• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH LAPORAN HASIL OBSERVASI KELOMPOK 3

N/A
N/A
ANAK AGUNG SISKA

Academic year: 2025

Membagikan "MAKALAH LAPORAN HASIL OBSERVASI KELOMPOK 3"

Copied!
46
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN HASIL OBSERVASI MODUL FARMAKOLOGI DASAR

DOSEN PENGAMPU:

drg. DINAR ARUM WICAKSONO, Sp.KG DISUSUN OLEH:

Anak Agung Siska (230111030022) Enriko Clyf Gustafano Maramis (230111030023) Given Queency Gischa Gumenggilung (230111030024)

Indah Maria Palamba (230111030025) Khayla Aura Nabilla Syafri (230111030026)

Najhwa Putri Permadi (230111030027) Helena Priska Golda Wenas (230111030028)

Natania Mieko Awaloei (230111030029) Maria Kanaya Theresa Rewang (230111030030) Gloria Kristania Imanuela Rogi (230111030031) PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER GIGI

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SAM RATULANGI

TAHUN 2024

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul "Laporan Hasil Observasi Data Obat dan Bahan di Apotek RSGM Universitas Sam Ratulangi ." Makalah ini disusun sebagai bagian dari tugas dalam memahami pentingnya ketersediaan obat dan bahan medis dalam mendukung pelayanan kesehatan yang optimal.

Observasi ini bertujuan untuk mengetahui serta mengidentifikasi jenis obat dan bahan yang tersedia, serta alur pengelolaannya di Apotek RSGM Universitas Sam Ratulangi . Kami berharap informasi yang diperoleh dapat memberikan wawasan yang berguna, baik bagi pihak manajemen apotek maupun bagi pengembangan pelayanan kesehatan secara umum.

Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan, bimbingan, dan informasi selama proses penyusunan makalah ini. Terutama kepada Dosen pembimbing kami Yaitu Drg. Dinar Arum Wicaksono,Sp.KG Serta staf dan manajemen Apotek RSGM Universitas Sam Ratulangi yang telah bersedia memberikan akses dan informasi yang diperlukan. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat dan kontribusi positif bagi pembaca serta dunia kesehatan.

Manado, 02 Oktober 2024

Penyusun

(3)

DAFTAR ISI

Kata Pengantar………..i Daftar Isi………...ii BAB I PENDAHULUAN……….1 A. Latar Belakang………1.1 B. Rumusan Masalah………...1.2 C. Tujuan………..1.3 BAB II PEMBAHASAN………..2 A. Data Obat……….2.1 B. Data Bahan………...………...2.2 C. Alur Ketersediaan………2.3 BAB III PENUTUP………..3 A. Kesimpulan………..3.1 B. Saran………3.2 DAFTAR PUSTAKA………4 LAMPIRAN………..5

(4)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Apotek Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) berfungsi sebagai salah satu penyedia layanan kesehatan yang krusial dalam menjamin ketersediaan obat dan bahan medis yang diperlukan oleh pasien. Dalam konteks pelayanan kesehatan yang terus berkembang, kebutuhan akan obat dan bahan berkualitas tinggi semakin tinggi.

Observasi ini dilakukan untuk mengevaluasi jenis obat dan bahan yang tersedia, serta untuk memahami alur distribusi dan pengelolaan yang diterapkan di apotek RSGM Universitas Sam Ratulangi. Pentingnya pengelolaan obat yang efektif tidak hanya berpengaruh pada kualitas pelayanan kesehatan, tetapi juga berperan dalam keselamatan pasien. Oleh karena itu, melalui observasi ini, diharapkan dapat diperoleh informasi yang komprehensif mengenai ketersediaan dan pengelolaan obat dan bahan, yang akan menjadi acuan dalam pengambilan keputusan manajerial di apotek RSGM Universitas Sam Ratulangi. Dengan demikian, observasi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di RSGM Universitas Sam Ratulangi.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa saja jenis obat yang tersedia di Apotek RSGM Universitas Sam Ratulangi dan bagaimana klasifikasinya?

2. Apa saja bahan medis yang Tersedia di Apotek RSGM Universitas Sam Ratulangi dan fungsinya dalam pelayanan kesehatan?

3. Bagaimana alur pengadaan dan distribusi obat serta bahan di Apotek RSGM Universitas Sam Ratulangi ?

4. Apa saja tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan obat dan bahan di Apotek RSGM Universitas Sam Ratulangi ?

5. Bagaimana pengaruh ketersediaan obat dan bahan terhadap kualitas pelayanan kesehatan di RSGM?

(5)

1.3 Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah didapatkan tujuan sebagai berikut:

1. Untuk mengidentifikasi jenis obat yang tersedia di Apotek RSGM Universitas Sam Ratulangi serta klasifikasinya berdasarkan fungsi dan penggunaannya.

2. Untuk mengevaluasi jenis bahan medis yang disediakan di Apotek RSGM Universitas Sam Ratulangi dan memahami perannya dalam mendukung pelayanan kesehatan.

3. Untuk menganalisis proses pengadaan dan distribusi obat serta bahan medis di Apotek RSGM Universitas Sam Ratulangi agar dapat memahami sistem manajemen yang diterapkan.

4. Untuk mengidentifikasi tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan obat dan bahan di Apotek RSGM Universitas Sam Ratulangi serta mencari solusi yang mungkin.

5. Untuk mengevaluasi dan Menganalisis bagaimana ketersediaan obat dan bahan mempengaruhi kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan di RSGM Universitas Sam Ratulangi .

(6)

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Data Obat-obatan Yang Tersedia Di Apotek RSGM UNSRAT 2.1.1 Pehacain

A. Pengertian

Pehacain merupakan Cairan Injeksi yang digunakan untuk anestesi lokal dan regional, Blok Saraf, serta Anestesi epidural dan kaudal. Pehacain adalah obat yang diproduksi oleh Phapros. Obat ini mengandung zat aktif lidocaine dan epinephrine.

B. Indikasi Pehacain

Anestesi lokal terutama dalam bidang kedokteran gigi seperti Tindakan ektraksi yang memberikan rasa sakit dan perdarahan karena adanya luka terbuka sehingga diperlukan anestesi lokal untuk menghilangkan sensasi nyeri.

C. Kandungan Pehacain

Tiap ml Produk Pehacain Berisi Lidocaine HCL dan Epinephrine. Lidokain dari golongan amida merupakan bahan anestesi lokal yang paling sering digunakan.

lidokain 2% dengan epinefrin merupakan bahan anestesi lokal yang paling sering digunakan dengan persentase penggunaan yaitu 94%.

(7)

Lidocaine HCL

Lidocaine atau lignokain adalah obat bius lokal dan antiaritmia yang umum.

Lidocaine digunakan secara topikal untuk menghilangkan rasa gatal, terbakar dan nyeri akibat radang kulit, disuntikkan sebagai anestesi gigi, dan dalam operasi kecil.

Lidokain merupakan amida amino dengan pKa 7,9, dipasarkan dalam bentuk lidokain Hcl dan umumnya tersedia dalam larutan dengan pH 6,5 (Xia et al, 2001). Suasana asam dalam lidokain dibuat untuk meningkatkan stabilitas dan kelarutannya (Burns et al, 2005). Dengan meningkatkan pH hingga 7.4 dengan cara menambahkan larutan penyangga, bentuk molekul yang terionisasi yang mampu menembus membran sel neuron lebih banyak. Hal ini menyebabkan onset blokade saraf dan berkurangnya rasa sakit lebih cepat (Fatovich and Jacob, 1999).

Epinephrine

Epinephrine merupakan salah satu jenis Vasokonstriktor yang sering digunakan didalam kedokteran gigi. Vasokonstriktor merupakan jenis obat yang sering digunakan bersama anestesi lokal dalam menangani rasa nyeri. Vasokonstriktor juga biasa digunakan tanpa penambahan obat anestesi lokal untuk memicu vasokonstriksi pembuluh darah dan sebagai bronkodilator. Penambahan vasokonstriktor dalam obat anestesi lokal dapat berperan dalam menurunkan aliran darah atau perfusi, menurunkan absorbsi obat anestesi lokal ke dalam sistem kardiovaskular, menurunkan perdarahan pada area yang diberikan injeksi obat dan meningkatkan kadar anestesi lokal di sekitar nervus. Peningkatan kadar anestesi lokal di sekitar nervus tersebut akan meningkatkan durasi kerja anestesi lokal.

Penambahan epinefrin memiliki efek menguntungkan yaitu vasokonstriksi pembuluh darah yang dapat memperpanjang durasi anestesi, megurangi toksisitas, dan mengurangi perdarahan intraoperatif karena vasokonstriksi (Burns et al, 2005 and Hruza, 2008).

Adrenalin yang ditambahkan pada produk Pehacain ini akan berguna mengkonstriksikan pembuluh darah sekitar tempat injeksi, dan memperpanjang efek dari lidokain tersebut. Hal ini juga berarti membuat perdarahan lebih berkurang.

(8)

Dosis maksimal pemberian epinefrin yang aman dalam praktik kedokteran gigi adalah 4 ampul dengan konsentrasi epinefrin 1:100.000. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir hipoksia terutama pada jantung. Penambahan dosis epinefrin yang bertujuan untuk memperpanjang durasi bahan anastesi lokal harus memperhatikan dosis maksimal penggunaan epinefrin. Penggunaan epinefrin yang berlebihan dapat menstimulasi sistem saraf pusat, hipoksia jantung, paru dan organ vital lainnya sehingga menimbulkan kecemasan, tegang, sakit kepala, bradikardi, takikardi, tremor, lemah, pusing, mual, berkeringat, pucat, sulit bernafas dan palpitasi.

D. Dosis Pehacain

Dosis adalah takaran yang dinyatakan dalam satuan bobot maupun volume (contoh: mg, gr) produk kesehatan (obat, suplemen, dan lain-lain) yang harus digunakan untuk suatu kondisi medis tertentu serta frekuensi pemberiannya. Biasanya kekuatan dosis ini tergantung pada kondisi medis, usia, dan berat badan seseorang.

Aturan pakai mengacu pada bagaimana produk kesehatan tersebut digunakan atau dikonsumsi. Berikut ini dosis dan aturan pakai Pehacain Tergantung pada derajat anestesi yang diperlukan. Umumnya 1–2 ml Intramuskular atau Subkutan.

E. Farmakokinetika

Lidokain memiliki onset kerja yang lebih cepat dan durasi kerja yang lebih lama dibandingkan anestesi lokal tipe amino ester seperti prokain. Ini sekitar 90%

dimetabolisme di hati oleh CYP1A2 (dan sebagian kecil CYP3A4) menjadi metabolit aktif farmakologis monoethyl glycinexylidide dan glycine xylidide.

Waktu paruh eliminasi lidokain adalah sekitar 1,5-2 jam pada kebanyakan pasien. Ini dapat diperpanjang pada pasien dengan gangguan hati (rata-rata 343 menit) atau gagal jantung kongestif (rata-rata 136 menit). (Thomson et al., 1973)

F. Farmakodinamika

Lidokain mengubah depolarisasi di neuron, dengan memblokir saluran natrium (Na+) gerbang tegangan cepat di membran sel. Dengan blokade yang cukup, membran neuron prasinaps tidak akan terdepolarisasi sehingga gagal mentransmisikan potensial aksi, yang menyebabkan efek anestesinya. Titrasi yang hati-hati

(9)

memungkinkan selektivitas tingkat tinggi dalam penyumbatan neuron sensorik, sedangkan konsentrasi yang lebih tinggi juga akan memengaruhi modalitas pensinyalan neuron lainnya.

G. Efek Samping

Efek samping yang dapat muncul selama penggunaan Pehacain injeksi, yaitu:

● Pusing.

● Sakit kepala.

● Otot berkedut.

● Rasa sakit.

● Jantung berdebar.

● Edema paru.

● Hiperglikemia.

● Kegelisahan.

● Epidural dapat menyebabkan hipotensi, bradikardia, mual dan muntah.

● Injeksi intraoral dapat menyebabkan reaksi stres seperti diaforesis, palpitasi, hiperventilasi, pucat umum, dan pingsan.

H. Interaksi Obat

Interaksi obat dapat terjadi apabila pasien menggunakan Pehacain bersamaan dengan jenis obat berikut:

● Benzodiazepin.

● Siklosporin.

● Fluvoxamine.

● Trifluoperazine.

● Dextromethorphan.

● Propranolol.

● Mikonazol.

● Cimetidine.

● Diklofenak.

● Rifamycin.

● Lovastatin dan simvastatin.

(10)

2.1.2 Orabloc

A. Pengertian

Orabloc adalah larutan untuk injeksi steril, jernih, tak berwarna dalam cartridge kaca clear, ditutup dengan plunger karet bromobutil pada satu ujung dan dengan tutup alumunium serta segel karet pada ujung yang lain.

B. Indikasi

Orabloc diindikasikan untuk anestesi lokal atau infiltratif pada prosedur kedokteran gigi sederhana maupun kompleks pada pasien dewasa maupun anak-anak berusia 4 tahun ke atas.

C. Kandungan

Tiap ml injeksi orabloc mengandung : Articaine Hydrochloride 40 mg dan Epinephrine Bitartrate yang setara dengan Epinephrine 0,01 mg.

D. Dosis

Dosis terekomendasi Orabloc diberikan secara infiltrasi submukosal intraoral atau blok saraf untuk berbagai prosedur anestesi kedokteran gigi pada pasien dewasa sehat maupun pasien anak-anak.

(11)

Prosedur Volume injeksi Orabloc Total Dosis Articaine HCL Infiltrasi 0,5 ml hingga 2,5 ml 20 mg hingga 100 mg Blok Saraf 0,5 ml hingga 3,4 ml 20 mg hingga 136 mg

Dosis Orabloc terekomendasi pada pasien dewasa sehat berfungsi hanya sebagai panduan jumlah anestetik yang dibutuhkan pada kebanyakan prosedur kedokteran gigi rutin. Dosis yang digunakan pada dewasa bergantung kepada beberapa faktor seperti jenis dan tingkat prosedur bedah, kedalaman anestesi, tingkat relaksasi otot, dan kondisi pasien. Pada semua kasus, berikan dosis terendah yang dapat memberikan respon yang dibutuhkan. Dosis Orabloc pada pasien anak berusia 4 hingga 16 tahun ditentukan dari usia dan berat badan pasien serta jenis prosedur bedah. Hati-hati pada pemberian dosis besar dikarenakan kejadian efek samping mungkin terkait dengan dosis. Dosis maksimum terekomendasi Pasien dewasa sehat:

Dosis Orabloc maksimum adalah 7 mg/kg Articaine dan 0,0017 mg/kg Epinephrine (setara dengan 0,175 ml/kg). Pasien anak berusia 4 hingga 16 tahun: Dosis Orabloc maksimum adalah 7 mg/kg Articaine dan 0,0017 mg/kg Epinephrine (setara dengan 0,175 ml/kg).

Cara Pemberian

Hanya untuk anestesi tindakan kedokteran. Sebelum diinjeksikan, direkomendasikan untuk melakukan aspirasi guna menghindari injeksi intravaskuler.

Aspirasi dilakukan dalam dua tahap, misal dengan rotasi jarum 90° atau lebih baik 180°. Reaksi sistemik mayor sebagai akibat dari injeksi intravaskuler yang tidak disengaja sebagian besar dapat dihindari dengan suatu teknik injeksi – setelah aspirasi, injeksikan secara perlahan 0.1-0.2 ml dan injeksikan sisanya secara perlahan – 20-30 detik setelahnya. Untuk menghindari risiko infeksi (misal penularan hepatitis), alat suntik dan jarumnya untuk tiap penyuntikan harus selalu baru dan steril. Untuk sekali pakai. Larutan yang tidak terpakai harus dibuang. Jangan gunakan produk bila terjadi kekeruhan atau perubahan warna.

E. Farmakodinamika

Orabloc adalah anestesi lokal tipe asam amida yang digunakan untuk anestesi blok saraf dan terminal di kedokteran gigi. Onset kerjanya cepat (waktu latensi 1-3

(12)

menit) dengan efek analgesik yang poten dan tolerabilitas jaringannya baik.

Mekanisme aksi articaine diperkirakan dengan cara menghambat konduksi dalam serabut saraf, oleh karena penghambatan kanal Na+ tergantung voltase pada membran sel.

F. Efek Samping

Kategori berikut digunakan untuk mengklasifikasikan frekuensi terjadinya efek tak diinginkan: Sangat umum (≥1/10); Umum (≥1/100 sampai <1/10); Tidak umum (≥1/1.000 sampai <1/100); Jarang (≥1/10.000 sampai <1/1.000); Sangat jarang (<1/10.000); Tidak diketahui (tidak dapat diestimasi dari data yang tersedia)

- Gangguan sistem imun

Tidak diketahui: reaksi tipe alergi atau menyerupai alergi. Kemungkinan manifestasinya adalah pembengkakan edema dan/atau inflamasi pada lokasi penyuntikan atau lokasi lainnya berupa ruam kulit, gatal, konjungtivitis, rhinitis, pembengkakan wajah (angioedema) dengan pembengkakan pada bagian atas dan/atau bawah bibir dan/atau dagu, edema glottal dengan globus pharyngis dan kesulitan menelan, urtikaria dan kesulitan nafas yang dapat mengarah ke syok anafilaksis.

- Gangguan sistem saraf pusat

Umum: parestesia, hipoestesia; sakit kepala, kemungkinan karena adanya kandungan adrenalin.

Tidak umum: pusing

Tidak diketahui: Berhubungan dengan dosis (khususnya pada dosis tinggi yang berlebihan atau injeksi intravaskuler yang tak disengaja), reaksi sistem saraf pusat dapat terjadi: agitasi, kegugupan, stupor yang terkadang berkembang menjadi kehilangan kesadaran, koma, gangguan pernapasan yang terkadang berkembang menjadi respiratory arrest, tremor otot dan kejang otot yang terkadang berkembang menjadi konvulsi umum. Dan untuk lesi saraf (misal paresis saraf wajah) dan berkurangnya sensitivitas gustatory pada regionare orofacial yang tidak spesifik efek samping dari articaine. Namun, reaksi tersebut secara teori memungkinkan dengan intervensi tindakan kedokteran gigi, karena kondisi anatomi di area lokasi injeksi atau kesalahan teknik injeksi.

(13)

- Gangguan mata

Tidak diketahui: Gangguan visual sementara (pandangan kabur, kebutaan, penglihatan ganda) terjadi selama atau beberapa saat setelah injeksi anestesi lokal di daerah kepala.

- Gangguan jantung Tidak umum: takikardia

Tidak diketahui: aritmia jantung, peningkatan tekanan darah, hipotensi, bradikardia, gagal jantung dan syok (kemungkinan mengancam jiwa).

Gangguan pernapasan, toraks dan mediastinal

Tidak diketahui: disfungsi pernapasan (takipnea, bradipnea) yang dapat mengarah ke apnea.

- Gangguan pencernaan Umum: Mual, muntah.

- Gangguan umum dan kondisi lokasi penyuntikan

Tidak diketahui: injeksi intravaskuler yang tak disengaja dapat mengarah ke perkembangan zona iskemik pada lokasi penyuntikan, terkadang berkembang menjadi nekrosis jaringan. Karena kandungan sodium metabisulphite, produk ini dapat menyebabkan reaksi hipersensitivitas, khususnya pada pasien dengan asma bronkial.

Reaksi tersebut dapat bermanifestasi menjadi muntah, diare, bersin, serangan asma akut, gangguan kesadaran serta syok.

- Populasi pediatri

Berdasarkan beberapa penelitian, cedera pada jaringan lunak yang tak disengaja terjadi lebih banyak pada anak-anak usia 3 sampai 7 tahun, akibat efek anestesi yang berkepanjangan.

G. Interaksi Obat

- Kombinasi dari anestesi yang berbeda-beda menyebabkan efek aditif terhadap sistem kardiovaskuler dan SSP.

(14)

- Efek peningkatan tekanan darah dari vasokonstriktor tipe simpatomimetik (seperti epinephrine) dapat diperkuat oleh antidepresan trisiklik atau inhibitor MAO dan oleh karenanya dikontraindikasikan.

- Lihat bagian kontraindikasi untuk penggunaan bersama dengan beta-blocker nonkardioselektif

- Epinephrine dapat menghambat pelepasan insulin dari pankreas, sehingga mengurangi efek dari antidiabetes oral.

- Anestesi inhalasi tertentu, seperti halotan, dapat meningkatkan sensitivitas miokardial terhadap katekolamin, sehingga dapat menyebabkan aritmia setelah pemberian Orabloc.

- Obat golongan phenothiazine dapat mempengaruhi efek peningkatan tekanan darah dari epinephrine. Oleh karena itu, penggunaan secara bersamaan sebaiknya dihindari. Jika penggunaan secara bersamaan kedua obat tersebut tak terhindarkan, pasien harus dimonitor secara hati-hati.

- Perlu diingat bahwa pasien yang memperoleh terapi antikoagulan (seperti heparin atau asam asetilsalisilat), tusukan ke dalam pembuluh darah yang tidak disengaja selama pemberian anestesi lokal dapat menyebabkan perdarahan serius, dan risiko perdarahan umumnya meningkat pada pasien tersebut.

2.1.3 Povidone Iodine (Betadine)

Formulasi oral povidone-iodine (PVP-I)merupakan produk populer karena spektrum efeknya yang luas dan profil tolerabilitas yang baik. Terdapat berbagai bahan aktif dalam obat kumur antiseptik seperti alkohol, senyawa amonium kuarterner, klorheksidin dan lain-lain namun yang telah dikenal selama beberapa dekade adalah senyawa yodium. Molekul yodium ini sangat reaktif secara kimia dan menyerang mikroba dengan mengoksidasi struktur patogen vital termasuk asam nukleat, protein,

(15)

dan komponen membran. Povidone-iodine (PVP-I) merujuk pada sediaan yodium yang secara khusus dikembangkan untuk penggunaan luas dalam pengaturan perawatan kesehatan. Formulasi umum untuk aplikasi perawatan mulut adalah obat kumur PVP-I 1%, yang mengandung 0,1% yodium yang tersedia. Penggunaan PVP-I efektif dalam pengendalian infeksi lokal dengan cara yang bergantung pada dosis, sehingga menimbulkan pengaruh positif pada perbaikan jaringan. PVP-I juga direkomendasikan untuk penanganan lesi, dengan risiko toksisitas sistemik dan alergi yang rendah, dan berkurangnya kemungkinan munculnya resistensi bakteri. Salah satu keuntungan PVP-I dalam perawatan luka mulut adalah ia bertindak sebagai agen hemostipsi, yang dapat berguna dalam mencegah perdarahan lokal setelah operasi mulut. Selain itu juga perawatan dengan 0,1% PVP-I sering digunakan dalam penanganan periodontitis kronis dan juga mengurangi karies anak usia dini.

Antiseptik topikal diperlukan untuk penggunaan rutin dalam kedokteran gigi bedah, terutama pada pasien dengan risiko tinggi bakteremia. Penggunaan antiseptik PVP-I bersama dengan antibiotik sistemik bersifat komplementer, karena banyak antibiotik oral memiliki spektrum aktivitas terbatas dan mungkin tidak selalu mencapai lokasi infeksi pada konsentrasi yang cukup. Irigasi PVP-I merupakan pendekatan yang murah, efektif, dan dapat ditoleransi dengan baik yang dapat digunakan untuk mengurangi gejala sisa pascaoperasi dari prosedur gigi rutin seperti operasi gigi molar ketiga. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk fokus pada identifikasi kondisi spesifik dan kombinasi terapi di mana larutan oral PVP-I paling efektif. Formulasi PVP-I pertama kali tersedia pada tahun 1955, dan bahan aktif tercantum dalam Daftar Obat Esensial Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), daftar obat-obatan terpenting yang diperlukan untuk setiap sistem perawatan kesehatan fungsional. PVP-I tersedia tanpa resep dan sering digunakan sebagai pengobatan antiseptik topikal spektrum luas untuk luka kecil, luka bakar, dan lecet, serta di ruang operasi bedah. Penggunaan yang luas dalam berbagai pengaturan klinis dan non-klinis selama beberapa dekade terakhir telah membuat banyak keuntungan dari formulasi PVP-I lebih jelas. Selain efek spektrum luas dan profil keamanan yang sangat baik, yodium aktif memiliki berbagai sifat yang dapat membantu penyembuhan luka, dengan alasan kuat berbasis bukti yang ada untuk penerapan PVP-I dalam mengobati luka yang terinfeksi. Asosiasi Manajemen Luka Eropa telah menerbitkan kertas posisi yang mengakui spektrum luas aktivitas PVP-I terhadap bakteri, virus, jamur dan endospora. Berbeda dengan antiseptik lain, resistensi atau resistensi silang yang signifikan belum ditemukan pada

(16)

yodium, kemungkinan karena berbagai mekanisme yang dilalui yodium untuk menimbulkan efeknya. Dengan demikian, yodium telah menemukan berbagai aplikasi dalam perawatan kesehatan sebagai agen sterilisasi untuk pembersihan kulit pra dan pascaoperasi, untuk pencegahan dan pengobatan infeksi pada ulkus, dan dalam banyak aplikasi lainnya. Formulasi tersebut biasanya diproduksi dengan konsentrasi 7,5–10% PVP-I dalam larutan, dengan formulasi oral termasuk 1% obat kumur oral, selain scrub bedah, salep, dan kapas. Data keamanan dan efikasi praklinis dan klinis menunjukkan bahwa PVP-I menunjukkan karakteristik yang sangat sesuai untuk skenario penyembuhan luka, termasuk efikasi terhadap biofilm, tolerabilitas yang baik, dan beberapa tingkat efek anti-inflamasi. Yang relevan secara klinis, penyembuhan pada luka bersih tidak ditekan oleh PVP-I, sementara itu didukung pada luka yang dikolonisasi oleh mikroorganisme. Ini sangat berguna untuk perawatan luka sensitif dan luka yang membutuhkan terapi jangka panjang. Kasa obat sekarang tersedia secara luas, membuat formulasi lebih mudah diaplikasikan. PVP-I juga memiliki aktivitas antivirus yang kuat, dengan formulasi yang tersedia secara komersial terbukti lebih efektif dalam hal pengurangan virus dibandingkan pembersih beralkohol dan non-alkohol, serta sabun antimikroba. Alkohol merupakan antiseptik yang banyak digunakan kemungkinan karena harganya yang terjangkau dan relatif mudah diproduksi, tetapi terbukti kurang efektif dibandingkan PVP-I dalam membunuh mikroorganisme.

2.1.4 Povidone Iodine (Obat Kumur)

(17)

A. Pengertian

Povidone iodine adalah obat antiseptik yang sering digunakan untuk membersihkan luka, kulit, dan juga sebagai obat kumur. Bahan aktifnya, povidone iodine, bekerja dengan cara membunuh bakteri, virus, dan jamur yang ada di permukaan kulit atau selaput lendir. Povidone-iodine adalah bentuk kompleks dari iodine, yang sering kali digunakan untuk menghilangkan bakteri dan kuman penyakit di berbagai area tubuh.

Biasanya, zat ini digunakan juga sebagai obat luka.

B. Indikasi

Obat kumur povidone iodine umumnya digunakan untuk:

● Menghilangkan bakteri di mulut: Mencegah dan mengatasi infeksi mulut seperti sakit tenggorokan, gusi bengkak, sariawan, dan bau mulut.

● Menjaga kebersihan mulut sebelum dan sesudah operasi mulut.

● Membantu penyembuhan luka di mulut.

C. Kandungan

Kandungan utama obat kumur povidone iodine adalah povidone iodine dalam berbagai konsentrasi. Selain itu, mungkin terdapat bahan tambahan lain seperti air, gliserin, dan perasa untuk meningkatkan kenyamanan saat digunakan. Povidone Iodine adalah senyawa kompleks yang terdiri dari polivinil pirolidon (PVP) yang terikat dengan unsur yodium (I). Ikatan ini memungkinkan yodium dilepaskan secara perlahan dan stabil, sehingga aktivitas antiseptiknya lebih efektif dan tahan lama.

D. Dosis dan interaksi obat

● Berapa dosis Betadine Obat Kumur untuk dewasa?

Gunakan 10 ml untuk satu kali berkumur. Anda bisa berkumur sebanyak 3-5 kali sehari.

● Berapa dosis Betadine Obat Kumur untuk anak-anak?

Betadine Obat Kumur hanya dianjurkan untuk mereka yang telah berusia di atas 6 tahun. Obat ini dapat digunakan sebanyak 10 ml, selama 30 detik dan dilakukan pengulangan 3-5 kali dalam sehari.

● Interaksi Obat

(18)

Povidone iodine umumnya dianggap aman dan jarang berinteraksi dengan obat lain.

Namun, jika Anda sedang mengonsumsi obat-obatan lain, terutama obat-obatan untuk mengobati kondisi medis tertentu, sebaiknya konsultasikan dengan dokter atau apoteker sebelum menggunakan povidone iodine.

E. Farmakodinamika

Povidone iodine bekerja sebagai antiseptik dengan cara yang cukup unik. Bahan aktifnya, yodium, dilepaskan secara bertahap dari kompleks povidone iodine. Yodium inilah yang kemudian berinteraksi langsung dengan mikroorganisme (bakteri, virus, jamur) dan menyebabkan kerusakan pada tingkat seluler. Secara keseluruhan, efek dari povidone iodine adalah:

● Membunuh mikroorganisme secara langsung: Dengan merusak struktur sel dan menghambat fungsi metabolisme.

● Mencegah pertumbuhan mikroorganisme: Dengan menciptakan lingkungan yang tidak ramah bagi pertumbuhan mikroorganisme.

F. Efek Samping

Efek samping povidone iodine umumnya ringan dan bersifat sementara, seperti:

● Iritasi mulut: Rasa perih atau panas di mulut.

● Noda pada gigi: Jika digunakan dalam jangka waktu lama atau dalam konsentrasi tinggi.

● Reaksi alergi: Ruam kulit, gatal, atau kesulitan bernapas.

2.1.5 Paracetamol

A. Pengertian

Paracetamol (asetaminofen) merupakan salah satu obat analgesik dan antipiretik yang digunakan di dunia kesehatan sejak tahun 1950. Obat ini berfungsi untuk mengurangi

(19)

rasa nyeri, cara kerjanya yaitu dengan menghambat enzim siklooksigenase yang terlibat dalam sintesis prostaglandin yang nantinya prostaglandin ini akan berperan dalam proses nyeri. Obat ini merupakan obat analgesik non narkotik yang bisa diperoleh di apotek dengan resep maupun tanpa resep dokter dan merupakan obat yang paling sering dikonsumsi sebagai analgesik setelah Asam Mefenamat.

B. Indikasi

Paracetamol dapat diberikan bila pasien mengalami nyeri karena sakit gigi, nyeri pasca operasi impaksi molar tiga, dan sakit gigi berat.

C. Kandungan

Paracetamol mengandung N-asetil-4-aminofenol, Acetaminophen serta N-(4-hydroxyphenyl)acetamide. Bentuk sediaannya berupa tablet, sirup, kaplet, suppositoria, dan sediaan intravena.

D. Dosis dan interaksi obat

Paracetamol dapat digunakan jika pasien mengalami nyeri dental akut dengan dosis 500-1000 mg 3x sehari. Dan bisa juga dikombinasi dengan ibuprofen untuk nyeri pasca operasi dengan dosis 400-1000 mg setiap 6-8 jam, dikombinasi dengan diklofenak untuk pasca operasi impaksi molar 3 dengan dosis 100 atau 1000 mg dosis tunggal yang dilanjutkan dengan observasi selama 8 jam serta bisa juga dikombinasi dengan ibuprofen dengan dosis 600 atau 1000 mg 30 menit sebelum atau setelah tindakan operasi molar tiga. Sedangkan, untuk nyeri dental berat paracetamol bisa dikombinasi dengan oksikodon dengan dosis 500 mg setiap 6 jam. Sedangkan, untuk pasien anak pemberian obatnya berdasarkan berat badan dan usia.

E. Farmakodinamika

Paracetamol bekerja dengan menghambat sintesis prostaglandin, senyawa yang berperan dalam proses nyeri dan peradangan. Prostaglandin diproduksi melalui dua enzim utama, yaitu siklooksigenase-1 (COX-1) dan siklooksigenase-2 (COX-2):

COX-1: Terlibat dalam produksi prostaglandin yang melindungi lambung dan mengatur aliran darah di ginjal.

(20)

COX-2: Diaktifkan selama proses inflamasi dan berperan dalam memproduksi prostaglandin yang menyebabkan nyeri.

F. Efek Samping

Jika digunakan sesuai anjuran dokter atau aturan pakai, paracetamol umumnya jarang menyebabkan efek samping. Namun, bila digunakan secara berlebihan, obat ini dapat menimbulkan beberapa efek samping seperti berikut:

● Sakit Kepala

● Mual atau muntah

● Sulit Tidur

● Memar atau perdarahan yang tidak biasa

● Perut bagian atas kanan terasa sakit

● Urine berwarna gelap

● Feses berwarna abu-abu pucat 2.1.6 Ambroxol

A. Pengertian

Ambroxol adalah obat untuk mengencerkan dahak. Obat ini dapat digunakan pada berbagai kondisi dengan batuk berdahak, termasuk batuk pilek (common cold), bronkitis, emfisema, atau bronkiektasis.

Ambroxol bekerja dengan memecah serat mukopolisakarida pada dahak. Cara kerja ini akan membuat dahak menjadi lebih encer dan lebih mudah dikeluarkan saat batuk.

Ambroxol dapat ditemukan dalam sediaan tablet, sirop, dandrops(obat tetes).

B. Indikasi Ambroxol

(21)

● Batuk Pilek/Batuk Berdahak: Ambroxol efektif dalam mengencerkan dahak dan membuatnya lebih mudah dikeluarkan saat batuk, sehingga membantu meredakan batuk pilek (common cold) dan batuk berdahak lainnya.

● Bronkitis: Ambroxol dapat digunakan untuk mengencerkan dahak dan melegakan saluran pernapasan pada bronkitis, termasuk bronkitis kronis dan eksaserbasi bronkitis kronis.

● Emfisema: Obat ini membantu mengencerkan dahak dan memperbaiki pernapasan pada pasien dengan emfisema.

● Bronkiektasis: Ambroxol efektif dalam mengencerkan dahak dan melegakan saluran pernapasan pada bronkiektasis

C. Kandungan Ambroxol

Ambroxol hidroklorida: Zat aktif utama yang memiliki efek mukolitik, membantu memecah serat mukopolisakarida yang membuat dahak kental, sehingga lebih mudah dikeluarkan.

D. Dosis Ambroxol

Dosis ambroxol yang diberikan dokter akan disesuaikan dengan kondisi dan usia pasien. Secara umum, berikut ini adalah dosis ambroxol untuk meredakan batuk berdahak:

● Dewasa dan anak usia ≥12 tahun: Sediaan sirup atau tablet, dosis anjuran 30 mg 2–3 kali sehari. Dosis dapat ditingkatkan menjadi 60 mg 2 kali sehari jika diperlukan. Dosis maksimal 120 mg per hari.

● Anak usia 6–11 tahun: Sediaan sirup atau tablet, dosis anjuran 15 mg 2–3 kali sehari.

● Anak usia 2–5 tahun: Sediaan sirup ataudrops,dosisnya 7,5 mg 3 kali sehari.

● Anak usia <2 tahun: Sediaan sirop ataudrops,dosisnya 7,5 mg 2 kali sehari.

E. Farmakokinetik

Ambroxol diberikan per oral dan dapat diserap dengan cepat. Distribusi ambroxol meliputi saluran napas, melewati sawar plasenta, dan disekresikan ke ASI.

● Absorpsi

Ambroxol diserap secara cepat dan mudah hingga hampir lengkap (menyeluruh).

Ambroxol memiliki nilai bioavailabilitas sebesar 79% untuk sediaan immediate-releasedan 95% untuk sediaanslow-releaseoral.

(22)

● Distribusi

Ambroxol ditemukan dalam darah dan seluruh jaringan tubuh, namun didapati paling tinggi terutama pada paru-paru. Kadar ambroxol pada organ tersebut dapat mencapai 15-20 kali lipat daripada kadar ambroxol yang ditemukan pada darah. Plasma protein bindingmencapai 90%. Waktu yang diperlukan agar obat mencapai kadar tertingginya (time to peak plasma concentration) adalah 1-2,5 jam untuk sediaan immediate-releasedan 6,5 jam untuk sediaanslow-release.

● Metabolisme

Ambroxol dimetabolisme terutama di liver oleh sitokrom P450 3A4 dan memiliki waktu paruh yang cukup panjang berkisar 7-12 jam. Hasil metabolit ambroxol terutama adalah2-amino-3,5-dibromobenzaldehydedan4-aminocyclohexanol.

● Eliminasi

Ekskresi terutama melalui urine. Laju eliminasi ambroxol sekitar 660 ml/menit.

F. Farmakodinamik

Farmakodinamik ambroxol terutama adalah sebagai mukolitik, mukokinetik, dan ekspektoran. Efek lain ambroxol yang sedang dalam pendalaman penelitian adalah sebagai antiinflamasi, antioksidan, anestesi lokal, serta antiinfeksi.

● Mukolitik

Ambroxol bekerja sebagai mukolitik dengan cara menginhibisi aktivasi guanilat siklase melalui jalur Nitric Oxide(NO), sehingga dapat menekan produksi mukus dan menurunkan viskositas sekret saluran pernapasan. Selain itu, ambroxol juga diketahui mendorong produksi surfaktan. Surfaktan menurunkan viskositas sekret dengan cara depolimerisasi acidic polysaccharide fiber pada sekret yang dihasilkan bronkus serta menstimulasi produksi polysaccharide fiber yang lebih bersifat pH netral oleh sel glandular di sepanjang saluran pernapasan.

● Mukokinetik

Ambroxol meningkatkan gerakan struktur silia saluran pernapasan sehingga mekanisme transport sekret menjadi lebih efektif. Surfaktan yang terstimulasi oleh ambroxol juga menurunkan adhesi mukus pada saluran pernapasan, sehingga memudahkan bersihan sekret oleh silia.

● Ekspektoran

(23)

Ambroxol memudahkan pergerakan transport mukus oleh silia serta menstimulasi sekret serosa lebih banyak daripada sekret mukoid. Dengan demikian, batuk produktif menjadi lebih efisien dan efektif serta tidak menyakitkan bagi pasien.

● Efek Antiinflamasi

Ambroxol terbukti dapat menekan produksi mediator pro-inflamasi oleh leukosit sehingga dapat membantu meringankan reaksi inflamasi yang terjadi.

● Efek Antioksidan

Pada penelitianin vivodanin vitro, pemberian ambroxol terbukti meningkatkan kadar antioksidan glutathione (GSH) dan superoxide- dismutase (SOD).

● Efek Anestesi Lokal

Pada uji klinis fase 3, ambroxol 20 mg dalam sediaan permen pelega tenggorokan (lozenges) terbukti meredakan nyeri tenggorokan pada faringitis akut dalam 3 jam setelah konsumsi.

● Efek Antiviral

Ambroxol terbukti memiliki efek antiviral dari stimulasi peningkatan produksi surfaktan yang diduga berperan sebagai salah satu pertahanan tubuh terhadap virus.

Efek antiviral lain dari ambroxol berasal dari kemampuan alaminya dalam menekan produksi protease yang memfasilitasi multiplikasi virus.

● Efek Antibakterial

Efek antibakterial ambroxol dapat bersifat langsung maupun tidak langsung. Efek langsung antibakteri dari ambroxol didapatkan melalui aktivitas anti-biofilm. Biofilm bakteri Pseudomonas aeruginosa didapati menipis setelah diberi paparan ambroxol selama 7 hari melalui penelitian in vitro. Sementara itu, efek antibakterial tidak langsung ambroxol didapat dari kemampuannya memperpanjang bioavailabilitas antibiotik dalam sistem pernapasan dan memberikan efek sinergi pada antibiotik yang sedang bekerja.

● Efek Antifungal

(24)

Penelitian menyebutkan bahwa ambroxol dalam konsentrasi 1-60 mg/ml mampu menghambat pertumbuhan Candida albicans dan Candida parapsilosis. Efek ini terbukti baik secara in vitromaupunin vivo. Ambroxol meningkatkan kadar ion Ca2+

dalam selCandida sp, sehingga memicu apoptosis pada patogen tersebut.

G. Efek Samping

Efek samping yang mungkin terjadi dalam penggunaan obat ambroxol adalah: Mual, muntah, diare, dispepsia, mulut atau tenggorokan kering, sakit perut, mulas, hipoestesia oral atau faring, dysgeusia. Berpotensi Fatal: Jarang, reaksi anafilaksis (misalnya syok anafilaksis, angioedema, ruam, urtikaria, pruritus).

H. Interaksi Obat

Ambroxol dapat memiliki interaksi dengan beberapa obat lain yang dapat mempengaruhi konsentrasinya di dalam tubuh atau cara kerjanya. Berikut adalah beberapa interaksi obat yang perlu diperhatikan:

1. Meningkatkan Konsentrasi Obat:

Abametapir, Haloperidol, dan Ritonavir: Pemberian ambroxol bersamaan dengan obat-obatan ini dapat meningkatkan konsentrasi ambroxol di dalam serum.

Antibiotik: Pemberian ambroxol bersamaan dengan cefuroxime, doxycycline, amoxicillin, dan erythromycin dapat meningkatkan konsentrasi antibiotik di dalam jaringan paru-paru.

2. Menurunkan Konsentrasi Obat:

Cenobamate, Dabrafenib, Mavacamten, Pitolisant, dan Satralizumab: Pemberian ambroxol bersamaan dengan obat-obatan ini dapat menurunkan konsentrasi ambroxol di dalam serum.

3. Interaksi dengan Obat Penekan Refleks Batuk:

Pemberian ambroxol bersamaan dengan obat penekan refleks batuk dapat menghambat keluarnya dahak dari saluran pernapasan.

2.1.7 Cloretil

(25)

A. Pengertian

Cloretil atau chlorethyl merupakan obat anestesi lokal yang berbentuk spray yang digunakan untuk mengontrol rasa nyeri atau sakit dimana mengandung ethyl chloride.

Biasanya digunakan pada bedah ringan (minor), juga analgesik sementara pada cedera olahraga ringan dan di Indonesia tersedia dalam bentuk semprotan (spray). Termasuk pada kategori obat golongan keras sehingga harus menggunakan resep dokter saat membeli.

B. Indikasi

- Anestesi untuk Mengurangi Nyeri Prosedural

Cloretil dapat digunakan sebelum melakukan bedah ringan (minor) dan juga injeksi pada kulit maupun gusi. Sebelum melakukan prosedur bedah ringan (minor), cloretil disemprotkan ke kulit hingga area kulit berwarna putih dengan jarak 5-10 cm selama beberapa detik. Pastikan tidak terjadi pembekuan pada kulit. Untuk penggunaan sebelum injeksi pada kulit, semprotkan ke kulit selama 2-3 detik dengan jarak 10 cm, lalu bersihkan area kulit dan lakukan injeksi. Dan untuk penggunaan sebelum injeksi pada gusi, dapat dilakukan dengan langsung disemprotkan ke area gusi atau biasanya pada gigi susu (anak), cloretil akan disemprotkan ke kapas kecil dan akan diletakkan pada mukosa gigi yang akan dicabut, dan pasien akan merasakan efek dingin seperti disentuh es.

- Analgesik untuk Nyeri Otot

Cloretil biasanya digunakan sebagaicounterirritantpada ketegangan otot juga nyeri myofasial, dimana efeknya dapat memfasilitasi mobilisasi dini dan pemulihan fungsi otot. Caranya, semprotkan cloretil dengan jarak sekitar

(26)

15-30 cm pada seluruh area otot yang diinginkan hingga kulit membeku.

Lakukan peregangan otot secara pasif selama pemberian semprotan.

C. Kontraindikasi

Kontraindikasi dari kloretil dapat terjadi pada pasien yang memiliki hipersensitivitas pada obat ini dan pada pasien porfiria (gangguan pembentukan heme karena penumpukan bahan kimia tertentu).

D. Kandungan

Ethyl Chloride(C2H5Cl). Carbon (37.24%), Hydrogen (7.81%), Chlorine (54.95%) E. Efek samping

Dapat terjadi reaksi sensitisasi pada kulit, seperti ruam, gatal, kemerahan pada kulit, hingga bengkak, melepuh, angioedema bahkan anafilaksis. Adapun rasa nyeri saat kulit yang beku mencair (thawing) dan juga chemical frosbite (kondisi dimana kulit dan jaringan dibawahnya rusak akibat terpapar bahan kimia yang sangat dingin yang menyebabkan pembekuan jaringan) akibat penyemprotan terlalu lama.

F. Farmakodinamik

Cara kerja kloretil ini dengan menghambat konduksi saraf di dekat tempat pemberian yaitu ujung saraf bebas di dermis atau mukosa. Maka terjadilah penurunan suhu jaringan yang dapat menyebabkan insensitivitas pada ujung saraf perifer dan efek anestesi lokal. Oleh karena itu kloretil biasanya digunakan pada anak sebelum melakukan prosedural.

G. Farmakokinetik

Kloretil dapat diabsorpsi melalui membran mukosa, paru dan kulit (paling cepat) karena ada faktor lain yang mempengaruhi absorpsi yaitu lebih cepat pada stratum korneum tipis, vaskularisasi jaringan, luas permukaan dan lama pemberian. Onset kerja obat ini biasanya 1 menit setelah diaplikasikan. Obat ini tidak dimetabolisme secara signifikan karena mengalami klorinasi pada proses metabolismenya.

Kebanyakan kloretil ini dikeluarkan atau dieliminasi melalui pernapasan dan sebagian melalui urin, feses, dan keringat.

(27)

2.2 Bahan Obat 2.2.1 GIC A. Pengertian

GIC atau Glass Ionomer Cement merupakan sebuah bahan restorasi yang digunakan dalam kedokteran gigi,diperkenalkan pertama kali oleh Wilson dan Kent pada tahun 1971.

GIC memiliki sifat , biokompatibel,adhesif dan mampu melepaskan ion fluor, yang membantu mencegah kerusakan gigi lebih lanjut. GIC terdiri dari bubuk kaca dan cairan asam poliakrilat, yang ketika dicampurkan, membentuk gel dan mengeras seiring waktu.

B. Kandungan Bahan Komposit

GIC terdiri dari bubuk dan cairan, dimana:

- Bubuk: Silikon Dioksida (SiO2) Alumina (Al2O3)

Kalsium Fluoride (CaF2) Aluminium Fosfat (AlPO4)

Natrium Fluoride (NaF) dan Aluminium Fluoride (AlF3)

Cairan: Asam poliakrilat sebagai medium reaksi, membantu menjadi perekat asam fumarik sebagai bahan reaksi

Kandungan ion fluor dalam GIC, yang dilepaskan dapat berfungsi untuk memperkuat struktur gigi.

C. Tipe-Tipe Komposit

GIC dibagi menjadi tiga tipe berdasarkan penggunaannya:

Tipe I: Digunakan sebagai material perekat untuk crown, bridge, dan ortodontik.

Tipe II: Bahan restorasi untuk estetika dan kekuatan yang diperkuat.

Tipe III: Digunakan sebagai basis atau pelapik dalam restorasi

(28)

D. Keunggulan dan Kelemahan Keunggulan GIC:

- Estetika yang baik karena warnanya mirip dengan gigi - Melepaskan ion fluorida yang membantu mencegah karies.

- Memiliki sifat adhesif yang baik tanpa memerlukan bonding agent.

- Biokompatibilitas yang tinggi dan toksisitas rendah.

Kelemahan GIC:

- Daya tahannya terbatas, biasanya hanya bertahan sekitar 5 tahun 14.

- Kekuatan mekanisnya relatif rendah dibandingkan dengan bahan restorasi lainnya seperti resin komposit atau amalgam.

- Rentan terhadap kerusakan jika terpapar udara selama proses pengerasan.

E. Proses aplikasi

Proses aplikasi GIC meliputi langkah-langkah berikut:

1. Persiapan: Melakukan pemeriksaan gigi dan membersihkan area yang akan ditambal 2. Pencampuran: Mengaduk bubuk dan cairan sesuai proporsi yang ditentukan untuk

membentuk pasta.

3. Aplikasi: Mengoleskan pasta ke area yang telah dibersihkan dan membentuknya sesuai kebutuhan.

4. Pengerasan: GIC mulai mengeras dalam waktu 6-8 menit setelah pencampuran, dengan proses pengerasan lengkap berlangsung selama 24 jam.

F. Efek Samping

- Sensitivitas gigi setelah aplikasi.

- Kemungkinan reaksi alergi terhadap bahan tertentu dalam GIC.

- Kerusakan permukaan akibat pengeringan jika tidak dilindungi dengan baik selama proses pengerasan

(29)

2.2.2 Komposit A. Pengertian

Resin komposit dalam kedokteran gigi adalah bahan restoratif yang digunakan untuk memperbaiki atau menggantikan struktur gigi yang rusak akibat kerusakan, lubang, atau estetika. Bahan ini terdiri dari matriks polimer (seperti bis-GMA atau UDMA) yang diisi dengan partikel anorganik (seperti silika atau gelas) untuk meningkatkan kekuatan dan ketahanan. Resin komposit memiliki sifat adhesi yang baik, memungkinkan pengikatan yang kuat pada struktur gigi, serta kemampuan untuk disesuaikan warnanya, sehingga hasil restorasi dapat tampak alami dan menyatu dengan gigi pasien.

Penggunaan resin komposit sangat luas, termasuk untuk tambalan gigi, restorasi gigi anterior dan posterior, serta untuk aplikasi estetika seperti vinir. Keunggulan utama resin komposit terletak pada sifat estetika dan kemampuannya untuk beradaptasi dengan warna gigi asli, menjadikannya pilihan yang populer dalam praktik kedokteran gigi modern. Namun, dokter gigi perlu mempertimbangkan tipe resin yang tepat berdasarkan lokasi restorasi dan kebutuhan klinis pasien.

B. Kandungan Bahan Komposit

Resin komposit terdiri dari beberapa komponen utama yang memberikan sifat fungsional dan estetika. Berikut adalah kandungan utama dalam resin komposit:

1. Matriks Polimer:

○ Biasanya terdiri dari bis-GMA (Bisfenol A Glycidyl Methacrylate) atau UDMA (Urethane Dimethacrylate), yang memberikan sifat pengikatan dan fleksibilitas.

2. Partikel Pengisi (Filler):

○ Terbuat dari bahan anorganik, sepertisilika,gelas, atau alumina. Partikel ini berfungsi untuk meningkatkan kekuatan mekanik, ketahanan terhadap abrasi, dan mengurangi penyusutan selama polimerisasi.

3. Agen Perekat (Coupling Agent):

(30)

○ Menghubungkan matriks polimer dengan partikel pengisi, biasanya berupa silane, untuk meningkatkan ikatan antara komponen dan mengurangi risiko delaminasi.

4. Agen Pengatur Waktu (Initiator):

○ Bahan sepertibenzoyl peroxide atau camphorquinoneyang memulai proses polimerisasi, baik melalui pencahayaan (light-cured) atau secara kimia (self-cured).

5. Aditif:

○ Dapat mencakup bahan untuk meningkatkan sifat tertentu, seperti pigmen untuk pewarnaan, stabilizer untuk ketahanan terhadap UV, atau bahan pengisi tambahanuntuk meningkatkan ketahanan.

Kombinasi dari komponen-komponen ini memungkinkan resin komposit untuk memiliki sifat estetis yang baik, daya tahan yang tinggi, dan kemampuan untuk berikatan dengan jaringan gigi, menjadikannya pilihan yang populer dalam restorasi gigi.

C. Tipe-Tipe Komposit

Resin komposit dapat dibedakan menjadi beberapa tipe berdasarkan ukuran partikel, kekuatan, dan aplikasi. Berikut adalah tipe-tipe resin komposit yang umum digunakan:

1. Komposit Mikro:

Ukuran Partikel: 0,04 - 0,4 µm.

Karakteristik: Memberikan hasil restorasi yang halus dan estetik, cocok untuk gigi anterior.

Kelebihan: Estetika yang baik, permukaan halus.

Kekurangan: Kekuatan mekanik yang rendah, kurang cocok untuk area dengan tekanan tinggi.

2. Komposit Makro:

Ukuran Partikel: 8 - 12 µm.

Karakteristik: Memiliki kekuatan mekanik tinggi dan ketahanan terhadap abrasi, sering digunakan untuk restorasi posterior.

Kelebihan: Kekuatan yang baik untuk aplikasi di gigi belakang.

(31)

Kekurangan: Permukaan yang lebih kasar, dapat menyebabkan penyerapan cairan dan diskolorasi.

3. Komposit Hybrid:

Ukuran Partikel: Kombinasi partikel mikro dan makro (rata-rata 0,6 - 1,0 µm).

Karakteristik: Menawarkan keseimbangan antara kekuatan dan estetika, cocok untuk berbagai aplikasi restorasi.

Kelebihan: Baik untuk restorasi anterior dan posterior.

Kekurangan: Mungkin lebih mahal dan memerlukan teknik aplikasi yang baik.

4. Komposit Nanohibrid:

Ukuran Partikel: Partikel nano dengan ukuran di bawah 100 nm.

Karakteristik: Menawarkan kekuatan tinggi dan permukaan halus, serta estetika yang sangat baik.

Kelebihan: Ketahanan terhadap abrasi dan diskolorasi yang baik.

Kekurangan: Biaya yang lebih tinggi dan dapat memerlukan teknik aplikasi yang lebih kompleks.

5. Komposit Flowable:

Karakteristik: Memiliki viskositas rendah, memungkinkan untuk aliran yang mudah dan pengisian ruang yang sempit.

Kelebihan: Ideal untuk area kecil atau sebagai lapisan dasar.

Kekurangan: Kekuatan mekanik lebih rendah dibandingkan dengan komposit yang lebih kental.

6. Komposit Self-Cured:

Karakteristik: Menggunakan sistem polimerisasi kimia, tidak memerlukan cahaya untuk mengeras.

Kelebihan: Dapat digunakan di area yang sulit dijangkau cahaya.

Kekurangan: Waktu pengaturan yang lebih lama dan kontrol polimerisasi yang lebih sulit.

D. Keunggulan dan Kelemahan

Komposit Mikro

○ Keunggulan: Komposit mikro memiliki ukuran partikel filler yang sangat kecil (0,04-0,4 µm), sehingga memberikan permukaan yang halus dan estetika yang baik, menjadikannya ideal untuk restorasi gigi anterior12.

(32)

○ Kelemahan: Kekuatan terhadap fraktur dari komposit mikro tergolong rendah, sehingga kurang cocok untuk area yang mengalami tekanan oklusal berat 24.

Komposit Makro

○ Keunggulan: Komposit makro memiliki ukuran partikel yang lebih besar (8-12 µm), memberikan kekuatan mekanik yang tinggi dan ketahanan terhadap abrasi, sehingga sering digunakan untuk restorasi posterior 14.

○ Kelemahan: Meskipun kuat, permukaan yang kasar pada komposit makro dapat menyebabkan penyerapan cairan, meningkatkan risiko diskolorasi dan microleakage setelah pemakaian jangka panjang 12.

● Komposit Hybrid

○ Keunggulan: Komposit hibrid menggabungkan kelebihan dari komposit mikro dan makro, dengan ukuran partikel filler rata-rata 0,6-1,0 µm. Ini memberikan keseimbangan antara kekuatan dan estetika, menjadikannya cocok untuk restorasi gigi anterior maupun posterior.

○ Kelemahan: Meskipun lebih tahan lama dibandingkan komposit mikro, komposit hibrid masih rentan terhadap diskolorasi seiring waktu.

E. Proses Aplikasi

1. Proses aplikasi resin komposit melibatkan beberapa langkah penting yang memastikan keberhasilan restorasi. Berikut adalah langkah-langkah tersebut:

1) Persiapan Gigi

a) Isolasi Daerah Kerja: Gunakan rubber dam untuk mengisolasi area yang akan dirawat, mencegah kontaminasi dari air liur.

b) Pembersihan: Bersihkan gigi yang tidak dipreparasi untuk menghilangkan debris dan plak.

2) Etching

a) Aplikasi Asam: Oleskan asam fosfat 37% pada permukaan enamel selama sekitar 30 detik. Proses ini menciptakan porositas pada enamel, meningkatkan luas permukaan untuk ikatan yang lebih baik antara komposit dan gigi.

3) Aplikasi Adhesif

a) Penerapan Agen Bonding: Setelah etsa, aplikasikan agen bonding pada permukaan enamel dan dentin. Ini membantu resin komposit berpenetrasi ke dalam porositas yang dihasilkan oleh proses etsa.

4) Pencampuran dan Aplikasi Resin Komposit

a) Pencampuran: Jika menggunakan resin komposit self-cured, campurkan dua pasta (base dan catalyst) dengan cepat selama 20-30 detik, memastikan tidak ada udara yang terperangkap

(33)

b) Aplikasi: Tempatkan resin komposit ke dalam kavitas gigi secara bertahap (inkremental), terutama untuk area yang lebih besar, untuk mengurangi penyusutan saat polimerisasi

5) Polimerisasi

a) Light Cure: Jika menggunakan komposit yang diaktifkan dengan cahaya, gunakan light curing unit dengan panjang gelombang sekitar 470 nm untuk memicu polimerisasi. Proses ini biasanya berlangsung selama beberapa detik hingga menit tergantung pada jenis resin yang digunakan.

b) Self-Cure: Untuk komposit self-cured, biarkan selama waktu setting yang diperlukan (sekitar 3-5 menit) untuk memastikan pengikatan yang baik.

6) Finishing dan Polishing

a) Setelah resin mengeras, lakukan finishing untuk membentuk kontur gigi yang sesuai dan polishing untuk mendapatkan permukaan halus serta estetika yang baik.

7) Evaluasi

a) Lakukan evaluasi akhir untuk memastikan tidak ada kebocoran atau masalah lainnya pada restorasi.

F. Efek samping

Penggunaan resin komposit umumnya aman, tetapi ada beberapa efek samping dan masalah yang perlu diperhatikan, antara lain:

1. Sensitivitas Gigi: Beberapa pasien mungkin mengalami sensitivitas gigi sementara setelah prosedur restorasi, terutama jika lapisan dentin terpapar.

2. Reaksi Alergi: Meskipun jarang, beberapa orang dapat mengalami reaksi alergi terhadap bahan tertentu dalam resin komposit, seperti monomer (misalnya, bis-GMA).

3. Perubahan Warna: Resin komposit dapat mengalami diskolorasi seiring waktu, terutama jika terpapar makanan atau minuman yang menyebabkan noda.

4. Mikroleakage: Jika tidak diaplikasikan dengan benar, bisa terjadi mikroleakage, yaitu kebocoran antara resin dan struktur gigi, yang dapat menyebabkan kerusakan lebih lanjut.

(34)

5. Pengikisan dan Abrasi: Pada beberapa kasus, permukaan resin komposit dapat lebih mudah tergores dibandingkan dengan gigi asli atau material restoratif lain, terutama jika tidak dipoles dengan baik.

6. Pengembangan Stain: Beberapa jenis resin mungkin lebih rentan terhadap penyerapan noda dari makanan dan minuman, mengurangi penampilan estetisnya.

7. Komplikasi Polimerisasi: Jika proses polimerisasi tidak dilakukan dengan baik, bisa terjadi masalah seperti penyusutan atau retak, yang dapat mempengaruhi kekuatan dan integritas restorasi.

2.2.3 Gips Putih dan Biru

Produk gipsum di kedokteran gigi telah digunakan selama beberapa tahun, terutama untuk pembuatan replika jaringan rongga mulut. Replika jaringan rongga mulut untuk tujuan menentukan diagnosis, rencana perawatan, dan pembuatan restorasi indirek . Gipsum digunakan untuk membuat model studi. Keakuratan model tergantung pada keakuratan hasil cetakan dan bahan yang mengisi cetakan. Dua sifat bahan yang mempengaruhi keakuratan yaitu kemampuan gipsum untuk mengalir ke dalam cetakan dan ekspansi atau kontraksi selama setting. Bahan gipsum memiliki beberapa sifat seperti setting time, perbandingan bubuk dan air, stabilitas dimensi, temperatur dan kelembaban serta kekuatan kompresi.

Gips diperoleh dari alam berupa suatu serbuk/bubuk mineral berwarna putih dengan nama kimia CaSO4. 2H2O. Produk gips yang digunakan di bidang kedokteran gigi dasarnya adalah suatu calcium sulphate hemihidrat (CaSO4)2. H2O, kadang-kadang ditulis sebagai CaSO4. 1/2H2O. Kalsium Sulfat Hemihidrat adalah bahan digunakan di kedokteran gigi untuk pembuatan model atau die dari struktur ronga mulut dan khusus di bidang prostodonsia kedokteran gigi untuk konstruksi gigi tiruan atau model kerja gigi tiruan. Berikut jenis gipsum kedokteran gigi :

1. Gips Putih/Impression Plaster(Tipe I)

(35)

Gips putih merupakan salah satu bahan cetak paling awal di kedokteran gigi dan bersifat kaku. Plaster cetak merupakan plaster of Paris yang ditambahkan zat tambahan untuk mengatur waktu pengerasan dan ekspansi pengerasan.

Plaster cetak jarang digunakan lagi untuk mencetak dalam kedokteran gigi karena telah digantikan oleh bahan yang kurang kaku yaitu hidrokoloid dan elastomer.

2. Gips Biru/Dental Plaster (Tipe II)

Gips biru/Dental plaster (Tipe II), disebut juga plaster model atau plaster laboratorium. Plaster ini digunakan untuk membuat model studi, membuat mold untuk curing dentures, dan mounting cast pada artikulator, mengisi kuvet dalam pembuatan protesa bila ekspansi pengerasan tidaklah penting dan kekuatan cukup. Biasanya 43 dipasarkan dalam warna putih alami, jadi terlihat kontras dengan stone yang umumnya berwarna.

Sifat-sifat gips dental :

(36)

1. Reaksi pengerasan

Jika bubuk gips dicampur dengan air akan terjadi reaksi kimia dan pengerasan yang disertai pengeluaran panas (eksotermis) Reaksi pengerasannya seperti berikut : (CaSO4)2. H2O → 2CaSO4.2H2O + panas

Reaksi pengerasan ini merupakan perubahan dari kristal hemihidrat ke bentuk dihidrat yang mengeras.

2. W/P rasio

W/P rasio adalah perbandingan antara water (air/W) dan powder (bubuk/P).

Pencampuran bubuk gips dengan air mempunyai perbandingan tertentu dan berbeda untuk setiap tipe gips, tergantung dari ukuran, bentuk dan porousitas partikel bubuk gips. Bentuk Kristal hemihidrat yang tidak beraturan serta porous membutuhkan air lebih banyak untuk memudahkan pembasahan dan pengadukan dibandingkan dengan Kristal hemihidrat yang kurang porous serta berbentuk lebih beraturan.

3. Waktu pengerasan (Setting Time)

Waktu pengerasan adalah waktu yang dibutuhkan gips mulai dari mencampur, mengaduk sampai mengeras. Tanda bahwa adonan gips mulai mengeras dapat diketahui dengan mengamati permukaan adonan secara visual. Bila permukaan adonan mulai buram (loss of gloss) maka adonan gips telah mulai mengeras sehingga bila kita tuang ke dalam cetakan tidak mempunyai daya alir. Keadaan ini disebut “initial set”. Sedangkan final set adalah waktu yang diukur ketika bahan dipisahkan dari cetakan tanpa distorsi atau patah. Karena pada reaksi pengerasannya terjadi reaksi eksotermis (mengeluarkan panas), hal ini bisa menjadi salah satu indikator telah mengerasnya adonan gips. Beberapa faktor yang memengaruhi proses pengerasan :

● Makin cepat spatulasi, waktu pengerasan dipercepat

● Makin panjang waktu pengadukan, waktu pengerasan dipercepat

● Penambahan zat mempercepat waktu pengerasan (accelerator) atau zat yang memperlambat waktu pengerasan (retarder)

(37)

● Kotoran atau sisa gips yang telah mengeras dan tertimggal di dalam bowl atau spatula akan mempercepat proses pengerasan.

● Bubuk hemihidrat bersifat higroskopis sehingga dapat mengabsorpsi uap air dari lingkungan yang lembab sehingga membentuk dihidrat.

● Perlu diperhatikan agar bubuk gips tidak rusak maka harus disimpan dalam wadah yang kedap air dan tertutup rapat.

2.2.4 Alginate

A. Material Cetak Alginat (Hydrocoloid Irreversible)

Material cetak digunakan untuk mencetak jaringan rongga mulut. Hasil cetakan berupa reproduksi negatif, kemudian diisi dengan model (gips) sehingga menghasilkan model positif. Model gips ini digunakan untuk pembuatan alat-alat kedokteran gigi di luar rongga mulut. Material cetak digunakan untuk pembuatan alat-alat prostetik (GTP dan GTSL) serta pencetakan alat ortodontik.

Berdasarkan sifat elastisnya, material cetak diklasifikasikan dalam 2 kelompok, yaitu material cetak elastik dan nonelastik. Material cetak elastik terdiri atas 2 jenis, yaitu hidrokoloid dan elastomer. Material cetak alginate termasuk jenis material cetak hidrokoloid irreversible.

Alginate acid merupakan bahan dasar alginat yang diperoleh dari bahan-bahan tumbuhan laut yang merupakan polymer dariAnhydro β – d Mannoronic Aciddengan

(38)

berat molekul yang tinggi. Alginate acid ini tidak larut dalam air , tetapi beberapa garamnya bisa larut dalam air (Craig et al., 2004).

Alginat tersedia dalam bentuk powder atau bubuk yang memerlukan air dalam pemanipulasiannya. Bila alginate dicampur dengan air maka bahan tersebut tidak dapat lagi kembali ke bentuk semula. Oleh karena itu bahan cetak alginate merupakan bahan cetak irreversible hydrocolloid (bahan cetak yang tidak dapat di pakai lebih dari satu kali pemakaian).

B. Komposisi dan Reaksi Setting Alginate

Bahan dasar material cetak alginate adalah asam alginat yang berasal dari rumput laut. Komposisi material cetak alginate terdiri dari : sodium alginate 18 %, kalsium sulfat dihidrat 14%, Sodium pospat 2%, potassium sulfat 10%, bahan pengisi (tanah diatom) 56 % dan sodium silikofluorida 4%.Sediaan material cetak alginate berupa serbuk dalam kantong besar atau kantong kecil sekali pakai (sachet).

Dalam penggunaannya serbuk alginate dicampur air dengan perbandingan tertentu. Bila material cetak alginate dicampur dengan air, maka akan terbentuk hydrosol yang kemudian berubah menjadi hidrogel. Reaksi setting terjadi karena sodium alginate dengan kalsium sulfat membentuk kalsium alginate. Waktu setting alginate tergantung pada tipenya, untuk tipe regular set 1-4,5 menit dan fast set 1-2 menit.

(39)

2.3 Alur Ketersediaan

Alur ketersediaan obat di Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Universitas Sam Ratulangi mencakup beberapa tahap mulai dari produksi obat hingga sampai ke tangan konsumen di apotek RSGM

1. Produksi Obat

Obat-obatan yang digunakan di RSGM Universitas Sam Ratulangi berasal dari berbagai sumber, baik dari produsen farmasi lokal maupun internasional. Produksi obat ini dilakukan oleh perusahaan farmasi yang sudah terdaftar dan diatur oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Obat yang diproduksi oleh pabrik farmasi harus melalui tahap uji klinis dan pemenuhan standar kualitas yang ketat sebelum mendapatkan izin edar.

2. Distribusi Obat

Setelah obat diproduksi dan mendapatkan izin edar dari BPOM, obat akan didistribusikan ke distributor farmasi resmi. Distributor farmasi inilah yang memiliki izin untuk menyalurkan obat ke berbagai fasilitas kesehatan, termasuk apotek yang ada di rumah sakit seperti RSGM. Distribusi dilakukan dengan memperhatikan persyaratan khusus, seperti kondisi penyimpanan yang tepat (suhu, kelembaban) agar obat tetap terjaga kualitasnya.

3. Pengadaan Obat di RSGM

Bagian pengadaan obat di RSGM Universitas Sam Ratulangi bertanggung jawab untuk melakukan permintaan dan pembelian obat-obatan dari distributor. Bagian ini bekerja sama dengan Apotek RSGM dalam memastikan stok obat selalu tersedia sesuai kebutuhan.Pengadaan obat juga memperhitungkan masa kadaluarsa, permintaan, serta jenis-jenis obat yang paling banyak dibutuhkan di RSGM.

4. Penerimaan Obat oleh Apotek RSGM

Setelah obat diterima oleh RSGM dari distributor, obat tersebut akan disimpan di gudang farmasi RSGM di bawah pengawasan apoteker yang bertanggung jawab.

(40)

Setiap obat yang diterima akan diperiksa kualitasnya, kelengkapannya (nomor batch, tanggal kadaluarsa), dan kesesuaiannya dengan pesanan. Obat yang sudah siap dipakai akan disimpan di apotek dengan pengaturan yang baik agar mudah ditemukan dan dipantau stoknya.

5. Pemberian Obat kepada Pasien/Konsumen

Ketika pasien membutuhkan obat, dokter akan memberikan resep yang sesuai. Pasien membawa resep tersebut ke Apotek RSGM, di mana apoteker akan memproses dan memberikan obat yang sesuai dengan resep. Sebelum memberikan obat kepada pasien, apoteker biasanya akan memberikan penjelasan terkait dosis, cara penggunaan, serta efek samping yang mungkin terjadi selama penggunaan obat tersebut.

6. Pengawasan dan Pemantauan Stok

Apotek RSGM bekerja sama dengan bagian farmasi dalam mengawasi stok obat yang tersedia. Jika stok mulai menipis atau ada obat yang mendekati masa kadaluarsa, apotek akan melakukan re-order ke bagian pengadaan atau distributor. Sistem inventarisasi obat yang baik diperlukan untuk menghindari kekurangan obat atau pemborosan.

Dengan demikian, alur ketersediaan obat di RSGM Universitas Sam Ratulangi melibatkan koordinasi yang baik antara produsen obat, distributor, bagian pengadaan, gudang farmasi, apotek, hingga apoteker yang bertugas memberikan obat kepada pasien. Pengawasan yang ketat dilakukan di setiap tahap untuk menjamin keamanan, mutu, dan efektivitas obat sampai ke tangan pasien.

(41)

BAB III PENUTUP 3.1 KESIMPULAN

Ketersediaan Obat

Berdasarkan hasil observasi, apotek di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Sam Ratulangi memiliki ketersediaan obat yang umumnya mencukupi kebutuhan pasien, terutama untuk obat-obatan yang digunakan dalam perawatan gigi dan mulut seperti analgesik (obat pereda nyeri), antibiotik, dan antiseptik. Namun, beberapa obat khusus, seperti obat-obat yang digunakan untuk perawatan endodontik atau obat-obat dengan spesifikasi tinggi, sering kali mengalami kekurangan atau keterlambatan dalam pengadaan.

Pendataan dan Pengelolaan Obat

Sistem pendataan obat yang diterapkan di apotek ini sudah berjalan dengan cukup baik, meskipun masih ada beberapa kekurangan. Pencatatan obat masih menggunakan sistem manual, sehingga rentan terhadap kesalahan pencatatan dan kesulitan dalam mengakses informasi terkait stok obat secara real-time. Di samping itu, proses monitoring dan evaluasi stok obat kurang optimal, yang menyebabkan beberapa jenis obat tidak terpantau dengan baik, terutama yang memiliki masa kadaluarsa pendek. Rekomendasi: Perlu penerapan sistem manajemen inventaris berbasis komputer yang lebih modern dan otomatis, agar pengelolaan obat lebih efisien dan akurat.

Jenis Obat yang Paling Banyak Tersedia

Jenis obat yang paling banyak tersedia di apotek ini adalah obat yang digunakan untuk perawatan dasar di bidang kedokteran gigi, seperti analgesik untuk meredakan nyeri, antibiotik untuk mencegah infeksi pascaoperasi, serta antiseptik untuk pembersihan luka atau infeksi. Selain itu, tersedia juga obat-obatan yang digunakan untuk perawatan pascaoperasi dan obat topikal (untuk pemakaian luar) dalam penanganan gangguan gigi dan mulut.

Obat-obatan yang lebih spesifik, seperti obat untuk pengobatan kelainan gigi langka atau obat yang digunakan dalam terapi endodontik, terkadang sulit ditemukan.

(42)

Prosedur Distribusi dan Pemberian Obat

Proses distribusi obat dari apotek kepada pasien berjalan cukup lancar. Setiap pasien yang mendapat resep obat dari dokter gigi akan diberi penjelasan terkait cara penggunaan obat, dosis, dan frekuensi. Namun, pengawasan penggunaan obat oleh tenaga kesehatan perlu lebih ditingkatkan, terutama untuk obat yang memiliki potensi efek samping atau interaksi obat, seperti antibiotik. Edukasi kepada pasien juga perlu diperbaiki, agar mereka lebih memahami pentingnya kepatuhan terhadap penggunaan obat yang benar dan tepat.

Masalah yang Ditemui

Beberapa masalah yang ditemukan selama observasi antara lain:

● Stok obat yang terbatas pada beberapa jenis obat yang sering digunakan dalam perawatan khusus gigi, misalnya obat-obat dengan bahan aktif tertentu atau obat generik dengan harga lebih terjangkau.

● Kurangnya sistem monitoring yang real-time, sehingga tidak mudah mengetahui jumlah obat yang tersedia secara akurat setiap saat.

● Keterbatasan tenaga farmasi yang menangani pendataan dan distribusi obat, yang menyebabkan beberapa pengelolaan stok menjadi tidak optimal.

Rekomendasi

● Penerapan sistem manajemen inventaris berbasis komputer yang dapat memperbarui data secara otomatis dan memberikan laporan stok secara real-time, guna meminimalisir kesalahan pencatatan dan keterlambatan pengadaan obat.

● Pelatihan berkelanjutan untuk tenaga farmasi, guna meningkatkan kemampuan dalam pengelolaan obat, khususnya dalam hal identifikasi obat yang perlu stok tambahan atau pengurangan.

● Edukasi lebih intensif kepada pasien terkait cara penggunaan obat, terutama obat yang memiliki potensi efek samping, dan pentingnya kepatuhan terhadap resep.

● Evaluasi secara berkala terhadap pasokan obat, dengan melakukan pemantauan terhadap masa kadaluarsa dan memprioritaskan pengadaan obat-obatan yang memiliki permintaan tinggi di apotek rumah sakit.

(43)

Secara keseluruhan, apotek Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Sam Ratulangi berfungsi dengan baik dalam menyediakan obat-obatan yang diperlukan bagi pasien, namun terdapat beberapa area yang perlu diperbaiki, terutama dalam hal manajemen stok dan sistem pendataan obat agar lebih efisien dan terintegrasi.

(44)

DAFTAR PUSTAKA

Anusavice KJ, Shen C, Rawls HR. Phillips’ Science of Dental Materials (12th ed).

Philadelphia: Elsevier; 2013.

Indrani DJ, Matram N. Changes in setting time of alginate impression material with different water temperature. Dent J (Majalah Kedokt Gigi). 2013;46(1):5–8.

McCabe JF, Walls AWG. Applied Dental Materials (9th ed). Oxford: Blackwell Publishing;

2008.

Novianthy ME. Pengaruh suhu air terhadap setting time alginat [Skripsi]. Makassar:

Universitas Hasanuddin; 2012.

O’Brien WJ. Dental Materials and Their Selection (3rd ed). Illinois: Quintessence Publishing Co, Inc; 2002

Bishara, S. E., & Ostby, A. W. (2006). "Comparison of the bond strengths of different composite resins to enamel and dentin." The Angle Orthodontist, 76(3), 491-496.

Ferracane, J. L. (2011). "Materials in Dentistry: Principles and Applications." Dental Materials, 27(1), 1-11.

Cattani-Lorente, M. et al. (2005). "Clinical evaluation of a new nano-hybrid composite for posterior teeth." Dental Materials, 21(8), 754-762.

Nagasawa, T., et al. (2008). "Mechanical properties of hybrid composite resins." Journal of Biomedical Materials Research Part B: Applied Biomaterials, 84(2), 579-586.

Mursiany, Anita, Isna Nur Khasanah, dan Truly dian anggraini. (2023). ANALISIS SWAMEDIKASI OBAT ANALGETIK PADA PENDERITA SAKIT GIGI DI MASYARAKAT CEMANI KECAMATAN GROGOL KABUPATEN SUKOHARJO . Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Nasional: JURNAL LOCUS.

Lepelletier, Didier, et al. "Povidone iodine: properties, mechanisms of action, and role in infection control and Staphylococcus aureus decolonization." Antimicrobial agents and chemotherapy 64.9 (2020): 10-1128.

(45)

Vilianti, N. M. (2018).Perbedaan kekasaran permukaan antara glass ionomer cement dengan nano glass ionomer cement dalam larutan kopi hitam robusta (Coffea robusta).

Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Brawijaya, Malang.

(46)

LAMPIRAN DOKUMENTASI OBSERVASI

Referensi

Dokumen terkait

kedokteran gigi terutamanya bidang penyakit mulut, saliva dapat digunakan untuk. mendiagnosa

Semakin berkembangnya ilmu pengetahuan, laser low level pun sekarang sudah banyak digunakan di bidang Kedokteran Gigi diantaranya untuk perawatan hipersensitif, herpes simplex,

Jenis fiber yang sering digunakan di bidang kedokteran gigi adalah fiber polyethylene, karena dapat meningkatkan kekuatan impact, kekuatan fleksural, dan modulus

Perawatan ortodonti adalah salah satu jenis perawatan yang dilakukan di bidang kedokteran gigi yang bertujuan mendapatkan penampilan dentofasial yang menyenangkan secara

Di dunia kedokteran gigi resin komposit adalah bahan perawatan estetika yang paling banyak digunakan untuk gigi anterior maupun gigi posterior (Devoto, 2003), karena

Pada bidang perikanan, untuk mengurangi stres pada ikan dan juga digunakan menenangkan serta penurunan keaktifan (sedative) atau obat analgesik yang digunakan pada

Form ini digunakan untuk mengisi jenis obat yang di jual di Apotek

Resep adalah permintaan tertulis kepada Apoteker Pengelola Apotek (APA) untuk menyediakan dan menyerahkan obat bagi penderita dari dokter, dokter gigi, atau dokter hewan yang