PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Anak-anak yang belum tentu memahami apa yang mereka lakukan terus-menerus dijadikan alat untuk menghasilkan keuntungan bagi perusahaan produk dan jasa. Sarihusada menggunakan bakat anak-anak yang menggambarkan kepolosan dua anak berusia sekitar 4-10 tahun.
Pertanyaan Penelitian
Tujuan dan Manfaat penelitian
Penelitian Relevan
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam iklan Prudential terjadi proses komodifikasi anak yang ditangkap di samping tanda. Sedangkan penelitian yang penulis kaji untuk menganalisis praktik komodifikasi anak dalam iklan SGM Explor di televisi, Being Great versi kedua didasarkan pada syariat Islam.
Metode Penelitian
- Jenis dan Sifat Penelitian
- Sumber Data
- Tehnik Pengumpulan Data
- Teknik Analisis Data
Sedangkan sumber data sekunder merupakan sumber data penelitian yang diperoleh secara tidak langsung melalui media perantara (diterima dan dicatat oleh pihak lain). dan bahan hukum tersier. Bahan hukum primer yaitu bahan hukum yang mengikat22 dan bahan hukum yang otoritatif23 seperti kitab fiqh, kitab anak, kitab tafsir, kitab hadis, hasil penelitian atau pendapat para ahli hukum. Oleh karena itu penulis menggunakan bahan hukum primer dalam penelitian ini berupa buku Fiqh Sehari-hari karya Saleh Al-Fauzan, buku Mutiara Fiqh karya Moh.
Bahan hukum sekunder yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer 24 Bahan hukum primer sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya berupa kitab fiqh, kitab anak, kitab tafsir, kitab hadis, hasil penelitian atau pendapat para ahli hukum. Bahan hukum tersier yaitu bahan-bahan yang memberikan petunjuk dan penjelasan mengenai bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder yang bersumber dari kamus, ensiklopedia, dan lain sebagainya. Metode studi dokumenter adalah studi dokumen untuk penelitian hukum yang meliputi kajian terhadap bahan-bahan hukum yang terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tersier.
Masing-masing bahan hukum tersebut harus diuji kembali validitas dan reliabilitasnya karena mempengaruhi hasil suatu penelitian. 28 Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data dari media elektronik, dan data dari buku-buku yang berkaitan dengan komodifikasi anak sebagai ikon iklan.
LANDASAN TEORI
Komodifikasi
- Pengertian Komodifikasi
- Proses Komodifikasi
Berdasarkan uraian di atas, peneliti lebih tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai komodifikasi anak dalam iklan SGM Eksplor. Windha Larasanti Delvia Febriany Komodifikasi Anak dalam Periklanan (Analisis Semiotika Roland Barthes Terhadap Iklan Prudential Versi Televisi Mendengarkan Tujuan Mereka)” Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora Yogyakarta Lulus Tahun 2013. Penelitian ini fokus pada bagaimana mengungkap dugaan komersialisasi anak pada iklan Prudential di televisi versi mendengarkan cita-citanya dengan menggunakan teori analisis semiotik Roland Barthes.
15 Windha Larasanti Delvia Febriany, “Komodifikasi Anak dalam Periklanan (Analisis Semiotika Roland Barthes Terhadap Periklanan Prudential Versi Televisi Mendengarkan Tujuan Mereka)” Skripsi, 2013, di http://digilib.uin-suka.ac.id/view / subyek/I.html diunduh pada 16 Mei 2106. Faidol Juddi “Penggunaan anak dalam iklan TV (Studi segmentasi komersial produk dewasa dengan model anak di stasiun TV swasta Indonesia, edisi Desember 2012)” Makalah tahun 2013, di digilib .uinsby. ac.id/view/year/2013.html diunduh pada 16 Mei 2016. 35 Intan Purwatih, dalam Windha Larasanti Delvia Febriany, “Komodifikasi Anak dalam Periklanan (Analisis Semiotik Roland Barthes pada Iklan Prudential Mendengarkan Keperluan Televisi)” Skripsi dalam 2013, di http://digilib.uin-suka.ac.id/view/subjects/I.html diunduh pada 16 Mei 2106, h.
36 Vincent Mosco, Political Economic of Communication: Rethinking and Renewal, dalam Windha Larasanti Delvia Febriany, “Komodifikasi Anak dalam Periklanan (Analisis Semiotika Roland Barthes terhadap Iklan Prudential di Televisi Versi Mendengarkan Tujuan Mereka, http2013 thesis” //digilib.uin -suka.ac.id/view/subjects/I.html diunduh pada 16 Mei 2106, hal. 40 Marxis, dalam Windha Larasanti Delvia Febriany, “Komodifikasi Anak dalam Periklanan (analisis semiotika Roland Barthes tentang periklanan yang cermat dalam versi televisi mendengar impian mereka)" Skripsi, 2013, di http://digilib.uin-suka.ac .id /view/subjects/I.html diunduh pada 16 Mei 2106, hal. 42 Yoyoh Hareyah, dalam Windha Larasanti Delvia Febriany , “Komodifikasi Anak dalam Periklanan (Analisis Semiotik Roland Barthes Terhadap Periklanan Cermat dalam Versi Televisi Mendengar Niatnya),” Skripsi, 2013, di http://digilib.uin-suka.ac.id/view/subjek/ I.html diunduh pada 16 Mei 2106, hal.
Anak
- Pengertian Anak
- Kedudukan Anak
- Hak Anak
Melalui bermain, anak-anak menemukan dan mempelajari hal-hal atau keterampilan baru dan belajar kapan harus menggunakan keterampilan tersebut dan memuaskan apa yang mereka butuhkan. Bermain bagi anak merupakan suatu kegiatan yang berhubungan dengan pekerjaan, karena bermain merupakan persiapan untuk bekerja. Sebelum hak-hak di atas terpenuhi, Islam mengajarkan agar orang tua memberikan nama yang baik kepada anaknya.
-Hak-hak anak tersebut harus dipenuhi oleh orang dewasa baik sebagai orang tua maupun sebagai wali bagi mereka. - Hak-hak anak ini diakui dalam Konvensi Hak Anak yang dikeluarkan oleh Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 1989. Artinya, anak mempunyai hak atas gizi yang baik, perumahan yang layak dan pelayanan kesehatan yang baik ketika mereka sakit.
Suka tidak suka, orang tua secara langsung maupun tidak langsung mempunyai peranan penting dalam pembentukan psikologi anak.
Iklan
- Definisi dan Teori Iklan
- Iklan Televisi
- Aspek Stratrgi Pesan dalam Iklan
- Etika Periklanan
- Iklan SGM Eksplor
Penggunaan anak-anak dalam iklan televisi (Studi pada segmentasi iklan produk dewasa dengan model anak-anak di stasiun televisi swasta Indonesia, edisi Desember 2012). Faidol Juddi “Penggunaan Anak dalam Iklan Televisi (Studi tentang Segmentasi Iklan Produk Dewasa dengan Model Anak di Stasiun Televisi Swasta Indonesia Edisi Desember 2012)” Skripsi 2013, di digilib.uinsby.ac.id/. Dalam Islam, seperangkat dalil mempunyai hikmah berupa etika yang berbasis syariah.
Sedangkan landasan kebebasan yang dibangun dalam Islam adalah pengembangan penciptaan pemilu, namun ada dua konsekuensi yang melekat. Allah Maha Kuasa atas segalanya.”96 Allah juga melindungi umat manusia dengan peringatan melalui firman-Nya dalam QS. Etika periklanan juga diatur dalam undang-undang no. 32 Tahun 2002 terkait pasal 46 dan 47 tentang penyiaran mengatur etika periklanan sebagai berikut:
Maka, di akhir produksi, enam anak kecil baik jenis kelamin maupun perempuan muncul dalam iklan SGM Eksplor.
KOMODIFIKASI ANAK SEBAGAI IKON IKLAN
Praktik Komodifikasi Anak Sebagai Ikon Iklan SGM Eksplor
Produk susu SGM Explor pada tahun 2015 mendapat banyak perhatian dan mendapat posisi di hati masyarakat hingga saat ini, karena kemunculan produk SGM Ekspor diwarnai dengan iklan andalannya versi Dua Menjadi Hebat. Sebelumnya, pada tahun 1965, Sari Husada pertama kali memperkenalkan produk susu bubuk SGM secara besar-besaran dan menjadi pionir pengembangan produk susu anak di Indonesia. Iklan versi dua lawan satu ini dimainkan oleh sejumlah anak berusia antara 4-10 tahun.
Merujuk pada teori ketiga Shimp yaitu mengingatkan perlunya penyegaran ingatan masyarakat, segala aktivitas anak-anak dalam iklan yang selalu ceria dapat menjadi kenangan tersendiri bagi masyarakat. Tentunya masyarakat akan lebih memperhatikan dan memperhatikan anaknya dengan harapan dapat terpenuhinya kebutuhan anak seperti yang terlihat dalam iklan yaitu anak yang penuh kegembiraan, aktif dan kreatif. Pemanfaatan anak dalam pembuatan atau produksi iklan sedang mengalami fase transformasi yang biasa disebut dengan komodifikasi.
Sebagaimana keterlibatan anak-anak sebagai aktor dalam periklanan, mereka juga merupakan hasil dari proses komodifikasi.
Ke-mudhorot-an Komodifikasi Anak Sebagai Ikon Iklan
Proses yang terjadi dalam menonton iklan memunculkan opini tentang peran iklan yang dilakukan oleh anak-anak. Hal-hal yang paling penting perlu diperhatikan, antara lain: waktu bermain anak akan berkurang, kesempatan pendidikan akan terganggu, psikologi anak akan tercampur dengan target beban produksi iklan, dan terlepas dari lingkungan kekanak-kanakan. Masuknya anak ke dalam dunia kerja pertama-tama akan menyita perkembangan anak dari dunia bermain.
Dengan ia terpisah dari dunia bermainnya, maka perubahan psikologi anak akan berada titik penyesuaian diri dimana ia mendapat beban tanggung jawab untuk menyelesaikan target- target produksi iklan. Kedua, dengan anak-anak yang mengalami perubahan berupa cara berfikir pada kebutuhan kerja, kelemahan berikutnya adalah pemahaman agama bagi anak-anak akan menurun seiring perjalanan anak tumbuh kembang di tengah dunia kerja dini. Seharusnya anak-anak mendapatkan haknya berupa kebebasan bermain, belajar, mendapat perlindungan dari ancaman yang akan mengganggunya baik kejiwaan maupun fisik.
Hal inilah yang semakin mengancam anak-anak akibat adanya komodifikasi liar yang bertujuan untuk memenuhi permintaan pasar.
Pandangan Hukum Islam Terhadap Komodifikasi Anak
Beberapa teori di atas menimbulkan kesenjangan yang nyata antara hukum dan kompilasi hukum Islam. Masih berdasarkan penyebutan usia anak, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran juga menyebutkan bahwa batasan usia anak yang dilarang untuk dieksploitasi tertuang dalam Pasal 46 ayat (3) huruf (e), yaitu “Penyiaran”. “iklan komersial dilarang: eksploitasi anak di bawah umur 18 (delapan belas) tahun”. Maka oleh karena itu batasan usia yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 dan UU.
Syarif Hidayat, “Eksploitasi Ekonomi Anak Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak Dalam Perspektif Hukum Islam”. Faidol Juddi, “Penggunaan Anak dalam Iklan Televisi (Studi tentang Segmentasi Iklan Produk Dewasa dengan Model Anak di Stasiun Televisi Swasta Indonesia Edisi Desember 2012)” Skripsi, 2013. Undang-Undang Republik Indonesia No. 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
Windha Larasanti Delvia Febriany, “Komodifikasi Anak dalam Periklanan (Analisis Semiotika Roland Barthes Terhadap Periklanan Prudential Versi Televisi Dalam Mendengarkan Sasarannya)” Skripsi, 2013.
PENUTUP
Kesimpulan
Dari gambaran komodifikasi anak sebagai ikon iklan SGM Explor di televisi versi kedua menjadi besar dari sudut pandang hukum Islam, dapat disimpulkan bahwa penggunaan anak sebagai bintang atau ikon dalam iklan jelas tidak diperbolehkan. di bawah hukum Islam. Hal ini terlihat dari niat penggunaan anak sebagai ikon iklan, sebuah komodifikasi yang banyak mengandung lumpur.
Saran
Malik Muhyidin dan Askurifai Baksin, “Validasi ‘Peristiwa’ pada CCTV Trans7: Analisis Semiotika Penayangan CCTV di Trans7 Dilihat Dari Kode Televisi Menurut John Fiske” dalam PROSEDUR PENELITIAN SPESIA 2015, Bandung: Universitas Islam Bandung, 2015. Quraish Shihab, Tafsir Al -Misbah: Pesan, Kesan dan Harmoni Al-Qur'an, Jakarta: Lentera Hati, 2009, jilid 7 dan 11. Majid Khadduri, Perang dan Damai dalam Hukum Islam (War and Peace in Islamic Law), diterjemahkan oleh Kuswanto , Yogyakarta: Tarawang Pers, 2002.
Muhammad Fu'ad Abdul Baqi, Sahih Bukhari Muslim, Diterjemahkan oleh Abu Firly Bassam Taqiy, dari judul asli Al-Lu'lu Wal Marjanan Fiimaa Ihafaqa 'Alaihi Asy-Syaikhani Al-Bukhari wa Muslim, Yogyakarta: Hikam Pustaka, 2013.