• Tidak ada hasil yang ditemukan

Materi Inisiasi 5(2)

N/A
N/A
Rezzaman Man

Academic year: 2024

Membagikan "Materi Inisiasi 5(2)"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Materi Inisiasi 5 Tutorial Online

Mata Kuliah : Pendidikan Bahasa Indonesia di SD (PDGK 4204)

Topik : Pembelajaran Membaca dan Menulis Permulaan (MMP) dan Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD/MI

Oleh : Suhartono

Materi inisiasi 5 menyiapkan anda untuk memahami pembelajaran Membaca dan Menulis Permulaan (MMP) sebagai dasar mempelajari pembelajaran Bahasa Indonesia di SD/MI. Keterampilan berbahasa aspek berbicara dan mendengarkan sudah diperoleh dalam lingkungan rumah. Keterampilan membaca dan menulis diperoleh seseorang setelah mereka memasuki usia sekolah, oleh karena itu kedua jenis keterampilan berbahasa ini dikemas dalam satu paket pembelajaran yaitu Membaca dan Menulis Permulaan (MMP).

Kegiatan tutorial online ke lima ini menekankan pembelajaran Membaca dan Menulis Permulaan (MMP) dan dilanjutkan materi Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD/MI agar semua siswa terampil berbahasa. Materi yang akan dipelajari sesuai dengan tujuan akhir dari pengajaran bahasa Indonesia adalah siswa terampil berbahasa.

Mari kita mulai kegiatan tutorial, dengan materi Membaca dan Menulis Permulaan (MMP). Pada materi ini Anda akan mempelajari tentang:

1) Pembelajaran Membaca Menulis di Kelas Rendah.

2) Strategi Pembelajaran MMP.

3) Penilaian dalam Pembelajaran MMP.

Pada materi “Pembelajaran Membaca Menulis di Kelas Rendah” Anda

akan mempelajari topik-topik yang berkaitan dengan pengertian MMP dan tujuan pembelajaran MMP.

Pengertian MMP

MMP merupakan kependekan dari Membaca Menulis Permulaan. Orientasi kemampuan membaca dan menulis permulaan di kelas-kelas awal pada saat anak- anak mulai memasuki bangku sekolah, yaitu di kelas 1. Kemampuan membaca permulaan diorientasikan pada kemampuan membaca tingkat dasar yakni kemampuan melek huruf. Maksudnya anak dapat mengubah dan melafalkan lambang tertulis menjadi bunyi bermakna. Selanjutnya dibina dan ditingkatkan menuju pemilikankemampuan membaca tingkat lanjut, yakni melek wacana. Melek wacana adalah kemampuan membaca yang sesungguhnya, mengubah lambang- lambang tulis menjadi bunyi bermakna disertai pemahaman akan lambang-lambang tersebut.

Kemampuan menulis permulaan pada tingkat dasar diorientasikan pada

kemampuan yang bersifat mekanik. Anak dilatih untuk dapat menuliskan lambang

tulisan dan dirangkai menjadi bermakna. Secara perlahan anak-anak digiring pada

(2)

kemampuan menuangkan gagasan, pikiran, perasaan ke dalam bentuk bahasa tulis melalui lambang tulis yang sudah dikuasainya.

Tujuan Pembelajaran MMP

Tujuan pembelajaran MMP sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Tujuan pembelajaran berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang terdapat pada kurikulum. Standar kompetensi aspek membaca kelas 1 SD ialah mampu membaca dan memahami teks pendek dengan cara membaca lancar dan membaca nyaring beberapa kalimat sederhana. Standar kompetensi diturunkan ke dalam empat buah kompetensi dasar yakni :

(1) Membiasakan sikap membaca yang benar, (2) Membaca nyaring,

(3) Membaca bersuara,

(4) Membaca penggalan cerita.

Sasaran pembelajaran membaca permulaan lebih diarahka pada kemampuan

“melek huruf” dengan titik berat pengajaran diarahkan pad keterampilan membaca teknis.

Keterampilan menulis di kelas 1 ditetapkan hasil belajar dan tujuan pembelajaran menulis dengan sasaran pembelajaran menulis permulaan lebih diarahkan pada kemampuan secara mekanis.

Materi selanjutnya adalah “Strategi Pembelajaran MMP” Anda akan mempelajari topic yang berkaitan dengan metode pembelajaran MMP dan model pembelajaran MMP.

Metode Pembelajaran MMP

Pembelajaran MMP dapat diajarkan melalui berbagai macam metode. Berikut diuraikan berbagai macam metode MMP.

1. Metode Eja

Metode eja biasa disebut sebagai metode abjad atau metode alfabet. Prinsip dasar metode eja memulai pengajarannya dengan memperkenalkan huruf-huruf secara alfabetis. Huruf tersebut dihafalkan dan dilafalkan anak sesuai dengan bunyinya menurut abjad. Kegiatan ini diikuti dengan latihan menulis lambang tulisan, seperti a, b, c, d yang di baca a, be, ce, de.

Setelah melalui tahapan ini, para siswa diajak untuk berkenalan dengan suku kata dengan cara merangkaikan beberapa huruf yang sudah diperkenalkan contoh:

B, u, k, u menjadi b-u  bu (dibaca eja /be-u/ bu) k-u  ku (dibaca eja /ke-u/ ku)

Proses selanjutnya pengenalan kalimat sederhana. Merangkai huruf menjadi suku kata, suku kata menjadi kata, dan kata menjadi kalimat dengan prinsip spiral, pendekatan komunikatif dan pengalaman berbahasa.

Kelemahan metode eja kesulitan untuk mengenal rangkaian huruf berupa suku kata atau pun kata, kesulitan dalam pelafalan diftong dan fonem-fonem rangkap seperti /ng/, /ny,/ /kh/, /ai/, /au/, /oi/.

2. Metode Bunyi

(3)

Ciri metode bunyi adalah sistem pelafalan abjad atau huruf berupa huruf konsonan. Sebagai contoh:

Huruf /b/ dilafalkan [eb]

/n/ dilafalkan [en]

Catatan : dilafalkan dengan e pepet seperti pelafalan pada kata benar, keras dan pedas.

Prinsip dasar tidak jauh dari metode eja, bahkan mempunyai kelemahan yang sama.

Perbedaanya hanya cara atau pelafalan abjadnya.

3. Metode suku kata/ metode silaba

Metode suku kata/Silaba popular dalam pembelajaran baca tulis Al-Quran.

Dalam pembelajaran baca tulis Al-Qur’an metode ini dikenal dengan istilah metode Iqro. Proses pembelajaran MMP metode suku kata melibatkan kegiatan merangkai dan mengupas kemudian melahirkan istilah lain yakni metode rangkai kupas.

Langkah-langkah pembelajaran MMP dengan Metode Suku Kata adalah : 1. Proses pembelajaran diawali dengan pengenalan suku kata 2. Perangkaian suku kata menjadi kata-kata bermakna.

3. Perangkaian kata menjadi kelompok kata atau kalimat sederhana.

4. Mengintegrasikan kegiatan perengkaian dan pengupasan (kalimatsuku kata suku-suku kata)

4. Metode kata

Metode kata diawali dengan pengenalan kata  suku kata huruf. Metode kata dilakukan dengan pengupasan yang dikembalikan ke bentuk asalnya sebagai kata semula. Metode kata disebut pula sebagai metode kupas-rangkai/ metode kata lembaga.

5. Metode global/metode kalimat

Diawali dengan penyajian beberapa kalimat secara global dan menggunakan media gambar. Dibawah gambar dituliskan kalimat yang merujuk pada makna gambar. Kalimat tersebut di deglobalisasi yaitu proses penguraian kalimat menjadi satuan-satuan yang lebih kecil yakni menjadi kata, suku kata dan huruf selanjutnya anak menjalani proses MMP.

6. Metode SAS

SAS singkatan dari Struktural Analitik Sintetik. Proses menganalisis pembelajaran MMP dengan metode SAS meliputi;

(1) Kalimat menjadi kata-kata;

(2) Kata menjadi suku-suku kata;

(3) Suku kata menjadi huruf-huruf.

Selanjutnya anak didorong melakukan kerja sintesis (menyimpulkan) menjadi kalimat utuh. Contoh metode SAS adalah:

ini mama ini mama i-ni ma-ma i-n-i m-a-m-a

i-ni ma-ma

ini mama

(4)

ini mama Kelebihan metode SAS sebagai berikut.

1. Sejalan dengan prinsip linguistik karena satuan bahasa terkecil untuk komunikasi adalah kalimat.

2. Mempertimbangkan pengalaman berbahasa anak.

3. Metode ini sesuai dengan prinsip inkuiri (menemukan sendiri).

Setelah Anda mempelajari bermacam-macam metode dalam MMP tentu Anda mempunyai kesimpulan setiap metode memiliki keunggulan dan kelemahannya masing-masing.

Model Pembelajaran MMP

Model pembelajaran digunakan untuk melaksanakan pembelajaran MMP dalam kegiatan belajar mengajar di dalam kelas dengan mengambil salah satu metode tertentu. Pelaksanakan kegiatan belajar mengajar MMP ini terbagi ke dalam pembelajaran tanpa buku dan pembelajaran dengan menggunakan buku.

Pembelajaran Tanpa Buku

Pembelajaran tanpa buku berlangsung pada awal anak bersekolah pada 8-10 minggu pertama siswa di sekolah. Langkah-langkah pembelajaran tanpa buku adalah guru melakukan pra KBM dengan percakapan dengan siswa. Selanjutnya, pilihlah variasi kegiatan belajar mengajar dengan menunjukkan gambar, menceritakan gambar, siswa bercerita dengan bahasa sendiri, memperkenalkan bentuk-bentuk huruf (tulisan) melalui bantuan gambar, membaca tulisan bergambar, membaca tulisan bergambar, membaca tulisan tanpa gambar, memperkenalkan huruf, suku kata, kata atau kalimat dengan bantuan kartu.

Langkah-Langkah Pembelajaran MMP dengan Menggunakan Buku

Langkah awal yang paling penting di dalam pembelajaran MMP dengan buku adalah menarik minat dan perhatian siswa agar mereka tertarik dengan buku (bacaan) dan mau belajar sendiri yang dilandasi motivasi instrinsik. Cara pembelajaran MMP dengan membaca buku pelajaran (buku paket), membaca buku dan majalah anak yang sudah terpilih, membaca bacaan susunan bersama guru-siswa, dan membaca bacaan susunan siswa (kelompok perseorangan).

Langkah-langkah pembelajaran menulis permulaan terbagi menjadi pengenalan huruf dan latihan. Pengenalan huruf dengan pengenalan bentuk tulisan serta pelafalan untuk melatih indra siswa dalam mengenal dan membedakan bentuk dan lambang tulisan. Beberapa bentuk latihan menulis permulaan dengan latihan memegang pensil dan sikap duduk, gerakan tangan, mengeblat, menghubung-hubungkan tanda titik, menatap bentuk tulisan, menyalin, menulis halus indah, dikte/imla, latihan melengkapi tulisan, menuliskan nama-nama benda yang terdapat dalam gambar, dan mengerang sederhana dengan bantuan gambar.

1. masuk SD. Akan tetapi, ibu Heni selalu dibuat jengkel oleh anaknya bila ibu Heni memperlihatkan huruf /ng/. Anaknya selalu melafalkan [neg]. Berkali-kali ibu Heny mengingatkan bahwa [en dan [eg] itu bukan [neg] melainkan [eng].

Materi selanjutnya adalah “Penilaian dalam Pembelajaran” yang membahas tentang penilaian proses dan penilaian hasil.

Penilaian merupakan suatu proses pengumpulan, pengolahan, dan pemaknaan data untuk menentukan kualitas sesuatu yang terkandung dalam data tersebut. Alat penilaian yng berbentuk tes dan nontes terhadap proses maupun hasil diharapkan dapat memberikan

(5)

kemampuan dan kemajuan belajar siswa secara utuh dan menyeluruh, penilaiain dengan cara ini dinamakan pendekatan holistik.

Penilaian Proses

Penilaian proses dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung dalam kegiatan belajar mengajar. Hal yang perlu diperhatikan adalah aktivitas, respon, kegiatan, minat, sikap dan upaya siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Penilaian meliputi tiga ranah yaitu kognisi, afeksi dan psikomotorik. Kognisi dapat diukur dengan alat penilaian tes. Ranah afeksi dan psikomotorik lebih cocok bila digali dengan alat penilaian nontes.

Teknik Tes adalah serangkaian pertanyaan yang harus dijawab dan ditanggapi. Dalam pembelajaran MMP, teknik tes dilakukan untuk mengetahui dan menilai sejauh mana kemampuan dan penguasaan siswa dalam hal kemelekhurufan dan kemampuan menulis secara teknis. Berdasarkan cara pelaksanaanya alat penilaian teknik tes dilakukan secara tertulis, lisan dan perbuatan. Teknik nontes merupakan alat penilaian yang dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai karakteristik minat, sikap, dan kepribadian.Teknik nontes digunakan untuk memperoleh informasi tentang hal yang terjadi dalam kegiatan pembelajaran.

Penilaian Hasil

Penilaian hasil untuk menentukan pencapaian atau hasil belajar siswa. Alat penilaian dengan tes dan nontes. Penilaian hasil pembelajaran MMP yang akan dicapai pada kelas rendah untuk menilai siswa dalam hal kemelekhurufan. Tes membaca permulaan dapat berbentuk membaca nyaring dan mengisi wacana rumpang. Dalam membaca nyaring, siswa diminta melafalkan lambing tertulis, sedangkan mengisi wacana rumpang dalam MMP dengan penyajian struktur dalam bentuk sajian kata dengan menghilangkan bagian huruf.

Setelah Anda mempelajari tentang MMP maka selanjutnya Anda akan mempelajari “Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD/MI” . Pada materi ini Anda akan mempelajari tentang:

1) Fokus Pembelajaran Bahasa Indonesia.

2) Model Pembelajaran Bahasa Indonesia

Pada materi “Fokus Pembelajaran Bahasa Indonesia” Anda akan mempelajari topik-topik yang berkaitan dengan (1) Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan Fokus Keterampilan Berbahasa, (2) Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan Fokus Sastra dan (3) Tujuan dan Manfaat Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan Berbagai Fokus.

Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan Fokus Keterampilan Berbahasa

Bahasa Indonesia sebagai bahan pengajaran secara garis besar terdiri atas tiga komponen yaitu kebahasaan, kemampuan berbahasa dan kesastraan. Kompetensi kebahasaan meliputi (a) fonologi, morfologi, sintaksis, semantik dan kewacanaan dan (b) kosakata.

Kemampuan berbahasa terdiri atas empat aspek yaitu kemampuan mendengarkan/menyimak, kemampuan membaca, kemampuan berbicara dan kemampuan menulis. Dalam praktek komunikasi yang nyata keempat keterampilan tersebut tidak berdiri sendiri melainkan perpadauan dari keempat hal tersebut.

Pembelajaran bahasa Indonesia dengan fokus keterampilan berbahasa adalah pembelajaran bahasa Indonesia yang ditekankan pada pengembangan salah satu kompetensi dasar dari keterampilan berbicara, mendengarkan, membaca dan menulis. Dengan demikian langkah-langkah pembelajaran semua kegiatan belajar mengajar tertumpu pada salah satu

(6)

keterampilan berbahasa. Jika pembelajaran mendengarkan maka langkah pembelajaran berbeda dengan pembelajaran menulis.

Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan Fokus Sastra

Pembelajaran bahasa Indonesia juga mempelajari sastra. Pembelajaran sastra tidak berdiri sendiri, tetapi diintegrasikan dengan kompetensi dasar yang lain, yaitu keterampilan berbahasa

dan kebahasaan. Misalnya mendengarkan dongeng, membaca cerita

rakyat, mendeklamasikan puisi dan lain-lain. Pada saat ini pembelajaran sastra ditekankan pada apresiasi sastra, sehingga sastra diajarkan dengan persentase yang sangat kecil. Bahan ajar sastra seperti cerita, puisi dan drama yang dipakai disesuaikan dengan tingkat kelas siswa.

Tujuan dan Manfaat Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan Berbagai Fokus

Tujuan dan Manfaat pembelajaran bahasa Indonesia dengan empat keterampilan agar siswa dapat mengembangkan kompetensi mana yang ditekankan, misalnya yang ditekankan kompetensi dasar mendengarkan maka porsi pembelajaran mendengarkan lebih banyak daripada keterampilan yang lain. Jika pembelajarannya ditekankan atau difokuskan pada sastra maka tujuanya adalah meningkatkan kemampuan siswa dalam mengapresiasi sastra. Kalau dilihat dari segi guru, pembelajaran bahasa Indonesia dengan berbagai okus bertujuan untuk memudahkan guru dalam membuat perencanaan pembelajaran.

Model Pembelajaran Bahasa Indonesia

Tahap yang harus ditempuh guru sebelum melaksanakan kegiatan belajar mengajar adalah menyusun rencana pembelajaran. Keterampilan pembelajaran bahasa Indonesia harus mendapatkan perhatian yang seimbang dan dilaksanakan secara terpadu. Disamping itu, guru juga harus memperhatikan bagaimana memadukan empat keterampilan dengan kompetensi dasar kebahasaan dan sastra.

Keterpaduan pembelajaran yang dimaksud dapat diwujudkan dalam dua cara, yakni keterpaduan dengan fokus keterampilan tertentu dan keterpaduan tanpa fokus yang berarti keempatnya diperlakukan secara seimbang tanpa ada penekanan. Model pembelajaran bahasa Indonesia dengan fokus keterampilan berbahasa bukan berarti hanya mengajarkan salah satu jenis keterampilan berbahasa saja. Disamping pembelajaran terfokus pada keterampilan berbahasa tertentu, dan divariasikan dengan keterampilan lain di dalamnya juga harus terjadi pembelajaran kompetensi dasar kebahasaan.

Referensi

Dokumen terkait

Bidang kajian yang dibahas dalam penelitian ini adalah mengenai model pembelajaran yang efektif untuk mata pelajaran IPS, dengan fokus yang berkaitan dengan Penerapan

1. Guru mengondisikan siswa agar siap menerima materi. Menyiapkan media pembelajaran yang berkaitan dengan materi atau topik karangan eksposisi. Guru memberikan apersepsi

Pertama, model materi ajar dan pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia berperspektif kesetaraan gender dalam penelitian ini adalah model materi ajar yang dibuat dengan mendasarkan

Tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah untuk (1) meningkatkan kemampuan meresume materi pembelajaran Bahasa Indonesia pada siswa kelas V SD Negeri 01 Giriwondo (2)

RPP yang peneliti ujicobakan adalah untuk pembelajaran 1 materi bangun ruang kubus (Matematika), ekpor dan impor barang (Bahasa Indonesia) dengan menggunakan 2 lagu.

Modul Pendidikan Bahasa Indonesia SD( modul 10,11) Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan fokus Membaca, dan menulis Menulis UT:2008. 8. memberi contoh model pembelajaran

Mata kuliah ini membahas tentang pendalaman pembelajaran :bahasa Indonesia di sekolah dasar dengan fokus materi tentang: (a) teori belajar bahasa, (b) pendekatan

desain model materi ajar yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran diadopsi dari bahan otentik bersumber dari surat kabar dan brosur yang dikreasikan menjadi model materi ajar