STUDI KASUS PENERAPAN ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK PADA PENDERITA RHEUMATOID ARTHRITIS DENGAN
PENDEKATAN KELUARGA BINAAN DI KLINIK MEDIKA KELUARGA UTAMA
SIDOARJO
Oleh :
ERFIAN HERIS ARDIANTO 1901042
PROGRAM DIII KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KERTA CENDEKIA SIDOARJO
2022
STUDI KASUS PENERAPAN ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK PADA PENDERITA RHEUMATOID ARTHRITIS DENGAN
PENDEKATAN KELUARGA BINAAN DI KLINIK MEDIKA KELUARGA UTAMA
SIDOARJO
Sebagai Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya Keperawatan (Amd.Kep) Di Politeknik Kesehatan Kerta Cendekia Sidoarjo
Oleh :
ERFIAN HERIS ARDIANTO 1901042
PROGRAM DIII KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KERTA CENDEKIA SIDOARJO
2022
i
SURAT PERNYATAAN Yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama : Erfian Heris Ardianto
NIM : 1901042
Tempat, Tanggal Lahir : Surabaya, 02 Juni 2001
Institusi : Politeknik Kesehatan Kerta Cendekia Sidoarjo Menyatakan bahwa proposal yang berjudul :
“ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DENGAN MASALAH KESEHATAN RHEUMATOID ATHRITHIS DI KLINIK MEDIKA KELUARGA UTAMA DESA GAJAH MAGERSARI SIDOARJO”
adalah bukan proposal orang lain baik sebagian maupun keseluruhan, kecuali dalam bentuk kutipan yang telah disebutkan sumbernya.
Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya dan apabila pernyataan ini tidak benar, saya bersedia mendapat sanksi.
Sidoarjo, Desember 2021 Yang Menyatakan,
Erfian Heris Ardianto 1901042
Mengetahui
Pembimbing I Pembimbing 2
Agus Sulistiyowati, S.Kep., M.Kes Ns.Dini Prastyo W, S.Kep.,M.Kep NIDN. 0703087801 NIDN. 0704068901
ii
LEMBAR PERSETUJUAN
Nama : Erfian Heris Ardianto
Judul : Asuhan Keperawatan pada Lansia dengan Masalah Kesehatan
Rheumatoid Athrithis di Klinik Media Keluarga Desa GajahMagersari Sidoarjo .
Telah disetujui untuk diujikan dihadapan penguji proposal pada tanggal
Oleh :
Pembimbing 1 Pembimbing 2
Agus Sulistiyowati, S.Kep., M.Kes Ns.Dini Prastyo W, S.Kep., M.Kep NIDN. 0703087801 NIDN. 0704068901
Mengetahui, Direktur
Politeknik Kesehatan Kerta Cendekia Sidoarjo
Agus Sulistyowati, S.Kep., M.Kes NIDN. 0703087801
iii
HALAMAN PENGESAHAN
Telah di uji dan di setujui oleh Tim Penguji pada ujian proposal di Program D3 Keperawatan Politeknik Kesehatan Kerta Cendekia Sidoarjo.
Tim penguji Tanda Tangan
Ketua : Faida Annisa, S.Kep., Ns., MNs ...………...
Anggota : 1. Agus Sulistyowati, S.Kep. M.Kes ...
2. Ns.Dini Prastyo W, S.Kep., M.Kep ...………...
Mengetahui,
Direktur
Politeknik Kesehatan Kerta Cendekia Sidoarjo
(Agus Sulistyowati, S.Kep. M.Kes) NIDN. 0703087801
iv
MOTTO
“Hidup itu bukan tentang siapa yang terbaik , Tapi tentang Siapa yang mau berbuat baik”
Barangsiapa menginginkan kebahagiaan dunia ,maka tuntutlah ilmu, dan barangsiapa yang ingin kebahagiaan akhirat tuntutlah ilmu, dan barangsiapa yang
menginginkan keduanya tuntutlah ilmu pengetahuan (Rasulullah SAW)
Believe in something bigger than yourself and find your purpose in life”
(Justin Bieber)
v
LEMBAR PERSEMBAHAN
Dengan segala puji syukur kepada allah SWT dan atas dukungan doa dari orang-orang tercinta, akhirnya Karya Tulis Ilmiah ini dapat diselesaikan dengan baik dan tepat pada waktunya. Oleh karena itu, dengan rasa bangga dan bahagia saya haturkan rasa syukur terima kasih kepada :
1. Allah SWT, karena hanya atas izin dan karunia Nya lah maka Karya Tulis Ilmiah ini dapat dibuat dan selesai pada waktunya.
2. Ibu Agus Sulistyowati., S. Kep., M.Kes selaku Direktur Politeknik Kesehatan Kerta Cendekia dan Pembimbing I
3. Ibu Ns.Dini Prastyo W, S.Kep., M.Kep Selaku Pembimbing II
4. Ibu dan Nenek saya tercinta yang telah memberikan dukungan moral maupun materi serta doa.
5. Bapak dan Ibu Dosen pembimbing, penguji dan pengajar, yang selama ini telah tulus dan ikhlas meluangkan waktunya untuk menuntun dan mengarahkan saya menjadi lebih baik.
6. Terimakasih saya ucapkan untuk Kakak saya yang telah menjadi motivasi saya untuk terus bergerak maju “Erni Sulistyowati”.
.
vi
KATA PENGANTAR
Syukur alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik serta hidayah-Nya, sehingga dapat menyelesaikan proposal dengan judul “Asuhan Keperawatan Pada lansia dengan Masalah Kesehatan Rheumatoid Athrithis di Klinik Medika Keluarga Utama Sidoarjo.” ini dengan tepat waktu sebagai persyaratan akademik.
Penulisan Proposal ini tidak terlepas dari bantuan dan bimbingan berbagai pihak. Untuk itu kami mengucapkan banyak terima kasih kepada :
1. Tuhan Yang Maha Esa
2. Ibu Agus Sulistyowati., S. Kep., M.Kes selaku Direktur Politeknik Kesehatan Kerta Cendekia dan Pembimbing I
3. Ibu Ns.Dini Prastyo W, S.Kep., M.Kep Selaku Pembimbing II
4. Ibu dan nenek tercinta serta keluarga yang senantiasa mendukung saya selama ini.
5. Pihak-pihak yang turut berjasa dalam penyusunan proposal yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
Penulis sadar bahwa asuhan keperawatan ini belum mencapai kesempurnaan, sebagai bekal perbaikan, penulis akan berterima kasih apabila para pembaca berkenan memberikan masukan, baik dalam bentuk kritikan maupun saran demi kesempurnaan asuhan keperawatan ini. Penulis berharap asuhan keperawatan ini bermanfaat bagi pembaca dan bagi keperawatan.
Sidoarjo,10 Desember 2021
Erfian Heris Ardianto
vii
DAFTAR ISI
Sampul Depan ...
Lembar Judul ...
Surat Pernyataan ... i
Lembar Persetujuan ... ii
Kata Pengantar ... iii
Lembar Pengesahan ... iv
Daftar isi ... v
Daftar Tabel ... vi
Daftar Gambar ... vii
BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 4
1.3. Tujuan Penelitian ... 4
1.4. Manfaat Penelitian ... 5
1.5. Metode Penulisan ... 6
1.5.1. Metode Penelitian ... 6
1.5.2. Teknik Pengumpulan Data ... 6
1.5.3. Sumber Data ... 6
1.5.4. Studi Kepustakaan ... 7
1.6. Sistematika Penulisan Metode ... 7
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ………..8
2.1. Konsep Penyakit ... 8
2.1.1. Pengertian ... 8
2.1.2. Etiologi ... 9
2.1.3. Manifestasi Klinis ... 9
2.1.4. Patofisiologi ... 11
2.1.5. Tanda dan Gejala ... 12
2.1.6. Pemeriksaan penunjang ... 12
2.1.7. Penatalaksaaan ………13
2.1.8. Komplikasi………...15
2.2 Konsep Dasar Lansia ... 16
2.2.1 Pengertian lansia ... 16
2.2.2 Batas batas usia lanjut ... 17
2.2.3 Ciri-ciri Lansia ... 17
2.2.4 Karakteristik Lansia ... 18
2.2.5 Tipe tipe lansia ... 19
2.2.6 Pendekatan perawatan lansia ... 19
2.2.7 Faktor factor yang mempengaruhi lansia ... 20
2.2.8 Perubahan yang terjadi pada lansia ... 21
2.3 Konsep asuhan keperawatan ... 22
2.3.1 Pengkajian ... 27
2.3.2 Pemeriksaan fisik ... 30
2.3.3 Analisa data ... 37
2.3.4 Diagnose keperawatan ... 37
2.3.5 Intervensi Keperawatan ... 40
viii
2.3.6 implementasi keperawatan ... .44
2.3.7 evaluasi keperawatan .……….45
2.3.8 pathway………...……….45
BAB 3 TINJAUAN KASUS 3.1 Pengkajian ... 31
3.1.1 Identitas Klien ... 31
3.1.2 Keluhan Utama... 31
3.1.3 Riwayat Kesehatan Saat Ini ... 31
3.1.4 Riwayat Kesehatan Sebelumnya ... 31
3.1.5 Riwayat Kesehatan Keluarga ... 33
3.1.6 Perilaku Yang Mempengaruhi Kesehatan ... 33
3.1.7 Pengetahuan Klien Tentang Penyakitnya... 33
3.1.8 Genogram ... 33
3.1.9 Riwayat Psikososial ... 34
3.1.10 Riwayat Nutrisi dan Cairan ... 35
3.1.11 Indeks KATZ ... 40
3.1.12 Barthel Indeks ... 41
3.1.13 Status Mental dengan Short Portabel Mental Status (SPMSQ) ... 43
3.1.14 Analisa Data ... 45
3.1.15 Diagnosa Keperawatan Prioritas ... 48
3.1.17 Intervensi Keperawatan ... 49
3.1.18 Implementasi Keperawatan ... 51
3.1.19 Evaluasi Keperawatan ... 57
BAB 4 PEMBAHASAN 6.1 Pengkajian ... 62
6.2 Diagnosa Keperawatan... 64
6.3 Intervensi Keperawatan ... 65
6.4 Implementasi Keperawatan ... 66
6.5 Evaluasi Keperawatan ... 67
ix
BAB 5 PENUTUP
1.1 Simpulan ... 69 1.2 Saran ... 70 DAFTRAR PUSTAKA ... 71
x
DAFTAR GAMBAR
No Judul Gambar hal
Gambar 2.1 Kerangka Masalah...40
xi
DAFTAR TABEL
No Judul tabel hal
Tabel 2.1 Pengkajian Indeks KATZ ... 33
Tabel 2.2 Pengkajian short portable mental status quistioner (SPMSQ) ... 35
Tabel 2.3 Pengkajian Bathel indeks ... 36
Tabel 2.7 Intervensi Keperawatan pada pasien Rhematoid Arthritis ... 40
Tabel 3.1 Identitas ... 46
Tabel 3.2 Keluhan Utama ... 46
Tabel 3.3 Riwayat Keluhan Saat ini ... 46
Tabel 3.4 Riwayat Penyakit Sebelumnya... 47
Tabel 3.5 Riwayat Alergi ... 47
Tabel 3.6 Riwayat Operasi ... 47
Tabel 3.7 Riwayat Jatuh ... 47
Tabel 3.8 Riwayat Kesehatan Keluarga ... 48
Tabel 3.9 Perilaku Yang Mempengaruhi Kesehatan... 48
Tabel 3.10 Pengetahuan Klien Tentang Penyakitnya ... 48
Tabel 3.11 Genogram ... 48
Tabel 3.12 Kondisi Tempat Tinggal Klien ... 49
Tabel 3.13 Hubungan/Dukungan Keluarga... 49
Tabel 3.14 Kemampuan Klien dalam Melaksanakan Perannya... 49
Tabel 3.15 Harapan Klien Terhadap Penyakitnya ... 50
Tabel 3.16 Hubungan Klien dengan Masyarakat di Sekitarnya ... 50
Tabel 3.17 Nafsu Makan ... 50
Tabel 3.18 Frekuensi Makan ... 50
Tabel 3.19 Menu Makan ... 51
Tabel 3.20 Pantangan Makan ... 51
Tabel 3.21 Jenis Konsumsi dan Cairan ... 51
Tabel 3.22 Jenis Minuman ... 51
Tabel 3.23 Keadaan Umum... 51
Tabel 3.24 Tanda –tanda Vital ... 52
Tabel 3.25 Sistem Pernafasan (B1) ... 52
Tabel 3.26 Sistem Kardiovaskuler (B2) ... 52
Tabel 3.27 Sistem Persyarafan (B3) ... 53
Tabel 3.28 Sistem Genetourinaria (B4) ... 53
Tabel 3.29 Sistem Pencernaan (B5) ... 53
Tabel 3.30 Sistem Muskuloskeletal dan Integumen (B6) ... 54
Tabel 3.31 Sistem Penginderaan (B7) Mata ... 54
Tabel 3.32 Sistem Penginderaan (B7) Hidung ... 55
Tabel 3.33 Sistem Penginderaan (B7) Telinga ... 55
Tabel 3.34 Sistem Penginderaan (B7) Perasa ... 55
Tabel 3.35 Sistem Penginderaan bagian Peraba (B7) ... 55
xii
Tabel 3.36 Sistem Endokrin (B8)... 55
Tabel 3.37 INDEKS KATZ (Klien 1) ... 56
Tabel 3.38 INDEKS KATZ (Klien 2) ... 56
Tabel 3.39 Bathel Indeks (Klien 1) ... 57
Tabel 3.40 Bathel Indeks (Klien 2) ... 58
Tabel 3.41 Identifikasi Status Mental dengan Short Portable Mental Status Quesioner (SPMSQ) (Klien 1) ... 59
Tabel 3.42 Identifikasi Status Mental dengan Short Portable Mental Status Quesioner (SPMSQ) (Klien 2) ... 59
Tabel 3.43 Analisa Data ... 56
Tabel 3.44 Diagnosa Keperawatan ... 58
Tabel 3.45 Intervensi Keperawatan... 59
Tabel 3.46 Implementasi Keperawatan ... 61
Tabel 3.47 Catatan Perkembangan ... 65
Tabel 3.48 Evaluasi Keperawatan ... 68
1
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Rheumatoid Arthritis merupakan suatu penyakit inflamasi sistemik kronik dengan manifestasi utama poliarthritis progresif dan melibatkan seluruh organ tubuh. Terlibatnya sendi pada pasien Rheumatoid Arthritis terjadi setelah penyakit ini berkembang lebih lanjut sesuai dengan sifat progresivitasnya. Pasien dapat pula menunjukkan gejala konstitusional berupa kelemahan imun, cepat lelah, atau gangguan nonartikular lain (Yuli, 2015). Nyeri akut merupakan respon normal akibat adanya kerusakan jaringan, namun dapat menimbulkan gangguan fisik, psikologis,maupun emosional dan tanpa manajemen yang adekuat dapat berkembang menjadi nyeri kronik. Semakin meningkatnya usia seseorang akan mengalami perubahan pada fisiologis dan anatomi tubuh yang terjadi pada semua orang.
Dengan bertambahnya usia kondisi dan fungsi tubuh juga menurun, terutama pada fase lansia sangat rentang terhadap suatu penyakit yaitu penyakit degeneratif. Salah satunya penyakit degeneratif yang menimpa para lansia antara lain Rheumatoid Arthritis . Penyakit ini ditemukan pada semua sendi, tetapi paling sering terjadi pada sendi tangan. Selain menyerang sendi tangan, dapat pula menyerang sendi siku, kaki, pergelangan kaki dan lutut. Hal ini juga terjadi di tempat klinik medika keluarga utama yang berjumlah 10 lansia yang terdiri dari 6 lansia perempuan dan 4 lansia laki-laki, 7 diantaranya mengeluh susah dalam melakukan aktivitas sehari-hari serta berjalan dengan menggunakan alat
bantu karena nyeri saat beraktifitas berlebih. Walaupun pelayanan kesehatan di klinik medika keluarga utama baik, namun 3 lansia yang mengeluh belum mengetahui bagaimana cara mengatasi keluhannya. Perubahan kondisi fisik pada lansia diantaranya adalah menurunnya kemampuan muskuloskeletal ke arah yang lebih buruk sehingga menyebabkan kekakuan sendi.
Menurut badan kesehatan dunia (WHO) jumlah penderita Rheumatoid Arthritis pada tahun 2011 pervalensinya mencapai 29,13%. Pada tahun 2012 pervalensinya sebanyak 39,4% dan pada tahun 2013 pervalensinya sebanyak 45,59% dan menyerang pada usia 39-50 tahun (WHO, 2013). Di Indonesia sendiri penyakit Rheumatoid Arthritis pada tahun 2013-2018 kisaran pervalensinya sebanyak 18,9% (Riskesdas, 2018). Menurut rekam medis klinik medika keluarga utama, penderita Rheumatoid Arthritis pada tahun 2020 berjumlah 70%. Hasil survey pendahuluan yang dilakukan selama 2 hari terdapat 10 orang lansia yang dimana terdapat 7 orang lansia yang mengalami Rheumatoid Arthritis , didapatkan hasil wawancara secara keseluruhan menyampaikan 70% mengalami Rheumatoid Arthritis . Angka ini menunjukkan bahwa tingginya angka kejadian Rheumatoid Arthritis di klinik medika keluarga utama di desa Gajah Magersari.
Timbulnya kejadian Rheumatoid Arthritis sampai sekarang belum diketahui penyebabnya. Meskipun agen infeksi virus, bakteri dan jamur yang lama dicurigai, tetapi tidak satupun telah terbukti sebagai penyebabnya.
Penyebab penyakit Rheumatoid Arthritis merupakan masalah yang sangat aktif diteliti di seluruh dunia. Hal ini diyakini bahwa kecenderungan untuk terkena penyakit ini dapat diwariskan secara genetik (Nugroho, 2012).Tanda
dan gejala dari penyakit Rheumatoid Arthritis yaitu nyeri sendi, sendi bengkak atau terasa lembut, sendi terasa kaku, kelelahan, demam, dan hilangnya nafsu makan..Dampak keadaan ini dapat mengancam jiwa penderitanya atau hanya menimbulkan gangguan kenyamanan berupa nyeri dan masalah yang disebabkan oleh penyakit Rheumatoid Arthritis tidak hanya berupa keterbatasan yang tampak jelas pada mobilitas dan aktivitas hidup sehari-hari tetapi juga efek sistemik yang tidak jelas tetapi dapat menimbulkan kegagalan organ dan kematian atau mengakibatkan masalah seperti hambatan mobilitas fisik. Keadaan mudah lelah, perubahan citra diri serta gangguan tidur.
Munculnya masalah keperawatan Hambatan mobilitas fisik yang sering dikeluhkan pasien Rheumatoid Arthritis , perlu adanya penanganan dan pencegahan. Menurunkan rasa nyeri yang diderita pasien, maka implementasi yang dilakukan perawat sebagai edukator pemberi perawatan melalui pendidikan yaitu mengajari cara merawat Rheumatoid Arthritis agar tidak bertambah parah dan perawat sebagai care giver untuk menanggulangi, dapat dilakukan dengan terapi farmakologi dan non farmakologi. Perawat juga mengedukasi cara Pencegahan penyakit Rheumatoid Arthritis dengan menjelaskan cara mengubah pola hidup yang lebih sehat dan menghindari mengonsumsi makanan yang mengandung tinggi purin, menghindari minuman manis dan beralkohol, mengonsumsi makanan rendah lemak, melakukan olahraga secara teratur, dan memperbanyak minum air putih (Tim Bumi Medika, 2017). Perawat juga memberikan suatu terapi untuk pemulihan dengan menggunaan alat infrared lamp.
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan asuhan keperawatan lansia Rheumatoid Arthritis dengan masalah keperawatan Hambatan mobilitas fisik di klinik medika keluarga utama.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalahnya adalah
“Bagaimanakah Asuhan keperawatan lansia dengan Rheumatoid Arthritis di klinik medika keluarga utama?
1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum
Memperoleh gambaran pelaksanaan asuhan keperawatan lansia Rheumatoid Arthritis di klinik medika keluarga utama.
1.4 Tujuan Khusus
1.4.1.1 Menggambarkan pengkajian asuhan keperawatan lansia Rheumatoid Arthritis di klinik medika keluarga utama.
1.4.1.2 Menggambarkan perumusan diagnosa asuhan keperawatan lansia Rheumatoid Arthritis di klinik medika keluarga utama.
1.4.1.3 Menggambarkan rencana tindakan asuhan keperawatan lansia Rheumatoid Arthritis di klinik medika keluarga utama.
1.4.1.4 Menggambarkan tindaan asuhan keperawatan lansia Rheumatoid Arthritis di klinik medika keluarga utama
1.4.1.5 Menggambaran evaluasi asuhan keperawatan Rheumatoid Arthritis di klinik medika keluarga utama
1.5 Manfaat Studi Kasus
Terkait dengan tujuan, maka tugas akhir ini diharapkan dapat memberi manfaat:
1.4.1 Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini dapat menjadi sumber infomasi dan referensi untuk memberikan pengetahuan pada lansia yang mengalami hambatan mobilitas fisik tentang Rheumatoid Arthritis .
1.4.2 Manfaat Akademis
Hasil studi kasus ini merupakan sumbangan bagi ilmu pengetahuan khususnya dalam hal asuhan keperawatan pada pasien Rheumatoid Arthritis .
1.4.3 Manfaat praktis, tugas akhir ini akan bermanfaat bagi : 1.4.3.1 Bagi pelayanan keperawatan di rumah sakit
Hasil studi kasus ini, dapat menjadi masukan bagi pelayanan di Klinik Medika Keluarga Utama agar dapat melakukan asuhan keperawatan pada pasien Rheumatoid Arthritis dengan baik.
1.4.3.2 Bagi peneliti
Hasil penelitian ini dapat menjadi salah satu rujukan bagi peneliti berikutnya, yang akan melakukan studi kasus pada asuhan keperawatan pada pasien dengan Rheumatoid Arthritis .
1.4.3.3 Bagi profesi Kesehatan
Sebagai tambahan ilmu bagi profesi keperawatan dan memberikan pemahaman yang lebih tentang asuhan keperawatan pada pasien dengan Rheumatoid Arthritis .
1.5 Metode Penulisan 1.5.1 Metode
Metode deskriptif yaitu metode yang sifatnya mengungkapkan peristiwa atau gejala yang terjadi pada waktu sekarang yang meliputi studi kepustakaan yang mempelajari, mengumpulkan, membahas data dengan studi pendekatan proseskeperawatan dengan langkah-langkah pengkajian, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.
1.5.2 Teknik Pengumpulan Data 1.5.2.1 Wawancara
Data diambil/diperoleh melalui percakapan baik dengan klien, keluarga maupun tim kesehatan lain.
1.5.2.2 Observas i
Data yang diambil melalui pengamatan kepada klien.
1.5.2.3 Pemeriksaan
Meliputi pemeriksaan fisik.
1.5.3 Sumber Data 1.5.3.1 Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh dari klien.
1.5.3.2 Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari keluarga atau orang terdekat klien, catatan medis perawat, hasil-hasil pemeriksaan dan tim kesehatan lain
1.5.4 Studi Kepustakaan
Studi kepustakaan yaitu mempelajari buku sumber yang berhubungan dengan judul studi kasus dan masalah yang dibahas.
1.6 Sistematika Penulisan
Supaya lebih jelas dan lebih mudah dalam mempelajari dan memahami studi kasus ini, secara keseluruhan di bagi menjadi tiga bagian, yaitu:
1.6.1 Bagian awal
Memuat halaman judul, persetujuan pembimbing, pengesahan, kata pengantar, daftar isi.
1.6.2 Bagian inti
Bagian ini terdiri dari lima bab, yang masing-masing bab terdiri dari sub- bab berikut ini:
Bab 1: Pendahuluan, berisi latar belakang masalah, tujuan, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan studi kasus.
Bab 2: Tinjauan pustaka, berisi tentang konsep penyakit dari sudut medis dan asuhan keperawatan klien dengan diagnosa Rheumatoid Arthritis , serta kerangka masalah.
1.6.3 Bagian akhir, terdiri dari daftar pustaka
8
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Dalam bab 2 ini akan diuraikan secara teoritis mengenai konsep dan asuhan keperawatan Rheumatoid Arthritis . Konsep ini akan diuraikan definisi, etiologi, dan cara penanganan secara medis. Asuhan keperawatan akan diuraikan masalah- masalah yang muncul pada komplikasi Rheumatoid Arthritis dengan melakukan asuhan keperawatan terdiri dari pengkajian, diagnosa, perencanaan, pelaksaaan, evaluasi.
2.1 Konsep Dasar Penyakit
2.1.1 Definisi Rheumatoid Arthritis
Rheumatoid Arthritis (RA) adalah penyakit inflamasi sistematik yang tidak diketahui penyebabnya. Karakteristik Rheumatoid Arthritis adalah terjadinya kerusakan dan proliferasi pada membrane synovial, yang menyebabkan kerusakan pada tulang sendi, ankilosis dan deformitas.
Mekanisme imunologi tampak berperan penting dalam memulai dan timbulnya penyakit ini (Ningsih, 2012).
Rheumatoid Arthritis adalah penyakit inflamasi sistem kronik dengan manifesitasi utama poliathrithis progresif dan melibatkan seluruh organ.
Terlibatnya sendi pada pasien Rheumatoid Arthritis terjadi setalah penyakit ini berkembang lebih lanjut sesuai dengan sifat progresivitasnnya.
Arthritis atau biasa disebut rematik adalah penyakit yang menyerang persendian dan struktur di sekitarnya. Rheumatoid Arthritis adalah penyakit inflamasi sistemik kronis yang tidak diketahui penyebabnya. Pendapat lain
mengatakan, Rheumatoid Arthritis adalah gangguan kronik yang menyerang berbagai sistem organ. Penyakit ini adalah salah satu dari sekelompok penyakit jaringan penyambung difus yang diperantai oleh imunitas.
2.1.2 Etiologi Rheumatoid Arthritis
Penyebab Rheumatoid Arthritis belum diketahui secara pasti walaupun banyak hal mengenai patogenesisnya telah terungkap. Faktor genetik dan beberapa faktor lingkungan telah lama diduga berperan dalam timbulnya penyakit ini. Kecenderungan wanita yang sedang hamil menimbulkan dugaan terdapatnya penyakit ini. Walaupun demikian karena pembesaran hormon esterogen eksternal tidak pernah menghasilkan perbaikan sebagaimana yang diharapkan, sehingga kini belum berhasil dipastikan bahwa faktor hormonal memang merupakan penyebab penyakit ini.
Sejak tahun 1930, infeksi telah diduga merupakan penyebab Rheumatoid Arthritis . Dugaan faktor infeksi timbul karena umumnya omset penyakit ini terjadi secara mendadak dan timbul dengan disertai oleh gambaran inflamasi yang mencolok. Walaupun hingga kini belum berhasil dilakukan isolasi suatu organisme dari jaringan sinovial, hal ini tidak menyingkirkan kemungkinan bahwa terdapat suatu komponen peptidoglikan atau endoktosin mikroorganisme yang dapat mencetuskan terjadinya Rheumatoid Arthritis . Agen infeksius yang diduga penyebab Rheumatoid Arthritis antara lain bakteri, mikoplasma atau virus.
Hipotesis terbaru tentang penyebab penyakit ini adalah adanya faktor genetik yang akan menjurus pada penyakit setelah terjangkit beberapa penyakit virus, seperti infeksi Virus Epstein-Barr. Heat Shock Protein (HSP) adalah sekelompok protein berukuran sedang (60-90 kDa) yang dibentuk oleh sel seluruh spesies sebagai respon terhadap stress. Walaupun telah diketahui terdapat hubungan antara Heat Shock Protein dan sel T pada pasien Rheumatoid Arthritis namun mekanisme hubungan ini belum diketahui jelas.
2.1.3 Manifestasi Klinis
Gejala awal terjadi beberapa sendi sehingga disebut poli Rheumatoid Arthritis . Persendian yang paling sering terkena adalah sendi tangan, pergelangan tangan, sendi lutut, sendi siku, pergelangan kaki, sendi bahu, serta sendi panggul dan biasanya bersifat bilateral atau simetris. Tetapi kadang-kadang hanya terjadi pada satu sendi disebut arthritis rheumatoid mono-artikular.
Ada beberapa manifesitasi klinis yang lazim ditemukan pada klien dengan Rheumatoid Arthritis . Manifesitasi ini tidak harus timbul sekaligus pada saat yang bersamaan (Joko,dkk, 2015). Penyakit ini memiliki manifesitas klinis yang sangat bervariasi :
2.1.3.1 Gejala-gejala konstitusional, misalnya lelah, berat badan menurun dan demam.
2.1.3.2 Poliaritis simetris, terutama pada sendi perifer, termasuk sendi-sendi tangan, namun biasanya tidak melibatkan sendi-sendi interfalangs distal. Hampir semua sendi diartodial bisa terserang.
2.1.3.3 Kekakuan di pagi hari selama lebih dari satu jam, dapat bersifat generalisasi tetapi terutama menyerang sendi-sendi. Kekakuan ini berbeda dengan kekakuan sendi di Osteoarthirithis yang biasanya hanya berlangsung selama beberapa menit dan selalu kurang dari satu jam.
2.1.3.4.Aritis erosif, merupakan ciri khas Rheumatoid Arthritis pada gambaran radiologic. Peradangan sendi yang kronik mengakibatkan erosi di tepi tulang dan dapat dilihat pada radiogram.
2.1.3.5 Deformitas, misalanya pergeseran ulnar atau deviasi jari, aublukasi sendi metakarpofalangeal, deformitas boutonnier, dan leher angsa merupakan beberapa deformitas tangan yang sering dijumpai pada klien Rheumatoid Arthritis . Pada laki-laki sering dijumpai portusi (tonjolan) kaput metatarsal yang timbul sekunder dari subluksasi metatarsal. Sendi-sendi yang besar juga dapat terserang dan akan mengalami pengurangan kemampuan bergerak terutama dalam melakukan gerakan ekstensi. Selain itu manifesitasi ekstra artikuler, Rheumatoid Arthritis menyerang organ-organ di luar sendi. Jantung (perikarditia), paru-paru (pleuritis), mata, dan pembuluh darah dapat rusak.
2.1.4 Klasifikasi
Menurut (Joko,dkk, 2015) Klasifikasi Rheumatoid Arthritis dibagi menjadi 6 :
2.1.4.1 Rheumatoid Arthritis klasik
pada tipe ini harus terdapat 7 kriteria tanda dan gejala sendi yang harus berlangsung terus menerus, paling sedikit dalam waktu 6 minggu
2.1.4.2 Rheumatoid Arthritis defisit
pada tipe ini harus terdapat 5 kriteria tanda dan gejala sendi yang harus berlangsung terus menerus, paling sedikit dalam waktu 6 minggu.
2.1.4.3 Probable Rheumatoid Arthritis
pada tipe ini harus terdapat 3 kriteria tanda dan gejala sendi yang harus berlangsung terus menerus, paling sedikit dalam waktu 6 minggu.
2.1.4.4 Possible Rheumatoid Arthritis
pada tipe ini harus terdapat 2 kriteria tanda dan gejala sendi yang harus berlangsung terus menerus, paling sedikit dalam waktu 3 bulan.
2.1.5 Patofisiologi
Dari penelitian muthakir diketahui bahwa pathogenesis athrithis rheumatoid masih belum tuntas diketahui, dan teorinya masih berkembang terus. Dikatakan terjadi berbagai peran yang saling terkait, antara lain peran genetik, infeksi, autoantibodi serta peran imunitas seluler, hormonal, peran sitokin, dan berbagai mediator keradangan. Semua peran ini, satu sama lainnya saling terkait dan pada akhirnya menyebabkan keradangan pada sinovium dan kerusakan sendi sekitarnya atau mungkin organ lainnya. Sitokin merupakan local protein yang dapat menyebabkan pertumbuhan,
diferensiasi dan aktivitas sel, dalam proses keradangan. Berbagai sitokin berperan dalam proses keradangan yaitu TNF a, IL-1 yang terutama dihasilkan oleh monosit atau makrofag menyebabkan stimulasi dari sel mesenzim seperti sel fibroblast sinovium, steoklas, kondrosit serta merangsang pengeluaran enzim penghancur jaringan, enzim matrix metalloproateases (MMPs) (Putra dkk,2013).
Fagositosis komplek imun oleh sel radang akan disertai oleh pembentukan dan pembebasan radikal oksigen bebas, produksi protease, kolagenase dan enzim-enzim hidrolitik lainnya. Enzim- enzim ini akan menyebabkan destruksi jaringan sendi, memecahkan tulang rawan, ligamentum, tendon dan tulang pada sendi. Proses ini diduga adalah bagian dari suatu respon autoimun terhadap antigen yang diproduksi secara lokal. Enzim-enzim tersebut akan memecah kolagen sehingga terjadi edema, proliferasi membrane sinovial.
Masuknya sel radang ke dalam membrane sinovial akibat pengendapan komplek imun yang menyebabkan terbentuknya pannus yang merupakan elem paling destruktif dalam patogenensis athrithis rhematoid. Pannus merupakan jaringan granulasi yang terdiri dari sel fibroblas yang berpoliferasi, mikrovaskuler dan berbagai jenis sel radang, pannus akan menghancurkan tulang rawan dan menimbulkan erosi tulang, berakibat menghilangnya permukaan sendi yang otot akan mengalami perubahan degenerative dengan menghilangnya elastisitas otot dan kekuatan kontraksi otot. Akan
timbul rasa nyeri, pembengkalan, panas, eritema dan gangguan fungsi pada sendi akibat proses inflamasi (Putra dkk,2013).
2.1.5 Penatalaksanaan
2.1.5.1 Pendidikan pada pasien mengenai penyakit dan penatalaksanaan yang akan dilakukan sehingga terjalin hubungan baik dan terjamin ketaatan pasien untuk tetap berobat dalam jangka waktu yang lama (Joko,dkk, 2015).
2.1.5.2 OAINS (Obat Anti Inflamasi Non Steroid) diberikan sejak dini untuk mengatasi nyeri sendi akibat inflamasi yang sering dijumpai. OAINS yang diberikan : Aspirin, Ibu profen.
2.1.5.3 DMARD (Disease Modifying Antireumatoid Drugs) digunakan untuk melindungi rawan sendi dan tulang dari proses destruksi akibat Rheumatoid Arthritis . Keputusan penggunaanya bergantung pada pertimbangan resiko manfaat oleh dokter. Umummnya segera diberikan setelah diagnosis Rheumatoid Arthritis ditegakkan, atau bila respon OAINS tidak ada, meski masih dalam status tersangka.
2.1.5.4 Rehabilitas bertujuan meningkatkan kualitas hidup pasien. Caranya antara lain dengan mengistirahatkan sendi terlibat, latihan, pemanasan dan sebagainnya. Fisoterapi dimulai setelah rasa sakit pada sendi berkurang atau minimal. Bila tidak juga berhasil, mungkin diperlukan pertimbangan untuk tindakan operatif.
2.1.5.5 Pembedahan jika berbagai cara pengobatan dilakukan dan tidak berhasil serta terdapat alasan yang cukup kuat, dapat dilakukan pengobatan pembedahan. Jenis pengobatan ini pada pasien
Rheumatoid Arthritis umumnya bersifat orthopedic, misalnya sinovektomi, artodesis, memperbaiki deviasi ulnar.
2.1.7 Komplikasi
Menurut (Sya'diyah, 2018):212 komplikasi yang mungkin muncul adalah:
2.1.7.1 Neuropati perifer memengaruhi saraf yang paling sering terjadi di tangan dan kaki
2.1.7.2 Anemia
2.1.7.3 Pada otot terjadi myosis, yaitu proses granulasi jaringan otot
2.1.7.4 Pada pembuluh darah terjadi tromboemboli. Trombemboli adalah adanya sumbatan pada pembuluh darah yang disebabkan oleh adanya darah yang membeku.
2.2 Konsep Lansia 2.2.1 Pengertian Lansia
Lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas.
Menua bukanlah suatu penyakit, tetapi merupakan proses yang berangsur- angsur mengakibatkan perubahan kumulatif, merupakan proses menurunnya daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam dan luar tubuh, seperti di dalam Undang-Undang No 13 tahun 1998 yang isinya menyatakan bahwa pelaksanaan pembangunan nasional yang bertujuan mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, telah menghasilkan kondisi sosial masyarakat yang makin membaik dan usia harapan hidup makin meningkat, sehingga jumlah lanjut usia makin bertambah. Banyak diantara lanjut usia yang masih produktif dan mampu berperan aktif dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Upaya peningkatan kesejahteraan sosial lanjut usia pada hakikatnya merupakan pelestarian nilai-nilai keagamaan dan budaya bangsa.
Lansia merupakan kelanjutan dari usia dewasa. Kedewasaan dapat dibagi menjadi 4 bagian pertama fase iufentus, antara usia 25 dan 40 tahun, kedua fase verilitas, antara 40 dan 50 tahun, ketiga fase prasenium antara 55 dan 65 tahun dan ke empat fase senium, antara 65 hingga tutup usia (Azizah, 2011).
Menua atau menjadi tua adalah suatu keadaaan yang terjadi di dalam kehidupan manusia. Proses menua merupakan proses sepanjang hidup, tidak hanya dimulai dari suatu waktu tertentu, tetapi dimulai sejak permulaan kehidupan. Menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti
seseorang telah melalui tiga tahap kehidupan, yaitu anak, dewasa dan tua (Nugroho, 2012).
Jadi lansia adalah seseorang yang umurnya telah mencapai 65 tahun ke atas yang telah banyak mengalami kemunduran fisik, mental dan sosial.Yang ditandai dengan rambut beruban, kulit mulai berkeriput, gigi ompong, pendengaran dan penglihatan mulai terganggu.
2.2.2 Batasan-batasan lanjut usia Menurut WHO lansia meliputi :
2.2.2.1 Usia pertengahan (middle age) antara usia 45 sampai 59 tahun 2.2.2.2 Lanjut usia (elderly) antara usia 60 sampai 74 tahun
2.2.2.3 Lanjut usia tua (old) antara usia 75 sampai 90 tahun 2.2.2.4 Usia sangat tua (very old) diatas usia 90 tahun 2.2.3 Ciri-ciri Lansia
Ciri-ciri lansia adalah sebagai berikut:
2.2.3.1 Lansia merupakan periode kemunduran
Kemunduran pada lansia sebagian datang dari faktor fisik dan faktor psikologis. Motivasi memiliki peran yang penting dalam kemunduran pada lansia. Misalnya lansia yang memiliki motivasi yang rendah dalam melakukan kegiatan, maka akan mempercepat proses kemunduran fisik, akan tetapi ada juga lansia yang memiliki motivasi yang tinggi, maka kemunduran fisik pada lansia akan lebih lama terjadi.
2.2.3.2 Lansia memiliki status kelompok minoritas
Kondisi ini sebagai akibat dari sikap sosial yang tidak menyenangkan terhadap lansia dan diperkuat oleh pendapat yang kurang baik, misalnya
lansia yang lebih senang mempertahankan pendapatnya maka sikap sosial di masyarakat menjadi negatif, tetapi ada juga lansia yang mempunyai tenggang rasa kepada orang lain sehingga sikap sosial masyarakat menjadi positif.
2.2.3.2 Menua membutuhkan perubahan peran
Perubahan peran tersebut dilakukan karena lansia mulai mengalamikemunduran dalam segala hal. Perubahan peran pada lansia sebaiknya dilakukan atas dasar keinginan sendiri bukan atas dasar tekanan dari lingkungan. Misalnya lansia menduduki jabatan sosial di masyarakat sebagai Ketua RW, sebaiknya masyarakat tidak memberhentikan lansia sebagai ketua RW karena usianya.
2.2.3.4 Penyesuaian yang buruk pada lansia
Orang tua lebih mungkin mengembangkan konsep diri negatif sebagai akibat dari perlakuan buruk dan terlibat dalam perilaku negatif. Para lansia tidak dapat menyesuaikan diri dengan baik akibat perlakuan yang buruk ini. Misalnya, orang lanjut usia yang tinggal bersama kerabatnya sering kali tidak berpartisipasi dalam pengambilan keputusan karena pandangan mereka sudah ketinggalan zaman. Akibatnya, mereka menarik diri dari lingkungan mereka, menjadi mudah gelisah, dan bahkan mungkin memiliki harga diri yang rendah.
2.2.4 Karakteristik Lansia Karakteristik lansia diantaranya:
2.2.4.1 Orang berusia lebih dari 60 tahun (sesuai dengan Pasal 1 ayat 2 UU No.13 tentang kesehatan)
2.2.4.2 Kebutuhan dan masalah yang bervariasi dari rentang sehat sampai sakit, dari kebutuhan biopsikososial sampai spiritual, serta dari kondisi adaptif hingga kondisi maladaptive
2.2.4.3 Lingkungan dan tempat tinggal yang bervariasi (Maryam, 2009).
2.2.5 Tipe-tipe Lansia
Beberapa tipe lansia bergantung pada karakter, pengalaman hidup, lingkungan fisik, kondisi fisik, mental, sosial, dan ekonominya (Maryam dkk, 2008). Tipe tersebut dijabarkan sebagai berikut:
2.2.5.1 Tipe arif bijaksana, kaya dengan hikmah, pengalaman, menyesuaikan diri dengan perubahan zaman, mempunyai kesibukan, bersikap ramah, rendah hati, sederhana, dermawan, memenuhi undangan, dan menjadi panutan.
2.2.5.2 Tipe mandiri, mengganti kegiatan yang hilang dengan yang baru, selektif dalam mencari pekerjaan, bergaul dengan teman, dan memenuhi undangan.
2.2.5.3 Tipe tidak puas, konflik lahir batin menentang proses penuaan sehingga menjadi pemarah, tidak sabar, mudah tersinggung, sulit dilayani, pengkritik dan banyak menuntut.
2.2.6 Pendekatan Perawatan Lansia 2.2.6.1 Pendekatan Fisik
Perawatan pada lansia juga dapat dilakukan dengan pendekatan fisik melalui perhatian terhadap kesehatan, kebutuhan, kejadian yang dialami klien lansia semasa hidupnya, perubahan fisik pada organ tubuh, tingkat kesehatan yang masih dapat dicapai dan dikembangkan, dan
penyakit yang dapat dicegah atau progresifitas penyakitnya. Pendekatan fisik secara umum bagi klien lanjut usia dapat dibagi 2 bagian:
1) Klien lansia yang masih aktif dan memiliki keadaan fisik yang masih mampu bergerak tanpa bantuan orang lain sehingga dalam kebutuhannya sehari-hari ia masih mampu melakukannya sendiri.
2) Klien lansia yang pasif, keadaan fisiknya mengalami kelumpuhan atau sakit.Perawat harus mengetahui dasar perawatan klien lansia ini, terutama yang berkaitan dengan kebersihan perseorangan untuk mempertahankan kesehatan.
2.2.6.2 Pendekatan Psikologis
Perawat mempunyai peranan penting untuk mengadakan pendekatan edukatif pada klien lansia. Perawat dapat berperan sebagai pendukung terhadap segala sesuatu yang asing, penampung rahasia pribadi dan sahabat yang akrab. Perawat hendaknya memiliki kesabaran dan ketelitian dalam memberi kesempatan dan waktu yang cukup banyak untuk menerima berbagai bentuk keluhan agar lansia merasa puas. Bila ingin mengubah tingkah, perawat harus selalu memegang prinsip triple S yaitu sabar, simpatik dan service.
2.2.7 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Ketuaan 2.2.7.1 Hereditas atau ketuaan genetik
2.2.7.2 Nutrisi atau makanan 2.2.7.3 Status kesehatan 2.2.7.4 Pengalaman hidup 2.2.7.5 Lingkungan
2.2.7.6 Stres
2.2.8 Perubahan-perubahan Yang Terjadi Pada Lansia
Penuaan degeneratif adalah proses yang mempengaruhi perubahan manusia seiring bertambahnya usia, termasuk perubahan kognitif, emosional, sosial, dan seksual selain perubahan fisik (Azizah dan Lilik M, 2011).
2.2.8.1 Perubahan Fisik
1) Sistem Indra pendengaran
Prebiacusis (gangguan pendengaran) disebabkan oleh hilangnya kemampuan pendengaran (daya) di telinga bagian dalam, yang 50% lebih sering terjadi pada orang di atas 60 tahun. Gangguan ini terutama terlihat pada suara atau nada bernada tinggi, suara tidak jelas, dan sulit -untuk-memahami frase.
2) Sistem Integumen
Pada lansia kulit menjadi atrofi, kendur, tidak elastis, kering, dan berkerut pada usia lanjut. Dehidrasi akan menyebabkan kulit menjadi tipis dan berjerawat. Kelenjar sebaceous dan sudoritera menyusut akibat kulit kering, dan pigmentasi coklat yang dikenal sebagai bintik-bintik hati berkembang pada kulit. Seiring waktu, kulit menjadi atrofi, terkulai, tidak elastis, kering, dan berkerut.
Dehidrasi akan menghasilkan kulit yang tipis dan mudah berjerawat. Kelenjar sebaceous dan sudoritera berkurang, menyebabkan kulit mengering dan mengembangkan bintik-bintik hati, yaitu bercak hitam
.3) Sistem Muskuloskeletal
Perubahan terkait usia pada jaringan ikat (kolagen dan elastin), tulang rawan, tulang, otot, dan sendi yang mempengaruhi sistem muskuloskeletal. Kolagen, yang berfungsi sebagai komponen struktural utama kulit, tendon, tulang, tulang rawan, dan jaringan ikat, berubah menjadi peregangan atipikal.
(1) Kartilago
Jaringan tulang rawan di persendian melunak dan mengalami granulasi, menghasilkan perataan permukaan sendi. Tulang rawan pada persendian menjadi lebih rentan terhadap gesekan karena kemampuan tulang rawan untuk beregenerasi berkurang dan degradasi yang terjadi cenderung bertahap.
(2) Tulang
Berkurangnya kepadatan tulang, yang telah terbukti secara ilmiah sebagai bagian alami dari penuaan, akan menyebabkan osteoporosis, yang kemudian akan menimbulkan rasa tidak nyaman, deformitas, dan patah tulang.
(3) Otot
Perubahan struktur otot pada penuaan sangat bervariasi, Penurunan jumlah dan ukuran serat otot, serta peningkatan jaringan ikat dan jaringan adiposa, memiliki dampak buruk pada struktur otot seiring bertambahnya usia. d. Sendi Seiring bertambahnya usia, tendon, ligamen, dan fasia yang mengelilingi sendi kehilangan kekenyalannya.
4) Sistem kardiovaskuler
Peningkatan massa jantung dan hipertrofi ventrikel kiri, yang mengurangi peregangan jantung, merupakan perubahan sistem peredaran darah pada usia lanjut. Kondisi ini disebabkan oleh perubahan jaringan ikat. Penumpukan lipofusin, kategorisasi SA Node, dan konversi jaringan konduksi menjadi jaringan ikat adalah penyebab perubahan ini.
5) Sistem respirasi
Ada perubahan pada jaringan ikat paru-paru seiring bertambahnya usia; kapasitas paru-paru secara keseluruhan dipertahankan, tetapi volume cadangan paru-paru meningkat untuk mengimbangi volume paru-paru yang diperluas, yang menghasilkan lebih sedikit udara yang masuk ke paru-paru. Gangguan gerakan pernapasan dan penurunan kapasitas peregangan toraks adalah hasil dari perubahan pada otot, tulang rawan, dan sendi toraks.
6) Pencernaan dan metabolisme
Perubahan sistem pencernaan termasuk produksi yang lebih rendah sebagai akibat dari penurunan fungsi yang nyata yang disebabkan oleh kehilangan gigi, penurunan persepsi rasa, penurunan rasa lapar (penurunan sensitivitas rasa lapar), hati yang lebih kecil dengan ruang penyimpanan yang lebih sedikit, dan penurunan aliran darah.
7) Sistem perkemihan
Banyak proses yang memburuk, termasuk laju filtrasi, ekskresi, dan reabsorpsi ginjal.
8) Sistem saraf
Lansia mengalami penurunan koordinasi dan kemampuan dalam melakukan aktifitas sehari-hari.
9) Sistem reproduksi
Ovarium dan rahim menyusut seiring bertambahnya usia, yang merupakan perubahan dalam sistem reproduksi mereka. Ada atrofi payudara. Meski mengalami penurunan progresif, testis pria masih bisa menghasilkan spermatozoa.
2.2.8.2 Perubahan Kognitif 1) Mengingat ( memori) 2) Skor Intelijen
3) Kapasitas untuk belajar (Learning)
4) Kapasitas untuk memahami (Comprehension) 5) Pemecahan Masalah (Problems Solving) 6) Membuat keputusan
7) Pengetahuan (Kebijaksanaan) 8) Kinerja (Kinerja)
9) Inspirasi 2.2.8.3 Perubahan mental
Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental : 1) Modifikasi fisik, terutama pada organ sensorik.
2) Kesejahteraan umum 3) Pendidikan
4) Keturunan (heredity) 5) Lingkungan
6) Masalah dengan panca indera, termasuk kebutaan dan tuli, terjadi.
7) Rasa diri yang berkurang sebagai akibat dari kehilangan posisi.
8) Rentetan kemunduran, khususnya memburuknya hubungan dengan teman dan keluarga.
9) Hilangnya kekokohan dan kekuatan fisik, penyesuaian persepsi diri, dan perubahan serupa lainnya.
2.2.8.4 Perubahan spiritual
Kehidupan mereka semakin diresapi dengan agama atau kepercayaan. Kematangan teologis para lansia semakin meningkat, terlihat dari cara mereka berpikir dan berperilaku sehari-hari.
2.2.8.5 Perubahan Psikososial 1) Kesepian
Terjadi ketika pasangan atau teman dekat meninggal, terutama jika lansia menderita penurunan kesehatan, seperti penyakit fisik, kesulitan mobilitas, atau gangguan sensorik, terutama gangguan pendengaran.
2) Duka cita (Bereavement)
Meninggalnya pasangan hidup, teman dekat, atau bahkan hewan kesayangan dapat meruntuhkan pertahanan jiwa yang telah rapuh
pada lansia. Hal tersebut dapat memicu terjadinya gangguan fisik dan kesehatan.
3) Depresi
Duka cita yang berlanjut akan menimbulkan perasaan kosong, lalu diikuti dengan keinginan untuk menangis yang berlanjut menjadi suatu episode depresi. Depresi juga dapat disebabkan karena stres lingkungan dan menurunnya kemampuan adaptasi.
4) Gangguan cemas
Dibagi dalam beberapa golongan seperti fobia, panik, gangguan cemas umum, gangguan stress setelah trauma dan gangguan obsesif kompulsif, gangguan-gangguan tersebut merupakan kelanjutan dari dewasa muda dan berhubungan dengan sekunder akibat penyakit medis, depresi, efek samping obat, atau gejala penghentian mendadak dari suatu obat.
5) Parafrenia
Suatu bentuk skizofrenia pada lansia, ditandai dengan waham (curiga), lansia sering merasa tetangganya mencuri barang- barangnya atau berniat membunuhnya. Biasanya terjadi pada lansia yang terisolasi/diisolasi atau menarik diri dari kegiatan sosial.
6) Sindroma diogenes
Suatu kelainan dimana lansia menunjukkan penampilan perilaku sangat mengganggu. Rumah atau kamar kotor dan bau karena lansia bermain- main dengan feses dan urinnya, sering menumpuk barang
dengan tidak teratur. Walaupun telah dibersihkan, keadaan tersebut dapat terulang kembali.
2.3 Konsep Asuhan Keperawatan 2.3.1 Pengkajian
Menurut Mubarak (2012), pengkajian yaitu suatu step dimana seorang perawat mengambil data atau informasi secara terus-menerus terhadap anggota yang dibinanya. Hasil pengkajian yang dilakukan perawat berguna untuk menentukan masalah keperawatan yg muncul pada pasien.
2.3.1.1 Pengumpulan Data 1) Identitas
meliputi nama, tempat lahir, umur, jenis kelamin, pendidikan, tempat tinggal, pekerjaan, agama, dan suku. Orang tua biasanya terkena rheumatoid arthritis. Usia tua biasanya memiliki resiko yang lebih tinggi untuk menderita Rheumatoid Arthritis dibandingkan dengan usia muda.
Penyakit ini menyerang semua orang dan ras, kejadian pada wanita yang berumur 60 tahun enam kali lipat lebih besar dibandingkan dengan wanita usia muda, dan ditemukan di seluruh dunia.
Perbandingan antara wanita dan pria sebesar 3:1. Pekerjaan yang melakukan beban berat lebih sering mengalami penyakit artritis reumatoid (Yafrinal Siregar,2019)..
2) Keluhan Utama
Keluhan utama yang biasanya dirasakan oleh klien Rheumatoid Arthritis mengeluh nyeri di daerah persendian dan pergelangan tangan dan kaki, mengalami bengkak di area persendian dan kekakuan di persendian (marwis 2018).
Skala nyeri 0-10 (skala kozier)
((1) Skala 0 (Tidak ada rasa sakit atau merasa normal).
((2) Skala 1 (Nyeri hamper tak terasa atau sangat ringan)
((3) Skala 2 (Tidak menyenangkan seperti cubitan ringan pada kulit)
((4) Skala 3 (bisa ditoleransi seperti pukulan ke hidung, suntikan dokter).
((5) Skala 4 (menyedihkan seperti sakit gigi, terkena sengatan lebah)
((6) Skala 5 (sangat menyedihkan seperti nyeri yang menusuk, pergelangan kaki terkilir)
((7) Skala 6 (intens seperti nyeri yang menusuk begitu kuat sehingga mempengaruhi salah satu indra yang menyebabkan tidak fokus).
((8) Skala 7 (sangat intens, sama seperti skala no 6 tetapi rasa sakit mendominasi sehingga tak mampu melakukan perawatan diri)
((9) Skala 8 (benar-benar mengerikan, nyeri begitu kuat sehingga tidak dapat berfikir jernih dan sering mengalami perubahan kepribadian)
((10) Skala 9 (Menyiksa tak tertahankan, nyeri tidak bisa ditoleransi)
((11) Skala 10 (Sakit tak terbayangkan tak dapat diungkapkan, nyeri kuat tak sadarkan diri)
3) Riwayat penyakit sekarang
Berupa uraian pada mengenal penyakit yang diderita oleh klien dari mulai timbulnya keluhan yang dirasakan.
4) Riwayat penyakit dahulu
Riwayat penyakit kesehatan yang dulu seperti riwayat penyakit musculoskeletal sebelumnya.(Marwis, 2018).
5) Riwayat penyakit keluarga
Yang perlu dikaji apakah dalam keluarga ada yang menderita penyakit yang sama. Rheumatoid Arthritis yang disebabkan karena penyakit autoimun seperti arthritis, lupus, ankylosing spondylitis, dan arthritis psoriasis merupakan kelompok penyakit yang unsur genetikanya menonjol. Artinya penyakit ini sangat bisa diturunkan dari keluarga yang memilikinya.( Marwis 2018).
6) Pemeriksaan fisik (1)Keadaan umum
Klien dengan masalah muskuloskeletal biasanya memiliki kesehatan yang buruk secara keseluruhan.
(2)Kesadaran
Kesadaran klien biasanya mengalami composmentis dan apatis (3)Tanda- tanda vital
((1) Suhu ((2) Nadi ((3) Pernafasan ((4) Tekanan darah
((5) Pemeriksaan Review Of System 2.3.2 Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum : penderita Rheumatoid Arthritis Pada penderita Rheumatoid Arthritis biasanya tampak kelelahan , pada lansia biasanya mengalami kesulitan tidur (Aspiani,2014).
1) Pemeriksaan B1-B6
1) B1 (Breathing) Sistem Pernafasan (1) Inspeksi:
((1) Bentuk dada : (Normochest, Barellchest, Pigeonchest atau Punelchest).
((2) Pola nafas : Normalnya = 12-24 x/ menit.
((3) Pernafasan cuping hidung : Normalnya tidak ada.
((4) Alat bantu nafas : (Nasal kanul, masker, ventilator).
(2) Palpasi: Vocal premitus (pasien mengatakan 77) : Normal (Teraba getaran di seluruh lapang paru)
(3) Perkusi : sonor (normal), hipersonor (abnormal, biasanya pada pasien PPOK/
Pneumothoraks)
(4) Auskultasi :Suara nafas (Normal: Vesikuler, Bronchovesikuler, Bronchial dan Trakeal).
2) B2 (Circulation) Sistem Peredaran Darah
(1) Inspeksi:
((1) CRT (Capillary Refill Time) : Normal < 2 detik, Abnormal > 2 detik.
((2) Adakah sianosis (warna kebiruan) di sekitar bibir klien.
((3) Cek konjungtiva klien, normalnya konjungtiva berwarna merah muda.
(2) Palpasi:
((1) Akral klien Normalnya Hangat, kering, merah.
((2) frekuensi nadi Normalnya 60 - 100x/ menit.
((3) tekanan darah Normalnya 100/ 80 mmHg – 130/90 mmHg.
(3) Perkusi : - (4) Auskultasi : -
3) B3 (Brain) Sistem Persyarafan : Cek tingkat kesadaran klien, untuk menilai tingkat kesadaran dapat digunakan suatu skala (secara kuantitatif) pengukuran yang disebut dengan Glasgow Coma Scale (GCS). Komponen yang dinilai adalah : Respon terbaik buka mata, respon verbal, dan respon motorik (E-V-M).
4) B4 (Bladder) Sistem Perkemihan (1) Inspeksi:
((1) integritas kulit alat kelamin (penis/ vagina) Normalnya warna merah muda
((2) tidak ada Fluor Albus/ Leukorea (keputihan patologis pada perempuan)
((3) tidak ada Hidrokel (kantung yang berisi cairan)
(2) Palpasi:
((1) Tidak terdapat distensi pada kandung kemih.
((2) Tidak terdapat distensi pada kandung kemih (3) Perkusi : -
(4) Auskultasi : -
5) B5 (Bowel) Sistem Pencernaan
(1) Inspeksi: bentuk abdomen simetris, tidak ada distensi abdomen, tidak accites, tidak ada muntah.
(2) Palpasi : - (3) Perkusi : -
(4) Auskultasi: peristaltik usus Normal 10-30x/menit 6) B6 (Bone) Sistem Muskuluskeletal dan Integumen (1) Inspeksi: warna kulit sawo matang, pergerakan sendi
bebas dan kekuatan otot penuh, tidak ada fraktur, tidak ada lesi.
(2) Palpasi: turgor kulit elastis (3) Perkusi : -
(4) Auskultasi : -
1.3.3 Pola fungsi kesehatan
Yang perlu dikaji Aktivitas apa yang biasanya dilakukan sehubungan dengan ketidaknyamanan sendi dan imobilitas perlu diperiksa (kushariadi, 2011).
1.3.4 Pola persepsi dan tata laksana pola hidup sehat 1.3.5 Pola nutrisi
Mengambarkan masukan nutrisi, balance cairan, nafsu makan, pola makan, diet, kesulitan menelan, mual/muntah dan makanan kesukaan.
1.3.6 Pola eliminasi
Menggambarkan pola fungsi ekskresi, kandung kemih, defekasi, ada tidaknya masalah defekasi, masalah nutrisi.
2.3.7 Pola aktifitas dan istirahat
menggambarkan riwayat penyakit jantung, frekuensi, irama, dan pola pernapasan, serta pola aktivitas, fungsi pernapasan, dan sirkulasi.pengkajian indeks KATZ.
Tabel 2.1 Pengkajian Indeks KATZ
Skore Kriteria
A Mandiri dalam makan, kontinensia (BAK/BAB), menggunakan pakaian, pergi ke toilet, berpindah dan mandi
B Mandiri, semuanya kecuali salah satu saja dari fungsi di atas C Mandiri, kecuali mandi dan satu lagi fungsi yang lain
D Mandiri, kecuali mandi berpakaian dan satu fungsi yang lain E Mandiri, kecuali mandi berpakaian, ke toilet dan satu fungsi
yang lain
F Mandiri, kecuali mandi, berpakaian, ke toilet, berpindah dan satu fungsi yang lain
G Ketergantungan untuk semua fungsi
H Lain-lain : tergantung pada sedikitnya dua fungsi tetapi tidak diklarifikasikan sebagai C, D, A atau F
Keterangan : Mandiri tanpa pengawasan pengarahan atau bantuan aktif dari orang lain. Seseorang yang menolak untuk melakukan suatu fungsi dianggap tidak melakukan fungsi meskipun ia anggap mampu
2.3.8 Pola hubungan dan peran
Menggambarkan dan mengetahui hubungan dan peran terhadap anggota keluarga dan masyarakat tempat tinggal, pekerjaan, dan tidak punya rumah dan masalah keuangan. pengkajian APGAR keluarga. A : adaptation, P : partnership (Hubungan), G: growth (pertumbuhan), A : affection (afeksi), dan R : resolve (pemecahan).
Pola hubungan dan peran, Menggambarkan dan mengetahui hubungan dan peran terhadap anggota keluarga dan masyarakat tempat tinggal, pekerjaan, dan tidak punya rumah dan masalah keuangan.
2.3.9 Pola sensori kognitif
Menjelaskan persepsi sensori dan kognitif. Pola sensori meliputi pengkajian penglihatan, pendengaran, perasaan, pembau.
Pengkajian ststus mental menggunakan Tabel Short Portable Mental Status Quesionare (SPMSQ).
Tabel 2.2 Pengkajian short portable mental status quistioner (SPMSQ)
BENAR SALAH NO PERTANYAAN
01 Tanggal berapa hari ini ? 02 Hari apa sekarang ? 03 Apa nama tempat ini ? 04 Di mana alamat anda ? 05 Berapa umur anda ?
06 Kapan anda lahir ? ( minimal tahun lahir )
07 Siapa presiden Indonesia sekarang ? 08 Siapa presiden Indonesia sebelumnya ? 09 Siapa nama ibu anda ?
10 Kurangi 3 dari 20 dan tetap
pengurangan 3 dari setiap angka baru, semua secara menurun.
JUMLAH
Penilaian SPMSQ
1. Salah 0 - 2 : Fungsi Intelektual Utuh 2. Salah 3 - 4 : Kerusakan Intelektuan Ringan 3. Salah 5 – 7 : Kerusakan Intelektual Sedang 4. Salah 8 -10 : Kerusakan Intelektual Berat Keterangan :
1. Bisa dimaklumi bila lebih dari satu kesalahan bila subjek hanya berpendidikan sekolah dasar
2. bisa dimaklumi bila kurang dari satu kesalahan bila subjek mempunyai pendidikan di atas Sekolah Menengah Atas
3. bisa dimaklumi bila lebih dari satu kesalahan untuk subjek kulit hitam dengan menggunakan kriteria pendidikan yang sama
2.4.11 Pola seksual dan reproduksi
Menggambarkan kepuasan masalah terhadap seksualitas.
2.4.12 Pola mekanisme koping
Menggambarkan kemampuan untuk menangani stress.
2.4.13 Pola tata nilai dan kepercayaan
Menggambarkan dan menjelaskan pola nilai keyakinan termasuk spiritual (Aspiani, 2014).
Tabel 2.3 Pengkajian Bathel indeks.
NO KRITERIA DENGAN
BANTUAN MANDIRI SKORE
1 Makan 5 10
2 Minum 5 10
3
Berpindah dari kursi roda ke tempat tidur, sebaliknya
5 15
4
Personal toilet (cuci muka, menyisir rambut, gosok gigi)
0 5
5
Keluar masuk toilet (mencuci pakaian.
Menyeka tubuh, menyiram)
5 10
6 Mandi 5 15
7 Jalan di permukaan
datar 0 5
8 Naiki turun tangga 5 10
9 Mengenakan pakaian 5 10
10 Kontrol Bowel (BAB) 5 10
11 Kontrol Bladder
(BAK) 5 10
12 Olahraga atau Latihan 5 10
13
Rekreasi atau pemantapan waktu luang
5 10
JUMLAH
Keterangan :
1. 20 : Mandiri
2. 12 - 19 : Ketergantungan Ringan.
3. 9 – 11 : Ketergantungan Sedang 4. 5 – 8 : Ketergantungan Berat . 5. 0 – 4 : Ketergantungan Total 2.4.3 Analisa Data
Analisis data merupakan kemampuan kognitif dalam pengembangan daya berfikir dan penalaran yang dipengaruhi oleh latar belakang ilmu dan pengetahuan, pengalaman, dan pengertian keperawatan. Analisa data adalah kemampuan dalam mengembangkan kemampuan berfikir rasional sesuai dengan latar belakang ilmu pengetahuan. Dalam melakukan analisis data, diperlukan kemampuan mengaitkan data dan menghubungkan data tersebut dengan konsep, teori dan prinsip yang relevan untuk membuat kesimpulan dalam menentukan masalah kesehatan dan keperawatan klien.
2.4.4 Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah penilaian yang tepat, faktual, dan tidak ambigu terhadap kesehatan klien dan setiap masalah yang dapat diselesaikan dengan asuhan keperawatan. Akibatnya, diagnosis keperawatan dibuat berdasarkan masalah yang ditemukan. Ringkasan masalah dan status kesehatan pasien, baik aktual maupun potensial, akan diberikan oleh diagnosis keperawatan (potensial) ( Iqbal dkk, 2011).
Menurut SDKI ( 2016) diagnosa Keperawatan yang dapat muncul pada pasien Rhematoid arthritis adalah :
2.4.4.1 Nyeri kronis berhubungan dengan kondisi muskoloskeletal kronis (D.0078)
Definisi : Pengalaman sensorik atau emosional yang memiliki keterkaitan dengan kerusakan suatu jaringan aktual atau fungsional, dengan onset mendadak atau lambat dan intensitas ringan hingga berat yang berlangsung lebih dari 3 bulan.
Gejala dan tanda mayor : 1) Subjektif
2) Mengeluh nyeri
3) Merasa depresi (tertekan) 2) Objektif
(1) Tampak meringis (2) Gelisah
(3) Tidak mampu menuntaskan aktivitas Gejala dan Tanda Minor :
1) Subjektif
(1) Merasa takut mengalami cedera berulang 2) Objektif
(1) Bersikap protektif (mis. Posisi menghindari nyeri) (2) Waspada
(3) Pola tidur (4) Anoreksia
(5) Fokus menyempit
(6) Berfokus pada diri sendiri
2.4.4.2 Gangguan Mobilitas Fisik berhubungan dengan nyeri (D.0054) Definisi : Keterbatasan dalam gerakan fisik dari satu atau lebih ekstremitas secara mandiri.
Gejala dan tanda mayor : 1) Subjektif
(1) Mengeluh sulit menggerakkan ekstremitas 2) Objektif
(1) Kekuatan otot menurun
(2) Rentang gerak (ROM) menurun Gejala dan Tanda Minor :
1) Subjektif
(1) Nyeri saa berera
(2) Enggan melakukan pergerakan (3) Merasa cemas saat bergerak 2) Objektif
(1) Sendi Kaku
(2) Gerakan tida eroordinasi (3) Gerakan terbatas
(4) Fisik lemah
2.4.4.3 Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan (D.0109)
Definisi : Tidak mampu melakukan atau menyelesaikan aktivitas perawatan diri
Gelaja Dan Tanda Mayor:
1) Subjektif
(1) Menolak melakukan perawatan diri 2) Objektif
(1) Tidak mampu mandi/mengenakan pakaian/makan/ke toilet/berhias secara mandiri
(2) Minat melakukan perawatan diri kurang Gejala dan tanda minor :
1) Subjektif (Tidak tersedia) 2) Objektif (Tidak tersedia 2.4.5 Intervensi Keperawatan
Perencanaan keperawatan adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan untuk mengatasi masalah sesuai dengan diagnosis keperawatan yang telah ditentukan dengan tujuan terpenuhinya kebutuhan klien (Iqbal dkk, 2011)
Tabel 2.4 Intervensi Keperawatan pada pasien Rhematoid Arthritis
Diagnosa Luaraan Intervensi
Nyeri kronis berhubungan dengan:
Kondisi musculoskeletal Kronis
Setelah dilakukan perawatan 3x kunjungan rumah jam diharapkan tingkat nyeri menurun dengan kriteria hasil :
1. Tingkat Nyeri 2. Kemampuan
menuntaskan aktivitas meningkat
Manajemen Nyeri Observasi
1. Identifikasi lokasi, Karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, identitas nyeri.
2. Indentifikasi skala nyeri.
3. Keluhan nyeri menurun 4. Sikap protektif
meningkat Gelisah menurun 5. Kesulitan tidur
menurun
6. Menarik diri menurun 7. Berfokus pada diri
sendiri menurun
8. Diaforesis menurun 9. Perasaan depresi
(tertekan) menurun 10. Perasaan takut
mengalami cedera berulang berkurang 11. Ketegangan otot
berkurang
12. Muntah berkurang 13. Mual berkurang 14. Frekuensi nadi
membaik
15. Pola napas membaik 16. Tekanan darah
membaik 17. Fokus membaik 18. Fungsi berkemih
membaik
19. Perilaku membaik 20. Nafsu makan membaik 21. Pola tidur membaik
3. Identifikasi respons nyeri non verbal.
Terapeutik
1. berikan teknik dan nonfarmakologi untuk mengurangi rasa nyeri
2. fasilitasi istirahat dan tidur
3. pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam pemilihan strategi meredakan nyeri Edukasi
1. Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri 2. Ajarkan teknik non
farmakologis untuk mengurangi rasa nyeri
kolaborasi
1. kolaborasi pemberian analgetik, Jika perlu
Gangguan Mobilitas Fisik
berhubungan dengan nyeri
Setelah dilakukan perawatan 3x kunjungan rumah jam diharapkan pergerakan
ekstremitas meningkat dengan kriteria hasil :
1. kekuatan otot meningkat
2. rentang gerak ROM meningkat
3. nyeri menurun 4. kecemasan menurun 5. kaku sendi menurun 6. gerakan
tidak terkoordinasi menurun
Dukungan mobilisasi Observasi
1. Identifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya 2. Identifikasi toleransi fisik melakukan
pergerakan
Monitor frekuensi jantung dan tekanan darah sebelum memulai mobilisasi
4. Monitor kondisi umum selama melakukan
mobilisasi Terapeutik
7. gerakan terbatas menurun
8. gerakan fisik menurun
1. Fasilitasi aktivitas mobilisasi dengan alat bantu (mis. pagar tempat tidur)
2. Fasilitasi melakukan pergerakan,
jika perlu
3. Libatkan keluarga untuk membantu pasien dalam meningkatkan pergerakan
Edukasi
1. Jelaskan tujuan dan prosedur mobilisasi 2. Anjurkan melakukan mobilisasi dini
3. Ajarkan mobilisasi sederhana yang harus dilakukan (mis. duduk di tempat tidur, duduk di sisi tempat tidur, pindah dari tempat tidur ke kursi)
Defisit perawatan diri
berhubungan dengan Gangguan musculoskeletal
Setelah dilakukan perawatan 3x kunjungan rumah jam diharapkan Perawatan diri meningkat dengan kriteria hasil :
Kemampuan mandi meningkat 1. Kemampuan mengenakan
pakaian meningkat 2. Kemampuan makan
meningkat
3. Kemampuan ke toilet
4. (BAB/BAK) meningkat 5. Verbalisasi
keinginan melakukan perawatan diri meningkat 6. Minat melakukan
perawatan diri meningkat 7. Mempertahankan
kebersihan diri meningkat 8. Mempertahankan
kebersihan mulut meningkat
Dukungan perawatan diri Observasi 1. Identifikasi kebiasaan aktivitas perawatan diri sesuai usia
2. Monitor tingkat kemandirian 3. Identifikasi kebutuhan alat bantu kebersihan diri, berpakaian, berhias dan makan
Terapeutik 1. Sediakan
lingkungan yang terapeutik (mis.
suasana hangat, rileks, privasi) 2. Siapkan keperluan
pribadi (mis.
parfum, sikat gigi, dan sabun mandi) 3. Dampingi dalam
melakukan perawatan diri sampai mandiri 4. Fasilitasi untuk
menerima keadaan ketergantungan 5. Fasilitasi
kemandirian, bantu jika tidak mampu melakukan perawatan diri 6. Jadwalkan
rutinitas perawatan diri Edukasi
Sumber: Standar Intervensi Keperawatan Indonesia, PPNI (2018)
2.4.4 Implementasi Keperawatan
Implementasi keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh perawat untuk membantu klien dari masalah status kesehatan yang dihadapi ke kesehatannya lebih baik yang menggambarkan kriteria hasil yang dapat diharapkan (Gordon, 1994) dalam (Potter & Perry, 2011).
2.4.5 Evaluasi keperawatan
Menurut Amin Huda nurarif dan hardikusuma ( 2015). Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan untuk mengukur keberhasilan dari rencana perawatan dalam memenuhi kebutuhan klien, bila masalah tidak dapat dipecahkan atau timbul masalah baru Maka perawat harus bersama untuk mengurangi atau mengatasi beban masalah yang ada.
1. Anjurkan
melakukan perawatan diri secara konsisten sesuai kemampuan
Kelainan pada tulang
Kelainan pada jaringan ekstra-artikular Tenosinoviti
s Sinovilli
Invasi
Kolagen
Gambaran khas nodul subkutan
Erosi tulang &
kerusakan pada tulang rawan Hiperemia dan
pembengkakan Miopati Sistemik Saraf
Instabilitas dan deformitas
sendi Ruptur tendon
secara parsial atau lokal Nekrosis dan
kerusakan dalam ruang
sendi
Atrofi otot Splenomega
li Anemia osteoporosis
generalisata
Kelemahan fisik
Hambatan Mobilitas Fisik
Defisit perawatan diri Nyeri
Kronis
2.4.6 Pathway
Gambar 2.1 Pathway Rheumatoid Arthritis Sumber: (Made Bima, 2019)
Inflamasi non-bakterial disebabkan oleh infeksi, endokrin, autoimun, metabolik, faktor genetik, dan faktor lingkungan
Rheumatoid Arthritis