KELOMPOK 5 :
1.Rode Melatunan 2.Steven Watruty 3.Stevi Kolibongso 4.Thalia Wattimanela 5.Viktor Rumalewang 6.Rachel De Kock
7.Anggel Laumaly PEMINATAN KESEHATAN LINGKUNGAN PROGRAM STUDI KESEHATN MASYARAKAT UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA MALUKU
Pengertian
Pengolahan secara fisik merupakan proes pengolahan pada limbah cair dengan kandungan bahan limbah yang dapat dipisahkan secara mekanis langsung tanpa penambahan bahan kimia atau melalui penghancuran secara biologis. Proses fisik dilakukan dengan cara memberikan perlakuan fisik pada air limbah.
Pengolahan fisik hanya menggunakan proses secara fisik sebagai variabel pertimbangan untuk rekayasa pemisahan dari air dengan polutan atau zat – zat pencemar yang ada di dalam air limbah.
Fungsi
pengolahan fisik yang berfungsi untuk memisahkan
zat yang tidak diperlukan dari dalam air tanpa
menggunakan reaksi kimia dan reaksi biokimia.
Kelebihan
kelebihan proses pengolahan fisik adalah mengurangi penggunaan energi yang dapat
berpengaruh terhadap pengurangan biaya operasi dan peralatan, mengurangi beban pengolahan, dan mengurangi resiko rusaknya
peralatan.
Kekurangan
pengolahan ini hanya dapat diterapkan untuk menghilangkan zat padat tersuspensi,
sedangkan pencemar yang masih berupa zat terlarut tidak dapat diolah. Selain itu, hasil
yang akan dicapai sangat terbatas dan
memerlukan waktu yang cukup lama.
1. penyaringan (screening), pemecahan/grinding
2. (comminution),
3. penyeragaman (equalization), 4. pengendapan
(sedimentation),
5. penyaringan (flitration),
6. pengapungan (floatation).
Beberapa unit operasi yang diaplikasikan pada proses
pengolahan air limbah secara fisik diantaranya
1. Screening
Screening merupakan unit operasi yang diaplikasikan pada awal pengolahan air limbah. Tujuan dari screening ini adalah untuk pemisahan material berukuran besar seperti kertas, plastik, kayu, kulit udang, sisik ikan, dan sebagainya.
Berdasarkan teknik pengoperasian, screening diklasifikasi menjadi dua (2) klasifikasi yaitu :
• Screening yang dioperasikan secara maual, screen yang dibersihkan secara manual (mempergunakan tangan).
• Screening yang dioperasikan secara automatis : screen dengan pemisahan padatan berlangsung secara kontinyu, pemisahan padatan dapat dilakukan secara mekanik atau dengan aliran air limbah itu sendiri.
2. Pemecah/Grinding (comminution)
Pemecah atau grinding (comminution) merupakan unit
operasi yang diaplikasikan untuk memecah padatan yang
berukuran besar menjadi partikel yang mempunyai ukuran
yang kecil dan seragam. Pada umumnya unit operasi ini
dipergunakan untuk memecah padatan yang tertahan pada
screen dan padatan ini dapat dikembalikan kedalam aliran air
limbah atau dibuang.
3. Pemisahan pasir (Grit chamber)
Keberadaan bahan padat seperti pasir dalam air limbah
merupakan suatu permasalahan dalam pengolahan air limbah
karena pasir dapat menghambat kerja peralatan pompa,
menghambat aliran dalam perpipaan dan mempengaruhi
volume bak,Pemisahan padatan seperti pasir dalam air limbah
dapat dilakukan dengan unit operasi grit chamber.
Manfaat lingkungan yang lain adalah tempat mencari makan.
Berbagai macam makhluk hidup butuh makanan untuk bertahan hidup. Di dalam lingkungan
terdapat produsen, dan produsen tersebut menyediakan makanan.
4. Tempat Penyeragaman (Equalization)
Kualitas dan kuantitas air limbah yang dihasilkan suatu industri bervariasi setiap waktu, hal ini dapat mempengaruhi perancangan instalasi, kebutuhan bangunan, mesin, lahan, biaya operasional, dan kualitas hasil pengolahan.
• Equalisasi berfungsi untuk penyeragaman kondisi air limbah, dan
pengendali aliran, dalam equalisasi dapat dilakukan proses
pengadukan untuk menjaga homoginitas, injeksi udara yang bertujuan
agar limbah tidak bersifat septik atau anaerobik.
5. Sedimentasi (Sedimentation)
Sedimentasi merupakan unit operasi yang sering
dipergunakan dalam proses pengolahan air atau air
limbah seperti pemisahan partikel tersuspensi
pada awal proses pengolahan air limbah, proses
pemisahan partikel flok pada proses pengolahan
air limbah secara kimia, dan proses pemisahan
mikroorganisme (sludge) pada proses pengolahan
air limbah secara biologi.
Manfaat lingkungan yang lain adalah tempat melakukan aktivitas misalnya
manusia melakukan aktifitas seperti pergi bekerja, memasak, dan harus bersosialisasi
dengan sesama karena manusia adalah mahluk sosial.
Proses sedimentasi partikel dapat diklasifikasikan menjadi empat (4) peristiwa yaitu :
1. Partikel Diskrit, sedimentasi partikel terjadi pada konsentrasi padatan rendah dimana partikel mengendap secara individu serta tidak terjadi interaksi dengan partikel yang lainnya. Peristiwa ini terjadi pada pemisahan partikel pasir pada air limbah.
2. Partikel Flokulan, sedimentasi partikel dimana partikel mengalami interaksi dengan partikel lainnya, pada peristiwa interaksi terjadi penggabungan antar partikel yang mempercepat kecepatan sedimentasi.
Peristiwa ini terjadi pada pemisahan partikel yang telah mengalami proses koagulasi/flokulasi.
3. Partikel Hindered, sedimentasi partikel terjadi karena partikel berinteraksi dengan partikel lainnya pada posisi yang sama, dan partikel mengendap terhambat oleh pertikel yang berada disekelilingnya dan tampaknya terjadi pengendapan secara massal. Persitiwa ini dapat terjadi pada konsentrasi padatan yang cukup tinggi. Peristiwa ini seperti terjadi pada pemisahan mikroba (activated sludge) pada pengolahan air limbah secara biologi.
4. Partikel kompresi, sedimentasi partikel terjadi karena partikel mengalami penekanan oleh partikel yang berada diatasnya, peristiwa ini terjadi pada konsentrasi padatan yang sangat tinggi. Peristiwa ini terjadi pada pemisahan mikroba (activated sludge) pada pengolahan air limbah secara biologi.
6. Filtrasi (Filtration)
merupakan unit operasi yang dioperasikan dalam pengolahan air dan air limbah. Dalam pengolahan air limbah filtrasi dioperasikan untuk pemisahan partikel (padatan) pada effluen (pengeluaran) pengolahan air limbah secara kimia maupun biologi serta dapat diaplikasikan pada awal pengolahan air limbah. pemisahan padatan dilakukan dengan mempergunakan media yang disebut “Media Filter”
merupakan bahan padat seperti pasir, batu bara,
kerikil dan sebagainya yang tersusun sedemikian
rupa, padatan yang dipisahkan tertahan pada
permukaan dan sela-sela (porositas) media filter,
Dalam filtrasi terdapat 4 mekanisme dasar filtrasi yaitu :
1. Sedimentasi (sedimentation), filtrasi terjadi karena partikel yang akan dipisahkan mengalami gaya gravitasi dan kecepatan pengendapan partikel sehingga partikel mengendap dan berkumpul pada permukaan media filter.
2. Intersep (interception), filtrasi terjadi karena partikel dalam aliran air berukuran besar sehingga akan terperangkap, menempel dan dapat menutupi permukaan media filter
3. Difusi brownian (brownian diffusion), filtrasi terjadi pada partikel yang berukuran kecil seperti virus, partikel dalam aliran air bergerak secara random (gerak brown), karena terdapat perbedaan kecepatan maka partikel tersebut bergesekan dan menempel dalam media filter.
Mekanisme ini hanya terjadi untuk partikel berdiameter < 1 mikron.
4. Inersia (inertia), filtrasi terjadi karena partikel mempunyai ukuran dan berat jenis yang berbeda sehingga kecepatan partikel dalam aliran air berbeda-beda, akibatnya partikel akan menempel pada permukaan media karena gaya inersia, mekanisme ini terjadi jika partikel yang berukuran lebih besar bergerak cukup cepat dan berbenturan serta menempel dalam media filter.
Berbagai hal yang perlu diperhatikan dalam operasional filtrasi yaitu :
· Karakteristik air limbah, karakteristik air limbah yang perlu diperhatikan diantaranya konsentrasi padatan, distribusi dan ukuran padatan, serta kekuatan padatan atau flok (untuk proses kimia)
· Karakteristik media filter, pemakaian media filter dengan ukuran terlalu kecil mengakibatkan terjadinya peningkatan hambatan aliran, dan ukuran media filter terlalu besar mengakibatkan beberapa padatan yang kecil tidak tertahan (loslos) dari filtrasi
· Laju alir filtrasi, laju alir filtrasi berkaitan dengan luas penampang unit filtrasi yang dibutuhkan, laju alir filtrasi dipengaruhi oleh ukuran dan distribusi padatan, dan kekuatan flok. Berdasarkan pengamatan laju filtrasi yang sesuai : 2 – 8 gallon/(ft2 menit) atau 80 – 320 Liter/(m2.
Menit).
7. Flotasi (Flotation)
Flotasi (pengapungan) merupakan suatu unit operasi yang dipergunakan untuk pemisahan padatan tersuspensi, cairan (minyak dan lemak) dalam fase cair (air atau air limbah). Peristiwa flotasi didasarkan atas adanya gelembung gas, biasanya menggunakan udara yang diinjeksikan kedalam air limbah.
Flotasi pada pengolahan air limbah mempergunakan udara sebagai
“Flotation Agent”, berdasarkan pemanfaatan udara ini, flotasi diklasifikasikan menjadi tiga (3) kategori yaitu
• Dissolved-air flotation (DAF), proses flotasi dimana udara dilarutkan kedalam air limbah, tekanan operasi untuk flotasi ini biasanya pada tekanan lebih besar dari tekanan atmosfir.
• Air flotation, proses flotasi dimana udara diinjeksikan secara langsung kedalam air limbah, tekanan operasi untuk flotasi ini biasanya pada tekanan atmosfir.
• Vacumn flotation, proses flotasi dimana udara dilarutkan kedalam air limbah hingga mencapai tingkat kejenuhan yang dapat diperoleh dalam tekanan vacumn atau lebih kecil dari tekanan atmosfir.
Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam perancangan flotasi diantaranya Laju alir air limbah dan beban padatan (wastewater flow rate and solid loading)
Perbandingan udara terhadap padatan (Air/solid ratio), yang dinyatakan sebagai volume udara/berat padatan atau berat udara/berat padatan, nilai A/S dapat dipergunakan 0,005 – 0,060 ml/mg atau 0,0065 – 0,08 mg/mg.
Temperatur operasional, ini berkaitan dengan kelarutan udara dalam air pada temperatur tertentu.
Pengolahan awal secara kimia (chemical pretreatment) Beban padatan akhir (Lb/jam.ft2)
Beban aliran hidrolik (gpm/ft2)
Perbandingan udara terhadap padatan (A/S)
Masalah limbah cair limbah cair industri Tahu
Limbah cair pada proses produksi tahu berasal dari proses perendaman pencucian kedelai, pencucian peralatan proses produksi tahu, penyaringan dan pengepresan/pencetakan tahu. Sebagian besar limbah cair yang dihasilkan oleh industri pembuatan tahu adalah cairan kental yang terpisah dari gumpalan tahuyang disebut dengan air dadih. Cairan ini mengandung kadar protein yang tinggi dan dapat segera terurai. Limbah ini sering dibuang secara langsung tanpa pengolahan terlebih dahulu sehingga menghasilkan bau busuk dan mencemari lingkungan (Kaswirani,2014).
Limbah cair industri tahu dapat menimbulkan pencemaran yang cukup berat karena mengandung polutan organik yang cukup tinggi. Beberapa hasil penelitian, konsentrasi COD (Chemical Oxygen Demand) di dalam air limbah industri tahu cukup tinggi yakni berkisar antara 7.000-10.000 mg/L, serta mempunyai keasaman 4 yang rendah yakni pH 4-5. Jika ditinjau dari Kep- 03/MENKLH/11/1991 tentang baku mutu limbah cair, maka industri tahu memerlukan pengolahan limbah.
Solusi
▪ Pengolahan limbah cair dengan bioreaktor anaerobik dapat digunakan sebagai penanganan
masalah lingkungan karena tidak membutuhkan biaya investasi dan operasional yang tinggi juga dapat menghasilkan biogas yang dapat digunakan sebagai bahan bakar.
▪ Pembuatan Cerobong Asap
Dengan dibuatnya cerobong asap tidak lagi masuk ke rumah warga sehingga aktifitas warga sekitar industri tidak terganggu.
▪ Pelatihan Pembuatan Pupuk
Organik Limbah Cair Industri Tahu Limbah tahu ditambah dengan bahan tambahan lainnya
dapat dipakai sebagai pupuk organik melalui proses fermentasi sehingga bahan aktif dapat
terurai dengan baik. Limbah cair tahu mengandung sisa protein dan asam cuka sehingga
mampu mendukung efektifitas fermentasi.dan cara pembuatan pupuk organik.
Tolong baca pesan ini bae-bae e…
“ Alam ni paleng berharga par katong pung kahidupan, makanya itu katong harus
kalesang deng lestarikan akang juaa”
DANGKE