• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelajari tentang Sejarah Indonesia

N/A
N/A
Sri Kartini

Academic year: 2023

Membagikan "Pelajari tentang Sejarah Indonesia"

Copied!
264
0
0

Teks penuh

Perburuan “Mutiara dari Timur” dan Perebutan Hegemoni

  • Motivasi, Nafsu, dan Kejayaan Eropa
  • Petualangan, Penjelajahan, dan Perebutan Hegemoni

Ibarat “perburuan mutiara dari timur”, orang-orang Eropa berusaha datang ke Nusantara untuk mendapatkan rempah-rempah. Oleh karena itu, mereka berusaha mencari dan menemukan daerah penghasil rempah-rempah di wilayah timur. Setelah beberapa tahun tinggal di India, Portugis menyadari bahwa India bukanlah daerah penghasil rempah-rempah.

Bangsa Spanyol dan Portugis dapat dikatakan sebagai pionir dalam penjelajahan kapal dan lautan untuk mencari daerah penghasil rempah-rempah baru di wilayah timur (disebut Tanah India). Bangsa Spanyol yang diprakarsai oleh Christopher Columbus berencana menjelajahi lautan untuk mencari daratan penghasil rempah-rempah. Pada tahun 1521 mereka juga sampai di Kepulauan Maluku yang ternyata merupakan tempat produksi rempah-rempah.

Mengapa Belanda pertama kali tertarik menjelajahi laut pada tahun 1594 untuk mencari daerah penghasil rempah-rempah dari timur? Negara-negara Barat (Portugis, Spanyol, Belanda dan Inggris) mencari daerah baru untuk berburu rempah-rempah melalui penjelajahan laut atau jalur laut.

Kekuasaan Kongsi Dagang VOC

  • Lahirnya VOC
  • Keserakahan dan Kekejaman VOC
  • VOC Gulung Tikar

Bangunan yang kini terletak di Jalan Taman Fatahilah ini dibangun pada tahun 1620 atas perintah Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen (J.P. Coen). Sebagai Gubernur Jenderal pertama, Pieter Both tentu harus mulai menata organisasi perusahaan dagang ini dengan sebaik-baiknya, agar harapan diperolehnya monopoli perdagangan di Hindia Timur dapat terwujud. Bahkan, ketika Belanda di bawah Gubernur Jenderal Pietro Botha diizinkan Pangeran Wijayakrama membangun tempat tinggal dan penginapan di Jayakarta.

Pada tahun 1619 Gubernur Jenderal VOC, Laurens Reael digantikan oleh Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen (J.P. Coen). Coen tiba di Batavia dan diangkat kembali menjadi Gubernur Jenderal untuk kedua kalinya. Gubernur Jenderal Van Hoorn konon memiliki kekayaan hingga 10 juta gulden ketika kembali ke Belanda pada tahun 1709, sedangkan gaji resminya hanya sekitar 700 gulden sebulan.

Saat itu, sebagai Gubernur Jenderal VOC yang terakhir, Van Overstraten masih harus bertanggung jawab atas keadaan Hindia Belanda. Pada mulanya VOC dipimpin oleh Dewan Tujuh Belas (de Heeren XVII) yang berkedudukan di Amsterdam, kemudian untuk lebih efektif dan produktif diangkatlah jabatan gubernur jenderal yang berkedudukan di India.

Penjajahan Pemerintah Belanda

  • Masa Pemerintahan Republik Bataaf
  • Perkembangan Kolonialisme Inggris di Indonesia (1811-1816) 46

Pendirian De Javasche Bank juga merupakan bentuk dukungan kerajaan terhadap rencana penerapan tanam paksa di india/India. Secara umum, tanam paksa mengharuskan petani menanam tanaman yang bisa diekspor ke pasar dunia. Dapat dikatakan bahwa tanam paksa pada umumnya tidak dilakukan sesuai dengan ketentuan yang ada.

Perlu dipahami juga bahwa penerapan tanam paksa juga dibarengi dengan tindakan kekerasan, tindakan menakut-nakuti petani. Sedangkan Belanda mengambil keuntungan dan kekayaan dari India dengan menerapkan tanam paksa. Sedangkan yang menentang praktik tanam paksa adalah kelompok masyarakat yang merasa kasihan atas penderitaan masyarakat adat.

Oleh karena itu, tanam paksa secara bertahap dihapuskan dan sistem politik ekonomi liberal mulai diterapkan. Penerapan kerja paksa di bawah kepemimpinan Van den Bosch membawa penderitaan yang berkepanjangan bagi rakyat Indonesia.

  • Perang Melawan Hegemoni dan Keserakahan Kongsi Dagang
    • Aceh Versus Portugis dan VOC
    • Maluku Angkat Senjata
    • Sultan Agung Versus J.P. Coen
    • Perlawanan Banten
    • Perlawanan Gowa
    • Rakyat Riau Angkat Senjata
    • Orang-orang Cina Berontak
    • Perlawanan Pangeran Mangkubumi dan Mas Said
  • Perang Melawan Penjajahan Belanda
    • Perang Tondano
    • Perang Pattimura (1817)
    • Perang Padri
    • Perang Diponegoro
    • Perlawanan di Bali
    • Perang Banjar
    • Perang Aceh
    • Perang Batak

Pangeran Nuku mendapat dukungan dari masyarakat Papua dibawah pimpinan Raja Ampat dan juga masyarakat Gamrange Halmahera. Oleh karena itu, ketika kapal-kapal VOC sedang berpatroli dan berpapasan dengan kapal-kapal Bugis, Makassar dan lain-lain, mereka langsung memburu, menangkap, dan memusnahkannya. Tentara VOC dipimpin oleh Cornelis Janszoon Spelman, diperkuat oleh pengikut Aru Palaka dan ditambah oleh orang Ambon di bawah pimpinan Jonker van Manipa.

Sejak abad ke-5, orang Tionghoa telah menjalin hubungan dagang dengan Pulau Jawa dan jumlahnya semakin bertambah. Maka tentara VOC mengambil tindakan dengan menyapu rumah-rumah Tionghoa dan kemudian membunuh orang-orang Tionghoa yang mereka temukan di setiap rumah. Orang Tionghoa yang berhasil melarikan diri kemudian bertempur di berbagai daerah, seperti Jawa Tengah.

Perlawanan masyarakat Tionghoa terhadap VOC kemudian menimbulkan kekacauan yang meluas di berbagai tempat, khususnya di wilayah pesisir pantai Jawa. Atas dorongan para pangeran, Raja Pakubuwana II pun mendukung pemberontakan Tiongkok. Sikap Pakubuwana II ini menambah antrean panjang masyarakat yang kecewa dan sakit hati di lingkungan keraton.

Pada saat bangsa Barat tiba, bangsa Spanyol telah tiba di negara Minahasa (Tondano), Sulawesi Utara. Begitu pula serangan dari arah danau tak mampu mematahkan semangat juang masyarakat Tondano, Minawanua. Padahal pihak Maluku sempat berperan dalam menyuplai ikan asin ke kapal-kapal Belanda di Kepulauan Maluku.

Masyarakat yang melakukan gerakan pemurnian ajaran Islam di Minangkabau sering disebut dengan sebutan Padri. Kaum Padri yang mendapat dukungan penduduk pribumi pindah ke pos tentara Belanda. Sebelum Pangeran Diponegoro melanjutkan perlawanan, ia harus mengevakuasi kerabat, anak-anak, dan orang lanjut usia ke Dekso (daerah Kulon Progo).

Pada tanggal 28 April 1859, masyarakat Muning yang dipimpin oleh Panembahan Aling dan putranya, Sultan Kuning, menyerang kawasan pertambangan batu bara di Pengaron. Dalam hal ini Belanda juga mengerahkan pasukan anti gerilya yang disebut Korps Marchausse (Marsose), yaitu pasukan beranggotakan orang Indonesia yang dipimpin oleh perwira Belanda.

  • Dampak dalam Bidang Politik-Pemerintahan dan Ekonomi
    • Bidang Politik dan Struktur Pemerintahan
    • Bidang Ekonomi
  • Dampak dalam Bidang Sosial-Budaya dan Pendidikan
    • Bidang Sosial-Budaya
    • Bidang Pendidikan

Para Daendels telah membagi wilayah kolonial Belanda di Indonesia/Hindia Belanda di Jawa menjadi sembilan prefektur dan terbagi menjadi 30 regentschap (distrik). Untuk mengetahui lebih jauh tentang struktur pemerintahan pada masa penjajahan Belanda di Indonesia, bacalah buku Taufik Abdullah dan A.B. Selain itu, pemerintah kolonial Belanda menerapkan kebijakan pengamanan wilayah di Aceh, Sumatera Barat, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Sunda Kecil, Maluku untuk menyatukan seluruh wilayah Hindia Belanda yang masih berbentuk kerajaan. dan Papua.

Penyatuan Hindia Belanda dikenal dengan nama Pax Neerlandica, setelah itu wilayah Hindia Belanda stabil di bawah kekuasaan Hindia Belanda. Grote Postweg atau jalan raya pos yang menghubungkan Anyer dengan Panarukan dibuka pada masa Daendels memerintah Hindia Belanda. Sejak saat itu, sistem kegiatan ekonomi moneter di desa-desa Jawa dan daerah lain di Hindia Belanda yang telah lama dikenal sebagai sistem ekonomi swadaya berubah menjadi sistem ekonomi komersial.

Setelah berakhirnya pemerintahan Raffles digantikan oleh pemerintahan Hindia Belanda, perekonomian uang terus berkembang dan kegiatan komersial semakin meluas. Terbentuknya jaringan kereta api yang terhubung dengan pelabuhan-pelabuhan, sehingga pelabuhan-pelabuhan di Hindia Belanda pun mulai terhubung, karena didukung dengan munculnya transportasi laut. Pada masa pemerintahan Belanda inilah batas-batas wilayah mulai dikenal, termasuk batas wilayah Hindia Belanda yang kemudian menjadi wilayah negara Indonesia, mulai dari ujung barat (Aceh) hingga ujung timur (Papua). ). .

Batas wilayah Hindia Belanda di Papua disepakati dalam perjanjian antara Belanda dan Inggris pada tahun 1895. Pada masa penjajahan Belanda, batas wilayah ditetapkan dan ditetapkan, termasuk wilayah Hindia Belanda yang kemudian menjadi wilayahnya. negara Indonesia. Coba identifikasi peperangan dan perjanjian yang menggambarkan perluasan wilayah Hindia Belanda yang akhirnya menjadi wilayah negara Indonesia.

Pada akhir abad kesembilan belas, Van Kol yang menjadi juru bicara kaum sosialis Belanda mengkritik kondisi Hindia Belanda yang semakin buruk. Ia menyatakan pemerintah telah menyalahgunakan pendapatan rakyat selama lebih dari satu abad, namun tidak ada satu persen pun yang dikembalikan untuk kebaikan masyarakat Hindia Belanda. Pasca penerapan Politik Etis, pendidikan di Hindia Belanda berkembang, termasuk masyarakat pribumi mendapat kesempatan bersekolah.

  • Latar Belakang Sumpah Pemuda
    • Politik Etis: Pintu Pembuka Pendidikan Modern
    • Pers Membawa Kemajuan
    • Bangkitnya Nasionalisme
  • Sumpah Pemuda: Tonggak Persatuan dan Kesatuan
    • Federasi dan “Front Sawo Matang”
    • Cita-cita Persatuan
    • Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa
    • Nilai-nilai Penting Sumpah Pemuda
  • Penguatan Jati Diri Keindonesiaan
    • Politik untuk Kesejahteraan dan Kejayaan
    • Pemuda yang Berpolitik
    • Nasionalisme yang Revolusioner
    • Volksraad: Wahana Perjuangan
    • Tamatnya Kemaharajaan Belanda

Namun sayangnya dalam kehidupan sekarang ini nilai-nilai rintisan generasi muda terpelajar belum bisa sepenuhnya dipahami dan ditiru oleh para remaja, generasi muda dan juga kalangan terpelajar, kecuali sebagian kecil saja. Saya tidak ingin menjadi warga negara Belanda, “Saya ingin tetap menjadi orang Indonesia,” kata Alif. Apa pendapat Anda tentang surat kabar atau majalah yang terbit pada masa Hindia Belanda?

Ya, gambar pertama menunjukkan sekolah pribumi, sedangkan gambar kedua adalah contoh surat kabar yang juga berkembang pada masa Hindia Belanda. Hal ini juga dipicu oleh keberadaan surat kabar terbitan saat itu yang mempercepat tumbuhnya semangat nasionalisme di kalangan masyarakat Indonesia. Pemerintah kolonial Belanda juga membentuk Volksraad (Dewan Rakyat) yang diikuti sejumlah tokoh Indonesia.

Awalnya mereka magang di kalangan jurnalis Indo dan Tiongkok, kemudian peran mereka berkembang menjadi editor surat kabar Indo dan Tiongkok. Jurnalis lokallah yang memberikan ilmu dan “embrio nasional” melalui artikel-artikelnya, komentar-komentar dalam surat-surat pembaca, serta mengungkapkan solidaritas antara dirinya dan pembacanya yang sebagian besar adalah generasi muda terpelajar. Pemimpin redaksi majalah tersebut adalah Dja Endar Muda, seorang jurnalis keturunan Tapanuli yang juga pernah menerbitkan surat kabar Pertja Barat dan bulanan berbahasa Batak Tapian Nauli.

Saat itu, ia menjabat sebagai editor majalah Jawa Retnodhumilah dan dalam artikelnya menyarankan agar orang tua dan muda membentuk organisasi pendidikan yang bertujuan untuk memperbaiki masyarakat. Beberapa surat kabar yang kemudian membawa kemajuan di kalangan pribumi adalah Medan Prijaji dan juga terbitan perempuan pertama yang terbit secara berkala yaitu Poetri Hindia. Begitu pula di Sumatera, gagasan melawan sistem pemerintahan kolonial ditunjukkan melalui surat kabar Oetoesan Melajoe (1913).

Surat kabar tersebut memuat berita propaganda tentang ide-ide radikal dan kritik terhadap sistem pemerintahan kolonial. Keberadaan pemuda terpelajar sangat cocok dan responsif terhadap perkembangan ideologi baru, terutama paham yang berkontribusi terhadap pemajuan kemerdekaan. Pada saat itu, gagasan kemajuan, kebebasan dan kemerdekaan berkembang di Eropa sebagai akibat dari Revolusi Perancis.

Referensi

Dokumen terkait

Kebijakan yang dilakukan Daendels pada masa pemerintahan- nya di Hindia Belanda dengan melakukan reforestasi dan me- netapkan peraturan hukum yang membatasi eksploitasi sumber

Oto Iskandar Dinata adalah pernah menjabat sebagai Ketua Organisasi Paguyuban Pasundan, Anggota Volksraad (DPR pada masa Hindia Belanda), Ketua Umum Persib Bandung, dan

Rupanya Belanda mulai meniru apa yang dulu pernah ada, yaitu bandar pelabuhan transit bagi pedagang – pedagang di wilayah lain Akan tetapi sedikit berbeda, Belanda tidak

Pendudukan Jepang pada periode Perang Dunia kedua antara tahun 1941 sampai 1945 atas wilayah Indonesia (dalam perspektif masa itu adalah masa Hindia Belanda),

Pada masa pemerintahan Jepang, desa (Ku) adalah suatu kesatuan masyarakat berdasarkan adat dan peraturan perundang-undangan pemerintah Hindia Belanda serta pemerintah Militer

Misalnya, wilayah Jawa Timur telah bergabung dengan kerajaan Mataram pada masa kekuasaan Dyah Balitung, yang sekarang wilayah Jawa Timur lebih dikenal sebagai daerah

Dengan menyerahnya Hindia Belanda tanpa syarat kepada Jepang pada 8 Maret 1942, maka berakhirlah pemerintahan Hindia Belanda di Indonesia, dan secara resmi kekuasaan baru

Hindia Belanda setelah menaklukan beberapa kerajaan di Sulawesi Tengah di awal abad ke-20, maka ekspansi Belanda ke Sulawesi Tengah dilanjutkan dengan melakukan penataan wilayah bekas