• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengantar dan Informasi Hak Cipta Novel Terjemahan KataKilas

N/A
N/A
Elly Arnovi

Academic year: 2025

Membagikan "Pengantar dan Informasi Hak Cipta Novel Terjemahan KataKilas"

Copied!
64
0
0

Teks penuh

(1)

1 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

(2)

2 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

(3)

3 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

License Notes

Copyright © 2024 Neva Altaj www.neva-altaj.com

All rights reserved. No portion of this book may be reproduced in any form without permission from the publisher, except as permitted by US copyright law.

This is a work of fiction. Names, characters, places, and incidents either are the product of the author’s imagination or are used fictitiously. Any resemblance to actual persons, living or dead, events, or

locales is entirely coincidental.

Editing by Andie Edwards of Beyond The Proof (www.beyondtheproof.ca) Proofreading by Yvette Rebello (https://yreditor.com/)

Manuscript critique by Anka Lesko (www.amlediting.com) Italian language consultation by Chiara (Instagram @another.librarian) Stylistic editing by Anna Corbeaux (www.corbeauxeditorialservices.com)

Cover design by Deranged Doctor (www.derangeddoctordesign.com)

(4)

4 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

l y n k . i d / k a t a k i l a s

Hai, pembaca yang budiman,

Terima kasih banyak sudah memilih dan membeli novel terjemahan dari KataKilas.

Mohon maaf jika ada kekurangan dalam terjemahan ini, baik itu typo atau hal-hal lain yang mungkin kurang sempurna. Semoga kamu berkenan memaklumi dan tetap menikmati perjalanan cerita ini.

Selamat membaca, semoga kisah ini bisa menjadi teman yang menyenangkan di waktu luangmu.

Salam hangat, KataKilas Get in Touch

Whatsapp Channel | Wattpad | TikTok

(5)

5 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

Table of Contents

License Notes Table of Contents

Author’s Note Glossary Trigger Warning

Prologue Chapter 1 Chapter 2 Chapter 3 Chapter 4 Chapter 5 Chapter 6 Chapter 7 Chapter 8 Chapter 9 Chapter 10 Chapter 11 Chapter 12 Chapter 13 Chapter 14 Chapter 15 Chapter 16 Chapter 17 Chapter 18 Chapter 19 Chapter 20

(6)

6 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

Epilogue Dear Reader, Acknowledgments

About the Author

Perfectly Imperfect Reading Order & Tropes Mafia Legacy Reading Order & Tropes

(7)

7 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

Author’s Note

Dunia kita adalah tempat yang menakjubkan, penuh dengan beragam orang, budaya, dan tradisi. Tidak peduli apa perbedaan kita, ada benang merah yang menyatukan kita—kita semua adalah bagian darinya.

Menjadi seorang penulis memberi saya kesempatan untuk memperluas wawasan, bahkan jika itu berarti tidak jauh dari meja dan laptop saya.

Untuk pembaca saya yang tersebar luas dan mungkin tidak mengetahui beberapa hal, saya telah menyertakan beberapa catatan budaya yang muncul sepanjang buku dan seri ini.

Sicilia: Lokasi dan Bahasa

Sicilia adalah salah satu dari lima wilayah otonom di Italia.

Pemerintah setempat memiliki kekuasaan administratif yang memungkinkan perlindungan perbedaan budaya dan minoritas linguistik. Namun, Sicilia tetap merupakan bagian dari Italia dan bukan negara merdeka.

Wilayah ini adalah pulau terbesar dan terpadat di Laut Mediterania, terletak tepat di selatan semenanjung Italia. Meskipun Sicilia memiliki dialek khasnya sendiri (yaitu bahasa Sisilia), dan banyak orang yang bilingual, bahasa resmi di wilayah ini tetaplah bahasa Italia, sama seperti di daratan Italia.

Karena itu, karakter dalam buku ini berbicara dalam bahasa Italia.

(8)

8 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

Nama Rusia: Patronimik, Keluarga, dan Bentuk Pendek

Nama Rusia terdiri dari tiga bagian: nama depan, patronimik (nama tengah), dan nama keluarga (nama marga). Patronimik berasal dari nama ayah (atau leluhur paternal lainnya, dalam beberapa kasus), dengan penambahan akhiran tertentu. Sebagian pembaca mungkin sudah akrab dengan praktik serupa dalam budaya lain, seperti penggunaan “anak dari” pada nama keluarga (contohnya, Tomson = “anak dari Tom”).

Dalam patronimik Rusia, akhiran nama diubah untuk menunjukkan jenis kelamin. Untuk pria, menggunakan akhiran “evich” atau “ovich”.

Sementara untuk wanita, akhiran ini berubah menjadi “evna” atau

“ovna.” Sebagai contoh, Vasilisa Romanovna Petrova berarti Vasilisa

“anak perempuan Roman” Petrova.

Perlu diketahui juga bahwa orang Rusia sering menggunakan bentuk pendek (intim) dari nama mereka. Sebagai contoh, Vasilisa bisa disingkat menjadi Vasya.

(9)

9 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

Glossary

Catatan: Saat mengucapkan kata-kata kasar atau penghinaan dalam bahasa non-Inggris (baik Italia maupun Rusia), frasa literal sering kali sangat kasar tetapi kehilangan maknanya jika diterjemahkan secara langsung. Oleh karena itu, kata-kata yang lebih halus digunakan untuk menggambarkan konteksnya.

Kata dan frasa dalam bahasa Italia

Vespetta – tawon kecil (bentuk diminutif)

Cumpari – ayah baptis

Signore/Signor – pak. Huruf “e” di akhir selalu dihilangkan jika digunakan bersama nama (contoh: Signor De Santi; tapi, Ya, signore).

Vuole provare del prosciutto? – Apakah kamu ingin mencicipi ham?

Che diamine! – Apa-apaan ini?!

Stai zitto! – Diamlah; tenang!

Chi è quella? – Siapa itu (perempuan)?

Sbrigati, idiota. Ho bisogno di quella vernice. – Cepat, bodoh. Aku butuh cat itu.

Sei la ragazza di Raffaello? – Apakah kamu pacarnya Raffaello?

Pronto – Siap

Cosa è successo? – Apa yang terjadi?

Merda. Venti minuti. – Aduh. Dua puluh menit.

Buonasera, signorina. – Selamat malam, nona.

Non toccarla. Lei è mia. Capito? – Jangan sentuh dia. Dia milikku.

Mengerti?

SÌ. Ho capito. Mi dispiace molto. – YA. Aku mengerti. Aku sangat menyesal.

(10)

10 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

Potrei ucciderti per questo. – Aku bisa menghukummu karena ini.

Dice che è urgente. – Dia bilang ini mendesak.

Ma che fai?! – Apa yang kamu lakukan?!

Sei cieco? Madonna santa! – Kamu buta? Astaga!

Tutto bene? – Semua baik-baik saja?

La mia principessa russa. – Tuan Putri Rusia-ku.

Non ti lascerò mai andare. – Aku tidak akan pernah melepaskanmu.

Sei pronto? – Apakah kamu siap?

Si. Iniziamo. – Ya. Mari kita mulai.

Vi dichiaro marito e moglie. – Aku sekarang menyatakan kalian sebagai suami dan istri.

Farei qualsiasi cosa per te. Perfino lasciarti andare. – Aku akan melakukan apa saja untukmu. Bahkan membiarkanmu pergi.

Kata dan frasa dalam bahasa Rusia

Cволочь – Dasar menyebalkan

Придурок – Bodoh

Kакой ужасный беспорядок. – Betapa berantakannya ini.

Mне он нужен живым, Сергей. Понимаешь? – Aku butuh dia hidup- hidup, Sergei. Paham?

(11)

11 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

Trigger Warning

Harap diketahui bahwa buku ini mengandung konten yang mungkin mengganggu bagi beberapa pembaca, seperti penyebutan kematian anggota keluarga dekat, serta deskripsi grafis tentang kekerasan, penyiksaan, dan darah.

(12)

12 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

Prologue

20 tahun lalu (Rafael, age 19)

“Bersih,” ucapku ke telepon.

Beberapa saat kemudian, seorang pria yang berpakaian seperti pekerja perawatan keluar dari toko barang antik dan perhiasan eksklusif di ujung lorong panjang itu. Ia bergegas menuju pintu dengan tanda keluar darurat di atasnya. Meski topi baseball-nya ditarik rendah, Jemin tetap menundukkan kepala dan menekan telepon ke telinganya, berusaha menyembunyikan wajahnya dari banyaknya kamera pengawas. Dia berhati-hati, meskipun Endri Dushku, pemimpin Mafia Albania, telah membayar mahal seorang pegawai kantor keamanan mall untuk mengacaukan rekaman video selama sepuluh menit.

Begitu Jemin menghilang dari pandangan, aku memasuki tangga yang hanya untuk staf. “Aku turun sekarang.”

“Jangan,” suara di seberang sana memerintah. “Endri ingin video ledakan itu. Aku sudah menyetel timer-nya selama lima menit, jadi siapkan kameramu. Aku akan menunggu di pintu keluar garasi setelah kamu selesai.”

Aku mendorong lengan bajuku untuk melihat jam tangan di pergelangan tanganku. Jam itu sudah tua, kaca depannya penuh goresan,

(13)

13 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

dan tali kulitnya usang. Selain pakaian di tubuhku, itu satu-satunya barang pribadi yang kubawa saat aku dan saudaraku melarikan diri dari Sisilia.

“Baiklah,” gerutuku ke telepon lalu memutuskan sambungan.

Aku sangat kesal harus mengikuti perintah dari bajingan sok seperti Jemin, tapi semua ini akan berakhir hari ini. Kesepakatan yang kubuat dengan kepala Mafia Albania akan berakhir malam ini.

Kemarin, dengan sangat mengejutkan, Dushku menawarkan aku peran tetap di klan Albania, termasuk semua keuntungan standar. Aku sempat tergoda untuk menerima. Itu berarti keamanan dan uang melimpah. Tapi bukan rasa hormat. Aku akan tetap menjadi sampah Sisilia yang mereka tampung. Jadi, dengan hormat, aku menolak tawaran itu.

Dalam dunia kekacauan dan kekerasan kejahatan terorganisasi, hanya sedikit nilai yang dijunjung tinggi. Satu pengecualian—memegang janji.

Dan Endri Dushku selalu menepati janjinya. Mulai malam ini, aku adalah orang bebas. Dengan pengalaman dan koneksi bawah tanah yang kudapat selama bekerja untuk klan Albania, aku bisa dengan mudah mencari nafkah dan mencapai tujuanku. Aku sudah berjanji pada saudaraku bahwa kami akan pulang suatu hari nanti. Dan aku juga menepati janjiku.

Aku hanya perlu menyelesaikan tugas ini.

Membuka sedikit pintu tangga, aku memperhatikan jarum detik yang bergerak di jam tanganku. Suara tik-tik samar adalah satu-satunya suara yang memecah keheningan, memantul di dinding beton seperti bisikan di dalam kapel dengan langit-langit tinggi. Mal ini belum buka selama beberapa jam lagi, jadi hampir tidak ada orang di sekitar. Kebanyakan karyawan toko belum datang, dan semua orang cenderung berkumpul di area publik seperti food court. Ujung kompleks ini sepi, kondisi yang sempurna untuk memasang bahan peledak di dalam toko yang dipenuhi

(14)

14 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

barang antik dan pernak-pernik berkilauan yang tidak peduli oleh siapa pun yang lahir di abad ini. Pemilik toko itu kolot dan seharusnya tahu lebih baik daripada menolak “perlindungan” dari klan Albania. Jika dia tidak menolak untuk membayar, Dushku tidak akan memutuskan untuk memberikan pelajaran, dimulai minggu ini dengan ledakan besar. Bom di dalam toko itu akan meratakan semuanya dan menghancurkan barang- barang koleksi yang tersimpan di dalam etalase kaca yang tak terhitung jumlahnya.

Aku baru saja menyiapkan ponselku untuk mulai merekam ketika tawa riang seorang anak terdengar di lorong mal. Tubuhku langsung membeku. Tidak seharusnya ada orang di sini sekarang. Apalagi anak- anak.

“Aku tidak mengerti kenapa kamu harus merepotkan wanita malang itu untuk membantu kita sebelum tempat ini buka,” suara seorang wanita terdengar mendekat. “Kita bisa mengambil gaun itu nanti.”

“Aku sedang tidak ingin berurusan dengan keramaian,” seorang pria merespons sambil suara langkah kaki kecil semakin mendekat. “Sayang!

Kembali ke sini!”

“Oh, biarkan saja dia,” suara wanita itu lagi. “Kamu tahu dia suka bunga kristal di jendela toko antik itu. Tidak ada orang di sekitar juga, dan kamu masih bisa melihatnya dari sini.”

Tanganku mencengkeram tepi pintu begitu erat hingga kayunya retak.

Sebuah dentuman memekakkan bergema di kepalaku—detak jantungku berdentum begitu keras, hampir menyaingi gemuruh guntur saat otakku memproses situasi ini. Tidak ada cukup waktu untuk menelepon Jemin dan memintanya mematikan penghitung waktu. Bahkan jika aku melakukannya, kecil kemungkinan dia akan mendengarkan. Dia tidak

(15)

15 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

pernah peduli dengan kerusakan tambahan.

Tawa riang menggema di udara ketika seorang gadis kecil, tak lebih dari tiga tahun, berlari melewati tangga, langsung menuju etalase toko barang antik yang berlampu. Toko itu akan hancur berkeping-keping ketika alat peledak itu meledak.

Aku tidak berpikir. Aku berlari.

Adrenalin mengalir deras di pembuluh darahku saat aku berlari mengejar anak itu yang hampir sampai di toko. Dia tertawa senang, tangannya terangkat ke depan, meraih bunga-bunga kristal yang berkilauan di bawah lampu etalase. Sepuluh kaki lagi jarak kami.

Dua suara—mungkin orang tuanya—berteriak dari belakangku.

Mereka pasti panik melihat orang asing mengejar putri mereka, tapi tidak ada waktu untuk menjelaskan. Ledakan itu bisa terjadi kapan saja.

“Berhenti!” Aku berteriak sekuat tenaga.

Anak itu berhenti.

Lima kaki.

Dia berbalik, matanya bertemu denganku. Terlambat. Aku tidak akan sempat membawa dia keluar dari bahaya.

Satu kaki.

Aku meraih anak itu ke dalam pelukanku tepat saat ledakan keras membelah udara.

Rasa sakit membakar wajah dan tanganku ketika pecahan kaca menghujam kulitku. Sensasinya begitu menyengat hingga aku kesulitan menarik napas. Asap dan debu berputar di sekitarku, seperti aku terjebak dalam angin puyuh di tengah neraka. Tanganku gemetar, tapi aku tetap memeluk anak itu erat-erat di dadaku, kepalanya terlindung di bawah

(16)

16 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

daguku, sementara tubuhku melindungi punggungnya.

Tolong Tuhan, biarkan dia baik-baik saja.

Semuanya terjadi begitu cepat sehingga aku bahkan tidak sempat berbalik, apalagi membawanya ke tempat aman. Tapi tubuhku cukup besar untuk hampir sepenuhnya melindunginya. Antara dering di kepalaku dan suara keras alarm kebakaran serta keamanan, aku tidak bisa mendengar apa-apa—tidak ada tangisan ketakutan, bahkan napas tersengal. Yang bisa kudengar hanyalah langkah kaki yang berlari mendekat dan jeritan memilukan seorang wanita.

Gemetar menjalar ke punggungku, dan kakiku yang kanan menyerah, lututku menghantam lantai. Rasa sakitnya begitu menyiksa hingga setiap tarikan napas semakin sulit. Aku tidak punya cukup tenaga untuk tetap tegak. Satu-satunya hal yang bisa kupikirkan adalah tetap memeluk anak itu di dadaku. Aku menggeser tanganku ke pipinya dan membiarkan tubuhku jatuh ke samping. Seketika, gelombang rasa sakit lain menyerang wajahku saat menghantam permukaan kaca. Pecahan tajam menusuk punggung tanganku yang masih menangkup pipi anak itu, menjauhkan wajahnya dari ubin yang berbahaya.

Mungkin baru beberapa detik sejak ledakan itu, tapi rasanya seperti berjam-jam berlalu. Pandanganku mulai kabur, segalanya di sekitarku larut menjadi kabut tak berbentuk. Semua, kecuali sepasang mata hitam yang lebar, berkilau seperti oniks di antara helai rambut hitam pekat.

Darah dan noda mengotori pipi serta dahinya, tapi dia tidak menangis.

Hanya memegangi bajuku dan… menatapku tajam. Seolah-olah dia kesal karena aku mengganggu waktu bermainnya. Kalau saja aku punya energi, aku mungkin akan tertawa.

Anak itu selamat.

(17)

17 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

Aku tidak menjadi pembunuh anak kecil.

Hanya tetap seorang pembunuh.

Segalanya di sekitarku terus memudar. Apa ada yang bermain-main dengan lampu? Satu-satunya hal yang masih bisa kulihat hanyalah mata oniks anak itu.

Namun kemudian, mata itu pun menghilang.

(18)

18 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

Chapter 1

20 tahun kemudian Saat ini

Diculik itu menyebalkan.

Diculik dengan kandung kemih penuh jauh lebih menyebalkan.

“Aku butuh ke kamar kecil,” gumamku.

Brengsek di depanku menatap dari ponselnya dan memberiku senyuman sinis. Senyum itu gagal memberikan kesan yang dia inginkan karena langsung berubah menjadi meringis kesakitan. Dia menekan telapak tangannya yang besar ke dagu, menepuk memar merah besar yang menyebar di wajah jeleknya.

“Tidak,” dia menggonggong dan kembali sibuk dengan perangkatnya, sama sekali mengabaikanku. Sepertinya dia masih kesal karena aku memukulnya dengan ranselku.

Deru mesin pesawat yang rendah bersaing dengan suara pertandingan sepak bola dari speaker ponselnya. Aku menggenggam tanganku erat-erat agar tidak gemetar. Terpancing histeria tidak akan menghasilkan apa-apa dan kemungkinan besar malah membuat peluangku melarikan diri semakin kecil. Aku harus tetap tenang. Atau setenang mungkin, mengingat situasiku saat ini.

(19)

19 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

Lebih mudah diucapkan daripada dilakukan.

Mataku menyusuri interior mewah pesawat ini. Di kedua sisi lorong tengah, empat kursi besar seperti recliner mendominasi ruang. Di bagian depan kabin, dua sofa empuk saling berhadapan. Interiornya didominasi kulit beige yang bersih dan aksen kayu yang kaya. Aku pernah beberapa kali berada di jet pribadi, tapi yang ini benar-benar di level lain.

Sebagai kondisi untuk ditahan secara paksa, ini bisa jauh lebih buruk, tapi suasana mewah tidak mampu mengurangi kepanikanku yang semakin memuncak. Brengsek nomor dua sedang berbaring di sofa di sisi kiri, menonton—dari semua hal—sebuah infomersial perjalanan di layar TV besar yang terpasang di dinding kabin.

Jantungku terus berdetak kencang di dalam rongga dadaku, seperti saat dua bajingan ini menyeretku dari jalanan dan memasukkanku ke dalam van mereka. Mereka tidak pernah memberitahuku mengapa mereka menargetku atau kemana mereka membawaku. Kami mengemudi beberapa waktu sampai tiba di bandara kecil pribadi di luar Chicago. Pesawat ini sudah menunggu di landasan saat kami sampai.

Berapa lama kami sudah terbang? Satu jam? Dua? Sepuluh? Aku tidak yakin karena mereka menempelkan kain bau asam ke mulut dan hidungku begitu kami masuk ke dalam pesawat. Kurasa ini karena aku sempat menendang alat vital pria pecinta infomersial saat naik tangga pesawat. Sepertinya dia tidak menyukainya.

Aku kembali menatap bajingan yang duduk di depanku. Dia masih berpura-pura fokus pada pertandingan di ponselnya, tapi dia mencuri pandang ke arahku saat dia mengira aku tidak melihat. Dasar menjijikkan.

“Dengar, kalau kamu tidak membawaku ke kamar kecil, aku akan

(20)

20 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

buang air di sini.” Aku membuka kakiku sejauh mungkin dengan pergelangan kaki yang terikat. “Kursi kulit mewah ini mungkin tidak akan bertahan, lho.”

“Sial!” Dia melompat dari kursinya dan meraih lenganku, menarikku berdiri. “Hank, aku bawa orang sinting ini ke kamar kecil.”

“Awasi tangannya kali ini, atau kamu akan kena memar lagi,” Hank menggerutu dari sofa sambil menggeser posisi tubuhnya seolah khawatir kehilangan sesuatu.

“Aku tidak bisa berjalan dengan kaki terikat, idiot!” bentakku saat pria itu menyeretku menyusuri lorong sempit di antara kursi. “Dan aku butuh kamu melepaskan borgol ini.”

“Lompat saja. Aku tidak akan membebaskan tanganmu.” Dia menarik rantai di antara pergelangan tanganku.

Aku berteriak kesakitan. Kulit di pergelangan tanganku sudah lecet karena dia menarikku dengan kasar saat naik tangga pesawat tadi. Itu terjadi setelah aku berkenalan dengan bagian vital temannya. Mataku terasa panas karena air mata yang belum sempat keluar, tapi aku berkedip cepat-cepat, menahannya dengan sekuat tenaga. Aku setengah menyeret diri, setengah melompat di antara kursi sebelum kebrutalan pria ini membuatku hampir tersungkur. Ketika kami sampai di belakang pesawat, dia membuka pintu kamar kecil dan mendorongku masuk.

“Kamu punya waktu lima menit,” geramnya sambil membanting pintu.

Seperti bagian lain pesawat, kamar kecil ini juga mewah. Tidak ada wastafel baja di sini; semuanya kabinet kayu coklat gelap dan pelapis kulit beige. Bahkan ada bangku kecil yang empuk di pojok. Meja rias yang elegan dan toilet ada di sisi berlawanan. Aku butuh empat lompatan

(21)

21 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

untuk mencapainya.

Aku menyelesaikan urusanku secepat mungkin meskipun tangan masih terborgol, lalu melihat sekeliling sambil mencoba menenangkan sarafku. Tidak banyak membantu. Ada perasaan aneh di tenggorokanku, seperti aku akan muntah kapan saja, dan ruangan mewah ini terasa seperti berputar-putar di sekitarku. Tanganku masih gemetar, sebagian karena sakit, tapi lebih karena takut. Aku pernah mengalami situasi- situasi penuh tekanan sebelumnya. Penembakan, saat aku berusia empat tahun. Dua kebakaran kecil ketika koki kami secara tidak sengaja membakar dapur saat mencoba resep Prancis. Bahkan pernah ada percobaan penyerangan ke rumah kami ketika ayahku sedang berperang dengan organisasi kriminal saingan beberapa tahun lalu. Tapi tidak pernah penculikan. Mungkin aku seharusnya menduganya, mengingat ayahku adalah pemimpin Bratva di Chicago.

Ketika aku ditarik dari jalan, di siang bolong, aku yakin ini ada hubungannya dengan ayahku. Menculik anak perempuan seorang pakhan bisa menghasilkan banyak uang—kalau penculik itu cukup beruntung untuk hidup cukup lama melihat hasilnya. Tapi sekarang, aku rasa ini bukan soal uang tebusan. Dari yang kulihat sejauh ini, orang yang memerintahkan penculikan ini pasti sangat kaya. Apakah ini karena perselisihan antar kelompok? Balas dendam atas sesuatu yang dilakukan ayahku?

Bang!

“Kamu sudah selesai?” suara marah terdengar dari balik pintu.

“Aku butuh beberapa menit lagi!” teriakku sambil berjongkok membuka lemari di bawah wastafel. “Tidak mudah membuka celana jeans dengan tangan diborgol, tahu!”

(22)

22 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

Dia membentak sesuatu sebagai balasan, tapi aku tidak mendengarnya, terlalu fokus mengacak-acak isi lemari. Tisu toilet.

Handuk. Sabun tambahan. Dan... sikat gigi sekali pakai.

"Aku bisa menggunakan ini," bisikku.

Aku merobek bungkus plastiknya dengan gigiku dan, entah bagaimana, berhasil menyelipkan sikat itu ke dalam lengan bajuku. Lalu, aku melanjutkan mencari barang-barang lainnya.

Spons. Lebih banyak handuk. Kondom. Serius? Siapa yang berhubungan di pesawat? Aku menggelengkan kepala dan melanjutkan pencarian. Benang gigi. Hmm... Aku merobek sepotong panjang benang itu, melilitkan kedua ujungnya di jari-jariku hingga kencang, lalu menariknya sejauh mungkin, menguji seberapa kuat. Pamanku pernah menunjukkan cara mencekik seseorang dengan kawat, dan— Benang jelek ini putus pada tarikan kedua. Ya... ini tidak akan berhasil. Aku mengalihkan perhatian ke rak bawah.

Peralatan pembersih, tapi botolnya terlalu besar untuk disembunyikan. Sarung tangan plastik. Dan... deodoran semprot. Khusus pria. Ukuran perjalanan. Sempurna.

Aku meraih botol itu, berdiri, dan menyelipkan kaleng kecil itu ke dalam pinggang celana jeansku. Pintu terbuka tepat saat aku merapikan kemeja longgar untuk menutupi barang-barang tersembunyiku.

"Sudah selesai?" pria menyebalkan itu bertanya. Kalau tidak salah, Hank tadi menyebut orang ini sebagai Vinny.

"Sudah." Aku menekan tombol untuk menyiram toilet, lalu mencuci tanganku sementara si brengsek tak sabaran menatapku tajam dari ambang pintu. Bajingan.

(23)

23 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

Tanpa pilihan lain, aku melompat keluar dari kamar mandi.

Sepanjang waktu, deodoran tersembunyi itu terus menekan pinggulku.

Aku tidak yakin kekacauan apa yang bisa kulakukan dengan deodoran dan sikat gigi, tapi kita lihat saja nanti. Aku harus mencoba melarikan diri begitu kami mendarat, lalu mencari telepon, atau aku mungkin tidak akan pernah mendapatkan kesempatan lagi.

Ayahku punya koneksi di seluruh AS. Dia pasti langsung datang untukku. Atau, jika kami tidak dekat dengan Chicago, Ayah akan mengatur seseorang untuk menjemputku dan membawaku ke tempat aman sampai dia tiba. Dan dia akan membunuh para bajingan ini...

Lompat.

...dengan cara yang sangat...

Lompat.

...sangat...

Lompat.

...menyakitkan.

* * *

"Kita sudah sampai," kata Vinny sekitar sejam kemudian. "Aku akan membebaskan kakimu sekarang, tapi kalau kamu mencoba macam- macam lagi, kamu akan menyesalinya."

"Di mana kita?" tanyaku pelan, memutuskan untuk mengubah taktik.

Mungkin jika mereka berpikir aku sudah menyerah, mereka akan lengah?

(24)

24 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

Bajingan itu mengabaikan pertanyaanku. Dia memotong tali zip di pergelangan kakiku, lalu meraih lenganku dan menarikku berdiri. "Jalan."

Aku melangkah di antara kursi, lalu menuruni tangga sempit dari pesawat menuju landasan pacu, dengan si brengsek nomor satu di belakangku dan brengsek nomor dua memimpin jalan. Udara terasa segar, dan aroma asin laut terbawa angin sepoi-sepoi. Kami dekat dengan pantai.

Florida mungkin? Suhunya jauh lebih hangat dibandingkan Chicago.

Bajingan yang tadi bolanya berkenalan dengan lututku—Hank—

berhenti di kaki tangga, mengamati jalan tanah yang memanjang dari landasan pacu. Aku melihat sekeliling, mencoba memahami lokasiku.

Tidak ada seorang pun yang terlihat, dan selain satu bangunan kecil di sisi sana, tidak ada struktur lainnya. Ini sama sekali bukan bandara. Hanya lapangan udara. Landasan aspal. Rumput. Dan perbukitan. Aku belum pernah ke Florida, tapi sepertinya ini bukan Florida.

Teriakan tajam burung terdengar dari atas, dan aku menengadah, mencari sumbernya. Seekor camar. Aku menyipitkan mata karena matahari sangat terik. Tengah hari. Tidak mungkin tengah hari. Aku diculik sore hari.

"Guido terlambat," kata Vinny sambil berdiri di dekat Hank, cengkeraman tangannya di lenganku masih kuat.

"Dia akan segera sampai." Hank mengangkat bahu dan merogoh saku untuk mengeluarkan sebungkus rokok.

Aku menyingkirkan pikiran tentang waktu dan langsung fokus pada pemantik api yang menyala di tangan Hank. Detak jantungku melonjak, adrenalin bergejolak dalam nadiku saat aku menatap api kecil itu. Ini adalah kesempatanku. Tapi aku harus membebaskan lenganku terlebih dahulu.

(25)

25 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

“Boleh aku minta satu?” tanyaku. “Tolong?”

Hank menyipitkan matanya ke arahku. “Berapa umurmu? Tiga belas?”

Aku menahan diri agar tidak menendangnya lagi dan memilih tersenyum. Sama seperti ibuku, aku mungkin lebih pendek daripada kebanyakan wanita, tapi aku yakin si brengsek ini bisa melihat lekukan dadaku di balik kaus kebesaran ini.

“Dua puluh tiga.”

“Ya, tentu saja,” Hank mencibir sambil mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusnya dan menawarkannya padaku.

“Boleh?” Aku menarik lenganku dari cengkeraman jari-jari gemuk Vinny yang seperti sosis.

Vinny mendengus, tapi melepaskanku.

Aku mengambil rokok yang ditawarkan dan meletakkannya di bibirku, melawan beberapa helai rambut yang tertiup angin kecil ke wajahku. Lebih banyak aroma laut yang khas mengisi hidungku saat aku perlahan menggerakkan tangan ke pinggang celanaku. Hank menyalakan kembali Zippo-nya dan mengarahkannya ke arahku.

Bibirku melebar dalam senyum manis. “Terima kasih.”

Aku bersandar dan mengangkat kaleng deodoran di depanku, menekan noselnya. Dalam sekejap, aroma pria yang segar menyelimutiku, tapi detik berikutnya, semprotan itu mencapai api, dan wangi itu berubah menjadi bau kain terbakar dan kulit yang hangus saat senjata api buatanku menghantam targetnya.

Hank mengaum dan mundur terhuyung menjauh dari semburan api.

Aku tidak pernah menduga akan punya kesempatan mencoba trik khusus yang diajarkan Paman Sergei, tapi hidup penuh kejutan.

(26)

26 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

Namun, kemenangan itu tidak bertahan lama. Rasa sakit menjalar di bagian atas kepalaku saat Vinny meraih segenggam rambutku. Aku menjerit. Air mata menggenang di mataku, dan, sejenak, keinginan untuk menyerah begitu saja hampir menguasai. Tidak. Itu tidak akan terjadi. Aku menggeser sikat gigi dari lengan bajuku ke telapak tangan. Dengan tangan yang terborgol, aku menggenggam ujung berbulu sikat itu dan mengayunkannya, mengincar mata kiri si bajingan ini.

Pria besar itu begitu masif hingga pukulanku hanya mengenai kelopak matanya, meninggalkan goresan di tulang pipinya. Meski begitu, Vinny berteriak kesakitan, dan pegangannya melonggar. Begitu aku bebas, aku langsung berlari ke landasan menuju jalan tanah. Jalannya sempit, lebih seperti jalur kecil dibandingkan jalur kendaraan biasa, dengan pohon zaitun berjajar di kedua sisinya. Masih lemas akibat zat yang mereka berikan padaku, dan dengan kaki yang gemetar karena terikat begitu lama, berlari terasa seperti tantangan berat. Aku terjatuh dua kali, tapi adrenalin yang mengalir deras di tubuhku membuatku terus bergerak.

Mungkin ini satu-satunya kesempatan untuk melarikan diri.

Aku sudah setengah jalan menuju jalur tanah ketika suara gemuruh mesin terdengar di antara perbukitan. Debu mengepul di antara pohon- pohon, dan sebuah mobil muncul dari tikungan. Kendaraan sport putih yang tampak tidak sesuai dengan lingkungan pedesaan ini mendekat.

Sesaat, aku ragu, tidak tahu apakah orang di dalam mobil itu teman atau musuh, tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku terus berlari ke arahnya.

Baru beberapa langkah aku maju, tiba-tiba udara keluar dari paru- paruku saat dua tangan menangkapku dari belakang dan mengangkatku dari tanah.

“Kamu bajingan!” Vinny mendesis di telingaku.

(27)

27 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

“Tolong!” aku berteriak sambil menendang-nendang.

“Berhenti, dasar bodoh!”

“Tidak akan!” Aku meronta ke kiri dan ke kanan, berusaha membebaskan diri, tapi cengkeramannya tidak goyah.

Mobil putih itu berhenti beberapa langkah dariku. Pintu pengemudi terbuka, dan seorang pria berambut pirang yang tampaknya berusia akhir dua puluhan melangkah keluar. Dia mengenakan jeans biru pudar dan kaus putih polos.

“Tolong, bantu aku,” aku tersedak, memohon pada pria itu.

Dia melirikku sebentar, lalu memandang Vinny. “Ada apa ini?”

Suaranya serak dengan aksen tipis, menunjukkan bahwa dia bukan penutur asli bahasa Inggris.

“Hacker.” Jawaban geram datang dari belakangku.

Apa-apaan ini? Aku yakin aku diculik karena siapa ayahku, bukan karena hobiku yang satu itu. Mungkin mereka bahkan tidak tahu siapa aku sebenarnya.

Pria berambut pirang itu mengangkat alisnya. Mata hijaunya bergeser ke arahku, memindai dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu kembali ke rambutku yang kusut.

“Peristiwa yang menarik,” katanya sambil menatapku. “Selamat datang di Sicily, nona.”

(28)

28 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

Chapter 2

Dua minggu sebelumnya

Kediaman De Santi, dekat Taormina, Sisilia

"Aku sangat minta maaf harus menelepon sepagi ini, bos," kata spesialis IT-ku di ujung telepon. "Tapi, itu terjadi lagi."

Aku menegakkan tubuhku, menarik diriku dari pasangan satu malamku. Dia terbaring di depanku di atas meja, rambut merahnya terurai hingga ke tepi meja. Aku menggenggam telepon di telingaku dengan erat. "Apa?"

"Aku tidak mengerti bagaimana ini bisa terjadi," Mitch melanjutkan dengan nada sedikit panik. "Kami sudah menginstal ulang semua firewall, dan aku menyuruh empat orang menghabiskan sepanjang malam mencoba menembusnya. Semuanya terlihat solid."

"Solid apanya kalau seseorang masih bisa masuk ke sistem kita lagi,"

aku mendesis.

"Rafael? Ada apa, sayang?" Constanza terengah-engah, menatapku dari antara kakinya yang terbuka lebar. Bibirnya terulas senyuman menggoda, tetapi bukannya menatap wajahku, matanya terpaku pada titik di atas tulang selangkaku.

(29)

29 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

"Pakai bajumu," aku memerintah, lalu berjalan melintasi ruang kerjaku menuju pintu balkon yang terbuka. "Apa yang mereka lakukan kali ini, Mitch?"

"Mereka membuat perintah pembayaran untuk mentransfer uang dari akun pemasaran kita ke paduan suara gereja anak-anak di Seattle.

Tapi hanya dua puluh dolar, tidak terlalu mengganggu, bukan?"

Tanganku mengencang di bingkai pintu balkon. "Kita adalah perusahaan keamanan pribadi terbesar di bagian dunia ini, dan seseorang telah meretas sistem kita selama berbulan-bulan, membuat kita terlihat seperti orang bodoh. Kamu anggap itu gangguan kecil?"

"Ya... maksudku, tidak. Tentu saja tidak."

Pandangan mataku melewati puncak-puncak pohon dan hamparan hijau taman di bawah, hingga ke cakrawala tempat sinar matahari pagi memantul di permukaan laut yang tak berujung. Di sepanjang pantai, dua yacht milikku berlabuh di marina kecil, bergoyang di atas ombak yang lembut.

Dua puluh lima tahun lalu, ketika Guido dan aku melarikan diri dari Sisilia, kami tidak punya dokumen resmi untuk tinggal di AS, jadi aku tidak punya kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan legal, terutama sebagai anak di bawah umur. Hidup dari mencopet di jalanan, aku nyaris tidak bisa memberi makan saudaraku. Satu-satunya pilihan adalah mendekati kelompok Albania setempat. Mereka setuju untuk menampungku dan Guido, tetapi dengan syarat yang sangat jelas. Mereka akan menyediakan identitas, atap di atas kepala kami, dan makanan agar kami tidak harus mengais-ngais sisa, dan sebagai gantinya, aku harus mematuhi perintah mereka selama lima tahun tanpa bertanya. Ketika aku menerima tawaran Dushku, aku sudah dua hari tidak makan. Semua

(30)

30 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

yang aku "hasilkan" digunakan untuk membayar sewa kamar di garasi reyot yang menjadi rumah kami. Menghadapi pilihan antara kelaparan atau menerima tawaran dari iblis, aku memilih yang terakhir.

Awalnya, aku hanya mendapat pekerjaan kecil—mengantarkan pesan-pesan penting yang terlalu berisiko untuk dikirim secara elektronik, menjual kokain, atau membuat mayat menghilang. Lalu, aku ditugaskan menjadi pendamping Jemin, salah satu eksekutor Dushku.

Jemin lebih dari senang membiarkanku melakukan semua pekerjaan kotornya. Pemukulan. Penyiksaan. Dan tentu saja, mengeliminasi siapa pun yang dianggap Dushku tidak berguna, baik itu dari dalam organisasinya sendiri maupun orang luar yang hanya menghalangi jalannya. Aku menukar lima tahun hidupku dan sebagian besar jiwaku untuk memastikan Guido tidak pernah lagi tidur dalam keadaan lapar.

Dan setelah itu, aku menghabiskan lima belas tahun membangun kerajaanku.

Dua dekade berlalu untuk mencapai posisiku sekarang. Dari pengemis yang hidup di jalanan, bertahan dengan remah-remah dan apa pun yang bisa kuambil dari saku orang lain, menjadi seorang pria yang namanya dihormati. Dan ditakuti. Aku melakukan semuanya dengan tanganku sendiri—memanjat, merebut—secara harfiah melangkahi mayat. Aku mungkin meninggalkan tanah airku sebagai peminta-minta, tetapi aku kembali sebagai penguasa. Aku tidak akan membiarkan seorang peretas sialan mempermalukanku.

"Kamu berhasil menemukan si bajingan itu?" tanyaku.

"Tidak. Dia menggunakan VPN dan pengacak alamat IP, mengarahkan lokasinya ke seluruh dunia."

"Dan selalu di lokasi yang berbeda?"

(31)

31 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

"Ya. Tokyo. Manila. Chicago. Panama. Den Haag. Bahkan pernah di Patagonia. Ada sembilan insiden, masing-masing di lokasi berbeda. Tapi...

tunggu sebentar." Terdengar suara ketikan jari di keyboard. "Peretasan pertama enam bulan lalu dan yang terbaru ini menunjukkan alamat IP di daerah Chicago. Itu"—lebih banyak suara mengetik—"dilakukan dari sebuah kafe internet. Tapi bukan yang sama."

Bunyi langkah sepatu hak di lantai kayu terdengar di belakangku.

Aku menoleh ke belakang dan menemukan Constanza berdiri di dekat sofa. Dia mengenakan gaun merah pendek yang sama yang aku lepaskan darinya sejam lalu. Gaun itu nyaris menutupi tubuhnya dan memamerkan kakinya yang jenjang. Rambutnya tergerai sempurna, membingkai wajah cantiknya yang klasik. Sangat menawan. Pasanganku selalu begitu. Aku sudah terbiasa dikelilingi wanita-wanita cantik. Uang bisa membeli apa yang tidak bisa diraih dengan penampilan saja. Itulah kenyataannya.

"Aku akan diwawancarai di TV Kamis sore," kata Constanza dengan senyum cerah. "Ada gaun hitam luar biasa yang kulihat di Albini's... Itu akan sempurna untuk acara itu."

Tentu saja begitu. Albini's adalah butik pakaian paling mahal di wilayah ini. Tapi sebelum dia menghabiskan ribuan uangku untuk sebuah gaun, dia harus belajar menatap wajahku saat berbicara. Dan saat bercinta.

"Tidak. Kamu bisa membeli gaun di toko biasa. Bilang pada mereka untuk menagih ke akunku."

Senyuman di wajah Constanza sedikit memudar, tetapi dia cepat menyembunyikannya. Dia melangkah mendekat dengan beberapa

(32)

32 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

langkah pendek berirama dan naik berjinjit untuk menciumku. "Terima kasih, sayang."

Ada sedikit kerutan hampir tak terlihat saat bibirnya menyentuhku, dan aku harus mengakui—dia mungkin aktris terbaik dari semua wanita yang pernah kugauli. Mereka semua berusaha keras menyembunyikan rasa jijik mereka. Beberapa lebih berhasil daripada yang lain. Sebagus apa pun dia, Constanza, seperti yang lainnya, tidak tahan menatap wajahku, bahkan dalam pencahayaan redup.

Aku tidak keberatan dengan fakta bahwa satu-satunya alasan pasangan-pasanganku bertahan denganku adalah karena perjalanan mewah dan hadiah-hadiah mahal yang kuberikan kepada mereka.

Kemewahan tak tertandingi—kompensasi karena harus berada di sisi seorang "monster". Ini adalah kompromi yang adil. Beberapa wanita bisa bertahan lebih lama. Kebanyakan tidak.

Beberapa tahun yang lalu, aku bertemu seorang wanita di klub. Atau lebih tepatnya, dia yang mendekatiku. Seorang sosialita terkenal dari daratan utama, dia sedang berlibur di Sisilia bersama teman-temannya.

Salah satu dari mereka mungkin memberitahunya siapa aku. Dia terlihat sangat menikmati hidup—atau mungkin ada sesuatu yang lebih, yang saat itu tidak kusadari—dan jelas sedang merayakan sesuatu dengan sampanye yang mengalir deras di meja mereka. Saat kami sampai di suite hotelku, dia sudah menyanyikan lagu-lagu hits terbaru dan hampir tidak bisa melepaskan tangannya dariku. Kami bercinta. Berkali-kali. Dia memohon lebih. Aku tahu cara memuaskan seorang wanita di ranjang.

Gadis malang itu bahkan memintaku untuk menikahinya. Namun keesokan paginya, ketika dia bangun dalam keadaan sadar tapi masih mabuk berat, dan melihat wajahku, dia menjerit. Dua menit kemudian,

(33)

33 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

dia lari keluar kamar dan langsung masuk ke taksi yang kupanggilkan untuknya.

“Kapan kita akan bertemu lagi?” tanya Constanza dengan nada ceria.

“Aku akan meneleponmu,” jawabku sambil menunjuk jas yang dia kenakan di pundaknya. “Lepaskan jasku.”

“Tapi di luar dingin.”

“Saat ini juga, Constanza. Salah satu anak buahku di bawah bisa memberimu jas mereka.”

Dia sedikit cemberut tetapi melepas jas itu, meninggalkannya di punggung sofa, lalu bergegas keluar dari kantor, menutup pintu kayu besar di belakangnya. Aku memandang ke luar jendela dan menempelkan kembali ponsel di telingaku.

“Dengar baik-baik, Mitch. Kamu harus menemukan peretas itu, dan cepat. Aku tidak peduli jika kamu harus menempatkan salah satu anak buah kita di setiap warung internet murahan di Wilayah Chicago Raya.

Aku ingin bajingan itu ditemukan dan dibawa ke hadapanku.”

“Tapi… ada ratusan warung internet di sana, bos.”

“Aku tidak peduli!” aku menggeram ke ponsel. “Temukan dia. Atau aku akan mencabut kepalamu dari tulang belakangmu!”

“Ya, bos. Tentu. Akan kulakukan.”

Aku menutup telepon, lalu menekan ikon kontak saudaraku.

“Raff,” suara Guido terdengar menguap dari speaker.

“Ada hal besar yang perlu kita lakukan minggu ini?” tanyaku sambil menuju pintu yang menghubungkan kantorku dengan kamar tidur.

“Demi Tuhan, Rafael. Ini masih jam enam pagi.”

(34)

34 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

“Jawab aku!”

“Sejauh yang aku tahu, tidak ada. Sebagian besar kontrak yang tersedia nilainya kecil, jadi aku memutuskan untuk melewatkannya. Aku harus memeriksa lagi, tapi sepertinya ada perintah ganda yang ditambahkan tadi malam. Nilainya, sih, kurang dari satu juta.”

“Ambil,” perintahku sambil melangkah masuk ke dalam lemari pakaian yang besar.

“Baik. Siapa yang akan kita kirim? Targetnya ada di Jerman, dan tim Allard sepertinya sudah di sana.”

“Tidak.” Aku menekan tombol yang tersembunyi di balik deretan jas, dan dinding belakang lemari bergeser ke samping. Tak lama kemudian, lampu di langit-langit menyala, menerangi ruangan tersembunyi yang penuh dengan deretan senjata di dinding.

“Lalu siapa yang akan kamu kirim?”

“Kita tidak mengirim tim mana pun. Aku sendiri yang akan menangani ini.”

“Kenapa?”

“Aku memulai hari dengan buruk, Guido, meskipun baru saja pulang kurang dari satu jam yang lalu. Aku butuh pelampiasan.” Mataku menyapu deretan senapan jarak jauh di depanku. “Ada instruksi khusus soal metode pembunuhan?”

“Hmm… Biar kulihat. Tidak ada. Tidak ada preferensi soal metode.”

“Sempurna. Kirimkan file-nya dan suruh pilot menyiapkan pesawat sebelum jam tujuh.” Aku menutup telepon dan mengambil M40 dari dinding.

(35)

35 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

Terakhir kali aku menangani kontrak secara pribadi adalah lebih dari satu dekade yang lalu, tepat sebelum aku kembali ke Sisilia. Dengan semua kekacauan yang harus kulakukan untuk mengambil alih dan mempertahankan kendali di pantai timur pulau ini, aku harus “pensiun”

dari peran sebagai tentara bayaran. Sekarang, aku memiliki sebelas tim pembunuh bayaran yang tersebar di seluruh dunia, menggunakan cabang Delta Security yang strategis sebagai basis. Saudaraku yang mengawasi operasi rahasia itu akhir-akhir ini, sementara aku fokus mencuci uang darah dan menginvestasikannya melalui sisi bisnis yang sah.

Bisnis yang diputuskan seseorang untuk mengacaukannya.

Aku tidak sabar untuk menangkap bajingan itu.

Rumah Roman Petrov (pakhan Bratva Rusia), Chicago

Pintu kamarku terbuka dengan keras.

“Ya ampun, Ayah!” Aku melompat dari kursiku. “Apa Ayah tidak tahu cara mengetuk pintu?”

Dengan alis menyipit dan amarah terpahat jelas di wajahnya, Roman Petrov yang agung berjalan masuk. Tongkatnya mengeluarkan suara tik lembut di lantai kayu saat dia melangkah cepat mendekatiku, wajahnya tepat di depanku.

“Kamu dihukum,” katanya dengan gigi terkatup.

(36)

36 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

“Aku bukan anak kecil. Ayah tidak bisa menghuk— Apa yang Ayah lakukan? Jangan! Jangan sentuh laptopku! Ayah!”

“NASA?” Dia menyelipkan laptopku di bawah lengannya dan mencabut kabel dayanya dari stopkontak. “NASA sialan!?”

Sial. “Bagaimana Ayah tahu?”

“Aku menekan Felix, dan dia mengaku.”

Aku melongo. Felix adalah teman Paman Sergei sejak lama, saat saudara Ayah masih bekerja di militer. Tapi, orang tua itu lebih seperti anggota keluarga angkat. Tidak ada sistem yang tidak bisa dia retas, dan semua yang aku tahu tentang peretasan, aku pelajari darinya. Dia juga sudah lebih dari sembilan puluh tahun, meskipun dia tidak pernah mengakuinya. Selama satu dekade terakhir, dia selalu bilang usianya belum mencapai delapan puluh. Aku tidak percaya Kakek Felix akan mengkhianatiku!

“Aku hanya bermain-main, Ayah. Aku tidak melakukan apa-apa.

Sumpah. Aku cuma masuk dan keluar.”

“Oh? Jadi kamu hanya… melakukan kunjungan digital kecil ke Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional?”

“Semacam itu?” Aku mencoba tersenyum menyesal.

Geraman mengancam keluar dari tenggorokannya. “Aku sudah bilang, Vasilisa. Aku sudah bilang ribuan kali—kamu tidak boleh meretas sistem pemerintah! Itu ilegal!”

Aku mengangkat alis. “Ayah ingat kalau Ayah adalah pemimpin salah satu organisasi kriminal terbesar di dunia ini, kan?”

“Ya. Dan aku tidak mau putriku terlibat dalam hal-hal melawan hukum.”

(37)

37 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

“Kalau Ayah membiarkan aku membantu urusan keluarga, aku tidak perlu membuang kemampuan ini untuk mencari hiburan,” aku membalas.

“Tidak ada bagian dari bisnis Bratva yang sah, Vasilisa. Dan aku tidak mau kamu mendekatinya.”

“Ayah bahkan tidak mengizinkan aku membantu Ivan menangani dokumen bea cukai. Dia butuh dua malam di kantor bawah tanah untuk menyelesaikan semuanya.”

“Aku tidak akan membiarkan putriku memalsukan manifes impor untuk barang selundupan!”

Barang selundupan. Aku memutar mata. Seolah aku tidak tahu kalau Bratva kebanyakan berurusan dengan narkoba. Aku benar-benar muak diperlakukan seperti anak kecil yang bodoh.

“Ayah membawa Alexei ke pertemuan dengan mitra-mitra Ayah!”

“Saudaramu akan mengambil alih kepemimpinan Bratva saat aku pensiun. Dia perlu dipersiapkan.”

Aku menggelengkan kepala. “Ayah benar-benar munafik.”

“Dunia kriminal bukan tempat untuk wanita, Vasilisa. Kamu harus menyelesaikan studi. Dapatkan pekerjaan biasa. Temukan pria baik-baik untuk dikencani. Seorang akuntan, mungkin.”

Aku mendesah. Protektif bahkan tidak mendekati menggambarkan sikap ayahku. Dulu, dia hampir mencekik seseorang yang aku kencani hanya karena melihat kami berciuman di depan gerbang rumah, dan itu hanya karena pria itu berkepala plontos dengan alis yang ditindik.

“Aku lulus minggu lalu, kalau Ayah lupa.”

“Dan kamu akan melanjutkan ke program master.”

(38)

38 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

“Aku tidak mau ambil program master, Ayah! Aku mau bekerja.

Untuk Ayah.”

“Tidak akan terjadi.” Dia menunjukku dengan jari telunjuknya. “Dan hobi meretas ini berakhir sekarang, Vasilisa. Kamu tidak akan melakukannya lagi. Janji!”

“Baiklah.”

“Janji.”

“Aku janji. Aku tidak akan meretas database pemerintah lagi, selamanya.”

“Dan?”

Aku memutar mata. “Atau tempat lain.”

“Bagus.” Dia mencondongkan tubuh dan mencium bagian atas kepalaku. “Kamu tahu seberapa besar aku mencintaimu, kan?”

“Ya. Aku juga mencintai Ayah. Sekarang boleh aku minta laptopku kembali? Aku perlu mulai melamar pekerjaan ‘biasa’ yang Ayah inginkan.”

“Tidak.”

“Ayah, ini tidak adil—” Aku mencium bau sesuatu. “Bau apa itu?”

Pintuku terbuka lagi, dan aroma sesuatu yang terbakar memenuhi ruangan.

“Ayah!” Yulia, adikku, berlari masuk. “Igor membakar microwave baru.”

“Lagi?” Ayah berteriak. “Aku sudah bilang dia pensiun! Siapa yang membiarkan dia masuk? Aku akan membunuh dia, dan semua orang yang bekerja di dapur itu.”

(39)

39 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

Dia bergegas keluar dari kamarku, membawa laptopku bersamanya.

Pintu kamar tertutup keras, membuat aku dan Yulia terlonjak.

“Itu tentang apa?” tanya Yulia sambil menjatuhkan tubuhnya di tempat tidurku.

“Dia menyita laptopku.”

“Aku lihat itu. Dia tahu kamu meretas perusahaan itu kemarin? Apa yang kamu lakukan kali ini?”

"Aku mengirimkan donasi untuk paduan suara gereja," gumamku sambil menghela napas. "Dari warnet dekat perpustakaan. Tapi sepertinya Felix memberitahu Ayah soal aku yang mencoba meretas firewall NASA."

“Tuhan, Vasilisa. Kenapa kamu terus melakukan hal-hal konyol seperti ini?”

“Aku tidak tahu. Mungkin ini caraku membalas Ayah karena tidak mengizinkanku membantunya dalam hal apa pun.” Aku bergeser di kursiku. “Atau karena aku tidak tahu harus melakukan apa dengan waktu luangku sekarang.”

“Kamu seharusnya sering keluar. Bagaimana dengan pria yang kamu temui itu?”

“Oliver?”

“Iya. Model pakaian dalam itu. Dia sangat tampan.” Yulia berguling di tempat tidur, mengipasi dirinya sendiri.

Aku mendongak, menatap langit-langit, lalu memutar kursiku ke kiri dan ke kanan. Memang benar, Oliver sangat tampan. Kami bertemu di sebuah kafe di pusat kota saat dia duduk di meja sebelahku. Awalnya aku tidak memperhatikannya, terlalu sibuk dengan latihan pemrograman

(40)

40 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

yang dibuatkan Kakek Felix untukku, tapi kemudian Oliver pindah ke mejaku dan mulai bertanya tentang apa yang sedang aku kerjakan.

“Aku putus dengannya minggu lalu,” gumamku. “Dia ternyata sama saja seperti pria-pria lain yang ingin berkencan denganku.”

“Maksudmu, dia bersimpuh memohon izin untuk mengagumi kamu?”

Yulia tertawa kecil. “Vasilisa yang Cantik yang juga membuat pria-pria tersandung sejak kamu berusia lima belas tahun.”

“Tidak lucu. Dan aku benci kamu memanggilku begitu. Itu membuatku muak dengan dongeng itu.”

“Kamu, saudariku yang tersayang, mungkin satu-satunya wanita di dunia yang membenci kecantikannya sendiri.”

“Aku tidak membencinya. Tapi sekali saja, aku ingin ada pria yang tertarik padaku karena sesuatu yang lebih dari sekadar penampilanku.”

“Kamu lebih dari sekadar cantik, Vasya. Bahkan dalam pakaian jelek yang kamu pakai.”

“Tidak ada yang salah dengan pakaianku.”

“Baju itu mengerikan. Dan apa itu warnanya? Kuning muntah?” Dia mengangguk ke arahku. “Dan jangan mulai soal celana jins dua ukuran lebih besar itu.”

“Itu nyaman.” Aku mengangkat bahu.

“Tentu saja.” Yulia meletakkan tangan di bawah dagu dan memutar matanya. “Jadi, apa yang dilakukan ‘Oliver si Tampan’ yang salah?”

“Dia bersikeras untuk merestart ponselku. Seolah-olah aku ini tidak bisa melakukannya sendiri. Dan aku kutip: ‘Kenapa kamu repot-repot melakukan itu sendiri, cantik? Kamu punya aku sekarang, dan aku akan menangani hal-hal teknis sulit untukmu.’” Aku hampir tidak bisa menahan

(41)

41 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

nada sinis dalam suaraku saat mencoba menirukan nada suara si bodoh itu. “Lalu, dia mengambil ponselku dan melakukannya untukku. Aku menyelesaikan kuliah S1 di bidang ilmu komputer dengan predikat summa cum laude, dan pria bodoh itu malah merestart ponselku untukku.”

“Itu luar biasa.” Yulia tertawa terbahak-bahak. “Apa dia juga menawarkan untuk mematikan saklar lampu untukmu, kalau-kalau kamu bingung cara kerjanya?”

“Tidak lucu!” gerutuku.

“Maaf, tapi itu memang lucu. Dia hanya ingin menjadi ksatriamu yang berbaju zirah.”

Aku mendengus. “Kami sedang di taman saat itu terjadi. Aku masih melongo melihat Oliver mengutak-atik ponselku ketika seekor anjing lepas dari tali pengikatnya dan berlari ke arah kami, menggonggong.

Ksatriaku yang payah itu menjerit seperti anak kecil berusia empat tahun dan kabur tanpa sekalipun menoleh untuk memastikan aku baik-baik saja.”

“Kurang ajar! Lalu anjingnya?”

“Dia hanya ingin bermain. Menjilat tangan dan wajahku, lalu berlari pergi.” Aku menggelengkan kepala dan memutar kursi gamingku penuh satu putaran. “Ayah menyebutkan keinginannya agar aku bersama pria normal. Seorang akuntan, katanya. Ya, mungkin saat aku berusia lima puluh tahun, tapi... aku rasa aku tidak bisa bersama pria normal, Yulia.”

“Kenapa tidak?”

Aku mengangkat alis menatap adik bungsuku. “Karena pria normal akan ketakutan setengah mati begitu bertemu keluarga kita. Bisa kamu

(42)

42 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

bayangkan seorang akuntan duduk di ruang tamu kita, bercanda dengan Ayah, Alexei, dan Paman Sergei?”

“Aku rasa Paman Sergei keren. Dia tidak akan melakukan apa pun pada akuntanmu.”

“Dia membawa peluncur granat saat makan malam minggu lalu.”

“Ya, itu sih memang masalah.” Dia mengangkat bahu. “Mungkin kamu harus mencoba berkencan dengan seseorang dari Bratva. Siapa pun dia, dia pasti sudah tahu apa yang akan dihadapinya.”

“Ya, tentu saja. Menurutmu, berapa lama pria malang itu bisa bertahan hidup setelah Ayah tahu kami berkencan?”

“Seminggu?”

“Paling lama empat puluh delapan jam. Ayah tidak akan pernah membiarkan salah satu dari kita berkencan dengan anak buahnya. Atau siapa pun dari lingkaran sosial kita.”

Aku mengerti kebutuhan Ayah untuk menjauhkan putrinya dari bagian paling kelam dari dunia Roman Petrov—jangan mulai soal omong kosong patriarkal yang bahkan tidak perlu dipikirkan oleh adikku yang laki-laki—tapi hal yang tidak sepenuhnya dipahami Ayah adalah bahwa kami sebenarnya sudah menjadi bagian dari dunia itu. Keamanan bersenjata sepanjang waktu. Pria yang terluka dan berdarah dibawa ke rumah kami untuk dirawat di pulau dapur. Kewaspadaan tanpa henti terhadap bentrokan acak dengan organisasi kriminal lainnya. Para pengawal tidak pernah lebih dari satu langkah jauhnya sampai potensi ancaman benar-benar diatasi. Pertemuan bisnis dan bahkan acara keluarga sering kali berakhir dengan senjata terhunus. Aku dan adikku sama-sama lahir di tengah kekacauan ini. Itulah hal “normal” bagi kami.

Hal lain tidak akan pernah terasa seperti itu.

(43)

43 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

“Menurutmu Ayah juga akan memaksaku menikah dengan seorang akuntan?” Yulia bertanya ceria dari tempat tidur.

“Tidak. Dia mungkin akan mencarikanmu seorang dokter gigi. Atau kurator museum.” Aku menyeringai, menatapnya sambil membayangkan pria berkacamata dengan dasi kupu-kupu datang menjemputnya untuk kencan. “Ayah tidak akan pernah membiarkan anak bungsu keluarga mendekati akuntan. Mereka bisa terlibat penipuan.”

“Ya.” Dia menggigit kukunya. “Umm... Aku akan meminta izin Ayah untuk pindah sebelum semester berikutnya.”

Aku melongo menatap adikku. “Kenapa?”

“Aku tidak seperti kamu, Vasya. Semua keramaian ini, orang-orang yang terus datang dan pergi, suara bising sepanjang waktu... Aku rasa aku tidak bisa tinggal di tempat gila ini lagi.”

“Aku ragu dia akan membiarkanmu.”

“Kenapa tidak? Tidak ada bentrokan dengan Keluarga lain akhir- akhir ini. Semua orang hanya sibuk dengan urusan masing-masing.”

“Ya, tapi...” Aku menatapnya. Dalam keluarga Rusia, sudah biasa anak-anak tetap tinggal di rumah sampai mereka menyelesaikan kuliah dan mendapatkan pekerjaan. Terutama dalam keluarga seperti kami—di mana keamanan ekstra sering kali diperlukan. “Tapi, tidak terlalu buruk di sini.”

Pintu yang dibanting di ujung lorong menggema ke seluruh rumah, seolah sengaja membantah pernyataanku. Suara teriakan dan langkah kaki berlari bercampur dengan dengungan mesin pemotong rumput yang terdengar dari jendela yang terbuka. Tawa laki-laki dan hinaan khas Rusia yang bercanda saling bersahutan di halaman belakang—Alexei dan

(44)

44 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

sepupu kami, Sasha, sedang bersaing melempar pisau lagi. Aku bertanya- tanya siapa di antara mereka yang akan berakhir dijahit di dapur hari ini.

Bau asap tampaknya mulai menghilang, tapi masih tersisa di udara. Ibu pasti akan marah kalau baunya sampai menempel di tirai barunya. Suara perempuan bernada tinggi terdengar di suatu tempat di dalam rumah, melontarkan sumpah serapah dalam bahasa Rusia. Kantor ayah ada tepat di bawah kamarku, dan aku bisa mendengar dia berteriak kepada seseorang di telepon. Mungkin Paman Sergei; dia satu-satunya yang bisa membuat ayahku kehilangan kesabaran dalam waktu kurang dari satu menit.

Hari biasa lainnya di rumah Petrov.

“Aku meralat. Rumah kita adalah oasis kedamaian dan ketenangan.”

Yulia tertawa dari tempat tidurnya. “Jadi, apa kamu benar-benar akan berhenti dengan petualangan cyber-mu?”

“Ya,” gumamku sambil menggigit bibir bawahku. Seharusnya aku mengirim lebih banyak uang ke paduan suara anak-anak itu saat aku masih punya kesempatan.

Ketika aku pertama kali mulai meretas bisnis-bisnis random, aku segera menyadari bahwa kebanyakan sistem keamanan digital mereka seperti lelucon. Bagiku, firewall korporat tidak memberikan tantangan apa pun. Jadi, aku mulai mencari lebih dalam dan memilih sepuluh perusahaan keamanan swasta terbaik. Aku hanya bekerja dengan sistem mereka sejak saat itu, menciptakan pintu belakang ke jaringan mereka, persis seperti yang diajarkan Kakek Felix. Ini bukan tentang mata-mata atau penipuan finansial, hanya soal unjuk kemampuan dengan menembus lingkungan virtual paling ketat di dunia. Aku akan masuk, lalu mundur, menghapus setiap jejak bahwa aku pernah ada di sana. Kecuali

(45)

45 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

untuk hal-hal kecil. Aku tampaknya tidak bisa mengatasi kebutuhan bodoh untuk meninggalkan sedikit petunjuk. Kode yang diubah di lift layanan. Poin-poin di situs web yang diubah dari titik dasar menjadi bintang kecil. Meningkatkan gaji karyawan dengan bayaran terendah sebesar satu dolar. Atau, dalam kasus konglomerat keamanan besar dengan kantor di seluruh dunia, memanipulasi sistem akuntansi mereka untuk mengirimkan donasi kecil ke badan amal yang kurang dikenal dan tempat-tempat yang membutuhkan.

Mungkin aku bisa menyerang “binatang besar kekar” itu untuk terakhir kalinya. Sebagai ciuman perpisahan untuk karier hacking-ku.

Ya. Aku akan menunggu beberapa minggu, untuk berjaga-jaga. Jika Ayah tidak mengembalikan laptopku pada saat itu, aku akan mencari kafe internet kecil untuk melakukannya dari sana.

Ini hanya akan memakan waktu kurang dari tiga puluh menit, sekarang setelah aku tahu sistem mereka seperti punggung tanganku sendiri.

Tidak ada yang bisa salah.

(46)

46 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

Chapter 3

Saat Ini Sicily

Aku menatap pria berambut pirang di belakang kemudi. Dia duduk santai di kursinya, dengan satu siku terjulur santai melalui jendela mobil yang terbuka, sementara dia mengendalikan mobil yang dimodifikasi melintasi jalan-jalan yang lebih sering dilalui kawanan domba daripada kendaraan. Sementara itu, si brengsek nomor satu duduk di sampingku di kursi belakang, menyebarkan aura kemarahan yang terasa jelas, dan si brengsek nomor dua terus menyombongkan dirinya dengan puas setelah berhasil mendapatkan kursi depan. Aku masih tidak percaya bajingan- bajingan ini menyeretku ke Sisilia sialan ini!

Berapa lama penerbangan ke Italia tadi? Ibu dan Ayah mungkin sudah tahu ada sesuatu yang terjadi dan sedang mencariku. Tuhan, aku berharap mereka segera menemukanku.

“Aku butuh namamu,” kata si pirang—penculikku menyebutnya Guido.

Ya, mereka sama sekali tidak tahu siapa aku. Aku belum yakin apakah itu hal yang baik atau buruk.

(47)

47 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

“Dan aku butuh kamu melepaskanku,” gumamku. “Apa yang kalian inginkan dariku?”

“Kalau aku? Tidak ada. Kamu harus membicarakan sisanya dengan saudaraku.”

“Dan di mana saudaramu itu?”

Dia mengabaikanku sejenak sambil menghentikan mobil. Kemudian, dia berbalik ke belakang dan mengangkat ponselnya, memotret wajahku sebelum aku sempat memprotes.

“Dia seharusnya tiba di rumah beberapa jam lagi,” akhirnya Guido menjawab. Matanya bergantian menatap kedua anak buahnya yang terlihat setengah pintar. “Bawa dia ke ruang bawah tanah. Beri dia makanan dan air.”

Vinny keluar dari mobil, menarikku bersamanya. Aku menjerit, mencoba melepaskan diri, tapi sia-sia. Hank meraih lenganku yang lain, dan mereka berdua menyeretku ke arah pintu masuk vila besar dari batu pasir itu. Satu-satunya hal yang sempat kulihat sebelum mereka menyeretku masuk adalah rumah ini terletak di lereng bukit, menghadap laut.

Bagian dalam rumahnya memancarkan kemewahan, tapi bukan jenis kemewahan yang mencolok. Interiornya terasa nyaman—segala sesuatu dirancang dengan kehangatan. Langit-langitnya tinggi, dihiasi balok- balok kayu tebal. Detail plesteran di dindingnya mengingatkanku pada foto-foto dari majalah desain interior seperti Architectural Digest. Cahaya matahari menerobos melalui jendela Prancis besar yang menghadap ke laut berkilauan, menerangi furnitur kayu pucat. Langkahku sempat terhenti, dan aku tidak bisa menahan diri untuk menarik napas panjang, menikmati pemandangan itu.

(48)

48 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

“Gerak!” bentak Vinny, menarikku menjauh dari pemandangan indah itu dan menuju tangga di sebelah kiri pintu utama, yang sepertinya mengarah ke lantai bawah.

Aku menjejakkan kaki ke lantai, berusaha melawan atau setidaknya memperlambat langkahnya. Rasa sakit menjalar di pergelangan tanganku saat dia menarik rantai borgol itu lagi, membuatku menjerit ketika dia nyaris menyeretku menuruni tangga menuju pintu kayu kokoh di bawah.

“Berhenti merintih.” Dia membuka pintu dan mendorongku masuk ke ruangan yang luas tapi remang dan dingin. Aroma tanah yang lembap samar-samar tercium di udara.

Aku terjatuh ke lutut, berhasil menopang tubuh dengan telapak tangan di lantai ubin yang dingin, hampir saja wajahku menghantam permukaan itu.

“Dan karena kamu menyebalkan—tidak ada makanan atau air!”

Aku segera berdiri dan berlari ke arah pintu, tapi pintu itu tertutup dengan keras tepat sebelum aku mencapainya. Kepanikan yang sejak tadi kutahan mulai membanjiri diriku, menyapu seperti badai. Aku meraih gagang pintu, tapi terkunci.

“Lepaskan aku!” Aku menghantam pintu dengan tinjuku. “Dasar bajingan licik! Kalian akan membayar untuk ini! Lepaskan aku!”

Tanganku mulai sakit karena terus-menerus memukul kayu yang kokoh, tapi aku tetap melakukannya meskipun aku tahu itu sia-sia.

Aku tidak yakin berapa lama aku terus menyerang pintu sialan itu.

Ketika aku akhirnya berhenti, cahaya redup dari jendela horizontal kecil yang terletak tinggi di dinding telah berubah menjadi jingga senja. Aku menyandarkan punggung ke pintu dan membiarkan tubuhku meluncur ke lantai.

(49)

49 | l y n k . i d / k a t a k i l a s 3

Meskipun sebagian besar berada di bawah tanah, suhu ruangan terasa cukup nyaman. Tapi kakiku gemetar seperti sedang berada di musim dingin yang menusuk. Lenganku juga. Aku menarik napas dalam- dalam, mencoba menenangkan diri, tapi tidak berhasil. Tidak lama kemudian, seluruh tubuhku bergetar seperti sedang demam.

Keberanianku hilang, dan yang kuinginkan hanyalah meringkuk dan menangis.

Apa yang mereka inginkan dariku? Menghukumku karena meretas perusahaan mereka? Aku bahkan tidak tahu perusahaan mana itu.

Kenapa tidak langsung membunuhku? Kenapa repot-repot membawaku ke sini, melintasi samudra, hanya untuk membuangku di ruang bawah tanah? Atau mungkin “saudaranya” ingin membunuhku sendiri?

Aku bergidik lagi. Aku yakin mereka bukan pebisnis biasa. CEO perusahaan tidak menculik orang. Hanya orang-orang dari dunia ayahku yang melakukannya. Dan sejauh yang aku tahu, Sisilia dikuasai oleh Cosa Nostra. Bratva tidak punya masalah dengan faksi Mafia Italia mana pun.

Mungkin aku seharusnya memberitahu mereka siapa aku, siapa ayahku.

Tapi sekarang, aku mungkin akan mati sebelum sempat melakukannya.

Aku memeriksa sekeliling, mencari sesuatu... aku tidak tahu apa. Apa saja. Ada beberapa peti kosong di satu sudut. Sebuah kursi tua di sudut lain, dengan noda gelap di kayunya yang sudah lapuk, serta di lantai di bawahnya. Aku tidak ingin memikirkan apa yang menyebabkan noda itu.

Ada kursi lain di dekatnya, yang kondisinya sedikit lebih baik.

Pandangan mataku beralih ke jendela. Mungkin itu jalan keluarku?

Harapan itu sirna begitu aku melihat jeruji besi yang indah di bagian luar kaca. Meskipun ada lampu di langit-langit, aku tidak melihat saklar di mana pun. Pasti ada di sisi lain pintu.

Referensi

Dokumen terkait

Berbicara tentang hak cipta tidak dapat dipisahkan dari masalah moral karena di dalam hak cipta itu sendiri melekat hak moral sepanjang jangka waktu perlindungan hak cipta

Dokumen ini membahas tentang hak cipta dan pembatasan

PLAGIARISME ADALAH PELANGGARAN HAK CIPTA DAN ETIKA KEPALA KANTOR CABANG UTAMA KEPALA PEMASARAN CABANG KEPALA BAGIAN ADMINISTRASI KREDIT CABANG KEPALA OPERASI CABANG

Dokumen ini membahas tentang hak cipta dan batasannya dalam penggunaan ciptaan dan produk hak

Dokumen ini membahas tentang hak cipta dan fungsinya dalam bisnis dan

Dokumen ini membahas tentang prosedur penyelesaian sengketa hak cipta baik melalui jalur litigasi maupun alternatif penyelesaian

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta berisi tentang ketentuan pidana bagi setiap orang yang melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta atau pemegang Hak

Dokumen ini membahas undang-undang tentang hak cipta dan sanksi pidana terkait pelanggaran hak ekonomi oleh individu ataupun badan hukum di