Menyikapi hal tersebut, ada dua model yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika, yang ditandai dengan peningkatan rata-rata hasil belajar siswa setiap siklusnya yaitu siklus I (70,29) dan siklus II (84.29). Berdasarkan kedua hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran problem based learning (PBL) dapat meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa.
Menyikapi hal tersebut digunakan dua model dalam penelitian ini, antara lain Model Problem Based Learning (PBL). Alhamdulillah, dengan penuh rasa syukur penulis akhirnya dapat menyelesaikan penelitiannya yang berjudul “Penerapan Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Keterampilan Komunikasi Siswa Kelas V”.
PENDAHULUAN
- Rumusan Masalah
- Tujuan Penelitian
- Bagi Peserta didik
- Batasan Masalah
- Hipotesis
- Struktur Organisasi PTK
Tamur (Lagur, Makur, & Ramda 2018) menyatakan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan dalam upaya pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa adalah model pembelajaran berbasis masalah menurut Nafiah. Apakah penerapan model problem based learning (PBL) dapat meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa kelas V SD Unggulan Islam Al-Kindi pada materi volume kubus dan balok?
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana meningkatkan kemampuan komunikasi matematis dengan menggunakan model problem based learning (PBL). Penelitian ini dilakukan di SD Al-Kindi Islam kelas V Unggul, dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah (PBL).
KAJIAN PUSTAKAKAJIAN PUSTAKA
Pengertian Penelitian Tindakan Kelas
Karakteristik dan Prinsip Penelitian Tindakan Kelas
Tugas guru di sekolah yang pertama dan utama adalah mendidik siswa agar model pembelajaran penelitian tindakan apa pun yang diterapkan di kelas tidak mengganggu keterlibatan mereka sebagai guru. Ketika melakukan penelitian tindakan kelas, guru hendaknya selalu memperhatikan prosedur etika yang berkaitan dengan pekerjaannya. Hal ini penting untuk diperhatikan karena selain keterlibatan anak, penelitian tindakan kelas di kelas juga terjadi dalam konteks organisasi, sehingga pelaksanaannya harus memperhatikan tata krama kehidupan organisasi.
Ruang kelas merupakan tanggung jawab guru, namun penelitian tindakan digunakan semaksimal mungkin dalam pelaksanaan kelas. Refleksi (Reflecting), yaitu kegiatan evaluasi terhadap perubahan yang terjadi atau hasil yang diperoleh dari yang dikumpulkan sebagai bentuk pengaruh dari tindakan yang dirancang.
Kemampuan Komunikasi Matematis
- Pengertian Kemampuan Komunikasi Matematis
- Indikator Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa
- Kelebihan dan kekurangan model pembelajaran Problem Based Learning
Mengungkapkan kejadian sehari-hari dalam bahasa matematika 4. Mendengarkan, berdiskusi dan menulis tentang matematika 5. Membaca dengan pemahaman presentasi matematika. Guru membantu siswa untuk mendefinisikan dan mengatur tugas-tugas belajar yang berkaitan dengan masalah. Fase-3 Mengarahkan penyelidikan individu dan kelompok Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang relevan, melakukan percobaan, mendapatkan penjelasan dan memecahkan masalah.
Guru membantu siswa merefleksikan atau mengevaluasi hasil penelitiannya dan proses yang dihasilkan yang mereka gunakan. Siswa menjadi terbiasa menghadapi masalah (problem pose) dan merasa tertantang untuk memecahkan masalah tidak hanya berkaitan dengan pembelajaran di kelas tetapi juga masalah yang muncul dalam kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran Matematika
20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 ayat 20, “Pembelajaran adalah proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar dalam suatu lingkungan belajar”. Dari perbedaan pendapat tentang pembelajaran di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah suatu upaya mengajar siswa melalui proses interaksi antara siswa dengan pendidik dan sumber belajar dalam suatu lingkungan belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pembelajaran matematika merupakan suatu proses membangun pemahaman siswa terhadap fakta, konsep, prinsip, dan keterampilan sesuai dengan ceramah guru yang menyampaikan materi kepada siswa.
Dapat kita simpulkan bahwa pembelajaran matematika merupakan upaya mengajar siswa untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan berpikir melalui proses interaksi antara siswa dan guru serta sumber belajar di lingkungan belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dengan kata lain, pembelajaran matematika merupakan suatu proses interaksi antara siswa, guru dan sumber belajar, yang didalamnya melibatkan pengembangan pola pikir siswa dalam memahami atau menyelesaikan permasalahan yang ada, sehingga siswa diharapkan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Penelitian Yang Relevan
- Tempat dan Waktu Penelitian
- Karakteristik Penelitian
Sehingga �ℎ𝑖�𝑢𝑛𝑔19.101 > 2.101 untuk komunikasi matematis tertulis dan �ℎ𝑖�𝑢𝑛𝑔 10.019 > 2.101 untuk komunikasi matematis lisan, maka dapat dikatakan Ha diterima dan H0 ditolak yang berarti terdapat perbedaan antara tulis dan lisan. komunikasi matematis keterampilan komunikasi sebelum dan sesudah perlakuan model pembelajaran berbasis masalah. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran berbasis masalah berpengaruh terhadap kemampuan komunikasi matematis siswa kelas V SDN 5 SD Buwun Mas. Kemampuan komunikasi matematis adalah kemampuan menyampaikan suatu pemikiran atau gagasan matematis dalam bentuk simbol-simbol.
Pada situasi awal kemampuan komunikasi matematis siswa masih kurang dengan nilai terendah 40. Oleh karena itu, masih terdapat siswa yang belum mencapai KKM. Pentingnya kemampuan komunikasi matematis hendaknya didukung dengan penerapan model atau strategi yang tepat, salah satunya adalah model pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Dengan demikian, terdapat keterkaitan di beberapa titik antara indikator kemampuan komunikasi matematis dan sintaksis pada model Problem Based Learning.
Penjelasan tersebut dapat dibuktikan melalui penelitian yang dilakukan oleh Maria, Siprianus, Damianus (2020) tentang Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah Dilihat dari nilai n-gain atau peningkatan dari pre-test ke post-test, kedua kelas mempunyai nilai yang sama. kategori gain yaitu pada kategori sedang dengan peningkatan sebesar 0,61 dan kelas kontrol sebesar 0,50; 2) perbedaan gender tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan komunikasi matematis dan tidak terdapat pengaruh interaksi model pembelajaran dan gender terhadap peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa. Panjaitan (2016) “Pengaruh pendekatan pembelajaran berbasis masalah terhadap kemampuan komunikasi matematis dan motivasi belajar siswa” menunjukkan SDN Sindangjati sebagai kelompok eksperimen dan SDN Bongkok sebagai kelompok kontrol. Instrumen yang digunakan adalah tes kemampuan komunikasi matematis, skala sikap motivasi belajar, lembar observasi dan wawancara.
Hasil penelitian dengan taraf signifikansi α = 0,05 menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis masalah dan pembelajaran ekspositori dapat meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa. Pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran berbasis masalah lebih baik dibandingkan pembelajaran ekspositori dalam meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa. Pengaruh model pembelajaran terhadap kemampuan komunikasi matematis, peneliti ingin mengetahui bagaimana cara meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL).
Instrumen Penelitian
- Observasi
Tes merupakan segala alat latihan yang diberikan guru untuk mengetahui tingkat keberhasilan pengetahuan siswa selama pembelajaran. Tes yang dimaksud adalah tes tindakan individual, berupa pemberian soal-soal yang menimbulkan nilai pada setiap tugas yang diberikan kepada siswa. Tes diberikan kepada siswa setelah dilakukan tindakan, dengan menggunakan model pembelajaran problem based learning (PBL) pada mata pelajaran matematika, untuk melihat perubahan yang terjadi setelah dilakukan tindakan dan melihat peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa sebagai hasil dari melanjutkan pada siklus berikutnya.
Kriteria pemberian skor komunikasi berpedoman pada Rubik Holistic Scoring yang dikemukakan oleh Cai, Lane, dan Jakabes pada tahun 1996 sebagai berikut (Nurhafsari, 2013, p. 25). 0 Tidak ada jawaban. Jika ada, itu hanya menunjukkan bahwa Anda belum memahami konsepnya, sehingga informasi yang diberikan tidak ada artinya. Membuat model matematika yang benar tetapi tidak benar dalam memperoleh solusi 4 Penjelasan sistematis, masuk akal dan benar, serta terstruktur.
Teknik Analisis Data
- Data Kualitatif
- Data Kuantitatif
Desain Persiklus
- Siklus I
- Siklus II
- Data Hasil Observasi Siswa Siklus I
Hasil refleksi dan analisis data pada siklus I dijadikan acuan dalam perencanaan siklus II dengan memperbaiki kelemahan dan kekurangan pada siklus I. Review dan perencanaan ulang kurikulum, dimana pada siklus II fokus kegiatan pembelajaran pada pembuatan dan interpretasi data direpresentasikan dalam bentuk diagram batang. Berdasarkan hasil analisis, materi yang akan peneliti berikan pada siklus I adalah pengolahan data yang berkaitan dengan pembuatan dan interpretasi data dalam bentuk tabel.
Materi yang disampaikan peneliti pada pengolahan data siklus I mengenai teknik pengumpulan data, penyajian data dan analisis data berbentuk tabel. Pada siklus I ini guru melaksanakan pembelajaran dengan cukup baik, respon siswa terhadap pembelajaran kurang antusias dan tidak semua melakukan apa yang diperintahkan guru. Berdasarkan data hasil belajar siswa pada siklus I, total rata-rata hasil belajar siswa, rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I sebesar 70,29.
Pada siklus I ini masih banyak siswa yang kurang antusias dalam bertanya tentang materi meskipun diberikan video youtube. Sebelum melakukan tindakan pada siklus II, peneliti menganalisis kembali kompetensi inti dan kompetensi inti untuk menentukan KD dan indikator yang akan digunakan pada siklus II. Materi yang disampaikan peneliti pada siklus II pengolahan data berkaitan dengan teknik pengumpulan data, penyajian dan analisis data dalam bentuk grafik batang.
Pada Siklus II guru melaksanakan pembelajaran dengan cukup baik, respon siswa di kelas kurang antusias, dan tidak semua melaksanakan apa yang diperintahkan guru. Berdasarkan data hasil belajar siswa pada siklus II, rata-rata hasil belajar siswa secara keseluruhan, rata-rata hasil belajar siswa pada siklus II sebesar 84,29. Berdasarkan hasil observasi dan hasil tes pada siklus II, penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada pembelajaran matematika pada siklus II telah terlaksana dengan sangat baik.
Simpulan
Saran
Selain itu peneliti menyarankan agar seluruh indikator komunikasi matematis dapat digunakan agar penelitian yang dilakukan memperoleh hasil yang optimal untuk mengukur kemampuan komunikasi matematis siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Lakur, Magur and Ramdan (2018) Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Togeher (NHT) terhadap kemampuan komunikasi matematis. Nurbaiti, Irawati & Panjaitan (2016) “Pengaruh pendekatan pembelajaran berbasis masalah terhadap kemampuan komunikasi matematis dan motivasi belajar siswa”.
Data Berat Badan Siswa
Rubik Soal Tes Siklus I No
4 Bilang Tidak ada Sekadar penjelasan sedikit Penjelasan Penjelasan kejadian sehari-hari Jawaban jika ada penjelasan, tabel, matematika, matematika datang sehari-hari Dalam bahasa hanya gambar, grafik, penalaran, tetapi hanya alasan dan benar, sistematis, menunjukkan diagram simbol matematika, atau sebagian selesai dan meskipun tidak masuk akal. Membuat diagram dengan tabel, gambar, model matematika yang benar tetapi berupa grafik, atau diagram yang hampir benar tetapi tidak lengkap.
Rubik Soal Tes Siklus II No
Penguasaan materi pelajaran
Pemanfaatan sumber belajar /media pembelajaran
Pembelajaran yang memicu dan memelihara keterlibatan siswa
Penggunaan bahasa dan teknologi
3: Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati (mendengar, melihat, membaca) dan bertanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk Tuhan dan aktivitasnya serta benda-benda yang ditemuinya di rumah, di sekolah. 4: Penyajian ilmu faktual dengan bahasa yang jelas, logis dan sistematis, dalam karya yang estetis, dalam gerak yang mencerminkan anak yang sehat, dalam perbuatan yang mencerminkan akhlak anak yang beriman dan berakhlak mulia.
Kompetensi Inti
Kompetensi Dasar
Indikator Pembelajaran 1. Mengamati data yang tersaji
Tujuan Pembelajaran Siswa mampu
KEGIATAN PEMBELAJARAN
Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang pengolahan data yang disajikan dalam bentuk tabel melalui powerpoint.
Tahap 2 Mengorganisasi peserta didik untuk belajar
Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahanmasalah
- PENILAIAN 1. Sikap
- SUMBER DAN MEDIA
- Penilaian
- Indikator Pembelajaran
- KEGIATAN PEMBELAJARAN
Guru memberi salam kepada siswa dan mengajak mereka bercerita tentang apa yang mereka lihat dalam perjalanan ke sekolah hari ini.
Mengorganisasi peserta didik untuk belajar
Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Tahap 5 Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahanmasalah
- PENILAIAN 4. Sikap
- Indikator Pembelajaran 1. Mengamati data yang tersaji
- Indikator Pembelajaran
- Tujuan Pembelajaran
Data minuman kesukaan siswa kelas 4 SD Al Kindi antara lain jus mangga sebanyak 18 siswa, es teh sebanyak 15 siswa, es krim jeruk sebanyak 25 siswa, es krim coklat sebanyak 10 siswa. Jawablah pertanyaan berikut berdasarkan data penjualan (kg) buah di toko segar selama sebulan pada grafik batang berikut.
DAFTAR PENJUALAN BUAH-BUAHAN Bulan Januari
DAFTAR KEGIATAN EKSTRAKURIKULER SISWA SD BANGSA
DAFTAR PENJUALAN ALAT TULIS Koperasi Sekolah
IDENTITAS PENULIS
DATA PENDIDIKAN