• Tidak ada hasil yang ditemukan

One of the mangrove crab producing areas is the mangrove area of Pasar Gompong Village Kenagarian West Kambang Subdistrict Lengayang South Coast Regency

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "One of the mangrove crab producing areas is the mangrove area of Pasar Gompong Village Kenagarian West Kambang Subdistrict Lengayang South Coast Regency"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

KEPADATAN POPULASI KEPITING BAKAU (Scylla serrata Forskal) PADA KAWASAN HUTAN MANGROVE DI DESA PASAR GOMPONG

KENAGARIAN KAMBANG BARAT KECAMATAN LENGAYANG KABUPATEN PESISIR SELATAN

Repi Zalma, Ismed Wahidi, Lora Purnamasari

Program Studi Pendidikan Biologi STKIP PGRI Sumatera Barat [email protected]

ABSTRACT

Mangrove Crab is one of fishery commodities that have economic value and have high nutrition. One of the mangrove crab producing areas is the mangrove area of Pasar Gompong Village Kenagarian West Kambang Subdistrict Lengayang South Coast Regency. The decreasing of catch and decreasing of mangrove crab population is caused by the increasing of society, mangrove tree felling and land conversion function that affect the habitat of mangrove crab.This study aims to determine the density of mangrove crab populations (Scylla serrata Forskal) In the area of mangrove forest in the Village pasar Gompong Kenagarian West Kambang District Lengayang South Coast Regency. This research was conducted in December 2017 in mangrove area of Pasar Gompong Village of Kenagarian West Kambang Subdistrict of Lengayang Regency of South Pesisir. He type of research is descriptive survey with purposive random sampling method. The research location is divided into 3 stations: station I on vacant land which is not overgrown with mangrove, station II on mangrove condition damaged by logging and station III on natural mangrove condition. Mangrove crab is captured by using crab trap. Traps installed as many as 30 pieces are placed randomly. At each station are placed traps as many as 10 pieces.

The result showed that the density of the Mangrove Crab Population (Scylla serrata Forskal) In the mangrove forest area in the Pasar Gompong Village of Kenagarian West Kambang, Lengayang Subdistrict, South Coast Regency was 0.93 individuals/traps. Result of measurement of physics-chemical factor of waters in mangrove area of Pasar Gompong Village of Kenagarian West Kambang Subdistrict of Lengayang Regency of South Coast still support for life of mangrove crab (Scylla serrata Forskal).

Keywords : Mangrove Crab, Mangrove

(2)

PENDAHULUAN

Kepiting bakau (Scylla serrata Forskal) memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi danbergizi tinggi. Oleh karena itu kepiting bakau tergolong makanan seafood mewah dan mempunyai harga yang cukup mahal (Afrianto dan Liviawaty, 1992).

Hutan mangrove adalah tipe hutan yang khas terdapat di sepanjang pantai atau muara sungai yang di pengaruhi oleh pasang surut air laut(Noor, Khazali dan Suryadiputra, 2006).

Populasi kepiting bakau semakin berkurang di kawasan mangrove Desa Pasar Gompong Kenagarian Kambang Barat Kecamatan Lengayang Kabupaten Pesisir Selatan karena penangkapan yang dilakukan oleh masyarakat secara terus menerus untuk dikonsumsi dan dijual.

Penurunan ini dapat diketahui dari hasil tangkapan yang diperoleh masyaratakat, biasanya dari satu kali pengambilan kepiting bakau didapatkan sebanyak 3 kg per orang dalam setiap harinya, sedangkan pada

saat sekarang ini hanya didapatkan sebanyak ± 2 kg.

Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui kepadatan populasi kepiting bakau (Scylla serrata Forskal) dan kondisi faktor fisika- kimia di kawasan mangrove desa pasar gompong kenagarian kambang barat kecamatan lengayang kabupaten pesisir selatan.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Desember 2017. Analisis faktor fisika dan kimia air terdiri dari suhu, oksigen terlarut, pH, salinitas dan kadar organik substrat (KOS).

Penelitian ini menggunakan metode survey deskriptif, yaitu pengambilan sampel langsung di lapangan. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive random sampling. Daerah penelitian dibagi atas 3 stasiun. Pada masing- masing stasiun terdapat perangkap/bubu sebanyak 10 perangkap yang diletakkan secara acak.

(3)

HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di kawasan mangrove Desa Pasar Gompong Kenagarian Kambang Barat Kecamatan

Lengayang Kabupaten Pesisir Selatan didapatkan hasil kepadatan populasi kepiting bakau (Scylla serata Forskal) seperti pada Tabel 1:

Tabel 1. Kepadatan Populasi Kepiting Bakau (Scylla serata Forskal) Di KawasanMangrove Desa Pasar Gompong Kenagarian Kambang Barat Kecamatan Lengayang Kabupaten Pesisir Selatan

No Lokasi Jumlah individu Kepadatan (ind/perangkap) 1

2 3

Stasiun I Stasiun II

Stasiun III 6

10 12

0,6 1,0 1,2

Total individu 28 2,8

Rata-rata 0,93

Kepadatan populasi tertinggi didapatkan pada stasiun III yaitu 1,2 individu/perangkap. Hal ini disebabkan oleh kondisi hutan mangrove masih alami, tidak terganggu oleh aktivitas manusia, dan jauh dari pemukiman penduduk. Hal ini sesuai dengan pernyataan Bengen dalam Chairunnisa (2004) bahwa vegetasi mangrove memberikan persediaan makanan alami bagi kepiting bakau berupa sarasah dari daun, ranting, buah, dan batang. Oleh karena itu kondisi hutan mangrove yang masih alami tanpa ada aktivitas manusia dapat memberikan

sumbermakanan yang optimal untuk kebutuhan pertumbuhan kepiting bakau.

Kepadatan kepiting bakau terendah pada stasiun I yaitu 0,6 individu/perangkap. Hal ini disebabkan pada stasiun ini tidak ditemukan pohon mangrove akibat terjadinya alih fungsi lahan menjadi lahan kosong. Mangrove merupakan tempat pemijahan dan berlindung kepiting bakau. Selain itu letak stasiun I sudah dekat dengan pemukiman penduduk. Hal ini sesuai dengan pendapat Manalu (2015), bahwa penebangan hutan mangrove dan alih

(4)

fungsi lahan akan mengakibatkan degradasi hutan mangrove, tetapi juga mengakibatkan hilangnya habitat

sumber daya perikanan kepiting bakau yang dalam siklus hidupnya bergantung pada ekosistem mangrove.

Tabel 2. Faktor Fisika-Kimia Lingkungan Di Kawasan Mangrove Desa PasarGompong Kenagarian Kambang Barat Kecamatan Lengayang Kabupaten Pesisir Selatan

Parameter

Lokasi Penelitian

Stasiun I Stasiun II Stasiun III

Suhu (ºC) 29 27 27

pH(derajat keasaman) 7,6 7,3 7,2

Oksigen terlarut (mg/L) 8,13 5,30 7,7

Salinitas (‰) 3,22 3,57 3,57

KOS (%) 2,379 2,916 3,049

Kepadatan populasi kepiting bakau juga dipengaruhi oleh faktor fisika-kimia lingkungan. Faktor fisika kimia pada ketiga stasiun tergolong baik yaitu masih sesuai untuk kehidupan kepiting bakau. Hasil pengukuran suhu air pada ke tiga stasiun berkisar antara 27-29o C.

Menurut Kordi (2011), suhu yang optimal untuk kelangsungan hidup kepiting bakau adalah 23-32o C,sehinggasuhu yang didapatkan pada lokasi penelitian tersebut berada pada kisaran yang baik untuk menunjang kelangsungan hidup kepiting bakau.

Hasil pengukuran derajad keasaman (pH) pada ke tiga stasiun

7,2-7,6. Derajad kasaman (pH) masih dalam batasan normal untuk kehidupan biota air laut termasuk kepiting bakau.

Menurut Siahainenia (2008), bahwa perairan yang memiliki kisaran pH 6,50-7,50 dikategorikan perairan yangcukup baik bagi kepiting bakau (Scylla spp).

Hasil pengukuran oksigen terlarut (DO) pada ketiga stasiun berkisar 5,30-8,13. Oksigen terlarut terendah terdapat pada stasiun II, sedangkan yang tertinggi pada stasiun I.Menurut susanto dan muwarni (2006) dalam Tahmid (2015), kebutuhan oksigen untuk kehidupan kepiting bakau adalah lebih dari 4 mg/L.

(5)

kandungan oksigen terlarut hasil pengukuran di lokasi penelitian masih memenuhi kriteria untuk kehidupan kepiting bakau.

Hasil pengukuran salinitas pada ketiga stasiun berkisar 3,22-3,57

‰. Kisaran salinitas pada ketiga stasiun tidak jauh berbeda, karena ketiga stasiun masih di aliri oleh muara sungai yang sama. Menurut Kordi (2011), nilai salinitas yang baik untuk pertumbuhan kepiting berkisar 0-35

‰. Salinitas yang di dapat selama penelitian termasuk pada kisaran yang dapat menunjang pertumbuhan kepiting bakau.

Hasil pengukuran kandungan organik substrat (KOS) pada ketiga stasiun berkisar antara 2,379-3,049 %.

Kandungan kadar organik substrat tertinggi berada pada stasiun 3 sebesar 3,049 %. Kandungan kadar organik yang tinggi menunjukkan banyaknya serasah daun mangrove yang terdekomposisi sehingga dapat menjadi persediaan makanan alami kepiting bakau. Pada stasiun 1 kandungan kadar organik rendah yaitu sebesar 2,379, karena pada lokasi

tersebut tidak terdapat pohon mangrove yang menghasilkan sarasah untuk sumber makanan kepiting bakau, sehingga menyebabkan rendahnya populasi kepiting bakau.

Sesuai denganpendapat (Nontji, 2005 dalam Suryani, 2006) bahwa hutan mangrove banyak menyediakan makanan untuk kelangsungan hidup kepiting bakau. Luruhan daun mangrove merupakan sumber bahan organik yang penting dalam rantai makanan (food chain) di dalam lingkungan perairan.

KESIMPULAN

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di kawasan mangrove Desa Pasar Gompong Kenagarian Kambang Barat Kecamatan Lengayang Kabupaten Pesisir Selatan dapat disimpulkan bahwa:

1. Kepadatan populasi kepiting bakau Scylla serata Forskalpada kawasan Hutanmangrove Desa Pasar Gompong Kenagarian Kambang Barat Kecamatan Lengayang Kabupaten Pesisir Selatan 0,93 individu/perangkap.

(6)

2. Kondisi faktor fisika-kimia pada kawasan hutanmangrove di Desa Pasar Gompong Kenagarian Kambang Barat Kecamatan Lengayang Kabupaten Pesisir Selatanmasih mendukung untuk kelangsungan hidup kepiting bakau.

DAFTAR PUSTAKA

Afrianto, E. dan E. Liviawaty. 1992.

Pemeliharaan Kepiting.

Kanisius, yogyakarta.

Chairunnisa, R. 2004. Kelimpahan Kepiting Bakau (Scylla sp) Di Kawasan Hutan Mangrove KPH Batu Ampar, Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat.

Skripsi. Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan, IPB, Bogor.

Kordi K. M. G. H. 2011. Budi Daya 22 Komoditas Laut (Untuk Konsumsi Lokal Dan Ekspor).

Lily Publisher, Yogyakarta.

Manalu, T, N. 2015. Hubungan Kerapatan Mangrove Terhadap Kelimpahan Kepiting Bakau (Scylla spp.) Di Desa Tanjung Rejo Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang Povinsi Sumatera Utara. Jurnal Manajemen Sumber daya Perairan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara.

Siahainenia, L. 2008. Bioekologi Kepiting Bakau (Scylla spp.) di Ekosistem Mangrove Kabupaten Subang Jawa Barat. Disertasi Program Pasca Sarjana IPB.

Bogor.

Suryani. M. 2006. Ekologi Kepiting Bakau (Scylla serrata Forskal) Dalam Ekosistem Mangrove Di Pulau Enggano Provinsi Bengkulu. Tesis program pascasarjana manajemen sumber daya pantai. Universitas diponegoro semarang.

Tahmid. M. 2015. Kualitas Habitat Kepiting Bakau (Scylla serrata) Pada Ekosistem Mangrove Teluk Bintan, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis.

7 (2) : 540.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian tentang dinamika serasah mangrove berupa produksi dan laju dekom- posisi di kawasan hutan mangrove Kecamatan Padang Cermin mempunyai arti penting karena serasah

Penelitian pengelolaan sumberdaya kepiting bakau ( scylla olivacea ) dilakukan di wilayah perairan mangrove Kecamatan Sinjai Timur, Kabupaten Sinjai Sulawesi Selatan

Kepadatan Populasi kerang bakau Polymesoda bengalensis Lamarck di muara Pacuan Lakitan Kecamatan Lengayang Kabupaten Pesisir Selatan No Stasiun Jumlah individu Kepadatan rata-rata