PROPOSAL PENELITIAN
IMPLEMENTASI PROGRAM BANTUAN LANGSUNG TUNAI DANA DESA (BLT-DANA DESA) DALAM MENANGGULANGI MASYARAKAT
MISKIN DI DESA PADANG LOANG KECEMATAN PATAMPANUA KABUPATEN PINRANG
THE IMPLEMENTATION OF THE VILLAGE FUND CASH TRANSFER PROGRAM (BLT-DANA DESA) IN TACKLING THE POOR IN PADANG LOANG VILLAGE, PATAMPANUA DISTRICT, PINRANG REGENCY
FEBRIANI 1996140013
PROGRAM STUDI EKONOMI PEMBANGUNAN JURUSAN ILMU EKONOMI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2023
HALAMAN JUDUL
LEMBARAN PENGESAHAN
BAB I PENDAHULUAN...1
A. Latar Belakang...1
B. Rumusan Masalah... 9
C. Tujuan Penelitian... 9
D. Manfaat Penelitian... 10
BAB II DAFTAR PUSTAKA...11
A. Landasan Teori...11
B. Tinjauan Penelitian Terdahulu...30
C. Kerangka Pikir... 31
BAB III METODE PENELITIAN...34
A. Jenis Penelitian...34
B. Waktu dan Tempat Penelitian...35
C. Jenis dan Sumber Data...36
D. Informan Penelitian...37
E. Populasi dan Sampel...38
F. Teknik Pengumpulan Data...39
G. Teknik Analisis Data...41
DAFTAR PUSTAKA...43
i
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kemiskinan merupakan situasi dimana seseorang dikatakan tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya seperti makanan, pakaian, serta tempat tinggalnya akibat tingkat ekonomi mereka yang rendah (Salamah & Kurniawan, 2022).
Kemiskinan dan kerentanan pangan di Indonesia adalah tantangan yang dihadapi pemerintah dari waktu kewaktu, hal tersebut sejalan dengan tingkat kemiskinan yang meningkat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 26,36 juta jiwa tahun 2022 atau setara dengan 9,57%.
Sedangkan persentase penduduk miskin yang ada di provinsi Sulawesi Selatan meningkat menurut data yang di peroleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) menjelaskan bahwa penduduk miskin di provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2022 sebesar 8,66% atau sama dengan 782,32 ribu jiwa. Jumlah ini bertambah 0,13%
atau 416,86 ribu jiwa bila dibandingkan dengan tahun 2021.
Telah berbagai macam metode, tindakan, serta upaya yang sudah diterapkan pemerintah dalam menanggulangi kemiskinan, baik melalui program jangka panjang maupun program jangka pendek yang mencakup pembangunan, pendidikan, kesehatan dan sebagainya. Salah satu bentuk program yang diterbitkan pemerintah dalam menanggulangi kemiskinan yaitu program Bantuan Langsung Tunai (BLT), dimana Indonesia adalah salah satu negara pelaksana program Bantuan Langsung Tunai (BLT) dengan proses penyaluran bantuan berupa
1
pemberian uang tunai sebesar Rp.300.000,- per bulan dan akan di berikan setiap 3 bulan sekali yang mana sumber dananya berasal dari dana desa, dengan capaian target/sasaran ditiga tingkatan yaitu hampir miskin, miskin, dan sangat miskin (Tumbel dkk, 2021).
Program BLT-Dana Desa adalah salah suatu program penanggulangan kemiskinan yang dilakukan oleh pemerintah dari begitu banyaknya program- program bantuan sosial, dalam upaya menanggulangi kemiskinan, program bantuan tersebut dibagi atas tiga klister. Dimana program BLT-Dana Desa ini masuk dalam klister I, yang tergolong dalam program bantuan dan perlindungan sosial (Maun, 2020). Program BLT-Dana Desa dikeluarkan pemerintah sebagai bentuk adanya tindakan pemerintah yang terkandung akan nilai-nilai tertentu dengan tujuan menyelesaikan permasalahan publik dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia, dimana permasalahan yang dimaksud adalah masalah kemiskinan.
Program Bantuan Langsung Tunai (BLT) diterapkan pertama kali pada tahun 2005 saat masa pemerintahan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono, Program bantuan langsung tunai (BLT) tersebut mulai di berlakukan tanpa syarat pada Oktober 2005 hingga Desember 2006 dengan tujuan membantu 19,2 juta keluarga miskin yang terdampak kenaikan harga minyak dunia pada tahun 2004.
Kemudian, karena kenaikan harga minyak dunia kembali terjadi pada 2008, pemerintah melaksanakan kembali Program BLT seperti pada tahun 2005 sebagai upaya pengentasan kemiskinan.
Selanjutnya pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo – Jusuf Kalla, diterbitkannya kebijakan untuk memperbaiki program perlindungan sosial sebagai
3
strategi penanggulangan kemiskinan yang berdasarkan atas Peraturan Presiden Nomor 166 Tahun 2014 mengenai program percepatan penanggulangan kemiskinan. Kebijakan program bantuan penanggulangan kemiskinan ini berlanjut di periode kedua kepemimpinan Joko Widodo-Ma’ruf Amin, pemberian bantuan langsung tunai kepada masyarakat miskin yang terdampak wabah pandemi pada masa Covid-19 (Iping, 2020). Dan walaupun pendemi Covid-19 telah berlalu, pemerintah tetap melanjutkan program BLT-Dana Desa hingga saat ini. Program bantuan langsung tunai (BLT) merupakan implementasi dari Instruksi Presiden yang tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 40/PMK.07/2020 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 205/PMK.07/2019 tentang Pengelolaan Dana Desa (Kementerian Keuangan, 2020).
Selanjutnya program BLT-Dana Desa ini juga diterbitkan dalam Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (PDTT, 2020).
Nomor 6 tahun 2020 tentang perubahan atas Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi nomor 11 tahun 2019 mengenai prioritas penggunaan dana desa tahun 2020. Merupakan dasar implementasi program bantuan langsung tunai dana desa (BLT-Dana Desa) untuk masyarakat miskin di desa, yang mana dibutuhkan kesiapan dan ketepatan pemerintah desa dalam mendistribusikan bantuan dengan adil, tertib, serta tetap sasaran, tepat waktu, dan tepat dalam proses laporan administrasi (Desa et al., 2021) .
Kabupaten Pinrang mengalami fluktuasi pada tingkat kemiskinan yang beragam, menurut BPS kabupaten Pinrang memiliki peningkatan jumlah penduduk
miskin di daerah mencapai 8,86 persen pada tahun 2020 dari total penduduknya. Di samping itu Menurut data yang di peroleh dari BPS provinsi Sulawesi Selatan tingkat kemiskinan pada kabupaten/kota pada Kabupaten Pinrang sebesar 8,79 per- maret 2020 persentase Penduduk Miskin Kabupaten Pinrang sebesar 8,86 Persen. Jumlah penduduk miskin di Kabupaten Pinrang Maret 2020 sebesar 33,56 ribu jiwa, mengalami peningkatan sebesar 1,71 ribu jiwa terhadap Maret 2019 dan meningkat 0,62 ribu jiwa terhadap Maret 2018 .
Sedangkan angka kemiskinan menurut Irwan bupati kabupaten pinrang, persentase penduduk miskin pada tahun 2022 sebesar 8,79% dan hanya mengalami penurunan sebesar 0,02 poin. Persentase penduduk miskin yang cenderung bertahan cukup lama karena adanya ketimpangan pendapatan penduduk yang disebabkan oleh keterbatasan ekonomi, sosial dan politik masing-masing keluarga miskin.
Fenomena ini ditunjukkan dengan terdapatnya beberapa kepala keluarga yang secara ekonomi tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya. Selain itu, tingkat pendidikan yang rendah juga menjadi salah satu alasan terjadinya kemiskinan karena sangat sulit untuk mendapatkan pekerjaan dengan hasil yang memadai.
Salah satu desa yang merasakan dampak dari program BLT ini yaitu desa Padang Loang Kecematan Patampanua Kabupaten Pinrang, yang sampai saat ini menjadi salah satu desa penerima anggaran yang di berikan pemerintah kepada masyarakat yang dianggap kurang mampu. Dari program BLT ini, setiap keluarga miskin menerima BLT-Dana Desa sebesar Rp. 300.000.- per bulan dan akan di cairkan setiap 3 bulan sekali dengan ketentuan telah memenuhi beberapa kriteria
5
penerima bantuan, proses penyaluran bantuan ini melewati tiga tahapan dengan metode pemberian uang tunai dan tidak dikenakan biaya tambahan (pajak) atas penerimaan bantuan tersebut. Adanya program BLT-Dana Desa ini diharapkan dapat meringankan beban masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Desa Padang Loang yang berada di Kec. Patampanua Kab. Pinrang menjadi salah satu desa yang menerima bantuan langsung tunai, yang terdiri dari 3 dusun dengan jumlah penduduk sebanyak 2.816 jiwa dan telah berhasil mendata jumlah masyarakat penerima manfaat BLT-Dana Desa yang telah memenuhi kriteria.
Adapun rincian jumlah penduduk di Desa Padang Loang sebagai berikut:
Tabel 1.1
Jumlah Penduduk Desa Padang Loang Tahun 2022 No. Nama
Dusun Penduduk Desa Padang Loang
Tahun 2022 Jumlah Penduduk
Miskin Laki-
laki Perempuan Jumlah
1. Padang 547 536 1.083 73
2. Banga 481 450 931 84
3. Palita 447 355 802 95
Jumlah 1.475 1.341 2.816 252
Sumber: Kantor Desa Padang Loang (Data Penduduk Desa Padang Loang Per-31 Desember 2022)
Kondisi ekonomi masyarakat Desa Padang Loang secara kasat mata terlihat jelas perbedaannya antara rumah tangga yang berkategori kaya, sedang, hampir miskin, miskin, dan sangat. Hal ini disebabkan karena mata pencahariannya disektor-sektor usaha yang berbeda-beda pula, sebagian besar penduduk di Desa Padang Loang mata pencahariannya sebagai petani, dan sebagian buruh tani yang tidak memiliki kebun. Sedangkan yang bermata pencaharian sebagai PNS, pensiunan, karyawan, petukangan, perternakan, dan pedagang campuran hanya
sebagian kecil saja. Bagi yang bermata pencaharian sebagai buruh tani tentu saja penghasilannya tidak tetap. Oleh karena itu dengan adanya Bantuan Langsung Tunai pemerintah berharap dapat meringankan beban masyarkat.
Maka dari itu untuk meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat dilaksanakanlah program BLT-Dana Desa, dengan menindaklanjuti surat Edaran Bupati Kabupaten Pinrang mengenai petunjuk teknis pelaksanaan Bantuan Langsung Tunai yang bersumber dari anggaran Dana Desa, maka pemerintah Desa Padang Loang Kecematan Patampanua Kabupaten Pinrang kemudian mengeluarkan kebijakan yang disampaikan secara lisan pada rapat musyawarah desa yang dihadiri oleh kepala PBD, Permendes, kepala dusun RT, RW dimasing- masing wilayah dan beberapa tokoh masyarakat sebagai pewakilan. Dimana BPD adalah penanggung jawab terlaksanya BLT-Dana Desa. Serta Kepala dusun masing-masing wilayah yang bertanggung jawab atas pendataan calon penerima BLT-Dana Desa. Berikut adalah data-data penerima BLT-Dana Desa yang diperoleh peneliti pada observasi awal di Kantor Desa Padang Loang Kecematan Patampanua Kabupaten Pinrang.
Tabel 1.2
Jumlah Penerima Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT-Dana Desa) Tahun 2022
No .
Nama Dusun Penerima BLT-Dana Desa Tahap I Tahap II Tahap III
1. Dusun Palita 23 31 11
2. Dusun Banga 34 39 14
3. Dusun Padang 44 44 17
7
Jumlah 101 114 42
Sumber: Kantor Desa Padang Loang (Data Penerima BLT-Dana Desa di Desa Padang Loang Per-31 Desember 2022)
Berdasarkan tabel penerimaan BLT-Dana Desa diatas menunjukkan bahwa penerima BLT-Dana Desa di Desa Padang Loang Kecematan Patampanua Kabupaten Pinrang pada tahun 2022 ditahap pertama tercatat sebanyak 101 KK yang terdata, kemudian pada tahap kedua terhitung penerima BLT-Dana Desa sebanyak 114 KK, dan pada tahap ketiga ini mengalami penurunan yang sangat singnifikan 42 KK yang terdata menerima bantuan tersebut. Menurut masyarakat program BLT-Dana ini sangat membantu dalam pemenuhan kebutuhan pokoknya.
Selain itu bantuan langsung tunai mendapat respon yang positif kerena dinilai dapat membantu kesejahteraan masyarakat miskin. Meskipun bantuan langsung tunai (BLT) tidak secara langsung meningkatkan daya beli masyarakat miskin, namun program ini tetap memberikan manfaat besar bagi masyarakat terutama dalam membantu keberlangsungan hidup masyarakat miskin untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Berdasarkan hasil observasi awal penulis terdapat beberapa ketimpangan yang terjadi dalam pendataan kepada masyarakat yang menjadi penerima pada BLT-Dana Desa yang seharusnya mengikuti aturan yang sudah ditetapkan, namun seringkali dijadikan “Mainan” oleh sejumlah oknum dalam hal ini berkaitan dengan evaluasi pendataan yang merupakan hal paling krusial terdapat masalah dalam pelaksanaannya. Data DTKS yang berasal dari Kementrian Sosial maupun yang non-DTKS sering kali tidak update sehingga program BLT-DD tidak tepat sasaran dalam artian adanya masyarakat menerima bantuan ganda atau double sebaiknya
Relawan Desa harus bekerja keras untuk melakukan pencocokan kembali data mulai dari tingkat RT, RW maupun desa mengenai belum atau sudah sesuai dengan keadaan yang sebenarnya untuk menghasilkan data yang valid.
Hal lain yang berkaitan dengan BLT-DD yaitu, pendataan yang kurang transparan menjadi sorotan masalah lain terkait dengan BLT-Dana Desa keluhan- keluhan banyak berdatangan dari masyarakat bahwa tidak terdata padahal berhak untuk menerima bantuan. Sebaliknya, banyak masyarakat yang terdata, namun tidak berhak untuk menerima BLT-Dana Desa masalah ini terjadi karena adanya dugaan praktik nepotisme dalam BLT-DD di mana penerima BLT-DD cenderung orang yang dekat dengan Pemerintah Desa. Transparansi dalam penggunaan dana desa sangat penting untuk memastikan bahwa dana tersebut benar-benar digunakan untuk kepentingan masyarakat. Kurangnya pengawasan dari pemerintah pusat atau lembaga terkait serta kurangnya partisipasi masyarakat dalam proses pengawasan dapat membuka peluang untuk penyelewengan dana.
Masalah yang terakhir dalam penyaluran BLT-DD adalah ketidakseimbangan sosial atau kecemburuan sosial hal ini sering terjadi di tengah- tengah masyarakat tak hanya BLT-DD tetapi bantuan sosial lainnya fenomena ini terjadi berkaitan dengan pelayanan yang diberikan oleh pemerintah kepada masyarakat masih kurang terkait maksud, tujuan, mekanise, kriteria sasaran, dan nominal yang akan diperoleh. Pendistribusian bantuan sosial ini tidak terlepas dari masalah-masalah seperti dimana penyalurannya tidak sepenuhnya tepat sasaran, Artinya, masih banyak anggota masyarakat yang seharusnya berhak atas bantuan sosial tetapi tidak menerimanya, sebaliknya ada yang tidak berhak tetapi
9
mendapatkan bantuan. Kapasitas surveyor dan agen pengumpul data tidak merata dan tidak didukung oleh pelatihan dan bimbingan yang memadai. Surveyor atau petugas yang merupakan pejabat dan penduduk desa atau kelurahan yang ditunjuk oleh Koordinator Statistik Kecamatan (KSK) dengan mempertimbangkan pendapat kepala desa.
Bantuan yang seharusnya ditujukan untuk masyarakat miskin di Desa Padang Loang mungkin tidak sepenuhnya sampai ke tangan yang membutuhkan karena beberapa alasan, seperti praktek korupsi, nepotisme, atau kesalahan dalam mekanisme penentuan penerima manfaat.Terkadang, program bantuan seperti BLT-Dana Desa tidak sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan dan kondisi riil masyarakat di Desa Padang Loang. Ini mungkin disebabkan oleh kurangnya survei yang mendalam sebelumnya, yang mengakibatkan program yang diimplementasikan tidak memberikan manfaat yang signifikan bagi penanggulangan kemiskinan. Keterbatasan pengetahuan dan keterampilan dalam manajemen administrasi di tingkat desa dapat menjadi penghambat dalam efektivitas pelaksanaan program ini. Kurangnya pelatihan dan pendampingan yang diberikan kepada staf desa terkait administrasi dan manajemen dana juga dapat menyebabkan kesalahan dalam pengelolaan program.
Dengan adanya program ini, diharapkan dapat menurunkan angka kemiskinan di Indonesia. Oleh karena itu pelaksanaan dan dampak dari program BLT ini menarik untuk diteliti dan di analisis dalam rangka upaya mengurangi jumlah masyarakat miskin. Tujuan pelaksanaan program BLT-Dana Desa adalah untuk menjaga daya beli masyarakat dan mensejahterakan masyarakat. Namun,
adanya program BLT-Dana Desa tersebut telah menuai berbagai macam masalah, seperti kasus dana atau uang bantuan yang seharusnya diterima dan digunakan untuk membeli kebutuhan primer namun malah di pakai untuk kebutuhan yang lainnya. Berdasarkan permasalahan tersebut maka penulis tertarik untuk meneliti lebih mendalam mengenai bagaimana dampak implementasi program bantuan langsung tunai dana desa (BLT-Dana Desa) dalam menanggulangi masyarakat miskin di Desa Padang Loang.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, maka penulis dapat menarik beberapa pokok permasalahan dalam penelitian ini, yaitu:
1. Bagaimana proses implementasi program bantuan langsung tunai dana desa (BLT-Dana Desa) dalam menanggulangi masyarakat miskin di Desa Padang Loang Kecematan Patampanua Kabupaten Pinrang ?
2. Bagaimana dampak implementasi program bantuan langsung tunai dana desa (BLT-Dana Desa) dalam menanggulangi masyarakat miskin di Desa Padang Loang Kecematan Patampanua Kabupaten Pinrang ?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian latar belakang serta rumusan masalah, maka tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah :
11
1. Untuk mengetahui bagaimana implementasi program bantuan langsung tunai dana desa (BLT-Dana Desa) dalam menanggulangi masyarakat miskin di desa Padang Loang Kecematan Patampanua Kabupaten Pinrang.
2. Untuk mengetahui bagaimana dampak implementasi program bantuan langsung tunai dana desa (BLT-Dana Desa) dalam menanggulangi masyarakat miskin di desa Padang Loang Kecematan Patampanua Kabupaten Pinrang.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun secara praktis.
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah ilmu dan pengetahuan penulis dan masyarakat luas dan mampu menjadi bahan referensi ataupun rujukan bagi mahasiswa dan pihak-pihak lainnya yang ingin melakukan penelitian lebih lanjut mengenai dampak implementasi program bantuan langsung tunai dana desa (BLT-Dana Desa) dalam menanggulangi masyarakat miskin, selain itu dapat menjadi bahan evaluasi untuk program pemerintah dalam mengembangkan program-program penanggulangan kemiskinan berikutnya.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi penulis, dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memperluas pengetahuan dan menambah wawasan penulis terhadap masalah yang
diteliti, mengenai dampak implementasi program bantuan langsung tunai dana desa (BLT-Dana Desa) dalam menanggulangi masyarakat miskin.
b. Bagi pembaca, dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan serta menjadi salah satu sumber referansi atau rujukan bagi penelitian selanjutnya dengan pembahasan yang sama mengenai
“Bantuan Langsung Tunai Dana Desa”.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
1. Teori Pertumbuhan Ekonomi Endogen
Teori Pertumbuhan Ekonomi Endogen adalah pendekatan dalam ekonomi pembangunan yang menekankan peran penting faktor internal dalam mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Teori ini berbeda dengan pendekatan klasik yang menganggap faktor eksternal seperti investasi, teknologi, atau sumber daya alam sebagai penentu utama pertumbuhan. Sebaliknya, teori pertumbuhan ekonomi endogen mengakui bahwa faktor internal seperti pengetahuan, inovasi, pendidikan, dan kapabilitas manusia memiliki peran yang krusial dalam menggerakkan perkembangan ekonomi. Model pertumbuhan endogen dikembangkan untuk melengkapi teori pertumbuhan ekonomi neo-klasik. Model pertumbuhan neo-klasik berargumen bahwa pertumbuhan output didorong oleh tingkat perkembangan teknologi.
Tanpa perkembangan teknologi, tidak akan ada pertumbuhan jangka panjang. Tetapi karena penyebab perkembangan teknologi tidak dijelaskan dalam model Solow, sehingga dasar terjadinya pertumbuhan masih kurang jelas. Solow menganggap teknologi sebagai faktor eksogen dalam proses pertumbuhan maka model pertumbuhannya tidak memperhatikan bagaimana mendorong kemajuan
13
teknologi melalui proses belajar investasi dalam penelitian dan akumulasi pengetahuan (Lucya & Anis, 2021).
Pada teori pertumbuhan ekonomi endogen mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat memengaruhi proses pertumbuhan ekonomi yang berasal dari dalam (endogenous). Sumber pertumbuhan jangka panjang melalui variabel yang terdapat di dalam model (endogenous) khususnya yang berkaitan dengan kemajuan teknologi merupakan fokus utama dalam teori ini (Noer Diana et al., 2021).
Menurut Romer (2010) teori pertumbuhan endogen mempunyai tiga elemen dasar yaitu:
1) Adanya perubahan teknologi yang bersifat endogen melalui sebuah proses ilmu pengetahuan.
2) Adanya penemuan ide-ide baru oleh perusahaan sebagai akibat dari mekanisme limpahan ilmu pengetahuan (knowledge spillover).
3) Produksi barang konsumsi yang dihasilkan oleh faktor produksi ilmu pengetahuan akan tumbuh tanpa batas.
Beberapa poin penting dalam teori pertumbuhan ekonomi endogen adalah sebagai berikut:
1) Akumulasi Pengetahuan dan Inovasi
Teori ini mengakui bahwa pengetahuan dan inovasi adalah kunci untuk pertumbuhan ekonomi. Investasi dalam riset dan pengembangan, serta pelatihan
15
keterampilan, dapat menghasilkan peningkatan produktivitas dan inovasi teknologi, yang pada gilirannya meningkatkan pertumbuhan jangka panjang.
2) Eksternalitas Positif
Teori ini mengasumsikan bahwa adanya efek positif dari pengetahuan dan inovasi yang menyebar di seluruh perekonomian. Dalam konteks ini, peningkatan pengetahuan di satu sektor atau perusahaan dapat memberikan manfaat kepada sektor lain, sehingga menciptakan efek jaringan yang meningkatkan pertumbuhan keseluruhan.
3) Investasi dalam Manusia
Pendidikan dan pelatihan keterampilan dianggap penting dalam teori ini.
Investasi dalam manusia meningkatkan kapabilitas individu, memungkinkan mereka untuk berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi yang lebih produktif dan inovatif.
4) Peran Pemerintah
Teori pertumbuhan ekonomi endogen mengakui peran pemerintah dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan. Pemerintah dapat mendorong investasi dalam riset, pendidikan, dan pelatihan, serta menciptakan insentif untuk inovasi dan pengembangan teknologi.
5) Pertumbuhan Berkelanjutan
Teori ini menekankan pentingnya pertumbuhan berkelanjutan yang tidak hanya bergantung pada faktor-faktor eksternal seperti investasi modal.
Pertumbuhan yang didorong oleh pengetahuan dan inovasi lebih mungkin berkelanjutan dalam jangka panjang (Jingan, 2010).
Dalam konteks tentang implementasi program BLT-Dana Desa, teori pertumbuhan ekonomi endogen dapat menganalisis bagaimana program tersebut dapat mempengaruhi akumulasi pengetahuan dan keterampilan masyarakat miskin.
Program ini dapat berkontribusi pada peningkatan pendidikan, pelatihan, atau aktivitas produktif yang pada akhirnya dapat meningkatkan potensi pertumbuhan ekonomi lokal yang berkelanjutan. Selain itu teori ini bisa dijadikan pisau analisis untuk melihat bagaimana program tersebut mampu mendorong peningkatan inovasi di tingkat lokal dan bagaimana pemerintah berperan dalam merancang insentif yang mendorong partisipasi masyarakat dalam aktivitas ekonomi yang lebih produktif.
2. Implementasi
Menurut Van Meter & Van Horn menjelaskan bahwa implementasi merupakan pelaksanaan, tindakan, dan pengaplikasian oleh individu pejabat pemerintah, instansi pemerintah, dan kelompok swasta atas tujuan tertentu dalam mencapai cita-cita yang telah ditetapkan dalam keputusan tertentu (Dr. Dra.
Karmanis et al., 2021). Kemudian menurut Mazmanian dan Sabatier yang dikutip dari Solichin Abdul Wahab (2005:65) implementasi ialah pelaksanaan keputusan kebijakan mendasar, dan biasanya dalam bentuk hukum tapi bisa juga berupa perintah atau arahan dan atau keputusan badan peradilan (Desa et al., 2021). Dari
17
beberapa definisi implementasi yang dikemukakan diatas maka Implementasi dapat pula diartikan sebagai suatu pelaksanaan, pengaplikasian, praktik dan penetapan dari sebuah rencana yang disusun secara matang, hati-hati, dan jelas. Tindakan- tindakan yang dilakukan oleh pihak yang berkepentingan atau yang berwenang, baik itu dari sektor pemerintahan maupun swasta. Dengan tujuan untuk mencapai keinginan dan tujuan yang ditetapkan, selain itu implementasi juga mengaktualisasikan program yang telah direncanakan, karena setiap rencana memiliki tujuan serta target yang ingin dicapai.
3. Kemiskinan a. Teori Kemiskinan
Menurut BPS (Badan Pusat Statistik) kemiskinan adalah ketidakmampuan seseorang dari segi ekonomi dalam memenuhi kebutuhan dasar dan tidak diukur dari sisi pengeluaran. Kata kemiskinan ada saat seseorang atau sekelompok orang, tidak sanggup memenuhi kebutuhan ekonomi yang dianggap seperti kebutuhan minimal akan standar hidup tertentu, dalam artian kemiskinan diasumsikan sebagai keadaan kekurangan uang serta barang-barang untuk menanggung kelangsungan hidup (Masnan & Nashir, 2020).
Kemudian kemiskinan dalam artian luas merupakan ketidakmampuan akan pemenuhan sandang dan pangan seseorang, suatu keluarga, suatu kelompok, atau bahkan suatu Negara yang mengakibatkan ketidaknyaman dalam hidup.
Kemiskinan menurut Mubyarto (1998) ialah situasi yang serba kekurangan dari masyarakat yang terbentuk akibat rendahnya pendapatan disebabkan oleh
kurangnya keterampilan, produktivitas, pendapatan, nilai tukar produksi yang lemah, dan terbatasnya peluang ikut serta dalam pembangunan (Murdiyana &
Mulyana, 2017). Karena pendapatan yang rendah masyarakat miskin mengakibatkan rendahnya produktivitas dan menambah beban ketergantungan pada masyarakat.
Namun kemiskinan tidak hanya tentang kekurangan uang atau pendapatan yang rendah melainkan bagaimana memastikan kelangsungan hidup, dimana kemiskinan ini meliputi kelaparan dan kekurangan gizi, terbatasnya akses untuk pendidikan, tingkat kesehatan, perlakuan tidak adil dalam hukum, rentan akan ancaman serta tindak kriminal, tidak berdayanya seseorang dalam menentukan masa depannya sendiri dan lainnya. Masyarakat miskin yang kurang mampu mejalankan usaha serta tidak memiliki kesempatan untuk ikut serta dalam aktivitas sosial ekonomi, oleh karena itu ada tiga sudut pandang terkait kemiskinan (Djaenal et al., 2021), diantaranya:
1) Kemiskinan mengacu pada pendapatan yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan paling dasar untuk mempertahankan hidup.
2) Rendahnya pendapatan yang diukur dengan subjektif, yakni relative rendah terhadap pendapatan orang lain dalam masyarakat.
3) Kemiskinan berkaitan dengan perjuangan seseorang untuk memperoleh penghasilan yang layak/cukup.
Masalah kemiskinan adalah yang dialami banyak masyarakat, terutama di daerah-daerah terpencil yang jauh dari kendali pemerintah. Kemiskinan yang
19
merupakan masalah yang sangat kompleks dimana masalah ini membutuhkan penanganan yang serius, berkesinambungan, menyeluruh, terarah, terpadu dan harus menjadi perhatian pemerintah agar masyarakat terlepas dari kemiskinan.
Dalam menanggulangi kemiskinan dibutuhkannya partisipasi masyarakat sebab masalah kemiskinan berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan manusia. Kondisi kemiskinan tersebut memotivasi pemerintah untuk menetapkan berbagai program kebijakan bantuan sosial untuk menanggulangi kemiskinan, yang berbasis peluang peningkatan hidup masyarakat miskin (HS, 2018). Berkaitan dengan hal itu pemerintah melakukan beberapa program bantuan yang dianggap mampu untuk menanggulangi kemiskinan salah satunya yaitu program bantuan langsung tunai atau disebut juga BLT-Dana Desa.
Sebagaimana dalam Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2010 mengenai percepatan penanggulangan kemiskinan, pemerintah menetapkan beberapa program penanggulangan kemiskinan yang dibagi tiga klaster. Dimana Klaster I dijelaskan bahwa program penanggulangan kemiskinan bantuan sosial terpadu berbasis keluarga yang terdiri atas; program jamkesmas, program keluarga harapan, program beras keluarga miskin dan bantuan langsung tunai (BLT). Program- program tersebut ada, sebagai bentuk adanya langkah atau tindakan dari pemerintah, yang ditujukan sebagai pemecah masalah publik dengan memanfaatkan sumber daya tersedia. Adapun masalah publik yang dimaksud ialah masalah kemiskinan (Paat et al., 2021).
b. Indikator Kemiskinan
Indikator kemiskinan adalah alat pengukuran yang digunakan untuk mengidentifikasi dan mengukur tingkat kemiskinan dalam suatu populasi atau wilayah. Indikator ini membantu pemerintah, lembaga internasional, dan organisasi non-pemerintah untuk memahami sejauh mana orang-orang atau kelompok dalam suatu masyarakat mengalami keterbatasan ekonomi dan sosial yang signifikan.
Beberapa indikator kemiskinan yang umum digunakan meliputi:
1) Pendapatan dan Pengeluaran
Indikator ini mengukur kemiskinan berdasarkan pendapatan atau pengeluaran rumah tangga. Orang atau keluarga yang memiliki pendapatan atau pengeluaran di bawah ambang batas tertentu dianggap hidup dalam kemiskinan.
Ambang batas ini sering disebut sebagai garis kemiskinan.
2) Indeks Kemiskinan
Ini adalah ukuran statistik yang menggabungkan beberapa dimensi kemiskinan, seperti pendapatan, pendidikan, kesehatan, dan akses terhadap layanan dasar. Indeks seperti Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mengukur kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat dengan cara yang lebih komprehensif.
3) Ketidaksetaraan Pendapatan
Ketidaksetaraan dalam distribusi pendapatan di antara populasi dapat menjadi indikator kemiskinan. Jika pendapatan sangat tidak merata, orang-orang
21
dengan pendapatan rendah akan lebih mungkin terjebak dalam kondisi kemiskinan.
4) Akses Terhadap Layanan Dasar
Kemiskinan juga bisa diukur dengan melihat akses seseorang atau kelompok terhadap layanan dasar seperti pendidikan, kesehatan, air bersih, sanitasi, dan perumahan. Jika seseorang atau kelompok tidak mampu mengakses layanan tersebut, mereka cenderung hidup dalam kondisi kemiskinan.
5) Kondisi Kesehatan
Kesehatan yang buruk atau rendahnya harapan hidup juga dapat menjadi indikator kemiskinan. Orang-orang yang memiliki akses terbatas terhadap perawatan medis atau makanan yang cukup cenderung mengalami kesehatan yang buruk.
6) Pekerjaan dan Pengangguran
Tingkat pengangguran atau pekerjaan yang tidak stabil dapat menjadi indikator kemiskinan. Orang-orang yang tidak dapat menemukan pekerjaan yang layak atau yang harus bergantung pada pekerjaan informal dengan gaji rendah cenderung menghadapi risiko kemiskinan (Khomsan, 2015).
c. Garis Kemiskinan
Garis kemiskinan menjadi suatu ambang batas atau tingkat pendapatan minimum yang digunakan sebagai acuan untuk mengidentifikasi individu,
keluarga, atau kelompok yang hidup dalam kondisi kemiskinan. Garis kemiskinan sering digunakan dalam analisis ekonomi dan sosial untuk mengukur tingkat kemiskinan dalam suatu populasi atau wilayah tertentu. Garis kemiskinan dapat dihitung berdasarkan berbagai faktor, seperti biaya kebutuhan dasar seperti makanan, perumahan, pakaian, pendidikan, kesehatan, dan lainnya. Dalam banyak kasus, garis kemiskinan dihitung dengan memperhatikan biaya minimal untuk memenuhi kebutuhan dasar tersebut, serta mempertimbangkan faktor-faktor seperti ukuran keluarga, lokasi geografis, dan perubahan dalam tingkat harga.
Berdasarkan dari indikator ekonomi secara teoritis, garis kemiskinan diukur menggunakan tiga pendekatan, yaitu pendekatan produksi, pendapatan, dan pengeluaran. Sementara BPS menarik garis kemiskinan dengan menggunakan pendekatan pengeluaran. Sedangkan jika melalui pendekatan sosial masih sulit untuk mengukur garis kemiskinan masyarakat. Program pengentasan kemiskinan yang ada seringkali disama ratakan untuk semua wilayah. Dan sayangnya seringkali program pengentasan kemiskinan yang dilakukan selama ini lebih terfokus pada program yang mengarah pada sasaran, akan tetapi mengabaikan potensi dan modalitas sosial masyarakat setempat, sehingga program tersebut tidak berjalan atau gagal. Kegagalan yang terjadi pun dikarenakan berbagai macam kondisi yang beragam (Alawiyah et al, 2021).
Garis Kemiskinan (GK) mencerminkan nilai rupiah pengeluaran minimum yang diperlukan seseorang untuk memenuhi kebutuhan pokok hidupnya selama sebulan, baik kebutuhan makanan maupun non-makanan. GK terdiri dari Garis
23
Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non-Makanan (GKNM).
Garis Kemiskinan Makanan (GKM) merupakan nilai pengeluaran minimum untuk kebutuhan makanan yang disetarakan dengan 2100 kilokalori per kapita per hari atau tercatat sebesar Rp 535.547,00/kapita/bulan. Paket komoditi kebutuhan dasar makanan diwakili oleh 52 jenis komoditi. Garis Kemiskinan Non-Makanan (GKNM) merupakan nilai pengeluaran minimum untuk kebutuhan non-makanan berupa perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan. Paket komoditi kebutuhan dasar non-makanan diwakili oleh 51 jenis komoditi di perkotaan dan 47 jenis komoditi di perdesaan (Yustira et al, 2023).
d. Penanggulangan Kemiskinan
Berdasarkan Peraturan PresidenNo.15 Tahun 2010 tentang Percepatan Penanggulangan Kemiskinan. Di dalam Perpres tersebut Penanggulangan Kemiskinan diartikan sebagai kebijakan dan program pemerintah dan pemerintah daerah yang dilakukan secara sistematis, terencana dan bersinergi dengan dunia usaha dan masyarakat untuk mengurangi jumlah penduduk miskin dalam rangka meningkatkan derajat kesejahteraan masyarakat. Sedangkan Program Penanggulangan Kemiskinan diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah, dunia usaha serta masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin melalui bantuan sosial, pemberdayaan masyarakat, pemberdayaan usaha ekonomi mikro dan kecil, serta program lain dalam rangka meningkatkan kegiatan ekonomi (Rakhmat & Firdaus, 2019).
Mengacu pada Perpres tersebut, pemerintah secara garis besar telah membagi Program Percepatan Penanggulangan Kemiskinan menjadi beberapa kelompok yaitu:
1) Kelompok program bantuan sosial terpadu berbasis keluarga, bertujuan untuk melakukan pemenuhan hak dasar, pengurangan beban hidup, dan perbaikan kualitas hidup masyarakat miskin;
2) Kelompok program penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat, bertujuan untuk mengembangkan potensi dan memperkuat kapasitas kelompok masyarakat miskin agar terlibat dalam pembangunan yang didasarkan pada prinsip-prinsip pemberdayaan masyarakat;
3) Kelompok program penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan usaha ekonomi mikro dan kecil, bertujuan untuk memberikan akses dan penguatan ekonomi bagi pelaku usaha berskala mikro dan kecil.
Pada Dinas Sosial terdapat tiga program penanggulangan kemiskinan yang perencanaan nya dilakukan dengan pendekatan top-down. Ketiga program tersebut antara lain PKH, PBIN, dan BPNT. Dalam Undang-Undang No.25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN); dijelaskan bahwa proses top-down berarti suatu perencanaan dimulai dari pemerintah pusat yang kemudian dilaksanakan hingga ke pemerintah daerah. Meskipun demikian, pemerintah daerah tetap memiliki peran dalam proses perencanaan program- program tersebut. Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil wawancara, diketahui bahwa peran pemerintah daerah dalam program-program yang perencanaan nya
25
menggunakan pendekatan secara top-down, yaitu sebagai fasilitasi dan evaluasi (Wirasakti, 2020).
Dalam fasilitasi Program Keluarga Harapan (PKH), peran Dinas Sosial, yaitu dalam hal perencanaan data KPM. Dimulai dari pengusulan masyarakat calon KPM, fasilitasi Pendamping dan Operator PKH dalam melakukan verifikasi dan validasi data KPM. Dalam fasilitasi program Penerima Bantuan Iuran Nasional (PBIN), peran Dinas Sosial, yaitu dalam hal perencanaan data KPM. Dalam PBIN data dikirim oleh pemerintah pusat/ kementerian melalui aplikasi e-pbi kemudian diterima oleh dinas sosial. Selanjutnya data tersebut diteruskan ke operator desa untuk dilakukan verifikasi dan validasi. Data kemudian dirapatkan dalam forum Musdes dan Muskel. Data yang telah disepakati akan diberi surat pengantar dari desa, kemudian dibuatkan berita acara oleh dinas sosial.
4. Kesejahteraan Masyarakat
Kesejahteraan merupakan suatu kondisi yang mengandung unsur atau komponen ketertiban-keamanan, keadilan, ketentraman, kemakmuran dan kehidupan yang tertata mengandung makna yang luas bukan hanya terciptanya ketertiban dan keamanan melainkan juga keadilan dalam berbagai dimensi. Kondisi tentram lebih menggambarkan dimensi sosiologi dan psikologi dalam kehidupan bermasyarakat. Suatu kehidupan yang merasakan suasana nyaman, terlindungi, bebas dari rasa takut termaksud menghadapi hari esok. Dengan demikian kondisi sejahtera yang diidamkan bukan hanya gambaran kehidupan yang terpenuhi fisik, material, melainkan juga spiritual, bukan hanya pemenuhan kebutuhan jasmaniah
melainkan juga rohaniah (Sumarni et al, 2020). Indikator kesejahteraan masyarakat mengandung tiga komponen utama yaitu:
1) Keadilan sosial mengandung sejumlah indikator yaitu: pendidikan, kesehatan, akses pada listrik dan air, penduduk miskin.
2) Keadilan ekonomi mengandung sejumlah indikator yaitu: pendapatan, kepemilikan rumah, tingkat pengeluaran.
3) Keadilan demokrasi mengandung sejumlah indikator yaitu: rasa aman dan akses informasi (Soetomo, 2014).
5. Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT-Dana Desa)
a. Konsep Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT-Dana Desa)
Bantuan Langsung Tunai (Cash Transfers) merupakan program dari pemerintah akibat dari pengcabutan subsidi BBM dan diberikan kepada masyarakat miskin dengan harapan kemiskinan di Indonesia dapat berkurang serta kesejahteraan masyarakat semakin merata (Yendra & Wetsi, 2021). Selanjutnya menurut Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi mendefinisikan dana desa sebagai dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang dialokasikan bagi desa yang ditransfer lewat Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten/Kota dan digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintah, pelaksanaan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, serta pemberdayaan masyarakat (PDTT, 2020).
27
Jadi Bantuan langsung tunai dana desa atau BLT-Dana Desa Menurut Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan mendefinisikan BLT-Dana Desa sebagai program bantuan pemerintah berupa uang atau bantuan lainnya yang diberikan, dimana sumber dananya berasal dari dana desa dengan berbagai syarat- syarat yang harus dipenuhi dan diberikan kepada masyarakat miskin (Suparman et al., 2021). Dimana program pemerintah ini bertujuan menekan angka kemiskinan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan program BLT-Dana Desa.
Sebelumnya program bantuan langsung tunai dana desa atau disebut BLT-Dana Desa pertama kali diterapkan di Brazil tahun 1990 disebut Bolsa Escola.
Kemudian berganti nama jadi Bolsa Familia, merupakan program penyaluran bantuan tunai bersyarat terbesar didunia hingga saat ini, dan telah berhasil membantu masyarakat miskin sehingga program BLT-Dana Desa ditiru oleh negara lain. Salah satunya Indonesia yang juga ikut menerapkan program BLT-Dana Desa yang pertama kali dilaksanakan pada tahun 2005 sebagai bentuk kompensasi pemerintah atas kenaikan BBM terhadap harga bahan pokok, dimana pada masa itu kenaikan BBM sangat mempengaruhi kesejahteraan masyarakat menengah ke bawah dengan. Demikian kebijakan BLT bertujuan untuk meredam dampak kenaikan harga BBM terhadap masyrakat miskin. Kemudian penerapan BLT-Dana Desa dilanjutkan pada tahun 2008 saat terjadi lagi kenaikan BBM yang terlalu pesat, pada akhirnya Kembali memaksa pemerintah untuk menaikan harga BBM dan tentunya akan memberatkan masyarakat.
Program BLT-Dana Desa kembali dilakukan dan di targetkan sebanyak 91,1 juta rumah tangga penerima bantuan BLT-Dana Desa. Selanjutnya pada tahun 2013 pemerintah kembali menaikan lagi harga BBM, kenaikan BBM jenis premium dan solar. Untuk mengantisipasi pengurangan tingkat kesejahteraan masyarakat dan inflasi pemerintah kembali menerapkan program BLT-Dana desa untuk masyarakat miskin. Pada tahun 2013 BLT menggunakan nama berbeda yaitu Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM).
Namun dengan mekanisme dan penerapan yang sama seperti BLT. BLT- Dana Desa Kembali di aktifkan pada tahun 2020 saat terjadi pandemic COVID-19 sebagai upaya pemerintah menyelamatkan perekonomian nasional, program BLT- Dana Desa masih berlanjut hingga saat ini (Zakiyatus et al., 2021). Dengan besaran BLT yang diberikan kepada masyarakat miskin senilai Rp 600.000 setiap bulan selama 3 (tiga) bulan dengan jumlah Rp 300.000 tiap bulannya untuk tiga bulan berikutnya terhadap keluarga miskin yang memenuhi ketentuan bahwa penerima BLT-Dana Desa berdomisili di desa bersangkutan, dan belum menerima bantuan seperti PKH, kartu bantuan sembako, prakerja, dan atau bantuan lainnya. Hal tersebut dilakukan pemerintah agar pemberian bantuan merata untuk semua masyarakat miskin, BLT-Dana Desa yang diberikan pemerintah juga bebas pajak agar sekiranya masyarakat dapat menggunakan bantuan tunai tersebut sebaik- baiknya dalam pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari (Dewi & Andrianus, 2021) .
29
Beberapa masyarakat beranggapan bahwa program BLT-Dana Desa lebih baik, lebih unggul, dan menguntungakan. Namun di balik itu semua banyak penilaian tidak baik terhadap program BLT-Dana Desa. Disebabkan pelaksanaan BLT-Dana Desa manggunakan data lama, sehingga masyarakat merasa tidak terdistribusi, dan besaran bantuan yang diberikan tidak terlalu berdampak singnifikan terhadap kesulitan yang dirasakan masyarakat miskin selain itu disinyalir program BLT-Dana Desa memicu konflik sosial seperti kecemburuan sosial dilingkungan masyarakat. Akibat salah satu individu tidak menerima BLT- Dana Desa merasa iri dengan mereka yang mendapatkan bantuan walaupun memiliki keadaan ekonomi yang setara, yang selanjutnya akan menjadi konflik dalam lingkup masyarakat.
b. Dasar Hukum Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT-Dana Desa) Pelaksanaan penyaluran Bantuan Langsung Tunai Dana Desa didasarkan pada ketentuan hukum yang sesuai dengan (PPN/Bappenas, 2020) yang mana terdapat dalam aturan-aturan berikut :
1. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2020 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan Pandemi Corona Virus Disease (COVID-19) dan/atau dalam Rangka Menghadapi Ancaman yang Membahayakan Perekonomian Nasional dan/atau Stabilitas Sistem Keuangan Menjadi Undang-Undang.
2. Peraturan Menteri Desa PDTT Nomor 6 Tahun 2020 tentang Perubahan Peraturan Menteri Desa PDTT Nomor 11 Tahun 2019 tentang Prioritas
Penggunaan Dana Desa Tahun 2020. Pengaturan terkait dengan BLT Dana Desa dapat dilihat pada pasal 8, pasal 8A, serta pada lampiran-1 dan lampiran- 2 yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri Desa PDTT Nomor 6 Tahun 2020 ini.
3. Peraturan Menteri Desa PDTT Nomor 7 Tahun 2020 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Desa PDTT Nomor 11 Tahun 2019 tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa.
4. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 40 Tahun 2020 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 205/PMK.07/2019 tentang Pengelolaan Dana Desa. Pengaturan 28 yang terkait dengan BLT Dana Desa dapat dilihat pada pasal 24 ayat 2, pasal 24A, pasal 24B, pasal 25A, pasal 25B, pasal 32, pasal 32A, pasal 34, pasal 35, pasal 47A, dan pasal 50.
5. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 50/PMK.07/2020 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 205/PMK.07/2019 tentang Pengelolaan Dana Desa. Pengaturan yang terkait dengan BLT Dana Desa dapat dilihat pada pasal 32A.
6. Instruksi Menteri Desa PDTT Nomor 1 Tahun 2020 Tanggal 15 Mei 2020 tentang Percepatan Penyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana Desa.
7. Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 3 Tahun 2020 tentang Penanggulangan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) di Desa melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa.
8. Surat Menteri Desa PDTT Nomor 1261/ PRI.00/IV/2020 Tanggal 14 April 2020 perihal Pemberitahuan Perubahan Permendes PDTT Nomor 11 Tahun
31
2019 tentang Prioritas Pembangunan DD Tahun 2020 menjadi Permendes PDTT Nomor 06 Tahun 2020.
9. Surat Direktur Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Kementerian Desa PDTT Nomor 9/PRI.00/IV/2020 Tanggal 16 April 2020 perihal Petunjuk Teknis Pendataan Keluarga Calon Penerima BLT Dana Desa.
10. Surat Edaran Komisi Pemberantasan Korupsi Nomor 11/2020 Tanggal 21 April 2020 perihal Penggunaan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) dan Non DTKS dalam Pemberian Bantuan Sosial Kepada Masyarakat (PPN/Bappenas, 2020).
c. Kriteria Calon Penerima Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT- Dana Desa)
Kriteria penerima BLT-Dana Desa ialah keluarga miskin baik yang belum terdata (exclusion error) dan yang sudah terdata dalam data terpadu kesejahteraan sosial (DTKS) sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Pihak pelaksana pendataan wajib memastikan kelompok rentan misalnya keluarga miskin dengan kepala keluarga perempuan janda lansia dan penyandang disabilitas yang terdata selaku calon penerima BLT-Dana Desa semakin banyak kriteria keluarga miskin dan rentan yang terpenuhi, maka semakin diutamakan/diprioritaskan sebagai penerima BLT-Dana Desa. (Triyanto et al., 2022).
Dalam Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Trasmigrasi Nomor 6 Tahun 2020 pasal 8A ayat (2) juga dijelaskan beberapa
kriteria penerima BLT-Dana Desa dapat dilihat dalam (PDTT, 2020), sebagaimana disebutkan:
1) Untuk keluarga yang tidak menerima bantuan progam keluarga harapan (PKH) atau bantuan pangan non tunai (BPNT) dan atau pemilik kartu prakerja.
2) Untuk keluarga yang mempunyai anggota keluarga yang rentan sakit menahun/kronis.
3) Untuk keluarga yang kehilangan pekerjaan atau mata pencaharian.
d. Mekanisme Pendataan Calon Penerima Bantuan Langsung Tunai Dana Desa
Sesuai dengan intruksi Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Nomor 6 Tahun 2020 pada pasal 8A ayat (2) tercantum dalam lampiran II tentang mekanisme dan alur pendataan calon penerima BLT-Dana Desa (PDTT, 2020), sebagaimana dimaksudkan :
1) Mengadakan pendataan yang dilakukan relawan desa.
2) Pendataan terfokus mulai RT, RW, dan Desa.
3) Hasil pendataan sasaran keluarga miskin dilakukan musyawarah desa khusus atau musyawarah insidentil yang dilaksanakan dengan agenda tunggal, yaitu dengan validasi/pengecekan dan finalisasi data.
4) Legalitas dokumen hasil dari pendataan di tanda tangani oleh kepala desa.
5) Dokumen hasil pendataan diperiksa ulang/verifikasi oleh kepala desa dan dilaporkan kepada Bupati/Walikota melalui Camat dan dapat dilakukan
33
kegiatan-kegiatan BLT-Dana Desa dalam waktu selambat-lambatnya lima hari kerja per-tanggal diterima di Kecematan.
e. Metode dan Mekanisme Penyaluran Bantuan Langsung Tunai Dana Desa
Berdasarkan Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Nomor 6 Tahun 2020 pasal 8A ayat (2) lampiran II yang berhubungan dengan metode dan mekanisme penyaluran BLT-Dana Desa (PDTT, 2020).
Sebagaimana dimaksudkan :
1) Metode perhitungan anggaran jumlah penerima bantuan BLT-Dana Desa ditetapkan, sebagai berikut:
a) Desa yang menerima dana desa kurang dari Rp 800.000.000,- (delapan ratus juta rupiah) mendistribusikan BLT-Dana Desa sebanyak 25% dari jumlah dana desa.
b) Desa yang menerima dana desa Rp 800.000.000,- (delapan ratus juta rupiah) mencapai dengan Rp 1.200.000.000,- (satu miliar dua ratus juta rupiah) mendistribusikan BLT-Dana Desa sebanyak 30% dari jumlah dana desa.
c) Desa yang menerima dana desa lebih dari Rp 1.200.000.000,- (satu miliar dua ratus juta rupiah) mendistribusikan BLT-Dana Desa sebanyak 35% dari jumlah dana desa.
d) Bagi desa dengan jumlah keluarga miskin lebih besar dari anggaran yang dialokasikan, dapat menaikan jumlah anggaran alokasi dana sesudah mendapat persetujuan dari pemerintah Kabupaten/Kota.
2) Penyaluran BLT-Dana Desa dilakukan oleh pemerintah desa dengan metode non-tunai (cash less) tiap bulan, menggunakan bank yang dipilih oleh pemerintah desa dilakukan dengan tunai (cash) terhadap penerima BLT-Dana Desa.
B. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu ini akan menjadi salah satu bahan referensi penulis untuk membuat penelitiannya, dibawah ini merupakan beberapa penelitian- penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian yang dilakukan penulis, yaitu :
1. Penelitian yang dilakukan oleh Risnawati dalam bentuk skripsi dengan judul
“Evektifitas Program Bantuan Langsung Tunai Dana Desa di Desa Latimojong Kecematan Buntu Batu Kabupaten Enrekang” Hasil dari penelitian ini menunjukan Evektifitas Program Bantuan Langsung Tunai Dana Desa di Desa Latimojong sudah berjalan dengan efektif dilihat dari beberapa aspek seperti keberhasilan program BLT-Dana Desa dilihat dari proses sasaran pemberian bantuan yang sesuai kriteria, pelaksanaan program BLT-Dana Desa kepuasan, dan kepuasan masyarakat terhadap program BLT-Dana Desa karena dinilai dapat membantu masyarakat, tingkat output dan input harapan pemerintah yang telah sesuai dengan hasil yang dirasakan masyarakat dan pencapaian tujuan menyeluruh dimana tujuan dari program BLT-Dana Desa terlaksana dengan baik (Studi et al., 2022).
35
2. Penelitian yang dilakukan oleh Ferra Oktiara dalam bentuk penelitian skripsi dengan judul “Pelaksanaan Penyaluran Bantuan Langsung Tunai-Dana Desa Untuk Menekan Dampak Pandemi Covid-19 (Studi di Desa Gunung Besar, Kecematan Abung Tengah)” Penelitian ini menjelaskan akibat dari munculnya wabah penyakit menular Covid-19, yang berdampak pada tingkat kesejahteraan masyarakat akibat dari adanya pembatasan kegiatan ekonomi sehingga berpotensi meningkatkan jumlah masyarakat miskin. Untuk mengantisipasi hal tersebut pemerintah memberlakukan salah satu kebijakan program Bantuan Langsung Tunai yang sumber dananya berasal dari Dana Desa, sebagai upaya membantu masyarakat miskin dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka selama masa pandemi Covid-19 (Oktiara, 2021).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh “Ferra Oktiara” fokus penelitian yang dilakukan pada pelaksanaan penyaluran BLT-Dana Desa akibat dampak pandemi Covid-19, sedangkan pada penelitian ini hanya akan membahas bagaimana pengimplementasian program BLT-Dana Desa serta bagaimana dampak implementasi program BLT-ana Desa dalam menanggulangi masyarakat miskin.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Maisura dalam bentuk penelitian skripsi dengan judul “Pemanfaatan Bantuan Langsung Tunai (BLT) Oleh Masyarakat Miskin di Gampong Kuta Makmur Kabupaten Aceh Barat Daya” Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan BLT oleh masyarakat penerima BLT, dimana hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa masyarakat tidak memanfaatkan BLT untuk membeli sembako melainkan untuk keperluan yang
lainnya seperti pakaian dan handphone. Maka dari itu pemerintah Gampong akan mengambil sikap pemberhentian BLT bagi siapa saja yang tidak menaati aturan dan diharapkan dapat mempergunakan BLT sesuai dengan anjuran dari pemerintah.
C. Kerangka Pikir
Penelitian ini akan dilakukan di Desa Padang Loang untuk mengetahui bagaimana pengimplementasian program bantuan langsung tunai atau BLT-Dana Desa dalam menanggulangi kemiskinan, yang ada di Desa Padang Loang. Maka dari itu untuk memudahkan memahami alur pemikiran peneliti, dibawah ini adalah gambaran bagan kerangka pikir pada penelitian ini.
Bagan Kerangka Pikir
Implementasi Program BLT-Dana Desa Dalam Menanggulangi Masyarakat Miskin
di Desa Padang Loang
Dampak Implementasi Program BLT-Dana Desa Dalam Menanggulangi Masyarakat
Miskin
Kesejateraan Masyarakat
HASIL
Penanggulangan
Kemiskinan Garis
Kemiskinan
Pertumbuhan Ekonomi Endogen
HASIL
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah jenis penelitian studi kasus (case study research) dan bersifat deskriptif (descriptive research) ialah menjelaskan suatu keadaan atau fenomena yang terjadi (Metode Penelitian Pendidikan, 2016), dengan menggunakan pendekatan kualitatif (penggambaran suatu keadaan dengan naratif kualitatif). Menurut Denzin &
Lincoln (1994) dalam (Anggito & Setiawan, 2018) mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai penelitian yang menggunakan latar alamiah dengan menjelaskan fenomena-fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan metode yang ada.
Selanjutnya Erickson (1968) dalam (Anggito & Setiawan, 2018) berpandangan bahwa penelitian kualitatif ialah usaha untuk mendapatkan gambaran secara naratif kegiatan yang dilakukan serta apa dampak dari tindakan yang dilakukan kepada kehidupan mereka.
Penelitian Kualitatif merupakan jenis penelitian yang temuannya tidak didapatkan dari prosedur kuantifikasi, perhitungan statistika, ataupun dalam bentuk lainnya menggunakan ukuran angka (Rukajat, 2018). Penelitian kualitatif memang tidak menggunakan statistika, akan tetapi dengan mengumpulkan data, analisis, dan selanjutnya di interpretasikan (Anggito & Setiawan, 2018). Hal ini sesuai dengan karakteristik penelitian kualitatif menurut Bogdan and Biklen (1982: 27-29) dalam
37
(Anggito & Setiawan, 2018) yaitu: (1) dilakukan dalam kondisi yang alamiah (selaku lawannya ialah eksperimen) dan selanjutnya, langsung ke sumber data dan peneliti merupakan instrument kunci. (2) penelitian kualitatif bersifat deskriptif, dimana data yang dikumpulkan dalam bentuk kata-kata atau gambar jadi tidak memfokuskan pada angka. (3) penelitian kualitatif lebih memfokuskan pada proses ketimbang produk/outcome. (4) penelitian kualitatif mengerjakan analisis data dengan cara induktif. Dan (5) penelitian kualitatif memfokuskan apa makna (data dibalik yang diamati). Pendekatan kualitatif dengan menggunakan jenis penelitian studi kasus yang bersifat deskriptif bertujuan untuk mencari fenomena mengenai implementasi kebijakan program bantuan langsung tunai (BLT-Dana Desa) dalam menangulangi masyarakat miskin yang ada di Desa Padang Loang Kecematan Patampanua Kabupaten Pinrang. Kemudian dilakukan analisis secara kualitatif (menyatukan data-data yang diperoleh dari lapangan dan selanjutnya disusun kata- kata atau kalimat yang akan menjadi suatu data yang bersifat alamiah) sumber data atau informasi yang didapatkan dari hasil observasi dan wawancara serta data yang diperoleh dari kajian pustaka atau dokumentasi-dokumentasi di deskripsikan sesuai dengan fenomena yang ada dilapangan serta disajikan dengan bentuk kata-kata ataupun kalimat dan selanjutnya ditarik suatu kesimpulan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.
B. Waktu dan Tempat Penelitian
Lokasi Penelitian ini di Desa Padang Loang Kecematan Patampanua Kabupaten Pinrang. Dan waktu yang digunakan untuk melakukan penelitian ini di mulai dari tanggal 15 November-20 Desember 2023.
39
C. Jenis dan Sumber Data
1. Jenis Data
Dalam melakukan penelitian, diperlukan data-data yang akurat untuk menguatkan hasil penelitian. Adapun jenis data yang akan digunakan dalam penelitian ini, yaitu data kualitatif merupakan jenis data yang sifatnya deskriptif, biasanya dalam bentuk kata-kata atau kalimat. Data ini umumnya dicatat atau diamati sehingga memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam membuat penelitian, contohnya seperti pendapat, opini, tingkat kepuasan, dan lainnya.
2. Sumber Data
Adapun sumber data yang akan digunakan dalam penelitian ini, yaitu:
a) Data primer merupakan data yang dikumpulkan secara langsung dilapangan oleh peneliti lewat orang yang bersangkutan. Data yang dimaksud ini berupa, data hasil wawancara, data isian kuesioner, atau hasil survei (Metode Penelitian Sistem 3x Baca, 2019) yang didapatkan dari peninjauan langsung di lokasi penelitian pada objek yang ada dilapangan. Jadi data primer yang digunakan dalam penelitian ini ialah hasil wawancara mendalam dengan Kepala Desa Padang Loang, beberapa perangkat/staf Kantor Desa Padang loang, keluarga penerima manfaat BLT-Dana Desa, dan hasil observasi yang dilakukan dilapangan terkait dengan penelitian implementasi program BLT- Dana Desa dalam menanggulangi masyarakat miskin di Desa Padang Loang.
b) Data Sekunder adalah data yang dikumpulkan atau diperoleh peneliti secara tidak langsung karena melalui perantara atau orang lain. Contohnya seperti dokumen/data yang berkaitan dengan masalah penelitian, didapatkan dari buku-buku referensi, skripsi-skripsi terdahulu yang pernah membahas judul serupa, jurnal-jurnal yang relevan, dan peraturan perundang-undangan yang secara langsung berkaitan tentang permasalahan yang diteliti yaitu implementasi program BLT-Dana Desa.
D. Informan Penelitian
Informan atau narasumber penelitian adalah orang yang sebagai subjek yang memahami informasi objek penelitian. Dalam penelitian yang dilakukan ini, peneliti memilih informan untuk penelitiannya dengan menggunakan teknik purposive sampling (teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu). Pertimbangan tertentu, merujuk pada orang-orang atau informan yang mengetahui lebih mendalam tentang BLT-Dana Desa. Sehingga akan memudahkan peneliti dalam mengidentifikasi masalah/situasi sosial yang diteliti. informan yang dipilih dalam penelitian ini adalah Kepala Desa Padang Loang, Pegawai dan atau Staf Kantor Desa Padang Loang serta masyarakat penerima manfaat BLT-Dana Desa didesa Padang Loang Kecematan Patampanua Kabupaten Pinrang.
E. Populasi dan Sampel
Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang menggunakan latar alamiah dengan tujuan menjelaskan fenomena yang terjadi dan di lakukan dengan melibatkan beberapa metode yaitu:
41
1. Populasi
Populasi merupakan seluruh individu yang menjadi sumber pengambilan sampel, seperti obyek/subjek yang mempunyai kualitas serta karakteristik tertentu yang telah ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan selanjutnya menarik kesimpulan (Metode Penelitian Sistem 3x Baca, 2019). Dalam artian populasi adalah sekelompok orang, objek, atau hal-hal yang telah memenuhi persyaratan tertentu dan berkaitan dengan masalah-masalah dalam penelitian. Dan yang akan menjadi populasi dalam penelitian ini ialah masyarakat penerima manfaat BLT- Dana Desa yang berjumlah 42 keluarga di Desa Padang Loang.
2. Sampel
Sampel merupakan bagian dari keseluruhan, objek penelitian yang sebenarnya dilakukan. Metode pemilihan individu menjadi sampel yang representative disebut sampling (Yendra & Wetsi, 2021). Selanjutnya teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah menggunakan sampling jenuh.
Dimana menurut (Sugiyono, 2017) Sampling Jenuh adalah teknik pemilihan sampel apabila semua anggota populasi dijadikan sampel. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan Teknik Sampling Jenuh, dimana semua populasi dalam penelitian ini dijadikan sampel dengan jumlah sampel 42 keluarga penerima BLT-Dana Desa yang ada di Desa Padang Loang.
F. Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu:
1) Observasi
Observasi adalah mencari informasi dengan cara mengamati secara langsung atau menyelidiki sendiri dengan tidak menanyakan pendapat dari responden (Metode Penelitian Sistem 3x Baca, 2019). Teknik observasi atau pegamatan dalam mengumpulkan data adalah suatu teknik mengumpulkan atau memperoleh data dengan melakukan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang terjadi. Dalam proses pengumpulan data yang dibutuhkan maka peneliti akan terjun langsung ke lokasi penelitian yang berada di Desa Padang Loang untuk mengamati secara langsung permasalahan atau ketimpangan yang terjadi di Desa Padang Loang terkait dengan bagaimana pengimplementasian program BLT-Dana Desa dalam menanggulangi masyarakat miskin.
2) Dokumentasi
Menggunakan teknik dokumentasi dalam penelitian ini dimaksudkan untuk mengungkap suatu peristiwa objek serta tindakan-tindakan yang memperbanyak pengetahuan peneliti terhadap fenomena-fenomena masalah yang di teliti (Rukajat, 2018). Teknik dokumentasi dalam mengumpulkan data ditujukan untuk mengumpulkan data secara langsung dari tempat/lokasi penelitian, yang meliputi buku-buku yang relevan terhadap penelitian yang dilakukan, peraturan-peraturan, l
43
aporan dari kegiatan, foto-foto, dan atau data yang relevan untuk penelitian (Metode Penelitian Pendidikan, 2016). Pada penelitian ini, peneliti akan mengumpulkan informasi-informasi terkait permasalahan BLT-Dana Desa yang didapatkan dari hasil observasi dan wawancara, selain itu di dukung juga dengan data jumlah penduduk miskin dan jumlah penerima BLT-Dana Desa yang akan menjadi pendukung proses penelitian ini.
3) Wawancara
Tehnik wawancara atau interview dari pandangan Nasution (1992: 72) dalam (Rukajat, 2018) adalah proses komunikasi antara peneliti dengan sumber data untuk menelusuri data yang bersifat word view untuk menyampaikan makna yang terkandung dari fenomenan ataupun masalah yang ada dalam penelitian.
Untuk memperoleh informasi serta memahami lebih objektif tentang bagaimana proses implememntasi program BLT-Dana Desa, wawancara dilakukan secara terbuka, dimana peneliti bertanya kepada informan tentang fakta dari suatu kejadian serta pendapat mereka mengenai peristiwa yang ada (Covid-, 2022). Peneliti akan mewawancarai langsung informan atau narasumber yang telah ditentukan dengan mengajukan beberapa pertanyaan terkait BLT-Dana Desa untuk memperoleh informasi yang akurat mengenai permasalahan BLT-Dana Desa di Desa Padang Loang.
G. Teknik Analisis Data
Penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, dengan cara menyusun secara sistematis informasi atau data yang diperoleh dari hasil observasi
dilapangan, wawancara, dan dokumentasi. Sehingga memudahkan untuk menganalisis, menggambarkan, dan mendeskripsikan kondisi atau situasi agar lebih mudah dimengerti oleh penulis dan pembaca. Teknik analisis deskriptif kualitatif digunakan dalam penelitian ini untuk menjawab rumusan masalah 1 dan 2 yang dimana, pada rumusan masalah yang pertama ingin diketahui bagaimana proses implementasi program BLT-Dana Desa dengan menganalisis serta membandingkan kesesuaian antara regulasi dan pengaplikasiannya di masyarakat apakah telah sesuai dengan regulasi dan pengapliasiannya atau tidak. Dan untuk menjawab rumusan masalah yang kedua mengenai bagaimana dampak dari implementasi program BLT-Dana Desa dalam menanggulangi masyarakat miskin apakah dengan adanya pemberian BLT-Dana Desa ini mampu mengeluarkan masyarakat Desa Padang Loang dari kemiskinan.
DAFTAR PUSTAKA
Alawiyah, T., Setiawan, F., Kemiskinan, P., Kearifan, B., Pada, L., & Desa, M. (2021).
Pengentasan Kemiskinan Berbasis Kearifan Lokal pada Masyarakat Desa.
Anggito, A., & Setiawan, J. (2018). Metodologi penelitian kualitatif. CV Jejak (Jejak Publisher).
Covid-, P. (2022). Implementasi Kebijakan Bantuan Langsung Tunai Dana Desa Pada Masa. 10, 179–185.
Desa, D. I., Kabupaten, S. E. A., & Palar, N. A. (2021). ISSN 2338 – 9613 JAP No. 108 Vol. VII 2021. VII(108), 78–89.
Dewi, R., & Andrianus, H. F. (2021). ANALISIS PENGARUH KEBIJAKAN BANTUAN LANGSUNG TUNAI ( BLT ) TERHADAP KEMISKINAN DI INDONESIA PERIODE 2005-2015 ANALYSIS OF THE INFLUENCE OF DIRECT CASH ( BLT ) POLICY ON POVERTY IN INDONESIA 2005-2015 PERIOD. XV(02), 77–84.
Djaenal, R., J. E. Kaawoan, & Rachman, I. (2021). Implementasi Kebijakan Program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) Dinas Sosial Dalam Menanggulangi Kemiskinan di Kelurahan Tosa Kecamatan Tidore Timur Kota Tidore. Jurnal Governance, 1(2), 1–8.
Dr. Dra. Karmanis, M. S., Karjono. ST., M. A., & Ibda, H. (2021). Analisis Implementsi Kebijakan Publik. CV. Pilar Nusantara.
HS, S. (2018). Analisis Pengentasan Kemiskinan pada Dinas Kesejahteraan Sosial Kabupaten Pinrang. Al-Qisthi, 8(1), 1–16.
Iping, B. (2020). Perlindungan sosial melalui kebijakan program Bantuan Langsung Tunai (BLT) di Era Pandemi Covid-19: Tinjauan perspektif ekonomi dan sosial.
Jurnal Manajemen Pendidikan Dan Ilmu Sosial, 1(2), 516–526.
Kementerian Keuangan. (2020). BLT Dana Desa. Faq -PMK-40-2020, Peraturan Menteri Keuangan Nomor 40/PMK.07/2020 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 205/PMK.07/2019 tentang Pengelolaan Dana Desa., 2–
6.
Masnan, S., & Nashir, A. (2020). Penanggulangan Kemiskinan Melalui Program Kartu Keluarga Sejahtera. Pilar, 11(2), 1–14.
Maun, C. E. F. (2020). efektivitas bantuan langsung tunai dana desa bagi masyarakat miskin terkena dampak covid-19 di Desa Talaitad Kecamatan Suluun Tareran Kabupaten Minahasa Selatan. Politico: Jurnal Ilmu Politik, 9(2).
Metode Penelitian Pendidikan. (2016). Prenada Media.
45
Metode Penelitian Sistem 3x Baca. (2019). Deepublish.
Murdiyana, M., & Mulyana, M. (2017). Analisis Kebijakan Pengentasan Kemiskinan Di Indonesia. Jurnal Politik Pemerintahan Dharma Praja, 10(1), 73–96.
https://doi.org/10.33701/jppdp.v10i1.384
Noer Diana, F., Kurniasari, W., Studi, P. S., & Pembangunan, E. (2021). ANALISIS PENGARUH INSTRUMEN PEMBAYARAN NON TUNAI TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA. Buletin Ekonomika Pembangunan, 2(2), 116–133.
Oktiara, F. (2021). Pelaksanaan Penyaluran Bantuan Langsung Tunai-Dana Desa Untuk Menekan Dampak Pandemi Covid-19 (Studi di Desa Gunung Besar, Kecematan Abung Tengah). Universitas Muhammadiyah Kotabumi.
http://repository.umko.ac.id/id/eprint/272/
Paat, R., Pangemanan, S., & Singkoh, F. (2021). Implementasi Bantuan Langsung Tunai Dana Desa Tahun 2020 Di Desa Tokin Baru Kecamatan Motoling Timur Kabupaten Minahasa Selatan. Eksekutif : Jurnal Jurusan Ilmu Pemerintahan, 1(1), 1–11.
PDTT, K. D. (2020). Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, Dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2020 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, Dan Transmigrasi Nomor 11 Tahun 2019. Sereal Untuk, 51(1), 51.
Rakhmat, & Firdaus. (2019). Dinamika Implementasi Kebijakan Penanggulangan Kemiskinan di Indonesia. Jurnal Ekonomi, 1(2), 33-38.
Rukajat, A. (2018). Pendekatan Penelitian Kualitatif (Qualitative Research Approach).
Deepublish.
Salamah, S., & Kurniawan, B. (2022). Efektivitas Pelaksanaan Program Sembako Selama Pandemi Covid-19 (Studi di Desa Karangwungu Lor Kecamatan Laren Kabupaten Lamongan). Publika, 10(03), 817–832.
Soetomo. (2014). Kesejahteraan dan Upaya Mewujudkannya dalam Perspektif.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Studi, P., Administrasi, I., Ilmu, F., Dan, S., Politik, I., & Makassar, U. M. (2022). DI DESA LATIMOJONG KECAMATAN BUNTU BATU.
Sumarni, M., Ekonomi, F., Islam, B., & Langsa, I. (n.d.). PENGARUH PENGELOLAAN ALOKASI DANA DESA TERHADAP PENINGKATKAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT. https://doi.org/10.32505/j-ebis.v2i1
Suparman, N., Washillah, G., & Juana, T. (2021). EFEKTIVITAS PENYALURAN BANTUAN LANGSUNG TUNAI DANA. 19(2), 44–60.