NAMA: GLORIA H TARULIBASA SIAHAAN NIM : 200153603686
OFFERING: A6A
MATA KULIAH : PENDIDIKAN INKLUSI AUD
TUGAS MERANGKUM PRESENTASI KELOMPOK
KELOMPOK 1 : ANAK TUNAGRAHITA
Tunagrahita atau yang lebih sering dikenal dengan keterbelakangan mental adalah suatu kondisi dimana seorang anak memili kecerdasan yang jauh dibawah rata-rata dan ditandai oleh keterbatasan intelegensi dan ketidakcakapan dalam komunikasi social. Keterbatasan lain yang dimiliki oleh anak tunagrahita adalah keterbatasan dalam kemampuan untuk beradaptasi seperti berkomunikasi secara efektif dan bersosialisasi
Kondisi tunagrahita dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti : 1) kondisi genetic yang diturunkan orang tua 2) komplikasi saat kehamilan, contohnya adalah ketika ibu hamil mengonsumsi alcohol/narkoba, ibu memiliki gizi yang kurang baik, terinfeksi virus, dll 3) masalah kelahiran seperti kekurangan oksigen saat persalinan atau bayi yang dilahirkan secara premature 4) penyakit atau cedera serius seperti meningitis, campak, batuk rejam, dll 5) penyebab belum diketahui
Anak tunagrahita di Indonesia diklasifikan menjadi 3 jenis, yaitu tunagrahita ringan dengan IQ 50-70, tunagrahita sedang dengan IQ 30-50 dan tunagrahita berat dengan IQ kurang dari 30.
Berdasarkan tipe klinis/fisik, anak tunagrahita dapat dibedakan menjadi down syndrome (mongoloisme) karena kerusakan khromozon, krettin (cebol) dengan gangguan hiporoid, hydrocepal karena cairan otak yang berlebihan, midrocephal karena kekurangan gizi,
Ciri – ciri anak tunagrahita adalah perhatiannya tidak dapat bertahan lama, kemampuan komunikasinya terbatas, sering tidak mampu menolong diri sendiri, tidak peduli pada lingkungam, perkembangan senantiasa tertinggal dibanding teman sebaya lainnya
Beberapa hal yang dapat dilakukan agar anak mandiri yaitu sebagai berikut: (a) anak dibiasakan untuk melakukan sendiri aktivitas sehari-harinya seperti berpakaian, berhias, memakai sepatu dan lainnya, (b) memberikan kesempatan kepada anak untuk membuat keputusan sendiri, misalnya memilih barang yang akan digunakannya, (c) memberikan kesempatan kepada anak untuk bermain sendiri tanpa ditemani oleh orang-orang terdekat, sehingga anak mampu mengembangkan idenya sendiri dan mampu bertindak sesuai keinginannya
Bentuk layanan Pendidikan untuk anak tunangrahita adalah pendidikan Sekolah Luar Biasa, pendidikan terpadu, program sekolah di rumah, panti rehabilitasi, pendidikan inklusif dan layanan pembelajaran khusus
KELOMPOK 2 : ANAK AUTISME
Autisme merupakan gangguan persuasive yang mencakup gangguan dalam bidang interaksi social, gangguan pola perilaku, kegiatan yang terbatas dan berulang-ulang serta kelemahan dalam komunikasi baik secaa verbal maupun nonverbal
Seseorang yang mengidap autisme memiliki karakteristiknya masing-masing di beberapa bidang, dalam bidang komunikasi, perkembangan bahasanya lambat atau bahkan sama sekali tidak ada.
Dalam bidang intetaksi social, penyandang autisme lebih suka menyendiri, tidak tertarik berinteraksi dengan orang lain. Dalam bidang pola bermain, penyandangnya tidak kreatif dan tidak imajinatif. Dalam bidang perilaku, anak autisme dapat berperilaku berlebihan atau kekurangan, dapat duduk diam dengan tatapan kosong. Dalam bidang emosi, anak autisme sering marah tanpa alasan yang jelas, tertawa-tawa, terpertantrum jika tidak diberi apa yang ia mau.
Klasifikasi autisme dibedakan menjadi 3, yaitu 1) autisme ringan, dimana penderitanya masih menunjukkan adanya kontak mata walaupun tidak berlangsung lama, tindakan-tindakan yang dilakukan masih bisa dikendalikan dan dikontrol dengan mudah 2) autisme sedang, penderitanya suka melakukan tindakan agresif atau hiperaktif, menyakiti diri sendiri, acuh, dan gangguan motorik yang stereotipik cenderung agak sulit untuk dikendalikan tetapi masih bisa dikendalikan dan 3) autisme berat, anak autis yang berada pada kategori ini menunjukkan tindakan-tindakan yang sangat tidak terkendali. Biasanya anak autis memukul-mukulkan kepalanya ke tembok secara berulang-ulang dan terus-menerus tanpa henti
Faktor seseorang dapat menderita autisme bisa saja karena genetic keturunan dimana individu memiliki kromoson yang tidak normal, obat-obatan yang di konsumi saat ibu hamil atau saat penderita masih bayi, gangguan pada system saraf serta paparan pestisida yang tinggi juga dihubungkan dengan terjadinya autisme. Beberapa riset menemukan, pestisida akan mengganggu fungsi gen di sistem saraf pusat
Untuk membantu anak autisme telah dikembangkan beberapa penanganan terapi seperti 1) terapi tingkah laku yang bertujuan untuk mengurangi tingkah laku yang tidak lazim dan menggantinya dengan tingkah laku yang bisa diterima dalam masyarakat, 2) terapi wicara yang bertujuan memperlancar komunikasi anak, 3) terapi okupasi, diberikan untuk membantu menguatkan, memperbaiki koordinasi dan keterampilan otot halus seperti tangan 4) terapi medikamentosa yaitu pemberian obat secara tepat kepada penderitanya agar gangguan-gangguan yang ia alami dapat sedikit terkendali dan dikontrol
Seluruh warga negara memiliki hak yang sama untuk mendapat pendidikan yang layak, maka dari itu untuk anak penderita autisme disediakan layanan pendidikan seperti kelas transisi, program pendidikan terpadu, program pendidikan inklusi, sekolah khusus anak autistic, program sekolah di rumah dan panti rehabilitasi autis
KELOMPOK 3 : ANAK BERBAKAT
Anak berbakat adalah anak yang memiliki kemampuan/potensi unggul dan mampu memberikan prestasi yang tinggi. Bakat merupakan kemampuan bawaan yang dibawa sedari lahir. Anak berbakat memiliki kemampuan umum dan kecerdasan diatas rata-rata, kreativitas, dan tugas perkembangan yang diatas kemampuan rata-rata.
Anak berbakat biasanya melakukan hal-hal seperti pintar membuat cerita atau lelucon, bertanya dengan pertanyaan cerdas, mendedikasikan diri untuk kegiatan yang mereka sukai, melakukan sesuatu dengan cara yang tidak biasa, menyadari hal-hal tidak adil dan membela mereka yang tidak dapat membela diri dan tetap tenang di tengah kondisi sedang kacau
Anak berbakat juga memiliki karakteristik seperti 1) fokus, ketika anak berbakat ingin melakukan aktivitas, mereka lebih berkonsentrasi daripada kebanyakan anak pada usianya 2) keingintahuan tinggi, terkadang mereka akan menghabiskan semua energi mereka untuk satu hal 3) emosi yang berlebihan, kepekaan mereka membuat sangat emosional, seperti khawatir tentang keadilan sosial, kekerasan, atau masalah lingkungan 4) sensitif, seringkali bau tertentu atau suara yang keras mengganggu mereka. Ini membuat mereka susah berkonsentrasi dan tidak focus 5) imajinasi berlebihan, anak-anak berbakat tampaknya "hidup di dunia mereka sendiri". Mereka dengan mudah menemukan dan menciptakan ide untuk menghindari kebosanan
IQ hanya salah satu kriteria keberbakatan. Dengan perluasan kriteria ini, persoalan identifikasi anak-anak berbakat menjadi lebih rumit dan harus menggunakan beragam teknik dan alat ukur, Idealnya semua kriteria tersebut harus dideteksi dengan menggunakan teknik dan prosedur, karena menurut berbagai studi tidak semua dari faktor-faktor itu berkorelasi satu sama lain.
Misalnya IQ dan kreativitas
Layanan pendidikan khusus juga disediakan untuk anak berbakat, seperti :
1. Kurikulum, berdiferensiasi bagi anak berbakat mengacu pada penanjakan kehidupan mental melalui berbagai program yang akan menumbuhkan kreativitasnya serta mencakup berbagai pengalaman belajar intelektual pada tingkat tinggi
2. Model pembelajaran pengayaan dan akselerasi,
3. Model penilaian, penerapan penilaian mencakup ciri-ciri belajar yang berkenaan dengan tingkat berfikir tinggi. Biasanya anak berbakat sering mampu menilai hasil kinerjanya sendiri secara kritis. Selain itu setiap anak tersebut harus memperoleh umpan balik tentang hasil kinerjanya secara terbuka
4. Guru anak berbakat, deskripsi kemampuan guru yang dimaksud adalah sebagai berikut : memiliki kematangan dan keamanan, memiliki kreativitas dan fleksibilitas, memiliki kemampuan mengindividualisasikan materi pelajaran dan memiliki kedalaman pemahaman terhadap pengajaran.
KELOMPOK 4 : ANAK DISLEKSIA
Disleksia berasal dari bahasa Yunani, yaitu ‘dys’ dan ‘lexis’ yang berarti kesulitan dan kata-kata.
Disleksia adalah ketidakmampuan belajar yang terutama mengenai dasar bahasa tertentu, yang mempengaruhi kemampuan mempelajari kata-kata dan membaca meskipun anak memiliki tingkat kecerdasan rata-rata atau diatas rata-rata, morivasi dan kesempatan pendidikan yang cukup serta penglihatan dan pendengaran yang normal. Disleksia biasa terjadi pada anak yang berusia sekitar 7-8 tahun.
Disleksia diklasifikasikan menjadi 2, yaitu developmental dyslexsia (bawaan sejak lahir) dan aquired dyslexsia (didapat karena gangguan atau perubahan cara otak kiri membaca). Aquired dyslexsia dibagi lagi menjadi disleksia visual, disleksia verbal dan disleksia auditoris
Disleksia dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti faktor genetic, cedera otak, pemrosesan fonollogi, faktor pendidikan, faktor psikologis, faktor biologis, dan kecelakaan
Anak-anak disleksia atau penderita disleksia memiliki karakteristik, yaitu anak disleksia dalam membaca biasanya perlu membaca berulang-ulang untuk memahami makna yang sebenarnya, sebagian besar dari mereka cenderung kehilangan kata-kata karena tidak tepat dalam membaca, mereka cenderung menghadapi kesulitan dalam membaca teks tertulis di atas kertas putih terang, penderitanya tidak mampu menganalisis kata menjadi huruf, mereka juga mengalami kekurangan dalam melakukan diskriminasi auditoris pada sebagian anak tidak dapat membedakan bunyi huruf ‘b’ dan ‘d’, ‘m’ dan ‘n’, penderitanya mudah lupa untuk hal-hal yang baru terjadi, dan lain lain
Gejala yang diderita oleh penderitanya dapat dibedakan berdasarkan usia, usia 1-2 tahun ditandai ketika anak mulai membuat suara, anak yang tidak mengucapkan kata pertama hingga usia 15 bulan hingga 2 tahun mempunyai resiko tinggi untuk mengalami disleksia. Usia 2-5 tahun ditandai dengan mengalami masalah dalam mempelajari atau mengingat nama huruf dalam alfabet, salah mengucapkan kata-kata yang familiar. Usia 5-6 tahun, penderitanya tidak mengerti bahwa kata-kata dapat dipecah menjadi suara-suara, selalu mengeluh karena sulit membaca dan tidak ingin pergi ke sekolah. Anak usia 6-15 tahun ditandai dengan sangat lambat dalam belajar membaca, canggung dalam membaca, kesulitan mengenal kata-kata baru. Mereka menghindari membaca dengan suara keras, menolak untuk mencari kata dan menjawab pertanyaan, dll. Usia 15 tahun atau lebih dirandai dengan sering berhenti dan ragu-ragu saat berbicara, tidak merespon percakapan dengan cepat.
Pendampingan dalam menghadapi kesulitan belajar pada anak disleksia dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti meningkatkan motivasi belajar pada anak, menggunakan media belajar seperti benda-benda konkrit, menumbuhkan rasa percaya diri pada anak, selalu mendampingi anak dalam pembelejaran dan bisa juga melakukan latihan orientasi seperti latihan baris-berbaris, setiap hari ditekankan penjelasan tentang hari dan tanggal
KELOMPOK 5 : ANAK DISGRAFIA
Disgrafia berasal dari Bahasa Yunani yaitu ‘dys’ dan ‘graphia’ yang berarti terganggu dan menulis kata dengan tangan. Disgrafia adalah kesulitan belajar spesifik yang mempengaruhi kemampuan menulis dan motoric halus. Penderitanya mengalami kesulitan yang tidak biasa dengan tulisan tangan dan ejaan yang akhirnya menyebabkan kelelahan dalam menulis.
Sesungguhnya penderita disgrafia memiliki gangguan neurologis yang membuatnya sulit menggenggam dan mneggerakkan alat tulis untuk menulis dengan benar
Penderita disgrafia dibedakan lagi menjadi beberapa kategori, yaitu disleksia disgrafia, disgrafia motoric, disgrafia spasia, disgrafia fonologi dan disgrafia leksikal
Disgrafia terjadi apabila ada masalh system saraf yang mengatur kemampuan motoric untuk menulis. Pada umumnya penyebab disgrafia tidak diketahui secara pasti namun penyebab yang paling umum adalah neurologis dimana adanya gangguan otak pada bagian kiri depan yang berhubungan dengan kemampuan membaca dan menulis. Disgrafia dapat timbul bersamaan dengan gangguan lain seperti ADHD, disleksia dan lain lain
Anak yang memiliki gangguan disgrafia ditandai dengan beberapa gejala seperti sulit menyalin tulisan, memegang alat tulis terlalu keras sehingga menimbulkan keram pada tangan, pengejaan dan penulisan huruf besar yang salah, posisi tubuh atau tangan yg berbeda ketika menulis, mencampur huruf sambung dan pisah, kekurangan huruf atau kata dalam kalimat, kesulitan untuk membayangkan kata sebelum ditulis dan lain lain
Terapi okupasi dapat dilakukan untuk mengatasi gangguan disgrafia karena sampai saat ini gangguan disfgrafia belum dapat diobati. Terapi okupasi bisa dilakukan dengan cara seperti menggambar garis dalam labirin, menggambar menggunakan tanah liat, mengerjakan puzzle, mengajarkan cara mengenggam alat tulis pada anak
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi anak dalam menulis yaotu faktor motoric, faktor perilaku, faktor persepsi, faktor memori, kemampuan melaksanakan cross modal dan pengunaant angan yang dominan
KELOMPOK 6 : ANAK DISCALCULIA
Dyscalculia berasal dari bahasa Yunani yaitu ‘dys’ dan ‘calculus´ yang memiliki arti ketidakmampuan berhitung dan kerikil, yang kalau diartikan dyscalculia adalah ketidakmampuan untuk berhitung. Seorang anak dapat dikatakan mengalami dyscalculia ketika anak tidak mampu memhami masalah matematika dalam tingkat yang serius seperti memahami istilah matematika dasar atau operasi seperti penjumlahan, pengurangan, symbol matematika atau belajar table perkalian. Masalah ini biasa tampak pada anak yang berusia 8 tahun.
Dyscalculia memiliki ciri-ciri seperti mengalami disorientasi waktu dan arah, mengalami hambatan dalam menggunakan konsep abstrak tentang waktu, sering melakukan kesalahan ketika perhitungan angka, mengalami hambatan dalam mempelajari music karena sulit memahami notasi, urutan nada, dan lain lain
Beberapa faktor yang dapat menyebabkan dyscalculia adalah kelemahan pada proses penglihatan atau visual, bermasalah dalam hal mengurut informasi, fobia pada matematika, gangguan penghayatan tubuh, kesulitan dalam bahasa dan membaca dan faktor terakhir juga bisa disebabkan karena faktor genetic
Dyscalculia diklasfisikasikan menjadi beberapa macam, sebagai berikut :
1) Discalculia kuantitatif adalah siswa mengalami kesulitan dalam keterampilan menghitung dan mengkalkulasi.
2) Discalculia kualitatif adalah siswa mengalami kesulitan menguasai keterampilan yang diperlukan dalam melakukan operasi matematika seperti penambahan, pengurangan, perkalian, pembagian dan akar kuadrat.
3) Discalculia intermediate adalah siswa tidak mampu untuk mengoperasikan simbol atau bilangan
4) Discalculia verbal yaitu siswa dapat membaca dan menulis bilangan akan tetapi mengalami kesulitan dan tidak dapat paham tentang makna dari bilangan
Membantu anak yang mengalami masalah dyscalculia dapat dilakukan dengan cara mengajarkan materi matematika dengan metode yang menarik seperti menggunakan number bingo, flash card, kemudian bisa juga mengajarkan matematika dengan contoh yg konkret, membiarkan anak untuk mengeksplorasi diri mereka dengan tidak memaksa anak untuk memahami lansung materi tersebut, memberikan alunan music yang lembut, melakukan pembelajaran yang bertahap dan teratur
KELOMPOK 7 : ANAK HIPERAKTIF
Hiperaktif atau yang sering juga disebut dengan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) adalah gangguan tingkah laku yang tidak normal yang disebabkan oleh disfungsi neurologia dengan gejala utama tidak mampu memusatkan perhatian
Penyebab anak menjadi hiperaktif bisa dari faktor kelemahan saraf sensor, faktor genetic, faktor prenatal, faktor lingkungan
Anak dengan penderita hiperaktif memiliki karakteristik seperti kemampuan akademik tidak optimal, kecerobohan dalam hubungan social, kesembronoan dalam menanggapi situasi yang berbahaya, mengalami kesulitan dalam kegiatan belajar, tidak pernah bisa tenang dan impulsive Hiperaktif dikategorikan menjadi 4 macam, berdasarkan gejala perilaku, attention deficit disorder dengan hiperaktif, pada tipe ini anak mengalami gangguan perkembangan pada aktifitas memperhatikan, kontrol perilaku dan attention deficit disorder, pada tipe ini anak hanya mengalami gangguan pada aktifitas memperhatikan dan impulsif tetapi tidak ada gejala otoritas pada gerak motoriknya. Berdasarkan jenis kelainan perilaku dikategorikan lagi menjadi tiga jenis yaitu hiperaktif sensoris, hiperaktif motoris dan hiperaktif campuran. Berdasarkan penyebab digolongkan menjadi tiga macam tipe hiperaktif yang disebabkan oleh gangguan neurologis, tipe hiperaktif yang disebabkan karena faktor perkembangan dan tipe hiperaktif yang disebabkan oleh psikogen dan berdasarkan berat ringannya penyimpangan dibagi menjadi dua yaitu tipe hiperaktif berat dan tipe hiperaktif ringan
Sebagai pendidik, kita harus mampu menangani anak yang tiap individunya memiliki karakteristik berbeda. Berikut cara yang dapat dilakukan pendidik dalam menghadapi anak hiperaktif yaitu anak ditempatkan di kursi yang sulit untuk keluar masuk ruangan, ruangan kelas diusahakan jangan menggunakan warna yang mencolok, diajak selalu untuk disiplin, bekerja sama dengan orang tua untuk memberikan ajaran atau didikan yang sama