• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengorganisasian Dalam Pendidikan Islam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Pengorganisasian Dalam Pendidikan Islam"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

PENGORGANISASIAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM QURRATA AKYUNI

Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Serambi Mekkah Banda Aceh, E-mail: [email protected]

ABSTRAK

Kajian ini membahas pentingnya pengorganisasian dalam pendidikan, pengorganisasian dibutuhkan untuk mencapai tujuan suatu lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan sudah semestinya mempunyai organisasi yang baik agar tujuan pendidikan tercapai sepenuhnya. Dengan organisasi yang baik dapat dihindari tindakan kepala sekolah yang menunjukkan kekuasaan yang berlebihan (otoriter), suasana kerja dapat lebih berjiwa demokratis karena timbulnya partisipasi aktif dari semua pihak yang bertanggung jawab. Dalam Islam, amanah harus diberikan kepada orang- orang yang berhak yaitu orang-orang yang memiliki kompetensi intelektual dan manajerial, dalam organisasi harus diberi amanah dalam jabatan tertentu sesuai kemampuannya.

Kata Kunci: Pengorganisasian, Pendidikan Islam

A. PENDAHULUAN

Manusia merupakan makhluk multidimensional. Oleh karena itu banyak sebutan yang diberikan kepadanya misalnya manusia sebagai makhluk ekonomi, makhluk sosial, makhluk iptek, makhluk imtaq dan makhluk organisasional. Manusia adalah makhluk organisasi, oleh karena itu begitu ia dilahirkan ke dunia ini ia menjadi anggota organisasi genetis yang disebut anggota organisasi keluarga.

Di samping itu begitu manusia lahir ia juga langsung menjadi anggota

(2)

rukun tetangga, rukun warga, kelurahan, kecamatan, kabupaten, provinsi dan warga negara Indonesia bahkan menjadi warga dunia.

Jadi manusia sejak dilahirkan tidak dapat dipisahkan dari organisasi, manusia disebut makhluk organisasi karena sejak lahir manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Setiap hari manusia berhubungan dengan organisasi walaupun pengalaman organisasi itu ada yang menyenangkan ataupun tidak, ada yang positif dan ada pula negatif, tetapi manusia tetap saja memerlukan organisasi. Adanya pertentangan ini sebagai konsekuensi bahwa manusia pada hakikatnya tidak sama atau penuh dengan perbedaan.

Perbedaan ini terjadi antara lain karena latar belakang pendidikan, pengalaman, status sosial ekonomi, budaya, usia, dan sebagainya.

Organisasi secara umum dapat diartikan memberi struktur atau susunan yaitu dalam penyusunan/penempatan orang-orang dalam suatu kelompok kerjasama, dengan maksud menempatkan hubungan antara orang-orang dalam kewajiban-kewajiban, hak-hak dan tanggung jawab masing-masing. Penentuan struktur, hubungan tugas dan tanggung jawab itu dimaksudkan agar tersusun suatu pola kegiatan untuk menuju ke arah tercapainya tujuan bersama.

B. Pembahasan

1. Pengertian Pengorganisasian

Istilah organisasi mempunyai dua pengertian umum. Pertama yaitu sebagai suatu lembaga atau kelompok fungsional, misalnya sebuah perusahaan, sebuah sekolah, sebuah perkumpulan, badan- badan pemerintahan. Kedua merujuk pada proses pengorganisasian yaitu bagaimana pekerjaan diatur dan dialokasikan di antara para anggota sehingga tujuan organisasi itu dapat tercapai secara efektif.

(3)

Sedangkan organisasi itu sendiri dapat diartikan sebagai kumpulan orang dengan sistem kerjasama untuk mencapai tujuan bersama.

Menurut Handoko pengorganisasian yaitu;

1. Perincian seluruh pekerjaan yang harus dilaksanakan untuk mencapai suatu tujuan organisasi.

2. Pembagian beban pekerjaan total menjadi kegiatan-kegiatan yang secara logika dapat dilaksanakan untuk satu orang.

3. Pengadaan atau pengembangan suatu mekanisme untuk mengkoordinasikan pekerjaan anggota organisasi menjadi kesatuan yang terpadu dan harmoni.1

Ditambahkan oleh Handoko pengorganisasian ialah pengaturan kerja bersama sumber daya keuangan, fisik, dan manusia dalam organisasi. Pengorganisasian merupakan penyusunan struktur organisasi yang sesuai dengan tujuan organisasi, sumber daya yang dimilikinya dan lingkungan yang melingkupinya.

Menurut Melayu S.P. Hasibuan:

Pengorganisasian adalah suatu proses penentuan, pengelompokan dan pengaturan bermacam-macam aktivitas yang diperlukan untuk mencapai tujuan, menempatkan orang-orang pada setiap aktivitas, menyediakan alat-alat yang diperlukan, menetapkan wewenang yang secara relatif yang didelegasikan kepada setiap individu yang akan melakukan aktivitas-aktivitas tersebut.2

Organisasi menurut Wendrich dalam Husaini Usman Manajemen Teori, Praktik dan Riset Pendidikan adalah proses mendesain kegiatan-kegiatan dalam struktur organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.3 Sedangkan Sutarto mendefinisikan organisasi

1Handoko. T. Hani, Manajemen, (Yogyakarta:BPFE, 2003), hal. 168.

2Melayu S.P Hasibuan, Manajemen Dasar, Pengertian dan Masalah, (Jakarta: Bumi Aksara, 2001), hal. 118.

3Husaini Usman, Manajemen Teori, Praktik dan Riset Pendidikan, (Jakarta:

Bumi Aksara, 2006), hal. 128.

(4)

sebagai kumpulan orang, proses pembagian kerja, dan sistem kerja sama atau sistem sosial.4

Meskipun para ahli manajemen memberikan definisi berbeda- beda tentang organisasi, namun dapat kita simpulkan bahwa organisasi merupakan proses kerja sama dua orang atau lebih untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien. Definisi ini bersifat umum dan berlaku bagi semua organisasi termasuk organisasi pendidikan.

Pengorganisasian sebagai proses membagi kerja ke dalam tugas-tugas yang lebih kecil, membebankan tugas-tugas itu kepada orang yang sesuai dengan kemampuannya dan mengalokasikan sumber daya serta mengkoordinasikannya dalam rangka efektivitas pencapaian tujuan organisasi.

2. Tujuan dan Manfaat Organisasi

Sebuah organisasi harus memiliki tujuan yang jelas, jika tidak maka organisasi tersebut tidak akan terarah. Manusia perlu berorganisasi dengan beberapa tujuan, menurut Karta Sapoetra tujuan organisasi diantaranya:

a) Organizing yang efektif akan menyebabkan masing-masing anggota suatu organisasi mengetahui kelompok-kelompok aktivitas apa yang dilaksanakan.

b) Dengan organizing yang tepat, akan didapat ketegasan, kejelasan dalam hubungan-hubungan kerja dalam suatu organisasi.

c) Hubungan yang tetap dan diinginkan diantara aktivitas-aktivitas dan pelaksanaan akan tercapai, organizional ini jauh lebih besar manfaatnya dari pada sekelompok usaha-usaha individual.

d) Organizing yang baik berarti juga pendelegasian wewenang dilakukan dengan mantap, sehingga mereka menerima limpahan wewenang yang dapat bertanggung jawab.

4Husaini Usman, Manajemen…, hal 129.

(5)

e) Organizing yang efektif berarti pemanfaatan dengan sebaik mungkin komponen manusia dan hubungan yang tepat antara pekerjaan tertentu, orang-orang, pelaksanaan dan fasilitas diteliti lebih lanjut dan diseimbangkan sedemikian rupa sehingga dapat diperoleh efektifitas dan efisiensi kerja.5

3. Proses Pengorganisasian

Ernest Dale dalam Nanang Fatah Landasan Manajemen Pendidikan memberikan pengorganisasian sebagai sebuah proses yang berlangkah jamak. Proses pengorganisasian itu sebagai berikut:

a) Perincian pekerjaan b) Pembagian kerja c) Penyatuan pekerjaan d) Koordinasi pekerjaan

e) Monitoring dan Reorganisasi6

Tahap pertama, yang harus dilakukan dalam merinci pekerjaan adalah menentukan tugas-tugas apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi. Tahap kedua, membagi seluruh beban kerja menjadi kegiatan-kegiatan yang dapat dilaksanakan oleh perseorangan atau perkelompok. Di sini perlu diperhatikan bahwa orang-orang yang akan diserahi tugas harus didasarkan pada kualifikasi tidak dibebani terlalu berat dan juga tidak terlalu ringan.

Tahap ketiga, menggabungkan pekerjaan para anggota dengan cara yang rasional dan efisien. Pengelompokan tugas yang saling berkaitan jika organisasi sudah membesar atau kompleks. Penyatuan kerja ini biasanya disebut departementalisasi.

Tahap keempat, menetapkan mekanisme kerja untuk mengkoordinasikan pekerjaan dalam suatu kesatuan yang harmonis.

Pada setiap orang dan setiap bagian melaksanakan pekerjaan atau aktivitas kemungkinan timbul konflik di antara anggota dan

5G. Karta Sapoetra, Dasar-dasar Manajemen Perusahaan, (Bandung:

Armico, 1982), hal. 42.

6Nanang Fatah, Nanang Fatah, Landasan Manajemen Pendidikan, (Bandung:

Remaja Rosda Karya, 1996), hal. 72.

(6)

mekanisme pengkoordinasian memungkinkan setiap anggota organisasi untuk tetap bekerja efektif. Tahap kelima, melakukan monitoring dan mengambil langkah-langkah penyesuaian untuk mempertahankan dan meningkatkan efektivitas. Karena pengorganisasian merupakan suatu proses yang berkelanjutan.

Diperlukan penilaian ulang terhadap keempat langkah sebelumnya secara terprogam atau berkala untuk menjamin konsistensi, efektif, dan efisien dalam memenuhi kebutuhan.

4. Struktur Organisasi

Pada struktur organisasi tergambar posisi kerja, jenis kerja yang harus dilakukan, hubungan atasan bawahan, kelompok, komponen atau bagian, tingkat manajemen dan saluran komunikasi.

Suatu struktur organisasi menspesifikasi pembagian kegiatan kerja dan menunjukkan bagaimana fungsi atau kegiatan yang berbeda-beda itu dihubungkan. Struktur itu juga menunjukkan hierarki dan struktur wewenang organisasi serta memperlihatkan hubungan pelapornya.

Menurut Stoner struktur organisasi dibangun oleh lima unsur yaitu spesialisasi, aktivitas, stantardisasi aktivitas, koordinasi aktivitas, sentralisasi dan desentralisasi pengambilan keputusan serta ukuran unit kerja.

Spesialisasi aktivitas mengacu pada spesifikasi tugas perorangan dan kelompok di seluruh organisasi atau pembagian kerja dan penyatuan tugas tersebut ke dalam unit kerja (departementalisasi). Standar aktivitas merupakan prosedur yang digunakan organisasi untuk menjamin kelayakgunaan aktivitas.

Banyak dari prosedur ini ditetapkan dengan memformulasikan aktivitas dan hubungan dalam organisasi. Menstandardisasi berarti menjadikan seragam dan konsisten pekerjaan yang harus dilakukan bawahan, biasanya dengan menggunakan peraturan, uraian jabatan, program seleksi, orientasi kerja dan keterampilan kerja.

Koordinasi aktivitas adalah prosedur yang memadukan fungsi- fungsi dalam organisasi seperti fungsi primer dalam suatu badan

(7)

usaha, pemasaran, produksi dan penjualan merupakan fungsi garis yang secara langsung menyumbangkan pada pencapaian tujuan organisasi memerlukan koordinasi.7

Sentralisasi dan desentralisasi pengambilan keputusan mengacu pada lokasi kekuasaan pengambilan keputusan. Sentralisasi adalah proses konsentrasi wewenang dan pengambilan keputusan pada tingkat atas suatu organisasi. Sentralisasi dilakukan agar diperoleh manfaat ekonomi dan pengendalian berbagai hal berdasarkan kebijakan, prosedur dan pemantauan yang distandarisasikan. Bawahan semata-mata sebagai pelaksana.

Keuntungan sistem sentralisasi antara lain pengaturan yang sama bagi semua unit dalam organisasi. Kelemahannya bawahan tidak berkembang dan putusan oleh atasan menyita waktu yang lama, terlebih jika data ada pada bawahan. Untuk mengatasi hal itu dilakukan pendelegasian wewenang pada semua tingkat organisasi yang disebut desentralisasi. Desentralisasi vertikal adalah pembagian wewenang formal berdasarkan garis komando (dari atas ke bawah).

Sedangkan desentralisasi horizontal memerlukan wewenang bertindak tidak secara hierarki melainkan bergantung pada keahlian (wewenang fungsional).

Desentralisasi semakin perlu manakala organisasi semakin berkembang. Dengan berkembangnya organisasi maka organisasi yang berdasarkan desentralisasi tidak dapat mewadahi masalah- masalah yang timbul. Dengan demikian pengorganisasian menyangkut penentuan pekerjaan, pembagian kerja, penetapan mekanisme untuk mengkoordinasikan kegiatan. Salah satu hasil dari proses ini struktur organisasi yang merupakan prosedur formal manajemen organisasi. Struktur ini dibentuk sangat bergantung pada tujuan organisasi dan strategi yang akan dipergunakan untuk mencapai tujuan itu.

7Nanang Fatah, Landasan Manajemen…, hal. 73.

(8)

5. Organisasi Formal dan Nonformal

Organisasi sebagai wadah dapat bersifat formal dan dapat pula bersifat nonformal, masing-masing mempunyai tujuan. Perbedaan antara organisasi formal dan organisasi nonformal yaitu:

a. Formal:

1. Hubungan individu jelas(terstruktur dalam organisasi) 2. Pemimpin diangkat dengan surat keputusan

3. Pengendalian prilaku melalui penghargaan dan hukuman 4. Kapasitas pimpinan tergantung penghargaan dan hukuman 5. Resmi

b. Nonformal:

1. Hubungan individu tergantung kekeluargaan, kedekatan pertemanan

2. Pemimpin dipilih tanpa surat keputusan

3. Pengendalian prilaku melalui pemenuhan kebutuhan 4. Kapasitas pimpinan tergantung kelompoknya

5. Tidak resmi8

6. Organisasi Sekolah

Organisasi merupakan aktivitas dalam membagi kerja, mengelompokkan jenis pekerjaan, memberi wewenang, menetapkan saluran perintah dan tanggung jawab kepada para pelaksana.

Sekolah sebagai lembaga pendidikan sudah semestinya mempunyai organisasi yang baik agar tujuan pendidikan formal ini tercapai sepenuhnya. Kita mengetahui unsur personal di dalam lingkungan sekolah adalah kepala sekolah, guru, karyawan dan murid. Di samping itu sekolah sebagai lembaga pendidikan formal ada di bawah instansi atasan baik itu kantor dinas atau kantor wilayah departemen yang bersangkutan. Di negara kita kepala sekolah adalah jabatan tertinggi di sekolah, sehingga sebagai pemimpin kepala sekolah dan dalam struktur organisasi sekolah ia ditempatkan pada tempat paling atas.

Organisasi sekolah yang baik menghendaki agar tugas-tugas dan tanggung jawab dalam menjalankan penyelenggaraan sekolah

8Husaini Usman, Manajemen… hal. 180.

(9)

untuk mencapai tujuannya dibagi secara merata dengan baik sesuai dengan kemampuan, fungsi dan wewenang yang telah ditentukan.

Melalui struktur organisasi yang ada tersebut orang akan mengetahui apa tugas dan wewenang kepala sekolah, tugas guru, tugas karyawan sekolah.

Dengan organisasi yang baik dapat dihindari tindakan kepala sekolah yang menunjukkan kekuasaan yang berlebihan (otoriter), suasana kerja dapat lebih berjiwa demokratis karena timbulnya partisipasi aktif dari semua pihak yang bertannggung jawab.

Partisipasi aktif yang mendidik (pedagogis) dapat digiatkan melalui kegairahan murid sendiri yang bergerak dengan wadah OSIS (organisasi siswa intra sekolah). Oleh Karena itu dalam memikirkan pembentukan organisasi sekolah maka fungsi dan peranan OSIS tidak boleh dilupakan.9

7. Pengorganisasian Dalam Pandangan Islam

Pengorganisasian segala sumber daya untuk mengoptimalkan kemampuan masing-masing pribadi hingga terwujud kerja sama dalam mencapai tujuan melalui pelaksanaan rencana.

Allah SWT dalam surat Al-Maidah ayat 2 berfirman yang artinya:

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.”

Dalam kehidupan organisasi yang di dalamnya berisi kumpulan sejumlah orang adanya pembagian bidang pekerjaan adanya koordinasi di mana kerja sama berlangsung dan usaha mencapai tujuan bersama(organisasi) yang sekaligus menampung tujuan individu. Pembagian pekerjaan menciptakan adanya pemimpin dan anggota di mana dengan otoritas dan keteladanannya

9Suryo subroto, Manajemen Pendidikan Di Sekolah, (Jakarta:Rineka Cipta, 2004), hal. 140.

(10)

mempengaruhi para anggota untuk bekerja secara sukarela dan bersama-sama mencapai tujuan.

Dalam surat An-Nisa’ ayat 58 yang artinya:

“Sungguh Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil.

Sesungguhnya sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu.”

Suatu yang diwakilkan kepadanya dan menyadari benar bahwa ia akan dimintai pertanggungjawaban tersebut di hadapan Allah. Orang- orang yang menerima amanah berarti harus mempertanggungjawabkannya kepada Allah dan organisasi yang memberikan kepercayaan tersebut. Amanah harus diberikan kepada orang-orang yang berhak yaitu orang-orang yang memiliki kompetensi intelektual dan manajerial, dalam organisasi harus diberi amanah dalam jabatan tertentu sesuai kemampuannya, sebab profesionalisme sangat dihargai dalam Islam.

C. PENUTUP

Organisasi secara umum merupakan memberi struktur atau susunan yaitu dalam penyusunan/penempatan orang-orang dalam suatu kelompok kerjasama, dengan maksud menempatkan hubungan antara orang-orang dalam kewajiban-kewajiban, hak-hak dan tanggung jawab masing-masing. Penentuan struktur, hubungan tugas dan tanggung jawab itu dimaksudkan agar tersusun suatu pola kegiatan untuk menuju ke arah tercapainya tujuan bersama.

DAFTAR PUSTAKA

G. Karta Sapoetra, Dasar-dasar Manajemen Perusahaan, (Bandung:

Armico, 1982),

Habiburrahim, H. (2017). Developing an English Education Department Curriculum. Jurnal Ilmiah Peuradeun, 5(1), 1-14.

(11)

doi:10.26811/peuradeun.v5i1.114

Handoko. T. Hani, Manajemen, (Yogyakarta:BPFE, 2003)

Hughes, K., & Batten, L. (2016). The Development of Social and Moral Responsibility in Terms of Respect for the Rights of Others. Jurnal Ilmiah Peuradeun, 4(2), 147-160.

doi:10.26811/peuradeun.v4i2.93

Husaini Usman, Manajemen Teori, Praktik dan Riset Pendidikan, Jakarta:

Bumi Aksara, 2006.

I. Gitosudarmo, Prinsip Dasar Manajemen, Yogyakarta: BPFE-UGM, 1983.

Idris, S., & Tabrani ZA. (2017). Realitas Konsep Pendidikan Humanisme dalam Konteks Pendidikan Islam. JURNAL EDUKASI: Jurnal Bimbingan Konseling, 3(1), 96–113.

https://doi.org/10.22373/je.v3i1.1420

Lewis, M., & Ponzio, V. (2016). Character Education as the Primary Purpose of Schooling for the Future. Jurnal Ilmiah Peuradeun, 4(2), 137-146. doi:10.26811/peuradeun.v4i2.92

M. Thoha, Prilaku Organisasi Konsep Dasar dan Aplikasinya, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1993.

Melayu S.P Hasibuan, Manajemen Dasar, Pengertian dan Masalah, (Jakarta: Bumi Aksara, 2001),

Nanang Fatah, Landasan Manajemen Pendidikan, Bandung: Remaja Rosda Karya, 1996.

Nufiar, N., & Idris, S. (2016). Teacher Competence Test of Islamic Primary Teachers Education in State Islamic Primary Schools (MIN) of Pidie Regency. Jurnal Ilmiah Peuradeun, 4(3), 309-320.

doi:10.26811/peuradeun.v4i3.105

R. Steer, Efektivitas Organisasi (Terjemahan), Jakarta: Erlangga, 1980.

Suryosubroto, Manajemen Pendidikan Di Sekolah, Jakarta:Rineka Cipta, 2004.

Syafaruddin, Manajemen Lembaga Pendidikan, Jakarta: Ciputat Pres, 2005.

Tabrani ZA. (2009). Ilmu Pendidikan Islam (antara Tradisional dan Modern). Kuala Lumpur: Al-Jenderami Press.

(12)

Tabrani ZA. (2011). Dynamics of Political System of Education Indonesia. International Journal of Democracy, 17(2), 99–113.

Tabrani ZA. (2012). Future Life of Islamic Education in Indonesia.

International Journal of Democracy, 18(2), 271–284.

Tabrani ZA. (2014c). Islamic Studies dalam Pendekatan Multidisipliner (Suatu Kajian Gradual Menuju Paradigma Global). Jurnal Ilmiah Peuradeun, 2(2), 211–234.

Tabrani ZA. (2014d). Isu-Isu Kritis dalam Pendidikan Islam Perspektif Pedagogik Kritis. Jurnal Ilmiah Islam Futura, 13(2), 250–270.

https://doi.org/10.22373/jiif.v13i2.75

Tabrani ZA. (2015a). Arah Baru Metodologi Studi Islam. Yogyakarta:

Penerbit Ombak.

Tabrani ZA. (2015b). Persuit Epistemology of Islamic Studies (Buku 2 Arah Baru Metodologi Studi Islam). Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Tabrani ZA. (2016). Perubahan Ideologi Keislaman Turki (Analisis Geo-Kultur Islam dan Politik Pada Kerajaan Turki Usmani).

JURNAL EDUKASI: Jurnal Bimbingan Konseling, 2(2), 130–146.

https://doi.org/10.22373/je.v2i2.812

Tabrani ZA. (2017). Menggugat Logika Nalar Rasionalisme Aristoteles.

Yogyakarta: Mizan.

Walidin, W., Idris, S., & Tabrani ZA. (2015). Metodologi Penelitian Kualitatif & Grounded Theory. Banda Aceh: FTK Ar-Raniry Press.

Yusak Burhanuddin, Administrasi Pendidikan, Bandung: Pustaka Setia, 1998.

Referensi

Dokumen terkait

Umumnya, gaya yang bekerja pada luas yang kecil tak terhingga sebuah potongan, akan terdiri dari bermacam-macam besaran arah. Dalam mekanika bahan diperlukan

KabupatenPesisir Barat adalah Bagaimana penyelenggaraan aktivitas dengan pemanfaatan Fungsi Pengorganisasian yang meliputi Pembagian Kerja, Pengelompokan Pekerjaan,

Untuk memperoleh data yang diperlukan, dilakukan dengan menggunakan beberapa instrumen yaitu skala Pengaturan Diri dalam Belajar (S-PDDB), skala persepsi mahasiswa tentang

Ijazah dalam bidang kaligrafi yang jenisnya bermacam-macam, diberikan kepada mahasiswa oleh seseorang profesor yang menyatakan mereka layak untuk bekerja sebagai penulis

Manajemen adalah suatu usaha mencapai tujuan organisasi dengan bantuan orang lain.

Dalam menggerakkan orang lain guna mencapai tujuan, pemimpin biasanya menampakkan perilaku kepemimpinannya dengan bermacam-macam. Sebagaimana yang

Variabel penelitian merupakan suatu objek, atau sifat, atau atribut atau nilai dari orang, atau kegiatan yang mempunyai bermacam-macam variasi antara satu dengan

Dalam pengorganisasian, penyusunan struktur organisasi merupakan hal yang sangat penting agar setiap orang yang berada dalam organisasi tersebut mengetahui dengan jelas tugas atau