PENDAHULUAN
Identifikasi Masalah
Batasan Masalah
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
KAJIAN TEORI
Pengertian Guru Dalam Perspektif Pendidikan Islam
Segala nilai yang baik hendaknya dijaga oleh guru dan segala nilai yang buruk hendaknya dihilangkan dari jiwa dan watak peserta didik. Informan yang baik adalah guru yang memahami dan melayani kebutuhan siswa.
Peran Guru Dalam Perspektif Pendidikan Islam
Agar proses pendidikan yang pada hakikatnya merupakan interaksi antara guru dan siswa dapat berjalan dengan baik dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan, maka seorang guru harus mengetahui dan menjalankan peranannya sebagai guru seperti yang telah diuraikan di atas. Guru dalam pendidikan Islam biasa disebut dengan ustadz, mu’alim, murabby, murshid, mudarris dan mu’addib. Kata ustadz mengandung makna bahwa seorang guru dituntut untuk berkomitmen profesionalisme dalam pelaksanaan tugas, kata mu’alim mengandung makna bahwa seorang guru dituntut mampu menjelaskan dimensi teori dalam praktiknya dan siswa berusaha mendorongnya untuk mengamalkannya, kata murobbi mengandung makna bahwa seorang guru dituntut untuk mampu mendidik dan mempersiapkan peserta didik untuk berkreasi, serta mengelola dan memelihara ciptaannya, kata murshid mengandung makna bahwa guru hendaknya berusaha menyampaikan penghayatan moral.
Kata mu'alim, murabbi dan mu'addib cenderung merujuk pada makna gizi, perawatan dan pertumbuhan seperti dalam Q.S. Pemahaman istilah guru dalam konteks bahasa Arab tadi, secara etimologis berimplikasi pada tugas seorang guru sebagai pendidik, transfer ilmu, pelatih, pembimbing dan motivator peserta didik untuk menguasai ilmu pengetahuan. Menurut Djamarah, guru adalah semua orang yang berdaya dan bertanggung jawab dalam membimbing dan mendidik peserta didik, baik secara individu maupun klasikal, di sekolah maupun di luar sekolah.
Menghormati guru adalah satu sikap bersyukur dan perbuatan ini juga dilakukan oleh ulama terdahulu kepada guru mereka.
Kedudukan Guru Dalam Perspektif Pendidikan Islam
Pandangan yang merembes ke langit ini melahirkan sikap umat Islam bahwa ilmu tidak terpisah dari Tuhan; pengetahuan tidak lepas dari guru; maka kedudukan guru/pendidik dalam Islam sangatlah tinggi. Jadi Islam sangat menghormati dan mengagungkan kedudukan seorang pendidik atau guru karena berkaitan dengan ilmu, ada juga hadis Nabi yang menegaskan bahwa orang yang berilmu melebihi orang yang berpuasa dan shalat malam, maka tinta ulama itu bernilai. lebih dari darah para syuhada, dan seterusnya. Pandangan di atas kemudian menghasilkan suatu bentuk hubungan unik antara guru dan murid dalam Islam yang hakikatnya adalah hubungan keagamaan, hubungan yang mempunyai nilai surgawi.
Namun akhir-akhir ini kedudukan pendidik atau guru semakin terpuruk akibat pengaruh berkembangnya materialisme dan pragmatisme dimana-mana. Selain itu juga karena tingkah laku, watak, dan moral sebagian pendidik atau guru itu sendiri yang mendukungnya. Menurut Ahmad Tafsir, hubungan guru-murid dalam Islam saat ini mulai berubah sedikit demi sedikit, nilai-nilai ekonomi berangsur-angsur masuk, sehingga yang terjadi saat ini adalah: (a) kedudukan guru dalam Islam semakin merosot, (b) hubungan guru dan murid semakin berkurang nilai surgawinya, penghargaan (rasa hormat) siswa terhadap guru semakin rendah, (c) harga karya mengajar semakin tinggi, sehingga menurutnya perlu dilakukan perenungan yang mendalam. 30.
Dari sini dijelaskan bahwa kedudukan guru dalam Islam sangatlah tinggi. Tingginya kedudukan guru dalam Islam merupakan realisasi dari ajaran Islam itu sendiri. Islam mengagungkan ilmu pengetahuan, ilmu diperoleh dari belajar dan mengajar.
Hak dan Kewajiban Guru Dalam Perspektif
Poerwadar Minta Kata “kewajiban” berasal dari kata wajib yang berarti harus dilakukan, suatu pekerjaan atau perintah yang harus dilaksanakan. Hal serupa juga terdapat pada pengertian kewajiban menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Kementerian Pendidikan Republik Indonesia yang mengartikan kewajiban sebagai “sesuatu yang wajib dilakukan”. Mengikuti jejak Nabi Muhammad SAW dalam tugas dan kewajibannya. Adapun syarat seorang guru adalah ia layak menjadi penerus Nabi, ia memang Alim (Mengetahui, Intelektual).
Maka seorang guru harus menjadi pengganti dan wakil kedua orang tua muridnya, serta harus menyayangi muridnya dan memikirkan keadaan anaknya. Jadi hubungan psikologis antara kedua orang tua dengan anaknya, seperti hubungan naluri antara kedua orang tua dengan anaknya, sehingga hubungan timbal balik yang harmonis ini akan memberikan pengaruh positif dalam proses pengasuhan dan pengajaran. Menjadi teladan bagi siswanya. Seorang guru harus mengamalkan ilmunya, agar perkataannya tidak bertentangan dengan perbuatannya.
34Rahman Padung, Guru dalam Perspektif Pendidikan Islam (Ulasan Pemikiran Al-Ghazali), Skripsi, (Makassar: UIN Alauddin Makassar, 2018), h.
Nilai-Nilai Moral
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa nilai moral adalah suatu substansi (isi) yang mencakup seluruh tingkah laku, sikap, dan kebiasaan manusia yang dilandasi oleh prinsip, ajaran, nilai, dan norma. Yang secara khusus menandai nilai-nilai moral adalah bahwa nilai-nilai tersebut berkaitan dengan orang-orang yang bertanggung jawab. Segala nilai yang minta diakui diwujudkan, namun dengan nilai moral tuntutan ini lebih mendesak dan serius.
Kewajiban mutlak yang terkait dengan nilai-nilai moral bermula dari kenyataan bahwa nilai-nilai tersebut berlaku bagi manusia sebagai manusia. Pembinaan manusia berdasarkan pemahaman agama pada akhirnya akan menjadi langkah primordial dalam penanaman nilai-nilai moral peserta didik. Nilai moral adalah hal dan tindakan yang disampaikan tidak hanya melalui pembelajaran khusus, namun moralitas harus tersirat dalam semua program kurikuler suatu lembaga.
Jadi nilai moral adalah sesuatu yang proses pembentukannya dilakukan oleh seseorang di dunia sekarang ini yaitu guru dan orang tua sejak dini dalam upaya membentuk nilai-nilai yang baik. 44Abdul wahab hisbullah, “implementasi pembentukan nilai akhlak dan kemandirian sosial di sekolah dasar plus qorrota a;yun kota malang,” (Skripsi S2 Fakultas Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Universitas Islam Maulana Malik Malang, 2018), hal . 17. Pendapat Dari para ahli dapat diambil kesimpulan tentang nilai-nilai moral yang sebaiknya diperkenalkan kepada siswa di sekolah.
Kajian Penelitian Terdahulu
Malang ditunjukkan dengan hadirnya guru sebagai motivator, pengarah dan fasilitator.60 Perbedaan penelitian Hendra dengan penelitian peneliti adalah Hendra membahas tentang peran guru dalam meningkatkan motivasi siswa pada mata pelajaran sosiologi, sedangkan peneliti membahas tentang peran guru dalam meningkatkan motivasi siswa pada mata pelajaran sosiologi. guru dalam memperkenalkan kepada siswanya. Nilai moral dari sudut pandang pendidikan. Islam. Penelitian yang dilakukan oleh Nila Vitasari (PGSD UN YOGYAKARTA) berjudul “Implementasi Pembinaan Akhlak Peserta Didik di SD Muhammadiyah Wirobrajan III Yogyakarta Tahun Pelajaran 2014/2015”. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa: Penanaman akhlak yang dilakukan di SD Muhammadiyah Wirobrajan III dilakukan dengan program pengembangan diri, integrasi akhlak dalam mata pelajaran, pengembangan budaya sekolah dan pengembangan proses pembelajaran. Penelitinya Nila Vitasari membahas tentang pengenalan akhlak siswa di SD Muhammadiyah Wirobrajan III tahun pelajaran Yogyakarta, sedangkan peneliti membahas tentang peran guru dalam menanamkan nilai-nilai moral pada siswa dari perspektif pendidikan Islam.
60Hendra, Peran Guru dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Sosiologi Kelas XI SMA Lab Malang, (Sarjana Fakultas Ilmu Pendidikan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, 2017), h. 61Nila Vitasari, Implementasi Pembinaan Akhlak Peserta Didik di SD Muhammadiyah Wirobrajan III Yogyakarta Tahun Ajaran S1 Universitas Fakultas Tarbiyah dan Tadris, OKB Yogyakarta, 2015), h. Penelitian yang dilakukan oleh Agus Wandi (PGMI UIN ALAUDDIN MAKASSAR) dengan judul “Urgensi Kompetensi Kepribadian Guru Dalam Upaya Mengembangkan Semangat Siswa di SDN 6 Kalosi Kecamatan Dua Pitue Kabupaten Sidrap”.
Perbedaan penelitian Agus Windi dengan peneliti adalah pada penelitian Agus Windi membahas tentang kompetensi guru dalam pengembangan akhlak sedangkan peneliti membahas tentang peran guru dalam menanamkan nilai-nilai moral pada peserta didik dalam perspektif pendidikan Islam.
Kerangka Berpikir
Hasil penelitian ini menyebutkan bahwa kompetensi kepribadian guru berada pada kategori sedang sebesar 54,29%, sedangkan perkembangan moral siswa berada pada kategori sedang sebesar 45,72%. Berdasarkan teknik analisis inferensial diperoleh hasil thitung 64,31 lebih besar dari t tabel 2,04 pada taraf signifikan 5% menunjukkan bahwa kompetensi kepribadian guru mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap perkembangan moral siswa kelas V dan VI SDN. 6 Kecamatan Kalosi Duapitue Kabupaten Sidrap. Oleh karena itu, pendidik tidak sekadar memberikan pengetahuan kepada peserta didik, tetapi juga menanamkan nilai-nilai moral dan kemanusiaan yang universal.
Jenis Penelitian
Data dan Sumber Data
Sumber data sekunder adalah kumpulan data yang akan mendukung data primer yang berhubungan dengan subjek penelitian. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan sumber data sekunder berupa buku, jurnal dan artikel ilmiah yang ditulis atau diterbitkan untuk mendukung peran guru dalam menanamkan nilai-nilai moral pada siswa, antara lain: Ilmu Akhlak oleh Beni Ahmad dan Abdul Hamis, Pendidikan Kejuruan oleh Sudarwana Danim dan Khairil, Dasar-Dasar Pendidikan, Pengantar Ilmu Pendidikan oleh Ramayulis dan Pengantar Pendidikan Islam oleh Basuki dan M.
Teknik Pengumpulan Data
Teknik Keabsahan Data
Teknik Analisis Data
Identifikasi dilakukan dengan membaca dan memahami secara cermat buku atau jurnal tentang peran guru dalam perspektif pendidikan Islam dalam menanamkan nilai-nilai moral pada diri siswa. Menyusun hasil klarifikasi secara keseluruhan setelah mendapatkan gambaran tentang peran guru dalam perspektif pendidikan Islam dalam menanamkan nilai-nilai moral pada peserta didik.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pembahasan
Jika keadaan seperti ini terjadi maka tidak dapat mendukung terlaksananya penanaman nilai-nilai moral pada siswa. 79 Ruslan dkk, Menanamkan nilai-nilai moral pada siswa SD Negeri Lampeuneurut, jurnal ilmiah mahasiswa program studi PGSD FKIP Unsyiah, (Volume 1, No. 1, Agustus 2016) h. Hal ini dianggap penting karena gurulah yang langsung berhadapan dengan siswa dalam proses pembelajaran, dan dalam proses tersebut peran guru adalah menanamkan nilai-nilai moral kepada siswanya.
Apabila seorang guru menyadari dan mampu menjalankan perannya secara menyeluruh terhadap siswa, maka tidak akan ada hambatan/kesulitan dalam penanaman nilai-nilai moral pada diri siswa. Guru tidak hanya menjalankan perannya sebagai pemberi ilmu pengetahuan kepada peserta didik, namun harus menjalankan perannya secara menyeluruh agar tujuan pendidikan tercapai sepenuhnya, salah satunya adalah menanamkan nilai-nilai moral pada diri peserta didik. Untuk menanamkan nilai-nilai moral; agama, demokrasi, kemandirian dan tanggung jawab, guru tidak hanya harus menanamkannya di waktu belajar, tetapi juga harus menanamkannya di luar waktu mengajar.
34; pelaksanaan penanaman nilai moral dan kemandirian sosial di sekolah dasar plus kota qorrota a;yun Malang.
PENUTUP
Saran-Saran
Setelah penulis mengkaji tentang peran guru dalam perspektif pendidikan Islam dalam menanamkan nilai-nilai moral pada peserta didik, ternyata terdapat hubungan yang sangat kuat jika guru mampu menjalankan perannya sebagai guru, maka tidak akan ada lagi kerusakan moral pada siswa dan tidak akan ada lagi kesulitan dalam menanamkan moral pada siswa.siswa. Mengembangkan Kompetensi Kepribadian Guru (Menjadi Guru yang Dicintai dan Ditiru Siswa), Bandung: Nuansa Ilmiah. Hermawan, Chandra, “Viral Guru Tampar Siswa, FSGI: Pelanggaran Etika Dapat Dihukum” https://www.researchgate.net/publication/334081238 Viral Guru Tampar Siswa FSGI karena Melanggar Etika dan Ancam Pidana.
Upaya guru pendidikan agama Islam dalam menanamkan nilai-nilai agama kepada siswa muslim di SMK Negeri 3 Salatiga. Peran guru dalam meningkatkan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran sosiologi XI. kelas di SMA Laboratorium Malang, diploma di Fakultas Ilmu Pendidikan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Implementasi Penanaman Akhlak Siswa di SD Wirobrajan Yogyakarta, Skripsi 1 Fakultas Pendidikan Guru SD Universitas Negeri Yogyakarta.
Urgensi kompetensi kepribadian guru dalam upaya pengembangan moral siswa di SDN 6 Kalosi Kecamatan Duapitue Kabupaten Sidrap, Skripsi Fakultas Tarbiyah, dan Pendidikan Guru.