• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH PSIKOLOGI OLAHRAGA

N/A
N/A
Daffa Fauzan

Academic year: 2025

Membagikan "MAKALAH PSIKOLOGI OLAHRAGA"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

PSIKOLOGI OLAHRAGA

Dosen pengampu: pak Fikra Azahra S.Pd M.Pd

Disusu Oleh:

Kelompok 2

1. Fauzi Imam Maula 231012500139

2. Agustinus karno ludo putra 231012550050

JURUSAN PENDIDIKAN JASMANI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PAMULANG

2025

(2)

ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya sehingga makalah dengan judul "Psikologi Olahraga " ini dapat diselesaikan dengan baik.

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Olahraga.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih terdapat kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak demi kesempurnaan makalah ini.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini, terutama kepada Bapak/Ibu selaku dosen pengampu mata kuliah Psikologi Olahraga yang telah memberikan bimbingan dan arahan selama penyusunan makalah ini.

11 April 2025 Penulis

(3)

iii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 2

1.3 Tujuan Penulisan ... 2

BAB II PEMBAHASAN ... 3

2.1 Proses Belajar Keterampilan Gerak ... 3

2.2 Jenis-Jenis Umpan Balik dan Pengaruhnya terhadap Proses Belajar Keterampilan Gerak ... 3

2.3 Konsep Dasar Latihan Keterampilan Psikologis (LKP) dalam Pengembangan Atlet ... 4

2.4 Peran Regulasi Diri dalam Optimalisasi Performa Atlet ... 5

2.5 Hubungan antara Umpan Balik dan Regulasi Diri dalam Konteks Psikologi Olahraga ... 6

BAB III PENUTUP ... 7

3.1 Kesimpulan ... 7

3.2 Saran ... 8

DAFTAR PUSTAKA ... 9

(4)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Psikologi olahraga telah berkembang menjadi disiplin ilmu yang fundamental dalam upaya memahami berbagai aspek mental yang memengaruhi performa atlet.

Penerapan prinsip-prinsip psikologi dalam konteks olahraga memungkinkan pelatih, praktisi, dan atlet untuk mengembangkan strategi yang efektif guna meningkatkan kinerja dan pencapaian prestasi. Dalam beberapa dekade terakhir, terjadi peningkatan signifikan dalam penelitian dan praktik yang berkaitan dengan aspek mental dalam olahraga, yang menggarisbawahi pentingnya dimensi psikologis untuk kesuksesan atletik.

Salah satu aspek fundamental dalam psikologi olahraga adalah proses belajar keterampilan gerak. Keterampilan gerak merupakan komponen dasar dari hampir semua aktivitas olahraga, mulai dari gerakan sederhana hingga rangkaian gerakan kompleks yang membutuhkan koordinasi tingkat tinggi. Pemahaman tentang bagaimana atlet memperoleh, menyempurnakan, dan mempertahankan keterampilan gerak menjadi krusial dalam pengembangan program pelatihan yang efektif.

Berkaitan erat dengan proses belajar keterampilan gerak adalah peran umpan balik. Umpan balik, baik yang berasal dari internal maupun eksternal, menyediakan informasi penting bagi atlet tentang kualitas performa mereka dan area yang memerlukan perbaikan. Penelitian menunjukkan bahwa jenis, waktu, dan cara penyampaian umpan balik dapat secara signifikan memengaruhi kecepatan pembelajaran, retensi keterampilan, dan transfer ke situasi kompetitif.

Selain itu, konsep Latihan Keterampilan Psikologis (LKP) dan regulasi diri semakin diakui sebagai komponen penting dalam pengembangan atlet secara holistik.

LKP menyediakan kerangka untuk mengembangkan aspek mental yang diperlukan untuk performa optimal, sementara regulasi diri memungkinkan atlet untuk mengelola pikiran, emosi, dan perilaku mereka dalam mengejar tujuan atletik.

Makalah ini berupaya untuk mengkaji secara komprehensif tentang proses belajar keterampilan gerak, jenis-jenis keterampilan, pentingnya umpan balik dalam proses

(5)

2

pembelajaran, serta bagaimana LKP dan regulasi diri berperan dalam optimalisasi performa atlet. Pemahaman mendalam tentang topik-topik ini tidak hanya bermanfaat bagi para profesional di bidang olahraga, tetapi juga bagi individu yang tertarik untuk meningkatkan kemampuan fisik dan mental mereka dalam konteks aktivitas olahraga.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana proses belajar keterampilan gerak dalam konteks psikologi olahraga?

2. Apa saja jenis-jenis umpan balik dan bagaimana pengaruhnya terhadap proses belajar keterampilan gerak?

3. Bagaimana konsep dasar Latihan Keterampilan Psikologis (LKP) dalam pengembangan atlet?

4. Bagaimana peran regulasi diri dalam optimalisasi performa atlet?

5. Bagaimana hubungan antara umpan balik dan regulasi diri dalam konteks psikologi olahraga?

1.3 Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini adalah:

1. Menganalisis proses belajar keterampilan gerak dalam konteks psikologi olahraga secara komprehensif.

2. Mengidentifikasi jenis-jenis umpan balik dan mengkaji pengaruhnya terhadap proses belajar keterampilan gerak.

3. Mendeskripsikan konsep dasar Latihan Keterampilan Psikologis (LKP) dalam pengembangan atlet.

4. Menganalisis peran regulasi diri dalam optimalisasi performa atlet.

5. Mengkaji hubungan antara umpan balik dan regulasi diri dalam konteks psikologi olahraga.

(6)

3

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Proses Belajar Keterampilan Gerak

Belajar keterampilan gerak dalam psikologi olahraga merupakan suatu proses kompleks yang melibatkan perubahan kapasitas internal individu dalam menghasilkan respons motorik yang terampil. Schmidt dan Lee (2019) menjelaskan bahwa perubahan ini bersifat relatif permanen dan terjadi sebagai hasil dari latihan atau pengalaman, bukan sekadar akibat dari kondisi sementara seperti kelelahan. Dalam olahraga, penguasaan keterampilan gerak menjadi sangat penting karena setiap cabang olahraga bergantung pada kemampuan atlet untuk melakukan gerakan secara efisien, tepat, dan konsisten.

Proses belajar keterampilan gerak biasanya melalui beberapa tahap. Pada tahap awal, yang disebut sebagai tahap kognitif, atlet berusaha memahami apa yang harus dilakukan, sering kali diiringi dengan banyak kesalahan. Seiring berjalannya waktu dan melalui latihan yang terus menerus, atlet memasuki tahap asosiatif di mana performa menjadi lebih terkoordinasi dan kesalahan mulai berkurang. Akhirnya, keterampilan mencapai tahap otonom, ditandai dengan kemampuan melakukan gerakan secara otomatis tanpa memerlukan banyak perhatian sadar (Gentile, 2000).

Faktor-faktor seperti motivasi, perhatian, umpan balik, serta kualitas instruksi dan latihan yang diterima sangat mempengaruhi efektivitas pembelajaran keterampilan gerak (Deci & Ryan, 2000). Atlet yang memiliki motivasi intrinsik yang tinggi cenderung lebih gigih dalam menghadapi tantangan belajar, sementara perhatian yang difokuskan pada hasil eksternal dari gerakan terbukti lebih efektif dalam mempercepat proses belajar (Wulf, Shea, & Lewthwaite, 2010). Oleh karena itu, pembelajaran motorik tidak hanya menuntut latihan fisik, tetapi juga pendekatan psikologis yang cermat.

2.2 Jenis-Jenis Umpan Balik dan Pengaruhnya terhadap Proses Belajar Keterampilan Gerak

Dalam konteks pembelajaran keterampilan gerak, umpan balik memegang peranan vital sebagai sumber informasi bagi atlet tentang kualitas kinerjanya. Magill dan Anderson (2017) membedakan umpan balik menjadi dua jenis utama, yaitu umpan balik

(7)

4

intrinsik dan ekstrinsik. Umpan balik intrinsik berasal dari pengalaman sensoris internal atlet sendiri, seperti perasaan keseimbangan atau ketegangan otot selama bergerak.

Sebaliknya, umpan balik ekstrinsik, juga dikenal sebagai umpan balik tambahan, diberikan oleh sumber luar seperti pelatih, perangkat lunak analisis gerakan, atau observasi video.

Lebih lanjut, umpan balik ekstrinsik terdiri dari informasi tentang hasil gerakan, yang disebut Knowledge of Results (KR), dan informasi tentang cara gerakan dilakukan, yang dikenal sebagai Knowledge of Performance (KP). KR membantu atlet memahami apakah tujuan gerakan tercapai, sedangkan KP memberikan wawasan tentang aspek- aspek teknik yang perlu diperbaiki.

Penelitian menunjukkan bahwa jenis, waktu, dan frekuensi pemberian umpan balik dapat mempengaruhi kecepatan dan efektivitas pembelajaran. Salmoni, Schmidt, dan Walter (1984) mengungkapkan bahwa pemberian umpan balik yang terlalu sering dapat menimbulkan ketergantungan, menghambat kemampuan atlet untuk mengevaluasi dirinya sendiri. Sebaliknya, umpan balik yang diberikan dengan frekuensi yang dikurangi secara bertahap mampu mendorong perkembangan kemandirian dalam belajar. Waktu pemberian juga penting, di mana umpan balik yang diberikan dengan jeda memungkinkan atlet untuk melakukan refleksi diri yang lebih mendalam sebelum menerima koreksi eksternal.

Dalam praktiknya, umpan balik yang efektif harus bersifat spesifik, fokus pada aspek-aspek yang dapat dikendalikan oleh atlet, dan disampaikan dengan cara yang mendorong perbaikan, bukan sekadar menunjukkan kesalahan. Dengan demikian, umpan balik menjadi alat penting tidak hanya untuk memperbaiki kesalahan, tetapi juga untuk memperkuat kepercayaan diri dan motivasi intrinsik atlet.

2.3 Konsep Dasar Latihan Keterampilan Psikologis (LKP) dalam Pengembangan Atlet

Latihan Keterampilan Psikologis (LKP) telah menjadi bagian integral dalam program pengembangan atlet modern. Weinberg dan Gould (2018) mendefinisikan LKP sebagai upaya sistematis untuk mengajarkan keterampilan mental yang diperlukan untuk

(8)

5

mengoptimalkan performa olahraga, termasuk keterampilan seperti pengaturan tujuan, imagery, self-talk, dan teknik relaksasi.

Implementasi LKP dalam pelatihan atlet dimulai dengan fase pendidikan, di mana atlet diperkenalkan pada pentingnya keterampilan mental. Setelah itu, atlet memasuki fase akuisisi, yang berfokus pada penguasaan teknik-teknik spesifik, dan akhirnya fase praktek, di mana keterampilan mental ini diintegrasikan dalam konteks latihan dan kompetisi nyata (Vealey, 2007).

Pengaturan tujuan membantu atlet untuk memusatkan perhatian pada hasil yang diinginkan dan mempertahankan motivasi selama proses latihan yang panjang. Imagery atau visualisasi mental memungkinkan atlet untuk berlatih keterampilan secara kognitif tanpa keterlibatan fisik, yang telah terbukti meningkatkan efektivitas latihan fisik. Self- talk, baik dalam bentuk instruksi teknis maupun motivasi diri, digunakan untuk memperkuat keyakinan dan konsentrasi. Teknik relaksasi, seperti latihan pernapasan dalam, berguna untuk mengendalikan tingkat kecemasan sebelum dan selama kompetisi.

Studi meta-analisis oleh Hatzigeorgiadis, Zourbanos, Galanis, dan Theodorakis (2011) menguatkan bahwa intervensi keterampilan psikologis, khususnya penggunaan self-talk, berdampak signifikan dalam meningkatkan performa atletik di berbagai cabang olahraga. Oleh karena itu, pengembangan keterampilan mental melalui LKP merupakan investasi strategis dalam pembentukan atlet yang tidak hanya terampil secara fisik, tetapi juga kuat secara mental.

2.4 Peran Regulasi Diri dalam Optimalisasi Performa Atlet

Regulasi diri merupakan kapasitas individu untuk mengelola pikiran, emosi, dan tindakan mereka secara sadar dan terarah guna mencapai tujuan tertentu. Dalam dunia olahraga, regulasi diri menjadi salah satu faktor kunci dalam mempertahankan performa optimal di tengah tekanan kompetitif yang tinggi (Zimmerman, 2000).

Regulasi diri dalam olahraga melibatkan serangkaian proses, mulai dari perencanaan tujuan, monitoring progres selama latihan dan kompetisi, hingga refleksi atas hasil yang diperoleh. Atlet yang memiliki keterampilan regulasi diri yang baik mampu mengidentifikasi kelemahan performa mereka secara objektif, mengembangkan strategi untuk mengatasi hambatan, dan menjaga motivasi dalam jangka panjang.

(9)

6

Cleary dan Zimmerman (2001) menunjukkan bahwa perbedaan dalam keterampilan regulasi diri dapat membedakan atlet berpengalaman dari pemula. Atlet berpengalaman secara konsisten menunjukkan kemampuan yang lebih besar dalam mengatur perhatian, mengelola emosi, dan mengadaptasi strategi mereka berdasarkan umpan balik lingkungan.

Selain itu, regulasi diri berkontribusi terhadap pembentukan resiliensi psikologis, yaitu kemampuan untuk tetap bertahan dan bangkit kembali setelah mengalami kegagalan atau tekanan tinggi. Studi oleh Toering et al. (2009) juga menemukan bahwa atlet muda yang dilatih keterampilan regulasi diri sejak dini menunjukkan perkembangan performa yang lebih stabil dan adaptif sepanjang karir atletik mereka.

2.5 Hubungan antara Umpan Balik dan Regulasi Diri dalam Konteks Psikologi Olahraga

Hubungan antara umpan balik dan regulasi diri sangat erat dan saling memperkuat. Umpan balik yang efektif tidak hanya memberikan informasi tentang kualitas performa, tetapi juga memfasilitasi perkembangan kemampuan evaluasi diri, yang merupakan inti dari regulasi diri. Nicholls, Polman, dan Levy (2010) menekankan bahwa umpan balik yang berorientasi pada proses, bukan hanya hasil, mendorong atlet untuk lebih fokus pada aspek-aspek yang dapat mereka kontrol, memperkuat rasa otonomi dan self-efficacy mereka.

Jonker, Elferink-Gemser, dan Visscher (2010) menambahkan bahwa refleksi diri yang dipicu oleh umpan balik eksternal dapat meningkatkan kesadaran diri atlet terhadap kekuatan dan kelemahan mereka. Dengan demikian, pemberian umpan balik yang terstruktur dengan baik menjadi sarana efektif untuk mengajarkan atlet tentang pentingnya evaluasi diri yang objektif dan pengembangan strategi adaptif.

Integrasi yang harmonis antara umpan balik yang berkualitas dan penguatan keterampilan regulasi diri membentuk dasar bagi perkembangan atlet yang mandiri, resilien, dan mampu beradaptasi dengan tantangan kompetitif yang terus berkembang.

Oleh karena itu, dalam praktik psikologi olahraga modern, kombinasi antara teknik pemberian umpan balik yang efektif dan pelatihan regulasi diri menjadi strategi utama dalam membentuk performa atletik yang optimal dan berkelanjutan.

(10)

7

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan dalam bab-bab sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa psikologi olahraga memainkan peranan yang sangat penting dalam proses pembelajaran keterampilan gerak dan pengembangan performa atlet secara keseluruhan. Belajar keterampilan gerak merupakan proses kompleks yang melibatkan perubahan relatif permanen dalam kemampuan motorik individu, yang terjadi melalui tahapan kognitif, asosiatif, hingga otonom. Keberhasilan dalam belajar keterampilan gerak dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk motivasi, perhatian, kualitas latihan, dan umpan balik yang diberikan.

Umpan balik terbukti sebagai elemen krusial dalam mendukung proses belajar.

Baik umpan balik intrinsik yang bersumber dari pengalaman sensoris atlet sendiri maupun umpan balik ekstrinsik yang berasal dari pelatih atau alat bantu teknologi, keduanya berkontribusi dalam mempercepat penguasaan keterampilan gerak. Selain jenis umpan balik, aspek waktu, frekuensi, dan strategi penyampaian juga sangat menentukan efektivitas pembelajaran.

Di samping itu, konsep Latihan Keterampilan Psikologis (LKP) menjadi pendekatan penting dalam membangun kekuatan mental atlet. Melalui pengaturan tujuan, imagery, self-talk, serta teknik relaksasi, atlet dapat meningkatkan konsistensi performa, mengendalikan kecemasan, dan mengoptimalkan kesiapan mental dalam kompetisi.

Penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa implementasi LKP secara sistematis dapat memberikan dampak positif terhadap performa atletik di berbagai cabang olahraga.

Regulasi diri, sebagai kemampuan individu untuk mengatur pikiran, emosi, dan tindakan mereka dalam mencapai tujuan, juga berperan penting dalam optimalisasi performa atlet. Atlet yang mampu mengatur dirinya dengan baik cenderung lebih resilien, fokus, dan adaptif dalam menghadapi tantangan kompetitif. Regulasi diri dan umpan balik memiliki hubungan timbal balik, di mana pemberian umpan balik yang efektif mendukung perkembangan keterampilan regulasi diri, sedangkan regulasi diri yang kuat meningkatkan kemampuan atlet untuk memanfaatkan umpan balik secara optimal.

(11)

8

Secara keseluruhan, pemahaman mendalam tentang proses belajar keterampilan gerak, peran umpan balik, latihan keterampilan psikologis, serta pentingnya regulasi diri memberikan kontribusi besar dalam mengembangkan program pelatihan yang lebih efektif dan holistik dalam konteks psikologi olahraga.

3.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan yang diperoleh, terdapat beberapa saran yang dapat diajukan untuk pengembangan lebih lanjut dalam bidang ini. Pertama, pelatih dan praktisi olahraga hendaknya mengintegrasikan aspek-aspek psikologi secara lebih sistematis dalam program latihan, khususnya dalam memberikan umpan balik yang konstruktif dan mendorong pengembangan regulasi diri atlet.

Kedua, penting bagi atlet untuk diberi pelatihan keterampilan psikologis sejak dini agar keterampilan mental seperti pengaturan tujuan, kontrol emosi, dan self-talk menjadi bagian dari rutinitas latihan mereka. Program LKP harus dirancang secara individual untuk menyesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik masing-masing atlet.

Ketiga, penelitian lebih lanjut disarankan untuk mengkaji secara mendalam hubungan antara karakteristik individu atlet, strategi umpan balik, dan pengembangan regulasi diri dalam berbagai cabang olahraga, guna menghasilkan model intervensi psikologis yang lebih spesifik dan efektif.

Dengan mengintegrasikan pendekatan psikologi olahraga ke dalam setiap aspek pembinaan atlet, diharapkan performa atletik dapat ditingkatkan secara optimal, tidak hanya dalam konteks keterampilan fisik tetapi juga dalam aspek mental dan emosional yang mendukung pencapaian prestasi tinggi secara berkelanjutan.

(12)

9

DAFTAR PUSTAKA

Cleary, T. J., & Zimmerman, B. J. (2001). Self-regulation differences during athletic practice by experts, non-experts, and novices. Journal of Applied Sport Psychology, 13(2), 185–206. https://doi.org/10.1080/104132001753149883 Deci, E. L., & Ryan, R. M. (2000). The "what" and "why" of goal pursuits: Human needs

and the self-determination of behavior. Psychological Inquiry, 11(4), 227–268.

https://doi.org/10.1207/S15327965PLI1104_01

Gentile, A. M. (2000). Skill acquisition: Action, movement, and neuromotor processes.

In J. H. Carr & R. B. Shepherd (Eds.), Movement science: Foundations for physical therapy in rehabilitation (pp. 111–187). Aspen Publishers.

Hatzigeorgiadis, A., Zourbanos, N., Galanis, E., & Theodorakis, Y. (2011). Self-talk and sports performance: A meta-analysis. Perspectives on Psychological Science, 6(4), 348–356. https://doi.org/10.1177/1745691611413136

Jonker, L., Elferink-Gemser, M. T., & Visscher, C. (2010). The role of self-regulatory skills in sport and academic performances of elite youth athletes. Talent Development and Excellence, 2(2), 165–178. https://psycnet.apa.org/record/2011- 06220-002

Locke, E. A., & Latham, G. P. (2002). Building a practically useful theory of goal setting and task motivation: A 35-year odyssey. American Psychologist, 57(9), 705–717.

https://doi.org/10.1037/0003-066X.57.9.705

Magill, R. A., & Anderson, D. (2017). Motor learning and control: Concepts and applications (11th ed.). McGraw-Hill Education.

Nicholls, A. R., Polman, R. C. J., & Levy, A. R. (2010). Coping self-efficacy, pre- competitive anxiety, and subjective performance among athletes. European

Journal of Sport Science, 10(2), 97–102.

https://doi.org/10.1080/17461390903271592

(13)

10

Salmoni, A. W., Schmidt, R. A., & Walter, C. B. (1984). Knowledge of results and motor learning: A review and critical reappraisal. Psychological Bulletin, 95(3), 355–

386. https://doi.org/10.1037/0033-2909.95.3.355

Schmidt, R. A., & Lee, T. D. (2019). Motor learning and performance: From principles to application (6th ed.). Human Kinetics.

Vealey, R. S. (2007). Mental skills training in sport. In G. Tenenbaum & R. C. Eklund (Eds.), Handbook of sport psychology (3rd ed., pp. 287–309). Wiley.

Weinberg, R. S., & Gould, D. (2018). Foundations of sport and exercise psychology (7th ed.). Human Kinetics.

Wulf, G., Shea, C., & Lewthwaite, R. (2010). Motor skill learning and performance: A review of influential factors. Human Movement Science, 29(5), 556–568.

https://doi.org/10.1016/j.humov.2010.05.002

Zimmerman, B. J. (2000). Attaining self-regulation: A social cognitive perspective. In M.

Boekaerts, P. R. Pintrich, & M. Zeidner (Eds.), Handbook of self-regulation (pp.

13–39). Academic Press.

Referensi

Dokumen terkait

Anak dengan kesulitan belajar adalah individu yang memiliki gangguan pada satu atau lebih kemampuan dasar psikologis yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa, berbicara

pemahaman dan memberi umpan balik, serta pemberian latihan lanjutan lebih banyak direncanakan oleh guru sehingga aktivitas komunikasi matematis yang dibangun antara siswa dengan

Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka dapat dirumuskan suatu permasalahan sebagai berikut: ”Seberapa pentingnya pemahaman dan keterampilan guru – guru

latihan smash bola voli yang dibuat dalam berbagai variasi latihan untuk bagian-bagian detail keterampilan gerak teknik dasar smash yang mudah diikuti karena model latihan

Materi yang disajikan membuat siswa lebih memahami konsep kinematika gerak Latihan soal sesuai dengan kemampuan siswa sehingga dapat mengukur pemahaman siswa Keseluruhan isi dalam

Guru membantu siswa untuk terus memperkuat keterampilan menulis kritis mereka dan membimbing mereka menuju tingkat pemahaman dan kemampuan yang lebih tinggi dengan memberikan umpan

Kurangnya pengetahuan teknis yang memadai, keterampilan manajerial, dan pemahaman yang mendalam tentang regulasi dan peraturan yang berlaku serta tidak berperannya Pihak Berwenang atau

● Untuk siswa yang memiliki keterampilan gerak yang kurang baik: guru akan membantu proses latihan lompat tali guru bisa memberikan instruksi kepada siswa untuk latihan lompat tali