• Tidak ada hasil yang ditemukan

View of Pengaruh Implementasi Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) Terhadap Pengamanan Aset Tetap di Pemerintah Kota Tasikmalaya

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "View of Pengaruh Implementasi Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) Terhadap Pengamanan Aset Tetap di Pemerintah Kota Tasikmalaya"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Indonesian Accounting Research Journal Vol. 3, No. 3, June 2023, pp. 243 – 251

©Jurusan Akuntansi Politeknik Negeri Bandung

Pengaruh Implementasi Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) Terhadap Pengamanan Aset Tetap di Pemerintah Kota Tasikmalaya

The Influence of Government Internal Control System (GICS) On Fixed Asset Safeguarding in Tasikmalaya City Government

Wulan Dewi Apipah

Program Studi D4 - Akuntansi Manajemen Pemerintahan, Politeknik Negeri Bandung E-mail: [email protected]

Endah Dwi Kusumastuti

Jurusan Akuntansi, Politeknik Negeri Bandung E-mail: [email protected]

Albert

Program Studi Manajemen,Fakultas Ekonomi, Universitas Semarang(USM) E-mail: [email protected]

Abstract: Fixed assets play an important role in supporting government activities so they need to be managed properly. Based on LHP BPK 2021, the Tasikmalaya City Government still has problems managing its assets because their fixed asset safeguarding is considered inadequate. SPIP is required to guarantee the implementation of fixed assets safeguarding. The objective of this study is investigate the impact of implementing SPIP elements on Fixed Asset safeguarding in Tasikmalaya City partially and simultaneously. This study employs a quantitative methodology using survey methods. In this study, the population and sample were 36 local government agencies with questionnaires distributed to 72 respondents. The SPSS 26 version was utilized for data analysis, which included multiple linear regression. The results of the study revealed that the SPIP elements had a 59.4% positive and significant effect on the security of Fixed Assets, with only Information and Communication, and Monitoring having a positive and significant effect, while the Control Environment, Risk Assessment, and Control Activities had no effect.

Keywords: Government Internal Control System (SPIP), Elements of SPIP, Fixed Assets, Fixed Asset Safeguarding

1. Pendahuluan

Aset tetap memiliki peran penting dalam mendukung berbagai aktivitas pemerintah (Nursafitri & Andayani, 2021) dilihat dari nilainya yang signifikan dan manfaatnya dalam membantu pemerintah melayani masyarakat (Asman et al., 2016; Suherlan et al., 2022). Oleh karena itu, aset tetap yang dimiliki perlu dikelola dengan baik dan professional untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik (Amerieska et al., 2018; Nofriadi, 2021). Pemerintah pun telah mengeluarkan PP Nomor 27 Tahun 2014 yang kemudian dilakukan beberapa perubahan dengan PP Nomor 28 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Barang Miliki Negara/Daerah (BMN/D) yang dilengkapi dengan Permendagri Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Pedoman Pengelolaan Barang Miliki Daerah (BMD) untuk mendukung instansi pemerintah dalam melakukan pengelolaan

(2)

Wulan Dewi Apipah, Endah Dwi Kusumastuti, Albert

asetnya. Adanya peraturan-peraturan tersebut diharapkan dapat membantu instansi pemerintah mulai dari pusat hingga daerah dalam menjalankan berbagai tahapan pengelolaan aset dengan baik.

Meskipun telah memiliki pedoman tersendiri, pengelolaan aset ini dinilai masih belum memadai karena masih ditemukan kelemahan (Hizriati & Arfan, 2022). Menurut (Merianto et al., 2020) pada instansi pemerintah terutama yang memiliki nilai aset tinggi selalu muncul permasalahan dalam asetnya. Salah satu permasalahan tersebut yaitu dalam pengamanan aset tetap. Berdasarkan Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS) 1 2022, dijelaskan mengenai permasalahan dalam aset tetap dialami oleh 20 Pemda diantaranya dalam hal belum dilakukan dan tidak akuratnya pencatatan aset.

Pemerintah Kota Tasikmalaya merupakan salah satu pemerintah daerah yang masih memiliki permasalahan dalam pengamanan aset tetapnya. Berdasarkan LHP BPK Nomor 14B/LHP/XVII.BDG/05/2022 disebutkan bahwa pengamanan aset tetapnya dinilai belum memadai. Hal tersebut dilihat dari penyajian informasi aset tetap yang belum lengkap, aset belum dicatat padahal telah dilengkapi bukti kepemilikan, duplikasi pencatatan satu bidang tanah oleh lima sekolah senilai Rp9.720.1200.000, dobel catat 1.325 buah peratan dan mesin senilai Rp2.998.229.778,9, aset tidak diketahui keberadaannya, gedung dan bangunan serta jalan yang belum dikapitalisasi ke aset induknya, serta gedung dan bangunan senilai Rp1.558.844.429 masih tercatat padahal telah masuk dalam SK penghapusan dan terdapat 2 buah gedung dan bangunan senilai Rp208.560.786,45 yang sudah dirobohkan belum dibuat SK penghapusannya. Berkaitan dengan permasalahan tersebut, telah dilakukan konfirmasi melalui wawancara pendahuluan bersama Kepala Sub Bidang (Kasubid) Pemanfaatan dan Pengamanan BMD.

Untuk menjamin pengamanan aset dilakukan dengan baik, dibutuhkan suatu Sistem Pengendalian Intern (SPI) yang saat ini diatur dengan PP Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah/SPIP (Pratami & Rufaedah, 2020) karena tujuan dari diimplementasikannya SPIP salah satunya yaitu untuk memberikan jaminan yang cukup atas pelaksanaan pengamanan aset negara. Efektivitas implementasi SPIP pada suatu K/L/Pemda dapat dilihat dari tingkat kematangan (maturity level) penyelenggaraan SPIP yang dinilai oleh BPKP.

Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) periode 2020 s.d. 2024 disebutkan bahwa tingkat maturitas implementasi SPIP ditargetkan bisa mencapai level 3 yang merupakan level terdefinisi (Suherlan et al., 2022). Namun, berdasarkan data tahun 2019 yang dimuat dalam www.opendata.jabarprov.go.id menunjukkan bahwa tingkat maturitas SPIP Pemerintah Kota Tasikmalaya masih berada pada level 2 artinya belum mencapai target RPJMN.

Penelitian terkait SPIP dan Pengamanan Aset Tetap telah dilakukan oleh beberapa peneliti.

Hasil penelitian dari (Pratami & Rufaedah, 2020; Suherlan et al., 2022; Supiati, 2016) menyebutkan bahwa secara simultan (bersama-sama), unsur-unsur SPIP memberikan pengaruh positif serta signifikan pada Pengamanan Aset Tetap. Namun secara parsial penelitian (Supiati, 2016) menunjukkan bahwa 4 unsur SPIP yang ditelitinya berpengaruh terhadap Pengamanan Aset Negara namun menurut (Pratami & Rufaedah, 2020) hanya dua unsur SPIP yang memiliki pengaruh terhadap pengamanan aset tetap yaitu penilaian risiko dan kegiatan pengendalian.

Berdasarkan urain di atas, penilitian ini memiliki tujuan untuk mengatahui bagaimana implementasi SPIP di Pemerintah Kota Tasikmalaya dan bagaimana pengaruhnya terhadap Pengamanan Aset Tetap yang dimiliki.

2. Kajian Pustaka

2.1. Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP)

PP No. 60 Tahun 2008 tentang SPIP menjelaskan mengenai SPI sebagai prosedur yang berkesinambungan dalam tindakan serta aktivitas yang dilaksanakan oleh setiap bagian organisasi

(3)

Wulan Dewi Apipah, Endah Dwi Kusumastuti, Albert

dari pimpinan sampai pegawai dengan tujuan untuk memberikan jaminan bahwa tujuan organisasi bisa dicapai melalui kegiatan yang efektif serta efisien, keandalan laporan keuangan, pengamanan aset negara, dan kepatuhan akan peraturan perundang-undangan. Adapun SPIP didefinisikan sebagai Sistem Pengendalian Intern yang dijalankan oleh seluruh instansi pemerintah. SPIP memiliki 5 unsur yaitu lingkungan pengendalian, penilaian risiko, kegiatan pengendalian, informasi dan komunikasi, serta pemantauan terhadap pengendalian intern.

2.2. Pengamanan Aset Tetap

Peraturan Daerah (Perda) Kota Tasikmalaya No. 13/2015 tentang Pengelolaan BMD mendefinisikan pengamanan aset sebagai upaya pengendalian BMD dari aspek fisik, administratif, dan hukum. Begitu pula pada Pasal 296 Permendagri 19 Tahun 2016 tentang Pedoman Pengelolaan BMD yang membagi pengamanan aset ke dalam tiga aspek yaitu secara fisik, administrasi, dan hukum.

2.3. Rumusan Hipotesis

H01,2,3,4,5,6: Secara parsial maupun simultan unsur-unsur SPIP yang terdiri atas Lingkungan Pengendalian, Penilaian Risiko, Kegiatan Pengendalian, Informasi dan Komunikasi, serta Pemantauan tidak memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap pengamanan aset tetap di Pemerintah Kota Tasikmalaya.

Ha1,2,3,4,5,6: Secara parsial maupun simultan unsur-unsur SPIP yaitu Lingkungan Pengendalian,

Penilaian Risiko, Kegiatan Pengendalian, Informasi dan Komunikasi, serta Pemantauan memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap pengamanan aset tetap.

3. Metode Penelitian

Pendekatan kuantitatif deskriptif dengan cara survei adalah metode yang dipakai pada penelitian ini. Adapun pendekatan kuantitatif sendiri biasanya dipergunakan untuk meneliti di suatu populasi dan sampel yang telah ditentukan, data dikumpulkan menggunakan suatu intrumen dan dianalisis secara statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis (Sugiyono, 2013).

Populasi ditentukan pada 36 Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Kota Tasikmalaya yang terdiri atas sekretariat, dinas, badan, serta kecamatan dengan mengambil sampel memakai teknik sampling jenuh. Responden pada penelitian ini yaitu Pengguna Barang, Pengurus Barang Pengguna, atau Kasubbag Umum. Setiap OPD diberikan 2 kuesioner untuk diisi oleh responden sehingga total kuesioner yang disebarkan adalah sebanyak 72 kuesioner.

Ketika data telah berhasil terkumpul maka selanjutnya data tersebut ditabulasikan terlebih dahulu untuk dianalisis melalui beberapa teknik. Sebelum dianalisis, data dari kuesioner yang telah ditabulasikan harus ditransformasikan terlebih dahulu menjadi data interval menggunakan MSI (Methode of Successive Interval) karena data yang terkumpul merupakan data ordinal.

Berikut ini merupakan teknik analisis data yang digunakan:

1. Uji Instrumen Penelitian

Instrumen yang dipakai perlu diuji lebih dulu validitas dan reliabilitasnya untuk menilai kesesuian instrumen yang digunakan dengan apa yang diteliti.

2. Uji Asumsi Klasik

Kelayakan dari suatu model regresi harus diuji melalui uji asumsi klasik yang terdiri atas uji normalitas, heteroskedastisitas, serta multikolinieritas.

3. Uji Regresi Linier Berganda

Bentuk persamaan regresi yang digunakan adalah sebagai berikut.

Keterangan:

Y = Pengamanan Aset Tetap

(4)

Wulan Dewi Apipah, Endah Dwi Kusumastuti, Albert

α = Konstanta

β1, β2, β3, β4, β5 = koefisien regresi masing-masing variabel X1 = Lingkungan Pengendalian

X2 = Penilaian Risiko X3 = Kegiatan Pengendalian X4 = Informasi dan Komunikasi X5 = Pemantauan

e = Standar Error 4. Uji Hipotesis

Untuk menguji hipotesis yang telah diajukan digunakan uji t (parsial), uji f (simultan), serta koefisien determinasi.

4. Hasil dan Pembahasan

Kuesioner disebarkan ke 36 OPD dan masing-masing OPD diberikan 2 kuesioner. Seluruh kuesioner yang telah disebarkan (72 kuesioner) berhasil dikumpulkan untuk selanjutnya dilakukan olah data.

Data yang berasal dari kuesioner tersebut kemudian ditabulasikan untuk selanjutnya ditransformasikan menjadi data interval menggunakan MSI. Selanjutnya dilakukan uji kualitas data, asumsi klasik, regresi linier berganda, serta hipotesis.

4.1 Hasil Uji Kualitas Data 1. Uji Validitas

Setiap item pernyataan dalam kuesioner diuji validitasnya untuk melihat bagaimana kemampuan item yang digunakan dallam mengukur hal-hal yang diteliti. Rtabel penelitian ini yaitu 0,2319 dan hasil Pearson Correlation menunjukkan nilai semua item valid lebih dari 0,2319 oleh karena itu semua item pernyataan pada kuesioner tersebut valid.

2. Uji Reliabilitas

Selanjutnya adalah uji reliabilitas untuk tiap variabel yang digunakan setelah sebelumnya diketahui bahwa item pernyataan yang digunakan valid. Uji relibilitas menggunakan nilai Cronbach’s Alpha dengan kriteria reliabel jika nilai Cronbach’s Alpha >

0,70. Berikut merupakan hasil dari uji reliabilitas.

Tabel 1. memperlihatkan Cronbach’s Alpha dari masing-masing variabel bernilai >

0,70. Artinya instrumen yang digunakan pada penelitian ini dapat dinyatakan konsisten.

4.2 Hasil Uji Asumsi Klasik 1. Uji Normalitas

Pengujian Kolmogorov-Smirnov dengan pendekatan Exact digunakan pada penelitian ini untuk melihat normalitas data yang terkumpul. Hasil dari uji tersebut

(5)

Wulan Dewi Apipah, Endah Dwi Kusumastuti, Albert

menunjukkan nilai signifikansi 0,072 > 0,05 sehingga hasil dari uji ini dapat diartikan bahwa data yang terkumpul telah terdistribusi dengan normal.

2. Uji Multikolinieritas

Model regresi dinyatakan tepat apabila tidak terdapat gejala multikolinieritas di dalamnya.

Salah satu caranya adalah dengan melihat nilai Variance Inflation Factor (VIF). Jika VIF < 10 artinya tidak menunjukkan adanya multikolinieritas.

Berikut merupakan hasil uji multikolinieritas untuk setiap variabel independen:

Tabel 2. di atas menunjukkan nilai VIF pada tiap variabel bebas memiliki nilai < 10, artinya tidak terdapat gejala multikolinieritas dalam regresi.

3. Uji Heteroskedastisitas

Pada suatu model regresi yang baik seharusnya tidak terdeteksi adanya gejala heteroskedastisitas atau modelnya harus homokedastisitas. Uji heterokedastisitas dilakukan dengan membandingan nilai probabilitas bersama nilai signifikansi 0,05. Jika nilai probabilitas > 0,05 artinya model regresi tidak memiliki gejala heteroskedastisitas. Hasil dari uji heteroskedastisitas dapat dilihat pada tabel 3. berikut.

Mengacu pada tabel 3. di atas, variabel bebas yang digunakan tidak mengindikasikan adanya heteroskedastisitas karena nilai probabilitasnya > 0,05.

4.3 Analisis Regresi Linier Berganda

Berikut merupakan tabel yang menunjukkan hasil dari uji regresi linier berganda dan uji hipotesis.

(6)

Wulan Dewi Apipah, Endah Dwi Kusumastuti, Albert

Mengacu pada tabel 4. maka bentuk persamaan regresi linier berganda pada penelitian ini adalah sebagai berikut.

𝑌 = −1,612 + 0,139𝑋1+ 0,359𝑋2+ 0,022𝑋3+ 1,083𝑋4+ 1.148𝑋5+ 𝑒

Persamaan regresi di atas menunjukkan nilai konstanta regresi sebesar -1,612 dengan nilai koefisien masing-masing variabel X menunjukkan arah pengaruh positif terhadap variabel Y. Pengaruh dari tiap variabel dijelaskan sebagai berikut.

- Pengamanan Aset Tetap akan meningkat sebesar 0,139 apabila X1 (Lingkungan Pengendalian) meningkat satu satuan sedangkan variabel bebas lain bernilai konstan.

- Pengamanan Aset Tetap akan meningkat sebesar 0,359 apabila X2 (Penilaian Risiko) meningkat satu satuan sedangkan variabel bebas lain bernilai konstan.

- Pengamanan Aset Tetap akan meningkat sebesar 0,022 apabila X3 (Kegiatan Pengendalian) meningkat satu satuan sedangkan variabel bebas lain bernilai konstan.

- Pengamanan Aset Tetap akan meningkat sebesar 1,083 apabila X4 (Informasi dan Komunikasi) meningkat satu satuan sedangkan variabel bebas lain bernilai konstan.

- Pengamanan Aset Tetap akan meningkat sebesar 1,148 apabila X5 (Pemantauan) meningkat satu satuan sedangkan variabel bebas lain bernilai konstan.

4.4 Hasil Uji Hipotesis 1. Uji Parsial (Uji t)

Uji t dilakukan untuk melihat pengaruh dari tiap variabel independen secara parsial/individu terhadap variabel dependen. Berpengaruh atau tidaknya suatu varibel X pada variabel Y dilihat dengan cara membandingkan thitung pada tabel 4 dengan ttabel (1,997) juga nilai signifikansi 0,05. Apabila thitung > ttabel denan nilai Sig. < 0,05 artinya terdapat pengaruh yang signifikan.

Hasil uji pada tabel 4 menunjukan nilai thitung untuk variabel Lingkungan Pengandalian, Penilaian Risiko, dan Kegiatan Pengendalian memiliki nilai yang lebih besar dari ttabel. Maka dapat diartikan H01,2,3 diterima, artinya varibel-variabel tersebut tidak memberikan pengaruh yang signifikan pada variabel Pengamanan Aset Tetap. Berbeda dengan 3 variabel sebelumnya, variabel Informasi dan Komunikasi serta Pemantauan menunjukkan nilai thitung > ttabel dengan silai Sig. < 0,05 yang berarti variabel Y diberikan pengaruh yang positif dan signifikan oleh variabel X4 dan X5.

2. Uji Simultan (Uji f)

Pengaruh seluruh variabel bebas secara bersama-sama (simultan) terhadap variabel terikatnya dapat diketahui dengan melakukan uji f. Jika nilai Fhitung > Ftabel dan nilai

(7)

Wulan Dewi Apipah, Endah Dwi Kusumastuti, Albert

probabilitas < 0,05 maka secara simultan variabel terikat diberikan pengaruh yang signifikan oleh variabel bebasnya. Adapun nilai ftabel penelitian ini yaitu 2,352.

Hasil uji f yang terdapat pada tabel 4 menunjukkan nilai Fhitung yang lebih besar dari nilai Ftabel yaitu 21,753 > 2,352 dengan nilai probabilitasnya yaitu 0,000 < 0,05 sehingga dapat diartikan bahwa H06 ditolak. Maknanya secara simultan Pengamanan Aset Tetap dipengaruhi oleh unsur-unsur SPIP.

3. Koefisien Determinasi

Berapa besar variabel bebas secara simultan mampu menerangkan total variasi pada variabel terikatnya dapat dilakukan uji koefisien determinasi dapat dilakukan dengan melihat nilai Adjusted R square. Berdasarkan tabel 4. diketahui nilai Adjusted R square yang didapatkan yaitu 0,594. Maknanya secara simultan unsur-unsur SPIP mampu menerangkan Pengamanan Aset Tetap sebesar 59,4% sedangkan sebesar 40,6% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti pada penelitian ini.

4.5 Pembahasan

1. Pengaruh Lingkungan Pengendalian terhadap Pengamanan Aset Tetap

Berdasaran hasil uji t, variabel Lingkungan Pengendalian memiliki nilai thitung sebesar 0,722 < 1,667 yang merupakan nilai t tabelnya serta nilai probabilitas sebesar 0,473. Hal tersebut dapat diartikan bahwa Pengamanan Aset Tetap tidak dipengaruhi secara signifikan oleh Lingkungan Pengendalian. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh (Pratami & Rufaedah, 2020) yang menyatakan bahwa Pengamanan Aset Tetap di Kabupaten Garut dipengaruhi oleh Lingkungan Pengendalian namun tidak sesuai dengan (Supiati, 2016) yang menyatakan sebaliknya.

Hasil temuan ini menunjukkan bahwa Kegiatan Pengendalian belum sepenuhnya berjalan dengan baik karena masih terdapat kelemahan pada beberapa indikator. Hal ini diperkuat dengan wawancara bersama pegawai dari salah satu OPD yang menjelaskan bahwa kelemahan dari unsur lingkungan pengendalian terletak pada pengetahuan pegawai akan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan kode etik khususnya pada pegawai baru dan ada beberapa pegawai yang belum mendapatkan wewenang sesuai dengan jabatannya.

2. Pengaruh Penilaian Risiko Terhadap Pengamanan Aset Tetap

Berdasarkan uji t, Penilaian Risiko mendapat nilai thitung 0,953 < ttabel 1,667 dengan nilai probabilitas 0,344. Artinya variabel Penilaian Risiko tidak memiliki pengaruh pada Pengamanan Aset Tetap. Hasil dari Penelitian ini berlawanan dengan hasil penelitian dari (Pratami & Rufaedah, 2020) serta (Supiati, 2016) yang menunjukkan hasil yaitu penilaian risiko memiliki pengaruh terhadap pelaksanaan pengamanan aset tetap.

Temuan ini menunjukkan bahwa penilaian risiko yang telah berjalan belum sepenuhnya baik. Berdasarkan hasil wawancara, kelemahan dari penilaian risiko yaitu risiko pada pengamanan aset tetap masih sering terjadi. Contoh risiko tersebut seperti aset tetap yang diakui oleh pihak lain dan hilangnya fisik aset.

3. Pengaruh Kegiatan Pengendalian Terhadap Pengamanan Aset Tetap

Hasil uji t pada tabel 4. menunjukkan nilai nilai thitung sebesar 0,101 < ttabel senilai 1,667 serta tingkat probabilitas senilai 0,920 < α 0,05. Hasil tersebut dapat diinterpretasikan bahwa variabel Kegiatan Pengendalian tidak memberikan pengaruh yang signifikan pada Pengamanan Aset Tetap di Kota Tasikmalaya. Hasil penelitian ini berlawanan dengan hasil penelitian sebelumnya dari (Pratami & Rufaedah, 2020; Supiati, 2016) yang menyatakan bahwa penamanan aset tetap dipengaruhi oleh kegiatan pengendalian secara positif dan signifikan.

Kegiatan Pengendalian merupakan tindakan instansi dalam menanggulangi risiko yang terjadi. Tidak berpengaruhnya Kegiatan Pengendalian bisa terjadi karena setiap instansi masih memiliki kelemahan dalam melakukan kegiatan pengendalian. Berdasarkan

(8)

Wulan Dewi Apipah, Endah Dwi Kusumastuti, Albert

wawancara yang telah dilakukan, hal ini terjadi karena terdapat beberapa indikator pada Kegiatan Pengendalian yang belum sepenuhnya berjalan dengan baik. Beberapa kekurangan tersebut seperti masih terdapat temuan BPK atas pencatatan yang berkaitan dengan aset tetap dan OPD yang belum memiliki SOP pengelolaan aset.

4. Pengaruh Informasi dan Komunikasi Terhadap Pengamanan Aset Tetap

Hasil uji menunjukkan nilai thitung variabel Informasi dan Komunikasi senilai 3,960

> ttabel yaitu 1,667 kemudian nilai probabalitas sebesar 0,000 < taraf signifikansi 0,05. Hasil ini dapat diartikan bahwa variabel Informasi dan Komunikasi memberikan pengaruh yang positif dan sigifikan pada Pengamanan Aset Tetap. Penelitian ini memiiliki hasil yang sejalan dengan penelitian (Supiati, 2016) yang menunjukkan bahwa implementasi Informasi dan Komunikasi berpengaruh positif dan signifikan pada Pengamanan Aset namun bertolak belakang dengan hasil penelitian (Pratami & Rufaedah, 2020) yang menunjukkan hasil sebaliknya.

Pemerintah Kota Tasikmalaya sendiri telah mengembangkan sarana informasi dan komunikasi pada berbagai bidang tak terkecuali pada pengelolaan aset. Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan Kasubid Pemanfaatan dan Pengamanan BMD dijelaskan bahwa informasi komunikasi memiliki peranan penting dalam Pengamanan Aset Tetap.

Berbagai sarana komunikasi digunakan untuk berkoordinasi dan juga dilengkapi dengan penggunaan sistem informasi untuk membantu proses Pengamanan Aset. Contoh sistem yang digunakan adalah BISMA (BMD Barcode Information System Mobile Atpps) dengan fungsi untuk membantu mengelola aset yang dimiliki OPD.

5. Pengaruh Pemantauan Terhadap Pengamanan Aset Tetap

Berdasarkan hasil uji t diketahui bahwa variabel Pemantauan memberikan pengaruh yang positif serta signifikan pada Pengamanan Aset Tetap di Pemerintah Kota Tasikmalaya.

Hal tersebut dilihat dari nilai thitung sebesar 3,576 > ttabel yaitu 1,667 dan nilai signifikansinya sebesar 0,001 < 0,05. Penelitian ini menunjukkan hasil yang berlawanan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh (Pratami & Rufaedah, 2020) yang menyatakan bahwa pemantauan memiliki pengaruh pada pengamanan aset tetap di Kabupaten Garut.

Pemantauan pengendalian intern dilakukan untuk menilai apakah organisasi mampu untuk menjalankan program atau kegiatan dalam mencapai tujuan organisasi.

Secara umum pemantauan pengendalian intern di Pemerintah Kota Tasikmalaya telah berjalan dengan baik. Hal ini terbukti dari komitmen Pemerintah Kota Tasikmalaya dalam mengevaluasi kekurangan pada pengendalian intern nya dan dalam menyelesaikan temuan- temuan dari BPK.

6. Pengaruh Unsur-Unsur SPIP Secara Simultan Terhadap Pengamanan Aset Tetap Hasil analisis statistik uji F memperlihatkan bahwa unsur-unsur SPIP secara bersama-sama berpengaruh pada Pengamanan Aset Tetap. Hal ini ditunjukkan dengan nilai Fhitung sebesar 21,753 > Ftabel senilai 2,352. Kemampuan unsur-unsur SPIP untuk menjelaskan Pengamanan Aset Tetap adalah sebesar 59,4% yang artinya memiliki pengaruh yang kuat sedangkan sisanya dipengaruhi faktor lain yang tidak diteliti. Artinya seluruh unsur SPIP secara simultan memberikan pengaruh yang signifikan pada Pengamanan Aset Tetap. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Nursafitri & Andayani, 2021;

Pratami & Rufaedah, 2020; Suherlan et al., 2022; Supiati, 2016) yang menyatakan bahwa SPIP memiliki pengaruh terhadap Pengamanan Aset Tetap.

Hal ini menunjukkan pentingnya setiap unsur SPIP untuk diterapkan secara menyeluruh dengan baik. Ketika implementasi tiap unsurnya baik, maka akan berdampak pada Pengamanan Aset Tetap ikut bertambah baik. Oleh karena itu, terhadap setiap kekurangan pada penerapan unsur-unsur SPIP harus segera dibenahi untuk mewujudkan pengamanan aset tetap yang lebih baik.

(9)

Wulan Dewi Apipah, Endah Dwi Kusumastuti, Albert

5. Kesimpulan

Berdasar pada uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa secara parsial hanya variabel Informasi dan Komunikasi dan juga Pemantauan yang memberikan pengaruh positif dan signifikan sedangkan variabel lain yang terdiri atas Lingkungan Pengendalian, Penilaian Risiko, serta Kegiatan Pengendalian belum memberikan pengaruh yang signifikan pada Pengamanan Aset Tetap di Kota Tasikmala. Selain itu, secara simultan, seluruh unsur-unsur SPIP berpengaruh signifikan dan mampu menjelaskan variabel Pengamanan Aset Tetap di Kota Tasikmalaya sebesar 59,4%.

Pemerintah Kota Tasikmalaya direkomendasikan untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan yang masih terjadi pada beberapa unsur SPIP dengan cara melakukan sosialiasi terkait peraturan- peraturan yang berlaku, berupaya untuk mencegah hilangnya aset, dan melakukan pengecekan atas pencatatan yang telah dilakukan. Peneliti selanjutnya dapat menambahkan variabel lain seperti penatausahaan aset tetap, kompetensi sumber daya manusia, serta penggunaan teknologi informasi.

Daftar Pustaka

Amerieska, S., Setiati, F., & Mulyono, I. (2018). Analisis Faktor Tentang Efektivitas Pengelolaan Barang Milik Daerah (Studi pada Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Malang). Jurnal Ilmiah Bisnis Dan Ekonomi Asia, 12(2), 53–65. http://jurnal.stie.asia.ac.id

Asman, A., Akram, H., & MT, A. (2016). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Optimalisasi Pengelolaan Aset Tetap Pada Pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa.

Hizriati, H., & Arfan, M. (2022). The Implementation of Government Fixed Assets Administration: A Case Study on the Government of Aceh Singkil Regency. In Journal of Accounting Research (Vol. 5, Issue 1).

www/http/jurnal.unsyiah.ac.id/JAROE

Merianto, T., Musyarofah, S., & Haryadi, B. (2020). Penyusunan Model Pengamanan Aset Tidak Bergerak di Kabupaten Sumenep. Akuntabilitas, 13(1), 77–96. https://doi.org/10.15408/akt.v13i1.14875 Nofriadi, D. (2021). Analisis Implementasi Pengelolaan Barang Milik Daerah Pada Dinas Pekerjaan Umum

Dan Penataan Ruang Kabupaten Merangin. http://jiapi.ut.ac.id/index.php/jiapi/index

Nursafitri, R. E., & Andayani, S. (2021). Pengaruh Kompetensi Sumber Daya Ma nusia, Pemanfaatan Teknologi Informasi, Dan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah Terhadap Pengamanan Aset Tetap Daerah. Jurnal Maneksi, 10, 177–185.

Pratami, R. A., & Rufaedah, Y. (2020). Pengaruh Implementasi Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) terhadap Pengamanan Aset Tetap.

Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D.

Suherlan, D., Mulyandani, V. C., & Mulyandini, V. C. (2022). Pengaruh Implementasi Sistem Pengendalian Internal Pemerintah (SPIP) Terhadap Pengamanan Aset Tetap (Studi Kasus Pada Pemerintah Kabupaten Bekasi). Indonesian Accounting Research Journal, 2(3), 258–264.

Supiati, N. (2016). Pengaruh Sistem Pengendalian Intern Pemerintah terhadap Pengamanan Barang Milik Negara (Studi Kasus pada Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung).

Referensi

Dokumen terkait

RIZKI REDIQ RAHARDIAN, D1514094, 2014, SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH (SPIP) PADA BAGIAN ORGANISASI SEKRETARIAT DAERAH KOTA SURAKARTA, Program Studi Diploma III

1) Penciptaan lingkungan pengendalian yang kuat sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 4 s.d 12 PP Nomor 60 Tahun 2008. 2) Penilaian risiko sebagaimana yang dimaksud dalam

Laporan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) Balai KIPM Banjarmasin triwulan IV Tahun 2021 dapat disimpulkan bahwa sudah menjelaskan secara rinci mengenai

Untuk mengetahui upaya-upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Bitung dalam penerapan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) terhadap Barang Milik Daerah..

Dari hasil penelitian ini kita dapat melihat pengaruh SPIP berpengaruh positif secara simultan sebesar 86,3 % sedangkan secara parsial lingkungan pengendalian,

Judul Tesis : ANALISIS PENGARUH SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH (SPIP) TERHADAP KINERJA MANAJERIAL PEJABAT PEMERINTAH KOTA TEBING TINGGI.. Nama Mahasiswa : Hendra

Faktor penghambat terhadap implementasi Sistem Pengendalian Intern Pemerintah dalam Pengawasan Pengelolaan Keuangan Daerah di Inspektorat Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur antara lain

e-ISSN: 2684-8317 DOI: 10.31539/jomb.v5i1.6484 627 SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH SPIP TERHADAP KUALITAS LAPORAN KEUANGAN Nida Andina1, Nurlaila2, Nurwani3 Universitas