• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH STANDARISASI AKREDITASI RUMAH SAKIT

N/A
N/A
Tiara Rahmadika

Academic year: 2024

Membagikan "MAKALAH STANDARISASI AKREDITASI RUMAH SAKIT "

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

i

MAKALAH

STANDARISASI AKREDITASI RUMAH SAKIT

Dosen Pengampu : Yosalli, M.P.H

Oleh :

Tiara Rahmadika (21190051)

PRODI D3 ADMISTRASI RUMAH SAKIT FAKULTAS KESEHATAN

KAMPUS III BUKITTINGGI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA BARAT

TA. 2023

(2)

ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur Penulis panjatkan kehadirat Allah Subhanahu Wata'ala, karena hanya dengan izin rahmat dan kuasa-Nyalah Penulis masih diberikan kesehatan sehingga dapat menyelesaikan makalah yang Standarisasi Akreditasi Rumah Sakit ini.

Sebelumnya Penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang telah membantu menyelasaikan pengerjaan makalah ini.

Penulis sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita tentang Standarisasi Akreditasi Rumah Sakit.

Penulis juga menyadari sepenuhnya bahwa dalam tugas makalah ini terdapat kekurangan -kekurangan dan masih jauh dari apa yang diharapkan.

Untuk itu Penulis berharap kritik dan sarannya demi perbaikan makalah ini di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa sarana yang membangun. Semoga makalah ini dapat bermanfaat.

Senin, 9 April 2023 Penulis

(3)

iii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 2

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan Makalah ... 2

BAB II PEMBAHASAN ... 4

A. Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien ... 4

B. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi ... 8

C. Tata Kelola Rumah Sakit ... 12

BAB III PENUTUP ... 15

A. Kesimpulan ... 15

B. Saran ... 15

DAFTAR PUSTAKA ... 16

(4)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Akreditasi Rumah Sakit merupakan suatu pengakuan dari Pemerintah yang diberikan kepada Rumah Sakit yang telah memenuhi standar. Tujuan Akreditasi untuk mencapai sejauh mana Rumah Sakit dapat memenuhi standar-standar yang telah ditetapkan oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit, sehingga peningkatan mutu terhadap pelayanan di Rumah Sakit dapat ditingkatkan, dipertahankan dan dipertanggungjawabkan.

Manfaat Akreditasi untuk meningkatkan mutu Rumah Sakit itu sendiri, pemilik, pasien dan lingkungan masyarakat yang ada disekitarnya. Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS), menjadi Komisi yang mengatur Akreditasi Rumah Sakit di Indonesia. Dengan Akreditasi merupakan hal yang penting dalam upaya untuk meningkatkan mutu pelayanan serta keselamatan pasien, karena asuhan pelayanan medis dalam sistem pelayanan dan sasaran keselamatan pasien.

Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) yang dibentuk oleh Pemerintah dengan dasar hukum pelaksanaan Akreditasi di Rumah Sakit adalah UU No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan, UU No. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit dan Permenkes 1144/ Menkes/ Per/ VIII/ 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan dan Peraturan yang terbaru Permenkes No.34 Tahun 2017 tentang Akreditasi Rumah Sakit.

Akreditasi mengandung arti suatu pengakuan yang diberikan Pemerintah kepada Rumah Sakit karena memenuhi standar yang telah ditetapkan. Rumah Sakit yang telah terakreditasi, mendapat pengakuan dari Pemerintah bahwa semua hal yang ada di dalam sarana dan prasarana yang dimiliki Rumah Sakit, sudah sesuai standar. Dimana tata cara pengelolaan Rumah Sakit harus diseragamkan sehingga dibuatlah standarisasi pelayanan yang dilakukan Rumah Sakit, harus sesuai dengan

(5)

2

Standar Akreditasi Rumah Sakit yang telah disusun. Kegiatan Akreditasi dilakukan berdasarkan dan tercantum didalam UndangUndang Republik Indonesia Nomor. 44 Tahun 2009 pada pasal 40 yang menyatakan “bahwa dalam meningkatan mutu pelayanan Rumah Sakit wajib dilakukan Akreditasi secara berkala minimal 3 (tiga) tahun sekali” (Pemerintah Republik Indonesia, 2009). Akreditasi mulai dilakukan tahun 1995 dan pada Tahun 2012 ditetapkan Standar Akreditasi Rumah Sakit yang disebut dengan KARS 2012, yang bertujuan untuk mengutamakan pasien, dokter serta staf yang bekerja di Rumah Sakit, dimana Akreditasi menjadikan pasien sebagai bagian terpenting di dalam memberikan pelayanan serta manfaat dapat dirasakan oleh pemilik Rumah Sakit, karyawan, pihak ketiga (asuransi, supllier, pendidikan tenaga kesehatan) maupun masyarakat pengguna jasa layanan Rumah Sakit dengan memberikan pelayanan kesehatan yang dapat dipertanggung jawabkan.

Permintaan masyarakat terhadap jasa Rumah Sakit semakin meningkat. Hal ini dapat dilihat dari jumlah kunjungan masyarakat ke Rumah Sakit yang semakin meningkat dikarenakan telah diterapkan sistem pelayanan BPJS. Akreditasi merupakan syarat yang sangat penting untuk bekerja sama dengan BPJS oleh sebab itu Rumah Sakit berusaha untuk melakukan perubahan dan memenuhi Standar- Standar yang ada di dalam Instrumen Akreditasi.

B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan peningkatan mutu dan keselamatan pasien?

2. Apa yang dimaksud pencegahan dan pengendalian infeksi?

3. Apa yang dimaksud dengan tata kelola rumah sakit?

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan Makalah

Tujuan penulisan makalah ini ialah untuk memenuhi tugas mata kuliah Standarisasi Akreditasi Rumah Sakit.

(6)

3

Adapun manfaat penulisan makalah ini diantaranya : 1. Memahami peningkatan mutu dan keselamatan pasien

2. Memahami dan mengetahui pencegahan dan pengendalian infeksi 3. Memahami dan mengetahui tata kelola rumah sakit

(7)

4

BAB II PEMBAHASAN

A. Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien a. Pengertian

Menurut Edward Deming (1940), Mutu adalah pelayanan yang dapat memuaskan pelanggan, Menurut Joseph M. Juran (1954), bahwa mutu merupakan kecocokan penggunaan produk untuk memenuhi kepuasan pelanggan. Sedangkan menurut Supriyanto & Wulandari (2011), mutu merupakan keseluruhan karakteristik dan gambaran dari barang atau jasa yang menunjukkan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan pelanggan. Sehingga dapat dikatakan bahwa mutu adalah sesuatu yang digunakan untuk menjamin tujuan atau luaran yang diharapkan dan mutu harus selalu mengikuti perkembangan pengetahuan professional terkini agar dapat memuaskan pelanggan.

Mutu pelayanan kesehatan adalah derajat atau tingkat kesempurnaan pelayanan kesehatan yang diselenggarakan sesuai dengan standar pelayanan yang berlaku. Menurut Azwar (1996), mutu pelayanan kesehatan bersifat multidimensi sebab mutu pelayanan kesehatan dapat dilihat dari tiga sudut pandang yaitu dari pihak pemakai jasa pelayanan, pihak penyelenggara pelayanan, dan pihak dan pihak penyandang dana mutu.

Berdasarkan Permenkes No. 46 Tahun 2015 Lampiran I Standar Akreditasi Puskesmas disebutkan bahwa visi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh Puskesmas adalah tercapainya Kecamatan Sehat menuju terwujudnya Indonesia Sehat.

Peningkatan mutu merupakan suatu proses pengukuran derajat kesempurnaan pelayanan kesehatan dibandingkan dengan standar atau prinsip dengan tindakan perbaikan yang sistematik dan berkesinambungan untuk mencapai mutu pelayanan yang optimum atau prima sesuai dengan standar ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemampuan sumber daya yang ada (Supriyanto & Wulandari, 2011).

(8)

5

Kualitas atau mutu pelayanan kesehatan tidak dapat lepas dari kepuasan pelanggan atau pasien. Pelayanan kesehatan yang bermutu dapat meningkatkan kepuasan pasien terhadap pelayanan yang diberikan. Selain itu, kepuasan pasien dapat dijadikan tolok ukur keberhasilan mutu pelayanan sebuah fasilitas kesehatan.

Kepuasan pasien akan tercipta ketika apa yang didapat lebih besar dari yang diharapkan.

Menurut Kotler dalam Cahyono (2008), kepuasan dan keselamatan pasien dengan tatakelola klinis serta efisiensi merupakan hal penting dalam menjamin kualitas pelayanan kesehatan.

Institute of Medicine (2001) juga mengatakan hal yang sama, yaitu mutu sebuah pelayanan kesehatan dapat berdasarkan pada efisiensi, efektifitas, ketepatan waktu, keadilan, berorientasi pasien, dan keselamatan pasien. Hal tersebut menunjukkan bahwa keselamatan pasien merupakan salah satu tolok ukur bagi penilaian kualitas sebuah pelayanan kesehatan.

Keselamatan adalah suatu sistem yang membuat asuhan pasien lebih aman, meliputi asasmen risiko, identifikasi dan pengelolaan risiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya, serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko dan mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya.

Salah satu prinsip pelayanan kesehatan adalah menyelamatkan pasien dengan prosedur dan tindakan yang aman dan tidak membahayakan pasien maupun petugas pemberi pelayanan kesehatan. Setiap fasilitas layanan kesehatan harus selalu menjaga keamanan proses pelayanan kesehatannya guna menghindari terjadinya kesalahan medis (medical error) yang bisa berpengaruh terhadap kualitas pelayanan kesehatan.

Keselamatan pasien merupakan suatu upaya menjamin segala tindakan dan aktivitas yang berhubungan dengan pasien yang dilakukan oleh petugas kesehatan agar berlangsung dengan aman dan tidak menimbulkan efek atau dampak yang membahayakan bagi pasien melalui serangkaian aktivitas yang telah diatur dalam perundang-undangan.

(9)

6

Keselamatan pasien menjadi poin penting dalam setiap tindakan medis baik tindakan medis ringan maupun tindakan medis berat. Berdasarkan penelitian Maghfiroh & Rochmah (2017), keselamatan pasien memberikan pengaruh besar terhadap citra, tanggung jawab sosial, moral serta kinerja petugas kesehatan sehingga keselamatan pasien memiliki keterkaitan dengan isu mutu dan citra sebuah pelayanan kesehatan.

b. Tujuan dari PMKP ada 2 yaitu:

1. UMUM

Mendorong pelaksanaan kegiatan pelayanan kepada pasien yang memenuhi standar pelayanan, keselamatan pasien dan memberikan kepuasan kepada pasien .

2. KHUSUS

a. Memastikan bahwa pelayanan diberikan sesuai dengan standar pelayanan medis dan keperawatan

b. Menjamin pemberian pelayanan sesuai dengan standar pelayanan medik, keselamatan pasien dan dilaksanakan secara terpadu sesuai dengan kebutuhan pasien.

c. Mengupayakan peningkatan mutu pelayanan, keselamatan pasien dan kinerja melalui peningkatan kemampuan pemberian pelayanan kesehatan.

d. Tersusunnya sistem monitoring pelayanan melalui indikator mutu pelayanan rumah sakit

c. Proses dan contoh PMKP

1. Kepatuhan Identifikasi Pasien pada saat pemberian pengobatan termasuk nutrisi, pemberian darah dan produk darah atau pengambilan specimen

a. PLAN = Meningkatkan kepatuhan Identifikasi Pasien pada saat pemberian pengobatan termasuk nutrisi, pemberian darah dan produk darah atau pengambilan specimen

b. DO = Dilakukan sosialisai dan monitoring secara intensif kepada petugas ruangan tetang SPO Identifikasi Pasien pada saat pemberian pengobatan termasuk nutrisi, pemberian darah dan produk darah atau pengambilan specimen.

(10)

7

c. STUDY = Belum sepenuhnya petugas patuh dalam Identifikasi Pasien pada saat pemberian pengobatan termasuk nutrisi, pemberian darah dan produk darah atau pengambilan specimen sesuai SPO

d. ACTION = Monev dan sosialisasi berkesinambungan pentingnya Identifikasi Pasien pada saat pemberian pengobatan termasuk nutrisi, pemberian darah dan produk darah atau pengambilan specimen.

2. Emergency Respon Time (Waktu Tanggap Pelayanan Gawatdarurat ≤ 5 menit).

a. PLAN = Menurunkan Emergency Respon Time (Waktu Tanggap Pelayanan Gawatdarurat ≤ 5 menit )

b. DO = Sosialisasi dan motivasi ke petugas pentingnya.Emergency Respon Time (Waktu Tanggap Pelayanan Gawat darurat ≤ 5 menit ).

c. STUDY = Belum sepenuhnya petugas patuh dalam mempercepat Emergency Respon Time (Waktu Tanggap Pelayanan Gawatdarurat ≤ 5 menit ) sesuai SPO

d. ACTION = Monev dan sosialisasi berkesinambungan pentingnya mempercepat Emergency Respon Time (Waktu Tanggap Pelayanan Gawatdarurat

≤ 5 menit )

3. Waktu tunggu Rawat Jalan

a. PLAN = Menurunkan Waktu tunggu Rawat Jalan b. DO = Pengaturan jadwal jaga poli dokter spesialis

c. STUDY = Belum sepenuhnya petugas patuh mempercepat Waktu tunggu Rawat Jalan sesuai SPO

d. ACTION = Lakukan monitoring, sosialisasi hasil monev secara rutin 4. Waktu Lapor Hasil Tes Kritis laboratorium

a. PLAN = Menurunkan Waktu Lapor Hasil Tes Kritis laboratorium

b. DO = Sosialisasi dan motivasi ke petugas pentingnya mempercepat Waktu Lapor Hasil Tes Kritis laboratorium.

c. STUDY = Belum sepenuhnya petugas patuh dalam mempercepat Waktu Lapor Hasil Tes Kritis laboratorium sesuai SPO

(11)

8

d. ACTION = Monev dan sosialisasi berkesinambungan pentingnya mempecepat Waktu Lapor Hasil Tes Kritis laboratorium.

5. Kepatuhan Jam Visite Dokter Spesialis

a. Plan = Meningkatkan Kepatuhan Jam Visite Dokter Spesialis b. DO = Sosialisasi SPO Jam Visite Dokter Spesialis kepada DPJP

c. STUDY = Belum sepenuhnya DPJP mematuhi jam Visite Dokter Spesialissesuai SPO, berakibat penundaan tindakan dan pengobatan

d. ACTION = Monev dan sosialisasi berkesinambungan pentingnya mematuhi jam Visite Dokter Spesialissesuai SPO.

B. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi

Penyakit infeksi masih merupakan salah satu masalah kesehatan di dunia, termasuk Indonesia. Ditinjau dari asal atau didapatnya infeksi dapat berasal dari komunitas (Community acquired infection) atau berasal dari lingkungan rumah sakit (Hospital acquired infection) yang sebelumnya dikenal dengan istilah infeksi nosokomial.

Tindakan medis yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang bertujuan untuk perawatan atau penyembuhan pasien, apabila dilakukan tidak sesuai prosedur maka berpotensi untuk menularkan penyakit infeksi, baik bagi pasien yang lain atau bahkan pada petugas kesehatan itu sendiri. Karena tidak dapat ditentukan secara pasti asal infeksi, maka sekarang istilah infeksi nosokomial (Hospital acquired infection) diganti dengan istilah baru yaitu “Healthcare-associated infections”

(HAIs) dengan pengertian yang lebih luas tidak hanya di rumah sakit tetapi juga di fasilitas pelayanan kesehatan lainnya, serta tidak terbatas infeksi pada pasien saja, tetapi juga infeksi pada petugas kesehatan yang didapat pad Mencegah atau membatasi penularan infeksi di sarana pelayanan kesehatan memerlukan penerapan prosedur dan protokol yang disebut sebagai "pengendalian". Secara hirarkis hal ini telah ditata sesuai dengan efektivitas pencegahan dan pengendalian infeksi (Infection Prevention and Control– IPC), yang meliputi: pengendalian bersifat administratif, pengendalian dan 10 rekayasa lingkungan, dan alat pelindung diri

(12)

9

(Slamet et al, 2013). Program yang termasuk pencegahan dan pengendalian infeksi yaitu,

a) Tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi;

b) Surveilans (HAIs dan Proses: audit kepatuhan petugas untuk cuci tangan dan memakai APD);

c) Penerapan kewaspadaan isolasi;

d) Pendidikan dan pelatihan PPI;

e) Penggunaan antimikroba rasional;

f) Kesehatan karyawan a. Tujuan PPI

Tujuan dari Pencegahan dan Pengendalian Infeksi adalah untuk membantu mengurangi penyebaran infeksi yang terkait dengan pelayanan kesehatan, dengan penilaian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi oleh National Infection Control Policies. Tujuan utamanya adalah untuk mendukung promosi kualitas pelayanan kesehatan yang aman bagi pasien, petugas kesehatan, dan orang lain dalam perawatan kesehatan dan lingkungan dengan cara yang hemat biaya.

b. Proses dan Contoh PPI

1. Kewaspadaan Standar (Standard/Universal Precautions)

Kewaspadaan standar adalah kewaspadaan dalam pencegahan dan pengendalian infeksi rutin dan harus diterapkan terhadap semua pasien di semua fasilitas kesehatan. Kewaspadaan standar/universal yaitu tindakan pengendalian infeksi yang dilakukan oleh seluruh tenaga kesehatan untuk mengurangi resiko penyebaran infeksi dan didasarkan pada prinsip bahwa darah dan cairan tubuh dapat berpotensi menularkan penyakit, baik berasal dari pasien maupun petugas kesehatan (Nursalam, 2007). Tindakan dalam kewaspadaan standar meliputi:

a. Kebersihan tangan.

b. APD : sarung tangan, masker, goggle, face shield , gaun.

c. Peralatan perawatan pasien.

d. Pengendalian lingkungan.

(13)

10 e. Penatalaksanaan Linen.

f. Pengelolaan limbah tajam/ Perlindungan & Kesehatan karyawan.

g. Penempatan pasien

h. Hygiene respirasi/Etika batuk i. Praktek menyuntik aman

j. Praktek pencegahan infeksi unt prosedur lumbal pungsi

2. Kewaspadaan berdasarkan transmisi (Transmission based Precautions).

Kewaspadaan berdasarkan transmisi merupakan tambahan untuk kewaspadaan standar, yaitu tindakan pencegahan atau pengendalian infeksi yang dilakukan setelah jenis infeksinya sudah terdiagnosa atau diketahui (Akib et al, 2008). Tujuannya untuk memutus mata rantai penularan mikroba penyebab infeksi, jadi kewaspadaan ini diterapkan pada pasien yang memang sudah terinfeksi kuman tertentu yang bisa ditransmisikan lewat udara, droplet, kontak kulit atau lain-lain (Muchtar, 2014).

Berdasarkan Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Lainnya tahun 2008, jenis kewaspadaan berdasarkan transmisi:

a. Kewaspadaan transmisi kontak

Transmisi kontak merupakan cara transmisi yang terpenting dan tersering menimbulkan HAIs. Kewaspadaan transmisi kontak ini ditujukan untuk

menurunkan resiko transmisi mikroba yang secara epidemiologi ditransmisikan melalui kontak langsung atau tidak langsung.

1) Kontak langsung

Meliputi kontak permukaan kulit terluka/abrasi orang yang rentan/petugas dengan kulit pasien terinfeksi atau kolonisasi. Misal perawat membalikkan tubuh pasien, memandikan, membantu pasien bergerak, dokter bedah dengan luka basah saat mengganti verband, petugas tanpa sarung tangan merawat oral pasien HSV atau scabies.

(14)

11 2) Transmisi kontak tidak langsung

Terjadi kontak antara orang yang rentan dengan benda yang terkontaminasi mikroba infeksius di lingkungan, instrumen yang terkontaminasi, jarum, kasa, tangan terkontaminasi dan belum dicuci atau sarung tangan yang tidak diganti saat menolong pasien satu dengan yang lainnya, dan melalui mainan anak. Kontak dengan cairan sekresi pasien terinfeksi yang ditransmisikan melaluitangan petugas atau benda mati dilingkungan pasien

b. Kewaspadaan transmisi droplet

Diterapkan sebagai tambahan kewaspadaan standar terhadap pasien dengan infeksi diketahui atau suspek mengidap mikroba yang dapat ditransmisikan melalui droplet ( > 5cm). Droplet yang besar terlalu berat untuk melayang di udara dan akan jatuh dalam jarak 1 m dari sumber.

Transmisi droplet melibatkan kontak konjungtiva atau mukus membran hidung/mulut, orang rentan dengan droplet partikel besar mengandung mikroba berasal dari pasien pengidap atau carrier dikeluarkan saat batuk, bersin, muntah, bicara, selama prosedur suction, bronkhoskopi. Transmisi droplet langsung, dimana droplet mencapai mucus membrane atau terinhalasi. Transmisi droplet ke kontak, yaitu droplet mengkontaminasi permukaan tangan dan ditransmisikan ke sisi lain misal: mukosa membran. Transmisi jenis ini lebih sering terjadi daripada transmisi droplet langsung, misal: commoncold, respiratory syncitial virus (RSV). Dapat terjadi saat pasien terinfeksi batuk, bersin, bicara, intubasi endotrakheal, batuk akibat induksi fisioterapi dada, resusitasi kardiopulmoner.

c. Kewaspadaan transmisi melalui udara (Airborne Precautions )

Kewaspadaan transmisi melalui udara diterapkan sebagai tambahan kewaspadaan standar terhadap pasien yang diduga atau telah diketahui terinfeksi mikroba yang secara epidemiologi penting dan ditransmisikan melalui jalur udara.

Seperti transmisi partikel terinhalasi (varicella zoster) langsung melalui udara.

Ditujukan untuk menurunkan resiko transmisi udara mikroba penyebab infeksi baik

(15)

12

yang ditransmisikan berupa droplet nuklei (sisa partikel kecil < 5μm evaporasi dari droplet yang bertahan lama di udara) atau partikel debu yang mengandung mikroba penyebab infeksi. Mikroba tersebut akan terbawa aliran udara > 2m dari sumber, dapat terinhalasi oleh individu rentan di ruang yang sama dan jauh dari pasien sumber mikroba, tergantung pada faktor lingkungan, misal penanganan udara dan ventilasi yang penting dalam pencegahan transmisi melalui udara, droplet nuklei atau sisik kulit luka terkontaminasi (S. aureus).

C. Tata Kelola Rumah Sakit

Rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan medis bagi rawat inap, rawat jalan, gawat darurat serta pelayanan penunjang seperti laboratorium, radiologi serta layanan lainnya. Untuk dapat memberikan pelayanan prima kepada pasien, rumah sakit dituntut memiliki kepemimpinan yang efektif.

Kepemimpinan efektif ini ditentukan oleh sinergi yang positif antara Pemilik Rumah Sakit/ Representasi Pemilik/ Dewan Pengawas, Direktur Rumah Sakit, para pimpinan di rumah sakit, dan kepala unit kerja unit pelayanan. Direktur rumah sakit secara kolaboratif mengoperasionalkan rumah sakit bersama dengan para pimpinan, kepala unit kerja, dan unit pelayanan untuk mencapai visi misi yang ditetapkan serta memiliki tanggung jawab dalam pengelolaan pengelolaan peningkatan mutu dan keselamatan pasien, pengelolaan kontrak, serta pengelolaan sumber daya.

Operasional rumah sakit berhubungan dengan seluruh pemangku kepentingan yang ada mulai dari pemilik, jajaran direksi, pengelolaan secara keseluruhan sampai dengan unit fungsional yang ada. Setiap pemangku kepentingan memiliki tugas dan tanggung jawab sesuai ketentuan peraturan dan perundangan yang berlaku.

Pada sektor kesehatan terdapat prinsip tata kelola khusus yaitu Clinical Governance (CG) atau tata kelola klinis yang merupakan bagian dari suatu pendekatan untuk menjamin terlaksananya kesehatan yang bermutu pada semua lapisan masyarakat, atau the best care for every patients every where.

(16)

13

Tujuan utama Clinical Governance ini adalah untuk menjamin akses pelayanan yang memadai bagi seluruh populasi, untuk memberikan pelayanan terbaik untuk pasien dimanapun berada dan untuk memperbaiki standar pelayanan, sekaligus melindungi masyarakat dari risiko efek samping dengan adanya pelayanan dimaksud (Armen, 2013).

Tata kelola klinis adalah suatu sistem yang menjamin organisasi pemberi layanan kesehatan bertanggung jawab untuk selalu melakukan perbaikan mutu dan menjamin memberikan pelayanan dengan standar tinggi dengan cara menciptakan lingkungan pelayanan kesehatan prima yang senantiasa berkembang, (Scally dan Donaldson, 1998).

Definisi tata kelola klinis di dalam UU No.44 tahun 2009 pasal 36 tentang Rumah Sakit yaitu penerapan fungsi manajemen klinis yang meliputi kepemimpinan klinik, audit klinis, data klinis, risiko klinis berbasis bukti, peningkatan kinerja, pengelolaan keluhan, mekanisme monitor hasil pelayanan, pengembangan profesional dan Akreditasi Rumah Sakit Selain Clinical Governance dikenal juga tata kelola untuk Rumah Sakit yaitu Good Hospital Governance (GHG) dengan prinsip dasar menurut Meeta Ruparel dalam Sitohang (2014) meliputi accountability, fairness dan ethic, safety, transparency dan idenpendence. Menurut George C. Clover Jr dalam Sitohang (2014), tata kelola rumah sakit meliputi size issues, representational issues, accountability issues, delegation issues, budget issues dan strategic planning issues.

Prinsip-prinsip Tata Kelola Perusahaan Yang Baik berdasarkan Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor :PER-01/MBU/2011 tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik (Good Corporate Governance) Pada Badan Usaha Milik Negara, meliputi:

1. Transparansi (transparency), yaitu menerapkan prinsip transparansi dengan menyediakan sarana komunikasi yang efektif dan responsif dalam memperoleh informasi mengenai perusahaan, sehingga seluruh Pemangku Kepentingan mampu memahami kinerja dan tindakan Perusahaan.

(17)

14

2. Akuntabilitas (accountability), yaitu menerapkan prinsip akuntabilitas dengan mengoptimalkan kinerja dan peran setiap individu Perusahaan sehingga seluruh aksi dan kegiatan Perusahaan berjalan dengan efektif dan efisien. Akuntabilitas merupakan prasyarat yang diperlukan untuk mencapai kinerja yang berkesinambungan.

3. Pertanggungjawaban (responsibility), yaitu menerapkan prinsip pertanggungjawaban dengan bertanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan terkait, mematuhi peraturan yang berlaku, serta menghindari segala transaksi yang dapat merugikan pihak ketiga maupun pihak lain di luar ketentuan yang telah disepakati.

4. Kemandirian (independency), yaitu menerapkan prinsip independensi dengan mengelola peran dan fungsi yang dimiliki secara mandiri tanpa ada tekanan dari pihak manapun yang tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku dan prinsip serta tata nilai perusahaan.

Kewajaran (fairness), yaitu menerapkan prinsip kesetaraan dengan memperhatikan hak setiap Pemangku Kepentingan secara adil sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Perusahaan menerapkan prinsip kewajaran dengan memenuhi hak setiap Pemangku Kepentingan dengan tetap memperhatikan kaidah dan peraturan perusahaan.

(18)

15

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN

1. Peningkatan mutu merupakan suatu proses pengukuran derajat kesempurnaan pelayanan kesehatan dibandingkan dengan standar atau prinsip dengan tindakan perbaikan yang sistematik dan berkesinambungan untuk mencapai mutu pelayanan yang optimum atau prima sesuai dengan standar ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemampuan sumber daya yang ada dan Keselamatan pasien menjadi poin penting dalam setiap tindakan medis baik tindakan medis ringan maupun tindakan medis berat

2. Penyakit infeksi masih merupakan salah satu masalah kesehatan di dunia, termasuk Indonesia. Ditinjau dari asal atau didapatnya infeksi dapat berasal dari komunitas (Community acquired infection) atau berasal dari lingkungan rumah sakit (Hospital acquired infection) yang sebelumnya dikenal dengan istilah infeksi nosokomial.

3. Tata kelola klinis adalah suatu sistem yang menjamin organisasi pemberi layanan kesehatan bertanggung jawab untuk selalu melakukan perbaikan mutu dan menjamin memberikan pelayanan dengan standar tinggi dengan cara menciptakan lingkungan pelayanan kesehatan prima yang senantiasa berkembang.

B. SARAN

Dengan mengetahui peningktan mutu dan keselamatan pasien, pencengahan pengendalian infeksi serta tata kelola rumah sakit yang ada di rumah sakit, semoga kedepannya pelayanan dan kekompakan petugas rumah sakit dapat meningkat sehingga tercapainya seatu kepuasan baik bagi psien maupun staf yang bekerja di rumah sakit.

(19)

16

DAFTAR PUSTAKA

1. CAPAIAN-INDIKATOR-MUTU-2019_compressed.pdf (ntbprov.go.id).

diakses pada tanggal 09 April 2023

2. http://repository.umy.ac.id/bitstream/handle/123456789/7355/f.%20BAB

%20II.pdf?sequence=6, di akses pada 09 April 2023

3. Gambaran Tata Kelola Rumah Sakit Dalam Perspektif Good (medikolegal.id) diakses pada 09 April 2023

Referensi

Dokumen terkait

Rumah sakit umum tipe B harus mempunyai fasilitas dan beberapa pelayanan medik paling sedikit 4 pelayanan medik spesialis dasar, antara lain : Pelayanan penyakit dalam, kesehatan

Tujuan umum akreditasi adalah mendapat gambaran seberapa jauh rumah sakit-rumah sakit di Indonesia telah memenuhi standar yang telah ditetapkan sehingga mutu pelayanan rumah

Kesimpulan, Jadi mutu pelayanan kesehatan menunjuk pada tingkat kesempurnaan pelayanan kesehatan , di mana di satu pihak dapat menimbulkan kepuasan pada setiap

pathway adalah sebagai berikut: (1) ketidakmauan untuk berubah, (2) keterbatasan bukti ilmiah yang diacu, (3) dan kurangnya dukungan untuk perbaikan mutu pelayanan kesehatan (15).

Kepatuhan para tenaga medis atau paramedis dalam memberikan pelayanan mengacu kepada standar dan prosedur sangat mempengaruhi mutu pelayanan kesehatan terhadap

Upaya Perbaikan Kualitas I Mutu Perbaikan dan menjaga kualitas I mutu pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Bintan sangat penting dilakukan karena sesuai dengan

59 59 Tahun Tahun 2014 2014 Standar Tarif Pelayanan Kesehatan dalam Standar Tarif Pelayanan Kesehatan dalam Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan. Penyelenggaraan Program

Kualitas pelayanan rumah sakit adalah derajat kesempurnaan rumah sakit untuk memenuhi permintaan konsumen akan pelayanan kesehatan yang sesuai dengan standar profesi