MAKALAH
Tugas Keracunan (Alkohol, obat, makanan/minuman) Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Gawat Darurat
Dosen Pengampu :Agil Putra Tri Kartika, M.Kep.,Ners
Disusun Oleh :
Iqbal Maulana Hardiansyah (210711023) KP21B
PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH CIREBON 2024-2025
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah “Keracunan” ini tepat pada waktunya.
Adapun tujuan dari penulisan dari tugas asuhan keperawatan adalah untuk memenuhi tugas dari Bpk. Agil Putra Tri Kartika, M.Kep.,Ners dosen Mata Kuliah Keperawatan Gawat Darurat.
Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk menambah wawasan bagi para pembaca dan juga bagi penulis. Kami mengucapkan terima kasih kepada Bpk. Agil Putra Tri Kartika, M.Kep.,Ners dosen Mata Kuliah Keperawatan Gawat Darurat yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan sesuai dengan bidang studi yang kami tekuni.
Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membagi sebagian pengetahuannya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas asuhan keperawatan ini.
Kami menyadari, yang kami ketik ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun akan kami nantikan demi kesempurnaan makalah ini.
Cirebon, 7 Juli 2024
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... 2
DAFTAR ISI ... 3
BAB I ... 5
PENDAHULUAN ... 5
A. Latar Belakang ... 5
B. Rumusan masalah ... 6
C. Tujuan ... 6
BAB II... 7
PEMBAHASAN ... 7
A. Definisi... 7
B. Etiologi ... 8
C. Klasifikasi ... 9
D. Patofisiologi ... 11
E. Pathway ... 13
F. Manisfetasi klinis ... 13
G. Komplikasi ... 13
H. Pemeriksaan penunjang ... 15
I. Penatalaksanaan ... 17
J. Diagnosa yang mungkin muncul ... 17
KESIMPULAN ... 19
DAFTAR PUSTAKA ... 20
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keracunan merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi dan dapat menimbulkan dampak serius bagi individu yang mengalaminya. Keracunan dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk konsumsi makanan yang terkontaminasi, penggunaan obat yang tidak tepat, dan konsumsi alkohol berlebihan. Oleh karena itu, penting untuk memahami faktor- faktor penyebab, gejala, pencegahan, dan penanganan keracunan untuk mengurangi risiko dan dampak negatifnya
Keracunan makanan merupakan sakit yang disebabkan oleh mengkonsumsi makanan yang diduga mengandung cemaran biologis atau kimia. Penyakit akibat keracunan makanan turut meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas seluruh dunia.
Pengetahuan terhadap pertolongan pertama keracunan makanan merupakan hal yang penting untuk mengurangi efek negatif keracunan makanan .
Keracunan adalah masuknya zat racun kedalam tubuh baik melalui saluran pencernaan,saluran pernafasan, atau melalui kulit atau mukosa yang menimbulkan gejala klinis. Angka yang pasti dari kejadian keracunan di Indonesia belum diketahui, meski banyak dilaporkan kejadian-kejadian keracunan di beberapa rumah sakit tetapi angka ini tidak menggambarkan kejadian yang sebenarnya di dalam masyarakat.
keracunan dilaporkan di seluruh dunia. Menurut WHO, kira-kira 370.000 kematian disebabkan oleh konsumsi bahan kimia yang disengaja setiap tahunnya.
Pestisida, obatobatan terlarang, dan alkohol ditemukan paling sering dalam kasus-kasus yang mengandung zat beracun (Zhang, dkk., 2013). Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI telah berhasil mencatat kasus keracunan makanan minuman yang timbul selama kurun waktu 3 tahun (2007-2009) sebanyak 1381 kasus (Handayani, 2012).
Penelitian yang dilakukan oleh Ani Septiani (2016) menemukan bahwa jenis pelayanan kegawatdaruratan yang paling sering dilakukan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Kabupaten Sumedang salah satunya adalah pelayanan pasien keracunan.
Menurut penelitian I made Agus dkk. (2007), tingginya prevalensi kasus keracunan dapat terlihat dari data penanganan kasus keracunan di Rumah Sakit Sanglah Denpasar
yaitu setiap bulannya terdapat 30-50 kasus keracunan. Penelitian yang dilakukan oleh Laila Safitrih dkk. (2016) menemukan angka kejadian keracunan di Instalasi Gawat Darurat RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto periode Januari 2012 – Desember 2014 adalah 117 kasus.
Terhitung mulai Desember 2013 hingga Desember 2014 tercatat kasus meninggal akibat minuman keras sebanyak 73 orang dari total 196 kasus keracunan.
National Institute on Alcohol Abuse and Alcoholism (NIH) menjelaskan berbagai bahaya kesehatan yang ditimbulkan dari konsumsi minuman keras, diantaranya gangguan otak, masalah jantung, gangguan hati (pembengkakan, hepatitis, alkoholik, fibrosis), kerusakan fungsi pankreas, kanker, dan penghancuran sistem kekebalan tubuh (Mulyadi, 2014). Farmasis dituntut untuk berperan lebih aktif dalam kasus keracunan di Indonesia (Wirasuta dan Suardamana, 2007).
B. Rumusan masalah
1. Apa saja penyebab utama keracunan makanan, obat, dan alkohol?
2. Bagaimana gejala-gejala yang timbul pada setiap jenis keracunan tersebut?
3. Apa saja faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan terjadinya keracunan makanan, obat, dan alkohol?
4. Bagaimana langkah-langkah pencegahan yang efektif untuk menghindari keracunan?
5. Apa saja metode penanganan yang tepat untuk masing-masing jenis keracunan?
C. Tujuan
1. Mengidentifikasi penyebab utama keracunan makanan, obat, dan alcohol.
2. Menjelaskan gejala-gejala yang muncul pada setiap jenis keracunan.
3. Menganalisis faktor risiko yang berkaitan dengan keracunan makanan, obat, dan alkohol.
4. Menyusun langkah-langkah pencegahan yang efektif untuk mengurangi risiko keracunan.
5. Mengembangkan panduan penanganan yang tepat untuk masing-masing jenis keracunan.
BAB II PEMBAHASAN A. Definisi
Keracunan ataupun intoksikasi adalah suatu kondisi dimana masuknya zat psikoaktif yang menyebabkan gangguan kognisi, kesadaran, persepsi, perilaku dan respon psikofisiologis. Dapat juga diartikan bahwa sebagai tanda masuknya suatu zat ke dalam tubuh seseorang yang dapat menyebakan ketidak normalan mekanisme yang ada di dalam tubuh hingga dapat menyebakan suatu kematian (WHO, 2017).
Di Indonesia terjadi kasus keracunan nasional yang disebabkan oleh beberapa macam penyebab yaitu binatang, tumbuhan, obat tradisional, komestika, pestisida, kimia, NAPZA (Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya), obat, pencemar lingkungan, makanan, produk suplemen, minuman, dan campuran. Data terakhir menyebutkan bahwa keracunan dominan disebabkan oleh obat-obatan yang dilarang beredar, salah satunya ialah pil PCC (BPOM, 2013).
Pil PCC merupakan obat yang mengandung zat aktif Carisoprodol, yang merupakan obat yang memiliki dampak penyalahgunaanya lebih besar dari pada efek terapinya. Sehingga obat yang mengandung Carisoprodol dibatalkan izin edarnya pada tahun 2013. Dimana zat tersebut memiliki efek samping kehilangan keseimbangan, sakit kepala yang berlebih sampai denyut jantung tidak stabil, kejangkejang, pingsan dan dapat menimbulkan kematian. Kematian dapat dihindari bila penatalaksanaan terapinya tidak terlambat dan tepat (Zona Sultra, 2017).
Menurut Permenkes Republik Indonesia nomor 2 tahun 2013 tentang kejadian luar biasa keracunan pangan, keracunan makanan adalah seseorang yang menderita sakit dengan gejala dan tanda keracunan yang disebabkan karena mengonsumsi makanan yang diduga mengandung cemaran biologis atau kimia.
Menurut Arisman (2009) foodborne illness dikelompokkan menjadi tiga yaitu foodborne infections, foodborne intoxication, dan foodborne toxicoinfections.
Foodborne infection terjadi apabila seseorang memakan mikroorganisme yang mengiritasi bahkan menginvasi saluran pencernaan, misalnya adalah Listeria, Salmonella, dan Campylobacter. Foodborne intoxication terjadi apabila seseorang mengonsumsi makanan yang telah mengandung racun baik yang dihasilkan oleh bakteri maupun patogen lainnya. Foodborne toxicoinfections terjadi apabila mikroorganisme
yang masuk melalui makanan yang dikonsumsi mengiritasi dan mampu menghasilkan toksin yang membahayakan bagi tubuh.
Kejadian luar biasa (outbreak) keracunan makanan adalah terjadinya dua atau lebih kasus penyakit yang disebabkan oleh suatu jenis makanan, sedangkan untuk kasus keracunan tertentu seperti botulism oleh Clostridium botulinum maupun oleh toksin paralisis yang disebabkan karena konsumsi kerang sering hanya terdiri dari satu kasus tetapi berakibat fatal, hal ini disebut dengan insiden.
B. Etiologi
a. Keracunan Makanan 1. Bakteri
• Salmonela, Ditemukan pada daging mentah, telur, dan produk susu yang tidak dipasteurisasi.
• Escherichia coli (E. coli): Biasanya terdapat pada daging sapi yang tidak dimasak dengan baik, sayuran yang terkontaminasi, dan air yang tidak bersih.
• Listeria: Ditemukan pada produk susu yang tidak dipasteurisasi, daging siap saji, dan makanan laut yang terkontaminasi.
2. Virus
• Norovirus: Penyebab umum keracunan makanan yang ditularkan melalui makanan yang terkontaminasi, air, atau kontak dengan orang yang terinfeksi.
• Hepatitis A: Dapat menyebar melalui makanan atau air yang terkontaminasi.
3. Parasit
• Giardia: Ditemukan dalam air yang terkontaminasi.
• Toxoplasma: Biasanya ditemukan dalam daging yang kurang matang dan kotoran kucing.
4. Racun Alami
• Histamin: Ditemukan dalam ikan yang tidak disimpan dengan benar (misalnya, tuna, makarel).
• Ciguatera: Racun yang ditemukan dalam beberapa jenis ikan tropis.
b. Keracunan Obat 1. Overdosis
• Parasetamol: Penggunaan yang melebihi dosis yang direkomendasikan dapat menyebabkan kerusakan hati.
• Opioid: Seperti morfin, heroin, dan fentanyl, yang dapat menyebabkan depresi pernapasan dan kematian.
• Antidepresan: Penggunaan yang berlebihan dapat menyebabkan berbagai efek samping serius, termasuk gangguan jantung dan kejang.
2. Interaksi Obat
• Menggabungkan obat tanpa petunjuk medis yang tepat dapat menyebabkan interaksi berbahaya. Misalnya, kombinasi obat yang meningkatkan kadar serotonin dapat menyebabkan sindrom serotonin.
3. Obat Palsu atau Terkontaminasi
• Obat-obatan yang tidak memenuhi standar keamanan dan kualitas dapat menyebabkan keracunan.
c. Keracunan Alkohol 1. Konsumsi Berlebihan
• Minum alkohol dalam jumlah besar dalam waktu singkat (binge drinking) dapat menyebabkan keracunan alkohol, yang mengganggu fungsi otak dan organ tubuh lainnya.
2. Minuman Beralkohol yang Tidak Aman
• Alkohol metanol, yang kadang-kadang ditemukan dalam minuman beralkohol buatan sendiri atau yang diproduksi secara ilegal, sangat beracun dan dapat menyebabkan kebutaan atau kematian.
3. Interaksi dengan Obat
• Mengonsumsi alkohol bersamaan dengan obat-obatan tertentu (misalnya, obat penenang atau opioid) dapat meningkatkan risiko keracunan dan komplikasi serius.
C. Klasifikasi
Klasifikasi keracunan makanan, obat, dan alkohol dapat dibagi berdasarkan beberapa kriteria seperti jenis agen penyebab, gejala klinis, dan mekanisme keracunan. Berikut adalah penjelasan rinci tentang masing-masing klasifikasi:
a. Keracunan Makanan
1. Berdasarkan Agen Penyebab :
• Bakteri: Salmonella, E. coli, Staphylococcus aureus, Listeria.
• Virus: Norovirus, Rotavirus, Hepatitis A.
• Parasit: Giardia, Cryptosporidium, Toxoplasma gondii.
• Toksin: Toksin botulinum, toksin stafilokokus, toksin dari jamur (mikotoksin).
2. Berdasarkan Gejala :
• Gastrointestinal: Mual, muntah, diare, kram perut.
• Neurologis: Pusing, sakit kepala, kelumpuhan (pada kasus botulisme).
3. Berdasarkan Mekanisme :
• Infeksi: Agen patogen menyerang saluran pencernaan.
• Intoksikasi: Mengkonsumsi makanan yang mengandung toksin.
b. Keracunan Obat
1. Berdasarkan Jenis Obat:
• Obat Penenang dan Hipnotik: Benzodiazepin, barbiturat.
• Analgesik: Opioid (morfina, heroin), parasetamol, aspirin.
• Obat Psikotropika: Antidepresan, antipsikotik
• Obat Kardiovaskular: Beta-blocker, calcium channel blockers, digitalis.
2. Berdasarkan Gejala :
• Sistem Saraf Pusat: Depresi pernapasan, kejang, koma.
• Sistem Kardiovaskular: Bradikardia, takikardia, hipotensi, hipertensi.
• Sistem Pencernaan: Mual, muntah, diare.
3. Berdasarkan Mekanisme :
• Overdosis: Konsumsi obat dalam dosis yang lebih tinggi dari yang direkomendasikan.
• Interaksi Obat: Efek samping yang disebabkan oleh interaksi antara dua atau lebih obat.
• Idiosinkratik: Reaksi tak terduga yang spesifik pada individu tertentu.
c. Keracunan Alkohol
1. Berdasarkan Jenis Alkohol :
• Ethanol (alkohol etil): Bahan aktif dalam minuman beralkohol.
• Methanol (alkohol metil): Terkandung dalam alkohol industri dan beberapa produk rumah tangga.
• Isopropanol (alkohol isopropil): Bahan dalam pembersih dan antiseptik.
2. Berdasarkan Gejala :
• Ringan: Pusing, euforia, mual.
• Sedang: Kebingungan, muntah, disorientasi.
• Berat: Koma, henti napas, kematian.
3. Berdasarkan Mekanisme :
• Keracunan Akut: Konsumsi alkohol dalam jumlah besar dalam waktu singkat.
• Keracunan Kronis: Konsumsi alkohol dalam jumlah besar secara terus- menerus.
• Toksisitas Metabolit: Metabolit dari alkohol (misalnya, formaldehid dari metanol) yang menyebabkan kerusakan jaringan.
D. Patofisiologi
a. Keracunan Makanan
1. Penyimpanan dan Penanganan Makanan yang Buruk
• Penyimpanan makanan pada suhu yang tidak tepat.
• Kontaminasi silang antara makanan mentah dan matang.
• Tidak mencuci tangan sebelum menyiapkan atau mengonsumsi makanan.
2. Kondisi Kebersihan yang Buruk
• Kebersihan dapur dan peralatan masak yang tidak memadai.
• Air yang terkontaminasi digunakan dalam proses memasak atau minum.
3. Konsumsi Makanan Berisiko Tinggi
• Makanan laut mentah atau setengah matang.
• Daging yang tidak dimasak dengan baik
• Produk susu yang tidak dipasteurisasi.
4. Sistem Kekebalan Tubuh yang Lemah
• Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti bayi, lansia, dan orang dengan penyakit kronis atau kondisi imunodefisiensi, lebih rentan terhadap keracunan makanan.
b. Keracunan Obat
1. Penggunaan Obat yang Tidak Tepat
• Mengonsumsi obat tanpa resep atau instruksi dari dokter.
• Overdosis obat, baik secara sengaja atau tidak sengaja.
• Menggunakan obat yang sudah kadaluarsa atau tidak disimpan dengan benar.
2. Interaksi Obat
• Menggabungkan obat-obatan tertentu tanpa konsultasi medis, yang dapat menyebabkan interaksi berbahaya.
• Mengonsumsi obat bersamaan dengan alkohol atau zat lainnya yang dapat meningkatkan efek toksik.
3. Kurangnya Pengetahuan tentang Obat
• Kurangnya edukasi atau informasi mengenai dosis, efek samping, dan interaksi obat.
4. Penyakit atau Kondisi Medis
• Kondisi medis tertentu seperti penyakit hati atau ginjal yang dapat mempengaruhi metabolisme obat dan meningkatkan risiko keracunan.
c. Keracunan Alkohol 1. Konsumsi Berlebihan
• Minum alkohol dalam jumlah besar dalam waktu singkat (binge drinking).
• Konsumsi alkohol yang sering dan berlebihan.
2. Penggunaan Alkohol pada Usia Muda
• Remaja dan orang muda yang mengonsumsi alkohol lebih rentan terhadap keracunan alkohol karena tubuh mereka belum sepenuhnya berkembang untuk memproses alkohol.
3. Interaksi dengan Obat
• Mengonsumsi alkohol bersamaan dengan obat-obatan tertentu, terutama obat penenang, opioid, dan obat yang mempengaruhi sistem saraf pusat.
4. Kondisi Kesehatan Mental
• Individu dengan gangguan kesehatan mental atau masalah penyalahgunaan zat lebih rentan terhadap keracunan alkohol.
5. Minuman Beralkohol Tidak Aman
• Konsumsi minuman beralkohol yang diproduksi secara ilegal atau mengandung zat berbahaya seperti metanol.
E. Pathway
F. Manisfetasi klinis
Tanda dan gejala keracunan alkohol meliputi:
• Kebingungan atau disorientasi.
• Mual dan muntah.
• Kejang.
• Pernapasan lambat (kurang dari delapan napas per menit).
• Pernapasan tidak teratur (jeda lebih dari 10 detik antara napas).
• Kulit kebiruan atau kulit pucat.
• Suhu tubuh rendah (hipotermia).
• Pingsan (tidak sadar) dan tidak bisa dibangunkan.
G. Komplikasi
a. Keracunan Makanan 1. Dehidrasi
• Keracunan makanan yang menyebabkan muntah dan diare berat dapat mengakibatkan dehidrasi parah, terutama pada bayi, anak-anak, dan orang tua.
2. Kerusakan Organ
• Infeksi bakteri tertentu, seperti E. coli, dapat menyebabkan sindrom uremik hemolitik yang merusak ginjal.
• Bakteri Listeria dapat menyebabkan meningitis, terutama pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.
3. Sepsis
• Infeksi bakteri yang menyebar dari usus ke aliran darah dapat menyebabkan sepsis, kondisi yang mengancam jiwa yang ditandai dengan respon tubuh yang ekstrem terhadap infeksi.
4. Masalah Jangka Panjang
• Infeksi seperti Salmonella dapat menyebabkan arthritis reaktif, yang dapat berlangsung berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun setelah infeksi awal.
b. Keracunan Obat 1. Kerusakan Organ
• Overdosis parasetamol dapat menyebabkan kerusakan hati akut yang dapat berujung pada gagal hati.
• Penggunaan opioid berlebihan dapat menyebabkan kerusakan paru-paru dan otak akibat hipoksia (kekurangan oksigen)
2. Gangguan Sistem Saraf
• Overdosis antidepresan atau antipsikotik dapat menyebabkan kerusakan neurologis, termasuk kejang dan koma
3. Kematian
• Banyak overdosis obat yang berujung pada kematian jika tidak segera ditangani dengan benar
4. Kecanduan dan Penyalahgunaan Zat
• Penggunaan obat-obatan tertentu dalam jangka panjang dan dalam dosis yang tidak tepat dapat menyebabkan kecanduan, yang berisiko pada keracunan berulang dan masalah kesehatan lainnya.
c. Keracunan Alkohol
1. Kerusakan Organ
• Konsumsi alkohol berlebihan dapat menyebabkan hepatitis alkoholik, sirosis hati, dan pankreatitis akut.
2. Masalah Mental dan Perilaku
• Keracunan alkohol dapat menyebabkan gangguan mental dan perilaku, seperti depresi, kecemasan, dan gangguan tidur.
• Penggunaan alkohol jangka panjang dapat menyebabkan sindrom Wernicke-Korsakoff, gangguan otak yang serius akibat defisiensi tiamin.
3. Kecelakaan dan Cedera
• Keracunan alkohol meningkatkan risiko kecelakaan kendaraan bermotor, jatuh, dan cedera lainnya karena penurunan koordinasi dan pengambilan keputusan yang buruk.
4. Sindrom Pantang Alkohol
• Orang yang mengalami keracunan alkohol berulang dapat mengembangkan ketergantungan alkohol, yang dapat menyebabkan sindrom pantang alkohol ketika mereka berhenti minum. Gejalanya termasuk tremor, kejang, dan delirium tremens, yang bisa berakibat fatal.
H. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang untuk keracunan makanan, obat, dan alkohol bertujuan untuk memastikan diagnosis, menentukan penyebab keracunan, serta memandu pengobatan yang tepat. Berikut adalah beberapa pemeriksaan penunjang yang umum digunakan:
a. Keracunan Makanan 1. Pemeriksaan Darah
• Hitung darah lengkap (CBC): Untuk mendeteksi adanya infeksi atau inflamasi.
• Elektrolit serum: Untuk mengevaluasi status hidrasi dan keseimbangan elektrolit.
2. Pemeriksaan Tinja
• Kultur tinja: Untuk mendeteksi adanya bakteri patogen seperti Salmonella, E. coli, dan Shigella
• Pemeriksaan mikroskopik: Untuk mendeteksi parasit seperti Giardia atau Entamoeba histolytica.
3. Pemeriksaan Urine
• Urinalisis: Untuk mengevaluasi fungsi ginjal dan mendeteksi adanya dehidrasi atau infeksi.
4. Tes Spesifik untuk Patogen
• Tes PCR (Polymerase Chain Reaction): Untuk mendeteksi DNA atau RNA patogen tertentu dengan sensitivitas tinggi.
b. Keracunan Obat 1. Pemeriksaan Darah
• Tingkat obat dalam darah: Untuk mengukur konsentrasi obat tertentu, seperti parasetamol, digoxin, atau salisilat.
• Elektrolit dan fungsi ginjal (BUN, kreatinin): Untuk menilai dampak keracunan pada keseimbangan elektrolit dan fungsi ginjal.
• Tes fungsi hati (ALT, AST, ALP, bilirubin): Untuk mengevaluasi kerusakan hati akibat overdosis obat tertentu.
2. Pemeriksaan Urine
• Tes toksikologi urine: Untuk mendeteksi kehadiran obat-obatan atau metabolitnya.
3. Elektrokardiogram (EKG)
• Untuk mendeteksi aritmia atau perubahan lainnya yang mungkin disebabkan oleh keracunan obat tertentu, seperti antidepresan trisiklik.
4. Tes Spesifik Lainnya
• Tes gas darah arteri: Untuk menilai status asam-basa dan oksigenasi, terutama pada pasien yang mengalami gangguan pernapasan akibat keracunan.
c. Keracunan Alkohol 1. Pemeriksaan Darah
• Kadar alkohol dalam darah (BAC): Untuk mengukur konsentrasi alkohol dalam darah.
• Elektrolit dan fungsi ginjal: Untuk mengevaluasi dampak keracunan alkohol pada keseimbangan elektrolit dan fungsi ginjal.
• Tes fungsi hati: Untuk menilai kerusakan hati akibat konsumsi alkohol berlebihan.
2. Pemeriksaan Urine
• Tes toksikologi urine: Untuk mendeteksi keberadaan alkohol dan metabolitnya.
3. Pemeriksaan Gas Darah Arteri (ABG)
• Untuk menilai status asam-basa dan oksigenasi, terutama pada pasien yang mengalami depresi pernapasan atau koma akibat keracunan alkohol.
4. Pemeriksaan Imaging
• CT scan kepala: Untuk menilai adanya trauma kepala atau pendarahan intrakranial pada pasien yang mengalami kecelakaan atau jatuh akibat keracunan alkohol.
I. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan terapi keracunan pada umumnya disebut terapi antidot, yakni tatacara yang secara khusus ditujukan untuk membatasi intensitas efek toksik zat beracun atau untuk menyembuhkan efek toksik yang ditimbulkannya, sehingga bermanfaat untuk mencegah bahaya selanjutnya. Beberapa asas umum yang mendasari terapi antidot tersebut meliputi sasaran, strategi dasar, cara, dan pilihan terapi antidot.
Sasaran terapi antidot ialah penurunan atau penghilangan intensitas efek toksik zat beracun. Strategi dasar terapi antidot meliputi penghambatan absorpsi, distribusi (translokasi), peningkatan eliminasi dan atau penaikan ambang toksik zat beracun dalam tubuh (Donatus, 2001).
J. Diagnosa yang mungkin muncul 1. Defisit cairan & Elektrolit 2. Gg. Rasa Nyaman
3. Intoleransi Aktifitas
4. Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif 5. Gg. Pola Nafas
Pedoman :
Gambar Keracunan makanan, obat dan alcohol
KESIMPULAN
Keracunan makanan, obat, dan alkohol adalah kondisi serius yang memerlukan penanganan segera. Keracunan makanan disebabkan oleh konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi oleh bakteri, virus, parasit, atau racun, dengan gejala seperti mual, muntah, dan diare. Keracunan obat terjadi akibat overdosis atau interaksi obat yang tidak tepat, ditandai dengan gejala seperti pusing, kesulitan bernapas, dan kehilangan kesadaran.
Keracunan alkohol disebabkan oleh konsumsi alkohol berlebihan dalam waktu singkat, yang dapat mengakibatkan kebingungan, muntah, kejang, dan detak jantung tidak teratur.
Pencegahan melibatkan praktik kebersihan makanan yang baik, penggunaan obat sesuai dosis, dan konsumsi alkohol secara bertanggung jawab.
DAFTAR PUSTAKA
Febriani, S., Setyaningrum, N., & Hadi, N. S. (2020). Profil keracunan di fasilitas kesehatan tersier Kota Yogyakarta periode 2016–2017. Kartika: Jurnal Ilmiah Farmasi, 7(2), 58-65.
Laboratorium Penelitian dan Pengembangan FARMAKA TROPIS Fakultas Farmasi Universitas Mualawarman, Samarinda, Kalimantan Timur (2016)
Arisman, M. B. (2009). Keracunan Makanan Buku Ajar Ilmu Gizi. EGC.