• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH KREATIVITAS DAN MINAT TERHADAP PEMBELAJARAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN

N/A
N/A
Nova Nrftriah

Academic year: 2024

Membagikan " PENGARUH KREATIVITAS DAN MINAT TERHADAP PEMBELAJARAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

KREATIVITAS DAN MINAT YANG MEMPENGARUHI PEMBELAJARAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Dosen Pengampuh : Dr. Muhammad Hasby, S.S., M.Pd.

Disusun Oleh : Nova Nur Fitiah NIM 2201414122

MATA KULIAH PSIKOLOGI PENDIDIKAN PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS COKROAMINOTO PALOPO

2024

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul

“Kreativitas dan Minat Yang Mempengaruhi Pembelajaran “ dengan baik tanpa kurang suatu apapun.

Dalam penyusunan tugas ini, tidak sedikit hambatan yang kami hadapi. Namun kami menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan tugas ini tidak lain berkat bantuan dari seluruh pihak sehingga kendala - kendala yang kami hadapi dapat teratasi. Untuk itu kami ucapkan terima kasih yang sebesar – besarnya. Diharapkan makalah ini dapat memberikan informasi dan menambah wawasan kita semua serta menjadi sumbangan pemikiran bagi pembaca sehingga meningkatkan ilmu pengetahuan kita.

Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna, maka segala kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

07 MEI 2024

Penulis

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...2

DAFTAR ISI...3

BAB I...4

PENDAHULUAN...4

1.1 Latar Belakang...4

1.2 Rumusan Masalah...5

BAB II...6

PEMBAHASAN...6

2.1 Konsep Dasar Kreativitas Dan Minat...6

2.2 Pengaruh Kreativitas dalam Proses Pembelajaran Siswa...7

2.3 Peran Minat Siswa dalam Meningkatkan Evektivitas...7

2.4 Hubungan Kreativitas Guru dengan Minat Belajar Siswa...8

2.5 Strategi yang dapat digunakan oleh pendidik untuk meningkatkan kreativitas dan minat siswa dalam pembelajaran...9

BAB III...12

PENUTUP...12

3.1 Kesimpulan...12

3.2 Saran...12

DAFTAR PUSTAKA...13

(4)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Pembelajaran yang efektif tidak hanya tergantung pada metode pengajaran yang dipilih, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh faktor internal siswa, seperti kreativitas dan minat mereka dalam subjek yang dipelajari. Kreativitas merujuk pada kemampuan individu untuk menghasilkan ide-ide baru, solusi-solusi orisinal, dan gagasan-gagasan yang inovatif. Sementara itu, minat adalah dorongan internal yang mendorong seseorang untuk belajar atau terlibat dalam suatu aktivitas tertentu.

Kreativitas merupakan kemampuan untuk menghasilkan ide-ide baru, solusi-solusi inovatif, dan gagasan-gagasan orisinal. Dalam konteks pembelajaran, kreativitas menjadi faktor penting karena membantu siswa dalam menemukan pendekatan-pendekatan baru untuk memahami dan menyelesaikan masalah. Melalui kreativitas, siswa dapat mengembangkan pemikiran kritis, berpikir lateral, dan melihat masalah dari berbagai sudut pandang. Kreativitas juga mendorong eksplorasi dan percobaan, memungkinkan siswa untuk belajar dari pengalaman mereka sendiri.Penelitian dalam psikologi pendidikan telah menunjukkan bahwa lingkungan belajar yang mempromosikan kreativitas, seperti memberikan tugas-tugas terbuka dan mendorong berpikir divergen, dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Siswa yang merasa didukung untuk mengeksplorasi ide-ide baru cenderung lebih termotivasi dan berpartisipasi aktif dalam pembelajaran.

Minat merujuk pada dorongan internal yang mendorong seseorang untuk belajar atau terlibat dalam suatu aktivitas tertentu. Ketika siswa memiliki minat yang kuat terhadap subjek atau topik yang dipelajari, mereka cenderung lebih fokus, gigih, dan bersemangat dalam memperoleh pengetahuan. Minat juga memengaruhi cara siswa memproses informasi; mereka lebih cenderung untuk mengingat dan memahami materi yang sesuai dengan minat mereka. Pentingnya minat dalam pembelajaran terletak pada kemampuannya untuk meningkatkan motivasi intrinsik siswa. Siswa yang memiliki minat yang tinggi terhadap subjek yang dipelajari cenderung lebih termotivasi untuk mencari pemahaman yang mendalam dan mencapai hasil yang lebih baik dalam pembelajaran mereka.

Kreativitas dan minat saling berhubungan dan mempengaruhi satu sama lain dalam proses pembelajaran. Siswa yang memiliki minat yang tinggi terhadap subjek cenderung lebih terbuka terhadap ide-ide baru dan lebih mampu untuk berpikir kreatif dalam konteks tersebut. Sebaliknya, kreativitas juga dapat meningkatkan minat siswa terhadap pembelajaran dengan memberikan pengalaman yang memuaskan dan memperkaya.

Pentingnya memahami kreativitas dan minat dalam konteks pembelajaran adalah agar pendidik dapat merancang strategi pembelajaran yang sesuai dan mendukung perkembangan siswa secara optimal.

Dengan memperhatikan kreativitas dan minat siswa, pendidik dapat menciptakan lingkungan belajar yang menstimulasi dan memotivasi mereka untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Strategi seperti memberikan tugas-tugas terbuka, mendorong eksplorasi, dan memanfaatkan minat siswa dalam perancangan pembelajaran dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran.

Studi empiris telah menunjukkan bahwa kreativitas dan minat siswa memiliki dampak signifikan terhadap pencapaian akademik mereka. Siswa yang memiliki tingkat kreativitas dan minat yang tinggi cenderung lebih termotivasi untuk belajar dan mencapai hasil yang lebih baik dalam pembelajaran mereka. Oleh karena itu, memahami bagaimana kreativitas dan minat memengaruhi pembelajaran adalah

(5)

kunci untuk meningkatkan efektivitas pendidikan. Dengan memahami kreativitas dan minat dalam pembelajaran, pendidik dapat merancang strategi pembelajaran yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik siswa, sehingga meningkatkan kualitas dan hasil pembelajaran secara keseluruhan.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut : 1. Konsep Dasar Kretivitas dan Minat

2. Bagaimana kreativitas mempengaruhi proses pembelajaran siswa di lingkungan pendidikan?

3. Apa peran minat siswa dalam meningkatkan efektivitas pembelajaran di kelas?

4. Bagaimana hubungan antara kreativitas guru dan minat belajar siswa dalam konteks pembelajaran?

5. Apa strategi yang dapat digunakan oleh pendidik untuk meningkatkan kreativitas dan minat siswa dalam pembelajaran?

(6)

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Konsep Dasar Kreativitas Dan Minat

Kreativitas merupakan kemampuan kognitif yang kompleks yang melibatkan proses mental untuk menghasilkan ide-ide baru, solusi-solusi inovatif, dan gagasan-gagasan orisinal. Kreativitas tidak hanya terbatas pada seni atau musik, tetapi juga berlaku dalam berbagai konteks, termasuk pembelajaran.

Menurut Amabile (1996), kreativitas terdiri dari tiga komponen utama: domain pengetahuan yang relevan, kemampuan untuk menghasilkan ide-ide baru dalam domain tersebut, dan kemampuan untuk menilai dan mengevaluasi ide-ide tersebut untuk menentukan kegunaannya.

Munandar (1990:50), mendefinisikan kreativitas adalah kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan (fleksibilitas), dan orisinalitas dalam berfikir serta kemampuan untuk mengelaborasi . (mengembangkan, memperkaya, memperinci) suatu gagasan.

David Campbell (2001:17) kreativitas adalah kegiatan yang mendatangkan hasil yang sifatnya baru, berguna dan dapat dimengerti

a. Baru yang diartikan sebagai inovatif, belum ada sebelumnya, segar, menarik. aneh, dan mengejutkan

b. Berguna yang diartikan sebagai lebih enak, lebih praktis, mempermudah. mendorong, mengembangkan, mendidik, memecahkan masalah, mengurangi hambatan, mengatasi kesulitan, mendatangkan hasil yang baik.

c. Dapat dimengerti yang diartikan hasil yang sama dapat dimengerti dan dapat dibuat di lain waktu, atau sebaliknya peristiwa-peristiwa yang terjadi begitu saja, tak dapat dimengerti, tak dapat diramalkan dan tak dapat diulangi Berdasarkan pendapat beberapa ahli, maka dapat disimpulkan bahwa kreativitas adalah kemampuan seseorang dalam membuat sesuatu yang berbeda dari yang lain, atau menciptakan sesuatu yang baru

Dalam pembelajaran, kreativitas memainkan peran penting dalam memfasilitasi pemecahan masalah, mempromosikan eksplorasi ide, dan meningkatkan daya pikir siswa. Melalui kreativitas, siswa dapat mengembangkan pemikiran kritis, berpikir lateral, dan melihat masalah dari berbagai sudut pandang.

Kreativitas juga memungkinkan siswa untuk menemukan pendekatan-pendekatan baru dalam memahami materi pelajaran dan menyelesaikan tugas-tugas yang kompleks..

Mendasarkan uraian di atas maka ciri-ciri kreativitas adalah memiliki rasa ingin tahu yang tinggi (Curiousity), bersifat terbuka terhadap pengalaman dan pengetahuan (Openness to experiences) yaitu berupa kelincahan berfikir dari segala arah, kelincahan mental berfikir ke segala arah, toleransi terhadap resiko (Risk Tolerance), memiliki energi yang besar (Energy) yaitu mau bekerja keras dan tidak mudah menyerah dalam melakukan sesuatu, orang yang kreatif juga memiliki kemampuan untuk menuangkan ide, gagasan, pemecahan, cara kerja yang tidak biasa dan jarang bahkan mengejutkan, lebih menyukai kompleksitas daripada simplisitas, individu kreatif lebih menyukai kerumitan daripada kemudahan memiliki tantangan dari keamanan, sebagai contoh yaitu kecenderungan pada banyak tali temalinya, dari faktor luar juga dapat merangsang kreativitas anak yaitu dari latar belakang yang merangsang lingkungan yang merangsang dan suasana yang mendukung mendorong timbulnya kreativitas individu.

Minat merujuk pada respons emosional terhadap suatu objek atau kegiatan yang dianggap menarik atau penting oleh individu. Minat dapat bervariasi dari minat yang sementara hingga minat yang

(7)

mendalam dan menetap. Menurut Hidi dan Renninger (2006), minat melibatkan perasaan positif terhadap subjek tertentu, persepsi nilai subjek tersebut, dan dorongan untuk terlibat dalam aktivitas terkait.

Dalam konteks pembelajaran, minat siswa terhadap subjek tertentu dapat memengaruhi motivasi, keterlibatan, dan pencapaian akademik mereka. Siswa yang memiliki minat yang kuat terhadap suatu topik cenderung lebih termotivasi untuk belajar, lebih antusias dalam partisipasi kelas, dan lebih gigih dalam menghadapi tantangan belajar.

2.2 Pengaruh Kreativitas dalam Proses Pembelajaran Siswa

Bertolak pada pemikiran para ahli tentang kreativitas, jika diupayakan untuk mengembangkan potensi kreatif pada siswa maka akan berdampak positif pada hasil belajar yang memuaskan dalam konteks pembelajaran. Bukan merupakan hal yang tidak mungkin untuk menanamkan perilaku kreatif siswa dalam proses pembelajaran, karena pada hakekatnya setiap manusia memiliki atau mempunyai potensi untuk menjadi kreatif. Hal ini senada dengan yang diungkapkan Scott dalam bukunya The Empowered Mind, ” Semua orang memiliki kemampuan ‘potensi kreatif’ meskipun tidak semua dapat menggunakannya atau mengembangkannya secara penuh” (Efendi, 2005:258).

Beberapa alasan itulah yang memperkuat bahwa pengaruh kreativitas didalam proses belajar mengajar, terutama didalam pembelajaran matematika sangat signifikan. Di dalam pembelajaran matematika, siswa senantiasa dihadapkan pada yang namanya “masalah”, yang tentunya dalam hal ini adalah masalah matematika. Diperlukan beberapa pemikiran yang logis dan kreatif dalam memecahkan masalah dalam konteks matematika.

2.3 Peran Minat Siswa dalam Meningkatkan Evektivitas

Minat menurut pendapat Skinner adalah suatu dorongan yang menunjukkan perhatian seseorang terhadap objek yang menarik, menyenangkan apabila seseorang memperhatikan suatu objek yang menyenangkan, maka akan berupaya dengan aktif untuk meraih objek tersebut. Dengan demikian, seseorang baru dapat diketahui minatnya, apabila ia berkeinginan atau menyukai sesuatu objek atau minat seseorang dapat dibaca jika ia memperlihatkan rasa suka atau senangnya kepada suatu objek tersebut.

Berkaitan dengan tinggi dan rendahnya minat seseorang terhadap suatu objek tertentu sangat berhubungan dengan yang membutuhkan objek tersebut. Menurut Mulyasa bahwa kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu, yang kemudian dapat mempengaruhi pencapaian hasil belajar dalam mata pelajaran tertentu dan itulah yang dimaksud dengan minat.

Proses pembelajaran sebuah mata pelajaran mempunyai hubungan yang erat dengan kondisi individu atau siwwa sebagai subjek dan objek pendidikan. Ketika siswa merasa senang dan gembira dalam melakoni proses tersebut maka proses belajar akan terkondisi dengan baik. Kegembiraan dan kesenangan siswa tentulah diawali dengan kemauan untuk belajar dan itu semua diawali dengan minat siswa dimaksud. Siswa yang mempunyai minat tentulah membuat proses penerimaan materi pelajaran akan berjalan antusias dan menyenangkan, sehingga pada gilirannnya akan membuat siswa rajin belajar, tercipta dorongan untuk berkarya dan beraktivitas positif dikarenakan terjadinya dorongan yang signifikan dalam dirinya.

Implementasi minat seseorang yakni siswa terhadap suatu objek tercermin dari aktivitasnya.

Siswa yang mempunyai minat yang tinggi terhadap sebuah objek khususnya mata pelajaran tentu akan membangkitkan motivasi dan meningkatkan rasa keingintahuannya terhadap sebuah mata pelajaran.

Motivasi dan rasa ingin tahu siswa yang tinggi akan meningkatkan pula aktivitas belajarnya terhadap sebuah mata pelajaran. Dan siswa yang aktivitas belajarnya menguat akan melahirkan ketercapaian hasil belajar yang maksimal dan dapat mencapai tujuan yang diinginkan.

(8)

2.4 Hubungan Kreativitas Guru dengan Minat Belajar Siswa

Guru mempunyai peran yang amat penting dalam memberikan materi pelajaran, sebab setiap guru yang kreatif dalam pemberian materi pelajaran dapat membuat para siswa merasa senang dan bisa menarik perhatian atau minat belajar mereka sebab ketika para siswa merasa senang dan tertarik maka guru tersebut telah menjalankan tugasnya sebagai guru yang profesional dimana telah kreatif dalam memberikan materi pelajaran. Sagala (2011) menyatakan bahwa guru adalah faktor penting dalam pengelolaan pendidikan di sekolah, oleh sebab itu untuk meningkatkan kualitas pendidikan berarti perlu untuk meningkatkan mutu guru dalam proses pembelajaran yaitu dari tingkat profesinalitasnya, oleh karena itu dibutuhkan kreatifitas mengajar dari guru agar dikatakan sebagai guru yang professional.

Kreatifitas mengajar merupakan kecakapan yang harus dipunyai oleh guru dalam melaksanakan pembelajaran agar bisa mencapai suatu tujuan pembelajaran. Selanjutnya Oktaviani (2017) menjelaskan bahwa guru merupakan contoh faktor ekstrinsik yang bisa memunculkan motivasi belajar dalam diri siswa, sebab itu diperlukan kreativitas dari guru agar membuat siswanya termotivasi dalam belajar.

Kreativitas seorang guru bisa diarahkan melalui kegiatan belajar mengajar dalam kelas dengan menentukan metode yang tepat dan kreatif yaitu dengan menggunakan media pembelajaran dengan sangat baik selain itu pembelajaran yang efektif merupakan pembelajaran yang terpusat kepada siswa.

Maka disinilah kreativitas guru diuji untuk menarik perhatian siswa agar supaya lebih lebih bersemangat lagi dan antusias untuk mengikuti pembelajaran

Guru perlu berusaha membangkitkan minat belajar siswa dalam menguasai pengetahuan dalam bidangnya yaitu dengan cara membangun sikap positif dimana perasaan yang senang bisa menimbulkan minat belajar oleh sikap yang positif, namun sebaliknya bila perasaan yang tidak senang bisa menghambat siswa untuk mau belajar karena tidak menghasilkan sikap yang benar atau tepat dan tentu tidak dapat membantu untuk menarik minat siswa dalam belajar. Kemudian Rezki (2021) mengungkapkan bahwa minat belajar sangat diperlukan dalam proses belajar agar siswa bisa mengikuti pembelajaran dengan sangat baik. Adapun tahapan minat belajar yang dimiliki oleh setiap siswa itu tidak sama yang disebabkan oleh faktor-faktor yang bisa mempengaruhi, misalnya memiliki perasaan senang atau gembira, rasa tertarik, memiliki perhatian dan siswa ikut terlibat dalam proses belajar. Jadi seseorang yang berminat terhadap suatu kegiatan pasti akan memperhatikan dengan hati yang senang. Dapat disimpulkan bahwa guru sebagai tenaga profesional harus kreatif dalam mengajar agar mata pelajaran yang disampaikan oleh guru bisa diterima oleh para siswa dengan hati yang gembira, karena siswa memiliki kegairahan/ketertarikan dalam mengikuti pembelajaran serta hal tersebut berdampak baik terhadap hasil belajar siswa.

Guru yang menggunakan model,media ,metode pembelajaran kreatif dan inovatif berdampak langsung terhadap respon peserta didik baik secara respon positifatau negatif.Seorang guru sebagai seorang pendidik perlu membangun motivasi dan minat setiap peserta didik dalam prosses pembelajaran. Karena tanpa adanya minat, peserta didik akan merasa terpaksa dan mungkin akan terbebani dalam kegiatan belajarnya di sekolah. Sehingga ketika peserta didik merasa terbebani saat melaksanakan pembelajaran maka mereka tidak akan fokus untuk memahami pelajaran yang disampaikan oleh gurunya. Hal tersebut dapat berakibat pada hasil belajar peserta didik nantinya.Menurut hasilpenelitian Efendy & Rini, 2021 menyatakan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara persepsi peserta didik tentang kreativitas guru dalam mengajar dengan minat belajar siswa. Artinya guru menjadi faktor penting untuk meningkatkan motivasidan minat belajar peserta didik melalui kreativitas guru dalam mengajar.

Dengan sebuah pembelajaran yang menyenangkan akan membuat motivasi dan minat belajar peserta didik meningkat, karena dengan meningkatnya motivasi dan minat belajar juga akan

(9)

berpengaruh terhadap hasil belajar peserta didik. Sedangkan jika guru tidak memiliki kreativitas dan inovatif maka pembelajaran yang dilaksanakan akan cenderung monoton dan membosankan bagi peserta didik sehingga membuat menurunnya motivasi dan minat belajar peserta didik dan hal tersebut juga akan berpengaruh terhadap hasil belajar peserta didik yang mungkin kurang memuaskan.

Oleh karena itu guru sebagai seorang pendidik harus memiliki kreativitas dan inovatif baik dari segi metode,media, maupun model pembelajaran yang digunakan dalam menyampaikan setiap materi kepada peserta didik saat di kelas.

Banyak faktor yang dapat menjadikan guru menjadi kreatif dan inovatif yaitu faktor eksternal yang merupakan pengaruh dari luar seperti pemberian pembinaan ataupun pelatihan terhadap guru, memberikan penghargaan kepada guru yang kreatif dan inovatif,menciptakan lingkungan kerja yang menyenangkan. Kemudian adafaktor internal yang merupakan pengaruh dari dalam diri guru tersebut yaitu dengan memiliki motivasi diri untuk mau terus belajar, berkreasi dan berinovasi untuk menciptakan sebuah pembelajaran yang menyenangkan bagi para peserta didiknya

2.5 Strategi yang dapat digunakan oleh pendidik untuk meningkatkan kreativitas dan

minat siswa dalam pembelajaran

Dalam suatu proses pendidikan, khususnya pada tingkat dasar dan menengah, peran pendidik atau guru masih sangat penting dalam mempengaruhi kualitas peserta didiknya. Guru harus dapat menjadi agen yang baik dalam mengembangkan kreativitas dalam proses pembelajaran yang dilaksanakannya.

Salah satu hal penting yang menentukan keberhasilan proses pendidikan adalah aktivitas proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru dan anak didik. Proses pembelajaran yang mengembangkan kreativitas harus dirancang sedemikian rupa agar efektif merangsang pengembangan kreativitas anak- anak, salah satunya adalah dengan menggunakan strategi permainan. Sebagai sebuah tujuan yang tidak mudah dicapai, pengembangan kreativitas pada pendidikan harus mendapatkan perhatian penting dari pendidik sehingga pendidik harus memperhatikan prinsip pengembangan kreativitas dalam pendidikan.

Ada tiga kunci atau prinsip yang harus dilakukan agar pendidikan dapat mengembangkan kreativitas anak didiknya (Joubert, 2001: 22-23), yaitu:

Pertama, encouraging, yaitu guru harus mendorong kepercayaan dan sifat-sifat positif siswanya.

Guru harus dapat meyakinkan bahwa mereka memiliki potensi kreatif yang dapat dikembangkan sehingga mereka memiliki kepercayaan terhadap kemungkinan untuk menjadi manusia kreatif. Kepercayaan ini sangat penting agar anak didik senang mencoba berbagai hal dengan segenap potensi yang dimiliki. Jika anak-anak didorong untuk menggunakan bakat kreatif mereka, maka harga diri dan kepercayaan diri mereka akan terbangun, mereka akan lebih bersemangat dan mimpi-mimpi besar mereka, akan terbimbing untuk mencapai lebih banyak kesuksesan.

Proses ini dapat dilakukan dengan membangun motivasi ekstrinsik dan intrinsik. Pada awalnya, guru dapat mengembangkan bentuk motivasi ekstrinsik, misalnya dengan memberikan insentif atau penghargaan, hadiah yang menyenangkan bagi anak-anak. Namun sesungguhnya yang lebih penting adalah anak-anak harus didorong untuk mengembangkan motivasi intrinsik, misalnya mengembangkan rasa ingin tahunya agar dapat menjadi pembelajaran seumur hidupnya (a lifelong learner). Anak-anak harus belajar bahwa ada lebih dari satu cara untuk mengatasi masalah atau menafsirkan sebuah situasi.

Mereka tidak boleh putus asa setelah melakukan satu upaya, gagal atau sukses; mereka juga harus selalu didorong untuk mencoba serangkaian pendekatan lain untuk mengatasinya. Fleksibilitas adalah sifat kreatif yang sangat penting sehingga guru harus mendorong siswanya untuk mempertahankan fleksibilitas masa muda mereka dan harus mencapainya. Anak-anak juga harus dibiasakan memililiki sifat dan keyakinan bahwa mereka terus tumbuh, harus memiliki keterbukaan terhadap pengalaman, dapat

(10)

mengembangkan kapasitas berpikir seseorang, dan menggunakan humor sebagai bagian dari kreativitas seorang manusia.

Kedua, identifying, yaitu mengidentifikasi bahwa aktivitas kreatif adalah hal yang mungkin dilakukan dalam semua mata pelajaran di sekolah dan dalam semua area kehidupan. Guru dan anak didik harus percaya bahwa kreativitas dapat dikembangkan pada semua mata pelajaran dan semua bidang kehidupan. Kadang orang mengidentifikasi bahwa hanya mata pelajaran tertentu yang dapat dikategorikan sebagai aktivitas kreatif, misalnya seni. Seni sering dimaknai sebagai 'the creative arts'.

Sesungguhnya banyak mata pelajaran, misalnya matematika, sejarah atau sastra yang bisa diajarkan dengan menggunakan cara yang kreatif. Agar dapat melakukan cara kreatif, maka harus ada keyakinan bahwa setiap individu memiliki kekuatan kreatif dalam area yang berbeda. Guru harus membantu siswa untuk mengenali kekuatan kreatif masing-masing individu. Guru harus memperluas konsep tentang pencapaian kreativitas untuk mengidentifikasi kekuatan kreatif yang dimiliki oleh masing-masing siswa.

Biasanya kreativitas berkaitan dengan domain yang spesifik, misalnya artis yang kreatif tidak harus kreatif pada bidang matematika. Pianis yang kreatif tidak harus kreatif menguasai alat musik lain. Anak- anak harus dapat mengidentifikasi kekuatan kreatif mereka sendiri, menganalisis strategi kreatifnya, dan menggunakan pendekatan meta-cognitive thinking.

Ketiga, fostering, yaitu guru harus mengembangkan potensi kreatif semua siswanya secara optimal.

Salah satu cara terbaik untuk mengembangkan kreativitas adalah melalui proses menjadi kreatif. Proses merupakan aktivitas yang terus menerus, perlu banyak berlatih dan membutuhkan ketekunan dan kesabaran. Latihan membuat semua hal lebih baik (practice does make better). Anak-anak menikmati saat-saat menjadi kreatif dan dengan cara 'learning by doing'. Berbagai hal yang dihasilkan oleh anak- anak dari proses kreatif, yaitu hal-hal yang mereka temukan dan lakukan, maka hal tersebut akan membuat anak-anak selalu mengingat dan menilainya. Pembelajaran adalah proses penemuan (learning is a process of discovery). Aktivitas kreatif dapat pula menjadi evaluasi materi pembelajaran karena anak- anak sangat memahami sebuah konsep jika dia bisa mempraktikannya.

Model pembelajaran kreativitas sangat penting untuk dirumuskan dan salah satunya dengan menggunakan strategi permainan. Aneka permainan dapat dirumuskan dan dipraktikkan untuk mengembangkan kreativitas dalam proses pendidikan. Kreativitas dapat dikembangkan melalui permainan aktual dan permainan mental pada masa anak-anak. Aktivitas permainan bagi anak-anak merupakan bagian dari sifat alami anak-anak yang menyukai permainan dan lebih mudah mempelajari sesuatu dengan bermain atau melalui permainan.

Oleh karena itu, pendidik harus merancang permainan sedemikian rupa agar memiliki manfaat pedagogis bagi anakanak sekaligus dapat mengembangkan kreativitas anak-anak. Menurut Joubert (2001:20-25), ada beberapa manfaat pedagogis dari permainan pada masa anak-anak, yaitu: (1) memotivasi anak-anak dan mengembangkan pembelajaran; (2) menyediakan sebuah konteks untuk eksplorasi dan eksperimen; (3) permainan merupakan ‘pekerjaan’ anak-anak; (4) permainan sesuai dengan perkembangan anak-anak. Jadi, permainan merupakan cara yang efektif untuk “mengerti dan memahami anak-anak” sekaligus menjadikan anak-anak menjadi lebih mengerti dan lebih memahami proses pembelajaran yang dilaksanakan.

Permainan akan menjadikan anak-anak lebih termotivasi dan bersemangat. Mereka memiliki ruang yang luas untuk bereksplorasi dan bereksperimen untuk menyalurkan rasa ingin tahunya yang sedang berkembang pesat. Permainan juga merupakan “nature” atau sifat alami anak-anak dan merupakan aktivitas yang disukai dan sesuai dengan perkembangan anak-anak. Suyanto dan Djihad Hisyam (2000:

147) menyatakan bahwa proses pendidikan yang ideal adalah proses pendidikan yang dikemas dengan

(11)

memperhatikan aspek kognitif, afekif, dan psikomotor secara seimbang agar output pendidikan dapat mengantisipasi perubahan dan kemajuan masyarakat. Oleh karena itu, dibutuhkan proses pendidikan yang mengembangkan kreativitas siswanya yaitu mengembangkan kemampuan yang dimiliki peserta didik, baik aspek fisik, mental, dan spiritualnya. Proses pendidikan yang mengembangkan kreativitas tidak akan menghasilkan anak-anak yang memiliki convergent thinking, yaitu anak-anak yang tidak mampu memecahkan masalah yang dihadapi dan tidak terbiasa dengan pola pikir hipotetik.

Setiap anak secara alami bermain dengan apapun yang ada di tangannya. Ini merupakan bagian dari ekplorasi mereka terhadap lingkungan dan hal tersebut merupakan bagian penting dari pembelajaran mereka (Dean, 2005: 39). Anak-anak menemukan dan berimajinasi dalam permainan. Secara bertahap, anak-anak mulai bermain dengan orang lain dan dia mulai menemukan bagaimana seseorang, dia bermain di rumah dan di luar rumah.Beberapa saran untuk mengembangkan kreativitas pada individu, dalam hal ini para siswa sebagaimana diringkaskan oleh Taylor (1964:92-93) sebagai

berikut :

a. Menilai, menghargai berpikir kreatif

b. Membantu anak menjadi lebih peka terhadap rangsangan dari lingkungan c. Memberikan anak untuk memanipulasi benda-benda (objek) dan ide-ide d. Mengajar bagaimana menguji setiap gagasan secara sistematis

e. Mengembangkan rasa toleransi terhadap gagasan baru

f. Berhati-hati dalam “memaksakan” suatu pola atau contoh tertentu g. Mengembangkan suatu iklim kelas yang kreatif

h. Mengajar anak untuk menilai berpikir kreatifnya

i. Mengajar ketrampilan anak untuk menghindari atau menguasai sangsi-sangsi teman sebaya tanpa mengorbankan kreativitas mereka

j. Memberikan informasi tentang proses kreativitas k. Menghalau perasaan kagum terhadap karya-karya besar

l. Memberikan dan menilai kegiatan belajar berdasarkan inisiatif sendiri m. Menciptakan “duri dalam daging” (thorns in the flesh), membuat anak-anak menyadari adanya masalah dan kekurangan

n. Menciptakan kondisi yang diperlukan untuk berpikir kreatif o. Menyediakan waktu untuk suatu keaktifan dan ketenangan p. Menyediakan sumber untuk menyusun gagasan-gagasan q. Mendorong kebiasaan untuk meyusun implikasi ide-ide

r. Mengembangkan ketrampilan untuk memberikan kritik yang membangun s. Mendorong kemahiran pengetahuan berbagai lapangan

(12)

t. Menjadi guru yang hangat dan bersemangat.

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan

Kreativitas merupakan salah satu tanda bahwa seseorang memiliki intelegensi yang cerdas.

Namun, tidak semua orang yang inteligen adalah manusia yang kreatif. Kreativitas merupakan hal penting untuk dikembangkan dalam pendidikan, salah satunya dengan menggunakan strategi bermain. Strategi bermain dalam meningkatkan kreativitas oleh pendidik harus memperhatikan tiga prinsip, yaitu encouraging, identifying, dan fostering. Pertama, encouraging, yaitu guru harus mendorong kepercayaan dan sifat-sifat positif siswanya. Kedua, identifying, yaitu mengidentifikasi bahwa aktivitas kreatif adalah hal yang mungkin dilakukan dalam semua mata pelajaran di sekolah dan dalam semua area kehidupan.

Ketiga, fostering, yaitu guru harus mengembangkan potensi kreatif semua siswanya secara optimal.

3.2 Saran

Setelah memahami konsep kreativitas dan minat serta bagaimana keduanya saling berhubungan dalam konteks pembelajaran, kita menyadari bahwa kedua faktor ini memiliki peran penting dalam meningkatkan efektivitas pembelajaran siswa. Kreativitas memungkinkan siswa untuk berpikir secara fleksibel, memecahkan masalah, dan menemukan pendekatan baru dalam memahami materi pelajaran, sementara minat memberikan dorongan intrinsik yang memotivasi siswa untuk belajar dengan antusias.

Selanjutnya, kita telah mengeksplorasi berbagai strategi yang dapat digunakan oleh pendidik untuk meningkatkan kreativitas dan minat siswa dalam pembelajaran. Pendekatan berbasis proyek, metode pembelajaran aktif, menciptakan lingkungan belajar yang mendukung, penggunaan teknologi, dan mengakomodasi kepentingan siswa adalah beberapa contoh strategi yang dapat membantu menciptakan pengalaman pembelajaran yang menarik dan bermakna bagi siswa.

Dengan menerapkan strategi-strategi ini secara efektif, pendidik dapat membantu memfasilitasi perkembangan kreativitas dan minat siswa dalam pembelajaran, yang pada gilirannya akan meningkatkan hasil pembelajaran mereka dan mempersiapkan mereka untuk menghadapi tantangan masa depan.

Semoga dengan pemahaman yang lebih dalam tentang kreativitas dan minat dalam pembelajaran serta strategi untuk meningkatkannya, kita dapat menciptakan lingkungan pembelajaran yang lebih dinamis, inklusif, dan menginspirasi bagi semua siswa.

(13)

DAFTAR PUSTAKA

Amabile, T. M. (1996). Creativity in context: Update to the social psychology of creativity. Boulder, CO:

Westview Press

Charles E. Skinner, Educational Psychology (Toronto : Prentice Hal, 1976),

Csikszentmihalyi, M. (1996). Creativity: Flow and the psychology of discovery and invention. New York, NY: HarperPerennial.

Dean, J. 2005. Guide to Primary Education. USA & Canada: Routledge.

Efendi, Agus. 2005. Revolusi Kecerdasan Abad 21. Bandung: Alfabeta

Efendy, M., & Rini, A. P. (2021). HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI SISWA TENTANG KREATIVITAS GURU DALAM MENGAJAR DENGAN MINAT BELAJAR SISWA. In Jurnal Psikologi Konseling(Vol. 18, Issue 1)

Hidi, S., & Renninger, K. A. (2006). The four-phase model of interest development. Educational Psychologist, 41(2), 111-127.

Joubert, M.M. 2001. The Art of Creative Teaching. NACCCE and Beyond.

Krapp, A. (2002). Structural and dynamic aspects of interest development: Theoretical considerations from an ontogenetic perspective. Learning and Instruction, 12(4), 383-409.

Oktivani, I. (2017). Kreativitas guru dalam meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Jurnal kependidikan, 5(2), 216-232.

Renninger, K. A., & Hidi, S. (2016). The power of interest for motivation and engagement. New York, NY: Routledge.

Reski, N. (2021). Tingkat Minat Belajar Siswa Kelas IX SMPN 11 Kota Sungai Penuh. Jurnal Inovasi Penelitian, 1(11), 2485-2490.

Runco, M. A. (2014). Creativity: Theories and themes: Research, development, and practice (2nd ed.).

San Diego, CA: Elsevier Academic Press.

Sagala, S. (2011). Kemampuan Profesinal Guru dan Tenaga Kependidikan. Bandung: Alfabeta

Suyanto dan Hisyam, Djihad. 2000. Refleksi dan Reformasi Pendidikan di Indonesia Memasuki Millennium III. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa.

Referensi

Dokumen terkait

Kreativitas guru pendidikan agama Islam dalam menumbuhkan minat belajar siswa tidak hanya memberikan pembelajaran secara lisan dan tertulis di dalam kelas, tetapi

Deskripsi Mata Kuliah : Mata kuliah ini membahas konsep dasar psikologi pendidikan, manfaat psikologi pendidikan, perkembangan individu, perbedaan individual,

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Penguasaan psikologi pembelajaran terhadap peningkatan kompetensi guru Pendidikan Agama Islam di SMA Muhammadiyah

Apabila dilihat diatas diantara cabang-cabang psikologi maka psikologi pendidikan termasuk kedalam psikologi khusus ini berarti psikologi pendidikan adalah ilmu yang

Makalah Psikologi Industri yang membahas tentang proses penerapan pembelajaran dalam

Makalah ini membahas tentang Psikologi Industri yang mencakup berbagai aspek tentang psikologi di dunia

Makalah ini membahas mengenai peran penting media pembelajaran dalam proses belajar mengajar pendidikan

Mata kuliah Psikologi Pendidikan ini membahas tentang sistematika proses dan faktor kejiwaan yang berkaitan dengan