• Tidak ada hasil yang ditemukan

perlindungan hukum bagi pekerja pembuat

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "perlindungan hukum bagi pekerja pembuat"

Copied!
85
0
0

Teks penuh

(1)

PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PEKERJA PEMBUAT BATAKO DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM

“Studi Kasus Sistem Waktu Kerja dan Upah Pekerja Pembuat Batako di Kelurahan Leneng Kecamatan Praya Kabupaten

Lombok Tengah’’

OLEH DEWI AGUSTIA

170201039

PROGRAM STUDI HUKUM EKONOMI SYARIAH FAKULTAS SYARIAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM MATARAM

2022

(2)

PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PEKERJA PEMBUAT BATAKO DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM

“Studi Kasus Sistem Waktu Kerja dan Upah Pekerja Pembuat Batako di Kelurahan Leneng Kecamatan Praya Kabupaten

Lombok Tengah’’

Skripsi

diajukan kepada Universitas Islam Negeri Mataram untuk melengkapi persyaraan mencapai gelar sarjana Hukum

OLEH DEWI AGUSTIA

170201039

PROGRAM STUDI HUKUM EKONOMI SYARIAH FAKULTAS SYARIAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM MATARAM

2022

(3)

ii

(4)

iii

(5)

v

(6)

vi MOTTO

Q. S An-Nahl Ayat 71:

ْيِ دۤاَرِب ا ْوُل ِ ضُف َنْيِذَّلا اَمَف ِِۚق ْز ِ رلا ىِف ٍضْعَب ىٰلَع ْمُكَضْعَب َلَّضَف ُ هاللّٰ َو َن ْوُدَحْجَي ِ هاللّٰ ِةَمْعِنِبَفَا ٌۗ ءۤا َوَس ِهْيِف ْمُهَف ْمُهُناَمْيَا ْتَكَلَم اَم ىٰلَع ْمِهِق ْز ِر

Artinya:

“Dan allah melebihkan sebahagian kamu dari sebagian yang lan dalam hal rezki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezekinya itu) tidak mau memberikan rezeki

mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rezeki itu. maka mengapa

mereka mengingkari nikmat allah?”

(7)

vii

PERSEMBAHAN

“Kupersembahkan skripsi ini untuk bapakku H.Munadi dan Ibuku Baiq Aisyah beserta saudara-saudaraku tercinta dan guru-guruku dan untuk pembaca yang akan mengambil mamfaat dari skrispsi ini”

(8)

viii

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kepada Allah swt., atas rahmat dan karunianya-Nya, serta shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad Saw., juga kepada keluarga, sahabat, dan semua pengikutnya, Amin. Akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul ” PERLINDUNGAN

HUKUM BAGI PEKERJA PEMBUAT BATAKO DALAM

PERSPEKTIF HUKUM ISLAM Studi Kasus Sistem Waktu Kerja dan Upah Pekerja Pembuat Batako di Kelurahan Leneng Kecamatan Praya Kabupaten Lombok Tengah’’

Penulisan skripsi ini disusun untuk diajukan sebagai salah satu persyaratan guna memperoleh gelar sarjana Hukum (S.H) fakultas Syariah program studi hukum ekonomi Syariah. Penulis menyadari berbagai pihak telah banyak berperan dalam proses penyelesaian skripsi ini, mulai dari masa perkuliahan sampai dalam proses penyusunannya. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu sebagai berikut:

1. Dr. Baiq Ratna Mulhimmah, M.H. dan Dr. Hj. Teti Indrawati.

P.,S.H., M.Hum. selaku dosen pembimbing yang selalu memberikan pengarahan dan masukan yang berkaitan dengan peneliti serta telah meluangkan waktu dan pikiran sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik.

2. Dr. moh. Asyiq Amrullah, M.Ag. selaku dekan fakultas syaria’ah UIN Mataram.

3. Dr, Syukri, M.Ag. selaku ketua program studi hukum ekonomi syariah.

4. Bapak Prof. H. Masnun Tahir, selaku Reketor UIN Mataram

(9)

ix

5. Bapak dan Ibu dosen Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram yang telah memberikan ilmu kepada peneliti serta seluruh staf akademik yang membantu penyusunan untuk memperoleh data dalam penyusunan skripsi ini.

6. Kedua orang tuaku Ibu Baiq Aisyah dan Bapak H. Munadi serta saudara-saudara yang telah memberikan support yang sangat luar biasa sehingga saya bisa sampai di titik ini.

7. Beserta Teman-Teman seperjuangku yang tidak henti memberikan semangat dalam penyusunan skripsi ini.

8. Almamaterku dan kampus UIN Mataram,

Semoga amal kebaikan dari kalian semua dari berbagai pihak tersebut mendapat pahala yang berlipat ganda dari Allah Swt., dan semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi kita semua.

Amiin.

Mataram _____________2022 Penulis

Dewi Agustia

(10)

x DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ...

HALAMAN JUDUL ... i

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

NOTA DINAS PEMBIMBING ... iii

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... iv

PENGESAHAN ... v

HALAMAN MOTTO ... vi

HALAMAN PERSEMBAHAN ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... x

ABSTRAK ... xiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan dan Mamfaat Penelitian ... 6

D. Ruang Lingkup dan Setting penelitian ... 7

E. Telaah Pustaka ... 7

F. Kerangka Teori ... 11

G. Metode Penelitian ... 25

H. Sistematika Pembahasan ... 29

BAB II PAPARAN DAN TEMUAN DATA ... 31

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 31

(11)

xi

B. Upaya Pemerintah Dalam Memberikan Perlindungan

Hukum Bagi Para Pekerja/Buruh ... 35

BAB III PEMBAHASAN ... 41

A. Perlindungan Hukum Bagi Pekerja/Buruh Pembuat Batako dalam sistem Waktu Kerja ... 41

B. Perlindungan Hukum Bagi Pekerja/Buruh Pembuat Batako dalam Menentukan Upah ... 45

C. Perlindungan Terhadap Pekerja/Buruh Menurut Hukum Islam ... 47

BAB IV PENUTUP ... 57

A. Kesimpulan ... 57

B. Saran ... 58

DAFTAR PUSTAKA……… 61

LAMPIRAN………64

(12)

xii

PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PEKERJA PEMBUAT BATAKO DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM (STUDI KASUS SISTEM WAKTU KERJA DAN UPAH PEKERJA PEMBUAT BATAKO DI KELURAHAN LENENG KECAMATAN PRAYA KABUPATEN LOMBOK TENGAH )

Oleh:

Dewi Agustia 170201039 ABSTRAK

Pemberian upah pekerja batako di Kelurahan Leneng Kecamatan Praya tidak sesuai dengan jam kerja yang diberikan oleh pengusaha dan upah yang diberikan berdasarkan lamanya waktu kerja pembuat batako tersebut. Oleh karena itu Tujuan penelitian adalah Untuk mengetahui dan menjelaskan praktik pembagian waktu kerja bagi pekerja pembuat batako terhadap waktu kerja pembuatan batako setiap harinya di Kelurahan Leneng Kabupaten Lombok Tengah dan Untuk mengetahui dan menejelaskan perlindungan hukum bagi pekerja pembuat batako terhadap pembagian sistem waktu kerja di Kelurahan Leneng Kabupaten Lombok Tengah berdasarkan undang-undang dan perspektif hukum islam.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, berdasarkan tekhnik pengumpulan data yang digunakan adalah melalui wawancara, dokumentasi, observasi. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan analisis Deskriptif. Memaparkan informasi-informasi factual yang di

(13)

xiii

peroleh dari lapangan yang banya bersifat informasi dan keterangan- keterangan baik berupa kata-kata lisan maupun tulisan dan langkah- langkah yang dapat diamati dari orang-orang yang diteliti.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemerintah dalam hal undang- undang perlindungan hukum tentang pekerja/buruh disini sebenarnya sudah ditetapkan aturannya namun sayangnya belum maksimal dalam mensosialisasikan bagaimana pentingnya pengetahuan pengusaha atau pun pekerja dalam menentunkan hak-haknya sebagai pekerja dan pengusaha yang harus mengetahui hak-hak para karyawan mereka pekerjakan walaupun itu termasuk dalam usaha menengah.

Kata Kunci: Buruh, Pengusaha, Pemerintah

(14)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang Masalah

Undang-Undang dasar Republik Indonesia 1945 pasal 28D ayat 2 menjelaskan bahwa “Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja”1dalam pasal 28D di atas undang-undang sudah menjelaskan bahwa setiap orang yang bekerja sebagai pekerja/buruh itu harus mendapatkan perlakuan yang adil dari pengusaha maupun pemerintah dari segi jam kerja, upah, keselamatan kerja seperti yang sudah ditetapkan dalam UU nomor 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan.

Peran tenaga kerja sebagai modal usaha dalam melaksanakan pembangunan harus didukung juga dengan jaminan hak setiap pekerja.2 setiap tenaga kerja diberikan kesempatan untuk memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan dan keahliannya serta diberikan penghasilan yang layak sehigga dapat menjamin kesejahteraan dirinya beserta keluarga yang menjadi tanggungannya.

Banyak sekali terdapat usaha-usaha kecil disekitar lingkungan kita sekarang ini. Yang sebagian besar memiliki beberapa karyawan yang bekerja pada industri tersebut salah satu contohnya seperti pengusaha batako. Yang dimana di sekitar kecamatan praya ini ada banyak sekali kalangan-

1 Undang-Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945

2 Asri Wijayanti, , hukum ketenagakerjaan pasca reformasi, ( sinar grafika,

Jakarta , 2009 ), h.6.

(15)

2

kalangan atau masyarakat yang beralih profesi sebagai pengusaha batako karna mereka meyakini bahwa usaha tersebut dapat memberikan keuntungan yang banyak dan modal yang dibutuhkan tidak terlalu banyak.

Dari banyaknya masyarakat yang beralih menggunakan batako sebagai bahan utama mereka untuk membuat rumah. dari sebab itulah yang menyebabkan pelaku usaha lebih memilih profesi sebagai pengusaha batako dari modal yang tidak terlalu besar dan mereka mendapat keuntungan yang jauh lebih besar daripada modal yang mereka keluarkan.

Dengan banyaknya masyarakat yang beralih membeli batako untuk dijadikan bahan utama untuk membuat rumah maka disini tidak mungkin mereka membuat batako sendiri, akan tetapi disini mereka harus mempekerjakan orang untuk membantunya dalam mengerjakan proses pembuatan batako tersebut. untuk bisa mempekerjakan para pengusaha harus memberikan pengarahan terlebih dahulu bagaimana cara membuat batako tersebut.

Sehingga banyak sekali para pelaku usaha ini mempekerjakan lebih dari 3 orang. Dari banyaknya karyawan membuat batako setiap harinya maka pengusaha harus lebih memperhatikan karyawannya dari waktu kerja mereka ataupun upah yang didapata setiap bulan atau setiap jumlah batako yang mereka buat. Namun disini seperti yang diketahui setiap pengusaha tidak memperhatikan para pekerja mereka dan apa yang mereka kerjakan dan resiko yang mereka alami.

Islam juga sudah menjelaskan bahwasanya al-quran dan hadits sebagai tuntunan dan pegangan bagi kaum muslimin mempunyai fungsi tidak harus mengatur dalam segi ibadah saja

(16)

3

melainkan juga mengatur umat dalam memberikan tuntutan dalam masalah yang berkenaan dengan bekerja. Dalam hal ini, Islam sangat mencela pekerjaan meminta-minta dan mengharap pemberian rizki dari orang lain.3 Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW:

ْنَع َر َةَريَرُه يِبَا يَلَع الله ىَّلَص الله لوُس َر َلاَق ُهنَع الله ي ِض

ِه : مَلَس َو ًةَم ْزُح مُكُدَحَا َبِطَتْحَي ْنَ َلَ

ْنَا ْنِم ُهَل رْيَخ ،ِه ِرْهَظ ىلَع ُهَعَنْمَي ْوَا ُهَيِطْعُيَف اًدَحَا َلَأْسَي

Artinya: “Dari Abu Hurairah ra “Rasulullah saw bersabda: “Andainya seseorang mencari kayu bakar dan dipikul di atas punggungya, hal itu lebih baik daripada kalau ia meminta-minta pada seseorang yang kadang-kadang diberi, dan kadang-kadang pula ditolak.” (H.R Bukhari)4

Hadis di atas menanggapi bahwa tidak ada alasan bagi seorang muslim untuk hidup menganggur. Karena sikap hidup yang tidak memberikan makan apalagi menjadi beban dan peminta-minta, pada hakekatnya merupakan kehinaan yang durjana. Setiap muslim sebenarnya dituntut untuk menyadari bahwa dirinya berharga apabila ia berkarya mencipata dan mampu memberikan arti pada lingkungannya.5

Bekerja bagi umat Islam tentu tidak hanya dilandasi oleh tujuan yang bersifat duaniawi belaka. lebih dari itu, bekerja adalah untuk beribadah. bekerja akan memberikan hasil hasil

3 Susi Dwi Bawarni dkk, Potret Keluarga Sakinah, (Jakarta :Media Idaman

Press, 2000),h.27

4 Imam Bukhari, Shahih al-Bukhary, jilid IV, (Beirut : dar al-Fikr, t.th.),

h.193

5 Toto Tasmara, Etos kerja Pribadi Muslim, (Yongyakarta : PT. Dana Bhakti

Wakaf ,(1994), h.5

(17)

4

inilah yang memungkinkan kita dapat makan, berpakaian tinggal di sebuah rumah, memberi nafkah keluarga dan menjalankan bentuk-bentuk ibadah lainnya secara baik.

Ketentuan jam kerja yang sudah ditentukan oleh pemerintah kepada para pengusaha untuk mempekerjakan seorang pekerja/buruh.mengenai waktu kerja diatur dalam pasal 77 undang-undang no. 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan yaitu: 1. setiap pengusaha wajib melaksanakan ketentuan wajib kerja 2. waktu kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 meliputi: a. 7 jam 1 hari dan 40 jam 1 minggu untuk 6 hari kerja dalam 1 minggu, atau b. 8 jam 1 hari dan 40 jam 1 minggu untuk 5 hari kerja dalam 1 minggu c. ketentuan waktu kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat 2 tidak berlaku bagi sektor usaha atau pekerjaan tertentu d. ketentuan mengenai waktu kerja pada sector usaha atau pekerjaan tertentu sebagaimana dimaksud dalam ayat 3 diatur dengan keputusan menteri.

Proses pembuatan batako masih banyak memerlukan tenaga kerja fisik. hampir seluruh penanganan materialnya dilakukan secara manual serta mengandalkan kekuatan fisik para pekerja. berdasarkan penagamatan di lapangan, beberapa elemen pekerjaan masih menggunakan tenaga fisik yaitu seperti penyaringan bahan baku berupapasir agar tidak ada kerikil yang terproses. meskipun ada alat yang bias membantu proses pembuatan batako, namun peran pekerja tetap dibutuhkan, meski sudah ada alat pengadukan yang bisa mempercepat proses pengadukan, namun pekerja dibutuhkan untuk memindahkan pasir ke alat pencetak batako. saat batako selesai di cetak, batako dipindahakan secara manual oleh pekerja untuk proses pengeringan. material handling yang masih dilakukan

(18)

5

secara manual tersebut membutuhkan tenaga pekerja demi kelangsungan proses pembuatan batako.

Seperti yang terjadi di beberapa tempat usaha ini yaitu, pengusaha batako, yang mana para pemilik usaha batako ini mempekerjakan pegawainnya sampai dengan batas waktu Yng ditentukan oleh pengusaha yaitu dari jam 07:00 Pagi sampai dengan jam 18.00 sore dan diberikan upah seperti yang sudah distentukan oleh pengusaha tidak adanya uang lembur bagi para pegawai yang bekerja sampai jam tersebut yang sepatutnya pengusaha akan memberikan uang lembur bagi pegawainya jika mereka bekerja lembur dan upah yang diberikan tidak sesuai yaitu Rp. 70.000 per hari dimana itu dihitung dari lama mereka bekerja apabila mereka bekerja lebih lama di tempat usaha batako tersebut maka upah yang mereka terima lebih besar begitu juga sebaliknya dan sistem upah juga ditentukan kepada berapa batako yang mereka buat setiap harinya. apabila mereka membuat batako setiap harinya sekitar 300 buah batako namun disini mereka hanya diberikan upah sekitar Rp. 80.000 per harinya itu menandakan bahwa upah tidak sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan.

Dari pemaparan diatas maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang pembagian waktu kerja yang ditentukan oleh pemilik usaha batako dengan judul penelitian

“PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PEKERJA PEMBUAT BATAKO DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM STUDI KASUS SISTEM WAKTU KERJA DAN UPAH PEKERJA

PEMBUAT BATAKO DI KELURAHAN LENENG

KECAMATAN PRAYA KABUPATEN LOMBOK TENGAH

(19)

6 B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana praktik sistem waktu kerja dan upah pekerja pembuat batako di kelurahan leneng Kecamatan Praya Kabupaten Lombok Tengah?

2. Bagaimana perlindungan hukum tentang sistem waktu kerja dan upah pekerja pembuat batako dalam perspektif hukum Islam?

C. Tujuan dan Mamfaat Penelitian 1. Tujuan

Tujuan dari penelitian ini adalah

a. Untuk mengetahui dan menjelaskan praktik pembagian waktu kerja bagi pekerja pembuat batako terhadap waktu kerja pembuatan batako setiap harinya di Kelurahan Leneng Kabupaten Lombok Tengah

b. Untuk mengetahui dan menejelaskan perlindungan hukum bagi pekerja pembuat batako terhadap pembagian sistem waktu kerja di Kelurahan Leneng Kabupaten Lombok Tengah berdasarkan undang-undang dan perspektif hukum islam

2. Manfaat penelitian a. Manfaat Teoritis

Penelitian diharapkan dapat menambah literatur atau kajian teoritis mengenai pengaruh jumlah jam kerja terhadap pendapatan tenaga kerja serta membuka kemungkinan untuk mengadakan penelitian lebih tentang permasalahan waktu/jam kerja.

b. Mamfaat Praktis 1) Bagi Masyarakat

Hasil penelitian ini diharapkan bermamfaat sebagai sumber informasi data sekunder bagi seorang peneliti

(20)

7

lain dan memberikan masukan yang berharga bagi masyarakat tentang perlindungan hukum terhadap pekerja pembuat batako dan sistem waktu kerja dan pendapatan tenaga kerja tersebut.

2) Bagi Pemerintah

Diharapkan mampu sebagai pertimbangan kebijakan untuk lebih focus kepada pekerja/buruh bangunan dan lebih tegas lagi terhadap perlindungan hukum yang berlaku

3) Bagi Peneliti Lain

Untuk kedepannya dihaapkan mampu menjadi refrensi untuk penelitian selanjutnya terkait perlindungan hukum bagi pekerja/buruh

D. Ruang Lingkup dan Setting penelitian

Lokasi yang peneliti ini adalah Kelurahan Leneng Kabupaten Lombok Tengah, karena di tempat ini terdapat beberapa pengusaha batako. adapun yang menjadi alasan peneliti memilih kelurahan leneng kabupaten Lombok tengah ini sebagai lokasi karena di tempat ini beberapa pengusaha masih belum mengetahui tentang bagaimana perlindungan hukum terhadap buruh dan waku kerja terhadap pendapatan tenaga kerja dan dalam perspektif hukum Islam di Kelurahan Lenang Kabupaten Lombok Tengah

E. Telaah Pustaka

Agar penelitian ini dapat dipertanggung jawabkan keasliannya, maka peneliti menguraikan secara sistematis hasil

(21)

8

penelitian terdahulunyang berfungsi menunjukkan bahwa masalah yang akan dibahas belum pernah diteliti sebleumnya

Adapun judul penelitian yang dilakukan sebelumnya yang mirip dengan penelitian ini yang akan dilakukan peneliti yaitu:

1. Nurudin Yunus, dengan judul Skripsi Perlindungan Hak Pekerja atas Upah Lembur Kerja yang Layak (Studi Pengupahan di Kabupaten Klaten), skripsi ini yang menjadi rumusan masalah adalah 1. Bagaimana praktik pemberian upah lembur terhadap pekerja di kabupaten klaten? 2.

bagaimana peran pemerintah dalam penegakan peraturan perundang-undangan dalam perlindungan hak pekerja atas upah lembur? kesimpulan dari Skripsi Nurudin Yunus adalah bahwa pembagian upah lembur yang diberikan perusahaan kepada pekerja belum sesuai dengan peraturan perundang-undangan, karena praktik pemberian upah lembur dari perusahaan masing-masing memilki sistem pembayaran upah lembur, namun masih tidak didasari dengan aturan yang telah tercantum di dalam undang- undang ketenagakerjaan

Persamaan penelitian ytang dilakukan oleh saudara Nurudin Yunus dengan peneliti adalah sama-sama membahas tentang belum adanya peran pemerintah dalam menjalankan tugas dan wewenangnya untuk menegakkan undang-undang dalam melindungi hak-hak pekerja buruh.

Sedangkan Perbedaan peneliti yang dilakukan saudara Nurudin Yunus dengan peneliti adalah skripsi saudara Nurudin Yunus hanya menelii tentang upah lembur saja

(22)

9

sedangkan peneliti membahas tentang upah dan waktu kerja buruh.6

2. Wahyu Nurmalia Ulvah dengan judul skripsi perlindungan hukm buruh kontrak dalam perspektif undang-undnag no 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan dan hukum ekonomi syariah studi kasus PT. central partiwi bahari bratasena kecamatan dente teladas, tulang bawang, lampung.skripsi yang menjadi rumusan masalanya adalah bagaimana perlindungan hukum buruh kontrak di PT. central pertiei bahari bratasena ditinjau dari hukum ekonomi syariah?

kesimpulan dari skripsi saudari wahyu nurmalia ulvah adalah perlindungan hukum terhadap terhadap pekerja menurut undang-undang no 13 tahun 2003 sebenarnya sudah diterapkan di PT. central pertiwi bahari bratasena kecamatan dente teladas tulang bawang, namun implementasi terhadap pekerja belum sepenuhnya dirasakan. hal tersebut terlihat dari adanya pekerja buruh kontrak yang belum terealisasi dalam hal penentuan waktu kerja lembur dan pengupahan serta hak cuti atau hari libur tidak diberikan.

Persamaan dari penelitian saudari wahyu nurmalia ulvah dengan peneliti adalah sama-sama belum diberikan hak-hak sepenuhnya sebagai pekerja/buruh serta pengupahan yang belum terealisasi. sedangkan perbedaan peneliti yang dilakukan oleh saudari Wahyu Nurmalia Ulvah dengan peneliti adalah penelitian yang dilakukan oleh saudari Wahyu Nurmalia Ulvah di PT. Central Pertiwi Bahari sudah

6 Nurudin Yunus, Perlindungan Hak Pekerja atas Upah Lembur Kerja yang Layak (Studi Pengupahan di Kabupaten Klaten) Skripsi Fakultas Hukum, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, 2017

https://dspace.uii.ac.id/handle/123456789/21/browse?type=author&value=Nurudin- Yunus

(23)

10

diterapkannya undang-undang yang berlaku namn terlaksana dengan maksimal sedangkan yang peneliti menemukan bahwa di tempat usaha pembuatan batako ini pengusaha belum menerapkan atau tidak mengetahui tentang peraturan undang-undang yang berlaku terhadap para pekerja/buruh yang bekerja sebagai pembuat batako.7 3. Shinta Kumala Sari, dengan judul,perlindungan hukum bagi

tenaga kerja dam perjanjian kerja waktu tertentu di CV.

shofa marwah. skripsi yang menjadi rumusan masalahnya yaitu: 1. apakah di CV. shofa marwah sudah sesuai dengan peraturan perundang-undanganyang berlaku terhadap jenis pekerjaan yang menjadi objek dalam perjanjian kerja waktu tertentu? 2. apakah di CV. shofa marwah telah diatur jangka waktu dalam perjanjian kerja waktu tertentu dan apakah sudah sesuai dengan pertauran perundang-undangan yang berlaku? 3. apakah di CV. shofa marwah sudah sesuai dalam memenuhi hak-hak pekerja dalam perjanjian kerja waktu tertentu dengan peraturan perundang-undang yang berlaku? kesimpulan dari saudari shinta kumala sari 1.

perlindungan hukum terhadap pekerja di CV. shofa marwah disini pelaksanaan perlindungan terhadap para karyawan sudah sesuai dan berani menggunakan system pelaksanaan PKWT 2. jenis suatu pekerjaan yang menjadi obyek perjanjian sudah sesuai dengan peraturan perundang- undang, sehingga para pegawai khususnya pegawai cleaning service di CV. shofa marwah sudah dalam perjanjian kerja.

7 Wahyu NurmaliaUlvah, perlindungan hukm buruh kontrak dalam

perspektif undang-undnag no 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan dan hukum ekonomi syariah studi kasus PT. central partiwi bahari bratasena kecamatan dente teladas, tulang bawang, lampung Skripsi Fakultas Syariah , Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Metro, Metro Lampung, 2018

https://repository.metrouniv.ac.id/id/eprint/1716/

(24)

11

perbedaan penelitian yang dilakukan oleh Shinta Kumala Sari dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah penelitian yang dilakukan oleh shinta kumala sari disini yang tempat penelitiannya di CV. shofa marwah yang sudah sesuai dengan peraturan perundang-undangan sehingga para pekerja sudah terjamin dalam bekerja sedangkan yang peneliti teliti disini belum jelas apakah para pekerja/buruh mendapatkan sesuai dengan apa yang mereka kerjakan sedangkan persamaan yang dilakukan peneliti adalah sama- sama mengkaji perlindungan hukum terhadap pekerja/buruh8

F. Kerangka Teori

1. Perlindungan Hukum

Pada hakekatnya, setiap Negara pasti memberikan suatu perlindungan hukum bagi setiap warganya. di dalam UUD 1945 alenia ke 4 disebutkan bahwa “pemerintah Negara Indonesia melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum”

Ini menunjukan bahwa pemerintah memberikan perlindungan bagi seluruh rakyat Indonesia, termasuk para pekerja dan buruh. Perlindungan tenaga kerja bertujuan untuk menjamin berlangsungnya system hubungan kerja secara harmonis tanpa disertai adanya tekanan dari pihak yang kuat kepada pihak yang lemah. tenaga kerja adalah orang yang

8 Shinta Kumala Sari, Perlindungan Hukum Bagi Pekerja Dalam Perjanjian

Kerja Waktu Tertentu (PKWT) di CV. Shofa Marwah (Skripsi Fakultas Hukum, UNS, Surakarta, 2011 https://digilib.uns.ac.id/dokumen/detail/18888/ Perlindungan - Hukum-Bagi-Pekerja-Dalam-Perjanjian-Kerja-Waktu-Tertentu-PKWT-di-CV-Shofa- Marwah

(25)

12

mampu melakukakn pekerjaan guna menghasilkan barang atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat.9

Menurut Satjipto Rahardjo, perlindungan hukum adalah memberikan pengayoman terhadap hak asasi manusia yang dirugikan orang lain dan perlindungan itu diberikan kepada masyarakat agar dapat menikamati semua hak-hak yang diberikan oleh hukum.10 Menurut Soepomo “perlindungan hukum terhadap tenaga kerja adalah penjagaan agar tenaga kerja dapat melakukan pekerjaan yang layak bagi kemanusiaan. salah satu bentuk perlindungan hukum ini adalah norma kerja yang meliputi perlindungan terhadap tenaga kerja yang bertalian dengan waktu kerja, system pengupahan yang sesuai dengan peraturan perundang-undang yang ditetapkan pemerintah, kewajiban social kemasyarakatan dan sebagian memelihara kegairahan dan moril kerja yang menjamin daya guna kerja yang tinggi serta perlakuan yang sesuai dengan martabat dan moril11

Perlindungan hukum terhadap tenaga kerja ini terjadi karena adanya suatu hubungan kerja antara pekerja dengan pengusaha, hubungan kerja ini lahir karena adanya perjanjian kerja.dalam perjanjian kerja tersebut berisi tentang pengaturan mengenai syarat-syarat kerja, hak dan kewajiban pekrja dan pengusaha, pengupahan serta jaminan social tenaga kerja.

9 Hardijan Rusli, hukum ketenagakerjaan. (Jakarta: ghalian Indonesia 2003),

hlm 12.

10 Satjipto Rahardjo ,ilmu hukum, (Bandung, PT. citra aditya bakti 2000),

hlm 54

11 Joni Bambang S , Hukum Ketenagakerjaan, (Bandung, pustaka setia,

2013) hal 263-264

(26)

13

Pasal 1 angka 15 undang-undang no.13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan menyatakan bahwa “hubungan kerja adalah hubungan antara pengusaha drngan pekerja/buruh berdasarkan perjanjian kerja, yang mempunyai unsur pekerjaan, upah dan perintah.”12

Ada dua macam perlindungan hukum, yaitu perlindungan hukum preventif dan perlindungan represif13 1. Perlindungan hukum preventif

Perlindungan hukum preventif artinya rakyat diberikan kesempatan untuk mengajukan keberatan atau pendapatnya sebelum keputusan pemeritah mendapat bentuk yang defmitive. dalam hal ini artinya perlindungan hukum yang preventif ini bertujuan untuk mencegah terjadinya sengketa. perlindungan hukum yang preventif sangat besar artinya bagi tindak pemerintah yang didsarkan pada kebebasan bertindak karea dengan adanya perlindungan hukum yang prefentiv pemerintah terdorong untuk bersikap hati-hati dalam mengambil keputusan. menrut phlipus M.Hadjon preventif merupakan keputusan dari aparat pemerintah yang lebih rendah yang dilakukan sebelumnya.

tindakan prventif adalah tindakan pencegahan.14 2. Perlindungan hukum represif

12 undang-undang nomor 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan

13 Philipus M.Hadjon, perlindungan hukum bagi rakyat Indonesia, (Surabaya: bina ilmu 1987)

14 Hadjon, dkk,, pengantar administrasi Negara, (Yogyakarta: gajah mada

university 2002), hlm 3.

(27)

14

Perlindungan hukum represif, yaitu perlindungan hukum yang diberikan setelah adanya sengkta. perlindungan hukum represif ini bertujuan untuk menyelesaikan sengketa.

Menurut Imam Soepomo, perlindungan tenaga kerja dibagai menjadi 3 macam yaitu:

a. Perlindungan sosial, yaitu perlindungan yang berkaitan dengan usaha kemasyarakatan yang tujuannya untuk memungkinkan pekerja mengenyam dan khususnya sebagai anggota masyarakat dan anggota keluarga.

perlindungan social ini disebut dengan kesehatan kerja.

b. Perlindungan Teknis, yaitu suatu perlindungan yang berkaitan dengan usaha- usaha untuk menjaga pekerja terhindar dari bahaya kecelakaan saatbekerja. perlindungan ini disebut sebagai keselamatan kerja.

c. Perlindungan Ekonomis, yaitu suatau perlindunagn yang berkaitan dengan usaha- usaha untuk memberikan kepada pekerja suatu penghasilan yang cukup guna memenuhi kebutuhan sehari-hari. ketiga perlindungan jenis disebut jaminan social.

2. Waktu Kerja

Waktu kerja adalah waktu untuk melakukan pekerjaan, dapat dilaksanakan siang hari dan/atau malam hari. jam kerja bagi para pekerja sector swasta diatur dalam pasal 77 samapi dengan pasal 85 undang-undang cipta kerja

(28)

15

no 11 tahun 2020 dan undang-undang no 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan. 15

Pasal 77 ayat 1 dan 2 UU cipta kerja no 11/2020 mewajibkan setiap pengusaha untuk melaksanakan ketentuan jam kerja. ketentuan jam kerja ini telah diatur dalam 2 sistem seperti yang telah disebutkan diatas yaitu:

a. Jam kerja dalam 1 hari atau 40 jam kerja dalam 1 minggu untuk 6 hari kerja dalam 1 minggu;

atau

b. Jam kerja dalam 1 hari atau 40 jam kerja dalam 1 minggu 5 hari kerja dalam 1 minggu.

Pasal 77 ayat 3 UU cipta kerja menyebutkan bahwa ketentuan waktu kerja sebagaiman dimaksud tidak berlaku bagi sektor usaha atau pekerjaan tertentu.

Pasal 78 ayat 2 dalam undang-undang nomor 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, pengusaha mempekerjakan buruh yang melebihi waktu kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 wajib membayar upah kerja lembur. ketentuan waktu kerja lembur sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 buruf b tidak berlaku di sketor usaha. ketentuan untuk waktu kerja dan upah kerja lembur sebagaimana dimaksud dalam ayat 2 dan ayat 3 diatur dengan keputusan menteri.16

Pada ketentuan pasal 7 ayat 1 pengusaha wajib memberi waktu istirahat dan cuti kepada pekerja/buruh.

15 Ibid.

16 Ibid.

(29)

16

pada ayat 2 waktu istirahat dan cuti sebagaimana dalam ayat 1 meliput:

Istirahat antara jam kerja, sekurang-kurangnya setengah jam setelah bekerja selama 4 jam terus menerus dan waktu istirahat tersebut tidak termasuk jam kerja:

1) Istirahat mingguan 1 hari untuk 6 hari kerja dalam 1 minggu atau 2 hari untuk 5 hari kerja dalam 1 minggu

2) Cuti tahunan, sekurang-kurangnya 12 hari kerja setelah pekerja/buruh yang bersangkutan bekerja selama 12 bulan secara terus menerus;dan 3) Istirahat panjang sekurang-kurangnya 2 bulan

dan dilaksanakan pada tahun ketujuh dan kedelapan masing-masing 1 bulan bagi pekerja/buruh yang telah bekerja selama 6 tahun secara terus-menerus pada perusahaan yang sama dengan ketentuan pekerja/buruh tersebut tidak berhak lagi atas istirahat tahunannya dalam 2 tahun berjalan dan selanjutnya berlaku untuk setiap kelipatan masakerja 6 tahun.

Setiap pekerja menggunakan hak waktu istirahat sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 84 yang menjelaskan bahwa setiap pekerja/buruh yang menggunakan hak waktu istirahat, Dalam pasal 79 ayat 2 huruf b,c, dan d, pasal 80 dan pasal 82, Pada pasal 79 ayat 2 huruf b menjelaskan bahwa istirahat mingguan 1 hari untuk 6 hari kerja dalam 1 minggu sedangkan dalam pasal 79 ayat 2 huruf c yaitu cuti tahunan, sekurang-kurangnya 12 hari kerja

(30)

17

setelah pekerja/buruh yang bersangkutan bekerja selama 12 bulan secara terus menerus pada pasal 79 ayat 2 huruf d yaitu istirahat panjang sekurang-kurangnya 2 bulan dan dilaksanakan pada tahun ketujuh dan kedelapan masing- masing 1 bulan bagi pekerja/buruh yang telah bekerja selama 6 tahun secara terus-meneurs pada perusahaan yang sama dengan ketentuan pekerja/buruh tersebut tidak berhak lagi atas istirahat tahunananya dalam 2 tahun berjalan da selanjutnya berlaku untuk setiap kelipatan masa kerja 6 tahun.

Dalam Pasal 85 undang-undang nomor 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan ayat 1 pekerja tidak wajib bekerja pada hari-hari libur resmi. pada pasal 85 ayat 2 pengusaha dapat mempekerjakan pekerja/buruh untuk bekerja pada hari-hari libur resmi apabila jenis dan sifat pekerjaan tersebut harus dialaksanakan atau dijalankan secara terus-menerus atau pada keadaan lain berdasarkan kesepakatan anatar pekerja/burh deangn pengusaha. pasal 85 ayat 3 menjelaskan bahwa pengusaha yang mempekerjakan pekerja/buruh yang melakukan pekerjaan pada hari libur- libur resmi sebagaiman dimaksud dalam ayat 2 wajib membayar upah kerja lembur. ketetntuan mengenai jenis dan sifat pekrjaan sebagaimana dimaksud dalam ayat 2 diatur dengan keputusan menteri.17

3. Upah

1. Pengertian upah

Menurut undang-undang nomor 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan pasal 1, Upah adalah hak

17 Ibid.

(31)

18

pekerja/buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja/buruh yang ditetapkan dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan, atau peraturan perundang undangan, termasuk tunjagan bagi pekerja dan keluarganya atas suatu pekerjaan atau jasa yang telah dilakukan.18

Istilah upah dalam kehidupan sehari-hari kita sudah tidak asing lagi, namun ada beberapa hal yang perlu kita fahami supaya dalampemeberian upah tidk salah dan tidak mendzolimi bagi orang yang berhak menerima upah.

Rasulullah memerintahkan upah harus diberikan secara adil, bahkan dalam memberikan upah tidak boleh menunda- nunda.

Kata al-ijarah dalam bahasa arab berarti memberi upah,mengganjar. secara bahasa ijarah berarti jual beli mamfaat. ada juga yang menerjemahkan, ijarah sebagai jual beli jasa (upah-mengupah) yakni mengambil mamfaat tenga manusia, ada juga yang menerjemahkan sewa-menyewa, yakni mengambil mamfaat dari barang19

Definisi upah sebagai balas jas yang adil dan layak diberikan para pekerja atas jasa-jasanya dalam mencapai tujuan organisasi. upah merupakan imbalan finansial langsung yang dibayarkan kepada karyawan berdasarkan jam kerja, atau banyaknya pelayanan yang diberika.konsep

18 Ibid.

19 Siswadi,”pemberian upah yang benara dalam islam upaya pemerataan

ekonomi umat dan keadilan” ( jurnal ummul Qura vol. IV, No 2 agustus 2014, hal 107) ejournal.kompertais4.or.id.

(32)

19

upah biasanya dihubungkan dengan proses pembayaran bagi tenaga kerja.20

Upah adalah suatu penerimaan sebagai imbalan dari pemberi kerja kepada penerima kerja termasuk tunjangan, baik untuk pekerja sendiri maupun keluarganya. upah biasanya diberikan kepada pekerja yang melakukan pekerjaan kasar dan banyak mengandalkan kekuatan fisik.

jumlah pembayaran upah biasanya ditetapkan secara harian atau berdasar unit pekerjaan yang diselesaikan.21

Nurimansyah Haribuan juga mendefinisikan bahwasanya upah adalah segala macam bentuk penghasilan (earning) yang diterima oleh buruh (tenaga kerja) baik berupa uang ataupun barang dalam jangka waktu tertentu pada suatu kegiatan ekonomi22

Pemberian besarnya upah yang dibayarkan pengusaha kepada pekerja sesuai dengan perjanjian yang telah di sepakati diantara kedua belah pihak. sementara itu, pihak-pihak yang dapata menentukan upah adalah sebagai berikut:

a. buruh dan pemilik usaha, keduanya bersepakat dalam menentukannya.

b. serikat buruh, ini dikarenakan mereka berkompeten dalam menentukan upah buruh buruh bersama pemilik usaha dengan syarat kaum buruh

20 Veithzal Rivai, Manajemen Sumber Daya Manusia untuk Perusahaan dari teori ke praktek, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persda, 2004), h.375.

21 F. Winarni dan G. Sugiyarso, Administrasi Gaji dan Upah (Yogyakarta:

Pusta Widyatama, 2006), h. 16.

22 Zainal Asikin, Dasar-Dasar Hukum Perburuhan, h.68.

(33)

20

memberikan kewenangan kepada mereka untuk melakukannya.

c. Negara, namun disyaratkan bahwa dalam intervensinya Negara tidak menghilangkan hak-hak buruh maupun hak-hak pemilik usaha.

1. Dasar Penentuan Upah

Beberapa cara perhitungan atau pertimbangan dasar penyusunan upah dan gaji antara lain sebagai berikut:

a. Upah menurut prestasi kerja

Pengupahan dengan cara ini langsung mengkaitkan besarnya upah dengan prestasi kerja yang telah ditunjukkan oleh karyawan yang bersangkutan.

Berarti bahwa besarnya upah tersebut tergantung pada banyak sedikitnya hasil yang dicapai dalam waktu kerja karyawan. Cara ini dapat diterapkan apabila hasil kerja dapat diukur secara kuantitatif.23

b. Upah menurut lama kerja

Besarnya upah ditentukan atas dasar lamanya karyawan melaksanakan atau menyelesaikan suatu pekerjaan. Cara perhitungannya dapat menggunakan per jam, per hari, per minggu, ataupun per bulan. Umumnya cara ini diterapkan apabila kesulitan dalam menerapkan cara pengupahan berdasarkan prestasi kerja.24

23 Ahmad Ibrahim Abu Sinn, Manajemen Syariah Sebuah Kajian Historis

Dan Kontemporer, (Jakarta :PT Rajagrafindo Persada, 2006), h. 113

(34)

21 c. Upah menurut senioritas

Cara pengupahan ini didasarkan pada masa kerja atau senioritas karena yang bersangkutan dalam suatu organisasi. Dasar pemikirannya adalah karyawan senior, menunjukkan adanya kesetiaan yang tinggi dari karyawan yang bersangkutan. Semakin senior semakin tinggi loyalitasnya pada organisasi. Kelemahan yang menonjol dari sistem ini adalah belum tentu mereka yang senior memiliki kemampuan yang tinggi atau menonjol dibandingkan dengan karyawan muda (junior).

Mereka menjadi pimpinan bukan karena kemampuannya, tetapi karena masa kerjanya.

d. Upah menurut kebutuhan

Cara ini menunjukkan bahwa upah pada karyawan didasarkan pada tingkat urgensi kebutuhan hidup yang layak dari karyawan. Upah yang diberikan adalah wajar apabila dipergunakan untuk memenuhi kehidupan yang layak sehari-hari (kebutuhan pokok minimum), tidak berlebihan namun juga tidak kekurangan.

4. Pekerja/Buruh dalam Islam 1. Pengertian Buruh dalam Islam

Buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain. dengan dipadankannya istilah pekerja dengan buruh merupakan kompromi setelah dalam kurun waktu yang amat

(35)

22

panjang dua istilah tersebut bertarung untuk diterima oleh masyarakat.25

Islam adalah agama rahmatallil’alamin, artinya islam adalah rahmat bagisekalian alam, dengan kata lain, taka da secuilpun di muka bumi ini yang tidak diatur dan di perhatikan dalam islam. Demikian juga untuk konteks hukum perburuhan. beberapa teks ayat suci al-quran, hadis maupun perjalan sejarah kehidupan masyarakat islam banyak yang menyinggung masalah perburuhan baik langsung maupun tidak langsung. Dalam Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 286 misalnya yang menjadi pijakan bagi buruh untuk mendapatkan hak beristirahat:

ٓاانْذ ِّخااؤُت الَ ااناب ار ۗ ْتاباساتْكا اام ااهْيالاع او ْتاباساك اام ااهال ۗ ااهاعْس ُو الَِّا اًسْفان ُ هاللّٰ ُفِّ لاكُي الَ

ْواا ٓاانْيِّسان ْنِّا

انْأاطْخاا انْل ِّ ماحُت الَ او ااناب ار ۚ اانِّلْباق ْنِّم انْيِّذالا ىالاع ٗهاتْلاماح ااماك ا ًرْصِّا ٓاانْيالاع ْلِّمْحات الَ او ااناب ار ۚ ا اةاقااط الَ اام ا

ِّف ٰكْلا ِّم ْواقْلا ىالاع اان ْرُصْنااف اانىٰل ْوام اتْناا ۗ اانْماح ْرا او ۗاانال ْرِّفْغا او ۗااناع ُفْعا او ۚ هِّب اانال

انْي ِّر ࣖ

Artinya : Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan

25 Abdul Rahmad Budiono, hukum perburuhan, (Jakarta: PT Indeks, 2009),

cet. I, h. 5.

(36)

23

rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.”26

Pada tataran hadis, pernyataan rasulullah SAW tentang bayarlah upah buruhmu sebelum keringatnya kering pasti sudah akrab di telinga kita. jadi buruh maupun pengusaha harus berfikir dua kali jika ingin mengatakan islam tak mengatur masalah hukum perburuhan.27

2. Hak-Hak dan kewajiban buruh dalam Islam

Hak-hak buruh yang wajib dipenuhi oleh pemebri pekerjaan adalah sebagai berikut:

a. Buruh berhak menerima upah yang memungkinkan baginya menikmati kehidupan yang layak

b. Buruh tidak boleh diberi pekerjaan yang melebihi kemampuan fisiknya

c. mereka harus diperlakukan dengan baik dan sopan dan dimaafkan jika mereka melakukan kesalahan selama bekerja.

d. Buruh harus diberi bantuan pengobatan yang tepat jika sakitdan membayar biaya pengobatan yang sesuai pada saat itu

e. Mereka harus dibayar dengan ganti rugi yang sesuai atas kecelakaan yang terjadi dalam pekerjaan.28

26 QS. Al-Baqarah (2) : 286

27 Abdul Jalil, Teologi Buruh, (Yogyakarta: LkiS, 2008), h.73

28 Afzalur Rahman, Doktrin Ekonomi Islam, diterjemahkan oleh Soeroyo Nastanin, dari judul asli Economic Doctrines of Islam, (Yogyakarta: Dana Bhakti Wakaf, 1995), h. 391-392

(37)

24

Kewajiban para buruh harus jelas supaya mereka dapat bekerja dengan semestinya. Adapun yang menjadi kewajiban buruh yaitu:

a. Mengerjakan sendiri pekerjaan yang ada dalam perjanjian kalau pekerjaan tersebut merupakan pekerjaan yang khas b. Benar-benar bekerja sesuai dengan waktu perjanjian c. Mengerjakan pekerjaan dengan tekun, cermat dan teliti d. Menjaga keselamatan barang yang dipercayakan

kepadanya untuk dikerjakan sedangkan jika pekerjaan berupa urusan hendaklah mengurus urusan tersebut sebagaimana mestinya.29

Para pendapat Imam mazhab tentang upah atas usaha seseorang disini berbeda pendapat, para Imam Mazhab sepakat bahwa seseorang membawa kembali budak yang melarikan diri berhak menerima upah lantaran membawanya kembali, apabila disyaratkan.

Para Imam Mazhab berbeda pendapat hal itu jika disyaratkan. Maliki berpendapat: jika sudah di kenal bahwa membawa budak kembali yang melarikan diri berhak mendapatka upah maka hendaklah ia temukan.

sedangkan jika tidak terkenal demikian maka ia tidak diberi upah, hanya mengganti biaya yang dikeluarkannya.

Hanafi dan Hambali mengatakan: Ia berhak menerima upah secara mutlak tidak diperlukan syarat dan tidak pula diperlukan kelazimam bahwa membawa kembali budak yang melarikan diri itu mendapat upah. Syafi’i berpendapat: Tidak berhak mendapat upah kecuali dengan syarat.

29 Suhrawardi K. Lubis, Hukum Ekonomi Islam, (Jakarta: Sinar Grafika, 2004), h. 154

(38)

25

Para Imam Mazhab pun berbeda pendapat tentang apakah dalam mendapatkan upah tersebut ada kadar ukuran jauh dekatnya jarak? Hanafi berpendapat:

Jika ia membawanya dari perjalanan sejuah tiga hari perjalanan maka ia berhak mendapatkan upah sebesar 40 dirham. mengenai upahnya. Maliki berpendapat: Ia berhak mendapat upah yang umum. Dari Hambali diperoleh dua pendapat. Pertama, satu dinar atau 12 dirham, dan tidak ada perbedaan anatara jarak yang jauh dan jarak yang dekat, serta tidak dibedaka antara ditemukan di kota atau di luar kota. kedua, jika di bawa dari kota maka upahnya 10 dirham, sedangkan jika dari luar kota maka upahnya 40 dirham. Adapun, menurut pendapat Syafi’i: Tidak berhak apa-apa, Kecuali dengan syarat dan ditentukan upahnya. 30

G. Metode Penelitian 1. Pendekatan Penelitian

Pada penelitian ini, peneliti menggunakan metode pendekatan kualitatif dimana disini memusatkan perhatiannya pada prinsip-prinsip umum yang mendasari perwujudan satuan gejala yang ada dalam kehidupan manusia, atau pola-pola yang dianalisis gejala-gejala social budaya dengan menggunakan

30Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyiqi, Fiqih Empat Mazhab,di Terjemahkan oleh ‘Abdullah Zaki Alkaf dari buku aslinya berbahasa arab: Rahmah al-Ummah fiIkhtilaf al-A’immah, (Bandung:al-Haramain li ath-Thiba’ah wa an-Nasya wa at-Tawzi’,2010), h. 319-320

(39)

26

kebudayaan dari masyarakat yang bersangkutan untuk memperoleh gambaran mengenai pola-pola yang berlaku.31

Sedangkan pendekatan yang digunakan adalah yuridis empiris, yaitu pendekatan mengenai bagaimana interaksi masyarakat yang dikaji akibat berinteraksi dengan norma dalam peraturan perundangan32

2. Kehadiran peneliti

Peneliti dalam penelitian kualitatif sangat berperan dalam pengumpulan data atau instrument penelitian. Maka kehadiran peneliti mutlak diperlukan, berkenan dengan hal tersebut, peneliti akan berusaha menciptakan hubungan yang akrap dengan informan yang menjadi sumber data dalam penelitian ini. dan melakukan observasi yang lebih mendalam lagi guna mendapatkan data yang akurat.

3. Lokasi penelitian

Lokasi penelitian ini adalah di Kelurahan Leneng Kecamatan Praya Kabupaten Lombok Tengah, pengambilan lokasi ini sebagai tempat peneliti didasarkan pada temuan peneliti terhadap beberapa tempat usaha pembuatan batako di kelurahan Leneng, pengusaha pembuatan batako ini sangat berperan penting bagi masyarakat sekitar karna sangat mudah untuk dijangkau.

4. Sumber dan jenis data

31 Burhan As Hsofa, J.H., Metode Penelitian hukum ( Jakarta: PT Rineka

Cipta, 2001) h. 20

32Zainuddin, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: Sinar Grafika, 2010), cet ke-2, hlm.46.

(40)

27

Adapun jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

a. Data Primer, yaitu data yang diproleh secara langsung dari objek penelitian baik perorangan, kelompok maupun organisasi. Dalam penelitian ini yang termasuk data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari pekerja/buruh dan pengusaha sebagai pembuat batako di lingkunga leneng

b. Data Sekunder, yaitu data yang diperoleh tidak secara langsung dari narasumber. Pada penelitian ini data sekunder berupa data yang diambil dari masing-masing pekerja pembuat batako dari 1 pengusaha batako yang berbeda literatur, buku-buku, dan hasil penelitian yang terkait dan kitab-kitab fiqih , dengan masalah dalam penelitian ini.

5. Tekhnik Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data adalah teknik atau cara-cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data.

teknik dalam menunjuk suatu kata yang abstrak dan tidak diwujudkan dalam benda, tetapi hanya dapat dilihat penggunaanya melalui: wawancara, dokumentasi, dan lain-lain.

adapun metode yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah metode observasi, dan wawancara.

a. Metode observasi

Observasi adalah teknik pengumpulan data dengan car mengamati dan mencatat secara sistematik unsur-unsur yang tampak dalam suatu objek penelitian. observasi dilakukan untuk

(41)

28

memperoleh gambaran rill suatu peristiwa atau kejadian untuk menjawab pertanyaan penelitian.33

Tujuan dari observasi adalah untuk mendiskripsikan setting, kegiatan yang terjadi, orang yang terlibat di dalam kegiatan, waktu kegiatan dan makna yang diberikan oleh para pelaku yang diamati tentang persitiwa yang bersangkutan34 b. Wawancara

Wawancara adalah proses komunikasi atau interaksi untuk mengumpulkan informasi dengan cara Tanya jawab antara peneliti dengan informan atau subyek penelitian yaitu dengan pekerja/buruh yang bekerja sebagai pembuat batako di lingkungan leneng.

Peneliti melakukan teknik wawancara untuk mencari data tentang bagaimana perlindungan hukum atas pekerja/burh dengan mewawancarai pekerja/buruh sebagai informan dalam penelitian

c. Teknik Dokumentasi

Dokumentasi adalah teknik yang digunakan untuk mengumpulakn data berupa data-data tertulis yang mengandung keterangan dan penjelasan serta pemeikrian tentang fenomena yang masih actual dan sesuai dengan masalah penelitian.35

Dokumentasi berasal dari kata dokumen yang memperoleh informasi dari bermacam-macam sumber tertulis atau dokumen yang ada pada subjek/responden atau tempat tinggal responden untuk melakukan kegiatan sehari-harinya.

penulis menggunakan teknik ini untuk mencari informasi dan

33 Iwan Hermawan, Metodologi Penelitian Pendidikan Kualitatif, Kuantitatif dan Mixed Method, (Surakarta: Muhammadiyah University Press, 2017), hlm.148.

34 Burhan As Hsofa, J.H, Metode penelitian hukum ( Jakarta: PT Rineka cipta,2001) h.58

35 Muhammad, Metode Penelitian Ekonomi Islam: Pendekatan Kuantitaif,

(Jakarta,PT Raja Grafindo Persada, 2008), hlm. 152.

(42)

29

data dari buku, foto dan berbagai macam sumber lainnya guna untuk mengetahui perlindungan apa saja yang diberikan pemerintah oleh para pekerja/buruh.

6. Analisis Data

Metode Analisis Data yang penulis gunakan adalah menggunakan Kualitatif Deskriptif, yaitu dengan memaparkan informasi-informasi faktual yang diperoleh dari lapangan yang banyak bersifat informasi dan keterangan-keterangan, baik berupa kata-kata lisan maupun tulisan dan langkah-langkah yang dapat diamati dari orang-orang yang diteliti.

H. Sistematika Pembahasan

Penulisan laporan hasil penelitian agar mudah dipahami peneliti menggunakan sistematika penulisan yang mengacu pada pedoman penulisan skripsi UIN matarm tahun 2020 berikut:

a. Bagian awal

Pada bagian awal terdiri dari: halaman sampul depan, judul, persetujuan pembimbing, pernyataan keaslian, halaman pengesahan, motto, persembahan, kata pengantar, daftar isi, dan abstrak.

b. Bagian isi

Pada bagian ini terdiri dari: Bab I pendahuluan, bab II paparan data dan temuan, bab III pembahasan, dan bab IV penutup. Berikut rincian bagian isi.

1) Bab I Pendahuluan

Pada bab I terdapat uraian latar belakang penelitian yang peneliti lakukan dan sebagai acuan dalam menjawab persoalan pada penelitian ini pada bab selanjutnya.

(43)

30

Terdapat beberapa bagian di dalamnya yaitu, terdiri dari rumusan masalah, tujuan, dan manfaat peneliitian, ruang lingkup, dan setting peneltian, telaah pustaka, kerangka teoritik, metode peneliitian, dan sistemayka penulisan.

2) Bab II Paparan dan Temuan

Pada bab II yaitu uraian mengenai data dan temuan peneliti selama proses penelitian berlangsung, yaitu berupa gambaran umum lookasi penelitian, Mengenai waktu kerja dan pendapatan yang diperoleh oleh pekerja/buruh pembuat batako. Kemudian paparan bagian ini juga digunakan sebagai landasan menjawab persoalan penelitian ini.

3) Bab III Pembahasan

Pada bab III ini yaitu uraian mengenai hasil analisis peneitian, peneliti akan memaparkan jawaban terkait dari persoalan penelitian ini.

1) Bab IV Penutup

Di dalam bab IV berisi uraian kesimpulan dan saran peneliti terkait penelitian ini.

4) Bagian akhir

Pada bagian ini berisi kesimpulan beserta saran dan daftar pustaka yang peneliti guunakan selam proses penelitian dan lampiran-lampiran berupa izin penelitian serta dokumentasi penelitian

(44)

31 BAB II

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1. Kelurahan Leneng Lombok Tengah

Leneng adalah sebuah Kelurahan di wilayah Kecamatan Praya Kabupaten Lombok Tengah Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kelaurahn tersebut berada dekat dengan dengan ibu kota Praya. Leneng memilki penduduk dengan berbagai profesi yang beragam mula daripedagang,pengusaha,pegawai negeri, polisi, tentara sampai dengan petani.

Kelurahan Leneng dikenal juga dengan banyaknya terdapat tempat usaha kecil ataupun menengah. Di sepanjang jalan Kelurahan Leneng ini ada beberapa tempat usaha pembuatan batako yang dimana usaha pembuatan batako ini dikenal cukup ramai pembeli karna kualitas yang dihasilkan para pengusaha batako ini sudah terjamin sehingga pembeli banyak berdatangan untuk membeli batako tersebut.

Kondisi wilayah juga sangat berperan penting bagi berlangsungnya usaha batako ini, karna Kelurahan Leneng ini juga berada di wilayah pusat kota Praya dan mudah dijangkau. Dengan adanya tempat usaha batako ini juga memungkinkan para warga atau masyarakat setempat untuk ikut untuk mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.36

2. Berdirinya usaha pembuatan batako di Kelurahan Leneng Lombok Tengah

36 Dokumentasi, Kelurahan Leneng, Kecamatan Praya 22 Maret 2022

(45)

32

Berdasarkan hasil wawancara dari beberapa pengusaha batako yang terdapat di Kelurahan Leneng Lombok Tengah, ada 3 pengusaha yang diwawancarai tentang awal mula mereka membangun usaha pembuatan batako ini. Dari hasil wawancara tersebut adalah:

Samsul Hak yaitu salah satu pengusaha batako yang terdapat di Keluarahan Leneng Lombok Tengah mengatakan bahwa awal mula berdirinya usaha batako ini dari awal tahun 2019 atau sekitar 3 tahun yang lalu. Dimana awal mula berdirinya usaha ini meneurut responden dia mempelajarinya dengan cara otodidak atau belajar sendiri dan dari hasil pengalaman yang responden miliki. Dari hasil wawancara dengan pengusaha batako ini bahwa modal awal dari usaha batako ini bahwa responden memulai usahanya hanya bermodalkan uang 700.000 dan memulai usahanya dengan menjual pasir.

Akhirnya dengan berjalannya waktu responden bisa menambah moda untuk membeli bahan dan alat-alat untuk membuat batako tersebut. Dari wawancara yang dilakukan oleh penulis juga di dapatkan bahwa jumlah karyawan nya saat ini berjumlah 6 orang karyawan yang setiap karyawan memiliki tugasnya masing-masing tidak hanya membuat batako saja. Namun disini juga yang dijelaskan oleh responden bahwa 1 buah batako ini berharga Rp. 1.800 per 1 buah batako itu sesuai jarak pengantaran batako tersebut apabila pengantaran cukup jauh maka harga akan ana namun sebaliknya apabila pembeli mengambil sendiri batako tersebut maka harganya jauh lebih murah. Dalam pembuatan batako ini menurut hasil wawancara responden bahwa ada untung dan rugi dalam menjalankan usaha ini yaitu apabila bahan-bahan utama dalam membuat batako ini tidak tersedia

(46)

33

seperti yang sering terjadi yaitu tanah maka pengusaha akan mencari jalan keluar agar bagaimana bahan ini di dapatkan.

tidak hanya kekurangan bahan saja kerugian yang dialami oleh responden ini namun juga kerugian materi yaitu seperti batako yang tiba-tiba pecah atau rusak itu yang membuat pengusaha menjadi rugi.37

Selanjutnya dari pengusaha batako lainnya di Kelurahan Leneng yang bernama Ulfas Hadi dari hasil wawancara yang sudah di lakukan mengatakan bahwa awal mula responden ini memulai usaha batako pada tahun 2018 dimana awal mula responden mempelajari pembuatan batako ini menurut pengakuan responden bahwa dia mempelajarinya dengan cara belajar dengan temannya yang kebetulan temanya tersebut adalah pengusaha batako juga. dari hasil wawancara yang didapat modal awal pembuatan batako dari keseluruhan bahan dan alat yaitu modal awal yang dikeluarkan kurang lebih sekitar Rp. 5.000.000. Dengan modal yang begitu kecil tersebut saudara Ulfas Hadi memberanikan diri untuk membangun usaha pembuatan batako ini dan dengan pengalaman yang sudah dipelajari. Awal mula saudara Ulfas Hadi ini membua usaha tidak adanya karyawan menurut pengakuan saudara Ulfas Hadi dia hanya bekerja sendiri belum ada pegawai yang bekerja disana. selain tempat usahanya yang masih terbilang usaha kecil dan keterbatasan dana yang didapat tersebut sehingga saudara ulfas hadi belum ingin menerima pekerja/pembuat batako di tempatnya.

Namun dengan berjalannya waktu akhirnya tempat usahanya

37 Wawancara Awal Mula Berdirinya Usaha Pembuatan Batako Oleh Samsul Hak di Kelurahan Leneng Kecamatan Praya, 22 Maret 2022

(47)

34

sedikit-sedikit berkembang dan bisa menerima beberapa karyawan di tempat usaha batako tersebut.38

3. Alat dan Bahan membuat batako

Batako merupakan material bangunan yang terbuat dari campuran pasi kasar, semen dan air. material-material ini dicetak padatdengan metode press memakai alat press khusus. beberapa pengrajin batako juga sering kali menggunakan bahan tambahan seperti batu tras, batu bara atau kapur. dalam pendirian bangunan batako biasanya dimamfaatkan sebagai material pembentuk dinding dan lantai. Batako ialah material alternative dari batu bata maupun bata ringan (hebel). kelebihan utamanya yaitu memiliki harga yang cukup terjangkau dan dimensinya pun lebih besar daripada bata merah.

Untuk kapasitas pengrajin kecil pembuatan batako ini seluruhnya dikerjakan oleh tenaga manusia dengan bantuan cetakan sederhana. cetakan ini terbuat dari besi yang kokoh dengan ukuran bervariasi sesuai spesifikasi batako yang ingin dihasilkan. 39

1. Alat dan Bahan - pasir

- semen - air - ember - cangkul

38 Wawancara Awal Mula Berdirinya Usaha Pembuatan Batako Oleh Ulfas

Hadi di Kelurahan Leneng Kecamatan Praya, 22 Maret 2022

39 Wawancara Alat dan Bahan Pembuatan Batako, Kelurahan Leneng, 22 Maret 2022

(48)

35 - sekop

- plat besi - palu - kayu

- cetakan batako

B. Upaya Pemerintah Dalam Memberikan Perlindungan Hukum Bagi Para Pekerja/Buruh

1. Memberikan Perlindungan Hukum yang lebih tegas terhadap pekerja/buruh

Sebagai upaya dalam memberikan perlindungan hukum yang lebih maksimal lagi terhadap pekerja/buruh terutama di bidang usaha mikro kecil disini pemerintah lebih tepatnya pemerintah daerah harus lebih banyak lagi mengunjungi tempat usaha-usaha kecil dimana disana banyak sekali para pekerja/buruh yang ada di dalamnya yang sama sekali belum diberikan perlindungan yang lebih baik dari pada instansi-instansi pemerintahan lainnya.

Dengan adanya perlindungan ini memungkinkan bahwa pekerja/buruh akan sangat dilindungi keamanan serta kesejahteraan dan keselamatan para pekerja/buruh usaha mikro kecil.

Perlu dilakukan perlindungan hukum bagi para pekerja/buruh khususnya disini bagi pengrajin batako karna mengingat pekerjaan yang mereka lakukan sedikit berbahaya dan sangat beresiko sekali dalam proses pembuatannya mengingat di kalangan masyarakat saat ini banyak sekali yang memakai batako sebagai bahan utama untuk pembuatan rumah dan bangunan lainnya sehingga

(49)

36

disini di sini para pengrajin batako harus bekerja ekstra agar pesanan-pesanan tersebut sudah siap dan diantarkan ke pemiliknya. seperti kasus yang pernah terjadi dalam pembuatan batako di Kelurahan Leneng. Dari hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti kepada saudara Humaidi sebagai berikut:

Ada beberapa kejadian yang tidak terduga dalam proses pembuatan batako ini kemarin saya dan kawan-kawan saya sedang membuat batako disana ada tumpukan batako yang sudah tersusun rapi namun tiba-tiba batako terebut ambruk dan hampir mengenai salah satu teman saya yang ada di sebelah batako tersebut.untungnya teman saya tersebut tidak mengalami luka. Ini yang kami khawatirkan sebagai pekerja/buruh pembuat batako ada banyak sekali kejadian- kejadian yang tidak terduga yang kami alami.40

Dengan adanya usaha batako ini maka terciptanya peluang usaha yang menjanjikan bagi para pengusaha karna dengan mereka menjual batako ini maka usaha mereka akan berjalan lancer mengingat sekarang lebih banyak masyarakat yang lebih memilih menggunakan batako untuk dijadikan bahan utama pembuatan rumah dan bangunan lainnya.

Pada sistem waktu yang diberikan oleh pengusaha kepada pekerja/buruh pembuat batako disini agaknya sedikit di luar dari jam kerja yang diberikan sesungguhnya oleh pemerintah maka dengan hal itu peneliti mewawancarai beberapa pekerja atau pembuat batako di Kelurahan Leneng.

40 Humaidi (Pekerja Pembuat Batako di Kelurahan Leneng Kecamatan

Praya) wawancara, 15 Maret 2022

(50)

37

Hasil dari wawancara peneliti kepada saudara Saipul sebagai berikut:

kami disini membuat beberapa batako dalam per hari itu di tentukan oleh pengusaha jika pesanan banyak kami bisa membuat sekitar 300 buah batako dan itu di kerjakan sampai malam hari dan apabila sedikit pesanan maka kami hanya membuat 200 buah batako setiap harinya dengan batas ja waktu kerja sampai jam 5 sore.41

Dengan sudah diaturnya waktu kerja pekerja atau buruh batako ini sehingga memungkinkan para pengusaha dapat mengetahui apa saja hal-hal yang harus diperhatikan demi kenyaman dan keamanan dalam dunia bekerja dan perlu diketahui juga bahwa pengusaha harus faham betul bagaimana selayaknya mempekerjakan pekerja/buruh pembuat batako lebih utamanya dalam hal waktu kerja danupah pekerja dimana yang sudah diatur oleh pemerintah itu sendiri.

Hal mengenai upah juga sudah dijelaskan dalam peraturan undang-undang yang berlaku namun di tempat usaha pembuatan batako ini yang terbilang sebagai usaha mikro kecil yang dimana penghasilan perbulannya tidak bisa ditentukan. Maka pengusaha tidak memberikan upah yang semestinya diberikan oleh pengusaha. Dari hasil wawancara peneliti terhadap saudara Rahman sebagai berikut:

Disini kami bekerja dari 1 bulan kerja mendapatkan upah dihitung dengan beberapa buah batako yang kami buat

41 Saipul (Pekerja Pembuat Batako di Kelurahan Leneng Kecamatan Praya) Wawancara senin 14 Maret 2022

Referensi

Dokumen terkait

Perlindungan hukum bagi pekerja anak itu sendiri sebenarnya telah ditetapkan di Indonesia dengan dikeluarkannya Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang

PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PEKERJA ANAK PADA SEKTOR PERTAMBANGAN PASIR DI KABUPATEN SLEMAN.. Maria Magdalena Dewi Permatasari Program Studi

Pembahasan ini akan diuraikan : Pengertian Anak, Pengertian Pekerja Anak, Batasan Usia Anak Bekerja, Pengertian Perlindungan Hukum, Perlindungan Hukum Hak Pekerja

dalam dunia pasar modal di Indonesia saat ini. Bab IV Perlindungan Hukum bagi Investor Terhadap Praktik Insider.. Trading di Pasar Modal.. Membahas mengenai Perlindungan hukum bagi

BAB IV PERLINDUNGAN HUKUM BAGI INVESTOR REKSA DANA DALAM PENERAPAN KLAUSULA ARBITRASE PADA SENGKETA PASAR MODAL. Bab ini berisi mengenai perlindungan hukum

Perlindungan hukum bagi pekerja alih daya sepenuhnya berada dalam naungan perusahaan penyedia jasa pekerja disebabkan pekerja melakukan perjanjian kerja dengan perusahaan

Hasil penelitian dan analisis, disimpulkan bahwa: faktor-faktor penyebab perlindungan hukum jamsosnaker bagi pekerja informal belum terwujud, yaitu pertama dari

Hasil penelitian ini adalah perlindungan hukum yang harus diterima oleh pekerja/buruh dapat dibagi menjadi 2 yaitu pertama, perlindungan hukum pekerja/buruh dalam proses Pemutusan