REFERAT Bedah Minor
Oleh:
Anjely Doni Lasmi H1A321070
Dokter Pembimbing:
dr. I Komang Yose Antara, Sp.B
DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA BAGIAN/SMF ILMU BEDAH
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH PROVINSI NTB FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM
2023
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena atas limpahan rahmat dan petunjuk dari-Nya penyusunan tugas referat dengan judul “Bedah Minor” dapat diselesaikan dengan baik dan tepat pada waktunya. Adapun tujuan dari penyusunan laporan kasus ini adalah untuk memenuhi tugas dalam proses kepanitraan klinik di bagian Ilmu Bedah Rumah Sakit Umum Provinsi Nusa Tenggara Barat, Fakultas Kedokteran Universitas Mataram. Selain itu, saya berharap tulisan ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca sejawat profesi kedokteran, serta dapat meningkatkan dan memperluas pemahaman.
Tugas ini tidak dapat terselesaikan tanpa bantuan dari berbagai pihak, melalui kesempatan ini saya ingin mengucapkan terima kasih kepada dr. I Komang Yose Antara, Sp.B selaku pembimbing dan juga seluruh pihak yang membantu baik secara langsung maupun tidak langsung. Saya menyadari bahwa dalam penyusunan tugas ini masih terdapat banyak kekurangan dan belum sempurna. Oleh karenanya, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan untuk perbaikan kedepannya. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberikan bantuan dan melimpahkan petunjuk-Nya kepada kita semua.
Mataram, Oktober 2023
Penulis
BAB I PENDAHULUAN
Tindakan bedah minor adalah rangkaian prosedur di mana teknik bedah singkat diterapkan pada jaringan permukaan di bawah anestesi lokal. Tidak diperlukan bantuan pernapasan atau anestesi umum, dan pasien tidak diwajibkan untuk masuk rumah sakit sebelum atau setelah prosedur. Biasanya, Dokter Umum sering menangani kasus-kasus ini baik dalam lingkungan rawat jalan maupun gawat darurat.1,2
Dalam definisi tindakan bedah minor, tindakan tersebut melibatkan teknik bedah yang singkat pada jaringan permukaan dengan menggunakan anestesi lokal. Risiko komplikasi minimal dan tidak ada kebutuhan untuk bantuan pernapasan atau anestesi umum, serta tidak ada persyaratan rumah sakit sebelum atau setelah prosedur. Tindakan ini seringkali dapat dilakukan dengan cepat dan aman di klinik, dan para praktisi perlu memastikan ketersediaan fasilitas dan peralatan medis yang sesuai.1,2
Dokter Umum yang melakukan tindakan bedah minor perlu memiliki pengetahuan tentang teknik anestesi seperti infiltrasi anestesi lokal dan blok regional, serta pemahaman tentang daerah tubuh yang berisiko selama prosedur dan anatomi kulit yang relevan. Selain itu, penting untuk memberikan informasi kepada pasien tentang prosedur dan detail teknis sebelum meminta mereka menandatangani formulir persetujuan yang diinformasikan.1,2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi
Bedah minor didefinisikan sebagai prosedur bedah yang lebih sederhana yang dilakukan pada jaringan superfisial. Anastesi lokal terkadang diperlukan dalam prosedur ini dan memiliki risiko serta kemungkinan terjadinya komplikasi lebih rendah.
2.2 Persiapan Dokter dan Ruang Operasi Bedah Minor
Prosedur operasi minor memerlukan sedikit peralatan, namun beberapa alat dan infrastruktur dasar harus tersedia. Meskipun beberapa prosedur operasi minor dapat dilakukan di ruang konsultasi atau poliklinik, direkomendasikan untuk memiliki ruangan khusus untuk tindakan tersebut. Komponen dari ruang operasi minor mencakup:
1. Ruang Bedah Minor
a. Ruang bedah, direkomendasikan memiliki ruang konsultasi dengan ukuran sekitar 13,5-15 meter persegi, dan ruang perawatan/operasi minor sekitar 18-20 meter persegi. Ruangan ini harus memiliki pencahayaan yang memadai dan dilengkapi dengan sistem ventilasi buatan (misalnya AC) yang sesuai. Meskipun ruang operasi ini tidak harus sepenuhnya steril, kebersihannya harus tetap terjaga.
Ruangan bedah harus dibersihkan secara menyeluruh setelah tindakan dilakukan, terutama setelah tindakan yang berpotensi mengakibatkan kontaminasi.
Disarankan untuk memiliki fasilitas wastafel dan aplikator sabun otomatis untuk mencuci tangan.
b. Meja Operasi, meja harus ditempatkan di pusat ruangan, mudah diakses dari semua sisi, memiliki ketinggian yang dapat disesuaikan, mudah dibersihkan, dan harus memungkinkan operator untuk melakukan tindakan dengan nyaman baik dalam posisi duduk maupun berdiri. Kasur perawatan harus memiliki permukaan tahan air yang bisa dicuci, dan sebaiknya dilindungi dengan handuk kertas sekali pakai yang diganti setiap kali ada pasien baru. Penggunaan bantal dengan sarung tahan air di bawah sarung bantal sekali pakai juga disarankan untuk meningkatkan kenyamanan pasien.
Gambar 1. Meja operasi.
c. Bangku tanpa sandaran, prosedur bedah yang panjang sebaiknya dilakukan dalam posisi duduk. Tinggi bangku yang digunakan harus dapat diatur. Kursi operasi rata-rata memiliki ukuran sekitar 1,85 × 0,63 m.
Gambar 2. Kursi tanpa sandaran.
d. Meja instrument, digunakan untuk menempatkan alat dan bahan-bahan yang digunakan selama bedah minor. Meja harus memiliki roda, tingginya dapat diatur dan ditempatkan dekat dengan tempat pembedahan. Menempatkan alat dan bahan di atas pasien harus dihindari untuk mencegah alat dan bahan jatuh apabila pasien bergerak.
e. Lampu, pencahayaan yang ideal harus memberikan pencahayaan latar belakang yang optimal dan juga pencahayaan fokus serta bersifat dingin untuk operasi yang efektif. Operasi yang berkualitas memerlukan kondisi pencahayaan yang baik. Unit pencahayaan yang kecil dan mudah dipindahkan dianggap tidak memadai. Lampu operasi yang memiliki ukuran kecil dan khusus harus mampu memberikan tingkat pencahayaan hingga 50.000 lux pada jarak 0,5 meter. Selain
itu, sumber cahaya harus memiliki ukuran yang mencukupi untuk menghindari bayangan yang mengganggu dan harus memiliki intensitas cahaya yang dapat diatur dari jarak jauh. Lampu tersebut harus memiliki pegangan steril yang dapat dilepas, dan pegangan ini juga harus dilengkapi dengan penutup steril sekali pakai.
Gambar 3. (a) Lampu operasi tiga kepala. (b) Lampu operasi satu kepala dengan penutup pegangan steril sekali pakai.
f. Alat resusitasi, meskipun insiden yang berpotensi mengancam jiwa sangat jarang terjadi dalam prosedur bedah minor, memiliki trolley yang dilengkapi dengan alat-alat resusitasi cardiopulmonary, peralatan untuk intubasi saluran napas, larutan saline, serta obat-obatan resusitasi seperti epinephrine, atropine, bicarbonate, dan defibrillator tetap dianggap sebagai suatu keharusan.
g. Sterilization system, autoclave dipakai untuk mensterilkan alat-alat dan bahan yang dipakai dalam bedah minor.
Gambar 4. Ruang bedah minor dengan peralatan yang lengkap.
2. Peralatan Tambahan
Elektrokauter, penggunaan utama mesin elektrokauter adalah untuk menghilangkan atau mengobati lesi pada kulit, seperti tanda kulit dan nevi laba-laba, mengendalikan pendarahan, terutama setelah kuretase atau eksisi rambut, dan menghancurkan jaringan sisa, seperti setelah kuretase karsinoma sel basal. Mesin elektrokauter terdiri dari sumber listrik dan berbagai ujung kawat platinum.
a. Mesin elektrokauter, mesin standar yang menggunakan listrik utama terdiri dari transformator, dilengkapi dengan pengatur arus dan karenanya suhu, bersama dengan lampiran yang dapat dipegang tangan di mana ujung elektrokauter dipasang. Keuntungan dari jenis mesin ini adalah bahwa ia memungkinkan pengendalian yang tepat terhadap suhu ujung, tetapi agak sulit digunakan.
Gambar 5. Mesin elektrokauter listrik utama.
b. Diatermi, adalah metode lain yang digunakan untuk mengontrol kerusakan pada jaringan. Proses ini bergantung pada arus listrik, bukan hanya panas, untuk mencapai efek yang diinginkan. Mesin diatermi menghasilkan arus listrik rendah pada tegangan tinggi dan frekuensi sangat tinggi. Diatermi standar yang digunakan di ruang operasi rumah sakit adalah tipe bipolar, yang berarti memiliki dua elektroda: satu elektroda besar yang biasanya ditempatkan di paha pasien dan satu elektroda yang lebih kecil yang digunakan oleh ahli bedah untuk memotong atau mengkoagulasi jaringan. Untuk prosedur bedah minor, diatermi unipolar lebih sesuai. Diatermi unipolar hanya menggunakan satu elektroda dan mampu mengkoagulasi jaringan dari satu pembuluh darah ke area luka yang lebih luas.
Gambar 6. (a) Diatermi unipolar (hyfrecator). (b) Ujung diatermi sekali pakai (abu-abu gelap—tumpul, abu-abu terang—berujung tajam). (c) Sarung pegangan
diatermi steril.
3. Persiapan Dokter
a. Jubah, pelindung mata, dan masker biasanya tidak perlu dikenakan, namun terdapat sedikit bukti bahwa ini berpengaruh pada tingkat infeksi. Penggunaan pelindung apron plastik sekali pakai dapat memberikan perlindungan yang bermanfaat, pastikan untuk menggantinya setelah setiap pasien. Disarankan untuk menggunakan pelindung mata dalam semua prosedur bedah, terutama saat berurusan dengan pasien yang diketahui terinfeksi melalui darah, seperti hepatitis dan HIV, atau dalam situasi di mana ada kemungkinan pembuluh darah yang meledak. Kacamata bening atau kacamata keselamatan sederhana dapat memberikan perlindungan yang cukup, mudah ditemukan, dan harganya terjangkau.
b. Selimut bedah digunakan untuk menciptakan area steril di mana operasi dapat dilakukan. Meskipun ruang operasi rumah sakit biasanya menggunakan selimut besar yang ditempatkan di atas pasien, dalam operasi kecil, seringkali digunakan selimut kertas steril kecil. Namun, selimut ini sulit dipasang, jarang tahan air, dan seringkali harus dibuat lubang untuk area operasi. Jika digunakan dalam operasi
kecil, selimut ini harus dibuka dengan hati-hati, dengan area operasi yang dikelilingi oleh perekat, sehingga selimut dapat ditempatkan dengan tepat dan aman menempel pada kulit. Dalam beberapa kasus, selimut mungkin tidak memungkinkan, sehingga perlu dihindari agar tidak mencemari instrumen dan sarung tangan steril selama operasi.
Gambar 7. (a) Selimut bedah sekali pakai, (b) Selimut bedah berlubang sekali pakai.
c. Persiapan kulit untuk prosedur bedah kulit sederhana mungkin tidak perlu rumit.
Namun, perlu diingat bahwa kulit mengandung berbagai jenis bakteri, di mana sekitar 50% di antaranya adalah Staphylococcus aureus. Studi juga menunjukkan bahwa selama operasi perut terbuka, kontaminasi luka biasanya berasal dari patogen kulit. Penggunaan cuci praoperatif yang mengandung klorheksidin telah terbukti dapat mengurangi jumlah bakteri pada kulit sekitar 80-90%, sehingga mengurangi risiko kontaminasi luka perioperatif. Cairan persiapan kulit tersedia dalam bentuk sachet sekali pakai atau botol multi-guna, dengan baiknya menghindari penggunaan konsentrat yang perlu diencerkan untuk mengurangi potensi kesalahan. Sebaiknya juga dihindari penggunaan persiapan yang mengandung yodium, karena beberapa pasien mungkin sensitif terhadapnya dan larutan tersebut dapat mengubah warna kulit, membuat tanda kulit sulit terlihat.
Produk persiapan kulit yang paling umum dan luas tersedia adalah larutan glukonat klorheksidin 0,05-4%, yang dapat berwarna bening, biru, atau merah muda tergantung pada produsen, meskipun perlu diperhatikan bahwa laporan tentang sensitivitas klorheksidin semakin sering terjadi.
d. Surgical Hands Scub
Infeksi yang dapat terjadi di tempat pelayanan kesehatan (HCAI) seringkali dapat dicegah dengan praktik kebersihan tangan yang baik. Konsep "5 Moment Anda untuk Kebersihan Tangan" mengidentifikasi saat-saat kunci di mana tenaga kesehatan seharusnya melakukan kebersihan tangan:
1. Sebelum menyentuh pasien.
2. Sebelum melakukan prosedur bersih atau aseptik.
3. Setelah berisiko terpapar cairan tubuh.
4. Setelah menyentuh pasien.
5. Setelah menyentuh lingkungan sekitar pasien.
Dengan mematuhi prinsip-prinsip ini, praktisi kesehatan dapat secara signifikan mengurangi risiko penularan infeksi di lingkungan perawatan kesehatan.
Gambar 8. 5 Moment Anda untuk Kebersihan Tangan.
Sebelum melakukan operasi dan tindakan steril, dokter melakukan pencucian tangan bedah. Tujuan utama dari tindakan ini adalah untuk mengurangi jumlah bakteri yang ada di tangan. Pencucian tangan ini bertujuan untuk menghilangkan kuman sementara pada tangan dan mengurangi aktivitas kuman yang melekat lebih dalam pada jaringan.
Tahap awal dari prosedur ini melibatkan penyikatan tangan selama sekitar 20 menit, yang kemudian diikuti dengan mencuci tangan hingga siku menggunakan
sabun dan air hangat. Selanjutnya, gunakan tisu untuk mengeringkan tangan hingga siku.
Gambar 9. Fase pertama dari Surgical hands scrub
Langkah kedua dalam prosedur ini adalah melakukan disinfeksi tangan. Anda perlu menggosok tangan dengan agen disinfektan khusus selama 5 kali, dengan setiap gosok berlangsung selama 1 menit. Pastikan area yang di-disinfeksi mencapai siku. Kulit yang belum disinfeksi sebaiknya tidak disentuh oleh tangan.
Proses ini akan diulang hingga 4 kali, dengan area yang digosok menjadi lebih kecil setiap kali. Pada kali pertama, area yang digosok mencakup 2/3 lengan bawah, pada kali kedua mencakup setengah bagian lengan bawah, pada kali ketiga mencakup sepertiga lengan bawah, dan pada kali kelima hanya mencakup tangan dan pergelangan tangan.
Gambar 10. Fase kedua dari Surgical hands scrub.
2.3 Instrumen Bedah Minor 1. Instrumen pemotong
1) Skalpel
Skalpel adalah alat pemotongan yang terdiri dari pisau dan pegangan. Terdapat berbagai ukuran pisau dengan penggunaan yang berbeda. Skalpel dapat memiliki pegangan logam dengan pisau sekali pakai atau berupa instrumen sekali pakai berpegangan plastik.
Pegangan logam yang bisa digunakan berulang kali dan pisau memiliki dua jenis profil yang umum digunakan. Profil Bard-Parker ukuran 3 yang paling umum, tetapi ada beberapa dokter bedah yang lebih suka pegangan Beaver yang berbentuk bulat yang kurang umum. Salah satu keuntungan menggunakan pegangan logam adalah bahwa dokter bedah dapat memilih pegangan sesuai dengan kebutuhan pribadinya. Pisau sekali pakai biasanya terbuat dari baja karbon dan sangat tajam.
Skalpel sekali pakai memiliki pegangan plastik dan memiliki sedikit fleksibilitas dalam memilih ukuran dan bentuk pegangan serta pisau. Pisau berbahan stainless steel seringkali tidak setajam pisau sekali pakai yang digunakan dengan pegangan yang bisa digunakan berulang kali. Skalpel sekali pakai berpegangan plastik memiliki keuntungan bahwa tidak ada penanganan pisau saat memasang dan melepaskan pisau dari pegangan. Namun, biayanya lebih tinggi daripada hanya membeli pisau sekali pakai.
Gambar 11. Pemegang pisau bedah. Di atas: pemegang Beaver ukuran 3 berbentuk bulat; di tengah: pemegang Bard-Parker ukuran 3 (untuk pisau Nomor
15 dan 11); di bawah: pemegang Bard-Parker ukuran 4 (untuk pisau Nomor 20 dan 22).
Gambar 12. Skalpel sekali pakai dengan pisau terintegrasi. Atas: No. 22; bawah:
No. 15.
Bentuk dan Ukuran Pisau
Saat memilih pisau, prinsip-prinsip berikut berlaku:
a. Pisau No. 15 dengan profil melengkung kecil cocok untuk sebagian besar operasi kulit.
b. Pisau No. 11 yang ber ujung tajam kurang stabil untuk operasi kulit, lebih sesuai untuk insisi, atau untuk menggores struktur keras seperti kuku.
c. Pisau berprofil melengkung besar seperti No. 21 biasanya digunakan untuk mencukur lesi kulit.
Selain itu, jika lesi akan sering diangkat dengan cara eksisi, dapat digunakan pisau khusus seperti DermaBlade®. Ini adalah pisau yang fleksibel, datar, dan berujung rata, dipasang dalam bingkai plastik fleksibel. Pisau ini dipegang antara ibu jari dan jari dan digunakan untuk "mencukur" lesi kulit yang menonjol. Meskipun pisau scalpel No. 21 yang besar dapat digunakan untuk tujuan ini, DermaBlade® lebih mudah dikendalikan dan sangat tajam.
Gambar 13. (1) Pisau No. 15, (2) Pisau No. 11, (3) Pisau No. 21 Cara memegang scapel
a. Untuk insisi panjang dan lurus, scapel dipegang seperti menggesek biola: gagang (handle) dipegang secara horizontal diantara ibu jari dan jari tengah. Sedangkan
jari telunjuk berada di atas gagang. Jari ke empat dan ke-5 memegang ujung gagang.
b. Untuk insisi pendek, scapel dipegang seperti pensil dan insisi dilakukan menggunakan ujung pisau.
Gambar 14. Cara memegang scapel.
2) Gunting.
Gunting diperlukan dalam bedah minor untuk:
a. Memotong jaringan.
b. Mengaduk-aduk jaringan secara tumpul.
c. Memisahkan lapisan jaringan.
d. Memotong jahitan dan bahan perban luka.
e. Memotong kuku selama bedah podiatri.
Gunting harus disesuaikan dengan tujuan tertentu dan harus digunakan hanya untuk tindakan yang dimaksudkan. Desain, ukuran, dan profilnya harus sesuai dengan berbagai kebutuhan fungsional yang berbeda. Terutama, gunting yang lebih ringan dan lebih presisi harus digunakan ketika memotong jaringan. Sebaliknya, gunting bedah yang halus tidak boleh tumpul akibat penggunaan saat memotong perban.
Beberapa contoh yang sesuai adalah sebagai berikut.
a. Memotong jaringan
Dalam memotong kulit dan jaringan lainnya dengan presisi, sepasang gunting iris yang memiliki ujung yang tajam adalah pilihan yang sangat ideal. Jenis gunting ini sangat berharga saat harus memotong jaringan yang sangat halus dan dapat digunakan dengan sangat hati-hati bahkan untuk memulai diseksi yang halus.
Gambar 15. Gunting iris lurus.
b. Disseksi tumpul
Dalam melakukan pemisahan lapisan-lapisan jaringan dengan lembut tanpa risiko menusuk area jaringan, gunting strabismus melengkung dengan ujung tumpul yang kecil adalah pilihan yang sangat ideal (lihat Gambar 1.29). Jenis gunting melengkung yang memiliki ujung tumpul ini berguna tidak hanya untuk diseksi tumpul, tetapi juga untuk memisahkan jaringan di sekitar lesi tertentu, seperti kista epidermoid, karena ujung yang tumpul mencegah penetrasi ke dalam kista. Gunting ini hadir dalam berbagai ukuran, namun panjang 11 cm sangat sesuai untuk prosedur bedah minor.
Gambar 16. Gunting bengkok dengan ujung tumpul untuk diseksi strabismus.
c. Jahitan dan perban
Untuk tugas yang lebih umum dan pekerjaan yang lebih berat, gunting umum yang lebih besar biasanya lebih cocok. Gunting jahitan (lihat Gambar 1.30) dan gunting umum sering dapat digunakan secara bergantian, walaupun gunting jahitan harus memiliki ujung yang tumpul untuk mengurangi risiko "tusuk jarum."
Gambar 17. Gunting jahitan.
d. Kuku
Diperlukan gunting atau gunting kuku yang lebih kokoh untuk memotong kuku.
Gunting tajam berkekuatan berat mungkin diperlukan untuk bedah podiatris dalam memotong kuku.
Gambar 18. Nail clippers.
Ada empat jenis gunting yang umum digunakan:
1. Gunting Mayo adalah gunting besar yang dirancang khusus untuk memotong struktur yang keras, seperti fascia dan tendon.
2. Gunting Metzenbaum, yang lebih kecil, biasanya digunakan untuk memotong jaringan dengan presisi.
3. Gunting runcing digunakan untuk diseksi yang lebih akurat dan rapi.
4. Gunting balutan adalah jenis gunting yang khusus digunakan untuk memotong benang atau kain pembalut.
Gambar 19. Jenis-jenis gunting.
Gambar 20. Jenis-jenis gunting.
2. Instrumen pemegang 1) Klem
a. Klem pengenggam (klem Kocher) didesain untuk memegang kulit dengan kuat tanpa merusak jaringan, terutama pembuluh darah.
b. Klem hemostat (klem Pean) digunakan untuk menghentikan perdarahan dan memiliki gigi yang lebih halus agar dapat menjepit dengan presisi. Biasanya memiliki bilah yang berbentuk melengkung atau lurus.
c. Klem arteri dengan ujung melengkung sangat berguna untuk menjepit pembuluh darah dan mengikat simpul yang terletak jauh di dalam luka. Jika diperlukan tingkat presisi yang tinggi, digunakan klem hemostat yang kecil dan berujung melengkung yang disebut klem Mosquito.
Gambar 21. Jenis-jenis Klem (A. Pean Clamp, B Mosquito Clamp, C.
Abdominal Pean Clamp)
Gambar 22. Cara Memegang Klem 2) Pinset
Pinset bergerigi (pinset bedah) sering digunakan untuk menggenggam jaringan subkutan, otot, dan fascia saat melakukan diseksi dan menjahit. Sementara itu, pinset tak bergerigi (pinset anatomi) digunakan untuk menggenggam jaringan yang cenderung mudah robek, seperti mukosa.
Gambar 23. Jenis-Jenis Pinset dan cara memegangnya.
3) Pemegang jarum (needle holder)
Alat penjepit benang atau jarum harus memiliki rahang yang singkat dan kuat, dan sebaiknya rahang tersebut memiliki relief silang yang diukir di dalamnya.
Dengan karakteristik ini, penjepit mampu menggenggam jarum dengan erat tanpa tergelincir. Walaupun, jika Anda memutuskan menggunakan alat ini untuk mengangkat jaringan, rahangnya mungkin akan berlipat dan menyebabkan kerusakan. Beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan saat memilih penjepit benang meliputi:
a. Ukuran panjangnya: Jika penjepit benang kurang dari sekitar 5 inci (13 cm), penggunaannya akan sulit dipegang dengan kuat menggunakan cengkaman telapak tangan. Sebaliknya, jika lebih panjang dari sekitar 7 inci (18 cm), alat tersebut akan terlalu sulit untuk dikendalikan dengan baik.
b. Profil: Jika profilnya datar, penjepit akan duduk dengan baik di telapak tangan. Namun, jika memiliki profil berkontur (seperti Kilner), hanya cocok
untuk penggunaan jari (seperti yang terlihat di bawah).
c. Penguncian: Adanya mekanisme ratchet yang mudah dioperasikan dan dilepaskan akan sangat memudahkan proses menjahit. Beberapa penjepit benang (seperti Gillies) dilengkapi dengan gunting benang, tetapi mereka biasanya tidak memiliki mekanisme ratchet dan tidak mudah digunakan oleh sebagian besar ahli bedah. Penjepit harus memiliki bilah yang kokoh, pendek, dan lebar agar dapat menjepit dengan kuat.
d. Rahang: Penjepit benang yang ideal akan memiliki rahang yang sangat halus, dan rahang ini akan dilapisi dengan karbida tungsten pada permukaan
"gigitannya." Bahan ini sangat keras namun rapuh, dan dapat diukir dengan sangat akurat untuk memastikan cengkaman yang kuat pada jarum dan jahitan yang halus, serta memberikan kontrol yang sangat baik dengan risiko pecah jahitan yang lebih rendah (yang sangat penting terutama saat menggunakan jahitan halus). Meskipun penjepit benang karbida tungsten sekali pakai tersedia, biaya mereka biasanya tinggi, sehingga penjepit benang biasa tidak menggunakan bahan ini.
Gambar 24. Kilner suture holder
Gambar 25. Kilner suture holder
Gambar 26. Rahang penjepit benang/jarum Kilner dengan detail.
Gambar 27. a) Penjepit benang/jarum Crile-Wood. (b) Gambar rinci dari rahang karbida tungsten.
Gambar 28. Cara memegang Needle Holder (Kanan), Needle Holder (Kiri).
4) Forceps kulit
Forceps memiliki beberapa peran penting dalam praktik bedah kulit, antara lain:
a. Menstabilkan kulit saat dilakukan pemotongan dan penjahitan.
b. Mengangkat sejumlah kecil kulit untuk memudahkan proses pengangkatan.
c. Memegang jarum untuk mengurangi risiko luka oleh ujung tajam jarum.
Semakin presisi konstruksi pinset, semakin tepat fungsinya dan semakin sedikit risiko merusak struktur halus. Namun, pada saat yang sama, forceps yang lebih halus juga lebih rentan terhadap kerusakan akibat penggunaan yang kurang hati- hati. Oleh karena itu, penting untuk memiliki pinset bergerigi dan forceps tanpa gigi dan memahami kapan menggunakan masing-masing jenisnya.
Gambar 29. Perbedaan antara (a) forceps bergerigi dan (b) forceps non- bergerigi.
5) Forceps bergerigi
Secara konvensional, forceps bergerigi digunakan untuk menangani kulit, sehingga forceps tersebut harus memiliki gigi yang sangat halus untuk mencegah menusuk dan merusak kulit tanpa alasan tertentu. Forceps jenis ini sangat berguna saat harus menjaga tepi luka. Oleh karena itu, disarankan untuk memiliki forceps yang ringan dan bergerigi dengan gigi yang kecil, sehingga tepi kulit tidak akan rusak.
6) Forceps non-bergerigi
Forceps non-bergerigi menggenggam jarum jahit lebih baik daripada forceps bergerigi kecuali yang bergerigi halus dan sangat berguna untuk menahan jarum jahit. Forceps non-bergerigi dapat digunakan untuk menangani kulit tetapi memiliki potensi untuk lebih merusak daripada forceps bergerigi jika rahangnya terus meluncur.
7) Pilihan forceps
Dari berbagai desain yang ada, forceps Adson dengan panjang 12,5 cm tetap menjadi yang paling praktis dan sesuai untuk bedah minor. Forceps ini memiliki berat yang ringan dengan bentuk yang memfasilitasi manipulasi yang mudah, tidak terlalu panjang atau kaku untuk digunakan. Dengan gigi yang halus atau mikro, mereka menangani kulit dengan lembut, namun mudah rusak jika penanganannya tidak hati-hati. Mereka adalah alat yang sangat halus yang dirancang khusus untuk menahan jaringan, bukan untuk meremasnya. Forceps Adson sebaiknya digunakan untuk menjaga, menstabilkan, atau mengangkat jaringan, dan bukan untuk memutar atau meremas jaringan. Sebaliknya, forceps McIndoe atau Gillies cenderung terlalu panjang untuk penggunaan pada kulit,
forceps 'ujung berputar' terlalu kaku dan kasar (seperti yang terlihat pada Gambar 1.26), sementara forceps iris cenderung terlalu kecil dan halus.
Gambar 30. (a) Adson non-bergerigi dan (b) Adson bergerigi.
Gambar 31 (a) Forceps 'ujung berputar' kasar (TOE). (b) Perbandingan gigi antara forceps ujung berputar (lebih besar) dan forceps Adson (lebih halus).
8) Forceps arteri
Forceps arteri dapat digunakan untuk berbagai keperluan dalam bedah minor.
Mereka tersedia dalam profil lurus dan melengkung, keduanya berguna, tetapi untuk sebagian besar prosedur kulit minor, bentuk melengkung paling serbaguna. Awalnya dirancang untuk menjepit pembuluh darah yang berdarah, alat-alat ini dapat digunakan untuk fungsi ini selama berhati-hati untuk menghindari meremas tepi kulit. Mereka juga dapat digunakan untuk disseksi tumpul, untuk menahan ujung jahitan, dan untuk membantu meletakkan pisau skalpel pada pegangan skalpel yang dapat digunakan dan mengeluarkannya setelahnya. Dalam beberapa kasus, forceps arteri dapat digunakan untuk menahan jaringan yang akan diangkat atau direseksi (selama area yang dijepit tidak memiliki nilai histologis karena akan dihancurkan). Yang paling berguna adalah Halstead mosquito forceps kecil (12,5 cm) yang melengkung atau datar.
Gambar 32. (a) Forceps arteri melengkung dan (b) forceps arteri lurus.
3. Instrumen penarik
Retraktor banyak dipakai untuk menyisihkan jaringan yang menghalangi gerakan, juga untuk memberikan pemaparan yang lebih baik.
Gambar 33. (a) skin hook, (b) rake rectractor, (c) roux rectractor, (d) langenbeck recratot, (e) viseral refractor, (f) abdominal wall refractor, (g) weitlaner self-
retaining, (h) Gosset self-retaininig refractor 4. Instrumen penghisap
Digunakan bila perdarahan cukup banyak. Alat penghisap untuk prosedur minor adalah penghisap berujung Frazier.
5. Jarum Jahit Bedah
Diameter of material/suture size
Terdapat dua sistem untuk menggambarkan ketebalan jahitan: metrik dan tradisional.
a. Metrik, nomor jahitan adalah bersamaan dengan diameter jahitan itu dalam sepersepuluh milimeter. Sebagai contoh, jahitan No. 2, adalah berdiameter 0.2 mm.
b. Tradisional, walaupun kurang rasional berbanding sistem metrik, sistem tradisional masih digunakan secara meluas. Ketebalan jahitan dinyatakan dengan sejumlah jumlah sifar yang sesuai, sebagai contoh 3-0, 4-0, 5-0, dan
seterusnya. Semakin banyak jumlah sifar, semakin halus ketebalan jahitan.
Untuk prosedur yang diterangkan dalam buku ini, 3-0 adalah yang terlebih tebal dan 6-0 adalah jahitan yang paling halus yang anda perlukan.
Ukuran dan bentuk jarum
Dalam operasi minor, terdapat dua ukuran utama jarum yang umum digunakan:
a. Jarum 16 mm digunakan untuk insisi kecil, terutama untuk jahitan berukuran 5-0 dan 6-0 yang lebih kecil. Ini juga berguna untuk menempatkan jahitan dalam luka kecil.
b. Jarum 19 mm digunakan untuk hampir semua jahitan kulit lainnya.
Ada situasi yang sangat jarang di mana jarum yang lebih besar (jarum 25 mm) mungkin berguna untuk menutup luka kulit yang berdarah banyak. Di sisi lain, jarum yang sangat halus dan kecil dengan panjang 13 mm bisa berguna dalam operasi wajah. Jahitan dimasukkan ke dalam jarum sebelum digunakan.
Gambar 34. Derajat lengkung jarum jahit umum.
Profil pemotongan jarum
Aspek terakhir dalam desain jarum adalah profil (potongan lintang) ujung jarum.
Jarum awalnya memiliki ujung kerucut sederhana. Namun, kelemahan dari jenis jarum ini dalam operasi kulit adalah bahwa mereka tidak memiliki kemampuan pemotongan, sehingga jarum harus dipaksa untuk menembus kulit. Oleh karena itu, dalam operasi kulit, jarum pemotong atau jarum berpotongan sering digunakan, di mana bentuk potongan lintang jarum adalah segitiga bukan bulat.
Jarum pemotong konvensional memiliki tepi potongan yang berjalan sepanjang permukaan dalam jarum, yang cekung. Dengan membalik profil ini dan menggunakan permukaan luar, yang cembung, untuk pemotongan, jarum berpotongan balik menjadi lebih kuat dan lebih tahan terhadap tekukan. Di area di mana penyisipan jarum sulit, jarum berpotongan balik dapat mencegah jarum dan benang menarik atau merobek kulit hingga tepi luka. Dalam prakteknya, salah satu jenis jarum pemotong dapat digunakan, dan tidak diperlukan jarum dengan profil bulat dalam operasi kulit. Produsen menghasilkan variasi pada potongan lintang segitiga untuk meningkatkan kelancaran mereka melalui kulit (misalnya, jarum Ethilon 'Prime').
Informasi pada kemasan benang jahit
Informasi berikut akan dicantumkan pada kemasan benang jahit:
- Jenis bahan.
- Diameter benang.
- Ukuran dan bentuk jarum.
- Profil pemotongan jarum.
- Panjang total benang jahit, dengan rata-rata 45 cm untuk jahitan kulit.
- Tanggal kedaluwarsa.
Penutup kulit lainnya
Penting untuk mempertimbangkan untuk memiliki stok berikut sebagai alternatif atau pelengkap untuk jahitan konvensional:
a. Perekat bedah seperti sianoakrilat, yang dapat menyederhanakan penutupan kulit.
b. Perekat jaringan berbasis fibrin yang berguna untuk hemostasis dan dapat menutup jaringan. Meskipun tidak memiliki kekuatan tarik yang sama dengan jahitan untuk menutup kulit, perekat jaringan berbasis fibrin dapat berguna saat melakukan perbaikan cangkok kulit.
c. Klip stainless steel. Klip ini lebih mahal daripada jahitan tradisional dan memerlukan perawatan yang cermat dalam penempatannya, terutama untuk memastikan pinggiran luka diinversi. Oleh karena itu, mereka mungkin tidak selalu diperlukan.
d. Selotip kertas berpori, seperti Steri-Strips™, yang berguna untuk memastikan posisi tepat luka dan memberikan penguatan tambahan pada jahitan.
e. Perekat kulit seperti semprotan OpSite™ atau tincture of benzoin, yang
membantu membuat selotip lengket.
Gambar 35. Profil jarum-jarum: (1) Jarum potong konvensional, (2) Jarum potong balik.
Gambar 36. Informasi pada kemasan benang jahit, (1) Ukuran (metrik), (2) Ukuran (tradisional), (3) Panjang jarum, (4) Bentuk jarum, (5) Bentuk ujung, (6) Panjang benang jahit, (7) Bahan benang jahit, (8) Nomor lot, (9) Tanggal kedaluwarsa, (10)
Nomor referensi untuk pemesanan
Jarum bedah terdiri dalam berbagai bentuk, baik lurus maupun melengkung, dan memiliki berbagai jenis berdasarkan penampang batang jarum, apakah bulat atau bersegi, serta apakah jarum tersebut memiliki mata atau tidak. Jarum-jarum ini biasanya dapat dibedakan berdasarkan dua kriteria utama:
a. Jarum Traumatis, memiliki mata (tempat benang dimasukkan) di bagian ujung jarum yang tumpul. Mereka disebut "traumatis" karena pada bagian yang memiliki mata, ukuran penampang jarum lebih besar daripada bagian ujung yang tajam. Akibatnya, penggunaan jarum ini dapat menyebabkan bekas luka yang lebih besar. Jarum ini mungkin kurang menguntungkan jika digunakan pada jaringan yang halus seperti pembuluh darah, usus, atau jaringan yang sangat sensitif. Keuntungan dari jarum traumatis adalah bahwa mereka dapat digunakan berulang kali dan harganya lebih ekonomis.
b. Jarum atraumatis, tidak memiliki mata, sehingga ujung jarum langsung terhubung dengan benang. Jarum ini memiliki ukuran penampang yang hampir sama dengan ukuran benang yang digunakan. Kerugiannya adalah bahwa jarum ini hanya dapat digunakan sampai benangnya habis, dan harganya jauh lebih mahal daripada jarum traumatis.
Dalam pemilihan jarum bedah, pertimbangan akan sifat trauma yang dihasilkan oleh jarum tersebut sangat penting, terutama ketika berurusan dengan jaringan yang sangat sensitif atau kritis.
Gambar 37. Jarum
atraumatis.
Menurut bentuk ujung dan penampangnya yaitu cutting – noncutting:
a. Jarum cutting, memiliki penampang yang berbentuk segitiga atau pipih dan sangat tajam, sehingga ketika digunakan, jarum ini dapat memotong jaringan dan menghasilkan lubang yang lebih lebar. Biasanya, jarum jenis ini digunakan untuk menjahit kulit dan tendon karena keduanya merupakan jaringan yang sangat kuat dan padat.
b. Jarum noncutting atau tapered, memiliki penampang bulat dan hanya ujungnya yang tajam, sehingga tidak menghasilkan sayatan yang lebar pada kulit. Jarum ini digunakan untuk menjahit jaringan lunak, fasia, dan otot. Jarum ini lebih cocok untuk jaringan yang lebih lembut dan tidak memerlukan sayatan yang besar seperti kulit atau tendon.
Gambar 38. A. Jarum Circular B.Cutting 6. Benang
Jahitan (dan penutup kulit lain)
Terdapat banyak jenis jahitan yang berbeda, dan penting untuk memahami beberapa
pilihan yang ada. Jahitan yang ideal adalah jahitan yang sangat inert, mudah digunakan, dan tidak memerlukan pengangkatan. Meskipun tidak ada jahitan yang sempurna untuk semua situasi, beberapa bahan mendekati sifat-sifat ini. Salah satu perkembangan terbesar dalam dunia jahitan pada abad ke-20 adalah penggunaan jarum yang sudah dilengkapi dengan benang. Sebelumnya, benang perlu dimasukkan terlebih dahulu ke dalam jarum. Dalam pemilihan jahitan, beberapa faktor perlu dipertimbangkan, termasuk jenis bahan (beranyaman atau monofilamen, biologis atau sintetis), kemampuan penyerapan, diameter bahan, ukuran dan bentuk jarum, serta profil pemotongan. Faktor-faktor ini akan dijelaskan lebih lanjut di bawah ini:
a. Jenis Bahan, jahitan yang terbuat dari bahan biologis seperti sutra dan catgut digunakan secara luas. Namun, saat ini jahitan biologis sudah jarang digunakan dan telah digantikan oleh jahitan yang terbuat dari bahan sintetis. Jahitan sintetis ini dapat terdiri dari satu benang (monofilamen) atau banyak benang halus yang dianyam bersama (multifilamen).
b. Bahan Beranyaman, salah satu bahan jahitan beranyaman yang paling umum adalah sutra, sementara bahan sintetis berbilang filamen yang umum adalah Vicryl™ (polyglactin 910). Kelebihan utama jahitan beranyaman seperti sutra adalah kemudahan dalam mengikatnya. Bahan beranyaman bertindak seperti tali dalam tangan seorang ahli bedah, dan simpulan simpel yang diberikan biasanya akan terjaga tanpa melonggar.
c. Jahitan Monofilamen, bahan monofilamen memiliki penampang yang lebih kecil dibandingkan dengan bahan beranyaman. Jahitan monofilamen mungkin menunjukkan kekuatan tarik yang lebih tinggi daripada jahitan beranyaman yang setara. Jahitan ini memiliki permukaan yang kurang menggundang pertumbuhan bakteri dan pembentukan parut yang lebih sedikit. Oleh karena itu, jahitan monofilamen lebih cocok untuk penutupan kulit. Jahitan monofilamen penyerap seperti polyglactin (Vicryl™) juga dapat digunakan untuk menutup luka kulit yang lebih besar.
d. Jahitan multifilamen yang menyerap cepat, jahitan multifilamen penyerap cepat seperti Vicryl Rapide™ sesuai digunakan dalam situasi di mana jahitan perlu cepat larut. Namun, mereka harus digunakan dengan hati-hati karena dapat menyebabkan abses jahitan dalam kasus yang jarang terjadi.
Pemilihan jenis jahitan harus mempertimbangkan jenis bahan, situasi pembedahan,
dan kebutuhan pasien. Dalam pembedahan kulit, jahitan monofilamen seperti Vicryl™ seringkali menjadi pilihan yang paling baik karena mereka menggabungkan kekuatan dengan risiko komplikasi yang lebih rendah.
Jahitan monofilamen terbuat dari satu urat bahan yang licin seperti nilon. Jahitan ini meluncur dengan mudah melalui jaringan, bersifat inert, dan cenderung menghasilkan reaksi jaringan yang hampir tidak ada. Jahitan monofilamen sangat cocok untuk berbagai kegunaan, termasuk penutupan lapisan subkutan. Namun, kelemahan utamanya adalah bahwa jahitan ini lebih sulit untuk diikat. Karena kurang lentur dibandingkan dengan sutera, mereka sering cenderung terbuka saat diikat. Namun, dengan pengalaman, mereka dapat memberikan hasil yang sangat baik. Contohnya adalah Prolene™.
Sutur penyerap dan sutur tidak penyerap digunakan untuk menjahit lapisan yang lebih dalam atau untuk mengikat pembuluh darah. Catgut, yang pernah digunakan sebagai sutur penyerap, sekarang sudah tidak lagi tersedia dan tidak seharusnya digunakan. Polyglactin (Vicryl™) dan asam poliglikolat (Dexon™) adalah jenis jahitan beranyaman berbilang filamen yang dapat diserap oleh tubuh. Mereka akan diserap kembali dalam waktu sekitar 4-6 minggu dan biasanya menghasilkan reaksi jaringan yang minimal. Dalam pembedahan kulit minor, jenis jahitan ini juga dapat digunakan untuk menjahit lapisan subkutan, di mana keuntungan utamanya adalah bahwa mereka tidak perlu diangkat. Saat menggunakan jahitan kulit yang tidak diserap, banyak praktisi suka memasukkan jahitan penyerap dalam jaringan yang lebih dalam untuk mengurangi ketegangan pada jahitan permukaan. Ini dianggap dapat memberikan hasil kosmetik yang lebih baik dan mencegah luka terbuka, terutama di area yang tertekan seperti belakang. Jahitan penyerap juga dapat digunakan jika diperlukan untuk hemostasis dalam jahitan lapisan dalam.
Dalam memilih jahitan yang berpenyerap atau tidak berpenyerap, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan:
a. Secara umum, jahitan kulit yang terputus biasanya tidak perlu berpenyerap, karena waktu yang dibutuhkan oleh jahitan berpenyerap untuk diserap kembali (biasanya 4-6 minggu) sebenarnya berarti adanya bahan asing yang lebih lama di dalam kulit, yang dapat meningkatkan risiko pembentukan parut. Semakin lama bahan tersebut tinggal dalam kulit, semakin tinggi kemungkinan terbentuknya parut yang lebih besar.
b. Di daerah di mana jahitan akan ditempatkan di bawah kulit, jahitan haruslah
berpenyerap (kecuali dalam beberapa kasus tertentu, seperti beberapa jahitan subkutan yang dirancang untuk ditarik balik). Faktor yang paling penting untuk jahitan yang terkubur adalah kecepatan penyerapannya dan kekuatan tarikannya.
Di beberapa area tertentu, seperti wajah dan membran mukosa, bahan jahitan perlu diserap dengan cepat. Di area lain, terutama di daerah yang mungkin mengalami regangan, seperti di punggung, kebutuhan utama adalah memiliki kekuatan tarik yang berlanjut untuk mencegah terjadinya regangan luka. Oleh karena itu, jahitan yang diserap dengan cepat lebih disukai di daerah tertentu, sedangkan jahitan yang diserap lebih lambat lebih disukai di daerah lain.
Benang jahitan dapat dibagi menjadi dua kategori utama berdasarkan penyerapan:
1) Benang yang dapat diserap (absorbable):
Contoh benang yang dapat diserap meliputi catgut, asam poliglikolat (Dexon), asam poliglaktik (Vicryl), dan polidioksanon. Di antara ini, catgut dan Vicryl adalah yang paling sering digunakan.Catgut terbuat dari usus halus kucing atau domba. Catgut merupakan benda asing bagi jaringan tubuh dan dapat mempengaruhi proses penyembuhan luka. Catgut polos memiliki waktu penyerapan sekitar 10 hari, sementara catgut kromik yang mengandung kromium membutuhkan waktu penyerapan hingga 20 hari. Catgut kromik biasanya menyebabkan reaksi inflamasi yang lebih besar daripada catgut polos.
Tidak ada bukti bahwa catgut dapat menyebabkan reaksi alergi. Catgut digunakan untuk mengikat pembuluh darah di lapisan subkutaneus dan untuk menutup luka kulit di skrotum dan perineum.
2) Benang sintetis multifilamen
a. Asam poliglikolat (Dexon), ini adalah benang sintetis dengan kekuatan tarik yang sangat tinggi. Benang ini diserap sepenuhnya dalam waktu 60-90 hari.
Efek reaksi jaringan yang dihasilkan lebih kecil daripada catgut. Dexon digunakan untuk menjahit fasia otot, kapsul organ, tendon, dan untuk menutup luka di bawah kulit (subkutikuler). Dexon tidak mengandung protein kolagen, antigen, dan zat pirogen, sehingga menghasilkan reaksi jaringan yang minimal. Namun, bentuk berpilinnya membuatnya tidak cocok untuk menjahit di permukaan kulit karena dapat meningkatkan pertumbuhan bakteri dan meningkatkan risiko infeksi.
b. Asam poliglaktik (Vicryl), adalah benang sintetis yang juga berpilin dan memiliki sifat yang mirip dengan Dexon. Kekebalan tarik Vicryl sedikit di
bawah Dexon dan dapat diserap sepenuhnya dalam waktu 60 hari setelah operasi. Vicryl umumnya berwarna ungu. Untuk menghasilkan kekuatan yang memadai, Vicryl dan Dexon harus diikat minimal tiga kali. Vicryl dan Dexon digunakan terutama untuk meligasi pembuluh darah, mengikat fasia, dan menjahit di bawah lapisan kulit (subkutikuler). Keduanya tidak dianjurkan untuk digunakan pada jahitan permukaan kulit.
Benang jahitan monofilamen seperti Polidioksanone (PDS) memiliki kekuatan regangan yang dapat bertahan selama 4 hingga 6 minggu setelah operasi, dan benang ini akan sepenuhnya diserap oleh tubuh setelah 6 bulan. Keunggulan monofilamen adalah ketika digunakan untuk menjahit daerah yang terinfeksi atau terkontaminasi, karena benang ini dapat memberikan hasil yang sangat baik dalam situasi tersebut.
Tabel 1. Perbandingan antara benang monofilamen dan multifilamen.
3) Benang jahitan yang tidak dapat diserap atau non-absorbable termasuk sutera, katun, poliester, nilon, polypropilene (prolene), dan kawat tahan karat. Di antara yang sering digunakan adalah sutera dan polypropilene.
a. Sutera atau silk terbuat dari serat protein yang dihasilkan oleh larva ulat sutera, yang kemudian dipilin menjadi benang. Sutera memiliki kekuatan regangan yang tinggi, mudah dipegang, dan simpul mudah dibuat. Namun, kelemahannya adalah kekuatan regangan sutera dapat mengalami penyusutan pada berbagai jenis jaringan, biasanya terjadi sekitar 2 bulan setelah operasi.
b. Poliester (dacron) terbuat dari serat poliester yang dihasilkan dalam bentuk benang yang dipilin dan memiliki kekuatan regangan yang sangat tinggi.
Poliester sangat cocok untuk penutupan fasia. Namun, tidak dianjurkan digunakan pada jaringan yang terinfeksi atau terkontaminasi karena bentuknya yang berpilin. Untuk mencapai kekuatan maksimal, poliester biasanya harus diikat minimal lima kali.
c. Polypropilene (prolene) adalah benang monofilamen yang sangat halus sehingga tidak menyebabkan banyak kerusakan atau reaksi jaringan.
Biasanya berwarna biru. Beberapa merek prolene dapat langsung tersambung dengan jarum berukuran yang sama, mengurangi trauma.
Polypropilene menjadi pilihan utama untuk menjahit daerah yang terinfeksi atau terkontaminasi. Namun, kelemahannya adalah sulit untuk diikat dan sering terlepas sendiri.
d. Kawat baja terbuat dari baja rendah karbon, bersifat inert (tidak bereaksi dengan jaringan), memiliki kekuatan regangan terbesar, dan menimbulkan reaksi jaringan minimal. Namun, penggunaannya sulit dalam menjahit, dan perlu hati-hati agar jaringan tidak terpotong atau terlipat (kinking). Kawat baja umumnya digunakan untuk mengikat ligamen, tendon, dan tulang.
Tabel 2. Perbandingan antara benang yang dapat diserap dan benang yang tidak dapat diserap.
Ukuran Benang
Benang jahitan tersedia dalam berbagai ukuran, mulai dari nomor 5, yang memiliki ketebalan sebanding dengan kawat biasa, dan berkurang hingga nomor 1, yang masih dianggap sebagai benang yang relatif kasar. Ukuran yang lebih kecil dari 1 dimulai dari 1.0, lalu 2.0, 3.0, dan seterusnya hingga mencapai yang terkecil, yaitu 10.0. Untuk penggunaan umum, ukuran 5.0 hingga 1.0 adalah ukuran yang standar.
Ukuran 6.0 hingga 7.0 digunakan untuk menghubungkan pembuluh darah halus dalam prosedur anastomosis. Ukuran 8.0 hingga 10.0 cocok untuk operasi mata dan bedah mikro yang memerlukan kehalusan. Sementara itu, ukuran 0 hingga 1 digunakan untuk menjahit fasia, dan ukuran 4.0 digunakan untuk menjahit tendon.
Tabel 3 . Tipe benang berdasarkan indikasi dan waktu pelepasan.
7. Teknik Menjahit
Simple Interrupted Sutures
Jahitan terputus memiliki indikasi yang luas, digunakan pada berbagai jenis luka, termasuk yang melibatkan persendian.
Tidak ada kontraindikasi yang spesifik untuk jahitan terputus.
Kelebihan dari penggunaan jahitan terputus meliputi kemudahan penerapannya, kekuatan tarikan yang lebih besar, kemampuan yang lebih baik dalam penyesuaian tepi luka, dan berkurangnya potensi untuk menyebabkan edema luka serta gangguan sirkulasi kulit. Namun, terdapat beberapa kekurangan, termasuk waktu yang lebih lama yang diperlukan untuk pemasangan jahitan terputus dan risiko lebih tinggi dari tanda crosshatched (garis-garis seperti rel kereta api) pada garis jahitan. Risiko penggarisan silang ini dapat dikurangi dengan menghilangkan jahitan awal untuk mencegah perkembangan trek jahit.
Gambar 39. Teknik Menjahit Simple Interrupted Sutures
Teknik Menjahit Vertikal
Kelebihan dari penggunaan jahit matras vertikal adalah bahwa metode ini sangat berguna untuk memaksimalkan eversi (penggulungan tepi luka ke luar), mengurangi ruang mati (tempat di bawah luka yang tidak tertutup dengan baik oleh jaringan) dan mengurangi ketegangan di luka. Namun, salah satu kelemahan dari penggunaan benang ini adalah risiko penggarisan silang pada garis jahitan.
Waktu yang dianjurkan untuk menghilangkan benang ini adalah sekitar 5-7 hari, sebelum epitel (lapisan pelindung pada kulit) lengkap terbentuk di atas trek jahit.
Hal ini dilakukan untuk mengurangi risiko pembentukan jaringan parut.
Gambar 40. Teknik menjahit vertikal
Teknik Menjahit Horizontal
Kelebihan dari penggunaan jahit horizontal adalah bahwa mereka sangat bermanfaat untuk luka yang mengalami ketegangan tinggi, karena memberikan kekuatan dan eversi luka (penggulungan tepi luka ke luar). Jahitan horizontal ini dapat dibiarkan di tempat selama beberapa hari jika ketegangan luka masih berlanjut setelah penempatan jahitan yang tersisa. Namun, di daerah-daerah dengan ketegangan sangat tinggi, ada risiko dehiscence (pembukaan kembali luka). Jahitan horizontal ini bisa tetap di tempat bahkan setelah jahitan kulit yang dangkal diangkat. Namun, jika dibiarkan di tempat selama lebih dari 7 hari, mereka memiliki risiko tinggi untuk menyebabkan pembentukan tanda jahitan.
Gambar 41. Teknik Menjahit Horizontal Teknik Menjahit Jelujur
Indikasi dari penggunaan jahitan jelujur adalah pada luka dengan ketegangan minimal. Kelebihannya adalah jahitan jelujur berguna untuk luka yang sudah lama dan di mana ketegangan minimal. Namun, ada beberapa kekurangan dalam penggunaan jahitan jelujur. Penggarisan silang mungkin terjadi, artinya jika salah satu jahitan terbuka, maka semua jahitan di sepanjang garis jahit tersebut akan terbuka. Jahitan jelujur juga dapat menyebabkan mengerut pada kulit tipis saat ditempatkan.
Gambar 42. Teknik menjahit jelujur.
Teknik Menjahit Subkutikuler
Jahitan subkutikular adalah tipe jahitan yang memiliki indikasi pada luka di daerah yang memerlukan penampilan kosmetik yang baik. Namun, kontraindikasinya adalah pada jaringan luka dengan tegangan besar. Kelebihan dari jahitan subkutikular adalah penggunaannya cocok pada luka yang memiliki ketegangan minimal, tidak memiliki ruang mati, dan menghasilkan hasil kosmetik yang baik.
Karena jahitan ini hanya menembus epidermis pada awal dan akhir garis jahitan, risiko penggarisan silang sangat rendah. Kekurangannya adalah kekuatan jahitan lebih rendah dan hanya dapat digunakan pada ketebalan luka yang sekitar sama.
Gambar 43. Teknik Menjahit Subkutikuler
BAB III KESIMPULAN
Bedah minor merujuk pada prosedur bedah yang lebih sederhana dan biasanya dilakukan pada jaringan yang terletak di permukaan. Prosedur bedah minor tidak memerlukan banyak peralatan, tetapi beberapa peralatan dan infrastruktur dasar perlu tersedia. Ruangan bedah minor harus dilengkapi dengan meja operasi, bangku tanpa sandaran, meja instrumen, lampu operasi, showcase dan wadah penyimpanan, peralatan resusitasi, serta sistem sterilisasi.
Instrumen yang digunakan dalam prosedur bedah minor termasuk instrumen pemotong, instrumen pemegang, instrumen penarik, instrumen penghisap, jarum jahit bedah, dan benang bedah. Teknik menjahit yang umumnya digunakan melibatkan jahitan terputus-putus sederhana, jahitan vertikal, jahitan horizontal, jahitan jelujur, dan jahitan subkutikuler.
Selain itu, ada teknik pembedahan yang digunakan dalam prosedur bedah minor, termasuk insisi (pemotongan), eksisi elips, dan eksisi tangensial. Ini adalah beberapa komponen dan teknik yang terlibat dalam bedah minor untuk memastikan bahwa prosedur berjalan dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA