• Tidak ada hasil yang ditemukan

Refleksi Widia Damayanti Filosofi Pendidikan Indonesia

N/A
N/A
Peserta PPG 00185

Academic year: 2025

Membagikan "Refleksi Widia Damayanti Filosofi Pendidikan Indonesia"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Nama : Widia Damayanti NIM : 24105260044

Indikator Pertanyaan Identifikasi Diri

Nama mata kuliah Filosofi Pendidikan Indonesia Reviu pengalaman

belajar

1. Pengalaman belajar apa yang berguna dan menarik?

Secara keseluruhan, mempelajari Filosofi Pendidikan Indonesia memberikan banyak sekali pengetahuan yang berguna bagi saya dalam rangka mempersiapkan diri menjadi seorang guru. Saya diajak merenungkan perjalanan pendidikan Indonesia yang penuh dengan tantangan, bahkan sampai detik ini. Namun, ada beberapa hal yang sangat menarik dan menurut saya sangat berguna ketika mempelajari mata kuliah ini, diantaranya adalah sebagai berikut:

a. Mempelajari perjalanan pendidikan Indonesia

Ketika saya membaca perjalanan pendidikan di Indonesia dan menyadari bahwa saat ini saya berkuliah di tempat dimana pendidikan Indonesia memekarkan kelopak cantiknya, membuat hati saya berdebar. Yogyakarta menjadi semakin istimewa karena menjadi titik awal perjalanan pendidikan Indonesia dimulai. Rasa- rasanya diri saya terhubung dengan semua orang yang telah memperjuangkan pendidikan di Indonesia ini. Topik ini juga memberikan saya perasaan haru, karena ternyata apa yang saat ini kita rasa kurang, tidak ada apa-apanya dengan kondisi siswa pada zaman dulu. Mereka harus berjuang sedemikian rupa, hanya untuk dapat belajar bersama guru di dalam kelas.

(2)

b. Mempelajari pemikiran Ki Hajar Dewantara

Sebuah konsep yang sangat melekat dalam benak saya ketika selesai mempelajari pemikiran Ki Hajar Dewantara adalah tentang konsep memanusiakan manusia. Sebagai seorang calon guru yang kelak bertanggungjawab mencerdaskan anak bangsa, pemikiran Ki Hajar Dewantara tersebut akan selalu menajadi pengingat bagi saya bahwa, tugas saya bukan hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga membimbing siswa agar dapat menjadi individu yang utuh dan berkarakter. Ketika mempelajari biografi beliau, saya juga cukup berdebar karena kembali menyadari bahwa saya berada di tempat kelahiran beliau, seolah kisah hidup beliau terasa nyata dan dekat dengan diri saya. Di tambah saya telah tinggal lama sebelumnya di Jalan Setiabudhi, jalan yang namanya diambil dari salah satu dari tiga serangkai pemikir pendidikan Indonesia. Sekarang, saya tinggal di salah satu pelopor yang lainnya. Hal tersebut, membuat saya semakin bersemangat untuk menjadi bagian dari pejuang pendidikan di Indonesia ini.

2. Pengalaman belajar apa yang berguna tetapi kurang menarik?

Meskipun rasanya semua topik yang saya pelajari pada mata kuliah ini berguna bagi perjalanan saya menjadi seorang guru, namun ada beberapa hal yang rasanya kurang menarik bagi saya ketika mempelajari mata kuliah ini. Satu diantaranya adalah ketika saya harus mengenal identitas manusia Indonesia, topik ini jelas penting dan berguna dalam usaha memahami siapa kita sebagai orang Indonesia ini. Menurut saya, topik ini berat dan prosesnya membutuhkan banyak refleksi serta analisis. Alih-alih memikirkan identitas manusia Indonesia yang betul itu seperti apa, saya lebih ingin

(3)

mempunyai kemampuan untuk bisa berjalan-jalan atau minimal menonton sejarah dunia ini, khususnya sejarah Indonesia. Saya ingin tahu seperti apa masyarakat hidup pada masa itu, identitas apa yang mereka bawa kepada bangsa lain dan bagaimana bangsa lain menilai identitas Bangsa Indonesia.

3. Pengalaman belajar apa yang menarik tapi kurang berguna?

Jika ditanya hal apa yang kurang berguna dari mata kuliah ini untuk dipelajari, jawabannya hampir tidak ada. Namun, jika ditanya tentang topik mana dari mata kuliah ini yang masih dibingungkan penerapannya, saya bisa jawab. Menurut saya, penerapan Pancasila sebagai pondasi pendidikan di Indonesia cukup membingungkan.

Implementasi nilai-nilai Pancasila dalam pembelajaran, saya rasa terlalu dipaksakan. Karena pada praktiknya, pencantuman dimensi- dimensi Pancasila akan sulit untuk diukur dan dinyatakan dalam angka. Menurut saya, hal-hal yang berbau nilai seperti ideologi atau kepercayaan tidak harus selalu dicantumkan secara eksplisit, terutama dalam kurikulum pendidikan sebuah bangsa. Hal itu bukan berarti mengabaikan Pancasila sebagai nilai bangsa, namun sebaiknya praktik-praktik yang bernafaskan Pancasila terjadi secara alamiah, dipelajari sekaligus dipraktikan langsung oleh siswa di lingkungannya.

Sehingga, ketika sesuatu dilakukan tanpa terpaksa maka akan berkesan dan akan menetap abadi pada diri seluruh siswa Indonesia.

Sebetulnya mengidentifikasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan ini sangat menarik, namun serasa menjadi tidak berguna ketika ia dipaksakan dalam penilaian yang harus dituangkan dalam angka.

4. Pengalaman belajar apa yang tidak menarik dan tidak berguna dalam konteks sebagai calon guru?

(4)

Hampir tidak ada yang benar-benar tidak berguna dalam mata kuliah Filosofi Pendidikan Indonesia ini, jujur saya merasa semua hal yang diajarkan punya manfaat. Walaupun ada topik yang terasa berat untuk dipelajari atau kurang menarik, semua topik tetap relevan untuk mendukung saya sebagai calon guru. Saya rasa, bukan kapasitas saya untuk menentukan pengalaman belajar mana yang tidak menarik sekaligus tidak berguna, sebagai seorang guru penting bagi saya untuk bisa menghargai semua hal dalam kerangka pembelajaran. Saya harus mampu mengambil pelajaran dari apa pun, bahkan dari hal-hal yang awalnya dirasa tidak relevan. Karena mungkin pada masa sekarang, manfaatnya belum bisa saya rasakan, tetapi di masa depan, hal-hal tersebut bisa menjadi bahan refleksi yang membantu saya memahami pendidikan dengan lebih baik lagi.

Refleksi

pengalaman belajar

1. Apa yang telah terjadi?

Mata kuliah Filosofi Pendidikan Indonesia adalah salah satu mata kuliah yang memberikan pengalaman belajar yang mendalam dan berkesan bagi saya. Melalui topik mengenai perjalanan pendidikan nasional, saya diajak untuk melihat kembali sejaran perjalanan pendidikan. Saya belajar tentang bagaimana pendidikan di Indonesia dimulai, berkembang dan terus diperbaiki dari waktu ke waktu. Hal yang menarik adalah, meskipun pendidikan terus beradaptasi dengan perkembangan zaman namun nilai-nilai dasar bangsa tetap terjaga.

Pendidikan Indonesia memiliki kekhasan dalam mempertahankan Pancasila sebagai landasan utama, sebuah hal yang jarang ditemukan di negara lain. Hal ini menunjukkan konsistensi bangsa Indonesia dalam memegang teguh prinsip-prinsip dasar yang menjadi pedoman

(5)

hidup masyarakatnya. Dalam mata kuliah ini, dosen memberikan pendekaran pembelajaran yang menurut saya sangat efektif. Beliau tidak sekedar menyampaikan teori, tetapi juga memberikan kebebasan kepada kami untuk mengeksplorasi lebih jauh tentang Filosofi Pendidikan Indoensia. Pendekatan tersebut membantu saya merasa lebih terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran, dengan ruang untuk merenung, menggali pemikiran lebih dalam dan memahami secara personal makna dari filosifi pendidikan. Setelah mengikuti mata kuliah ini saya merasa lebih paham tentang arah dan tujuan pendidikan di Indonesia dan membuka wawasan saya tentang pentingnya mempertahankan nilai-nilai dasar bangsa sekaligus menginspirasi saya untuk dapat menjadi pendidik yang membawa perubahan positif bagi pendidikan di Indonesia. Saya menyadarai bahwa sebagai calon guru saya memiliki tanggung jawab yang besar untuk memastikan bahwa siswa dapat menjadi insan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berkarakter. Lebih dari itu, mata kuliah ini juga memberikan saya dorongan untuk lebih memanfaatkan pendidikan yang saya miliki saat ini dengan terus meningkatkan kualitas diri dan memanfaatkan kesempatan yang ada dengan baik.

2. Mengapa hal tersebut dapat terjadi?

Secara keseluruhan, mata kuliah filosofi pendidikan Indonesia memberikan pengalaman belajar baru yang berarti bagi saya. Tidak hanya menambah wawasan tentang filosofi pendidikan, namun juga membangun kesadaran saya sebagai calon guru. Hal tersebut dapat terjadi karena pendekatan pembelajaran yang diberikan dosen sangat relevan dengan materi yang diajarkan, dimana adanya ruang yang luas bagi saya untuk merenung, mengeksplor dan memahami secara

(6)

mendalam terkait materi ini. Saya menjadi punya banyak waktu untuk membaca buku-buku biografi Ki Hajar Dewantara dan yang paling saya syukuri adalah saya berkesempatan untuk membaca sebuah buku yang berjudul Pendidikan yang Berkebudayaan karya Yudi Latif. Pada buku itu perjalanan pendidikan di Indonesia benar-benar dikupas tuntas, dan dari situ lah kesadaran saya akan beruntungnya saya pada masa ini. Kesempatan untuk belajar di masa ini sepertinya lebih besar dibanding dengan jika saya hidup di masa itu, di masa pendidikan sangat terbatas untuk kalangan tertentu saja.

Analisis artefak pembelajaran

1. Artefak-artefak pembelajaran mana yang dapat saya jadikan bukti dukung hasil refleksi pengalaman belajar?

Dalam proses pembelajaran mata kuliah Filosofi Pendidikan Indonesia, berbagai artefak yang merupakan sebagai bukti dukung pengalaman belajar merepresentasikan pemahaman konseptual saya yang berkembang sepanjang perkuliahan. Berikut ini adalah artefak- artefak saya selama mengikuti perkuliahan:

a. Portofolio Refleksi Diri - https://bit.ly/Kumpulan_Refleksi_Diri Dokumen ini berisi catatan reflektif mengenai pemahaman awal saya terkait berbagai topik yang akan dipelajari. Refleksi diri mencerminkan sejauh mana pemahaman saya terkait topik sebelum mempelajari topik bersama dosen di kelas.

b. Portofolio Kerja Kelompok - https://bit.ly/KerjaKelompokBersama Berbagai diskusi dan tugas kolaboratif yang dilakukan selama perkuliahan menjadi bukti interaksi akademik dengan rekan- rekan. Dalam kumpulan ini, terdapat analisis kritis, sintesis gagasan, serta argumentasi yang dikembangkan melalui kerja

(7)

sama dalam memahami dan mengeksplorasi konsep-konsep filosofis pendidikan.

c. Portofolio Demonstrasi - https://bit.ly/demonstrasifilosofi

Portofolio ini mencakup berbagai karya yang merepresentasikan pemahaman terhadap filosofi pendidikan dalam konteks tertentu, baik melalui makalah, video, presentasi, maupun bentuk ekspresi akademik lainnya. Demonstrasi ini menjadi bukti penerapan konsep dalam situasi nyata yang relevan dengan dunia pendidikan.

d. Portofolio Elaborasi Pemahaman - https://bit.ly/42uVWP5

Berbagai dokumen yang menunjukkan eksplorasi mendalam terhadap teori-teori dalam filosofi pendidikan, baik melalui analisis literatur, pembandingan gagasan, maupun pengembangan argumentasi berdasarkan sumber-sumber akademik yang relevan.

e. Portofolio Koneksi antar Materi - https://bit.ly/3WyYrwg

Kumpulan dokumen ini mengilustrasikan keterkaitan antara berbagai konsep dalam filosofi pendidikan Indonesia dengan disiplin ilmu lain atau praktik pendidikan di lapangan.

f. Portofolio Refleksi Pembelajaran - https://shorturl.at/eSYX5 Dokumen ini mencatat proses perubahan pemahaman selama perkuliahan, termasuk bagaimana suatu konsep awalnya dipahami, bagaimana perspektif berkembang, serta bagaimana wawasan baru diperoleh melalui diskusi dan kajian akademik.

g. Portofolio Esai Pemahaman Materi - https://shorturl.at/nfVYL Esai-esai ini menggambarkan pemahaman mendalam mengenai berbagai konsep dalam filosofi pendidikan Indonesia. Setiap esai

(8)

menjadi bukti argumentasi akademik yang dikembangkan berdasarkan analisis kritis, sintesis gagasan, serta penerapan teori dalam konteks pendidikan di Indonesia.

2. Mengapa artefak ini yang saya pilih?

Memilih artefak pembelajaran bukan sekadar soal mengumpulkan dokumen, tapi tentang menyusun potret perjalanan belajar. Setiap artefak yang saya pilih merepresentasikan proses berpikir, merenung, dan memahami konsep Filosofi Pendidikan Indonesia dari berbagai sudut pandang. Pertama, kumpulan refleksi diri adalah cermin pribadi yang tidak hanya menampakkan sejauh mana saya memahami materi, tetapi juga mengungkap dinamika dalam diri saya saat bergelut dengan pertanyaan-pertanyaa. Refleksi ini membantu saya melihat bahwa belajar bukan soal menemukan jawaban, tapi merawat keberanian untuk terus bertanya. Kedua, kumpulan kerja kelompok bersama rekan adalah bukti bahwa belajar adalah proses sosial.

Filosofi pendidikan tidak hidup dalam ruang hampa; ia tumbuh dari diskusi, perdebatan, dan kolaborasi. Di sinilah gagasan diuji, diterima, atau bahkan ditolak, sehingga menghasilkan pemahaman yang lebih matang. Ketiga, demonstrasi kontekstual menunjukkan bagaimana filosofi pendidikan tidak hanya berhenti sebagai teori, tetapi mampu menyentuh realitas. Artefak ini menjadi bukti bahwa konsep besar seperti keadilan atau emansipasi pendidikan bisa diterjemahkan dalam karya nyata yang relevan dengan kebutuhan dunia. Keempat, kumpulan dokumen elaborasi pemahaman adalah wujud keseriusan saya dalam menggali lebih dalam. Filosofi pendidikan bukan hanya apa yang kita dengar di kelas, tetapi juga apa yang kita bangun melalui kajian literatur dan analisis mendalam. Kelima, kumpulan dokumen

(9)

koneksi antar materi membuktikan bahwa pemahaman tidak pernah terisolasi. Filosofi pendidikan saling bersentuhan dengan disiplin lain—sosiologi, sejarah, bahkan ekonomi. Artefak ini mengajarkan saya untuk melihat dunia pendidikan dengan lensa yang lebih luas dan integratif. Keenam, kumpulan dokumen refleksi pembelajaran mengabadikan proses evolusi pemikiran saya. Bagaimana sebuah konsep awalnya terasa asing, lalu perlahan-lahan menjadi bagian dari kerangka berpikir saya. Dokumen ini adalah arsip perubahan, yang menunjukkan bahwa belajar adalah perjalanan panjang yang penuh tantangan. Dan yang terakhir, di sinilah argumen saya dirangkai, dipertajam, dan diuji. Setiap esai adalah buah dari dialog antara gagasan dan konteks, antara apa yang saya pelajari dan apa yang saya yakini.

3. Bagian mana dari artefak ini yang mendukung hasil refleksi saya?

Penopang utama hasil refleksi saya adalah bagian refleksi diri, refleksi pembelajaran, dan esai. Dalam refleksi diri, saya menemukan cermin yang jujur, dokumen ini adalah ruang di mana saya bertanya, mempertanyakan, dan akhirnya memahami. Sementara itu, refleksi pembelajaran adalah arsip perubahan. Bagian ini sangat mendukung karena ia menunjukkan bagaimana saya tumbuh, dari awalnya kebingungan memahami filosofi pendidikan hingga akhirnya mampu menghubungkan gagasan besar dengan konteks lokal. Lalu, ada esai, yang menjadi panggung bagi pikiran saya untuk berbicara. Di dalamnya, saya tidak hanya menulis untuk menjawab tugas, tetapi juga untuk merumuskan, mengkritisi, dan menyampaikan gagasan saya dengan lebih terstruktur. Melalui esai, hasil refleksi saya menjadi lebih nyata, karena gagasan yang sebelumnya abstrak akhirnya

(10)

menemukan bentuk yang konkret. Ketiga elemen ini, bagi saya, adalah tulang punggung yang menyokong seluruh proses refleksi, menjadikannya utuh, tajam, dan bermakna.

Rumusan hasil refleksi berupa pembelajaran bermakna

Apabila saya mengajar atau membahas topik ini, dengan mempertimbangkan prinsip pembelajaran bermakna yang berpusat kepada siswa, perubahan apa yang akan saya lakukan?

Jika saya mengajar, saya tidak akan sekadar menyampaikan materi seperti daftar konsep yang harus dihafalkan. Saya ingin membawanya lebih dekat dengan kehidupan siswa, menjadikannya relevan, nyata, dan bermakna.

Saya akan mengubah pendekatan dari sekadar transfer pengetahuan menjadi eksplorasi pemikiran, di mana siswa tidak hanya memahami gagasan-gagasan besar dalam pendidikan, tetapi juga menemukan kaitannya dengan pengalaman mereka sendiri. Diskusi akan menjadi ruang utama yang bukan sekadar tanya jawab biasa, tetapi ajakan untuk berpikir kritis, mempertanyakan, dan membangun pemahaman bersama.

Saya juga akan memberi mereka ruang untuk berefleksi, menulis pemikiran mereka, dan menghubungkan teori dengan dunia nyata melalui studi kasus yang dekat dengan kehidupan mereka. Jika filosofi pendidikan berbicara tentang kebebasan berpikir dan pendidikan yang memanusiakan, maka kelas saya harus mencerminkan itu, kelas yang terbuka, dialogis, dan mendorong mereka untuk menemukan suara mereka sendiri dalam memahami makna pendidikan.

Referensi

Dokumen terkait

yang digunakan untuk menarik minat belajar siswa adalah media dakon berkartu. Media yang dikembangkan dalam membentuk karakter siswa dalam. membentuk rasa menghargai, percaya

Diberi suatu rumusan tujuan pembelajaran bahasa Indonesia tertentu, guru dapat menentukan pengalaman belajar yang sesuai untuk mencapai tujuan

Hal ini merupakan hal yang sangat penting untuk memahami bagaimana guru juga da- pat terus belajar untuk meningkatkan kom- petensinya dalam konteks pembelajaran bermakna,

penting untuk memahami bagaimana guru juga dapat terus belajar untuk meningkatkan kompetensinya dalam konteks pembelajaran bermakna, sehingga dapat meningkatkan

Model ini dipandang cocok untuk pembelajaran IPS karena model ini merupakan alat evaluasi yang sangat baik bagi guru bila guru ingin. menentukan ide-ide penting

Yuliani (2007:9) mengemukakan bahwa penting bagi guru untuk dapat: mengerti cara berfikir anak, mengembangkan dan menghargai pengalaman anak, memahami bagaimana anak

Saat ini saya berkeingina kuat menjadi seorang guru yang memerdekakan siswa dan lebih memberikan kebebasan belajar bagi mereka dengan sistem dan kurikulum yang sudah sangat mendukung

Refleksi pengalaman belajar mata kuliah Filsafat Pendidikan Indonesia yang membahas tentang kodrat alam dan zaman, sistem among, dan pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang