PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA (LKS) BERNUANSA PROBLEM BASED LEARNING (PBL) PADA MATERI PROTISTA
UNTUK SISWA SMA
ARTIKEL JURNAL
OLEH:
FERA SISKA NIM. 10010067
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) PGRI SUMATERA BARAT
PADANG
2016
PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA (LKS) BERNUANSA PROBLEM BASED LEARNING (PBL) PADA MATERI PROTISTA
UNTUK SISWA SMA Oleh:
Fera Siska, Ardi, Renny Risdawati
Program Studi Pendidikan Biologi STKIP PGRI Sumatera Barat [email protected]
ABSTRAK
The background of this study is observation and interview researchers at SMAN 2 Bayang wherein Student Worksheet (LKS) and supporting books in the library are limited. LKS not presented contextual problem that can lead students on a high-level understanding, the materials are not included in worksheets. The purpose of this study was to determine the validity and practicalities of student worksheet (LKS) nuanced problem based learning (PBL) in protists material for high school students.
This type of research is the development research, that 4-D models modified from Thiagarajan, and Semmel Semmel. In this study includes three stages, namely define, design, and develop. This research has been done to the two teachers and 30 students of class X SMAN 2 Bayang. Based on the research conducted has generated LKS nuanced PBL in protists material with the average value of the validation by the validator of 85.83% with a very valid category. The average value of the level of practicality LKS by teachers amounted to 87.44%, and by the students of 81.87%, which means both assert LKS produced nuanced PBL are in very practical criteria.
Key Word : student worksheet and Problem Based Learning (PBL).
PENDAHULUAN
Proses belajar mengajar merupakan suatu kegiatan interaksi antara guru dengan anak didik, antara anak didik dengan anak didik lainnya, dan antara anak didik dengan lingkungan. Agar terjadi interaksi yang baik dalam pembelajaran perlu diketahui berbagai persyaratan yang diperlukan seperti pendekatan, metode, model pembelajaran, kondisi siswa dan lingkungan, sarana dan prasarana, dan mengenali perkembangan intelektual, psikologi dan biologis anak didik (Lufri, 2007:1).
Keberhasilan pembelajaran sangat ditentukan oleh perancangan perangkat pembelajaran, karena perangkat pembelajaran berfungsi untuk memandu jalannya proses pembelajaran. Oleh karena itu perangkat pembelajaran yang akan digunakan perlu
disusun berdasarkan standar proses. Perangkat pembelajaran meliputi Silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Bahan Ajar, dan Lembar Penilaian. Ketersediaan perangkat pembelajaran yang memadai, akan membantu guru dalam melaksanakan proses pembelajaran sehingga mencapai tujuan dan sasaran belajar yang ingin dicapai.
Bahan ajar merupakan salah satu komponen yang penting dalam proses pembelajaran. Prastowo (2011:21) menyatakan bahwa bahan ajar bermacam-macam diantaranya adalah buku paket, modul, Lembar Kerja Siswa (LKS), realita (benda nyata yang digunakan sebagai sumber belajar), model, maket, bank, museum, kebun binatang, pasar, dan sebagainya. Seorang guru harus mampu membuat sendiri dan mengembangkan bahan
ajar yang sesuai dengan kurikulum dan karakteristik siswa sehingga tujuan pembelajaran tercapai yang berdampak pada meningkatnya hasil belajar.
Panduan yang digunakan untuk memudahkan siswa memahami pelajaran yang disampaikan oleh guru disusun dalam bentuk LKS. Menurut Trianto (2011:222) LKS merupakan panduan siswa yang digunakan untuk melakukan kegiatan penyelidikan atau pemecahan masalah. Penyusunan LKS dilakukan dengan mempertimbangkan karakteristik materi, lingkungan, metode pembelajaran, dan kemampuan kognitif siswa.
LKS perlu dikembangkan mengingat bahwa tujuan utama pembelajaran adalah membuat siswa belajar, hingga siswa dituntut mencapai tujuan tersebut.
Berdasarkan observasi dan wawancara penulis pada tanggal 19 dan 20 Maret 2015 dengan guru mata pelajaran biologi di SMA Negeri 2 Bayang Kabupaten Pesisir Selatan, guru sudah mencoba membuat LKS sendiri namun LKS tersebut masih dalam bentuk petunjuk praktikum. Selain itu, materi yang terdapat dalam LKS tidak ada. LKS dengan kualitas hitam putih yang kurang jelas sehingga tidak menarik untuk dibaca. Guru tidak memberikan LKS kepada siswa tetapi hanya sebagai petunjuk kegiatan praktikum. Guru memberikan LKS dalam jumlah terbatas satu perkelompok. Hal ini menyebabkan tidak semua anggota kelompok mendiskusikan kegiatan, sehingga beberapa anggota kelompok tidak aktif dalam belajar. LKS yang digunakan belum sesuai dengan tuntutan kurikulum karena kurang mengarahkan siswa untuk berfikir kritis, logis dan menumbuhkan sikap ilmiah. Hal ini terlihat dari LKS yang ada baru berisi sederatan perintah isian pendek yang memberikan penekanan untuk dikerjakan, dan belum memaparkan masalah kontekstual yang dapat mengarahkan siswa pada konstruksi pemahaman tingkat tinggi, terhadap materi pembelajaran dan karakteristik perkembangannya.
Menurut Depdiknas (2008:24) struktur LKS secara umum memiliki judul, petunjuk belajar, kompetensi yang akan dicapai, informasi pendukung, tugas-tugas dan langkah kerja, serta penilaian.
Berdasarkan hasil observasi angket karakteristik siswa kelas X SMA Negeri 2 Bayang gemar membaca 94%, termotivasi belajar dengan gambar yang berwarna, serta siswa sangat menyukai warna jingga 83%, biru 78% dan merah 78%. Respon siswa terhadap bahan ajar (LKS) menganggap biologi bersifat hafalan 89%, kesulitan memahami istilah biologi 78%, dan guru belum memberikan LKS kepada siswa. Sehingga dibutuhkan pengembangan LKS yang mampu mengubah persepsi siswa mengenai biologi sebagai ilmu hafalan, tidak menarik, mengaitkan dengan masalah yang kontekstual serta mampu mengembangkan kemampuan sikap ilmiah siswa.
Pemberlakuan kurikulum 2013 yang menekankan pendekatan saintifik dalam proses pembelajaran, mengharuskan guru menerapkan berbagai model-model pembelajaran yang beragam. Model pembelajaran yang tepat digunakan dalam kurikulum 2013 adalah model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran kooperatif yang direkomendasikan oleh pemerintah dalam kurikulum 2013 ada 3 yaitu model pembelajaran berbasis masalah (PBL), model pembelajaran berbasis proyek, dan model pembelajaran discovery. Menurut Trianto (2011: 90) model PBL merupakan suatu model pembelajaran yang didasarkan pada permasalahan yang membutuhkan penyelidikan (autentik) yakni penyelidikan yang membutuhkan penyelidikan nyata. Hal ini sejalan dengan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan siswa, oleh karena itu perlu dikembangkan LKS bernuansa PBL sehingga di dalam komponen LKS yang bernuansa PBL akan mampu mengembangkan sikap ilmiah siswa dengan cara penyelidikan nyata. PBL bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berfikir kritis, logis dan sikap ilmiah siswa.
Materi yang peneliti pilih dalam pengembangan LKS yang bernuansa PBL ini adalah materi Protista. Materi ini dianggap sulit oleh siswa karena ciri-ciri protista kurang spesifik. Protista merupakan organisme peralihan antara monera dan organisme lain, baik hewan maupun tumbuhan. Protista dibedakan menjadi 3 kelompok, yaitu: protista mirip hewan, mirip tumbuhan, dan mirip jamur.
Hal inilah yang menyebabkan siswa
kebingungan dalam mempelajari karakteristik pengelompokkan dari protista. Sehingga siswa kesulitan dalam mencirikan antara protista mirip jamur dengan ciri jamur, begitu juga dengan protista mirip hewan dan tumbuhan.
Kesulitan siswa dalam memahami materi ini berdampak pada rendahnya hasil belajar. KKM untuk pelajaran biologi adalah 80. Materi protista masih dibawah KKM, dibuktikan dengan rata-rata hasil ulangan harian pada materi protista pada kelas X adalah sebagai berikut X1:75, X2:69, X3:69, X4:72, X5:69, X6:69, X7:67, X8:70, X9:71.
Penelitian relevan tentang pengembangan LKS pada materi protista telah dilakukan oleh Yusmita (2013) dengan judul pengembangan LKS bergambar disertai peta konsep pada materi Protista kelas X SMA.
Yusmita melaporkan bahwa LKS bergambar disertai peta konsep pada materi protista kelas X SMA yang dihasilkan valid dan praktis.
Berdasarkan paparan dan tema terkemuka maka penulis melakukan penelitian dengan tujuan untuk mengembangkan dan mengetahui validitas dan praktikalitas lembar kerja siswa (LKS) bernuansa problem based learning (PBL) pada materi Protista untuk siswa yang dihasilkan.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan dengan menggunakan model pengembangan 4-D models yang dimodifikasi dari Thiagarajan, Semmel dan Semmel. Pada penelitian ini meliputi tiga tahap, yaitu define, design, dan develop. Subjek penelitian ini terdiri dari validator dan siswa. Validator berperan memeriksa kebenaran konsep, bentuk, tata bahasa, dan tampilan draf LKS yang telah dibuat. Saran dari validator menjadi bahan pertimbangan penulis untuk melakukan revisi.
Kemudian LKS bernuansa PBL diuji cobakan pada siswa yang berjumlah 30 orang pada kelas X di SMA Negeri 2 Bayang Kabupaten Pesisir Selatan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan dengan pengembangan yang dilakukan di peroleh hasil sebagai berikut ini.
1. Define
a. Analisis Ujung Depan
Pada tahap ini penulis melakukan wawancara dengan guru dan siswa di SMA Negeri 2 Bayang Kabupaten Pesisir Selatan.
Hasil analisis ujung depan berdasarkan hasil angket karakteristik siswa kelas X SMA Negeri 2 Bayang gemar membaca 94%, termotivasi belajar dengan gambar yang berwarna, serta siswa sangat menyukai warna jingga 83%, biru 78% dan merah78%. Respon siswa terhadap bahan ajar (LKS) menganggap biologi bersifat hafalan 89%, kesulitan memahami istilah biologi 78%, dan LKS yang digunakan siswa sudah dibuat sendiri oleh guru, namun kurang sesuai dengan karakteristik kurikulum 2013.
LKS yang ada berupa penuntun praktikum dan dibagikan ketika anak melakukan kegiatan praktikum. LKS yang ada berisi perintah isian pendek yang memberikan penekanan untuk dikerjakan, dan belum memaparkan masalah kontekstual yang dapat mengarahkan siswa pada konstruksi pemahaman tingkat tinggi, terhadap materi pembelajaran dan karakteristik perkembangannya. Selain itu, materi tidak terdapat dalam LKS, gambar sedikit dengan kualitas hitam putih yang kurang jelas sehingga kurang menarik untuk dibaca oleh siswa. Guru memberikan LKS dalam jumlah yang terbatas satu perkelompok. Hal ini menyebabkan tidak semua anggota kelompok aktif mendiskusikan kegiatan, sehingga beberapa anggota kelompok tidak aktif dalam belajar. Maka diperlukan LKS yang sesuai dengan kurikulum sebagai sumber belajar siswa.
b. Analisis Siswa
Berdasarkan hasil angket analisis karakter siswa, diketahui bahwa siswa SMA Negeri 2 Bayang menyukai banyak kombinasi warna yang digunakan untuk belajar. Warna yang menarik akan memotivasi siswa untuk belajar. Maka untuk memotivasi siswa untuk belajar dirancanglah LKS yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan guru dan siswa.
c. Analisis Tugas 1) Analisis Struktur Isi
Dasar dalam mendisain sebuah LKS yang bernuansa PBL dilengkapi dengan permasalahan yang kontekstual pada materi Protista berpedoman pada silabus pada kurikulum 2013 mengacu pada SK, KI, dan Indikator.
2) Analisis Konsep
Konsep utama dalam materi animalia ini sudah diurutkan secara sistematis dan disajikan dalam LKS. Berdasarkan analisis struktur isi dan analisis konsep, maka siswa dituntut untuk dapat menjelaskan materi Protista yang terbagi dalam 3 kelompok tentang protista yang menyerupai jamur, protista yang menyerupai hewan dan protista yang menyerupai tumbuhan.
3) Perumusan Tujuan Pembelajaran
Perumusan tujuan pembelajaran menjadi dasar untuk merancang LKS yang akan dikembangkan. Tujuan pembelajaran yang dirumuskan berjumlah 29 buah.
2. Design
Karakteristik LKS bernuansa PBL telah dirancang sesuai dengan yang dibutuhkan. LKS ini terdiri dari sebagai berikut cover, kata pengantar, daftar isi, kompetensi
inti dan kompetensi dasar, indikator pencapaian kompetensi dasar, judul, identitas dan tujuan pembelajaran, materi ajar, langkah-langkah PBL, evaluasi, dan daftar pustaka.
3. Develop
Tahap develop ini bertujuan untuk menghasilkan modul yang valid dan praktis.
Tahap ini terdiri dari.
a. Validitas LKS yang divalidasi oleh Dosen dan Guru
Uji validitas LKS yang dilakukan oleh validator meliputi empat aspek penilaian, yaitu kelayakan, kebahasaan, penyajian dan kegrafikan. Pada tahap validasi ini melibatkan lima validator yang terdiri dari tiga orang dosen STKIP PGRI Sumatera Barat dan dua orang guru Biologi SMA Negeri 2 Bayang. Hasil dari analisis uji validasi oleh validator dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini
Tabel 1. Hasil Validasi LKS oleh Validator No Aspek
Penilaian
Validator
Jumlah Nilai Validitas (%) Kriteria 1 2 3 4 5
1 Kelayakan 20 19 19 23 22 103 85,83 % Sangat Valid
2 Kebahasaan 18 16 16 18 18 86 86,00 % Sangat Valid
3 Penyajian 31 33 31 35 35 165 82,50 % Sangat Valid
4 Kegrafikan 15 18 20 18 18 89 89,00 % Sangat Valid
Total Nilai Validitas (%) 343,33 % Sangat
Valid Rata-rata Nilai Validitas (%) 85,83 %
Hasil validasi LKS yang ditampilkan pada Tabel 1 di atas menunjukkan bahwa penilaian LKS berada pada kriteria 82,50% - 89,00%. Nilai rata-rata validasi LKS oleh validator sebesar 85,83% dengan kategori sangat valid. Hal ini berarti LKS yang dihasilkan sudah sangat valid dan dapat digunakan setelah dilakukan beberapa revisi ringan.
Hasil analisis data uji validasi menyatakan mulai dari design LKS yang bernuansa PBL yang dikembangkan memiliki nilai rata-rata validitas sebesar 85,83% dengan kriteria sangat valid. Uji validitas ini dilakukan untuk memeriksa kesesuaian dari aspek kelayakan, kebahasaan, penyajian dan kegrafikan.
Aspek kelayakan pada LKS ini termasuk kedalam kriteria sangat valid dengan nilai rata-rata 85,83%. LKS yang sudah dikembangkan sudah memenuhi syarat dikarenakan materi telah sesuai dengan komponen kelayakan isi LKS. Hal ini terlihat dari materi sudah mengacu pada kurikulum.
LKS yang dibuat juga sudah sesuai dengan kebutuhan bahan ajar. LKS yang dibuat sudah sesuai dengan KI, KD dan kebutuhan siswa.
Menurut Prastowo (2011: 269) lembar kegiatan siswa (student work sheet) berisi tugas yang harus dikerjakan oleh siswa. Lembar kegiatan siswa biasanya berupa petunjuk atau langkah- langkah untuk menyelesaikan suatu tugas.
Suatu tugas yang diperintahkan harus jelas kompetensi dasar yang akan dicapai. LKS
merupakan materi ajar yang sudah dikemas sedemikian rupa sehingga siswa diharapkan dapat mempelajari materi ajar tersebut mandiri.
Dalam LKS, siswa akan mendapatkan materi, ringkasan, dan tugas yang berkaitan dengan materi. Selain itu, dalam LKS siswa dapat menemukan arahan yang terstruktur untuk memahami materi yang diberikan. Dalam LKS, siswa pada saat yang bersamaan diberi materi dan tugas yang berkaitan dengan materi tersebut.
Aspek kebahasaan LKS ini termasuk kedalam kriteria sangat valid dengan nilai rata- rata 86,00%. Hal ini dikarenakan LKS sudah menggunakan kaidah Bahasa Indonesia yang benar. Bentuk huruf yang digunakan adalah Franklin Gothic Book dengan ukuran 12.
Susunan kalimat tidak menimbulkan kerancuan bagi siswa. Bahasa yang digunakan mudah dipahami siswa. Bentuk dan ukuran huruf mudah dibaca siswa. Sehingga informasi yang disampaikan dalam LKS sangat jelas.
Dampaknya, siswa mampu belajar mandiri di sekolah, sehingga peran guru dalam proses pembelajaran sebagai facilitator yang akan membimbing siswa dalam proses pembelajaran student center. Hal ini sejalan dengan pendapat Prastowo (2011: 270) tentang fungsi LKS dalam pembelajaran sebagai berikut 1) Lembar kerja siswa sebagai bahan ajar yang bisa meminimalkan peran pendidik namun lebih mengaktifkan siswa. 2) Lembar kerja siswa sebagai bahan ajar yang akan mempermudah siswa untuk memahami materi yang diberikan.
3) Lembar kerja siswa sebagai bahan ajar yang ringkas dan kaya tugas untuk berlatih. 4) Lembar kerja siswa memudahkan pelaksanaan pengajaran kepada siswa.
Komponen penyajian pada LKS ini juga dinyatakan sangat valid dengan nilai yaitu 82,50%. Hal ini dikarenakan LKS memuat indikator dan tujuan pembelajaran disetiap pertemuan. Urutan penyajian LKS sudah sesuai dengan indikator. LKS memuat rincian materi yang lengkap. Ilustrasi gambar yang disajikan di dalam LKS juga relevan dengan materi. LKS juga sudah bernuansa PBL dikarenakan memuat 5 tahapan model PBL seperti mengarahkan sudah siswa untuk berfikir sebagai pemecah masalah terhadap masalah yang disajikan pada fase 1 (Mengarahkan
siswa kepada masalah). Mengarahkan masalah sesuai dengan karakteristik materi. LKS memuat kegiatan Mempersiapkan siswa untuk belajar (fase 2). LKS memuat kegiatan Membantu penelitian mandiri dan kelompok (fase 3). LKS memuat kegiatan Mengembangkan dan menyajikan artefak dan benda pajang (fase 4). LKS memuat kegiatan Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan permasalahan (fase 5). LKS bernuansa PBL ini dapat melibatkan siswa secara aktif dalam memecahkan masalah dan menuntut keterampilan berfikir kritis, logis dan sikap ilmiah. Menurut Trianto (2011: 96) terdapat kelebihan dan kekurangan dari model PBL. Kelebihannya adalah realistik dengan kehidupan manusia, konsep sesuai dengan kebutuhan siswa, memupuk sifat inkuiri siswa, retensi konsep jadi kuat dan memupuk kemampuan problem solving. Kekurangannya adalah persiapan pembelajaran (alat, problem, konsep) yang kompleks, sulitnya mencari problem yang relevan, sering terjadi kesalahan konsep pada siswa dan model ini memerlukan waktu yang cukup banyak dalam proses pembelajaran.
Komponen kegrafikan pada LKS ini juga dinyatakan sangat valid dengan nilai yaitu 89,00%. Hal ini dikarenakan bentuk dan ukuran huruf serasi dan menarik. Tampilan cover menarik dikarenakan terdapat gambar yang menarik dan relevan dengan materi. Tata letak isi dalam LKS juga sudah menarik.
Gambar yang sesuai dengan materi yang akan disampaikan sesuai dengan karakteristik siswa serta LKS ini sudah memiliki penampilan dan pemilihan warna yang menarik. Hal ini sesuai dengan pendapat Prastowo (2011: 124) yang menyatakan bahwa penyajian gambar-gambar sangat dibutuhkan untuk mendukung dan memperjelas isi materi, karena disamping akan memperjelas uraian juga dapat menambah daya tarik dan mengurangi rasa kebosanan siswa untuk mempelajarinya. Pemilihan gambar juga harus dipertimbangkan, karena gambar yang disajikan belum tentu sesuai dengan materi dan belum tentu dapat meningkatkan pemahaman siswa.
Selanjutnya, pemilihan warna yang ada pada LKS yang dikembangkan ini sesuai dengan siswa, diantaranya warna jingga, biru,
dan merah. Makna warna jingga menurut Kasiyan (2013) adalah memberi kesan ceria, hangat, bahagia, penuh energi dan membangkitkan semangat. Jenis tulisan yang digunakan dalam LKS yang dikembangkan adalah Franklin Gothic Book dengan ukuran 12.
Berdasarkan hasil validasi di atas menunjukkan bahwa LKS yang bernuansa PBL pada materi Protista yang dihasilkan sudah dinyatakan sangat valid. Selanjutnya dilakukan uji praktikalitas pada siswa kelas X8 yang berjumlah 30 orang dan kepada dua orang guru biologi SMA Negeri 2 Bayang. Uji praktikalitas yang dilakukan mencakup tiga
aspek yaitu kemudahan penggunaan, efektifitas waktu pembelajaran dan manfaat penggunaan.
Setelah uji validasi dilakukan, maka dilakukan revisi LKS untuk memperoleh LKS yang valid dan kemudian dapat digunakan untuk uji praktikalitas LKS selanjutnya.
b. Praktikalitas LKS oleh Guru dan Siswa Uji praktikalitas LKS dilakukan oleh dua orang guru Biologi dan 30 orang siswa kelas X8 SMA N 2 Bayang pada tanggal 04 Mei 2016. Hasil praktikalitas LKS yang dilakukan oleh guru dapat dilihat pada Tabel 2 seperti berikut ini.
Tabel 2. Hasil Praktikalitas LKS oleh Guru
No Variabel Praktikalitas Nilai Praktikalitas (%) Kriteria 1. Kemudahan
Penggunaan 90 % Sangat Praktis
2. Efektifitas Waktu
Pembelajaran 81,25 % Sangat Praktis
3. Manfaat 91,07 % Sangat Praktis
Total nilai praktikalitas (%) 262,32 %
Sangat Praktis Rata-rata nilai praktikalitas
(%) 87,44 %
Berdasarkan Tabel 2 di atas dapat dilihat bahwa rata-rata penilaian terhadap tingkat kepraktisan LKS oleh guru adalah sebesar 87,44% yang berarti bahwa LKS yang dihasilkan memiliki kriteria sangat praktis.
Analisis data hasil uji praktikalitas oleh guru kelas X SMA Negeri 2 Bayang menunjukkan bahwa LKS bernuansa PBL pada materi Protista yang dihasilkan memenuhi kriteria sangat praktis untuk digunakan karena berada pada kriteria 81,25%-91,07% dengan nilai rata-rata praktikalitas sebesar 87,44%. Hal ini menyatakan bahwa LKS bernuansa PBL ini sangat praktis digunakan dari kemudahan penggunaan, efektifitas waktu pembelajaran
dan manfaat penggunaan. Hal ini sesuai dengan pendapat Prastowo (2011: 271) bahwa LKS memilik banyak manfaat dalam proses pembelajaran. Melalui LKS ini kita mendapatkan kesempatan untuk memancing siswa agar secara aktif terlibat dengan materi yang dibahas. LKS dapat meningkatkan kemampuan peserta didik untuk belajar sendiri tanpa tergantung pada guru dan peranan guru hanyalah sebagai fasilitator.
Uji praktikalitas yang diujicobakan kepada 30 orang siswa kelas X8 SMA Negeri 2 Bayang, diperoleh data hasil uji praktikalitas seperti pada Tabel 3 seperti berikut ini.
Tabel 3. Hasil Praktikalitas LKS oleh Siswa
No Variabel Praktikalitas Nilai Praktikalitas (%) Kriteria
1. Kemudahan Penggunaan 81,66 % Sangat Praktis
2. Efektifitas Waktu Pembelajaran 81,25 % Sangat Praktis
3. Manfaat 82,70 % Sangat Praktis
Total nilai praktikalitas (%) 245,61 %
Sangat Praktis Rata-rata nilai praktikalitas (%) 81,87 %
Pada Tabel 3 di atas dapat dilihat bahwa hasil uji praktikalitas oleh siswa berada pada kriteria 81,25%-82,70% dengan nilai rata-rata praktikalitas sebesar 81,87%. Hal ini berarti menurut siswa LKS yang dihasilkan berada pada kriteria sangat praktis.
Analisis data hasil uji coba praktikalitas oleh siswa menunjukkan bahwa LKS yang dihasilkan memenuhi kriteria sangat praktis untuk digunakan karena berada pada kriteria 81,25%-82,70%. Hal ini terlihat dari hasil kriteria praktikalitas LKS dengan nilai rata-rata praktikalitas sebesar 81,87% yang ditinjau dari tiga syarat praktikalitas yaitu, kemudahan penggunaan, efektifitas waktu pembelajaran dan manfaat penggunaan.
Ditinjau dari syarat kemudahan penggunaan ini memenuhi kriteria sangat praktis dengan nilai rata-rata 81,66%. Hal tersebut menunjukan bahwa LKS memiliki ukuran yang praktis dan mudah dibawa. Isi LKS secara keseluruhan mudah dipahami.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa LKS ini sesuai dari aspek kemudahan penggunaan bagi siswa. Dilihat dari efektivitas waktu pembelajaran, LKS bernuansa PBL ini memenuhi kriteria sangat praktis dengan nilai rata-rata praktikalitas yaitu 81,25%. Hal ini menunjukkan bahwa dengan menggunakan LKS ini, waktu pembelajaran menjadi lebih efektif bagi siswa. Selain itu, siswa dapat belajar sesuai dengan kecepatan belajarnya masing-masing. Sehingga, LKS bernuansa PBL ini dapat meningkatkan efektivitas dan aktivitas siswa. Dilihat dari segi manfaat penggunaan, LKS ini memenuhi kriteria sangat praktis dengan nilai pratikalitas 82,70%. Hal ini menunjukkan bahwa LKS membantu siswa memahami konsep. LKS juga dapat membantu siswa untuk memecahkan masalah yang terjadi pada kehidupan sehari-hari. Adanya soal-soal latihan pada LKS membantu siswa dalam belajar siswa. LKS juga dapat meningkatkan minat saya untuk belajar. Dampaknya siswa senang belajar menggunakan LKS bernuansa PBL sehingga kompetensi belajar siswa meningkat. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Saidah (2014: 553) yaitu pengembangan LKS IPA terpadu berbasis PBL berpengaruh positif terhadap hasil belajar siswa. Hal ini karena pengembangan LKS IPA
terpadu berbasis PBL dengan segala keunggulan yang dimiliki dapat diterapkan dengan baik dalam pembelajaran. Keunggulan tersebut antara lain PBL mampu meningkatkan kemampuan berpikir siswa. PBL dapat membuat siswa lebih aktif dalam pembelajaran.
Siswa berdiskusi dengan teman sekelompok untuk mencari pemecahan masalah yang disajikan. Adanya kombinasi pengembangan LKS IPA terpadu dengan PBL dalam pembelajaran yang dilakukan membuat kegiatan belajar siswa lebih bermakna sehingga hasil belajarnya maksimal.
Berdasarkan keseluruhan hasil uji validitas dan hasil uji praktikalitas terhadap LKS bernuansa PBL yang dihasilkan, maka dapat diketahui bahwa LKS bernuansa PBL ini sudah valid dan praktis untuk digunakan sebagai salah satu bahan ajar. Hal ini dapat menjawab permasalahan yang dikemukakan pada latar belakang masalah penelitian ini.
Hasil dari penelitian LKS bernuansa PBL pada materi Protista yang sudah dilakukan diharapkan dapat mendorong motivasi guru untuk mampu meningkatkan perannya sebagai fasilitator dan mampu mengembangkan kompetensinya untuk merancang dan membuat alternatif sumber belajar yang tepat dalam melaksanakan proses pembelajaran di sekolah.
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian terhadap pengembangan LKS yang telah dilakukan, maka diperoleh suatu kesimpulan bahwa telah dihasilkan LKS bernuansa PBL pada materi Protista dengan nilai rata-rata validasi oleh validator sebesar 85,83% dengan kategori sangat valid. Nilai rata-rata tingkat kepraktisan LKS PBL oleh guru adalah sebesar 87,44%, dan oleh siswa sebesar 81,87% yang berarti keduanya menyatakan bahwa LKS bernuansa PBL yang dihasilkan berada pada kriteria sangat praktis. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa LKS bernuansa PBL pada materi Protista yang dihasilkan memenuhi kriteria sangat valid dan sangat praktis bagi guru dan siswa.
Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, maka peneliti menyarankan beberapa hal sebagai berikut. (1) LKS yang
bernuansa PBL dapat digunakan sebagai salah satu bahan ajar alternatif bagi guru dan siswa dalam proses pembelajaran biologi khususnya pada materi Protista untuk siswa kelas X SMA.
(2) Guru Biologi dan peneliti lainnya dapat melakukan penelitian tentang pengembangan LKS yang bernuansa PBL pada materi Protista dapat membantu siswa untuk memahami dan menguasai konsep-konsep biologi.
DAFTAR PUSTAKA
Depdiknas. 2008. Pedoman Umum Pengembangan Bahan Ajar Sekolah Menengah ke Atas.
Kasiyan. 2013. Nirmana Warna.
staff.uny.ac.id/. Diakses 22 Mei 2016.
Lufri. 2007. Strategi Pembelajaran Biologi.
Padang UNP Press.
Prastowo, Andi. 2011. Pegembangan Bahan Ajar Tematik Tinjauan Teorotis dan Praktik. Jogjakarta: Kencana Press.
Saidah, Naila. 2014. “Pengembangan LKS IPA Terpadu Berbasis Problem Based Learning Melalui Lesson Study Tema Ekosistem dan Pelestarian Lingkungan”. Jurnal. Vol 3 (2): 549- 556.
Trianto. 2011. Model Pembelajaran Terpadu (Konsep, Strategi, dan Implementasinya dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Jakarta:
Bumi Aksara.
Yusmita, Susi. 2013. Pengembangan LKS Bergambar Disertai Peta Konsep Pada Materi Protista Kelas X SMA.
Skripsi. Padang: STKIP.