta: Rineka Cipta 5. https://repository.uir.ac.id/7642/1/MAHARANI%20EKA%20LUCKYTA%20SARI.pdf
6. Hardianty M. 2017. Skripsi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepasifan dan Kesulitan Siswa dalam Pembelajaran Matematika di Kelas VII SMP Negeri 1 Balusu.http://eprints.unm.ac.id/6115/1/Faktor=Faktor%20yang%20Mempengaruhi%20Kepasifan%20dan%20Kesulitan%20Siswa%20dalam%20Pembelajar an%20Matematika%20di%20Kelas%20VII% 0SMP%20Negeri%201%20Balusu.pdf
7. Riky Dwihandaka, Afan Ginanjar, Nur Sita Utami. 2020. Jurnal Pendidikan Jasmani Indonesia, Vol 16.
https://journal.uny.ac.id/index.php/jpji/article/view/35905.
8. https://jurnal.umk.ac.id/index.php/gusjigang/article/view/744/722
9. Jurnal Konseling GUSJIGANG Vol. 2 No. 2 (Juli-Desember 2016) Print ISSN 2460-1187, Online ISSN 2503-281X Dipublikasikan oleh: Program Studi Bimbingan dan Konseling FKIP Universitas Muria Kudus 204
10. https://ojs.adzkia.ac.id/index.php/pdk/article/view/57
11. Anom, Erman, Krisis Dan Strategi Public Relations Sebuah Pengantar, UIEU University Press, Jakarta, 2010 12. https://journal.gmpionline.com/index.php/jskkm/article/view/254
13. Winardi, 2002. Motivasi dan Pemotivasian dalam Manajeman. Jakarta: PT.Grafindo Persada
14. Suprihatin, Siti. Upaya guru dalam meningkatkan motivasi siswa. Jurnal Pendidikan Ekonomi UM Metro, 2015 - scholar.archive.org Jurnal riset rendahnya motivasi belajar Universitas Adzia. Https://ojs.adzkia.ac.id
15. Ghufron, M Nur & Rini Risnawati S. 2010, Teori-Teori Psikologi. Jogjakarta CB Yudha, S Suwarjo. Peningkatan kepercayaan diri dan proses belajar matematika menggunakan pendekatan realistik pada siswa sekolah dasar. Jurnal Prima Edukasia, 2014
16. Fiorentika, K., Santoso, D., & Simon, I. (2016). Keefektifan teknik self-instruction untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa smp. Jurnal Kajian Bimbingan Dan Konseling, 1(3), 104–111. https://doi.org/10.17977/um001v1i32016p104
17. Tanjung, Z., & Amelia, S. H. (2017). Menumbuhkan Kepercayaan Diri Siswa. JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia), 2(2), 1–5.
18. Ferlia Herdini. 2019.Analisis factor penyebab proaktinasi akademik siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas X IPS SMA Negeri 10 Pekan Baru. Dapat diakses pada https://repository.uir.ac.id/7950/1/156810474.pdf
19. Fatimaullah. 2019. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB PROKRASTINASI AKADEMIK TERHADAP PENYELESAIAN TUGAS AKHIR MAHASISWA JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING FKIP UNIVERSITAS HALU OLEO KENDARI. Dapat diakses pada http://ojs.uho.ac.id/index.php/bening/article/view/10673/7504
20. Abdullah Ramli. Pembelajaran Berbasis Pemanfaatan Sumber Belajar. https://jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/didaktika/article/view/449 21. https://jurnal.fatahillah.ac.id/index.php/elmoona/article/view/37/35
22. G. R. Morrison, Designing Effective Instruction ( New York: John Wiley & Sons, Inc, 2004), hal 23-26
23. Abdullah Ramli. Pembelajaran Berbasis Pemanfaatan Sumber Belajar. https://jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/didaktika/article/view/449
DOKUMENTASI WAWANCARA 1. Kepala Sekolah
Bapak Enyang Suherman, S.Pd.
2. Guru
Ibu Eka Resnawati, S.Pd.
3. Pakar
Bapak Daud Mustofa, S.IP., M.si. (Dosen UNIGA)