Metode Ekstraksi Pada Penelitian ‘Formulasi Body Mask dari Daun Pegagan (Centella asiatica L.)
untuk Perawatan Kulit’
Disusun Oleh : Ketua
Chairun Nisa Nuraini 2423010433 Anggota
Ajeng Destian Suparwi 2423010423 Aktifa Nurullah 2423010424 Andhini Darma Saputri 2423010425
Arum Puspita Dewi 2423010430 Dewi Fitrianingrum 2423010438
Fanni Yuniar 2423010443 Gabriela Clarisa Wibowo 2423010446
Irfan Prasetya Yoga 2423010451 Sheila Nurkhalesa 2423010468
Wilda Nengsih 2424010477 Siti Handayani 2423010471
PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU BIOMEDIK UNIVERSITAS SULTAN AGUNG
TAHUN 2024
DAFTAR ISI
JUDUL
1 DAFTAR ISI
2
BAB 1
Pendahuluan 3
BAB 2
Tinjauan Pustaka 5
2.1 Definisi Ekstraksi 5
2.2 Jenis ekstraksi 5
2.3 Metode yang digunakan 8
2.4 Simplisia 12
2.5 Tanaman Pegagan 15
BAB 3
Pembahasan 17
3.1 Jenis Sampel yang Digunakan 17
3.2 Jenis Metode Ekstraksi yang Digunakan 17
3.3 Pemilihan Pelarut 18
3.4 Teknik Pengerjaan Ekstraksi 18
3.5 Sifat Senyawa yang Diekstraksi 19
3.6 Jenis Ekstraksi Berdasarkan Mekanisme 22
3.7 Jenis Pemeriksaan Hasil Ekstrak 23
SIMPULAN DAN SARAN 28
DAFTAR PUSTAKA 30
Lampiran 33
BAB 1 PENDAHULUAN
Ekstraksi merupakan metode dasar yang penting pada keilmuan biomedik.
Tahapan ini umumnya merupakan langkah awal dalam suatu proses penelitian.
Metode ekstraksi adalah hal mendasar yang diperlukan sebagai bekal pembelajaran keilmuan biomedik dan penelitian di bidang biomedik.
Metode ekstraksi memiliki beberapa poin penting untuk dipahami.
Beberapa diantaranya yakni jenis ekstraksi berdasarkan jenis sampel, jenis ekstraksi berdasarkan mekanisme, teknik pengerjaan ekstraksi, pemilihan pelarut, sifat-sifat senyawa yang diekstraksi, simplisia yang digunakan, tahapan penyiapan simplisia, serta jenis pemeriksaan yang digunakan.
Poin-poin penting terkait metode ekstraksi jika diulas akan memudahkan pemahaman terkait metode ekstraksi. Oleh karenanya, mengulas metode ekstraksi dari beragam jurnal penelitian akan memperdalam pemahaman ini. Salah satu yang akan diulas dalam makalah ini yakni jurnal 'Formulasi Body Mask dari Daun Pegagan (Centella asiatica L.) untuk Perawatan Kulit'. Dengan mengulas poin-poin penting terkait metode ekstraksi yang digunakan dalam penelitian tersebut diharapkan memudahkan pemahaman terkait metode ekstraksi.
Dalam jurnal ‘Formulasi Body Mask dari Daun Pegagan (Centella asiatica L.) untuk Perawatan Kulit’ dijelaskan mengenai berbagai bahan aktif yang ada pada pegagan diantaranya triterpenoid saponin dengan unsur utamanya terdiri atas asiaticoside, madecassoside, genin triterpen, minyak atsiri, flavonoid, fitosterol, dan gula (Sigiro et al., 2023). Salah satu kandungan senyawa yang dapat digunakan untuk perawatan kulit adalah asiaticoside yang berfungsi menstimulasi kolagen pada jaringan kulit. Selain itu asiaticoside merangsang pembentukan protein dan lemak yang terpenting untuk kesehatan kulit, mengubah prolin serta alanin jadi kolagen, luka menjadi cepat sembuh, membantu dalam pengobatan jerawat, serta flek hitam dalam kulit. Sehingga untuk menarik beragam komponen aktif dari tanaman pegagan tersebut maka peneliti di dalam jurnal ini melakukan ekstraksi untuk kemudian dibuat body mask.
Makalah ini mengulas mengenai metode ekstraksi yang dilakukan dalam jurnal penelitian ‘Formulasi Body Mask dari Daun Pegagan (Centella asiatica L.) untuk Perawatan Kulit’, disusun sebagai pemenuhan tugas mata kuliah ekstraksi
program pascasarjana Magister Biomedik FK UNISSULA. Dengan memahami metode ekstraksi dengan baik diharapkan menjadi bekal dalam pengerjaan penelitian maupun penyusunan tesis di bidang biomedik.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 DEFINISI EKSTRAKSI
Ekstraksi adalah proses pemisahan suatu zat dari campurannya dengan menggunakan pelarut. Pelarut yang digunakan harus dapat mengekstrak substansi yang diinginkan tanpa melarutkan material lainnya. Menurut Wilson et al. (2000), secara garis besar proses pemisahan secara ekstraksi terdiri dari tiga langkah dasar yaitu :
1. Penambahan sejumlah massa pelarut untuk dikontakkan dengan sampel, biasanya melalui proses difusi.
2. Zat terlarut akan terpisah dari sampel dan larut oleh pelarut membentuk fase ekstrak.
3. Pemisahan fase ekstrak dengan sampel.
Ekstraksi merupakan suatu proses pemisahan kandungan senyawa kimia dari jaringan tumbuhan ataupun hewan dengan menggunakan penyaring tertentu.
Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan cara mengekstraksi zat aktif dengan menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian, hingga memenuhi baku yang ditetapkan.
2.2 JENIS-JENIS EKSTRAKSI A. Berdasarkan Jenis Sampel
a. Ekstraksi Padat-Cair
Ekstraksi padat-cair atau leaching merupakan metode pemisahan satu atau beberapa komponen (solute) dari campurannya dalam padatan yang tidak dapat larut (inert) dengan menggunakan pelarut (solvent) berupa cairan. Pemisahan dapat terjadi karena adanya driving force yaitu perbedaan konsentrasi solute di padatan dengan pelarut dan adanya perbedaan kemampuan melarut komponen dalam campuran. Proses ekstraksi padat cair secara umum terdiri dari lima tahap yaitu :
1. Pelarut berpindah dari bulk solution ke seluruh permukaan padatan (terjadi pengontakan antara pelarut dengan padatan). Proses perpindahan pelarut dari bulk solution ke permukaan padatan berlangsung seketika saat pelarut
dikontakkan dengan padatan. Proses pengontakan ini dapat berlangsung dengan dua cara yaitu perkolasi atau maserasi.
2. Pelarut berdifusi ke dalam padatan. Proses difusi pelarut ke padatan dapat terjadi karena adanya perbedaan konsentrasi (driving force) antara solute di pelarut dengan solute di padatan.
3. Solute yang ada dalam padatan larut ke dalam pelarut. solute dapat larut dalam pelarut karena adanya gaya elektrostatik antar molekul, yaitu disebut gaya dipol-dipol, sehingga senyawa yang bersifat polar-polar atau nonpolar- nonpolar dapat saling berikatan. Selain itu juga terdapat gaya dipol-dipol induksi atau gaya London yang menyebabkan senyawa polar dapat larut atau sedikit larut dengan seyawa nonpolar.
4. Solute berdifusi dari padatan menuju permukaan padatan. Proses difusi ini disebabkan oleh konsentrasi solute dalam pelarut yang berada di dalam pori- pori padatan lebih besar daripada permukaan padatan.
5. Solute berpindah dari permukaan padatan menuju bulk solution. Pada tahap ini, tahanan perpindahan massa solute ke bulk solution lebih kecil daripada di dalam padatan. Proses ekstraksi berlangsung hingga keseimbangan tercapai yang ditunjukkan oleh konsentrasi solute dalam bulk solution menjadi konstan atau tidak ada perbedaan konsentrasi solute dalam bulk solution dengan padatan (driving force bernilai nol atau mendekati nol).
b. Ektraksi Cair-Cair
Pada ekstraksi cair-cair, senyawa yang dipisahkan terdapat dalam campuran yang berupa cairan. Satu komponen bahan atau lebih dari suatu campuran dipisahkan dengan bantuan pelarut. Ekstraksi cair-cair terutama digunakan apabila pemisahan campuran dengan cara destilasi tidak mungkin dilakukan (misalnya karena pembentukan azeotrop atau karena kepekaannya terhadap panas) atau tidak ekonomis. Ekstraksi cair-cair selalu terdiri dari sedikitnya dua tahap, yaitu pencampuran secara intensif bahan ekstraksi dengan pelarut dan pemisahan kedua fase cair itu sesempurna mungkin. Pada ekstraksi cair-cair, zat terlarut dipisahkan dari cairan pembawa (diluen) menggunakan pelarut cair. Campuran cairan pembawa dan pelarut ini adalah heterogen, jika dipisahkan terdapat 2 fase yaitu fase diluen (rafinat) dan fase pelarut (ekstrak). Perbedaan konsentrasi zat terlarut di dalam suatu fasa dengan konsentrasi pada keadaan setimbang merupakan pendorong terjadinya pelarutan (pelepasan) zat terlarut dari larutan yang ada. Untuk
mencapai proses ekstraksi cair-cair yang baik, pelarut yang digunakan harus memenuhi kriteria yaitu kemampuan tinggi melarutkan komponen zat terlarut di dalam campuran, kemampuan tinggi untuk diambil kembali, perbedaan berat jenis antara ekstrak dan rafinat lebih besar, pelarut dan larutan yang akan diekstraksi harus tidak mudah campur, tidak mudah bereaksi dengan zat yang akan diekstraksi, tidak merusak alat secara korosi, tidak mudah terbakar, tidak beracun dan harganya relatif murah.
B. Berdasarkan Mekanisme (Pelarut) 1. Ekstraksi Khelat
Ekstraksi digolongkan sebagai ekstraksi khelat apabila ekstraksi berlangsung melalui pembentukan senyawa khelat. Ligan pengkelat mempunyai 6 peranan penting dalam ekstraksi logam, karena banyak logam yang dapat diekstraksi sekaligus terpisahkan. Senyawa khelat logam merupakan jenis senyawa koordinasi dimana ion logam berkaitan dengan basa polifungsional yang mampu menempati satu atau lebih posisi koordinat logam untuk membentuk senyawa siklik.
2. Ekstraksi Solvasi
Pada ekstraksi dengan proses solvasi, pelarut organik itu sendiri yang berperanan dalam pembentukan kompleks terekstrak. Pelarut yang dapat mengekstrak pada proses ini kebanyakan mengandung atom oksigen donor yang memungkinkan terjadinya ikatan koordinasi dengan ion logam membentuk kompleks tersolvasi yang diekstraksi. Kompleks terekstrak tersebut biasanya terbentuk dengan adanya ion lain sehingga terbentuk molekul dengan muatan listrik netral. Beberapa pelarut yang memperlihatkan sifat solvasi yang menarik adalah senyawa-senyawa yang mengandung ikatan oksigen dengan karbon atau oksigen dengan fosfor.
Gugus fungsional yang berperanan dalam molekul tersebut adalah gugus karbonil atau fosforil yang semi polar.
3. Ekstraksi yang melibatkan pembentukan pasangan ion
Ekstraksi ini berlangsung melalui pembentukan spesies netral yang tidak bermuatan, karena bergabungnya ion logam dengan pengekstrak, yang dapat diekstraksi ke fasa organik.
4. Ekstraksi Sinergi
Ekstrasi ini terjadi karena pengkomplekan solvasi dan pasangan ion secara sinergi sehingga memperkuat proses ekstraksi terhadap pelarut organik dan mempercepat turunnya zat aktif.
C. Berdasarkan Proses Pelaksanaannya 1. Ekstraksi Berkesinambungan
Pada ekstraksi kontinu pelarut yang digunakan secara berulang ulang sampai proses ekstraksi selesai. Tersedia berbagai alat dari jenis ekstraksi ini seperti alat soxhlet atau craig countercurrent.
2. Ekstraksi Bertahap (Batch)
Pada ekstraksi bertahap setiap kali ekstraksi selalu digunakan pelarut yang baru setiap sampai proses ekstraksi selesai, alat yang digunakan adalah berupa corong pisang.
2.3 METODE YANG DIGUNAKAN
Metode ekstraksi berdasarkan ada tidaknya proses pemanasan dapat dibagi menjadi dua macam yaitu ekstraksi cara dingin dan ekstrasi cara panas :
1. Ekstraksi Cara Dingin
Pada metode ini tidak dilakukan pemanasan selama proses ekstraksi berlangsung dengan tujuan agar senyawa yang diinginkan tidak menjadi rusak. Beberapa jenis metode ekstraksi cara dingin, yaitu:
a. Maserasi atau dispersi
Maserasi merupakan metode ekstraksi dengan menggunakan pelarut diam atau dengan adanya pengadukan beberapa kali pada suhu ruangan.
Metoda ini dapat dilakukan dengan cara merendam bahan dengan sekali- sekali dilakukan pengadukan. Pada umumnya perendaman dilakukan selama 24 jam, kemudian pelarut diganti dengan pelarut baru. Maserasi juga dapat dilakukan dengan pengadukan secara sinambung (maserasi kinetik). Kelebihan dari metode ini yaitu efektif untuk senyawa yang tidak tahan panas (terdegradasi karena panas), peralatan yang digunakan relatif sederhana, murah, dan mudah didapat. Namun metode ini juga memiliki beberapa kelemahan yaitu waktu ekstraksi yang lama,
membutuhkan pelarut dalam jumlah yang banyak, dan adanya kemungkinan bahwa senyawa tertentu tidak dapat diekstrak karena kelarutannya yang rendah pada suhu ruang.
b. Perkolasi
Perkolasi merupakan metode ekstraksi dengan bahan yang disusun secara unggun dengan menggunakan pelarut yang selalu baru sampai prosesnya sempurna dan umumnya dilakukan pada suhu ruangan. Prosedur metode ini yaitu bahan direndam dengan pelarut, kemudian pelarut baru dialirkan secara terus menerus sampai warna pelarut tidak lagi berwarna atau tetap bening yang artinya sudah tidak ada lagi senyawa yang terlarut.
Kelebihan dari metode ini yaitu tidak diperlukan proses tambahan untuk memisahkan padatan dengan ekstrak, sedangkan kelemahan metode ini adalah jumlah pelarut yang dibutuhkan cukup banyak dan proses juga memerlukan waktu yang cukup lama, serta tidak meratanya kontak antara padatan dengan pelarut.
2. Ekstraksi Cara Panas
Pada metode ini melibatkan pemanasan selama proses ekstraksi berlangsung. Adanya panas secara otomatis akan mempercepat proses ekstraksi dibandingkan dengan cara dingin. Beberapa jenis metode ekstraksi cara panas, yaitu :
a. Ekstraksi Refluks
Ekstraksi refluks merupakan metode ekstraksi yang dilakukan pada titik didih pelarut tersebut, selama waktu dan sejumlah pelarut tertentu dengan adanya pendingin balik (kondensor). Pada umumnya dilakukan tiga sampai lima kali pengulangan proses pada rafinat pertama. Kelebihan metode refluks adalah padatan yang memiliki tekstur kasar dan tahan terhadap pemanasan langsung dapat diekstrak dengan metode ini. Kelemahan metode ini adalah membutuhkan jumlah pelarut yang banyak.
b. Ekstraksi Soxhlet
Ekstraksi dengan alat soxhlet merupakan ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru, umumnya dilakukan menggunakan alat khusus
sehingga terjadi ekstraksi konstan dengan adanya pendingin balik (kondensor). Pada metode ini, padatan disimpan dalam alat soxhlet dan dipanaskan, sedangkan yang dipanaskan hanyalah pelarutnya.
Pelarut terdinginkan dalam kondensor, kemudian mengekstraksi padatan. Kelebihan metode soxhlet adalah proses ekstraksi berlangsung secara kontinu, memerlukan waktu ekstraksi yang lebih sebentar dan jumlah pelarut yang lebih sedikit bila dibandingkan dengan metode maserasi atau perkolasi. Kelemahan dari metode ini adalah dapat menyebabkan rusaknya solute atau komponen lainnya yang tidak tahan panas karena pemanasan ekstrak yang dilakukan secara terus menerus.
c. Ekstraksi Cara Infus
Infus adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur penangas air (bejana infus tercelup dalam penangas air mendidih, temperatur terukur 96-980 C) selama waktu tertentu (15-20 menit). Kelebihan dari metode infus adalah metode ini merupakan metode ekstraksi yang paling sederhana, alat dan cara yang digunakan sederhana, efisien, dan hanya membutuhkan waktu yang singkat. Kekurangan dari metode ini adalah ekstrak yang diperoleh kurang stabil dan mudah tercemar oleh bakteri dan jamur, sehingga tidak boleh disimpan lebih dari 24 jam pada suhu kamar.
d. Ekstraksi Cara Distilasi Uap
Destilasi adalah suatu metode pemisahan campuran yang didasarkan pada perbedaan tingkat volalitas ( kemudahan suatu zat untuk menguap ) pada suhu dan tekanan tertentu. Destilasi merupakan proses fisika dan tidak terjadi adanya reaksi kimia selama proses berlangsung. Dasar utama pemisahan dengan cara destilasi adalah perbedaan titik didih cairan pada tekanan tertentu. Proses destilasi biasanya melibatkan suatu penguapan campuran dan diikuti dengan proses pendinginan dan pengembunan. Pada destilasi skala laboratorium, komposisi campuran dipisahkan menjadi komponen fraksi yang di urutkan berdasarkan volatilitas, dimana zat yang paling volatile akan dipisahkan terlebih dahulu. Dengan demikian,
zat yang paling tidak volatile akan tersisa pada bagian paling bawah.
Proses ini dapat diulangi ketika campuran ditambahkan dan memulai proses destilasi dari awal. Destilasi adalah kunci utama dalam pemisahan fraksi-fraksi minyak bumi. Minyak bumi dipisahkan menjadi fraksi-fraksi tertentu didasarkan pada perbedaan titik didih. Alkohol yang terbentuk dari proses fermentasi juga dimurnikan dengan cara destilasi. Destilasi uap memisahkan zat senyawa cair yang tidak larut dalam air dan titik didihnya cukup tinggi. Aplikasi distilasi uap adalah untuk mengekstrak beberapa produk alam seperti minyak eucalyptus, minyak sitrus dari 5 lemon atau jeruk, dan untuk ekstraksi minyak dari tumbuhan lainnya.
Destilasi uap adalah istilah umum untuk destilasi campuran air dengan senyawa yang tidak larut dalam air.
Berikut faktor – faktor yang mempengaruhi ekstraksi.
1. Jenis pelarut
Jenis pelarut mempengaruhi senyawa yang tersari, jumlah zat terlarut yang terekstrak dan kecepatan ekstraksi.
2. Suhu
Secara umum, kenaikan suhu akan meningkatkan jumlah zat terlarut ke dalam pelarut.
3. Rasio pelarut dan bahan baku
Jika rasio pelarut-bahan baku besar maka akan memperbesar pula jumlah senyawa yang terlarut. Akibatnya laju ekstraksi akan semakin meningkat.
4. Ukuran partikel
Laju ekstraksi juga meningkat apabila ukuran partikel bahan baku semakin kecil. Dalam arti lain, rendemen ekstrak akan semakin besar bila ukuran partikel semakin kecil.
5. Pengadukan
Fungsi pengadukan adalah untuk mempercepat terjadinya reaksi antara pelarut dengan zat terlarut.
6. Lama waktu
Lamanya waktu ekstraksi akan menghasilkan ekstrak yang lebih banyak, karena kontak antara zat terlarut dengan pelarut lebih lama.
Pemilihan pelarut merupakan salah satu faktor yang penting dalam proses ekstraksi. Jenis pelarut yang digunakan dalam proses ekstraksi mempengaruhi jenis komponen aktif bahan yang terekstrak karena masing-masing pelarut mempunyai selektifitas yang berbeda untuk melarutkan komponen aktif dalam bahan. Menurut Perry (1984), berbagai syarat pelarut yang digunakan dalam proses ekstraksi, yaitu sebagai berikut:
a. Memiliki daya larut dan selektivitas terhadap solute yang tinggi. Pelarut harus dapat melarutkan komponen yang diinginkan sebanyak mungkin dan sesedikit mungkin melarutkan bahan pengotor.
b. Bersifat inert terhadap bahan baku, sehingga tidak bereaksi dengan komponen yang akan diekstrak.
c. Reaktivitas. Pelarut tidak menyebabkan perubahan secara kimia pada komponen bahan ekstraksi.
d. Tidak menyebabkan terbentuknya emulsi.
e. Tidak korosif f. Tidak beracun
g. Tidak mudah terbakar
h. Stabil secara kimia dan termal i. Tidak berbahaya bagi lingkungan
j. Memiliki viskositas yang rendah, sehingga mudah untuk dialirkan k. Murah dan mudah didapat, serta tersedia dalam jumlah yang besar l. Memiliki titik didih yang cukup rendah agar mudah diuapkan.
m. Memiliki tegangan permukaan yang cukup rendah
2.4 SIMPLISIA
2.4.1 Pengertian Simplisia
Simplisia adalah bahan alami yang dimanfaatkan sebagai obat-obatan herbal/tradisional yang belum diolah dengan segala macam cara, kecuali berupa bahan yang melalui proses pengeringan.
2.4.2 Macam-Macam Simplisia
Simplisia dapat dibagi atas 3 golongan yakni : a. Simplisia nabati
Berupa tumbuhan utuh, bagian tumbuhan, eksudat tumbuhan atau gabungan antara ketiganya. Eksudat tumbuhan sendiri merupakan isi sel
dari tanaman yang keluar secara spontan atau dengan suatu cara sengaja dilepaskan dari sel. Simplisia nabati biasa dikenal masyarakat awam dengan tanaman obat. Tanaman obat sendiri adalah tanaman yang memiliki khasiat menyembuhkan maupun pencegahan penyakit.
b. Simplisia Hewani
Merupakan hewan utuh atau zat bermanfaat yang diproduksinya dan masih berupa bahan kimia campuran.
c. Simplisia Pelikan atau Mineral
Merupakan bahan mineral atau pelikan yang belum mengalami proses pengolahan atau yang telah mengalami proses pengolahan sederhana dan masih berupa bahan kimia campuran.
2.4.3 Syarat Simplisia
Syarat-syarat simplisia (bahan baku tumbuhan) daun pegagan, yang juga dikenal sebagai Centella asiatica, umumnya meliputi:
a. Kondisi Iklim: Daun pegagan tumbuh baik di daerah yang lembap dan beriklim hangat hingga sedang. Mereka lebih suka sinar matahari yang terbatas atau naungan parsial.
b. Tanah: Tanah yang subur, kaya akan humus, dan memiliki drainase yang baik merupakan kondisi ideal untuk pertumbuhan daun pegagan. Mereka juga dapat tumbuh di tanah berpasir dengan tambahan humus.
c. Kelembaban: Daun pegagan menyukai kelembaban yang relatif tinggi.
Oleh karena itu, penyiraman yang teratur penting untuk menjaga kelembaban tanah.
d. Sinar Matahari: Walaupun daun pegagan lebih suka naungan parsial, mereka masih memerlukan sinar matahari untuk fotosintesis. Naungan yang terlalu gelap dapat menghambat pertumbuhan mereka.
e. Suhu: Suhu yang nyaman untuk pertumbuhan daun pegagan berkisar antara 20-30°C. Mereka tidak tahan terhadap suhu yang terlalu rendah atau terlalu tinggi.
f. Drainase: Penting untuk memastikan bahwa tanah tempat tumbuhnya daun pegagan memiliki sistem drainase yang baik. Stagnasi air dapat menyebabkan pembusukan akar dan mengganggu pertumbuhan tanaman.
Dengan memperhatikan faktor-faktor ini, kita dapat menciptakan lingkungan yang cocok untuk pertumbuhan daun pegagan.
2.4.4 Tahap Penyiapan
Berikut adalah tahapan umum untuk menyiapkan ekstrak daun pegagan:
a. Pemilihan Bahan Baku: Pilih daun pegagan yang segar dan berkualitas baik. Pastikan untuk membersihkannya dengan hati-hati untuk menghilangkan kotoran dan kontaminan lainnya.
b. Pencucian: Cuci daun pegagan dengan air bersih untuk menghilangkan kotoran dan debu yang menempel. Pastikan untuk mencuci dengan lembut untuk tidak merusak daunnya.
c. Pengeringan: Setelah dicuci, daun pegagan perlu dikeringkan. Anda dapat menggunakan metode pengeringan alami dengan menjemurnya di bawah sinar matahari atau menggunakan pengering buatan dengan suhu yang rendah. Pastikan daun pegagan benar-benar kering sebelum melanjutkan proses selanjutnya.
d. Pemotongan: Setelah kering, daun pegagan dapat dipotong-potong menjadi ukuran yang lebih kecil untuk memudahkan proses ekstraksi.
e. Ekstraksi: Ada beberapa metode ekstraksi yang dapat digunakan untuk menghasilkan ekstrak daun pegagan, termasuk ekstraksi dengan pelarut (seperti etanol atau air), ekstraksi dengan pemanasan menggunakan air (infus), atau ekstraksi dengan menggunakan pelarut superkritis. Pilih metode yang sesuai dengan kebutuhan dan peralatan yang tersedia.
f. Penyaringan: Setelah proses ekstraksi selesai, saring ekstrak untuk memisahkan cairan dari sisa-sisa padatan atau residu.
g. Pengeringan: Cairan ekstrak kemudian perlu dikeringkan untuk menghasilkan ekstrak dalam bentuk yang lebih konsentrat, seperti bubuk atau pasta. Metode pengeringan yang umum digunakan antara lain pengeringan alami, pengeringan dengan bantuan panas, atau pengeringan beku.
h. Penyimpanan: Simpan ekstrak daun pegagan dalam wadah yang kedap udara dan kering untuk mempertahankan kualitasnya. Juga, pastikan untuk menyimpannya di tempat yang terlindung dari sinar matahari langsung.
Dengan mengikuti tahapan-tahapan ini dengan cermat, Anda dapat menyiapkan ekstrak daun pegagan yang berkualitas untuk digunakan dalam berbagai aplikasi, seperti pengobatan tradisional, suplemen, atau produk kecantikan.
2.5 TANAMAN PEGAGAN
Pegagan (Centella asiatica (L.) Urban) merupakan tanaman liar yang mempunyai prospek cukup baik sebagai tanaman obat. Winarto dan Surbakti (2003) melaporkan pegagan telah ditetapkan sebagai tanaman obat tradisional sejak tahun 1884. Obat tradisional adalah obat-obatan yang diolah secara tradisional, turun- temurun, berdasarkan resep nenek-moyang, adat-istiadat, kepercayaan, atau kebiasaan setempat, baik bersifat magic maupun pengetahuan tradisional (LIPI 2016). Pegagan tidak terlalu menyebabkan efek samping karena dapat dicerna oleh tubuh dan toksisitasnya rendah (Rusmiati 2007).
Pegagan (Centella asiatica (L.) Urban), sinonim Hydrocotyle asiatica L.
dari famili Apiaceae, dikenal dengan nama umum gotu kola atau Indian pennywort yang tumbuh di daerah tropis seperti Asia, Oseania, Afrika dan Amerika. Pegagan merupakan tumbuhan herba yang terdiri dari ujung daun bulat, dengan tangkai daun biasanya memiliki tingginya sekitar 20 cm. Pegagan tumbuh di daerah tropis atau sedang dengan ketinggian mencapai 15-25 cm. Akar tumbuh vertikal ke bawah, tanaman ini berwarna hijau. memiliki tangkai hijau panjang dengan puncak bulat yang memberikan tekstur halus. Daun terhubung dengan 2-6 cm panjang petioles perikardial. Bunganya kecil (kurang dari 3 mm) berwarna putih, merah, pink, atau ungu.
Penggunaan produk dari tanaman herbal merupakan salah satu cara mengatasi masalah kulit. Saat ini, penggunaan produk kosmetik perawatan dan pengobatan kulit dengan bahan alam lebih disukai karena keamananya. Pegagan (Centella asiatica (L). Urban) merupakan salah satu tanaman herbal yang digunakan dalam dermatologi yang direkomendasikan dalam pengobatan penyakit dan lesi kulit seperti ekskoriasi, luka bakar, bekas luka hipertrofik, antioksidan, antiaging, pemutih kulit dan eksim. Ekstrak pegagan juga dapat digunakan sebagai bahan kosmetik. Kandungan terpenting yang diisolasi dari pegagan adalah saponin triterpenoid yang dikenal sebagai centelloids. Saponin dapat mencapai 1-8% dari semua komponen pegagan. Centellosides utama adalah saponin triterpenoid pentasiklik tipe ursane dan oleanane. Senyawa yang terpenting dari pegagan karena
aktivitas farmakologisnya adalah asiatikosida, madekasosid, asam asiatika dan asam madekasik.
Ekstrak pegagan memiliki senyawa triterpen dan campuran triterpenoid yang telah terbukti memiliki efek penyembuhan luka dalam beberapa penelitian.
Aktivitas triterpen pada pegagan yaitu asam asiatik, asam madekasik, asiatikosida dan madekasosid merupakan komponen utama pegagan untuk penyembuhan luka pada uji in vitro dan in vivo. Asiatikosida memiliki aktivitas dalam penyembuhan luka termasuk pada luka yang terinfeksi. Studi lain menunjukkan bahwa asiatikosida secara signifikan menginduksi sintesis kolagen tipe I pada fibroblas kulit manusia. Asiatikosida dan asam madekasik efektif untuk meregenerasi jaringan kulit, efek memperbaiki matriks ekstraseluler dengan produksi kolagen, mengurangi kandungan melanin dalam melanosit sehingga dapat memodulasi melanogenesis dengan menghambat ekspresi mRNA tirosinase.
Manfaat dan khasiat utama pegagan adalah meningkatkan sistem imun dalam tubuh dan sebagai obat tradisional untuk menyembuhkan berbagai penyakit, antara lain:
● Sebagai penyembuh luka infeksi
● Sebagai penyembuh bekas luka hipertrofik pasca operasi
● Sebagai penyembuh luka bakar
● Sebagai antioksidan
● Sebagai antiinflamasi
● Sebagai antilepra dan antilupa
● Sebagai agen antiaging dalam kosmetik
● Sebagai pelembab kulit
● Sebagai pemutih kulit
● Sebagai toksisitas
● Menurunkan tekanan darah dan menghambat terjadinya keloid
● Mengatasi TBS kilit, gigitan ular, dan bisul.
● Menghambat produksi jaringan bekas luka yang berlebihan..
● Memperbaiki sel kulit mati, merangsang pertumbuhan kuku, rambut, dan jaringan ikat.
BAB 3
PEMBAHASAN METODE EKSTRAKSI BERDASARKAN JURNAL
3.1. JENIS EKSTRAKSI BERDASARKAN JENIS SAMPEL
Berdasarkan jenis sampel yang digunakan, ekstraksi yang digunakan pada jurnal ini adalah “ekstraksi padat-cair” dimana pada jurnal ini guna mendapatkan ekstrak daun pegagan dilakukan transfer difusi komponen terlarut dari padatan inert (dalam hal ini daun pegagan) ke dalam pelarut untuk memisahkan analit yang terdapat pada padatan menggunakan pelarut organik (pada jurnal ini menggunakan etanol 96%). Proses ini merupakan proses yang bersifat fisik, karena komponen terlarut nantinya akan dikembalikan lagi ke keadaan semula tanpa mengalami perubahan kimiawi.
Pada jurnal ini disebutkan ekstrak daun pegagan yang telah melalui proses maserasi akan disaring memakai kertas saring sehingga diperoleh maserat serta dimuat di dalam wadah penampungan yang ditutup. Ekstrak daun pegagan di uapkan dengan vaccum rotary evaporator sampai didapatkan ekstrak kental. Inilah yang dimaksud dengan mengembalikan komponen terlarut ke dalam kondisi semula tanpa mengalami perubahan kimiawi dengan jalan menguapkan solvent/pelarut.
Ekstraksi dari bahan padat dapat dilakukan jika bahan yang diinginkan dapat larut dalam solvent/ pelarut pengekstraksi. Padatan yang akan diekstrak dilembutkan terlebih dahulu, dapat dengan cara ditumbuk atau dapat juga di iris- iris menjadi bagian-bagian yang tipis seperti telah dilakukan pada pembuatan ekstrak daun pegagan pada jurnal ini. Kemudian padatan yang telah halus di bungkus dengan kertas saring dan dimasukkan kedalam alat ekstraksi soxhlet.
Pelarut organik dimasukkan ke dalam labu godog. Kemudian peralatan ekstraksi di rangkai dengan pendingin air. Ekstraksi dilakukan dengan memanaskan pelarut organik sampai semua analit terekstra.
3.2. JENIS EKSTRAKSI BERDASARKAN METODE EKSTRAKSI
Pada jurnal ini metode ekstraksi yang digunakan yakni metode dingin, yaitu secara Maserasi, karena tidak ada proses pemanasan dalam pembuatan ekstraksi, melainkan menggunakan pelarut etanol 96%.
3.3 JENIS EKSTRAKSI BERDASARKAN PEMILIHAN PELARUT
Tujuan penelitian pada jurnal ini adalah untuk keperluan perawatan kulit, yakni mengetahui kandungan fitokimia daun pegagan, kualitas body mask yang dihasilkan, dan formulasi sediaan body mask daun pegagan yang paling disukai oleh probandus, maka bahan utama ekstrak daun pegagan yang ingin diperoleh yakni senyawa-senyawa yang memiliki manfaat terhadap kesehatan kulit, seperti alkaloid, triterpenoid, steroid, saponin, flavonoid, dan tannin. Beragam senyawa ini memiliki beragam derajat kepolaran. Maka penggunaan pelarut etanol dalam penelitian ini sudah tepat, mengingat etanol merupakan pelarut yang cenderung polar dan bersifat universal. Etanol juga dikenal memiliki batas keamanan yang sangat baik bagi manusia, termasuk jika nantinya ekstrak yang diperoleh ditujukan untuk diaplikasikan ke manusia, sebagaimana dalam jurnal penelitian ini yang menggunakan ekstrak pegagan untuk keperluan body mask. Bahkan pelarut ini termasuk pelarut yang food grade dengan batas keamanan yang cukup lebar.
Disamping itu sudah banyak penelitian-penelitian sebelumnya yang menunjukkan efektifitas etanol sebagai pelarut dibandingkan tipe pelarut semipolar / polar lainnya, khususnya dalam proses ekstraksi simplisia tanaman pegagan atau Centella asiatica.
Konsentrasi pelarut etanol dalam penelitian ini yakni 100% tanpa campuran air. Pada penelitian lain, diketahui bahwa penggunaan campuran etanol dengan air dalam kadar 75%:25% dapat mengikat asiaticoside dengan kadar yang paling maksimal. Kadar campuran etanol-air sebesar 75%:25% ternyata memiliki nilai kepolaran terbaik untuk melarutkan beragam senyawa dalam tanaman Pegagan, khususnya asiaticoside (Lestari, dkk. 2015).
3.4 TEKNIK PENGERJAAN PEMBUATAN EKSTRAKSI
Teknik pembuatan ekstrak pegagan dalam jurnal ini dimulai dengan tahap penyiapan simplisia. Dilakukan pengumpulan raw material berupa daun pegagan yang diambil dari Jatiluwih, Kabupaten Tabanan, Bali. Daun pegagan disortasi untuk membersihkan dari kotoran. Kemudian sampel daun pegagan yang masih segar di cuci, di potong kecil-kecil serta dikeringkan sampai 7 hari dan diblender hingga halus lalu diayak. Daun pegagan yang telah diblender serta bentuknya serbuk di timbang dalam jumlah 100 g. Serbuk dimasukan dalam toples kaca serta dimaserasi dengan etanol 96%. Perbandingan maserasi bubuk pegagan dengan etanol 96 % yaitu 1:100. Toples kaca ditutup rapat, lalu sampel dibiarkan selama 5
hari dan diletakkan di tempat yang tidak terkena sinar matahari. Ekstrak daun pegagan disaring memakai kertas saring jadi diperoleh maserat serta dimuat di dalam wadah penampungan yang ditutup. Ekstrak daun pegagan di uapkan dengan vaccum rotary evaporator sampai didapatkan ekstrak kental.
3.5 SIFAT-SIFAT SENYAWA YANG DIEKSTRAK
1. Asiaticoside senyawa yang kompleks, dan sifat-sifatnya bisa bervariasi tergantung pada berbagai faktor. Namun, secara umum:
● pH: Asiaticoside umumnya stabil pada rentang pH netral hingga sedikit basa. pH yang sangat asam atau sangat basa dapat mempengaruhi stabilitasnya. Sebagian besar penelitian menunjukkan bahwa asiaticoside stabil pada rentang pH antara 5 hingga 8.
● Polaritas: Asiaticoside adalah senyawa yang cukup polar karena memiliki beberapa gugus hidroksil dan gugus fungsional lainnya. Karena polaritasnya yang tinggi, asiaticoside cenderung larut dalam pelarut polar seperti air dan etanol.
● Thermostability: Thermostability (stabilitas terhadap panas) asiaticoside dapat bervariasi tergantung pada formulasi dan kondisi spesifiknya. Secara umum, asiaticoside cenderung stabil pada suhu kamar, tetapi dapat mengalami dekomposisi atau perubahan struktural pada suhu yang lebih tinggi. Penting untuk dicatat bahwa panas yang berlebihan dapat mengurangi aktivitas biologisnya. Oleh karena itu, untuk penggunaan farmasi atau kosmetik, formulasi yang mempertahankan stabilitas terhadap suhu tinggi mungkin diperlukan.
2. Tannin adalah kelompok senyawa polifenolik yang ditemukan dalam berbagai jenis tanaman, terutama dalam kulit buah, biji, dan daun.
● pH: Tannin dapat berinteraksi dengan berbagai macam pH. Beberapa tannin dapat larut dalam air pada pH netral atau sedikit basa, sementara yang lain lebih larut pada pH asam. Perubahan pH dapat memengaruhi kestabilan dan aktivitas tannin.
● Polaritas: Tannin umumnya memiliki sifat polar karena memiliki banyak gugus hidroksil dan gugus fenolik. Namun, kepolariannya bisa bervariasi tergantung pada jenis tannin dan struktur kimianya. Sebagian besar tannin larut dalam pelarut polar seperti air, etanol, atau aseton.
● Thermostability: Stabilitas terhadap panas tannin dapat bervariasi tergantung pada jenis tannin dan kondisi pengolahan. Tannin cenderung lebih stabil pada suhu rendah hingga sedang, tetapi pemanasan berlebihan dapat menyebabkan dekomposisi atau perubahan kimia yang mengurangi aktivitas atau kegunaannya.
3. Saponin adalah senyawa glikosida alami yang ditemukan dalam berbagai jenis tanaman, termasuk kacang-kacangan, biji-bijian, dan tumbuhan berbunga. Sifat- sifat fisikokimia saponin dapat bervariasi tergantung pada struktur kimianya, tetapi secara umum:
● pH: Saponin dapat bereaksi terhadap perubahan pH, dan larutannya dapat bervariasi tergantung pada keasaman atau kebasaan lingkungan.
Beberapa saponin lebih larut dalam air pada pH netral atau sedikit asam, sementara yang lain lebih larut dalam suasana basa. Perubahan pH dapat memengaruhi stabilitas dan aktivitas saponin.
● Polaritas: Saponin adalah senyawa amfipatik, yang berarti memiliki bagian hidrofilik dan hidrofobik. Ini memberikan saponin sifat polar dan non-polar yang membuatnya larut dalam pelarut polar seperti air, tetapi juga dapat membentuk misel atau mengemulsi dalam pelarut non-polar seperti minyak.
● Thermostability: Stabilitas terhadap panas saponin dapat bervariasi tergantung pada jenis saponin dan kondisi pengolahan. Saponin umumnya lebih stabil pada suhu rendah hingga sedang, tetapi pemanasan berlebihan dapat menyebabkan dekomposisi atau perubahan kimia yang mengurangi aktivitas atau kegunaannya.
4. Alkaloid adalah kelompok senyawa kimia yang umumnya ditemukan dalam tumbuhan dan memiliki struktur kimia yang beragam. Sifat-sifat fisikokimia alkaloid bisa bervariasi tergantung pada jenis dan struktur kimianya, namun secara umum:
● pH: Alkaloid bisa bereaksi terhadap perubahan pH, tetapi kebanyakan dari mereka cenderung stabil pada rentang pH tertentu. Beberapa alkaloid dapat larut dalam air pada pH netral atau sedikit basa, sementara yang lain mungkin lebih stabil dalam suasana asam.
Perubahan pH dapat memengaruhi kelarutan dan aktivitas alkaloid.
● Polaritas: Sifat polaritas alkaloid dapat bervariasi tergantung pada struktur kimia mereka. Beberapa alkaloid bersifat polar karena memiliki gugus fungsional yang polar, seperti gugus amina, sedangkan yang lain mungkin lebih non-polar. Hal ini membuat beberapa alkaloid larut dalam pelarut polar seperti air atau etanol, sementara yang lain mungkin lebih larut dalam pelarut non-polar seperti kloroform atau etil asetat.
● Thermostability: Stabilitas terhadap panas alkaloid juga bisa bervariasi tergantung pada jenis dan struktur kimianya. Beberapa alkaloid lebih stabil pada suhu rendah hingga sedang, sementara yang lain mungkin mengalami dekomposisi atau perubahan kimia pada suhu yang lebih tinggi. Pemanasan berlebihan dapat mengurangi aktivitas atau kegunaan alkaloid.
5. Flavonoid
● pH: Flavonoid dapat bereaksi terhadap perubahan pH, dan larutannya bisa bervariasi tergantung pada keasaman atau kebasaan lingkungan.
Beberapa flavonoid lebih larut dalam air pada pH netral atau sedikit asam, sementara yang lain lebih larut dalam suasana basa. Perubahan pH dapat memengaruhi stabilitas dan aktivitas flavonoid.
● Polaritas: Flavonoid umumnya memiliki sifat polar karena memiliki banyak gugus hidroksil dan gugus fenolik. Ini membuat flavonoid larut dalam pelarut polar seperti air, etanol, atau aseton. Namun, kepolariannya bisa bervariasi tergantung pada jenis flavonoid dan struktur kimianya.
● Thermostability: Stabilitas terhadap panas flavonoid bisa bervariasi tergantung pada jenis dan struktur kimianya. Beberapa flavonoid lebih stabil pada suhu rendah hingga sedang, tetapi pemanasan berlebihan atau paparan panas yang berkepanjangan dapat menyebabkan dekomposisi atau perubahan kimia yang mengurangi aktivitas atau kegunaan flavonoid.
⮚ Sifat pelarut yg digunakan
Menurut Tifani (2012), etanol digunakan sebagai pelarut karena bersifat universal, cenderung polar, dan mudah didapat. Etanol 96% dipilih karena selektif, tidak toksik, absorbsinya baik, dan kemampuan penyariannya tinggi sehingga dapat mencari senyawa yang bersifat non polar, semi polar, dan polar.
Pelarut etanol 96% lebih mudah masuk berpenetrasi ke dalam dinding sel sampel daripada pelarut etanol dengan konsentrasi lebih rendah, sehingga menghasilkan ekstrak yang pekat.
⮚ pH
Uji pH bertujuan untuk menentukan pH sediaan. Uji pH dilakukan menggunakan pH meter. Berdasarkan SNI 16-4399-1996 pH untuk produk yang diaplikasikan pada kulit berkisar 4,5-8,0 (Adhayani et al., 2022). Pengukuran pH body mask dengan menimbang body mask 5 g kemudian dilarutkan dalam 10 mL aquadest.
Pengukuran pH dengan memakai pH meter liquid (Komala et al., 2018). ).
Semua sediaan memilki pH berkisar 5,32 – 5,53 dengan rata - rata 5,41.
3.6 JENIS EKSTRAKSI BERDASARKAN MEKANISME
Pada jurnal ini menggunakan metode ekstraksi padat cair (soxhlet), dimana ekstraksi ini digunakan untuk memisahkan analit yang terdapat pada padatan menggunakan pelarut organik, langkah-langkah ekstraksi padat cair, yaitu pencampuran pelarut dan bahan bahan yang diekstrak, lalu dipisahkan dengan beberapa fase.
Prinsip kerja ekstraksi soxhlet terdiri dari pelarut tertentu, proses penguapan, kondensasi sehingga terjadi ekstraksi kontinyu dengan jumlah pelarut konstan dengan adanya proses pendinginan kembali.
Penarikan komponen kimia dalam thimbel yang telah dilapisi kertas saring, cain pelarut dipanaskan dalam labu alas bulat sehingga menguap ke atas dan dikondensasikan oleh kondensor menjadi molekul molekul cairan yang jatuh kedalam thimbel menyaring zat aktif didalam sampel dan jika cairan pelarut telah mencapai permukaan syphon arm, seluruh cairan akan turun kembali ke labu alas bulat melalui pipa kapiler sehingga terjadi sirkulasi atau juga disebut satu siklus ekstraksi.
3.7 JENIS PEMERIKSAAN EKSTRAKSI
Pada jurnal ini dilakukan 2 jenis uji/ pemeriksaan; yaitu pemeriksaan fitokimia dan pemeriksaan organoleptik.
Skrining fitokimia dilakukan dengan menguji kandungan alkaloid, triterpenoid steroid, saponin, tanin dan flavanoid. Pengujian senyawa fitokimia tersebut yang merupakan senyawa metabolit sekunder menggunakan pereaksi pewarna kecuali pada pengujian saponin.
Hasil uji fitokimia ekstrak daun pegagan bisa terlihat dalam tabel dibawah ini. Golongan senyawa alkaloid serta triterpenoid menunjukan hasil negatif, akan tetapi untuk golongan steroid, saponin, flavonoid, serta tanin menunjukkan hasilnya positif.
Tabel hasil uji fitokimia ekstrak daun pegagan
a. Uji Alkaloid
Pada pengujian alkaloid, ekstrak sebanyak 0,5 gram ditambahkan 2 ml etanol 70% kemudian ditambah HCl 2 N 5 ml dan dipanaskan, hal ini bertujuan untuk menghilangkan protein dimana protein ini dapat memberikan hasil positif palsu pada pengujian. Pengujian selanjutkan yaitu diteteskan pereaksi Meyer yang ditandai dengan adanya endapan yang disebabkan karena adanya ikatan antara nitrogen pada alkaloid dengan pereaksi. Pada penelitian ini tidak diperoleh endapan sehingga disimpulkan pada ekstrak etanol herba pegagan tidak mengandung alkaloid.
b. Uji Triterpenoid, Saponin, Steroid
Ekstrak daun pegagan ditimbang 0,5 g, lalu di tambahkan asam asetat glasial (CH3COOH) berjumlah 10 tetes dan H2SO4 pekat berjumlah 2 tetes, kemudian larutan di kocok perlahan. Hasil positif ditunjukkan dengan terbentuknya warna biru ataupun hijau terhadap steroid, akan tetapi triterpenoid memberikan warna merah ataupun ungu (Simaremare, 2014). Pada jurnal ini uji triterpenoid (-) dan (+) untuk steroid dengan terlihatnya warna merah.
Pada uji saponin, tidak dilakukan pengujian dengan pereaksi warna. Saponin diuji dengan cara 0,5 gram ekstrak ditambahkan 2 ml etanol 70% kemudian ditambahkan 20 ml aquabides lalu dikocok dan didiamkan selama 15-20 menit, kemudian diamati apakah terbentuk busa setelahnya. Hasil positif jika terbetuk busa yang mantap selama 10 menit dan tidak hilang setelah ditetesi degan HCl 2 N 1 tetes. Pada pengujian diperoleh hasil terbentuk busa yang mantap setelah 10 menit didiamkan dan tidak hilang setelah ditetesi HCl 2 N yang menunjukkan (+) Saponin.
Uji saponin juga dapat dilakukan dengan ekstrak daun pegagan ditimbang 0,5 g ditambahkan dengan air panas, kemudian dikocok. Hasil positif ditunjukkan dengan adanya busa(Andriyanto dkk., 2016).
c. Uji Flavonoid
Ekstrak daun pegagan ditimbang 0,5 g lalu ditambahkan serbuk Mg sebanyak 0,05 g serta 1 mL HCl pekat, di kocok perlahan. Hasil positif ditunjukan dengan bentuk yang warna merah, kuning, ataupun jingga (Andriyanto dkk., 2016).
Pengujian flavanoid juga dapat dilakukan degan mencampur 0,5 gram ekstrak dengan 2 ml etanol 70% dan kemudian ditambahkan MgSO40,5 gram dan 3 tetes HCl pekat. Flavanoid ditunjukkan dengan terbentuknya warna merah-orange. Warna merah-orange ini terbentuk karena adanya reaksi antara flavanoid dengan magnesium dan asam klorida pekat. Hasil pada ekstrak jurnal ini adalah (+) pada uji flavonoid.
d. Uji Tanin
Ekstrak daun pegagan ditimbang 0,5 g dan ditambahkan etanol 10 mL kemudian diitambah 2 sampai 3 tetes larutan FeCl3 1%. Hasil positif ditunjukan dengan bentuk warna biru kehitaman (Sukma dkk., 2018). Pada jurnal ini hasil uji Tanin (+) ditandai dengn adanya warna biru kehitaman.
Pemeriksaan organoleptik adalah metode evaluasi yang melibatkan penggunaan panca indera manusia, seperti penglihatan, penciuman, pengecapan, dan sentuhan, untuk menilai sifat fisik, kimia, dan organoleptik produk atau bahan.
Pada pemeriksaan organoleptik ekstrak yang meliputi bau, warna, rasa dan bentuk ekstrak didapatkan hasil yaitu ekstrak etanol daun pegagan memiliki bau yang khas, berwarna hijau pekat, rasa sepat dan bentuk ekstrak yang kental. Data organoleptik dari ekstrak tersebut merupakan salah satu parameter spesifik yang ditentukan dengan menggunakan panca indera. Hal ini bertujuan sebagai langkah awal untuk pengenalan secara sederhana dan subyektif dari ekstrak yang akan distandardisasi.
Hasil uji organoleptic dalam dilihat pada table di bawah ini.
Tabel Hasil Uji Organoleptik Ekstrak Etanol Daun Pegagan (Centella asiatica L.)
Pada jurnal ini, dilakukan pemeriksaan organoleptik bukan terhadap ekstrak melainkan terhadap sediaan jadi bodymask yang mengandung ekstrak pegagan.
Pemeriksaaan organoleptik pada sediaan jadi boymask menjadi penting untuk dilakukan guna memastikan bodymask yang dihasilkan nantinya akan bisa dipasarkan dan nyaman digunakan oleh konsumen.
Hasil uji organoleptik pada jurnal ini meliputi tekstur, aroma, dan warna yang dapat dilihat pada Tabel di bawah ini. Keempat formula memiliki tekstur yang kental setelah diberi air dengan perbandingan 5:5, dengan aroma greentea. Warna body mask pada F0 adalah putih, sedangkan F1, F2, dan, F3 berwarna putih kehijauan.
Tabel hasil uji organoleptik body mask
Dari hasil pemeriksaan organoleptik pada sediaan bodymask didapatkan hasil bahwa penambahan ekstrak pegagan terhadap kandungan bodymask lainnya tidak memunculkan sensasi yang dapat mengganggu penggunanya misal aroma yang tidak nyaman, atau tekstur yang kasar karena aroma greentea dan tekstur halus didapatkan pada pemeriksaan organoleptik.
BAB 4
SIMPULAN DAN SARAN
A. SIMPULAN
Ekstraksi pada penelitian dengan judul “Formulasi Body Mask dari Daun Pegagan (Centella asiatica L.) untuk Perawatan Kulit”, berdasarkan jenis sampel yang digunakan, ekstraksinya tergolong sebagai “ekstraksi padat-cair”, dan merupakan metode ekstraksi dingin, yakni secara maserasi. Teknik pembuatan ekstrak pegagan dimulai dengan tahap penyiapan simplisia hingga diuapkan dengan vaccum rotary evaporator sampai didapatkan ekstrak kental. Pelarut yang dipilih ialah etanol 96%. Senyawa yang diekstraksi meliputi asiaticoside, steroid, tannin, saponin, alkaloid, flavonoid. Jurnal ini menggunakan metode ekstraksi padat-cair (soxhlet), yang memisahkan analit yang terdapat pada padatan menggunakan pelarut organik. Jenis pemeriksaan yang dilakukan meliputi pemeriksaan organoleptik dan uji fitokimia. Dengan memahami segenap poin-poin penting metode ekstraksi dalam jurnal penelitian tersebut diharapkan pemahaman terkait metode ekstraksi dapat lebih diperdalam.
B. SARAN
1. Penggunaan pelarut etanol yang lebih baik
Penelitian ini menggunakan pelarut etanol 96% untuk mengekstrak beragam senyawa dari Pegagan atau Centella asiatica untuk kemudian dibuat body mask. Ekstrak dari tanaman Pegagan memang dikenal memiliki khasiat terhadap kesehatan kulit, zat yang paling utama memiliki peranan yakni asiaticoside. Pada penelitian lain diketahui bahwa penggunaan etanol sebagai pelarut dengan campuran air dalam perbandingan etanol-air sebesar 75%:25% ternyata mampu menghasilkan ekstrak senyawa asiaticoside dengan kadar terbaik (Lestari, dkk. 2015). Maka jika hal ini diaplikasikan pada penelitian ini mungkin akan diperoleh body mask dengan konsentrasi asiaticoside yang lebih baik sehingga kemanfaatannya lebih maksimal.
2. Penggunaan metode lain selain maserasi
Metode ekstraksi yang digunakan pada jurnal ini adalah metode dingin dengan maserasi. Namun metode maserasi ini memiliki kelemahan yaitu diperlukan waktu yang lama untuk mengekstraksi, dalam jurnal ini dibutuhkan waktu 5 hari. Penulis menyarankan metode lain yang bisa digunakan yaitu metode dingin dengan perkolasi. Keuntungan metode
perkolasi ini sampel padat daun pegagan telah terpisah dari ekstrak yang dihasilkan. Selain metode maserasi dan perkolasi, pembuatan ekstrak daun pegagan juga bisa dengan metode panas soxhletasi. Metode soxhletasi memiliki keuntungan diantaranya jumlah pelarut yang digunakan lebih sedikit serta komponen yang diekstraksi dapat tersaring sempurna karena dilakukan sirkulasi berkali-kali. Selain itu dapat juga menggunakan metode panas distilasi uap. Distilasi uap adalah teknik yang efisien untuk mendapatkan kualitas minyak terbaik, dan dengan menggunakan daun segar di atas daun kering dalam ekstraksi, banyak konstituen yang dapat dideteksi.
DAFTAR PUSTAKA
Faiz, A. 2017, Bab II Tinjauan Pustaka. http://eprints.undip.ac.id/58349/6/BAB_II.pdf diakses pada tanggal 22 April 2024.
Fernenda, L., Ramadhanti, A. R., dan Syuri, Y. (2022) Review : Aktivitas Pegagan (Centella Asiatica (L.) Urban) pada kulit. Jurnal Sains Farmasi & Klinis 9 (3), 237. http://jsfk.ffarmasi.unand.ac.id. 10.25077/jsfk.9.3.237-244.2022. Diakses 21 April 2024.
Hamdani, S. 2009, Maserasi http://catatankimia.com/catatan/maserasi. html diakses pada tanggal 21 April 2024.
Idris, F.N. dan Mohd Nadzir, M. Comparative Studies on Different Extraction Methods of Centella asiatica and Extracts Bioactive Compounds Effects on Antimicrobial
Activities. Antibiotics 2021, 10, 457.
https://doi.org/10.3390/antibiotics10040457. Diakses 23 April 2024.
Irawan, B. 2010. Peningkatan Mutu Minyak Nilam dengan Ekstraksi dan Destilasi pada Berbagai Komposisi Pelarut. Tesis Magister Teknik Kimia Universitas Dipenogoro, Semarang.
Lestari, A. B. S., A. Fudholi, A. K. Nugroho, dan E. P. Setyowati. 2015. Pengaruh Purifikasi n-Heksana pada Serbuk Simplisia terhadap Kadar Asiatikosida, Penangkapan Radikal Bebas dan Kadar Fenol Total Ekstrak Etanolik Herba Pegagan (Centella asiatica (L.) Urban). Jurnal Ilmu Kefarmasian Indonesia.
Lestari, A. B. S., L. U. Susanti, dan Y. Dwiatmaka. 2012. Optimasi Pelarut Etanol-Air dalam Proses Ekstraksi Herba Pegagan (Centella asiatica [L.] Urban) pada Suhu Terukur. Bionatura Jurnal Ilmu Hayati dan Fisik. Vol. 14, No. 2: 87-93.
Luthfiah, L. (2022) Aplikasi Kamus Simplisia dan Resep Obat Tradisional (Sidota) Berbasis Android. Jurnal Sains dan Informatika 8 (1), 62.
https://jsi.politala.ac.id/index.php/JSI/article/view/369/167. Diakses 23 April 2024.
Martunus & Helwani, Z. 2004. Ekstraksi Senyawa Aromatis dari Heavy Gas Oil (HGO) dengan Pelarut Dietilen Glikol (DEG). J. Si. Tek. 3[2]: 46-50.
Pratiwi, E. 2022, Bab II Tinjauan Pustaka.
https://repository.ump.ac.id/14104/3/Bab%20II%20Eka%20Pratiwi.pdf diakses
pada tanggal 20 April 2024.
Rizal, M. 2020, Bab II Tinjauan Pustaka.
https://repository.poltekkespim.ac.id/id/eprint/637/3/BAB%20II%20-
%20Muhammad%20Rizal.pdf diakses pada tanggal 22 April 2024.
Sadik, F. dan A. R. A. Anwar. 2022. Standarisasi Parameter Spesifik Ekstrak Etanol Daun Pegagan (Centella asiatica L.) Sebagai Antidiabetes. Journal Syifa Sciences and Clinical Research (JSSCR). Vol. 4, No. 1.
Sarker S.D., Latif Z., and Gray A.L. (2006). Natural Product Isolation. New Jersey:
Humana Press
Sigiro, Stareast W., N. L. Arpiwi, dan N. M. S. Parwanayoni. 2023. Formulasi Body Mask dari Daun Pegagan (Centella asiatica L.) untuk Perawatan Kulit. Jurnal Metamorfosa: Journal of Biological Sciences.
Sutardi. 2016. Kandungan Bahan Aktif Tanaman Pegagan dan Khasiatnya untuk Meningkatkan Sistem Imun Tubuh. Jurnal Litbang Pertanian. Vol. 35 No. 3: 121- 130.
Tiwari Prashant, Bimlesh kumar, Mandeep Kaur, Gurpreet Kaur , Harlen Kaur , 2011, Phytochemical Screening and Extraction : A Review. Internationale Pharmaceutical Sciencia, Jan- March Vol.1 Issue.
Treybal, R.E., 1980, Mass Transfer Operation, Mc. Graw-Hill Kogakusha Ltd, TokyoGeankoplis Christie John, 1993, Transport Processes and Separation Process Principle, 4th edition, New Jersey, Pearson Education International.
Trifani. 2012. Ekstraksi Pelarut Cair-Cair.http://awjee. Diakses pada tanggal 15 Juni 2020.
Walentina, L. 2005. Formulasi Tablet Effervescent dari Ekstrak Herba Pegagan (Centella asiatica (L.) Urban). (Skripsi). Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia.
Yahya, M. A. dan I. H. Nurrosyidah. 2020. Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Herba Pegagan (Centella asiatica (L.) Urban) dengan Metode DPPH (2,2-Difenil-1- Pikrilhidrazil). Journal of Halal Product and Research (JHPR). Wilson I.D, Michael C, Colin F.P, Edward R.A. 2000. Encyclopedia of Separation Science.
Academic Press. 118-119.