• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendekatan dan Tema Studi Orientalis

N/A
N/A
Ananda Fitri

Academic year: 2024

Membagikan " Pendekatan dan Tema Studi Orientalis"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS

KAJIAN BARAT ATAS AL-QUR’AN

PENDEKATAN DAN TEMA STUDI AL-QUR’AN ORIENTALIS DOSEN PENGAMPU: DR. ABU KHAER

Oleh : Fitriyatus Sholihah (2210200042) Wildana Dwi Lestari (2210200009) A. PENDAHULUAN

Al-Qur’an menjadi penutup mukjizat para Nabi, serta menjadi penyempurna dari kitab suci sebelumnya. Kehadirannya menjdi pedoman hidup manusia. Kandungan bahasa didalamnyapun memiliki kehebatan yang luar biasa sehingga tidak ada makhluk satupun yang mampu menyainginya. Sebagaimana firman Allah SWT:

ك ْنِا َو ِ م ْنِ م ٍة َر ْو سِب ا ْو تْأَف اَنِدْبَع ىٰلَع اَنْل َّزَن اَّمِ م ٍبْي َر ْيِف ْم تْن َنْيِقِد ٰص ْم تْن ك ْنِا ِ هاللّٰ ِن ْو د ْنِ م ْم كَءۤاَدَه ش ا ْو عْدا َو ۖ ٖهِلْث

Artinya : Dan jika kamu meragukan (al-Quran) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisal dengannya dan ajaklah penolong- penolongmu selain Allah, jika kamu orang yang benar

Keindahan bahasa dan keluasan makna pada al-Qur’an sehingga membuat manusia terus mengkaji al-Qur’an dari berbagai aspek. Bahkan membuat orang barat juga tertarik untuk mengkaji makna yang terkandung dalam al-Qur’an, yang dikenal dengan sebuan

“Orientlisme”. Orientalisme adalah istilah yang merujuk pada peniruan atau penggambaran unsur-unsur budaya Timur di Barat oleh para penulis, desainer, dan seniman.1 Secara sederhana, orientalisme dapat diartikan sebagai sebuah gerakan pemikiran terhadap luar Eropa. Jadi, orientalis adalah seseorang yang melakukan kajian tentang masalah-masalah ketimuran, mulai dari sastra, bahasa, antropologi, sosiologi, psikologi sampai agama dengan menggunakan paradigma Eurocentrisme, hingga menghasilkan konklusi yang distortif tentang objek kajian dimaksud.2 Munculnya orientalis atau ahli ketimuran yaitu disebabkan adanya studi-studi yang dilakukan oleh ilmuan Barat tentang ketimuran baik berupa sastra, sejarah, adat-istiadat, politik, lingkungan, maupun agama di Timur Asia termasuk Islam.3 seperti dalam penafsiran, kajian barat atas al-Qur’an yang dilakukan oleh orientalisme juga memiliki pendekatan dan studi dalam penelitiannya sehingga menambah warna dalan khazanah studi al-Qur’an. Kehadiran para tokoh orientalisme ini kemudian menjadi pendongkrak keilmuan dalam dunia keislaman dan menjadi tantangan baru bagi para ilmuwan muslim.

B. PEMBAHASAN

1. Pendekatan dan Studi al-Qur’an Orientalis

Al-Qur'an, menurut sumber-sumber Islam dan keilmuan tradisional Barat, tidak muncul secara sekaligus namun diturunkan dalam kurun waktu sekitar dua puluh dua tahun.

Diskursus Alquran di mata ilmuan Barat dan orientalis selalu menarik untuk

1 Orientalisme - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

2 Arina, Haqan. “Orientalisme Dan Islam Dalam Pergulatan Sejarah”. Jurnal Keilmuan Tafsir Hadis. 1 (2).

2011. Halm 156

3 Jannah, Hilda Wirdatul, dkk. :Sejarah dan Motif Studi al-Qur’an Orientalis.” Hal. 2

(2)

diperbincangkan. Alquran menyatakan dirinya sebagai kitab yang terhindar dari keraguan, dijamin keotentikannya, dan bahkan sampai saat ini tidak ada kitab tandingannya. Namun demikian, telah terjadi pergeseran cara pandang dikalangan sarjana terhadap Alquran sejak beberapa dekade terakhir sebelum berakhir abad XX.

Huston Smith dalam The World Religions mengatakan bahwa belum pernah ada kitab dalam khazanah kegamaan pada kebudayaan lain yang demikian sulit dimengerti oleh orang barat selain Alquran. Apabila di masa-masa sebelumnya kitab suci tersebut di pandang secara teologis, fenomena Alquran dari sisi asal usul dari mana ia berasal, maka akhir-akhir ini fenomena tersebut didekati sebagai fenomena independen, sebagai sebuah fakta kultural bukan karena sumber kemunculannya, tetapi karena dirinya sendiri memang bermakna bagi masyarakat.

Ketika Smith membandingkan Alquran, Perjanjian lama, dan Perjanjian Baru, ia memaparkan bahwa Alquran memang lebih komplit meskipun hanya empat perlima panjangnya dari Perjanjian Lama dan Baru. Begitupun sebaliknya, keduanya memiliki kekurangan yang tidak terdapat dalam Alquran.

Orientalis atau orientalisme terambil dari kata orient yang berarti timur. Ia adalah ilmu yang membahas tentang bahasa, budaya termasuk agama dan kesusastraan masyarakat Timur. Meskipun tidak selamanya benar, bisa jadi ada pengecualian. Ini terbukti misalnya, Issa Boullata seorang penganut Kristen asal Palestina dan kini warga Negara Kanada yang sempat juga mengajar diIAIN Jakarta, menyangsikan bahkan mempertanya- kan tulisan Najib al-‘Aqiqi dalam al-Mustshriqu>n yang mencantumkan nama Fazlur Rahman, cendekiawan muslim Pakistan, sebagai salah seorang orientalis.

Melacak kajian Alquran di Barat telah dimulai sejak abad 12, yang juga merupakan bagian dari orientalisme secara umum. Montgomery Watt, memetakan paling tidak ada tiga kajian besar yang mereka perjuangkan. Pertama, karya yang terarah pada kajian kitab suci.

Kedua, terjemah atau alih bahasa Alquran dan ketiga, pemahaman Alquran. Jika melihat betapa banyak karya orientalis yang tersebar, ketiga-tiganya masih menunjukkan semangat dari apa yang diperjuangkannya, namun melihat sisi banyak kajiannya, nampaknya kajian teks sekaligus kritik teks lebih mendominasi dibanding kriteria poin dua dan tiga. Motifnya mereka bermacam, paling tidak ada dua faktor yang melatarbelakngi ketertarikan Barat untuk mengkaji Timur. Yaitu, motif keagamaan, dan motif politik.

Pada tahun 1844. Asumsi yang dikembangkan Weil adalah bahwa dalam hal periodisasi Alquran ia membaginya ke dalam Makkiyah awal, tengah, akhir, serta Madaniyah. Montgomery Watt mengungkapkan bahwa para orientalis memusatkan perhatian pada pertimbangan gaya Alquran, perbendaharaan kata, mereka menjadikan Alquran sebagai sasaran penelitian dengan menggunakan metode kritik sastra dan kritik sejarah modern.

2. Tema Studi al-Qur’an Orientalis

Kehadiran al-Qur’an sebagai pedoman hidup manusia menjadikanya sebagai sebuah kitab yang menarik manusia untuk melakukan pengkajian terhadap al-Qur’an. Walaupun menjadi kitab suci hanya untuk umat islam saja, namun, penelitian terhadap al-Qur’an juga dilakukan oleh kaum barat, baik dalam segi sastra, bahasa, agama, serta peradabannya.

Kehadiran kaum barat atau lebih dikenal orientalisme dalam mengkaji al-Qur’an menjadi

(3)

tantangan besar bagi kaum muslim, karna mereka mengkaji disebabkan berbagai aspek, sehingga mayoritas hasil kajiannya bertentangan dengan ajaran dalam Islam. Menurut Thaha Hubaysyi yang dikutip oleh Syukri Al Fauzi Harlis Yurnalis, pergerakan Orientalis bisa dirangkum sebagai berikut; menguasai bahasa Arab, mengambil manuskrip dari Islam dan menggunakannya untuk keperluan mereka, kajian mereka berupaya menghilangkan nilai-nilai positif dari Islam, mencari titik kelemahan dan celah dari Islam, mengubah sejarah sehingga generasi Muslim tidak paham sejarah dirinya sendiri, politik pecah belah dengan menimbulkan fanatisme golongan dan sekte, program Islamophobia serta penerapan hukum yang tidak bersumber dari Islam4. Namun, disamping hal tersebut, munculnya Orientalis masih memberikan sedikit sisi positif bagi Islam. Keilmuan dalam dunia Islam lebih teruji untuk melawan kritis dari pihak luar, sehingga mengalami perkembangan. Namun, permasalahan terjadi saat para Pengkaji Timur menggunakan konsep atau framework mereka sendiri dalam menolak sudut pandang, sehingga menghasilkan paham keilmuan yang berbeda. Fakta ini menjadi kekhawatiran kaum Muslim, sebab ajaran yang telah disebarkan Nabi Muhammad SAW disalahpahami oleh beberapa Orientalis, sehingga mereka menyebarluaskan pola pandangan mereka terhadap kalangan Muslim tanpa proses penyaringan (Islamisasi). Untuk itu, kemudian beberapa peneliti melakukan penelitian untuk melihat framework Barat dalam menfasirkan al- Qur’an, sehingga orang Islam mampu memahami metode mereka dalam melakukan penelitian, sehingga kaum Muslim mampu menemukan titik kesalahan dan menyelaraskan kembali dengan ajaran Islam yang sebenarnya. Dan pada akhirnya, kajian Orientalis hanya menjadi penambahan khazanah dalam Dunia Islam, sehingga tidak menjadi tantangan dalam ketauhidan beragama.

Munculnya gerakan Orientalisme di mulai pada awal abad ke-13. Bertepatan dengan terbitnya ketetapan (konferensi) Gereja Viena, tujuan diadakan ketetapan ini untuk membangun sebuah Lembaga Penelitian Bahasa Arab di berbagai universitas Eropa. Pada saat inilah kebanyakan ahli sejarah menyepakati awal mula munculnya Orientalisme.

Namun ada juga yang berpendapat secara umum kemunculannya disebabkan karena perang antara Barat dan Timur dikarenakan banyaknya perbedaan dalam ideologi dan agama5. Sejak masa turunnya, kitab suci umat Islam telah mengguncang dunia Yahudi dan Kristen.

Orang Yahudi dan Kristen mulai mengetahui al-Qur’an diwahyukan kepada Nabi Muhammad setelah beliau berdakwah ke luar kota Makkah, khususnya dalam lingkup dunia Arab. Setelah Islam masuk ke Spanyol (Andalusia) pada masa dinasti Bani Umayyah, al- Qur’an semakin dikenal oleh berbagai kalangan. Seiring dengan berjalannya waktu, banyak kalangan non muslim mulai menaruh perhatian untuk mengkaji atau meneliti makna al- Qur’an. Seiring berjalan waktu, kajian al-Qur’an mulai berkembang di berbagai daerah sampai ke dunia Barat pada masa modern. Dalam konteks kajian al-Qur’an di Barat, kajian al-Qur’an mulai banyak dikaji setelah beberapa sarjana orientalis melakukan penerjemahan kitab suci umat Islam ini pada abad ke-XII Masehi. Sejak abad itulah, kajian al-Qur’an mulai berkembang sampai abad ke-XX yang merupakan masa kajian kritis dan berlangsung sampai sekarang. Secara umum, kajian serta penelitian al-Qur’an dari berbagai aspek yang berkembang di Dunia Barat, bisa dikategorikan dalam ranah Islamic Studies (Studi Islam).

4 Fambudi, Muttaqin & Moh. Agung. Kritik Orientalis dalam Aspek Ontologis Studi Al-Qur’an. Al- Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 17 No 2 (2022) hal. 189.

5 Ibid, hal. 190.

(4)

Kajian Islam (Islamic Studies) mulai menggema di dunia Barat pada abad ke-XIX M dan mencapai puncaknya pada abad ke-XX M yang berlangsung sampai sekarang6.

Dalam melakukan pengkajian studi al-Qur’an, Orientalisme melakukan penelitian dalam berbagai tema. Adapun tema yang sering diapakai yakni sebagai berikut:

a. Kritik Teks dan Redaksi: Ini mencakup analisis kritis terhadap teks Al-Qur'an, termasuk identifikasi potensi varian teks, perubahan redaksi, dan aspek-aspek historis pembentukan teks Al-Qur'an. Tokoh orientalis yang melakukan kajian dengan tema ini yakni John Wansbourgh, karyanya yang terkenal "The Sectarian Milieu: Content and Composition of Islamic Salvation History" dan "Qur'anic Studies: Sources and Methods of Scriptural Interpretation".

b. Konteks Historis: Penelitian ini berfokus pada konteks historis yang mengelilingi munculnya Al-Qur'an, termasuk kondisi sosial, politik, dan budaya di jazirah Arab pada masa Nabi Muhammad. Tokoh orientalis yang melakukan kajian dengan tema ini yakni Montgomery Watt, Dia mengadopsi pendekatan yang sangat berorientasi pada konteks historis dalam menganalisis teks Al-Qur'an dan mencoba untuk memahami pesan-pesan yang terkandung di dalamnya dengan mempertimbangkan latar belakang sejarah, budaya, dan sosial pada saat Al-Qur'an diturunkan. Karyanya yang terkenal termasuk "Muhammad: Prophet and Statesman" dan "The Quran and Its Exegesis".

c. Sosiologi Al-Qur'an: Ini melibatkan penelitian tentang bagaimana ajaran Al-Qur'an memengaruhi dan dipengaruhi oleh masyarakat Muslim pada saat itu dan kemudian.

Tokoh orientalis yang melakukan kajian dengan tema ini yakni Fazlur Rahman, Dia dikenal karena pendekatannya yang inovatif dalam memahami Al-Qur'an dengan memperhatikan konteks sosial, budaya, dan politik pada masa turunnya Al-Qur'an, serta relevansinya dengan konteks zaman modern. Dia menulis banyak karya yang memadukan analisis sosiologis dengan pemahaman Al-Qur'an, seperti "Islam",

"Major Themes of the Qur'an", dan "Revival and Reform in Islam".

d. Linguistik: Studi linguistik Al-Qur'an melibatkan analisis bahasa Arab klasik yang digunakan dalam teks Al-Qur'an, serta penyelidikan tentang aspek-aspek linguistik seperti gaya, struktur, dan retorika. Tokoh orientalis yang melakukan kajian dengan tema ini adalah Arthur Jeffrey. Salah satu karya terkenalnya adalah "The Foreign Vocabulary of the Qur'an", di mana dia menyelidiki kata-kata yang dianggap berasal dari bahasa asing dalam Al-Qur'an dan memberikan analisis linguistik yang mendalam tentang asal-usul dan penggunaannya dalam teks. Selain Jeffrey, ada juga Ernst Würthwein yang terkenal dengan kontribusinya dalam studi linguistik Al- Qur'an. Dia adalah seorang orientalis dan teolog Protestan Jerman yang terkenal karena karya-karyanya tentang teks Al-Qur'an, termasuk analisis linguistik.

Karyanya yang terkenal adalah "The Text of the Old Testament" dan "The Text of the Qur'an: Its History and Transmission".

e. Konteks Teologis dan Filosofis: Ini mencakup analisis tentang konsep-konsep teologis dan filosofis yang ditemukan dalam Al-Qur'an, serta perbandingan dengan konsep-konsep teologis dan filosofis dalam tradisi agama lain. Salah satu tokoh

6 Anshori, Muhammad. Tema-Tema Kajian AL-Qur’an di Barat Perspektif Fazlur Rahman (1919-1988).

QOF:Jurnal Studi Al-Qur’an dan Tafsir; p-ISSN 2598-5817; e-ISSN 2614-4875 Volume 4, Number 2, 2020; DOI: 10.30762/qof.v4i2.

(5)

orietalis yang terkenal yakni William Montgomery Watt, seorang orientalis Skotlandia. Dalam karyanya, Watt sering menggabungkan pemahaman tentang konteks teologis dan filosofis dari Al-Qur'an dengan konteks historis dan sosialnya.

Dia menyelidiki konsep-konsep teologis dan filosofis dalam Al-Qur'an, seperti konsep Allah, kehidupan setelah mati, keadilan, dan kebebasan, dan mencoba untuk memahami makna dan implikasinya dalam konteks teologis dan filosofis yang lebih luas. Beberapa karya terkenal Watt yang mencakup tema ini termasuk "Muhammad:

Prophet and Statesman", "Islamic Philosophy and Theology", dan "The Qur'an and Its Exegesis".

f. Kritik Terhadap Al-Qur'an: Beberapa orientalis telah melakukan kritik kritis terhadap Al-Qur'an dari berbagai sudut pandang, termasuk aspek-aspek etis, historis, dan teologis. Salah satu tokoh orientalis yang terkenal adalah John Wansbrough. Ia memandang Al-Qur'an sebagai produk dari proses redaksi yang panjang, yang melibatkan pengumpulan dan penyuntingan tradisi lisan yang ada pada masa awal Islam. Karyanya yang paling terkenal adalah "The Sectarian Milieu:

Content and Composition of Islamic Salvation History" dan "Qur'anic Studies:

Sources and Methods of Scriptural Interpretation".

g. Perbandingan Agama: Studi ini membandingkan Al-Qur'an dengan teks-teks agama lainnya, seperti Alkitab atau kitab-kitab Hindu dan Buddha, untuk melihat persamaan dan perbedaan dalam ajaran dan naratif. Tokoh orientalis yang melakukan kajiannya dengan tema ini adalah William Montgemary Watt. Watt mempelajari bukan hanya teks-teks suci dari berbagai agama, tetapi juga sejarah, teologi, dan praktik-praktik keagamaan mereka. Dalam karyanya, ia sering mencoba memahami persamaan dan perbedaan antara konsep-konsep keagamaan dalam Islam dan agama-agama lain, serta dampaknya dalam konteks sosial dan sejarah.

Karya-karya Watt yang terkenal, seperti "Muhammad: Prophet and Statesman" dan

"Islamic Philosophy and Theology", sering mencakup analisis perbandingan agama yang mendalam.

h. Interpretasi Barat tentang Al-Qur'an: Ini mencakup analisis terhadap cara-cara di mana Al-Qur'an dipahami dan diinterpretasikan oleh cendekiawan Barat dari berbagai disiplin ilmu, termasuk studi agama, sejarah, dan filologi. Salah satu tokoh orientalis yang terkenal yakni Carl Ernst. Dalam karyanya, Ernst sering mengeksplorasi berbagai interpretasi Barat tentang Al-Qur'an dari abad ke-18 hingga masa kini. Dia menganalisis pemikiran orientalis Barat, terutama selama periode kolonialisme, dan dampaknya terhadap pemahaman Barat tentang Al- Qur'an. Salah satu karya Ernst yang terkenal adalah "Following Muhammad:

Rethinking Islam in the Contemporary World", di mana ia mengeksplorasi berbagai pandangan Barat tentang Islam, termasuk interpretasi mereka tentang Al-Qur'an.

i. Pengaruh Al-Qur'an dalam Budaya Barat: Ini mempelajari bagaimana Al-Qur'an telah memengaruhi budaya Barat, baik dalam konteks intelektual maupun populer.

Tokoh terkenal yang melakukan kajian dengan tema ini yakni Jack Miles. ia adalah seorang cendekiawan agama dan sastra yang terkenal karena karya-karyanya yang mendalam tentang Alkitab dan juga telah menyentuh tentang Al-Qur'an. Dalam beberapa tulisannya, seperti bukunya yang terkenal "God: A Biography", Miles menyelidiki bagaimana teks-teks suci, termasuk Al-Qur'an, telah mempengaruhi pemikiran, sastra, dan budaya Barat. Meskipun Miles terutama dikenal karena

(6)

karyanya tentang Alkitab, dia juga telah menyentuh tentang pengaruh Al-Qur'an dalam budaya Barat.

j. Kritik terhadap Metode Orientalis: Beberapa penelitian juga mengkritik pendekatan dan metodologi yang digunakan oleh orientalis dalam studi Al-Qur'an, mempertanyakan asumsi-asumsi mereka dan potensi bias dalam analisis mereka.

Salah satu tokoh orientalis yang terkenal adalah Muhammad Arkoun. Ia adalah seorang sarjana Islam berpengaruh karena pendekatannya yang kritis terhadap studi Islam dan Al-Qur’an. Arkoun menegaskan perlunya mempertanyakan metode- metode tradisional yang digunakan dalam studi orientalis, yang sering kali didasarkan pada pandangan-pandangan Eurosentris dan kolonial. Dia menyerukan untuk memperkenalkan pendekatan-pendekatan yang lebih kritis dan kontekstual dalam memahami teks-teks Islam, yang memperhitungkan keragaman budaya, sejarah, dan interpretasi dalam tradisi Islam. Ia menuangkan pemikiran kritisnya Melalui karyanya, seperti "Rethinking Islam: Common Questions, Uncommon Answers" dan "The Unthought in Contemporary Islamic Thought".

Menurut Fazlur Rahman, (1332-1408 H/1919-1988 M), literatur-literatur Barat modern yang mengkaji Al-Qur’an bisa dibagi menjadi tiga; Pertama, Karya-karya yang berusaha mencari pengaruh Yahudi-Kristen di dalam Al-Qur’an. Kedua, Karya-karya yang membahas rangkaian kronologis ayat-ayat Al-Qur’an. Ketiga, Karya-karya yang menjelaskan keseluruhan atau aspek-aspek tertentu dari Al-Qur’an7

Kalangan orientalis mengkaji Al-Qur’an dari berbagai macam aspek, tentu yang dikaji bersumber dari teks-teks Al-Qur’an sendiri. Di antara nama-nama Orientalis yang melakukan studi kritis terhadap Al-Qur’an atau studi Islam secara umum adalah Abraham Geiger (1810-1874), Gustave Weil (1808-1889), William Muir (1819-1905), Theodor Nӧldeke (1836-1930), Friedrich Schwally (w. 1919), Edward Sell (1839-1932), Hartwig Hirscfeld (1854-1934), David S. Margoliouth (1858-1940), W.St. Clair-Tisdall (1859- 1928), Louis Cheikho (1859-1927), Paul Casanova (1861-1926), Julius Wellhausen (1844- 1918), Charles Cutley Torrey (1863-1956), Leone Caetani (1869-1935), Joseph Horovits (1874-1931), Richard Bell (1876-1953), Alphonse Mingana (1881-1937), Israel Schapiro (1882-1957), Siegmund Fraenkel (1885-1925), Tor Andrae (1885-1947), Arthur Jeffery (1893-1959), Regis Blachere (1900-1973), W. Montgomery Watt, Kenneth Cragg, John Wansbrough (1928-2002), S.M. Zwemmer, Andrew Rippin, C. Luxenberg, Danial A.

Madigan, Harald Motzki, dan lain-lain. Kajian mereka tidak hanya terfokus pada studi al- Qur’an, tetapi studi Islam secara umum seperti hadis, sejarah, politik, filsafat, tasawuf, dan ilmu lainnya8. Dalam melakukan penelitian, Metodologi penelitian studi Al-Qur'an pun dipengaruhi dengan orientasi Barat yang memilih topik dan pendekatan penelitian serta merujuk pada literatur dan penelitian Barat. Kajian penelitian mereka terbagi menjadi tiga bidang:

a. Teks Al-Qur'an: Mempelajari teks Al-Qur'an secara kritis.

b. Alih Bahasa Al-Qur'an: Meneliti proses penerjemahan Al-Qur'an.

7 Anshori, Muhammad, Tren-Tren Wacana Studi Al-Qur’an dalam Pandangan Orientalis di Barat. Nun, Vol. 4, No. 1, 2018. Hal. 19.

8 Ibid, Hal. 16.

(7)

c. Pemahaman Kaum Muslim terhadap Al-Qur'an: Menggali bagaimana kaum Muslim memahami Al-Qur'an9.

C. KESIMPULAN

Menurut sumber-sumber Islam dan keilmuan tradisional Barat, Al - Qur'an tidak muncul secara sekaligus namun diturunkan dalam kurun waktu sekitar dua puluh dua tahun. Kajian Al quran di Barat telah dimulai sejak abad 12, yang juga merupakan bagian dari orientalisme secara umum. Pada tahun 1844. Asumsi yang dikembangkan Weil adalah bahwa dalam hal periodisasi Alquran ia membaginya ke dalam Makkiyah awal, tengah, akhir, serta Madaniyah.

Dalam melakukan kajian studi al-Qur’an, para Orientalis meneliti dengan berbagai macam tema, diantaranya:

No Tema Tokoh Karya

1 Kritik Teks dan Redaksi

John Wansbourgh

The Sectarian Milieu: Content and Composition of Islamic Salvation

History" dan "Qur'anic Studies:

Sources and Methods of Scriptural Interpretation".

2 Konteks Historis

Montgomery Watt "Muhammad: Prophet and Statesman" dan "The Quran and Its

Exegesis".

3 Sosiologi Al-Qur'an Fazlur Rahman "Islam", "Major Themes of the Qur'an", dan "Revival and Reform

in Islam"

4 Linguistik

Arthur Jeffrey "The Text of the Old Testament"

dan "The Text of the Qur'an: Its History and Transmission"

5

Konteks Teologis dan Filosofis

William Montgomery Watt

"Muhammad: Prophet and Statesman", "Islamic Philosophy and Theology", dan "The Qur'an

and Its Exegesis".

6

Kritik Terhadap Al-

Qur'an John Wansbrough

"The Sectarian Milieu: Content and Composition of Islamic Salvation

History" dan "Qur'anic Studies:

Sources and Methods of Scriptural Interpretation"

7 Perbandingan Agama William

Montgemary Watt "Muhammad: Prophet and Statesman" dan "Islamic Philosophy and Theology"

8

Interpretasi Barat

tentang Al-Qur'an Carl Ernst "Following Muhammad:

Rethinking Islam in the Contemporary World"

9 Pengaruh Al-Qur'an dalam Budaya Barat

Jack Miles "God: A Biography"

10 Kritik terhadap Metode Orientalis

Muhammad

Arkoun "Rethinking Islam: Common Questions, Uncommon Answers"

9 Judin, Muhammad Siroj. Al-Qur’an dalam Pandangan Orientalis dan 3 Ajaran Islam yang Diadopsi dari Yahudi menurut Geiger. www. Tafsialquran.id. Diakses tanggal 08 Februari 2021

(8)

dan "The Unthought in Contemporary Islamic Thought"

Referensi

Dokumen terkait

Melalui pendekatan ini juga dapat diketahui bahwa hasil dari penafsiran para mufassir terhadap millah Ibrahim dalam Al-Qur‟an banyak dipengaruhi oleh pra-pemahaman

Etty kustiwi, Penerapan Metode Pembelajaran Baca-Tulis Al- Qur‟an Dalam meningkatkan Pemahaman Baca Al-Qur‟an Pada Anak, Skripsi, UIN Maulana Malik Ibrahim (2008) Membahas

Meskipun membahas tentang term-term bentuk bumi dalam al-Qur‟an dengan mengkomparasikan penafsiran antara tafsir Mafatih al-Ghaib dan tafsir al- Mannar, skripsi yang

Kenyataan sejarah berkaitan dengan pernyataan Al-Qur‟an di atas bahwa transformatif al-Qur‟an dalam membangun peradaban umat manusia dapat diamati dari realitas

Dari hasil penelitian implementasi Metode Tilawati dalam menumbuhkan kemampuan belajar Al-Qur‟an di Taman Pendidikan Al- Qur‟an TPQ Al Kautsar Desa Kaliwining Kecamatan Rambipuji

Tradisi Sema‟an Al-Qur„an merupakan kajian Living Qur„an karena terbentuk dari respon atau praktik perilaku suatu masyarakat yang diinspirasi oleh kehadiran Al-Qur„an, dalam bahasa

Model analisis semantik yang dikembangkan Toshihiko Izutsu ini beriorientasi mengungkap weltanschauung Al-Qur‟an atau visi Al-Qur‟an terhadap alam semesta.70 Sedangkan menurut tokoh

“Penafsiran Sayyid Quthb Tentang Wacana Pluralisme Agama dalam Al-Qur‟an Surat Al-An‟am Ayat 108 Pada Tafsir Fi Zhilal Al-Qur‟an.” Sophist : Jurnal Sosial Politik Kajian Islam dan