Materi UTS Pendidikan Pancasila
1. Apa kegunaan Pendidikan Pancasila?
Pendidikan Pancasila mengarahkan perhatian pada moral yang diharapkan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan Pancasila memiliki 3 tujuan, yakni ; tujuan nasional, tujuan Pendidikan nasional, dan tujuan Pendidikan Pancasila. Pendidikan Pancasila bertujuan untuk mewujudkan Alinea keempat pembukaan UUD 1945.
2. Fungsi DPR
Berdasarkan UUD 1945, fungsi DPR dibagi menjadi 3 :
- Fungsi Legislasi, DPR sebagai pemegang kekuasaan dalam pembentukan Undang- Undang.
- Fungsi Anggaran, DPR untuk membahas dan memberikan persetujuan atau tidak memberikan persetujuan tentang rancangan Undang-undang terkait APBN yang diajukan oleh presiden.
- Fungsi Pengawasan, dilaksanakan melalui pengawasan terkait dengan pelaksanaan undang-undang dan APBN.
3. Lima hal penting dalam hubungan Pancasila dan multikulturalisme
- Multikulturalisme adalah pandangan kebudayaan yang berorientasi praktis, sehingga dapat di sebut sebagai penerjemah Pancasila yang disesuaikan dengan keadaan multikultural Bangsa Indonesia.
- Multikulturalisme harus menjadi strategi besar ke masa depan, untuk itu dibutuhkan pemikiran yang komprehensif, konsisten dan berjangka panjang yang melibatkan semua pihak.
- Multikulturalisme sebagai perwujudan Pancasila menjadikan kebudayaan sebagai prioritas utama untuk membangun bangsa.
- Pancasila diposisikan sebagai cita-cita untuk menghadapi keadaan ketika masyarakat multikulturalisme mulai mempertanyakan kriteria untuk saling menghargai perbedaan kebudayaan tersebut.
- Perubahan dari cara berpikir pluralisme ke multikulturalime dalam memandang Pancasila menyangkut nilai-nilai dasar yang tidak mudah diwujudkan. Dibutuhkan pemahaman mendalam dan konsistensi dengan kondisi politik yang mendukung.
4. Aplikasi Pancasila
- Nilai ketuhanan yang maha Esa, mengingat bahwa bangsa Indonesia menjunjung dan menghormati agama.
- Nilai kemanusiaan yang adil dan beradab, mengakui bahwa bangsa Indonesia menjunjung nilai kemanusiaan dan persamaan derajat martabat.
- Nilai persatuan Indonesia, bahwa bangsa Indonesia menempatkan persatuan diatas kepentingan pribadi.
- Nilai kerakyatan yang dipimpin oleh kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, bahwa bangsa Indonesia menghargai dan tidak memaksakan pendapat orang lain atas dasar musyawarah.
- Nilai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, mengingat bahwa bangsa Indonesia menjunjung keadilan, tolong menolong, dan keseimbangan hak.
5. Trias politika
Adalah konsep pembagian kekuasaan dan urusan pemerintahan. Indonesia menganut konsep trias politika dari Montesquieu, yakni :
- Kekuasaan eksekutif (presiden, wakil presiden), kekuasaan atau Lembaga menjalankan UU.
- Kekuasaan Legislatif (MPR, DPR, DPD), Lembaga yang membentuk UU dan mencegah kewenang-wenangan presiden.
- Kekuasaan yudikatif (MA, MK, KY), menegakkan hukum dan keadilan, termasuk mengontrol seluruh lembaga negara yang menyimpang atas hukum yang berlaku 6. Masa kepemimpinan presiden
- Orde Lama
Permasalahannya masih seputar awal kemerdekaan, banyak terjadi perubahan sistem pemerintahan. Indonesia menganut sistem pemerintahan parlementer, liberal, dan pada akhirnya berganti pada demokrasi terpimpin. Di masa ini Soekarno menerapkan prinsip tiga pilar NaSaKom (Nasionalisme, Agamis, Komunisme), akan tetapi banyak pihak yang tidak menyetujui hal ini. Digunakannya sistem demokrasi terpimpin menyebabkan pemerintahan berpusat pada presiden, dan diadakannya pilar NaSaKom seperti menyetujui rencana PKI. Terjadinya G30S/PKI dipicu akan hal ini, dimanaa PKI ingin merubah ideologi Pancasila menjadi ideologi komunis.
Kedudukan Pancasila semakin terancam, dan Soekarno pun turun jabatan.
- Orde Baru
Meski secara sistem tidak banyak perubahan dari era sebelumnya, tapi ada beberapa perbedaan yang dianggap menyimpang terhadap Pancasila dan UUD 1945 seperti jabatan Presiden menjadi seumur hidup, dan belum adanya MPR, DPR dan DPA yang sah. Pada era ini terkenal satu permasalahan yakni krisis moneter yang menyebabkan nilai tukar rupiah Indonesia yang semula Rp.2.500/US$ menjadi sekitar Rp.17.000/ US$ pada bulan Januari 1998. Hal ini kian diperparah dengan maraknya KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme).
- Reformasi
Lahirnya gerakan reformasi didasari oleh keinginan untuk melakukan perubahan yang disebabkan oleh dampak negatif dari kebijakan-kebijakan yang dilaksanakan pemerintahan Orde Baru. Perkembangan politik pada masa reformasi ditengarai oleh beberapa peristiwa dan kebijakan penting seperti Sidang Istimewa MPR 1998, Otonomi Daerah, Pencabutan pembatasan partai politik, penghapusan Dwifungsi Abri, dan penyelenggaraan pemilu yang lebih demokratis. Pada awal masa reformasi, Indonesia masih dilanda krisis ekonomi. Upaya-upaya untuk pemulihan ekonomi pun akhirnya terus dilakukan pada beberapa periode kepemimpinan masa reformasi.