• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengenalan Psikologi di Dunia Industri

N/A
N/A
Achmad Syafik

Academic year: 2024

Membagikan " Pengenalan Psikologi di Dunia Industri"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

PSIKOLOGI INDUSTRI

Dosen Pengampu :

Rahmi Wardani, SKM, MKM.

DISUSUN OLEH KELOMPOK 3:

Fhidiana Sari 0801222280

Munanda Andin 0801223355

Salsabila Nazuha 0801223304

Karfita Adha 0801221071

Fitri Ayu Ramadhani 0801221070

Juhri Panjaitan 0801221073

Elisa Apriani 0801221066

PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SUMATERA UTARA MEDAN

2023

(2)

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta karunia-Nya kepada kita semua sehingga pemakalah dapat menyelesaikan makalah ini dengan sebaik-baiknya.

Sholawat serta salam marilah kita hadiahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw. Sebagai suri tauladan umat Islam dan semoga kita mendapatkan syafaatnya kelak pada hari akhir.

Makalah ini dibuat dari hasil pembelajaran pemakalah terhadap referensi- referensi yang pemakalah dapatkan. Tujuan penulisan makalah ini, agar dapat memahami tentang “Psikologi Industri”

Penyusunan makalah ini merupakan salah satu syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah Ergonomi.

Dalam penyusunan, penulisan dan semua proses yang menyangkut terselesaikan makalah ini, pemakalah tidak bekerja sendiri.

Banyak pihak yang mendukung kesuksesan makalah ini. Untuk itu, pemakalah ingin mengucapkan terima kasih kepada Ibu Rahmi Wardani, SKM, MKM, sebagai dosen mata kuliah Ergonomi dan Keluarga yang telah memberikan banyak bantuan arahan dan petunjuk yang sangat jelas sehingga mempermudahkan pemakalah dalam menyelesaikan tugas ini. Terima kasih juga kepada teman-teman seperjuangan yang telah meluangkan waktunya untuk dapat berdiskusi hingga selesailah makalah ini.

Pemakalah menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna baik cara penulisan maupun isinya. Oleh karena itu, diharapkan kepada pembaca dapat memberikan kritik dan saran sehat demi perbaikan makalah selanjutnya Akhir kata pemakalah berharap agar makalah ini dapat menjadi berkat dan bermanfaat bagi kita semua.

Aamin.

Medan, 02 Oktober 2023

(3)

Kelompok 3

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...i

DAFTAR ISI...ii

BAB I PENDAHULUAN...1

A. Latar Belakang...1

B. Rumusan Masalah...2

C. Tujuan Penulisan...2

BAB II PEMBAHASAN...3

A. Deskripsi Psikologi Industri dalam Ergonomi...3

B. Pengukuran dan Evaluasi Psikologi Industri dalam Ergonomi...5

C. Peran Ergonomi dalam Meningkatkan Kualitas Kerja...7

D. Dampak Psikologi Industri dalam Keamanan Kerja...8

BAB III PENUTUP...12

A. Kesimpulan...12

B. Saran...12

DAFTAR PUSTAKA...13

(4)
(5)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam era modern, tempat kerja telah mengalami perubahan signifikan dalam hal teknologi, tugas, dan tuntutan. Semua ini dapat memiliki dampak besar pada produktivitas, kesejahteraan, dan keselamatan pekerja. Oleh karena itu, penting untuk memahami hubungan antara psikologi industri dan ergonomi untuk mencapai lingkungan kerja yang lebih efisien dan berorientasi pada kesejahteraan pekerja.

Pada sebuah perusahaan manufaktur, sebuah studi kasus menunjukkan bahwa penataan ulang ruang kerja dengan memperhatikan prinsip ergonomi dan psikologi industri dapat meningkatkan produktivitas hingga 15%. Pekerja merasa lebih nyaman dan fokus, yang mengarah pada peningkatan kualitas kerja.

Di sebuah lembaga keuangan, survei kepuasan kerja menunjukkan tingkat stres yang tinggi di kalangan pekerja. Setelah menerapkan program kesejahteraan yang berbasis pada psikologi industri, ada penurunan signifikan dalam tingkat stres. Ini juga dikaitkan dengan peningkatan produktivitas dan kualitas layanan.

Sebuah perusahaan konstruksi melaporkan penurunan kecelakaan kerja setelah menggabungkan pelatihan psikologi industri dalam program keselamatan [ CITATION Wid21 \l 2057 ].1 Pekerja menjadi lebih sadar akan risiko dan lebih berhati-hati dalam melaksanakan tugas mereka. Di industri layanan pelanggan, pelatihan psikologi industri membantu agen layanan pelanggan memahami cara mengatasi konflik dengan pelanggan secara efektif. Ini mengarah pada peningkatan kepuasan pelanggan dan retensi.

Dari kasus-kasus di atas, kita dapat melihat bahwa penggunaan psikologi industri dalam konteks ergonomi tidak hanya menguntungkan pekerja dengan meningkatkan kesejahteraan mereka, tetapi juga berdampak positif pada produktivitas, keselamatan, dan kepuasan pelanggan. Oleh karena itu, penting

1 Widodo, J. (2021). Ergonomi: Dasar-Dasar Ergonomi & Aplikasinya. Andi Offset.

(6)

untuk mempertimbangkan integrasi psikologi industri dalam perancangan lingkungan kerja untuk mencapai hasil yang optimal bagi organisasi dan pekerjanya.

B. Rumusan Masalah

1. Apa Pengertian Tentang Psikologi Industri?

2. Bagaimana deskripsi Psikologi Industri dalam Ergonomi?

3. Bagaimana Pengukuran dan Evaluasi Psikologi Industri dalam Ergonomi?

4. Bagaimana Peran Ergonomi dalam Meningkatkan kualtias kerja?

5. Apa saja dampak Psikologi Industri terhadap keamanan kerja?

C. Tujuan Penulisan

1. Untuk membantu pembaca memahami konsep dasar psikologi industri dan bagaimana itu berkaitan dengan ergonomi.

2. Untuk mendiskusikan bagaimana ergonomi dapat diterapkan dalam konteks psikologi industri untuk meningkatkan efisiensi dan kesejahteraan kerja.

3. Untuk mengukur respons pekerja terhadap lingkungan kerja.

4. Untuk membahas bagaimana penerapan prinsip-prinsip psikologi industri dalam ergonomi dapat mempengaruhi kualitas pekerjaan dan produktivitas.

5. Untuk mendiskusikan bagaimana psikologi industri dapat digunakan untuk mengidentifikasi risiko dan meningkatkan keamanan kerja.

(7)

BAB II PEMBAHASAN

A. Deskripsi Psikologi Industri dalam Ergonomi 1. Definisi Psikologi Industri

Psikologi Industri, juga dikenal sebagai Psikologi Organisasi atau Psikologi Kerja, adalah cabang dari ilmu psikologi yang fokus pada penerapan prinsip-prinsip psikologi dalam konteks organisasi dan lingkungan kerja [ CITATION Car19 \l 2057 ].2 Salah satu ahli psikologi industri terkenal, Edwin A. Fleishman, mendefinisikannya sebagai "studi ilmiah mengenai individu di tempat kerja."

2. Psikologi Industri dalam Memahami Respons Pekerja

Dalam konteks ini, Psikologi Industri memainkan peran kunci dalam memahami respons pekerja terhadap lingkungan kerja. Ini melibatkan penggunaan berbagai metode dan teknik untuk menganalisis perilaku, sikap, dan performa individu di dalam organisasi atau tempat kerja [ CITATION Kar18 \l 2057 ].3 Dengan memahami cara individu merespons faktor-faktor seperti lingkungan fisik, sosial, dan tugas kerja, organisasi dapat mengambil tindakan yang lebih efektif untuk meningkatkan produktivitas, kesejahteraan, dan efisiensi kerja.

Penelitian dan aplikasi psikologi industri dalam hal ini termasuk penilaian kepuasan kerja, analisis tugas, pengukuran stres kerja, evaluasi pelatihan, dan desain organisasi yang berfokus pada manusia. Melalui pengumpulan data dan analisis, psikologi industri membantu organisasi untuk memahami preferensi, kebutuhan, dan tantangan yang dihadapi oleh pekerja.

Hal ini, pada gilirannya, memungkinkan organisasi untuk mengadaptasi kebijakan, prosedur, dan lingkungan kerja agar sesuai dengan karakteristik

2 Carayon, P., & Gurses, A. P. (2019). Human factors and ergonomics as a patient safety practice.

BMJ Quality & Safety, 28(11), 895-898.

3 Karwowski, W. (Ed.). (2018). The discipline of ergonomics in an ageing world. CRC Press.

(8)

psikologis pekerja, sehingga menciptakan lingkungan kerja yang lebih produktif, nyaman, dan efisien [ CITATION Han18 \l 2057 ].4

3. Konsep dasar Ergonomi dan Peran Psikologi dalam Industri

Konsep dasar ergonomi adalah tentang merancang dan mengatur lingkungan kerja serta peralatan agar sesuai dengan karakteristik fisik dan psikologis manusia [ CITATION Zin18 \l 2057 ].5 Ergonomi bertujuan untuk menciptakan kondisi kerja yang nyaman, efisien, dan aman bagi pekerja.

Dalam konteks Psikologi Industri, ergonomi memiliki peran penting seperti:

a. Ergonomi menekankan pentingnya merancang produk, peralatan, dan lingkungan kerja dengan mempertimbangkan kemampuan fisik, mental, dan emosional manusia. Ini mencakup aspek-aspek seperti ukuran tubuh manusia, gerakan tubuh, dan persepsi sensorik.

b. Ergonomi bertujuan untuk menciptakan kondisi kerja yang nyaman dan mengurangi risiko cedera atau penyakit yang disebabkan oleh bekerja dalam posisi yang tidak nyaman atau menggunakan alat yang tidak sesuai.

c. Ergonomi dapat meningkatkan produktivitas dengan mengoptimalkan desain tugas dan alat agar cocok dengan kemampuan dan preferensi pekerja.

d. Ergonomi juga berperan dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman dengan mengidentifikasi potensi bahaya fisik atau mental dan merancang cara untuk menguranginya.

Ergonomi memiliki peran penting dalam Psikologi Industri karena:

a. Ergonomi membantu menciptakan lingkungan kerja yang memperhatikan kesejahteraan psikologis dan fisik pekerja.

b. Dengan merancang tugas dan alat kerja yang sesuai dengan kemampuan dan preferensi pekerja, ergonomi dapat meningkatkan efisiensi kerja dan produktivitas.

4 Handayani, R. (2018). Ergonomi dan Perancangan Kerja: Teori dan Aplikasi. PT Penerbit Bumi Aksara.

(9)

c. Ergonomi membantu mengurangi stres kerja dengan menghilangkan faktor-faktor yang menyebabkan ketegangan fisik atau mental.

d. Ergonomi berkontribusi pada keselamatan kerja dengan mengidentifikasi dan mengurangi risiko cedera atau kecelakaan yang disebabkan oleh desain kerja yang buruk atau penggunaan alat yang tidak sesuai.

e. Ergonomi membantu Psikologi Industri dalam memahami bagaimana pekerja merespons lingkungan kerja yang dirancang sesuai dengan prinsip- prinsip ergonomi.

B. Pengukuran dan Evaluasi Psikologi Industri dalam Ergonomi Metode dalam Mengukur Kinerja dan Kesejahteraan Pekerja

Dalam psikologi industri, ada berbagai alat dan metode yang digunakan untuk mengukur kinerja dan kesejahteraan pekerja. Berikut adalah beberapa contoh alat dan metode yang umum digunakan:

1. Survei Kepuasan Kerja: Survei ini digunakan untuk mengukur tingkat kepuasan pekerja terhadap pekerjaan dan lingkungan kerja mereka. Pertanyaan dalam survei ini biasanya mencakup aspek-aspek seperti gaji, relasi sosial, beban kerja, dan peluang pengembangan.

2. Pengukuran Kinerja Kerja: Ini mencakup berbagai metode, seperti:

 Evaluasi Atasan: Atasan langsung pekerja memberikan penilaian tentang kinerja mereka. Metode ini dapat digunakan untuk mengukur kinerja individu dan memberikan umpan balik yang berguna.

 Pengukuran Produktivitas: Data produktivitas, seperti jumlah pekerjaan yang diselesaikan atau hasil kerja lainnya, digunakan untuk mengukur kinerja.

 Indikator Kinerja Kunci (Key Performance Indicators - KPI):

KPI digunakan untuk mengukur kinerja berdasarkan target dan sasaran yang telah ditentukan sebelumnya.

(10)

3. Observasi Kerja: Peneliti atau supervisor dapat mengamati langsung pekerja saat mereka menjalankan tugas mereka. Ini dapat memberikan wawasan tentang efisiensi kerja dan penilaian subjektif tentang kinerja.

4. Wawancara: Wawancara dengan pekerja dapat digunakan untuk mendapatkan pemahaman mendalam tentang bagaimana mereka merasa terkait dengan pekerjaan dan lingkungan kerja. Wawancara ini dapat mencakup pertanyaan tentang kepuasan, stres, motivasi, dan harapan.

5. Pengukuran Stres Kerja: Alat pengukuran stres kerja, seperti kuesioner stres atau tes psikologis, digunakan untuk mengukur tingkat stres yang dialami oleh pekerja [ CITATION Wid20 \l 2057 ].6 Ini membantu dalam mengidentifikasi sumber stres dan potensi dampaknya terhadap kesejahteraan.

6. Evaluasi Kesejahteraan Psikologis: Alat-alat seperti skala depresi atau tes kebahagiaan dapat digunakan untuk mengukur aspek-aspek kesejahteraan psikologis pekerja. Ini membantu dalam memahami tingkat kesejahteraan mental.

7. Metode Statistik dan Analisis Data: Psikolog industri sering menggunakan analisis statistik untuk mengolah data yang diperoleh dari berbagai alat dan metode. Ini membantu dalam mengidentifikasi tren, pola, dan hubungan dalam data yang dapat memberikan wawasan penting tentang kinerja dan kesejahteraan pekerja.

8. Kuesioner dan Skala: Psikolog industri dapat merancang kuesioner khusus atau skala pengukuran untuk mengukur variabel-variabel tertentu yang relevan dengan kinerja dan kesejahteraan pekerja.

Penggunaan alat dan metode ini membantu dalam mengukur kinerja dan kesejahteraan pekerja secara objektif dan subjektif. Hasil dari pengukuran ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi masalah dan peluang perbaikan di

6 Widyanti, A., & Adi, D. T. (2020). Pengaruh Beban Kerja Terhadap Stres Kerja Karyawan

(11)

lingkungan kerja, yang pada gilirannya dapat meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan pekerja.

C. Peran Ergonomi dalam Meningkatkan Kualitas Kerja

Peran Ergonomi Membantu Mengoptimalkan Lingkungan Kerja Sesuai Karakteristik Psikologis Pekerja

Ergonomi berperan penting dalam membantu mengoptimalkan lingkungan kerja agar sesuai dengan karakteristik psikologis pekerja dengan mengacu pada prinsip-prinsip berikut:

1. Penyesuaian Pekerjaan dengan Kemampuan dan Preferensi Pekerja:

Ergonomi membantu mengidentifikasi kemampuan fisik dan psikologis individu, serta preferensi mereka terhadap jenis tugas dan lingkungan kerja tertentu. Dengan memahami karakteristik ini, pekerjaan dapat dirancang sedemikian rupa sehingga cocok dengan kemampuan dan minat pekerja.

Misalnya, tugas yang memerlukan kreativitas dapat diberikan kepada individu yang memiliki minat dalam hal itu [ CITATION Gop18 \l 2057 ].7

2. Desain Tugas yang Bervariasi: Ergonomi mendorong variasi dalam tugas-tugas pekerjaan untuk menghindari kebosanan dan kejenuhan yang dapat mempengaruhi kesejahteraan psikologis pekerja. Pekerjaan yang bervariasi dapat memberikan stimulasi mental yang lebih baik dan menjaga motivasi pekerja tetap tinggi.

3. Tata Letak yang Efisien: Ergonomi juga berfokus pada tata letak fisik tempat kerja. Ini mencakup penempatan peralatan dan bahan yang sesuai agar pekerja dapat dengan mudah mengaksesnya tanpa merasa stres atau lelah. Tata letak yang efisien juga dapat mengurangi gangguan dan meningkatkan konsentrasi.

4. Pencahayaan dan Kualitas Udara: Ergonomi juga mencakup pencahayaan yang memadai dan kualitas udara di lingkungan kerja.

7 Gopher, D., & Donchin, Y. (2018). Workload: An examination of the concept. In Advances in Psychology (Vol. 52, pp. 273-283). Elsevier.

(12)

Cahaya yang baik dan udara yang bersih dapat memengaruhi suasana hati, konsentrasi, dan produktivitas pekerja.

5. Manajemen Waktu dan Beban Kerja: Ergonomi membantu dalam mengatur waktu dan beban kerja yang sesuai dengan kapasitas psikologis pekerja. Menghindari penumpukan tugas berat atau tekanan yang berlebihan dapat membantu menjaga kesejahteraan mental.

6. Fasilitas Kesejahteraan dan Rekreasi: Fasilitas seperti ruang istirahat, tempat makan, atau ruang rekreasi yang nyaman dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis pekerja. Ini memberikan tempat bagi pekerja untuk beristirahat dan merelaksasi diri selama jam kerja [ CITATION Sur19 \l 2057 ].8

Dengan mempertimbangkan karakteristik psikologis pekerja dalam perancangan lingkungan kerja, organisasi dapat menciptakan tempat kerja yang lebih mendukung kesejahteraan mental dan emosional pekerja. Hal ini pada gilirannya dapat meningkatkan motivasi, produktivitas, dan kepuasan kerja pekerja, serta mengurangi stres dan ketegangan yang mungkin timbul akibat ketidakcocokan antara karakteristik individu dan lingkungan kerja.

D. Dampak Psikologi Industri dalam Keamanan Kerja 1. Faktor-faktor Stres dan Risiko dalam Lingkungan Kerja

Psikologi industri dapat membantu mengidentifikasi faktor-faktor stres dan risiko dalam lingkungan kerja melalui berbagai metode dan pendekatan yang melibatkan pemahaman perilaku dan psikologi pekerja.

Psikolog industri dapat merancang survei atau kuesioner yang digunakan untuk menilai tingkat stres yang dialami oleh pekerja. Pertanyaan dalam survei ini biasanya mencakup aspek-aspek yang berpotensi menjadi sumber stres, seperti beban kerja yang berlebihan, tekanan waktu, konflik antarpekerja, dan dukungan

8 Suryoputro, M. R. (2019). Ergonomi dan Produktivitas Kerja: Sebuah Kajian Literatur. Jurnal

(13)

sosial di tempat kerja [ CITATION Wah17 \l 2057 ].9 Hasil dari survei ini dapat membantu mengidentifikasi faktor-faktor spesifik yang menyebabkan stres.

Psikolog industri dapat melakukan wawancara dengan pekerja secara individu untuk mendapatkan pemahaman mendalam tentang pengalaman mereka di lingkungan kerja. Wawancara ini dapat membantu mengungkap masalah stres yang mungkin tidak terdeteksi melalui survei atau pengamatan.

Psikolog industri dapat melakukan pengamatan langsung terhadap perilaku pekerja di lingkungan kerja. Ini mencakup pengamatan terhadap interaksi sosial, cara pekerja mengelola stres, dan tanggapan mereka terhadap situasi tertentu.

Pengamatan ini dapat memberikan wawasan tentang bagaimana faktor-faktor tertentu memengaruhi tingkat stres [ CITATION Pra19 \l 2057 ].10

Psikolog industri dapat melakukan analisis tugas dan lingkungan kerja untuk mengidentifikasi aspek-aspek yang mungkin menyebabkan stres. Ini mencakup penilaian terhadap tingkat kompleksitas tugas, tekanan waktu, beban kerja fisik, dan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi kesejahteraan pekerja.

Psikolog industri menggunakan analisis data statistik untuk mengidentifikasi hubungan antara variabel-variabel tertentu (seperti faktor-faktor kerja) dan tingkat stres. Ini membantu dalam menentukan faktor-faktor yang paling berkontribusi terhadap stres.

2. Penanganan Stres dan Risiko untuk Meningkatkan Keamanan Kerja Penanganan stres dan risiko di lingkungan kerja dapat memiliki dampak positif yang signifikan pada keamanan kerja. Berikut adalah cara penanganan stres dan risiko dapat meningkatkan keamanan kerja:

1. Konsentrasi yang Lebih Baik: Pekerja yang tidak terganggu oleh stres berlebihan lebih cenderung memiliki konsentrasi yang lebih baik. Mereka

9 Wahyuni, S. I. (2017). Pengaruh Faktor Psikologis terhadap Kinerja Karyawan di PT XYZ.

Jurnal Manajemen, 13(2), 150-157.

10 Prawitasari, J. E. (2019). Psikologi Industri dan Organisasi. Salemba Humanika.

(14)

lebih fokus pada pekerjaan mereka dan kurang mungkin membuat kesalahan yang dapat mengakibatkan kecelakaan atau cedera di tempat kerja.

2. Penurunan Risiko Kesalahan Manusia: Stres yang tinggi dapat mempengaruhi kemampuan pengambilan keputusan dan reaksi pekerja.

Dengan mengurangi stres, pekerja menjadi lebih mampu merespons situasi darurat atau perubahan tak terduga dengan benar dan efisien, yang dapat menghindari potensi bahaya.

3. Peningkatan Pengawasan dan Pelaporan Keselamatan: Pekerja yang lebih puas dan kurang stres cenderung lebih aktif dalam pengawasan dan pelaporan masalah keselamatan. Mereka lebih mungkin untuk melaporkan situasi berbahaya atau perilaku yang tidak aman, yang memungkinkan perusahaan untuk mengambil tindakan pencegahan lebih awal.

4. Pelatihan Keterampilan Pengelolaan Stres: Organisasi dapat menyediakan pelatihan keterampilan pengelolaan stres kepada pekerjanya. Ini membantu pekerja dalam menghadapi stres secara lebih efektif dan dapat mengurangi dampak negatifnya pada kinerja dan keselamatan.

5. Pemantauan Kesejahteraan Psikologis: Organisasi dapat memantau kesejahteraan psikologis pekerja secara rutin. Jika ada tanda-tanda stres yang tinggi atau tekanan psikologis yang tidak diatasi dengan baik, langkah- langkah dapat diambil untuk memberikan dukungan tambahan, seperti konseling atau program kesejahteraan mental.

6. Perancangan Lingkungan yang Mendukung Keselamatan: Dengan mempertimbangkan faktor-faktor stres dalam perancangan lingkungan kerja, organisasi dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman. Ini mencakup perancangan tugas yang tidak terlalu membebani, pengurangan tekanan waktu yang tidak realistis, dan peningkatan tata letak fisik yang ergonomis.

7. Pengurangan Konflik di Tempat Kerja: Konflik antarpekerja atau dalam tim kerja dapat menciptakan stres yang merusak. Manajemen konflik yang

(15)

efektif dan pembinaan hubungan kerja yang positif dapat mengurangi risiko konflik yang memengaruhi keamanan kerja.

Dengan menerapkan strategi ini, organisasi dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman dan lebih sehat. Pekerja yang merasa lebih nyaman dan kurang stres cenderung lebih waspada terhadap bahaya, lebih siap dalam merespons situasi darurat, dan lebih cenderung mematuhi prosedur keselamatan.

Ini pada gilirannya meningkatkan keamanan kerja secara keseluruhan, mengurangi risiko kecelakaan, dan meningkatkan kesejahteraan pekerja.

(16)

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan

Dalam mata kuliah Ergonomi dengan tema Psikologi Industri, kita telah menjelajahi pentingnya integrasi antara ergonomi dan aspek psikologis dalam merancang lingkungan kerja yang aman, produktif, dan mendukung kesejahteraan pekerja. Ergonomi membantu dalam penyesuaian pekerjaan dengan karakteristik fisik dan psikologis pekerja, serta desain lingkungan yang ergonomis. Di sisi lain, Psikologi Industri memungkinkan kita untuk memahami tanggapan pekerja terhadap lingkungan kerja, mengidentifikasi faktor stres, dan meningkatkan kesejahteraan mereka.

B. Saran

1. Mahasiswa harus memahami prinsip-prinsip dasar ergonomi dan bagaimana mereka dapat diterapkan dalam perancangan tugas, alat, dan lingkungan kerja.

2. Mahasiswa perlu mengembangkan kemampuan untuk menganalisis respons pekerja terhadap lingkungan kerja.

3. Keselamatan di tempat kerja harus selalu menjadi prioritas utama.

4. Mahasiswa harus dihimbau untuk mengintegrasikan pengetahuan dari kedua bidang ini.

5. Melakukan studi kasus dan proyek terapan di tempat kerja nyata dapat memberikan pengalaman praktis dalam mengaplikasikan konsep-konsep ergonomi dan Psikologi Industri.

(17)

DAFTAR PUSTAKA

Carayon, P., & Guerses, A. P. (2019). Human factors and ergonomics as a patient safety practice. BMJ Quality & Safety, 28(11), 895-898.

Gopher, D., & Donchin, Y. (2018). Workload: An Examination of The Concept.

In Advances in Psychology (Vol. 52). Elsevier.

Handayani, R. (2018). Ergonomi dan Perancangan Kerja: Teori dan Aplikasi.

Penerbit Bumi Aksara.

Karwowski, W. (. (2018). The Discipline of Ergonomics in an Ageing World.

CRC Press.

Prawitasari, J. E. (2019). Psikologi Industri dan Organisasi. Salemba Humanika.

Suryoputro, M. R. (2019). Ergonomi dan Produktivitas Kerja: Sebuah Kajian Literatur. Jurnal Ilmu Ekonomi dan Bisnis, 2(2), 145-157.

Wahyuni, S. I. (2017). Pengaruh Faktor Psikologis Terhadap Kinerja Karyawan di PT XYZ. Jurnal Manajemen, 13(2), 150-157.

Widodo, J. (2021). Ergonomi: Dasar-Dasar Ergonomi & Aplikasinya. Andi Offset.

Widyanti, A., & Adi, D. T. (2020). Pengaruh Beban Kerja Terhadap Stres Kerja Karyawan Bagian Produksi. Jurnal Psikologi Terapan dan Pendidikan, 7(2), 129-142.

Zink, K. J., & Fischer, A. (2018). Human Factors and Ergonomics. CRC Press.

(18)

Referensi

Dokumen terkait

 Obyek yang dipelajari oleh psikologi industri dan Obyek yang dipelajari oleh psikologi industri dan organisasi adalah perilaku manusia sebagai tenaga organisasi

Psikologi Industri Organisasi merupakan suatu subdisplin dari ilmu psikologi yang mempelajari perilaku manusia dalam suatu konteks organisasi, apakah organisasi industri ataukah

Dokumen ini membahas tentang topik geografi yang mencakup pengetahuan dasar, konsep, pendekatan, prinsip, aspek sosial, pemetaan, orientasi industri, dan perubahan yang terjadi pada

Dokumen ini membahas tentang pengenalan psikologi eksperimen sebagai bidang studi yang mempelajari proses dasar dalam manusia dan

Makalah ini membahas kreativitas dan minat yang mempengaruhi pembelajaran psikologi

Makalah ini membahas tentang kelompok primer dan sekunder dalam psikologi

Makalah ini membahas teori kognitivistik dalam psikologi, meliputi pengertian, tokoh, dan dinamika perilaku

Makalah studi kelayakan bisnis dari aspek lingkungan industri, membahas analisis manajemen dan perencanaan bisnis di Universitas Pembangunan Nasional "Veteran"