• Tidak ada hasil yang ditemukan

MATA KULIAH: PERENCANAAN WILAYAH - Spada UNS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "MATA KULIAH: PERENCANAAN WILAYAH - Spada UNS"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

MATA KULIAH:

TEORI PERENCANAAN

TOPIK:

TEORI PERENCANAAN PROSEDURAL

Rama Permana Putra, S.T., M.Sc., M.P.W.K.

PRODI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

© PWK UNS 2020

Pertemuan # Pertemuan #

(2)

Definisi

Theory of Planning (Procedural Planning Theory) adalah teori perencanaan yang membahas mengenai proses

perencanaan, peran perencana dan keterlibatan berbagai aktor dalam perencanaan.

Procedural planning theory focuses on planning as a process (of decision-making, of community participation, of

converting knowledge into action, of the challenges of plan

implementation; etc.)

(3)

Pranalar

Sejarah perencanaan terbagi atas beberapa era: praklasik, klasik, abad pertengahan, renaisans, pencerahan, modern, dan post-modern (kontemporer).

Era kontemporer dimulai awal 1970an dengan reaksi terhadap modernisme (revolusi industri, garden city, Le Corbusier's Plan) yg dipandang kurangnya skala humanis dan melemahkan vitalitas

masyarakat yg berdampak pada masalah sosial dan kriminalitas.

Fokus proses perencanaan dimulai di beberapa bidang setelah Perang Dunia Kedua dan telah

melibatkan kontribusi terutama dari ilmu sosial dan ekonomi. Pada era modern, tahun 1899 dibentuk asosiasi perencana (UK) dan kampus PWK pertama di University of Liverpool tahun 1909.

Perencanaan dapat disebut sebagai seperangkat metode yang dirancang untuk menyiapkan informasi sedemikian rupa sehingga keputusan dapat dibuat lebih rasional (Friedmann dan Hudson, 1974: 8 dalam Marios, 1979).

Menurut Whittemore (2014) ada 8 teori perencanaan prosedural utama.

(4)

Perencanaan Rasional Komprehensif (Sinoptik)

 Perencanaan rasional komprehensif (sinoptik) merupakan model perencanaan utama untuk waktu yang lama (Mitchell 2002). Model ini didasarkan pada rasionalitas instrumental untuk menganalisis dan membuat

keputusan (Larsen 2003).

 Peran perencana sangat sentral dalam proses perencanaan melalui model perencanaan rasional komprehensif (Davidoff & Reiner, 1962). Hampir tidak ada peran yang diperuntukkan bagi warga yang terkena dampak

perencanaan (Kinyashi 2000). Teori komprehensif rasional didasarkan pada model normatif yang menghargai rasionalitas yang lebih tinggi dalam menghadapi berbagai tekanan organisasi dan politik. (Grant, 1985)

 Pengembangan teori Rasional Komprehensif (Sinoptik) dapat ditelusuri kembali ke Auguste Comte (1798-

1857). Comte menerapkan metode observasi dan eksperimen ke bidang sosiologi dan percaya bahwa masalah sosial yang persisten dapat diselesaikan dengan penerapan aturan hierarkis tertentu dan bahwa dengan

bantuan sains sosiologi umat manusia akan maju menuju keadaan superior peradaban (Raine, 2005). Gagasan- gagasan utama yang diperkenalkan oleh Comte diadopsi oleh Max Webber dan Talcott Parsons, pendukung utama teori komprehensif rasional yang memperoleh landasan pada 1950-an dan 1960-an.

(5)

Perencanaan Rasional Komprehensif (Sinoptik)

 Max Webber berpendapat bahwa proses rasionalisasi, mengubah kehidupan sosial menjadi lebih baik dan rasionalisasi mengarah pada praktik-praktik baru yang dipilih berdasarkan efisiensi.

(Lippman.S dan Aldric.H, 2002).

 Parsons percaya bahwa semua sistem sosial berusaha untuk menjaga stabilitas dengan tatanan sosial yang kuat dan saling menjaga ketergantungan institusional.

 Faludi memandang perencanaan sebagai proses pengambilan keputusan yang bertujuan untuk menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi perencana. Dia berpendapat bahwa

perencanaan harus rasional dengan mengevaluasi secara komprehensif semua tindakan yang

mungkin memberikan konsekuensi; dan memastikan bahwa pertimbangan ini mencakup tujuan

alternatif dan perencanaan juga harus merespons secara fleksibel terhadap situasi baru. Dalam

perencanaan upaya juga perlu dilakukan untuk menghubungkan keputusan operasional satu

sama lain. (Faludi, 1986).

(6)

Perencanaan Rasional Komprehensif (Sinoptik)

Dua karakteristik utama perencanaan rasional komprehensif adalah:

1. Sebagai alat rasional yang diperlukan untuk menjaga kepentingan publik 2. Membimbing masyarakat ke masa depan jangka panjang yang diinginkan.

Untuk membuat perencanaan komprehensif yang rasional, para pendukung menguraikan kerangka prosedur operasional (Hobbs dan Doling 1981) sebagai berikut:

1. Merumuskan tujuan dan sasaran.

2. Menyusun dan memeriksa semua alternatif yang mungkin terbuka bagi pembuat keputusan untuk mencapai tujuan dan sasaran yang ditetapkan.

3. Memprediksi semua konsekuensi turunan dari penggunaan setiap alternatif.

4. Membandingkan konsekuensi dengan tujuan dan sasaran yang disepakati.

5. Memilih alternatif yang konsekuensinya sesuai dengan tujuan dan sasaran.

6. Menerapkan alternatif yang disukai.

7. Memonitor dan mengevaluasi hasilnya.

(7)

Perencanaan Rasional Komprehensif (Sinoptik)

 Model rasional juga disamakan dengan pendekatan analisis sistem (Hobbs et al. 1981). Sistem terdiri dari bagian-bagian individu yang berinteraksi satu sama lain dan dengan dunia luar untuk membuat keseluruhan yang lengkap. Dengan demikian proses perencanaan rasional dapat digambarkan sebagai suatu sistem di mana isu-isu individu tidak dapat diselesaikan secara terpisah dari yang lain, melainkan masalah-masalah ditangani secara komprehensif mengingat semua alternatif yang tersedia.

 Dalam model rasional komprehensif, berbagai asumsi dipertimbangkan seperti; pembuat keputusan memiliki informasi yang memadai tentang semua alternatif dan konsekuensi dari alternatif yang dipilih, dan bahwa

pembuat keputusan dapat membuat peringkat alternatif dan memilih pilihan yang paling diinginkan dan disukai.

 Model rasional komprehensif memiliki kelebihan, diantaranya pendekatan tersebut menjabarkan kerangka logis dan deliberatif untuk praktik perencanaan (Hudson, 1979). Hal ini termasuk mengidentifikasi masalah tertentu, menetapkan tujuan, mengartikulasikan tujuan dan sasaran, memprediksi dan memproyeksikan hasil, menguji dan mengimplementasikan rencana aksi. (Alexander, 1986, Branch 1975) dalam Raine 2005. Model ini juga mempertimbangkan berbagai alternatif dan memastikan bahwa hanya rencana aksi terbaik yang dipilih dan diimplementasikan.

(8)

Perencanaan Rasional Komprehensif (Sinoptik)

Kritik terhadap Perencanaan Rasional Komprehensif (Sinoptik) adalah sebagai berikut:

 Adanya efek etis yang tidak diinginkan karena perencanaan dipandang sebagai kegiatan

objektif tanpa adanya partisipasi masyarakat, sehingga tidak dapat dianggap benar secara etis (Fainstain dan Fainstain 1996; Stone dan McCarthy 2000);

 Adanya efek lingkungan yang tidak diinginkan dan tidak ada pencapaian yang berhasil karena pengetahuan dan praktik lokal tidak dimasukkan dalam perencanaan, langkah-langkah

tersebut tidak disesuaikan dengan kondisi spesifik, penduduk tidak mendukung langkah- langkah yang diinginkan dari pemerintah, dan tidak ada kerja sama antar-jurisdiksi dalam model perencanaan ini (Bunch 2000; FAO 2003; Pretty dan Shah 1997; Stone dan McCarthy 2000);

 Adanya keraguan tentang objektivitas dan rasionalitas karena data tidak selalu tersedia dan

sulit dianalisis, juga latar belakang perencana tidak selalu diketahui (Mitchell 2002);

(9)

Perencanaan Incremental dan Mix Scanning

Perencanaan inkremental (Disjointed Incremental planning) adalah model alternatif yang paling banyak dicatat untuk perencanaan rasional yang komprehensif (Mitchell 2002).

Model ini didasarkan pada bounded rationality (rasional instrumental yang 'terikat’) (Larsen 2003). Salah satu advokat adalah Charles Lindbloom yang menulis ‘Muddling through ’yang terkenal (1959).

Hail ini mengacu pada inti dari model perencanaan ini: Perencanaan dianggap kurang teknik ilmiah yang mengikuti langkah-langkah konkret; melainkan campuran intuisi dan pengalaman dalam kenyataan (Larsen 2003).

Model perencanaan ini menggambarkan kehidupan sehari-hari yang sebenarnya di kantor

perencanaan daripada model rasional komprehensif (Mitchell 2002).

(10)

Perencanaan Transaktif

Masyarakat dan perencana sangat sering memiliki pemahaman masalah, perumusan, tujuan dan ide- ide pemecahan praktis yang berbeda akibat menganganya jurang pengetahuan dan komunikasi

antara perencana dengan masyarakat.

Pendekatan yang bertentangan ini membutuhkan aktualisasi relasi baru, yang mampu

mengintegrasikan proses saling belajar (mutual learning) dari kedua belah pihak melalui proses perencanaan yang disebut sebagai transactive planning (perencanaan transaktif).

Menurut friedmann dalam burke, bahwa perencanaan transaktif merupakan tanggapan terhadap kesenjangan komunikasi antara perencana teknis dan para klien. untuk menutup kesenjangan

tersebut, suatu rangkaian transaksi pribadi yang terus menerus dan terutama transaksi secara verbal antara perencana dan klien, sangat dibutuhkan.

Mriedmann juga menunjukkan bahwa tumbuhnya kaum teknokrat dari masyarakat kita menuntut

adanya metode pengambilan keputusan yang didasarkan pada proses belajar secara bersama-sama.

(11)

Perencanaan Transaktif

 Friedmann menjelaskan bahwa dibutuhkan suatu penggabungan sains dan teknologi dengan pengetahuan pribadi pada tahap-tahap kritis intervensi sosial guna menghindari agar pengambilan keputusan tidak berada di tangan pihak teknokrat secara eksklusif.

 Perencanaan transaktif memungkinkan perencana belajar pengetahuan eksperimental dari klien, sedangkan klien belajar pengetahuan teknis dari perencana. melalui proses ini pula, kedua macam pengetahuan

tersebut masing-masing akan berubah dengan sendirinya, dan kemudian kedua macam pengetahuan ini akan melebur menjadi satu.

 Pada saat pengetahuan kedua belah pihak melebur, maka persepsi dan imaji dari pihak satu terhadap pihak yang lain akan berubah, dan selanjutnya perilaku keduanya pun akan berubah.

 Ide awal dari perencana untuk “mengajari masyarakat” akan merubah menjadi “pelajar” (the learners) akan bertransformasi menjadi aksi masyarakat (community action) artinya ”dialog saling belajar” telah merubah perilaku kolektif masyarakat dan mendorong masyarakat secara lebih aktif menolong diri mereka sendiri dan sekaligus membangun komunitas bersama seperti yang diharapkan.

(12)

Perencanaan Transaktif

Masyarakat belajar (learning society) yang aktif melakukan aksi ini dengan sendirinya akan terbangun kapasitasnya karena learning society secara inheren akan mengembangkan kapasitas komunitas

(community capacity building).

Secara empirik banyak studi menunjukkan bahwa masyarakat yang sudah memasuki fase learning society akan lebih berpotensi untuk mewujudkan sebuah pembangunan yang lebih berkelanjutan, karena mereka sudah lebih mandiri dalam berbagai hal mulai dari mengidentifikasi, menilai dan menformulasikan masalah baik fisik, sosial, kultural maupun ekonomi, membangun visi dan aspirasi, memprioritaskan intervensi, merencana, mengelola, memonitor dan bahkan memilih teknologi yang tepat.

Masyarakat aktif (active society) semacam ini juga menghasilkan kerelaan masyarakat yang lebih untuk memberi kontribusi kerja dan biaya pembangunan, operasi dan perawatan sedemikian sehingga

pendekatan mampu mengembalikan biaya investasi publik (cost - recovery) yang pada gilirannya akan

menjadi lebih berkemungkinan terjadinya pengulangan (self - replicability).

(13)

Perencanaan Komunikatif

Perencanaan komunikatif adalah pendekatan perencanaan kota yang mengumpulkan para pemangku

kepentingan dan melibatkan mereka dalam suatu proses untuk membuat keputusan bersama dengan cara yang menghormati posisi semua pihak yang terlibat. Perencanaan komunikatif sering disebut sebagai

perencanaan kolaboratif di antara praktisi perencanaan atau model perencanaan kolaboratif.

Sejak tahun 1970-an, teori perencanaan komunikatif telah terbentuk berdasarkan beberapa pemahaman

kunci. Poin-poin utama ini mencakup pengertian bahwa komunikasi dan penalaran datang dalam bentuk yang beragam, pengetahuan dibangun secara sosial, dan beragam minat dan preferensi masyarakat dibentuk dari konteks sosial.

Teori perencanaan komunikatif mengakui bahwa tindakan, kata-kata, pengalaman hidup perencana, dan gaya komunikasi perencana memiliki efek pada proses perencanaan yang difasilitasi oleh perencana.

Teori perencanaan komunikatif mengemukakan gagasan bahwa perencanaan terjadi dalam praktik sehari-hari dan hubungan sosial, dan pembangunan konsensus dapat digunakan untuk mengatur pikiran orang dan

bergerak melewati cara tradisional untuk mengetahui dan membuat keputusan.

(14)

Perencanaan Komunikatif

Pada 1990-an, sejumlah tokoh perencanaan mulai menulis tentang orientasi baru ke teori perencanaan kota yang bergerak menjauh dari pendekatan rasional yang lazim ke perencanaan. Judith Innes dikreditkan dengan

menciptakan istilah "perencanaan komunikatif“.

Innes mencoba menjembatani kesenjangan antara teori perencanaan dan perencanaan dalam praktik, dan menawarkan pembangunan konsensus sebagai alat bagi para perencana kota untuk menciptakan lingkungan perencanaan yang kolaboratif dan menarik yang memungkinkan para pemangku kepentingan yang berbeda untuk berpartisipasi.

Sekitar waktu yang sama dengan artikel ini diterbitkan, Patsy Healey juga menerbitkan sejumlah teks teori perencanaan yang mengeksplorasi perencanaan komunikatif dan kolaboratif.

Mengacu pada teori Jürgen Habermas, tulisan Healey berfokus pada dampak tindakan komunikatif (yang dapat dalam bentuk lisan atau tertulis) pada proses perencanaan.

Healey juga memperluas karya perencana kota John F. Forester dan ahli geografi ekonomi Bent Flyvbjerg, yang keduanya meneliti komunikasi Habermasian dan struktur kekuasaan dalam pekerjaan perencanaan mereka.

(15)

Perencanaan Komunikatif

Dalam proses perencanaan komunikatif, praktisi perencanaan lebih banyak memainkan peran fasilitatif.

Mereka sering bertindak sebagai 'mediator pengetahuan' untuk membantu membingkai ulang masalah untuk mempromosikan pemikiran yang lebih kreatif tentang alternatif solusi. Selama proses ini,

informasi harus dihasilkan secara kolektif oleh seluruh pemangku kepentingan yang mungkin terpengaruh oleh hasil proses.

Secara khusus, semua pemangku kepentingan harus dilibatkan dalam menegosiasikan definisi masalah dan solusinya bersama-sama. Dalam melakukannya, solusi untuk konflik di antara para pemangku

kepentingan dapat dibingkai ulang sebagai 'win-win', sebagai lawan dari pola pikir 'zero sum' yang terjadi ketika para pemangku kepentingan melakukan tawar-menawar berdasarkan kepentingan tetap mereka sendiri.

Pembangunan konsensus adalah bagian penting dari proses pembuatan makna kolektif ini, karena

informasi dibahas dan divalidasi dalam kelompok pemangku kepentingan, sehingga menghasilkan

informasi yang lebih penting bagi kelompok.

(16)

Perencanaan Komunikatif

Untuk membantu upaya membangun konsensus, kekuasaan harus didistribusikan di antara para pemangku

kepentingan sedemikian rupa sehingga mereka setara dalam proses tersebut. Keterbukaan dan kepercayaan juga penting untuk membangun konsensus.

Tujuan, asumsi, dan posisi para pemangku kepentingan ini harus dipertimbangkan bersama dengan

ketidakpastian tentang kondisi masa depan, seperti pertumbuhan populasi, dan keputusan yang terkait dengan keputusan lain. Penting untuk membuat para pemangku kepentingan mengidentifikasi informasi ini untuk diri mereka sendiri, karena hal itu akan membantu mengurangi bias yang ada dalam kedua analisis yang didorong oleh hanya satu diskusi berbasis posisi di masa depan, serta membawa ke depan setiap konflik antara nilai-nilai yang mendasari pemangku kepentingan.

Dengan mempertimbangkan berbagai informasi ini, kesamaan di antara berbagai pemangku kepentingan dapat diidentifikasi, yang dapat membantu membangun konsensus. Namun, ini tidak dapat menjamin konsensus, karena posisi mungkin sebenarnya terlalu berbeda. Untuk menghadapi tantangan yang timbul dari posisi yang sangat berbeda dan meningkatnya kompleksitas analisis yang diperlukan, model kolaborasi baru diperlukan yang dibangun di atas berbagai prinsip manajemen konflik, termasuk terlibat sejak awal dan sering terlibat.

(17)

Perencanaan Advokasi

Perencanaan advokasi adalah teori perencanaan kota yang dirumuskan pada 1960-an oleh Paul Davidoff dan Linda Stone Davidoff. Ini adalah teori perencanaan yang pluralistik dan inklusif di mana perencana berusaha untuk mewakili kepentingan berbagai kelompok dalam masyarakat.

Davidoff (1965) adalah seorang pengacara dan perencana yang percaya bahwa perencanaan advokasi adalah metode yang diperlukan untuk mewakili kelompok berpenghasilan rendah dan minoritas yang tidak selalu sejajar dengan orang kaya dan berkuasa.

Dengan berakhirnya perang dunia, ada kebutuhan untuk rekonstruksi sosial dan ekonomi. Pemerintah diberi tugas untuk membangun kembali kota-kota yang terkena dampak kerusakan akibat perang.

Dengan munculnya para pakar teknokratis, mereka diajak berkonsultasi untuk merancang dan

merencanakan kota dengan cara ilmiah, logis, dan keras yang akan menghasilkan hasil terbaik bagi

semua pemangku kepentingan. Pendekatan terputus dan elitis ini menyebabkan kegagalan konstan

pemerintah untuk memenuhi kebutuhan warga negaranya dan mendapat pukulan balik, sehingga

memunculkan praktik perencanaan alternatif.

(18)

Perencanaan Advokasi

Davidoff memahami bahwa tidak semua pemangku kepentingan diwakili dan dilibatkan secara setara dalam proses

perencanaan. Membiarkan kelompok-kelompok dengan status sosial ekonomi rendah rentan terhadap kepentingan lembaga publik atau perusahaan swasta yang lebih besar. Tanpa perlindungan dan perawatan yang memadai, kekhawatiran dan

pendapat dari individu-individu ini dibiarkan tidak terdengar dan tidak terhitung ketika mengembangkan rencana. Davidoff menyadari bahwa itu perlu untuk menerapkan sistem "humanistik, akar rumput dan pluralistik" di mana perencana akan mengadvokasi untuk kepentingan yang tertindas dan tidak berdaya.

Dalam praktiknya, perencana advokasi menggunakan pengalaman dan pengetahuan mereka dalam bidang perencanaan untuk mewakili ide dan kebutuhan klien mereka. Klien-klien ini seringkali merupakan kelompok dengan status sosial ekonomi rendah yang tidak dapat mengakses sumber daya, alat, atau keterampilan untuk mewakili diri mereka sendiri. Perencana advokat bekerja dengan kelompok-kelompok yang kurang beruntung ini untuk mengembangkan rencana yang menggabungkan dan melestarikan kebutuhan sosial dan ekonomi mereka.

Rencana tersebut kemudian diajukan kepada komisi perencanaan di mana mereka mempertimbangkan berbagai pro dan kontra dari setiap rencana yang dihasilkan oleh perencana advokat lainnya. Inilah yang menurut Davidoff akan mengarah pada

metodologi hukum yang ketat dan sistematis tentang “Dengar pendapat yang adil, penyampaian bukti pendukung, pemeriksaan silang dan keputusan yang beralasan" yang mengizinkan komisi perencanaan untuk sampai pada "keputusan yang adil".

(19)

Perencanaan Advokasi

Davidoff percaya bahwa menegakkan ideologi politik demokrasi melalui proses perencanaan menyebabkan tiga perbaikan besar dalam disiplinnya. Pertama adalah peningkatan kesadaran publik. Dengan menggunakan metode perencanaan partisipatif dan terlibat dengan masyarakat luas, ini membantu masyarakat untuk menyadari bahwa perencanaan bukan hanya sebuah proses yang dilakukan oleh orang- orang sains yang berpendidikan, melainkan bahwa perencana terbaik adalah rakyat itu sendiri. Adalah kesadaran bahwa publik memiliki kebebasan dan pilihan untuk mengembangkan rencana sesuai dengan kebutuhan mereka.

Kedua, struktur ideal untuk perencanaan advokasi ini memungkinkan perencana untuk bersaing di antara mereka sendiri sambil mewakili pandangan klien mereka. Jumlah kompetisi yang sehat sebenarnya harus meningkatkan standar dan kualitas praktik perencanaan dan hasil.

Davidoff mengakui bahwa “konflik membuat orang jujur”

Akhirnya, alih-alih mengkritik perencana dan lembaga yang mendukung mereka, mereka yang kritis justru diberi kesempatan untuk

memberikan masukan dan umpan balik tentang rencana yang mereka tidak setujui. Menciptakan lingkungan yang mendorong sikap positif terhadap partisipasi konstruktif.

Namun, menyediakan platform untuk berekspresi tidak selalu cukup, karena perencanaan partisipatif dan demokratis membutuhkan tingkat kesadaran kritis tertentu dari individu yang berpartisipasi. Kalau tidak, peserta dapat berjuang untuk mengidentifikasi masalah tanpa

menyadari kekuatan sosial dan ekonomi yang lebih besar yang mempengaruhi pilihan mereka. Peran advokat kemudian, harus tidak hanya untuk memberikan bantuan dalam mengembangkan rencana yang tepat bagi komite untuk menilai, tetapi juga harus mendorong orang untuk "bebas, informatif, berpartisipasi hingga tingkat penuh, bekerja sama secara kooperatif, memiliki pemahaman tentang masalah mereka dan orang-orang lain”

(20)

Perencanaan Pemerataan (Equity)

 Perencanaan pemerataan adalah suatu kerangka kerja di mana perencana kota yang bekerja di dalam pemerintah menggunakan keterampilan penelitian, analitik, dan pengorganisasian mereka untuk mempengaruhi pendapat, memobilisasi konstituen yang kurang terwakili, dan memajukan atau

mengimplementasikan kebijakan dan program yang mendistribusikan kembali sumber daya publik dan swasta kepada kaum miskin dan kelas pekerja.

 Krumholz, Cogger, dan Linner (1975), menyajikan kasus yang lebih jarang muncul dari teori yang ditulis oleh praktisi yang menyeberang ke arus utama teori akademik. Mereka mengambil studi kasus di Cleveland. Di sana mereka telah mengubah fokus perencanaan dari manajemen pembangunan ke tindakan pemerataan (equity) yang lebih besar.

 Hal ini memberikan perluasan kesempatan bagi kaum miskin kota dalam periode perubahan situasi ekonomi kota. Herbert Gans (1975) melihat studi kasus di Cleveland sebagai contoh perubahan dalam perencanaan di Amerika. Perubahan tersebut berupa advokasi untuk mengambil keputusan yang menciptakan redistribusi guna mengurangi biaya sosial dari kehidupan perkotaan kepada mereka yang paling merasakan beban ini.

(21)

Perencanaan Radikal

Teori perencanaan radikal adalah aliran teori perencanaan kota yang berupaya mengelola pembangunan secara adil dan berbasis masyarakat. Pelopor gerakan perencanaan radikal dalam Perencanaan (1973) adalah Stephen Grabow dan Allen Heskin.

Grabow dan Heskin memberikan kritik perencanaan sebagai elitis, sentralisasi dan tahan perubahan, dan mengusulkan paradigma baru berdasarkan perubahan sistem, desentralisasi, masyarakat komunal, fasilitasi pembangunan masyarakat dan pertimbangan ekologi.

Pada tahun 1987 John Friedmann memberikan gagasannya melalui Planning in the Public Domain: From Knowledge to Action, mempromosikan model perencanaan radikal berdasarkan "dekolonisasi",

"demokratisasi", "pemberdayaan diri" dan "menjangkau masyarakat".

Friedmann menggambarkan model ini sebagai paradigma "Pengembangan Agropolitan", menekankan lokalisasi kembali produksi dan manufaktur primer. Dalam "Toward a Non-Euclidian Mode of Planning"

(1993) Friedmann lebih lanjut mempromosikan urgensi perencanaan desentralisasi, mengadvokasi paradigma perencanaan yang normatif, inovatif, politis, transaktif dan didasarkan pada pendekatan pembelajaran sosial untuk pengetahuan dan kebijakan.

(22)

Perencanaan Radikal

Perencanaan radikal memiliki dua tren utama.

Yang pertama adalah pendekatan yang diilhami oleh anarkisme yang menekankan kontrol dan eksperimen yang

didesentralisasi dengan organisasi sosial alternatif. Contoh kelompok pertama dari teori perencanaan radikal seperti gerakan lingkungan.

Yang kedua adalah perencanaan radikal lebih berorientasi struktural. Dibutuhkan arahan Marxis yang berfokus pada dampak sistem ekonomi pada kondisi kelas sosial dan peran perencanaan dalam perjuangan kelas sosial. Versi radikal Marxis

mengusulkan kontrol pemerintah terhadap alat-alat produksi dan produksi itu, alih-alih diatur oleh motif laba, harus diarahkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat seperti yang didefinisikan melalui proses politik.

Teori perencanaan radikal berpendapat bahwa perencana harus menggunakan sistem rasionalitas yang mirip dengan rasionalitas instrumental, meskipun untuk tujuan radikal.

Pada 1980, para teoretikus telah mengartikulasikan teori perencanaan neo-Marxis radikal (Castells 1977; Fainstein dan Fainstein 1979), pada dasarnya versi rasionalitas instrumental yang mengasumsikan ketidakadilan yang melekat pada kota yang dikendalikan oleh kapitalis.

Perencana neo-Marxis radikal menegaskan sebagai pembenaran untuk merencanakan kebutuhan aktor negara untuk menyelesaikan ketidakcocokan modal dengan kebutuhan sosial.

(23)

Perencanaan Humanis/

Epistemologis

 Teori perencanaan humanis atau fenomenologis menekankan mengenai keunikan setiap kelompok yang memiliki pengetahuan yang berbeda, dan kesulitan dalam mengidentifikasi pengetahuan dari kelompok manakah yang dapat diterjemahkan untuk kelompok lain mengingat keragaman pengalaman dan perspektif manusia.

 “The phenomenology of the professional episode,” Richard Bolan (1980) menantang manfaat dari model rasional komprehensif, dengan menunjukkan bahwa cara yang berbeda dalam memahami masalah dan hal hal yang

merusak rasionalitas. Perencana keliru, ia berpendapat, dengan mengasumsikan bahwa pengetahuan profesional mereka dapat dengan mudah ditransfer dari konteks ke konteks sebagai pembenaran universal untuk intervensi.

 Donald Schön (1983), mengungkapkan manfaat dari "praktisi reflektif" yang penuh dengan kekhasan konteksnya dan menghindari model yang dapat ditiru.

 Ernest Alexander mengkritik teori humanis sebagai "pengabaian" dari paradigma rasional, sehingga "tidak ada yang bisa ditawarkan kepada pengajar perencanaan kota guna mendidik para profesional masa depan dengan konsep, model, atau keterampilan yang tepat" (1984); kritik-kritik semacam itu telah meninggalkan teori

perencanaan humanis yang belum digali selama bertahun-tahun.

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu, berdasarkan Analisis studi literature, dalam perencanaan struktur ruang Kabupaten Dairi ditetapkan bahwa Kota Sidikalang sebagai Pusat Kegiatan Wilayah (PKW)

Tahap Perencanaan ( Planning), yang dilakukan dalam tahap ini sebagai berikut: (a) mendefinisikan ruang lingkup penelitian ( define the scope), Materi yang akan

Untuk itu sebagai akses dari pintu masuk baru dan jalan raya yang dipisahkan oleh sungai, diperlukan adanya jembatan baru.. Oleh karena ini diperlukan perencanaan dan pembangunan

masalah secara operasional. Pada tahap perencanaan kegiatan yang dilakukan sebagai berikut; a) menetapkan kontrak perkuliahan yang akan dilakukan selama satu

Perawatan korektif dapat juga didefinisikan sebagai perbaikan yang dilakukan karena adanya kerusakan yang dapat terjadi akibat tidak dilakukanya perawatan preventif

Obor Inti Boga Jember dengan mengacu pada perencanaan laba perusahaan menggunakan metode CVP (Cost Volume Profit). Maka bisa disimpulkan sebagai berikut: 1) Hasil laba yang

Khusus untuk mata kuliah Perencanaan Bangunan Baja, apabila karena satu dan lain hal mahasiswa tidak dapat menemukan objek yang sesuai seperti poin 2.1.a dan

d) Mahasiswa merumuskan kesimpulan 31 sedangkan 8 tidak melaksanakan. Dari aktivitas emosional yaitu sebagai berikut. a) Mahasiswa bergembira mengikuti pembelajaran 13 sedangkan