• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah klp 3 Rumus Douglass

N/A
N/A
nita Ramadhani

Academic year: 2025

Membagikan "Makalah klp 3 Rumus Douglass"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH KELOMPOK

PRAKTIKUM KEPEMIMPINAN DAN MANAJEMEN KEPERAWATAN

“Latihan Menghitung Jumlah Tenaga dalam Suatu Shift dengan Rumus Douglass dan Menyusun Alokasi dan Penjadwalan Dinas Tenaga Keperawatan setiap Shift”

DOSEN:

Dr. Yulastri Arif, S.Kp., M.Kep

OLEH:

Kelompok 3

Marsanda Lestari 2111311008 Nita Amalia Ramadhani 2111311014 Dian Azmi Gusman 2111311026 Muttaqwiyani Aliyya 2111311044

A2 2021

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS ANDALAS PADANG

2024

(2)

ii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga makalah kelompok praktikum yang berjudul “Latihan Menghitung Jumlah Tenaga dalam Suatu Shift dengan Rumus Douglass dan Menyusun Alokasi dan Penjadwalan Dinas Tenaga Keperawatan setiap Shift” dapat kami selesaikan dengan baik. Kami berharap makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi pembaca. Begitu pula atas limpahan kesehatan dan kesempatan yang Allah SWT karunia kepada kami sehingga makalah ini dapat kami susun melalui beberapa sumber yakni melalui kajian pustaka maupun media internet.

Pada kesempatan ini, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan semangat dan motivasi dalam pembuatan tugas ini. Dan kami mengucapkan terimakasih kepada dosen pengampu kami Ibu Dr. Yulastri Arif, S.Kp., M.Kep yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat menambah ilmu bagi kita semua.

Harapan kami, informasi dan materi yang terdapat dalam makalah praktikum ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Tiada yang sempurna di dunia, melainkan Allah SWT. Tuhan Yang Maha Sempurna, karena itu kami memohon kritik dan saran yang membangun bagi perbaikan laporan ini selanjutnya.

Padang, 1 Mei 2022

Kelompok 3

(3)

iii DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI... iii

BAB I PEDAHULUAN... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 2

1.3 Tujuan Penulisan... 2

1.4 Manfaat Penulisan ... 2

BAB II KAJIAN TEORITIS... 3

2.1 Cara Perhitungan Jumlah dan Kategori Tenaga Keperawatan Metode Douglas ... 3

2.2 Alokasi Dan Penjadwalan Tenaga Keperawatan Dalam setiap Shift ... 8

BAB III KASUS ... 16

3.1 Skenario Kasus ... 16

3.2 Jumlah Tenaga dalam Suatu Shift dengan Rumus Douglass ... 16

BAB IV PENUTUP ... 18

4.1 Kesimpulan ... 18

4.2 Saran ... 18

DAFTAR PUSTAKA ... 19

(4)

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Pada umumnya, penjadwalan perawat di Indonesia diklasifikasikan dalam sistem penjadwalan dinas jaga atau shift, yaitu dinas jaga pagi, dinas jaga sore dan dinas jaga malam. Penjadwalan perawat merupakan salah satu permasalahan di organisasi kesehatan yang sulit dipecahkan. Jumlah pasien yang tidak terkendali, keseriusan penyakit pasien, karakteristik organisasi, adanya absen dan permintaan pribadi untuk libur, dan kualifikasi dan spesialisasi perawat itu sendiri menjadi beberapa faktor mengapa penjadwalan perawat sulit dilakukan, termasuk pembuatan jadwal untuk setiap perawat ke dalam jam kerja yang berbeda-beda dalam jangka pendek (Susandi & Milana, 2015). Pengaturan tenaga kesehatan atau alokasi tenaga khususnya perawat berperan besar dalam keberhasilan pemberian asuhan kepada pasien.

Sistem ketenagakerjaan yang buruk berpengaruh terhadap tingginya angka kesalahan pada saat pemberian asuhan keperawatan. Manajer berperan dalam penentuan jadwal dengan memperhatikan kesesuaian beban kerja, tingkat fleksibilitas yang baik dan kondisi fisik perawatnya (Jun et al., 2020). Kemampuan untuk menentukan jumlah staf yang

"tepat", baik untuk dipekerjakan dan ditempatkan pada shift tertentu, adalah hal yang penting dari perspektif kualitas dan efisiensi perawatan. Penjadwalan yang baik didalamnya mencakup 6 karakteristik yaitu coverage, quality, stability, flexibility, fairness, dan cost. Jumlah ketersediaan personil, pola jadwal, kepastian jadwal dalam satu periode, antisipasi terhadap perubahan jadwal, kesetaraan beban antar perawat, waktu, usaha serta biaya yang muncul pada proses penjadwalan khususnya bagi perawat menjadi indikator untuk menilai kualitas dari pengalokasian tenaga (Zunaedi et al., 2020).

Penghitungan kebutuhan personel yang tepat, akan lebih mudah melakukan koordinasi, mempermudah pekerjaan, terhindar dari kekurangan atau kelebihan tenaga, serta menciptakan efektivitas dan efisiensi kerja. Kekurangan tenaga dapat menyebabkan kejengkelan, ketidakpastian dan kebingungan pada tenaga keperawatan. Beberapa metode yang dapat digunakan untuk menghitung kebutuhan tenaga keperawatan dimana salah satunya adalah rumus Douglass. Metode Douglass digunakan untuk menghitung

(5)

2

kebutuhan tenaga keperawatan berdasarkan tingkat ketergantungan pasien yaitu self care, partial care, dan total care.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana cara menghitung jumlah kebutuhan tenaga keperawatan dalam suatu shift menggunakan Rumus Douglass?

2. Bagaimana cara menyusun alokasi dan penjadwalan dinas tenaga keperawatan setiap shift?

1.3 Tujuan Penulisan 1. Tujuan Umum

Tujuan umumnya adalah agar mengetahui perhitungan jumlah tenaga keperawatan yang efektif dan efisien disertai alokasi jadwal dinas keperawatan

2. Tujuan Khusus

a) Untuk menjelaskan cara menghitung jumlah kebutuhan tenaga keperawatan dalam suatu shift menggunakan Rumus Douglass

b) Untuk menjelaskan cara menyusun alokasi dan penjadwalan dinas tenaga keperawatan setiap shift?

1.4 Manfaat Penulisan

Makalah ini dapat membantu pembaca dalam meningkatkan pemahaman tentang manajemen sumber daya dalam konteks perawatan kesehatan, yang pada gilirannya dapat meningkatkan efisiensi dan kualitas layanan perawatan kesehatan. Dengan adanya pre planning dapat menambah pengetahuan tentang pembagian tenaga perawat di sebuah unit di rumah sakit secara efektif dan efisien.

(6)

3 BAB II

KAJIAN TEORITIS

2.1 Cara Perhitungan Jumlah dan Kategori Tenaga Keperawatan Metode Douglas Douglas (1984, dalam Swansburg & Swansburg, 1999) menetapkan jumlah perawat yang dibutuhkan dalam suatu unit perawatan berdasarkan klasifikasi klien, dimana masing-masing kategori mempunyai nilai standar per shift nya, yaitu sebagai berikut :

Jml

Klasifikasi Klien

klien Minimal Parsial Total

pagi Sore malam Pagi sore malam pagi sore Malam

1. 0,17 0,14 0,07 0,27 0,15 0,10 0,36 0,30 0,20

2. 0,34 0,28 0,14 0,54 0,30 0,20 0,72 0,60 0,40

3. 0,51 0,42 0,21 0,81 0,45 0,30 1,08 0,90 0,60

dst

(7)

4

Contoh : Ruang rawat dengan 17 orang klien, dimana 3 orang dengan ketergantungan minimal, 8 orang dengan ketergantungan partial dan 6 orang dengan ketergantungan total.

Maka jumlah perawat yang dibutuhkan :

Minimal Parsial total Jumlah

Pagi 0.17 x 3 = 0.51 0.27 x 8 = 2.16 0.36 x 6 = 2.16 4.83 (5) orang Sore 0.14 x 3 = 0.42 0.15 x 8 = 1.2 0.3 x 6 = 1.8 3.42 (4) orang Malam 0.07 x 3 = 0.21 0.10 x 8 = 0.8 0.2 x 6 = 1.2 2.21 (2) orang

Jumlah secara keseluruhan perawat perhari 11 orang

Di suatu RS diketahui, ruang rawat anak (TT 50), BOR 95%, pasien bedrest 15 org/hari, pasien operasi 3 org/hari. Hitung jumlah tenaga dengan menggunakan metode Douglas!

A. Definisi Metode Douglas

Menurut Douglas (1984, dalam swanburg & Swansburg, tahun 1999) bahwa dalam menentukan kebutuhan jumlah perawat dalam suatu unit perawatan di Rumah Sakit, dapat berdasarkan klasifikasi klien, di mana pada masing-masing kategori memiliki nilai standar tertentu dalam setiap shiftnya kerja untuk menentukan kebutuhan perawat, antara lain :

KLASIFIKASI PASIEN

Minimal Parsial Total

1 0,17 0,14 0,10 0,27 0,15 0,07 0,36 0,30 0,20

(8)

5

Tabel 1. Klasifikasi Ketergantungan Pasien

Klasifikasi Pasien

Minimal Parsial Tota

No.

l

Pagi Sore Malam pagi Sore Malam Pagi Sore Malam

1. 0,17 0,14 0,07 0,27 0,15 0,10 0,36 0,30 0,20

2. 0,34 0,28 0,14 0,54 0,30 0,20 0,72 0,60 0,40

3. 0,51 0,42 0,21 0,81 0,45 0,30 1,08 0,90 0,60

a. Untuk perhitungan jumlah tenaga perawat

Ʃ Perawat = Ʃ Pasien X Derajat Ketergantungan

b. Jika terdapat hari libur/cuti/hari besar

(9)

6

Jumlah hari minggu 1 tahun x cuti + hari besar x jumlah perawat yg dibutuhkan jumlah hari kerja efektif

Contoh soal :

Sebuah Ruang rawat yang berada di rumah Sakit Jaya Selalu dengan 17 orang klien, di mana 3 orang dengan ketergatungan minimal, 8 orang dengan ketergantungan partial, dan 6 orang dengan ketergantungan total. Berapa jumlah tenaga perawat yang dibutuhkan? Jawab :

Kriteria Pasien

Pagi Shift

Siang

Malam Total

Minilam Care 0.17 x 5 = 0.85

0.14 x 5 =0.7 0.07x 5 = 0.35 1.9 (2 orang)

Parsial Care 0.27x12 = 3.24

0.15 x 12 =1.8 0.10 x 12 = 1.2 6.24 (6 orang)

Total Care 0.36 x 3

=1.08

0.3 x 3 =0.9 0.2 x 3 = 0.6 2.58 (3 orang)

Jumlah secara keseluruhan perawat per hari 11 orang

Jadi jumlah tenaga perawat yang dibutuhkan sebanyak 11 orang per hari.

B. Pembahasan Kasus Soal Kelompok 1 Soal :

Ruang rawat iap X dengan jumlah pasien sebanyak 20 orang dengan klasifikasi sebagai berikut: 5 orang pasien dengan klasifikasi minimal, 12 orang pasien dengan klasifikasi parsial, 3 orang pasien dengan klasifikasi total. Berapakah jumlah perawat yang dibutuhkan di ruang tersebut?

(10)

7 Jawab :

Kriteria Pasien

Pagi Shift

Siang

Malam Total

Minilam Care 0.17 x 5 = 0.85

0.14 x 5 =0.7 0.07x 5 = 0.35 1.9 (2 orang)

Parsial Care 0.27x12 = 3.24

0.15 x 12 =1.8 0.10 x 12 = 1.2 6.24 (6 orang)

Total Care 0.36 x 3

=1.08

0.3 x 3 =0.9 0.2 x 3 = 0.6 2.58 (3 orang)

Jumlah secara keseluruhan perawat per hari 11 orang

Jadi jumlah tenaga perawat yang dibutuhkan sebanyak 11 orang per hari.

Disuatu Rumah Sakit diketahui, ruang erawat anak (TT 50), BOR 95%, pasien Bedrest 15 orang/hari, pasien operasi 3 orang per hari, Hitung jumlah Tenaga dengan menggunakan metode Gillies!

Diketahui:

keperawatan mandiri (self care) = ¼ x 4 = 1 jam , keperawatan

partial (partial care ) = ¾ x 4 = 3 jam , keperawatan total (total care) = 1-1.5 x 4 = 4-6

jam dan keperawatan intensif (intensive care) = 2 x 4 jam = 8 jam.

Jawab:

Jumlah jam keperawatan langsung Keperawatan total = 15 x 6 = 90 Keperawatan partial = 3 x 3 = 9

= 99 jam

(11)

8 Jumlah jam keperawatan tidak langsung:

18 x 1 jam = 18

Sehingga, Jumlah total jam keperawatan /klien/hari : 99+18 = 6,6 jam/klien/hari = 18

2.2 Alokasi Dan Penjadwalan Tenaga Keperawatan Dalam setiap Shift A. Pengertian

Alokasi adalah penentuan banyaknya barang yang disediakan untuk suatu tempat (Pembeli dan sebagainya) penjatahan. Atau penentuan banyaknya biaya yang disediakan untuk suatu keperluan (Kamus besar bahasa Indonesia:Online).

Penjadwalan adalah pengalokasian waktu yang tersedia untuk melaksanakan masing-masing pekerjaan dalamrangkamenyelesaikan suatu kegiatan hingga tercapainya hasil yang optimal dengan mempertimbangkan keterbatasan- keterbatasan yang ada (Husein 2008 dalam Jurnal USU). Salah satu layanan dalam rumah sakit adalah layanan rawat inap. Di dalam layanan ini terdapat alur tranformasi kegiatan, mulai dari tahap penelitian terhadap pasien., diagnosis hingga tahap penyembuhan. Layanan rawat inap dalam rumah sakit tersebut membutuhkan penjadwalan yang optimal. Optimal artinya keutungan harus sebesar-besarnya dan kerugian harus sekecil-kecilnya (Suyadi 2005 dalam setiawan dkk).

Penentuan jadwal diperlukan peranan penting pihak management terutama Kepala bidang keperawatan, dalam prosesnya menggunakan cara manual. cara seperti ini membutuhkan waktu yang lama. Pihak management harus membuat penjadwalan perawat setiap unit ruang rawat inap (setiawan dkk 2014).

B. Permasalahan Penjadwalan

Agar tujuan tercapai seperti yang diinginkan oleh semua manajemen perusahaan maka perlu Melaksanakan pekerjaan secara efektif dan efisien.

Masalah penjadwalan tenaga kerja memiliki karakteristik yang spesifik, antara lain kebutuhan karyawan yang berfluktuasi, kapasitas tenaga kerja yang tidak bisa disimpan, dan faktor kenyamanan pelanggan. Berbagai permasalahan pasti akan dihadapi setiap perusahaan dalam membuat jadwal untuk memenuhi semua

(12)

9

kebutuhan jam kerja sesuai dengan jumlah pekerja yang ada. Terlebih lagi jika dalam suatu organisasi atau perusahaan jumlah pekerja sangat banyak, jumlah jam kerja sangat panjang (misal 24 jam dalam sehari, dan 7 hari dalam seminggu) dan variasi pekerjaan banyak. Contoh nyata yang dapat diambil pada kasus ini adalah penjadwalan perawat dan penjadwalan dokter yang ada di sebuah rumah sakit.

Banyaknya jumlah pasien yang membutuhkan pelayanan kesehatan sangat kontras dengan jumlah perawat dan dokter yang ada pada rumah sakit. Hal ini mengakibatkan pihak rumah sakit perlu melakukan pengaturan jadwal yang efisien untuk setiap sumber daya manusia yang ada (termasuk perawat dan pasien) agar semua pasien dapat terlayani dengan baik.(Atmasari 2014)

C. Penjadwalan perawat

Perencanaan kebutuhan dan penjadwalan perawat adalah salah satu halyang paling penting yang harus di buat di dalam keputusan rumah sakit,Ada tiga hal yang berkaitan dengan proses dan pengambilan keputusan perencanaan kebutuhan dan penjadwalan perawat yaitu:

a. Staffing Decision Yaitu merencanakan tingkat atau jumlah kebutuhan akan perawat prakualifikasinya.

b. Scheduling decision Yaitu menjadwalkan hari masuk dan libur juga shift. Shift kerja untuk setiap harinya sepanjang periode penjadwalan dalam rangka memenuhi kebutuhan 3 minimum tenaga perawat yang harus tersedia

c. Allocation Decision Yaitu membentuk kelompok perawat untuk dialosikan ke shift-shift atau hari-hari yang kekurangan tenaga kibat adanya variasi demand yang tidak diprediksi, misalnya absennya perawat.

Masalah penjadwalan kariayan banyak di jumpai pada Industri jasa, salah satunya dirumah sakit. Sebagaimana yang telah di atur dalam Undang-undang No 44 tahun 2009 tentang Rumah sakit bahwa salah satu tujuan penyelenggaraan rumah sakit adalah meninggkatkan mutu dan mempertahankan standar pelayananan kesehatan. Untuk peningkatan mutu dan standar itu rumah sakit harus memiliki sistem penjadwalan yang berkualitas karena padatnya system memberi pelayanan yang ada di dalamnya baiknya atau tidaknya system pelayanan yang ada dalam rumah sakit dapat menentukan sistem penjadwalan perawat yang ada

(13)

10

pada umumnya perawat di Indonesia di klaifikaskan dalam sistem penjadwalan dinas jaga atau shift, yaitu dinas pagi, jaga sore, dan jaga malam. Namun bagi sebagian perawat,di tuntut bekeja di malam hari, liburan dan akhir pekan sering membuat stress dan frustasi. oleh karena itu, penjadwalan merupakan factor yang paling penting dalam penentuan ketidak puasan atau kepuasan kerja. manager sebagai orang yang bertanggung jawab untuk menyusun jadwal kerja sebaiknya secara berkala melakukan evaluasi kepuasan pegawai terhadap system penjadwalan yang sedang berlaku. Dengan mempertimbangkan keuntungan dan kerugian. karena beberapa penjadwalan mengharuskan pembayaran uang lembur, hasil kepuasan perawat dalam peningkatan biaya. Selain itu, Perpanjangan dinas jaga dari 8 jam - 10/12 jam Dapat menyebakan peningkatan kesalahan penilaian klinis Karena perawat keletihan.untuk alasan ini, banayk organisaasi membatasi jumlah hari berturut-turut seorang perawat dapat bekerja di perpanjangan dinas jaga. (USU 2015)

D. Undang-Undang mengenai kerja shift pagi siang dan malam

Pengaturan jam kerja dalamsistem shift di atur dalam UU No 13 tahun 2003 mengenai ketenaga kerjaan yaitu di atur dalam pasal-pasal sebagai berikut:

a. Jika jam kerja dilingkungan suatu perusahaan atau badan hukum lainnya di tentukan 3 shift, pembagian dan setiap shift adalah maksimum 8 jam per hari, termaksud istirahat antar jam kerja (Pasal 79 ayat 02 Huruf a UU No 13 tahun 2003).

b. Jumlah jamkerja secaraa kumulatif masing-masing shift tidak boleh lebih dari 40 jam/minggu (Pasal 77 ayat 02 UU No13 tahun 2003)

c. Setiap pekerja yang bekerja melebihi ketentuan waktu kerja 8 jam / hari per shift atau melebihi jumlah jam kerja akumulatif 40jam/minggu, harus sepengetahuan dan dengan surat perintah dari pimpinan perusahaan yang di perihitungkan sebagai waktu kerja lembur ( pasal 78 ayat 02 UU No 13 Tahun 2003)

d. Dalam Penerapannya, terdapat pekerjaan yang di jalanan terus menerus yang dijlankan dengan pembagian waktu kerja dalam shift-shift. Menurut Kepmenarkertrans No 233/men/2003, yang di maksud dengan Pekerjaan

(14)

11

dijalankan secara terus menerus disini adalah pekerjaan yang menurut jenis dan sifatnya harus di laksanakan atau dijalankan secara terus dalam keadaan lain berdasarkan kesepakatan anatara pekerja dengan pengusaha.

E. Karakteristik Penjadwalan Perawat

Penjadwalan perawat memiliki karakteristik yang penting, antara lain:

a. Coverage

Jumlah perawat dengan berbagai tingkat yang akan ditugaskan sesuai jadwal berkenaan dengan pemakaian minimum personel perawat tersebut.

b. Quality

Sebuah alat untuk menilai keadaan pola jadwal.

c. Stability

Bagaimana agar seseorang perawat mengetahui kepastian jadwal libur masuk untuk beberapa hari mendatang dan supaya mereka mempunyai pandangan bahwa jadwal ditetapkan oleh suatu kebijaksanaan yang stabil dan konsisten, seperti weekend policy, rotation policy.

d. Flexibility

Kemampuan jadwal untuk mengantisipasi setiap perubahan-perubahan seperti pembagian fulltime, part time, rotasi shift dan permanen shift.

e. Fairness

Alat untuk menyatakan bahwa tiap-tiap perawat akan merasa diberlakukan sama.

f. Cost

Jumlah resource yang dikonsumsi untuk penyusunan maupun operasional penjadwalan. (Menurut Warner 1976 dalam Atmasari 2014) F. Model Sedehana Penjadwalan Perawat di Ruangan

Rumah sakit merupakan instansi yang memiliki kesibukan kerja yang sangat tinggi. Kesibukan ini akan lebih tampak pada ruangan dimana pada ruangan ini pengaturan seluruh sumber daya yang meliputi dokter, perawat, kendaraan ambulan, obat-obatan sampai pengaturan shift jaga harus dioptimalkan. Misalkan pada ruang rawat di sebuah rumah sakit waktu jaga perawat dalam sehari dibagi

(15)

12

kedalam 3 shift, yaitu shift pagi, sore dan shift malam. Penjelasan untuk masing- masing shift adalah sebagai berikut :

1. Shift pagi

kebutuhan dalam 1 hari = 7 jam kerja dan durasi waktu = antara pukul 7.00 pagi s.d 14.00 sore

2. Shift sore

Kebutuhan dalam 1 hari = 7 jam kerja dan Durasi waktu = antara pukul 14.00 sore s.d 21.00 malam

3. Shift malam

kebutuhan dalam 1 hari = 10 jam kerja dan Durasi waktu = antara pukul 21.00 malam s.d 7.00 pagi dihari berikutnya.

Dalam memenuhi kebutuhan perawat untuk seluruh shift, haruslah mematuhi peraturan-peraturan yang ada pada rumah sakit. Karena banyaknya batasan- batasan dalam pembuatan jadwal, hal ini mengakibatkan hampir tidak ada solusi yang benar-benar feasible untuk digunakan. Dalam prakteknya pasti terdapat pelanggaran-pelanggaran terhadap satu atau beberapa peraturan.Oleh karena itu, batasan-batasan model dibagi kedalam dua jenis yaitu :

1. Kendala utama

Merupakan batasan-batasan yang merepresentasikan peraturan-peraturan kerja yang tidak boleh dilanggar. Contoh kendala utama adalah : Seorang perawat tidak dapat berjaga pada shift pagi, sore dan malam dalam secara berturut-turut. Dan Setiap perawat tidak boleh ditugaskan pada lebih dari empat hari aktif kerja berturut-turut.

2. Kendala tambahan

Merupakan batasan-batasan yang merepresentasikan peraturan-peraturan kerja yang sewaktu-waktu dapat dilanggar, namun sebisa mungkin pelanggaran terhadap kendala tambahan tersebut diminimalkan. Contoh kendala tambahan adalah: Setiap perawat tidak boleh ditugaskan pada dua shift malam berturut-turut dan Setiap perawat tidak boleh ditugaskan pada tiga shift sore berturut-turut. (Atmasari 2014)

(16)

13 G. Metode Goal Programming dan Linear

Program linier merupakan suatu metode pendekatan terhadap masalah pengambilan keputusan yang hanya melibatkan satu tujuan (single goal). Program linier digunakan untuk mengalokasikan sumber daya langka yang ada supaya mencapai tujuan yaitu meminimumkan atau memaksimumkan suatu permasalahan.

Contoh permasalahan yang harus dimaksimumkan adalah keuntungan dan penjualan produk, sedangkan contoh permasalahan meminimumkan adalah biaya dan kerugian. (USU,2015)

Goal Programming atau yang dikenal dengan Program Tujuan Ganda (PTG) merupakan modifikasi atau variasi khusus dari program linier. Goal Programming bertujuan untuk meminimumkan jarak antara atau deviasi terhadap tujuan, target atau sasaran yang telah ditetapkan dengan usaha yang dapat ditempuh untuk mencapai target atau tujuan tersebut secara memuaskan sesuai dengan syarat- ikatan yang ada, yang membatasinya berupa sumber daya yang tersedia, teknologi yang ada, kendala tujuan, dan sebagainya .(Nasendi, 1985). Goal Programming pertama kali diperkenalkan oleh Charnes dan Coopers (1961). Charnes dan Coopers mencoba menyelesaikan persoalan program linier dengan banyak kendala dengan waktu yang bersamaan. Gagasan itu berawal dari adanya program linier yang tidak bisa diselesaikan karena memiliki tujuan ganda. Charnes dan Coopers mengatakan bahwa jika di dalam persamaan linier tersebut terdapat slack variable dan surplusvariable (variable deviasi atau penyimpangan) di dalam persamaan kendalanya, maka fungsi tujuan dari persamaan tersebut bisa dikendalikan yaitu dengan mengendalikan nilai ruas kiri dari persamaan tersebut agar sama dengan nilai ruas kanannya. Inilah yang menjadi dasar Charnes dan Coopers mengembangkan metode Goal Programming. (USU,2015)

Terminologi yang mendasari GP Terdiri dari Objektif yang dimana Objektif merupakan Suatu pernyataan yang menyatakan atau mempresentasikan suatu aspirasi atau kainginan untuk dapat memaksimumkan pemenuhan permintaan dan lain-lain. Tingkat aspirasi atau nilai target adalah bagian kedua dalamgoal programming yang artinya Suatu nilai yang membatasi pencapaian objektif

(17)

14

diterima atau ditolak atau merupakan tingkat pencapaian yang diinginkan untuk setiap atribut atau objektif. Dan yang terakhir adalah Goal yang dimana goal adalah Suatu pencapaian objektif yang sesuai dengan tingkat aspirasi pengambil keputusan.

Ada beberapa formulasi model goal programming yang dibentuk dari modifikasi model linear programming dengan criteria pemilihan keputusan yang memuaskan adalah yang meminimumkan masing-masing variable deviasinya.

Variabel deviasi ini yang menyebabkan penyimpangan terhadap pencapaian tingkat aspirasi goal yang ditetapkan pengmbil keputusan.

Berdasarkan Jurnal ’’Penjadwalan Perawat Unit Gawat Darurat Dengan Menggunakan Goal Programming’’ oleh Atmasari Setelah model matematik diformulasikan dalam bentuk Goal Programming dan selanjutnya diproses dengan menggunakan paket LINGO maka dihasilkan jadwal kerja perawat untuk Unit Gawat Darurat dalam periode satu bulan. Dari jadwal GP hasil komputasi jumlah kebutuhan minimal dan maksimal perawat untuk tiap shift dalam satu hari sudah memenuhi range yang ditentukan pihak manajemen rumah sakit. Day off dari masing-masing perawat dipenuhi dengan cara memberikan hari libur maksimal setelah perawat ditugaskan pada tiga hari aktif kerja. Dari jadwal GP hasil komputasi terlihat bahwa perawat mendapat jatah libur secara merata dan tidak ada perawat yang tidak mendapat hari libur setelah maksimal bekerja selama tiga hari. Untuk total jumlah shift perawat dalam satu periode sudah memenuhi range yang ditentukan oleh pihak manajemen rumah sakit yaitu antara 15 sampai 22 hari.

Terlihat dari jadwal GP hasil komputasi bahwa tidak ada satupun perawat yang jumlah total shiftnya kurang dari 15 hari atau melebihi 22 hari. Untuk pembagian shift malam dari jadwal GP hasil komputasi setiap perawat memiliki jatah shift malam kurang lebih 30% dari jumlah shift yang ada. Untuk pelanggaran perawat ditugaskan pada dua atau lebih shift malam secara berturut- turut tidak didapati pada jadwal GP hasil komputasi. Berdasarkan hasil yang didapatkan dalam penelitian ini, maka dapat dibuat beberapa kesimpulan sebagai yakni Dengan menggunakan model penjadwalan goal Programming, maka diperoleh penjadwalan perawat yang lebih baik dibandingkan jadwal yang dibuat secara

(18)

15

manual. Dan Jadwal yang dihasilkan dengan model goal programming dapat memenuhi seluruh kendala utama yang merupakan presentasi peraturan rumah sakit yang tidak boleh dilanggar, dan juga memenuhi seluruh kendala tambahan yang merupakan presentasi peraturan rumah sakit yang dapat dilanggar. maka penggunaan metode GP ini Lebih baik dibandingkan dengan metode manual karena mengingat banyaknya kendala dan persoalan pada metode manual tersebut.

(19)

16 BAB III KASUS 3.1 Skenario Kasus

Rumah Sakit Sayang ibu merupakan rumah sakit Tipe C, memiliki satu ruangan rawat inap bedah dengan rata-rata BOR 80% dari total tempat tidur 40 bed. Pasien yang dirawat dengan tingkat ketergantungan mandiri berjumlah 50%, Parsial care 30% dan Total care 20%. Rata-rata jam kerja perawat setiap shift adalah 7 jam diluar jam istirahat. Jumlah tenaga perawat yang terampil dan ahli dengan komposisi 60 % banding 40%. Kepala ruangan adalah seorang lulusan ners dan telah bekerja sebagai kepala ruangan sejak 2 tahun yang lalu. Sementara di rawat jalan OK jumlah pasien opp kecil 20, sedang 20 dan besar 10.

Kejungan pasien di IGU sebanyak 100 orang/hari sedang di poli sebanyak 200 orang perhari. Silahkan dihitung berapa kebutuhan tenaga keperawatan dalam 1 hari, berapa jumlah perawat yang bertugas setiap shift dan silahkan disusun jadwal dinas dengan memperhatikan komposisi perawat ahli dan terampil.

3.2 Jumlah Tenaga dalam Suatu Shift dengan Rumus Douglass Diketahui :

• Tingkat ketergantungan mandiri berjumlah 50% = 16 orang

• Tingkat ketergantungan Parsial care 30% = 10 orang

• Tingkat ketergantungan Total care 20% = 6

• BOR 80% dari total tempat tidur 40 bed = 32 bed Ditanya : Berapa jumlah perawat yang dibutuhkan rawat inap?

Jawab : Rumus

(20)

17

Minimal Parsial Total Jumlah

Pagi 0,17 x 16 = 2,72 0,27 x 10 = 2,7 0,36 x 6 = 2,16 7,58 (8 org) Sore 0,14 x 16 = 2,24 0,15 x 10 = 1,5 0,30 x 6 = 1,8 5,54 (6 org) Malam 0,07 x 16 = 1,12 0,10 x 10 = 1 0,20 x 6 = 1,2 3,32 (3 org)

Jumlah perawat/hari 17 orang

(21)

18 BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan

Beberapa metode yang dapat digunakan untuk menghitung kebutuhan tenaga keperawatan dimana salah satunya adalah rumus Douglass. Metode Douglass digunakan untuk menghitung kebutuhan tenaga keperawatan berdasarkan tingkat ketergantungan pasien yaitu self care, partial care, dan total care. Pengaturan tenaga kesehatan atau alokasi tenaga khususnya perawat berperan besar dalam keberhasilan pemberian asuhan kepada pasien.

penjadwalan merupakan factor yang paling penting dalam penentuan ketidak puasan atau kepuasan kerja. manager sebagai orang yang bertanggung jawab untuk menyusun jadwal kerja sebaiknya secara berkala melakukan evaluasi kepuasan pegawai terhadap system penjadwalan yang sedang berlaku.

4.2 Saran

Makalah ini diharapkan dapat memberikan panduan bagi praktisi, manajer, dan peneliti dalam memperbaiki dan mengembangkan strategi penjadwalan dinas keperawatan yang lebih efektif, efisien, dan berorientasi pada pasien. Perlu adanya penekanan pada pelatihan dan pengembangan staf keperawatan dalam hal manajemen waktu, penggunaan alat bantu komputer, dan keterampilan interpersonal. Pelatihan ini dapat meningkatkan kemampuan staf dalam mengelola penjadwalan dinas dan berkolaborasi dalam tim sehingga asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien lebih maksimal dan beban kerja pada perawat seimbang.

(22)

19

DAFTAR PUSTAKA

Atmasari. (2014). diglib.its.ac.id. 'Penjadwalan Perawat Unit Gawat Darurat Dengan Menggunakan Goal Programming , 1-13.

Maweikerea, Yolanda., Aaltje Ellen Manampiringb., Juwita M. Toar. (2021). Hubungan Beban Kerja Perawat dengan Tingkat Kepuasan Pasien dalam Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat Inap RSU GMIM Pancaran Kasih Manado. Jurnal Keperawatan, 9(1): 71-77

Rakhmawati, W., Kp, S., & Kep, M. (2008). Perencanaan kebutuhan tenaga keperawatan di unit keperawatan. Pelatihan Manajemen Unit-Bandung, 2(1), 1-14.

Rudi setiawan, D. P. (2014). Repository.unej.ac.id. Optimasi penjadwalan Perawat ruang rawat inap penyakit dalam rumah sakit daerah dr.Soebandi Jamber , 1-9.

Sindyanata, C. P. (2020). Analisis Tingkat Keberhasilan Metode Edutainment Pada Beberapa SMK Di Indonesia (Doctoral dissertation, UIN Ar-raniry Banda Aceh).

Referensi

Dokumen terkait

Segala puji dan syukur senantiasa kami panjatkan kehadirat Allah SWT, kareana dengan limpahan rahmat dan hidayah-Nya, akhirnya kami dapat menyelesaikan makalah yang

KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.. Makalah ini kami susun

KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadiran Allah SWT atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang “Pemeriksaa Hitung Jenis Trmbosit

KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan Kehadirat Allah SWT karena atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, Sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah ini dengan

KATA PENGANTAR Dengan mengucapkan puji dan syukur Penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga pada kesempatan ini dapat meyelesaikan Laporan

KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Inovasi Teknologi Kesehatan:

KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikanrahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikanmakalah yang berjudul

KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya sehingga makalah yang berjudul "Patofisiologi, Farmakologi dan Asuhan Keperawatan pada Bayi Risiko