i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...Error! Bookmark not defined.
DAFTAR ISI... i
BAB I ... 1
PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 2
1.3. Tujuan Pembahasan ... 2
BAB II ... 3
PEMBAHASAN ... 3
2.1. Pengertian, Hukum, dan Tujuan Munakahat (Pernikahan) ... 3
2.1.1. Pernikahan ... 3
2.1.2. Hukum Pernikahan... 3
2.1.3. Tujuan Pernikahan ... 4
2.2. Mencari Pasangan Hidup dan Khitbah ... 5
2.3. Perempuan Mahram (Haram Dinikahi) ... 5
2.4. Rukun Nikah ... 7
2.5. Thalaq (Cerai) dan Iddah ... 9
2.5.1. Pengertian Thalaq/Cerai ... 9
2.5.2. Macam-Macam Thalaq ... 9
2.5.3. Iddah ... 11
2.6. Hikmah Pernikahan ... 12
2.7. Soal dan Studi Kasus ... 13
2.7.1. Soal Pilihan Ganda ... 13
2.7.2. Studi Kasus ... 18
BAB III ... 22
PENUTUP ... 22
KESIMPULAN ... 22
DAFTAR PUSTAKA ... 23
1 BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Munakahat berarti pernikahan atau perkawinan. Kata dasar
pernikahan adalah nikah. Menurut kamus bahasa Indonesia, kata nikah berarti berkumpul atau bersatu. Pernikahan adalah suatu lembaga kehidupan yang disyariatkan dalam agama Islam.
Pernikahan merupakan suatu ikatan yang menghalalkan pergaulan laki- laki dengan seorang wanita untuk membentuk keluarga yang bahagia dalan mendapatkan keturunan yang sah. Nikah adalah fitrah yang berarti sifat asal dan pembawaan manusia sebagai makhluk Allah SWT. Asal hukum
pernikahan mubah (boleh) bergantung pada kondisi atau keadaan seseorang.
Tujuan pernikahan adalah untuk mewujudkan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah, serta bahagia di dunia dan akhirat. Membina dan membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah tidaklah mudah dan membutuhkan proses sejak mencari pasangan hidup.
Dalam suatu pernikahan akan banyak terjadi cobaan atau ujian yang diberikan Allah kepada keluarga tersebut. Jika masalah tersebut tidak dapat diatasi dan untuk mencapai kebaikan bersama tidak ditemukan atau sudah membahayakan dan sudah kecil kemungkinan akan terjadi kecocokan
diantara suami istri maka akan berujung kepada perceraian sebagai jalan akhir yang ditempuh.
Jakarta, 22 Desember 2022
Penulis
2
1.2. Rumusan Masalah
1. Apa Tujuan Munakahat (Pernikahan)?
2. Bagaimana Mencari Pasangan Hidup dan Khitbah Dalam Islam?
3. Siapa saja Perempuan Mahram (Haram Dinikahi)?
4. Apa saja Rukun Nikah?
5. Apa Thalaq dan Iddah?
6. Apa Hikmah Pernikahan?
1.3. Tujuan Pembahasan
1. Untuk mengetahui Pengertian, Hukum, dan Munakahat 2. Untuk mengetahui Pasangan Hidup dan Khitbah Dalam Islam 3. Untuk mengetahui Perempuan yang Mahram (Haram Dinikahi) 4. Untuk mengetahui Rukun Nkah
5. Untuk mengetahui Thalaq dan Iddah 6. Untuk mengetahui Hikmah Pernikahan
3 BAB II PEMBAHASAN
2.1. Pengertian, Hukum, dan Tujuan Munakahat (Pernikahan)
2.1.1. Pernikahan
Nikah menurut etimologi (bahasa) berarti menghimpun, sedangkan menurut terminologis adalah akad yang menghalalkan pergaulan antara laki-laki dan
perempuan yang bukan muhrim sehingga menimbulkan hak dan kewajiban diantara keduanya. Sedangkan pengertian pernikahan dalam arti luas adalah suatu ikatan suci yang mengikat lahir batin antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim untuk hidup bersama dalam suato ramah tangga.
2.1.2. Hukum Pernikahan
Asal hukum pernikahan adalah mubah (boleh). Kemudian hukumnya bergantung pada kondisi atau keadaan orang yang akan melangsungkan pernikahan tersebut, karena itu hukum nikah, bisa wajib, sunnat, makruh, atau haram.
a. Nikah yang hukumnya wajib adalah nikah bagi orang yang telah cukup sandang pangan dan dikhawatirkan terjerumus pada perzinaan.
b. Nikah yang hukumnya sunnat adalah bagi orang yang berkeinginan menikah serta cukup sandang pangan.
c. Nikah yang hukumnya makruh adalah bagi orang yang tidak mampu.
d. Nikah hukumnya haram bagi orang yang berkehendak menyakiti orang yang dinikahinya.
4 2.1.3. Tujuan Pernikahan
Dalam Islam pernikahan menempati kedudukan yang sangat tinggi dan mulia karena itu prosesi pernikahan dilakukan dengan hidmat dan sakral.
Islam menganjurkan agar perkawinan itu dipersiapkan secara matang, sebab pernikahan bukan sekedar mengesahkan hubungan badan antara laki-laki perempuan, atau memuaskan kebutuhan seksual semata-mata. Pernikahan memiliki arti yang luas, tinggi, dan mulia, balikan pernikahan merupakan suatu ibadah kepada Allah ta'ala. Dari pernikahan akan lahir generasi penerus, baik atau buruknya perilaku mereka sangat dipengaruhi oleh peristiwa yang dimulai dalam pernikahan. Kedudukan pernikahan yang tinggi tersebut dijelaskan oleh Rasulullah:
"Nikah itu sunnahku, barang siapa membenci pernikahan, maka ia bukanlah tergolong umatku.”
Dalam hadits yang lain Rasulullah bersabda:
"Nikah itu adalah setengah iman"
Pernikahan menurut ajaran Islam bertujuan untuk menciptakan keluarga yang tentram, damai dan sejahtera lahir batin. Hal ini diungkapkan dalam firman Allah:
"dan diantara tanda-tande kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan
untukmu istri- istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantara rasa kasih sayang
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar tendapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (Qs. Ar-Rum, 30.21)
Ayat di atas, menjelaskan bahwa pernikalian dilakukan untuk mencapai kehidupan keluarga yang sakinah, yaitu kel zarga yang tenang, tentram, damai dan sejahtera. Dalam keluarga yang demikian itu terdapat rasa cinta
5
dan sayang (mawadah warahmah) yang terjalin diantara anggota keluarga, yaitu suami, istri, dan anak-anak.
2.2. Mencari Pasangan Hidup dan Khitbah
Membina dan membentuk keluarga yang sakinah, mawadal: dan rahmah tidaklah mudah, haltersebut membutuhkan proses sejak mencari pasangan hidup Islam mengajarkan kepada pemeluknya untuk mencari pasangan hidup sebaik bungkin, sebagaimana Rasulullah s.a.w memberikan pelajaran kepada kita dalam mencari pasangan hidup. Kriteria mencari calon pasangan yang dianjurkan Rasulullah s.a.w, dalam hadis disebutkan sebagai berikut
Nikahilah perempuan karena empat hal: Karen cantiknya, hartanya, ketuntnannya, dan agamanya. Pilihlah agamanya karena agama niscaya engkau mendapat keuntungan (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadits tersebut diatas dapat dipahami bahwa ada empat kriteria dalam menciptakan keluarga yang sakinah, mawadhah warahmah Namun yang terpenting dari empat kriteria tersebut adalah pemahaman agama. Suami istri yang memiliki pemahaman agama akan sama-sama memiliki ukuran dan rujukan yang sama dalam menjalankan pernikahannya. Jika terjadi
perselisihan di antara keduanya, mereka akan merujuk kepada nilai-nilai yang dipegang bersama, yaitu nilai-nilai agama yang terdapat dalam al-Qur'an. al- Hadits, ljma maupun Qiyas.
2.3. Perempuan Mahram (Haram Dinikahi)
Muhrim atau mahram adalah Perempuan yang haram dinikah yang terdiri atas:
1. Diharamkan karena Keturunan a. Ibu, nenek dan seterusnya ke atas
b. Anak perempuan, cucu dan seterusnya ke bawah c. Saudara perempuan sekandung, seayah atau scibu
6
d. Bibi (saudara ibu, baik sekandung atau perantaraan ayah atau ibu) e. Bibi (saudara ayah baik sekandung atau dengan peantaraan ayah
atau ibu)
f. Anak perempuan dari saudara laki-laki terus ke bawah g. Anak perempuan dari saudara perempuan terus ke bawah 2. Diharamkan karena susuan
a. Ibu yang menyusui
b. Saudara perempuan yang mempunyai hubungan susuan 3. Diharamkan karena suatu perkawinan
a. Ibu istri (mertua) dan seterusnya ke atas, baik ibu dari keturunan maupun susuan
b. Anak tiri (anak istri yang dikawin dengan suami lain), jika sudah campur dengan ibunya
c. Istri ayah dan seterusnya ke atas
d. Wanita-wanita yang pemah dinikahi ayah, kakek sampai ke atas e. Istri anaknya yang laki-laki (menantu) dan seterusnya.
4. Diharamkan untuk sementara
1. Pertalian nikah, yaitu perempuan yang masih berada dalam ikatan pernikahan, sampai dicerai dan habis masa iddahnya.
2. Thalaq bain kubra, yaitu perempuan yang diThalaq dengan Thalaq tiga, haram dinikahi oleh bekas suaminya, kecuali telah dinikahi oleh laki-laki lain serta telah digauli. Apabila perempuan tersebut dicerai dan habis masa idahnya boleti dinikah oleh bekas suaminya yang pertama.
3. Menghimpun dua perempuan bersaudara, kecuali salah satu dicerai atau meninggal.
4. Mempunyai istri lebih dari empat.
5. Berlainan agama, kecuali perempuan itu masuk Islam.
7 2.4. Rukun Nikah
Pernikahan dinyatakan sah apabila terkumpul rukun-rukunlya, yaitu:
1. Adanya kedua mempelai, yaitu laki-laki muslim dan perempuan muslimah yang tidak diharamkan untuk merikah.
2. Wali, yaitu orang yang bertanggung jawab menikalikan pengantin perempuan, baik wali nasab maupun wali hakim.
3. Wali Nasab adalah wali yang mempunyai hubungan darah dengan perempuan yang akan dinikahkan. Urutan urang yang menjadi wali bagi perempuan yang dinikahkan sebagai berikut:
a. Ayah Kandung.
b. Kakek dari ayah.
c. Saudara laki-laki scibu sayah.
d. Saudara laki-laki seayah.
e. Anak laki laki dari saudara laki-laiki seibu seayah.
f. Anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah.
g. Saudara laki-laki seibu seayah dari ayah.
h. Saudara laki-laki seayah dari ayah
i. Anak laki-laki dari saudara laki-laki seibu seayah dari ayah.
j. Anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah dari ayah.
Urutan wall-wali di atas merupakan prioritas. Mereka yang lebih dekat kepada perempuan memiliki hak untuk menikahkan perempuan itu lebih dahulu. Jika tidak ada hara turun ke tingkat berikutnya, demikian seterusnya.
Sedangkan wali hakim adalah wali yang diangkat untuk menikahkan perempuan yang tidak memiliki atau karena sesuatu hal tidak mempunyai wali nasab.
Saksi, yaitu dua orang laki laki dewasa yang menjadi saksi alas
terjadinya suatu pernikahan untuk menguatkan akad nikah yang terjadi dan menjadi saksi keabsahan keturunan yang lahir dari pernikahan tersebut.
8
Mahar, yaitu pemberian dari pihak laki-laki kepada perempuan pada saat pernikahan. Jumlah dan jenis mahar tidak ditentukan oleh ajaran Islam, tetapi dianjurkan disesuaikan dengan kemampuan laki-laki.
Catatan Penting: Apabila pasangan itu bercerai sebelum bercampur (qabla Jukhul), laki-laki memiliki hak untuk meminta pengembalian mahar seperduanya. Apabila perceraian itu terjadi setelah bercampur (ba'da dukhul), maka perempuan memiliki hak sepenuhnya terhadap mahar yang diterimanya pada saat pernikahan, Mahar merupakan hak perempuan (istri). Karen itu, jika istri tidak memberikan atau menyetujui pemakalannya bersama-sama dengan suaminya, maka harta yang diperoleh dari mahar itu tetap menjadi milik istri.
Apabila terjadi perceraian di kemudian hari, harta yang diberikan sebagai mahar tidak dijadikan harta yang dibagi dengan suaminya. Ketika suami meninggal lebih dahulu, mahar itu bukan harta pusaka suami. Namun, apabila istri meridhai harta mahar itu digunakan untuk berdua, maka harta itu menjadi milik bersama.
Tab qabul Pengertian Ijab adalah ucapan penyerahan dari wali perempuan kepada pihak laki-laki, sedangkan qabul adalah ucapan penerimaan pihak laki-laki atas penyerahan perempuan dari walinya.
Setelah jab qabul dilakukan, pasangan itu sah sebagai suami istri.
Masing-masing mempunyai hak dan kewajiban, yaitu suami berkewajiban memberikan nafkah lahir batin, memberikan sandang, pangan, dan papan, memberikan keamanan dan ketentraman dalam keluarga Sementara itu, ia pun memiliki hak mendapatkan pelayanan dan ketaatan dari istrinya. Istri
memiliki kewajiban untuk menaati suami mengelola nafkah dan mengatur tata laksana rumah tangga dengan baik.
9 2.5. Thalaq (Cerai) dan Iddah 2.5.1. Pengertian Thalaq/Cerai
Thalaq / cerai adalah melepaskan ikatan nikah dari suami kepada istrinya dengan lafaz tertentu, misalnya suami mengatakan: "Saya Thalaq engkau atau saya cerai enggkau", maka dengan ucapan tersebut lepaslah ikatan pernikahan dan terjadilah perceraian.
Thalaq merupakan perbuatan halal yang paling dibenci oleh Allah ta'ala sebagaimana disabdakan Nabi:
Dari ibnu Umar RA, is berlcata Rasuhdlah bersabda barang yang halal tetapi dibenci Allah adalah Thalaq" (HR. Abu Daud, Ibn Majah, disahkan Hakim dan Abu Haiim mengualkan mursalnya).
Thalaq/cerai hendaknya dijadikan jalan akhir yang ditempuh suami istri, jika lain untuk mencapai kebaikan bersama tidak ditemukan atau sudah membahayakan dan sudah kecil kemungkinkan akan terjadi kecocokan diantara suami istri.
2.5.2. Macam-Macam Thalaq a. Thalaq Sunni dan Thalaq Bidh'i
Ditinjau dari segi keadaan istri Thalaq terdiri atas Thalaq souni dan Thalaq bids' Thalaq sunni adalah Thalaq yang dijatuhkan suami ketika istrinya sedang suci, tadak sedang haid atau tidak dicampuri. Sedangkan Thalaq bidhi adalah Thalaq yang dijatuhkan suami ketika istrinya sedang haid, atau telah dicampur. Thalaq bidh’I hukumnya haram.
b. Thalaq Sarih dan Thalaq Kinayah
Ditinjau dari cara menjatuhkannya Thalaq terdiri atas Thalaq sarih dan Thalag kinayah. Thalaq sarih adalah Thalaq yang diucapkan suami dengan menggunakan kata Thalaq (orrail, firak (pisah), atau sarah (lepas). Thalaq dengan menggunakan kata-kata tersebut dinyatakan sah. Thalaq kinayah
10
adalah ucapan yang tidak jelas namun mengarah kepada Thalaq Misalnya, ucapan yang bemada mengunt menyuruh pulang, atau yang benada tidak memerlukan lagi dan sejenisnya. Jika soumi mengucapannya dibarengi niat, maka Thalaqnya jatuh. Karen itu untuk morghindari terjadinya Thalaq kinayah, sebaiknya suami berhati-hati menggunakan kata kata kepada istrinya, nabi bersabda:
Dari Abu Hurairah, ra berkata: Rasulullah saw bersabda. Ada tiga perkara yang apabila disungguhkan jadi dan bila main-main pun tetap jadi, yaitu mikah, talak dan rujuk (HR Imam empat, kecuali Nasal dan disahkan oleh Hickim)
c. Thalaq Raji dan Thalaq Ba'in
Ditinjau dari segi rujuk. Thalaq terbagi atas Thalaq raji dan Thalaq ha in Thaloq ra adalah Thalaq yang bisa dirujuk kembali oleh bekas suaminya tanpa memerlukan nikah kembali Hal ini berupa Thalaq satu dan Thalaq dus yang dijatuhkan oleh suami kepada istrinya. Thalaq bain adalah Thalaq dimana suami tidak boleh merujuk kembali bekas istrinya, kecuali dengan persyaratan tertentu. Thalaq bain terdiri atas Thalaq bain sughra dan Thalaq bain kubra.
Thalaq bain sughra adalah Thalaq yang dijatuhkan kepada in yang belum dicampuri dan Thalaq tebus. Pada Thalaq ini suami tidak boleh merujuk kembali bekas istrinya, kecuali der gan pernikahan baru balk pada masa iddah maupun senadahnya.
Thalaq bain kubra adalah Thalaq tiga di mana bekas suami tidak boleti merujuk atau mengawini kembali bekas istrinya, kecuali bekas istrinya itu dinikahi oleh laid- laid lain dan telah dicampuri. Jika suaminya itu
menceraikannya, maka bekas suami yang pertama boleti rnenikahinya kembali, sebagaimana finnan Allah:
Kemudian jika suami menThalaqnya (sesudah Thalaq yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga ia kawin dengan suami yang
11
lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan istri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kamu yang mengetahui.
(QS.Al-Baqanah.2.230).
2.5.3. Iddah
Iddah adalah masa menunggu bagi wanita yang di Thalaq oleh suaminya sampai istri dapat menikah kembali dengan laki-laki. Lamanya masa iddah bagi seorang perempuan sebagai berikut:
a. Perempuan yang masih mengalami haid secara normal. Iddahnya tiga kali suci, sebagaimana firman Allah:
“Wanita-wanita yang di Thalaq hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru (suci)… .”(Q.S. Al-Baqarah, 2:228)
b. Perempuan yang tidak lagi mengalami haid (menopouse) atau belum mengalaminya sama sekali, iddahnya tiga bulan, sebagaimana firman Allah:
“Dan perempuan yang putus asa dari haid di antara perempuan-perempuan jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), maka iddah mereka adalah tiga bulan, dan begitu pula perempuan yang tidak haid… .”(Q.S. Ath-Thalaq, 65:4)
c. Perempuan yang ditinggal mati suaminya, “iddahnya empat bulan sepuluh hari, sebagaimana firman Allah:
“Dan orang yang meninggal dunia diantaranya dengan meninggalkan istri- istri (hendaklah para istri itu) menangguhkan dirinya (beribadah) empat bulan sepuluh hari.”(Q.S. Al-Baqarah, 2:234)
12
d. Perempuan yang sedang hamil, iddahnya sampai melahirkan, sebagaimana firman Allah:
“….Dan perempuan-perempuan yang hamil, walau iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya.”(Q.S. Ath-Thalaq, 65:4) 2.6. Hikmah Pernikahan
1. Menjaga Kemuliaan Manusia
Manusia adalah mahluq yang memiliki kebutuhan-kebutuhan dasar untuk mempertahankan hidupnya, seperti makan, minum serta kebutuhan biologis untuk mempertahankan keturunannya. Kebutuhan biologis merupakan kebutuhan dasar yang tidak bisa digantikan dengan yang lain. Karena itu, Islam memberikan jalan untuk menyalurkan kebutuhan tersebut melalui pernikahan Dalam pandangan lalam seks bukanlah sesuatu yang kotor atau situasi yang kotor. Penyaluran kebutuhan seks secara bebas adalah perilaku yang tak bermoral Manusia adalah makhluk yang mulia. Karena itu
pernikahan merupakan upaya memelihara kemuliaan manusia sebagai pemegang amanat Allah di muka bumi.
2. Menjaga Garis Keturunan
Keturunan merupakan cikal bakal sejarah bagi manusia, dengan adanya keturunan maka manusia itu akan mempunyai sejarah, keturunan yang di akui dalam lam melalui jalur pernikahan. Dengan pernikahanan maka jalur
keturunan (nasab) seseorang akan jelas. Dari sini lahir aturan-aturan yang menentukan hubungan hubungan kemanusiaan, seperti aturan kekerabatan pewarisan, pernikahan dan sebagainya. Jika pernikahan tidak diatur, garis keturunan manusia akan kacau Dengan demikian, arah kehancuran budaya manusia semakin dekat.
3. Mengembangkan Kasih Sayang
Manusia adalah makhluk yang dianugrahi Allah rasa kasih sayang. Oleh karena itu. kanh sayang merupakan kebutuhan dasar manusia, baik untuk menerima maupun memberikannya kepada orang lain. Melalui pernikahan,
13
rasa kasih sayang itu akan dapat diterima dan diberikan secara nyata dan tuntas. Manusia dapat memiliki dorongan iwa yang kuat untuk beriweraksi dan berkrean dalam kehidupannya di tengah-tengah manusia lainnya.
Kasih sayang adalah hal yang paling asasi bagi manusia dan pernikahan merupakan tempat yang baik bagi persemaian kasih sayang tersebut, tanpa merusak nila nilal kemanusian yang suci.
2.7. Soal dan Studi Kasus 2.7.1. Soal Pilihan Ganda
1. Apabila seseorang belum pantas untuk menikah, belum perbekalan belum ada, maka hukum nikah baginya adalah ….
a. Sunah b. Wajib c. Makruh d. Mubah Jawaban:
Makruh
2. Istri yang suaminya meninggal dunia, maka iddahnya selama …. dan setelah itu boleh menikah lagi.
a. 4 bulan 10 hari b. 3 ulan
c. tidak mempunyai iddah d. 7 bulan
Jawaban:
4 bulan 10 hari
14
3. Bagi seorang yang memiliki keinginan untuk menikah dan sudah mempunyai kemampuan, apabila tidak segera menikah dikhawatirkan terjerumus pada perbuatan zina, maka baginya menikah hukumnya….
a. Mubah b. Sunah c. Wajib d. Makruh Jawaban:
c. Wajib
4. Talak yang menyebabkan suami tidak boleh lagi rujuk kepada istri ….
a. Talak raj’iyah b. Talak tebus c. Hadanah d. Talak bain Jawaban:
d. Talak bain
5. Pernyataan pernikahan dari pihak calon istri kepada calon suami disebut
….
a. Ijab b. Kabul c. Mahar d. Janji Jawaban:
a. Ijab
15
6. Putusnya akad nikah dari suami atau pengadilan dengan kata talak atau yang sejenisnya, merupakan pengertian ….
a. Rujuk b. Talak c. Iddah d. Fasakh Jawaban:
b. Talak
7. Jika calon sitri, tidak punya ayah, maka yang paling berhak menjadi wali adalah ….
a. Ayah tiri
b. Paman dari ayah c. Kakek dari ayah d. Kakek dari ibu Jawaban:
c. kakek dari ayah
8. Rasulullah saw. bersabda bahwa nikah itu termasuk sunah, barang siapa tidak melakukan sunahku maka ….
a. Tidak akan mendapat keturunan yang sah b. Tidak mendapatkan kebahagiaan yang sah
c. Tidak akan mendapatkan syafaat (pertolongan) diriku d. Tidak termasuk golonganku
Jawaban:
e. Tidak termasuk golonganku
16
9. Pemberian yang wajib diberikan oleh calon suami kepada calon istri, namun tidak termasuk rukun nikah disebut ….
a. Sedekah b. Iwad c. Nafkah d. Mahar Jawaban:
d. Mahar
10. Hadis nabi yang menyatakan “Perbuatan halal, tetapi dibenci oleh Allah”
adalah ….
a. Nikah b. Talak c. Rujuk d. Pacaran Jawaban:
b. Talak
11. Dalam Kompilasi Hukum Islam, Jika seorang wanita hamil menikah dengan jarak melahirkan lebih dari 6 bulan dengan seorang laki-laki yang tidak menghamilinya, maka yang berhak menikahkan anaknya tersebut adalah…..
a. ayah kandungnya b. hakim pengadilan
c. lelaki yang dinikahi ibunya d. kakek dari pihak ibu Jawaban:
C. lelaki yang dinikahi ibunya
17
12. Pernikahan dianggap sah jika dihadiri oleh Wali dari pihak perempuan yang merupakan orangtua, kakek, paman maupun saudara kandung. Wali tersebut dinamakan……
a. wali murid b. wali nasab c. wali hakim d. wali mahan Jawaban:
b. wali nasab
13. Tujuan pernikahan sering diungkapkan dengan istilah sakinah mawadah warohmah, maksud dari sakinah adalah….
a. cinta kasih b. kasih sayang c. persaudaraan
d. ketenangan hidup lahir batin Jawaban:
d. ketenangan hidup lahir batin
14. Seseorang yang hamil diluar nikah, maka kelak jika anaknya menikah yang menjadi wali nikah adalah…..
a. penghulu b. pamannya c. saudara laki-laki d. ayah kandungnya e. kakeknya
Jawaban:
a. penghulu
18
15. Bagi seorang yang memiliki keinginan untuk menikah dan sudah mempunyai kemampuan, apabila tidak segera menikah dikhawatirkan terjerumus pada perbuatan zina, maka baginya menikah hukumnya….
a. Mubah b. Sunah c. Wajib d. Makruh Jawaban:
c. Wajib
2.7.2. Studi Kasus
Studi Kasus Pertama :
Seorang lelaki ingin menikahi perempuan yang sedang mengandung anak dari orang lain, kemudian orangtua kedua belah pihak menyetujuinya dan melakukan sebuah pernikahan tersebut. Apa hukum untuk permasalahan ini.
Penyelesaian nya, Seorang lelaki yang menikahi seorang perempuan yg sedang mengandung anak dari orang lain sangat haram hukumnya menurut imam ahmad bin hanbal seorang wanita tersebut tidak memenuhi persyaratan dalam menikah, yg dimana persyaratan tersebut ialah : wanita tersebut harus sudah tobat dari dosa perzinaan nya, jika belum tobat dari dosa perzinaannya maka dia masih belum boleh menikah dengan siapapun disebutkan didalam kitab Al-Majmu'Syarah Al Muhazzab karya Al- Imam An-Nawawi.
19 Studi Kasus ke Dua
Terjadinya “Nusyuz dari salah satu pihak.
Manakala “Nusyuz” (ketercelaan) tersebut datang dan tumbuh dari pihak isteri, maka suami berkewajiban terlebih dahulu untuk memberi pengajaran kepada isterinya dengan tindakan sebagai berikut:
a. Isteri diberi nasihat tentang berbagai kemungkinan negatif dan positif (at- tarhib wa tarhib)
b. Apabila usaha dan langkah pertama tidak berhasil, langkah kedua adalah pisah tempat tidur suami dengan isteri, meskipun masih dalam satu rumah.
Cara ini dimaksudkan agar dalam “kesendirian tidurnya” ia memikirkan untung rugi dari semua perilakunya.
c. Apabila langkah kedua tersebut tidak juga berubah pendirian si isteri, maka langkah ketiga adalah melakukan tindakan pemukulan, namun tidak sampai pada tataran melukai dan membahayakan.
Ketiga langkah ini diatur dalam Al-Qur’an surah An-Nisa’ ayat 34 yang berbunyi:
( ل سآء:34)
Artinya: “Isteri-isteri yang kamu khawatirkan akan melakukan perbuatan nusyuz maka nasihatilah mereka, pisahkan diri dari tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka sudah sadar, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka, sesungguhnya Allah Maha Tinggi Lagi Maha Besar.” (An-Nisa’ ayat 34)
Sedangkan kalau nusyuz itu muncul dari pihak suami, maka Islam memberikan solusi agar isteri melakukan pendekatan damai dengan
20
suaminya. Menurut Ahmad Rafiq, pendekatan damai yang dilakukan isteri tersebut dapat dengan cara isteri merelakan haknya dikurangi oleh suami untuk sementara agar suami bersedia kembali kepada isterinya dengan baik.
Dalil yang dijadikan dasar solusi “Nusyuz” suami adalah surah An-Nisa ayat 128 yang berbunyi :
( ل سآء:128)
Artinya : “Jika seorang isteri khawatir akan nusyuz atau sikap acuh tak acuh suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian.
Yang sebenarnya perdamaian itu lebih baik bagi mereka walaupun manusia pada hakikatnya bersifat kikir.” (An-Nisa ayat 128)
Kesimpulan
Perkawinan adalah ikatan lahir batin yang paling sakral yang harus dipertahankan, berbagai usaha harus diupayakan agar keutuhan rumah tangga tersebut dapat dijaga. Namun begitu, tidak tertutup kemungkinan segala usaha untuk mempertahankannya tidak berhasil. Sebagai jalan keluar
penyelesaiannya, Islam dan Peraturan Perundang-Undangan menyediakan institusi perceraian sebagai pintu terakhir.
Agar perceraian tidak dilakukan secara sembrono dan tanpa alasan, maka Peraturan Perundang-Undangan mengharuskan setiap perceraian harus
dilakukan di depan sidang pengadilan. Tujuan keharusan tersebut disamping karena harus adanya tuntutan alasan yang harus dibuktikan, juga mengacu kepada kesakralan perkawinan tersebut, dimana perkawinan dilakukan
21
dengan tujuan makruf, maka penyelesaiannya pun harus dilakukan dengan cara makruf.
22 BAB III PENUTUP KESIMPULAN
pernikahan dalam arti luas adalah suatu ikatan suci yang mengikat lahir batin antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim untuk hidup bersama dalam suato ramah tangga. Tujuan pernikahan adalah untuk mewujudkan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah, serta bahagia di dunia dan akhirat. Membina dan membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah tidaklah mudah dan membutuhkan proses sejak mencari pasangan hidup. Rukun nikah adalah ijab dan qobul, sedangkan syarat nikah adalah:
1.Beragama islam bagi pengantin laki-laki 2.Bukan laki-laki mahrom bagi calon istri 3.Mengetahui wali akad nikah
4. Tidak sedang melaksanakan haji 5. TIdak karena paksaan
23
DAFTAR PUSTAKA
H.Masruhin, Nastiti Edi Utami, Moh.Hidayat. 2013. Cakrawala Islam. Jakarta : Khalifah Mediatama, 2013.