• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ... - IAIN Repository

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "SKRIPSI INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ... - IAIN Repository"

Copied!
242
0
0

Teks penuh

PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN CTL (CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING) UNTUK MENINGKATKAN KEGIATAN DAN HASIL SISWA VII. KELAS FIQIH. Oleh karena itu, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: “Apakah penggunaan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar Fiqih siswa kelas VII MTs Muhammadiyah 1 tahun pelajaran? Purbolinggo.

Latar Belakang Masalah

Terlihat bahwa ketika guru mengajukan pertanyaan, tidak ada siswa yang berani menjawab. Selain itu, masih banyak siswa yang hasil belajarnya tidak memenuhi standar Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

Identifikasi Masalah

Adapun hal yang perlu diperhatikan dalam penelitian ini adalah dengan judul: “Penggunaan Model Pembelajaran CTL (Contextual Teaching and Learning) Untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Mata Pelajaran Fiqh Siswa Kelas VII MTs Muhammadiyah 1 Purbolinggo”.

Batasan Masalah

Rumusan Masalah

Manfaat Penelitian

Sebagai sumbangan informasi alternatif model pembelajaran yang dapat digunakan dengan cara yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan pembelajaran di MTs Muhammadiyah 1 Purbolingga.

Penelitian yang Relevan

Kesamaan antara penelitian yang dilakukan oleh Roviq Hidayah dengan penelitian yang dilakukan oleh Sarminah sama-sama menggunakan model Contextual Teaching and Learning untuk mencapai penelitiannya. 7 Sarminah, “Menerapkan Pendekatan Pembelajaran Kontekstual untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa” dalam Jurnal Forum Ilmu Manajemen Pendidikan Islam UPTD Dikpora Kecamatan Kebon agung Kabupaten Demak Jawa Tengah Jurusan Manajemen Pendidikan Islam, (Jawa Tengah: UPTD Dikpora), Vol. .

Aktivitas Belajar

  • Pengertian Aktivitas Belajar
  • Macam-macam Aktivitas Belajar
  • Pengertian Hasil Belajar
  • Ciri-ciri Hasil Belajar
  • Tipe-tipe Hasil Belajar
  • Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
  • Kurikulum Mata Pelajaran Fiqih a. Pengertian Mata Pelajaran Fiqih

Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor dari dalam diri siswa dan faktor dari luar siswa. Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor dari dalam diri siswa dan faktor dari luar siswa11.

Model Contextual Teaching and Learning(CTL)

Pengertian Model Contextual Teaching and Learning(CTL)

Kerja kelompok diharapkan dapat membuat siswa lebih mampu mendiskusikan konsep dan prinsip tentang pelajarannya. Kegiatan gotong royong yang menguntungkan semua pihak pasti akan meningkatkan hasil belajar siswa sehingga kegiatannya akan meningkat.

Langkah-langkah model Contextual Teaching and Learning(CTL) Secara garis besar langkah-langkah penerapan CTL dalam kelas

Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah konsep pembelajaran yang membantu guru menghubungkan materi yang diajarkannya dengan situasi kehidupan nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. CTL adalah pendekatan pembelajaran yang menghubungkan materi yang dipelajari dengan situasi dunia nyata dan mendorong siswa untuk membuat hubungan antara pengetahuannya dengan penerapannya dalam kehidupan nyata.

Kelemahan dan Kekurangan model Contextual Teaching and Learning(CTL)

Pembelajaran kontekstual dapat dipahami bahwa dalam setiap model pembelajaran pasti ada kelebihan dan kekurangannya. Guru harus dapat mengoptimalkan proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kontekstual untuk meminimalisir kekurangan yang terdapat pada pembelajaran kontekstual.

Hipotesis Penelitian

Variabel dan Defenisi Operasional Variabel

Variabel Terikat

Sedangkan hasil belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa pada mata pelajaran Fiqh yang ditunjukkan dengan skor hasil pre-test dan post-test yang diberikan guru kepada siswa pada setiap akhir siklus. setelah mengikuti proses pembelajaran dengan Kontekstual. Model belajar mengajar. Penelitian ini dilakukan di Mts Muhammadiyah 1 Purbolinggo yang terletak di Desa Taman Fajar Kabupaten Lampung Timur.

Subjek Penelitian

Waktu pelaksanaan survei adalah semester genap di MTs Muhammadiyah 1 Purbolinggo, mulai dari tahap perencanaan hingga pelaksanaan tindakan yang dilakukan dalam 2 siklus, setiap siklus terdiri dari 3 kali pertemuan.

Prosedur Penelitian

Pada tahap pertama ini, peneliti melakukan observasi terhadap sekolah yang akan dijadikan objek penelitian untuk mengetahui kondisi siswa dan. Pengamatan ini menekankan dan memfokuskan pada proses pembelajaran yang aktif, serta aktivitas yang dilakukan siswa dalam pembelajarannya.

Teknik Pengumpulan Data

Metode observasi ini digunakan untuk mengamati dan mencatat aktivitas siswa dalam proses pembelajaran di kelas. Hasil dari metode observasi ini kemudian dibandingkan dengan aktivitas siswa sebelum menggunakan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning dalam pembelajaran.

Instrumen Penelitian

Dokumentasi adalah cara yang digunakan untuk memperoleh informasi dari sumber/dokumen tertulis, baik berupa buku, majalah, anggaran dasar, risalah rapat, dan catatan harian. Metode ini dilakukan untuk mendapatkan data yang akurat sehingga dapat dijadikan pedoman untuk mengetahui sejarah berdirinya MTs Muhammadiyah 1 Purbolinggo, jumlah dosen, sarana dan prasarana, jumlah mahasiswa dan tempat penelitian.

Teknik Analisis Data

Kegiatan dalam analisis data adalah: pengelompokan data berdasarkan variabel dan jenis responden, tabulasi data berdasarkan variabel dan seluruh responden, penyajian data untuk setiap variabel yang diteliti, melakukan perhitungan untuk menjawab pernyataan masalah dan melakukan perhitungan untuk menguji hipotesis.Analisis kuantitatif ini akan dihitung menggunakan rumus Statistik sederhana adalah sebagai berikut.

Indikator Keberhasilan Penelitian

  • Visi
  • Misi
  • Struktur Organisasi MTs Muhammadiyah 1 Purbolinggo
  • Denah Lokasi MTs Muhammadiyah 1 Purbolinggo Gambar 4.2 Gambar 4.2

MTs Muhammadiyah Purbolinggo merupakan proyek pembinaan kader Persyarikatan Muhammadiyah Cabang Purbolinggo yang pengelolaannya berada di bawah koordinasi dan supervisi dewan pendidikan dan kebudayaan. MTs Muhammadiyah Purbolinggo merupakan lembaga pendidikan yang dikelola oleh Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Muhammadiyah yang berdiri pada tahun 1973.

Data Hasil Penelitian

Siklus I

Pertemuan Pertama a) Perencanaan

Guru mengawali pembelajaran dengan salam, kemudian guru mengecek kehadiran siswa, pada pertemuan pertama siklus I jumlah siswa kelas VII adalah 26 dan jumlah siswa yang hadir adalah 6 setelah mengetahui siswa yang hadir. Selama pertemuan pertama ini, hasil belajar dapat diperoleh dari siswa sebelum mereka mendapatkan tindakan dari peneliti, atau skor awal dari siswa. Hal ini dibuktikan dengan semua kegiatan pembelajaran terlaksana dengan baik pada hasil kegiatan guru pada pertemuan pertama diperoleh skor 156 dengan persentase 60% dan pada poin B mengenai kinerja guru diperoleh skor 33 dengan persentase sebesar 66%.

Data aktivitas belajar siswa setelah penerapan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) pada siklus I sesi I dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Pada pertemuan pertama ini suasana pembelajaran mulai cukup kondusif, beberapa siswa tampak bersemangat mengikuti pembelajaran dengan menggunakan model Contextual Teaching and Learning (CTL). Namun pada pertemuan pertama ternyata banyak siswa atau siswa yang kurang memperhatikan pelajaran dan banyak yang bermain dengan teman sebangkunya dan ketika guru memberikan dan menjelaskan langkah-langkah mengerjakan soal kelompok, siswa masih kesulitan. untuk memahami penjelasan.

Dilihat dari data aktivitas belajar siswa pada pertemuan pertama di atas, terlihat bahwa aspek aktivitas belajar yang ditampilkan oleh masing-masing siswa mencapai 57,5%.

Pertemuan Kedua a) Perencanaan

Guru memberikan apresiasi kepada kelompok yang baik dan benar dalam menyampaikan hasil diskusi, dan guru mengoreksi kesalahpahaman siswa dalam memahami materi yang dipelajari. Pada tabel di atas terlihat adanya peningkatan hasil belajar siswa dari 12 orang menjadi 14 orang atau dari 46,15% menjadi 53,84%. Aktivitas belajar siswa pada pertemuan kedua diamati dengan menggunakan lembar observasi yang telah disiapkan oleh peneliti.

Data aktivitas belajar siswa setelah menggunakan model pembelajaran contextual teaching and learning (CTL) pada pertemuan kedua siklus I dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Pada sesi kedua ini, suasana pembelajaran dimulai dengan cukup baik, beberapa siswa tampak antusias mengikuti pembelajaran dengan menggunakan model Contextual Teaching and Learning (CTL). Namun pada pertemuan pertama ditemukan banyak siswa atau siswa yang kurang memperhatikan pelajaran dan banyak yang bermain dengan teman sekelasnya dan pada saat guru memberikan dan menjelaskan langkah-langkah mengerjakan soal kelompok, siswa masih kesulitan memahami materi. interpretasi guru dan tidak terbiasa mengerjakan soal-soal tersebut sehingga Susana menjadi kurang disukai.

Dilihat dari data aktivitas belajar siswa pada pertemuan 2 di atas, terlihat bahwa aspek aktivitas belajar yang ditunjukkan oleh masing-masing siswa mencapai 60,19%.

Pertemuan Ketiga a) Perencanaan

Aktivitas belajar siswa pada pertemuan ketiga diamati dengan menggunakan lembar observasi yang telah disiapkan oleh peneliti. Data aktivitas belajar siswa setelah penerapan model pembelajaran SOL pada pertemuan ketiga siklus I dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Dilihat dari data aktivitas belajar siswa pada pertemuan 3 di atas, terlihat bahwa aspek aktivitas belajar yang ditunjukkan oleh masing-masing siswa mencapai 65,19%.

Pada tabel di atas terlihat indikator keaktifan siswa dengan CTL yaitu memperhatikan penjelasan guru pada pertemuan pertama sebesar 68,26%, kemudian meningkat menjadi 71,15% pada pertemuan kedua dan pada pertemuan ketiga meningkat. menjadi 74,03%, dengan hasil rata-rata 71,14%. Untuk indikator kegiatan kedua yaitu aktif bertanya pada pertemuan pertama persentasenya 59,61% dan naik pada pertemuan kedua. Untuk indikator keempat yaitu partisipasi dalam percakapan pada pertemuan pertama persentasenya 50%, pada pertemuan kedua meningkat menjadi 54,80%, kemudian pada pertemuan ketiga menjadi 63,46%, dengan hasil rata-rata 56,06%.

Pada indikator kelima yaitu penyelesaian tugas yang diberikan guru pada pertemuan pertama persentasenya 50%, dan pada pertemuan kedua naik menjadi 54,80%, kemudian pada pertemuan ketiga naik menjadi 61,53% naik , dengan hasil rata-rata 54,11%.

Grafik Perbandingan Aktivitas Siswa Siklus I
Grafik Perbandingan Aktivitas Siswa Siklus I

Siklus II

Data aktivitas belajar siswa setelah penerapan model pembelajaran contextual teaching and learning (CTL) pada Siklus II Sesi I dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Pada pertemuan pertama siklus kedua kegiatan pembelajaran berjalan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Data aktivitas belajar siswa setelah penerapan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) pada sesi II Siklus II dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Pada pertemuan kedua siklus kedua ini, kegiatan pembelajaran berjalan pada waktu yang telah ditentukan. Data aktivitas belajar siswa setelah diterapkan model pembelajaran contextual teaching and learning (CTL) pada sesi III siklus II dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Data aktivitas belajar siswa setelah menggunakan model pembelajaran kontekstual pada siklus II dapat dilihat pada lampiran.

Pencapaian ketuntasan hasil belajar siswa pada Siklus II tidak terlepas dari besarnya peningkatan aktivitas siswa.

Tabel 4.30  Hasil belajar Siklus II  No  Nama  Skor
Tabel 4.30 Hasil belajar Siklus II No Nama Skor

Pembahasan

Kesimpulan

Saran

Merangkum intisari pelajaran dalam bentuk bagan tentang ketentuan sholat jum'at dan khutbah.

Ma’aruf Abidin, M.SI NIP.19680122 199703 1 001

KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR NO. KOMPETENSI

MATERI PEMBELAJARAN Pertemuan Pertama

METODE PEMBELAJARAN Pertemuan Pertama

MEDIA, ALAT DAN SUMBER PEMBELAJARAN Pertemuan Pertama

SUMBER

Pertemuan kedua

Guru membuka pelajaran dengan salam dan berdoa bersama dipimpin oleh seorang siswa dengan penuh hormat. Guru memulai pembelajaran dengan membacakan surah/ayat Al-Qur'an yang dipilih (nama surah sesuai dengan program kebiasaan yang telah ditetapkan sebelumnya); Langkah kedua) Dengan aba-aba dari guru, siswa perwakilan kelompok mempresentasikan hasil penyelesaian dan alasan jawaban dari soal yang disarankan guru mengenai shalat berjamaah dan pendek.

Langkah ketiga) Atas aba-aba guru, siswa secara berkelompok menyelesaikan LKS yang disarankan guru. Siswa yang mewakili kelompok mempresentasikan hasil kerja kelompok dan kelompok lain menanggapi hasil kerja kelompok yang ditugaskan. Dengan mengacu pada jawaban siswa, melalui tanya jawab, guru dan siswa mendiskusikan cara yang tepat untuk memecahkan masalah. langkah keenam).

Langkah 1) Dengan aba-aba dari guru, siswa diminta secara berkelompok untuk memecahkan masalah yang diajukan oleh guru.

PENILAIAN

KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR

LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN 1. Pertemuan Pertama

Pertemuan ketiga

Disebutkan tentang solat sunat yang dikerjakan bersama-sama dengan solat fardhu, baik sebelum (kabli) mahupun selepas (ba'diy). Solat sunat yang dikerjakan pada malam hari dengan jumlah rakaat ganjil, disebutkan sekurang-kurangnya satu rakaat. Solat sunat yang dikerjakan pada malam hari dengan jumlah rakaat ganjil, disebutkan sekurang-kurangnya satu rakaat.

Keterangan Nilai Angka 1 = Tidak baik

Cara Menghitung Perolehan Nilai

Cara Menghitung Nilai Akhir

Gambar

Grafik Perbandingan Aktivitas Siswa Siklus I
Tabel 4.30  Hasil belajar Siklus II  No  Nama  Skor

Referensi

Dokumen terkait

Dari hal tersebut maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : “Apakah metode Make A Match dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V di SD Negeri 2 Bumi Jawa pada mata