PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
2 Nurul Hidayati, Penggunaan Model Pembelajaran Kontekstual untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas V MI NW Assiqoyah Tiwu Buak Praya Madya Tahun Pelajaran 2015/2016. Peneliti menggunakan metode penelitian pembelajaran kontekstual karena mampu memotivasi siswa untuk memahami makna. Penelitian yang dilakukan oleh Fathi Maulawi berjudul Pengaruh Pendekatan Contextual Teaching and Learning Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas 5 Sistem Pernapasan Manusia diperoleh hasil perhitungan hipotesis posttest melalui t-test pada taraf signifikansi 0,05 dimana thitung > tabel, yaitu 3,388 > 1,99.
Oleh karena itu peneliti ingin mencoba menggunakan model pembelajaran kontekstual, dengan menggunakan pembelajaran ini siswa akan lebih aktif dalam proses pembelajaran, karena pelajaran IPA merupakan pelajaran yang berhubungan dengan manusia, hewan dan lingkungan alam. Kelebihan pembelajaran kontekstual adalah dengan menggunakan pembelajaran ini lebih bermakna, siswa mampu membuat kegiatan sendiri yang berkaitan dengan materi yang ada sehingga siswa dapat memahaminya sendiri. Dengan menyadari manfaat pengajaran dan pembelajaran kontekstual dan ditanamkan dengan baik dalam proses pembelajaran.
Pembelajaran kontekstual pada mata pelajaran IPA terpadu terhadap keterampilan berpikir kreatif siswa kelas VIII MTs Al-Muslimun Nw Tegal”.
Rumusan dan Batasan Masalah
Tujuan dan Manfaat Penelitian
Sebagai bahan pengantar bagi guru agar dapat menggunakan model pembelajaran yang ada agar proses belajar mengajar tidak monoton. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang perkembangan siswa khususnya mengenai keterampilan berpikir kreatif pada mata pelajaran IPA dengan menerapkan model pembelajaran kontekstual. Memperluas pengetahuan tentang penggunaan model pembelajaran kontekstual dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa khususnya pada mata pelajaran IPA.
Membantu siswa dalam sistem pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kontekstual terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa.
Definisi Operasional
Pembelajaran kontekstual Belajar mengajar adalah suatu konsep pembelajaran dimana guru menghadirkan situasi nyata di dalam kelas dan mendorong siswa untuk membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.7. Pembelajaran kontekstual yang dimaksud adalah dimana siswa dan guru bekerja sama, siswa lebih aktif dalam memperoleh informasi tentang apa yang diajarkan, guru hanya sebagai pembimbing dan motivator siswa dalam belajar. Keterampilan berpikir kreatif merupakan bagian dari proses pembelajaran untuk membantu siswa menjadi pembelajar yang sukses, individu yang percaya diri dan warga negara yang bertanggung jawab, oleh karena itu penting untuk mengembangkannya dalam berbagai mata pelajaran untuk membantu siswa mengembangkan kreativitasnya dan kreatif dalam pemecahan masalah.
KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN
Hipotesis penelitian
Hipotesis adalah tanggapan sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian diberikan dalam bentuk kalimat tanya. Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan hanya didasarkan pada teori yang relevan dan belum pada fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data. Oleh karena itu, hipotesis dapat juga dinyatakan sebagai jawaban teoretis terhadap rumusan masalah penelitian, tetapi bukan sebagai jawaban empiris dengan data.36.
METODE PENELITIAN
- Jenis dan Pendekatan Penelitian
- Populasi dan Sampel
- Waktu dan Tempat Penelitian
- Variabel Penelitian
- Desain Penelitian
- Instrumen/ Alat dan Bahan Penelitian
- Teknik Pengumpulan Data
- Teknik Analisis Data
Perlakuan pada kelas eksperimen menggunakan model pendekatan Contextual Teaching and Learning, sedangkan kelas kontrol menggunakan metode. Penilaian pada kelas eksperimen dilihat dari tiga ranah yaitu penilaian kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan akhir. Hasil observasi siswa kelas kontrol disajikan dalam tiga ranah, yaitu penilaian kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir.
Pelaksanaan pembelajaran dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan lembar observasi pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Dimana dalam penelitian ini dilaksanakan sebanyak empat kali yaitu pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Perlakuan pada kelas eksperimen menggunakan pendekatan Contextual Teaching and Learning sedangkan kelas kontrol menggunakan metode ceramah.
Penilaian pada kelas eksperimen dan kontrol dapat dilihat pada tiga bidang yaitu penilaian kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan akhir.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Berdasarkan data yang diperoleh dari tes berupa uraian sebanyak 10 soal, dapat diketahui nilai pretes terendah pada pretes Kelas Eksperimen adalah 20, dan nilai tertinggi pada pretes Kelas Eksperimen adalah 60 dengan rata-rata skor. di kelas eksperimen pretest 40,42 dengan Std. Sementara itu, pretest kelas kontrol memiliki nilai terendah 10 dan nilai tertinggi pretest kelas kontrol adalah 55, dengan rata-rata nilai pretest kelas kontrol adalah 35,21 dengan Std. Berdasarkan data yang diperoleh dari tes berupa uraian sebanyak 10 soal, nilai posttest dapat diketahui bahwa nilai terendah pada Posttest Kelas Eksperimen adalah 55 dan nilai tertinggi pada Posttest Eksperimen adalah 95 dengan skor rata-rata. di kelas percobaan posttest 74,79 dengan Std.
Sedangkan posttest di kelas kontrol memiliki skor terendah 25 dan skor tertinggi di posttest kelas kontrol adalah 75 dengan rata-rata skor di posttest kelas kontrol 55,42 dengan Std. Berdasarkan Tabel 4.3 terlihat bahwa lembar observasi keterlaksanaan Rpp pada kelas eksperimen dan kontrol terlihat pada pertemuan I, II, III dan IV yang menggambarkan bahwa pelaksanaan pembelajaran berlangsung selama proses pembelajaran berlangsung. , di kelas eksperimen dan kontrol memiliki. Pada kelas eksperimen dan kelas kontrol dapat kita bandingkan persentase pelaksanaannya, dimana kelas eksperimen sudah sangat baik dan kelas kontrol masih kurang.
Berdasarkan data observasi yang dilakukan, terlihat bahwa kegiatan pembelajaran pada kedua kelas cukup baik yaitu kelas kontrol dan kelas eksperimen, hal ini terlihat dari persentase pertemuan pertama sampai pertemuan keempat, dimana pada pertemuan pertama hingga pertemuan terakhir rata-rata mengalami peningkatan di kelas. Pada kelas eksperimen terdapat nilai rata-rata dengan persentase pada pertemuan pertama kegiatan awal yaitu 70%, pada kegiatan inti 76% kegiatan akhir 80%, pertemuan kedua pada kegiatan awal 70%, kegiatan inti 80% kegiatan akhir 80%, pertemuan ketiga di kegiatan awal 80% kegiatan inti 80%. Mengenai kesimpulan dari observasi yang dilakukan tentang aktivitas siswa dari kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan akhir, rata-rata persentasenya meningkat atau kegiatan pembelajaran yang dilakukan siswa pada kelas eksperimen mengalami peningkatan yang cukup sedikit.
Dari data observasi yang telah direalisasikan, diperoleh hasil bahwa kegiatan pembelajaran pada kedua kelas cukup baik yaitu pada kelas kontrol dan pada kelas eksperimen, hal ini dapat dilihat dari persentase pertemuan pertama sampai pertemuan keempat, persentase rata-rata. dibesarkan di kelas itu. Pada kelas kontrol rata-rata nilai cenderung meningkat sedangkan pada kelas kontrol dengan persentase pada pertemuan pertama kegiatan awal 60%, kegiatan dasar 72% kegiatan akhir 60%, pertemuan kedua kegiatan awal adalah 70%, kegiatan awal 80% kegiatan akhir 60%, pertemuan ketiga di kegiatan awal 80% kegiatan dasar 80% kegiatan akhir 80%. Mengenai kesimpulan dari observasi yang telah dilakukan tentang aktivitas siswa mulai dari aktivitas awal, aktivitas dasar dan aktivitas akhir rata-rata persentasenya mengalami peningkatan atau aktivitas pembelajaran yang dilakukan oleh siswa kelas kontrol mengalami peningkatan.
Berikut adalah rangkuman data hasil observasi aktivitas siswa pada kelas eksperimen dan kontrol yang dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Berdasarkan data dari tabel di atas yang diperoleh dengan tes 10 soal, hasil pencapaian indikator kemampuan berpikir kreatif kelas kontrol hanya untuk indikator original yang mampu mencapai kategori sangat kreatif dengan menggunakan metode ceramah. metode yaitu 80,72. % pada kategori sangat kreatif, sedangkan pada kelas eksperimen terdapat dua indikator yang dapat mencapai kategori sangat kreatif yaitu fluid thinking 63,02% pada kategori sangat kreatif dan 82,29% flexible thinking pada kategori sangat kreatif menggunakan pembelajaran kontekstual. . model pendekatan untuk keterampilan berpikir kreatif siswa.
Analisis Data
Berdasarkan tabel di atas setelah mendapatkan hasil analisis Paired Samples T-Test dengan menggunakan SPSS Windows release 22, didapatkan nilai signifikansi pada kelas eksperimen 0,000 < 0,05 dan pada kelas kontrol nilai signifikansi 0,000 < 0,05 , yang artinya terdapat pengaruh yang signifikan terhadap penerapan model pembelajaran kontekstual pada mata pelajaran IPA Terpadu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan pembelajaran kontekstual pada mata pelajaran IPA terpadu terhadap keterampilan berpikir kreatif siswa di MTs AL-Muslimun NW Tegal. Sedangkan pada kelas kontrol, kesimpulan diambil dari pengamatan yang dilakukan terhadap kegiatan siswa, mulai dari kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh model pendekatan pembelajaran kontekstual terhadap keterampilan berpikir kreatif pada mata pelajaran IPA Terpadu. Penggunaan model pembelajaran kontekstual pada mata pelajaran IPA Terpadu memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa pada mata pelajaran IPA Terpadu. Agus Kistian, 2018 “Pengaruh Model Contextual Teaching and Learning (CTL) Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas IV SD Negeri Langung Kabupaten Aceh Barat”.
Dinny Rahmi, 2017, “Pengaruh Model Contextual Teaching and Learning (CTL) terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif pada Materi MTs Kubus dan Balok Kelas VIII. Pengaruh Contextual Model of Teaching and Learning (CTL)) pada hasil belajar teknologi informasi dan komunikasi (Studi Kasus Kelas XII SMA Negeri 3 Padang) Jurnal Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Putra Indonesia “YPTK” Padang Norma Rosita, “Analisis Implementasi Model Mengajar dan Contextual Learning (CTL) Serta Dampaknya Terhadap Berpikir Kreatif Siswa Kemampuan Respon Rate Materi Kelas XI IPA MAN Muara Bulian”, (Skripsi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Jambi, 2018).
Kegiatan Dasar • Guru menyajikan masalah nyata terkait peran zat gizi bagi tubuh dan kebutuhan energi serta pola makan gizi seimbang (konstruktivisme). Kegiatan Dasar • Guru menyajikan permasalahan nyata terkait jenis-jenis alat pencernaan manusia dan fungsinya (konstruktivisme). Kegiatan dasar • Guru menyajikan masalah dunia nyata yang berkaitan dengan proses pencernaan manusia (konstruktivisme).
Kegiatan Inti • Guru menyajikan permasalahan yang berhubungan dengan dunia nyata mengenai berbagai gangguan dan kelainan pada sistem pencernaan manusia. Kegiatan Inti • Guru menyampaikan materi peran zat gizi bagi tubuh dan kebutuhan energi serta menu makanan bergizi.
Pembahasan
PENUTUP
Kesimpulan
Hal ini terlihat dari analisis uji-T sampel berpasangan yang menunjukkan bahwa nilai signifikansi pada kelas eksperimen adalah 0,000 < 0,05 dan pada kelas kontrol nilai signifikansinya adalah 0,000 < 0,05 2.
Saran
Menganalisis sistem pencernaan pada manusia dan memahami gangguan yang berkaitan dengan sistem pencernaan serta upaya menjaga kesehatan pencernaan. Kesimpulan: Sistem pencernaan dapat mengalami gangguan akibat kelainan pada saluran pencernaan, infeksi mikroba atau pengaruh makanan tertentu.